HUNjustforHAN

.

.

Present

.

.

.

.

.

.

Chapter ini saya tulis sebagai hadiah untuk ulang tahun salah satu reader saya Ravi801 . Selamat Ulang Tahun ya

Dan juga sebagai tanda terimakasih untuk couple SPHADLOR-ku tercinta, ECLAIRE DELANGE (ECLAIRE OH) yang telah nge-post FF HunHan lagi. AI LOP YU BEB :* * *

.

Chapter ini sangat pendek. Ini hanya sebagai hadiah dan ucapan terimakasih (tentunya kepada readers semua). Saya telah memberitahukannya di awal agar kotak review tidak penuh dengan kekecewaan.

.

.

.

.

Desire

.

.

Chapter 8a

.

.

.

.

Jangan pernah bertanya mengapa Sehun jadi seperti ini; mengumpat nyaris muntah; menyentak tangan Luhan hampir lepas ataupun meninggalkan kerabat makan siangnya tanpa pernah peduli tata karma berpamitan. Dari awal kedatangannya ke sini bukanlah terpusat untuk menyambut pewaris tahta yang telah mendapatkan tahtanya berupa hotel-hotel mewah di Australia, tidak hanya itu dan bahkan jika orang yang dimaksud adalah sepupunya sendiri; Sehun tidak peduli.

Siapa yang tidak mendengar desas desus dua bersepupu ini adalah pemain wanita terhandal. Mereka berlimpah harta sejak lahir; tidak pernah menemui kata miskin dalam hidup, berwajah rupawan yang sulit dicari siapa yang lebih baik dan memiliki kegemaran sama besar dalam hal meniduri wanita kelas atas. Hanya saja kepribadian mereka berbeda walau untuk masalah kebrengsekan, mereka tidak beda jauh.

Dewa kedinginan adalah Sehun. Pelit akan senyuman dan pemaksa dalam segala hal; termasuk permainan dominannya di ranjang yang tidak memperbolehkan pihak kedua duduk semena-mena di pangkuannya. Jika itu terjadi, maka seks hebat yang dinantikan si vagina akan berhenti. Tepat di titik dimana tubuh terpanggang karena gagal meraup kenikmatan. Namun kebanyakan dari mereka lupa akan kosakata menyerah; mencoba lagi berulang kali walaupun yang didapatkan hanyalah kalimat "Vaginamu sangat buruk" dari Sehun.

Adalah hal yang membuat Sehun gusar setengah mati untuk pertama kalinya atas kedatangan si penzinah Australia ini tidak lain hanyalah sebuah senyuman.

Kim SeokJin. Memiliki senyum sensual diatas bibir sexynya dan juga kepiawaiannya dalam menyanjung wanita hingga jungkir balik adalah hal yang membuat mereka berdua benar-benar berbeda.

Kata-kata yang mengalir dari bibir sial Jin begitu meyakinkan walaupun Sehun tidak yakin ada satu kalimat saja yang benar-benar Jin lontarkan dari dasar lubuk hatinya. Lelaki itu hanya membual. Percayalah. Yang bodohnya adalah para vagina akan menutup mulut mereka karena tersipu malu, padahal dibalik itu semua Jin hanya menginginkan payudara dan juga sedikit lubang untuk mengeluar masukkan batang kejantanannya.

Sungguh, lelaki itu pembual luar biasa.

Sikap manis yang dia peragakan nyaris 90% berhasil menarik wanita menuju ranjang hotel berbintang. Bahkan tidak jarang Jin harus berlari terbirit-birit, menarik zipper celananya menuruni tangga darurat atau yang lebih parah bertelanjang dada di loby hotel; menerima konsekuensi kurang menguntungkan bahwa yang dia tiduri hingga nyaris mati semalaman adalah istri orang.

Oh Tuhan..

Nyawa manusia itu memang sedikit lebih banyak.

Perbedaan mendasar Sehun dan Jin selain dari perbedaan sikap ataupun attitude mereka adalah, Jin tidak masalah dengan seks berkali-kali bersama wanita yang sama, namun bagi Sehun, wanita murahan cukup dipakai sekali karena jika untuk kedua kalinya, mereka hanya mendatangkan penyakit. Harus mengeluarkan uang lagi untuk berobat dan membuang waktu saja.

Jin tau prinsip sepupunya tersebut dan dia tidak pernah masalah. Melakukan seks dengan pasangan yang berbeda bahkan untuk seribu kali pun, itu adalah masalah pribadi Sehun. Semua penyakit, dosa dan aib ditanggung masing-masing bukan ?

Tapi..

Ada yang berbeda hari ini, dan Jin cukup memiliki IQ diatas rata-rata jika hanya untuk menyadari hal tersebut.

Ada seorang wanita yang dibawa oleh Sehun dan Jin sama sekali tidak boleh menyentuhnya. Padahal jika wanita tersebut adalah pelacur, seperti yang pernah mereka lakukan dulu, Sehun akan membiarkan pelacurnya dirayu oleh Jin. Melakukan seks disebelahnya pun Sehun tidak ambil pusing.

Sekali lagi tapi…

Wanita itu bukan pelacur. Jin yakin sekali, karena dari wajahnya yang bersinar gemilang, Luhan mengatakan bahwa dari tubuhnya, dia tidak pernah mendapatkan uang ditelapak tangan hasil jilatan pria-pria kaya. Wanita itu memiliki satu kata yang melingkupi semuanya; mempesona.

Mata sayu berkilau sebening hujan, bibir mungil yang manja saat berucap, juga hidung bangirnya yang menawan menarik perhatian Jin. Dia terus memperhatikan Luhan; benar-benar fokus terhadapnya, menekan kepercayaan diri wanita itu hingga kepalanya lagi-lagi tertunduk. Wajah Luhan bersemu cantik, lalu ketika Jin meminta beberapa angka yang memungkinkan mereka berbagi tawa di udara; Luhan menghilang.

Seseorang menyimpan Luhan dibalik punggung.

Denting kecil berbunyi. Jin menjatuhkan Soup Spoonnya ditengah perjalanan untuk berdiri; berniat mengeluarkan Luhan yang disimpan Sehun pikirnya. Dia menoleh sebentar pada ujung pantofel hitamnya yang terjiprat. Ada noda kental berwarna cream pucat di ujung Soup Spoon cembungnya yang meludah tepat diujung pantofelnya; aroma kepiting perjaka segar dari semangkuk crap corn soup menguar sekilas dan sedikit tidak nyata. Itu menu pembuka mereka.

Jin sempat bergumam jijik, tapi ah, dia masih punya berkarung dollar untuk membeli pantofel seratus kali lipat daripada ini. Tidak masalah. Lalu ketika dia melupakan noda kental di ujung sepatunya yang semahal crown ratu Elizabeth dan mendongak ke atas; mencari Luhan, sebuah telunjuk mengancam dipusar matanya.

"Dia bukan pelacur! Jadi menyentuhnya adalah hal yang kuharamkan bagimu!"

Bukankah sesuatu yang haram sangat mengasikkan untuk dicoba, Oh Sehun ?

.

.

.

.

.

Makan siang yang cukup… berantakan ?

Pada awalnya melakukan ritual makan siang sebagai penyambutan untuk kedatangan seorang manusia bernama Kim Seok Jin adalah hal tidak penting; mengotori schedule saja. Siang ini; beberapa jam lalu, alasan sebenarnya Luhan berada di ruang kerja pribadinya adalah Sehun menemukan wajah wanita itu bergentayangan disetiap lembar kerjanya. Ini akan buruk karena Sehun tidak bisa menyelesaikan satu tanda tanganpun dengan baik.

Padahal beberapa hari lalu semua masih baik-baik saja. Hanya karena Luhan duduk dan meletakkan cangkir kopinya di sebelah kiri tadi pagi, Sehun mengumpat karena dia menginginkan wanita itu dan tidak ada penundaan. Namun saat logika mempermainkan titik waras di otak Sehun, lelaki itu mengepal; geram bukan main.

Dia tidak punya alasan yang masuk akal untuk meminta Luhan datang kemari secara baik-baik dan dia juga tidak punya waktu banyak untuk menerobos kemacetan kota Seoul di tengah jam istirahat siang. Sungguh, masih ada 15 dokumen lagi yang harus dia periksa sebelum membubuhkan tanda tangan dan jarak perjalanan dari kantor menuju rumah ditambah hiruk pikuk jalan siang adalah sama dengan mengurangi 5 tingkat ketinggian gunung dokumennya. Jadi hal yang tepat adalah Luhan yang harus datang, bukan Sehun yang pulang.

Tapi..

Bagaimana nanti jika Luhan bertanya "Kenapa kau memintaku datang kesini ?"

Apa yang harus Sehun jawab, karena sialnya dia tidak punya alasan sedikitpun. Mengatakan bahwa "Aku hanya ingin melihatmu. Persetan apakah ini rindu atau bukan, yang jelas kau harus berada dihadapanku sekarang" rasanya seperti menggantung lehernya dengan kabel listrik yang bertegangan.

Itu juga sama saja melambungkan Luhan terlalu tinggi. Sebenarnya tidak masalah bagi Sehun untuk melambungkan Luhan setinggi mungkin lalu menyambutnya dengan lengan terbuka dan Luhan akan jatuh diatasnya. Namun masalah satu-satunya adalah, Sehun tidak yakin Luhan akan bersedia dilambungkan. Itu saja.

"Sepupuku baru datang dari Sydney dan karena dia memiliki tiga buah hotel bintang lima disana, setidaknya aku harus menyambut kedatangannya."

Sehun tidak terlalu paham dengan apa yang baru saja ia dikatakan. Ravi bilang jika Jin memang baru tiba di Korea, dan Sehun tidak menyangka jika mempertemukan Luhan dengan lelaki itu bukanlah hal bagus.

Sehun tidak menyukai pertemuan mereka.

Singkat jujur dalam hatinya ada yang berkata bahwa bersaing dengan Kim Seok Jin adalah salah satu dari beberapa hal paling menakutkan. Tapi Sehun tidak akan pernah berubah meniru tingkah Jin. Selain karena hal tersebut merupakan plagiarisme, hal yang paling utama adalah Sehun ingin hidup benar-benar sebagai dirinya. Bukan orang lain.

Luhan harus hidup bersama dengannya. Dengan diri Oh Sehun yang sebenar-benarnya.

.

.

.

.

"Ini bukan jalan pulang." Refleks Luhan menarik lengan Sehun begitu mereka menyimpang ke kanan, padahal kiri adalah arah dimana ada perempatan yang bisa membawa Luhan pulang ke rumah (Sehun). "Ravi, putar arah. Seharusnya kau belok ke kiri. Atau tepikan mobilnya dan aku akan pulang naik bis."

Tiga puluh meter di depan ada celah dibatas tengah jalan, lalu tidak jauh dari sana halte bis menunggu penumpang berteduh. Ravi harus memilih salah satu. Pilihan yang sulit.

Celoteh Luhan yang meminta mobil berputar arah, ataupun mata hitam Sehun mengancamnya dari kaca spion tengah.

Ravi memilih melupakan celah putar arah.

Luhan mendesah kecewa dibuatnya. Namun wanita itu kembali bersemangat menepuk sisi atas bangku Ravi begitu pondok penunggu halte semakin mendekat. "Ravi tepikan mobilnya. Tepikan. Jangan sampai terlewat lagi. halte berikutnya cukup jauh. Kau harus menepi sekarang. Tepikan, tepikan mobilnya. Ravi!"

"Tidak akan ada yang berputar arah dan tidak ada halte yang harus kau temui. Duduk ditempatmu."

"Sehun, kau harus mengantarku pulang."

"Aku tidak punya waktu."

"Sudah ku bilang turunkan aku di halte."

"Walau hanya sekedar menepikan mobil, aku tidak punya waktu."

"Kau mau membawaku kemana lagi ?"

"Kantor."

"Tidak! Aku tidak mau."

"Kau harus."

"Tidak. Aku akan jadi bahan gosip bagi mereka."

"Gosip membuat seseorang cepat terkenal."

"Aku tidak ingin terkenal dan dikenal oleh karyawanmu."

"Kau harus."

"Tidak. Tidak ada alasannya aku harus dikenal."

"Ada."

"Apa ?"

"Karena kau wanita luar pertama yang berhasil melangkah di lantai 25."

"Tidak masuk akal."

"Semuanya tidak harus selalu bergantung pada logika."

"Ku kira selama ini kau adalah dewa logika."

"Dulunya iya. Tapi kedatangamu merusak segalanya."

.

.

.

Seperti apa yang telah berkunang-kunang dalam imajinasi frustasinya, itu benar-benar terjadi. Luhan harus menunduk, bersembunyi dibalik punggung Sehun dan membiarkan rasa malunya diremas oleh puluhan bahkan ratusan pasang mata. Ada gumam-gumam halus berdendang silih berganti dibelakangnya dan sumpah mati, Luhan risih mendengar kalimat "Beruntung sekali gadis itu di tiduri oleh lelaki sesempurna Sehun."

Oh Sungguh! Aku bukan pelacur! Rasanya seperti itu Luhan ingin berteriak tapi dia terlalu banyak berkeringat hingga apa yang bisa dilakukannya saat ini hanyalah menarik kecil ujung lengan kemeja Sehun yang terlihat sama sekali tidak risau dengan segalanya. Sampai tubuh mereka masuk dan tertutup didalam kotak besi pengangkut ke lantai 25, Luhan berhasil melepas napasnya. Berpegang pada besi panjang dibelakang dan menghirup udara sebanyak mungkin.

Dahinya basah, keringatnya mengucur semua. Menahan napas lalu merasakan kaki berjalan tidak menyentuh tanah, serius membuat Luhan memompa kelenjar keringatnya bekerja dua kali lipat. Apa tidak ada pendingin ruangan di kantor Sehun ? Kenapa Luhan merasa udara sudah siap membakarnya hidup-hidup ?

"Lap keringatmu."

Luhan mendongak, ada lipatan sutera ungu muda yang ujungnya dibordir membentuk tulisan berangkai cantik dengan huruf O.L. Sehun mengulurkan benda itu padanya.

O.L ?

"Luhan."

"Ah ?" Apa dia baru saja melamun ?

"Keringatmu seperti pasien menjelang mati."

Terserahmu saja Oh Sehun. Luhan sedang tidak ingin berdebat karena baginya, ada sesuatu yang lebih menarik.

O.L.

Itu bukanlah inisial nama Sehun, bukan pula namanya. Jika 'L' yang dimaksud adalah dirinya, akan lebih tepat jika Sehun menulis W.L ; Wu Luhan, dan bukan O.L. Tapi kenapa pula Sehun harus membubuhkan nama Luhan ? Mereka tidak memiliki hubungan apapun selain, ya, cukup sulit mengakui jika hubungan mereka hanya berkisar tentang 'Give Me a Sex or I'll Fuck You Hard'.

Luhan pernah berpikir tentang sesuatu yang lebih jauh dan mendalam daripada itu, tapi dia tidak yakin Sehun pernah memikirkan hal lain selain menyetubuhinya.

Dentuman pintu membuat Luhan terlonjak, nampak sekali jika dia belum selesai melamun.

"Aku memberimu sapu tangan untuk menyerap keringat, bukan membuatmu terkena strabismus."

Luhan tidak fokus pada perkataan Sehun. Lelaki itu memutar kursinya sebelum duduk dibalik meja jati dan Luhan mengejarnya sebatas lebar meja itu; berdiri menghadap Sehun yang duduk.

"O.L itu inisial siapa ?" tanyanya bernada penasaran.

Bodoh!

"Kau tidak perlu tau."

"Ayahmu ?"

"Ayahku Oh Jihun."

"Ibumu ?"

"Ibuku Kim Sellia."

"Adikmu ?"

"Aku anak tunggal."

"Kekasihmu ?"

"Kau pikir aku punya ?"

"Kurasa tidak." Wanita itu menggembungkan pipi. Matanya yang bening menoleh ke langit-langit putih-coklat tua ruangan Sehun; berpikir sepertinya. "Lalu ini inisial nama siapa ?" tanyanya mendesah dan tidak sadar ada nada setengah putus asa didalamnya.

Sehun membuang napas sebelum memutuskan bangkit; meletakkan dua telapak tangannya dimeja dengan sedikit tekanan lalu mencondongkan wajah ke depan; ke dia yang berdiri dengan wajah cantiknya.

"Luhan."

"Apa ?"

"Aku berikan dua pilihan."

Satu teguk saliva Luhan telan diam-diam. "A-apa ?" tanyanya dengan pengucapan lebih gugup.

"Duduk manis disana, atau.." Sehun mempermainkan intonasi kalimatnya. "Atau….."

"Aku memilih duduk!" Jawab Luhan cepat karena sesuatu yang tidak senonoh mulai menghantui pikirannya. Dia berbalik, berusaha secepat mungkin dan sesigap mungkin lari sebelum…

Sehun menangkap pergelangan tangannya..

Dan Luhan,

Terlambat.

Mata mereka berdekatan lagi dan laki-laki itu tersenyum miring. Sesuatu yang selalu mengendalikan alam bawah sadar Luhan.

Luhan meneguk gumpalan salivanya lebih besar.

"A-apa lagi ?"

"Berikan aku satu ciuman."

Dan Sehun benar-benar menciumnya. Tepat dibibir. Satu jenis yang singkat namun dengan tingkat kemanisan di atas rata-rata. Ciuman ini menggunakan pemanis buatan. Bagaimana mungkin sebuah ciuman singkat bisa semanis ini ?

Oh Sehun..

Kau..

"Sekarang duduklah."

.

.

.

.

.

Adakah hal lain yang lebih menyebalkan daripada menunggu seseorang tanpa berbuat satu apapun selain menggoyang-goyangkan kaki dan mengetuk lantai dengan ujung tumit high heel ?

Sudah hampir dua jam. Sehun terlalu serius dengan kertas-kertasnya dan ruangan terlalu rapi untuk Luhan berantakan. Kakinya pegal sendiri. Melirik Sehun sekilas dia mulai membuka high heel hitam polosnya pelan, berharap tidak ada pergerakan yang akan membuat Sehun terganggu walaupun pada kenyataannya suara ketukan tumit high heelnya telah mengganggu Sehun sejak tadi.

Ah…

Kaki Luhan tersenyum. Pegal-pegalnya berguguran sembari bibirnya mengembang.

"Kakimu terluka ?"

"Ha ?"

"Kakimu."

"Tidak. Tidak." Ujar Luhan sembari melambai ringan pada Sehun. "Hanya saja kakiku sudah lama tidak bertemu high heel. Sedikit pegal sih. Tapi tidak ada yang perlu di khawatirkan. Lanjutkan saja pekerjaanmu."

Sehun menghela napas sebelum bertanya "Apa kau bosan ?" yang ditanggapi ragu oleh anggukan kepala Luhan. Sebenarnya ini bukan lagi rasa bosan, tapi nyaris menembus batas limit.

"Mau berkeliling sebentar ?"

"Tidak." Dia memandang meja kerja Sehun dengan sedih. "Masih banyak, kan ?" tanyanya dan Sehun tidak menjawab untuk menyangkal. "Lanjutkan saja pekerjaanmu."

"Kurasa baik-baik saja meninggalkan mereka selama 15 menit."

"Tidak. Kakiku pegal dan berjalan-jalan bukanlah ide yang baik."

"Lalu ? Apa yang ingin kau lakukan ?"
"Aku tidak tau alasan kenapa aku harus duduk disini dan tidak melakukan apapun. Aku juga tidak tau apakah hal itu penting atau percuma. Tapi bolehkah aku pulang saja ?"

Ujung kuku lentik Luhan bermain kecil di rok hitam ketat berbelahnya. Sehun melihatnya tanpa berkedip, mengisyaratkan bahwa dia masih menimang-nimang sesuatu yang sulit.

"Kehadiranku disini hanya mengganggu pekerjaanmu. Kau seharusnya mendapatkan suasana tenang agar bisa menyelesaikan pekerjaanmu dengan baik. Aku disini tidak bisa membantu apapun dan—"

"Jika kau lelah pakai saja ruang pribadiku." Sehun menunjuk pintu coklat tua disebelah kanan dengan dagunya; membuat Luhan menurut sebelum melanjutkan "Kau bisa tidur disana dan beristirahatlah. Akan kubangunkan jika semua pekerjaanku sudah selesai."

Luhan termenung sejenak sebelum akhirnya berdiri di atas kaki telanjang. Bukan itu yang dia inginkan. Luhan hanya ingin membersihkan tubuhnya dan tidur sepanjang malam dirumah daripada menunggui Sehun tanpa tau alasan sebenarnya mengapa dia harus melakukan semua itu.

Dan satu hal yang pasti adalah, akhir-akhir ini temperamental Luhan sangat buruk.

"Sebenarnya apa yang membuatku harus menunggu disini ? Aku tidak melakukan apapun yang berguna dan nyaris mati karena bosan."

Laci kotak kecil di bawah meja kerja Sehun terbuka dan laki-laki itu mengeluarkan sesuatu dari dalamnya.

"Ini kunci ruang pribadiku. Masuklah."

Lagi-lagi lelaki itu memaksakan kehendak. Dia memang seorang pemaksa dan seharusnya Luhan sudah sadar; tidak merasa heran lagi. Tapi kali ini dia merasa tidak bisa bertahan lebih lama. Maksudku, Luhan terlalu takut menanyakan alasan kenapa Sehun menahannya disini, karena baginya mendengar jawaban Sehun yang tidak sesuai pengharapan adalah sama dengan mempermalukan diri sendiri. Apalagi sesuai dengan apa yang ku katakan sebelumnya bahwa temperamental Luhan sangat sangat buruk belakangan ini.

"Aku ingin pulang. Bukan berjalan-jalan ataupun tidur diruang pribadimu."

"Sudah kuduga jika Tuhan menciptakan kepalamu dari batu neraka."

"Kau juga sama!"

Ya Tuhan…

Wanita ini ..

Haruskah Sehun mencubit gemas pipinya dan mengatakan bahwa apa yang dia katakan terdengar begitu menyebalkan?

Sesuatu yang liat mulai mengorek kesabaran Sehun. Dia beranjak dari kursinya dengan sedikit tenaga berlebihan; menghampiri Luhan lalu memaksa pergelangan tangannya ikut ke dalam sana; ke ruang yang tidak perah dimasuki orang lain. Ke ruang yang hanya Sehun pernah melihatkan kuncinya pada Luhan.

Satu dentuman dan mereka terjebak di dalam. Luhan, beserta wajah cantik dan lipstick merah kontroversialnya menantang Sehun walaupun tubuhnya telah di kekang lelaki itu; di dinding yang sedingin es.

"Aku melemah padamu bukan berarti membiarkanmu kembali menjadi pembangkang seperti ini."

"Aku bukan pembangkang. Kau saja yang terlalu pemaksa."

"Luhan!"

Sehun memanglingkan wajahnya ke kanan, sedikit ke atas lalu menggantung napasnya di paru-paru. Dia menggumpulkan butir yang mulai meletup-letup hampir mendidih dalam pikirannya, menggumpalkan semua menjadi satu bulatan besar dan dengan satu helaan napas panjang, dia melemparkann semuanya terbang bebas.

Memelihara Luhan adalah salah satu hal paling sulit.

Demi wanita itu, Sehun mencoba sekeras mungkin mengontrol diri, mengontrol emosinya. Ketika kedamaian mulai bisa merasuki logikanya kembali dan gumpalan amarah itu telah dia buang jauh-jauh, Sehun siap menemui Luhan. Tapi apa yang membuat dia mengerang frustasi adalah saat berpaling lagi pada wajah wanita itu, Luhan sudah berderai oleh sebuah tangisan.

Kemenangan para wanita.

Sehun menelan butir bersalahnya. Di ujung kebingungan, dia meletakkan sebelah telapak tangan di dinding belakang bahu Luhan, kepalanya menunduk; tidak ingin melihat Luhan dalam keadaan seperti itu.

"Jangan menangis." Katanya pelan, nyaris menyerah. Berharap tidak ada lagi yang akan menemukan dia dalam keadaan kalah seperti ini selain Luhan.

"Kau tidak boleh pulang." Sehun sangat lemah, Luhan dapat melihatnya. Apalagi ketika lelaki itu mendongak dan mata sayu mereka bertemu dalam jarak dekat, Luhan mampu mendengar hati Sehun bergumam lirih. "Aku membutuhkanmu. Sejak tadi segala sesuatu yang kulakukan menjadi buruk. Kau harus berada disini agar semuanya menjadi baik. Dan bagaimanapun, aku lelaki yang tidak tau cara meminta perhatianmu dengan cara yang benar."

Raut wajah Sehun benar-benar parah. Kekecewaan yang terlukis jelas di alis matanya saat dia melepaskan Luhan dan memilih mundur selangkah. "Pulanglah. Minta Ravi mengantarmu. Kabari aku jika sudah sampai."

Sehun tidak suka mengakuinya, tapi kali ini dia benar-benar membiarkan Luhan melihat dirinya menyerah.

Memaksa Luhan adalah hal yang tidak Sehun sukai namun dia tidak memiliki cara lain. Dia sudah terlahir dengan sifat seperti itu dan akan sangat sulit mengubah sebuah sifat. Melihat Luhan menangis karena bentakannya adalah sebuah kejahatan. Maka dari itu Sehun merelakan egoismenya kalah kali ini.

Sehun mulai berpikir bahwa dia akan pulang larut nanti malam. Pekerjaan menumpuk dan tidak ada Luhan adalah faktor utama. Tapi tidak masalah, dulu hidupnya juga dituntut bekerja hingga tengah malam, kan ?

Sehun lepas tangan. Dia hanya bisa menahan Luhan sebatas ini. Pekerjaan sudah menunggu dan apalagi yang bisa dia lakukan selain kembali pada kursi panasnya karena memaksa Luhan kini telah menjadi sesuatu yang percuma.

Tapi, tepat dilangkah ketiga, sesuatu yang kecil mencubit gusar kemeja putih diperutnya.

Sehun menemukan itu. Jari-jari mungil berkuku merah.

"maaf.."

Satu kata gelisah yang akan membuat Sehun lebih menyerah lagi.

Wanita itu bermain kecil di kemeja Sehun;bercerita tentang seorang putri yang menyesal dan di akhir kisah, dia menamatkan cerita dengan sebuah pelukan ringan. Menemukan tempat bersemayam yang tepat. Di dada bidang Sehun.

"Aku terlalu keras kepala."

Pengakuan Luhan membuat Sehun memutuskan menyudahi emosi hari ini dengan belaian lembut dikepala wanita itu. "Jangan mengulanginya lagi."

"Aku mengerti."

"Baguslah." Sehun mengecup puncak kepalanya. "Masih ingin pulang ?"

Luhan menganguk dalam pelukan Sehun dan dia terkesiap karena itu. Sehun pikir Luhan tetap akan tinggal disini.

"Tapi jika kau memesankanku Chocolate pancake dengan saus coklat kental dan juga irisan buah strawberry ditambah satu cup ice cream greentea, aku akan menunggumu sampai selesai. Aku berjanji."

"Masih menyukai ice cream green tea ?"

"Sangat."

"Kau yakin suhu tubuhmu sudah normal ?"

"Aku siap meminum obat."

"Berapa cup yang kau inginkan ?"

"Satu ukuran jumbo ?"

"Satu ukuran jumbo ?"

"Ya. Satu ukuran jumbo yang besar."

Luhan berkata antusias. Sehun meraih sesuatu di saku celananya sambil tetap meraih kepala belakang Luhan dalam telapak tangan. Padahal wanita itu masih memeluknya dan tidak akan kemana-mana.

"Baiklaaah. Kita lihat apakah Ravi bersedia membawakanmu satu cup jumbo ice cream greentea."

"Sebenarnya aku menginginkan kau yang membelikanku."

"Luhan, aku—"

"Aku tau." Dia memotong ucapan Sehun, memahami bahwa terlalu banyak hal yang menyita waktu lelaki itu. Lalu ketika Sehun mencari nama Ravi di kontak ponsel, Luhan merampasnya. "Biar aku yang menghubungi Ravi. Aku akan membuatnya repot hari ini."

Wanita pertama yang berani merampas ponsel Sehun.

Luhan bergoyang-goyang ringan, menikmati Sehun yang masih membelai belakang kepalanya. Dia asik sendiri memainkan kuku di kemeja sebatas pinggang Sehun dan bertingkah kekanakan. Menunggu Ravi menjawab panggilannya lalu membuat lelaki itu mengerang frustasi karena permintaanya.

Mungkin sekarang Sehun baru sadar walaupun dia masih belum sanggup berkata gamblang. Salah satu alasan mengapa Luhan yang terpilih menjadi pengganti wanita itu, salah satu alasan mengapa Luhan yang berada dalam pelukannya sekarang.

Karena dia adalah gadis manja bergairah tinggi yang terlalu menggemaskan. Satu-satunya wanita dengan tingkah kekanakan dan batu dikepalanya yang mampu memaksa Sehun untuk mengalah.

Wanita tunggal yang berani meminta Sehun membelikannya satu cup ice cream greentea ditengah malam buta.

Dia Luhan.

Segalanya yang berputar di ubun-ubun kepala.

.

.

.

.

.

.

Gue udah bilang di awal ya kalo chapter ini pendek banget. Jadi jangan complaint. Ini gue pulang kuliah langsung cus depan laptop buat nulis. Dan dapetnya cuma segitu doing. Syukurin aja deh :D

Buat Ravi801 yang ultah hari ini (anggep aja ini updatenya tanggal mau nunggu tanggal 10 tapi mat ague udah gak kuat. Daripada gak jadi gue post, jadi gue update di ujung tanggal 9 gak apakan ? :D),

Selamat ya :* Wish u all the best.

Ayo, siapa lagi yang ultah bulan oktober ? kalo ada yang ultah lagi dibulan oktober, sebagai hadiahnya gue cepetin nulis chapter 8b nya :D

Spesial buat bulan Oktober aja dan gue cuma pilih satu reader lagi. Tapi don't Geotjimal to eneng ya :v waks waks

Perhatian!

Plis, ini gue gak ada maksud loh update sebagai peringatan satu tahunnya Luhan wisuda dan jadi alumni EXO -_- Setahun juga Daddy Sehun resmi ditalak sama mommyLu. Habisnya sih daddy Sehun selingkuh melele. Mentang2 lagi laris juga -_-

Yang tepatnya ini adalah tanda terimakasih gue yang sebesar-besarnya sama bebeb Eclaire Delange yang udah mau post FF HunHan lagi. Beb, AI LOP YU :* :* :*

Dan juga buat readers, gue mau bilang AI LOP YUUUUUUUUUU untuk kalian semuahhhhh :*:*:*

Disini gue menghadirkan Kim SeokJin alias Jin BTS, karena apa ? Karena di BTS dia paporit gue. Bibirnya itu loh, aisshhhh.. Pengen di embat pake

Oh iya, banyak yang bingung ya dengan alur FF ini. Gue cuma mau komen singkat sih kalo sebenernya GUE JUGA BINGUNG ALURNYA KEK GIMANA -_- Suka-suka bidadari yang nulis dan suka-suka pemaisuri yang baca aja deh. Waks waks waks