HUNjustforHAN
.
.
.
.
Present
.
.
.
.
Desire
.
8b
.
.
.
.
.
Meletakkan yang satu, mengambil satu lain yang baru; terakhir. Sebelum membukanya Sehun melirik jam dipergelangan tangannya sekilas dan mendesah malas.
Lima menit lagi pukul 9. Kantor sudah sepi dan Ravi pulang lebih awal dari biasa. Dia bilang kalau anaknya mendapat peringkat satu di kelas, jadi dia ingin menyiapkan pesta kecil untuk sang buah hati malam ini. Semoga saja benar. Karena sesungguhnya Sehun telah menebak kalau lelaki itu hanya ingin cepat pulang dan menghindar dari Luhan yang terus memerintahnya sejak sore.
Jika saja Luhan memerintah Ravi untuk mencari orang hilang ataupun menculik seseorang, Ravi tidak perlu sepening itu. Bekerja dengan Sehun beberapa tahun bukan berarti dia tidak pernah melakukannya.
Tapi yang membuat dahi laki-laki itu berkerut parah adalah tentang bagaimana besar perjuangan mencari sepatu wanita berwarna pink tanpa high heel yang diatasnya terdapat manik berbentuk bunga mawar. Perintah siapa lagi kalau bukan nona agungnya itu.
Menemukan benda mungil pink yang dimaksudkan Luhan bukanlah suatu masalah besar; sebenarnya. Hanya saja, wajah garang Ravi dan suara berat yang sangat maskulin menjadikan dia objek aneh ketika menenteng sepatu pink ke kasir. Demi Tuhan! Ravi adalah satu-satunya lelaki di shoes shop bergender perempuan itu.
Ini memang nasib. Yah, mau dikatakan apa lagi ? Saat Luhan berkata kakinya pegal memakai high heel dan Sehun menelpon, Ravi tau sesuatu yang tidak beres mulai menjambak rambutnya. Sukses untuk mereka berdua.
Masih memikirkan bagaimana kemungkinan Ravi mengoceh dalam perjalanan pulang, Sehun terkikik geli. Dicakupnya pintu coklat sebelah kanan dalam penglihatan, ruang pribadi; dimana Luhan sedang tidur di dalam. Hatinya damai seketika begitu memikirkan bahwa wanita itu sedang bersamanya, disini.
Chocolate pancake disiram saus coklat, irisan strawberry dan satu cup ice cream greentea juga merupakan permintaan si manja. Dia mendapatkannya karena hari ini ;entah mengapa, Sehun benar-benar mengalah. Lelaki itu merasa bahwa mengalah pada Luhan ternyata tidak seburuk apa yang dia pikirkan. Ada yang membuat kekalahannya lebih menyenangkan, yaitu kemanjaan Luhan. Wanita itu jadi manja sekali saat permintaannya terkabul.
Sehun melirik meja coklat dan sofa hitam di lurus depan mejanya. Sekarang sudah bersih, namun beberapa jam lalu keadaan disana sangat berantakan. Lelehan saus coklat dan pancitan hijau kental ice cream greentea menitik kesana kemari. Sehun membiarkannya, membiarkan Luhan bersenandung senang dengan mulut penuh terisi makanan yang membuat lagunya beberapa kali terdengar sumbang.
Lalu saat merasa sudah kenyang dan chocholate pancakenya tinggal sepotong, Luhan menghampiri Sehun. Meminjam Sehun sebentar dari dokumen tersayangnya. "Ada apa ?" Tanya Sehun, dan dengan senyum menawan di bibir merahnya, Luhan berkata "Habiskan. Aku sudah kenyang."
"Buang saja jika kau tidak ingin lagi."
"Jika kau memiliki anak, jangan pernah mengajarinya hal seperti itu."
"Untungnya aku masih belum punya anak."
"Tetap saja, membuang makanan bukanlah hal bagus."
"Lalu, kau menyuruhku memakan makanan sisa ?"
"Aku jamin ini masih hiegenis."
Perkelahian kecil mereka tentang makanan sisa membuat Sehun tersenyum geli.
Dia mulai memilah kertas dalam map hitamnya namun berhenti dilembar pertama. Oh sungguh, kejadian tadi sore benar-benar mengacaukan Sehun. Otaknya mulai mengingat lagi betapa menggemaskan wanita itu ketika cemberut.
Sehun menolak sepotong chocolate cake sisa dari Luhan. Namun ketika Luhan berbalik dan mengatakan bahwa daripada membuang makanannya lebih baik menyuapi Ravi, Sehun langsung menyentak tangan Luhan hingga jatuh kepangkuan. "Potong kecil-kecil dan jangan sampai coklatnya mengotori kemejaku." Dia membiarkan Luhan menang.
Sampai dimana rusa mungilnya benar-benar kekenyangan dan tergolek tidak sadar di sofa, Sehun menghampirinya. Menggendong tubuh mungil itu sehati-hati mungkin dan merebahkan Luhan nyaman di ranjang; tempat yang hanya boleh Sehun menidurinya.
Hah..
Sehun mendesah, mengumpulkan kembali konsentrasi agar pekerjaan terakhir hari ini segera tamat dan dia bisa membelai wajah Luhan sebelum membangunkannya untuk pulang.
Sehun mulai lagi dilembar kedua. Sampai di kalimat ketiga, suara 'clek' dari pintu sebelah kanan terdengar dan membuatnya berhenti (lagi).
Wanita yang pita dirambutnya kusut keluar dari sana; berjalan setengah sempoyongan dan menguap beberapa kali diatas bibir mungil penggoda.
Dia menghampiri Sehun yang menunggu. "Belum selesai juga ?" tanyanya dan berdiri disamping laki-laki itu.
"Terakhir."
Dia menguap sekali lagi. "Jam berapa sekarang ?"
"Sembilan"
"Apa Ravi sudah pulang ?"
"Kenapa ? Kau ingin menyuruhnya membeli apalagi ?"
Dia menggeleng, tersenyum geli. Mengingat wajah frustasi Ravi merupakan humor tersendiri dan dia mulai memikirkan untuk mengerjai laki-laki itu lagi besok. Sehun pasti mengizinkan.
"Luhan."
"Em ?"
"Apa yang kau lakukan di dalam ?"
Luhan menoleh pintu coklat renggang di belakangnya sekilas.
"Apalagi yang kulakukan kalau bukan tidur. Pertanyaanmu aneh sekali."
Sehun menarik pinggangnya, membuat mereka berhadapan dan demi menjaga keseimbangan tubuh –yang bahkan tidak oleng—, Luhan meraih leher Sehun.
"Apa kau tidur sambil membuka kancing baju ?"
"Ha ?"
Luhan melirik ke bawah dan dia menemukan separuh dadanya mengudara; tepat dibelahan sintal yang terdesak."Jangan pernah tidur ditempat umum." Kata lelaki itu lalu meloloskan kancing-kancing kecil bajunya ketempat semula. "Aku tidak suka seseorang melihat apa yang hanya boleh kulihat." Tandasnya lagi dan membuat Luhan kehilangan napas sepersekian detik.
Astaga..
Kenapa Luhan bisa tidak sadar jika kancing bajunya terbuka ?
"B-berapa lama lagi ?" Luhan bertanya hanya untuk menghilangkan malu. Dan Sehun tidak perlu menjawab serius.
"Sesudah kau membenahi rambut dan lipstick-mu, kita pulang."
"Rambutku ?"
Luhan meraba kepalanya dan Sehun benar, rambutnya memang berantakan. Tapi untuk masalah,
"Lipstick ?" Saat dia meraih ponsel Sehun yang tergeletak dimeja dan mengacai dirinya sendiri, Luhan rasa lipsticknya masih baik-baik saja. "Tidak ada masalah dengan lipstick-ku."
"Kau yakin ?"
"Yaps."
Map hitam terakhir Sehun kembali berlabuh di meja. Dia tidak bisa membaca tulisan jika wajah menggemaskan Luhan sedang bertingkah bodoh menggunakan bibir cemberut di depannya. Warna merah di bibir itu sudah mengacau pikiran Sehun sejak awal dan Luhan lebih memperparah keadaan dengan mata sendunya yang berkedip-kedip tanpa dosa.
"Tapi kurasa kau harus memperbaikinya."
"Aku hanya memperbaiki lipstickku saat benar-benar berantakan, dan kurasa sekarang aku tidak membutuhkan lipstick tambahan."
"Kusarankan menyiapkannya."
"Kenapa harus ? Ku tekankan sekali lagi bahwa tidak ada masalah serius mengenai lipstickku. Mereka masih berada di tempat seharusnya."
"Tidak setelah ini."
Setelah apa ?
Tidak setelah Sehun menarik lehernya dan memberantakan Luhan dengan ciuman panas. Ciuman yang menempel lekat lalu menggigit-gigit kecil; menjilat ke dalam, berdecak mesra dan merusak segalanya.
Yah, Sehun benar lagi.
Luhan harus membenahi lipsticknya setelah ini.
.
.
.
.
Tidak masuk akal. Memilih kalah dan merasa baik-baik saja setelah itu ternyata tidak terlalu bagus seperti apa yang pernah dia pikirkan. Sesungguhnya ini bagus, tapi tidak ketika dia berpikir otaknya hampir gila karena itu. Sebagai bukti, Sehun tidak bisa memejamkan mata di ranjang empuknya walau seluruh lampu telah dipadamkan dan seluruh suara telah disenyapkan.
Berbolak-balik merusak tatanan sprai sudah Sehun lakukan dan sama sekali tidak berguna ketika Luhan tetap saja tersenyum dibalik kelopak matanya. Bagaimana Luhan merengek untuk satu cup ice cream greentea adalah kontaminasi yang buruk, karena bagi Sehun, ingatan tentang hal itu membuatnya menginginkan Luhan terus melakukan hal yang sama; merengek lalu bertingkah manja demi satu cup ice cream yang mustahil menghabiskan harta Sehun dalam belasan tahun mendatang.
Sehun suka, setiap kali Luhan mengadu tentang keinginan gilanya hanya pada Sehun dan menginginkan Sehun melakukan itu semua walaupun pada akhirnya Ravi adalah orang tunggal tempat melimpahkan segala keinginan Luhan.
Dia sungguh tidak bisa tenang. Dia menginginkan Luhan sekarang untuk dimarahi,-tidak, bukan memarahi dalam konteks jahat, Sehun hanya ingin memarahi Luhan dalam suatu artian yang berbeda. Dia ingin memarahi Luhan atas kesalahan tidak berarti wanita itu dan membuat pertengkaran kecil lalu dia memiliki alasan untuk memaksa Luhan tidur ditempat yang sama.
Sehun bergegas keluar dari kamarnya, menuju pintu yang menyimpan Luhan lalu mencari kesalahan wanita itu; yang jika dia tidak bisa menemukannya maka Sehun akan mengada-ngada jika suara dengkuran Luhan telah mengganggu tidurnya. Itu tidak masuk akal memang, tapi saat ini otak Sehun sedang dilanda kebodohan mutlak dan siapapun tidak boleh menertawakan idenya.
Clek!
"Luhan".
Sehun masuk, lampu di kamar Luhan masih menyala namun tidak ada pergerakan disana. Tidak juga ditempat tidur yang bersih.
"Lu.."
Kamar mandi terbuka dan ketika Sehun menoleh kedalam, air di bath up sudah kering yang menandakan Luhan sudah selesai dengan ritual mandi bidadarinya.
"Luhan.."
Kosong.
Dimana wanita itu ?
Sehun memutuskan keluar, karena jika berlama-lama mencari seseorang di ruangan yang jelas-jelas kosong akan membuatnya terlihat tolol.
Tidak butuh waktu lama bagi Sehun menebak dimana tempat yang akan didatangi Luhan saat kamarnya kosong, dan Sehun bergegas menuju kesana lalu menyaksikan tingkah konyol apa lagi yang akan dibuat wanita itu.
Semua ruangan temaram; bahkan nyaris gelap, kecuali satu ruang di ujung. Ada bunyi keretak-keretak samar seperti tikus pencuri keju sisa dari sana, berdenting kecil dan hilang menjadi kunyahan.
"Apa yang sedang kau lakukan ?"
"Oh! Sehun ?"
Luhan, yang sedang duduk dikursi meja makan, yang sedang berhadapan dengan mangkuk besar, yang sedang belepotan disudut bibirnya dan yang sedang mengunyah sangat penuh, terkesiap begitu mendapati Sehun menarik kursi lalu dengan sembarangan duduk disamping, memperhatikannya yang masih sibuk mengunyah.
"Apa yang kau makan ?"
Tanpa berkata, Luhan menunjuk isi mangkuknya, membuat Sehun mengintip dan diakhiri dengan kerutan wajah jijik. Ada nasi berminyak dengan sayuran layu bercampur jadi satu dan juga warna hitam pekat yang Sehun yakini adalah tumpahan kecap yang disengaja Luhan. Isi mangkuk Luhan tidak lebih baik dari muntahan kera.
"Benda apa ini ? Apa itu layak dimakan ?"
"Kau menghina makananku ?"
"Apa tidak ada makanan lain lagi ?"
"Aku menginginkannya, jadi jangan banyak komentar".
"Kau bisa memanggil Xiumin jika lapar, bukannya mengolah sesuatu yang tidak layak dikonsumsi seperti ini. Sudahlah," Sehun menarik paksa mangkuk Luhan. "Berikan padaku dan minta sesuatu yang baru pada Xiumin. Kau bisa sakit perut karena benda hitam jorok ini."
"Kembalikan padaku!"
"Tidak!"
"Sehun kembalikan!"
"Kau mau sakit ?!"
Tarikan napas Luhan terlalu dalam hingga Sehun bisa merasakan emosi wanita ini sedang berkerumun di ubun-ubun kepalanya. Dengan helaan napas, satu tegukan saliva di leher jenjang, serta kelopak mata berbulu lentik yang tertutup beberapa detik, Luhan meremas hatinya sendiri untuk merasa jauh lebih sedih.
"Itu buatanku". Dia menyendu tiba-tiba. "Kenapa kau menghinanya ?"
"Luhan.."
Ah, si cengeng telah kembali. Padahalkan lebih memudahkan bagi Sehun jika Luhan membalas dengan ucapan yang membara-bara; seperti apa yang Luhan selalu lakukan diawal-awal pertemuan mereka.
"Kau mungkin akan muntah hanya dengan melihatnya, tapi aku membuat makanan ini, aku menginginkannya dan benar-benar ingin memakannya. Kenapa memandang makananku seperti kotoran anjing ?"
"Lu.. aku—"
"Aku mau mangkukku kembali, Sehun.. Kumohon.."
Dan yah, Sehun salah saat mengatakan bahwa mengalah dari Luhan tidak seburuk itu, karena pada kenyataannya, dia sungguh tidak bisa melawan Luhan lagi sekarang. Mengalah begitu saja ketika wajah memelas Luhan hinggap dimatanya. Itu benar-benar buruk untuk harga diri seorang lelaki dominan; walaupun tidak ada hubungan antara lelaki dominan dan semangkuk makanan menjijikkan.
"Hah.." Sehun mengeluarkan sesuatu yang dia tahan. "Berjanji padaku tidak akan ada masalah dengan perutmu setelah ini."
Luhan bergeming bahagia mendapatkan mangkuk bulat kesayangannya telah kembali. "Aku juga berharap begitu."
"Kau saja tidak bisa menjamin makanan ini akan membuatmu baik-baik saja."
"Apa yang bisa kulakukan jika perutku yang meminta ?"
"Kau aneh."
"Ya,itu aku."
Satu suapan besar yang membuat Sehun mengernyit masuk ke mulut Luhan. Dia mengunyah sangat nikmat, tidak ada pandangan mual sedikitpun; yang malah dirasakan oleh Sehun.
Laki-laki itu memilih menghindar (sebelum muntah), mencari gelas bening tinggi di dapur standar internasionalnya dan menuangkan air mineral kualitas terbaik. Sehun mengamati Luhan yang berkonsentrasi penuh pada makanannya walau seserius apapun dia, akan tetap meninggalkan jejak disekitar bibir.
Sehun meneguk air mineral kualitas terbaiknya sambil berjalan, menghampiri Luhan dengan resiko dia akan mual lagi dengan mangkuk Luhan.
"Kau mau ?"
Sehun duduk ditempat semula,menawarkan Luhan segelas air yang bahkan sudah tinggal setengah. Entah karena malas atau tidak ingin memperbanyak cucian piring –atau apalah hal lain yang tidak masuk akal-, Sehun menawarkan gelas yang sama, yang sudah mencicipi bibirnya beberapa detik lalu; seperti mereka adalah sahabat sejak kecil ataupun sepasang kekasih yang sudah bertahun lamanya menjalin cinta.
Sehun tidak punya banyak waktu untuk memikirkan alasannya ingin berbagi gelas bersama Luhan.
Wanita itu mengangguk, dengan sebelah tangan dia meraih gelas dari Sehun; meminumnya rakus sedangkan sebelah tangan yang lain masih memegang sendok cembung panjangnya. Padahal Sehun sama sekali tidak berniat mencuri apapun itu.
Empat tegukan, Luhan menghabiskan airnya. Sehun mengernyit menerima gelas kosong terselip ditangannya. Apa ? Dia meletakkan gelas kosong dan kotor ditanganku ?Astaga! Wanita ini.
"Kau mau ?"
Luhan menawarkan satu sendok hitam memualkan didepan Sehun. Hal mustahil bagi Sehun untuk menerimanya karena dari mencium aromanya saja Sehun sudah pusing.
"Tidak. Kau makan saja sendiri."
"Ini enak. Percayalah padaku."
"Aku kenyang."
"Tapi wajahmu mengatakan hal yang berbeda."
"Ada apa dengan wajahku ?"
"Dia tidak mengatakan kau kenyang, tapi lebih tepatnya mengatakan bahwa makanan buatanku benar-benar menjijikkan."
"Akhirnya kau sadar."
"Ini tidak seburuk yang kau pikirkan. Kelihatannya saja parah, tapi rasanya sungguh fantastis."
"Maaf, aku lebih percaya pada pendapatku.
"Satu suapan saja." Luhan menyodorkan sendoknya lebih maju, merubah cara bicara menjadi lebih menggemaskan dan tidak menyukai Sehun yang mundur untuk menolak. "Kau harus menghargaiku."
"Bukan dengan cara seperti ini."
"Setelah satu suapan kau boleh untuk menolak suapan selanjutnya jika itu benar-benar buruk bagimu."
"Dan mendapatiku diare setelahnya ?"
"Apa kau baru saja menghina makananku lagi ?"
"Luhan.." Sehun menangkap pergelangan tangan wanita itu agar dia tidak bisa lebih memajukan sendoknya yang berbau jahat, dan Sehun memilih untuk menyingkirkan tangan itu sedikit kesamping. "Jika kau merasa tidak dihargai, maka aku akan menghargaimu dengan cara yang lain."
"Contohnya ?"
Contoh yang baik. Terlalu baik hingga sendok ditangan Luhan terlepas, tumpah dan mengotori meja makan Sehun yang bersih. Itu semua karena ciuman mendadak Sehun; tepat, kenyal dan basah.
Lelaki itu tetap memegang pergelangan tangan Luhan, tidak, sekarang Sehun merambat dengan jari-jari kokohnya memaksa jemari Luhan untuk terbuka; menyelip disela-sela lalu meremasnya erat hingga Luhan tidak mampu berbuat banyak.
Mata Luhan terbuka, melihat dengan kesadaran nyaris punah bahwa Sehun juga sedang menatapnya; sedang menatap matanya dengan bibir yang terus melumat mesra.
Ini bukan ciuman pertama, dan Luhan sering mendapatkan sesuatu yang lebih daripada sekedar ciuman seperti sekarang. Seharusnya ini sedikitpun tidak berarti mengingat Luhan sudah beberapa kali bergerak lengket dibawah Sehun yang menggoyang vaginanya hingga perih, berdua dalam kondisi telanjang dibawah selimut dengan Sehun lebih mendebarkan. Tapi tetap saja, setiap kali Sehun menciumnya, maka itu adalah awal dimana ujung-ujung saraf Luhan menegang dan pasrah.
Pasrah jika kepala Sehun berniat menelusup diantara selangkannya malam ini.
Urghh.. Tapi ini sudah terlalu malam.
Luhan meremas dada Sehun begitu dia ditarik saraf sadarnya, mengingat ciuman ini membuat dada berkerut. Dan Sehun, walaupun melepaskan ciuman mereka, namun masih berada dijarak yang teralu dekat, menatap kepala tertunduk Luhan seolah menghitung napas terengah wanita itu.
Luhan bersuara serak, yang sepenuhnya tidak perlu jika dia hanya ingin menghindar dari kecanggungan.
"A-aku mengantuk. Sepertinya aku harus tidur sekarang."
Dadanya masih berantakan, tapi Luhan tetap memutuskan untuk berdiri lalu pergi dari hadapan Sehun atau dirinya bisa kehilangan kendali lalu meminta sesuatu yang lebih luar biasa dari sebatas bertukar saliva. Ya, Luhan bersiap lari menuju kamarnya sebelum dia kembali tertarik kebelakang karena melupakan sesuatu. Jarinya masih mengait erat dengan jemari Sehun.
Wajah Luhan memerah, malu bukan main karena Sehun terkikik geli melihat dia yang hampir jatuh dalam pangkuan lelaki itu. Dan dengan logikanya yang tinggal seperempat, telapak tangan Luhan menekan sesuatu yang membuatnya batal mendarat dalam pangkuan Sehun. Namun itu semua tidak sebagus perkiraan awal karena pada kenyataannya apa yang Luhan tekan adalah paha yang tepat bersebelahan dengan sesuatu yang suka memenuhi lubang vaginanya.
Sehun tersenyum geli karena Luhan melotot horor. Seolah dia tidak pernah melihat sesuatu yang keras, panjang dan memuaskan itu saja.
"Wajahmu merah."
Ya! Luhan tau itu dan Sehun tidak perlu mengucapkannya hanya untuk melihat Luhan mengeluarkan keringat dingin.
"A-ah…Makananku terlalu pedas. Apa aku terlalu banyak memasukkan lada ? Seharusnya aku tidak menambahkan terlalu banyak. Ini pedas sekali. Wajahku jadi memerah."
Dia berceloteh tidak jelas, sesuatu yang konyol ,dan melangkah pelan untuk kembali ke kamarnya, meninggalkan Sehun yang tetap terkikik kecil di belakang.
.
.
.
.
Ya Tuhan!
Ini memalukan.
Luhan memutar kran air di wastafel kamar mandi, mencuci wajah dan ketika tetap merasa panas, dia memilih meraih toothbrush lalu menggosok giginya dengan rajin walau panas diwajahnya tetap sama.
Lama-lama Luhan bisa gila jika terus menerus seperti ini.
Satu kumuran terakhir, Luhan mengakhiri proses sikat gigi malam. Dia menarik napas panjang, sangat dalam sebelum menghembuskan semuanya dalam sekali hentakan, berharap jika setelah ini dia masih bisa tidur dengan tenang dan bermimpi indah di sisa sepertiga malam.
Tali kimono tidurnya masih rapi dipinggang, tapi untuk menaikkan rasa percaya diri Luhan melepasnya dan mengikat ulang. Dia mendesah kecewa karena ikatannya tidak sebagus semula.
Ah.. Luhan sungguh butuh tidur sekarang walau dia tidak yakin bisa tidur secepat itu. Ciuman Sehun melenyapkan seluruh rasa kantuk.
Pintu kamar mandi terbuka, berbunyi jelas sekali mengingat ini sudah tengah malam.
Luhan keluar diantara rasa percaya dirinya yang menciut. Dia menunduk, takut jika mendapati Sehun duduk di atas ranjangnya—yang sebenarnya Luhan tidak tau dia benar-benar membenci hal tersebut atau malah mengharapkan Sehun duduk disitu—".
Luhan mendesah sekali lagi begitu sadar apa yang dia harapkan adalah Sehun ada disini. Dia ingin Sehun duduk disana menunggunya dengan wajah luar biasa ketika dia mendongak—
"Ku kira kau tidur di kamar mandi."
—Sehun benar ada disana. Duduk bersandar di kepala ranjang, membaca majalah bisnis dan menimbun separuh tubuhnya dengan selimut Luhan.
Apa yang laki-laki itu lakukan dengan posisi seperti itu ? Tidakkah kalian berpikir bahwa Sehun berada pada posisi seorang— suami ?
"Apa yang kau lakukan di kamarku ?"
"Membaca majalah bisnis sambil menunggumu keluar."
"Seharusnya kau tidak disini."
"Lalu ?"
"Ini sudah sepertiga malam dan kau harus berada di kamarmu."
"Kenapa aku harus ?"
"Karena aku tidak bisa tidur karenamu!"
Sehun menutup majalahnya, melemparkan gambar-gambar gedung mengangumkan begitu sembarangan ke meja nakas lalu memberikan Luhan tatapan penuh.
"Kalau begitu jangan tidur."
"Apa?!"
"Aku juga tidak berniat tidur malam ini."
"Kau gila ?" Luhan mendekat, entah sadar atau tidak –atau memang sengaja—duduk di sisi kosong samping Sehun. "Besok pagi jam 9 kau ada meeting dengan klien dari cina."
"Darimana kau tau jadwalku ?"
"Hampir seharian aku berada di kantormu dan meja Ravi bukanlah tempat yang sulit untuk diburu."
"Kurasa akan sangat bagus jika aku mempunyai sekretaris wanita."
"Oh tidak.. Jangan menatapku seperti itu Oh Sehun. Kau tau aku tidak akan mau duduk bersebelahan dan menjadi saingan berat untuk Ravi".
"Aku bisa membuatkanmu ruangan sendiri".
"Dan memberimu keleluasaan untuk mengunjungiku lalu melakukan hal yang…. Oke, jangan dilanjutkan."
"Kau bisa duduk di ruanganku jika kau mau."
"Itu lebih parah." Luhan memutar bola matanya, memutar tubuh lalu masuk kedalam selimut; membelakangi Sehun. Masih ada suara kekehan geli di belakang.
20 detik, bahkan kurang dari itu Luhan tidak bisa bertahan lebih lama. Dia bangkit, duduk dan berhadapan dengan Sehun yang masih diposisi awal.
"Kembalilah kekamarmu."
Sehun melipat tangan di dada, menatap Luhan tapi mengabaikannya.
"Aku mohon."
Sehun masih tidak merespon.
"Aku tidak bisa tidur jika menggunakan kimono tidur ini. Aku harus melepasnya."
"Lepas saja."
"Karena kau disini, aku tidak bisa."
"Apa kau telanjang ?"
"Tentu saja tidak! Aku masih memakai baju tipis sebagai dalaman".
"Lalu ?"
"Pergilah ke kamarmu dan aku bisa membuka tali kimonoku."
"Luhan.."
"Hm?"
"Have we had a sex ?"
"Pertanyaan gila! A sex ? Kau pikir cuma sekali ?!"
"See ? Sudah berkali-kali dan mustahil bagimu mengaku bahwa seluruh tubuhmu belum pernah kulihat".
Luhan memberenggut, menggemaskan sekali. "Kau memang sudah melihatnya. Melihat semuanya! Tapi- Arghh! Lepaskan!"
"Kenapa harus bertengkar dulu hanya untuk melepaskan benda ini."
"Kau merobek kimonoku, Oh Sehun! Dan jangan melemparnya sembarangan!"
.
.
.
.
Luhan bangun sedikit siang, pukul 8 pagi dan Sehun sudah menghilang dari sampingnya. Kepalanya pening akibat hanya tidur empat jam.
Gorden didinding kaca belum terbuka, Luhan berpikir jika Sehun sengaja tidak ingin menganggu tidurnya dan itu membuat dia tersenyum kecil. Tubuh mungil Luhan bangun, duduk malas di ranjang dengan gerakan menggeliat berkali-kali. Lalu saat tangannya terentang ke atas ketika dia menguap, mengangkat baju dalam tipisnya naik sedikit, mata Luhan melirik sesuatu.
Ada yang tergeletak tak bernyawa dilantai bawah, mengagetkan Luhan sehingga refleks dia menyentuh dadanya.
"Bra-ku ? Apa itu bra-ku ?"
Dia memeriksa dadanya lagi dan sentuhan Luhan terasa kenyal dibalik baju dalam tipisnya. Itu berarti….
"Oh Sehun! Kau !"
Clek!
"Kau sudah bangun ?"
Langkah Sehun baru memasuki hitungan ketiga melintas dari pintu dan teriakan Luhan sudah mengagetkannya pagi-pagi.
"Oh Sehun! Apa yang kau lakukan pada bra-ku ?!"
Sehun memicingkan matanya, suara Luhan sungguh bernada tinggi saat berteriak. Dan dia mendekati wanita itu begitu melihat wanitanya menutup dada dengan selimut.
Luhankan masih memakai baju dalam tipis, dia tidak perlu meremas selimut jika ingin menutupi dadanya. Tidak ada yang bisa Sehun lihat selain… Ya, selain tonjolan putingnya yang bisa membuat jakun Sehun gelisah.
"Aku tidak melakukan apapun pada bra-mu selain melepaskan kaitnya."
"Hanya melepaskan kaitnya katamu ?" Luhan menunjuk benda keramat di lantai. "Lalu apa arti itu ?! Tidak mungkin hanya sesimpel kata-katamu barusan hingga bra-ku ada disana!"
"Sulit untuk menjelaskannya. Tapi memakai bra saat tidur tidak bagus untuk wanita."
"Bagus atau tidak itu urusanku! Kau tidak berhak melepaskan bra seorang wanita yang sedang tidur."
"Rasanya lebih baik jika kau bertanya apa yang kulakukan pada payudaramu daripada mempermasalahkan benda bernama bra itu, karena menurutku itu sedikit lebih mudah untuk dijawab."
"A-apa ?"
"Aku menyentuh, menggenggam, meremas dan menjilatnya. Milikmu. Untuk lebih jelas, payudaramu."
"Kau gila ?!"
"Seharusnya kau bersyukur aku hanya bermain dipayudara."
Sehun tersenyum kecil, suka ketika paginya yang biasa sunyi kini terisi dengan letupan-letupan Luhan. Dia memegang puncak kepala wanita itu lalu mengusaknya; memberantakkan rambut Luhan yang memang sudah kusut.
"Aku harus pergi sekarang. Jadwal meeting dimajukan setengah jam". Sehun membetulkan lengan kemejanya dan Luhan hanya terdiam mengamati. Dia ingin menyemburkan sesuatu dimuka Sehun –sebenarnya-, tapi saat lelaki itu mengusak kepalanya dan tersenyum kecil, Luhan bodoh seketika. "Ravi akan menjemputmu nanti siang."
"Menjemputku ?"
"Ya. Kau harus siap sebelum jam 12".
"Kemana ?"
"Ke kantor."
"Tidak.. Tidak.. Aku tidak mau mati membusuk disana."
"Kau harus."
"Aku tidak!"
"Jika masih menginginkan satu cup jumbo ice cream greentea, maka kau harus."
Luhan merengek, menerjang ujung selimut dikakinya seperti bayi berganti popok.
"Sehuuuuuuun."
Dasar manja!
.
.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
Maaf jika chapter 8b update telat. Untuk alasan yang sama, gue cuma mau bilang kalo tugas kuliah bener-bener minta dilempar pake eeq jongin, yang hitam, yang bau, dan keres lagi tuh.. waks waks waks..
Dan gue adalah orang yang pesimis, karena setiap kali gue selesai nulis, gue gak punya kepercayaan diri untuk mengatakan FF gue cukup bagus. Gue selalu merasa FF ini semakin absurd -_-
Chapter ini mungkin gak semanis chapter 8a, soalnya kebetulan dirumah gue lagi kehabisan gula (coeg lah-_-), tapi semoga aja tetep suka.
Untuk Reader yang ulang tahun bulan Oktober, gue gak bisa menghadiahkan ini buat satu orang aja. So, ini FF special buat semua readers gue yang lagi ulang tahun di bulan Oktober.
Untuk: Kak xiaolu odult (gue gak tau ini kak xiaolu ultah beneran apa ), viiyoung, ChanHunBaek, Chanshin08, SCoupsh, Re-Panda68, Ihfaherdiati395, Ratna Kim, , MissPark92, Keponakan ohrere1208 (Boahaq), park28sooyah, DBSJYJ, salma lulu, Akasyaka Aeri, dinda88, nyokap hunluv, , xoexo88 , istiqomahpark01.
Mohon maaf jika ada namanya yang gak kesebut. Mungkin mata gue sedang buta . :D
October Special. :*
Gue mau bertanya, yang review ini siapa ?
Guest chapter 8 . Oct 10
"naaaad lu ganti pin ko gua ga di kasih tau sih tega lu mah ama gua" gue gak tau elu siapa beb, plis, seseorang tolong beri bidadari hidayah untuk mengenali siapa orang ini T.T Gue bakalan kasi tau Pin BBM baru (Pamer) gue kok kalo gue tau siapa elu.
Untuk Eclaire Delange alias separuh beha dan separuh kolor-ku, elu kapan update lagi mbak yuuuuuu ? -_- hati bidadari gak sekuat itu untuk nunggu kamu update T.T Sedih aku.
Tentang FF ini yang masih terkait sama event hunhan april passion (yang sebenarnya udah berakhir sejak lama (?)), gue awalnya takut sumpah waktu di PM sama panitianya, Kak Lieya El. Gue kira kak lieya bakal marahin gue karena melanggar peraturan event hunhan april passion. Eh, tapi ternyata sekali buka PM balasan dari dia, kak lieya bilang kalo itu cuma penyemangat buat para author yang belum merempongin ceritanya. Dari situ gue baru bisa bernapas sambil mendesah (?).
Buat Kak Lieya El, makasih untuk pengertiannya kak. Apalah daya jika FF ini didiscontinue, pasti gue bakalan disantet sama para readers yang mesum ini. Boahahahahahahaha.
Untuk semua readers, satu kata yang pasti.
AI LOP YU :*
