HUNjustforHAN

.

Present

.

.

.

.

Desire

.

Chapter 9

.

Jam istirahat makan siang sudah berakhir sepuluh menit lalu. Aroma kimia tinta pen, ilustrasi riuh kantin bawah ataupun bunyi kesal klakson-klakson kecil dijalanan siang kota Seoul, Sehun melewatkan semuanya berserta satu porsi irisan daging gurih disiram saus kental kahas Perancis sebagai menu makan siang favoritnya juga terlewatkan. Panas terlalu terik, dan walaupun dia memiliki satu lamborgini dengan suhu dingin berkualitas tinggi, Sehun terlalu malas turun ke lantai bawah.

Siang ini tanpa Ravi. Sehun juga tidak mengerti kenapa menyetir sendiri dan membelah kemacetan kota Seoul dengan waktu berjam-jam terasa sangat menyebalkan. Jadi dia berkompromi dengan perutnya agar bertahan sampai sore nanti. Ataupun sampai Ravi datang.

Tapi sialnya…

Dia tidak sanggup bertahan lebih lama.

Sedikit bosan memang, duduk sendiri menikmati makanan kemasan disela-sela kosong tumpukan dokumen. Itu bisa saja berakibat buruk pada dokumennya, tapi Sehun terlalu malas memindahkan makanan –yang sudah terlanjur dibuka—ke meja tamu di ujung matanya.

Dia sudah mencoba menghubungi Ravi beberapa menit lalu, menanyakan kepada laki-laki itu apa yang sedang Luhan lakukan –sebenarnya lebih kepada hal konyol apa lagi yang akan Luhan lakukan-, dan Sehun harus puas dengan mendesah juga sedikit pijatan di pelipis ketika panggilannya ditutup sepihak.

Ravi tidak pernah punya banyak nyawa untuk melakukan itu. Ada suara makhluk kecil yang sedang merengek disana, dan untuknya, Sehun terkekeh geli kemudian berniat menaikkan gaji Ravi dua kali lipat. Ravi sudah bekerja keras.

Sehun masih berusaha menikmati makan siang yang entah mengapa terasa begitu membosankan ketika seseorang –yang tanpa sopan santun—langsung menerobos masuk keruangannya tanpa mengenal apa itu adat mengetuk pintu. Yeah, walaupun dengan berat hati Sehun mengatakan bahwa dia juga jarang melakukan hal tersebut. Tapi hey, dia direktur utama disini!

Jika dulu, ada yang berani melewati pintu ruangannya tanpa ketukan sebanyak tiga kali, maka Sehun punya banyak sekali amplop putih dalam lacinya yang sudah terisi beberapa lembar dolar sebagai pesangon. Dia bukan orang sang pangeran baik hati sebelumnya. Tapi, ketika sekarang ada seseorang masuk dan berhenti dilangkah kedua lalu menutup mulut mungilnya dengan jari berkutik hijau muda, "Ups.. Ku pikir tidak ada orang" dan berkata dengan nada begitu santainya, Sehun bisa menebak si setan kecil.

Wanita mungil dengan kemeja putih ketat dililit rok kembang greentea latte selutut dan juga….

"Apalagi yang kau bawa ?"

"Ini ?"

"Ya. Benda aneh dari Saturnus itu?"

"Ravi membelikan balon ini untukku".

Seseorang menyusul masuk dengan napas terengah, terlalu terengah sampai dia juga lupa mengetuk pintu. "Nona Lu!" Peluh didahinya membuktikan dia sudah bekerja terlalu keras.

"Oh, Ravi. Maaf. Salahkan pintu lift-nya yang tertutup sebelum kau masuk". Cengir Luhan begitu manja dan itu jelas sekali bukan mengatakan kebenaran. Dia sengaja melakukannya agar Ravi mendapatkan keringat lebih banyak.

Kaki jenjang bersih luar biasa milik Luhan dibalut higheel putih; senada dengan warna kemejanya, yang Sehun perkirakan Luhan bertambah tinggi 13cm. Laki-laki itu sempat mengernyit, "Highheel lagi ?" mengkhawatirkan Luhan akan kepegalan seperti kemarin hari. "Tidak menyesal, kan?"

"Entahlah. Tapi aku jatuh cinta pada highheel ini ketika membuka lemari sepatu".

"Bukan masalah jika kau bawa satu pasang sepatu flat sebagai cadangan".

"Sayangnya aku tidak".

"Luhaaaan".

"Bukankah ada Ravi ? Dia akan membantuku menemukan sepatu flat jika kakiku pegal. Benarkan Rav—"

"Saya permisi".

'Blam'

"Yak! Ravi-ah!"

"Bagi Ravi kau lebih menakutkan daripada bajak laut".

Luhan mengumpat kecil atas dentuman pintu dan dia mengumpat keras saat Sehun terkikik menertawakannya. Sebuah penghinaan untuk Luhan dan Sehun sangat bahagia untuk itu. Betapa jahat dia ? Selagi tidak ada mesin pencatat tingkat kejahatan, Sehun bebas melakukannya.

Penampilan Luhan selalu berhasil mencuri perhatian Sehun. Dia sering menemukan jenis wanita bergaya penampilan nyaris sama dengan Luhan, tapi entah karena alasan apa, Luhan jauh ratusan kali lebih menarik. Apapun terlihat cocok pada Luhan.

Tipe wanita berpenampilan menyenangkan.

"Berapa usiamu ?"

"Usiaku ?" Luhan menghitung dalam pikirannya sebelum menjawab "24".

"Seorang wanita 24 tahun masih memainkan benda aneh itu ?"

"Benda aneh?" Luhan meneliti arah mata Sehun dan dia menemukan jawabannya."Oh, balon kepala hello kitty ini ?".

"Pasti sebuah paksaan. Jelas sekali aku mengirimkan Ravi dalam keadaan sehat namun ketika datang bersamamu, dahinya basah".

"Aku tidak memaksanya. Hanya—"

"Merengek seperti kambing?"

"Tidak! ".Bantahnya dengan nada suara naik beberapa tangga sebelum merunduk, "Hanya... sedikit". mengaku cepat dengan cara menggemaskan.

"Gaji Ravi naik karenamu".

"Baguslah".

Perempuan ini!

Ketuk-ketuk dari ujung highheel putih Luhan berirama denting piano; menghibur Sehun; bertema kerinduan dan laki-laki itu tidak ingin kehilangan satu langkahpun. "Sedang makan siang ?"

Dia menunggu wanita itu berlabuh disampingnya sebelum mejawab "Sudah selesai." , berdahak sejenak demi merasionalkan otak dan matanya yang langsung sepakat menaruh perhatian lebih pada dada Luhan, "Bagaimana dengan… susumu ?"

"Ha ?"

"Ah, maksudku apa Xiumin membuatkanmu segelas susu ?"

"Dia selalu meracuniku dengan segelas susu setiap makan siang". Luhan mengintip tutup lunch box transparan Sehun saat tanpa diketahuinya, Sehun menggelengkan kepala beberapa kali; mengusir pikiran aneh yang membuat diri bawahnya beranjak sesak. "Kebiasaan burukmu selalu menyisakan makanan".

"Lada hitamnya membakar tenggorokan. Aku tidak tahan".

Luhan mengendus bekas makan siang Sehun dimeja, kurang dari tiga detik dia menutup hidung dan menarik wajah bersama segala raut penghinaan. "Baunya menjijikkan". Katanya menghayati.

"Balas dendam dengan mengatai makananku ?"

"Tidak. Tapi baunya seperti kotoran ternak. Sungguh".

"Kemari".

Sehun memerintahnya mendekat, namun Luhan malah mundur selangkah untuk menjauh. Antisipasi sangat penting dalam menghadapi Sehun.

"Ada apa ?"

"Duduk".

Luhan kira dia salah memakai aroma parfum yang tidak disukai Sehun siang ini sehingga laki-laki itu menyuruhnya duduk disofa hitam ujung mata; menjauh, ataupun Sehun kurang menyukai kalimat basa-basinya tentang kotoran ternak yang Luhan tau lelaki itu memiliki perasaan lebih sensitive dibeberapa kesempatan, tapi ketika dia mulai berbalik tanpa suatu bantahan dan Sehun meraih tangannya dengan cara mendebarkan, alarm berbahaya Luhan memekik keras.

"Mau kemana ?"

"K-kau memintaku untuk duduk, kan ?"

"Apa aku memintamu duduk di sofa ?"

"Haruskah aku duduk di…. Lantai ?"

"Terserah".

"Sehuuun".

"Itu terserahmu memilih duduk di lantai atau…. dipangkuanku".

Kumohon jangan. Jangan bersikap seperti ini padaku, Oh Sehun. Jangan pernah berani sekalipun mengacaukan detak jantungku. Kau harus bertanggungjawab atas segala resiko buruknya.

"Mendekat". Tungkai kaki Sehun yang tadi bersila kini berlabuh, menbentuk dataran dengan siku-siku lelaki luar biasa gagah. "Duduk disini".

"Tidak mau".

Dengan satu betis panjang sebelah kanan, Sehun menyelip dicelah kaki Luhan; menyepak kecil kedua betis ramping milik wanita itu dari dalam dan saat Luhan dilanda keolengan, Sehun menarik pinggangnya dalam sekali usaha.

Cara cerdik membuat wanita duduk mengangkang.

"A-apa yang kau lakukan ?"

"Sedang memikirkan sesuatu yang bisa kulakukan pada pakaianmu".

"Ada yang salah dengan pak—Yak! Oh Sehun! Kembalikan balonku!"

"Berusahalah mengambilnya".

Luhan tidak sadar, dia pikir Sehun hanya sebatas jahil dengan merampas tali balon ditangannya untuk disembunyikan dibelakang bahu. Tubuh mungil Luhan merapat ke depan beberapa kali ketika tali balonnya nyaris bisa dia raih. Senyuman terukir gemilang diwajah Luhan saat apa yang Sehun rampas telah kembali ke dalam tangannya; Luhan dapat lagi balon pink kepala hello kittynya. Dia bersorak bahagia atas sebuah kemenangan sebelum menemukan bibir Sehun tersenyum begitu puas. Dan ketika dia mengikuti arah pencipta kepuasan dirahang tegas Sehun, tidak ada lagi yang bisa Luhan lakukan selain mendesah dengan seluruh kepasrahan.

"Tanganmu memang sangat ahli ya membuka kancing baju wanita ?"

"Pujiankah ? Terimakasih".

Luhan berdecih, menyembunyikan gelegar menyenangkan yang berputar-putar diperutnya. Langit gila! Bagaimana bisa dia merasa senang untuk kancing baju yang dibuka Sehun ?

"Bangga sekali dengan tingkat seksualmu yang parah".

"Itu kebanggan sebagai seorang pria".

"Tapi kenapa kancing bajuku yang menjadi objeknya ?!"

"Salahmu sendiri memiliki payudara bagus".

"Pujiankah ? Terimakasih".

Bibir tipis Sehun bergerak kecil, menahan senyum yang selalu berhasil Luhan ciptakan dengan sautan-sautan kesalnya. Selalu berhasil menerbangkan kunang-kunang di sekitar kepala Sehun.

"Dimana aku bisa mulai ?"

"Kau tidak akan memulai apapun". Katanya dan merasa sesuatu mulai merambat dibagian bawah. "Oh Sehun".

"Hm ?"

'Plak!'

"Jauhkan tangan nakalmu dari pahaku".

"Oke. Aku tidak akan bermain di paha jika kau ingin dibejati bagian atas".

"Oh Tidak. Sehun!" Ini pelecehan. Luhan berusaha mencegah telapak tangan Sehun masuk ke dalam cup bra-nya yang mencoba mengeluarkan tumpukan daging kenyal dari dalam sana. "Kau gila ?!" Sejak kapan Sehun semakin luar biasa sinting seperti ini ?

"Berikan payudaramu dan kenormalanku akan kembali".

"Tidak! Kenormalan apa itu?!" dan sayang sekali jika Sehun memang tidak pernah punya kenormalam tentang seks. Dia lelaki luar biasa. Luhan harus merelakan balon kesayangannya terbang ataukah payudara sintalnya keluar."Tidak disini, Sehun!"

Separuh ujung kemejanya sudah berada diluar, kusut karena keahlian Sehun. Dan saat Luhan berseru 'Tidak disini, Sehun', laki-laki itu berhenti hanya untuk meminta penjelasan lebih lanjut tentang dimana seharusnya mereka berada.

"P-pintu ruanganmu tidak terkunci. Bagaimana jika ada yang masuk ?"

"Ruang pribadiku tersedia. Selalu terbuka untuk sebuah seks panas. Jadi ?"

"Seks disiang hari ? Itu menjijikkan." Sebenarnya tidak semenjijikkan itu. Hanya saja, ya seorang wanita harus jual mahal. "Kunci saja pintu ruanganmu". Tapi Luhan selalu membuat kemahalannya menjadi murah bagi Sehun.

"Sedang rusak".

"Konyol. Mana mungkin kantor sebagus ini kuncinya rusak".

Kendikan bahu dan juga ekspresi meremehkan dari wajah Sehun meyakinkan Luhan jika laki-laki ini hanya membual. Tapi dia merasa cukup nyaman dengan itu. Logikanya berkata bahwa Luhan sudah meletup oleh gairah sejak Sehun membuka kancing bajunya.

"Ya sudah.."

"Apa ?"

Ceruk leher Sehun dikelitik oleh tumpukan rambut dan juga sepasang lengan melingkar, "Ruang pribadimu saja" kata seseorang berbisik ditelinganya dengan nada terpaksa dan ingin yang sama besar. Bagaimana wanita itu melakukannya ?

Senyuman Sehun mengembang untuk kepasrahan Luhan, walau tanpa diketahuinya ada yang lebih bahagia dari ini.

Seseorang yang menyembunyikan senyum dipunggung belakang Sehun.

Mereka melangkah sabar menuju pintu coklat dengan Luhan menjadi anak kangguru di pelukan Sehun. Dia tidak melepas lingkaran lengan ataupun kekangan kakinya di pinggang Sehun dan lelaki itu sama sekali tidak keberatan menyangga Luhan dihadapannya.

Alasan lebih jauh, dia dapat menahan pantat Luhan di atas lengannya.

.

.

Napas Luhan berhembus gelisah, didiamkan oleh Sehun dengan posisi mengangkang di atas paha; sama seperti posisi mereka di kursi tadi namun perbedaan sekarang adalah Sehun duduk di tepian ranjang. Lengan tegap laki-laki itu berada dibelakang, menyangga tubuhnya sendiri dan membiarkan Luhan nyaris mati dibiarkan bergerak tanpa sentuhan. Oh, jangan lupa dada Luhan yang setengah terbuka.

Sebenarnya apa yang laki-laki ini lakukan ?

Satu helaan keras, Luhan jengah dipermainkan. "Kau menyebalkan!" katanya bernada marah. Sehun terlalu suka mendengar itu, seolah Luhan juga menginginkan hal 'tersebut'.

"Kau juga menginginkannya ?"

"Tidak lagi!"

"Berarti tadi 'iya'".

"Bisakah aku membunuhmu sekarang ?!"

Sehun tertawa geli untuk itu namun tetap mengabaikan Luhan yang membuat wanitanya merasa tidak lagi terpakai. Sebuah penghinaan bagi Luhan duduk mengangkang diatas paha seorang pria tanpa disentuh sedikitpun. Padahal tadikan Sehun yang mengajaknya kesini; Luhan berpikir dia cukup senang. Tapi ketika melihat semangat Sehun bersembunyi walaupun gairah jelas terlihat dimatanya, Luhan rasa Sehun hanya main-main.

Dia mulai bergerak untuk pindah, mengganggu Ravi dengan memintanya membeli pakaian dalam wanita terdengar jauh lebih baik daripada diperhatikan tanpa kejelasan sentuhan dari Sehun. Ya, Luhan sudah siap meninggalkan laki-laki itu jika saja tidak ada yang menariknya saat dia berbalik, ataupun tidak ada tangan kasar yang merombak habis kemejanya terberai .

"Apa yang kau lakukan ?!"

"Menyentuhmu".

"Tetapi bukan dengan membuat kemejaku kusut".

"Akan kubelikan yang baru".

Bola mata Luhan berputar bosan, harga diri seorang wanita miliknya sudah lebih dulu terlukai. Tidak juga begitu, sih. Tapi yah, seharusnya Sehun melakukan ini dari tadi sebelum dia kesal. Walaupun meladeni Sehun masih sangat berminat dalam otaknya, namun Luhan lebih memilih menjahili Ravi.

Lalu saat dia berbalik untuk yang kedua kalinya –bermaksud membalas Sehun yang sempat mengabaikannya tadi—, tidak ada yang dapat Luhan lakukan selain memekik kecil untuk kemeja yang luruh ataupun kaitan bra yang lepas dan— jatuh.

"Aku mencoba bertahan sejak tadi, tapi benar-benar sulit hanya dengan melihatmu". Sehun menyingkirkan tangan Luhan yang menutupi dada kenyal miliknya, "Jangan menutup sesuatu yang kuinginkan". Dia memerintah tanpa butuh sanggahan dalam bentuk apapun. Luhan hanya cukup mendongakkan kepala penuh kenikmatan ketika dia menyentuh payudaranya, mengukurnya dalam telapak tangan sebelum bergerak meremas daging sekenyal balon air itu.

Pada dasarnya Luhan berniat menolak setiap perlakuan Sehun sebagai sebuah bentuk pembalasan, tapi ketika dia menekan bahu Sehun agar menjauh, lelaki itu semakin menyatukan tubuh mereka.

Luhan mengeluarkan kata-kata 'melarang' yang terdengar seperti desahan ditelinga Sehun, ataupun dorongan-dorongan kecil dari lengan rantingnya yang terasa seperti belaian sehalus tetes air. Hal yang membuat Sehun tanpa ragu memasukkan sebelah payudara Luhan ke dalam mulutnya, mempermainkan puting merah muda itu dengan belitan lidah lalu diakhiri gigitan kecil yang membuat Luhan memekik tertahan beberapa kali.

Sehun separuh sadar ketika Luhan memukul kencang punggung belakangnya, namun dia tidak punya banyak kesadaran lagi untuk tau kapan Luhan merubah pukulan itu menjadi jambakan keras dan liar di helai surai hitamnya. Sehun bahkan yakin sekarang Luhan mulai mendesah, bukan jenis desahan ilusinasi seperti yang dia bayangkan tadi, tapi Luhan benar-benar mendesah dinada rendah semerdu tiupan suling.

Tidak ada yang disia-siakan, Sehun berlaku adil pada kedua payudara Luhan. Dia akan membasahi keduanya dengan saliva, membejatinya dengan hisapan yang membuat Luhan bergerak gelisah diatasnya. Jauh daripada itu, Sehun harus memikirkan sendiri bagaimana selangkangannya terasa sangat sesak.

Oh Shit! Aku teransang! Makinya dalam hati dan Luhan tidak perlu tau hal itu.

Yang Luhan perlu tau adalah tangan Sehun mulai merambat dipahanya, semakin masuk kedalam untuk menarik-narik kecil tali halus disana. Mereka kurang peduli tentang siang sedang mendengkang di langit luar, hal terpenting sekarang adalah bagaimana membuat gairah ini terbakar lebih panas hingga hangus menjadi abu kenikmatan.

Seks, sudah lama sekali Sehun tidak mendengarnya dan ini akan menjadi siang terhebat bertabur desahan ataupun ceceran sperma jika saja satu orang penuh kesialan punya sedikit otak untuk tidak mengentuk pintu.

"Maaf, tuan. Anda memiliki jadwal meeting 15 menit lagi".

APAKAH MEETING LEBIH PENTING DARIPADA SEKS LUAR BIASA?! APA AKU HARUS MEMENGGAL KEPALAMU, RAVI?

"Kau punya jadwal meeting?"

Dan perempuan ini juga, bisakah tulikan pendengaranmu sekarang ?

"Hm. Meeting bulanan".

"Mau pergi sekarang ?"

"Dengan penis tegak keras seperti ini ?"

Luhan melihatnya, tonjolan besar diselangkangan Sehun. Dia menelan ludah kasar untuk itu.

"Aku tidak yakin bisa membantu".

"Berdiri sebentar".Luhan kebingungan saat Sehun menuntun pinggangnya untuk berdiri. Tidak sepenuhnya berdiri, Luhan hanya berdiri diatas tumpuan lututnya. "Kau harus membantuku".

"Dengan ?"
Mata rusa Luhan refleks membuka lebar ketika Sehun melepas ikat pinggang tergesa dan menurunkan celana dengan tergesa pula. Satu batang tegak mengacung tepat di bawah diri Luhan. Dia harus menegak satu gumpalan besar ditenggorokannya membayangkan apa yang akan Sehun lakukan setelah ini. Dan ketika jemari kokoh Sehun menyelinap dibalik roknya lalu menarik pelindung kewanitaanya sampai kebawah, Luhan tau jika dia hanya bisa menuruti laki-laki ini.

"Masukkan aku ke dalam". Perintah Sehun mengiring Luhan memposisikan diri tepat diatas kejantanannya. Nampak sekali Luhan takut pada hal baru –berdiri diatas penis Sehun-, namun ketika Sehun menuntunnya dengan pelan –walaupun dia meringis untuk satu benda tumpul menusuk lubang vaginanya—, dia bisa duduk dengan nyaman tepat di atas selangkangan Sehun. "Bergerak, Lu".

Luhan menyempatkan diri mendesah sebelum mengikuti penuturan Sehun, menaik turunkan diri dalam ritme pas beserta tangan Sehun yang memegangi pinggangnya; membantu gerakan Luhan lebih cepat.

Ini benar-benar aneh. Berada diatas Sehun dan menguasai laki-laki itu memberikan sensasi tersendiri bagi Luhan. Rasanya dia bisa memiliki Sehun. Sedangkan Sehun; yang pertama kalinya bergerak pasif dibawah, menerima gerakan lambat Luhan walaupun terasa membunuhnya dengan racun dosis tinggi.

Itu terlalu lambat, sumpah!

Dinikmati seperti ini bukanlah gaya Sehun, tapi seks bersama Luhan dalam waktu 15 menit tidak akan pernah cukup baginya. Dia membutuhkan setidaknya dua kali orgasme dan puas saat melihat Luhan terkulai lemah akibat persetubuhan mereka. Dia benar-benar merasa hebat jika Luhan bahkan tidak memiliki tenaga lagi untuk bernapas normal.

Dan untuk alasan itu Sehun membiarkan Luhan bermain diatas sehingga dia tetap pada batas wajar gairahnya. Jika tidak, maka meeting bulanan akan gagal dan Luhan harus di bopong saat pulang. Sudah taukan seberapa besar obsesi gairah Sehun pada wanita itu ?

"Lebihhh.. cepat!".

Napas mereka sudah bertabur piar, keringat mulai melengket pada tubuh masing-masing. Luhan menggeliat cepat diatas tubuh Sehun, dengan tujuan yang sama, memberikan kenikmatan untuk Sehun dan juga untuk dirinya sendiri.

Ujung tumpul penis keras Sehun menabrak titik kenikmatan Luhan beberapa kali dan Luhan mengelinjang kepanasan setiap kali sadar dia bergerak lebih cepat dari kemampuannya sendiri.

Gairah telah menguasai raganya.

Lalu ketika gairah tidak mampu lagi menahan kenikmatan, Luhan sampai. Dia bertahan tepat di depan wajah lelaki itu dan beberapa detik berselang, sesuatu yang kental dan hangat menyembur dalam vaginanya. Sensasi ini yang Luhan sukai dari setiap seks mereka. Merasa Sehun mengalir ke dalam vagina dan mencium organ-organ dalam kewanitaannya.

Terengah-engah, keringat basah dan anak rambut melepet dikening, dimata Sehun Luhan tetap terlihat mempesona dalam keadaan seperti itu. Dia mengamati lekuk wajah dan bibir Luhan, untuk beratus kali Sehun jatuh dalam keterpikatan.

"Luhan.."

"Hm?"

Astaga.. gumaman rendahnya..

"Jangan memiliki seks hebat dengan pria lain". Kata-kata terlontar begitu saja dari bibir Sehun. Kening Luhan mengernyit, sebenarnya terlalu lemah untuk bertanya namun dia menginginkan sebuah jawaban.

"Kenapa ?"

"Karena kau milikku. Ku harap otakmu tidak sebodoh itu untuk mengerti apa maksudnya".

A-apa ini artinya …

"Lalu….Kau?"
"Aku milikmu. Apalagi".

Bumi.. Mimpi seperti apa ini ?

Salahkah jika Luhan mengartikan ini sebagai pernyataan cinta tersembunyi dari Sehun ? Salahkah dia mengartikan lebih setiap perlakuan manis Sehun terhadapnya ?

Luhan berusaha menahannya, memalingkan wajah berkali-kali hanya demi menghalau serbuk merah dan panas mengalir laju diwajahnya. Bibir yang sulit bekerjasama. Luhan seharusnya bisa lebih menjaga diri, bukan tampak jelas menahan sebuah senyuman seperti gadis kasmaran kemarin sore.

Tapi, apa lagi yang lebih gila daripada cinta ?

Dan apakan salah jika Luhan meraih wajah Sehun untuk memberikan sebuah ciuman lembut dengan mata terpejam ? Karena rasanya dia tidak bisa lagi bertahan dengan serbuk kebahagiaan bertabur dipucuk kepalanya.

Katakan jika Luhan tidak salah. Tolong katakan karena Luhan rasa dia menginginkan bibir Sehun lebih lama. Tapi…

"Hentikan, Lu". Sehun menolak ciumannya dan Luhan tersinggung terlalu cepat. "Cukup. Jangan membuatku meninggalkan meeting demi ciuman yang,-fuck! Aku menyukainya!"

Si mungil tersenyum kecil untuk kefrustasian sang dominan. "Baiklah. Selamat meeting". Ada yang menggelegar heboh dalam tubuh keduanya. Apalagi ketika Luhan menghapus sisa lipstick disekitar bibir tipis Sehun. Lelaki itu nyaris hilang kendali dan Luhan nyaris kehilangan diri. "Fokus, Oh Sehun".

"Kau mau ikut ?"

"Kemana ?"

"Ruang meeting. Duduk disampingku".

"Lain kali, ketika aku memakai celana panjang".

Sehun terkekeh atas jawaban Luhan. Wanita itu menebak pikirannya dengan sangat tepat.

Sehun hanya ingin mengelus paha Luhan saat meeting. Kalian pasti tau itu.

.

.

.

Konyol. Wanita seperti apa dia ? Berada di ruang pribadi pemiliki gedung lantai 25, melakukan seks 15 menit dan sekarang sibuk membersihkan vaginanya dari pancitan sperma. Luhan tau jika ini akan membuatnya seperti wanita murahan. Tapi siapa yang bisa menghindar dari kenikmatan seks lelaki bernama Oh Sehun itu ?

Kemeja yang kusut ataupun bercak lipstick keluar dari area bibir, Luhan harus membereskan semuanya sebelum Sehun kembali. Ketukan-ketukan dari tumit highheel diujung kaki menjadi penyemangat Luhan untuk membangun kepercayaan diri. Sedikit gerogi keluar dari ruangan Sehun setelah bercinta; takut ada seseorang yang mengetahui kegilaannya.

Luhan menarik napas dalam sebelum membuka knop pintu ruang pribadi Sehun, mengintip keluar beberapa detik lalu mendesah lega karena ruangan kerja lelakinya kosong; yang berarti dia bisa keluar tanpa kekhawatiran.

Ruangan ini rapi. Aroma Sehun tersebar disetiap sudut ruangan dan Luhan betah menghirupnya sampai penuh diparu-paru. Lalu saat dia bergerak menyentuh pinggiran meja kerja Sehun, Luhan terkejut untuk bunyi pintu terbuka.

"Se—Luhan ?"

"J-jin ?"

"Kau mengingatku ?"

Tentu saja. Kau sepupu setengah waras kekasihku, kan ?

"Dimana Sehun ?"

"Meeting".

"Kau sendirian ?"

"Em". Berdua denganmu sekarang.

"Sibuk ?"

"Tidak juga".

"Mau jalan-jalan denganku ? Sedikit berpetualang di kantor Sehun".

"Kurasa tidak. Aku sedang menunggu Sehun".

Luhan menolak dengan cara sehalus mungkin dan Jin bersandar di tepian pintu manantinya berubah pikiran.

"Meetingnya sudah lama ?"

"Satu jam yang lalu kurasa".

"Itu memakan lebih dari satu jam. Kau akan bosan disini. Yakin padaku".

"Memangnya kau tau seluk beluk kantor ini ?"

"Tidak juga. Tapi aku tau jalan menuju atap gedung".

"Atap gedung ?"

.

.

"Oh, maafkan aku membawamu kesini, nona".

"Masalahnya ?"

"Wanita membenci panas, kan ? Khawatir terik matahari memanggang kulit mereka sampai hangus".

"Banyak pemutih kok di pasar".

Begitu jawaban Luhan yang berhasil membuat Jin bertepuk tangan heboh. Dari awal Luhan tau jika lelaki ini memang sedikit hyper-clap.

"Aku selalu menyukai jawabanmu." Puji lelaki itu dan Luhan tanpa tau kenapa dia harus mengibaskan rambut dibahunya. Senangkah mendapat pujian ? Sehun jarang sekali memujinya seperti ini –selain memuji payudaranya yang bagus-, tentu saja.

"Hubunganmu dengan Sehun cukup bermasalah setelah pertemuan makan siang kita. Lalu apa yang membuatmu datang kemari ? Menginginkan bogem mentah dari Sehun, kah ?"

"Gigiku baru saja bermasalah semalam, Sehun menginginkan ajal menjemputnya lebih cepat jika memberiku bogem mentah". Jin berkata sambil menyentuh sebelah rahangnya, menimbulkan ekspresi sakit palsu agar Luhan mengerti." Aku ingin menemuimu".

"Apa ?"

"Kau tidak berada dirumah tengkorak putih itu saat aku berkunjung kesana siang ini, dan kupastikan Sehun menyekapmu diruang kantornya. See, tebakanku selalu benar".

"Dia tidak menyekapku".

"Hanya kata kiasan, Luhan. Jangan terlalu serius".

"Tapi kau membuat Sehun terdengar sangat jahat".

"Oke. Maaf untuk itu".

Luhan mengkerucutkan bibir, membiarkan angin puncak gedung menghamburkan surai hitam panjangnya yang bergelora.

"Kenapa ingin bertemu denganku ? Ada kepentingan yang penting ?"

"Entahlah. Hanya ingin saja. Mungkin—" Jin menggantung kalimat, memejamkan mata dan menyesap dalam-dalam aroma memualkan yang membuat bibirnya terkekeh tidak lucu. "Aku harus menyerah sebelum bertanding".

"Apa lagi maksudnya ?"

"Kau cantik. Aku mengakuinya sejak pertama kali kita bertemu. Melihatmu bersama dengan Sehun membuatku semakin penasaran, kau berbeda. " Laki-laki itu menjilat bibir tebal sexynya sekali lewat, tidak mengira dia hanya mengingatkan Luhan pada kebiasaan sesekali Sehun. "Terlintas dibenakku untuk merebutmu dari Sehun dan kita bisa menghadiri berbagai pesta berdua. Akan sangat membanggakan melihat wanita secantik dirimu menggandeng tanganku." Satu kekehan kecil menenangkan keluar dari mulutnya yang berudara. "Tapi sepertinya aku harus berhenti disini".

"Menyerah ?"

"Kau menyimpan aroma itu, aroma yang membuatku kalah secara tidak laki-laki".

"Aroma apa ?"

"Habis bercintakah dengan Sehun ? Aku menciumnya dengan jelas".

"Ha ?"

'BRAK!'

"Ya! Kami baru selesai bercinta satu jam yang lalu dan rencananya akan bercinta lagi jika kau tidak membawa kabur kekasihku kesini".

"Sehun".

"Pembuat aroma tubuhmu sudah datang, Luhan".

.

.

.

Ada yang tidak beres. Padahal gelembung-gelembung wewangian seks belum hilang dari ruangan dan mereka sudah bertatapan garang ditepian ranjang. Masing-masing bersedekap dada; mempertahankan ego dikepala yang mungkin saja merekah lalu otak-otak mereka yang berpuntal seperti gulungan usus ayam cecer mengotori lantai. Tapi ini tidak separah itu.

"Senyummu terlihat bodoh. Senangkah mendapat pernyataan cinta dari sepupuku?"

"Setiap wanita pasti senang mendapat pernyataan cinta. Apalagi dia memujiku sangat cantik".

"Jadi kau mau menerimanya ?"

"Mungkin…. Jika saja Jin datang lebih awal sebelum kau menarikku ke dalam ruangan ini lalu memintaku naik ke atasmu, memasukkan sesuatu yang membuatku sesak lalu…. kita bercinta".

Dasar Perempuan!

"Kau tau, ada belasan istri orang yang sudah ditiduri keparat bernama Kim Seokjin itu. Masih tolol dengan tetap menyukainya?"

"Apa bedanya denganmu yang suka meniduri pelacur?"

"Ya Tuhan, mulut perempuan ini."

Luhan berdiri sigap, merapikan lipatan-lipatan roknya yang kusut lalu mengumpat sedikit karena kemeja putihnya sama kusut dengan rok greentea latte-nya. Semua salah Sehun. Sebagai wanita setelah bercinta, Luhan tidak mau dipersalahkan. "Aku mau pulang. Kerutan-kerutan non-simetris dipakaianku sangat mengganggu".

"Kulihat masih rapi".

"Ini kusut, Sehun".

"Well, sebenarnya memang kusut. Tapi bagaimana jika aku menginginkanmu tetap disini"

"Kau akan mengizinkanku pulang. Aku percaya itu, kok".

"Jika tidak ?"

"Perutku lapar". Luhan menyentuh perutnya dengan gerakan mengelus yang lembut, menggugah jiwa Sehun untuk melakukan hal yang sama pada perut Luhan tapi dia masih memiliki pertemuan lagi setelah ini.

"Panggil Ravi dan pesan makanan sesukamu".

"Chicken steak buatan Xiumin. Tidak mau yang lain".

"Hubungi saja dia. Biar Ravi yang menjemput chicken steakmu".

Selalu saja begitu. Dari semuanya, Ravi-lah pihak polos tanpa dosa yang paling tersakiti.

"Sebenarnya kekasihku itu kau atau Ravi, sih ?"

"Aku sibuk, Luhan. Mengertilah".

"Sibuk ? Sibuk bercinta di ruang kantor ?"

"Sibuk membuatmu mendesah. Aku mengaku".

"Dan kita akan mendesah lagi jika aku bisa pulang".

Sehun melepaskan butir uap berisi cairan frustasi dalam helaan napasnya. Menggeram pelan tentang seberapa menyebalkannya Luhan jika dia hanyalah wanita biasa yang tidak Sehun inginkan. Namun mengingat seberapa bodohnya laki-laki yang terkena kutukan bernama cinta, Sehun hanya mampu meluapkan rasa geramnya di puncak kepala Luhan sampai gadis kecil itu merajuk untuk rambutnya yang berantakan.

Cinta kah ini ?

"Jangan bernegosiasi denganku seperti itu. Aku pembisnis yang handal, kau tau ?"

"Ayolah Sehuuun. Aku hanya ingin pulang". Kata Luhan mulai merengek seperti kebiasaannya. Menjujut kecil kemeja Sehun dipinggang. "Tubuku bau—ikh," kalimatnya berhenti untuk sebuah ekspresi jijik setelah mengendus seperti tikus pada tubuhnya sendiri. "Spermamu membuatku beraroma prostitusi. Pantas saja aku mendapatkan pertanyaan 'habis bercintakah dengan Sehun ?' diatap gedung".

"Tanda kepemilikanku memang seperti itu. Lihatkan hasilnya ? Jin kabur ke Australia setelah mencium tajamnya bau spermaku ditubuhmu".

Dasar lelaki!

.

.

.

Setelah menghabiskan lima belas menit, meletup-letupkan keinginan Luhan yang ingin pulang dan juga keinginan Sehun agar Luhan tetap tinggal, wanita mungil itu menang. Tentu saja dengan persyaratan bahwa besok dia harus menemani Sehun seharian tanpa boleh merengek dengan kata 'aku ingin pulang' yang terus dilantunkannya sore tadi.

Dengung kecil dari hairdryer padam, rambutnya yang hitam panjang sudah lebih bagus daripada sekedar kata lembab. Aroma shampoo wewangian strawberry menguar sangat kekanakkan, halus menyesap kehidung sampai saraf penciuman tersenyum lega karenanya.

Luhan hanya membenahi tubuhnya dengan kemeja putih tipis transparan, sehelai bra merah mungil yang tergambar jelas dibaliknya;berpasangan dengan celana dalam merah bertali pinggir yang mungil. Tidak yakin jika pakaiannya bisa berfungsi dengan baik.

Setengah jam lalu Sehun baru saja selesai mengomel ditelinganya. Lelaki itu berkata bahwa dia pulang terlambat karena harus menemui anak dokter pribadinya yang baru pulang kuliah dari Inggris; yang kebetulan juga seorang dokter, sebagai sebuah sopan santun di depan hidangan makan malam. Awalnya baik-baik saja, sampai disaat Luhan bersin tanpa sengaja, seharusnya dia membohongi Sehun dan berkata bahwa ini hanya efek mencium merica, bukan mengatakan 'aku baru selesai mandi. Kepalaku basah' lalu mendapat ceramah singkat dari lelakinya.

Sehun berkata bahwa Luhan harus segera mengeringkan rambut atau tubuhnya akan terserang gigil semalaman.

Itu sangat berlebihan walaupun dalam hatinya Luhan mengakui bahwa dia pernah terkena demam karena membiarkan rambutnya basah semalaman.

Dan untuk itu, Luhan yang setengah malas harus berpura-pura rajin mengidupkan hairdyer, membiarkan dengung mesin kecil panas itu memanggang rambutnya hingga aroma strawberry bercampur dengan bau nyaris hangus.

Luhan tidak sebodoh keledai untuk membiarkan tubuhnya menggigil karena mandi malam. Dia sudah mandi sore; setelah Ravi mengantarkannya pulang, bergegas menuruni tangga dan meminta satu porsi besar chicken steak pada Xiumin. Koki berpipi gembul itu meringis saat Luhan hanya mengutil kulit luarnya saja dan membiarkan daging empuk bagian dalam telanjang tak tersentuh.

Xiumin meninggalnya setelah itu, menuju arah belakang yang membuat Luhan langsung bertanya, "Mau kemana ?"

Sejenak Xiumin mengabaikan Luhan, lebih mementingkan sarung tangan terpasang benar ditangannya dan juga satu teko plastik air berhidung panjang siap siaga di genggamannya, sebelum berbalik untuk menjawab pertanyaan gadis itu. "Aku membeli beberapa bunga mawar tadi pagi. Kurasa ini hobi baruku".

"Menanam bunga ?"

"Merawatnya lebih tepat"

"Aku boleh ikut ?"
"Habiskan dulu makananmu".

"Aku sudah kenyang".

"Luhaaan".

"Ayo kita ketamaaaan".

Begitu awal mula mengapa Luhan menyesal mengikuti Xiumin ke taman belakang. Tangan mungilnya yang jahil tidak bisa berhenti menggali tanah lembek di pot bunga,membuat Xiumin menjerit-jerit kecil atas baju soft blue Luhan yang tercemari noda coklat jelek.

Luhan seharusnya mendengarkan Xiumin untuk segera berhenti jika dia tidak mau diomeli Sehun seperti setengah jam yang lalu.

Tapi mau bagaimana lagi ?

Dan sebagai hasilnya, Luhan mengantuk lebih awal malam ini.

.

.

.

.

Entah seberapa lelap tidurnya, atau seberpa indah mimpinya hingga Luhan nyaris melupakan seluruh malam dan terbangun di pukul 4. Langit bahkan masih gelap dan dia sedikit menyesal terjaga di suhu yang membuatnya semakin berkerut dibalik selimut.

Penglihatannya masih kedau, serak ditenggorokan yang perih, dia melupakan segelas air sebelum tidur hingga bibirnya terasa kering. Lalu ketika tangannya merentang untuk menggeliat kecil, Luhan menoleh cepat pada lengan kokoh yang menyangga tidurnya.

Sejak kapan Sehun berada disana ?

Untuk itu seharusnya Luhan sadar lebih awal dan paham mengapa kemejanya setengah terbuka dan tidak ada lagi bra merah yang terkait. Terkadang Luhan berpikir bahwa Sehun lebih banyak mempermainkan payudaranya daripada dirinya sendiri.

"Perbuatanku". Suara parau menyadarkan Luhan bahwa dia benar-benar tidak sendiri."Aku yang melepasnya".

"Aku tau". Jawabnya sekilas, mengumpulkan selimut didada sebelum menyesap aroma dada bidang Sehun lebih dalam. Laki-laki itu menyambutnya, menaruh kepala Luhan dalam siku-sikunya yang nyaris kebas.

"Sambung tidurmu. Hari ini akan sangat melelahkan".

"Seperti kita akan menguras lautan saja".

"Bukan menguras lautan, tapi memadamkan api di neraka".

"Pergilah sendiri. Nanti kulitku hitam".

Sehun terkikik diatas matanya yang masih terpejam. "Tepati janjimu, nona Lu". Sambungnya menggusak pucuk kepala Luhan. "Hari ini kau milikku, total".

"Memangnya ada detik selama aku disini yang bukan milikmu?"

"Kita lanjutkan perdebatan ini nanti, di meja makan".

.

.

.

.

.

Permulaan hari yang mengagumkan. Di mulai dengan pertengkaran kecil tentang bra merah lalu bersambung dengan topik kopi dan teh yang tidak punya hubungan sama sekali dengan masalah konyol mereka.

Luhan sudah bersiap dengan kemeja ungu dengan motif bunga lili putih disekitaran dada ketika dia menyadari bahwa Sehun memakai kemeja coklat muda dan juga dasi berwarna sedikit lebih tua. Dia berkata pada laki-laki itu untuk menunggunya sebentar, Sehun tidak dibolehkan bertanya sementara Luhan langsung hilang dari pandangannya. Sewaktu kembali dengan suara ketuk-ketuk kecil dari ujung highheel putih yang kemarin, Sehun tersenyum gemilang pada kemeja Luhan yang berganti warna.

"Warna ungu kelihatan jelek disamping coklat". Dia memberi alasan walau Sehun tidak memintanya. "Kebetulan aku punya kemeja coklat. Kelihatannya ini lebih baik". Dan dia meninggalkan Sehun untuk langsung menuju garasi mobil.

Hal menyenangkan selanjutnya adalah ketika Luhan bisa berjalan disamping Sehu lalu disepanjang perjalanan ada banyak sekali orang yang membungkuk pada mereka. Poin satu itu; untuk setiap kepala yang tertunduk, Luhan merasa kurang nyaman. Ketika dia ingin membalas penghormatan kepada mereka, Sehun menahan punggungnya agar tetap tegak.

Terkadang mengurangi tingkat kehormatan pada orang bawah adalah salah satu aturan bagi orang kaya, dan Luhan selalu bingung tentang bagaimana pikiran seperti itu pernah terpikirkan ?

.

"Maaf harus membuatmu menunggu lama". Sehun baru memasuki ruang kerjanya setelah tiga jam menghabiskan waktu meeting mendadak mengenai kerja sama dengan salah satu perusahaan dari China yang membutuhkan sedikit renovasi pada gedung 30 lantai mereka, dan Luhan sedang termangu di mejanya saat Sehun masuk. "Sesuatu yang besar menanti".

Wanita itu mencibir lalu berdiri, melipat tangan di dada. "Seperti ini adalah kali pertama kau membuatku menunggu". Katanya terdengar begitu malas.

Sehun menghampirinya dengan senyum bersalah lalu melerai kerutan di wajah Luhan dengan sebuah ciuman manis pada bibirnya. "Satu cup ice cream greentea bagaimana ?" dia memberikan penawaran dan seseorang berlonjak senang.

"Sekarang ?"

"Tunggu sebentar setelah aku menghubungi Ravi".

Luhan mendengus,"Kelihatannya Ravi lebih sering dihubungi daripada aku". Rajuknya yang hanya dibalas Sehun dengan gusakan di kepala.

.

.

.

"Tidak ada lagi cup tambahan". Sebuah peringatan dari Sehun membuat Luhan memberenggut.

"Pelit sekali" komentarnya menusuk harga diri konglomerat laki-laki itu.

"Ini sudah cup yang ketiga, Luhan".

"Aku tau". Luhan meringkas cup terakhir dengan cepat, menyesap noda hijau muda disekitaran bibirnya sebelum bergegeas ke dia kembali, Sehun mendapati wajah dan bibir kekasihnya kembali sempurna seperti awal.

Sedikit tambahan bedak, lipstick dan sapuan batang pipi, Sehun menyukainya.

"Mau kemana lagi ?"

.

.

Mereka berhenti disini, disalah satu brand pakaian terbesar yang membuat Luhan berjengit melihat label harga yang tergantung pada setiap item. Ada banyak sekali pakaian menarik; untuk wanita dan juga untuk pria, lalu ketika Luhan diam-diam penasaran dengan merk pakaian yang sedang membelit tubuhnya, dia harus berkeringat dingin begitu sadar jika seluruh pakaian yang dia pakai selama ini berasal dari ruang mahal ini.

Pantas saja rasanya sangat nyaman.

Luhan tidak mengerti harus menyentuh barang yang mana; yang membuat dia tidak berdebar, karena sejak tadi ada seorang pelayan yang terus membuntutinya untuk menawarkan produk baru. Luhan tidak berniat membeli, seharusnya pelayan itu tau dan Luhan tidak perlu merasa serba salah.

Dimana Sehun ?

Bagaimana bisa dia meninggalkan Luhan seorang diri disini ?

Dosakah Luhan jika ikut saja bersamanya ?

Apalagi yang bisa Luhan lakukan selain pura-pura berjalan ringan diatas kakinya yang berat. Sempat tidak menyadari bahwa bukan hanya pakaian, tapi sepatu dan juga tas berkualitas tinggi juga berjejer dengan rapi.

Sumpah mati Luhan bingung. Ketika dia tertarik untuk satu pasang sepatu ditingkat ketiga, seseorang menabrak punggungnya dari belakang hingga Luhan nyaris tersungkur. Dia bisa saja menangis jika Sehun berada disini; siap membelanya. Tapi apa yang bisa Luhan lakukan saat sendirian ?

Dia hanya bisa membiarkan wanita itu tersenyum mengejek kepadanya, mengatakan bahwa 'pacarku orang kaya' yang membuat Luhan mual.

"Semoga kalian cepat putus!' Luhan mengumpat dalam hati dengan wajah polosnya dan dia bersungguh-sungguh itu.

Lalu saat dia menyingkir untuk mengalah, Luhan tau ini akan terjadi. Sehun datang bersama beberapa pelayan dibelakangnya untuk melemparkan deretan sepatu dihadapan Luhan dalam beberapa paperbag.

"Semua millikmu. Jangan bersedih untuk satu pasang jelek itu". Katanya langsung menarik tangan Luhan. Luhan sendiri tidak tau kenapa dia harus menoleh ke belakang dan memberikan sebuah senyuman manis bermakna 'aku menang' pada wanita yang baru saja disumpahnya.

.

.

"Untuk apa gaun ini ?" Luhan mengamati dirinya sendiri dicermin dengan sehelai gaun merah darah menjuntai di lengannya. Sehun menunggu diluar dan dia ditinggalkan bersama beberapa orang pelayan wanita.

"Kami hanya menjalankan tugas" seorang wanita paruh baya masuk bersama segala keeleganannya. "Ini perintah tuan Sehun". Wanita itu menggerakan dagu dan Luhan memekik karena tubuhnya diregang untuk dibuat setengah telanjang. Lalu ketika sudah berada pada keadaan seperti itu dengan lengan memeluk dirinya sendiri, Luhan dikejutkan lagi oleh pekikan si wanita paruh baya.

Kenapa sekarang jadi dia yang memekik ?

"Ya Tuhan, maafkan aku nona" katanya tergesa merampas gaun merah ramping di lengan Luhan. "Tidak seharusnya aku memberikan gaun ketat ini pada wanita hamil. Tuan Sehun akan mencekikku karena membelit perutmu".

"A-apa ?"

Wanita paruh baya tidak memperdulikannya lagi, malah sibuk memerintah para pelayannya mencari gaun yang baru.

Luhan sendiri tercengang kemudian berpikir keras. Dia berdiri mengacai dirinya sendiri dan napasnya tersendat. Apakah dia terlihat sedikit berisi ? Perutnya juga tidak seramping dulu. Lalu apa maksud wanita paruh baya itu ?

Hamil ?

Bahasa alien, kah ?

Mustahil!

Kemustahilan yang masuk logika.

.

.

Walaupun Luhan sudah mendapatkan gaun pengganti berwarna biru safir, tapi perkataan wanita paruh baya itu berhasil mengganggunya sampai diperjalanan pulang. Jantungnya berpacu gila-gilaan dan tidak suka dengan rasa seperti ini.

"Gaunnya bermasalah?"

"…."

"Luhan ?"

"Ha ?"

"Kau melamun ?"

"Ah.." dia menggeleng kecil, "tidak". Sangkalnya dan Sehun terlalu pintar untuk dibodohi.

"Mau cari gaun yang lain".

"Tidak. Tidak perlu".

"Lalu ?"

"Sebenarnya gaun itu untuk apa ?"

Sehun mengalihkan sejenak fokus dari stir mobil hanya demi melerai jemari mungil Luhan yang meremas gelisah. "Besok kita ke Cina".

"Apa?!"

"Kau harus menemaniku".

"T-tapi…"

"Kuharap mendampingiku bukanlah sesuatu yang buruk".

"Bukan begitu, hanya saja….."

"Haruskah aku memohon?" Mereka bertatapan sejenak di pemberhentian lampu merah, saat dimana lampu merah itu terasa sangat bermanfaat untuk sekarang. Lalu ketika Luhan menggigit bibirnya sebelum merunduk, Sehun tau wanita itu setuju. "Kau sudah memeriksa ponselmu ?"

"Memangnya ada apa ?"

"Periksa saja. Sesuatu yang kau inginkan menanti".

Mereka bergerak dari pemberhentian dan Luhan langsung meraih ponsel dari dalam tasnya; mengecek pemberitahuan yang entah sejak kapan tercantum di notif.

"Aku tidak melukai Yifan karena kupikir dia masih saudaramu." Kata laki-laki tiba-tiba yang membuat Luhan tercekat. Ada hubungan notif di ponsel-nya dan Yifan ?

"Sebenarnya ada apa Sehun ?"

"Periksa saja sendiri".

Setengah ragu, Luhan menyentuh satu pesan di notifnya, berharap itu bukan sesuatu yang buruk atau lebih daripada itu, dan ketika pesan terbuka…

"Ya Tuhan!"

"Mau bertemu dengannya untuk yang terakhir kali ?"

.

.

.

.

.

.

TuBerCulosis

.

.

.

.

.

.

.

Jangan bacok gue pake cinta #eaaa setelah bertapa sekian lama dipegunungan Himalaya. Setelah ini gue gak tau bakalan update kapan lagi. Seminggu belakangan gue sibuk sama praktikum dan laporan pengambilan sampel air dan perhitungan segala macam tetek bengeknya. Aduuuhhh, kebayangkan bidadari yang biasanya mainin air susu mahadewi sekarang disuruh ngukur lebar parit yang SUBHANALLAH airnya kek air kopi starbucks. Mana bau comberan lagi T.T

Ini beneran sebenernya masih belum siap mau update, tapi daripada bikin para readersku ejakulasi dini gara-gara menunggu ini FF update, jadi gue update seadanya aja ya. Waks waks

Dah lah..

Pokoknya AI LOP YU semuanya:*