HUNjustforHAN
Present
.
.
.
.
.
Desire
.
Chapter 10
.
.
.
.
.
Sebuah gedung kosong tua, dingin dan gelap. Sehun menyampirkan jasnya di bahu Luhan ketika wanita itu berjengit menahan hawa dingin. Wajahnya masih sepucat kapur, tidak tau mengapa semua ini mengganggu peredaran darahnya walaupun sudah Sehun jelaskan berkali-kali jika Yifan baik-baik saja. Dia tidak melukai pria itu meskipun dia sangat ingin melakukannya.
Kaki Luhan tidak seimbang, Sehun tau dan dia tidak bisa membiarkannya. Luhan harus diiringi dalam sebuah rengkuhan hangat yang selalu tersedia dari Sehun untuk Luhan.
"Kau terlihat tidak baik". Sehun menegur Luhan saat jemari lentik wanita itu mulai meremas kemeja dipinggangnya."Apa lebih baik kita pulang?" tawarnya sekali lagi dan dibalas Luhan dengan gelengan.
Luhan menghela napas untuk menyamankan paru-parunya sendiri."Ada yang perlu ku bicarakan dengan perempuan itu".Jawabnya singkat dan Sehun hanya mengendikan bahu sebagai sebuah tanggapan.
Luhan mungkin lemah, dengan tungkai kaki yang sering pegal karena highheel dan emosi labil yang bersarang di otaknya. Ataupun setelah ini Sehun harus berusaha lebih keras untuk mengembalikan Luhan pada posisi semula. Sekarang baru terpikir betapa bodohnya Sehun setelah dia memikirkan akibat buruk dari ajakannya membawa Luhan ke tempat ini.
"Bagaimana dengan Yifan ?" Luhan bertanya di sela langkah kecil mereka, sebenarnya dia hanya ingin mengusir suasana aneh karena gedung ini benar-benar gelap; hanya ada sinar bulan sebagai penuntun jalan dan itu menakutkan. "Apa dia baik-baik saja ?"
Terdengar Sehun mendengus sebelum menjawab, "Itu pertanyaan sama yang ke sepuluh dan aku akan memberikan jawaban yang sama untuk ke sepuluh kali juga bahwa, Yifan baik-baik saja. Dia sedang berada di rumah kalian dan ku pastikan akan tetap disana sampai aku menyuruh orang-orangku pergi".
"Kau menyekap gegeku ?"
"Tidak. Hanya memastikan dia tetap berada dirumah sampai perempuan itu berhasil disingkirkan".
Begitu perkataan Sehun yang berhasil mencegat napas Luhan untuk kesekian kalinya. Mengingat isi dari notif di ponselnya yang dikirimkan Sehun setengah jam lalu, Luhan merinding bukan main. Dia seolah ditarik lagi ke masa sakit dan terlukanya bertemu dengan Oh Sehun untuk yang pertama kali.
"Jangan menyentuh gegeku".
"Aku tau".Jawab Sehun kemudian berhenti."Kumohon, jangan mengkhawatirkan orang itu" katanya bernada lumayan jengkel.
Luhan mengernyit beberapa saat sebelum menemukan mereka berdiri di depan sebuah pintu tua dengan coretan pilox merangkai kata-kata kotor. Dalam otaknya Luhan berpikir jika mereka sudah sampai di tempat tujuan karena Sehun terlihat meraih sesuatu di dalam saku celananya kemudian menyelipkannya ke lubang pintu.
Sehun merasa lengannya di remas sedikit lebih bertenaga oleh Luhan ketika dia mulai memutar knop pintu. Lalu begitu pintu terbuka dan Luhan mendapatkan sedikit pemandangan tidak senonoh; semisal dua orang lelaki yang membetulkan celana mereka dengan tubuh berkeringat dan gadis telanjang bulat terikat di ranjang, Luhan refleks mundur beberapa langkah ke belakang lalu menutup mulut dengan telapak tangannya yang mungil.
"Ya Tuhan!" Katanya panik dan Sehun menemukan Luhan terpejam erat.
Tanpa suara Sehun memerintah dua lelaki di dalam untuk segera keluar lalu mengatakan pada Luhan untuk membuka mata setelah ruangannya benar-benar kosong.
"Buka matamu".Sehun meminta sekali lagi tapi Luhan tetap menggeleng. "Tidak apa-apa Luhan. Mereka sudah pergi".
Sehun harus mengusap pucuk kepala Luhan agar otot-otot matanya tidak terlalu tegang dan agar Luhan bisa kembali melihat dengan nyaman.
Dia menuntun wanitanya masuk ke dalam ruang beraroma menjijikkan dan menyadari bahwa Luhan sangat enggan untuk mengikutinya. Namun Sehun tetap memaksa agar Luhan tau jika dia telah melakukan tujuan awal mengapa Luhan mau berada disisinya. Sehun telah mendapatkan wanita itu dan memberikan siksaan tidak begitu sakit, hanya saja sangat kotor.
Seseorang dengan rambut berantakan, tubuh telanjang bulat berlendir beserta kaki mengangkang karena setiap alat geraknya diikat oleh tali kasar bertumpu pada siku sisi ranjang. Dia tidak lebih baik daripada seekor anjing betina berpenyakitan.
Perempuan itu menoleh pada mereka dengan tatapan seekor rubah, lelehan eyeliner hitam pekat di ujung matanya membuat dia lebih buruk. "B-bagaimana bisa—kalian melakukan ini padaku ?". Kata-katanya sengal di beberapa bagian bahkan nyaris tidak terdengar.
Sehun tertawa licik sedangkan Luhan masih dengan bibir sepucat kapur. "Han Selvi. Bagaimana rasanya disetubuhi tanpa satu receh pun ?" Sehun mengeluarkan kata bermakna terlalu kasar hingga Selvi mengkerut benci di atas sprei kumal.
Perut Luhan tiba-tiba nyilu memikirkan semuanya namun Luhan rasa masih mampu untuk bertahan.
"Sehun.."
"Hm?"
"Bisa tinggalkan kami berdua ?"
.
.
.
.
.
Luhan gelisah di ranjangnya dan Sehun yang menumpang tidur malam ini merasa terganggu. Wanita itu lebih banyak diam setelah Sehun memberikannya waktu bicara berdua dengan Selvi dan sama sekali menutup bibir setiap kali Sehun bertanya apa yang mereka bicarakan. Sebagai hasilnya, Luhan akan merasa tidak tenang sendirian lalu mengusik Sehun dengan kegelisahannya.
Sehun nyaris tidur ketika sekali lagi Luhan memutar tubuh; membelakanginya, dan membuat kerusuhan kecil."Berhentilah memutarbalikkan tubuh dan beritahu aku apa yang mengganggumu". Kata Sehun yang membuat Luhan berputar arah kemudian.
Luhan membetulkan kerutan di dahinya namun kesal setiap kali dia gagal. "Sehun.." panggilnya pelan sampai lelaki itu membuka mata. "Apa yang akan kau lakukan setelah ini ?"
"Tentang ?"
"Selvi".
Sehun meleguh sebelum menarik Luhan masuk ke dalam dada bidangnya dan kembali terpejam untuk rasa kantuk. tapi dia tetap menjawab pertanyaan Luhan. "Apalagi selain mendepaknya kembali ke Jerman ?" katanya lalu menarik lengan wanita itu melingkari pinggangnya. "Kau melarangku menyebar foto telanjang Selvi lalu apalagi yang bisa kulakukan".
Luhan dimakan ketermenungan beberapa saat, berpikir tentang isi pesan yang Sehun kirimkan pada notif pesannya. Semua penuh dengan foto-foto telanjang Selvi bersama pria-pria tua kaya; yang jelas sekali Sehun membayar pria-pria itu untuk mendapatkan hasil foto sesuai keinginannya.
Tapi Luhan tetaplah seorang wanita. Perasaan seorang wanita jauh lebih hebat dari pemikiran mereka.
Bagaimana jika Sehun menyebar foto tersebut ? Betapa malunya Selvi ?
Sebagai korban pertama dari masalah ini, seharusnya Luhan tidak perlu pusing-pusing memikirkan akibat yang siap menyergap Selvi hingga tingkat depresi.
Tapi tetap saja, Luhan seorang wanita.
"Luhan.."
Sehun memanggilnya pelan dan itu cukup membuat Luhan terkejut. "Apa ?" balasnya kemudian.
"Tutup matamu dan tidur. Jangan memikirkan apapun lagi sekarang".
"Tap—"
"Ini Perintah. Dari Oh Sehun".
"Menyebalkan!" Kesal Luhan setelah itu sebelum meremas kaus belakang Sehun sebagai doa tidur yang membuatnya lebih nyaman.
Namun dari semua itu, masih ada satu hal menyangkut dalam otak Luhan mengenai pembicaraanya dengan Selvi. Dan mungkin dia akan menemukan jawabannya segera atau…
tidak akan pernah.
.
.
.
.
.
Pagi benar-benar terasa sibuk. Luhan yang merasa mual mendadak dan harus menyembunyikannya sebaik mungkin sebelum Sehun terbangun. jantungnya berdetak lebih kencang, bergemuruh hebat seolah mengingatkannya pada kata-kata ajaib dari petugas gaun kemarin hari.
Dia menggeleng, merasa itu sesuatu yang mustahil. kepercayaannya tentang mual pagi ini hanyalah akibat dari angin malam yang terlalu dingin malam kemarin.
Dan ketika Luhan membuka pintu kamar mandi sambil mengusap lelehan air disudut bibirnya, dia terpaku melihat Sehun sudah berdiri disana dengan mata sembab.
Mungkin terlalu mengantuk.
"Kau sudah bangun ?" Kata laki-laki itu kurang menyadari Luhan diam kaku ditempat.
Luhan meremas jemari sembari berdoa segala macam rangkaian, yang jelas inti dari doanya agar Sehun tidak mencurigai apapun."Ya". Jawab Luhan singkat tanpa berani menatap Sehun jauh lebih dalam.
Juga Luhan berharap sesuatu yang mengganjal hatinya itu untuk tidak terjadi secepat ini. Hanya tunggu sampai dia benar-benar siap dan yakin mampu manjaganya.
"Bersiaplah". Sehun meraih kepala Luhan sebelum membubuhkan satu kecupan ringan di kening wanita itu. "Pesawatnya take off jam 10". Katanya tersenyum melewati Luhan untuk membasuh wajah.
Setelah Sehun meninggalkannya berlalu ke kamar mandi, saat itu pula Luhan diterpa penyakit panik mendadak. Berapa kali dia menepuk jidatnya lalu berlarian tanpa tujuan yang jelas. Mengambil koper, memilih baju, sepatu, kosmetik atau apapun yang dia perlukan selama berada di Cina sampai Sehun keluar dari kamar mandi dengan sehelai handuk kecil menyesap air diwajahnya lalu menghentikan Luhan di lengan saat wanita itu berlari mengambil tas.
"Apa yang kau lakukan ?"
"Oh Sehun bodoh!" Luhan menyalak di depannya dan Sehun sungguh tidak tau dosa apa yang telah dia lakukan sepagi ini. "Aku bahkan belum melipat celana dalam dan dengan mudahnya kau berkata pesawatnya take off jam 10 ? dan jam berapa sekarang ?" Luhan meraih ponsel di meja riasnya kemudian memekik kecil lalu berkeliaran panik lagi. "Ini sudah pukul 7 dan aku masih dalam balutan piyama! Kau benar-benar akan membuatku menjadi manusia pertama yang terbang ke Cina dengan handuk mandi !".Omelnya belum berhenti.
Sehun harus sedikit liar jika ingin menangkap Luhan, memikul wanita pemberontak dibahunya dengan segala celoteh-celoteh berisi umpatan kata bodoh berulang kali.
"Yak! Oh Sehun! Turunkan aku!"
"Barangmu sudah disiapkan. Jadi berhentilah berkeliaran seperti rusa gatal dan aku akan mengotorimu sebentar sebelum membersihkannya".
"Buang segala pemikiranmu tentang seks ke dalam kloset dan biarkan aku mandi dengan tenang!"
.
.
.
.
Luhan mematut dirinya di cermin panjang, berputar beberapa kali dan membetulkan tali long coat coklat moca-nya di pinggang sekali lagi sebelum mendesah puas dengan kacamata hitam tersampir di ubun-ubun kepalanya.
Stoking hitam akan membuat betisnya langsing, Luhan suka dengan penampilan rapi seperti gadis Eropa. Rasanya dia menjadi salah satu karakter novel romantis yang mendapatkan cinta sejati di depan menara eifeel.
Konyol.
Ah, berbicara tentang gadis Eropa, mana mungkin melewatkan highheel setinggi 15 senti. Walaupun keluhan tentang kaki pegal telah mengiang-ngiang di otaknya, Luhan tetap keras kepala dengan berdiri di depan lemari high heel dan memilih satu diantara puluhan tumit cantik yang sesuai dengan warna dirinya hari ini. Coklat moca.
Tumit selancip tulang ikan hiu berwarna hitam sempurna dengan butiran mutiara coklat membentuk pita mungil diujungnya. Luhan puas dengan high heel itu menyampir di kakinya dan membuat dia lebih tinggi untuk percaya diri sebelum seseorang datang dan melempar sepatu flat begitu sembarangan.
"Ravi menyusul di pesawat selanjutnya. Tidak ada yang akan mencarikanmu sepatu flat di dalam pesawat". Katanya bebas membuat Luhan memberenggut."Jadi kumohon, pakai sepatu flat".
"Sepatu Flat akan membuatku terlihat sangat pendek disampingmu".Luhan bersedekap di dada selagi Sehun diam memperhatikannya dalam artian memohon."Asal kau tau, semakin tinggi tumit highheel, maka semakin tinggi pula kepercayaan diri seorang wanita". Kata Luhan penuh pembelaan walaupun akhirnya dia melepas juga tumit tinggi dari kakinya saat tidak menemukan tanda-tanda Sehun menyerah.
"Pikirkan kakimu".
"Oke". Luhan mengangkat kedua tangannya ke udara tanda menyerah. "Selamat. Kau berhasil menghancurkan khayalanku tentang style gadis Eropa hari ini".
Sehun berjongkok di hadapannya selagi Luhan mengomel tentang gadis Eropa dan betapa berharganya sepasang higheel untuk wanita. Memasangkan sepatu flat hitam menggemaskan seperti yang di pakai para putri dalam tari dansa pada kaki putih gemilang kekasihnya.
"Gadis Cina pengomel sepertimu lebih menarik bagiku".
"Ternyata lelaki nyaris sempurna sepertimu sangat payah dalam hal menggombal".
Sehun hanya tersenyum hangat mendengarnya, berdiri lalu meraih pinggang Luhan agar dia lebih mudah mengecup bibir wanita itu dan mendapat sedikit rajukan karena Luhan berkata Sehun merusak lipstick peachnya.
Lalu ketika Sehun mengekang pinggangnya dengan kedua lengan disertai wajah setengah menengadah ke atas, Luhan tau jika lelaki itu menginginkannya melakukan sesuatu.
"Dasi ku, tolong".
"Biasanya kau kan melakukannya sendiri". Ujar Luhan malas namun tetap meraih tali dasi hitam dengan jarak dekat, sedekat dia bisa merasakan napas laki-laki itu menggelitik wajahnya."Lelaki memang jadi lebih pemalas saat mendapatkan wanita disisinya".
"Lantas, untuk apa lelaki memilih wanita terbaiknya jika masih melakukan semuanya sendiri ?"
"Itu kan….."Luhan berhenti begitu otaknya tidak memproses , langit-langit kamar, jendela dan segalanya di ruangan itu dia jadikan objek untuk menghindar dari tatapan mengintimidasi Sehun. Namun ketika hanya jawaban kosong yang diberikan otaknya setelah dia menunggu beberapa menit, Luhan mendesah. Memainkan jemari diujung dasi Sehun sebelum melilitnya, "15 menit lagi jam 9. Ayo pergi". Luhan berkata galak sebelum menarik Sehun seperti kambing ternak melalui dasi laki-laki itu dan Sehun hanya boleh terkekeh geli untuk menikmati kelakuan menggemaskan makhluk mungil bernama Luhan.
.
.
.
.
Xiumin memang yang terbaik. Si pipi gembul itu mengejar mobil mereka sampai keluar gerbang hanya demi memberikan kotak makanan berisi sandwich dengan daging segar, tomat dan beberapa daun hijau ditutup roti.
Luhan melewatkan sarapannya, itu sama sekali tidak bagus dan sangat Xiumin benci.
Dan diberkatilah Xiumin karena berkat si pipi gembul itu Luhan bisa menikmati sarapan ringan sebelum terbang yang bisa saja membuatnya mual. Namun kesalahan besar Xiumin adalah tidak membuat satu porsi lagi untuk Sehun agar Luhan dapat menikmati sarapan dengan khusyuk.
Lelaki itu terus saja minta disuapi seperti anak monyet dan Luhan sama sekali tidak berminat menjadi induknya. Apa ada induk monyet secantik dia ?
Mereka berbagi satu potong sandwich bersama, dengan Sehun yang menjilati saus di jemari Luhan setelah mereka menyelesaikan sarapan on the way yang manis. Begitu Luhan selesai menghapus sisa-sisa liur Sehun di jarinya dengan sehelai tissue, dia lantas berbisik pelan ditelinga laki-laki itu."Sayang sekali ya bukan Ravi yang nyetir".
"Memangnya kenapa ?"
"Tidak. Hanya suka saja pamer kemesraan di depannya".
"Ravi pasti mengumpat dalam hati".
"Selalu".
.
.
.
.
.
Dengung kasar mesin pesawat menakuti duduk di dekat jendela karena Luhan berasalan pencernaannya sedikit terganggu. Padahal Sehun jelas tidak suka dengan lelaki pirang yang terus mengamati Luhan dari bangku penumpang di ujung sisi mereka.
"Hun.."
"Hm ?"
"Perutku mual.." adu Luhan lemas, meminta Sehun mendekat agar dia bisa meminjam pundak lelaki itu untuk bersandar; dan tentu saja Sehun memberikannya.
Tangan mereka bertautan, ada belaian dari ibu jari Sehun dipermukaan tangannya membuat Luhan jauh lebih tenang. Apalagi ketika jemari Sehun yang lain meraih kepalanya untuk di usap, Luhan tiba-tiba mengantuk.
"Masih masuk angin?" Tanya lelaki itu yang hanya mampu Luhan jawab dengan anggukan.
Separuh yakin.
Rasanya ini bukan sekedar angin malam masuk ketubuh kemudian berputar-putar disana dan menggigil ataupun pusing refleks memegang perutnya, entah kenapa dia merasa begitu khawatir.
"Kau baw aobat ?"
Luhan menggangguk lagi."Tapi aku menaruhnya di koper". Sambungnya yang membuat Sehun mendesah. Lelaki itu ingin mengomel di telinga Luhan, memperingatkan sikap ceroboh dan bodohnya setiap saat, tapi apalagi yang terjadi jika Luhan sudah menenggelamkan diri di ceruk leher Sehun ?
Dia akan berubah menjadi seekor anjing basah.
"Bisa tolong ambilkan air mineral ?"
.
.
.
.
.
Sehun tidak tau apa yang terjadi pada Luhan. Apakah dia punya masalah dengan penerbangan ? Karena sudah hampir sepuluh botol air mineral yang Luhan habiskan dan sepuluh kali juga wanita itu harus permisi ke belakang. Luhan memang tidak merepotkan, berjalan ke toilet pesawat sendirian tanpa meminta Sehun mengiring tubuh lemasnya. Namun sebagai laki-laki yang tidak tau mengapa dia harus berkepentingan dengan semua ini, Sehun selalu mengikuti wanitanya dan menunggu Luhan di luar pintu toilet. Memastikan saja tidak ada pria berambut pirang mengintip kegiata pribadi kekasihnya.
Mereka sudah tiba di Cina setengah jam yang lalu dan sekarang, Sehun sedang merangkul Luhan di sisinya; memastikan Luhan tidak tumbang di lorong hotel. Dan dengan seluruh kebaikan hati, Sehun harus berjalan sambil menenteng koper pink lucu milik wanita itu.
Tiba-tiba Luhan menjadi tipe wanita yang merepotkan. Padahal Sehun mengatakan jika Ravi bisa membawakan koper mereka dipenerbangan selanjutnya dan dengan cantiknya Luhan menentang argumen Sehun lalu semuanya berakhir dengan kekalahan lelaki itu bersama satu koper pink lucu sialan ditangannya.
"Kau mau teh?" tawar Sehun pada Luhan yang hanya dibalas gelengan kepala. Si perempuan melemparkan tubuh ke ranjang dan tidak bergerak lagi setelahnya. "Kau tidak mabuk,kan ?" Tanya Sehun sekali lagi, menyusul Luhan duduk di sisi ranjang lalu melepas sepatu flat yang masih tersampir di kaki mengagumkan kekasih cantiknya.
Luhan meringkuk setelah itu, "Entahlah ini mabuk atau bukan. Yang jelas aku butuh tidur". Katanya pelan dan benar-benar melakukannya. Tidur siang.
Kenapa jadi begini ? Padahal Sehun sudah menyiapkan makan siang special untuk Luhan dan berencana membawa wanita itu mengunjungi berbagai tempat istimewa di Cina sebelum jadwal meeting dan berbagai pertemuan siap memakan waktunya hidup-hidup besok.
Tapi apalagi yang bisa Sehun lakukan jika Luhan sudah memillih tidur ?
Menyelimuti tubuh wanitanya, bergumam "Jangan tidur terlalu lama. Aku menunggumu untuk makan siang". Dan mengakhirinya dengan sebuah kecupan manis di kening Luhan walau wanita itu sama sekali mengabaikannya.
.
.
.
Kandung kemih penuh urin yang membangunkan Luhan dari tidurnya. Padahal mungkin saja dia bisa menghabiskan sisa sore dengan menggulung rasa kantuk dibalik selimut.
Seperti pada umumnya, tenggorokan Luhan kering setelah menghabiskan dua jam menelungkup di kasur tanpa mimpi. Itu artinya dia benar-benar membuat tidurnya berkualitas.
Luhan tidak lagi memiliki banyak waktu demi menemukan sepasang sandal slipper ketika dia diburu kandung kemihnya sendiri, jadi sekarang dia berjalan dengan kecepatan sedikit melebihi rata-rata di atas kaki telanjang sambil menikmati dingin lantai kamar hotel di lantai 20. Matanya berpenjar ke seluruh pantry pribadi sebelum tersenyum lega menemukan minibar mungil tersempil di sisi ujungnya.
Aroma ilusi wine manis menguar saat Luhan membuka pintu minibar. Botol-botol hitam pekat dengan tulisan rangkai rumit berjejer memenuhi hampir sebagian volume ruang dingin itu. Luhan harus mendesah karena matanya hanya menemukan dua botol air mineral.
Sehun sungguh berniat mabuk dalam cara mewah dengan botol-botol anggurnya.
Berbicara tentang laki-laki itu, dimana dia sekarang ?
Entahlah. Luhan tidak tau.
Biasanya Luhan hanya akan menjawab seperti itu pada dirinya sendiri. Tapi kali ini, dia juga bingung kenapa harus berkeliling kamar untuk menemukan Sehun sedang tidur bersandar di sofa dengan segala bentuk memuaskan fisiknya yang terkadang membuat Sehun terlihat sombong.
Luhan mendekat, terpesona dengan cara tidur Sehun yang serius dan maskulin. Bagaimana lengan kemejanya di lipat sampai ke siku, krah baju yang dibiarkan terbuka dua kancing, ataupun rambut hitam lebat berantakan di kesempurnaan dahinya. Luhan rasa, imannya mulai goyah.
Berhati-hati penuh, dia berlabuh di pangkuan lelaki itu. "Sehun.." panggilnya rendah sambil bermain di surai hitam legam lelakinya. Terus begitu sampai si pemilik tidur serius bangun dan memberinya tatapan sendu dengan cara yang luar biasa mendebarkan.
.
.
.
.
Sehun memangku wajah di telapak tangannya dengan senyum paling sederhana. Tungkainya bersila santai di kursi sambil menikmati Luhan yang menjadi lebih cerewet.
Dengan rambutnya yang di cepol sembarangan, Luhan terlihat sangat mengagumkan dalam hal berceloteh. Sehun menikmatinya. Bagaimana Luhan berkomentar banyak tentang dia yang menunda makan siang hanya untuk menunggu Luhan bangun. Seharusnya Sehun tidak melalukan itu. Makan saja kapanpun dan sepuasanya agar Luhan tidak merasa bersalah setengah mati seperti ini.
Tapi laki-laki memang keparat. Terutama Sehun.
Rasanya dia ingin mengemas senyum tipis laki-laki itu ke dalam piring bulat, menjadikannya garnis untuk menemani bebek panggang kesepian di atasnya lalu mengunyah semuanya dan menggilingnya di dalam usus dua belas jari.
Sehun sedang jahil. Luhan tau ketika kekasihnya terus memperhatikan dia yang menyiapkan makan siang dari trolley ke meja. Petugas room service bisa saja melakukannya tapi Luhan, dia berpikir bahwa setidaknya dia harus melakukan semua ini untuk membayar rasa lapar Sehun yang menunggu seorang wanita tidur terbangun secara alami.
"Apa itu ?" Sehun melirik piring di meja tepat setelah Luhan menuang segelas air.
Wanita itu menyeka luruhan rambut di dahinya sebelum menarik kursi di sisi Sehun. "Beijing Kaoya. Bebek peking khas Beijing". Jawabnya sebelum memberikan Sehun sumpit dan laki-laki itu menyempatkan diri menyentuh jemari kekasihnya dengan sengaja."Ini makanan paling lezat di Beijing".
Dahi Sehun mengkerut, "Makanan bebek menungging maksudmu ?" katanya yang membuat Luhan melotot.
Kekasihnya memegang pisau kecil tajam dengan cara sangat baik."Jangan menghina makanan ini jika kau masih mau memiliki 'kelelakian'".
"Maaf, kalau begitu". Sehun mengangkat tangan dengan sumpit masih menyempil di jarinya."Tolong maklumi aku yang tidak pernah menyaksikan seekor bebek perawan menungging di hadapanku dengan warna coklat eksotis dan juga pose begitu erotis". Dia menurunkan tangan dan bergendik tidak acuh saat Luhan mengacungkan pisau ke arahnya."Andai saja kau punya keahlian yang sama erotisnya dengan bebek ini". Luhan benar-benar siap membunuh.
Wanitanya menghela napas lelah sebelum berkata, "Sekali lagi kau mengungkit tentang seekor bebek perawan menungging erotis, aku benar-benar tidak punya kebaikan hati lagi untuk mengkhawatirkan perutmu." Dia mengamcam yang hanya direspon Sehun dengan kekehan.
"Aku tidak berniat menghina, tapi coba jelaskan padaku bagaimana cara menikmati pantat erotis—"
"Oh Sehun!"
"Oke."
Luhan tidak tau kenapa dia bisa terperangkap bersama lelaki berpikiran kotor itu disini. Duduk berdampingan, makan di meja yang sama, tidur bersebelahan dan jatuh cinta dengan sebegitu gilanya. Hanya saja Luhan suka setiap kali dalam sekilas dia mendapati Sehun memperhatikan gerak-geriknya dengan wajah yang bahagia.
Ketika satu irisan daging bebek panggang beraroma manis tersampir di piringnya, Sehun masih memperhatikan Luhan. Menilai seberapa cekatan wanita itu mengurus makan siang."Sebenarnya aku ingin mengajakmu makan siang diluar".Katanya lancar dan senang mendapat perhatian sebentar dari Luhan. "Aku sudah membooking sebuah restaurant selama dua jam dan kau menghabiskannya dengan tertidur pulas. Tanpa dosa sedikit pun". Dia berharap Luhan menghasilkan efek 'ah, sayang sekali aku harus melewatkannya'.
Jelas saja wanita itu tersentak, menyesal tentang waktu yang dia buang percuma hanya untuk berguling-guling di tempat tidur. Tapi bukan Luhan namanya jika dia tidak mampu menangkal rasa menyesalnya dengan baik."Mana aku tau". Jawabnya ketus seolah dia tidak menginginkan hal tersebut sama sekali. "Salahmu sendiri yang tidak memberitahuku".
Sehun melepaskan sumpit dari tangannya. "Jadi semua ini salahku ?" dia bertanya di nada normal pada Luhan yang sedang mengunyah.
Walaupun tidak jelas, seharusnya Sehun tau jika kunyahan Luhan terlihat sangat kasar. Dia tidak memerlukan wajah datar Sehun untuk membuatnya lebih menyesal lagi.
Laki-laki itu tidak berkata apapun selain satu pukulan di meja makan yang membuat sumpitnya jatuh. lebih dari itu, Luhan rasa dia mulai gemetar. Dari lirikan matanya, dia menyadari dengan sangat jelas bahwa Sehun kecewa padanya. Seharusnya Luhan lebih menghargai usaha Sehun karena Sehun tidak pernah melakukan ini sebelumnya.
Taukah Luhan seberapa malunya Sehun ketika dia menanggapi lelaki itu dengan nada tidak tertarik sama sekali ?
Walaupun Luhan berbohong, tapi Sehun adalah lelaki yang sangat sensitive pada beberapa kesempatan. Bukankah Luhan sudah tau itu ?
"Seharusnya aku tidak mengharapkan sesuatu yang lebih dari wanita sepertimu".
Seketika bebek pekingnya terasa hambar. Sehun meninggalkannya sendiri di meja makan, berlalu menuju balkon kamar dan mencoba bernapas sendirian disana tanpa Luhan. menjadikan wanita itu tikus basah di atas tumpukan keju.
.
Angin siang, terik matahari dan debu kotor di kota Beijing, Sehun menyesap semuanya pelan-pelan hingga paru-parunya penuh. Ada banyak sekali masalah di dunia ini, dan Luhan, adalah salah satu yang terberat.
Mengalah padanya lebih tepat.
Ini mungkin kekanakkan, tapi salahkah Sehun jika dia ingin melihat Luhan menghargai usahanya untuk membooking satu restaurant secara langsung tanpa bantuan Ravi sedikitpun ?
Sehun hanya ingin menunjukkan bahwa dia juga bisa melakukan banyak hal untuk Luhan. Bukan hanya bergantung pada kemampuan Ravi.
Tidak perlu meloncat-loncat kegirangan, Sehun rasa dia sudah cukup jika Luhan meresponnya dengan mata berbinar. ataupun ketika Luhan melewatkan makan siang special mereka dengan tertidur egois di ranjang mereka, sudah seharusnya wanita itu menggumamkan maaf sebagai tanda menyesal, bukannya balik menyalahkan Sehun sendirian begini.
Lelaki tidak terlahir untuk selalu mengalah. Walaupun pada beberapa keadaan Sehun sangat suka mengalah demi Luhan, tapi tidak akan terus begitu sepanjang waktu.
Hanya hargai saja. Apa susahnya, sih ?
Mungkin Sehun harus meluangkan waktunya sejenak untuk bernapas tanpa Luhan. membiarkan wanita itu memikirkan apakah dia butuh Sehun atau tidak. menunggu Luhan dengan kepala batunya menyerah untuk menghubungi Sehun terlebih dahulu.
Ya, begitu lebih baik.
Mungkin sky-garden di puncak hotel ini bisa memberikan Sehun secangkir kopi kental hingga tengah malam.
Dia pikir itu yang terbaik sebelum suara denting kaca pecah menghambur di belakangnya.
"Luhan.."
Langkah kaki Sehun berekasi lebih cepat daripada otak begitu menemukan Luhan tersungkur di lantai, berada diantara celah-celah kaca yang mungkin bisa menggoreskan kulitnya pedih.
Rintihan Luhan adalah hal yang paling Sehun kutuk. Karena bagaimanapun dia ingin mengenyahkan wanita itu dalam pikirannya, rintihan Luhan akan membuat semua usahanya dikalikan dengan nol.
.
.
Entah bagaimana ini terjadi. Sehun terlalu panik. Dia menghubungi dokter kim dan memintanya untuk segera datang memeriksa Luhan, tapi dokter kim berkata itu mustahil menyebrangi lautan Cina-Korea dalam waktu sepuluh menit.
Beberapa saat, Sehun merasa dia sangat bodoh.
Lalu perkataan dokter Kim menyelamatkan Sehun (kiranya), bahwa anaknya –yang ditemui Sehun pada makan malam beberapa hari lalu—sedang berada di Cina. Dari itu, Sehun langsung menghubungi si dokter muda dan merasa sedikit menyesal sekarang.
Bukan karena cara kerjanya yang tidak bagus, dia sangat baik sekali dalam segala tindakan; seperti ayahnya. Hanya saja…
Tidakkah dia terlalu tampan untuk menjadi seorang dokter muda yang mengagumkan ?Ini berbahaya.
"Kondisinya baik-baik saja. Hanya kelelahan setelah melakukan perjalanan". Dokter muda itu berkata dengan suara berat yang sexy, menyimpan thermometer setelah memberitau Sehun suhu tubuh Luhan. Normal.
"Baguslah" Sehun beralih duduk di sisi Luhan, menghalau dokter muda itu menjauh dari tubuh kekasihnya yang terbaring di kasur.
Dokter muda mengendikkan bahu, mungkin sudah mendengar banyak tentang pemuda kaya angkuh itu dari ayahnya. "Dia perlu istirahat yang cukup dan juga….." sepertinya dokter muda melupakan Sesuatu di dalam tas medis kotak hitamnya, dan Sehun benci kenapa dia harus penasaran.
"Apa ?" Sehun menyela. Berdiri dengan cara menakuti dokter muda dan dia kesal saat si dokter muda tidak berjengit sedikitpun. "Jangan membuatku cemas, Kim Chanyeol!"
"Sepertinya saya menghabiskan sebotol vitamin, dan wanita ini sangat membutuhkannya".
Setiap dokter harus terbiasa dengan segala umpatan,begitu pula dengan Chanyeol. Sehun murka di depannya dan dia tidak peduli dengan itu. Banyak pasien yang lebih parah dari Sehun ketika dia menghabiskan masa magang dokternya menjadi seonggok kain perca di rumah sakit.
"Saya mungkin bisa mendapatkan vitaminnya di apotek seberang hotel. Tapi saya pastikan anda membutuhkan saya untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut disini pada nona ini".
"Sial!" Sehun setengah mengerang saat berlari mengambil jas dan dompetnya disandaran kursi sebelum menunjuk Chanyeol tepat di mata. "Jangan pernah berani menyentuhnya lebih dari batas pemeriksaan. Atau kupastikan, tubuhmu melepuh di neraka!".
Begitu ancaman Sehun yang Chanyeol tanggapi dengan sebuah senyuman, sengaja membuat laki-laki itu pergi dengan dentuman pintu marah dibelakangnya.
Dan saat Sehun benar-benar hilang, "Anda bisa bangun sekarang" katanya sedikit mengejutkan."Saya seorang dokter, jadi berpura-pura pingsan seperti itu tidak akan berguna".Chanyeol mengemaskan peralatan medisnya sembari menunggu Luhan yang jelas sekali malu membuka mata.
Dia duduk di kepala ranjang dengan waspada ketika Chanyeol memberikannya sebuah senyuman. "Apa di kedokteran juga diajarkan mendiagnosis kebohongan ?"
"Seperti dokter diajarkan untuk memprediksi umur penderita kanker. Anda bisa memperkirakannya, tetapi semua tetaplah tergantung pada Tuhan. Hanya kebetulan saja saya benar menebak jika anda sedang memejamkan mata, bukan tidur".
"Wah, tampaknya kau seorang dokter yang religius".
"Tidak juga. Saya tidak religius jika berhubungan dengan wanita".Refleks Luhan menarik selimut menutupi dadanya. Semua itu membuat Chanyeol tersenyum senyum yang mendamaikan Jepang dan Amerika. "Tenang saja. Saya tidak suka mendapatkan lebam di wajah dari kepalan tangan pria dingin temperamental itu".
"Sehun, kah ?"Chanyeol menaikkan alis dan itu membuat Luhan terkikik gembira. "Aku senang ketika ada orang lain yang berani mengejek Sehun". Dia tertawa dengan segala seorang dokter muda tampan ini cocok dibuat sekutu.
Dia memiliki dahi berpoin 100. Pikir Luhan dalam hati begitu Chanyeol meletakkan satu kursi di sisi kasur dan duduk khas elegan seorang dokter disana.
"Boleh aku menyentuh dahimu?"
Permintaan bodoh yang membuat Luhan merutuk dalam hati. Bagaimana bisa dia meminta hal konyol teresebut sedangkan mereka bahkan belum berkenalan secara resmi. Lalu ketika Chanyeol terdiam dan juga urat diwajah tampannya menarik satu sama lain; terkejut, Luhan pikir dia akan mati ditelan rasa malu.
Tawa renyah Chanyeol di detik berikutnya cukup mencairkan Luhan yang beku ditempat. Tapi tololnya, Luhan masih menginginkan dahi Chanyeol untuk disentuh.
Chanyeol berdahak. "Jika boleh saya meminta dua syarat, anda bisa melakukannya".Tawarnya baik hati pada Luhan.
Luhan begitu antuisias dan Chanyeol paham sekarang kenapa Sehun akan melemparnya ke neraka jahanam jika menyentuh wanita ini. "Katakan, apa syaratnya".
"Bukankah seharusnya ada masa pengenalan diri satu sama lain antara dokter dan pasien ?"
Luhan menganga bergumam, "ahhh" diikuti kepalanya mengangguk kecil."Aku lupa".Dia menggosok tangan ke selimut sebelum menyerahkannya pada Chanyeol. "Aku Luhan".
Dokter muda menyambut. "Saya Chanyeol, Kim Chanyeol".
"Oke. Kita sudah berkenalan. Kalau begitu bisakah jangan bicara terlalu formal padaku ?" Luhan cemberut. "Itu terdengar seperti kau berbicara pada nenek-nenek tua".Rajuknya dengan bibir menggembung.
"Baiklah. Kau yang memintanya".
"Terdengar lebih nyaman sekarang".Chanyeol hanya tersenyum untuk kesenangan Luhan. "Lalu, syarat yang kedua ?"
Chanyeol melipat tangannya, mendekatkan diri sejengkal lebih dekat pada Luhan."Kau bisa menyentuh dahiku terlebih dahulu, dan setelah itu aku akan mengatakan syarat yang kedua".
Luhan bersorak karenanya walaupun masih bisa Chanyeol dengar wanita itu bergumam 'persyaratan apa yang dilakukan setelah mendapatkan yang diinginkan?'
Cuma tiga kali usapan dan Luhan merasa cukup. Dia puas, entah untuk apa. Lalu ketika Chanyeol merebahkan diri di sandaran kursi, Luhan berdebar menunggu apa yang diharapkan laki-laki itu.
Luhan berkeringat. "Lalu, apa yang kau inginkan ?" tanyanya ragu beserta harapan penuh Chanyeol akan berbaik hati.
Tapi wajah si dokter muda yang tiba-tiba berubah jadi serius menakuti Luhan. dan benar saja, itu menakutkan ketika Chanyeol bertanya, "Apa kau dan Sehun sudah menikah diam-diam?"
"Apa ?..."
"Atau kalian akan segera menikah ?"
Sesuatu yang merah menyembur di pipi Luhan dan dia benci menjadi gadis kemarin sore yang bersemu seperti ini. Memangnya ada urusan apa Chanyeol dengan pernikahan antara Luhan dan Sehun? Mereka bedua saja belum pernah membicarakannya.
"A-aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan. Tapi aku tidak…"
"Kusarankan segeralah menikah".
"Memangnya apa urusanmu ?"
"Bagaimana bisa kalian berdua tidak menyadarinya ?"
"Jangan berbelit-belit, kumohon. Apa terjadi sesuatu yang serius pada tubuhku ?"
"Tergantung dirimu sendiri menganggapnya sesuatu yang serius atau bukan".
Luhan merengek, jenis serangan panik yang menggemaskan."Katakan padaku sebelum Sehun kembali".Desaknya yang membuat Chanyeol menggeleng pasrah.
"Sudah ku duga. Sehun belum tau masalah ini".
"Masalah apanya, sih ?"
"Aku hanya bisa memberimu saran sebagai seorang dokter".
"Chanyeol, kumohon. Pasienmu bisa mati jika kau bertele-tele seperti ini".
"Perjalanan menggunakan pesawat dalam waktu lama tidak baik untukmu, jangan mengkonsumsi alkohol dan juga, jangan melakukan seks terlalu sering dan keras. Usianya masih sangat muda. itu cukup beresiko".
"A-apa ? S-seks terlalu sering dan keras ? Usianya masih sangat muda ? Usia siapa ?"
"Kandunganmu?"
"A…Apa ?"
"Kuharap kau memberitahu Sehun sesegera mungkin".
Itu mustahil.
.
.
.
Entah siapa yang seharusnya merasa bersalah. Sehun yang duduk di sisi ranjang ataukah Luhan yang memunggunginya, berpura-pura tidur dalam kesunyian walaupun dia masih sadar secara utuh.
Sehun berpikir dia bertindak terlalu jauh, terlalu kekanakkan. Menginginkan Luhan menghargainya meskipun dia tau sekali jika Luhan memiliki sifat yang susah ditebak. Wanita itu melakukan apapun yang ada di otaknya tanpa berpikir lebih dulu apa itu menyakiti Sehun atau tidak. Karena selama ini, Sehun selalu menarima itu.
Dan Luhan. Sempat terpikir olehnya meminta maaf pada Sehun sesaat setelah Sehun meninggalkannya menuju balkon kamar. Dia teringat lelaki itu belum menyelesaikan 80% dari makan siangnya. jadi Luhan mengiriskan daging bebek panggang yang menjadi bahan hinaan erotis Sehun, menyusunnya rapi ke piring lalu berniat menghampiri Sehun di balkon kamar, memaksa laki-laki itu memaafkannya. Kalaupun tidak, Luhan harus berhasil memaksa Sehun menghabiskan makan siangnya.
Tapi apa yang terjadi adalah sesuatu melilit perutnya, berlikuk-likuk seperti puntalan perut ayam secara tiba-tiba dan Luhan tidak punya keseimbangan diri lagi untuk berdiri. Dia membiarkan tubuhnya jatuh tersungkur ke lantai sebelum mendengar Sehun bergegas menghampirinya lalu…. semua gelap.
Sampai Luhan mendengar suara berat seseorang berbicara dengan Sehun, dia menahan matanya terpejam. Setiap nada khawatir Sehun, egoismenya yang cemas ataupun keposesifan naluri lelakinya membuat Luhan bergetar.
Dia menyukai segala cara Sehun menjadi gelisah bukan main karenanya.
Tapi ketika dokter muda itu mengatakan bahwa dirinya mengandung, Luhan kehilangan separuh jiwa. Tubuhnya melekat di bumi namun tidak dengan roh-nya yang melayang-layang di udara kosong.
Sebagai seorang wanita, Luhan tentu bahagia. Menjadi seorang ibu dari bayi-bayi mungil, mengurus popok hingga memberikan asi ekslusif adalah suatu impian tersendiri. Namun mengingat bahwa dia belum menikah, Luhan di landa gusar bukan main.
Bagaimana jika Sehun tidak mau menikahinya ?
Mereka memang menjalin hubungan baru-baru ini, tapi bukan berari Sehun mau bertanggungjawab untuk semua itu.
Sehun penikmat seks. Apalagi yang diharapkannya dari wanita selain seks yang hebat ?Dan Luhan yang sempat berfikir bahwa dia menikmati setiap seks-nya bersama Sehun, mulai berpikir ulang.
Chanyeol mengingatkan bahwa seks hebat di usia muda kehamilan berpotensi buruk. Salah satu yang terburuk adalah keguguran.
Lalu bagaimana ini ? Bagaimana jika Sehun menginginkan seks di malam hari ? Apa yang harus Luhan lakukan sedangkan dia tau jika Sehun selalu dominan dan keras dalam setiap permainan ?
Semuanya membuat Luhan tidak bisa tidur.
"Luhan.."
Tiba-tiba..lelaki itu memanggil namanya. Luhan suka. Walaupun dia tidak memberikan respon sama sekali.
"Seharusnya aku tau jika perjalanan dari korea ke Cina cukup melelahkan untukmu".Ranjang dibelakangnya bergerak dan Luhan rasa, dia tidak bisa menolak Sehun melingkar di pinggangnya. "Maaf".
Sebenarnya Luhan ingin mengatakan hal yang sama, namun dia pikir suaranya benar-benar tidak bagus sekarang. Bila bicara, semuanya akan berubah menjadi isakan.
Jadi dia tidak merespon apapun lalu diam-diam berdoa agar Tuhan tidak salah menyampaikan maksudnya kepada Sehun seperti tadi siang. Jangan sampai Sehun meninggalkannya lagi menuju balkon kamar.
Lalu ketika Luhan merasakan jemari Sehun mulai membuat pola gelisah di perutnya, dia tersentak nyaris mati.
Jangan sampai Sehun mencurigai apapun!
Alarm otaknya berdering keras dan Luhan tidak tau lagi apa yang harus dia lakukan selain menyingkirkan tangan Sehun kemudian memasukkan diri dalam bidang dada Sehun hingga laki-laki itu tidak melihatnya; tidak merasakan apapun di perutnya.
Mungkin belum besar, namun sudah tidak ramping lagi.
Luhan takut, sungguh. Entah bagaimana bentuk masa depannya kelak, Luhan pesimis itu akan menjadi sesuatu yang suram. Walaupun dia sekarang berada di dekapan Sehun dengan laki-laki itu yang mengusap pucuk kepalanya manja, Luhan tidak bisa mengatakan pada Sehun bahwa aku mengandung anak kita.Dia tidak punya keberanian yang cukup.
Lalu bagaimana dia akan menyembunyikan perubahan volume perutnya dari hari ke hari ?
.
.
.
.
Sebelum tidur, Luhan sudah merangkai rencana untuk bangun lebih awal dari biasa. Setidaknya dia harus mencari beberapa pakaian longgar ataupun sweater rajut yang akan sangat membantu sekali dalam meleburkan bentuk tubuh.
Tapi ketika membuka matanya di suatu cahaya yang silau, Luhan merutuk dalam hati begitu menemukan Sehun sudah berdiri menghadap cermin tinggi dengan usaha menyimpul dasi di lehernya.
"Aku mungkin pulang sore". Laki-laki itu berkata setelah mendengar Luhan menguap."Maaf, meninggalkanmu lagi".Dia meminta maaf terbelih dulu bahkan sebelum Luhan kesal.
Si putri bangun tidur menjari rambutnya, "Ya, tidak masalah". Menguap bosan sekali lagi."Mungkin satu saat nanti kau perlu ditinggalkan juga agar bisa memahami bagaimana rasanya ditinggalkan".
Hanya kekehan kecil yang Sehun jadikan tanggapan, dia menunggu Luhan mendengus kesal atas itu. "Jadi kau marah ?" godanya membuat mata Luhan berputar jengah.
"Kumohon, Oh Sehun. Wajahmu tidak cocok berekspresi sok ramah begitu".
"Oh, aku lupa. Ternyata aku mengencani wanita yang tidak memiliki kemapuan menghargai".
"Sesungguhnya aku lebih tau cara menghargai daripada makhluk bodoh sepertimu. Hanya saja….."
"Apa ?"
Luhan beranjak dari kasurnya, menuntuti Sehun lalu mengambil alih lilitan dasi dari jemari lelakinya sebelum berkata, "Kau tidak perlu tau bagaimana cara aku melakukannya".
Sehun tersenyum sederhana,"Kau bebas melakukannya". Katanya kemudian membagi kecupan manis di rahang wanitanya yang membuat Luhan merona."Untuk kebaikan hatimu di pagi ini, maka kuberikan radius 200 meter dari area hotel untuk berkeliling".
"Maksudmu?"
"Ada coffee shop, restaurant Cina dan juga beberapa butik di sekitaran loby. Kuharap itu cukup menghiburmu selama aku kerja".
"Tapi—"
.
.
.
"Kartu kreditku ada di meja nakas. Pakai saja sepuasnya"
Begitu kata Sehun sembari menunjuk kartu tipis di meja nakas,membingungkan Luhan saat dengan tiba-tibanya Sehun memberikan waktu dan kebaikan dalam satu tempat.
Itu sedikit melegakan. Setidaknya sekarang Luhan bisa menikmati secangkir greentea latte di kursi 12 coffee shop coklat muda. Menyenangkan bisa menghirup udara normal. Selama ini Sehun telah menciptakan udara tersendiri untuk Luhan dengan setiap butirnya mengandung aroma pekat lelaki itu hingga Luhan rasa dia bisa mabuk seketika.
Asing memang. Bukan hanya karena Sehun yang melepaskannya, namun juga Luhan asing terhadap bahasa cina yang sudah lama sekali dia tinggalkan. Luhan mengerti, dia menghabiskan masa kecilnya di Cina walaupun ada beberapa kosakata yang dia lupakan, namun Luhan rasa dia masih cukup baik untuk itu.
Greentea latte-nya mulai menipis dan matahari mulai merendah. Sudah berapa jam Luhan disini ? Dia menghitung jumlah cangkir minumannya. Ada tiga, dan Luhan memberikan selang satu jam disetiap gelas.
Ponselnya bergetar saat Luhan menyesap empat sendok terakhir minuman hijau, ada pesan dari Sehun yang bekata bahwa laki-laki itu akan pulang 30 menit lagi. Itu berarti, Luhan harus segera pulang walaupun benang kusut diotaknya masih bersimpul rumit. Luhan masih mencari cara melerainya satu persatu.
Keletuk tumit highheelnya tidak sekeras tadi, menandakan bahwa Luhan sudah menahan pegal di pergelangan kaki.
Jemarinya yang sehalus bulu merpati dimasukkan ke dalam saku blazer sedangkan otot kakinya mulai menegang demi mengatur langkahnya sendiri. Luhan rasa dia harus sesegera mungkin kembali ke hotel karena tidak ada Sehun ataupun Ravi disini; tidak ada yang akan menggendongnya.
Jadi Luhan mempercepat langkah, menunduk sebelum di belokan ujung ruko, dia menabrak seseorang.
Seeorang wanita kumuh berantakan dengan lebam di separuh wajah cantiknya. Begitu tergesa, seolah dia sudah kehilangan napasnya.
Luhan tersentak. Jauh dari rasa iba, dia terkejut bukan main begitu wanita kumuh berlari menabrak bahunya untuk kabur.
Wajah itu …..
"Selvi…."
.
.
.
.
.
.
.
TuBerCulosis
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
NO COMENT
cuma mau nanya, ada yang inget sudah berapa kali Luhan dan Sehun melakukan seks tanpa paksaan ? Soalnya ini berhubungan sama chapter depan dan gue gak ngeh mau baca fanfc gue sendiri dari awal :D jadi, bagi readers yang memiliki waktu luang, bisa tolong itungin seks mereka yang saling menikmati gitu gak ? (pemerkosa*n dan seks paksaan gak termasuk ya).
.
.
.
.
.
.
ALWAYS, AI LOP YU :* :* :*
