HUNjustforHAN
Present
.
.
.
.
.
Desire
.
Chapter 11
.
.
.
.
.
Luhan tidak perlu menyimpulkan apapun. Termasuk mengapa dia bisa bangun di ranjang kamar hotel dengan keadaan kepalanya pusing, matanya berkunang-kunang dan tenggorokannya kering. Padahal seingatnya terakhir kali, dia sedang menikmati secangkir greentea latte di coffee shop seberang hotel, mendapat pesan dari Sehun, segera pulang lalu bertabrakan dengan seseorang yang—
Mungkinkah itu Selvi ?
Kenapa wanita itu bisa terdampar di Cina ? bukankah seharusnya dia sedang mengemis di Jerman ?
Dari ingatannya, Luhan mendapati sesuatu. Ketika wanita yang menabraknya mencoba melarikan diri, di atas tumit high heel-nya yang mulai pegal, Luhan mengejar wanita itu. Wanita dengan blazer tua berantakan. Mengolah langkahnya sebegitu lihai saat Luhan mengejarnya tanpa alasan, berikut orang-orang menyeramkan di belakang mereka melakukan hal yang sama.
Siapa wanita itu ?
Kenapa orang-orang mengejarnya dan kenapa dia begitu ketakutan ?
Lalu pertanyaan paling besar adalah, mengapa Luhan mengejarnya ? dan memperoleh hasil jatuh kelelahan kemudian, pingsan – mungkin ?
Luhan menarik tubuhnya bersandar di kepala ranjang sambil sesekali memijit pelipis. Berdenyut setiap kali dia menyentuhnya.
"Berjanjilah ini yang terakhir kali". Suara dingin maskulin menyergap Luhan, seseorang berajalan dari arah pantry dengan segelas air juga botol vitamin ditangannya. Jelas sekali Luhan mengenali jenis decak telapak kaki ini. Milik si sombong, Sehun. "Tidak ada toleransi pingsan di tengah jalan di lain kesempatan".
"Maksudmu ?"
Sehun singgah di sisi tempat tidurnya, menyerahkan sebutir vitamin juga menunggu Luhan menelannya dengan bantuan dua teguk air. Dia meletakkan sisanya ke meja nakas asal-asalan, yang terpenting tidak jatuh.
"Apa yang kau lakukan di luar hingga dokter muda bodoh itu harus menggendongmu pulang dalam keadaan pingsan ?"
"Chanyeol ?"
Sehun mendengus. "Bukan namanya yang kita permasalahkan sekarang." Diselipkannya rambut Luhan yang jatuh ke balik telinga, mendapati Luhan terlihat sangat menggemaskan dengan pipi merah alami di atas dagu lancipnya. "Katakan saja aku tidak ingin berniat buruk. Maka dari itu, memberikanku penjelasan adalah satu-satunya jalan."
Luhan meremas lengan kemeja Sehun, tanpa pernah memberitahu sekalipun lelaki itu mengapa dia melakukannya; mengapa dia lebih suka meremas pakaian Sehun dari pada meremas telapak tangannya secara langsung ataupun menyentuh tubuh lelakinya secara langsung.
"Jangan berpikiran buruk dulu", ujarnya dengan intonasi meluluhkan jiwa. "Aku membeli gelang mungil sebelum pergi ke coffee shop dan mendapatkan beberapa cangkir greentea latte disana, lalu saat pulang, seseorang menabrakku—"
"Chanyeol, kah ?"
Si wanita melayangkan tangan ke udara, "Bukan," katanya meyakinkan. "Kumohon jangan terlalu dramatis, Sehun".
"Oke, lanjutkan".
Dari sudut matanya, Sehun dapat melihat bola mata Luhan berputar jengah. Dan cara Luhan melakukannya, benar-benar mengagumkan.
"Ya, seseorang menabrakku. Pikiranku mengatakan bahwa dia copet pribumi Cina yang mencoba mencopet dompet wanita cantik sepertiku. Tentu saja aku mengejarnya. Namun ketika melihat wajahnya…." Apakah itu Selvi ? Apa kau membuang Selvi ke Cina ataukah dia kabur ? dan, haruskah aku memberitahu masalah tentang wajahnya kepadamu ?
"Ada masalah dengan wajahnya ?" Sehun menilik Luhan. Wanita itu tersentak dari lamunannya sendiri tentang sesuatu yang tidak sanggup Sehun tebak dengan otak manusia.
"Tidak. Tidak". Wanita menggeleng.
"Lalu ?" dan lelaki seperti Sehun selalu menuntut.
"Ternyata, dia perempuan". Yang mirip dengan Selvi ataukah benar-benar Selvi. Aku tidak tau.
"Kemudian tentang dokter muda sialan ?"
Kekasih cantiknya mengendikkan bahu," Aku jatuh lalu pingsan. Tentang Chanyeol, mana ku tau ?", berkata begitu santainya dengan rasa tidak peduli jawabannya itu adalah yang diinginkan Sehun atau bukan.
"Dramatis sekali, ya.."
Sehun meringis mendapati satu cubitan sayang mendarat di perutnya, seperti gabungan dua capit kepiting perawan yang sudah diasah. Dan juga, satu pasang mata sinis yang mengancam.
Kenapa jadi si wanita yang merajuk ?
Rambut hitam panjangnya yang terurai bergerak gelisah saat Luhan berguling satu putaran ke samping dan mengakhirinya dengan terlentang. Memikirkan lagi-lagi sesuatu yang tidak bisa Sehun tebak.
Sehun merangkak, mendekati tubuh wanitanya yang serius memandang langit-langit kamar. Dia memangku kepala dengan sebelah lengannya, membiarkan Luhan menikmati dunianya sendiri beberapa waktu yang tidak banyak.
"Sehun.."
"Hm?" laki-laki itu menggumam sekenanya.
Seperti masuk dalam putaran hitam putih yang mengantarkan pada alam bawah sadar, Luhan bicara dengan mata tetap pada langit-langit kamar. Apa bagusnya gypsum berlampu itu daripada wajah kekasihmu ? pikir Sehun sendirian.
"Boleh aku bicara ?"
"Apa sejak tadi kau membaca puisi ?"
Luhan menarik keseriusanya berakhir, memukul pelan dada lelaki itu yang tidak menanggapinya dengan baik. Sebenarnya tidak ada yang salah, hanya saja Luhan rasa dia ingin melakukan suatu pembicaraan serius dengan Sehun dan tidak menerima jawaban aneh ataupun ngarang dalam bentuk apapun. Jikapun Luhan menyukainya, dia akan menahannya beberapa waktu lagi.
"Aku serius!"
Terkecuali pucuk kepalanya yang digusak Sehun, Luhan tidak bisa menunda untuk menyukainya.
"Bicarakan tentang keseriusan yang kau maksud, tuan putri".
Terkecuali lagi merona karena panggilan tuan putri untuknya dari Sehun. Sial!
"Ini tentang gegeku, Wu Yifan".
Begitu selesai mengucapkannya, Luhan tau jika Sehun sedang mengatur otot-otot disekitar wajahnya agar tidak tegang; namun tentu saja laki-laki itu sulit melakukannya. Entah untuk alasan apa, Luhan suka bagaimana ekspresi Sehun kalang kabut seolah dari percakapan ini dia akan kehilangan wanitanya dalam jangka waktu yang melelahkan jika ditunggu.
"Seingatku Luhan, kontrak kita belum berakhir dan—"
"Bukan tentang kontrak, sayang."
Luhan merasa geli, memanggil Sehun dengan sebutan sayang kemudian mendapati Sehun menyerah dengan satu helaan napas. Luhan tidak bermaksud melakukannya, tapi dia rasa, ditangannya sudah bersimpuh segala kelemahan Sehun.
"Lalu.." suara lemah si lelaki, favorit Luhan.
Wanita perlu memenangkan ini.
"Kesalahpahanmu dengan gegeku tentang…. Irene".
Oh malapetaka! Napas Sehun tersangkut dikerongkongan beserta dahaknya menumpuk disana. Alveolusnya mendadak malas menukar oksigen dengan karbondioksida sehingga Sehun nyaris kehilangan udaranya untuk bernapas.
Kenapa nama itu hadir lagi ditengah rasa bahagia bersama Luhan ?
"Luhan, kumohon.."
"Yifan tidak menidurinya, malam itu". Melihat Sehun termangu di tempat, Luhan menebak lelaki itu penasaran dengan penjelasannya yang satu ini. "Selvi mabuk, seseorang menelpon Yifan karena gege ku yang berada dipanggilan terakhirnya. Yifan mengantarnya ke hotel dan dia bersumpah, tidak menyentuh Irene sedikitpun."
Kepada langit yang menaburkan salju di bulan Desember, Luhan berharap Sehun percaya. Walaupun ini tidak akan mengubah apa-apa, yang jelas Luhan hanya ingin meluruskan kesalahpahaman antara Sehun dan Yifan. Itu saja. Namun jika boleh meminta lebih, Luhan mengingikan hidup diantara Sehun dan Yifan dalam keadaan baik-baik saja, meskipun tidak hangat.
Itu akan membuat Luhan terlihat serakah.
Namun bagaimanapun, Yifan saudara satu-satunya yang Luhan miliki. Sesempurna apapun Sehun memanjakannya, Yifan tentu memiliki tempat tersendiri yang tidak mungkin tergantikan oleh siapapun. Oleh karena itu, jangan menyalahkan Luhan ketika satu waktu diantara waktu-waktunya, dia menginginkan Yifan kembali. Mendekapnya dengan kehangatan yang berbeda.
"Semuanya sudah terjadi". Hanya begitu respon Sehun, berniat meninggalkan Luhan sementara namun wanita itu sudah terlebih dahulu menarik lengan bajunya.
"Ya, semua sudah terjadi. Kau pergi, Yifan di kambinghitamkan, Irene entah kemana dan aku… aku sudah disini."
"Luhaaan.."
"Apalagi yang kau inginkan ?"
Sehun menggapai kepalanya dengan gerakan sehati-hati mungkin karena baginya, Luhan adalah harta paling berharga. Sesuatu yang di klaim Sehun tidak boleh diganggu gugat.
"Aku mungkin bisa berhenti, tapi tidak untuk semuanya."
"Bagian mana lagi yang tidak bisa ?"
"Dirimu."
Luhan termangu beberapa detik, menerjemahkan arti dibalik manik Sehun yang memohon padanya dengan doa-doa dari dunia atas. Dia tidak mengerti, tapi binar kesedihan di mata Sehun menyentuh naluri wanita Luhan untuk tergugah menghargainya.
Digapainya pundak lelaki itu, bertanya dalam bahasa hati yang hanya mampu dipahami antara hatinya dan hati Sehun.
Apa kau takut kehilangan aku ?
Sehun mengangguk dan Luhan cukup terkejut akan hal itu. Lebih terkejut lagi saat Sehun bersembunyi di lehernya dari sesuatu yang paling menakutkan, meskipun Luhan tidak yakin hal menakutkan apa yang menghantui Sehun.
"Bisa kau lihat apa yang telah kulakukan karena kehilangan Irene ?"
Merakit dendam dan meledakkannya pada siapapun.
"Bayangkan bila aku kehilanganmu…. itu akanlebihparah".
.
.
.
.
Malam ini seperti malam-malam sebelumnya. Digelap malam, suhu bermusuhan dan lebam di sana sini, Yifan akan menyusun langkah labilnya. Dia terlihat sangat tidak punya kekuatan namun selalu memaksakan diri.
Dari sisi yang tidak diketahui, dari perkiraan Luhan bahwa Yifan telah melupakannya demi bersama Selvi, sebenarnya tidak benar seratus persen. Walaupun Yifan mengakui beberapa kali dia juga menghabiskan waktunya dengan Selvi, namun di sepertiga malam ataupun lebih awal, Yifan akan melangkah kesini dengan segala kesia-siaan yang ditelannya bahkan dari rumah.
Berteriak, meraung, meninju, ditinju, menerjang dan diterjang; dia mendapatkan semua itu di pintu gerbang luar rumah Sehun yang selalu berpenjaga. Nyaris disetiap malamnya, Yifan akan berakhir dengan tubuh lebam. Sebelum lampu kamar Luhan padam, Yifan tidak akan pulang.
Walaupun dia meraung sampai putus leher, itu tidak akan berarti apapun pada kamar Luhan yang diberi peredam suara. Sehun sangat mengantisipasi dengan baik, hanya itu yang bisa ku katakan.
Luhan mungkin tidak tau, menyalahkan Yifan atas semua kejadian ini lalu menuntut penderitaan kakak laki-lakinya yang dengan kesungguhan, Yifan jauh menderita daripada itu.
Kyungsoo—pembuat cupcake terhandal di toko roti mereka—beberapa kali membuatkan Yifan makan siang, namun lelaki itu akan meninggalkannya dalam keadaan rapi dan, dingin.
Khusus untuk malam ini, Yifan rasa ada yang aneh. Semisal lampu kamar Luhan yang mati sejak dia datang ataupun penjaga gerbang depan sama sekali tidak memukulnya ketika dia meraung kesetanan memanggil nama adiknya.
Ini menakutkan.
Apa Sehun membawa Luhan ketempat lebih jauh untuk dijadikan objek pelampiasan hasrat binatangnya itu ?
Keparat dia!
.
.
.
.
"Itu dia!"
Oh Tuhan, pekikan wanita ini.
"Luhaaaan."
"Sehun cepat!"
Ini salahnya, salah Sehun. Mengajak Luhan makan malam di sky garden –restaurant di atap gedung hotel— lalu membiarkan Luhan mendengar dua nyonya-nyonya yang berbicara tentang bakpao seberang hotel di bangku belakang mereka. Makan malam yang mahal harus ditinggalkan demi bakpao kaki lima.
Lalu sekarang, Luhan melompat-lompat girang seperti putri katak begitu menemukan banyak sekali jajanan di malam Kota Beijing. Dengan blazer seadanya dan juga ikat rambut sesederhana mungkin, wanita itu berlarian kesana kemari bersama hidungnya mengendus makanan seperti anjing pelacak.
Lupa dengan bakpaonya, Luhan menarik lengan Sehun menuju tusukan-tusukan padat seperti, bakso ikan ?
"Bukankah ini banyak di Korea ?" Sehun bertanya pada Luhan yang lahap dengan makanannya. Wanita itu menghabiskan dua tusukan yang mana Sehun masih belum menyentuh satu tusukan pun menuju bibirnya.
Mulut Luhan penuh, "Memang, ini jajanan korea", katanya tersendat diantara kunyahan bakso ikan.
"Dan kita jauh-jauh ke Beijing hanya untuk membeli jajanan Korea ?" Sehun melongo tidak percaya. "Wow! Kau memang menakjubkan Luhan", Sehun memberinya tepuk tangan dan Luhan merasa bangga akan itu, walaupun sebenarnya Sehun lebih tampak menghina daripada memuji.
Luhan tidak perlu sadar saat mulutnya penuh.
Kemudian saat Sehun baru menggigit ujung makanannya, Luhan membuat gerakan lain di pinggangnya, memaksa Sehun menoleh; mau ataupun tidak.
"Apa ?"
Telapak tangan wanitanya mengulur ke udara."Berikan aku beberapa lembar uang. Tentu saja ini tidak gratis", dia tersenyum tanpa dosa ketika Sehun membesarkan kedua bola matanya.
"Bukankah kartu kreditku ada padamu ?"
"Makan disini pakai lembar uang, bukan kartu gesek. Dan aku tidak punya uang tunai."
Sehun menyerah di satu napas terakhir, mengeluarkan dompet dari sakunya. Namun sebelum dia memeriksa lembar mata uang Cina yang tersisa di dompetnya, Luhan sudah mengambil alih. Merampas dompet Sehun dengan cara sembarangan.
Dan wanita itu, berjalan ke arah lain dengan mengklaim dompet Sehun di telapak tangan.
.
.
.
Renyah tawa dengan segala nada kepuasannya benar-benar melegakan. Wanita begitu bahagia saat mampu menyeret laki-lakinya dengan penguasaan penuh bersama dompet yang terselip lembar-lembar dolar ataupun kartu gesek.
Sehun adalah satu dari sekian jenis lelaki kaya yang tidak pernah mempersalahkan wanita materialistis menggantung di lengannya, asalkan saja, itu Luhan. Dan syarat terakhir adalah poin paling mustahil di dapatkan wanita lain.
Hak paten Luhan, mutlak.
"Ini.." ketika selesai, betina akan mengembalikannya, "dompetmu. Terimakasih," dengan mata bulan sabit yang mampu menjatuhkan planet.
"Sudah puas ?" Sehun memasukkan dompet dalam saku celananya sedangkan Luhan menunggu lengan laki-laki itu diam. Menggandengnya, seperti gadis kasmaran yang kampungan.
"Sebenarnya belum," dia berhenti untuk terkikik melihat Sehun di ambang putus asa, "seandainya kakiku tidak pegal".
Seperti petunjuk dari akhirat, Sehun menjatuhkan pandangannya pada kaki gelisah Luhan beserta tumit high heelnya yang mempesona; sebelum Sehun menyadari tumit itu akan menyiksa kekasihnya lebih jauh.
"Kurasa aku tidak pernah memberimu makan batu ataupun kayu belian. Tapi kenapa otakmu sangat keras ?"
"Ini bukan masalah keras kepala, oke," Luhan mengangkat lima jarinya ke udara sebagai peringatan, "Sebagai lelaki, kau juga harus paham tentang tumit high heel dan kepercayaan diri wanita—"
"Untuk itu, lelaki selalu menghabiskan obat sakit kepala lebih banyak daripada wanita." Sehun memotongnya, sedangkan Luhan berdiam diri di menyanggah, namun bibirnya bungkam.
Sehun mungkin benar.
Perasaan klasik yang sulit dipahami, Luhan mendapat serangan. Spot Jantung.
Perlakuan Sehun yang pasaran; berlutut di depan wanita, mempereteli tali high heel dan menggendong kekasihnya seperti karung beras, sesuatu yang seharusnya Luhan tertawakan karena itu begitu norak. Banyak sekali drama korea memiliki scene seperti ini dan Luhan tidak pernah tau jika mendapatkannya secara langsung dari lelaki sejenis Sehun bisa membuatnya jadi sebegitu istimewa.
Adengannya yang norak atau Luhan-nya saja yang kampungan ?
"High heel-ku!"
"Aku membawanya."
Bisakah kau renungkan apa yang telah kau perbuat Luhan ? Ibu Sehun di Surga mungkin merutuk karena anaknya yang tampan luar biasa dengan segala kesempurnaannya, menjinjing sepatu wanita yang bahkan tidak pernah Sehun lakukan pada wanita manapun.
Ya, karena dia Luhan.The one and only bagi Sehun.
"Sehun.."
"Ya?"
"Terimakasih."
"Untuk?" Sehun membetulkan posisi Luhan di punggungnya.
"Mentraktirku makan malam ini."
Sehun tersenyum, tidak bersuara, agar Luhan tidak perlu tau bahwa dia juga senang melakukannya. "Kenyataanya tidak seperti apa yang kau ucapkan. Apakah mengekang dompetku termasuk cara mentraktir ?"
"Hey..pelit sekali," Luhan mendorong bahunya dari belakang, "Untuk apa aku punya kekasih kaya, kalau begitu."
"Wah, sejak kapan wanitaku jadi materialistis ?"
"Sejak menguasai dompetmu tadi."
Jantan terkikik dan betina mengerat dilehernya.
.
.
.
Bersamaan dengan malam jatuh tepat ditengah-tengah, Luhan terjaga diantara tubuh lengketnya. Sehun begitu nyenyak, bermimpi ataupun tidak bukan masalah, karena lelaki itu sesungguhnya sangat membutuhkan istirahat yang cukup.
Ini mungkin sedikit sinting juga beresiko, tapi Luhan mengenyahkannya dan mulai menyususn rencana.
Dia membiarkan Sehun menggeluti tubuhnya malam ini. Peluh birahi dan semangat gairah membakar malam. Walau tidak begitu lama dan Luhan meminta tidak sehebat permainan Sehun biasanya, tetap saja bercinta dengan Sehun dalam gaya apapun akan terasa luar biasa menakjubkan bagi Luhan.
Gadis setelah bercinta, bersemu merah dan bahagia.
Luhan menggantung rona merah wajahnya, lebih ke arah pucat yang mengerikan. Sehun lebih baik bermimpi, memberikan Luhan sedikit saja waktu untuk memikirkan bagaimana nasibnya di ujung cerita.
Anak dikandungannya, dan seks bersama Sehun; dua hal yang sulit untuk Luhan satukan bagaimanapun otak kecilnya berpikir. Sebagai wanita yang punya otak normal, Luhan mendamba segala hal untuk keselamatan anaknya. Namun seks di awal kehamilan terlalu sering bersama Sehun, itu membahayakan si janin. Lalu biarkan Luhan khilaf malam ini.
Mengatakan bahwa dia mengandung, Luhan lupa dimana dia meletakkan keberaniannya.
Chanyeol mungkin bisa membantu. Dokter muda yang tidak gentar ketika Sehun murka tepat di depan matanya. Tapi sekali lagi, menunggu reaksi dari pria temperamental seperti Sehun lebih menegangkan daripada tersengat listrik bertegangan.
Luhan benar-benar menyerah akan keberaniannya.
Satu hal yang hampir selalu Luhan dapati kala seks berakhir melelahkan, payudaranya berada di genggaman lelaki itu, mau dia sadar ataupun tidak, seperti Sehun telah meletakkan hak paten pada payudara Luhan sebagai bagian terfavorit.
Kemudian ketika Luhan sedang menikmati wajah Sehun di otaknya, perutnya bergejolak hebat dengan rasa mual dalam jumlah banyak. Tidak lagi memikirkan 'tubuh bugil'nya, Luhan mengambil langkah tercepat ke closet. Muntah demi memperbaiki perutnya.
Oh Tuhan. Sebelum tau dia hamil, Luhan rasa dia tidak pernah mual seperti ini. Apa psikologis seseorang berhubungan dengan kata 'mengidam' ?
Butuh lima belas menit bagi Luhan menetralkan semuanya. Dia meraih tisu, membersihkan bercak-bercak air busuk disekitaran bibir sambil menyiram isi perutnya masuk ke dalam closet.
Tubuh polosnya baru mengenali keadaan sebagai rasa dingin yang keterlaluan. Walaupun begitu, Luhan masih ingin berada disini dengan mendekap pinggiran closet sebagai sahabat baru.
"Sudah kubilang jangan terlalu banyak jajan, dan ini akibatnya jika telingamu tuli."
Luhan tersentak mendapati Sehun berdiri di kusen pintu, mengomelinya seperti Luhan anak sekolah dasar yang ketahuan mengompol di celana. Lelaki itu sedikit lebih rapi dengan sempat memakai boxer menutupi kelelakiannya, terbalik dengan Luhan yang kalang kabut mengumpat di sudut closet menghalangi ketelanjangannya dari Sehun. Bukan hanya itu, tapi lebih ke menyembunyikan perutnya.
"Apa sudah baik ?"
Luhan mengangguk dia terlalu takut membalas raut khawatir Sehun. Takut jika kekasihnya memiliki kekuatan penembus kebohongan, maka Luhan akan mati di tempat untuk kebohongan besar.
Sehun hilang beberapa detik, sebelum Luhan mampu mendongak, dia telah kembali dengan sehelai kimono mandi ditangannya.
"Berdiri", perintahnya namun Luhan malah menciut semakin dalam "Demi Neptunus Luhan, tidak masalah telanjang di depanku." Sehun mengerang frustasi pada wanita sok polos ini yang sialnya, dia jatuh cinta.
Masih dengan meringkuk, tangan Luhan terulur, "Berikan padaku," pintanya dan Sehun terlalu lelah untuk banyak bertanya. Dia memberikan wanita itu apa yang di pintanya dan melihat Luhan kesulitan sendiri memasang kimono mandi sambil membelakangi Sehun.
"Wanita memang merepotkan di tengah malam." Ujar Sehun sekenanya, tidak bermaksud apapun dan lebih menganggap itu sebagai sebuah lelucon. Tapi sayangnya, Luhan berpendapat lain.
Bagaimana jika aku muntah setiap hari ? Apa aku merepotkanmu ?
.
.
.
.
Sehun menyiapkan sendiri kopi paginya karena Luhan masih bergelung malas di ranjang dan bibirnya terlalu mendamba rasa pahit kental yang menyenangkan. Dia pikir ini lebih baik daripada merokok, padahal keduanya memiliki efek buruk tidak kalah jauh.
Setelan konservatif, sesuatu kebanggan untuk lelaki nyaris sempurna seperti Sehun. Walau hanya dengan kemeja merah marun dan jas hitam gelap sederhana, Sehun menyapu bersih deret-deret lelaki mengagumkan; yang disana dia taruh nama Chanyeol sebagai saingan.
Bagaimanapun menurut survey, wanita terpesona dengan lelaki membawa jas lab putih ditanganya dan Chanyeol memiliki itu. Jas dokter.
Kemudian saat Luhan mulai resah di tidur paginya, Sehun sudah selesai dengan seduhan satu cangkir teh hangat, favorit Luhan.
Dia memperpendek jarak yang tersisa, menunggu Luhan menumpahkan segala lemas ampas tidur diujung geliatan tangan dan kakinya. Gerakan yang terlalu menggemaskan untuk ukuran wanita –nyaris—dewasa.
"Teh pagimu nona", Sehun menyapa Luhan di sisi ranjang. Wanitanya menguap sekali lagi sebelum duduk dengan kimono mandi semalam. "Bagaimana bisa kau membuat cara berantakan tersendiri di pagi hari ?" Tanya lelaki itu sambil merapikan gerai hitam liar Luhan.
"Matamu saja yang membuatnya terlihat begitu." Luhan meraih cangkirnya, menikmati hangat teh menjalar di tenggorokan dengan rasa manis yang pas dan juga Sehun yang terlihat memikirkan kata-katanya.
Apa benar mataku yang salah ?
Kira-kira seperti itu pertanyaan yang mampu ditangkap Luhan dari manik mata mengagumkan si lelaki merah marun.
"Ada rapat lagi ?" Luhan bertanya.
"Ya, hanya sampai siang, atau paling telat pukul 2 sore." Yang jantan menilik jam dipergelangan tangannya. "Pukul 1 akan ada yang datang, kesini."
"Siapa ?"
"Jika kau pernah ingat lelaki lembut yang mendandanimu waktu itu, maka kau akan kenal dia."
"Si lelaki perias ?"
"Ya, namanya Lay, ku ingatkan sekali lagi."
Luhan mengangguk mengerti sebelum otak kecilnya sadar untuk bertanya, "Kenapa dia datang ?"
"Tentu saja merias wajahmu."
"Aku ?"
"Tidak mungkin aku,kan Luhan ?"
"Tapi untuk apa ?"
Sehun meluruskan tungkai jengjang sombongnya berdiri, tersenyum dengan garis bibir tidak tertarik sama sekali. Sebegitu pandai lelaki itu menciptakan senyuman khasnya yang rupawan.
"Ada pesta ulang tahun pernikahan rekan bisnisku nanti malam dan aku, berharap penampilanmu tidak akan mengecawakan, walaupun kuakui selama ini kau tidak pernah melakukannya."
Luhan merona, "Kuanggap itu sebuah pujian."
"Maka dari itu," tidak ada lagi. Tidak ada lagi yang memiliki kemampuan mengapit sensual dagu Luhan kecuali Sehun. Dan ketika lelaki itu melakukannya, Luhan rasa dia tidak lebih dari seekor kelinci betina yang ingin dikawini. "Cantiklah untukku malam ini."
Oh Sial!
Sehun mengecup bibirnya! Dan lebih sialnya lagi, Luhan menyukai jenis kecupan itu lalu refleks menarik kerah kemeja Sehun dan meminta lebih dari sekedar bersentuhan. Dia menginginkan bibirnya digulat oleh Sehun tanpa izin dan lidahnya di tarik oleh Sehun masuk ke dalam mulut laki-laki itu sebelum…..
…Sehun menertawakannya mentah-mentah.
"Lain kali saja agresif seperti ini. Aku benar-benar punya rapat penting jam 8."
Luhan melongo ketika Sehun selesai dengan kalimatnya, ataupun gusakan manja di pucuk kepalanya, ataupun kecupan mesra Sehun di rahang sebelah kirinya, ataupun Sehun yang meninggalkannya dengan satu kerlingan mata menggoda.
Oh Tuhan!
Jadikan Luhan teh celup di neraka saja!
Ini memalukan!
.
.
.
.
Pukul 10. Luhan sudah rapi memakai kemeja putih dan rok biru dongker ketat selutut. Mood seorang ibu hamil, tidak peduli apapun dan dimanapun. Dan demi hanya bertemu Chanyeol untuk membicarakan masalah kemarin yang menurutnya penting, Luhan berdandan seperti Marketing Manager disebuah hotel bintang kejora.
Tapi Chanyeol menghargainya, tidak berkomentar buruk apapun selain, "Penampilanmu seperti ibu direktur", yang membuat Luhan mengibas rambutnya ke samping. "Jadi, ada apa ?"
Luhan memesan secangkir greentea latte dan Chanyeol, jelas saja hanya sebotol air mineral. Hidup sehat yang membuatnya beberapa kali harus di cibir sebagai lelaki pelit.
Tapi Chanyeol bukan tipe orang yang peduli. Selama dia pikir itu bagus untuk kesehatannya dan tidak merugikan orang lain, kenapa harus malu ? Daripada dia membuang secangkir Americano secara cuma-cuma, bukankah itu lebih buruk ?
"Tentang kemarin sore." Luhan menyelipkan rambut ditelinga,"Sehun bilang jika kau yang mengantarku pulang."
"Ah.." dokter muda membuka mulutnya sambil mengangguk kecil, telinganya yang lebar terbuka membuat dia terlihat lucu melakukan hal itu. "Sehun mengatakannya padamu ?"
"Ya, dan kurasa aku harus berterimakasih."
"Kuterima."
"Dan juga…." Ibu presdir menggantung kata-katanya sampai yakin Chanyeol benar-benar penasaran. Lalu ketika dokter muda bertanya 'apa?', Luhan rasa ini saatnya. "Kemarin sore apa kau melihat aku berlari ?"
"Mengejar seseorang, sepertinya."
"Ya, kau benar. Dan apa kau melihat orang yang ku kejar ?"
"Aku tidak yakin," Chanyeol berpikir, "Tapi kurasa dia seorang wanita."
"Ya. Apa kau melihat wajahnya ?"
"Kurasa tidak. Rambutnya sangat panjang dan beterbangan."
Luhan menghela napas setengah menyerah, "Apakah aku bisa dibantu ?" Sebenarnya Luhan bertanya pada diri sendiri tapi Chanyeol terlanjur duduk di depannya dan mendengar apa yang dia gumamkan.
"Memangnya kenapa ?"
"Ha ?"
Dia melamun, pikir Chanyeol.
"Kau punya masalah dengan wanita itu ?"
"Tidak. Tidak. Hanya saja…." Chanyeol dihadapannya tampak lebih penasaran daripada tadi dan Luhan sendiri tidak yakin harus melakukan ini tau tidak. Tapi….. "Dia mengambil gelang baruku, dan aku harus mendapatkan gelang itu sebelum Sehun tau. " Dia juga berbohong pada Chanyeol. "Jadi kumohon, bisakah ?"
"Cukup sulit, karena kita tidak menyisakan petunjuk apapun."
"Petunjuk ?"
"Ya, petunjuk."
"Tunggu!" Beberapa orang disekitar mereka tersentak karena suara ibu presdir terlalu nyaring, menoleh dengan rasa bising terlalu jelas dinampakan dan Chanyeol harus mengembangkan senyuman paling cemerlangnya sedangkan Luhan, sibuk mencari sesuatu di tas. "Apa ini berarti ?!" dia mengeluarkan secarik kertas lusuh dengan mata berbinar, penuh harap sembilan puluh delapan persen.
"Coba kulihat."
"Gadis itu menjatuhkannya ketika kami bertabrakan."
"Apa ini tempat dia bekerja ?Laundry ?"
"Gadis laundry ?"
"Kurasa kita bisa melacak alamat ini."
.
.
.
.
'Tring'
Lonceng kecil di kepala pintu berdenting ketika Luhan menarik gagangnya. Alih-alih tempat pencucian baju kotor, lonceng di atas membuatnya seperti toko barang antik.
"Permisi.." Oh, tidak buruk. Ujar Luhan dalam hati mengomentari bahasa mandarin pertama yang ia keluarkan setelah hampir sepuluh tahun. Chanyeol hanya mengekor dibelakangnya karena dia tidak punya banyak kosakata mandarin dalam saku celana.
"Oh ya, silahkan masuk pelanggan." Wanita tua dengan rambut keriting dan poni di roll ke dalam menyambut mereka, mata sipitnya yang ramah tersenyum penuh kerutan. "Ada yang bisa kami bantu ?"
"Ya. Bisakah laundry-kan jas temanku, bibi ?" Luhan menyerahkan lengannya dan bibi tua mengambil alih jas yang tersampir disana. Dia melirik Chanyel dan kembali pada bibi tua yang memeriksa jas calon pelanggan. "Aku menumpahkan setengah cangkir greentea latte-ku, dan sebagai permohonan maaf aku harus mencucinya sesegera mungkin."
Bibi mata keriput tersenyum, "Apa dia pacarmu ?"
"Maaf?"
"Lelaki tampan itu." Bibi menyikut Chanyeol dengan matanya, dan Chanyeol yang tidak mengerti bahasa apapun disana membulatkan mata bingung.
"Ah, bukan. Dia bukan pacarku." Tangan Luhan melambaikan penolakan di udara, "pacarku sedang bekerja, Bi." Mampus jika Sehun tau!
"Memacari dua pria di usia muda tidak melanggar hukum manapun. Sayang sekali menyia-nyiakan pria setampan dia."
Dahi Luhan sukses mengernyit bingung, apalagi Chanyeol ? Saat bibi tua meliriknya dengan genit, Chanyeol bergidik; bersembunyi dibalik tubuh mungil Luhan.
"Bi.. Bisakah pakaian ini selesai besok ?"
"Aku tidak yakin karena cucian kami juga sedang menumpuk, jadi—"
"Akan kubayar dua kali lipat."
"Dua kali lipat ?"
Dua kali anggukan Luhan nyatanya mampu mengubah binar kelabus dimata bibi keriput menjadi keping-keping emas.
"Bisakah ?"
"Tentu."
Luhan tersenyum sekaligus mengamati sekitarnya. Tumpukan baju kotor, mesin cuci, detergen dan pewangi pakaian jadi satu. Tempat laudry kecil dengan peralatan sederhana di gang sempit.
"Apa bibi bekerja sendirian ?"
"Tidak. Aku punya pegawai. Dua orang," katanya mengacungkan tiga jari pada Luhan yang membuat si cantik bertanya-tanya. Apa bibi ini bisa berhitung atau jarinya saja yang tidak bisa bengkok ?
"Lalu, kenapa sepi sekali ?"
"Satu pegawaiku cuti melahirkan dan yang satunya lagi—
'triiing'
"Aku sampai."
-baru saja datang."
Sempurna!
Dia, si gadis laundry!
Chanyeol menyikut lengan Luhan serambi berbisik, "bukankah dia orangnya ?"
"Aku rasa begitu," balas Luhan balik berbisik dan menegakkan kembali tubuhnya ketika bibi keriput dan gadis laundry memandang aneh pada mereka. "Ah, apa ini salah satu pegawai nenek ?"
"Ya, dia."
Sekali lagi Luhan mengamati gadis tinggi dihadapanya dengan lekukan tubuh luar biasa sempurna. Hanya saja, dia terlalu banyak mengoleksi lebam. Ada biru kehitaman nyaris pudar dan ada pula merah marun segar seperti baru dibuat tadi malam.
"Bi.."
"Ya ?"
"Apa besok jas-nya bisa diantar ?"
"Tapi kami sangat sibuk beberapa hari belakangan, jadi—"
"Tiga kali lipat."
"Tiga kali lipat ?"
"Bisakah ?"
"Tentu."
Sesuatu perlu penjelasan dari sini. Luhan membutuhkan gadis ini untuk menjawab segala pertanyaan diotaknya. Hanya sekesar jawaban 'Ya' ataupun 'Bukan' saja sudah cukup. Jika gadis ini mau menambahi sedikit saja, Luhan lebih bersyukur lagi.
"Hi, aku Luhan." Dia mengulur tangannya selagi menunggu gadis itu mengukir senyum di atas bibirnya yang bengkak. Jenis keceriaan Luhan yang akan meluluhkan siapapun.
"Aku….Huangzi."
.
.
.
.
Sehun sedikit terlambat. Setengah jam mungkin ?
Ravi membuat masalah dengan meninggalkan denah biru rancangannya dan karena itu rapat mereka ditunda satu jam. Amat sangat beruntunglah Ravi karena tadi pagi; sebelum rapat dimulai dan Ravi siap dipenggal kepalanya oleh Sehun, Sehun menelpon Luhan yang nyaris berendam di bath up kamar mandi.
Dia kesal setengah mati pada Ravi namun ketika Luhan mencegahnya untuk murka pada lelaki itu, Sehun kalah.
Cara Luhan meminta dan memohon, kau tau ? adalah cara paling menghanyutkan di dunia ini.
Dan karena Ravi juga, Sehun harus berlari disepanjang koridor hotel untuk menemukan Luhan tengah dalam sepuhan kuas bedak Lay—Si lelaki perias.
Lalu ketika dia masuk ke kamar sewaannya dan Luhan, dia menemukan kekasihnya sedang tertawa riang atas hasil lelucon Lay yang terdengar sengau. Itu menggelikan, dan Sehun bersyukur Luhan terhibur.
Mereka di kaca rias, sibuk dengan Lay mendongengkan lawak dan setangkai besi panas pengeriting rambut di tangannya.
Sehun serak. "Apa kehadiranku mengganggu cerita kalian ?"
Luhan mendapati dirnya segera berputar, mengabaikan Lay menjerit dibelakangnya karena tatanan rambut Luhan mungkin rusak dan berpotensi Lay akan mengulang semuanya jika ada satu bagian saja yang berantakan.
"Kau sudah pulang ?"
Sehun mendekat dengan usaha melepas lilitan dasi di lehernya sendiri, dan ketika Luhan melambai, dia langsung merunduk pada wanita itu untuk dimintai bantuan masalah dasi.
Satu keahlian lain dari Luhan selain tangisan dan caranya merengek yang mengagumkan adalah, jemari mungilnya yang lentik sangat terlatih untuk dasi kekasihnya.
"Make-up mu bagus."
"Terimakasih." Lay menyahut di belakang.
Tidak apa, yang penting Luhan tertawa.
"Mandilah."Pinta Luhan dan Sehun mengangguk begitu cepat. Dia memang tidak betah dengan keringat yang melekat ditubuhnya.
"Oke. Aku mandi."
Satu lumatan singkat di bibir Luhan membuat Lay menangis histeris. Ya Tuhan! Itu lipstick paling sempurna yang pernah Lay labuhkan dibibir wanita selama hayat dikandung badannya berkarir. Dan dalam dua detik, Sehun merusak segalanya!
Sial!
.
.
.
.
"Lay. Dimana kekasihku ?"
"Tunggu sebentar! Tidak sabaran sekali, sih."
Rutukan terdengar dari bibir Sehun diruang tengah. Dia sudah selesai dengan dirinya sendiri; dengan gaya executive mempesona seperti biasa dan masalahnya sekarang adalah, Lay masih menyekap Luhan dikamar tanpa memperbolehkan Sehun mengintip secuil pun.
Dari samar-samar kejelasan suara ditelinganya, Sehun mendengar wanita di dalam kamar terkikik bahagia. Entah apa yang mereka ceritakan dan yang pasti, cerita mereka adalah apa yang membuat Sehun menunggu selama 3 jam diluar.
Tiga puluh menit lagi pukul tujuh; walaupun itu waktu yang cukup untuk menaiki lift ke gedung di lantai 21. Beruntung mereka menginap di hotel tempat acara berlangsung, jadi Sehun tidak perlu repot-repot mencari tempat parkir.
Dia melirik jamnya sekali lagi; yang mungkin sudah ke dua puluh kali. Lalu saat pintu kamarnya berderak pelan, sontak Sehun langsung mengantisipasi wanitanya keluar. Dan Sial! Lelaki perias itu yang keluar.
"Kesabaranku tinggal 5% lagi Lay! Jika kau tidak membawa Luhan keluar sekarang juga maka—"
"Keluar cantik."
Apakah harus dijelaskan lebih terperinci bagaimana mulut Sehun terbuka dan kehilangan kata-kata ? Wanitanya memakai gaun biru safir, dengan tali kecil bertabur Krystal menggantung disebelah pundaknya. Kecantikan natural yang selalu Sehun puja; bibir mungil merah ranum, hidung bangir, dagu lancip dan bulu matanya yang lentik.
Rambutya yang hitam legam di jepit sedemikian rupa hingga menjadi simpulan bunga cantik di sisi kanan dan tentu saja Lay tidak akan pernah lupa meninggalkan sirkam berliannya.
Tubuh Luhan begitu bersih. Punggung belakangnya yang menampar udara dan betisnya yang sempurna menghina pohon kaktus. Biru safir; sesuatu yang tidak pernah Sehun bayangkan sangat padan dan mewah bersanding dengan Luhan.
Oh Ya ampun, rasanya Sehun tidak ingin membawa Luhan kemanapun.
"Bagaimana ?"
"Kau bisa pulang sekarang."
Lay mengumpat ketika dia sedang mengharapkan pujian atas hasil karya besarnya dan Sehun malah menyuruhnya pulang. Keparat sekali lelaki kaya ini.
Namun Luhan tetaplah Luhan. Wanita dewasa yang manja, yang berlarian dengan gaun biru safirnya menuju lengan Sehun hingga Lay menjerit panik; tidak lucukan sanggul putri kayangan yang dibuatnya selama satu setengah jam itu hancur sekarang juga ?
"Apa sudah cantik ?" tanyanya pada Sehun dengan mata berkilauan seperti tetes hujan dimusim kemarau. Sesungguhnya Luhan tidak perlu bertanya karena jawaban sudah Sehun letakkan dimanik matanya.
"Bagaimana jika ku bilang biasa saja ?"
Luhan melempar lengan Sehun dari gandengannya. "Pergi saja sendiri!"
"Bolehkah aku memilih hanya berdua saja denganmu ?"
"Kenapa ?"
"Sial! Aku tidak ingin berbagi kecantikanmu pada siapapun!"
.
.
.
.
.
.
.
.
TuBerCulosis
.
.
.
.
.
Syalalalalalalalala. Ini, sesuai janji gue sama salah satu reader paling rebut dan ogeb, NIN, gue update chapter 11 kalo review nempuh 1.720. dan ini buktinya. Lu jangan minta yang aneh-aneh lagi. gue lemparin soptek juga entar lu ya :p
.
Okay, gue rasa disini sudah mulai kebuka sedikit tabir kepalsuan (?) nya. Jadi, silahkan menebak-nebak chapter depan. Siap untuk konflik atau masih pengen mereka lovey dovey ?
.
Btw, aku nulis chapter ini begitu cepat karena terinspirasi setelah baca FF silviieviienoy96 PYD. Cara dia nulis bagus banget, mirip sama eclaire oh tapi bahasanya lumayan ringan. Asik bacnya. Tapi tu Chanbaek dan ada HunHan juga kok dalamnya. Cek aja.
.
untuk usia Luhan disini, gue juga lupa pernah bilang Luhan usia 20 di chapter 1, dan chapter kemarin gue bilang usianya 24. Ya dimaklumin aja yes :D Fix, kita anggap luhan usianya 24.
.
Oke lah. Gue baru selesai ujian ilmu dasar biomedis tadi siang, dan kampret! Dari 83 soal, Cuma 9 soal yang gue tau T.T
Besok ujian praktikum juga. Doa'in gue ya para readers kesayangan.
.
AI LOP YU :* :* :*
