HUNjustforHAN
Present
.
.
.
.
Desire
.
Chapter 12
.
.
.
Note:
Huruf bercetak tebal merupakan pengistilahan untuk penggunaan bahasa mandarin (kecuali untuk note ini).
Kemungkinan ada sedikit flashback. Jadi perhatikan baik-baik.
Chapter ini masih bertele-tele
Di note poin ketiga, dijelaskan jika akan ada bagian yang masih belum terkuak, dan itu mungkin mengecewakan. Jadi, silahkan jika tidak berkenan untuk melanjutkan.
Dan yang terakhir, untuk KakRe HunHan Indonesia, AI LOP YU :* :* :*
.
.
.
.
.
Adakah seseorang yang sudi menjelaskan pada Luhan mengapa dia harus mendampingi Sehun malam ini ?
Dunia Sehun. Bisnis, mewah, wanita cantik dan pendidikan tinggi. Apa yang bisa Luhan banggakan dari dirinya yang hanya memiliki keahlian terbaik pada tepung dan mentega ? Semua itu rasanya tidak berguna.
Kepercayaan diri Luhan surut begitu Sehun menggandeng tangannya masuk dalam ballroom raksasa beralunkan nada biola yang halus. Jantungnya berpacu gila-gilaan, oksigen terhambat masuk menghasilkan resiko setiap ujung jarinya mendingin seperti batu es. Sehun menggumam bahwa tidak ada yang perlu di khawatirkan, ya, selain Luhan yang khawatir pada kekhawatirannya sendiri.
Jemari Luhan gelisah di lengan Sehun sedangkan matanya mencari ketenangan di lantai, tapi semua itu hanya membuat Luhan semakin gugup. Betis-betis mempesona para wanita kaya, jelas sekali bulu kaki mereka di waxing menggunakan lembar dolar. Bening sekali, ya Tuhan.
"Apa harus segugup itu ?" Sehun berbisik di telinganya dan Luhan hanya menoleh sekilas sebelum menunduk lagi. "Buktikan padaku kaitan antara tumit 13 sentimu itu dengan kepercayaan diri wanita yang selama ini selalu kau agungkan."
Bias lampu ungu muda di langit-langit ruangan menusuk retina Luhan ketika dia mengangkat kepalanya. Mawar putih di setiap sudut. Aroma segar yang menjelaskan bahwa bunganya dipetik tadi pagi.
Dia menoleh pada Sehun, menemukan kepastian bahwa laki-laki itu berusaha menyinggung dengan lekuk wajah yang membuat Luhan tidak ingin tersengal kekalahan. "Kapan aku mengatakannya ?" katanya mencoba menyangkal. Alis Sehun berkedut menandakan pertanyaan Luhan adalah omong kosong di pantat gorilla.
Ya. Satu dari sejuta jenis pertanyaan wanita paling menyebalkan. Jadi jika Sehun menggeram dibalik gerahamnya, mungkin bisa dimaklumi.
"Luhan.."
"Ya ?"
"Kau lihat balok kaca merah di dinding sebelah kanan ?"
"Memangnya kenapa ?"
"Ada Fire Extinguishers (tabung pemadam kebakaran) disana. Bila 15 menit kemudian balok kacanya kosong, berarti Fire Extinguishers-nya sudah pecah di kepalaku."
Hanya ini yang Sehun harapkan dari memperbodoh dirinya sendiri. Tawa renyah Luhan merekah di atas bibir mungil merah ranum dan dagunya yang selancip palung, kemudian dia merasa cukup dengan semua itu. Mendapatkan kebahagiaan hanya karena kornea mata wanitanya penuh binar sebagus berlian.
Merasa tidak menemukan seseorang yang dia cari, Sehun meraih ponsel di saku jas-nya. Dia memberikan Luhan waktu untuk mengumpulkan kepercayaan dirinya yang hanya sebesar telur Taenia solium (cacing pita pada babi).
"Ravi. Dimana translator bodoh yang kuminta ?"
Kuping Luhan yang harus di akui punya pendengaran cukup bagus, berdiri begitu mendengar nama Ravi dilantunkan Sehun. Mendadak dia merindukan lelaki itu; beserta raut putus asa dan cucuran keringat di seluruh tubuhnya setiap kali Luhan menginginkan sesuatu yang tidak bisa ditangkap oleh logika.
Luhan menunggu Sehun selesai. Sepertinya ada yang tidak baik disini dan dikepalanya Luhan menebak jika hanya dia manusia yang bisa menyelamatkan hidup Ravi dilihat dari bagaimana Sehun mengakhiri percakapan mereka dengan sedikit umpatan.
"Ada apa ?"
"Hm ?"
"Kenapa dengan Ravi ?"
Sehun berhenti untuk mengambil satu gelas anggur dari gelas yang berlalu lalang di nampan tangan waitress. Dia butuh satu teguk untuk meredakan letupan emosi dikepalanya. Sedangkan Luhan, tidak ada satu gelas pun yang dia inginkan.
Aroma pahit bercampur manis dari dalam gelas Sehun membuat hidungnya sakit. Semoga saja Sehun menyelesaikan seluruh tegukannya dengan cepat.
"Dia benar-benar menguji kesabaranku," Sehun berkata setelah meletakkan gelas kosong di meja terdekat. Raut wajahnya tidak lebih buruk dari penderita sembelit yang mencoba mengejan fesesnya seperti ibu melahirkan.
"Memangnya apa yang Ravi lakukan ? Kurasa selama ini dia selalu melakukan yang terbaik."
"Jika mengatakan bahwa translator yang kuminta akan datang terlambat karena membenahi ban mobilnya yang bocor termasuk hal terbaik yang bisa Ravi lakukan, maka kau benar tentang hal tersebut, Luhan," Sehun mengerang di satu helaan napas berat sedangkan wanitanya sedang memikirkan sesuatu yang lain.
"Translator ? Untuk ?"
Bolehkah Sehun memanjatkan doa pada Tuhan saat ini juga ?
"Mungkinkah aku memanggil seorang translator untuk memasak bebek pecking ? ," Nampaknya lelaki tinggi itu akan segera meledak bila dihitung dari derajat kemerahan di wajahnya. "Terkadang aku berpikir bahwa otakmu dan otak Ravi diciptakan Tuhan dalam satu wadah yang sama."
Dia mengejek Luhan. Senang sekali melakukannya karena melihat Luhan cemberut seperti itu akan membuat wanita itu seperti anak sekolah dasar yang kehilangan kotak pensil barunya.
"Sehun.."
"Hm ..?"
"Kau lihat kotak kaca merah di ujung sana ?"
Lelakinya menoleh sekilas ke belakang, bingung karena objek yang dimaksud Luhan adalah objek yang sama; yang baru mereka bahas beberapa menit lalu.
"Kenapa ?"
"Ada Fire Extinguishers disana. Bila 15 menit kemudian balok kacanya kosong, berarti Fire Extinguishers-nya sudah kupecahkan ke kepalamu."
.
.
.
.
Oh Tuhan. Sepertinya Sehun harus membayar dua kali lipat untuk translator barunya ini. Dan dia harus menyiapkan satu porsi jumbo ice cream greentea jika ingin menariknya ke kamar hotel, kemudian…. Apalagi ? tentu saja bersetubuh.
Betapa dunia begitu mempunyai sisi-sisi menarik ketika Sehun baru menyadari bahwa kehilangan translator bodoh –yang mungkin masih sedang berkabung dengan ban mobilnya—bukanlah hal paling menyebalkan, karena dari itu dia mendapatkan yang lebih baik.
"Kau lupa jika sedang mengencani wanita Cina ?"
Begitu kata Luhan yang berhasil meluluhkan seluruh aroganisme di ubun-ubun Sehun. Matanya yang sipit melebar dengan cara mempesona dan Luhan suka mengangkat dagunya untuk mengalahkan si sombong Sehun. Lelaki itu kalah telak.
"Okay. Bayaranmu dua kali lipat. Bagaimana ?"
"ditambah satu porsi jumbo ice cream greentea."
"Deal."
Dan seterusnya seperti inilah yang terjadi. Luhan yang mendapatkan kepercayaan diri penuh hanya karena menang dari Sehun, berusaha sebaik mungkin menunjukkan kelebihannya dalam berbahasa mandarin.
Setiap detil bahasa dan intonasi yang terucap, Sehun berani bersumpah jikapun Luhan mengatakan sesuatu yang mengada-ada pada rekan kerja –pemilik pesta—nya, dia akan membiarkan Luhan berbicara sampai puas.
"Dia memujiku cantik," bisiknya ditelinga Sehun penuh antusias. Refleks lelaki itu menaruh perhatian pada pemuda tinggi berambut pirang di hadapan mereka. Itu sepupu pengantin pria, dan sepertinya dia punya masalah dengan gen rambutnya.
"Seleramu sangat buruk berarti bila menganggap laki-laki itu menarik," balas Sehun mengejek kemudian menerima satu cubitan kecil dari kekasihnya.
Mereka berada diantara lingkaran kecil bersama kedua mempelai –Nickhun, Tiffany - dan juga beberapa rekan kerja yang lain. Masing-masing membawa pasangan –kecuali pria cina rambut pirang itu—yang membuat Sehun selalu mengukung pinggang Luhan di lengannya. Apa-apaan dia yang terus memperhatikan Luhan seperti itu ? Seandainya Sehun bisa menarik krah kemejanya ke bilik toilet, maka dipastikan lelaki pirang itu pulang dalam keadaan cacat.
'Rambutmu tidak lebih bagus dari bulu kelamin monyet homoseksual! Sekali lagi matamu berkedip untuk kekasihku, siap-siap menjadi impoten seumur hidup!'
Pesta yang menarik. Luhan rasa dia mulai menyukai setiap aktifitas yang terjadi disini. Dugaannya mungkin tidak benar seratus persen tentang bagaimana orang-orang kaya selalu bertindak seenaknya. Walaupun memang benar ada yang seperti itu, tapi setidaknya tuan rumah pesta ini serta beberapa rekan kerja Sehun bisa membuat komunikasi berjalan baik.
Luhan suka. Berada disamping Sehun dan lelakinya meminta Luhan memperkenalkan diri sebagai kekasihnya. Tapi menurut Luhan itu berlebihan, jadi dia memperkenalkan dirinya hanya sebagai seorang translator bagi Oh Sehun.
Oh, adakah yang mungkin akan percaya ?
Translator apanya jika dibeberapa kali kesempatan Sehun mencium pipi dan menghirup lehernya.
Keadaan semakin membaik ketika mereka punya waktu berdua, menikmati setiap petikan gitar akustik ataupun gesekan senar biola yang menghalau kerinduan.
"Kau bisa berdansa ?" Salah satu hal menarik yang –baru saja—Luhan sukai dari pesta adalah, Sehun selalu berbisik ditelinganya saat bicara. Dia senang untuk hembusan napas Sehun menggelitik leher.
"Maaf, tapi aku tidak pernah belajar dengan serius untuk itu," Luhan menggeleng, merasa bersalah karena sebaik apapun dia mencoba, tetap saja ada sisi dimana dia masih belum bisa mengimbangi Sehun.
Tapi si Lelaki selalu mengerti.
Semua akan baik-baik saja. Walau pesta tanpa dansa kurang lengkap, namun bukan berarti melakukannya adalah sebuah kewajiban. Jika memaksa Luhan hanya akan membuatnya tidak nyaman, Sehun bersedia berdiri disini hanya demi menjaga kekasihnya yang cantik jelita.
Sehun pikir begitu, sebelum seseorang menggapai bahunya dari belakang dengan sentuhan yang familiar dan …..
"Sehun ?.."
Luhan menilik ke belakang pundak Sehun sebelum lelaki itu melakukannya. Ada aura tidak menyenangkan menyesap seketika begitu dia mendalami sosok itu di retina matanya.
Mungkin baik-baik saja.
Namun sebenarnya harapan tidak diperlukan jika kenyataan malah ingin berpisah. Karena instingnya yang hebat sebagai wanita, Luhan tau jika ada yang tidak beres diantara mereka. Dan dia mendapati kekhawatirannya semakin menjadi-jadi ketika Sehun berbalik, lalu …..
"Irene ?"
Dan dia datang.
Membawa sebuah pertanda yang menakutiku.
Harusnya bisa kupastikan sejak awal bahwa kita bisa hidup masing-masing.
Merupakan kebodohanku, karena pada dasarnya aku berharap bahwa hubungan kita seratus persen adalah cinta.
"Lama tidak bertemu….. Sehun.."
"Hm…..," Sehun mengatur napas, "ya… lama tidak bertemu –- Luhan.. Mau kemana ?"
"Aku permisi ke toilet sebentar."
.
.
.
.
Bagaimanapun juga, Luhan sudah berusaha memahami semua ini. Cintanya terhadap Sehun yang nampak lucu dan juga perasaan Sehun terhadapnya yang perlu ditanyakan ulang tingkat keseriusannya. Mempercayai Sehun, dia sangat ingin melakukan itu tapi entah pikiran darimana, malah keraguan yang menerobos menjadi-jadi.
Ini buruk.
Bukannya menemani Sehun hingga pesta selesai, malah dengan pengecutnya Luhan diam-diam keluar dari pesta sendirian. Sehun terlihat mencarinya saat dia mengendap-endap. Kebodohan Luhan adalah, dia ingin memberi Sehun dan Irene waktu walaupun sebenarnya dia takut mereka lebih dari sekedar bercakap-cakap.
Semua make-up sempurna Yixing, tatanan rambut karya terhebatnya sepanjang sejarah, ataupun gaun biru safir yang sempat Sehun puji keindahannya melekat di tubuh Luhan, wanita itu rasa dia tidak memerlukan semuanya lagi.
Dia terlalu lelah mengurus kekalutan dihatinya sendiri.
Dan ketika Sehun masuk ke kamar, Luhan berpura-pura menagkap mimpi dalam tidurnya. Walaupun sebenarnya, dia terlalu berantakan dalam mengatur napas.
"Kenapa pulang duluan ?" Sehun bertanya tepat di depan wajahnya. Luhan pastikan si tampan sedang berjongkok di sisi ranjang. "Aku mencarimu sepanjang pesta," katanya dan tidak mendapat respon sedikitpun.
Mengetahui jika Luhan tidak baik-baik saja terhadap masalah pertemuannya dengan Irene, Sehun mengecup kening Luhan sebelum meninggalkannya menuju kamar mandi.
Dia juga tidak habis pikir bagaimana takdir mempertemukan mereka dalam keadaan yang tidak mendukung. Rasa cintanya pada Luhan dan juga rasa rindunya pada Irene. Semua menggebu-gebu parah seperti gulungan angin dimusim panas.
.
Mempercayai laki-laki itu seperti sebuah lelucon. Seberapapun cinta menguar, tetap saja seorang lelaki perlu dikhawatirkan.
Nyawa Luhan nyaris terbakar di perapian ketika meraih ponsel Sehun di meja nakas. Lelaki itu tengah menghabiskan beberapa belas menit waktunya di bawah pancuran shower.
"Kenapa dia mengunci ponselnya ?," Luhan menggigit bibir geram begitu kotak kosong di ponsel Sehun bertanya beberapa angka. Ingin sekali dia berteriak 'Mana aku tau, bodoh!' dan melemparkan ponsel Sehun ke tempat penggilingan sampah. "Pasti kau menyembunyikan sesuatu dariku, Oh Sehun," gemasnya entah pada siapa, yang lebih buruk adalah dia semakin anarkis pada ponsel lelakinya. "Apa kalian bertukar nomor telpon ? Berniat saling menghubungi satu sama lain ?"
Dengan segala kecemburuan yang bersarang di benak perempuan, Luhan tidak sadar bahwa seseorang dengan bathrobe putih sedang bersedekap dada memperhatikan tindakan bodohnya dari tadi.
"Memeriksa ponselku ?," kata lelaki itu dan Luhan nyaris menjatuhkan ponsel Sehun beserta sekotak napasnya. Astaga! Ini kecemburuan yang memalukan! "Tidak ada apa-apa. Percayalah." Sehun mendekat, tapi Luhan sedang tidak ingin menatap mata genit Sehun saat ini. Itu tidak mempengaruhi apapun. Mungkin.
"Ya! Aku percaya! Percaya bahwa kau menyembunyikan sesuatu di ponselmu sehingga kau mem-password nya."
Sehun luruh di sisi ranjang, memperhatikan baik-baik bagaimana Luhan membuat kekesalannya nampak begitu menggemaskan.
"Kau tidak mempercayaiku ?"
"Berikan passwordnya dan aku akan memutuskan sendiri untuk percaya atau tidak."
"Luhan.. jangan kekanakan," suara Sehun memang biasa, hanya saja ada nada penekanan sedikit lebih tinggi yang membuat titik sensitive Luhan mengelinjang resah. Mereka seharusnya berkaca pada dinginnya angin malam untuk setiap kekonyolan ini. Bahkan ini bukan perang dunia ketiga sehingga otak yang panas tidak diperlukan sama sekali.
Lalu karena prinsip Luhan yang mengatakan hanya para kaum lelaki brengsek yang menggunakan kekuatan dalam setiap masalah, dia hanya menghantamkan ponsel Sehun tepat di pangkuan laki-laki itu sebelum mengunci diri sendiri dibalik selimut. Tidak ingin mendengar penjelasan apapun lagi dan dalam bentuk sebagaimana indahpun.
"Aku hanya punya satu password," Sehun yang mencium aroma garis start masalah mulai pembicaraan sepihak karena Luhan memilih menutup telinganya dengan bantal. "Segala hal mengenai diriku, segala hal yang menyangkut pribadiku, hanya ku kunci dengan satu password. Tidak ada seorangpun yang mengetahuinya, karena jika ada, dia bisa mendapatkan segalanya yang ku punya."
Oh Bagus kalau begitu! Aku tidak akan bertanya tentang password sialanmu itu lagi, Oh Sehun! Simpan saja kenangan pertemuan kalian berdua rapat-rapat dalam bungkusan dosamu! Aku tidak menginginkannya lagi! Sungguh! Tidak lagi! Kau dengar ?!
"290391. Itu password-nya."
Sesuatu menyelinap di genggamannya dan Luhan belum jatuh tidur untuk tau bahwa Sehun memberikan ponsel yang mereka perdebatkan beberapa menit lalu itu.
Wanita mungkin sangat sensitif mengenai tema 'Mantan Kekasih Pacarmu,' dan Sehun akui dia mengetahui jika Luhan punya penyakit yang sama. "Tanggal lahir siapa ?" dibuktikan oleh pertanyaannya yang terkadang membuat Sehun sulit bicara.
"….."
"Irene ?"
"Maaf. Akan kuganti."
"Tidak perlu diganti. Itu merepotkan!" Luhan menolak perdamaian mereka malam ini. Membelakangi Sehun, mengaiskan jemari si lelaki yang beberapa kali coba meraih tangannya.
Kemudian Sehun tersenyum geli menyadari bahwa malamnya akan berakhir dengan tidur dibalik punggung belakang Luhan, disertai pula dengan napas panjang-panjang wanita itu seolah dadanya sedang dicengkram kuku beruang nyaris remuk.
Sehun tidak memerlukan satu keranjang batu es, karena baginya, kecemburuan Luhan itu mengasyikkan. Mungkin untuk saat ini.
Kehebatan seorang lelaki adalah seberapa mampu dia bertahan untuk seorang perempuan dan segala jenis kelakuannya.
"Besok kita pulang. Pukul 3 sore."
.
.
.
.
Waktu itu seperti memiliki sifat menyebalkan. Jika ditunggu seperti ini maka Luhan merasa dia sedang melayani nenek kura-kura menyebrangi jembatan tol. Dua cangkir greentea latte-nya sudah menipis, membuktikan bahwa dia telah menunggu lama untuk sebuah janji penting.
Jam mungil putih dominan dengan kombinasi warna emas juga beberapa butir berlian diatasnya bersorak riang karena dipadankan dengan dress babydoll sederhana dan juga sepatu flat coklat mocca. Sedikit bertabrakan memang. Tapi Luhan menyukainya. Ini hadiah dari Ravi, omong-omong.
Tadi pagi Luhan dikejutkan dengan satu papperbag tersampir di pintu masuk. Dia kira itu kiriman untuk Sehun. Pikiran negatif Luhan mengerayang sejak pertemuan Irene dan Sehun semalaman. Apa mereka mulai bertukar kado juga ? Bisa saja bertambah buruk jika Luhan tidak menemukan memo bertuliskan "Untuk nona agung-ku yang paling manis" diatasnya.
Ravi memang yang terbaik. Hari yang sejak semalam mendung di kepala Luhan seketika timbul pelangi.
'Kumohon, berhentilah menggunakan higheel T.T dan juga, terimakasih untuk bantuannya ^^'
Luhan nyaris tersengal tawanya sendiri memikirkan bagaimana frustasinya Ravi menulis memo senorak itu. Ucapan terimakasihnya pasti karena semalam, karena Luhan yang berubah profesi mendadak menjadi seorang translator dan Ravi tidak perlu menyakiti telinganya dengan ceramah gratis Sehun pagi ini.
Ah, ingin rasanya Luhan meminta satu porsi ice cream greentea lagi dari laki-laki itu.
Dia perhatikan sekali lagi sepatu flat manis di kakinya, merasa sangat baik. Meraih ponsel di dalam tas kotak mungil di meja, Luhan mengetikkan beberapa pesan.
-aku sudah menunggumu. Apa kita bisa bertemu sekarang ?—
Pesan terkirim.
Lima menit cukup membuat Luhan mengkerutkan ekspresinya. Tidak dibalas.
-aku tidak punya banyak waktu. Kumohon.—
Luhan bisa saja menendang kursi didepannya karena kesal. Cukup Sehun yang menciptakan masalah terhadap hatinya, dan Luhan berharap seseorang tidak membuat masalah terhadap otaknya.
"Ya ampun, Gadis itu! Memangnya siapa sih dia ? Berani sekali me—"
"Maaf. Aku datang terlambat."
Gotcha! Hampir saja mulutmu, Luhan! Bersyukurlah jika manusia dihadapanmu buta dengan bahasa Korea.
"Ya. Kupikir tidak masalah. Silahkan duduk."
Si tamu tidak mengacuhkan Luhan, sibuk sendiri dengan masalah tas besar hitam dan suara berisik plastik kusut di dalamnya. Luhan hampir tersinggung, tapi ketika gadis itu memberikan satu bungkusan kepadanya, dia mengerti kenapa gadis itu disini.
"Jas teman anda sudah di laundry. Silahkan di cek."
"Duduklah dulu."
"Maaf, tapi saya masih punya pekerjaan lain, jika tidak ada masalah dengan jas-nya, saya—"
"Apa kau punya saudara kembar ?"
"Maaf ?"
Kau yang memulai permainan 'to the point' ini, gadis laundry. Dan aku memang benci berbasa-basi. Kita cocok.
"Ya Tuhan… bagaimana bisa wajah mereka mirip sekali," ujar Luhan begitu santai, karena kepercayaan dirinya mengatakan 'hanya aku yang mengerti bahasa ini. Tenang saja'.
Tapi tidak selamanya begitu, ketika dengan ragu, gadis laundry itu bertanya…
"Apa kau… dari Korea ?"
Luhan tersentak dikursinya. "K-kau… bisa bahasa Korea?"
"sedikit," gadis laundry mengendikan bahu, "Aku pernah tinggal disana, beberapa tahun."
"Benarkah ?"
Pikir Luhan seharusnya gadis ini bisa tersenyum dengan cara sedikit ramah sehingga mereka bicara dalam suasana menyenangkan. Tapi sepertinya, HuangZi telah lama kehilangan garis tawa. Bibir tipis itu kaku, sumpah mati.
"Apa kau mengatakan aku mirip seseorang, barusan ?"
"A….. itu….," Luhan menyentuh hidungnya, "Ya.. Kau sangat mirip dengan seseorang yang kukenal. Hanya saja bibirmu lebih tipis, kurasa."
"Siapa ?"
"Han… Selvi. Apa, kau kenal ?"
Dibalik rambut hitam panjangnya yang diikat sederhana ke belakang, Huangzi mulai memikirkan sesuatu. Luhan suka bagaimana cara gadis itu memutar matanya ke segala arah untuk berpikir, seperti dia memiliki setiap inci dunia ini.
"Tidak. Maaf."
Hanya dua kata, tapi cukup membuat Luhan kehilangan setengah harapannya. Itu buruk. Seharusnya Luhan tidak konyol dengan pikiran bahwa mungkin saja HuangZi ada kaitannya dengan Selvi dilihat dari bagaimana wajah mereka menjiplak satu sama lain.
"Kau yakin ?"
"Ya. Aku yakin. Dan sepertinya aku harus pergi sekarang. Permisi."
"Tunggu!"
Ah Sial! Pendengaran Huangzi bermasalah. Jenis masalah yang sengaja dilakukannya.
Luhan tidak ingin bermain-main namun ternyata Huangzi lebih parah dari derajat PH keasaman di lambung manusia. Lalu setelah terbentang jarak sepuluh langkah diantara mereka, Luhan rasa dia harus mengeluarkan jurus terakhir.
"Yifan! Apa kau kenal Wu Yifan ?!"
Tidak peduli jika usaha paling ujungnya ini menghasilkan buah, ataupun hancur dikalikan nol.
Tapi sepertinya, Huangzi punya kebaikan hati untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan terakhir Luhan. Karena pada kenyataannya, gadis itu berbalik dengan mata nanar; melihat Luhan dengan benang kepedihan menyembelih matanya.
"A-apa kau…. Wu Luhan ?"
"Ya. Itu aku."
.
.
.
.
.
Wanita itu berontak di atas kulitnya yang telanjang, dingin dan memar dibeberapa bagiannya yang terikat di ranjang. "Kenapa kau lakukan hal keji ini padaku, Wu Luhan ?"
"Sudah berulang kali kuperingatkan kau untuk meninggalkan Yifan. Dan sayangnya kau punya telinga yang tuli, kurasa."
"Kau terlalu sok suci. Memangnya apa yang telah kulakukan pada Yifan, hah ?"
"Apa ? Bagaimana bisa pertanyaan itu keluar dari mulut busukmu setelah kau memanfaatkan Yifan ?"
"Memanfaatkan Yifan ? Hah! Lucu sekali. Tidakkah seharusnya aku yang berkata demikian?"
"Jangan bercanda, Han Selvi!"
"Dan ini sama sekali tidak lucu untuk dijadikan sebuah lelucon."
"Kau! Kau memanfaatkan Yifan untuk melunasi hutangmu! Dan kau merusak segalanya diantara kami! Kau memanfaatkan Yifan untuk kepentinganmu sendiri!"
"Lalu bagaimana denganku ? Kau pikir aku tidak dimanfaatkan ?"
"Omong kosong apalagi sekarang ?"
"Yifan, dia tidak pernah mencintaiku. Sekalipun. Dia hanya mencintai wajahku! Dan keparat, kurasa kau harus membawa saudara laki-laki tercintamu itu ke pskiater, otaknya sudah miring. Selalu meminta maaf setiap kali kami bercinta sampai aku muak. Selalu mengatakan bahwa aku telah kembali! Kau pikir aku sudah mati?! Lelaki yang bahkan menangis setiap bercumbu denganku, itu menjijikkan! "
"Diam kau wanita jalang!"
"Kami saling memanfaatkan dan kau, tidak berhak menudingkan semua kesalahan ini padaku! Kau dengar!"
Dari percakapannya waktu itu dengan Selvi, Luhan yakin bertemu Huangzi lebih dari sekedar kebetulan. Ada kebenaran yang harus diperiksa, entah itu kemustahilan ataupun takdir, keduanya harus selesai.
.
.
.
.
Sehun menyelesaikan meeting terakhirnya di pukul 12 siang. Sebenarnya dia tidak perlu tergesa-gesa seperti sekarang. Masih ada 180 menit lagi sebelum pesawat mereka take-off menuju Seoul.
Masalahnya, Sehun membutuhkan sedikitnya satu jam untuk mengemaskan sendiri pakaian dan barang yang lain. Peristiwa pertemuannya dengan Irene semalam tidak menutup kemungkinan Luhan akan membiarkan koper milik Sehun merana sendirian sampai di lingkari jaring laba-laba. Wanita melampiaskan kekesalannya pada barang laki-laki, itu sudah dianggap wajar kan dalam berbagai kasus ?
Tapi ketika Sehun masuk ke dalam kamar, dua koper sudah tersampir di samping ranjang; yang pink berdiri tegak sedangkan koper miliknya melintang tanpa arah. Luhan pasti menendangnya setelah mengemaskan semua barang.
Tidak ada yang bisa Sehun lakukan selain menggelengkan kepala.
"Luhan…." Panggilnya bernada membujuk, paham sekali jika mereka belum menyentuh kata sepakat untuk berdamai.
Kemudian saat tidak ada orang yang menjawab, tidak pula dengan lemparan sikat gigi ataupun botol anggur; yang siap Sehun terima jika seandainya Luhan benar-benar marah, Lelaki tinggi itu tau jika Luhan sedang tidak berada di tempat.
Dia menghubungi Luhan, tapi ketahuilah sifat pujian dari seorang wanita yang sangat ingin Sehun enyahkan dari dunia ini adalah, wanita menghindari setiap panggilan ketika hati mereka bermasalah.
Berbeda dengan lelaki yang menganggap itu perbuatan banci.
Wanita punya presepsi mereka sendiri dan potong kepalamu jika ingin membantahnya.
Jadi apa yang bisa dilakukan Sehun adalah menyusulnya ke Loby hotel, siapa tau ada yang melihat makhluk mungil dengan dress babydoll berkeliaran seperti anak anjing hilang disekitaran hotel.
Namun seharusnya Sehun tau jika dunia ini hanya sebesar huruf 'S' pada kolor superman. Masa lalu dan masa depan kadang bertemu dalam waktu yang relatif bersamaan.
Karena sesampainya di Loby, bukan Luhan yang berhasil Sehun bawa pulang. Melainkan Irene yang duduk di sofa tunggu dengan satu koper merah disampingnya, juga topi tutup lebar ratu Eropa dikepalanya.
Atas segala kenangan masa lalu yang Sehun ingat bagaimana perjuangannya untuk gadis itu, dia terpaku. Seperti terpengaruh untuk berbagi paru-paru jika Irene kesulitan bernapas.
"Sehun, kau menginap disini juga ?"
Suara yang berhasil meluluhlantakkan gelora Oh Sehun….
"Hm… Ya. Akumenginap disini."
"Aku tidak tau kita menginap di hotel yang sama."
"Sama denganku."
"Sehun…."
- Luhan ?
"Lu…. Luhan tunggu! Luhan!"
SIAL! Kenapa harus sekarang!
.
.
.
Luhan mungkin terlalu naif ketika memasang label dipikirannya bahwa dia adalah satu-satunya wanita yang mampu membuat Sehun lupa keburukan. Fakta terbaru menginjak opini itu dan melemparnya di tungku perapian sampai hangus. Hampir saja Luhan mengumpati dunia dan segala kebohongan rumput pada bunga musim gugur, tapi sekali lagi, manusia hanya menumpang di bumi.
Orang-orang berkata bahwa negara khatulistiwa memiliki derajat suhu di atas rata-rata. Apa mungkin hati Luhan sedang berada di garis equator ? Rasanya panas hingga ke cuping telinga.
Sehun tidak perlu melakukan apapun untuk membuat ini menjadi lebih baik, karena pada dasarnya, apa yang Luhan harapkan dari lelaki kaya yang lupa cara berkomitmen ? Benih sudah ditabur, namun Luhan menyembunyikannya dari siapapun, itu bukan berarti dia serakah pada hidup.
Udara terasa pengap, jadi Luhan memberikan beberapa oksigen bebas di balkon kamar untuk alveolus-nya yang disetiap hirupan terselip mantra berbicara 'tenang Luhan, tenang..' dan hanya membuat Luhan merasa lebih menyedihkan.
Dentuman pintu menyakiti Luhan hingga dia meremas besi pegangan balkon yang berdebu lebih erat. Dan saat tubuhnya ditarik ke belakang, Luhan tidak boleh mengerjab sedikitpun atau airmatanya akan berderai; jatuh menyentuh lantai dan kering melukai hati.
"Luhan… kumohon…," permohonan jenis apapun tidak dibutuhkan sekarang. "Akan sulit menjelaskannya tapi kuharap, tidak ada kesalahpahaman lagi disini."
Luhan meremas dadanya, merasa kecemasan ini dapat membunuh siapapun. "Aku sedang mencobanya, meredam kesalahpahaman itu," katanya terdengar telah dikecewekan.
"Tidak ada janji apapun! Aku tidak sengaja bertemu Irene di Loby dan yeah, akan terdengar sangat dramatis jika aku mengatakan kau datang disaat bersamaan."
Sehun melihat wanitanya tertunduk. Mungkin penjelasan yang baru saja ia lontarkan terdengar seperti sebuah gurauan semata bagi Luhan. Terdengar tidak masuk akal memang, tapi itu kenyataan.
Luhan menepis tangan Sehun yang mencoba menggapainya, "Lebih baik jika aku menyiapkan diri untuk pulang," katanya seperti sebuah pilihan akhir. Dia ingin menghindar dari kekuasaan Sehun atas hatinya, namun ketika Luhan mengambil langkah untuk lari, Sehun selalu tau cara menarik tangan Luhan hingga wanitanya tersedu dalam sebuah pelukan.
"Maafkan aku.." Sehun meminta dengan naluri lelakinya, memaksa Luhan menguraikan tangis yang sudah dia usahakan sebaik mungkin untuk bertahan. Ia gapai rambut kusut Luhan dan membiarkan wanita itu mengamuk di dadanya; memukul lengannya ataupun mencacimakinya. Sehun menyimpan itu satu persatu untuk di ingat.
"Kau jahat! Kau jahat padaku! Pada perasaanku! Dan juga pada an—"anak kita.
Bagaimana aku harus memberitahumu ?
Dengan wajah sendu itu..
"Ya.. Aku jahat, Luhan. Aku memang orang yang jahat, oleh karenanya aku membutuhkan seorang yang baik untuk mengimbangiku."
Tapi bukan wanita hamil yang tidak mampu memuaskanmu dalam bercinta, begitu ?
"Pesta semalam, kenapa kau pulang tanpa memberitahuku ? Aku menunggumu di depan toilet wanita berjam-jam."
.
.
.
.
Selalu sama. Kebodohan Luhan adalah kalah terhadap gairahnya sendiri. Seharusnya dia melawan ketika Sehun mengecup rahangnya, ataupun memberontak saat lelaki itu mengangkat tubuhnya mengalung di pinggang sehingga mereka tidak akan berakhir telanjang bugil di siang bolong.
Tapi yang terjadi memang di luar kendali. Perasaan Luhan mengatakan dia terluka dengan semua ini namun otaknya bekerja di ideologi berbeda. Sentuhan Sehun, kecupannya, ataupun cara dia menelanjanginya, semua itu membuat Luhan merintih akan gairah.
Dia mengangkang untuk lelaki itu, membiarkan Sehun bergerak di atasnya dengan geraman tertahan sedangkan dia sendiri mati-matian menahan desahannya dalam ciuman mereka.
Sehun mungkin sudah tau dimana tempat yang harus ditabrak kelelakiannya ketika seluruh gairahnya terbenam dalam pusat kewanitaan Luhan. Wanita itu meleguh panjang, gila akan percintaan mereka yang terlalu mendadak. Sehun membiarkannya, membiarkan Luhan melepaskan ciuman mereka agar desahannya di nada paling rendah terdengar menggoda. Dia menikmati bagaimana gelisahnya Luhan meremas sprei tempat mereka bergumuh.
Ini memang konyol, dan Luhan sadar sembilan puluh sembilan persen akan hal tersebut. Tapi yang tidak dia mengerti adalah bagaimana cara menahan diri ketika berlawanan dengan lihainya permainan Sehun dalam bersetubuh.
Dada bidang yang tertempel lekat di payudaranya, ciuman panas yang menggusak bibir paling dalam, ataupun keperkasaan Sehun yang sedang mengobrak-abrik kewanitaanya tanpa perhitungan, Luhan menaruh semuanya di tingkat paling atas hal irasional yang paling dia sukai.
Lalu ketika Sehun mendorong dirinya lebih kuat, Luhan nyaris mati disatu pukulan telak. Rambut hitam Sehun adalah sesuatu yang dijadikannya tumpuan saat melepas kepuasaan tahap pertama, sedangkan lelakinya masih sibuk bergerak di atas bersama geraman lebih berat, lubang Luhan yang berkedut merupakan bagian favorit Sehun. Lelaki itu berusaha menikmati perbuatannya dalam jepitan orgasme Luhan.
Astaga!
Ini nikmat! Pikiran Sehun menggeram saat dia menjalin jemari mereka. Luhan hanya membalas genggaman Sehun seadanya, dan itu membuat Sehun senang bukan main. Terbukti Luhan menghabiskan nyaris seluruh tenaganya untuk percintaan mereka.
Wajah menyerah Luhan, Sehun mendambanya hingga ke sumsum tulang belakang. Melihat bagaimana Luhan berusaha membuka matanya hanya untuk sebuah tatapan sendu, Sehun tau jika wanita itu ingin dia segera menyelesaikan gairah ini.
Sehun mengerti. Dengan itu dia membiarkan birahi membawanya lebih jauh, lebih cepat dan lebih kuat; membiarkan Luhan terguncang di bawahnya sedikit meringis.
Luhan menahan pundaknya seolah berkata jangan terlalu gila dengan permainanmu, pikirkan aku, namun Sehun sendiri telah kehilangan otaknya. Dia tidak tau bagaimana cara mengontrolnya lagi ketika kenikmatan itu turun, bersarang dalam kejantanannya dan kemudian….
Dia menyembur jatuh untuk kenikmatan.
Tangan Luhan berada di pinggangnya, menggelung santai dan lengket; selengket tubuh mereka yang beraroma seks luar biasa.
Dan ketika Luhan memberikan Sehun waktu menikmati orgasme di dalam kewanitaanya, dia sempat cemas bukan main saat Sehun kembali meraih lehernya. Namun ketika Sehun mengecup rahangnya di sebelah kiri untuk berbisik "Aku mencintaimu", Luhan rasa permainan ini sudah terlalu jauh.
Tapi tidak ada tombol 'pause' untuk berhenti.
.
.
.
.
"Raviiiiiii!"
"Astaga, nona! Anda mengagetkan saya."
Ravi, pemuda yang kini menambah gayanya dengan kacamata minus itu mengusap dada, nyaris tumbang ketika pintu terbuka dan Luhan langsung menyambutnya dengan teriakan.
Ravi hanya ingin menjemput koper disini, dan sesuatu yang menghibur adalah nona agung-nya terlihat manis dengan dress peach selutut. Wanita dewasa berkelakuan manja itu berputar-putar di depannya, memamerkan sepatu yang sedang bersanggar di kakinya.
"Terimakasih. Terlihat cocok denganku," dia menunjuk sepatunya.
Ravi mengeluarkan satu jempol untuk Luhan dan wanita itu tertawa dengan sangat ceria. Itu melegakan.
"Ah!" Mendadak, Luhan mengacungkan telunjuk ke udara; seperti mengingat ataupun melupakan sesuatu, dan dia berakhir dengan berburu dalam tas mungilnya. "Ravi," lelaki berkacamata hanya bergumam saat Luhan memanggilnya dengan satu kotak berpita ditangannya, "aku membelikanmu sesuatu," katanya sambil mengulurkan kotak tersebut.
"Untuk saya ?" Luhan mengangguk dan Ravi menerimanya. "Terimakasih, nona."
"Ya. Tidak masalah. Ku harap itu sesuai dengan seleramu."
Suasana menyenangkan awalnya sebelum, "Jadi Ravi mendapatkan hadiah sedangkan aku tidak ?" Sehun menyusul di belakang. Dengan jas panjang nyaris menyentuh lutut, juga wajah datar penuh ketegasan.
Dia selalu tampan dengan ataupun tanpa apapun.
Senyuman manja wanitanya, Sehun luluh hanya karena itu. "Tentu saja aku juga membelikanmu hadiah," Luhan menyusul Sehun selagi Ravi masuk menutup pintu.
"Mana ?" Sehun mengulurkan tangan sedangkan Luhan mencari sesuatu yang terlihat sulit di dalam tas. Wajahnya berbinar ketika dia menemukan sesuatu dan Sehun sudah tidak sabar untuk itu. Lalu ketika Luhan meletakkan hadiahnya di telapak tangan Sehun, lelaki itu nyaris menjatuhkan bola matanya, "apa-apaan ini ?"
"Itu hadiahmu ?"
"Sebungkus permen ?"
"dan satu kecupan."
Ya Tuhan.. kelakuan wanita ini.
.
.
Luhan pikir jika semua kekhawatirannya akan berakhir sampai disini, akan berakhir ketika mereka meninggalkan daratan Cina dan hidup dihari selanjutnya di Korea. Lupakan kenangan tentang pertemuan Sehun dan mantan kekasihnya dan lupakan seluruh kecemburuannya. Itu tidak berguna.
Tapi satu hal yang masih mengganjal hati Luhan, tentang Huangzi. Padahal dia punya kesempatan yang bagus untuk memecahkan semua masalah ini, namun wanita itu melarikan diri ketika Luhan ingin bertanya lebih jauh kenapa wanita tersebut mengetahui nama lengkapnya dan bersedih mendengar nama Wu Yifan.
Terkadang Luhan benci menjadi orang yang terlalu pesimis. Dia akan menyerah jika usahanya tidak berjalan dengan baik. Termasuk mungkin dengan wajah Huangzi dan segala lebam ditubuhnya.
Namun kenyataan bukan hanya itu, bukan hanya tentang kegelisahan tidak menemukan jawaban atas gadis Cina bernama Huangzi tersebut. Jauh dari itu, sepertinya takdir tidak meloloskan Luhan untuk melewati semua ini. Nyatanya, dia menemukan Irene berjalan di lorong pesawat, duduk diseberang sebelah Sehun dan dengan tujuan pernerbangan yang sama dengan mereka.
"Aku merindukan Korea."
Desahnya membuat Luhan nyaris menangis di tempat.
.
.
.
.
Luhan mungkin bisa bernapas lega karena seminggu setelah sampai di Korea, Sehun tidak menunjukkan perubahan apapun atas sikapnya. Dia tetap romantis, egois dan bergairah tinggi. Ataukah, ini masih belum ?
Seks diantara mereka tetap berjalan dengan baik, dan leguhan panjangnya kali ini Luhan hitung adalah yang ke delapan. Entah mengapa Luhan menghitungnya, seolah-olah dia menantikan kontrak di antara mereka akan berakhir.
Entah hanya sebatas ilusi ataupun memang begitu, yang tidak Luhan sukai adalah Sehun pulang dengan kerutan di dahinya, seperti dia telah menarik kawat yang menghancurkan namsan tower. Beberapa kali Luhan bertanya pada Ravi apakah kantor mengalami masalah yang sulit dan lelaki berkacamata itu mengatakan bahwa keadaan terkendali, tidak ada yang perlu dikhawatirkan dan Luhan tetap bisa berbahagia dengan kartu kreditnya.
Lalu kenapa Sehun selalu pulang dengan wajah bermasalah ?
Luhan sadar kehidupannya tidak akan baik-baik saja setelah ini. Mual yang selalu menguasai pagi hari, dan segumpal darah di perutnya mulai berkembang. Tubuhnya mengembang diluar kendali. Dia selalu berusaha menutupinya dengan baik. Menghubungi Chanyeol diam-diam untuk menanyakan bagaimana mengurus kehamilannya sendiri.
Beberapa kali lelaki itu menyarankan Luhan untuk tidak menyembunyikan semua ini lagi. Sehun harus tau, dia ayah biologis anak yang dikandung Luhan.
Luhan sudah mencobanya lebih dari tiga kali, tapi setiap kali dia ingin membahas hal tersebut, takdir seolah menyimpangkan keberaniannya pada hal yang membuat dia lebih ketakutan.
Seperti pagi ini, ketika dia keluar dari kamar mandi setelah meredam mualnya, Sehun duduk disisi ranjang; menantinya, mengulurkan tangan dan meminta Luhan segera datang. Lelaki itu mengusap sisa air di sudut bibir Luhan, membuat wanitanya berjuta kali lebih resah dengan kehamilannya.
"Kau baik ?"
"Ya, aku baik." Luhan meremas ketakutannya di genggaman Sehun. "Hanya setiap pagi mualku tidak terkendali," mencoba mencari awal mula topik yang tepat.
"Nafsu makanmu bertambah, aku menyadari itu."
Luhan tersenyum getir. "Benarkah ?"
"Hm." Sehun menahan pundak Luhan dan berhenti disana, "Apa berat badanmu naik ? Kau terlihat lebih gemuk," tidak tau jika pernyataannya barusan menghabat peredaran darah Luhan.
Luhan terdiam ditempat.
"Aku tidak menyalahkan nafsu makanmu, itu bagus. Tapi Luhan, perlu kau ketahui jika aku sangat mengagumi wanita yang menjaga keindahanan bentuk tubuhnya," kata laki-laki itu begitu ringan, mengolah nadanya agar tidak menyinggung. Dia meraih sesuatu di balik punggungnya dan meletakkannya dalam genggaman si wanita.
"Sehun.."
"Itu obat diet. Kau tidak perlu mengkhawatirkan nafsu makan dan berat badanmu lagi sekarang."
Apa kau ingin membunuh anakmu ?
.
.
.
.
.
.
.
TuBerCulosis
.
.
.
.
.
.
.
Gue tau ini ending chapternya enggak banget. Obat diet ? Anyiiiiiiing. Kenapa hal nista itu terlintas di pikiran gue. Hahahaha
Dan pastinya gue siap-siap kabur, karena para readers bakalan gemes. Soalnya Sehun belum tau juga kalo Luhan kan udah gue peringatin di awal kalo chapter ini bakalan mengecewakan dan bertele-tele. Sebenernya gue mau langsung masuk pleekkk ke konflik, tapi rasanya gue gak bisa nulis tanpa masukin fluffy nya Hunhan. Dan you know lah, yang tadinya ide gue mau bikin Luhan marah ke Sehun malah berubah jadi mereka ngeseks ngeseks di ranjang. Ya ampun otak gue udah dewasa banget -_-
Mungkin chapter depannya kita baru masuk ke konflik. Alasan kenapa Yifan jadi kayak ngono, flashback siapa itu Huangzi, dan masih jadi pertanyaan di chapter depan apakah Sehun udah tau Luhan hamil ato enggak. Kalo Sehun udah tau Luhan hamil, itu berarti ff ini udah ending. Ya iyalah, kalo Sehunnya gak tau-tau Luhan hamil mah yang ad ague dibuntingin sama readers. Andwaaaeeeee! *sobek celana* Loh ?
Ada yang masih bingung sama chapter ini ? Silahkan nyoss dituangkan ke review apapun keluh kesah kalian ttg chapter ini.
Dan disini, gue sebagai author mesum emang njiiir mungkin gak bisa balas review satu persatu. Tapi misalnya mau nanya sesuatu ataupun mau kenal gue lebih lanjut, silahkan ketik REG (spasi) MESUM kirim ke KOTAK SUMBANGAN KORBAN SODOMI, eh anyiiing, apaan lagi ini -_-, tapi beneran, kalo misalnya ada yang pengen komunikasi sama gue *Sok pemes lu-..-*, langsung aja gue PM, eh, PM gue maksudnya. 100% dikurang 10% pasti gue bales kok, walaupun balesnya rada lama. Tau sendirikan kondisi kuota anak kuliahan kek gimana :D
Dan untuk semua readers yang tingkat kemesumannya nyaris kadaluarsa, gue mau bilang TENGS PUL BANGED *alaynya author ini * karena berkat support kalian FF ini bisa terus berenang mengarungi kolam ikan lele. Dan gue, atas nama HUNjustforHAN, merasa seneeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeng banget FF absurd gue ini masuk dalam salah satu list FF favorit HUNHAN INDONESIA. Yawlaaaaa, bidadari tertungging T.T
Terimakasih buat KakRe yang sudah memasukkan FF Desire dalam salah satu nominasinya T.T Sini kakre, tak kecup dulu ampe doweeeer :* :* :* :* :* :* :*
But always, I miss my Sphadlor Couple, Eclaire Oh. AI MIS YU STOMACH ?
Dan buat para readers, gue mau ngucapin HAPPY HOLIDAAAAAAAAYYYYYYYY! AKHIRNYA LIBURAN DATANG WALAUPUN CUMA SEMINGGU LEBIH CEPIRIT!
HAPPY HOLIDAAAAAAAYYYY!
AI LOP YU :* :* :* :*
