HUNjustforHAN

Present

.

.

.

.

.

Desire

.

Chapter 13

.

.

.

.

.

Semuanya mungkin sudah bermulai dari beberapa minggu lalu, tapi bagi Luhan, masalahnya mulai berlikuk dimulai dari sekarang. Tutup kotak sampah mini di kamarnya berputar dua kali ketika dia melemparkan botol obat diet yang Sehun berikan.

Apa-apaan ini ? Bagaimana mungkin seorang ibu hamil mengkonsumsi obat diet ? Bayi mereka mungkin akan terlahir cacat karenanya.

Dia menghembuskan napasnya di jendela, melihat Sehun melambai padanya di balik stir mobil sebelum menghilang. Lelaki itu, tidak bisakah sedikit lebih pintar dalam hal mendiagnosis wanita? Setidaknya pinjamkan lima menit saja otak dokter milik Chanyeol, hanya sekedar membantu Luhan menyampaikan pada Sehun bahwa ada segumpal daging tumbuh dalam perutnya hasil dari gairah mereka yang merajalela selama ini.

Beruntung Chanyeol bilang Luhan punya kandungan yang cukup kuat, tapi resiko tetap saja ada. Chanyeol berkata bahwa tingkat stress ataupun depresi, ataupun emosi seorang ibu hamil memiliki peran penting atas keselamatan kandungannya, pernyataan itu hanya membuat Luhan semakin gelisah.

Lantas bagaimana Luhan tidak cemas dengan berat badannya yang naik dan Sehun yang memberinya obat diet ? Sampai kapan dia menahan stressnya untuk dapat memberitahu Sehun jika dirinya sedang mengandung hasil sperma dari lelaki itu ?

Apalagi Luhan sangat ingat pembicaraan mereka di dalam pesawat seminggu lalu, saat Sehun mengatakan bahwa dia juga akan melakukan hal sama seperti Nichkun. Pengantin pria itu mengatakan bahwa dia dan istrinya –Tiffany—setuju untuk menunda kehamilan, menikmati masa berdua tanpa di ganggu oleh kelahiran seorang bayi.

"Memiliki waktu berdua beberapa tahun tanpa anak setelah menikah,aku pikir itu ide yang sangat bagus." Sehun berkata demikian tanpa tau jika wanitanya sedang mengandung.

Dan Luhan semakin tidak yakin jika Sehun sudi bertanggungjawab atas rahimnya.

Apakah semuanya harus berakhir sampai disini ? Sampai ke sepuluh dari seks kontrak mereka terpenuhi ?

Kontrak ?

Surat kontrak ?

Aku harus mendapatkan surat kontraknya!

.

.

.

.

Sehun sedang berada di kursi kerjanya siang ini, menerima kabar jika Selvi sudah berhasil dibuang ke Jerman. Dia memainkan secarik foto wanita itu dalam tangannya dan melemparnya sembarangan ke meja.

Satu masalah, selesai. Mengurus pelacur bukanlah perkara sulit. Pelacur terbaik Korea mana sih yang belum pernah dia setubuhi ?

Otak Sehun sedang kosong ketika suara ketukan pintu terdengar tiga kali, "Masuk," jawabnya malas dan mendapati pria tinggi berperawakan menyebalkan berjalan mendekat.

"Selamat siang, Oh Sehun-ssi," lelaki itu menyapanya.

Sehun berdecih. "Ternyata kau ikut pulang ke Korea," memutarbalikkan pulpennya di atas meja.

"Saya memiliki kartu penduduk Korea, jadi bagaimanapun Korea tetaplah tanah air saya."

Tawa Sehun terdengar meremehkan, "Lalu apa tujuanmu datang ke ruanganku, dokter Chanyeol ?" dan dia jelas sekali tidak suka pada perawakan lelaki tampan di depannya.

"Dokter Kim pergi ke luar kota untuk beberapa minggu, jadi beliau meminta saya mengantarkan vitamin untuk anda," kata pemuda itu lantas meletakkan satu botol kecil di meja Sehun, dan matanya menangkap sesuatu."Gadis itu.." tunjuknya pada foto Selvi.

Dahi Sehun berkerut, "Ternyata seorang dokter juga berkenalan dengan pelacur," ejeknya yang membuat Chanyeol mengidap keheranan stadium akhir.

"Pelacur ? Bukankah dia wanita yang ditemui Luhan waktu di Beijing ? Gadis Laundry."

"Apa ?"

.

.

.

.

Hari ini Luhan gagal. Empat jam dia berburu di kamar Sehun meredam suara seminim mungkin, tapi tetap saja surat kontrak mereka tidak berhasil ditemukan. Itu malah memuatnya semakin penasaran.

Luhan sedang termenung di jendela kamar, berdiri memeluk dirinya sendiri untuk menikmati setiap gelungan masalah di otaknya. Langit hitam, bulan sabit dan bintang tunggal di sampingnya, terkadang Luhan berpikir kenapa ia tidak dilahirkan menjadi air laut saja ?

"Memikirkanku, sayang ?"

"Ya Tuhan!" Dada Luhan terangkat beserta paru-parunya menahan tekanan udara. Pelukan Sehun di punggung belakang nyaris mengantarkan Luhan menuju lubang kematian. "Sehun," dia membuang napas sekali, "Aku hampir mati," sambungnya berlebihan kemudian berbalik untuk memukul dada bidang lelakinya.

Sehun mencubit hidung Luhan, "Kau bisa dimasuki setan jika berpikiran kosong," dan mengecupnya sebagai akhir.

Luhan melepas dasi di leher Sehun, "Yang ada aku dimasuki olehmu," jawabnya hingga laki-laki itu tergelak tawa. Menyenangkan. Kemudian saat Sehun merekatkan tubuh mereka untuk sekedar berbagi ciuman manis, Luhan menahannya, menutup hidung dan terlihat terganggu. "Jangan mendekatiku. Kau bau! Akan kusiapkan air hangat." dia berujar sambil menarik krah kemeja Sehun seperti binatang peliharaan menuju kamar mandi.

Dengan piyama babydollnya, Luhan mengubur bentuk tubuh kebesaran yang tidak Sehun senangi, berharap lelaki itu tidak pernah membahas tentang obat diet yang hanya akan menganggu pertumbuhan janinnya.

"Kau sudah mandi ?" Laki-laki itu merengkuh pinggang Luhan, berdiri diam menunggu Luhan selesai membantunya melepas kancing kemeja.

Mata Luhan berputar jengah, "Tentu saja, Sehun. Ini sudah pukul 8 malam," jawabnya bersamaan dengan melempar kemeja Sehun ke keranjang pakaian.

Dada bidang dengan otot berukuran pas, Luhan menyukainya. "Mau mandi bersamaku lagi?" Sehun membuat penawaran yang Luhan respon dengan gelengan kepala.

"Maaf, tapi seks di dalam bath up terdengar tidak praktis di telingaku."

Sehun tertawa, "Hey, aku hanya mengajakmu mandi." Membelai leher wanitanya.

"Katakan saja aku percaya pada mulutmu itu, Oh Sehun."

"Oh sial! Kenapa kau jadi mudah menebakku sekarang."

"Karena 90% dari otakmu kau dedikasikan untuk seks, aku yakin sekali."

"Dan 10%-nya lagi adalah dirimu. Bila digabung akan menjadi seks bersamamu."

"Ku mohon Sehun, itu terdengar menjijikkan," Luhan menutup kedua telinga, namun Sehun malah menarik tangannya menuju tepi bath up. Laki-laki itu duduk di pinggir sedangkan air dalam kolam kecil sudah nyaris meruap. Seharusnya Luhan tidak percaya bahwa Sehun hanya akan membawanya berdiri beberapa saat; bertatapan, karena pada akhirnya yang dia temukan adalah Sehun menarik tangannya dan dia berteriak ketika tubuh mereka jatuh ke dalam kumpulan air.

Ombak-ombak kecil tercipta sampai keluar. Sehun tertawa lagi sedangkan Luhan membetulkan kembali letak jantungnya.

"Oh Sehun!" Luhan berteriak, siap dengan satu obor besar di atas kepala yang menyala-nyala. Mendiktekan pada Sehun bahwa hal barusan bukanlah sesuatu yang baik untuk ditiru di masa yang akan datang. Bagaimana jika kepala mereka terbentur kerasnya keramik bath up ? Tidak Lucu,kan ?

Tapi apa yang malah dipersembahkan laki-laki itu ? Rambut hitam legamnya basah dan juga dada bidang putihnya terbuka lebar untuk bersandar. Luhan nyaris tersedak liurnya sendiri. Dia berada di atas Sehun sekarang.

"Jantungku benar-benar rusak setelah ini," Keluh Luhan. Meletakkan kedua tangannya di gagah pundak Sehun.

"Luhan.." Dia hanya membalas Sehun dengan sebuah gumaman, merasa pinggangnya mulai dirambati sesuatu, "Siapkan napasmu."

"Untuk ?"

Seperti tidak belajar pada pengalaman, seharusnya dia tidak perlu banyak tanya dan langsung saja menuruti apa yang dititahkan lelaki itu. Karena Luhan tau, Sehun selalu bertindak semau hatinya setelah memberi peringatan.

Seperti sekarang, saat Luhan tidak mempersiapkan lebih banyak pasokan udara di paru-parunya, Sehun malah membawa tubuh mereka tidur tenggelam di dalam air dan laki-laki itu tidak akan pernah melepaskan bibir kekasihnya dikesempatan seperti ini. Water Kiss.

Sebagai ganti, Luhan hanya bisa gelisah meremas pundak lelakinya.

.

.

.

.

Gerimis di jam 10 pagi. Sehun sudah berada di kursi kantornya sejak dua jam lalu, sedangkan di sisi lain Luhan sedang berada di kamar Sehun; berniat melanjutkan rasa pensarannya dari kemarin sore.

Dimana Sehun menyembunyikan surat kontrak mereka ? Pasti di tempat tersembunyi yang terkunci sangat rapat. Itu brankas. Tapi dimana kotak besi berkunci itu Sehun simpan ?

Sejak kemarin Luhan menjelajahi setiap sudut kamar Sehun, tidak ada sesuatu yang berarti dia temukan di kamar ini selain puluhan jam tangan ratusan juta won milik Sehun dan juga benda-benda mewah sialan lainnya.

Lalu Luhan merasa bermasalah dengan kandung kemihnya. Dia mengumpat sebentar sebelum berlari ke toilet dan melepaskan diri disana.

Kamar mandi Sehun; itu tempat membuang kotoran atau ruang tamu, sih ? Ada televisi tepat tersampir di dinding depan, meyakinkan Luhan bahwa jika dia mempunyai satu kamar mandi seperti ini maka dia akan menghabiskan waktu lima jam untuk mandi.

Ada lukisan wanita telanjang di sisi lain, Luhan mengkerucutkan bibirnya, menilik kesana-kemari dengan harapan ada pisau tajam tersampir di lantai dan dia bisa menghancurkan payudara maupun vagina wanita lukisan itu sekarang juga. Sehun pasti melihat lukisan itu setiap kali masuk ke kamar mandinya. Luhan tidak suka. Karena jujur saja, tubuh wanita lukisan itu lebih bagus dari tubuhnya. Menjengkelkan.

Entah mengapa, Luhan menghampiri lukisan itu. Mencengkram kemaluan si wanita lukisan, panas sendiri dengan aksinya. Luhan tidak tahan, jadi dipegangnya kedua sisi Lukisan untuk diguncang; meleburkan semua rasa gemasnya yang setinggi langit-langit kamar.

Tapi yang terjadi adalah, lukisan kecemburannya bergeser sendiri ke sisi kanan. Luhan melompat dan sedikit lagi jatuh di dorong keterkejutannya sendiri. Dia memperhatikan hasil akhir dari gerakan lukisan tersebut dan menemukan apa yang dia cari tersembunyi di belakang.

Sehun menyimpan brankas di kamar mandi. Wow.

Luhan merasa ini terlalu dramatis untuk diceritakan pada siapapun. Tapi dia tersenyum untuk itu. Dan passwordnya, Luhan benci mengatakan jika dia tau apa yang seharusnya dia ketik.

Tanggal lahir mantan sang kekasih.

290391

Sial!

.

.

.

.

Sehun menarik anak dasinya, gerah dari hasil meeting pagi selama dua jam. Ravi dibelakangnya tidak berbicara banyak. Mereka baru saja keluar dari ruang rapat dan waktu sudah menunjukkan pukul sebelas.

Sebentar lagi jam makan siang.

Ravi sedang mengecek jadwal Sehun selanjutnya diponselnya ketika si tuan arogan itu mendial dia untuk mendekat. "Ravi.."

"Ya, Tuan."

"Kerongkonganku kering. Bisa tolong belikan segelas Americano ?"

"Tapi meja saya…"

"Tiga puluh menit lagi jam makan siang, tidak masalah jika mejamu kosong."

Dan laki-laki berkacamata yang sering direpotkan Luhan itupun tidak sanggup berbuat banyak.

.

.

.

Sehun memeriksa schedule-nya minggu ini sambil menggoyangkan tubuh pelan di atas kursi. Dia tersenyum karena minggu ini dia punya tiga hari waktu luang untuk benar-benar bisa dimanfaatkan. Mulai besok. Tujuan Sehun langsung mengarah pada wanita dirumahnya.

Luhan.

Apa yang bisa mereka lakukan di waktu senggang ?

Memang bukan hari libur sih, tapi setidaknya jadwal Sehun hanya sampai siang. Itu berarti dia bebas dari sore sampai malam.

Dia baru saja selesai bersyukur pada Tuhan mengenai schedule minggu ini ketika seseorang mengetuk pintu. "Masuk," Sehun melirik jam dipergelangan tangannya dan mengerutkan dahi. Jarum jam baru bergerak lima belas menit sejak Ravi pergi. Cepat sekali laki-laki itu.

Mata Sehun masih terfokus pada lembar jadwalnya ketika suara langkah datang dan menutup pintu. "Letakkan saja dimejaku," perintahnya tanpa memberi perhatian lebih pada sekretarisnya.

"Apa yang harus kuletakkan ?" Kata orang itu menjawab dengan pertanyaan balik dan suara selembut kulit ulat sutera. Sehun tercegat ketika mendongakkan kepalanya.

Bukan Ravi yang datang.

"Irene ? Bagaimana bisa kau….."

"Aku punya waktu seminggu untuk berlibur ke Korea. Jadi salahkah jika aku mengunjungi teman lama ?"

Dengan kemeja biru transparan dan rok ketatnya yang provokatif, Irene mengatur langkahnya sedemikian menarik sekaligus menggoda. Dia punya kaki yang bagus, Sehun akui itu.

Sehun keluar dari balik meja, "Ini ruangan milik laki-laki dan hanya ada kita berdua disini. Tidakkah hal tersebut mengganggumu ?"

Irene menunjukkan bagaimana mempesonanya ketika dia menyilangkan kedua kaki diatas tungkainya yang berdiri. "Aku bukan wanita muslim. Jadi tidak pernah masalah bagiku berada disatu ruangan bersama satu lelaki," katanya seolah dia bangga menjadi dirinya sendiri. "Lantas tidakkah kau berniat mempersilahkan tamu mu duduk, Oh Sehun ?"

"Duduklah dibagian sofa manapun yang kau mau," Telapak tangan Sehun mengarah ke sofa tengah. Wanita itu sempat menebarkan senyum kecilnya pada Sehun sebelum memilih sofa potongan untuk dua orang, sedangkan Sehun duduk dihadapannya dengan napas berat. "Jadi apa maksud kedatanganmu kemari ?" tembak Sehun to the point. Bahkan dia tidak menawarkan secangkir teh pun pada tamunya.

"Dari dulu kau memang lemah dalam hal berbasa basi," Irene menyelipkan rambut ke telinga, "Bukankah sudah kukatakan jika aku hanya ingin mengunjungi teman lama."

Wajah Sehun terlihat kurang nyaman, padahal tiga kali sebelumnya dia masih bisa bersantai dengan ekspresinya ketika bertemu Irene. Kenapa sekarang jadi kaku sekali saat mereka benar-benar berdua ?

"Apakah kita termasuk kategori teman lama ?"

Irene mengolah senyum, "Di dalam memoriku sih iya. Tapi tidak tau jika kau sudah memformatnya dalam memorimu," dan dengan licik dia menyilangkan kaki.

Lampu peringatan jelas terngiang-ngiang di hadapan Sehun. Sebelum ini semua berakhir dengan tidak menyenangkan, dia meraih ponsel di dalam saku jas-nya dan mengetikkan sebuah pesan untuk Ravi. Setelah itu, dia mematikan ponselnya.

.

.

Ravi berada di depan pintu lift loby kantor ketika dia mendapatkan satu pesan dari Sehun.

-Aku sedang bertemu tamu penting. Jangan biarkan siapapun masuk sebelum tamuku keluar. Siapapun dan apapun alasannya. Jangan menghubungiku. Kau boleh menunggu di mejamu.—

Begitu isi pesan Sehun yang Ravi terima. Ravi hanya menggelengkan kepala bersama mata jengah.

"Pasti Tuan besar sedang memperkosa nona agung-ku di dalam."

.

.

.

Sehun merasa terbodohkan dengan semua ini. Bagaimana bisa (dulu) dia jatuh cinta pada wanita yang mudah sekali menjatuhkan diri dalam pelukan laki-laki ?

Cinta itu tidak beda jauh dengan kebodohan. Sehun sadar hal tersebut saat Irene beranjak dari tempat asalnya dan berpindah duduk di sampingnya, memamerkan parfume khas mawar Italy yang seolah tumbuh dari setiap helai ujung rambutnya.

Wanita itu mengatakan bahwa mereka memiliki satu perasaan yang bagus di masa lalu dan mulai mengungkit masa-masa manisnya (saja) lagi sekarang. Dia melewatkan bagian dimana Sehun setengah mati mengharapkan balasan yang setimpal atas perasaannya.

Betapa egoisnya wanita ini ?

Sehun mulai merasa muak dengan seluruh rasa rindunya pada Irene. Tapi tidak akan menarik jika seandainya dia mengenyahkan Irene secepat itu. Setidaknya Irene juga harus merasakan bagaimana rasanya dicampakkan. Begitu kata hati Sehun berbicara.

Satu malam saja dan Sehun berjanji akan menyelesaikan semuanya untuk melenyapkan puing-puing perasaannya pada wanita itu. Berikan Sehun satu malam untuk menunjukkan pada Irene bahwa dia tidak menginginkannya sebanyak apa yang dulu dia harapkan. Dan berikan Sehun satu malam untuk memperlihatkan pada Irene bahwa dia hanya dimanfaatkan. Cukup.

Setelah menyelesaikan satu malam tersebut, Sehun berjanji akan selalu bersimpuh dalam dekapan wanita kesayangannya yang manja,

… Luhan.

"Bagaimana ?" Irene menyentuh rahang Sehun, "apa kau punya waktu untuk makan malam ?"

Senyuman tipis Sehun yang tidak terbantahkan, "Carilah lelaki yang tidak memiliki kekasih diluar sana. Aku sudah punya wanitaku. Kau sendiri telah melihatnya, kan ?" Dia menjauhkan tangan Irene, sengaja menguji reaksi wanita tersebut.

"Maksudmu wanita yang wajahnya sedikit mirip denganku itu ? Jadi dia kekasihmu ?" Sehun mengangguk. "Lalu masalahnya ? Dia juga tidak tau kan tentang kita ?"

Perkataan Irene mengerutkan kedua alis Sehun, jawabannya benar-benar diluar ekspektasi. "Kau sungguh yakin dengan keputusanmu ?"

"Tentu saja."

Irene semakin menempel di bahunya dan Sehun tidak bisa berbuat apa-apa selain diam. "Pilih tempatnya dan mari habiskan malam panas berdua," Kata Sehun yang membuat Irene bersorak, melabuhkan satu ciuman menuntut pada Sehun. Padahal Sehun sama sekali tidak tertarik pada ciuman mereka.

.

.

Pukul dua siang, Sehun mulai menjalankan rencananya. Satu kamar suite hotel telah di booking, tinggal melakoni permainan seolah-olah dia sangat menginginkan Irene padahal kenyataannya Sehun sudah muak sampai disini.

Pintu terbuka, Sehun mempersilahkan Irene melangkah keluar lebih dulu dari dalam ruangannya. Hanya ada Ravi disana yang langsung berdiri gelagapan. Ada yang aneh. Tidak sampai dalam hitungan lima detik, wajah Ravi pucat tak berdarah. Kacamatanya bahkan tidak bisa menutupi matanya yang melotot.

"T-tuan.."

"Aku harus pergi sekarang. Kau bisa pulang lebih cepat hari ini."

"T-tapi tuan.."

Sehun berjalan melewatinya, berada di belakang wanita yang Sehun yakini menjadi alasan mengapa darah Ravi mendadak habis.

Ravi yang masih bodoh ditempatnya ternyata sanggup menangkap pesan dari gerakan mulut tanpa suara dari Sehun. Jangan beritahu Luhan tentang hal ini.

Lalu bagaimana Ravi harus menyembunyikannya?

.

.

.

.

Langit masih membias senja sore tapi mereka telah menggumuh diri satu sama lain, tidak memiliki kesabaran sama sekali menunggu malam. Keduanya menari dalam birahi yang jelas, bergerak liar seperti anjing yang bersetubuh di tepi jalan.

Diremasnya payudara sintal itu layaknya memisahkan sari pati santan dari ampas. Wanita meringis kesakitan atas sentuhan keras. Rambutnya yang panjang di puntal dalam dua kali genggam, di tarik setiap kali benda tumpul mendorong masuk tidak beraturan.

Ini bukanlah percintaan seperti apa yang ada dalam bayangannya. Walaupun demikian, dia tetap mendesah hebat demi membuktikan bahwa dia menyukai setiap gerakan tubuh mereka, padahal jelas sekali si lelaki mengetahui jika gerakannya hanya menyakiti wanita itu.

Tapi beginilah Sehun dan segala pikiran kotornya.

Setelah selesai di pukul tujuh malam, Sehun bergegas memasang kembali seluruh pakaiannya, tidak memperdulikan lagi keinginan Irene agar mereka menikmati sisa orgasme bersama-sama di bawah selimut.

"Kau mau kemana ?" Irene duduk dengan kepulan selimut di dada.

Sehun mengenakan ikat pinggang, "Pulang, tentu saja," jawabnya tanpa melihat sedikitpun ke arah wanita yang baru saja dia kotori.

"Kenapa tergesa-gesa ? Kita masih punya malam yang panjang setelah ini,"

Sehabis membuang kekehannya yang nampak mengejek, Sehun meraih jasnya di sandaran kursi. "Aku punya wanita di rumah yang harus ku puaskan setiap malam," jujurnya terdengar begitu menyakitkan.

Irene menggeram kesal di belakang, "Bagaimana bisa kau berbicara tentang wanitamu sedetik setelah kita bercinta ? Dimana otakmu sebenarnya ?" wanita itu melipat tangannya di dada.

"Kepercayaan dirimu terlalu tinggi, sayang sekali. Memangnya kau pikir seks denganmu memiliki makna lebih bagiku ? Apa kau bercanda ?" Sehun menghapus noda lipstick di sudut bibirnya.

"Jadi kau menganggap aku yang mengangkang di hadapanmu hanyalah sebuah permainan ?"

"Ternyata kau punya harapan yang berlebihan. Itu memalukan," katanya apatis, meraih sesuatu di saku jas-nya lalu melemparkannya tepat di depan mata Irene. "Bayaranmu malam ini. Jika kurang, hubungi sekretarisku."

Irene sudah bersama dengan amarah bergumul menjadi satu di wajahnya yang merah padam. Ini penghinaan.

"Berani-beraninya kau memperlakukanku seperti seorang pelacur, Oh Sehun!"

"Kau yang menawarkan diri, aku hanya pembeli yang berbaik hati. Tapi ternyata kau mengecewakanku," Sehun mendekati si wanita di ranjang, merunduk untuk mengapit dagu tirusnya, "Tubuhmu tidak senikmat yang kubayangkan. Aku tidak tertarik lagi. Jadi kuharap, jangan pernah menawarkan diri lagi padaku."

"Oh Sehun! Kau!"

.

.

.

.

Sehun tidak tau jika mencampakkan wanita itu bisa membuatnya sesenang ini. Perasaan rindu yang sempat tergugah ketika bertemu kembali pada Irene, lenyap tepat di saat wanita itu menawarkan diri untuk tidur dengannya.

Sudah berapa banyak lelaki yang dia tarik ke bilik hotel ?

Hal tersebut mencoreng semua lembar rasa atas pengharapan Irene kembali. Sehun benar-benar berpikir dia tidak menginginkan wanita itu lagi. Sungguh.

Langkahnya terasa ringan ketika turun menuju basement hotel, mencari mobil dua pintunya yang berwarna seputih tulang. Ketika Sehun membuka daun pintu, dia mendapati ponselnya tergeletak di bangku mengemudi. Apakah Sehun meleparkannya ketika dia bercumbu dengan Irene tadi ?

Melesakkan tubuh masuk, Sehun lantas mengambil ponselnya lalu menekan tombol kecil untuk menghidupkan layarnya yang mati. Dia menghidupkan mobil selagi menunggu ponsel pintarnya hidup lagi.

Begitu sinyal terkumpul dengan cepat, dering-dering kecil terdengar dari ponselnya. Sehun sempat tidak tertarik, dia hanya berpikir untuk cepat pulang dan menemui Luhan lalu mengajaknya bercumbu untuk mengenyahkan sisa-sisa keringat Irene ditubuhnya. Tapi ketika kakinya sudah siaga di pedal gas, Sehun malah meraih ponselnya seperti dia adalah lelaki yang tidak konsisten.

Siapa yang perduli, juga ?

5 panggilan tidak terjawab dari Ravi.

4 Pesan diterima dari Ravi.

1 panggilan tidak terjawab dari Luhan, pukul 6 sore.

Sehun berniat ingin langsung mendial nomor Luhan dan bertanya apakah dia menginginkan sesuatu untuk dibawa pulang. Tapi kesalahan tangannya yang malah membuka pesan dari Ravi terlebih dahulu. Ya, selagi terbuka apa salahnya di baca ?

18.05 KST

-Nona Luhan menghubungi saya, menanyakan keberadaan anda.–

18.00 KST

-Tuan, bolehkah saya tau dimana posisi anda sekarang ?-

Sehun nyaris mengumpat membaca pesan Ravi yang terasa menjijikkan. Apa-apaan laki-laki itu mengirimkan pesan seolah mereka punya hubungan yang mengharuskan khawatir satu sama lain. Terkadang Ravi memang norak dan berlebihan.

Sehun akan menutup ponselnya saat tanpa sengaja dia membaca dua pesan terbaru paling bawah yang belum tereja. Itu masih dari Ravi. Tapi waktu dan isinya….

12.00 KST

-Nona Luhan sudah pulang—

11.50 KST

-Tuan, nona Luhan menunggu diluar ruangan anda. Apakah saya harus menahan nona Luhan juga ?—

Apa ?

Maksudnya apa ini ?

Pukul 11.50 , di depan ruangan.

Itu berarti …..

Luhan berada di kantor saat Irene berada disamping untuk menggodanya.

Ya Tuhan!

Apa mungkin Luhan melihat kelakuannya dengan Irene?

.

.

.

.

"Kau mau teh hangat ?"

"Susu hangat saja, jika boleh. Aku butuh mimpi indah malam ini."

"Oh, oke," Xiumin berlalu ke belakang. Sekali lagi dia mengintip Luhan yang termenung di meja makan sendirian. Entah kenapa wajah wanita itu mendadak suram, kehilangan selera humornya yang selama ini Xiumin anggap cukup baik.

Dari tadi Luhan menggenggam ponselnya tanpa mengetik apapun, tapi ketika ponselnya berdering, dia malah meletakkannya ke meja dan membiarkannya begitu saja.

Ada yang tidak beres. Kenapa malah Xiumin yang dibuat merinding ?

Luhan melirik sekilas pada layar ponselnya yang menyala; panggilan dari Sehun dan dia mengabaikannya.

Apa lelaki itu sudah selesai ?

Kemudian tak lama berselang, bisa Luhan terima dengan baik dentuman pintu utama tersentak kaget; terdengar sesuatu pecah dari dapur dan kehebohan kecil setelahnya.

Jantung Luhan bergema luar biasa, tangannya bergetar dan matanya kembali panas. Tapi sebagai wanita, dia tidak akan kalah secepat ini.

"Luhan!"

Sang Lelaki…

"Ah, kau sudah pulang ?" Luhan menyambutnya seperti biasa, seperti tidak ada apa-apa diantara mereka. "Apa kau sudah makan malam ? Xiumin membuatkanku bibimbab," katanya berusaha ceria.

Tapi Sehun tidak sebodoh itu, jelas dia tau jika mereka dalam posisi tidak baik-baik saja, mata sembab Luhan menbeberkan semuanya.

Kelakuan Luhan yang berpura-pura sibuk pada makanannya, Sehun tidak tahan akan hal tersebut. Ditariknya sebelah tangan Luhan ke udara, membiarkan Luhan menjatuhkan sendoknya ke lantai lalu merengkuh kepala wanitanya dalam dekapan permohonan ampunan tertulus.

"Maafkan aku, Lu.. Aku tidak berniat demikian.. Kumohon," Sehun meminta dengan harga diri yang dia injak di bawah telapak kaki. "Maaf.."

"Kau kenapa ?" ujar Luhan melepas pelukan Sehun, memisahkan tubuh mereka seolah bersentuhan adalah sebuah dosa yang tak terampunkan. "Duduklah. Kita makan malam bersama," dan Luhan terlalu buruk dalam kepura-puraannya.

Tapi Sehun tidak membantah, malah mengikuti perintah Luhan yang memintanya duduk di kursi kepala. Wanita itu memberinya sepiring nasi dengan lauk-pauk menyehatkan, sedangkan dirinya sendiri cukup dengan sekaleng nasi campur yang pernah Sehun bilang itu menjijikkan.

"Selamat makan," Luhan berkata, mulai menyuapkan satu persatu sendok ditangannya menggunakan sendok yang baru. Sehun tidak bereaksi apapun selain memperhatikan Luhan.

Kepala si wanita menunduk sepanjang suapan, seperti tidak tertarik lagi pada keadaan disekitarnya. Rasa bersalah Sehun semakin menggulung ke permukaan. Dia ingin meraih jemari Luhan, tapi Luhan sepertinya tidak ingin disentuh sedikitpun, dia menarik diri setiap kali Sehun mendekat.

Menikmati makan malam dengan lahap, Luhan memaksakannya terlalu keras. Sampai dimana dia kenyang dengan semua firasat buruk dan keresahan hatinya yang menyebalkan, Sehun jatuh di lubang terdalam menemukan satu suapan Luhan jatuh beserta derai air matanya.

Ya Tuhan!

Sehun bergegas dari kursinya secepat angin, melesat dan bersimpuh lutut di kaki kekasihnya; menggenggam tangan Luhan, mengecupnya beserta ratusan ucapan maaf. Wanita itu malah tampak makin bersedih, menyadarkan Sehun bahwa kali ini dia sangat keterlaluan pada perasaan Luhan.

"Maaf.. Kumohon Luhan.. maaf."

Luhan mengatur napas di udara, "Bagaimana bisa kau melakukan ini padaku ?" keluhnya berakhir di ujung helaan. "Bagaimana caranya untuk membuatmu merasa cukup?"

Nada lembut ucapannya malah semakin melukai Sehun. "Dengarkan penjelasanku terlebih dahulu. Aku tidak berniat untuk kembali pada Irene, Lu. Kau harus percaya padaku. Tadi siang aku hanya ingin menyelesaikan seluruh kekesalanku padanya—"

"Apa harus dengan cara menidurinya ?!" Suara Luhan meninggi.

"Luhan, hanya itu yang terpikir oleh otakku dan—"

"Kau cukup pintar untuk memikirkan cara yang lain, Oh Sehun!" Luhan menepis tangan Sehun di pangkuannya, berdiri dengan mata nyalang luar biasa terluka. "Kita telah sepakat bahwa selama aku disisimu, tidak akan ada wanita lain yang kau tiduri! Dengan bibirmu sendiri kau menyepakatinya!"

"Luhan…"

"Jangan menyangkalnya! Jangan berkata kau tidak pernah menyebutkan hal tersebut!" Sehun berdiri untuk menggapai Luhan tapi wanitanya malah memberi dia sebuah telunjuk peringatan. "Kau telah melanggarnya, Oh Sehun! Kau melanggar janjimu sendiri! KAU-AKH!"

"Luhan!"

Ini buruk. Luhan jatuh di lantai karena perutnya terasa melilit, kontraksi ataupun kram, Luhan tidak tau, yang jelas rasanya sangat menyakitkan. Seharusnya Luhan mendengarkan kata hatinya yang telah mendoktrin sejak awal bahwa dia tidak boleh tertbawa emosi, sangat tidak bagus untuk janinnya. Tapi melihat noda lipstick merah di krah kemeja Sehun, ataupun aroma seks yang bercampur dengan harum parfumenya, Luhan pecah tidak terkendali.

Jeritannya semakin menjadi-jadi. Sehun terlihat lebih buruk daripada kata panik, dia mencoba meraih Luhan tapi Luhan tidak ingin disentuh oleh laki-laki itu. Xiumin terdengar memecahkan gelas susu di pintu masuk dapur, "Astaga, Luhan!" teriaknya keras. "Apa yang terjadi ?!"

Sekali lagi Sehun mencoba menggapai Luhan, tapi wanita itu tetap menolak. Dia kesakitan nyaris mati dan tetap bertahan dengan kebencian di otaknya.

"Berhentilah keras kepala!" Sehun merasa bersalah setelah mengeluarkan satu bentakan, tapi setidaknya itu yang bisa membuat Luhan membiarkan dia menggendong tubuhnya menuju kamar, walaupun Sehun tau Luhan memberontak dalam kukuhannya.

Apa dia tidak tau jika Sehun juga nyaris mati karena khawatir ?

.

.

.

.

Kegaduhan sedikit berkurang saat Chanyeol datang dengan stetoskop di lehernya. Luhan terbaring lemah di kasur sedangkan Sehun gelisah di sisinya.

"Bagaimana dengan Luhan ?" tanyanya tergesa ketika chanyeol baru saja selesai mengukur kadar darah wanita itu.

"Keadaannya baik. Tapi dia mengalami stress yang cukup berat akhir-akhir ini. Itu tidak bagus untuk ba—" bayi kalian. Luhan melotot pada Chanyeol sehingga perkataannya terpotong setengah. "Sehun-ssi.."

"Ya?"

"Bisa saya bicara berdua dengan nona Luhan ?"

"Apa ?" Wajah Sehun terlihat tidak mengizinkan, tapi melihat Luhan yag terus memalingkan wajah ke arah lain, Chanyeol mungkin benar jika dia harus keluar sekarang. "Temui aku setelah ini," katanya memerintah pada Chanyeol lalu keluar dari kamar.

"Bagaimana bisa kau menyembunyikan kehamilanmu selama ini ? Itu sangat beresiko, Luhan. Kau lihat sendiri kan apa yang terjadi sekarang ?"

Luhan melirik Chanyeol, ada raut ketidakpuasan dimatanya. "Lalu bisakah kau menjamin bayiku akan baik-baik saja jika Sehun tau ? Dia mengatakan bahwa dia tidak mengingkan kehadiran seorang bayi walaupun setelah beberapa tahun menikah. Dan kami bahkan belum sampai di tahap pernikahan."

"Itu karena dia belum tau kau sedang mengandung."

Satu tetes jatuh di ujung mata Luhan. "Apa kau tau apa yang terjadi pada kami hari ini ? Dia memberiku obat diet karena berat badanku naik. Dan sore tadi, dia tidur dengan mantan kekasihnya yang mempunyai tubuh sempurna. Dia tidak menginginkan bayi kami! Seandainya Sehun menginginkan seorang bayi, dia tidak sebodoh itu untuk buta terhadap tanda-tanda yang sudah tubuhku perlihatkan!"

"Sehun juga manusia, Lu."

"Dan manusia yang satu, tidak pernah sama dengan manusia yang lainnya! Kau harus ingat itu!"

Chanyeol menghela napas tenang, karena ibu hamil tidak suka dilawan ketika bicara. "Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang ?"

"Aku akan menjaga bayiku sendirian."

"Akan lebih mudah jika kalian menjaganya bersama-sama."

"Berhenti membelanya hanya karena kalian sesama pria, Kim Chanyeol !"

.

.

.

.

Tiga hari ternyata tidak cukup memulangkan keadaan seperti semula. Sehun masih memiliki raga Luhan dirumahnya tapi dia kehilangan jiwa wanita itu. Waktu senggang yang dia pikir akan berakhir dengan manis dan penuh cinta, ternyata hanya bualan belaka.

Luhan tidak merespon apapun aksi yang Sehun tunjukkan. Mereka seolah berada di dunia berbeda. Sehun tersiksa dengan sangat karena hal tersebut.

Saat Sehun menyusul Luhan sarapan berdua di pagi hari, maka wanita itu akan mengakhiri sarapannya dan kembali ke kamar. Jika Sehun menyusulnya ke kamar, maka Luhan akan berpura-pura mati sampai dia keluar dari sana.

Mereka tidur terpisah selama hari-hari itu. Karena pada saat Sehun ingin tidur sambil mendekap Luhan, wanitanya malah mengambil selimut dan berbaring di Sofa.

Sehun tidak bisa membiarkannya.

Langit sudah menghitam saat Sehun tiba di halaman rumah, tapi melihat lampu kamar Luhan telah dimatikan, dia mendadak takut untuk masuk. Padahal lelaki penakut adalah salah satu jenis makhluk yang paling Sehun benci di dunia ini.

Mesin mobilnya kembali berdengung dan Sehun memilih keluar rumah dari jalan belakang. Yifan sudah datang di depan gerbang rumahnya untuk memberontak. Sehun tidak ingin menambah masalah baru lagi dengan meninju telak rahang laki-laki itu.

Desau mobilnya menembus gairah malam kota Seoul. Dan seharusnya Sehun tau, alkohol bukanlah tempat yang bagus untuk menyelesaikan masalah.

.

.

.

.

Luhan sudah berpikir berulang-ulang; tentang dirinya, tentang Sehun dan tentang perkelahian mereka beberapa hari belakangan. Ini terlihat sangat kekanakkan. Luhan sudah dewasa, seharusnya dia tau jika bertahan dalam posisi diam tidak akan merubah apapun.

Dia mengintip di celah gorden kamar ketika mobil Sehun memasuki halaman beberapa menit lalu pergi lagi. Laki-lakinya mungkin bosan dengan permainan ini; bosan dengan tingkah Luhan yang sama sekali tidak bersikap baik.

Luhan sadar.

Dan di tengah malam yang sama sunyinya dengan kesepian, dia duduk di sofa tengah kamar dalam suasana saklar lampu dimatikan. Menikmati keheningan jiwanya setelah tiga hari mengabaikan Sehun dengan sia-sia.

Walaupun Sehun berdosa atas waktu panasnya bersama Irene, Luhan tentu tau jika dibalik semuanya dia masih menginginkan laki-laki itu berada disini setiap malam; menginap di kamarnya dan bertengkar kecil di pagi hari.

Chanyeol mungkin benar dengan perkataannya jika Sehun juga manusia. Tapi Luhan juga ingin mengatakan bahwa Wanita juga manusia, kan ?

Mungkin mereka bisa memulai hari besok dengan lebih baik. Luhan mulai berpikir bahwa dia tidak akan mengabaikan Sehun lagi di meja makan. Setidaknya sampai dia meraih kembali kepercayaan terhadap laki-laki itu.

Kakinya yang letih mulai beranjak dari sana, Luhan siap menutup hari ini bersama satu helaan napas. Namun sesuatu yang mendebarkan adalah ketika seseorang mendobrak masuk pintunya. Luhan gemetar dan dia tau alasan dari semua itu.

Sehun.

Laki-laki itu berdiri di kegelapan, di minimnya pencahayaan mata Luhan; berjalan dengan sempoyongan menuju wanitanya. Dasar sialan! Bagaimana dia bisa tetap terlihat tampan saat mata saja tidak sanggup menampung titik cahaya.

"Apa ini keahlianmu, Luhan ?" Sehun berkata tidak stabil, napasnya menjelaskan betapa dia lelah dengan hatinya. "Membuatku sekarat karena rindu, apakah itu keahlianmu ?"

Luhan bilang dia akan memulainya besok pagi; di meja makan, tapi kenapa Sehun datang lebih awal dari perkiraan ?

"Sehun, kau mabuk." Ujar Luhan sambil mendorong dada lelaki itu, mencium aroma pahit alkohol menyengat dari tubuh kekasihnya. "Bicarakan masalah ini besok pagi."

Tapi Sehun tidak memiliki pemikiran yang sama. Dia kehilangan 80% kesadarannya dan itu tidak pernah bagus.

"Kau tidak boleh mengabaikanku seperti ini!" Dia marah, jelas sekali karena pengaruh pulang dalam keadaan teler. Diraihnya tengkuk Luhan untuk memberikan satu ciuman memaksa, menuntut Luhan menyukainya dan tidak mengizinkan sedikitpun Luhan menyela.

Bukan seperti ini Sehun yang Luhan harapkan kembali.

Sehun memaksakan kehendaknya, mendorong Luhan ke dinding dan membiarkan wanitanya meringis kesakitan. Luhan terbentur cukup keras. Sedangkan Sehun malah berlaku bejat pada payudaranya.

Dengan tangan yang bergetar, Luhan sudah sebisa mungkin mendorong tubuh Sehun agar mereka menghentikan semua kemabukan ini. Akan ada pihak yang terluka, dan jelas sekali Luhan adalah pihak satu-satunya.

Dia meronta seperti anjing betina yang disetubuhi ketika ciuman Sehun merambat ke leher, jatuh ke dada dan berakhir dengan lelaki itu melepas pembungkus kemaluannya, menjilat kewanitaannya seperti tiada lagi hari esok.

Luhan menekan bahu Sehun, tentu saja sebagai sebuah pertahanan pada dirinya yang nyaris roboh. Sehun tidak berhak memperlakukan dia seperti ini. Tapi pada saat Sehun berdiri untuk menciumnya, Luhan tau ini tidak akan menjadi malam yang mudah.

Sehun melepas celananya kesetanan, membiarkan kemejanya tetap tergantung namun tubuh bagian bawah menegang. Dia terlihat seperti pria bar-bar yang suka memperkosa anak gadis, dan Luhan tidak pernah menyukai lelaki seperti itu.

Namun apa artinya kata-kata jika alkohol sudah masuk dalam permainan ?

Rintihan Luhan seperti sebuah kesia-siaan saat Sehun menarik sebelah kakinya mengalung di pinggang, kemudian tanpa pikir panjang menusuk Luhan dengan kejantanannya yang keras.

Luhan memukul bahu Sehun lebih keras namun Sehun seolah punya kekuatan kebal untuk menangkisnya, dia malah asik menggerakkan diri hingga tubuh Luhan bergesekan turun naik dengan kasar di tembok kamar. Malam yang akan membiarkan mereka berpegang pada luka masing-masing.

Mata yang bergelut merah juga napas beraroma bar tengah malam, Luhan merasakan orgasme pertamanya sampai dan Sehun masih belum selesai dengan dirinya sendiri. Dia membawa Luhan menuju sisi sofa, mendorong tubuh wanitanya jatuh ke pangkuan sofa sedangkan selangkangan Luhan berada di tangan sofa yang tidak peduli pada mereka.

Sehun masih gila menggumuh vagina Luhan dengan kelelakiannya. Tidak peduli Luhan menangis ataupun merintih; karena sesungguhnya dia juga tidak sadar atas apa yang sedang dia lakukan.

Tubuh Luhan terlalu ringan mungkin jadi Sehun bisa memutarbalikkan tubuh itu begitu mudah. Dan kali ini Sehun tidak bisa ditoleransi.

Bagaimana bisa dia menyetubuhi Luhan –yang sedang mengandung anak mereka—dengan posisi seks anjing ?

Tangisan Luhan berada di ambang keputusasaan sedangkan Sehun bergerak lebih parah dibelakangnya. Tubuh Luhan berguncang hebat disertai luruhan air mata, dan Sehun menguasai segala keringat di tubuh mereka dengan geraman menahan nikmat yang luar biasa.

Orgasme sintingnya sampai di atas jiwa kerasukan.

Namun semuanya lebih menyakitkan bagi Luhan saat Sehun belum menyentuh kesadarannya untuk berhenti, untuk mengetahui bahwa tidak akan ada lagi yang baik setelah ini.

Ujung piyamanya yang lembab karena sperma, tidak bisa lagi dipertahankan jika Sehun punya kekuatan untuk menariknya ke atas, menyukai bagaimana tubuh telanjang Luhan memuaskan dimatanya. Keadaan terlalu gelap bagi Sehun menyadari jika wanitanya bahkan tidak lagi memiliki suara untuk meraung.

Sehun membawa tubuh Luhan untuk dihempaskan ke ranjang. Menarik kedua kaki si wanita, mengaitkan pada kedua pundaknya dan mencoba melesak masuk lagi pada vagina yang ia dambakan.

Ini bukan percintaan. Ini pemerkosaan!

Tangan Luhan bahkan terlalu bergetar untuk meremas sprei sebagai sebuah pertahanan. Sehun menggaulinya lagi dengan gairah dan nafsu yang saling mengejar tanpa garis finish. Kewanitaannya sudah perih, bahkan mulai terasa sakit.

"Se-hun… kumohon.. ber-hentih! Kau bisa membunuh a-nakmu!"

Dan sayangnya, Sehun bahkan tidak sadar jika sekarang dia masih berada di dunia. Hanya ada birahi yang menggulung keras di otaknya, membutakan fakta bahwa Luhan baru saja mengatakan tepat di depan matanya bahwa persetubuhan ini akan membahayakan janin mereka.

Itu anakmu, Oh Sehun.

Sehun mencapai puncak keduanya saat pipi Luhan sudah kering oleh kesengsaraan. Dia menggulingkan diri disebelah Luhan, mengatur napasnya yang berisi kenikmatan atas tubuh si wanita.

Sehun dikutuk akan menyesal karena malam ini.

Karena saat dia jatuh tidur dalam kepuasaan gairah, Luhan tertatih menuju pintu kamar mandi, berguling jatuh dan menyaksikan dingin lantai akan menyelimutinya dalam meregang diri atas perutnya yang berkontraksi. Berharap saja dia bisa menahan tubuhnya untuk tidak mengeluarkan darah dan segumpal daging di dalam perutnya masih memiliki kesempatan memperoleh nyawa.

Tuhan….

Selamatkan bayiku…..

.

.

.

.

.

.

.

.

TuBerCulosis

.

.

.

.

.

.

.

.

.

PLISSSS! JANGAN BAKAR GUE! GUE UDAH ITEM, JANGAN DIBAKAR LAGI!

Gak tau kenapa gue bisa nulis chapter 13 senista ini. Dan bagian akhirnya itu apaan ? ancur banget kata-katanya. Itu dikarenakan gue diserang pasukan burung ababilnya sehun. Gak sempet menghayati peran gue sebagai cameramen disana, ngeliat sehun ngesekin luhan dengan begitu bejatnya.

Bahasa melilit-lilit banget kan ? pusing bacanya ? apalagi gue yang nulis :D

Gue mau konfirmasi sedikit disini, mungkin masih banyak readers yg nyangka kalo sehun udah tau luhan hamil gara2 ibu2 di boutique waktu itu bilang kalo dia bakal dimarahin sehun kalo neglilit perut luhan pake gaun ketat. Maksud gue disitu tu sehunnya tetep gak tau, hanya saja karena ibu2 yg ngasi luhan gaun itu seorang wanita yang udah punya anak, jadi dia tau ngebedain mana orang yang lagi hamil mana orang yang gak hamil. Gitu ajin. So, jadi jangan pada bingung lagi ya.

Konflik chap depan akan terus berjalan. Dan gue masiih fokus sama hunhan dulu di chapter ini. Utk masalah yifan sama huangzi, mungkin di chapter selanjutnya.

Kapan sehun tau luhan hamil ? tungguin aja FF ini ampe selesai :D

Oke sippo. Kalo pengen ikutan ngerusuh di FB gue, yoosss silahkan. Add aja fb 'HunjustforHan'. Tapi gue cuma confirm orang yang pake nama ala2 korea, kalo pun enggak PP nya harus foto korea. Gue takut salah confirm orang aja, soalnya fb gue yg satu itu rada rate M percakapannya :D kalo pun enggak, kalian bisa inbox gue.

Yoooosssssss…

Aku menunggu bulan Februari, karena seseorang yang selama ini kunantikan berencana publish. Semoga renacananya diberkati Tuhan. AAmiin.

Ya udah deh, segitu aja bacotan gue. Dan gue persilahkan kalian menggemaskan diri di kotak riview. Tulis aja kekesalan kalian semua pada ohsehun. Bejek2 aja sekalian. Wkwkwk

AI LOP YU :* :* :*