HUNjustforHAN

Present

.

.

.

.

.

DESIRE

.

Chapter 14

.

.

.

.

.

.

Aroma keringat gairah dan lengket sperma adalah apa yang ditinggalkan dari sisa seks semalam. Birahi menggulung-gulung sampai buta dan yang tersisa hanyalah ampas kelelahan. Sehun mengusap pelipisnya ketika dia bangun dengan kepala berdenyut. Dari ujung matanya yang sipit, dia menyadari bahwa hanya ada dia sendirian diawal pagi.

Dimana Luhan ?

Napasnya masih beraroma alkohol 50% walaupun hanya sekedar tempiasnya saja, tapi dari itu Sehun menyadari dia kehilangan banyak pikiran dan sedikit lupa apa yang telah dilakukannya semalam. Namun melihat dirinya yang bangun dalam keadaan telanjang, selimut menggumul jadi satu dan suara kran air mengalir sampai tumpah di kamar mandi, Sehun tau sesuatu yang buruk telah terjadi.

"Astaga, Luhan!" teriaknya bergegas, hanya sempat mengenakan celana dalamnya asal-asalan dan juga membiarkan kepalanya berdenyut lebih parah.

Rinaian air yang mengalir, tumpah meruap dari dalam bath up. Entah berapa lama wanita itu menenggelamkan diri, tapi bibirnya yang putih pucat nyaris serupa dengan kulit telanjangnya yang mendingin.

Sehun menarik tubuh Luhan dari genangan air dalam bath up, "Apa yang kau lakukan ?" tanyanya meraih tubuh ringkih itu ke dalam pelukannya sampai basah. "Maafkan aku," Sehun memohon dan Luhan sama sekali tidak berniat untuk bernapas dengan sengaja, "Atas apapun yang kulakukan semalam dan atas semuanya yang kulupakan pagi ini. Maaf," tapi tetap saja Luhan memilih menjadikan dirinya sendiri patung malang yang mengharapkan mati sesegera mungkin.

Pagi yang meyakini Sehun bahwa keadaan mereka berada dalam posisi yang salah.

.

.

.

.

"Bagaimana kondisi Luhan ?"

Chanyeol, dokter muda dengan kemeja coklat tua dan tensimeter ditangannya mengkerutkan dahi. "Dia baik-baik saja, hanya kurang istirahat," jawabnya yang membuat Sehun menghela napas sekali. "Saya akan memeriksa kondisi tubuh nona Luhan lebih lanjut, jadi anda bisa meninggalkan nona Luhan tanpa rasa cemas berlebih."

Sehun melirik tidak suka padanya dan Chanyeol mengerti penuh, "Bagaimana bisa kau menyuruhku meninggalkan Luhan disaat seperti ini ?" bahkan laki-laki itu tidak berniat mengucapkan terimakasih padanya setelah membuat jam bangun tidur Chanyeol kelabakan.

"Saya yakin anda memiliki kesibukan yang sangat parah di kantor, dan tentang nona Luhan…," Chanyeol melirik Luhan, wanita itu masih dengan keterpakuan pandangannya pada jendela kamar, "saya akan menghubungi anda tentang keadaan nona Luhan selanjutnya," walaupun dia tidak ingin melakukan ini, tapi Chanyeol tetap menundukkan kepala dihadapan Sehun, "Mohon percayakan nona Luhan pada saya."

Apa sebenarnya yang sedang terjadi disini ?

Seperti sebuah kesengajaan dari langit, Sehun menyesal mengapa dia menjawab panggilan Ravi di ponselnya; mengatakan bahwa mereka punya meeting penting pukul 09.00 KST, dan dengan setulus hati Sehun menyumpah jadwalnya hari ini. Demi Tuhan! Sehun ingin menjaga Luhan.

Baru saja dia menghampiri Luhan untuk memberikan satu kecupan manis aku berangkat dulu seperti kebiasaan beberapa waktu lalu mereka yang pernah indah, tapi wanita itu malah menyembunyikan dirinya dibalik selimut. Dan Sehun tidak tau berapa lama lagi dia akan kehilangan jiwa Luhan seperti sekarang.

.

.

Dahi yang menyiratkan ketampanannya, Chanyeol jelas-jelas memiliki semua itu. Jarinya yang kokoh namun kasar menyibak sedikit tirai jendela, seolah mengintip musuh dari persembunyian perang.

"Sehun sudah pergi. Bersiaplah."

Luhan ditelan kebingungan saat Chanyeol mengemas ringkas alat-alat pemeriksa kesehatan yang dibawanya, bertindak seperti ini adalah detik-detik terakhir sebelum meledak.

"Apa… maksud.."

"Kita ke klinik keluargaku. Kandunganmu harus segera diperiksa. Aku takut terjadi sesuatu dengan bayi kalian."

"C-chan…"

.

.

.

.

Luhan mengantungi segala kegelisahan dalam otak kecilnya semenjak Chanyeol membaringkannya di kasur pemeriksaan, mengolesi perutnya dengan semacam lendir kemudian menjalankan alat kedokteran yang Luhan sendiri tidak tau apa itu. Ada monitor disebelah mereka dengan gambar gelap bergerak-gerak. Otak Luhan juga tidak terlalu bodoh untuk mengetahui bahwa siluet tersebut adalah kondisi kandungannya, namun arti dari setiap pergerakan yang terjadi, Chanyeol harus menjelaskannya setelah ini.

Dokter muda itu menyelesaikan pemeriksaannya, menutup kembali kemeja biru tua yang Luhan kenakan.

Ingatkan Chanyeol jika dia harus menymbunyikan pemeriksaan ini dari Sehun. Bukan hanya karena menuruti keinginan Luhan, terlebih dari itu dia harus menyelamatkan dirinya sendiri.

Bayangkan apa yang di lakukan si kaya Oh Sehun jika mengetahui Chanyeol menyibak kemeja kekasihnya, mengolesi perut Luhan dengan gel yang otomatis telapak tangannya bersentuhan langsung dengan kulit Luhan. Chanyeol masih ingin tetap menjaga ketampanan wajahnya dalam waktu lama.

"Berterimakasihlah pada Tuhan banyak-banyak, Lu," katanya setelah meletakkan alat pemeriksaan ditempat semula. Dia duduk disamping Luhan, memperhatikan wanita itu yang tidak bersuara sejak kedatangannya kemari. "Memang ada sedikit gangguan, tapi secara keseluruhan bayimu baik-baik saja. Dia sungguh mengerti keadaan ibunya," begitu kata Chanyeol yang menarik perhatian Luhan.

Terselip rasa penyesalan dalam benak Luhan bagaimana dengan bodohnya –dia tadi pagi, setelah sadar dari pingsannya semalam—malah ingin membuang nyawanya tenggelam kehabisan oksigen di dalam bath up. Setetes kecil jatuh diujung mata Luhan ketika dia mengusap perutnya dan merasa kedamaian terpencar dari sana.

Bertahanlah, anak ibu..

"Sampai kapan berita ini akan disembunyikan dari Sehun ?" dan seharusnya Chanyeol tidak mengungkit masalah itu sekarang.

Luhan menggeleng tidak yakin, "Entahlah..," ujarnya dengan bibir bergetar. "Aku hanya ingin melindungi anakku, itu saja."

Besar sekali pemikiran Chanyeol berniat mengatakan 'tapi bukan seperti ini caranya', namun dia memiliki kesabaran yang sangat baik dibandingkan Sehun.

"Aku menyembunyikan kehamilanmu dari Sehun hanya karena etika seorang dokter yang harus mampu menjaga privacy pasiennya. Maaf , harus kukatakan jika sebenarnya aku tidak setuju penuh pada keputusanmu. Sehun harus tau masalah ini agar dia bisa menentukan tindakan apa yang akan diambilnya nanti."

Luhan resah, Chanyeol menyadarinya dari remasan gelisah jemari Luhan di atas perutnya.

"Aku seorang yang pesimis. Pemikiranku telah penuh akan tindakan Sehun yang menolak kehadiran bayi kami."

"Apa kau sangat takut ?"

Satu tetes mengalir lagi di pipi Luhan setelah dia selesai mengangguk, "Aku takut dia dengan sengaja membahayakan bayiku karena hasrat seksualitasnya tidak terpenuhi, dan aku sangat takut dia memilih mencari wanita lain untuk menuntaskannya, seperti beberapa waktu lalu," Jujur Luhan pada Chanyeol yang bahkan belum dikenalnya secara baik. Tapi satu hal yang Luhan tau dari laki-laki ini, dia adalah pendengar dan penjaga rahasia yang bisa dipercaya.

"Sehun tidak akan melakukannya, aku yakin."

"Tapi bagaimana jika iya ?"

Sempat tertegun sejenak akibat pertanyaan Luhan beserta lirikan matanya yang tersirat luka, Chanyeol menghela napas. Tidak mengerti mengapa dia meraih tangan wanita itu ke dalam genggamannya. Yang jelas, pemikiran Chanyeol berkata bahwa Luhan adalah wanita malang yang butuh bantuan kekuatan.

"Jika iya," Chanyeol menjeda katanya beberapa detik, sebelum melanjutkan keyakinannya mengatakan "Maka tinggalkan Sehun, dan aku akan bertanggungjawab penuh untuk anak dalam rahimmu."

Park Chanyeol! Apa kau gila?!

.

.

.

.

Mungkin yang dapat Luhan terjemahkan dari isi hatinya adalah rasa lelah yang bukan main menggeliat. Tidak hanya fisik yang letih, tapi juga pikiran dan batinnya bernasib sama. Dia tidak tau harus melakukan apa terhadap Sehun di hari-hari berikutnya. Ada perasaan kesal, marah yang sangat kentara, juga rasa bersalahnya pada lelaki itu yang sama besar dengan rasa cintanya.

Luhan adalah wanita paling bodoh. Dia tidak menampik sama sekali hal tersebut. Setelah apa yang dilakukan Sehun terhadapnya, tidak seharusnya dia masih berada di rumah lelaki itu dan berpikir keras tentang kontrak seks mereka.

Jika pemerkosaan semalam bisa dihitung masuk, maka kontrak mereka berakhir. Tapi sayangnya tidak. Bukan percintaan seperti itu yang tercantum dalam kontrak seks mereka, melainkan hubungan intim yang berdasarkan kemauan masing-masing. Percintaan mereka semalan adalah sumpahan bagi Luhan, bukan kehendak gairahnya.

Hari-hari belakang –sejak pertengkarannya dengan Sehun—Luhan jadi sering merenung sendiri di kamarnya dalam keadaan semua lampu dimatikan, terkecuali bias samar dari lampu tidur.

Seperti sekarang, saat batin Luhan berperang hebat melawan pikiran logisnya. Dia duduk di sisi ranjang melakukan itu semua.

Ingat lagi pesan Chanyeol kepadanya tadi siang, yang meminta Luhan untuk bersikap biasa-biasa saja pada Sehun seperti kejadian kemarin dan kemarinnya lagi hanyalah mimpi buruk belaka. Dokter muda itu beralasan jika Luhan terus memikirkannya, maka hanya akan menimbulkan tekanan pikiran dan itu sama sekali tidak bagus untuk bayinya.

Luhan merasa nasib sedang mempermainkannya sekarang.

Wanita mana yang bisa tenang-tenang saja setelah di perkosa? Walaupun oleh orang yang ia cintai.

"Kau belum tidur ?"

Suara lelaki itu..

Luhan bahkan tidak sadar kapan Sehun masuk dan berlutut dilantai tepat dihadapannya. Mendadak Luhan merasakan amarahnya hanya suatu omong kosong belaka untuk di muncratkan pada wajah lelaki ini. Kenyataan yang benar bahwa wanita selalu dikalahkan perasaan.

Dan akhirnya yang Luhan lakukan hanya menggeleng.

"Kenapa tidak menjawab panggilanku ? Aku menghubungimu dari siang," tanya Sehun meraih tangan Luhan yang sekaku kadafer.

Ya. Luhan tau jika Sehun menghubunginya. Masih terpampang tanda lebih seratus kali panggilan tidak terjawab di ponselnya, terhitung dari pukul 11 siang hingga 15 menit lalu. Luhan sengaja mengabaikannya dan seharusnya Sehun tidak perlu bertanya kenapa. Jawaban sudah Luhan letakkan di hati mereka masing-masing.

"Aku mau tidur," ujar Luhan, langsung menarik semua sentuhan Sehun dari tubuhnya dan tidur menyuguhkan punggung belakang untuk di cermati Sehun apa artinya lebih lanjut.

"Hm.." balas laki-laki itu setelah berpikir beberapa detik. "Selamat tidur," ucapnya berakhir dengan mengecup puncak kepala Luhan, membetulkan selimutnya dan pergi keluar.

Ke kamar mereka masing-masing.

Dan Sehun harus memikirkan ulang mengapa masa pengabaian Luhan terhadapnya makin bertambah panjang.

.

.

Lalu waktu-waktu yang bergulir hingga empat hari ke depan adalah keheningan yang menyiksa. Memang Luhan tidak menghindarinya seperti dulu; mereka sarapan bersama, Luhan menjawab semua pertanyaan Sehun walaupun itu hanya sekilas.

Sehun rasa dia mulai kedinginan lagi disetiap tidur. Luhan memang mengizinkan Sehun tidur disebelahnya, namun Sehun tau saat mereka berada di ranjang yang sama, maka Luhan akan terjaga sepanjang malam. Wanita itu mengantisipasi dengan sangat keras kejadian malam itu agar tidak terulang kembali. Dan Sehun lebih memilih tidur kesepian di kamarnya sendiri dibandingkan melihat wajah lesu Luhan di pagi hari.

Sifat diktator Sehun, penguasaan abadi yang tersemat pelik di setiap ototnya, pergi entah kemana setiap kali Luhan memandangnya dengan sendu. Seperti tidak ada lagi matahari pagi yang cerah di hari esok. Itu sangat melukai. Kebahagiaan yang Sehun gantung di atas langit, semuanya rusak dan Luhan tidak menengadahkan kepalanya sama sekali ke atas.

.

.

Luhan sendiri telah merumuskan seluruh kecamuk dihatinya dengan hasil yang tidak konstan. Tangannya bergetar ketika dia mengoleskan lipstick semerah darah di depan cermin. Rambut yang hitam legam itu dibiarkan tergerai lurus melewati bahu sempitnya, dan dia mempercantik diri hari ini hanya demi bertemu Sehun.

Tidak. Laki-laki itu tidak membuatkan janji pertemuan untuk mereka, namun pemikiran lelah seorang wanita milik Luhan lah yang membuat dia jadi seputus asa ini.

Gaun yang dipilihnya tidak akan sia-sia. Biru dongker dengan rok selutut dan belahannya di tengah paha depan Luhan. Dia berjalan ke halaman depan rumah, mencari Pak Lee –supir cadangan Sehun—dan lelaki paruh baya itu baru saja selesai membersihkan mobil.

"Pak Lee, bisa tolong antarkan saya ke kantor Sehun ?"

Luhan selalu berhasil menggunakan senyumnya yang sebagus berlian.

.

"Saya akan menunggu nona di basemant kantor."

"Tidak perlu, pak. Saya akan pulang bersama Sehun. Pak Lee bisa pulang terlebih dahulu," Luhan meraup paperbag di sampingnya dan bernapas berat, sekali. "Terima kasih atas tumpangannya, Pak Lee."

.

.

Ravi, lelaki dengan setelan hitam putihnya meremas pelipis di meja depan. Apalagi yang terjadi kali ini antara tuan besar dan nona agungnya itu ? Kenapa Sehun melemparkan seluruh berkas untuk Ravi kerjakan sendirian ? Sudah beberapa hari istrinya dirumah membelakanginya saat tidur. Ya, alasan dari semuanya adalah Ravi selalu pulang telat, lebih dari pukul 12 malam.

Ini semua tidak bagus bagi Sehun dan Luhan, juga bagi Ravi dan istrinya.

"Oh Shit!" Laki-laki itu mengumpat saat gelas kopinya tumpah mengenai puluhan kertas yang baru saja dia print beberapa menit lalu. Pekerjaan masih sangat menumpuk dan tidak seharusnya Ravi menghabiskan waktu hanya untuk menge-print ulang.

"Mintalah Sehun mencari seseorang untuk membantu pekerjaanmu. Bos-mu yang kaya itu punya banyak uang, kan ?"

Ravi sibuk mengangkat berkas pentingnya dari atas meja agar tidak terkena tumpahan kopi, dan saat itu juga dia melihat mata rusa si nona agung manisnya tersenyum.

"Nona.." panggil Ravi dan merasa ada sepuluh kilogram terangkut dari pundaknya.

"Jam tangannya terlihat cocok padamu. Kau suka ?"

Ravi mengecek pergelangan tangannya dan dia mengangguk yakin. "Sangat. Terimakasih untuk hadiahnya, nona. Walaupun aku rasa ini sangat berlebihan sekretaris sepertiku mendapatkan hadiah langsung dari—nona, apa yang sedang kau pakai ?"

"Apa ?" Luhan mengitari tubuhnya dan dia merasa baik-baik saja. "Kenapa dengan pakaianku ?"

Ravi meletakkan berkasnya ke atas kursi sebelum menunjuk sesuatu di kaki Luhan. "Maaf sebelumnya, tapi warna sepatu nona bertabrakan dengan baju nona," katanya mengkoreksi dengan sangat hati-hati.

Luhan cemberut, "Peduli apa. Aku menyukai sepatuku."

"Tapi—"

"Ini hadiah darimu, jadi aku akan selalu memakainya."

Si nona agung baik hati yang terkadang menyebalkan setengah mati, Ravi rasa dia tidak ingin ada wanita lain menjadi nona agung-nya selain Luhan.

"Sehun ada di dalam ?"

"Sedang melamunkan nona sepanjang hari."

.

.

.

Sehun sedang duduk menghadap dinding kaca ruangannya, mencerna keriuhan kota Seoul yang makin bertambah buruk dari hari ke hari. Terlebih dari itu semua, dia mengkhawatirkan kisahnya sendiri.

Knop pintunya terbuka, "Sudah ku katakan untuk mengetuk pintu dulu sebelum masuk," Sehun memutar pulpen di jarinya dan merasa terganggu karena kehadiran Ravi—dia pikir.

Tapi tidak ada tanggapan dari laki-laki itu, yang ada hanya seseorang membuat suara kerusuk di sofa tengah.

Sehun memutar kursi, siap melempar Ravi dengan pulpen ditangannya jika saja dia tidak menemukan seorang wanita berdiri dengan tangan bersedekap dada.

"Lu..han.."

"Lempar saja kalau berani," katanya mengancam dan Sehun menurunkan tangannya ke bawah, meletakkan pulpen lalu mengambur menuju kekasihnya.

"Apa yang.."

"Kalaupun kau sudah makan, katakan saja belum. Karena aku," Luhan memamerkan paperbag di tangannya, "membawakanmu makan siang."

Tapi Sehun tidak sepolos itu untuk mengerti bahwa ada sesuatu dibalik semua ini. Tidak mungkin Luhan menguar hangat dengan sendirinya, dan wanita itu selalu punya maksud tersembunyi yang kadangkala Sehun tidak memiliki kesenangan untuk menebak.

"Luhan. Katakan ada apa sebenarnya." Sehun menyegat tangannya, namun Luhan punya kepercayaan diri tinggi saat ini.

Dan Luhan mengolah napas, "Kita terlalu banyak diam akhir-akhir ini," katanya melepas genggaman Sehun, sibuk mengeluarkan kotak nasi dari tas kertas yang dia bawa. "Aku terlalu banyak mengabaikanmu dan tentu saja itu tidak akan menyelesaikan masalah. Setiap orang punya kesalahan, seharusnya aku punya hati sedikit besar untuk mengerti."

Sehun meraih rahangnya, menahan Luhan untuk meluluhkan ego satu sama lain. "Tidak. Akulah satu-satunya pihak yang harus meminta maaf atas semua yang telah kulakukan. Aku mencintaimu, sungguh," Sehun menyelesaikan kalimat penjelasnya.

Luhan harus paham bagaimana sulitnya selama ini Sehun mengucapkan kata 'Cinta' dan jika dia sudah mengucapkannya maka bagi Sehun hal tersebut bukanlah permainan. Bukan seperti layang-layang yang bisa ditarik ulur.

Luhan hanya tersenyum, jenis senyum manja yang entah dia dapatkan darimana. "Sepertinya kau harus menambah karyawan baru. Kasihan Ravi gila sendirian di luar."

.

.

Inti dari pertemuan ini sebenarnya bukan tentang makan siang. Yang harus di putar ulang adalah mengapa Luhan bisa berada di pangkuan Sehun dengan rok telangkas ke atas. Mereka saling tatap di sisi ranjang dan beribu kali Sehun akan luluh pada wajah elok Luhan.

"Senang sekali jika kau bisa datang kesini setiap hari."

Luhan mengibaskan sejempil rambutnya ke belakang, membiarkan Sehun membuka rek belakang dressnya dan melorotkannya sampai ke pinggang.

"Dan sebaiknya kau mengubah perusahaanmu menjadi perusahaan kondom, karena sangat tidak aman mempunyai bos yang pekerjaannya hanya bercinta setiap saat," goda Luhan, membiarkan Sehun melepas kaitan bra hitam yang membungkus payudaranya.

Lelaki itu sepertinya sudah kehilangan otak jernihnya untuk bercanda. Karena begitu mendapati payudara sintal putih luar biasa milik Luhan menggantung bebas dihadapannya, yang bisa dia lakukan hanya meneguk ludah. "Sudah berapa lama aku tidak melihat payudaramu ?" Sehun bertanya basa basi sebelum meraup semua dalam mulut maupun telapak tangan. Luhan meremas rambutnya, dan Sehun selalu suka bagaimana jemari Luhan bekerja.

"Ups..," Luhan menahan pundak Sehun, ada gigitan-gigitan kecil yang laki-laki itu berikan pada putingnya, "Jangan menggigitnya terlalu keras," dia memperingatkan Sehun, "Lepaskan dirimu terlebih dahulu. Kau terlihat sangat sesak."

Sehun mengikuti arah pandang Luhan ketika wanita itu berdiri untuk melepaskan celana dalamnya sendiri, "Kau membuatku menjadi lelaki yang payah," katanya menyadari jika kejantanannya teransang tidak tau diri. Sehun melepas celananya; seluruh celana dan membiarkan Luhan bersemu sendirian.

Wanita itu sendiri kembali merangkak di atas Sehun, namun kali ini dia mendaratkan dua lututnya sebagai tumpuan. Vaginanya yang indah, Sehun membelai kewanitaan Luhan ketika wanita itu melepas dasi dan kemejanya, sedangkan Sehun sendiri dilarang untuk menyintak dress Luhan dari sana.

Pusar Luhan, Sehun mengincar itu. Apakah tidak boleh ?

Berdasarkan kelembutan yang jelas nyata, Sehun merasakan Luhan menekan pundaknya dengan sebelah tangan, lalu wanita itu mulai memposisikan diri tepat di atas kelelakian. Tangan kokoh Sehun membantu wanitanya mencari sasaran yang tepat, dan ketika Luhan melesakkan kejantanan Sehun masuk ketubuhnya, dia melenggak ke atas menanti sebuah kenikmatan yang tergantung di langit-langit kamar.

Sehun menggumuhi Luhan dengan lembut, membelainya penuh perasaan, membiarkan Luhan berfantasi liar sepuas hati dan menyerahkan separuh nyawanya untuk memuaskan wanita ini. Karena Sehun, tidak ingin melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.

Dan jam makan siang berakhir dengan leguhan panjang antara keduanya.

.

.

Luhan mengusap perutnya, berdiri sendirian di depan cermin wastafel kamar mandi pribadi Sehun dan mendoakan nasibnya hari ini. Tubuhnya sudah terbalut pakaian karena Luhan tidak memberikan Sehun waktu lebih untuk mendekapnya setelah mereka bergumuh.

Waktu sudah memburu.

Jantung Luhan berdebar ketika rasa bersalah untuk bayinya merasuki nyaris sebagian besar otaknya.

Selamatlah hari ini. Karena ibu akan membawamu pada akhir penderitaan.

Knop pintu bergerak, sontak Luhan melepas sentuhan di perutnya, mengacak rambutnya ringkas dan berpura merapikannya kembali.

"Kau baik ?" Sehun berada di celah pintu, dia sudah selesai memperbaiki diri dengan celana dan kemeja tanpa jas. Wajah bahagia lelaki selepas bercinta, Sehun memamerkan itu.

"Aku baik," balas Luhan merasakan laki-laki itu berjalan kearahnya. Luhan gelagapan.

Sehun berada di belakang Luhan saat wanita itu kebingungan, "Mencari apa ?" Tanyanya dan membantu Luhan menyelesaikan masalah dengan rek sletting di punggung belakang.

"Apa kau punya lipstick ? Aku tidak bawa tas."

Si tampan terkekeh, "Sayangnya aku laki-laki, Luhan," jawabnya tidak memberi kepuasan, "Lagipula, bibirmu sudah merah alami. Sudah terlihat cantik dimataku."

Mata Luhan berputar jengah,"Tapi orang-orang akan menebak dengan mudah apa yang sudah kita lakukan. Aku datang dengan bibir merah merona dan pulang dalam keadaan pucat berantakan," celotehnya, menemukan bayangan Sehun terkekeh dibelakang.

"Siapa yang peduli ?" jawab Sehun ringkas.

Kepala Luhan dikecup oleh Sehun, "Jawabanmu sama sekali tidak membantu," ketusnya membuat Sehun bahagia. Lalu ketika laki-laki itu menyelipkan diri di celah lehernya, Luhan rasa detik tidak mau menunggu lebih lama. "Aku harus pulang."

"Tidak. Kau tidak boleh pulang sekarang. Aku tidak mengizinkanmu."

"Aku harus. Xiumin berjanji membuatkanku brownies coklat sore ini," katanya mencoba negosiasi, tapi Sehun malah memeluknya sangat erat.

"Kau bisa mencicipinya saat kita pulang, kan ?"

"Sehun…"

"Oke. Oke. Kau boleh pulang," laki-laki itu hanya tidak ingin membuat ini sebagai masalah berkelanjutan.

Luhan memutar tubuh, menghadap pada Sehun yang langsung menghadiahinya satu kecupan manis di ujung hidung. Perasaan Luhan bergemuruh begitu mereka memandang lebih jelas, mata satu sama lain dalam bahasa hati masing-masing.

Sehun mengalah dengan sadarnya dan Luhan tau kenapa lelaki itu melakukannya. Tidak ingin membuat kesalahan yang sama.

Surai hitam lebat Sehun Luhan rasakan disetiap jarinya, dia akan mengingat ini nanti. Tubuh Luhan berkeringat seketika dan dia merasa sesuatu yang panas merambat dimatanya. "Maaf, sudah merusak tidurmu beberapa hari belakangan. Kau harus tidur dengan baik setelah ini" katanya berusaha tegar, menahan kering ditenggorokan yang mendadak menyiksa begitu melihat Sehun menahan lelah di kantung matanya.

"Hey.. Ada apa ?" Sehun terkejut saat dia berniat membelai pipi Luhan yang memerah tapi wanita itu malah mendekap tubuhnya, membiarkan Sehun menebak sendiri arti degup jantungnya yang berantakan. "Luhan.. Apa yang sedang kau sembunyikan ?"

Gelengan di pundaknya, ."Tidak. Hanya saja aku merasa bersalah karena beberapa waktu lalu terbuang sia-sia. Seharusnya kita bisa membuat waktu yang berkualitas untuk kukenang,"Sehun tidak percaya

Sehun menarik pelukan Luhan, gusar menemukan Luhan wajah Luhan tertunduk dan juga basah dihadapannya.

"Luhan… Apa aku berbuat salah lagi ? Jika iya kumohon dengan sangat, maafkan aku. Entah itu kesalahan apapun yang kuperbuat, tapi…."

"Aku mencintaimu, Sehun."

"Lu…"

"Kau harus mendengarnya baik-baik hari ini."

"Hey.."

Luhan meloloskan diri disampingnya dan Sehun punya tangan yang lebih sigap. Dia menahan Luhan dengan jenis genggaman yang tidak akan menyakiti wanita itu.

"Sikapmu membuatku cemas. Katakan padaku ada apa ?"

"Semua baik-baik saja, Sehun. Aku hanya ingin pulang," kata Luhan berusaha melepas jepitan Sehun dipergelangan tangannya.

Laki-laki itu akan memulai kalimat ketika ponsel di sakunya berulah. "Tunggu sebentar," pintanya pada Luhan tanpa menghiraukan gerakan menolak dari Luhan di genggamannya.

Panggilan yang berhubungan dengan perusahaan. Luhan mengerti karena wajah serius Sehun memberi penjelasan.

"Aku harus pulang sekarang," Luhan membisikkan permohonan sedangkan Sehun membalasnya dengan, "Aku antar," lewat gerakan bibirnya.

Tapi Luhan menggeleng, Sehun tidak boleh mengikutinya. "Pak Lee sudah menungguku di bawah," bernegosiasi sekali lagi sampai mendapatkan ekspresi Sehun mengeluh kalah.

Saat Sehun menarik tangannya mendekat, Luhan tidak melawan. Ataupun ketika Sehun menjauhkan ponsel ditelinganya untuk memberikan ciuman terakhir mereka sebelum berpisah, Luhan sekuat tenaga menahan panas di sekitar matanya.

"Hati-hati di jalan. Hubungi aku jika terjadi sesuatu."

Luhan mengangguk.

Tapi aku tidak berjanji.

Lalu saat kakinya berhasil melangkah keluar dan dentuman pintu dibelakangnya terdengar mengiris, napas Luhan mencelos ke udara.

"Nona…"

Ravi…..

"Siang ini panas sekali, ya ?" jenis pertanyaan yang Luhan tau maksud Ravi hanya ingin menggodanya. Dia terkekeh melihat Ravi menyeringai norak. "Maafkan bos kami yang punya ketipisan iman saat bertemu dengan wanita cantik seperti anda," kata Ravi berhasil mencuri satu senyuman di wajah Luhan.

"Ravi…" panggil Luhan manja seperti biasa.

Tiba-tiba Ravi mengulurkan sesuatu padanya, "Satu porsi ice cream greentea ukuran JUMBO untuk nona agung-ku yang manis."

Luhan mencerna dengan baik peristiwa ini. Dia menampilkan ekspresi terkejutnya atas perhatian lelaki berkaca mata itu sebelum…

"Nona… Ada apa ? Kenapa menangis ?"

Ravi seharusnya tidak sekhawatir ini sehingga Luhan tidak perlu merasa bersalah lebih dalam padanya. Dan pada akhirnya Luhan memeluk hangat lelaki itu, "Kau adalah sekutu terbaik yang pernah kumiliki. Selalu berpihak padaku walaupun aku salah. Entah dimana aku bisa menemukan seseorang yang sama sepertimu," lirih Luhan mengusap punggung belakang Ravi, "Terimakasih sudah mau direpotkan oleh wanita manja menyebalkan sepertiku. Kau yang terbaik," kata Luhan mengakhiri pelukan.

"Nona…"

"Dimana ice cream-ku ? Kau harus membelikan yang baru jika ini cair."

"Nona…."

"Aku pergi."

.

.

.

.

Berbotol kesabaran sudah Sehun habiskan hanya untuk menanti siang berubah menjadi malam. Pukul sembilan, dia baru selesai mengantri satu cup ice cream greentea sejak setengah jam lalu bersama satu buket bunga mawar merah segar ditangannya.

Ketika sampai di halaman rumah tanpa memarkirkan mobilnya dalam posisi benar, laki-laki itu menghambur secepat kilat menuju wanita manja yang dia simpan di dalam kamar.

Berpikir tentang bagaimana Luhan melompat kegirangan menerima hadiahnya malam ini, Sehun meringkas dua anak tangga dalam satu langkah. Tidak mengindahkan para iblis yang mungkin menyalahkan langkahnya.

Luhan tidak menjawab panggilan dari Sehun ataupun pesan yang laki-laki itu kirimkan padanya sejak siang. Padahal Sehun menyempatkan waktu sibuknya hanya untuk menghubungi Luhan.

Itulah yang menyebabkan Sehun dihalau kerinduan menggila, karena dia pikir hubungan mereka sangat membaik setelah percintaan tadi siang. Dia bisa menginap lagi di kamar Luhan dan tidur mendekap wanita itu sampai puas.

Knop pintu terbuka, "Luhan!" panggil Sehun terlalu bahagia, tapi yang dia dapati hanya ruang gelap tanpa suara. Belahan negatif otaknya mulai bereaksi, sedangkan Sehun berusaha menolak sebaik mungkin.

Lampu ruangan dia hidupkan, mencari Luhan yang mungkin saja sedang berendam air panas dalam bath up tapi semuanya dingin, tidak ada setitik uap pun disana.

"Luhan.." panggilnya lagi semakin lirih. Namun berikutnya yang Sehun temukan hanya sebuah surat tersampir manis di siku kanan ranjangnya.

-Mungkin kau lupa, karena itu aku akan mengingatkanmu.

Hari ini seks kesepuluh kita terjadi.

Kontrak telah berakhir dan kau tidak punya hak lagi atas diriku.

Aku mengharapkan semua yang terbaik untukmu.

Dan kumohon,

Doakan juga yang terbaik untukku.

Terimakasih untuk segalanya.

Aku pergi. –

Apapun yang Sehun genggam terjatuh. Bahkan dia merasa lantai dibawahnya melebur sampai ke perut bumi.

Luhan tidak boleh melakukan ini!

Sangat tidak boleh!

.

.

.

.

"Ge.. meja makan kita sudah penuh. Apalagi yang kau masak ?"

Disinilah keberadaan Luhan setelah meninggalkan Sehun dalam keterpurukan penyesalan. Dia tau ini terdengar tidak masuk akal, tapi dimana lagi Luhan bisa pulang selain dirumahnya yang dulu ? Yifan menyambutnya dengan pelukan yang nyaris menyentak nyawa Luhan.

"Kau harus makan yang banyak. Gege akan memasak semua masakan kesukaanmu."

"Tapi ge, ini terlalu banyak. Mustahil aku bisa menghabiskan semuanya."

Yifan melirik Luhan di meja makan, sedangkan tangannya yang amatiran memotong mentimun di meja dapur. Di pelipis kiri, Yifan masih menyimpan luka setengah kering, itu dia dapatkan semalam karena memberontak lagi di depan gerbang rumah Sehun. Tapi Luhan tidak perlu tau. Walaupun Luhan menanyakan perihal luka lebam diseluruh tubuhnya, Yifan hanya berkata itu adalah kesalahannya yang ceroboh dalam mengerjakan sesuatu.

Begitulah cara seorang kakak menyayangi adiknya. Prinsip Yifan.

"Gege tidak mau kau kurus."

Luhan menggeleng geli, "Tidakkah gege lihat tubuhku sebentar lagi melar ? Ukuran pakaianku bertambah naik, ge," katanya sambil merentangkan tangan ke sisi horizontal.

Yifan terpaku di tempat, melepaskan pisau dari tangannya. Mengamati tubuh Luhan dalam waktu yang cukup banyak dan menemukan penampilan Luhan terlihat sangat terawat, Yifan membuang napas.

Dia menghambur menuju adiknya, memberikan pelukan hangat untuk Luhan dan juga ucapan seribu maaf atas perlakuan tidak menyenangkan yang sempat Luhan alami.

"Seharusnya kau tidak masuk dalam permainan kotor ini. Seharusnya gege tidak mempertemukanmu dengan Sehun. Apa dia menyakitimu ?"

Satu tetes jatuh di pipi Luhan, dia menggeleng, "Tidak, ge. Dia tidak menyakitiku. Dia memperlakukanku dengan sangat baik." Dan aku yang melukainya sangat parah.

.

.

10 P.M

Luhan sedang menikmati usapan tangan Yifan di pucuk kepalanya. Banyak sekali kisah lucu yang lelaki itu ceritakan hingga beberapa kali Luhan tergelak untuk tertawa. Kerinduan Yifan, dia ingin menghabiskan setiap malam seperti ini, dengan Luhan dalam dekapannya dan tidur disambut mimpi indah.

"Ge.."

"Hm.."

"Ada sesuatu yang ingin kukatakan."

Yifan menilik wajah Luhan, terdapat warna kemerahan di kornea matanya yang membuat Yifan terdesak setengah mati. Luhan tidak boleh lagi terluka. Itu sumpah Yifan.

Dan satu anggukan kepala, Yifan mempersilahkan Luhan bicara. Entah untuk berkeluh kesah ataupun mengutarakan kebenciannya pada nasib, Yifan akan mendengarkan dengan baik.

"Katakan apapun yang kau mau."

"Ge .."

"Iya ?"

"Aku hamil."

Rahang Yifan jatuh sedangkan matanya berkobar panas. Luhan sesegukan dalam dekapannya dan jelas sekali adik kecilnya itu takut bukan main.

Takdir seperti apalagi yang menghalau mereka ?

"A-apa.. Sehun tau ?"

lalu gelengan kepala Luhan, menaburkan arti semua ini akan menjadi malapetaka.

Setelah itu Yifan tidak berkata apa-apalagi, hanya mengusap punggung belakang Luhan dan memberikannya pelukan seerat mungkin agar tubuh Luhan berhenti bergetar.

Mereka hanyut dalam keburukan takdir. Yifan mengulang kembali lembar-lembar dosa yang telah dia lakukan seumur hidup, mencari dosa paling besar mana yang membuat Luhan mendapatkan nasib sejahat itu. Dia merasa lebih bersalah lagi untuk hidup adiknya.

Kemudian sesaat setelah tangisan Luhan mereda, sesuatu yang lebih jahat menunggu mereka di luar.

Yifan dan Luhan pantas terkejut untuk pintu mereka yang ditinju paksa. Seseorang berteriak kesetanan diluar, dan seharusnya Luhan tau jika lelaki yang dicintainya bukanlah lelaki yang memiliki hati lapang.

Sehun tidak akan melepas kepunyaannya dengan jalan yang mudah. Luhan harus bertanggungjawab atas perasaan yang telah dia tumbuhkan pada laki-laki itu.

"Jangan keluar!" Yifan mencegahnya, namun Luhan rasa dia harus menyelesaikan masalah ini dengan Sehun, dengan lebih berani.

"Aku harus menemuinya, Ge. Agar ini semua berakhir."

"Kau tau bagaimana kejamnya Sehun, Lu. Dia akan menyakitimu."

"Dia tidak."

"Gege mohon, Luhan. Jangan."

"Sekali ini saja, Ge. Biarkan aku. Dan jika aku berteriak, gege boleh menghampiriku."

"Lu.."

"Ge.."

"Berjanjilah segera kembali. Gege menunggumu dibalik pintu."

"Aku janji."

Dan dengan perdebatan hati yang panjang, Luhan menemui pintu utama.

.

.

"Apa yang kau lakukan disini ? Ayo pulang!" itu adalah apa yang Luhan dengar sedetik setelah dia membuka pintu. Wajah sangar Sehun tersaji dihadapannya dan laki-laki itu langsung menarik pergelangan tangan Luhan. Benar saja jika Sehun akan menjemputnya malam ini. Tapi semua sudah terlanjur, Luhan sudah menyerah pada kepercayaan dirinya untuk tetap bersama laki-laki itu.

"Kita sudah berakhir."

Hanya tiga kata sederhana, dan Luhan tidak akan pernah tau jika dia telah meluluhlantakkan perasaan Sehun dalam sekejab.

"Kumohon Luhan, jangan bercanda. Ini sama sekali tidak lucu."

"Tidak ada lelucon disini."

Wajah Sehun kaku, seperti dia tidak punya otot untuk menarik sisi-sisi rahangnya yang tegas.

"Luhan.. Kau tidak boleh melakukan semua ini padaku."

"Antara kita, itu sebatas kontrak semata. Bukankah kau sendiri yang mengajukan kontrak tersebut padaku ?"

"Menurutmu begitu ? Lantas apa artinya kata cintamu tadi siang ? Apa kau berniat mempermainkanku ?"

Seperti siang hari di kantor Sehun, Luhan ingin melepaskan diri dari genggamannya namun Sehun sama sekali tidak membiarkan Luhan melakukannya.

"Dari awal tentang kita hanya sebuah permainan. Kau yang mengundangku untuk bermain, aku hanya mengikutinya. Dan ketika kau tidak menyelesaikannya dengan baik, permainan berakhir. Aku tidak mau mengulang dari awal. Itu menyakitkan."

"Jadi kau menyalahkanku karena telah meletakkan perasaan dalam permainan kita ?"

"Menggelikan saat mendengar orang sepertimu berbicara tentang perasaan. Hanya perasaanmu saja yang perlu dipikirkan, sedangkan perasaanku, mungkin kau menyimpannya disusunan terakhir."

"Kau pikir begitu ? Lalu semua yang telah kulakukan HANYA DEMI DIRIMU selama ini tidak berarti apapun ? Kau juga wanita egois, Luhan!"

"Ya. Aku memang egois, namun bukan berarti kau tidak memiliki keegoisan yang serupa."

Sehun menghela napas panjang, mendiamkan dirinya sendiri untuk beberapa waktu yang cukup. "Oke. Aku minta maaf. Sekarang bisakah kita pulang ?" dia melerai seluruh amarahnya menjadi debu. Semua hanya karena Luhan.

Tidak bisakah Luhan melihatnya ?

"Ini rumahku. Tempat dimana seharusnya aku pulang."

"Sekali lagi kumohon, Luhan. Kita bisa membicarakannya baik-baik."

"Pembicaraan terbaik kita sudah tercantum di dalam surat kontrak. Dan sebagai laki-laki, " Luhan membebaskan tangannya dari genggaman Sehun, "Seharusnya kau punya harga diri untuk menepatinya."

Begitu saja. Luhan berlalu di balik pintu dan Sehun memungut retakan ukiran kebahagiaan yang pecah berdarah di dasar hatinya

Semua berantakan.

.

Semestinya kau tidak membahagiakanku dengan kata cinta,

Jika pada akhirnya,

Kata cintamu, bukan berarti kita baik-baik saja.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TuBerCulosis

.

.

.

.

.

.

Apa ya yang pengen gue sampein disini. Sumpah, mood lagi berantakan gara-gara setengah dari chapter ini hilang dan sebagai gantinya gue harus ngetik ulang. Mungkin gue akan berkeluh kesah dulu, karena juju raja, hari itu gue langsung down. Udah janji mau apdet cepet malah kejadian kayak gini. Padahal waktu itu gue lagi semangat2nya, ngetik sampe subuh. Kurang dari seribu word lagi, chapter ini seharusnya bisa gue apdet dari satu atau dua hari yang lalu. dan tiba-tiba paginya gue buka ternyata setengah chapter hilang, dari situ gue gak berniat buat lanjutin. Capek, males. Masalahnya ini bukan yang pertama, tapi udah kedua kalinya.

Tapi yang bikin gue gak nyangka, ternyata banyak readers yang ngasi dukungan buat tetep lanjut, ngerti gimana posisi gue. Jujur aja gue buru-buru ngetik chapter ini karena habis apdet chapter ini juga, gue bakalan pulang kampung, paling enggak seminggu. Dikampung pastinya gak bakalan bisa apdet.

Sebagai permohonan maaf gue, jadi gue apdet chapter ini apa adanya. Jikapun terkesan bertele-tele dan gak sesuai harapan, gue mohon dimaklumin.

.

Chapter sebelumnya, gue mau minta maaf juga karena udah masukin unsur agama. Gue gak nyadar, dan untung aja salah satu reader ada yg ngingetin.

Thanks ^^

.

Selamat Ulang Tahun buat reader yang ulang tahun kamis kemarin (tanggal 28 kalo gak salah :D) dan juga buat yang ulang tahun tanggal 5 Februari nanti :*

.

Yang gemes kapan Sehun bakalan tau Luhan hamil, silahkan ditunggu chapter selanjutnya.

.

Sebenernya banyak yang mau gue cuap-cuapin disini, tapi udah deh, gitu aja. Maaf udah bikin chapter yang ngebosenin dan berantakan sumpah ini. :D

Semoga masih bersedia nunggu kelanjutan Desire ya^^

AI LOP YU :* :* :* :* :*