HUNjustforHAN
.
Present
.
.
.
.
.
Desire
.
Chapter 15
.
.
.
.
.
.
.
Keduanya terluka. Siapapun yang mengerti kisah ini akan paham jika tidak akan ada yang baik setelah perpisahan. Sehun yang sibuk dengan ketidakpekaannya dan Luhan yang terlalu keras kepala pada keputusannya. Padahal mereka punya fisik dan pemikiran yang sama-sama dewasa; setidaknya dibeberapa hal.
Tiga hari setelah Luhan memutuskan untuk mengakhiri apapun diantara mereka dengan menarik masalah kontrak seks sebagai biang masalah, Sehun kehilangan sebagian besar dunianya.
Sehun mungkin tidak menunjukkannya seperti malam pertama, meronta-ronta di depan pintu rumah Luhan dan mendapati wanita itu bertingkah seolah dia tidak punya hati sama sekali. Perasaan Luhan, entah terbuat dari apa. Bagaimana bisa dia menelantarkan lelaki yang setengah mati mencintainya seperti seonggok sampah buangan ?
Itu adalah yang terakhir, Sehun tidak pernah datang untuk menggedor pintu rumah Luhan lagi di hari berikutnya. Hanya saja, dia menghabiskan satu malam penuh duduk di balik stir mobil yang terparkir tepat di depan pintu besi gerbang rumah Luhan yang jarang-jarang.
Bunga-bunga rapuh di halaman depan bergoyang tertiup angin tengah malam, membentuk gerakan mengusir pada Sehun yang tidak pernah lelaki itu pedulikan. Harga diri Sehun yang tinggi mungkin sudah terinjak, Luhan melakukannya dengan sangat ahli.
Walaupun waktu yang dihabiskan memburu malam hanya menaburkan kesia-siaan, tapi Sehun tetap berada disana sampai pagi menjelang dan dia hanya menyakiti dirinya sendiri.
Luhan keluar setiap jam 7 pagi. Dengan rambut di ikat satu sederhana dan juga blazer tebal tanpa bentuk tubuh menyelubungi dirinya meskipun matahari sangat terik.
Wanita itu jelas mengenali mobil Sehun dan Sehun sangat ingin bertanya, dimana sebenarnya Luhan membuang perasaannya ? Sehun bahkan siap mengubur diri dibalik kubangan sampah asal dia bisa mendapatkan perasaan Luhan yang pernah terasa hangat bagi dirinya.
Tapi kini, wanita itu telah kembali pada kebahagiaan yang dulu…
…bersama Yifan.
Sedangkan Sehun, berguling-guling memungut retakan hatinya yang Luhan taburkan sambil menari di sepanjang jalan.
Kepalan tangan Sehun meninju keras stir mobil, dia menggeram hingga kerongkongannya terasa perih. Sengajakah Luhan melakukan ini ?
Duduk di kursi teras depan dan begitu bahagianya menerima setiap suapan dari Yifan, padahal Sehun yakin sekali Luhan mengenalinya dengan baik dirinya yang sedang merintih terluka disini.
Apa Sehun benar-benar tidak berarti ?
Itu melukai Sehun, sangat, jika Luhan ingin tau.
.
.
.
Luhan sedang merenung di sandaran kepala ranjang ketika matahari mulai singgit ke arah Barat. Yifan menghubunginya dan berkata bahwa dia dalam perjalanan pulang dengan sekantong mangga muda. Luhan bertanya mengapa Yifan membawa itu padahal Luhan tidak memintanya sama sekali. Dia terkikik begitu Yifan mengira bawa semua wanita hamil itu mengidam, dan setahunya mengidam itu identik dengan anak manga.
Tapi tawa Luhan tidak bertahan lama. Begitu panggilan dari Yifan terputus, Luhan terhenyak diterpa kesepian dan kerinduan dalam satu adukan kental yang melumuri nyaris separuh jiwa.
"Iya.. Ibu tau.. Kau merindukan ayahmu kan?" monolog Luhan sendirian dengan tangan mengusap perut cembungnya dan mata yang bersedih lewat tetes basah di pipi. "Jadilah anak baik untuk Ibu."
Kenangan terngiang-ngiang di belahan otak pengingat Luhan, seperti putaran film rusak yang hanya menanyangkan satu adegan berulang-ulang. Lantas kenapa harus adegan manis? Kenapa harus kenangan dimana dia menghabiskan waktu hangat berdua bersama Sehun ? Itu akan membuat keadaan jauh lebih sulit.
Keputusan yang Luhan ambil merupakan hal paling menakutkan dalam hidupnya. Dia sendiri tidak yakin, tapi lebih tidak yakin lagi hidup berdampingan dengan Sehun yang tidak menginginkan seorang anak padahal Luhan sedang mengandung.
Sesegukan menyedihkan tidak bisa Luhan hindari. Dia memeluk kerinduannya sendiri tanpa pernah mencoba mencari sang tuan.
Beberapa waktu berselang, suara derap kaki terdengar mendekat, " Luhan.. Kau di dalam ?" Segera Luhan menghapus jejak air matanya, bersyukur tidak terlambat karena Yifan membuka pintu setelah dia selesai.
Satu senyum simpul yang manis.
"Gege pulang lebih awal ?"
"Ya," lelaki tinggi itu duduk di sisi ranjang, meletakkan sekantong mangga muda di meja nakas yang membuat Luhan terkikik, "Apa kau sedang menertawai gege ?" tanyanya sebelum mencubit pipi berisi Luhan.
"Gege mungkin akan menjadi calon ayah paling kuno," ejek Luhan menghibur diri sendiri.
Yifan tertawa lepas, menarik kedua belah kaki Luhan tersampir di pangkuannya. "Biar gege pijit, kau pasti lelah kan ?"
Tanpa siapapun sadari, perlakuan Yifan yang seperti ini hanya membuat Luhan mengungkit ulang bagaimana dulu Sehun memperlakukannya. Dia benci kenapa terus saja mengingat hal-hal manis tentang Sehun saja, sedangkan hal buruk yang dilakukan lelaki itu, menghilang entah kemana.
"Luhan.."
"Hm?"
"Apa kau ingat Kyungsoo ?"
Luhan mengangguk ringkas, bagaimana bisa dia lupa dengan sahabat dapur tepung rotinya itu ?
"Dia nyaris menangis histeris saat kukatakan kau sudah pulang."
Rasa bersalah kembali menyekik Luhan. Apa hanya membuat orang khawatir yang bisa Luhan lakukan di dunia ini ?
"Aku merindukan Kyungsoo, dan segala celotehnya saat mengadon pancake."
"Bagus. Mungkin besok kau harus ikut bersama gege ke toko roti, jika tidak maka gegemu yang tampan ini akan hangus dalam oven. Kyungsoo tidak main-main dengan ancamannya," Yifan mengeluarkan ekspresi takut yang lucu. Menghibur Luhan walaupun warna lebam ungu kebiruan masih menato wajah tampannya.
Luhan tertawa kecil, namun beberapa saat kemudian, kepalanya tertunduk.
"Luhan…"
Yifan memanggilnya, namun Luhan mengabaikan.
"Ada apa, Lu ?"
Menggelengkan kepala, tidak berniat berbagi cerita.
"Katakan pada, Gege. Tidak apa-apa. Gege tidak akan menyalahkanmu untuk hal apapun yang ingin kau—"
"Aku merindukan Sehun, ge. Sudah kutahan, tapi tidak mampu," akunya bergetar kemudian masuk dalam dekapan Yifan. Merasakan Yifan membatu di tempat.
"Em, Ya.. Mungkin anakmu merindukan ayahnya," hanya itu yang mampu Yifan sampaikan, tidak tau apakah akan menghasilkan sesuatu yang lebih baik atau malah memperburuk keadaan.
Cukup lama Luhan terisak di pelukan Yifan sedangkan yang bisa laki-laki itu lakukan hanya mengecup pucuk kepala Luhan berkali-kali dan menggoyangkan kecil tubuh mereka, berharap Luhan mengantuk dan menginginkan tidur yang nyenyak setelah ini. Tapi nyatanya tidak begitu.
"Ge.."
"Ya?"
"Apa kau mengenal gadis beranama Huangzi ?"
Gerakan Yifan otomatis berhenti, otot-otot disekitar matanya menegang seketika dan Luhan tau jika Yifan kehilangan ketukan bernapas yang teratur. Dia melepaskan pelukan untuk adiknya lalu memberikan tatapan yang sarat akan tanda tanya besar.
"Darimana kau tau nama itu, Lu ?"
"Reaksimu menunjukkan kau mengenalnya. Ceritakan padaku, kumohon."
.
.
.
Adalah Yifan, yang sedang menyandang usia 17 tahun, dihadapkan pada permasalahan ekonomi dan keluarga yang tingkat keberantakannya nyaris sama besar. Ayahnya seorang pemabuk dan penjudi, Yifan bersyukur ibunya mengambil keputusan yang tepat untuk meninggalkan bajingan itu.
Dua hari berikutnya adalah ulang tahun ibunya. Yifan pergi ke pasar untuk mencari beberapa meter kain bermotif angsa cantik yang dikelilingi bunga sakura untuk dijadikan sebuah hadiah. Dan dia bertemu dengan gadis itu…
Gadis berbibir tipis, tinggi lansing dan juga mata yang mempesona.
Mereka memiliki perasaan yang mirip saat menukar senyum untuk pertama kali, dan hari-hari berlanjut dengan nyaman saat Yifan berhasil berkenalan dengan gadis itu lalu menjemputnya pulang setiap jam delapan malam.
Huangzi, ya, nama gadis itu.
Yifan tidak pernah tau gadis cantik yang berhasil menggenggam separuh hatinya tersebut bernasib tidak kalah jauh miris dengan mereka. Huangzi yatim piatu, tinggal bersama saudara laki-laki ayahnya yang sama pemabuknya dengan ayah Yifan. Apa yang bisa dilakukan lelaki pemabuk selain menjudi dan berhutang.
Huangzi juga keturunan Cina; dapat dari mendiang ayahnya, dan itu adalah alasan terbesar kenapa Yifan selalu berpikir ulang untuk memperkenalkan Huangzi pada ibunya atau tidak. Ada traumatic sendiri yang ibunya alami mengenai hubungan dengan orang berdarah kebangsaan Cina, walaupun tidak bisa dipungkiri dia malah melahirkan anak-anak setengah Cina.
Malam itu seperti biasa, Yifan menjemput Huangzi pulang. Mereka melewati sebuah kedai ramen kumuh di ujung perempatan, itu adalah tempat dimana Huangzi bisa mengirimkan pesan singkat pada Yifan. Huangzi tidak memiliki ponsel, jadi hanya kedai ramen kumuh milik Bibi Song lah tempatnya menyalurkan rindu pada lelaki ini.
Perjalanan pulang di hiasi dengan keluh kesah Huangzi mengenai kelakuan pamannya yang semakin menjadi-jadi. Pria tua Bangka itu selalu pulang dalam keadaan bau alkohol yang merusak penciuman, memukul bibi-nya sampai tersungkur ke lantai lalu menerobos kamar Huangzi untuk menjambrak rambutnya yang panjang; memerlukan tubuh lain untuk dibantai sampai babak belur.
"Yifan.. "
"Hm?"
"Aku tau ini terlalu cepat, tapi," Huangzi meremas ujung dress abu-abunya dengan gerakan gelisah, "Kapan kau akan mengenalkan aku pada ibumu ?"
Yifan masih berada ditingkat akhir senior high school saat itu, memiliki usia sangat muda walaupun kedewasaannya tumbuh lebih cepat daripada usianya. Tapi memikirkan perkataan Huangzi, sepertinya gadis itu mulai mengungkit sebuah komitmen.
Terlalu naif rasanya membicarakan itu semua sedangkan mereka berdua masih di kalangan anak kemarin sore, bermain kelayangan di pantai dan menangkap belalang di sawah.
"Kurasa.. Aku belum siap," jujurnya yang membuat Huangzi terdiam.
Gadis itu mengendalikan napas, "Ya, aku mengerti," katanya langsung berjalan cepat, meninggalkan Yifan yang bingung sendirian di belakang.
Huangzi mungkin terlalu tergesa-gesa dengan pemikirannya, egois juga bisa jadi, tapi itu adalah satu-satunya cara agar dia bisa terlepas dari keluarga neraka yang selama ini hanya mengambil keuntungan dari gaji hasil pekerjaannya yang tidak seberapa.
Menikah dengan Yifan, Huangzi rela bekerja banting tulang asalkan dia bisa masuk dalam keluarga Yifan dan mengenal adik perempuan bernama Wu Luhan yang selalu Yifan sebut dalam setiap ceritanya.
Tapi mendengar Yifan yang mengutarakan penolakan sehalus mungkin, mematahkan seluruh harapan Huangzi untuk hidup bersama. Mungkin mereka terlalu muda, tapi setidaknya Yifan dan Huangzi tau bagaimana cara untuk mencari uang secara mandiri. Bukankah uang adalah inti dari kehidupan ?
Malam yang dingin berakhir dengan Huangzi meninggalkannya di balik gerbang tanpa salam perpisahan.
.
Sudah dua hari Huangzi mendiaminya, Yifan merasakan dengan jelas kepasifan Huangzi dalam perbincangan mereka dua hari terakhir. Seperti malam ini, saat Yifan kembali mengantarkan Huangzi menuju gerbang rumah.
"Zi.. Maafkan aku," ujar Yifan memberanikan diri sebelum Huangzi meninggalkannya tanpa sepatah katapun seperti kemarin. "Maksud yang kau tangkap tidak seperti apa yang ingin aku utarakan."
Senyum di gadis itu tercetak samar, "Aku mengerti," katanya halus sebelum suara pertengkaran menyeruak dari dalam rumah.
"Bibi dan paman bertengkar lagi ?"
Huangzi melirik sekilas kebelakangnya dan mengangguk. "Paman berhutang pada rentenir," ujarnya nyaris menangis. "Kuharap kau segera bisa membawaku pergi dari sini."
"Aku tidak berjanji dalam waktu dekat."
Yifan hanya tidak berniat mengikat Huangzi seperti seorang majikan mengikat budaknya, dia hanya menginginkan semua berjalan sesuai hasil dari usaha yang mereka lakukan, tapi ternyata Huangzi menangkap arti yang salah.
Dia pikir Yifan mulai ragu akan hubungan mereka, dan itu membuat amarahnya kembali tersulut.
Apa Yifan hanya bermain-main selama ini ?
Laki-laki itu ingin memeluknya namun Huangzi menahan dada Yifan, "Aku harus masuk," katanya membuat Yifan bingung atas kesalahan apalagi yang dia perbuat sekarang.
.
Hari selanjutnya terjadi hal yang sama, Huangzi lebih parah mengabaikan Yifan. Laki-laki itu sampai datang lebih awal tiga jam dari waktu biasa dia menjemput Huangzi, dia berdiri di depan pintu toko dan menemukan Huangzi sedang melayani pembeli laki-laki.
Jika pembeli seperti sewajarnya mungkin Yifan tidak perlu mengepalkan tangan, tapi laki-laki tua berperawakan bajingan itu dengan sengaja menyentuh bagian tubuh belakang Huangzi saat gadis itu mengambil kain di tumpukan atas. Yifan mengejang melihat bagaimana gadisnya diperlakukan seperti wanita murahan, jadi dia langsung masuk ke dalam, menghajar pria tua itu hingga terkapar. Huangzi menjerit dan menarik krah baju Yifan keluar toko.
"Apa yang kau lakukan?!" teriaknya marah pada Yifan, sedangkan lelaki itu mencelos tidak percaya.
"Dia menyentuhmu, Huangzi Tao! Dan aku tidak bisa membiarkannya!"
"Itu bukan urusanmu!"
"Itu urusanku karena aku kekasihmu! Apa kau senang diperlakukan seperti seorang pelacur?!"
Satu tamparan keras Yifan rasakan menjalar panas di pipinya. Huangzi berjongkok setelah itu, menenggelamkan wajah beserta tangisan dalam ringkukan pahanya sendiri.
"Bagaimana aku bisa mendapatkan uang lebih malam ini?" lirihnya seperti wanita jalang yang gagal melayani bos-bos judi. Yifan benci mendengarnya maka dia langsung pergi meninggalkan gadisnya merana sendirian.
.
Malam itu Yifan tidak bisa tidur, pikirannya terus menerawang kejadian apa yang baru saja mereka alami beberapa jam lalu. Pipinya bahkan masih terasa panas, sama dengan hatinya yang bergejolak amarah setinggi angkasa pada Huangzi.
Kenapa gadisnya terlihat sangat murahan sekarang ?
Tepat pukul 1 malam, denting suara ponsel Yifan berdering, Yifan melihat nama Bibi Song tertera disana yang menyakininya pasti Huangzi melalukan panggilan tersebut. Sesekali kekasihnya harus diberi pelajaran agar tidak mengulang kesalahan yang sama. Maka Yifan mematikan ponselnya, membiarkan penyesalan Huangzi menyeruak sampai memenuhi dada.
.
Yifan adalah orang yang seperti ini, marah hanya pada saat dia ingin dan bersedia melupakannya ketika esok pagi yang baru menjelang. Dia gelisah ketika bangun tidur rasa bersalah menggerogoti seluruh indera perasanya. Tidak seharusnya dia memperlakukan Huangzi sekasar semalam. Yifan berniat meminta maaf pada Huangzi pagi ini, jadi dia berangkat sekolah lebih awal dari seharusnya.
Tapi ketika melintasi kedai ramen kumuh milik Bibi Song, wanita paruh baya itu berlari menghampirinya tergesa-gesa dengan tubuh gembul yang susah berjalan. Raut wajahnya mengatakan telah terjadi sesuatu yang sangat serius.
"Wu Yifan! Kemana saja kau?! Kenapa tidak menjawab panggilanku semalam ?!" nada bicaranya yang khawatir membuat Yifan cemas.
"Ada apa, Bi ?"
"Zizi! Huangzi!"
Seketika tubuh Yifan menegang, "Apa yang terjadi pada Zizi, Bi ?" tanyanya mulai bergetar.
"Zizi di jual pamannya ke Beijing! Ya Tuhan, Yifan! Seharusnya kau berada disini semalam saat Zizi ditarik paksa masuk ke dalam mobil!" Bibi song jatuh menangis di tanah, tidak peduli becek tanah akan mengotori pakaiannya.
Dan saat itu, Yifan bertanya kepada Tuhan mengapa dia harus terlahir miskin. Huangzi tidak perlu mendapakan semua penderitaan ini jika seandainya Yifan punya uang yang melimpah seperti Sehun.
Yifan tidak tau apakah dia bisa mencintai lagi untuk hati yang sama. Untuk wajah yang selalu dia rindukan disetiap tidurnya. Jikapun Huangzi tidak bisa kembali, maka Yifan hanya meminta Tuhan sudi memberikannya satu duplikat manusia yang bisa menyerupai wajah cantik gadis manisnya, Zizi. Setidaknya biarkan Yifan menebus seluruh dosanya untuk gadis itu.
.
.
.
.
Luhan mengusap bahu Yifan pelan yang sekarang berbalik jatuh meringkuk di pelukannya. Luhan tidak pernah menyangka bahwa kakaknya memiliki kisah yang cukup pelik mengenai cinta, itu semakin meyakinkan Luhan bahwa saat bertemu dengan Huangzi dan dia menggumamkan nama Yifan, Huangzi memandanganya dengan mata penuh kerinduan.
Mereka masih menyimpan cinta yang jauh.
Sampai pada saat Luhan mendengar pintu rumah mereka yang kembali di ketuk, dia melepaskan Yifan dan langsung bergegas menghampiri pintu utama, berharap saja yang datang adalah Sehun walau hanya sekedar ingin bertengkar seperti beberapa malam lalu.
Luhan bahkan tidak sadar jika dia bisa merindukan Sehun separah ini. Maka dia bergegas membuka pintu dan….
"Chanyeol ?"
"Bolehkah aku mengatakan jika aku adalah dokter pribadimu sekarang ?"
Luhan tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya tapi tetap menyilahkan dokter muda tinggi itu masuk, tidak mempermasalahkan darimana Chanyeol tau alamat rumahnya. Sebelum menutup pintu, Luhan melirik arah gerbang depan.
Sehun tidak datang, lirihnya dalam hati dan meraup kekecewaan lebih menyedihkan daripada lagu kematian.
Dia hanya tidak tau saja, Sehun datang terlambat untuk melihat mobil Chanyeol terparkir di halaman depan rumah Luhan dan merasakan amarah mengunduk tepat di sumsum tulang belakang. Dia merasa kehilangan darah manusia dari dalam nadinya.
.
.
.
.
Pagi yang cerah. Luhan tetap dengan blazer tanpa bentuk tubuh yang menyembunyikan dengan apik perutnya yang mulai membuncit. Chanyeol tidak memberikan Luhan izin untuk memakai sepatu tumit tinggi, dan Luhan sangat bersyukur dia memiliki satu sepatu flat manis; hadiah dari sekutu terbaiknya, Ravi.
Mendadak Luhan jadi merindukan laki-laki itu.
Luhan keluar bersama Yifan dari dalam rumah, langkahnya terhenti di anak perbatasan teras dan tanah begitu menemukan tidak ada mobil Sehun yang terparkir di depan gerbang rumah sejak kemarin malam. Apa Sehun sudah menyerah ?
"Jangan terlalu dipikirkan," ucap Yifan menghibur bahu adiknya.
Luhan mengangguk.
.
.
Apa yang dilakukan Kyungsoo pertama kali adalah menghamburi tubuh Luhan dengan semangkuk tepung terigu. Itu tidak sengaja, saat Kyungsoo mengaduk tepung tiba-tiba saja Luhan memunculkan dirinya di balik pintu. Apalagi yang terjadi selain mangkuk tepung Kyungsoo terbang ke udara dan menghamburi tubuh mereka berdua jadi putih sempurna.
Tidak ada kata-kata yang mampu Kyungsoo katakan selain gerakan tubuhnya mendekati Luhan dan memeluknya erat. Matanya yang memerah dan bibirnya yang bergetar cukup menggambarkan bagaimana perasaan Kyungsoo saat ini.
"Maafkan aku," Luhan yang memulai lebih dulu.
Kyungsoo menggeleng, "Seharusnya aku bisa menjagamu lebih baik, Lu. Disini benar-benar sepi saat kau menghilang. Kenapa lama sekali sih ?" katanya memulai rajukan yang khas.
Tawa Luhan terdengar renyah, "Kau pasti kerepotan tanpa aku. Maaf."
Yifan berdehem di belakang, membuat Kyungsoo merenggut kesal karena waktu terharunya dikacau oleh Yifan.
"Gege harus ke tempat produsen tepung kita pagi ini, ada sedikit masalah. Apa kau mau ikut ?"
Belum sempat Luhan menjawab, Kyungsoo menyimpan Luhan dibalik tubuhnya. "Jangan membawa Luhan pergi kemanapun sekarang!"
Luhan terkekeh, begitu juga dengan Yifan yang terkadang tidak mengerti dengan kepribadian Kyungsoo.
"Tolong jaga adikku baik-baik."
"Aku menjaganya lebih baik dari dirimu."
Yifan menggelengkan kepalanya tidak peduli.
.
.
Luhan dan Kyungsoo sedang menikmati waktu wanita mereka di dapur belakang, dengan segelas coklat panas untuk Kyungsoo dan Luhan hanya meminum segelas tinggi air mineral. Kyungsoo sempat mengernyit melihatnya.
"Tidakkah kau gerah dengan blazer tebalmu itu ? Ini hampir tengah hari, Luhan." Ujar Kyungsoo sambil mengipas dirinya sendiri dengan gerakan tangan.
Keterpakuan yang tidak menyenangkan mendekap Luhan begitu kencang, hingga dia rasa pembuluh nadinya bisa pecah seketika.
Untuk mengeluarkan itu, maka dia harus punya tempat berbagi. Jadi dia berniat berbagi ini pada Kyungsoo.
"Kyung.."
"Ya ? Kenapa ?"
"Aku hamil."
"WHAT THE F!" Kyungsoo menutup mulutnya dengan kepalan tangan, mencoba meraih depan blazer Luhan demi mengintip perut sahabatnya sebelum lebih terkejut lagi dengan suara berantakan yang mengerikan dari arah depan meja kasir. Suara-sura kursi beterbangan dan juga teriakan histeris para pelanggan; tidak terkecuali ketakutan kasir mereka yang merunduk ke dasar mesin penghitung.
Luhan dan Kyungsoo berlari keluar untuk mendapatkan ruangan telah sempurna berantakan dengan segala yang terpecah belah dan patah.
Lalu diantara orang-orang penghancur itu, muncul sosok tinggi yang membuat Luhan mematung di tempat.
Sehun.
Kyungsoo membulatkan matanya dengan lebih menakjubkan.
Sampai di jarak dua meter, Sehun menghentikan langkahnya.
"Jadi ini permainan yang kau maksud, Luhan ? Menilai siapa yang lebih pantas bersamamu ? Aku yang seorang lelaki brengsek ataukah dia, Kim Chanyeol yang punya segudang kebaikan hati dimatamu!"
Luhan sendiri bingung harus menjawab apa, dia tidak mengerti apa yang sedang Sehun bicarakan. Tiba-tiba saja lelaki itu datang dan menghancurkan semuanya.
"Berani-beraninya kau mempermainkan perasaanku?!" marah Sehun, meraih satu vas bunga terdekat dan melemparnya keras ke lantai. Beberapa orang menjerit, termasuk Kyungsoo, tapi Luhan berdiri dengan kaki bergetar yang dia coba sembunyikan sebaik mungkin.
"SIALAN KAU!" Satu kursi Sehun tendang hingga patah sebelum berbalik dan meninggalkan Luhan yang pucat pasi dibelakang. Perutnya mulai kram dengan rasa sakit merambat perlahan.
"Kyungsoo," rintihnya mencari sisi terdekat untuk dijadikan pegangan.
"Ya, Luhan ?"
"Tolong hubungi laki-laki bernama Chanyeol dalam ponselku dan minta dia untuk segera kesini."
.
.
.
.
Sehun hancur, bahkan lebih dari sekedar berkeping-keping. Cintanya terasa seperi bualan belaka saat Luhan lebih memilih pria pintar berjas putih seperti Chanyeol. Lalu semua usaha yang telah Sehun lakukan dengan sepenuh tenaga selama ini hanya setitik embun yang mencair didatangi pagi. Menyedihkan.
Surat kontrak, Yifan, Irene, Selvi dan Luhan mungkin adalah sesuatu yang Sehun rencanakan dari awal hanya sebagai umpan balas dendam, tapi hatinya berkata lain, dia terperosok ke dalam lumpur yang menyedotnya pada satu rasa klasik menyenangkan terhadap Luhan. Sehun seharusnya tidak menggunakan perasaan, namun siapa yang bisa menolak saat cinta sudah bicara?
Gelas-gelas alkohol kembali menjadi pelampiasan Sehun. Dia membuat orang-orang takut dengan lemparan-lemparan pecah di setiap sudut ruangan. Dirinya yang terluka, Sehun mengurungnya dalam sebuah labirin tanpa jalan keluar.
Membenci Luhan dan mengutuk semua perbuatannya adalah apa yang ingin Sehun lakukan. Tapi kenyataan semakin membuatnya membenci hidup. Luhan terus berlalu-lalang dalam ingatan Sehun dengan senyum manis manjanya, bahkan ketika kesadaran Sehun nyaris lenyap di telan mabuk.
.
.
.
Yifan mengamati Luhan yang pucat di depan mangkuk sup. Sejak mereka pulang ke rumah hingga mendapati makan malam, Luhan termenung dengan segala pikiran yang merusak raut wajah cerianya. Bulu mata lentiknya tidak akan pernah bisa berbohong, selalu membeberkan kebenaran yang rumusnya sudah Yifan hapal luar kepala.
"Orang mabuk memang terlahir untuk merusak."
Yifan menyuapkan satu potong omlette pada Luhan, mengapit potongan kecilnya pada sumpit agar Luhan tidak kesulitan menerimanya.
Dia mengangguk kecil.
"Jangan dipikirkan," kata Yifan, "Merapikan kembali perabot yang rusak tidak memakan waktu lama, gege bisa mengatasi itu," menenangkan Luhan.
Ya, Yifan mungkin bisa Luhan bohongi dengan mengatakan bahwa kerusakan pada toko mereka adalah karena ada orang mabuk yang masuk lantas mengobrak-abrik semuanya. Luhan pikir begitu. Tapi yakinlah, tebakan seorang kakak lebih akurat dari apapun. Yifan bisa menebak kejadian sebenarnya tidak seperti itu, namun dia berusaha diam dan tidak ingin mempermasalahkan ini lebih lanjut. Luhan tetap dengan kebohongannya, dan Yifan berdiri dengan akal sehat.
Lalu pintu mereka diketuk. Luhan tidak habis pikir kenapa orang-orang mulai suka berkunjung kerumahnya pada jam malam seperti ini.
Langsung saja dia bergegas menuntuti tamu yang berada di balik pintu, berharap terlalu lebih bahwa Sehunlah yang berniat datang menemuinya. Tidak ada rasa takut sedikitpun dalam hati Luhan menemui laki-laki itu walaupun Sehun sempat membuat tubuhnya kejang tadi siang. Rindu mengalahkan segalanya.
Yifan mengikuti dari belakang.
Dan ketika Luhan membuka pintu..
Sehun…
…doanya dalam hati.
"Nona.."
"Ravi.."
.
"Tidak bisakah nona kembali ? Tuan Sehun terlihat kacau balau. Siang tadi dia memecat lima orang pegawai sekaligus. Malam kemarin dia hampir menghancurkan sebuah bar. Dia bahkan tidak tidur beberapa hari yang lalu. Para investor mulai meragukan kerjasama dengan perusahaan karena Tuan Sehun sering tidak fokus saat rapat, bahkan kemarin dia meningalkan rapat besar begitu saja dan pergi entah kemana. Dia sekarang terlihat jauh lebih kasar dari sebelumnya," Ravi memperlihatkan lebam biru keunguan di sudut rahangnya, "Jauh sangat buruk dalam mengotrol emosi. Saya mungkin lancang untuk mengatakan hal ini, tapi nona, tidak bisakah kembali pada Tuan Sehun? Saya mohon…"
Dan jawaban Luhan adalah…..
…gelengan kepala.
.
.
.
.
Mereka harus menguras energi sedikit lebih banyak karena kejadian kemarin. Luhan tetap membuka toko rotinya, membiarkan Kyungsoo berkreasi dengan pancake pelangi walaupun kenyataannya banyak perabot yang rusak. Hanya ada dua pelanggan sejak tadi pagi.
Mungkin hanya beberapa orang yang menyaksikan kejadian kemarin, tapi ketahuilah, jika media sosial memiliki jaringan hampir diseluruh dunia. Orang-orang melintas hanya untuk memotret kerusakan yang terjadi, bukan roti untuk dibeli.
Yifan melarangnya pergi keluar rumah, tapi dasar Luhannya saja yang terlahir dengan sifat keras kepala. Begitu mendapat kabar dari Kyungsoo jika Yifan harus kembali pergi ke tempat produsen tepung mereka, dia langsung memberhentikan taxi dan menuju kesini.
Tidak banyak hal yang dapat Luhan lakukan selain duduk dibalik mesin penghitung di meja kasir. Memperhatikan ujung dress babydoll selututnya yang berwarna biru muda. Rambutnya di cepol tinggi ke atas hingga menampilkan kesan segar gadis remaja, walaupun semua jenis model rambut tidak akan berpengaruh banyak pada wajahnya yang sulit terlihat tua.
Lalu suara pintu ditarik membuatnya berdiri.
"Selamat Siang. Selamat datang di—"
Napas Luhan tersangkut.
…Sehun.
"Tidak peduli disini menjual kopi atau tidak, tapi aku butuh segelas," laki-laki itu melempar kartu gold pada Luhan, "Di meja 12."
Tangan Luhan bergetar kentara saat dia mengambil kartu kredit Sehun, anak rambutnya melepet di kening ketika tubuhnya di sekap keringat dingin, "Total kopi pesanan anda 7000 won. Apakah ada tambahan lain ?" ucapnya dengan suara nyaris hilang. Kepala Luhan tertunduk, menahan sengatan jutaan lebah yang bersarang di iris mata Sehun.
"Ya," Jawab laki-laki itu tegas hingga Luhan mendongakkan kepala, "Kopi buatanmu, dan harus kau juga yang mengantarnya," lalu Sehun meraih kartu kreditnya yang tergantung putus asa dalam genggaman Luhan. Jemari wanita itu sedingin salju pertama di bulan Desember, Sehun tau karena dia dengan sengaja menyentuhnya saat Luhan kehilangan separuh udara untuk bernapas.
.
Kyungsoo berdiri cemas di balik meja kasir, memperhatikan dua makhluk yang bermain dengan bahasa tubuh angsa buta. Tatapan penguasa teduh milik Sehun yang membuat nampan di tangan Luhan bergetar, berdoa saja Luhan tidak menjatuhkannya dan membuat kulit Sehun melepuh panas.
"Permisi, kopi pesanan anda," ujar Luhan yang nyaris terisak mengolah nada bicaranya hingga kepalanya berdenyut, meletakkan secangkir kopi disamping setangkai melati putih dalam batangan kaca tengah meja, "Selamat menikmati," katanya mengeluarkan sebuah senyum tipis. Senyum yang menyedihkan untuk dinikmati.
Luhan kehilangan denyut nadi, nampan tidak berdosa ditangannya jatuh dengan nyanyian senandung rapuh ketika jemari hangat Sehun meraih pergelangan tangannya, meminta dengan tulus agar Luhan tetap disana.
"Lima menit saja, tidak bisakah luangkan waktumu lima menit untuk duduk di depanku ? Aku memohon, Luhan."
Bisa! Tentu saja aku bisa. Asal kau tau, jika malam-malamku hanya terisi kesedihan untuk merindukanmu. Tentu saja aku membuat banyak waktu, sebanyak yang kau inginkan.
"Tidak, maaf." Luhan melepas kekangan tangan Sehun pada jemarinya, siap menghambur ke balik pintu dapur dan menangis gila-gilaan andai saja Sehun tidak menangkap tangannya lagi.
Lelaki yang tidak terawat. Itu adalah apa yang Luhan temukan ketika Sehun berdiri dihadapannya, memamerkan wajah lusuh dengan rambut-rambut halus mulai tumbuh di sekitar dagu lancipnya. Kulit Sehun terlalu putih, kantung hitam dibawah matanya seperti menampar Luhan mengenai bagaimana dia telah membuat hidup lelaki ini terlantar.
Lalu dengan gerakan perlahan yang menyakitkan, Sehun merebahkan diri di pundak Luhan, menghirup aroma wewangian manis strawberry yang menguar dari rambut si wanita, menghirupnya banyak-banyak sampai penuh di paru-paru dan dia kesulitan bernapas. Serakah.
"Hatiku, tidak bisakah kau melihat betapa besar luka yang telah kau perbuat disana ? Rasanya aku mengerang meminta kematian, tapi iblis menendang ruhku untuk tetap hidup. Haruskah setega ini padaku ?"
Satu tetes jatuh tak tertampung oleh Luhan, tapi dia memalingkan wajahnya ke kanan saat Sehun beralih dari lehernya dan menghembuskan napas lelah tepat di puncak kepalanya. Udara putus asa.
"Pernahkah kau melihat laki-laki semenyedihkan ini ?"
Luhan terhenyak di dasar jantung begitu Sehun terhempas di hadapannya untuk berlutut. Tanah dibawahnya terasa retak, guncangannya membuat tetes-tetes yang lain jatuh saling menyusul dipipinya.
"Aku, Oh Sehun. Lelaki yang keegoisannya setinggi langit, untuk pertama kali dalam seumur hidupku meletakkan lutut dibawah hanya demi mengemis belas kasihan seorang wanita. Kumohon, Luhan..," laki-laki itu memeluk pinggang Luhan dan meletakkan wajahnya disana, "Pulang bersamaku," katanya mengiba.
Tidak banyak yang sanggup Luhan lakukan selain terdiam dengan bibir yang bergerak kaku namun tanpa suara. Ada ribuan kalimat rindu yang merobek otaknya tapi tidak satupun dapat diterjemahkan menjadi kalimat. Tangannya yang ringkih terkapar di udara, sangat ingin membelai surai hitam Sehun yang mulai panjang lalu berkata 'Ya, sayang. Aku akan pulang, bersamamu' tapi yang dilakukannya hanyalah menjadi patung bodoh.
Sampai pada saat Luhan mendapatkan kembali getaran di pita suaranya demi melirihkan nama Sehun, dia tersentak ketika menunduk untuk menemukan Sehun membeku ditempat dengan jari laki-laki itu berselanjar di perutnya. Memeriksa sesuatu yang selama ini susah payah Luhan sembunyikan.
Ya Tuhan!
"Lu….."
"PERGI!" Bentak Luhan mengibas tangan Sehun dari perutnya. Dia mengatur cepat langkahnya menuju pintu tembus ke dapur, Sehun mengejarnya dan Luhan melempar laki-laki itu dengan vas bunga kecil di meja nomor dua.
Sehun laki-laki, walaupun mungkin terasa ngilu di dada kirinya tapi dia tidak secengeng itu untuk menangis. Secepat kilat tangannya menangkap Luhan, menolak wanita itu untuk menyembunyikan diri di balik pintu.
Kyungsoo menegang ditempatnya tanpa pergerakan sedikitpun, hanya saja matanya yang bulat merekam apapun yang terjadi. Luhan gelapan dibelakangnya dengan derak langkah seperti narapidana yang berusaha kabur, sedangkan Sehun mengahalangi jalan mereka keluar masuk. "Apa yang kau sembunyikan, Luhan ?!" tanyanya serius. Tidak seorangpun bisa lolos selain melompati meja kasir setinggi satu meter.
Jeritan Luhan dan gelengan kepalanya membuat keadaan bertambah buruk. Tubuh Sehun mungkin terluka karena Luhan melemparnya dengan apapun yang ada disana; gelas kosong, sendok, piring kecil, sebelum Kyungsoo berteriak, menangkap pisau yang hampir Luhan tujukan pada Sehun tanpa sadar. Membuangnya jauh-jauh ke tong sampah.
"Lu.. Tenanglah.. Tenang.." Hibur Kyunsoo yang malah membuat Luhan menangis histeris.
Keadaan yang kacau tidak mampu dipahami Sehun dengan baik. Kepalanya terlalu lelah mencerna apa-apa saja yang menjadikan hubungan mereka serumit ini. Sampai ketika bunyi pintu kaca depan di buka, dan mereka menemukan Chanyeol berdiri disana dengan wajah yang tidak terbaca.
Dia melirik Luhan sekali, menghembuskan napas dengan sangat berat, "Saatnya otak keras kepala milikmu dibenturkan sedikit ke lantai, Lu. Sehun berhak tau. Aku tidak akan membantumu menyembunyikan semua ini lagi," katanya dan mendapatkan satu piring kecil menghantam tepat di bahu kanannya. Luhan yang lakukan.
Sehun bergegas menyusul Chanyeol, meremas krah kemeja lelaki itu dengan mata berapi-api, merasa dipermainkan dengan dirinya dijadikan lelucon konyol untuk ditertawakan sampai terpingkal.
"Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi, KIM CHANYEOL!"
Sekali lagi dokter muda itu melirik Luhan, "Tidak, yeol. Tidak. Jangan!," mohon Luhan dengan tangisannya yang menyakitkan, berlari ke arah Chanyeol dan memohon lebih pilu lagi di lengan lelaki itu. Kepalanya bergoyang kecil membentuk sebuah gerakan penolakan yang sangat keras, tapi Chanyeol rasa dia tidak sanggup lagi melihat bagaimana dua orang ini keras kepala dengan cara mereka masing-masing. Merasa diri mereka sendiri yang paling benar padahal cuma menghasilkan kesalahpahaman yang dari hari ke hari semakin bertambah buruk.
"Luhan…"
"Tutup mulutmu, Keparat!" Luhan mengumpati Chanyeol, tapi lelaki itu mengabaikannya. Sedangkan Sehun dengan mata melototnya masih menanti kalimat Chanyeol mengatakan—
"Hamil. Anakmu."
Hanya dua kata, tapi Chanyeol tidak pernah tau bahwa imbasnya akan seluas padang pasir kering yang panas bagi Sehun. Bibirnya memucat, tangannya mulai lepas dari leher si dokter muda dan udara seolah berhenti bekerja. Sehun sesak, nyaris tanpa napas padahal dunia masih baik-baik saja.
Lelucon apa lagi ini ?
Apa semua orang sudah tau ? Apa hanya Sehun yang tidak tau ?
Mengapa orang-orang sejahat itu padanya ?
"Kenapa kau lakukan ini padaku, Lu ?" tanyanya pada Luhan yang mulai terisak, memeluk perutnya dengan sangat erat seolah Sehun adala hewan peretas yang akan menggerogoti dagingnya sedikit demi sedikit. Sehina itukah Sehun dimata Luhan ?
Memikirkannya membuat Sehun naik darah. Dia merasa dipermainkan dengan sangat keji oleh kebohongan yang diciptakan orang-orang disekitarnya. Terutama Luhan. Wanita yang dia percayai lebih dari dirinya sendiri.
Luhan dapat melihat gumpulan kekecewaan itu dimata Sehun yang berkunang, membuatnya semakin takut bahwa Sehun benar-benar tidak menginginkan janin di dalam rahimnya berkembang dengan baik. Maka Luhan mengikuti pikiran terakhirnya, jatuh merunduk untuk memeluk sebelah kaki Sehun seperti seorang budak tanpa harga diri.
"Aku tidak akan meminta pertanggungjawaban apapun. Tapi kumohon, biarkan aku dan anakku pergi," pintanya mengiba dengan linangan air mata.
Sehun mendorong tubuh Luhan menjauh dari kakinya, tangannya yang mengepal tersangkut di pinggang dan dada bidangnya turun naik untuk mempoduksi udara yang setidaknya tidak sekotor ini. Aroma busuk dimana-mana dan Sehun muak!
"Apa kau menganggapku sehina binatang ?"
"Sehun.. aku…"
"ARRGGHH!"
Kyungsoo menjerit hebat ketika Sehun melemparkan satu kursi kayu sampai patah, berserakan di sudut ruangan. Luhan bergetar ketakutan. Sebenarnya Kyungsoo ingin memeluk Luhan demi menenangkannya, tapi dia sendiri saja sibuk menenangkan jantungnya yang nyaris lepas. Ruhnya bahkan terasa melayang-layang.
Lalu satu tendangan meja lagi yang dilakukan Sehun membuat Luhan terisak keras.
"DIA BUKAN ANAKMU SENDIRI! AKU AYAHNYA! KAU TIDAK BERHAK MENYEMBUNYIKAN ANAKKU !"
"Sehun.—"
"DEMI TUHAN, LUHAN! AKU LAKI-LAKI! DAN ATAS HARGA DIRIKU, AKU AKAN MEMPERTANGGUNGJAWABKANMU!"
Permukaan meja yang halus retak oleh tinjuan Sehun. Entah mengapa Sehun merasa sangat terhina atas semua ini. Dengan menyembunyikan kehamilannya, Luhan seolah memberitahu dunia bahwa Sehun adalah lelaki brengsek yang tidak bertanggungjawab. Musang yang meninggalkan wanitanya hanya untuk mengambil kenikmatan bernama seks.
Dia ingin marah pada wanita ini, sangat ingin. Tapi ketika melihat Luhan meringkuk dibawah dengan seluruh tubuh gemetar menahan rasa takut, yang bisa Sehun lakukan adalah mengalah, ikut jatuh demi memeluk kepala mungil itu dalam dekapannya.
Tiba-tiba Sehun menyesal atas bentakan yang terlalu keras dia cercakan kepada Luhan beberapa menit lalu. Wanita cantiknya yang manja…
"Maaf, telah membentakmu," katanya penuh sesal. "Kenapa tidak memberitahuku, hm ?" Sehalus mungkin Sehun membisikkan pertanyaannya ditelinga Luhan, mendapati Luhan meremas lengan bajunya dengan kekhawatiran nyaris lumpuh.
"A-aku takut kau tidak menginginkan anak dalam kandunganku."
"Seharusnya aku adalah orang pertama yang diberitahu daripada siapapun, sehingga kita tidak perlu sejauh ini membuang emosi dan terlibat dalam perselisihan yang tiada henti. Melelahkan, Luhan. Kau tau itu."
"Maafkan aku.. maaf.."
Sehun mengusap puncak kepala Luhan sedangkan wanita itu membasahi dada bidangnya dengan tangisan.
"Minggu depan," katanya memberi jeda yang mendebarkan, "Kita menikah minggu depan."
Luhan mendongak untuk mempertanyakan kegilaan apa lagi dari bibir Sehun, tapi laki-laki itu malah tersenyum penuh arti padanya.
"Pilihan menolak, maaf, kau tidak punya sama sekali."
"Tapi, bagaimana dengan ….. Gege ?"
"Dengan cara apapun, Luhan. Jangan mengkhawatirkan itu."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
END / TuBerCulosis ?
.
.
.
.
.
.
Bacok Gue! Bacok aja! Kagak ape-ape! :D
.
Noh, masa lalu Yifan-Huangzi udah terkuak. Ada yang masih belom jelas ?
.
Bisa liat gak perbedaan penulisan di awal, ditengah dan di akhir chapter ?
Kalo yang memperhatikan pasti tau perbedaannya. Itu dibuat dalam mood yang berbeda-beda. Silahkan di komen dan temukan bagian yang mana penulisan gue paling ancur ?
.
Tau ah, hati gue lagi berbunga2 sama hunhan malah disuruh ngelanjutin FF yang penuh konflik ini, ya jadinya mana nyambung. Dari kemaren gue kebingungan buat nimbulin perasaan angst-nya, lagi pengen nulis ff hunhan yang manis-manis. Kebuktikan kalo mood gue lagi bagus buat nulis ff fluffy di FF My Rich Man. Dan buat nulis chapter ini, gue mesti baca ff hunhan yang sedih2 dulu, dan itupun masih gak berhasil. Terlalu seneng ayah ngaplod poto yang mirip bunda. Anyiiiiiiing! Gue masih percaya kok kalo itu bunda. Bundanya embul. Wkwk
.
Yang nanya kapan Luhan tau kalo kontraknya sama sehun itu emang udah di setting sehun sejak awal, gue cuma mau bilang luhan gak bakalan tau selamanya. Hahaha. Ya kalo nanti dibikin luhan tau, nyang ada konflik muncul lagi, trus kapan ff ini bakalan pension ?
.
Trus ada kesalahan sedikit di chapter kemarin ttg nama chanyeol. Di FF ini nama chanyeol tu KimChanyeol, karena dia anak dari dokter pribadi Sehun, .Seharusnya chanyeol gak masuk di FF ini, Cuma ada reader yg pengen chanyeol dimasukin, jadi yah, nyerempet2 jadi Kim chanyeol. Hihihihi. Dan karena kebiasaan nulis nama park chanyeol, jadinya chapter kemarin Kim chanyeol berubah jadi Park Chanyeol. Mianhamnida :D
.
Ternyata FF ini banyak juga yang suka. Gue bersyukur banget. Apalagi sampe dapet apresiasi dari Kakre HHI. Dapet LS. Yeyeyeyeyeyeyeyeyeyeye! Makasyih kakak :*
.
Bulan Februari tiba, dan gue menunggu janji seseorang yang katanya mau apdet bulan ini. Hayooo beb nyun, aku menunggumu. :*
.
Mendekati ending nih guys.. gue jadi takut endingnya gak sesuai harapan. Kalo semisalnya nanti ada dibagian ending misteri yang masih gak ke jawab, maklumin aja ya, mungkin gue lupa. Maklumlah, ini FF udah setahun loh belum kelar-kelar -_-. Atau ada yang mau endingnya sampe chapter ini aja ?
.
Yang belum nimbrung di FB 'HunjustforHan', ayo silahkan gabung. Kalo gak gue konfim, di inbox aja ya. ^^
Dan ada yg nanya Id Line gue, dengan sangat terpaksa gue gak bisa kasi, Line gue sering error, udah berapa lama gue gak pernah buka. Kalo mau chat, di FB aja. Di IG juga boleh yourtiffany
Pin BB, silahkan inbox di FB ^^
.
Liburan gue udah berakhir. Jadwal kuliah langsung padet dari pagi sampe sore. Jadi kalo semisal chapter depan ngaret, maafin gue gengs. Okay…
.
Sebenernya banyak banget yang mau gue omongin. Tapi gue lupa. Dan gue mau minta maaf kalo semisal selama ini ada salah-salah kata sama kalian.
AI LOP YU :* :* :*
