HUNjustforHAN

.

Present

.

.

.

.

.

Desire

.

Chapter 16

.

.

.

.

.

Orang-orang mengatakan bahwa cinta yang sesungguhnya adalah ketika seseorang tidak punya alasan mengapa dia mencintai pihak yang dimaksud, tapi bagi Sehun tidak begitu. Setiap tindakan dan hasil yang diperoleh manusia pasti berdasarkan sebuah alasan. Luhan punya banyak sekali hal yang menjadi alasan mengapa Sehun mencintainya. Dengan begitu saat masa-masa sulit datang menawarkan diri, Sehun punya sejuta alasan untuk tetap mempertahankan Luhan disisinya, bagaimanapun itu. Bayangkan jika Sehun mencintai Luhan tanpa alasan, mungkin dia juga tidak memiliki alasan untuk menyimpan proporsi cintanya pada tingkatan yang sama setiap saat pada Luhan. Ataupun yang paling buruk, bisa saja dia meninggalkan Luhan tanpa satu alasanpun yang jelas.

Itu semua menakutkan bila dipikir.

Lalu Sehun memutuskan membawa semua alasannya kesini, di atas altar panjang Yakhyeon Cathedral, sebuah gereja yang memiliki pintu masuk di atas 'bukit doa' dan terus melalui 'jalan salib'; mungkin untuk menyalib cintanya yang suci.

Beberapa kali Sehun harus membuang resahnya dengan napas kasar. Berdiri sendirian di ujung altar, ditujahi puluhan pasang mata dan denting-denting lagu percintaan yang memabukkan membuat kakinya begoyang pelan.

Sepuluh menit dihabiskan Sehun mengatur denyut nadinya, tapi Luhan sepertinya punya sedikit masalah dengan gaunnya, atau mahkotanya, ataupun make up-nya, atau apapun itu yang Sehun rasa sangat mengulur waktu. Kandung kemih Sehun mungkin akan bermasalah jika Luhan tidak segera datang.

Untuk ketiga kali sejak meletakkan kaki diatas altar ini Sehun menyentuh rahangnya, terasa ngilu. Lebam biru disana tersamarkan oleh riasan tipis yang dioleskan Lay. Lelaki gemulai itu menjerit begitu menemukan wajah calon pengantin pria lebam sana-sini. Dua hari tidak akan cukup menghilangkan lebam bekas perkelahian.

Sehun jelas ingat bagaimana pernikahan ini nyaris batal karena tentangan hebat dari Yifan. Lelaki tinggi itu mengungkit lagi tentang bagaimana dulu Sehun tanpa perasaan memperkosa Luhan tepat di depan matanya. Sehun sama sekali tidak mengelak. Apa yang dikatakan Yifan memang benar terjadi dan Sehun adalah lelaki tulen yang akan mengakui semua kesalahannya.

Tiga hari Sehun gunakan secara sia-sia mengetuk pintu hati Yifan, tapi yang terjadi malah mereka beradu tinju di pekarangan rumah setiap kali pembicaraan tidak mencapai kesepakatan. Luhan tidak sanggup berbuat banyak selama Yifan mengurungnya dalam kamar, hanya berharap jika dua orang lelaki berbeda pikiran itu mampu menemukan satu titik dimana segala keegoisan mereka bersentuhan tipis.

Keesokan harinya Sehun datang lagi seperti biasa, menunjukkan pada Yifan bahwa dia punya segudang keberanian di pundaknya. Mata hitamnya yang tajam berpijar penuh percaya diri.

"Kali ini aku datang bukan datang untuk mengemis izin darimu agar diberkati . Tanpa mengurangi rasa hormatku, Wu Yifan, dengan sangat menyesal harus kukatakan jika aku akan menikahi Luhan tiga hari lagi. Dengan ataupun tanpa persetujuanmu."

Yifan terlihat mengejek Sehun dengan senyum meremahkan diujung bibirnya. "Duapuluh tahun lebih aku menjaga Luhan. Menikahkannya dengan lelaki sepertimu, aku tidak segila itu," katanya dengan nada tegas.

Sehun menegapkan kakinya lebih baik, "Tapi sayangnya Luhan sedang mengandung anakku. Bagaimanapun kau menolaknya, darah dagingku sedang tumbuh di dalam tubuh adikmu," ujarnya yang membuat rahang Yifan mengencang. "Mungkin pikiranmu berkata bahwa kau bisa menggantikan posisiku untuk bertanggungjawab atas anak kami, tapi itu hanya sementara, Wu Yifan. Dunia tidak hanya berisi kau, aku dan Luhan saja. Bayangkan ketika anak yang dikandung Luhan lahir tanpa memiliki seorang ayah biologis, orang-orang akan mengunjing adikmu dan itu semua tidak akan membuat Luhan baik-baik saja. Dia butuh aku, terlebih anak kami. Dia membutuhkan seorang ayah."

Tangan Yifan mengepal sampai pucat, alisnya bertaut keras; menunjukkan bahwa dia membenci argumen Sehun dengan tingkatan yang sangat parah. Kemudian sebelum Yifan sempat memikirkan kata-kata balasan yang lebih tajam, Sehun berhasil mematahkan Yifan dengan serangan kalah telak.

"Sebagai laki-laki dan juga seorang yang mengerti Luhan lebih dari siapapun, seharusnya kau tau apa yang semestinya kau lakukan."

Ya. Yifan tau dengan sangat tepat. Luhan yang menangis berlutut di kakinya setiap malam adalah jawaban yang Sehun maksud.

Entahlah, Sehun kurang paham apa yang terjadi selanjutnya. Yang dapat dia tangkap keesokan hari adalah Luhan berdiri di depan pintu utama dan menghambur ke dalam pelukannya mengatakan, "Kita bisa menikah," begitu saja sampai Sehun bahkan tidak percaya dia sedang gugup menunggu pengantinnya keluar dari balik pintu gereja detik ini.

Langit seolah menjatuhkannya pada lubang keputusasaan yang berbuih bahagia. Terlalu sulit dijelaskan melalui kalimat usang.

Ravi ada di kursi depan sebelah kanan. Istrinya menggunakan dress potongan babydoll berwarna abu-abu, sedangkan Ravi duduk memangku putra sulungnya dengan pakaian warna serupa.

Banyak sekali ucapan terimakasih yang harus Sehun bungkuskan untuk Ravi. Tanpa bantuan keringat dari lelaki itu, mungkin Sehun akan menangis atas persiapan pernikahannya yang gagal.

Lalu di belakang Ravi ada wanita bermata bulat penuh –Kyungsoo—duduk menggandeng lengan lelaki kulit eksotis disisinya. Lelaki itu memiliki senyum yang sangat ramah, cocok dengan Kyungsoo yang punya lebar mata di atas rata-ratal.

Dan di kursi sebelah kiri, Sehun dapat melihat Chanyeol menawan dibalik jas hitam formal dan juga kaca mata beningnya yang menyilaukan. Dia tersenyum samar yang ditangkap saraf pusat Sehun sebagai ucapan selamat. Sehun baru saja akan membalasnya ketika dia mendengar gesekan dari pintu utama gereja yang ditarik. Kemudian cahaya mengepul menjadi sesuatu yang teramat terang.

Akhirnya, pengantin wanita…

keluar.

Luhan, bersama gaun pengantinnya yang berlabuh lemah menyentuh lantai. Ada satu jalinan berbentuk bunga tersampir disebelah bahunya, lalu pita sebesar dua jari melilit dada di bawah payudaranya menjadi area yang Luhan pertunjukkan agar masih ada dari dirinya yang bisa terlihat sedikit lebih ramping. Bawahan gaun putihnya dibiarkan mengembang dengan bahan ringan agar bayi mereka mendapat mimpi seindah pelangi.

Rambut hitam panjangnya dibuat sesederhana mungkin agar tidak menambah berat kerudung pengantin dan mahkota bunga yang terselip manis kepalanya. Yifan ada disana, menjaga irama langkah Luhan tetap bersenangdung lurus di altar.

Pengantin Dewi Kemakmuran.

Terdengar banyak sekali pertanyaan ataupun pernyataan yang terdengar mengenai pengantin wanita yang nampak sudah berisi, tapi telinga Sehun hanya mampu menangkap kata-kata yang baik saja sekarang.

Detak jantung Sehun yang sempat berpacu gila-gilaan mulai menemukan nada dan ketukan yang pas. Melihat Luhan tersaji dihadapannya sebagai seorang pengantin wanita yang cantik luar biasa, Sehun harus menguasai kesabarannya demi melanjutkan acara pemberkatan berakhir sempurna, atau jika tidak Sehun bisa saja mengangkat Luhan ke bahunya untuk dinikmati sendiri dalam ruangan tertutup.

Satu hembusan napas Sehun hela penuh penantian saat langkah Yifan berhenti tepat dihadapannya. Sehun mengulurkan tangan untuk menerima penyerahan Luhan secara simbolis yang akan dilakukan oleh Yifan. Dengan sabar Sehun menunggu hal tersebut, tapi beberapa menit kemudian yang terjadi hanyalah tatapan sengit yang mereka berdua keluarkan. Entah apa tujuannya, Sehun dan Yifan pun tidak mengerti mengapa mereka harus kekanakan seperti ini.

Desas-desus dikalangan tamu undangan mulai terdengar, Luhan adalah pihak pertama yang menyadari keadaan bisa lebih buruk jika Sehun dan Yifan tidak segera disadarkan. Jadi dia menyenggol lengan tanpa maksud menyinggung.

"Ge.." panggilnya.

Pendengaran Yifan menerima dengan baik, tapi kerutan kecewa diwajahnya berkata lain, "Luhan.. Pikirkan matang-matang sekali lagi. Kenapa harus lelaki brengsek ini ?" ujarnya pelan yang membuat Luhan terkikik.

Mata Sehun berputar jengah tapi tidak merespon Yifan berlebihan daripada itu.

Luhan meremas jemari kakaknya, "Mau menyalahkan siapa ? Hanya lelaki brengsek ini yang ingin kunikahi," katanya meraut senyum kemenangan di wajah Sehun. Yifan meleguh pasrah di atas kakinya, membiarkan Sehun mengendikkan bahu dengan arti 'bukan salahku jika adikmu menjadi gadis kasmaran'.

Yifan mencibir kesal. "Ingat, Oh Sehun. Ini adalah kesempatan terakhir. Jika sekali saja kulihat Luhan menangis karena ulahmu, kupastikan tidak akan ada kesempatan kedua di masa yang akan datang."

"Aku tidak bisa berjanji demikian. Karena otakku telah berpikir akan membuat Luhan menangis bahagia setiap hari," kata Sehun santai dan menjatuhkan satu kedipan manis pada pengantin wanitanya, "Jadi, Wu Yifan, bisakah kupinta jemari adikmu sekarang ? Kami harus mengikat janji pernikahan sebelum pendetanya tertidur karena terlalu lama menunggu dramamu selesai."

Sial!

Yifan mengumpat dengan kerelaan hati yang tulus untuk Sehun saat akhirnya dia melepaskan Luhan pada laki-laki itu. Yifan sendiri tidak tau harus mengeluarkan ekspresi seperti apa saat melihat Luhan dan Sehun berbisik-bisik manis di depan mimbar pendeta. Mereka sama sekali tidak mendengarkan ayat-ayat dari kitab yang pendeta bacakan dengan serius. Untuk apapun, katanya ini adalah awal cinta bahagia mereka.

.

"Maaf. Hanya bisa memberikanmu pernikahan yang sederhana. Seharusnya kita memiliki pernikahan yang pantas disiarkan seluruh negeri."

"Maaf juga kalau begitu."

"Untuk apa ?"

"Tidak bisa menjadi pengantin wanita yang langsing untukmu."

.

.

.

Yifan tidak tau mengapa dia harus melarikan diri kesini; bersandar pada pagar pembatas gereja yang berada disudut belakang. Hanya saja dia tidak bisa mempertahankan senyumanya lebih lama di dalam gereja.

Sehun dan Luhan telah resmi menikah. Masih jelas diingatan Yifan raut kebahagiaan membuncah disetiap pori wajah Luhan. Begitu janji pernikahan mereka selesai dilafalkan, Sehun meminta Luhan untuk menciumnya terlebih dahulu dan Luhan dengan suka rela melakukan itu walaupun pada akhirnya dia harus menyembunyikan wajahnya di dalam dada bidang Sehun karena malu.

Akan sangat tergambar gamblang di ingatan Yifan tentang hari ini. Hari dimana dia harus melepaskan adik semata wayangnya untuk hidup membina rumah tangga bersama laki-laki yang sama sekali tidak pernah dia harapkan untuk menjadi satu bagian dari mereka.

Tapi beginilah takdir, terlalu suka mempermainkan nasib seseorang.

Yifan meletakkan sikunya lemah di bulatan besi pagar pembatas, menikmati semilir angin yang menghibur hati gundahnya. Kenangan-kenangan masa lalu berimbuhan kata 'seandainya' tiba-tiba menyeruak dalam pikiran Yifan dan membuatnya semakin menyesal dalam kesedihan.

Seandainya dulu aku menikahi Huangzi…..

Dia mulai berimajinasi dengan titik berat pada masa lalu ketika seseorang menyentuh pundaknya. Yifan menoleh sekilas dan menemukan Sehun bersandar punggung belakang pada bulatan besi pagar pembatas; disampingnya.

"Aku tidak tau jika menjadi adik iparmu akan membuat suasana jadi secanggung ini," katanya memulai pembicaraan.

Yifan mendongak ke atas tanpa alasan yang jelas, "Lebih baik begitu kan daripada aku menonjok wajahmu lagi ?" napas dihidungnya terdengar kotor.

Sehun melemas, "Terimakasih," katanya kemudian dilanjutkan dengan, "Telah mempercayakan Luhan padaku."

"Sebenarnya aku tidak percaya padamu secuilpun," aku Yifan mengkerutkan dahi Sehun, "Tapi apa daya ketika Luhan menangis demi mencintaimu. Itu kelemahan terbaik yang kumiliki."

Kekehan tipis terselip di ujung bibir Sehun, "Menangis adalah senjata terampuh Luhan," katanya. "Dia bahkan membuatku berkeliling Seoul tengah malam hanya demi satu cup ice cream greentea."

Yifan menangguk tanpa sadar. "Dia sangat manja, dan juga cengeng. Kau harus tau itu. "

"Ya. Aku tau."

"Kuharap tidak akan pernah mendengar kata menyesal keluar dari mulutmu karena telah menikahi adikku yang punya hobi merepotkan orang lain."

"Tidak akan. Pegang janjiku."

Anggukan kecil dari kepala Yifan menjadikan keadaan semakin baik. Lagi-lagi mereka terdiam, memikirkan dalam otak masing-masing kata apa yang sebaiknya diucapkan.

"Sehun.." Yifan memulai percakapan kali ini, walaupun hanya direspon Sehun dengan wajah menoleh; setidaknya memberikan perhatian secara utuh padanya. "Bisa kau tolong Baekhyun ?"

"Baekhyun ?"

"Gadis pengganti Luhan yang kau usir dari rumahmu waktu itu."

Sehun membuka mulutnya sedikit saat dia mengingat gadis perawan mungil yang mengaku sebagai Wu Luhan kepadanya di masa awal-awal kisah ini bermulai.

Gadis perawan tumbal.

"Ayahnya sudah meninggal dan sekarang ibunya sedang sakit. Bisakah kau berikan sedikit pekerjaan untuk gadis malang itu ?"

Pikiran Sehun memilah satu persatu hal yang bahkan tidak dia pahami, tapi saat memikirkan ulang bahwa dia seharusnya melakukan sesuatu sebagai bayaran atas kelapangan hati Yifan membiarkannya menikahi Luhan, maka Sehun dengan entengnya menganggukkan kepala. "Ya, tentu," jawabnya mendapat satu helaan lega dari kakak ipar. "Dan Wu Yifan,"panggil Sehun memeriksa ponsel di dalam saku celana.

"Kenapa ?"

"Rumahmu pasti sepi setelah Luhan ikut bersamaku," katanya kalem sambil membaca sebuah pesan di ponselnya.

Satu senyuman paksa Yifan relakan, "Lebih besar efeknya daripada kata sepi," membuat kornea matanya menebal. "Maka dari itu, jangan pernah mengahalangiku bertemu dengan Luhan. Kau tau sendiri kan bagaimana rasanya ditinggalkan ?"

Sehun menangguk paham, "Kau bebas menemui Luhan, tapi tetap saja kebebasan manusia yang satu terhalang oleh kebebasan manusia lainnya. Kuharap kau mengerti sedikit tentang waktu berkunjung yang tidak diperbolehkan."

"Inilah yang membuatku berat hati mengizinkan kalian menikah. Karena saat kau menjadi suami adikku, aku kehilangan seluruh hak untuk menyuruhmu tidak menyentuh tubuhnya."

Sehun menggoyang kakinya pelan, menyukai bagaimana Yifan benar-benar kalah dari nada ucapannya. "Tapi kau tidak perlu khawatir. Aku menyiapkan hadiah agar kau lebih betah dirumah dan tidak mengganggu acara malamku dengan Luhan."

Lirikan mata penasaran Yifan lontarkan pada Sehun, "Maksudmu ?" tanyanya melihat Sehun memasukkan kembali ponsel pada saku celana.

"Sebentar lagi dia datang."

Belum sempat Yifan menyela ucapan Sehun, "Sayang.. Kau dima..na? "Luhan muncul dari pintu kecil lalu refleks menutup mulutnya menemukan Yifan dan Sehun sedang menyampir pada pagar pembatas; hanya beruda. Biasanya tidak lama lagi mereka akan berakhir dengan menghantam satu sama lain dan itu cukup membuat alarm antisipasi Luhan berdenging.a

"Gege.. Se.. hun ?"

"Kemari sayang," pengantin pria menarik penganti wanitanya mendekat.

"Apa yang….."

"Yifan, kurasa dia sudah datang."

Semuanya menaruh perhatian lebih pada mobil yang tiba-tiba memasuki halaman. Aneh saja, saat tamu yang lain masuk melalui jalan depan, mobil itu sendiri masuk lewat jalur belakang dan dengan sembarangannya menerobos halaman belakang dimana mereka sedang termangu menunggu.

"Setelah ini, kau harus merelakan Luhan sepenuhnya padaku."

Mobil berhenti tepat di hadapan bawah mereka, Luhan menggandeng lengan Sehun sedangkan Yifan sibuk mengintip siapa orang yang dimaksud oleh adik ipar brengseknya itu. Tubuh Yifan tegak sempurna ketika supir mobil keluar untuk membuka pintu tengah. Satu kaki jenjang mengawali kisah baru. Dan saat pemiliknya keluar seutuhnya…

"Ya Tuhan!" Luhan melotot dengan tangan menutup mulut, Sedangkan Yifan, nyaris roboh kebelakang menahan beban tubuhnya.

Dunia tidak boleh pongah dengan lelucon seperti ini pada manusia senaif mereka. Perasaan Yifan bukan hanya sekadar dongeng putri malang sebelum tidur, mendapatkan mimpi bahagia selamanya yang akan dirusak oleh keheningan pagi. Akan menyakitkan membangun kenyataan setelah mengayuh mimpi dengan sejuta kata 'seandainya'.

Tapi Yifan juga tidak sanggup menyanggah, bahwa jauh di lubuk hatinya, dia merindukan gadis itu. Nyata, ataupun tidak. Bukan masalah. Selama bibirnya masih bisa menggumamkan nama ….

"Zi.. Zi.."

.

.

"Sehun, D-dari mana kau mengenal Huangzi ?"

"Hari itu Chanyeol datang ke kantorku dan tanpa sengaja mengatakan bahwa dirimu pernah bertemu dengan gadis bernama Huangzi saat kita di Beijing. Aku hanya mencari tau sedikit, dan tidak pernah kusangka jika hasilnya akan sebesar ini."

.

.

.

.

Kisah Luhan dan Sehun tidak seklasik itu untuk disebut sebuah cerita cinta roman picisan dimana terdapat putri seelok angsa putih dan pangeran segagah kuda bersayap, tapi setidaknya mereka punya cara sendiri untuk mengukir jalannya setiap peristiwa. Sehun yang kuat dengan egoismenya dan Luhan yang besar dengan sifat keras kepalanya. Dua makhluk berbeda watak yang menyerah pada perasaan masing-masing.

Menikahi seorang wanita, sebelumnya itu adalah pemikiran asing yang sering Sehun tertawakan. Tapi kenyataannya sekarang dia sedang menertawakan dirinya sendiri. Menjadi seorang suami.

"Apa-apaan manusia ini ?" Sehun merutuk begitu selesai membaca sebuah pesan baru diponselnya. Dia sedang bersandar di kepala ranjang, mengenakan piyama pasangan berwarna biru muda dengan motif kekanakan sebagai hadiah pernikahan yang diberikan Ravi. Sehun sudah berpikir akan menyingkirkan benda ini sebelum Luhan tiba-tiba datang kemudian merampasnya dan memaksanya menggunakan itu di malam pertama mereka. Istrinya mengancam akan tidur terpisah jika Sehun tidak mau.

Kaki panjang Sehun berseluncur lurus saat beberapa detik lalu ponselnya yang tersampir di meja nakas berdering.

-Biarkan adikku beristirahat dengan tenang.—

Itu pesan dari Yifan. Sehun tidak tau harus bersyukur pada Tuhan ataupun mengutuk pada setan karena telah berhasil memberikannya saudara ipar seprotektif manusia kolot ini.

Hak penuh atas Luhan dan segala gairahnya sudah Sehun genggam di telapak tangan, Yifan harus mengerti dan menerima kenyataan itu; walaupun pahit.

Lalu saat Sehun berniat mengetik balasan pada Yifan, pintu kamar mandi bergeser.

Bidadari.

"Sudah selesai ?" tanyanya pada Luhan yang baru keluar dari sana dengan piyama kembar mereka, hanya saja Luhan mendapatkan bentuk lebih manis karena potongan selutut dan juga lengan dua jari yang cantik tersampir dibahunya. Sehun melupakan niatnya membalas pesan Yifan, lebih tertarik mengulurkan tangan menangkap wanita mungilnya daripada mengetik pesan umpatan 'Persetan dengan dirimu' pada Yifan.

"Kemari," katanya menarik Luhan.

"Sedikit aneh menggunakan kamar mandi milikmu," ujar wanita itu sebelum melangkahi sang suami dan berlabuh di dada bidangnya. "Seperti pindah rumah, padahal kita hanya pindah kamar. Tidak bolehkah aku tidur ke kamarku ?"

Sehun merengkuh kepala Luhan dalam lengannya, mengecup puncak kepala istrinya beberapa kali sebelum membuat satu pelukan yang menyenangkan. "Nyonya rumah ini harus tidur di kamar Utama, bukan ? Hanya perlu membiasakan diri dan aku yakin itu tidak memerlukan banyak waktu."

Luhan bermain di dada Sehun, "Kuharap begitu," katanya ringkas.

Ada jeda beberapa saat diantara mereka sementara Sehun memainkan rambut Luhan dalam jemarinya. Dan Luhan membiarkan Sehun melakukan itu walaupun sedikit risih mendapati rambutnya mulai mengusut, namun sejauh ini, itu lebih baik dari apapun.

"Membahagiakan memilikimu kembali di atas ranjangku," Sehun buka suara, "Seharusnya ada alat untuk mengukur betapa besar aku tersiksa saat tidur tanpa melihatmu. Selalu mendapatkan mimpi buruk dan tidak bisa tidur dengan baik," ujarnya seperti mengeluh. Tapi Luhan suka mendengar bagaimana kalimat Sehun terucap seperti sebuah pengakuan.

"Jangan egois. Kau pikir aku tidak ?"

Dagu Luhan ditarik keatas oleh suaminya, "Kau juga merindukanku ?" Sehun bertanya dengan wajah antusiasmenya yang menggelikan. Luhan mengangguk dua kali dan Sehun langsung menghadiahinya dengan kecupan di seluruh wajahnya bertubi-tubi. "Andaisaja kau jujur dari awal, pasti semuanya tidak akan—"

"Kumohon jangan bahas masalah itu lagi, Sayang. Kita baru menikah beberapa jam lalu, akan sangat tidak masuk akal jika di malam pertama kita harus tidur di kamar terpisah."

Sedetik kemudian, Sehun mengunci mulut, "Baiklah, Nyonya Oh," katanya membuat gerakan seperti menarik zipper celana pada bibirnya yang membuat Luhan tertawa renyah. Lalu seperti memang sudah keharusan yang disengajakan oleh Tuhan, pandangan Sehun beralih pada perut Luhan yang berisi.

Ekspresi yang Sehun timbulkan tidak terbaca, Luhan mendadak was-was ketika Sehun mulai menarik ujung piyama selututnya ke atas, "Mau apa ?" tanyanya mencegah tangan Sehun merambat lebih jauh. Tapi lelaki itu malah mengaiskan tangan Luhan, melangkas ujung piyama tidur istrinya sampai sebatas dada.

"Sudah berapa bulan usianya ?" Sehun menyentuh perut Luhan, membentuk gerakan kaku dan sangat tidak berpengalaman. Sedangkan Luhan hanya perlu mengamati.

"Masuk bulan ketiga," jawabnya membuat Sehun melongo. "Kenapa ?"

Napas kasar Sehun mendarat di pucuk kepala Luhan, "Terlalu banyak waktu yang kuhabiskan dengan percuma. Seharusnya aku lebih peka pada kondisimu," dia menyesal atas apa yang baru saja dia katakan.

"Itu bukan salahmu. Aku yang terlalu keras kepala." Kata Luhan mendapatkan gelengan dari Sehun. " Tidak berguna menyesali apa yang telah terjadi. Yang penting sekarang kita sudah menikah dan anak dalam kandunganku baik-baik saja."

"Mau makan sesuatu ?"

Alis Luhan mengkerut atas pertanyaan aneh Sehun, "Tengah malam begini ?" tanyanya dan ditanggapi Sehun dengan anggukan.

"Biasanya ibu hamil suka menyiksa suaminya berburu makanan langka tengah malam kan ?"

Ucapan Sehun barusan membuat Luhan terkekeh di tempat, "Sayangnya Chanyeol bilang kehamilanku kali ini tidak mengalami masa mengidam yang terlalu parah. Hanya sesekali saja," Luhan menepuk dada Sehun, "Tenang saja, kau akan menjadi lelaki beristri hamil paling normal diseluruh dunia," katanya dengan sangat bangga.

"Sesekali tidak masalah merepotkanku. Setidaknya biarkan aku memiliki sedikit cerita yang bisa disombongkan pada Ravi."

"Mau pamer ?"

"Ya begitulah," Sehun mengendikkan bahu, merasa tidak sabar merecoki telinga Ravi dengan cerita kemampuannya mengurus wanita dan segala masalah mengidamnya.

Ya, Sehun mungkin bisa melakukan itu sebelum dia menangis di waktu yang akan datang.

"Lu.."

"Hm ?"

Dia memasukkan Luhan dalam celah lehernya dengan tangan tetap melakukan gestur mengusap diperut sang istri, "Kau tau, selama ini aku merasa berada pada tingkat keperkasaan paling tinggi setiap kali berhasil membuat wanita mengelinjang panas di atas ranjang."

Luhan mendesis tidak suka yang membuat Sehun mencubit gemas ujung hidungnya. "Lalu ?"

"Tapi setelah berhasil menghamilimu, aku merasa beratus kali lipat lebih perkasa dari sebelumnya."

Sehun harus meringis ketika dadanya di pukul keras oleh Luhan. Wanita itu langsung mengubur dirinya dibalik selimut, bertingkah kesal walaupun Sehun jelas sangat tau jika istrinya sedang mengalau semu merah yang bersarang di pipi putihnya.

.

.

"Seharusnya kita punya waktu panas sepanjang malam. Maaf, aku tidak bisa memuaskanmu malam ini."

"Kupon malam panas telah kuhabiskan bahkan sebelum masa berlakunya dimulai. Bukan salahmu, jadi jangan pernah meminta maaf untuk itu."

"Tapi tetap saja, ini malam pertama kita."

"Mitos malam pertama ? Jangan terlalu dipikirkan. Kerena akan ada banyak malam panas yang kupersiapkan untukmu setelah ini."

.

.

.

.

Pagi pertama sebagai seorang istri diawali Luhan dengan menggeliat di atas ranjang, mengumpulkan butir-butir energinya yang terasa malas berhomogen. Jika wanita lain akan sangat rajin bangun pagi dan menjadi istri idaman di hari pertama dengan bergelut di dapur demi sepiring nasi goring pengantin baru, maka Luhan melewatkan semua itu dan terbangun dipukul delapan.

Sehun tidak berada di tempat, mungkin sedang mandi ataupun sarapan sambil membaca koran pagi dibawah. Lalu yang Luhan kerjakan hanya menggeliat malas menuruti hawa nafsunya untuk tidak beranjak kemanapun. Tapi saat dia menoleh kesamping kiri dengan rambut berantakannya, Luhan menemukan piyama tidurnya tergeletak mesra bersama bra mungil berenda di lantai. Selimut yang menggelung tubuhnya Luhan sibak, kemudian mendesah karena hanya tinggal celana dalamnya saja yang tersisa.

Kapan Sehun mempereteli semua itu ?

Mungkin lelaki di dunia ini akan menjadi makhluk satu jenis dengan tingkat seksualitas mereka yang meninggi di malam pertama. Sayangnya Sehun tidak mendapatkan malam pertama bergumul sampai pingsan dengan istrinya.

Luhan menganggap ini adalah sebuah hutang seorang istri yang harus dia lunasi beserta bunga berkali lipat suatu hari nanti.

"Pagi, Sayang."

Luhan menarik duduk tubuhnya ketika Sehun masuk dengan nampan berisi segelas susu tinggi dan semangkuk bubur. Lelaki itu egois dengan kondisi tubuh bersih dan wajah tampannya yang rapi, sedangkan Luhan masih dalam kondisi paling berantakan dan tubuh setengah telanjang.

"Pagi," jawab Luhan sambil mengumpulkan rambutnya kemudian dilabuhkan ke satu sisi dibahu. "Belum berangkat ke kantor ?"

Sehun menyimpan nampan di meja nakas sebelum merunduk demi mendapatkan kecupan singkat dari istrinya yang cantik. "Cuti sehari. Tidak sanggup meninggalkan pengantin baruku pagi ini," katanya gombal lalu berlabuh disisi ranjang.

Luhan mencebik parah, "Dan apa artinya piyamaku yang tergeletak dilantai ?" katanya menunjuk seonggok pakaian itu dengan dagu.

"Risih saja melihatmu menggunakannya. Jadi kulepas."

Alis Luhan berkerut, "Tanpa meminta izinku terlebih dulu ?"

"Untuk apa ?" Poni panjang Luhan yang berserakan dikais oleh Sehun ketempat lebih baik, "Seluruh tubuhmu sudah menjadi milikkukan ?"

"Ya.. ya.. ya.. Semua milikmu sayang," Luhan mengalah, mengalungkan lengan pada leher Sehun tanpa peduli selimutnya sudah jatuh ke pinggang. Lalu dia menyamankan diri di bahu suaminya sebelum berbisik, "Bisa gendong aku ke kamar mandi ? Perutku mual."

.

.

.

.

Luhan bisa saja menjadi kandidat ibu hamil tercantik sepanjang masa. Tingkat mengidamnya yang rendah mungkin memberikannya banyak waktu untuk mengurus dirinya sendiri, dan semua itu menyenangkan mata Sehun. Lelaki itu selalu berdecak kagum ketika pagi datang Luhan sudah melenggang anggun dengan dress ibu hamil dan juga lipstick merah muda. Berbeda dengan ibu hamil kebanyakan yang lupa pada kebersihan diri, Sehun menemukan semangat istrinya bergerumul seperti awan musim hujan untuk hal memoles wajah serta tubuhnya menjadi lebih menarik dari hari ke hari.

Apalagi sekarang ada Baekhyun. Gadis mungil itu sempat pucat pasi saat bertatapan dengan Sehun untuk kedua kalinya. Tapi seiring berjalannya waktu, dia beradaptasi dengan baik dan menjadi perawat pribadi Luhan dirumah. Menyiapkan segala sesuatu yang ibu hamil itu perlukan. Luhan merasa dia punya sahabat baru yang mengasikkan.

Tapi kegilaan ibu mengidam tidak akan pernah bisa terhindarkan. Seperti kebiasaan baru Luhan yang mengharuskan Sehun mengusap perutnya sebelum tidur, selama dan sepanjang tidur, atau Luhan akan terjaga sepanjang malam dan merisih. Terdengar hal yang sederhana, namun Sehun harus mengurut pergelangan tangannya yang kebas setiap bangun pagi. Luhan akan gelisah setiap kali tangan Sehun berhenti bergerak, dia seperti punya alarm khusus, dan rengekan gelisah Luhan membuat Sehun selalu terjaga beberapa kali dalam semalam, melanjutkan gerakan tangannya mengusap perut istrinya sampai Luhan tidur lagi.

Pernah satu malam Sehun merasa lelah bukan main dan Luhan terus merengek seperti malam-malam sebelumnya. Sehun berkata bahwa dia membutuhkan tidur yang berkualitas tanpa gangguan apapun, tapi Sehun tidak tau bahwa keinginan ibu hamil tidak dibuat-buat, itu kesungguhan yang tidak bisa disangkal seperti mengais kotoran ayam.

Sehun mendapatkan tidur tenang sesuai dengan apa yang dia harapkan. Tapi tepat dipukul tiga pagi, jemarinya bergerak-gerak mencoba menggapai perut Luhan. Lelahnya sudah berkurang dan dia rasa dia bisa memenuhi kebutuhan istri hamilnya untuk mengusap perutnya di sisa malam. Tapi yang dia temukan kemudian adalah sisi ranjang sebelah yang kosong.

Mata Sehun berpencar segar mencari keberadaan istrinya, lima detik kemudian dia mendengar suara resah dari sofa tengah dengan televisi yang menggantung di dinding kamar berbicara tanpa suara. Wanita itu terlihat memaksakan diri membuat kelopak matanya menutup tenang, tapi beberapa kali pula dia mengerang karena tidak berhasil. Lalu tak lama setelah itu, Sehun mendengar istri manjanya terisak. Perasaan bersalah menggelinding diseluruh permukaan hati Sehun.

"Tidur ke ranjang, ya ? Biar ku gendong."

Dari malam dia mengangkat Luhan kembali ke ranjang dan mengusap perutnya hingga wanita itu tertidur, Sehun berjanji tidak akan pernah mengabaikan keinginan Luhan lagi. Separah apapun rasa lelahnya, kesalahan paling buruk yang dia lakukan adalah membiarkan istrinya gelisah sepanjang malam.

Dan siang ini Luhan berulah aneh lagi. Tiba-tiba saja dia menongolkan kepalanya dibalik celah pintu ruang kantor Sehun.

"Sedang meeting penting, ya ?" tanyanya melihat Sehun tengah berhadapan dengan dua orang lain. Salah satunya adalah Ravi, Luhan sangat kenal."Biar kutunggu diluar."

Sehun berdiri dari kursinya, "Sudahkah meminta izinku untuk berpergian sendirian seperti ini ?" matanya mengisyaratkan Luhan masuk.

Dengan ringan wanita itu menutup pintu, menghampiri suaminya dengan langkah kecil yang banyak. "Yang penting aku datang dengan selamat kan ?" rambut keriting besarnya bergoyang saat dia meletakkan kotak medium dari tangannya ke atas meja lalu masuk dalam pelukan Sehun, mengirup aroma keringat suaminya yang membahagiakan tanpa peduli orang lain akan terganggu. "Keringatmu membuatku rindu setengah mati," katanya menggoda dan dihadiahi Sehun satu kecupan.

Tapi Sehun tetap tidak setuju dengan cara Luhan keluar rumah tanpa memberi kabar, "Lain kali jangan pergi tanpa seizinku. Jikapun ada hal mendesak, angka satu diponselmu masih tidak rusak kan?"

"Yang hamil itu aku, Sayang. Kenapa cerewetnya malah pindah ke pikiranmu ?"

Mulut Sehun sudah siap mencela saat Luhan menempelkan satu ciuman tidak tau malunya, tersenyum begitu riang setelah berhasil membuat basah bibir si lelaki.

Lalu suara tenggorokan Ravi menyadarkan keduanya bahwa dunia ini milik banyak orang.

Jemari putih Luhan dengan warna peach disetiap ujung jarinya melambai ke depan, "Hai Ravi!" sapanya ceria, membiarkan Ravi mencebik melihat Luhan memamerkan cincin pernikahan dijari manisnya, "Cantikkan ? Dari suamiku," dia menyombong.

Ravi terkikik bernada komedi yang khas, "Selera saya memang berkualitas tinggi. Benarkan, Yang Mulia ?"

Gigi lurus Luhan yang bersih menukik diantara senyum manisnya, "Yang Mulia? Panggilan baruku ?" raut wajahnya bahagia saat kacamata hitam Ravi bergeser sedikit demi memberikan anggukan, "Mungkin aku harus membeli beberapa rambut palsu berdandan dan juga tusuk konde naga," Luhan bersemangat.

Dahi Sehun berkerut parah, "Suamimu bukan Raja Joseon, bila boleh kuingatkan Yang Mulia," katanya meremas pinggang Luhan.

Tawa renyah Luhan terdengar beberapa detik sebelum ekspresi berganti secepat pesawat tempur, "Oh. Tunggu! Apa kau bilang ?" dia menunjuk tepat di mata Ravi, "Seleramu bagus ? Cincin…ku. Jangan katakan jika….." Sehun menarik napas dalam saat Luhan menghakiminya, "Bukan kau yang memilih cincin pernikahan kita ?!"

Sehun memekik kecil atas capit kepiting yang hingga diperutnya. Ravi memang tidak bisa diajak kerja sama. Seharusnya dia menyembunyikan masalah ini sampai akhir.

"Tapi cincinnya bagus kan?" hibur Sehun, mencubit gemas pipi istrinya yang menggembung.

"Aku mau berlian yang dua kali lipat lebih besar dari ini," ujar Luhan final." Sudah seminggu bekalangan Luhan punya ketertarikan berlebih pada berlian, padahal sebelumnya dia tidak berminat sedikitpun. Sehun harus menyiapkan uang lebih banyak mulai sekarang.

Lalu saat Luhan mengendus aroma Sehun seperti anjing lapar, dia terkejut melihat seorang pemuda (yang lain) disamping Ravi menyimpan dengan baik kalimatnya. "Apa aku telah mengabaikan seseorang sejak tadi ?" jemari telunjuk Luhan mengarah pada pemuda yang menundukkan kepala, "Siapa dia ?" bertanya entah pada siapa.

Dia menemukan bibir tipis pemuda itu memiliki nada yang indah dalam hal berbicara. "Nama saya Kim Jongdae, Y-yang Mulia," ucapnya ragu untuk menggunakan panggilan aneh itu atau tidak. "Saya junior sekretaris Ravi."

Luhan menyambut perkenalan pemuda itu dengan kekehan. Lucu saja melihat wajah Jongdae berubah rancu saat memanggilnya Yang Mulia. Itu panggilan gila yang baru saja Ravi ciptakan.

"Aku Luhan. Wu Luhan," Ucap wanita itu santai sebelum Sehun menginterupsi kata-katanya dengan suara serak, "Maksudku, Oh Luhan. Istri Oh Sehun; pria yang mencintaiku setengah mati," Luhan memperbaikinya cepat dan sedikit berlebihan.

Hidung bangir Luhan di cubit gemas oleh Sehun, menyisakan ringisan kecil dari si perempuan, "Biasanya sesuatu yang sakral akan terjadi jika kau datang tanpa pemberitahuan. Lantas, apalagi kali ini ?" Sehun punya insting yang bagus. Pujian tulus dari istrinya.

Kotak pink kecil Luhan simpan dalam tangannya, "Sedikit bermain boleh kah ?" mata rusanya yang lincah Luhan gunakan sebagai umpan. "Kurasa aku sedang mengidam sekarang," katanya mengendikkan bahu.

Keringat dingin sudah tumpah di pelipis Ravi, membuat anakan rambutnya melepet disekitar dahi. Tentu saja Ravi mengerti dan paham betul apa yang ada di dalam kotak pink kecil sialan yang dibawa Yang Mulianya itu.

Apalagi kalau bukan bermacam-macam kosmetik beserta kuasnya.

"Mengidam seperti apa ?"

Luhan tersenyum melihat Ravi pucat pasi, "Kebetulan kau punya sekretaris baru."

Refleks Ravi mendongakkan kepala, memandang takjub pada Luhan sebelum mengalihkan pandangan pada Jongdae yang berdiri tanpa tau apa salah yang telah dia perbuat dari dalam rahim sang ibu.

Mampus kau Jongdae! Batin Ravi tertawa nyaris tersengal karena Luhan menemukan mangsa lain selain dirinya. Dia pikir begitu.

Tapi..

"Karena ada Jongdae disini dan dia masih harus banyak belajar, jadi aku pinjam Ravi saja."

"APA ?"

Andai saja Jongdae tau apa arti dari situasi dihadapannya, mungkin dia bisa saja berlari ke belakang sebentar, mengambil baskom dan menyaluti mata Ravi yang nyaris jatuh.

Kotak pink horor Luhan mengambang di udara, "Ravi, dimana kita bisa mulai ?"

Tatapan memohon telah Ravi sampaikan pada Sehun dengan terang-terangan, tetapi Tuan Besarnya itu malah menenggelamkan tawa dalam kepalan tangannya, seperti merasa kebahagiaan yang sama besar dengan penderitaan yang akan Ravi terima setelah ini.

.

Satu jam cukup bagi Luhan untuk menciptakan spesies baru di bumi. Ravi telah berubah begitu anggun. Kelopak mata berwarna ungu muda dengan garis tajam eyeliner disetiap ujungnya dan juga manik-manik ke kelopak mata bawah. Pipinya yang keras ditaburkan blush on coklat menjijikkan lalu bibirnya dioles lipstick entah warna apa.

Ketika mereka selesai, Sehun nyaris terjungkal dari kursinya mendapati Ravi telah berubah bentuk menjadi makhluk prostitusi. Alisnya yang diberi warna coklat oleh Luhan berkata bahwa seumur hidup Ravi tidak mau bertemu dengan manusia seperti dirinya yang sekarang. Apa-apaan sih jenis mengidam Luhan ?

"Hargamu pasti sangat mahal jika diperjualbelikan secara online," hina Sehun sebelum hancur dalam tawanya yang menggelegar, membiarkan Ravi memberenggut parah.

"Selesai." Ceria Luhan.

Sehun bertepuk tangan heboh, "Kerja bagus, sayang. Masterpiece!" Serunya sambil menyeka air diujung mata karena terlalu senang tertawa.

Luhan meletakkan kuas di kotak pink keramatnya, "Benarkah ?" Dia melirik puas pada Sehun yang menangguk sebelum berlari liar menuju sang suami dan meraih tangannya. "Sungguh, itu bagus ?"

"Yaps. Sangat."

"Berarti, sekarang giliranmu."

"Apa ?"

Sehun melongo, sedangkan sekarang Ravilah yang tertawa sampai jungkirbalik dari temat duduknya.

.

.

.

.

"Biasanya memasuki trimester ketiga, gairah ibu hamil sedikit tidak terkendali. Seperti gadis perawan yang baru merasakan malam pertama, menginginkan lagi, lagi dan lagi. Dan lagipula, seks di trimester terakhir sedikit membantu ibu bayi dalam proses persalinan nanti. Mungkin tiga kali dalam seminggu, tapi dilakukan dengan pelan dan posisinya harus diperhatikan. Seperti pihak perempuan yang harus berada di atas agar bayi di dalam kandungan tidak terjepit."

Chanyeol harus bertanggungjawab atas ucapannya, karena setelah mendengar itu, Luhan sering sekali hinggap di dada bidang Sehun untuk mengukir garis-garis aneh lalu berkahir dengan dirinya mengangkang di atas tubuh suaminya.

Gairah gila ibu hamil.

Seperti saran, tiga kali dalam seminggu ataupun jika kelepasan maka akan lebih beberapa kali, maka Luhan akan berada di posisi atas di malam hari. Bergerak gelisah dengan tangan menekan bahu Sehun yang bersandar di kepala ranjang. Kepalanya mendongak liar saat kenikmatan terasa beterbangan disetiap sudut, membiarkan keringat jatuh tepat di celah payudara putihnya yang kencang dan sintal.

Percintaan ini mengasikkan, tapi Luhan beberapa kali kesal saat Sehun menertawakan ekspresinya yang mendesah kenikmatan seperti hendak mati.

Luhan bersumpah, jika tidak dalam masa hamil nanti Sehun menertawakan reaksi tubuhnya yang seperti ini, maka Sehun harus siap tidur pisah kamar selama seminggu. Tidak, tapi sebulan!

.

.

.

Bulan kesembilan kehamilan Luhan.

"Kemeja dan dasimu sudah kusiapkan dalam koper. Apa ada yang lain ?"

Luhan melirik ke belakang, mengamati Sehun yang tertunduk lemas di ranjang mereka.

"Ini sulit. Kurasa aku tidak bisa pergi," ujarnya sambil menggeleng frustasi.

Langkah Luhan terlihat berat, Sehun bergegas membantunya duduk di ranjang. "Meeting penting kan ?" lembut tangannya menyentuh pipi tirus Sehun, "Lagipula jadwalku melahirkan masih dua minggu. Ada Baekhyun yang menjagaku 3x24 jam selama kau berada di Jepang."

Sehun jatuh dipundak istrinya, "Korea dan Jepang itu jauh, Sayang. Bagaimana jika terjadi sesuatu padamu ? Ini adalah rentang waktu dimana aku harus siap siaga 24 jam memantau kondisimu. Mustahil aku pergi."

"Dibandingkan aku, ada ratusan kepala keluarga yang bergantung pada perusahaan. Kau harus melakukannya. Sebagai seorang ayah, dan juga pemimpin."

.

.

Itu adalah keputusan paling bodoh yang dibuat Sehun. Seharusnya dia tidak mendengarkan perkataan Luhan atau segala macam bujuk rayunya. Sehun punya insting, dan dia benar kali ini. Karena dihari ketiga keberangkatannya di Jepang, tepat tengah malam Baekhyun menghubunginya, mengabarkan jika Luhan mengalami kontraksi mendadak dan dilarikan ke ruang bersalin saat itu juga.

Tau apa yang dilakukan Sehun ?

Hanya memakai celana dan kemeja yang bahkan tidak sempat dimasukan dengan rapi, dia berlarian gila menuju bandara dan hanya berbekal dompet saja. Padahal saat itu suhu sedang turun gila-gilaan, nyaris menyentuh lima derajat celcius.

Penerbangan tengah malam. Sehun menangis di kursi loby bandara seperti orang bodoh karena harus menunggu satu jam untuk take off. Beberapa kali dia menghubungi Baekhyun dan wanita itu bilang jika Luhan masih berada diruang persalinan. Ada suara samar teriakan terdengar yang membuat Sehun meremas rambutnnya.

Demi Tuhan! Luhan sedang berjuang sendirian!

Getaran hebat ditangannya tidak terkendali, hidung mancung Sehun sudah berwarna kemerahan karena udara menghantamnya begitu parah. Tapi dia tidak merasakan apapun selain ketakutan yang mencengkram keras jantungnya.

Untuk seumur hidupnya, Sehun tidak pernah mendapati dirinya sendiri menangis begitu menyedihkan dan berantakan di muka umum.

Lalu di ujung keputusasaanya, Sehun bergegas menghampiri loket tiket dan kehilangan pikiran sebagai lelaki dewasa.

"DEMI TUHAN! TIDAK ADAKAH SATU PESAWAT YANG BISA KUSEWA SEKARANG?!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TuBerCulosis

.

.

.

.

.

.

.

.

Syalalalalalalalalala…. Tiffany tau para mesyumers kalo chapter ini emang berantakan, seberantakannya muka ayah waktu di tinggal bunda pulang ke Beijing. Trus ini juga terlalu banyak narasi yang bikin kalian semua berasa lagi baca undang-undang dasar tentang LGBT. Hahahaha

Sekarang Indonesia lagi heboh kasus LGBT, hati-hati loh fujoshi sejenis kita bakalan punah diterpa badai tsunami. Bang ipul aja udah jadi tersangka. Wkwk Eh sumpah, waktu baca berita artis berinisial SJ dijadikan tersangka kasus pencabulan, kok gue ngiranya itu Super Junior, nyata Sa*pul Jamilah. Hahahahahahahahaha

Niat awal mau bikin ini ending, tapi setelah ditulis, ternyata ide gue kepanjangan jadilah chapter endingnya gue pisah jadi dua. Chapter ini cukup berisi pernikahan ayah dan bunda, lalu chapter depan baru bagian mesyumerrss Berjaya. Kan bunda udah gak hamil lagi noh minggu depan, jadi ayah bisa tersyalurkan naluri ababilnya. *eaaaakkkk. Ayah para mesyumersss bakalan kembali di chapter depan. Mampus lah lo bun, lecet-lecet dah tu lobang. Wkwkwkwk

Sebenernya gue mau apdet ini tanggal 27 feb, tapi gak tega sama para mesyumers yg udah menuai kontroversi di TL gue. Ada yang nyumpah juga disana. Sumpahin gue coba biar jadi istrinya Sehun. /Aduh! Iya bun, ampun! Jangan lempar panic lagi bun./

Perasaan gue ato gimana ya /*eaakkk. Ternyata gue punya perasaan/ tulisan gue kok makin hancur dari waktu ke waktu. Mood gue suka kebalik /untung gak doggy style kan. Apaan dah -_-/, waktu lagi mood bagus, gue nulis desire harus bagian angstnya, sekali mood gue lagi jelek, gue harus nulis chapter desire yg manis2. Gak nyambung deh. Pantesan gue jomblo (?)

Semoga masih penasaran sama chapter depan. Disana kapel-kapel bakalan bertemu sel telur masing-masing. Hahaha

Pasti banyak yang kecewa sama chapter ini. Apalagi pertemuan yifan sama zizi yg gak banget. Tapi apa daya, banyak readers kayaknya pengen ngeskip adegan mereka berdua. Jadi gue bikin pendek gitu pertemuan mereka. Gak sepanjang jalan kenangan -_-

Okeh. Gue gak janji bakalan apdet tanggal 27 karena chapter ini udah gue apdet duluan. Jadi jangan ada yg nagih tanggal 27 yah.

AI LOP YU :* :* :*