Brother-in-law
.
A fanfiction by cbmascots
Chanbaek / Kaisoo / Hunhan
Sinar matahari di pagi yang cerah ini secerah senyum di bibir pink ceri milik Baekhyun, dengan langkah riangnya dia kembali ke rumah dan mendapati Lee ahjussi tengah menyesap kopi paginya. "pagi, ahjussi" sapanya riang. Lelaki paruh baya di hadapannya malah balik menatapnya kaget, untung saja ia tidak menyemburkan kopinya ke muka cerah Baekhyun.
"nona dari mana? Berbelanja? Kenapa tidak minta diantarkan? Nona harusnya membangunkan ahjussi' pertanyaan bertubi itu adalah balasan dari sapaan selamat pagi Baekhyun. Perempuan itu menunjukkan senyum seribu wattnya sebagai jawaban dari pertanyaan lee ahjussi. Lalu melanjutkan langkah riangnya ke pintu masuk utama rumahnya.
Baekhyun memang terbiasa seperti itu, dialah penyemangat anggota keluarga dan juga seisi rumah. Hanya dengan senyum seribu wattnya dengan mata bulan sabit dan pipi yang memerah dapat membuat situasi rumah menjadi hangat. Walaupun tak jarang dia bertengkar dengan kedua kakak laki-lakinya, tapi mungkin tanpa kehadirannya rumah akan menjadi se-sepi dulu.
Dia mirip sekali dengan ibu nya, nyonya Zhang. Mereka sama sama berkulit putih namun nyonya Zhang mempunyai kulit yang lebih pucat karena penyakitnya. Andai nyonya besarnya masih ada, mungkin mereka adalah keluarga yang sangat bahagia.
.
.
"darimana kau pengadu manja" ungkap Sehun pertama kali saat melihat sosok mungil masuk ke rumahnya. Yang dikatai pengadu manja hanya mencelos masuk ke dalam rumahnya berlalu kecil menuju sang appa. "aku sedang datang bulan" bisik Baekhyun pada sang ayah yang dibalas dengan senyuman malaikat.
"seharusnya kau bilang pada Lee ahjussi atau membangunkan ayah" jawab ayahnya sambil mencuil hidung kecil Baekhyun. "kau pergi belanja tanpa membawa dompetmu?" Sehun sang kakak kedua mengangkat benda kotak berwarna pink dengan hiasan pita biru tinggi-tinggi. Benar saja, dia lupa kalau dompetnya itu diambil oleh Sehun dua hari yang lalu. Tapi karena tidak ada apa-apa di dalam dompet itu, jadi dia tidak khawatir sama sekali.
"lalu kau belanja dengan uang siapa, sayang?" Joonmyeon mengangkat alisnya bingung. Dilihat dari belanjaannya yang dipenuhi oleh coklat dan es krim itu, pas belanjaannya tidak murah, "apa kau mencuri uang ku?" tuduh Jongin, si kakak tertua. "enak saja, aku tidak pernah mencuri uangmu, oppa~~" yang dituduh membela dirinya.
"lalu kau belanja dengan uang siapa?" tanya ayahnya sekali lagi. Tapi anehnya yang ditanya malah tertunduk malu dan mulai terlihat rona merah di pipinya. Lalu kembali berjalan riang ke lantai atas, kamarnya. Ada apa dengan si bungsu ini, batin sang ayah.
.
.
Pintu coklat perlahan berderit dan membangunkan ibunya yang sedang tertidur sambil memegang pisau yang ia gunakan untuk memotong sayuran, "astaga, ibu kenapa tidur sambil memegang pisau, itu bahaya, bu" Chanyeol perlahan mengambil pisau dari tangan ibunya dan menggantikannya dengan plastik belanjaannya.
"sudah kau beli semuanya, yeol?" tanya sang ibu lembut, Chanyeol mengangguk "aku tak mungkin kembali sebelum membeli semua kebutuhan ibu" dan bersiap ke kamarnya sebelum ibunya kembali mengeluarkan suaranya, "kembaliannya?". Pertanyaannya itu membuat Chanyeol membeku, "Chan... mana kembaliannya?" tanya sang ibu sekali lagi. "Chanyeol kau tidak sedang mengonsumsi apapun dan mencuri uang ibu kan?" ujar sang ibu curiga.
Lelaki yang masih memakai kaos polo itu berjalan mundur dan menghampiri ibunya, mendudukkan pantatnya di sofa empuknya. Dia menunjukkan senyum manja nya dan meletakkan kepalanya ke pundak ibunya yang lebih kecil daripada pundaknya. ada apa dengan bocah raksaksa ini, batin ibunya. "tidak mungkin ibu, aku kan menuruti semua perkataan ibu" bantahnya dengan nada manja dan menggesekkan rambutnya manja di leher sang ibu. "akan ku gantikan dengan membawa pacarku kemari" bisiknya lalu segera berlari ke kamarnya. Bersiap ke sekolah. Meninggalkan sang ibu dengan wajah bingungnya. Dia sudah tidak waras.
.
.
.
"KAU MEMBELIKANNYA PEMBALUT?! HUAHAHAHA" tawa Kris menggelegar yang membuat Chanyeol menutup rapat telinganya, keputusannya untuk mengatakan kejadian tadi pagi dengan harapan Kris akan memuji sikap gentleman nya itu malah SALAH BESAR. "kau tidak memujiku?" tanya Chanyeol setelah memastikan tawa Kris telah mereda. Dasar bule gila.
"untuk apa memujimu, kau kan membelikannya dengan uang ibumu" Kris langsung melahap sesuap demi sesuap bekal bawaan Chanyeol buatan ibunya yang sangat lezat itu. "oh iya, siapa nama gadis itu?" tanya Kris tiba-tiba. Melihat Chanyeol yang melebarkan mata bulatnya sejenak lalu mengangkat kedua bahunya membuat Kris percaya kalau dia pasti lupa menanyakan nama gadis yang dia katakan sangat cantik seperti titisan dewi Yunani di ceritanya.
Toyoran tangan Kris mendarat mulus pada kepala Chanyeol. "dumbass, untuk apa kau memujanya kalau kau bahkan tak tau namanya". Pihak yang ditoyor kemudian menggelengkan kepalanya dan membetulkan posisi rambutnya. "kau itu tampan, yeol. Yah walaupun aku lebih tampan darimu, tapi kuakui kau cukup tampan untuk mengencani wanita" oceh si lelaki berambut pirang, "yah minimal setipe Dahyun" lanjutnya.
Namun pihak yang sedari tadi di ceramahinya malah sibuk dengan ponselnya, bersiap menautkan salah satu earphonenya.
PLAK
Satu tepukan telak mengenai tangan Chanyeol yang kini sedang mengibaskan tangannya, "what the hell are you doing?" wajah Chanyeol memerah, bule yang satu ini memang sering bertindak seenak jidatnya yang menonjol, tapi sungguh tepukan temannya satu ini begitu sakit. "siapa suruh kau tak mendengar kata kataku, stupid" belanya.
Ditengah perdebatan kedua makhluk yang dibilang tampan itu, muncul seseorang membelah keramaian dan menghampiri dua makhluk barusan, terutama Chanyeol. "hey, Park. Bisakah kau datang ke pertemuan club photography pulang nanti? Untuk kegiatan buku tahunan sekolah angkatan atas kita" itu Minhyuk, ketua club photography yang digandrunginya, "kuharap aku bisa datang".
.
.
.
Di tengah keramaian kantin, seorang yeoja dan namja yang mempunyai ikatan sebagai adik-kakak itu tengah menikmati makan siang mereka, oh bukan mereka, lebih tepatnya hanya sang kakak yang menikmati makan siangnya. Lain halnya dengan yang lebih muda, dia tengah mengistirahatkan kepalanya di meja kantin.
"kau benar-benar tidak mau makan, Baek?" ujar sang kakak yang masih mengunyah honey butter chips kesukaan sang adik. "aku tak nafsu" jawabnya lemah. Sungguh di hari pertama menstruasinya, perut Baekhyun terasa seperti dicuci di mesin cuci, diputar terus menerus. "tapi tadi kau membeli 5 bungkus ini" ujar Sehun sambil membuang bungkus kelima jajanan favorit adiknya. "apa sangat sakit?" lanjutnya lagi, dia khawatir melihat sang adik terus memegangi perutnya, dia cukup peka dengan keadaan sang adik.
"aku hanya butuh istirahat sebentar, oppa" jelasnya sedikit merintih, kalau bisa dibilang sakit di perutnya sangat luar biasa sakit. Astaga tidak biasanya dia merasa sesakit ini di hari pertama datang bulannya. "tapi... aku ada tugas kelompok tambahan..." omongan Sehun terputus ketika Baekhyun mengangkat kepalanya, menunjukkan bibir pucatnya yang melebar karena senyum 3 jari itu. "oppa bisa pergi duluan, nanti aku kembali ke kelas sendiri saja" titah Baekhyun.
"mana bisa aku meninggalkan adikku yang sedang sakit sendirian. Aku belum cukup gila. Ayo aku antar kau ke ruang kesehatan" ujar Sehun panjang lebar, tapi bunyi pesan dari ponselnya yang sedari tadi berbunyi itu membuatnya harus berfikir dua kali. "oppa, its okay. Kau sudah ditunggu oleh teman temanmu, oppa. Cepat kembalilah" Baekhyun menepuk pundak kakak kedua nya itu halus, mencoba meyakinkan kakaknya bahwa dia tidak kenapa-napa. "telfon aku ketika sakitmu itu makin sakit ya" sedikit mengecup puncak kepala adiknya, lalu Sehun pergi meninggalkannya perlahan.
Setelah kepergian kakak keduanya, Baekhyun kembali menaruh kepalanya di meja kantin dan memegangi perutnya juga tak jarang menggigit bibir tipisnya. Sekarang kepalanya mulai pening karena posisi kepalanya sendiri, keringat dingin menetes melewati hidung mancungnya dan perlahan menutup matanya. Hingga ia mendengar seseorang memekikkan namanya.
"ASTAGA BYUN BAEKHYUN!"
.
.
.
Chanyeol berjalan dengan malas keluar kelasnya, ini adalah jam pelajaran Bahasa, dan dia mendapat hukuman dari sang guru, tidak mengikuti kelasnya selama 3 minggu. Dia sungguh bosan terus menerus duduk dikantin, dan dia terlalu tidak sudi menghabiskan waktunya di perpustakaan seperti apa yang selalu disarankan gurunya. Dia akan merasa bosan berada di taman karena dia tidak membawa kameranya hari ini, jadi pilihannya jatuh pada ruang yang berada di sampingnya. Ruang kesehatan.
Dia menyembulkan kepalanya kedalam dan melihat ruangan itu sepi, baguslah batinnya. Dia lalu mengistirahatkan tubuhnya di ranjang kedua dari pojok. Terlihat dari tirai tipis yang menjadi penghalang antar ranjang, seorang perempuan sedang tidur lelap. Chanyeol tidak terlalu memikirkan itu dan mengambil ponselnya. Niat jahilnya mengganggu Kris agar terganggu belajarnya, tapi dia malah mengingat kejadian tadi pagi. Astaga, gadis ber-coat tebal itu sungguh menggemaskan, batinnya.
"kira-kira siapa namamu, hm?" tanyanya pada dirinya sendiri dengan mata tertutup. ASTAGA CHANYEOL SUDAH MENCAPAI LEVEL KEGILAANNYA SAAT INI.
.
.
Mencapai 15 menit, kedua penghuni ruang kesehatan itu terlelap. Sampai akhirnya, penghuni paling pojok lebih dahulu terbangun dan mengangkat kepalanya. Dia sudah sembuh, berkat temannya Jongdae. Baekhyun sadar betul saat Jongdae dan tiga namja teman sekelasnya menggotong badan berisinya ke ruang kesehatan beberapa detik setelah Jongdae memekikkan namanya. Dia lalu dipaksa meminum teh hijau sebelum terlelap dan ditinggal Jongdae. Bukan, bukan karena Jongdae tak mau menemaninya. Dia tau kalau saat ini tengah berlangsung ujian sejarah. Dan teman bawelnya tadi bersikeras agar dia tetap istirahat dan ikut ujian susulan saja.
Dia menoleh ke sampingnya dan dapat menemukan sosok namja yang tengah lelap tertidur. Baekhyun tidak dapat melihat pasti wajahnya karna tirai pemisah, dan Baekhyun tak berniat sedikitpun untuk mengganggu 'tetangga'nya itu.
.
.
Mendengar suara dari sampingnya membuat Chanyeol bangun perlahan, astaga kenapa dia bisa tertidur sebelum menjaili Kris. Gadis di ranjang sampingnya seperti terkisap, dia tau dari gerak gerik badannya.
"apa aku membangunkanmu?" tanyanya pelan. Chanyeol melongo sebentar dan menjawab, "tidak, aku tidak terbangun karena mu" jawabnya seadanya sambil menggaruk tengkuknya. Suasana kembali hening, hanya Chanyeol yang sesekali terkekeh melihat Kris yang menjawab pesannya dengan sumpah serapah. Seperti menjadi hobi barunya menjahili bule kanada itu. "astaga dia bilang mau fokus pelajaran, tapi terus menjawab pesanku. Dasar bodoh" ujar Chanyeol. Tak menyangka bahwa itu membuat gadis di ranjang sampingnya yang kini tengah menyender di dinding itu menoleh.
"k-kau.. sakit apa?" ujar si tetangga membuka suara. Chanyeol kembali melongo dan mencoba berbohong, tapi jujur tubuhnya sangat bugar dan kata ibunya kalau kita berbohong mengenai keadaan tubuh kita, maka itu akan benar-benar terjadi pada kita. "a-aku.. tidak.. hm.. begini, aku tidak sakit sama sekali" jujur Chanyeol, "aku hanya... menjalankan hukuman" lanjutnya. Sangat memalukan memang, tapi dia sungguh tidak pandai berbohong sedikitpun.
"hukuman apa?" timpal sang tetangga, tak terasa kini mereka malah asik mengobrol walau terpisahkan tirai tipis. "aku tidak pernah mengumpulkan tugas Bahasaku, bukan karena aku tidak mengerjakan... tapi ada saja alasan yang membuatku dihukum oleh Song sialan itu" oh tidak Chanyeol kelepasan. Dia tidak mau dipandang buruk oleh perempuan dibalik tirainya itu. "maaf" lanjutnya buru-buru.
Hanya ada balasan 'oh' ber-volume kecil dari tetangganya. Dan suasana kembali hening, sangat hening tanpa kekehan Chanyeol. Sampai akhirnya si tetangga mendapat panggilan alam dan hendak meninggalkan ranjangnya sebelum..
"OH TIDAK" suaranya sedikit mengeras dan tercekat, "kenapa terjadi lagi, ya tuhan" lanjutnya kembali dan itu membuat Chanyeol mengangkat alisnya. Apa yang terjadi dengan tetangga itu, batinnya. "kau kenapa?" tanya Chanyeol pelan, tidak bermaksud mencampuri urusannya. "ah, im okay" tapi ekspresi dari suara tetangganya itu sangat tidak mengatakan bahwa ia tidak kenapa-napa. "are you sure?" tanya Chanyeol kembali, sebelum sang tetangga akhirnya membutuhkannya."a-ap-apakah kau... bisa membantuku?"
Chanyeol langsung bangun dari ranjangnya dan masuk ke tirai sebelahnya. Ada seorang wanita berrambut sepundak setengah membelakanginya. Dan yang membuat Chanyeol terkejut setelah pandangan mereka bertemu adalah...
"gadis ber-coat tebal.."
.
.
Kedua makhluk berbeda kelamin itu tengah sibuk di kamar mandi ruang kesehatan, dengan busa yang bergerumbul di kedua tangan mereka. Baekhyun tembus lagi, itu mungkin cukup untuk menjawab pertanyaan kalian. Dan sekarang mereka tengah berusaha menghilangkan noda darah di seprai ranjang ruang kesehatan itu. Chanyeol tersenyum sendiri melihat wajah panik Baekhyun tadi,
"aa.. kau namja di supermarket tadi ya..." sadarnya, suaranya sangat lembut dan itu membuat Chanyeol semakin gemas olehnya, ia kini sedang bersyukur pada Tuhan karena mempertemukan mereka kembali.
"tenang saja, aku akan mengganti uangmu nanti. Sekarang bisa kau bantu aku?" tanyanya dengan sangat sopan. "ada apa memangnya?" pertanyaan Chanyeol terjawab oleh arah yang Baekhyun tunjuk dari jari telunjuknya. "aku.. tembus" ujarnya sambil menunduk sedalam dalamnya.
Chanyeol yang sedikit panik melihat sekeliling sudut ruangan itu, tidak ada cctv. Dia hendak menarik gadis disampingnya, mengajaknya kabur. Tapi tangan besar itu ditahan oleh yang lebih kecil, Baekhyun menggeleng pelan, "aku tidak bisa meninggalkan ini begitu saja. Ayah akan marah jika tau aku lari dari masalah. Yah aku akui memang terdengar seperti anak kecil. Tapi itulah bagaimana adanya"
Ibuku juga, batin Chanyeol.
Sesaat kemudian dia langsung melepas sprei putih itu dari tempat sebelumnya, dan membawanya ke kamar mandi. "cepat cari sabun" ucapnya sambil membuka seragamnya, meninggalkan kaos polo berwarna hitam yang menunjukkan bentuk badannya. "sabun apa?" tanya Baekhyun kemudian.
"apapun yang bisa membuat busa" Jawabnya sebelum mengguyur bagian sprei yang terkena noda darah, tidak mungkin dia mengguyur sprei sepenuhnya karena mereka hanya punya sedikit waktu.
Baekhyun kembali dengan sabun pencuci mukanya, ia tidak mempunyai sabun apapun di dalam tasnya dan sangat mustahil untuk membeli dalam keadaan seperti ini. "ini.." tangannya yang halus kembali bertemu dengan tangan yang lebih besar. Membuat jantung yang lebih tinggi berdetak beribu kali lipat lebih cepat dari biasanya.
Begitupun Baekhyun kalau kalian mau tau.
Setelah merasa nodanya telah hilang, Chanyeol bersiap membilas sprei itu dengan mengguyurnya. Hingga cipratan air menyiprat ke baju seragam Baekhyun, "kau mengguyurku.." ucapnya memperlihatkan bajunya yang basah, dan itu hampir memberi Chanyeol jalan untuk melihat bentuk tubuh Baekhyun. "maaf.." tapi entah mengapa Baekhyun malah menyipratkan air kearah Chanyeol dan mereka berduapun sama sama basah.
Dan begitulah kejadian sekitar dua puluh menit yang lalu, dan sekarang sprei tersebut sudah terbebas dari noda darah Baekhyun dan baju mereka yang tak terlalu basah lagi. Keduanya melepas napas lega. Kini tinggal mencari tempat untuk menjemurnya, dan keadaan kembali seperti semula.
"dijemur dimana?" tanya Baekhyun pada namja di depannya yang sedang berfikir matang matang, terlihat dari garis-garis di pelipisnya. Lalu sebuah ide brilian muncul dan Chanyeol menarik kedua sudut bibirnya. "kita jemur diatap".
Sebelum melangkahkan kakinya lebar-lebar, langkahnya berhenti mendengar suara yeoja di belakangnya, "tapi... bagaimana dengan rok ku" ucap Baekhyun kembali menundukkan kepalanya dalam dalam, dia sungguh malu saat ini. Chanyeol menepuk dahinya, dia baru ingat dengan kain yang menutupi paha Baekhyun sampai lima senti diatas lutut itu.
Mengambil seragamnya lalu berjalan kearah Baekhyun, mengikatkan kedua bagian lengan seragamnya ke pinggang Baekhyun, menutupi bagian belakangnya. Dan dia sungguh berharap Baekhyun tak mendengar degupan jantungnya. "aku tidak membawa jaketku kemari, jadi... tidak apa-apa kan?" pertanyaan Chanyeol di tanggapi senyum manis Baekhyun yang dilengkapi anggukan lucu. "ayo kita ke atap!"
.
.
.
Joonmyeon kini sedang menyesap tehnya dalam dalam sambil mengamati rumah mewahnya. Hari ini dia tidak pergi bekerja dan memilih mengantar jemput ketiga anaknya. Tidak peduli dengan bertumpuk-tumpuk map yang besok pasti menyapanya. Dia sedang ingin menghabiskan waktu di rumahnya saat ini. Walaupun ini bukan weekend
Rumahnya terdiri dari dua lantai dan luasnya mencapai 16 hektar, dia mendesain sendiri tataan rumahnya agar tidak terlalu sepi dan lenggang dengan berbagai furniture. Ada lima kamar di rumah itu dan semuanya terletak di lantai dua, masing masing dari mereka mempunyai kamar sendiri dan sisanya adalah kamar tamu.
Tapi tetap saja ia merasa masih saja sepi, terlebih setelah kepergian istri kesayangannya, Zhang Yixing. Istrinya yang berdarah China dengan perawakan sangat cantik ditambah dengan lesung pipit di pipinya itu menambah rasa cintanya pada Yixing. Wanita berhati mulia yang setiap bulannya menjadi donatur di sebuah panti asuhan di daerah Hongdae itu menderita kanker mulut rahim yang menyebabkan ia tidak bisa mengandung lagi setelah melahirkan satu jagoannya, Kim Jongin.
Hal yang membuat Joonmyeon terpukul adalah, disaat Yixing dapat melewati masa kritisnya dan dia tak henti-hentinya meminta maaf padanya, karena tidak dapat mengabulkan permintaan sang suami sebelum pernikahan mereka.
"apa yang kau mau dariku setelah kita menikah nanti, sayang" tanyanya dengan mata berbinar, menunggu jawaban sang calon suami. Joonmyeon kemudian menyelipkan tangan kanannya ke kemeja yang Yixing pakai ke perutnya dan mengelusnya sayang.
"aku mau perut ini mengandung anak anak kita nantinya. Bagaimana kalau dua jagoan dan satu putri?"
Joonmyeon terkisap dan memejamkan matanya sambil memijit pelipisnya, ia menyadari kesalahannya. Kalau saja ia tidak menuntut untuk mempunyai tiga anak pasti Yixing mau melakukan terapi dan perlahan sembuh. Tapi percuma menyalahkan dirinya kalau ternyata memang sekarang Yixing sudah tiada, sudah tenang disana.
"biarkan aku menebus kesalahanku, joon" air mata terus mengalir dari mata kedua orang itu, jangan lupakan Jongin kecil yang juga menangis kencang di luar ruangan dengan imo nya. "apa kau mau melakukan satu hal untukku?" tanyanya lembut sambil terus menggenggam tangan Joonmyeon, tidak peduli dengan suntikan selang infusnya.
"tentu saja, apapun akan aku lakukan untukmu sayang" ujar Joonmyeon tak hentinya menciumi tangan sang istri, "pergilah ke panti asuhan yang biasa ku datangi di Hongdae. Disana ada gadis kecil bernama Baekhyun dan bocah lelaki bernama Sehun..." Yixing menggantungkan kalimatnya merasakan daerah di sekitar rahimnya, dia meringis pelan dan melanjutkan kata-katanya,
"adopsilah mereka, Joon. Aku pernah mengajak Jongin kesana dan dia sangat menyayangi Baekhyun dan akrab dengan Sehun. Dia.. sangat i-ingin me miliki..adik kan?" suaranya melemah, dan Joonmyeon menoleh sebentar kearah pintu, mendengar tangisan kencang Jongin di luar.
"lakukan... -untukku, Joon" dan helaan nafas terakhir itu keluar, dibarengi dengan jatuhnya tangan sang istri dari genggamannya. Bahkan disaat terakhirnya, dia masih ingin mengabulkan permintaan sang suami.
Seminggu setelah kepergian sang istri, dan setelah Jongin sudah berhenti terisak, Joonmyeon dan jagoannya satu-satunya itu pergi ke Hongdae. Mendatang panti asuhan yang dimaksud sang istri. Jongin yang biasanya akan menghambur ke anak-anak panti asuhan yang lain kini masih betah di genggaman sang ayah, "kini mau apa kesini, appa?" tanyanya lembut.
Joonmyeon mengajak Jongin duduk dan dia berlutut dihadapan jagoannya, "eomma bilang Nini sangat ingin punya adik, kan? Nini mau punya adik berapa" orang yang ditanya terdiam sebentar dan memamerkan dua jarinya, "nini ingin punya namdongsaeng untuk bermain bola bersama dan yeodongsaeng kecil untuk Nini belikan ice cream" pintanya semangat.
Sang appa tersenyum lalu mengecup pipi gembul anaknya, mereka bergegas ke ibu panti yang sedari tadi menunggui mereka. "ayo, Nini sebentar lagi mendapat adik, Nini senang?" Jongin kecil mengangguk semangat lalu berlari ke arah ibu panti.
"Hai Nini, bagaimana kabarmu, heum?" tanya perempuan dewasa saat Jongin kecil berlari kecil ke arahnya, "Nini baik agashi, Nini mau punya adik, Nini saaangaaatttt senang". Walaupun itu bukan adik kandungnya, tetap saja ia senang. Karena akhirnya appa-nya mengabulkan janji sang eomma.
"Baekhyun dan Sehun sudah menunggu anda, Tuan Kim. Silahkan urus beberapa dokumen dan bawa mereka bersama anda. Kuharap Tuan Kim dapat menjaga mereka dengan baik"
.
.
.
Angin siang ini lumayan kencang dan membuat rambut coklat Baekhyun terangkat beberapa kali, sesuai dengan persetujuan mereka. Baekhyun dan Chanyeol kini berada di atap. Keduanya duduk di pembatas ujung atap sambil menatap sprei yang sampai saat ini belum kering juga. Belum ada percakapan sedari tadi, mereka hanya mengucangkan kaki masing masing sambil Chanyeol sesekali bersiul.
Ah, akhirnya Chanyeol ingat sesuatu. Sebelum kepalanya mendapat toyoran telak dari si bule gila lagi, ia memutuskan untuk bertanya nama yeoja yang dia bilang titisan dewi Yunani. Setelah berdehem dan sukses membuat Baekhyun menengok, Chanyeol langsung tersenyum kikuk dan membuka mulutnya
"i..itu.." bodoh, rutuknya. Kenapa semua ide di otaknya seakan tak mau di keluarkan mulutnya. Baekhyun memiringkan kepalanya –yang sungguh membuat Chanyeol gemas setengah mati- menunggu Chanyeol melanjutkan perkataannya, dan ia teringat sesuatu.
Baekhyun mengeluarkan beberapa lembar won dan memberikannya pada Chanyeol, "cah.. kau tak perlu malu memintanya. Ini hakmu" ujar Baekhyun dengan bulan sabit di mata cantiknya. Dia menarik tangan Chanyeol lembut –dan Chanyeol sangat ini melompat dari atap karena lembutnya tangan Baekhyun- dan memberikan uangnya. "terimakasih telah meminjamkan aku uangmu dan membantuku mengurusi semua ini".
"ti-tidak, bukan ini... maksudku. Aku tidak berniat meminta uangku, tapi.. itu.. apasih... itu. Aku mau bertanya.. na-na.." Chanyeol menggantungkan kalimatnya dan menjambak rambutnya gemas. Ini sungguh terlalu memalukan. Tak tahan lagi melihat Baekhyun yang bertingkah semakin manis. Chanyeol mengucapkan niatnya dalam satu nafas.
"namaku Park Chanyeol dan siapa namamu." Dan itu tak sama sekali bernada seperti orang bertanya, lebih seperti rapp. Baekhyun terkekeh dan membentuk bulatan di mulutnya, namanya Park Chanyeol, batinnya. "ah.. namaku," Baekhyun melirik ke ambang pintu dan menemukan sang sahabat disana, "hei Jongdae!". Chanyeol terkisap dengan kata yang Baekhyun ucapkan barusan, "hei Jongdae?".
Yang lebih kecil lupa kalau dia sedang memperkenalkan namanya pada lelaki bernama Park Chanyeol ini, melirik ke Jongdae yang mengisyaratkannya untuk cepat. Baekhyun mengangguk dan menoleh ke Chanyeol lagi,
"ani~ namaku Baekhyun. Byun Baekhyun.."
Chanyeol benar benar merasa kalau kupingnya berdenging, dia bahkan tak mendengar izin pamit Baekhyun setelah mengetahui namanya. Teringat kembali percakapannya dengan Kris bedebah sialan itu semalam.
"lagi lagi karena Baekhyun".
"Baekhyun? Who the hell is he or she?'
"she is princess in our school. Omfg you dont know her?"
"beralihlah dari dunia kacamu, yeol. Kalau saja kau melihat dia. Kau juga pasti akan terpesona,.."
"but you look goddamn suit with her"
'KUHARAP AKU DAN DIA MEMANG COCOK. TERIMAKASI WU YIFAN BEDEBAH SIALAN KESAYANGANKU' jerit Chanyeol dalam hatinya dan menatap tangannya yang sudah tiga kali bersentuhan dengan Baekhyun hari ini.
"Byun Baekhyun.
Byun Baekhyun.
Byun Baekhyun.
Byun Baekhyun."
.
.
to be continue
HAPPY NEW YEAR 2016 GUYS~~
HAPPIEST NEW YEAR BUAT CB, KS, SAMA CM SHIPPER. CIE DAPET MOMENT CIE~~
Buat yang kemarin minta di panjangin sama dibanyakin moment~ udah aku coba ya. walaupun gatau kalian suka apa engga. heheh
[!] DIKARENAKAN LIBUR YANG AKAN USAI, AKU COBA BIKIN KEPUTUSAN, YAITU:
FF AKAN DIPUBLISH SEMINGGU SEKALI.
KARENA INI UDAH SEMESTER 2 DAN KAYAKNYA AKU BANYAK PRAKTEK NANTINYA.
JADI AKU BAKAL NGETIK JUMAT/SABTU DAN NGEPUBLISH MINGGU (itupun masih diusahakan ya)
SEMOGA KALIAN NGERTIIN AKU YA
last but not least
Review pls~
