Brother-in-law
.
A fanfiction by cbmascots
Chanbaek / Kaisoo / Hunhan
.
.
"kau bersama siapa tadi, huh?" tanya Jongdae setibanya mereka di kantin, Baekhyun kembali menunjukkan senyum manis yang setiap hari harus diterima Jongdae. Ia yakin bahwa sekarang dia adalah pengidap diabetes tingkat akhir karena sahabat imut yang lucu nan manisnya itu.
"Park Chanyeol" ujar Baekhyun sehabis mengemut permen susu strawberry-nya, itu sungguh menggemaskan.
"kau tak mencoba berselingkuh dariku kan Byun?" ujar Jongdae bercanda. Tapi sepertinya itu dianggap serius oleh Baekhyun, terbukti karena ia sekarang tengah tersenyum malu-malu sendiri. ASTAGA APA INILAH BAEKHYUN YANG SEDANG KASMARAN?.
"oh, ayolah. Chanyeol cukup tampan untuk mendapatkan bogeman telak dari kedua oppa mu itu Byun" raut muka Baekhyun langsung berubah mendengar pernyataan Jongdae barusan. Walaupun itu memang benar, tapi bagaimanapun juga Baekhyun adalah Baekhyun yang menyayangi kedua oppanya dan juga kesayangan kedua oppanya. "Jongdae~~" rengek Baekhyun pada lelaki di depannya ini.
Sedikit penjelasan mengenai kedekatan Baekhyun dan Jongdae.
Mengapa Jongdae (mungkin atau bisa jadi) satu-satunya manusia dengan gender laki-laki selain keluarga Baekhyun yang sangat dekat dengan putri kecil keluarga Kim? Mengapa Jongdae tidak pernah mendapat bogeman atau hal-hal yang menyebabkan cedera ringan ketika bersama Baekhyun?
Itu semua karena Jongdae adalah teman kecil Baekhyun, jauh sebelum Baekhyun diadopsi oleh Kim Joonmyeon dari panti asuhan. Bukan berarti Jongdae adalah salah satu anak panti asuhan. Rumah nenek Jongdae berada di Hongdae, dan mereka sering main bersama sebelum Baekhyun dan Sehun pindah ke Seoul. Sehun sudah mengenal Jongdae karena dia dekat dengan Baekhyun.
Dan setelah menjalankan uji tes keamanan (?) telah Jongdae alami saat mereka berdua dipertemukan kembali di high school ini. Dan dikabarkan juga Jongdae lebih suka yeoja dewasa ketimbang kekanakan seperti Baekhyun dan kedua oppanya percaya akan itu.
Jongdae resmi dinobatkan sebagai penjaga Baekhyun ketika jam pelajaran di sekolah berlangsung (karena Sehun tidak bisa menjaga saat itu). Dan jangan ditanyakan lagi, banyak sekali namja di sekolah mereka, baik itu sunbae atau satu angkatan atau juga hobae yang iri sekali dengan pria bersurai hitam itu.
.
.
Kris memandangi teman satunya ini takjub?, ani, tercengang?, ani heran?. Sejak kembali dari atap dan masuk ke kelasnya tanpa memakai seragam dan mendapatkan tatapan memuja dari kaum wanita disekitarnya, Chanyeol tak kunjung menghilangkan senyum tiga jarinya. Dia lebih terlihat seperti orang gila dari pada orang bahagia. Kris bersumpah untuk itu.
"hey Park Chanyeol idiot yang sayangnya tampan, what the hell is wrong with you?" ujar Kris jengah sambil menepuk nepukkan tangannya sayang. Oh god, dia tidak punya teman lagi kalau Chanyeol gila nanti. "Park Chanyeol jangan gila dulu sebelum pesta kelulusan kita, keparat bodoh"
Kris menendang meja Chanyeol dan berbalik ke mejanya. Dia sudah pasrah kalau nantinya temannya itu gila. "Kris..." gumam Chanyeol—tanpa menghilangkan senyum tiga jarinya tentu- merasa namanya dipanggil, Kris memutar lagi tubuhnya, tak mendapatkan perbedaan yang signifikan mengenai kondisi Chanyeol saat ini dan beberapa detik yang lalu.
"aku bertemu dengannya..." gumam Chanyeol lagi, membuat pria berperawakan Kanada itu mengerenyit, "who?" ucapnya, "dia..." Chanyeol menjawab pelan. Kemudian mata Kris melebar, tak kuasa untuk menutup mulutnya yang lebih dahulu melebar. "sepulang nanti kumohon ikutlah dengan ku ke gereja. Aku punya paman yang bisa membaptismu sebelum kau benar-benar bertemu Tuhan dan tenang disana. Ya Tuhan mengapa hidupmu sesingkat ini, Yeol"
Kris hampir menitikkan air matanya sebelum satu toyoran mendarat mulus dikepala Kris. "BEDEBAH SIALAN. KAU HARAP AKU MATI HAH?! AKU AKAN MEMASTIKAN BAHWA AKU LAH YANG DATANG KE ACARA FUNERALMU ITU BULE KANADA BODOH" suara Chanyeol menggelegar di daerah kelasnya membuatnya mendapatkan death glare dari Jeonghan, sang ketua kelas.
"me-memangnya kau bertemu siapa, huh?" tanya Kris sedikit ketakutan. Lalu dia mendapat cubitan kecil gemas di hidung mancungnya dari Chanyeol yang membuatnya jijik setengah mati. "aku bertemu dengan..
.
.
.
"Nona Baekhyun, boleh ahjumma bertanya?" tanya Shin ahjumma, pembantu di rumah Baekhyun sejak dia masih kecil. Baekhyun mengangguk kembali membaca majalahnya, dia sudah berada di rumahnya sekarang. "Park.. maksud bibi tuan Park Chanyeol itu siapanya nona?" mendengar nama itu, Baekhyun langsung menengok ke orang yang tadi berbicara.
"darimana bibi tau Park Chanyeol?" tanya Baekhyun memastikan. Sang bibi lalu mengangkat baju seragam bertangan panjang yang pastinya bukan milik Baekhyun. OH ASTAGA, DIA LUPA MENGEMBALIKAN SERAGAM CHANYEOL. BESOK DIA MAU PAKAI SERAGAM APA? Teriak Baekhyun dalam hati. "itu milik te-teman ku bi, bisakah bibi menyucinya, karena hari ini aku harus mengembalikannya" sang bibi pun mengangguk sambil terkekeh geli. Cara nona mudanya mengatakan 'teman' sangat berbeda dari biasanya.
Baekhyun buru-buru mengambil ponselnya dan mencari kontak Jongdae dan mengetikkan pesannya,
Jongdae
Jongdae-ya.
Apa kau tau alamat Chanyeol-ssi?
Ah.. maksudku Park Chanyeol.
Aih, yah! Jongdae-ya. Aku sedang tidak bercanda.
Baekhyun gemas sendiri pesannya tidak dibalas oleh sang teman. Padahal dia baru mengirimkannya beberapa detik yang lalu. Lihatlah bagaimana si putri kecil yang sedang memikirkan pengeran giantnya.
.
.
Suasana di ruang tengah kini semakin memanas saat nyonya Park terus menerus menuduh anak laki-lakinya berbuat sesuatu di sekolahnya, seperti bolos sekolah, tidak mengikuti pelajaran (itu dipastikan benar) dan mengonsumsi obat-obatan berbahaya. Astaga, membayangkannya saja Nyonya Park sudah lemas. Dan itu semua dikarenakan Baekhyun yang lupa mengembalikan seragamnya, atau Chanyeol yang sengaja lupa memintanya. "akhir-akhir ini ibu selalu menaruh curiga padamu, yeol. Kenapa dengan dirimu?" tanya sang noona, Park Yoora. "aku baik-baik saja noona, ayolah" elak Chanyeol. Sungguh apa keluarganya ini tidak mau Chanyeol mempunyai pacar?
"kau jelas tidak baik saja, yeol. Jika kau tak mau ceritakan pada ibu. Ceritalah pada noona" Yoora masih mencoba agar sang adik menceritakan apa yang terjadi padanya, "aku sudah bilang aku tidak apa-apa. DAN KUMOHON JANGAN MEMAKSAKAN SESUATU PADAKU" nadanya meninggi, lalu pria dengan tinggi menjulang itu berjalan lebar-lebar ke kamarnya. Menutupnya kasar.
Sebenarnya Yoora juga tidak mengerti kenapa ibunya terus mengatakan kalau Chanyeol berubah, Yoora berani bersumpah kalau tidak ada yang berubah dari diri raksaksa itu. Hanya rambutnya saja yang bertambah panjang beberapa senti. Untuk kelakuan pun, selama ini belum ada surat panggilan dari sekolah. Menandakan bocah besar itu tidak apa-apa. Lantas siapa yang salah sebenarnya... ibunya atau adiknya?
.
.
Baekhyun berjalan kikuk, melangkah pelan lalu mendudukkan pantatnya di samping ayahnya yang tengah menonton bola dengan Jongin. "appa..." panggil yang termuda pada yang tertua, dan yang dipanggil akhirnya menoleh setelah beberapa saat. "apa sayang?" tanya ayahnya sambil membawa kepala anaknya ke pundak sang ayah dan mengusaknya sayang.
"maukah ayah mengantarku?" tanya Baekhyun pelan, takut jawaban 'shireo' lah yang keluar dari mulut ayahnya. Alis Joonmyeon bertaut, tak biasanya Baekhyun pergi malam hari begini. "kemana?" jawab sang ayah singkat, dan ternyata si kakak tertua pun ikut tertarik dengan ajakan Baekhyun pada ayahnya. Dia kira yeodongsaeng nya itu alergi angin malam. "te-temanku.." lirih Baekhyun.
Ayahnya mengerti, kalau mau main kerumah Jongdae biasanya dia minta diantar Sehun. Tapi kenapa dia minta diantar ayahnya? "biasanya kau lebih memilih Sehun saat minta diantar kerumah Jongdae" ujar ayahnya sedikit merajuk. Baekhyun yang kaget langsung terkekeh geli, "ani~~ bukan Jongdae" elaknya.
"kau punya teman baru, Baek?!" kedua insan yang sedang mengobrol itu buru-buru menatap kearah suara. Ternyata selama ini oppanya menguping. Tak lama-lama memikirkan itu Baekhyun lalu mengangguk. "untuk apa menemuinya malam-malam begini, Baek?" tanya sang ayah lagi, kemudian Baekhyun menceritakan semuanya yang ia alami hari ini. Mulai dari hampir pingsan di kantin, sampai disusuli Jongdae di atap. Tapi dia tetap menyebut Chanyeol sebagai 'temanku'. Takut-takut Jongin yang notabenenya jurusan IT langsung melacak keberadaan Chanyeol.
.
.
Mendengar ketukan dari luar pintu membuat nyonya Park terburu-buru ke arah pintu yang diketuk, seraya mendengus menatap Yoora yang tak kunjung membukakan pintunya pada sang tamu dimalam hari. Begitu membuka pintunya alangkah terkejutnya nyonya Park melihat seorang gadis dengan dress dengan paduan warna kuning dan pink selutut dihadapannya. "annyeong haseyo, eomonim" sapa gadis dihadapannya,
"ah, ya annyeong haseyo. Siapakah gerangan gadis cantik ini?" goda seorang perempuan yang tak muda lagi, Baekhyun sudah mengiranya sebagai ibu Chanyeol. Dia tersenyum malu dan memperlihatkan rona kemerahan di pipinya. Aigoo, yeppeuda.
"Byun Baekhyun imnida. Aku kesini mencari Chanyeol, eomonim" terang Baekhyun dan mendapatkan anggukan dari yang lebih tua. "tunggu sebentar ya..."ujar nyonya Park sebelum memasukkan separuh badannya kedalam rumah dan memanggil bocah raksaksanya. "PARK CHANYEOL SEORANG GADIS CANTIK MENCARIMU..." beliau menggantungkan kalimatnya dan bertanya kembali pada Baekhyun. "siapa tadi namamu, sayang?" dan pertanyaan itu mendapat jawaban halus dari yang ditanya, "Byun Baekhyun, eomonim"
"...NAMANYA BYUN BAEKHYUN, CEPAT KELUAR. GADIS CANTIK SEPERTI DIA TAK PANTAS MENUNGGU BERLAMA-LAMA" setelah selesai mengoceh nyonya Park berbalik dan tersenyum malu atas aksinya barusan. Dan tak butuh lama yang dipanggil pun keluar, lengkap dengan noona dan appa-nya. Chanyeol langsung menunjukkan senyum lebarnya saat melihat penampilan Baekhyun yang tampak begitu cantik secara natural.
"hey..." sapanya lalu menoleh kebelakang, melihat keluarganya membuat barisan vertikal dengan kepala mereka, membuat Baekhyun tak dapat menahan senyumnya. "apa kalian mau menguping?" hela Chanyeol frustasi dengan kelakuan keluarganya. Merasa terpanggil, ketiga anggota keluarga Park itu langsung menghambur masuk dan keluar lewat pintu belakang. Melihat anggota termuda keluarga mereka yang tengah berinteraksi dengan gadis yang teramat sangat cantik itu,
Tanpa basa-basi Baekhyun memberikan paper bag coklat yang sedari tadi ditentengnya. Berisi seragam Chanyeol tentunya. "aku lupa mengembalikannya tadi.. maaf," tutur Baekhyun sambil menunduk malu, rona merah itu kembali menghiasi pipi putihnya. "tidak, a-aku yang lupa memintanya tadi" bantah Chanyeol menggaruk tengkuknya malu-malu.
Kalau saja Yoora yang tidak terkikik geli karena kelakuan adiknya, mungkin saja tiga anggota keluarga Park itu dapat menguping sampai selesai. Melihat Baekhyun menahan tawanya, Chanyeol sedikit mendesah dan kembali membalik tubuhnya, "eomma, appa, noona. Aish" geram Chanyeol yang membuat tiga orang yang lebih tua darinya itu kembali masuk ke dalam rumah mereka. Memalukan saja, batinnya. "ah, Chanyeol aku pamit ya, ayahku sudah menunggu disana"
Pandangan Chanyeol jatuh pada mobil putih di depan gerbang rumahnya, dia lalu bangun dan mengantar Baekhyun menemui sang ayah –mertua- tambah Chanyeol dalam hati. "malam, ahjussi" sapa Chanyeol sopan, dibalas senyum penuh wibawa dari orang yang duduk di bangku kemudi. "malam, eum... Cheonyal?" sapa balik sang ayah –mertua- ragu. "Chanyeol, appa~~" rajuk Baekhyun yang sudah duduk di kursi sebelah sang ayah.
"oh maaf, malam Chanyeol" ulang Joonmyeon. "kami duluan ya" lalu mobil yang mereka naiki perlahan meninggalkan Chanyeol yang mengibas-ibaskan tangannya sambil tersenyum sungguh lebar. Melirik bibir pintu dan kembali menemukan tiga orang yang lebih tua darinya itu. Tersenyum mencurigai.
Chanyeol menghampiri anggota keluarganya santai sambil mengangkat alisnya. Seakan bertanya kenapa?. "aigooo, kau terlihat sangat lucu saat kikuk tadi Chanyeollie" kata sang kakak perempuannya disambut tawa kedua orang tuanya. Chanyeol berusaha menutupi rasa malunya dengan berpura-pura berekspresi kesal lalu berjalan masuk ke rumahnya meninggalkan ketiga orang itu.
"jadi itu yang kau maksud 'akan ku gantikan dengan membawa pacarku kemari'" goda sang ibu mencoba meniru suara low-bass anaknya. "dia terlalu mahal untuk disandingkan dengan 23 ribu won, yeol" lagi-lagi Chanyeol mendengar gelak tawa dari luar rumah. Tapi dia juga terkekeh sendiri. Tak menyangka bahwa ibunya akan benar-benar mendapatkan kembali uang kembaliannya. Ini bahkan terlalu cepat.
.
.
.
Pagi harinya Chanyeol bangun hampir kesiangan, ini semua akibat kedatangan Baekhyun yang mendadak membuat dia tidak bisa tidur sampai tengah malam. Yoora yang mendapatkan tugas membangunkan sang bocah raksaksa itu masih saja memamerkan senyum menyeringainya. Dan jelas-jelas Chanyeol tidak nyaman oleh itu.
"keluarlah noona aku sudah bangun" rengek Chanyeol membuat senyum sang noona semakin menjadi, "jangan mencoba mengusirku. Kau tak ingat belasan tahun yang lalu kau selalu meminta ku untuk tinggal di kamar ini" cerita Yoora membuat Chanyeol mendengus, itu sudah belasan tahun bagaimana orang itu masih mengingat saja, huh?
"tapi sekarang aku sudah be-"
"iya noona tau kau sudah besar, umurmu sudah di masa akhir remaja. Dan kau juga sudah mempunyai seorang pacar. Noona tau noona paham" potong sang noona.
"dia bukan pacarku noona" bantah yang lebih tinggi, membuat yang lebih pendek cemberut menggoda. "tapi kau sangat ingin memacarinya kan? Lakukanlah~ sebelum.. ah Baekhyun! Sebelum Baekhyun diambil orang" ujar sang noona sambil mengingat ingat nama sang gadis yang berkunjung semalam seraya membawa keluar pakaian kotor Chanyeol dan keluar dari kamar bernuansa hitam-putih itu. "dan aku bersumpah akan membantu mu mendapatkannya semampuku, Yeol" lanjut sang noona sebelum benar-benar meninggalkan sang adik.
OH TUHAN BANYAK SEKALI YANG MENDUKUNGNYA KALI INI.
.
.
Lain halnya dengan pagi di kediaman keluarga Kim. Saat Baekhyun sampai di ruang makannya dia melihat kedua kakaknya yang nampak tak nafsu makan, terbukti karena mereka hanya memotong roti asal-asalan atau hanya mengaduk aduk segelas susu di hadapan mereka. Lain dengan sang ayah yang menatap kedua kakaknya dengan senyum penuh kemenangan.
"memangnya kenapa kalau kalian ayah antarkan?" sang ayah kembali mengeluarkan suara. Sepertinya Baekhyun ketinggalan suatu percakapan hebat tadi. Si kecil itu mencoba bertanya pada Shin ahjumma tapi yang ditanya malah menaikkan kedua bahunya. "kalian takut kalau ketahuan memiliki pacar, ya?" Sehun langsung mengangkat kepalanya dari segelas susunya tadi, menatap sang ayah tidak setuju. Sedangkan Jongin tetap pada posisinya semula.
Baekhyun memilih duduk disamping Jongin ketimbang Sehun disebrangnya, menggigit rotinya dan kembali mendengar obrolan para pria. Melihat sang putri baru saja menempati tempatnya, Joonmyeon tersenyum dan mengalihkan pandangan pada sang putri satu-satunya itu. "Baekhyun hari ini kau tidak diantar kedua oppamu dulu ya"
Yang disebut namanya hampir tersedak sebelum ia berhasil menelan bulat bulat gigitan ketiga rotinya. Setelah meminum air putihnya dia kembali pada ayahnya dan bersiap menanyakan sesuatu, "ayah sudah menyuruh seseorang mengantarmu".
Bertepatan saat ayahnya menyelesaikan kalimatnya, Lee ahjussi datang dan berbisik pada Joonmyeon. Setelah mendapatkan anggukan dan bisikan balik dari ayah, Lee ahjussi kembali ke posnya sedikit berlari. "habiskan makanan kalian. Kita akan segera berangkat" ujar sang ayah bangkit dari duduknya dan memakai jas hitamnya.
Ketiga anak berjalan beriringan ke pintu depan, ini kesempatan Baekhyun untuk bertanya pada kedua oppanya. "apa yang terjadi?" pertanyaan pertama tidak mendapatkan balasan, baekhyun tetap bersikeras bertanya, "kalau tidak dengan kalian, aku berangkat sekolah naik apa?" pertanyaan kedua hanya mendapatkan gidikan bahu dari Jongin, sedangkan Sehun masih diam. "kalian berangkat sekolah naik apa?" pertanyaan Baekhyun yang ketiga mendapat jawaban kompak dari kedua oppanya, "mobil ayah".
Baekhyun berlari kecil saat ayahnya menyuruh dirinya menghampiri sang ayah. Bingung dengan keberadaan motor ninja berwarna hitam metal di depan pagarnya, lengkap dengan seseorang diatasnya yang masih memakai helm. Sehun dan Jongin berhasil menyusulnya dengan muka kecut mereka. "hei, kau kemari" panggil sang ayah pada pengendara motor itu. Sang pengendara membuka helm nya dan berjalan perlahan menghampiri keluarga tersebut.
Baekhyun resmi membulatkan matanya melihat siapa yang berjalan kearahnya, PARK. CHAN. YEOL itu adalah dia. Dengan sopannya dia membungkuk dan menunjukkan senyum andalannya. "senang berjumpa denganmu lagi, Chanyeol" yang disebut namanya hanya mengangguk dan terus memperlihatkan senyum andalannya.
"jadi, pagi ini tiba-tiba ada masalah dengan kendaraan kedua oppa Baekhyun..." jelas Joonmyeon pada Chanyeol, tapi Baekhyunlah yang menganggukan kepalanya. "jadi bisakah kau mengantarkan Baekhyun kesekolah?" lanjut sang ayah –mertua- Baekhyun. Chanyeol sungguh ingin berteriak dan berlompat kegirangan kalau saja tidak ada siapa-siapa sekarang. Astaga apa yang dia mimpikan semalam sehingga dapat mengantarkan sang putri idaman ke sekolahnya. "bagaimana? Bisa kan?" yang lebih tua meminta kepastian.
Chanyeol mengangguk dan menahan senyumnya agar tetap menampilkan senyum berwibawa, bukan senyum kegirangan. Dia dapat melihat wajah kesal dari kedua oppa Baekhyun dan tatapan tidak percaya Baekhyun pada ayahnya. "Baekhyun, berangkat lah sekarang. Chanyeol jaga kepercayaanku baik-baik ya. Dan kalian berdua masuk ke mobil sekarang." Perintah Joonmyeon yang langsung dituruti semua orang yang diperintahinya.
"jangan membawa motor terlalu kencang dan membuat Baekhyun memelukmu" peringatan Sehun membuat Chanyeol bergidik ngeri, kenapa kedua kakak Baekhyun mempunyai tatapan seperti vampire? Sangat berbeda dengan Baekhyun yang mempunyai tatapan selembut kapas.
Chanyeol pun menaiki motor ninjanya, memakai helmnya dan memberi satu helm lagi pada Baekhyun dengan mencoba setenang mungkin. Baekhyun sedikit ragu saat ingin menaiki motor Chanyeol. Hari ini hari rabu dan harusnya dia naik mobil karena seragam hari rabu mempunyai rok hanya sampai setengah pahanya.
"hari ini harusnya aku yang mengantar Baekhyun, appa. Lihat dia memakai rok hanya setengah paha. Dia terbiasa naik mobil pada hari rabu" protes itu dilayangkan oleh Jongin. Melihat sang ayah menyuruhnya diam dengan tangan dibibirnya, "kita lihat apa reaksi Chanyeol" itulah jawaban dari sang ayah atas protes anaknya.
Benar saja, melihat Baekhyun yang terus menatapi roknya sambil menimbang-nimbang posisi yang bagus agar paha mulusnya tak terlalu terekspos. Chanyeol langsung membuka jaket yang ia kenakan dan memberinya pada Baekhyun. "tutupi dengan ini, agar kau tidak kedinginan" ujarnya dari balik helm. Dan mendapatkan senyuman dari dua pihak, Baekhyun dan seseorang di dalam mobil, Joonmyeon.
.
.
Hari ini menjadi hari yang paling membosankan bagi Sehun. Pertama, karena ia melihat sang adik yang selama ini dijaga dengan sangat baik olehnya dan hyungnya. Kedua, karena larangan sang ayah yang ditunjukan pada dia dan hyungnya untuk melarang siapapun yang teman Baekhyun yang mau menemuinya. Dan ketiga, dia harus melewatkan waktu istirahat pertamanya yang berharga karena tes matematika dadakan.
Dia mengadahkan kepalanya menatap langit-langit kelas, menumpukan kaki kanannya pada paha kirinya dan memejamkan matanya. Tak ada sedikitpun rasa takut di hatinya padahal sekarang sedang berlangsung pelajaran sejarah, karena yang dia tau dari teman-temannya kalau Yoon saem, guru sejarah mereka menaruh hati pada Sehun.
Betul saja, karena pernah dia tidur di kelas sejarah, tapi tak ada yang membangunkannya sama sekali sampai pelajaran selesai dan tidak mendapat teguran dari sang guru. Dan setiap tes sejarah, tidak ada nilainya yang di bawah rata-rata.
Tapi bukan setiap hari Sehun bertindak seperti ini, dia hanya tidak dalam mood baik sekarang. Bukan tentang Baekhyun dengan fans-fansnya atau keluarganya. Ini tentang tugas praktikum IPA yang baru diberikan oleh gurunya tadi. Dan juga bukan deadline yang sedang memperburuk moodnya. Tapi tentang partner kerjanya.
"untuk mempersingkat waktu sebelum saya meninggalkan sekolah ini. Kali ini praktikum diadakan gabungan. Dan kelas kalian digabung dengan kelas 12-2, kelas sebelah. Bukan untuk menjadi mak comblang atau apa, bapak ingin kalian berpasangan dengan lawan jenis masing-masing. Satu kelompok terdiri dari dua orang. Dan deadline yang bapak berikan tiga minggu. Bapak rasa itu saja. Selamat pagi"
Ucapan sang guru masih melekat diotaknya, dengan siapa dia berpasangan? Sehun tidak terlalu mengenal anak-anak angkatannya. Dia hanya mengenal kelas 12 yang mengikuti club basket putra yang pastinya diisi oleh laki-laki. Dan guru tua aneh itu mau jika pasangannya lawan jenis. Astaga dia sangat pusing sekarang.
.
.
"Jongdae, itu Sehun oppa" tunjuk Baekhyun pada sosok yang berada di paling pojok kantin, Jongdae langsung mengangguk dan meninggalkan Baekhyun yang berlari ke arah oppanya sambil menenteng plastikan berisikan honey butter chips dan binggrae milk rasa strawberry di tangan kanannya. Dia tidak pernah sekalipun berniat untuk makan di meja yang sama dengan sosok seperti vampire itu.
Baekhyun menarik kursinya di sebrang Sehun dan menaruh belanjaannya di atas meja. "oppa~, tadi tidak kekantin? Aku mencarimu kemana-mana" ujar Baekhyun sambil menusuk sedotan ke minumannya dan meminum sedikit, ia melihat sesuatu yang aneh dari oppanya yang satu ini. Hanya menopang dagunya dengan tangan dan fokus pada ponsel pintarnya.
"oppa!" pekik Baekhyun membuat Sehun terlonjak kaget melihat ke adiknya yang mem-poutkan bibir cerinya dan mengambil sebungkus honey butter chips dari kantong belanjaan Baekhyun, "oppa tidak mendengarku, kan?" Sehun memasukkan makanan ringan itu kemulutnya satu persatu, menelannya perlahan, menyedot minuman Baekhyun sampai setengah lalu bersiap menjawab, "tadi ada tes matematika mendadak".
Baekhyun menatap sang oppa prihatin sambil menarik kembali minumannya, "bagaimana ulangannya? Mudah?" tanya Baekhyun sambil mengunyah chipsnya lucu, "mudah. Kau tau kan aku pintar" yang menanyakan pertanyaan mendengus, "pintar menarik hati guru agar nilai mu bagus, maksudmu".
Sehun kembali menopang kepalanya dengan tangannya dan fokus pada ponselnya, mencari nama anak perempuan di kelas 12-2 untuk dijadikan partner praktikumnya. Memilih orang dari nama memang tidak bagus, kita tidak bisa mengetahui pribadi orang tersebut. Tapi hanya inilah yang dapat Sehun lakukan. Mengingat dia mempunyai banyak fans perempuan tetapi tidak mengetahui yang mana yang murid kelas 12-2, yang mana yang baik, yang mana yang pintar, dan yang mana yang sesuai dengan hatinya (?)
Baekhyun mengulurkan lehernya untuk melihat apa yang dilihat Sehun sampai segitu seriusnya. "untuk apa oppa mencari murid perempuan?" tanya sang adik penasaran, karena pertanyaan yang tak kunjung dijawab, diapun menarik kesimpulan sendiri, "kau sedang mencari wanita untuk dibawa kerumah ya, oppa?"
Kesimpulan itu membuat Sehun memicingkan matanya sadis, lalu membuka mulutnya, "mencari partner praktikum" jelasnya singkat. Baekhyun mengangguk kepalanya pelan lalu merebut ponsel sang kakak. mencari-cari seseorang yang sekiranya dia kenal dan membantu oppanya yang terlihat sangat kesusahan. Dan... ketemu! "Luhan unni" ucapnya mendapat tatapan bingung dari Sehun. "Luhan unni senior ku di klub musik denganku, dia sangat cantik dan aku tidak menyangka dia di kelas 12-2" terang Baekhyun sambil tersenyum menunjukkan deretan giginya melihat mata berbinar Sehun.
.
.
.
hei hei... apa kabar...
akhirnya aku publish juga chapter ini, tadinya mau tetep pada pendirian (?) buat apdet di hari Minggu. tapi karena aku gak rela biarin kalian menunggu lama (karena sebagai reader aku juga paling gasuka nunggu lama hehe) dan kangen sama review-review kalian jadilah aku apdet hari ini. Tapi kemungkinan mulai chapter depan aku bakal bener-bener apdet tiap minggu hehe.
makasih yaa yang udah review. walaupun kotak reviewnya lagi eror tapi aku udah baca semua review kalian kokk. dan buat klarifikasi aja, kalo aku ini masih duduk dibangku smk:) dan emang tugas di minggu pertama masuk udah lumayan banyak. huhu:(
Thank you so much for you all
yang udah read, follow, favorite dan terutama yang udah review.
aku belum bisa tulis semua hehe maaf,
tapi makasih banyak buat antusias kalian di ff ini.
rajin-rajin review ya biar aku tambah semangat ngetiknya (modus parah)
-bow down-
last but not least
review pls~
