Brother-in-law
.
A fanfiction by cbmascots
Chanbaek / Kaisoo / Hunhan
.
.
"lihatlah, mereka berdua terlihat sangat cocok, kan?" ujar sang appa dengan mata cerahnya menatap keluar mobil. "kalian tidak sepatutnya berbuat seperti itu kepada Baekhyun. Baekhyun bisa saja begitu dekat dengan Jongdae dan kalian mengira dia sudah sangat nyaman dengan Jongdae saja. Tidak, Baekhyun perlu memiliki banyak teman. Bukan hanya yeoja, tapi juga namja. Kalian harus melihat bagaimana tatapan Baekhyun ke Chanyeol. Itu jelas berbeda.."
"kalian berdua juga harus mendekati yeoja, appa tidak mau tau kalau kalian diam-diam menyukai Baekhyun karena dia bukan adik kandung kalian. Memang appa tidak merasakan hal itu, tapi appa sudah melarangnya dari sekarang. Dan kalau kalian sudah menemukan yeoja yang nyaman untuk kalian, seperti Baekhyun yang menemukan Chanyeol. Kalian berdua harus memperkenalkannya pada appa. Jangan mencoba untuk menyembunyikan mereka!"
"dan sekarang kalian boleh turun, Lee Ahjussi dan Kim Ahjussi sudah membawakan motor dan mobil kalian dibelakang. Jangan kira appa akan benar-benar memanjakan kalian, kedua jagoan appa dengan mengantarkan kalian ke sekolah. Untuk apa appa membelikan kalian motor dan mobil kalau begitu"
Kata-kata sang appa terus mengiang-ngiang di fikiran Jongin, kepalanya ia tenggelamkan pada lipatan tangannya di meja. Banyak sekali pikiran di otaknya hari ini. Hal itu membuatnya tidak mendengar suara dari yeoja yang sedari tadi memanggil namanya bahkan sudah duduk di sebrangnya.
"Kim Jongin!" panggilnya lebih keras dan akhirnya yang di panggil mengangkat kepalanya. Menunjukkan wajah yang penuh dengan pikirannya, "Soo-ya. Apa kau sudah lama duduk disitu?" tanya Jongin panik melihat Kyungsoo yang tadinya merengut kini sudah menunjukkan wajah prihatinnya. "ada apa dengan wajahmu, Kai?" tanyanya menggenggam tangan Jongin, menyalurkan kehangatan disana.
Jongin yang terlalu polos atau karena banyak beban di pikirannya yang membuat ia menjadi anak yang polos, karena ia sedang meraba-raba wajahnya dengan tangan yang lolos dari kehangatan Kyungso, "i think... there's nothing here" jawabnya perlahan membuat Kyungsoo terbahak. Apa yang terjadi dengan kekasihnya ini. Dia terlihat sangat lucu.
Ya. Mereka memang berpacaran saat ini, lebih tepatnya 6 bulan yang lalu. Saat acara pensi di kampus mereka, dan Jongin dengan romantis nya membuatkan cincin dari bunga matahari dan mencium keningnya sambil mengucapkan kata yang biasa orang sebutkan saat menyatakan perasaannya, kalian tau sendirilah. Kai dan Soo adalah panggilan sayang mereka masing-masing.
Dan itulah mengapa Jongin terlalu membawa perasaan saat appa berkata seperti itu tadi pagi di mobil. dia yakin hanya dia lah yang sudah mempunyai pasangan diantara mereka bertiga, Sehun masih terlalu sayang dengan PSP nya untuk mempunyai kekasih, dan Baekhyun. Untuk adik kecilnya itu, Jongin rasa kalian sudah mengetahuinya sendiri. Dan saat ini Jongin rasa sudah seharusnya Jongin memperkenalkan Kyungsoo kepada appanya sebagaimana Kyungsoo memperkenalkannya dengan kedua orang tuanya sebulan yang lalu.
"ada apa denganmu, sayang. Jangan bercanda dengan kepolosanmu, im being serious right now" ujar Kyungsoo yang sudah pindah ke samping Jongin dan memainkan jari-jari tangannya. Perlahan Jongin menarik tangannya dan merangkul Kyungsoo, membawa kepalanya ke ceruk leher Kyungsoo, menghirup wangi natural kekasihnya, juga menyesap cuping telinga Kyungsoo dengan gerakan lembut. "Kaiii... aku seriushh.." ujarnya sedikit mendesah, yang dipanggil namanya hanya tersenyum menang,
"Soo-ya. Mau kah kau datang ke rumahku malam ini? Aku akan memperkenalkanmu pada appa dan kedua adikku" tanyanya, melihat mata berbinar Kyungsoo dilengkapi senyum dari bibir hatinya membuat Jongin tidak tahan, dia langsung mempersatukan bibir mereka, menyesap belahan atas dahulu lalu belahan bawahnya dan berakhir dengan kecupan lembut dan melepaskan tautan bibir mereka. "berdandanlah yang cantik, Soo"
.
.
Baekhyun menarik narik tangan Sehun agar mengikutinya yang berlari kecil di lorong sekolahnya, mereka tengah menuju ke ruang musik sekarang. Para fans Sehun mengikuti dari belakang, tak menyangka idolanya tengah berjalan ke ruang musik sekarang.
Pintu coklat itu terbuka dan menampakkan ruang musik dengan cat putih merah yang berhiaskan tirai putih tipis menutupi jendela berwarna coklat kayu. "UNNI!" teriak Baekhyun sambil melambai ke seorang yeoja cantik yang tengah duduk di grand pianonya. Yang dipanggil tersenyum melihat kedatangan junior yang paling dekat dengannya.
Meninggalkan piano yang tadinya ingin ia mainkan lalu berjalan kearah Baekhyun yang berlari girang ke arahnya, meninggalkan seseorang yang masih berdiri di bibir pintu. "ada apa, heum?" tanyanya lembut, sama seperti Baekhyun kalau bersama Chanyeol. Yang ditanya menolehkan kepalanya kepada orang yang daritadi ia seret dengan susah payah, memanyunkan bibirnya dan menyuruh sang kakak mendekat. "unni kelas 12-2 kan?" tanya balik Baekhyun membuat Luhan mengangguk bingung.
Yang termuda pun mendorong-dorong kakaknya, ini bukan urusannya sama sekali jadi Sehun lah yang harus bicara langsung pada Luhan. Itulah teori Byun Baekhyun. "hey jangan mendorongku" bisik Sehun pada sang adik risih, "cepatlah katakan apa tujuan kita kemari, oppa. Lihatlah Luhan unni terlihat bingung, aigoo menggemaskan sekali" bisik sang adik balik. Setelah perdebatan singkat itu Sehun menegakkan tubuhnya dan melihat Luhan yang sedang tersenyum padanya, menggaruk pelipisnya sebentar lalu mulai membuka suara,
"hem, ja-jadi begini..." pembukaan Sehun terdengar lucu di telinga Luhan, tapi sebisa mungkin ia menahan tawanya dan mendengarkan perkataan orang tinggi di hadapannya saat ini. Sedikit menoleh ke belakang Sehun, dia bisa melihat banyak yeoja yang berjejer di jendela tampak mencibirnya, apalagi kalau dia terlihat mengetawakan Sehun. Bisa di bully habis-habisan.
"praktikum IPA gabungan" lanjut Sehun setelah beberapa detik berpikir, membuat Luhan sedikit kaget dan langsung menjatuhkan tatapannya tepat di mata Sehun. Membuat keduanya membuang muka kearah berlawanan, oh tidak ini tidak bagus untuk permulaan. "langsung pada pointnya saja ya, aku ingin kau berpasangan padaku untuk praktikum IPA gabungan kali ini. Untuk keputusanmu nantinya, katakan saja pada Baekhyun. aku permisi"
Selepas berbicara itu Sehun langsung keluar dari ruang musik, berjalan tergesa ke toilet. Meninggalkan si adik dengan mata membulatnya, dan Luhan dengan wajah bersalah. Dia menyalahkan dirinya sendiri karena menahan tawanya tadi. Pasti dia marah karena itu. "maafkan Sehun oppa ya unni" ujar Baekhyun menundukkan kepalanya sedih, Luhan mengelus pundak sang junior, "aku yang salah, Baekkie. Dan untuk tawaran oppamu itu akan ku pertimbangkan dulu, ya"
Baekhyun mengangkat kepalanya, menatap Luhan dalam, "kumohon terimalah ajakannya, aku yakin Sehun oppa hanya sedang gugup. Dia sangat frustasi memilih pratner praktikumnya. Dan kurasa unni cocok untuk menjadi partner praktikumnya" jelas Baekhyun sambil membela oppanya. Padahal iya yakan Sehun yang salah, si kecil pun rela jika harus dijadikan pelampiasan kekesalan Luhan pada oppa-nya. Asal Luhan mau menjadi partner Sehun.
.
.
"CHANYEOL!"
"ASTAGA PARK CHANYEOL!"
"YA TUHAN. PARK CHANYEOL KEPARAT GILA YANG BODOH"
"ASTAGA. PARK CHANYEOL. BAEKHYUN DATANG!"
Chanyeol langsung mengalihkan kepalanya ke arah pintu, dia hanya mendapati Hyowon, teman sekelasnya yang gendut dan berkacamata bulat. Yang merasa dibohongi langsung memicing tajam pada sang pembohong, kalian tau siapa lah. KRIS.
Bukan tanpa alasan Kris berteriak heboh seperti tadi, bahkan sampai berbohong. Betapa prihatinnya dia saat melihat temannya yang sepertinya sudah benar benar tidak waras. Seperti yang dia dengar tadi pagi sebelum Chanyeol masuk ke kelas, para siswa siswi di kelasnya sibuk membicarakan raksasa idiot temannya yang satu ini 'katanya' mengantar BYUN BAEKHYUN SANG PRIMADONA KELAS SEBELAS, JUGA KAKAK BAHKAN ADIK KELAS. YANG MEMPUNYAI KAKAK BERVISUAL SEPERTI VAMPIRE ke sekolah.
Sampai saat ini Kris selaku juru bicara Chanyeol (yang sedari tadi tak menjawab pertanyaan dari siswa siswi sekelasnya dan sibuk memeluk jaket dan tersenyum seperti orang gila) belum bisa mengkonfirmasi berita panas tersebut. Jangankan menjawab pertanyaan, bahkan si idiot yang sayangnya teman dekatnya ini tidak sekalipun mengangkat pantat nya dari kursi dari pagi sampai siang.
"kau masih tidak mau bicara denganku, idiot?" tanya Kris, dia mulai lengah sekarang. Jujur saja dia menyesal karena Chanyeol mengenal Baekhyun dan membuat kewarasannya jadi hilang begini. Tapi jika dipikir-pikir secara masak, Chanyeol termasuk pria –gila- paling beruntung karena bisa memboncengi Baekhyun dengan motor ninjanya. Padahal biasanya hari rabu Baekhyun akan diantar kakak tertuanya dengan mobil.
Yeah, Kris akui dia dulu salah satu dari penggemar Baekhyun juga. Salah satu orang yang suka menaruh hadiahnya di loker sang primadona. Salah satu orang yang suka memandangi Baekhyun dari kejauhan. Tapi yang pasti dia bukan salah satu orang yang pipinya sudah di PERAWANI (read; mendapat bogeman) oleh kedua kakak ganas Baekhyun.
Ngomong-ngomong tentang bogeman, Kris langsung menjalarkan tangannya ke wajah Chanyeol. Mencari luka atau memar di wajah mulusnya, sekian lama tangannya menjelajahi wajah Chanyeol, yang di jelajahi menepis tangan besar itu. "ARE YOU FUCKING HOMO OR WHAT? DUMBASS LITTLE SHIT" ujar Chanyeol yang penuh makian itu, dia langsung berlagak membersihkan wajahnya yang tadi dijelajahi Kris.
"PARK CHANYEOL, TENANGLAH. SEKARANG DUDUKLAH DAN DENGAR PENJELASANKU" ucapan Kris membuat satu kelas menatap mereka berdua, terlihat seperti Chanyeol habis diperkosa oleh pria tua hidung belang yaitu Kris. Dan itu sungguh menjijikkan. "apa yang baru saja kau lakukan bule gila" tanya Chanyeol setelah mendudulkkan kembali bokongnya ke kursi. "aku hanya merasa... aneh denganmu"
"kau dapat mengantarkan Baekhyun ke sekolah tanpa cacat setitik pun diwajahmu. Atau.. bagaimana dengan badanmu?" Kris baru saja ingin meraba perut berotot Chanyeol sebelum kedua tangannya ditepis kencang oleh Chanyeol sendiri. "kau benar-benar sudah homo, ya? Astaga kalau benar menjauhlah dariku" ujar Chanyeol menyilangkan kedua tangannya di badan atasnya dan itu mendapatkan tatapan penuh ke-jijik-an oleh sang lawan main. "kau yang harusnya menjauh dari ku karena sudah gila, bodoh".
Chanyeol kemudian menceritakan semua pada Kris yang kalian juga tidak mengetahuinya, kan? Dari seorang ahjussi yang datang ke rumahnya pagi-pagi tepat saat keluarganya sedang berkumpul di ruang makan. Ahjussi itu datang membawa berita yang sempat menggemparkan keluarga Park pagi itu.
"JADI MAKSUDMU KAU DI SURUH SENDIRI OLEH APHHHS" mulut Kris langsung di tutup rapat oleh Chanyeol dengan tangannya –tentu saja- saat dia mendapat nomor tak dikenal menelponnya. Dengan satu tangan yang tidak digunakan untuk menyekap mulut sang bule bodoh, tangannya meletakkan ponselnya di kuping peri kebanggan Chanyeol.
"yeoboseyo.."
"..."
"ya benar, ini Park Chanyeol"
"..."
"maaf, tuan Kim siapa?"
"... ... ..."
"..."
"...!"
"i-iya, aku dapat mendengar ahjussi. Ba-baik. Ba-iklah, kkk-kalau begitu. Siang ahjussi. Semoga hari anda menyenangkan"
.
.
.
Kalau kalian penasaran siapa yang menelpon Chanyeol tadi, apa yang mereka bicarakan, dan apa yang terjadi dengan Chanyeol beginilah ceritanya,
"Kris" itu kata pertama Chanyeol setelah menerima telfon dan membuat wajah Chanyeol memucat seketika, dilengkapi dengan keringat dingin yang menghiasi kening kebanggannya. Kris menatap Chanyeol lekat-lekat, takut sang teman jatuh pingsan tiba tiba, "kenapa?"
"dia... menelfonku" dari nada perkataan Chanyeol, Kris langsung menitikkan air matanya. Memeluk sahabatnya semenjak kelas sepuluh itu dan tak henti-hentinya menuturkan kata 'maaf kalau aku mempunya salah padamu, idiotku. Aku benar-benar minta maaf'. "dan aku tidak bisa meminta tolong pamanku membaptis mu karena hari ini dia akan ke Roma, maaf aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk terakhir kalinya padamu, idiot kesayanganku"
Melihat perilaku Kris teman sekelas Chanyeol pun langsung mengerubungi mereka, Chanyeol masih tetap diam dengan wajah pucatnya dan Kris sudah tak kuasa menahan tangisnya. Teman sekelas mereka berdua cukup peka untuk keadaan ini. Bahkan beberapa yeoja yang pastinya fans Chanyeol sudah menitikkan air mata mereka, tidak menyangka akan secepat ini. Dan kelaspun dikerubungi perasaan haru.
"kau harus sabar Kris. Kami semua juga temanmu, kita harus ikhlas melepaskan Chanyeol. Agar dia bisa tenang nantinya di hadapan Tuhan" ujar sang ketua kelas, Jeonghan. Mendengar itu mata Chanyeol langsung membulat, seakan baru mendapatkan nyawanya kembali. Ia segera melepas pelukan Kris kasar, "apa yang kau lakukan, bodoh. Kenapa kalian ada disini?" tanya Chanyeol kebingungan. Apalagi melihat beberapa dari mereka menangis haru.
"Park Chanyeol sadarlah, kami semua juga tau kau masih mau hidup lebih lama. Tapi itu sudah menjadi takdirmu. Aku minta maaf sering menyontek pekerjaan rumahmu. Ku harap kau tenang nantinya" kali ini ucapan Seungyoon membuat suasana kelas makin haru.
"kalian ini apa-apaan. Apa kalian juga menyumpahiku untuk mati seperti bule gila ini? Astaga. Kris lihat semua perbuatanmu" Chanyeol menatap ke mata lembab Kris tajam, sesekali ia sesenggukan karena menangis lumayan lama tadi. "me-memangnya kau dapat telfon dari siapa, yeollie?" pertanyaan yang keluar dari mulut Dahyun (salah satu fansnya) seakan menjadi sebuah penentuan.
Apakah mereka akan tetap dalam suasana haru. Atau malah menghajar Kris habis-habisan karena menyebarkan berita yang TERAMAT salah.
"itu telfon dari appa Baekhyun, dia menyuruhku mengantar pulang Baekhyun karena Sehun ada kelas tambahan hari ini. Itulah mengapa muka ku memucat. Karena aku terlalu senang dapat mengantar jemput Baekhyun hari ini. Memang apa yang ada di pikiranmu, bule bodoh?" terang Chanyeol lengkap dengan pertanyaan yang membuat seisi kelas menatap Kris dengan tatapan menyala-nyala.
"kku-ku kira. Kau mendapat telfon dari malaikat maut, yeol" ucapnya masih sesenggukan
"MATI KAU BULE KANADA SIALAN!"
.
.
Baekhyun bersenandung pelan seraya menghentak-hentakkan kakinya di depan lapangan parkir sekolahnya, seingatnya tadi ia melihat kelas kakaknya sudah kosong. Jadi si gadis memilih langsung menunggu di lapangan parkir sambil sesekali mengecek ponsel, takut jika sang kakak balik mencarinya.
Lelah menunggu selama hampir 10 menit disana, dia kemudian memainkan jari lentiknya lihai diatas layar ponselnya.
Baekhyun
Oppa kau dimana?
Aku sudah menunggu sepuluh menit disini
Setelah meletakkan kembali ponsel berwarna pink pucat itu, seseorang menghentikan motor dihadapannya. Pertama-tama Baekhyun tidak mengira kalau motor ninja berwarna hitam metal itu mempunyai urusan dengannya, sampai sang pengendara melepaskan helm nya lalu menunjukkan senyum penuh karismanya. "maaf membuatmu menunggu lama, B-Baekhyun.."
Yang disebutkan namanya menoleh mendapati namja berperawakan terlampau tinggi di depannya, sedikit mengontrol wajahnya agar tidak terlalu terkejut (karena kata oppanya wajahnya sangat jelek kalau sedang terkejut). "kau.. berbicara padaku?" ujar yang lebih kecil menunjuk ke hidungnya sendiri. Setelah mendapat anggukan dia kembali melempar pertanyaan, "ada perlu apa?" ujar yang paling cantik berusaha mengontrol suaranya agar tak terlihat begitu gugup, padahal dia sedang meremas kedua tangannya di belakang badannya saat ini.
"appa-mu menyuruhku mengantarkan kau pulang tadi" tepat saat Chanyeol mengutarakan maksudnya, ponsel Baekhyun bergetar di kantongnya. Dia mengambil ponsel itu dan membuka pesan balasan dari sang kakak
Sehun Oppa
Aku ada kelas tambahan hari ini, Baek. Dan sepertinya Kai tak bisa menjemputmu.
Appa bilang dia sudah menyuruh orang mengantarkanmu.
Tunggulah sebentar, jadilah orang yang sabar.
Lagi-lagi naik motor dengan rok sependek ini, batin Baekhyun sedikit meringis. Dia merasa sudah terlalu menyusahkan Chanyeol padahal mereka baru beberapa kali bertemu. Baekhyun mengankat kepalanya setelah mendengar suara deheman Chanyeol yang tengah mengulurkan helm padanya. Benda tersebut diterima dengan berat hati kemudian dia bersiap menaiki motor itu, sebelum Chanyeol mengeluarkan jaket dari tasnya.
"tidak perlu, Chan. Aku akan membiasakan diri" ujar sang penumpang dibelakangnya, kepalanya menoleh dengan tatapan –kau yakin?- dan itu mendapat anggukan dari penumpangnya. Setelah itu terdengar suara mesin motor Chanyeol berbunyi dan meninggalkan sekolah dengan kecepatan standar. Dia menjaga baik kata-kata vampire (r; Sehun) tadi pagi.
Di tengah perjalanan Baekhyun mendekatkan kepalanya ke bahu Chanyeol membuat yang punya bahu menegang, "apa kau sibuk, Chan?" tanya Baekhyun sedikit mengeraskan suaranya, sepuluh detik pertama hanya terdengar suara degupan jantung Chanyeol kecil, lalu yang ditanya perlahan menjawab seperlunya, "kurasa tidak"
Baekhyun mengangkat kedua ujung bibir pink cerinya, "bisa kita mampir ke kedai es krim?".
OH
TUHAN
Ini memang tidak terdengar sama sekali seperti ajakan dating, Chanyeol mengakui itu. Tapi jantungnya tak henti-hentinya bergemuruh dan untuk menenangkannya harus membuat Baekhyun menunggu selama kurang lebih lima belas detik. "baiklah, kau.. hanya perlu.. tunjukan arahnya" jawab Chanyeol terbata.
.
.
Jongin memarkirkan mobilnya di garasi sebelum menginjakkan kedua kakinya ke dalam rumah, dia kemudian mendorong pelan pintu yang membuat suara deritan panjang saking lamanya Jongin membuka pintu itu. Sungguh dia takjub. Saat mendapati rumah yang sangat sepi tanpa bunyi berisik tv yang biasa disetel kedua adiknya.
Tanpa mengucap salam dia langsung menerobos masuk ke dalam rumahnya. Menaik tangga dengan langkah lebarnya lalu membuka satu persatu kamar di lorong panjang sebelah kanannya. Biasanya dialah yang pulang paling terakhir diantara kedua adiknya yang memang satu sekolah. Jongin biasa pulang selang satu jam sebelum kepulangan appanya. Namun dia memang pulang lebih cepat karena tiga jam terakhirnya kosong.
Dan pastinya karena kedatangan sang kekasih nanti malam.
Satu-satunya penghuni rumah itu membalik badannya dan berlari menuju ke dapur. Melihat Shin ahjumma sedang duduk santai di meja makan selepas mengerjakan pekerjaan rumahnya. Jongin berjalan mendekat ke ahli dapurnya yang satu itu dan mendudukkan bokongnya ke kursi.
"ahjumma!" panggil Jongin riang, melihat yang dia panggil terlihat kaget dia melempar tatapan meminta maafnya. "tumben tuan sudah kembali jam segini" balas sang ahjumma setelah mengontrol detak jantungnya. "aku mau ahjumma memasak makanan yang enak untuk makan malam hari ini" pinta Jongin dan mendapat tatapan meremeh dari wanita yang lebih tua, "sudah pasti, tuan".
"untuk lima orang, oke?" tantang Jongin sambil menaik turunkankan alisnya, "siapa yang mau datang tuan?" pertanyaan itu hanya dibalas senyum malu-malu sang tuan muda, "ahjumma akan tau nanti, kalau mau ahjumma dan Lee ahjussi juga boleh ikut berkumpul" tawar sang tuan muda yang sudah meninggalkan wanita yang lebih tua sendiri. "pastikan makanannya sangat enak ahjumma~~".
.
.
Di sebuah kedai es krim yang lumayan terkenal di pinggiran kota Seoul, di sudut rungan meja paling ujung dua muda-mudi Korea tampak duduk bersebrangan dengan tatapan antusias mereka. Yang satu antusias pada es krimnya dan yang satu lagi antusias pada orang yang sedang meng-antusiasi es krimnya. Secara urutan itulah Baekhyun dan Chanyeol.
Tadinya Baekhyun bilang ia ingin mengatakan sesuatu pada Chanyeol, tapi semua itu berubah sejak datangnya es krim pesanan mereka. Menatap yang lebih kecil di sebrangnya lahap sekali menyantap es krimnya Chanyeol jadi ikutan lapar sendiri. Alhasil yang lebih tinggi mengambil sendoknya dan mencolek sedikit es krim vanila dengan topping frappucino miliknya, dan menutup matanya saat es krim itu meleleh di lidahnya. Dan dia pun sepertinya (juga) melupakan niat Baekhyun tadi.
Selesai melahap setengah dari es krim strawberry ber topping sama dengan Chanyeol, Baekhyun mendongakkan kepalanya melihat orang di sebrangnya tampak melahap es krimnya santai. Dia sebenarnya tidak lupa dengan tujuan awal mereka kemari, jadi tolong jangan salahkan es krim tak bersalahnya. "ekhem-"
Keempat mata itu bertatapan cukup lama setelah Baekhyun berdeham tadi, Chanyeol lah yang lebih dulu memutuskannya. Sungguh ia tidak mau mengalihkan matanya dari mata bening Baekhyun, tapi apa daya Jantungnya menolak. "ada apa, Baek?" suara baritone itu keluar dari bibir tebal Chanyeol.
Jika kalian kira hanya jantung Chanyeol lah yang berdegup kencang saat mereka bertatapan tadi, maka kalian salah. Si yeoja juga merasakan jantung yang dilindungi tulang rusuknya itu terus menerus berdetak seakan minta keluar, syukurlah dia lahir dengan tulang rusuk yang cukup kuat untuk menahan jantungnya. Apalagi saat telinga Baekhyun menganalisa bahwa seseorang yang barusan memanggilnya adalah pemilik mata yang barusan di tatapnya. Dia hampir lupa apa alasan atas dehemannya barusan.
"o-oh. Begini, Chan.." mulutnya terkunci lagi saat Chanyeol memotong omongannya hanya untuk membenarkan kata terakhir dari kalimat yang baru saja Baekhyun ucapkan, "Yeol, aku lebih terbiasa dengan itu"
Baekhyun hanya membuka menutup mulutnya setelah pengoreksian Chanyeol barusan, dan bersiap berbicara lagi, "o..okay, Yeol. Aku hanya ingin bertanya sedikit padamu sebenarnya. Mengenai appa, bagaimana dia bisa menyuruh, ah tidak... memintamu untuk mengantarku ke sekolah".
"juga mengantarku pulang" lanjutnya sebelum si bibir tebal menjawabnya.
Chanyeol sedikit terkejut sebenarnya, ia kira appanya sudah memberi tahunya terlebih dahulu sebelum menyuruh Chanyeol tadi siang. "appa mu menyuruhku tadi siang. Aku kira kau sudah tau" Chanyeol menahan suaranya agar tidak terdengar aneh. "Sehun oppa bilang kalau appa menyuruh seseorang menjemputku. Tapi aku kira, Lee ahjussi" tanggap Baekhyun sambil memulai kembali acara makan es krimnya.
"jadi kau tidak mau kalau aku yang menjemputmu?"
BODOH
PARK CHANYEOL BODOH
YA TUHAN
MENGAPA DIA SANGAT BODOH
Chanyeol sungguh ingin menampar mulutnya yang dengan lancarnya menyebutkan kalimat seperti tadi. setelah mengucapkan itu memang Chanyeol langsung merutuk sendiri sambil menundukkan wajahnya, sehingga tidak melihat ekspresi Baekhyun setelah mendengar pertanyaan bodohnya barusan.
"ti-tidak, bukan begitu Yeol. Bukan itu maksudku, bukan.."
"aku hanya kaget saja, karena tidak biasanya appa mempercayakanku pada namja lain selain kedua oppa ku yang, yeah.. galak. Mereka sangat galak"
Setelah itu keduanya sama sama merutukin kesalahan mereka, membuat suasana menjadi sepi. Yang satu merutuki pernyataannya yang satu merutuki pertanyaannya. Sungguh menggemaskan.
"Baekhyun.."
Suara baritone itu kembali memecahkan keheningan. Ayolah, Chanyeol terbiasa berdua dengan Kris, dia tak terbiasa dengan keheningan. Jadi salahkanlah bule Kanada bodoh yang selalu menginginkannya mati tersebut. "Baek.. aku lebih nyaman dengan itu. Selama kita seumuran" jawaban atas sahutan Chanyeol tadi.
"baiklah, sekarang bolehkah aku yang bertanya, Baek" Chanyeol masih menimbang nada saat menyebut 'Baek' di akhir kalimatnya. Takut terdangar menjijikkan oleh yeoja di sebrangnya. "boleh.." jawabnya lucu sambil mengerjap menatap ke mata Chanyeol.
CHANYEOL MENDERITA DIABETES SEKARANG.
"aku hanya bingung dengan satu hal. Nama mu Byun Baekhyun, kau yang memberi tahu ku waktu itu. Tapi nama appamu bermarga Kim. Itu yang membuat aku bingung sendiri saat menerima telfon tadi siang, aku kira siapa itu Kim Joonmyeon. Saat dia bilang kalau dia adalah appamu aku jadi bingung sendiri" tanya Chanyeol panjang lebar. Mendengar itu Baekhyun hanya tersenyum, dia sudah tidak heran mendengar pertanyaan semacam itu dari orang yang baru saja dikenalnya atau mengenalnya.
"aku dan Sehun oppa bukan anak kandung appa. Aku diadopsi ketika umurku tiga tahun. Saat itu eomma meninggal dan menyuruh appa mengadopsiku dan Sehun oppa, tapi atas permintaan eomma sebelum meninggal, dia menyuruh appa untuk tidak mengubah marga keluarga ku dan Sehun oppa, karena keluarga Byun dan keluarga Oh adalah teman dari keluarga Kim sebelum eomma dan appa kami meninggal di sebuah kecelakaan" terang Baekhyun yang menurutnya cukup membuat Chanyeol mengerti.
Setelah Chanyeol mengangguk, sesuatu bergetar di meja mereka. Itu ponsel Baekhyun. dia meraih ponselnya dan membaca pesan dari Jongin.
Jongin oppa
Baekhhyun kau dimana? Ini sudah sore.
Bisakah kau pulang sekarang?
Tanpa mengetikkan balasan, Baekhyun langsung melihat Chanyeol yang baru saja menghabiskan es krimnya. Tak terasa siang yang tadinya cukup panas sudah terganti dengan angin petang yang tenang. Baekhyun sungguh merasa nyaman dengan Chanyeol tanpa kawalan kedua oppa-nya, karena ini pertama kalinya dia keluar dengan lelaki selain kedua oppanya. Dan itu bersama Chanyeol.
"Jongin oppa menyuruhku pulang, Yeol. Bisa kita pulang sekarang?" tanya Baekhyun kepada satu satunya laki laki di hadapannya, Park Chanyeol.
"aku tidak percaya kita sama sama memiliki kakak yang selalu saja mencemaskan kita. Padahal sekarang kita sudah kelas dua SMA"
Kata 'kita' yang Chanyeol pakai membuat pipi gembul Baekhyun bersemu merah. Astaga, Chanyeol sudah membuatnya merasa sedang menjalani kencan pertamanya. Dan sekali lagi. Bersama Park Chanyeol.
.
.
.
Ketiga anggota keluarga Kim itu sampai dirumah bersamaan, sebelumnya Chanyeol sudah meminta izin untuk pulang duluan, karena tatapan Sehun yang sangat tajam. Seolah ingin memotong kedua mata Chanyeol. Tadinya Sehun ingin membahas tentang Chanyeol yang telat mengantar Baekhyun sampai ke rumah. Tapi itu ditelannya mentah mentah saat mereka masuk ke dalam rumah mereka.
Maid bertebaran dimana-mana.
Mereka memang baru di panggil oleh appa kalau keluarge mereka ingin membuat acara besar di rumah. Tapi Joonmyeon rasa hari ini dia tidak ada janji dengan siapapun untuk mengadakan acara di kediamannya, jadi siapa dalang diantara ini semua?
"ASTAGA. Kenapa kalian semua datang terlambat di hari yang sama"
Dan dalang nya muncul. Lengkap dengan celemek dan kemeja yang dihiasi terigu dan tangan yang menggenggam se karung kecil gula. Kim Jongin. Sebuah kebanggaan dapat melihatnya tampil acak-acakan. Karena dia biasanya mementingkan penampilan daripada segalanya. Ketiga orang tadi kompak menatap Jongin dari ujung rambut sampai ujung kakinya takjub.
"Jongin apa kau yang melakukan ini semua?" tanya sang appa kemudian. Dia sudah yakin kalau anak pertamanya inilah yang membuat keributan seperti ini. "apa yang akan kau lakukan?" tambahnya. Tapi Jongin hanya merentangkan tangannya seakan memamerkan apa yang baru saja di buatnya sambil tersenyum lebar. "ayah akan tau sendiri nanti"
Baekhyun memilih tidak menghiraukan kelakuan oppa nya yang aneh itu. Dia memilih berlalu ke belakang, arah dapur. Sungguh perutnya tidak cukup hanya diisi dengan es krim saja. Walaupun dia memang sudah jatuh cinta dengan es krim sejak kecil, tapi dengan nasi lah dia masih hidup sekarang. "tunggu, mau kemana kau Baek?" cegah Jongin melebarkan tangannya. Seolah melarang adiknya menyambung hidup.
"aku mau makan, oppa. Ini sudah pukul 6, dan wajar saja aku makan malam jam segini" Baekhyun baru mau mengambil langkahnya lagi setelah Jongin juga menggeser tubuhnya, kembali mencegahnya ke dapur. "andwae. Makan malam kita hari ini jam 8. Untuk menyangga perut kalian aku sudah membeli beberapa roti, jadi makanlah itu selagi menunggu dua jam lagi, oke?"
.
.
Detik perlahan tergantikan menit, dan menit perlahan tergantikan jam. Sama seperti keluarga Kim yang sudah berganti ke pakaian formal. Sepuluh menit menuju jam 8 dan Baekhyun masih saja menggerutu meminta makan malamnya. Dia tampak cantik dengan dress putih se lutut tanpa lengannya dengan wedges coklat yang mebuatnya 3 senti lebih tinggi. Sedangkan 3 lelaki lainnya memakai tuxedo putih dengan dalaman sweater turtle neck dengan warna gelap.
Mereka sudah seperti keluarga yang ingin pergi ke acara pernikahan malam ini, karena Jongin yang menyuruhnya. Sehun kira Jongin mengajak mereka menjadi partner Jongin untuk pergi ke pernikahan teman atau dosennya, tapi itu dibantah oleh suara bel pintu dari luar. Membuat Jongin berlari ke pintu utama. Sebelum membukanya dia mengatur degup jantungnya terlebih dahulu, dan menggosokkan kedua telapak tangannya. Baru dia membuka pintunya, menampakkan gadis ber dress hitam hampir sama dengan Baekhyun. namun yang satu itu berlengan pendek.
Jongin menghampiri wanita itu sopan, kedua nya tersenyum selama beberapa detik. Bagai mengagumi kecantikan dan ketampanan lawan tatap masing masing. Sebelum akhirnya Jongin menarik dagu sang gadis dan membawanya ke sebuah ciuman yang saling menyesap singkat.
YA
MEREKA BERCIUMAN
DI DEPAN KELUARGA JONGIN.
Baekhyun menjatuhkan rahangnya menatap kearah pasangan berbeda jenis kelamin itu takjub. Sedangkan kedua lelaki di hadapannya menatap mereka bingung.
Pasangan yang ditatap itu tersenyum malu-malu, Jongin menggaruk tengkuknya dan Kyungsoo –sang gadis menundukkan kepalanya. Lalu Jongin menyuruhnya masuk ke kediamannya dan berhenti di depan anggota keluarga lainnya. "ayo kita mulai makan malamnya".
.
.
Makan malam itu berlangsung lancar. Baekhyun tidak bicara sama sekali saking laparnya dia. Yang termuda hanya akan menangguk kalau dia mendengar namanya disebut oleh ayahnya. Sedangkan Jongin tampak tersenyum saja sedari tadi, sama dengan Kyungsoo. Tadinya Jongin ingin Kyungsoo duduk disampingnya, tapi karena ayahnya menyuruh kekasih Jongin itu untuk duduk disebelah Baekhyun. jadilah Sehun yang duduk di sebelahnya.
Ayah hanya mengucapkan beberapa kalimat saat makan malam. Setelah selesai makan malam, baru dia mengeluarkan perintah pertamanya. "Baekhyun, ajaklah Kyungsoo unni ke kamarmu, ada yang mau ayah katakan pada kedua oppamu". Yang disebut namanya terlebih dulu mengangguk lalu menarik tangan Kyungsoo untuk mengikutinya ke lantai dua. Dimana semua kamar terletak. "ayo unni!"
.
.
Sesampainya di kamar Baekhyun sepuluh menit yang lalu, Kyungsoo nampak tak bisa tenang sama sekali. Kenapa ayah Jongin menyuruhnya ke kamar adiknya sedangkan Kyungsoo yakin Jongin sedang di sidang di bawah sana. Kyungsoo tidak tau bagaimana sifat ayah Jongin sama sekali. Apa beliau sabar atau malah pemarah. Dia sungguh menyesal tidak bisa menahan hasratnya untuk menolak ciuman Jongin tadi. mungkin ayahnya akan mengira bahwa Kyungsoo dan Jongin sudah berbuat yang tidak-tidak.
"unni duduklah" itu perintah Baekhyun ketiga kalinya sejak melihat Kyungsoo yang terus saja bolak balik sambil menggigiti kukunya. "boleh aku cerita?" tanya Baekhyun kemudian, membuat Kyungsoo berbalik dan mengangguk lalu menghampiri Baekhyun, duduk di ranjang Baekhyun.
"perilaku unni seperti tadi sama dengan apa yang aku lakukan saat Jongin oppa dan Sehun oppa sedang mengintrogasi setiap lelaki yang ingin mengajakku kencan" ujar Baekhyun mengawali ceritanya, membuat Kyungsoo tertarik dengan cerita adik kekasihnya itu, "introgasi?" tanya Kyungsoo kemudian dengan alis yang bertautan,
"iya, jadi setiap Baek mengajak seorang lelaki kerumah. Mereka aku menyuruh ku naik ke kamarku dan mereka mengintrogasinya. Tidak jarang mereka mendapat sedikit lebam setelah itu. Walaupun bukan dari Jongin oppa, tapi aku kesal dan ku adukan saja mereka ke appa. Dan unni tau apa yang appa lakukan?" Kyungsoo hanya menggeleng karena ia sama sekali tidak tau sifat ayah sang kekasih. "appa hanya menasihati mereka, yah walaupun Baek sebenarnya kecewa. Tapi setidaknya mereka sedikit berubah sejak kemarin"
Kyungsoo bisa bernapas lega setelah menyimpulkan cerita Baekhyun, si kecil ini hanya mau menenangkan dirinya. Yang lebih dewasa memeluk tubuh kecil adik sang kekasih, membawanya ke pelukan yang sangat hangat. "maafkan Kai ya, Baekhyun.." ujarnya pelan. Yang di peluk terkekeh dan mengelus pundak Kyungsoo. "gwenchanha unni"
.
.
Ruang makan yang biasanya terasa sangat hangat dengan aura kekeluargaan kini berubah dingin dengan aura mencekam. Joonmyeon, sang ayah sedari tadi belum memulai percakapannya. Dia hanya terus menatap tajam kearah Jongin, yang hanya diam sedari tadi. joonmyeon yakin di benaknya banyak sekali kalimat yang ingin diutarakan. Karena itulah selama sepuluh menit ini dia membiarkan Jongin yang memulai percakapannya malam ini. Jongin sudah dewasa, dia harusnya tau apa yang harusnya dia lakukan dan tidak lakukan.
Sedangkan Sehun, apalagi dia yang tidak tau apa-apa. Dia terus saja menggerutu karena harusnya sang ayah juga menyuruhnya untuk kembali ke kamar seperti si bungsu, bukan ikut ambil alih dalam acara makan malam yang mencekam ini.
"ma-maafkan aku, ayah" suara serak yang terbata itu terbit dari bibir Jongin yang terlihat kering, dia lalu menghembuskan nafasnya kasar dan mencoba menatap sang ayah yang balik menatapnya meminta penjelasan lebih.
"maaf, karena aku tidak menceritakan Kyungsoo kepada ayah lebih awal"
"memangnya sudah berapa lama kalian menjalin hubungan?" tanya Joonmyeon akhirnya mengeluarkan suara. Diikuti dengan tolehan Sehun, resmi sudah dua orang di ruang makan itu menatap kepadanya. Jongin takut takut mengangkat ibu jari kirinya dan kelima jari tangan kanannya, persis seperti yang biasa Nini kecil lakukan.
"Kim Jongin kau sudah dewasa, jangan bertingkah seperti Nini" ujar sang ayah dengan suara sedikit tertahan,seperti ingin meluapkan kekecewaannya segera. Kalau saja Joonmyeon tidak menceramahi kedua jagoannya tersebut, mungkin saja Jongin tidak akan memberitahukan tentang Kyungsoo. Atau bahkan mereka akan melakakukan hal yang 'lebih' dari sekedar ciuman atau apapun yang pernah mereka lakukan.
Dan jika hal itu terjadi. Joonmyeon akan merasa sangat berdosa pada istrinya karena tidak bisa menjaga ketiga anaknya dengan baik. Dia juga akan merasa bersalah karena tidak memegang teguh janjinya pada istrinya.
"ayah aku sungguh minta maaf" suara itu terdengar sangat lemah, Joonmyeon bahkan tak sanggup menghembuskan nafasnya dan Sehun juga tak sanggup menarik nafasnya. Itu pertama kali dalam hidup Sehun melihat hyung nya terlihat sangat merasa bersalah sampai mengeluarkan nada bicara seperti itu. Karena Jongin jelas tidak sudi merasa bersalah padanya, dan hanya lakon jika ia merasa bersalah pada Baekhyun.
Sehun dapat mengerti kenapa ayahnya berlaku demikian. Kini mereka bertiga bukanlah anak bocah ingusan yang tahunya hanya meminta makan, minum, dan mainan. Mereka sudah dewasa dan ayah akan menjaga mereka lebih ketat lagi, pastinya.
Joonmyeon melembutkan tatapan matanya dan menghembuskan nafasnya, seolah beban tersebut juga ikut terhembus sudah. Dia mengangkat pantatnya dari kursi makan, "Jongin beritahu Sehun alamat rumah Kyungsoo. Dan Sehun, ini sudah malam, antarkan Kyungsoo dengan mobil Jongin". Sehun terkisap mendengarnya sedangkan Jongin hanya menunduk pasrah.
.
.
to be continue
.
.
a.n::
akhirnya bisa apdet pas di hari Minggu yeyy...
dan ini merupakan chapter terpanjang, biasanya per-chapter cuma 3k words, ini 4k words lhooo.
tentunya penambahan beberapa ribu words ini bukan tanpa alasan, hehe.
karena melambatnya proses pengetikan chapter 5 -yang harus nya sudah jadi, tapi setengah chapter pun belum ada- jadi mungkin buat chapter depan rada slow update. mianhaeee~
dan buat yang mungkin bingung kok moment krisyeol sedikit lebih banyak dari chanbaek. itu karena dulu aku pernah nge-shipper duo galah itu. itu masa lalu yang sangat kelam loh, ngeshipperin seme sama seme.
dan untuk hhs sama kss. hunhan sama kaisoonya udah ada ya. maklumin cuma segitu. aku bakal kerja lebih giat lagi buat bikin moment mereka nanti.
big thanks
untuk yang udah baca, udah follow, favorite
dan terlebih yang udah ngeluangin waktu buat review,
walaupun tingkat review di chapter kemarin turun, but its okay.
aku bakal kerja lebih keras biar kalian ga lost interesting sama ff ini.
last but not least.
RnR plss~
