Brother-in-law

.

A fanfiction by cbmascots

Chanbaek / Kaisoo / Hunhan

.

.

Selepas mengantar Kyungsoo pulang, Sehun berjalan malas ke ruang tv sambil membuka dua kancing teratas kemejanya. Disana ada hyung dan yeodongsaeng nya. Yang satu nampak sibuk menghabiskan strawberry shortcakenya dan yang satu lagi mengganti-ganti channel tv malas. Dan itu kadang membuat Baekhyun memekikkan nama oppa tertuanya geram.

Yang baru datang menghempaskan bokong nya di sofa empuk tepat disamping Jongin, sambil memberikan kembali kunci mobil yang tadi ia bawa. Sehun hanya menepuk pundak hyungnya seakan berkata Kyungsoo selamat sampai di rumahnya.

Kemudian suasana hening kembali, kedua laki-laki sibuk dengan ponselnya sedangkan si perempuan yang duduk dibawah sibuk menerkam habis makanan manisnya sambil menonton drama tentang malaikat maut yang menjelma menjadi manusia dan jatuh cinta. Sampai suara dering dari salah satu aplikasi chat terkenal di ponsel Baekhyun membuat semua mata tertuju pada benda persegi panjang tak bersalah itu. Sebuah telfon.

"halo? Dengan siapa aku bicara?" tanya Baekhyun karena dia tak melihat nama yang terpampang jelas di ponselnya.

"..."

"oh, sebentar unni" Baekhyun langsung memberi ponselnya ke Sehun dibelakangnya dan fokus pada dramanya,

"siapa Baek?" tanya Sehun bingung, "oppa tidak bisa baca, eoh? Cepatlah bicara dia... aigoo aigoo aigoo. Mereka akan berciuman~ aaa kyeopta!" Baekhyun sibuk mengintip dari celah jari kedua tangannya sendiri. Tanpa menghiraukan pertanyaan Sehun tadi.

Sehun melirik pada ponselnya, yang menampakkan foto seorang yeoja berwajah manis dengan perawakan China dan nama dibawahnya. XI LUHAN.

Buru buru dia menempelkan ponsel itu ke telinganya dan lari ke arah balkon. Mendapatkan tatapan bingung dari yang tertua. "Baek, Sehun dapat telfon dari siapa?" pertanyaan Jongin tak dihiraukan karena Baekhyun masih sibuk menutupi wajahnya karena sedikit lagi akan ada kiss scene di drama yang setiap malam ditontonnya, tapi sambil mengintip dari celah jarinya.

Jongin yang merasa diabaikan meraih remote tv dan mematikannya tepat saat bubble gum itu pecah dan mempertemukan bibir kedua pemain utama tersebut. Baekhyun menatap bingung ke tv-nya dan menoleh ke oppa tertuanya. Dia sedang tersenyum penuh kemenangan. "oppa~~ aku sudah enam belas tahun, dan tadi aku juga sudah melihat kau dan Kyungsoo unni berciuman tepat di depan kedua bola mataku. Lagipula kata Nayeon ciumannya hanya bertemu bibir. Tidak saling menyesap. Aku sudah melewatinya kemarin malam karena ada tes sejarah dan tidak ada penayangan ulangnya lagi. OPPAA~" rengek Baekhyun membuat Jongin memelototkan matanya. Astaga, Baekhyun sudah tau sejauh itu.

"aku tadi bertanya, siapa suruh kau tidak menjawab, bodoh" Jongin mengentukkan remote tv nya ke kepala Baekhyun. "bertanya apa?" tanya si kecil sambil mengusap-usap kepala nya.

"Sehun dapat telfon dari siapa?" ulang Jongin.

"dari Luhan unni, sekarang nyalakan tv-nya, oppa~~" rengek Baekhyun

"siapa itu Luhan, heum?" tanya Jongin lagi sambil menaikkan tangannya tinggi tinggi agar Baekhyun tidak dapat mencapainya,

"sunbae di klub musik. Hah, dapat!"

Baekhyun kembali menyalakan tv-nya dan mendapati dramanya itu sudah berganti dengan drama kolosal favorit halmoni nya. Setelah melayangkan tatapan penuh kebencian kepada Jongin, Baekhyun berdiri dan menuju ke kamarnya. Tepat berpapasan dengan Sehun yang mengembalikan ponselnya.

jadi selama ini bukan aku saja yang menyembunyikan pacarku, batin Jongin.

.

.

Hari hari selanjutnya berjalan seperti biasa. Baekhyun diantar oleh Sehun dengan motor sport nya dan Jongin berangkat ke kampus dengan mobilnya. Tidak ada lagi Chanyeol yang mengantar-jemput Baekhyun selama dua hari ini. Ayahnya juga sudah bersikap biasa, seolah tak terjadi apapun dua hari yang lalu. Keluarga mereka kembali hangat.

Dan hari ini jadwalnya Chanyeol berkumpul di klub photography di jam istirahatnya yang berharga. Setelah minggu lalu melupakan perintah Minhyuk untuk berkumpul, membuat sang ketua club harus menjelaskan proyek besar mereka dengan kakak kelas ulang.

Klub mereka dipercayai oleh kepala sekolah juga OSIS untuk mengurus hal yang berhubungan dengan buku tahunan sekolah tahun ini. Mereka bertugas mengabadikan momen momen akhir kakak kelas mereka yang tinggal 1 setengah bulan lagi belajar, dan sisanya akan diisi dengan serangkaian ujian berderet dan finalnya, national exam. Mendengarnya saja Chanyeol merinding.

"Chanyeol dan Jooheon. Kalian akan mengurus kelas 12-1, 12-2 dan klub Musik. Minah dan Namjoo. Kalian 12-3, 12-4 dan ekskul taekwondo. Aku dan Eunkwang mengurus klub basket, OSIS, dan seluruh kelas 10. Dan sisanya akan dibagikan oleh Chaeyong. Untuk yang sudah dibagikan tugasnya, kuharap kalian bisa berkerja sama dengan baik. Untuk para kelas 11 harap mengajarkan hobae kalian. Aratchi?"

Semua yang disebut namanya tadi mengangguk, plus senyum lebar dari Chanyeol. Entah mengapa rasanya begitu syahdu saat Minhyuk menyebut 'klub musik' saat membagikan tugasnya itu. Dia sudah tau dari Dahyun, teman sekelasnya, kalau Baekhyun adalah bagian dari klub musik.

Dia juga tidak memiliki masalah mendapat partner kerja, siapa tadi namanya... Jooheon. Ya, pria yang duduk di samping Hansol dengan rambut hitam kemerahannya itu. Selama klub musik dia yang memegang, siapapun berhak menjadi partner kerjanya. Asalkan dia tidak banyak mengeluh, karena mungkin Chanyeol hanya akan memotreti Baekhyun seorang. Dan jangan harap dia akan membagikan hasil jepretannya ke pihak editor untuk buku tahunan. Dia lebih baik menyimpan foto itu sendiri dan menciuminya setiap malam sebelum tidur.

Oke, Chanyeol mulai melantur.

"Hyung!" panggilan itu memecahkan semua angan-angan Chanyeol, itu adalah Jooheon, bocah kelas 10-3 yang cukup handal menangkap pemandangan yang indah. Seperti sunrise di pantai Jeju seminggu lalu, yang membuat klub mereka mendapat juara 1 lomba photograhpy. "senang bisa berkerja sama denganmu" ujar bocah itu lagi dilengkapi dengan senyum lebarnya, "me too" jawab Chanyeol seadanya kemudian mengedarkan pandangannya. Mencari sang ketua klub.

"Yah! Minhyuk-a!" panggilnya pada Minhyuk yang sedang berduaan dengan Chaeyong, kekasihnya. Yang dipanggil menengok dan memutar bola matanya kesal. Chanyeol sama saja seperti Kris, suka sekali mengganggu orang.

"apa?" tanya Minhyuk malas, dibalas gerlingan mata bulat Chanyeol yang sungguh menjijikkan.

"kapan kita mulai pembuatan buku tahunan sekolahnya?" tanya Chanyeol semangat, tak biasanya bocah raksaksa ini semangat saat menjalani proyek. Biasanya dia hanya bermalas-malasan.

"minggu depan. Dan kita hanya diberi deadline 2 minggu untuk memberi file hasil foto kita ke pihak editor" jelas Minhyuk membuat keduanya, Chanyeol dan Jooheon, mengangguk. Si ketua kemudian memberikan 3 map kepada Chanyeol, dan mulai menjelaskan kembali.

"itu surat izin dari kepala sekolah. Kalian harus memberikan ini sebelum minggu depan, atau sebelum pemotretan di mulai agar mendapat izin oleh guru dan orang tua karena kemungkinan besar pemotretan akan dilaksanakan saat pelajaran atau pulang sekolah. Baiklah Chanyeol, aku duluan"

Sungguh mata Chanyeol kembali berbinar saat ia membuka lembar ketiga dari map untuk klub musik, nama 'Byun Baekhyun' dengan cantiknya—menurut Chanyeol- terpampang disana. 'aku akan memotretmu ribuan kali bila perlu, Baek'.

.

.

Lorong menuju atap sekolah biasanya memang sepi, tapi karena disana ada –satu satunya toilet yang kosong itu yang membuat keberadaan Sehun disini. Setelah menyelesaikan panggilan alamnya, si jangkung membenarkan posisi celana dan baju seragam juga rambut kecoklatannya. Selesai dengan penampilannya, dia kemudian berlalu dari lorong sepi itu,

Sebelum,

"aku tidak bisa Yongguk-ah. Arghh"

Telinga Sehun menangkap sesuatu yang janggal dari ujung lorong, tangga menuju atap sekolah. Sehun mencoba untuk menajamkan pendengarannya dan melebarkan matanya, dia baru sadar kalau Yongguk disebut oleh orang diujung sana, dan Yongguk adalah murid kurang ajar di kelasnya.

Tadinya memang lelaki jangkung itu memilih untuk tidak mencampuri urusannya dan ingin bergegas, sebelum dia pemilik suara yang dia dengar barusan. Suara itu milik...

"BAGAIMANA KALAU AKU MAU KAU BERPASANGAN DENGANKU XI LUHAN!"

Setelah mendapat kepastian dari suara yang menggelegar barusan, Sehun langsung berjalan cepat –namun santai seperti gayanya- ke ujung lorong itu. Sesampainya disana betapa terkejutnya Sehun melihat tampilan Luhan yang acak-acakan, bukan hanya bajunya namun juga wajahnya. Perempuan itu tampaknya habis menangis karena Sehun mendapati hidungnya yang memerah dan mengalirkan...

DARAH.

"tapi sayangnya dia sudah berpasangan denganku, Bang Yongguk"

Bugh!

Satu tinjuan keras mendarat di wajah Yongguk setelah beberapa detik lalu ditarik kerah bajunya oleh Sehun, dan sepersekian detik setelah Sehun mengucapkan kalimat tersebut.

Bugh!

Dan satu tinjuan lagi mendarat di perut berototnya, Sehun berhasil menarik Luhan ke belakangnya, untuk berlindung. Melihat siapa yang barusan meninju nya Yongguk melemparkan tatapan bencinya. Yang menjadi korban bogeman Sehun lalu menegakkan badannya lalu menghapus asal darah yang mengalir di hidungnya.

"wow. Oh Sehun".

.

.

"kau harusnya bilang saja kalau kau sudah berpasangan dengan ku, Lu. Yongguk pasti tidak akan membuat hidungmu ini mengalirkan darah".

Kini bukan hanya hidung Luhan saja yang berdarah, tapi juga kerah seragam Sehun. Omong-omong, setelah peristiwa berdarah di lorong tadi, Luhan sempat pingsan dan Sehun menggendongnya ala bridal style ke arah ruang kesehatan. Untung saja bel sudah berbunyi dan rata-rata fans Sehun sudah masuk ke kelas mereka masing-masing. Tapi karena dia mendengar suara bising –beberapa- wanita dari dalam ruang kesehatan, kaki Sehun tanpa berfikir lebih lanjut lagi pergi menuju tempat yang lebih aman.

Balkon atap sekolah.

Dengan posisi punggungnya menyender di salah satu pembatas atap dan kaki nya yang diselonjorkan, dia merapatkan kakinya agar pahanya yang tidak –sama sekali empuk untuk menjadi alas kepala Luhan yang sampai 10 menit terakhir belum berniat untuk sadar.

Tissue-tissue yang dihiasi bercak darah menghambur dimana-mana, itu karena Sehun dengan telatennya membersihkan hidung mungil Luhan dari sisa-sisa darah yang masih mengalir. "sebenarnya apa yang keparat itu lakukan padamu sampai membuat hidung mungil ini mengalirkan begitu banyak darah", Sehun bermonolog sendiri sambil terus membersihkan hidung Luhan,

Sedikit membenarkan posisinya agar lebih enak, si tampan memajukan wajahnya, tepat berada di depan wajah yang cantik.

Goddamit.

Mata rusa itu terbuka tepat saat wajah mereka hanya berjarak 5 senti, tapi bukannya menjauh Sehun malah menatap dalam mata rusa itu. Serius, Sehun rasa sekarang tubuhnya membeku. Apalagi saat manusia yang tengah berbaring itu memanggil namanya dengan halus,

"oh sehun?"

.

.

Lelaki dengan kemeja yang tidak satupun kancing ia kancingkan –tetapi ada kaos oblong didalamnya- menyenderkan badannya di tiang penyangga bertuliskan 'fakultas ekonomi' sambil mengetikkan sesuatu di ponselnya. Dialah Kim Jongin. Dan dia sedang menunggu Kyungsoo sang kekasih hati keluar dari kelas paginya untuk makan siang bersama.

Semenjak kejadian memperkenalkan Kyungsoo ke ayahnya beberapa hari yang lalu, hubungan mereka tidak baik saja. Kyungsoo yang memang seorang wanita penyayang keluarga bahkan menyuruh Jongin memutuskannya saja kalau memang hubungan mereka tidak disetujui ayahnya. Kyungsoo lebih rela menjadi jomblo seumur hidup daripada hubungannya tidak direstui orang tua mereka.

Tapi bukan Jongin namanya kalau tidak bisa mengelak. Dengan jurus seribu alasannya dia bisa meyakinkan Kyungsoo kalau ayahnya menyetujui hubungan mereka. Bahkan ayahnya sendiri yang menyuruh mereka untuk mengenalkan orang spesial mereka kepada sang ayah bukan?

Dan sebenarnya ada sesuatu yang membuatnya bingung antara kesal atau bangga memiliki ayah seperti Kim Joonmyeon.

...

Pagi itu setelah kemarin memperkenalkan Kyungsoo pada sang ayah, Kyungsoo belum juga mengangkat telfonnya. Kalau saja hari itu Jongin tidak bangun pagi padahal dia memiliki kelas siang, Jongin pasti tidak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi semalam,

"apa kalian lihat wajah kakak kalian itu? Aigoo dia sangat imut. Ayah kira sejak masuk masa pubertas stok wajah imutnya sudah hilang, hahah" tawa ketiga anggota keluarganya memenuhi gendang telinganya yang membuat dia bersembunyi dibalik tembok, mendengarkan percakapan pagi itu.

"aku ingin lihat wajah Jongin oppa saat ayah menyuruh Sehun oppa mengantar Kyungsoo unni. Pasti sangat menggelikan" si bungsu ikut bercicit

"kau harus melihatnya Baek, wajahnya sangat lucu. Seperti kucing yang tidak diberi makan hahah. Dan ayah tau? Aku sudah menyuruh Kyungsoo nuna untuk berpura pura marah pada hyung besok" Sehun menimpali, kurang ajar sekali bocah albino itu

"good job Sehun! Ayah sebenarnya tidak ingin melakukan itu, tapi salah sendiri kenapa dia menyembunyikan Kyungsoo dari ayah, dan dengan beraninya melarang siapapun lelaki untuk mendekati Baekhyun. jadi ayah kerjai saja dia. Astaga kalian hampir terlambat, cepat berangkat!"

...

Sebenarnya Jongin sangat kesal saat mengetahui itu, tapi dia juga sadar kalau selama ini dia bersalah. Lagi pula untuk apa menyembunyikan gadis secantik Kyungsoo dari ayahnya. Toh ayahnya tidak akan menyukai gadisnya kan?

Merasa tangannya digenggam seseorang refleks membuatnya menengok ke arah kiri pundaknya dan mendapat kecupan manis dari gadisnya. Kyungsoo memang sangat nakal. Tapi jongin menyukainya. Setelah memperbaiki posisinya menghadap ke gadis yang mempunyai tinggi sebatas lehernya, Jongin menatapnya tajam setelah itu mengangkat alisnya,

"kau memakai lipstik merah? Try to tease boys heum?"

Yang di tatap memegangi bibirnya. Ya, ini memang pertama kalinya Kyungsoo memakai lipstik merah ke kampus. Bahkan juga pertama kali untuk hidupnya. Karena setau Jongin, Kyungsoo tidak suka warna warna terang dan biasanya dia hanya menggunakan lipbalm atau babylips untuk pelengkap dandanannya.

"Sojin yang memakaikannya setelah bilang kalau hari ini aku dan kau akan pergi berjalan-jalan. Kalau kau tidak suka, aku bisa menghapusnya..."

Gerakan tangan Kyungsoo berhenti saat Jongin tak juga melepaskan genggamannya, si kecil kemudian menoleh dan melihat bibir tebal kekasihnya membentuk kurva yang sangat manis. Lalu kepala itu menggeleng, "kalau tidak ada satupun niat di hatimu untuk menggoda lelaki lain, jangan menghapusnya. You looks so fine with red, soo-ya"

"baiklah, kita pergi kemana?"

"bagaimana kalau ke altar?"

"KIM JONGIN STOP IT YOU BRAT"

.

.

.

"untuk yang bertanggung jawab dengan kelas dan ekstrakulikuler masing masing kalian bisa serahkan map yang kemarin kuberikan. Karena proses photoshoot akan dimulai lusa"

Dan itu berarti mengharuskan Chanyeol untuk membuka pintu kayu di depannya.

Mengharuskan Chanyeol untuk masuk ke ruangan serba putih itu.

Mengharuskan Chanyeol melihat segala jenis alat musik.

Dan mengharuskan Chanyeol bertemu dengan seorang yang di kaguminya.

Byun Baekhyun.

Dan dia mengutuk Jooheon yang hari ini tidak masuk karena alasan bulshit yang sangat pasaran.

'kontrol dirimu Park Chanyeol, masuk dan temui Ahn Saem. Jangan menengok ke kanan atau ke kiri atau kau akan dianggap gila oleh gadis gadis dan segelintir pria didalam seperti yang Kris lakukan' inner Chanyeol berucap. Berusaha mengontrol dirinya dengan menarik-keluarkan nafasnya. Beruntung dia masih bisa bernafas dengan baik. Baru saja kaki kanannya yang panjang berniat mengambil langkah pertamanya, seseorang menyebut namanya,

"oh, hey Chanyeol. Oraenmaniya"

Dan orang itu adalah penyebab gangguan mentalnya beberapa hari ini.

Ya, -sangat lama tidak bertemu. Sangaaaattttttt lama.

"eh? Hey Baek. Ya, lama tak jumpa" ujarnya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sialan, Baekhyun bisa membuat Chanyeol sekikuk ini.

"ada apa kesini? Mau bergabung?" ucapan itu membuat Chanyeol membulatkan matanya yang sudah bulat. Terimakasih, walaupun dia memang jago bermain gitar dan drum tapi dia sama sekali tidak berniat meninggalkan dunia fotografinya.

"tidak, aku hanya ingin memberikan ini" Chanyeol memperlihatkan map merah yang sedari tadi bersarang di tangan kanannya,

"surat izin untuk pemotretan buku tahunan sekolah lusa" lanjutannya membuat Baekhyun mengangguk lucu,

"geureom, silahkan masuk" Baekhyun yang membuka pintu ruang musik memasukinya terlebih dahulu, lalu kembali mempersilahkan Chanyeol masuk. Membuat alunan piano yang di kombinasikan biola berhenti seketika, tergantikan oleh tarikan nafas kaget kebanyakan orang melihat siapa yang memasuki ruang musik bersama Baekhyun.

Tempo hari Sehun, lalu hari ini Chanyeol.

Tanpa dia sadari lengan kokohnya di tarik oleh Baekhyun menuju ke tengah ruangan, guru pembina ekskul musik. Ahn seonsaengnim.

"master, ada yang mau bertemu denganmu" ujar Baekhyun lalu melangkah mundur meninggalkan Chanyeol ke grand piano yang sudah menantinya. Setelah guru pembina menyuruh mereka kembali memainkan musik, alunan piano kembali terdengar dan kali ini Baekhyun lah yang memainkannya. Membuat Chanyeol hampir lupa dengan tujuan awalnya kemari,

"selamat siang, saem. Aku hanya ingin menyerahkan ini, surat izin sekolah dan lampiran penanggung jawab buku tahunan sekolah. Proses pemotretannya akan dimulai lusa, jika itu tidak mengganggu kegiatan klub musik, silahkan tanda tangan di sebelah sini" jelas Chanyeol membuat guru biologinya itu mengangguk paham, dan tanpa pikir panjang menandatangani surat itu, hampir saja membuat Chanyeol menjerit kesenangan.

"kurasa itu tidak mengganggu jadwal latihan mereka, ini Park Chanyeol" guru dengan penampilan ter-santai diantara para guru lainnya itu menyerahkan kembali map merah setelah sebelumnya mengambil beberapa lembar surat izin yang akan diberikan kepada anggota musiknya. Setelah mengucapkan terimakasih dan membungk hormat, lelaki jangkung itu hendak pergi,

Sebelum dia memposisikan kamera yang setia bergantung di lehernya itu untuk mengambil foto seseorang yang dengan cantiknya memainkan piano, lama mencari angle yang tepat dan setelah Chanyeol mendapatkannya dia dikejutkan oleh bisikan sang guru pembimbing tepat di belakang telinganya, "kau hanya perlu menunggu lusa untuk mendapatkan fotonya Chanyeol-ah. Bahkan akan ku pastikan dia akan berpenampilan cantik untukmu".

Oh tuhan.

.

.

.

Oh tuhan.

Bodoh sekali Sehun yang sedari tadi masih diam ditempat, sungguh semua jiwa keren dan cool nya meluap seketika sekitar kurang lebih 5 menit yang lalu. Setelah Luhan sadar dari pingsannya dan dia malah membeku di posisinya yang mana wajahnya hanya berjarak kurang lebih 5 senti meter dari wajah Luhan dan itu sungguh memalukan.

"bagaimana dengan hidungmu?" pertanyaan bodoh keluar dari mulut Sehun barusan. Padahal yang bertanya sudah tau sendiri jawabannya, ya hidung Luhan sudah baik baik saja sejak tadi. Lalu kenapa Sehun malah bertanya hal yang dia sudah tau sendiri jawabannya,

"lebih baik" jawab Luhan seperlunya, karena kepalanya masih terlalu pusing untuk bicara panjang lebar berkat Bang Yongguk. Dia bahkan hampir lupa untuk berterimakasih,

"terimakasih, Se-sehun-ssi".

"cukup Sehun saja, Lu"

MEMANGNYA SIAPA KAU OH SEHUN? BERANI BERANINYA MEMANGGIL XI LUHAN YANG BAHKAN KAU BARU TAU DARI YEODONGSAENG MU YANG BAWEL ITU TENTANG KEBERADAANNYA DENGAN PANGGILAN 'LU'?

SOK AKRAB SEKALI KAU, CIH.

Sehun bahkan berdecih pada dirinya sendiri, sedangkan Luhan sedikit terkekeh. Seakan-akan Sehun tengah dirasuki arwah yang menyebabkannya tidak bisa mengontrol setiap ucapannya.

"oh iya, bagaimana dengan praktikum gabungan?" tanya Luhan tanpa memandang Sehun, dia malah asik memandangi sepatunya.

"kita bisa lakukan lain waktu, sebaiknya kau beristirahat saja"

Tak lama kemudian suara berat Sehun kembali menyapa telinga perempuan berdarah China itu,

"boleh aku pinjam ponselmu? Aku lupa dimana aku menyimpan ponselku"

Sungguh modus yang sangat pasaran tuan Oh.

.

.

Hari ini adalah hari dimana semua anggota klub fotografi dikumpulkan, guna mengecek kelengkapan mereka untuk proses photoshoot buku tahunan sekolah. Untuk kelas 12 mengambil classic retro style: back to 1994 (tahun kelahiran mereka), dan untuk ekskul mengambil tema modern urban.

Kelompok yang di tangani oleh Jooheon dan Chanyeol mengambil tempat di sebuah gedung tua yang biasa dijadikan tempat shooting drama atau film berbau penyelidikan dan pengasingan. Ini adalah ide seorang Park Chanyeol yang langsung disetujui Jooheon. Karena memang, Chanyeol tidak suka mengambil foto ditempat outdoor kalau masih siang begini.

Kelas 12-1 dan 12-2 sudah berkumpul, lain dengan klub musik yang baru akan sampai 30 menit lagi. Chanyeol menatapi kakak kelasnya satu persatu. Rata-rata yeoja-nya memakai blouse berwarna coklat muda dan rok yang melebar kebawah dan ada juga yang mengetat kebawah dengan warna lebih tua. Mereka menggunakan make up cukup tebal tapi tidak setebal lipstik merah di bibir para yeoja yang tengah menatap kagum ke arah Chanyeol saat ini. Bahkan Chanyeol tidak menggubrisnya sama sekali, dia hanya menunggu Baekhyun-NYA.

Sedangkan yang lelaki beragam, ada yang menggunakan coat yang panjangnya sampai betis mereka (percayalah kalau sekarang sedang musim panas bahkan Jooheon saja menggunakan kaos sleeveless), ada yang menggunakan rompi dan sweater. Hanya warna coklat lah yang membuat mereka terlihat kompak.

"Sial, hyung coba lihat Seolhyun nuna. Dia terlihat sangat seksi, outfits nya sangat membentuk lekuk tubuhnya, shit" seru Jooheon pada Chanyeol yang fokus mengganti lensa kameranya. Dia tidak tertarik sama sekali dengan bentuk tubuh ataupun ukuran payudara atau apalah itu yang sedang dipantau, dia hanya ingin para anggota klub musik cepat-cepat sampai dan dia bisa memotreti Baekhyun lagi.

"akan ku pastikan kau akan keluar dari klub ini kalau kau sampai bermasturbasi nanti, idiot" ujar Chanyeol menatap Jooheon geli.

Acara photoshoot dimulai. Dan sialnya Jooheon menyuruh Chanyeol (yang lebih tua darinya) untuk memotret para wanita dan dia memotret para pria.

"ayolah hyung, kau tidak mau aku bermasturbasi disini kan?" alasan ter-bulshit yang pernah dia dengar sepanjang masa. Apa-apaan dengan lelaki itu? Dia hanya perlu menahan nafsunya dengan fokus pada angle yang dia mau lalu menekan tombol diatas dan selesai. Itulah kenapa para buyut Chanyeol bilang, penyesalan jatuh pada akhir/\.

Para kakak kelas berbibir merah tebal itu memasang pose yang menjijikkan, menunjukkan paha mereka yang tercetak jelas karena rok yang mengetat kebawah itu. Dan demi kerang ajaib Chanyeol sama sekali tidak bernafsu. Gaya macam apa itu? Mereka kira Chanyeol lelaki seperti Jooheon yang mudah 'hard'. Terimakasih, Chanyeol bahkan lebih berselera dengan paha ayam daripada paha mereka.

Pada saat foto individual Chanyeol kedapatan memotret Luhan, yang nampak cantik dengan blouse coklat muda transparan dengan pita dilehernya dan rok berpotongan A juga rambut di gelung keatas. Hanya dia yang nampak cantik menurut Chanyeol, karena bibirnya tidak berwarna merah pastinya.

"Woah, kau hebat hyung. Hasil fotomu bagus semua, tapi aku tidak bisa mengirim semua foto ini ke editor"

Pujian itu datang dari Jooheon, dan subjek yang dipuji adalah Sehun. Si vampire yang –sialnya tampan dengan coat panjang se betis berwarna coklat itu. Seperti yang dari tadi Chanyeol lihat memang Jooheon tidak kesulitan mengarahkan Sehun yang tampak seperti model yang terbiasa dengan ini semua.

"woah hasil foto Luhan nuna juga keren. Bagaimana kalau kalian berfoto bersama? Ayo ayo"

Dasar bocah kelas 10. Seenaknya saja menyuruh kakak kelasnya berfoto bersama. Kalau saja sekolah nya menetapkan aturan 'siapa yang berani dengan kakak kelas, dia akan di bully sampai mati' sudah pasti Jooheon sudah mati dari saat dia menginjakkan kakinya di sekolah.

.

.

"ayo lah hyung kau bisa memegang pinggangnya sebentar saja. Dan aku janji akan menjadi shipper kalian berdua"

Jangan kalian kira Jooheon bercanda dengan omongannya, tentu dia serius.

Lihatlah apa yang tengah dilakukannya membuatnya mendapat tatapan benci dari para fans Sehun juga Luhan. Segala mengimingi akan menjadi shipper segala lah.

"aish. Kalian itu masa kalah dengan magnet"

Tepat saat Jooheon akan mengambil gambar dua insan yang hanya tersenyum dengan jarak 10 senti itu, seseorang mendorong Luhan. Dan kalian tau apa yang terjadi? Sehun menangkapnya ala pangeran yang sedang berdansa dengan putri nya. Dan flash keluar dari kamera bocah kelas 10 itu lengkap dengan pekikan gembira nya.

.

.

Klub musik benar-benar mengusung tema 'urban' yang telah di sepakati. Kebanyakan dari yeojanya berpakaian feminin-boyish. Salah satunya Baekhyun, dia memakai sweater kebesaran berwarna navy yang panjangnya setengah pahanya sukses menutupi rok bawahan yang ia kenakan, lengkap dengan rambut yang dia dye menjadi hitam yang kontras dengan kulit putihnya.

Dan Chanyeol berjanji dia akan segera ke toilet dan menuntaskan masalahnya as soon as possible.

Walaupun lebih terlihat imut dan lucu, tapi baginya Baekhyun nampak begitu seksi dengan pakaian itu. Shit. Dia mengutuk Minhyuk karena tema yang diusungnya. Chanyeol bahkan sudah mendapat beberapa puluh foto Baekhyun dalam waktu kurang dari 5 menit.

god job Park Chanyeol.

Sialnya durasi pengambilan foto klub musik hanya 20 menit dan tidak ada foto individual. Walaupun tetap saja Chanyeol mendapatkan foto individual Baekhyun.

Dan sekarang waktunya (Chanyeol mendekati Baekhyun) istirahat.

Melihat Sehun yang masih sibuk dengan teman-temannya, Chanyeol langsung mengambil langkah seribunya menuju Baekhyun. Si kecil yang sedang sibuk dengan tali sepatu merk adidas nya itu.

"hey, Baek"

Yang merasa dipanggil mengangkat kepalanya, karena wajah sang pemanggil menutupi matahari dia jadi tidak bisa melihat siapa yang memanggilnya.

"oh, hey Yeol. Duduk sini" Baekhyun menepuk nepukkan kursi dari batu disamping kanannya, mempersilahkan Chanyeol duduk.

"minum?" Chanyeol menawarkan minuman isotonik yang –sengaja- dia beli dua tadi.

"gomapda" botol isotonik itu telah berpindah tangan sekarang, Chanyeol tersenyum penuh kebanggaan. Andai saja ada bule Kanada menyebalkan itu sekarang. Pasti dia bisa pamer sepanjang hari, bulan, tahun kalau perlu. Tapi sayang sekali Kris tidak hadir karena lomba basket. Ah, dia jadi merindukan Kris.

"eh iya Chanyeol" lamunan tentang bule Kanada tadi buyar seketika saat suara manis semanis gulali termanis sedunia itu menyapa pendengaran Chanyeol.

"kau tadi sangat keren..." dua jempol lentik itu diarahkan ke wajah Chanyeol, aigoo bolehkah pipi Chanyeol merona seperti tokoh uke di komik yaoi bacaan Kris?

"kau berlebihan, Baek. Oh iya ngomong-ngomong..." Chanyeol mendongakkan kepalanya melihat seseorang menghampiri mereka, lagi lagi vampire sialan itu.

"hai kalian berdua" sapa Sehun –dengan sok-manis nya, dia lalu mengambil jarak antara Baekhyun dan Chanyeol dan duduk diantara keduanya dan meneguk habis minuman isotonik pemberian Chanyeol. "sepertinya sedang asyik mengobrol".

Baekhyun memutar malas bola matanya sedang Chanyeol menghembuskan nafasnya sedikit kasar, "oppa kau bisa duduk disini" Baekhyun menepukkan samping kirinya, tapi mendapatkan gelengan kepala dari Sehun,

"aku ingin disini saja memang tidak boleh? Lagipula kau sendiri kan bilang aku harus rajin-rajin berjemur diri agar aku tidak terlihat seperti vampire kan?"

Sungguh alasan yang kekanakan, Chanyeol hanya bisa tersenyum maklum –sedikit terpaksa- menyaksikan aksi kedua kakak-beradik di sampingnya. Tuhan, Chanyeol hanya ingin mengajak Baekhyun menghabiskan 3 cup ice cream bersama apakah tidak boleh?

"kalau begitu Chanyeol saja yang pindah kesini. Tadi kau ingin ngomong apa?" Baekhyun menatap sosok di belakang tubuh tinggi kakaknya. Baru saja Chanyeol ingin mengambil tempat di sebelah kiri Baekhyun, Sehun si vampire sialan itu kembali membuka mulutnya,

"bukannya kau sudah selesai bicara, Park Chanyeol?" tanya Sehun dengan tatapan 'cepat-pergi-dari-sini-atau-ku-hisap-darahmu-beserta-turunanmu'. Melihatnya saja Chanyeol sudah ngeri, bagaimana kalau memang Sehun benar-benar seorang vampire? Itu berarti dia akan menghisap darahnya juga darah anak nya dengan Baekhyun? Dan bla bla bla... Chanyeol tolong berhenti menghayal.

"i-iya Baekhyun, aku kira Jooheon barusan memanggilku. Aku duluan ya" Chanyeol berlari menghampiri Jooheon di tenda editor 3 meter disebrangnya. 'dasar calon kakak ipar sialan' batinnya.

"oppa, kau tidak seharusnya seperti itu..." rajuk Baekhyun, dia bingung kenapa ayahnya tidak sekalian mengerjai Sehun juga. Padahal Sehun lah yang paling sering berlaku tidak adil padanya. "memangnya apa yang aku lakukan? Toh, Chanyeol memang memilih menghampiri Jooheon yang sedang bersama teman-temanmu. Pasti dia lebih menyukai teman-teman mu yang lebih cantik darimu..."

"Baekhyun!" omongan Sehun berhenti saat Luhan menghampirinya dengan ponsel ditangan kirinya, sampai di hadapannya Luhan langsung memberikan ponsel rose-gold itu pada pemiliknya, "oppa mu menelfon, katanya penting"

Selepas berterima kasih pada seniornya dan menatap galak ke arah Sehun, Baekhyun menempelkan ponsel itu pada telinganya, "halo Jongin oppa! Maaf tadi aku lupa meminta ponselku pada Luhan unni, ada a-"

"..."

"apa? Apa yang oppa lakukan disana?"

"... ... !" Baekhyun membulatkan mata cantiknya, menutup mulutnya dengan air mata yang tergenang di matanya,

"..." Sehun dapat mendengar suara hyung nya yang panik, tapi dia tidak tau apa yang dia bicarakan. Yang membuatnya penasaran, adalah reaksi Baekhyun setelah mendengarnya

"appa..."

.

to be continue

cuap cuap::

holla~
akhirnya setelah sebulan kurang seminggu (?) ff ini diapdet juga ya heheh:)
maaf ya aku sok sok an bikin kalian nunggu lama, tapi asli ada aja halangan pengen ngetik chapter 5 ini,
pertama, banyaknya tugas (pastinya)
kedua, kena writer block, sampe ini bener-bener gajelas sama sekali, maksain banget ceritanya.
ketiga, laptop hp wifi kompakan eror gitu, jadi harus pake wifi rumah halmoni buat apdet ff ini heheh~~

Mian mian banget ya kawan, atas keterlambatan dan ketidak jelasan ff ini.
dan sebagai permintaan maaf, aku kepikiran setelah chapter 6 (yang di ketik pun belum) bakal ada 3 chapter special.
oleh karena itu, aku jadi bener-bener numpukin cerita -yang harusnya- buat 2 chapter malah aku campur jadi satu chapter.
dan ada kejutan buat chapter besok (yang gatau bakal di publish kapan),
tapi yang jelas doain aku aja biar chapter 6nya lancar dan 3 chapter specialnya cepet cepet selesai.

makasih buat yang setia nagih dan nunggu ff ini.
makasih buat yang setia follow, fav, review ff ini.
makasih buat yang setia baca ff ini.
walaupun belum sempet aku sebutin namanya satu-satu,
-bow down-

last but not least
review pls~~