Chonurullau40 a.k.a Miss Zhang proudly present:
Run To You
with SuLay as main character
Tittle: Run to You
Cast: Kim Joonmyeon, Zhang Yixing, and others
Genre: Romance, angst
Rated: T
Disclaimer: I don't own anything except this plot and story. All characters belong to God, their parents, and actually their self.
Warning: this is YAOI (Boys Love), GAJE, TYPO BERTEBARAN
Lenght: 1415 word
HAPPY READING~~~
DLDR
.
.
.
.
.
Yixing terus berlari. Menyusuri lorong lorong gelap kota Changsa. Mengingat waktu setempat menunjukkan pukul dua dinihari. Terengah, namun terus berlari. Jika ia beristirahat barang sedetik saja sudah dipastikan ia akan menatap gelapnya neraka selamanya. Ia akan datang ke sana suatu saat nanti. Namun, bukan sekarang..
Empat orang di belakangnya. Tak hentinya terus memanggil namanya dan mengumpatinya. Sekuat tenaga Yixing mempercepat larinya agar empat orang yang menejarnya kehilangan jejaknya.
Setelah lama ia berlari. Ia mulai menyerah. Kakinya serasa ingin remuk. Dan sepertinya empat orang di belakangnya belum merasa lelah seperti apa yang ia rasakan. Yixing mencari akal untuk keluar dari masalah ini. Kakinya tak memungkinkan untuk ia gunakan berlari lagi. Namun, memilih menghadapi mereka secara langsung juga sangat tidak mungkin. Jalan terbaik hanyalah bersembunyi.
Namja cantik itu berbelok ke arah kiri dengan cepat lalu di perempatan pertama ia menikung ke kanan. Dan memasuki sebuah rumah yang pintu gerbangnya tidak di kunci secara asal. Aman. Halaman rumah itu begitu luas, namun tak tampak orang yang masih terjaga jam segini.
Ia jatuh terduduk. Berusaha mengatur nafasnya yang terengah engah. Ia menekuk lututnya lalu memeluknya erat. Kakinya begitu ngilu. Ia meringis perlahan menahan nyeri pada pahanya.
Hujan tiba tiba saja mengguyur. Dan Yixing tak bisa mencari tempat berteduh saat ini, kakinya sulit digerakkan. Ia biarkan air hujan membasahi sekujur tubuhnya dan mengeratkan pelukan pada lututnya. Ia memejamkan matanya lalu bergumam pelan, "Jongin... Jongin..." tanpa permisi air matanya mengalir begitu saja dari kedua netra kelamnya. Gumaman itu perlahan berubah menjadi isakan kecil yang suaranya teredam oleh gemericik air hujan.
"Aduh! Kenapa tiba tiba hujan, sih?" seorang namja tampan memasuki pekarangan rumahnya dengan tergesa. Mengingat hujan yang mengguyur semakin deras. Namun niatnya ia urungkan saat dilihatnya orangnya tengah duduk meringkuk di halaman tengahnya. Spontan ia berteriak, "SIAPA KAU?!"
Yixing bergeming. Kali ini namja tampan itu benar benar tak peduli bahwa ini sedang hujan. Ia sedang waspada, barangkali orang asing itu adalah pencuri atau yang berniat jahat padanya. "Hei! Jawab aku?! Kenapa kau ada di sini? Kau pencuri?" tanya namja tampan itu keras. "Ohh! Bodohnya diriku. Mana ada pencuri yang mau mengaku. Kalau para pencuri itu mengaku, pasti penjara penuh!" namja tampan itu berdecih. Namun Yixing tetap diam, masih menutup matanya dan memeluk lututnya.
"Kau! Benar - benar! Tidak tahu sopan santun sekali! Masuk rumah orang sembarangan?! Apa ayahmu tidak mengajarimu?!" namja tampan itu benar benar marah saat ini.
"Kau benar..." Yixing angkat bicara pada akhirnya. Namja tampan itu menatapnya tajam. Menunggu kata kata Yixing selanjutnya, "Aku memang tidak pernah diajari ayahku. Beliau meninggal saat aku berusia 2 tahun." nadanya berkesan dingin dan rapuh dalam bersamaan. Yixing mengangkat kepalanya perlahan, lalu menatap namja tampan itu.
Tercekat.
Namja tampan itu kehilangan kata katanya sesaat pandang keduanya bertemu. Serasa ada sesuatu yang membuat namja tampan itu ingin terus menatap mata hitam kelam yang terlihat rapuh itu. Sejenak terpesona akan keindahannya walau sinar matanya redup, tampak putus asa.
Cepat namja tampan itu mengalihkan pandangannya dari Yixing, tak ingin terjerumus lebih lagi dalam pesonanya. Lalu berujar tegas tanpa menatap Yixing, " Lalu mau apa kau di sini? Berniat buruk padaku?!"
Yixing masih menatapnya, kali ini tatapan sendu, "Jika aku berniat mencuri sesuatu darimu pasti sudah ku lakukan sejak tadi. Jika aku ingin berniat buruk padamu, pasti akan kulakukukan saat ini juga.." ia berujar pelan.
"Lalu? Kenapa tidak kau lakukan sekarang?!"
"Karena aku tidak berniat seperti itu. Aku hanya-" Yixing menggantungkan kalimatnya. Membuat namja tampan itu penasaran. "Hanya apa?!"
"Hanya menumpang. Untuk bersembunyi. Maaf.. Aku akan pergi saat-"
"Kenapa tidak sekarang saja?! Cepat keluar dari rumahku! Dan bersembunyi? Kau pikir aku akan percaya padamu?" namja tampan itu berdecih.
"Kalau bisa, sudah kulakukan sejak tadi.. Aku tidak memintamu percaya." lirih begitu lirih dan hampir tak terdengar. Yixing kembali memeluk kakinya lagi, erat. Karena dia mulai kedinginan. Namun pendengaran si namja tampan baik sehingga dapat mendengar lirihan itu.
"Apa maksudmu?" bukannya menjawab, Yixing malah berdiri -dengan susah payah- dan menatap namja tampan itu. Mereka terdiam sesaat lalu Yixing mencoba melangkah. Nyeri pada kakinya mulai ia rasakan lagi. Dan Yixing hanya bisa menggigit bibir bawahnya, menahan rasa sakit.
Beberapa langkah, ia tersenyum tipis, ia berhasil melakukannya. Hingga ia melewati si namja tampan itu. "Hei! Tunggu!" teriak namja itu. Lalu berbalik untuk melihat Yixing yang berhasil keluar dari pekarangan rumahnya.
Ia belari menyusul Yixing, "Kau!"
Bruaaaghh!
Namja tampan itu membelakkan matanya. Yixing limbung ke belakang. Dengan cepat ia menjatuhkan belanjaannya dan menangkap tubuh Yixing yang hampir menyentuh tanah. Dilihatnya wajah Yixing yang begitu pucat dan tubuhnya yang menggigil. Di ujung kesadarannya Yixing berucap, "Kau.. Aku.."
Setelah itu ia tak sadarkan diri..
I'm run run running to you and I'll keep you safe forever
Through the tears through the love and all the nights we share
I'm run run running to you and I'll keep you safe forever
Don't you know my love, don't you know
Two hearts can beats as one
"Eungh.."
Joonmyeon mengerang. Perlahan namun pasti kelopak matanya terbuka, menamplkan dua netra kelam yang tampak berkilau bak mutiara hitam. Ia sedikit meregangkan tulang-tulangnya. Ini Minggu pagi yang cerah. Ia menghirup segarnya udara pagi sebanyak-banyaknya. Ia tersenyum –manis, ia merasa sangat segar saat ini. Ia beranjak dari ranjangnya dan menuju kamar mandi, untuk membasuh wajahnya.
Setelahnya ia keluar dari kamarnya. Menuju kamar di sebelahnya. Ia sedikit ragu untuk masuk ke sana. Ekspresinya mengeras. Ia mengingat kejadian tadi malam. Saat seorang yang asing berada di pekarangan rumahnya, terduduk sambil memeluk lututnya, di tengah derasnya hujan. Entah apa yang membuatnya ingin menolong seseorang yang ia tuduh 'pencuri' itu saat seseorang itu jayuh pingsan, dan meletakkannya di kamar mendiang kakaknya.
Wajahnya menjadi sendu. Ia jadi mengingat kakaknya yang telah meninggal itu. Pembunuhan. Itulah kasus yang menimpa kakaknya. Rasanya ia ingin menangis saat mengingat dirinya yang melihat kakaknya meninggal di depan matanya sedangkan ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia diam mematung. Memori menyedihkan itu kembali memenuhi benaknya.
'Crieet!'
Pintu itu sedikit berderak saat seseorang membukanya dari dalam. Sosok manis yang semalam mengaku bersembunyi di rumah Joonmyeon itu tampak menatap Joonmyeon datar.
"Aku sudah tahu kau berdiri di depan pintu ini. Aku menunggumu masuk sejak tadi. Kukira kau akan masuk dan memakiku lalu mengusirku seperti semalam lagi." Yixing –sosok itu- berucap datar. Walau ucapannya datar tetapi ekspreinya sama seperti Joonmyeon, sama-sama sendu. Joonmyeon hanya diam. Tidak menanggapi ucapan Yixing.
"Terima kasih telah menolongku semalam." ucap Yixing yang merasa mereka diam terlalu lama. Yixing menatap tepat mata Joonmyeon yang juga menatapnya. Lagi-lagi ia hanya mendapat diam. Yixing menghela nafas, ia sedikit mendorong Joonmyeon yang menghalangi jalan keluar kamar itu.
"Mau kemana, kau?" tanya Joonmyeon yang akhirnya berucap. Yixing berlalu terus tanpa menoleh ataupun menjawab. Joonmyeon yang diabaikan pun langsung menjadi kesal, "Kau memang tidak diajari sopan santun, ya?" Ia kemudian mengikuti Yixing, yang menuju dapur.
"Apa yang akan kau lakukan?"
"Dapurmu rapi juga untuk orang kaya yang tinggal sendirian seperti dirimu." Yixing berkata tanpa menjawab pertanyaan Joonmyeon.
"Aku tanya apa yang akan kau-!"
"Lebih baik kau duduk manis di ruang makan saja, Tuan.. Aku akan membuatkan sarapan." setelah berkata demikian Yixing segera memulai aktivitasnya. Joonmyeon tidak bergerak dari tepatnya berdiri saat ini. Ia malah sibuk mengamati Yixing yang terlihat sangat lihai memasak. Gerakan cepat dan tepat. Seperti koki prefesional.
"Kau tidak dengar, Tuan? Lebih baik anda duduk manis di ruang makan saja. Daripada mengamatiku seperti itu," Yixing berkata lagi tanpa mengalihkan pandangannya dan terus memasak.
"Mengapa kau suka memerintahku sekarang? Siapa tuan rumahnya disini? Dan- hei! Berhenti memanggilku 'Tuan'. Namaku-"
"Sudah siap!" Yixing berujar cepat, memotong perkataan Joonmyeon. Di tangannya sudah membawa piring yang berisikan nasi goreng yang beraroma sedap. Ia menyerahkannya pada Joonmyeon, lalu mengambil bagiannya dan berjalan maeninggalkan Joonmyeon menuju ruang makan.
"Hei, kau!" Joonmyeon lagi-lagi ditinggal oleh Yixing.
Singkatnya mereka sarapan bersama dalam keheningan. Ini kali pertamanya sarapan pagi bersama seseorang setelah sekian tahun ia sarapan sendirian. Ada sedikit rasa senang dalam benaknya. Ia tidak merasa kesepian seperti biasanya. Namun, ia menjadi lebih 'berisik' dari biasanya.
"Sudah selesai, kan? Biar kubersihkan sekalian." Yixing mengambil piring kotor yang telah kosong dari hadapan Joonmyeon. Dan segera menuju dapur. Joonmyeon masih duduk di kursinya, sesekali menyesap kopi panas yang dibuatkan Yixing tadi.
'PRANG!'
Joonmyeon terlonjak kaget. Secepat kilat ia pergi menuju dapur untuk melihat apa yang terjadi, bisa saja orang asing itu akan menghancurkan dapurnya –pikirnya bodoh.
"Hei!" Ia melihat Yixing yang berdiri bertumpuan pada wastafel di meja dapur itu. Pecahan piring bertebaran di sekitar kakinya. Joonmyeon mendekat.
"Maaf.. Aku memecahkan piringmu." Yixing berujar lirih. Ia membungkuk untuk memunguti pecahan yang berserakan. Namun yang terjadi malah tubuhnya yang limbung. Joonmyeon menangkap tubuh Yixing yang hampir menyentuh lantai yang penuh dengan pecahan piring sehingga tangannya yang terkena serpihan itu. Ia mengerang kecil. Yixing yang menyadari hal itu hanya menatap Joonmyeon tak percaya di sisa-sisa kesadarannya.
"Kau demam. Harusnya istirahat saja." Joonmyeon berujar lembut.
Dan di ujung kesadarannya, Yixing tersenyum lepas.
Untuk pertama kalinya...
.
.
.
.
.
.
Can you hear my heart?
My heart that scream out your name
My heart that keeping looking for you..
.
.
.
.
.
TBC
Hai! Miss Zhang back.. maaf sekali tidak konsisten dalam pembuatan suatu cerita. masalahnya, feel saya cepat berubah. sehingga cerota yang lalu belum sempat terselesaikan. hal lain adalah, saya adalah seorang SuLay hard shipper! masa saya ga ngepost ff yang saya OTP in/? kan aneh.. lagipula ini ff sudah menjamur di draft komputer saya .g
Ada salah satu kembaran saya di RPW yang minta saya ngepost ff SULay/? jadilah saya ngepost ff ini aja.. ini genrenya agak dark.. yah begitulah/? saya ga akan buat ini panjang mungkin 3 atau 5 chapter aja. wkwkwk.. maaf ya kalau agak absurd, ini hanya sebagai sempel aja/?
gimana? mau lanjut atau discontinue aja?/? atau mau usul ceritaku yg mana aja yg mau diselesain awal? silahkan bisa cantumkan itu di kolom review.
at last but not least/? review please? satu review sangat berharga sekali dari kalian..
akhir salam, terima kasih yang sebanyak banyaknya soalnya udah mau baca sampe sini.. sampai jumpa di chapter depan! ^^/
Sign,
Chonurullau40 a.k.a Miss Zhang
