Attention, Please!

Chapter 2

Previously on the first chapter:

"Ahaha~ tentu saja sensei akan kaget, maaf ya. Bercandaku keterlaluan.. tapi aku benar benar suka sensei kok, kutunggu jawaban sensei besok." Karma berjalan membelakangi Karasuma, meninggalkan Karasuma yang bengong sendirian. Karasuma sadar akan apa yang akan terjadi setelah Karma pergi.

Karma berjalan cepat, perlahan berumah menjadi sebuah pelarian.

Dan tanpa sadar, pipinya sendiri bersemu merah.

Happy Reading!


Sejak saat itu, Karasuma selalu kepikiran. Akabane Karma tak bisa lepas dari benaknya setiap saat. Selalu saja nama Akabane Karma yang terlintas pertama setiap kali Karasuma beraktivitas. Karma membuatnya penasaran, sangat pernasaran. Bahkan setiap pelajaran olahraga dan latihan fisik, bayang-bayang Karma selalu menghantuinya.

"Karasuma-sensei? Kau sakit?" Megu bertanya khawatir, menghampiri guru tampan itu.

"Tidak, Kataoka. Ada apa?" Megu menggeleng pelan sebelum menjawab pertanyaan Karasuma kembali.

"Akhir-akhir ini Karasuma-sensei suka melamun ketika latihan, Kayano juga bilang kalau wajah Karasuma-sensei sering sekali terlihat merah belakangan ini.. kami khawatir kalau sensei sedang sakit atau apapun itu." Megu menjelaskan, Karasuma bahkan tak menyadari keadaannya yang seperti itu.

Ah, rupanya Karma sudah membuatnya sakit parah, ya.


Karma sekarang selalu menghadiri jam-jam pelajaran Karasuma, tak pernah lagi terlihat titik berwarna merah pada buku absen Karasuma di deretan nama Akabane Karma. Karasuma bangga, di sisi lain juga galau.

Iya lah, baru saja di 'tembak' anak didiknya, bagaimana suasana tidak canggung? Biarpun begitu, Karasuma tetap bersikap professional dan member pembelajaran seperti biasanya.

Oh, tunggu dulu. Bukanlah seharusnya Ia memberi jawaban pada Karma beberapa hari yang lalu? Bagaimana bisa Ia melupakannya?

"Tadaomi-sensei." Karasuma berjengkit mendengar namanya dipanggil—nama kecilnya. Ketika Karasuma menoleh, surai merah di hadapannya tersenyum lebar, lebih tulus dari biasanya—menunggu respon Karasuma berikutnya, mungkin.

"Akabane." Karasuma berdiri tegap menghadap Karma, sepertinya Karma tak suka respon tersebut, terbukti dengan wajahnya yang terlihat cemberut.

"Kau tak boleh sembarangan memanggil nama kecil ku seperti itu." Karasuma berusaha menasihati, namun Karma malah membuang wajahnya kearah lain, sebal. Ia merutuk dalam hati.

"Apa salahnya? Memangnya tak boleh ya, memanggil nama kecil orang yang aku suka?" ketika Karasuma menatap wajah Karma saat itu juga, Karasuma tahu bahwa Karma serius. Serius menyukainya.


Bel pulang sekolah berbunyi. Karma tak menyangka hari akan segera berganti lagi secepat ini, sepertinya hari ini akan Ia lewati lagi tanpa jawaban dari Karasuma tentang pernyataan cintanya.

Ya, walaupun sebenarnya Ia tak butuh jawaban, tapi tetap saja butuh kepastian, iya 'kan?

Seperti ini saja terus, Karma tidak keberatan. Menunggu tentu bukan suatu hal yang mudah, aplagi baginya yang sangat tidak sabaran. Dengan perasaan yang campur aduk, Karma bersiap-siap mengemas barangnya untuk segera pulang.

"Karma, ayo pulang bersama!" Kayano menghampiri, berjalan di samping Karma dengan ceria, menyamai langkah kakinya dengan Karma dan itu terlihat manis sekali. Karma tertawa kecil menanggapi sikap Kayano yang seperti ini.

"Maaf, Kayano-chan. Aku ingin pulang sendirian, kau pulang dengan yang lain saja, oke? Lalu aku janji, besok kita bisa pulang bersama." Tolak Karma secara halus, Kayano sempat mengeluh namun Ia patuh saja.

Ketika Karma akan turun melewati hutan, ada lagi yang memanggilnya, kali ini suara yang sangat familiar. "Akabane, tunggu."

"Sensei?" Karma menghentikan langkahnya, Karasuma sedang berjalan mendekati Karma. Wajah Karasuma serius seperti biasanya, sepertinya hari ini pun, pernyataan Karma akan digantung lagi.

"Ada apa Tada—Karasuma-sensei?" hampir saja keceplosan ingin memanggil nama kecil Karasuma. Karasuma berdiri tepat di hadapan Karma, tak bicara apa-apa.

Karma mendengus. "Kalau Karasuma-sensei tak ingin bicara, aku ingin pulang saja ya?" ucap Karma, namun Karasuma menahannya. Lengan Karma di cengkeramnya erat. Karasuma rupanya tak menahan diri dalam mencengkeram.

"Maaf." Ah ya, Karasuma juga manusia yang punya kesadaran. Ia melepaskan cengkeramannya. "Akabane, soal pernyataan cintamu—"

"Oh, itu? Kalau sensei tak mau menjawabnya, silahkan saja. Aku tak akan menghindar lagi, ah. Malah sepertinya sensei yang menghindar, iya 'kan?" telak, hati Karasuma terpukul. Namun sudah Ia putuskan untuk memberikan Karma jawaban pada hari ini, Ia tak ingin menunda-nunda lagi.

"Akabane." Karasuma melanjutkan.

"Aku tak pernah berfikir bahwa kau akan jatuh cinta padaku. Semenjak hari itu, aku selalu memikirkan baik kata-katamu sampai paras jahilmu tak bisa lepas dari pikiranku, seakan-akan kau menghantuiku siang dan malam." Karma terkekeh.

"Maaf karena telah menjadi hantumu, sensei." Hati Karma, entah kenapa merasa tenang ketika bersama dengan Karasuma. Oh, inikah yang namanya kekuatan cinta?

Namun Karasuma belum selesai bicara.

"Kau pun akhir-akhir ini selalu masuk kelasku, aku sangat bangga sebagai seorang guru." Karasuma tersenyum hangat.

"Namun, yah.. kau tahu 'kan? Sebagai seorang guru, aku juga dipaksa untuk mengikuti peraturan-peraturan sekolah yang ada tentang guru dan murid." Karma tahu, pembicaraan ini akan menuju kemana.

"Jadi, maaf. Aku tak bisa membalas perasaanmu." Ya, Karma sudah siap dengan segalan jawaban yang ada. Karma menunduk, tersenyum getir.

"Setidaknya.. tidak di lingkungan sekolah."

"Hah?" Karma tidak jadi sedih, kembali Ia menatap Karasuma.

Pernyataan terakhir Karasuma sempat membuat Karma terkejut dan membatu. Oke, dia tidak jadi tahu pembicaraan ini akan menuju kemana.

"Akabane Karma, jam 3 sore nanti, di taman kota, ulangi pernyataan cinta mu di sana, karena kita tak berstatus sebagai guru dan murid diluar sekolah, hal itu diperbolehkan. Bukankah begitu?" senyuman Karasuma di akhir kalimat, betul-betul membuat Karma semakin jatuh hati.

CHAPTER 2/2

END.

A/N: Ya, terima kasih banyak sudah membaca sampai akhir, dariku cukup segini saja, mungkin emang masih banyak kesalahan, chapter 2 ini sudah kucek 2 kali, semoga gak ada kesalahan yang menyangkut.

Sekali lagi, terima kasih untuk para pembaca di depan sana #peluksatusatu

Lastly, mind to leave a review?

Salam homo,

Akane miyuki.