Dua

arejelquin

Seventeen!meanie


Dengan ngeri aku bisa melihat Vernon tertawa terbahak hingga jatuh terjungkang mengenai mejaku, terlihat sakit sekali saat melihat ia mengerang kesakitan dan berusaha untuk bangun dari posisi telungkupnya, tidak ada niatan sama sekali bagiku untuk mencoba membantunya.

Seungkwan tercekat, memekik dan menunjuk hidungku yang tiba-tiba memerah entah karena apa, Vernon berhasil berdiri dan menggaruk rambutnya yang mungkin terasa gatal, pemuda campuran Amerika tersebut sama terkejutnya dengan Seungkwan.

Kulit Seungkwan tiba-tiba menjadi pucat pasi, ia bergidik ngeri dan langsung berpindah tempat duduk yang tadinya berada disebelahku menjadi empat meja didepanku, berbeda dengan Vernon, ia sendiri hanya menggelengkan kepalanya kasihan dan beranjak berjalan menjauhiku.

"Kau sudah terlambat~ ia tidak akan melepasmu lho."

Aku menggendikan bahu tidak tahu, aku membiarkan hidungku yang tiba-tiba memerah tadi, mungkin efeknya menjadi flu, aku membiarkanya dan berusaha serileks mungkin. Membiarkan bulu-bulu disekitar tengkuk milikku meremang begitu saja, bangku disisi kiriku yang tepat bersisian dengan jendela terasa lebih dingin saat aku memegangnya tanpa sadar.

Aku mengetuk meja tersebut usil, mungkin akan mendapat respon. Aku sudah melakukan hal itu berkali-kali selama sebulan ini, sejak aku berpindah pada kelas ini. Namun sudah kubilang itu hanya sebuah keisengan yang dibuat olehku, karena mereka bilang, pemuda yang duduk disebelahku ini tidak pernah masuk—namun Vernon mengatakanya bahwa pemuda yang duduk disebelahku sudah menjadi hantu. Itu benar-benar aneh sekali.

Tapi—kurasa aku harus benar-benar mempercayai ucapan Vernon karena kejadian kemarin sore. Kalau boleh, aku ingin mengutuknya dan membuat hidungnya menjadi sebesar kacang rebus dengan kedua mata sebesar biji semangka.

Tuk.

Aku kembali mengetuk dan menendang mejanya kecil, seorang perempuan yang tepat duduk didepan meja tersebut mendelik dan membuat gestur 'diam' yang ditujukan padaku. Aku mengabaikanya dan kembali menendang meja kosong tersebut.

Tetapi rasanya tidak pernah ada seorangpun yang berani melakukan hal ini selain diriku, siapa yang peduli akan hal ini? Pikir mereka. Aku bahkan sudah melakukan hal ini lebih dari lima puluh kali kalau dihitung, hanya penasaran, namun mungkin saja rasa penasaran itu berubah menjadi rasa ketakutan.

Bisa kukatakan kalau hal ini sudah menjadi Hobiku.

Lucu. Aku benar-benar membuat hobi yang super aneh.


Seungkwan berjalan cepat menyusulku, dibelakang terdapat Vernon juga yang turut berjalan dengan langkah yang lambat lamat, seperti benar-benar berusaha menjauhiku begitu saja. Mungkin ia ketakutan entah karena apa, sindrom chuunibyou yang tidak biasanya mungkin saja terjadi.

Tetapi tidak pernah seseorang yang kukenal berbicara dan menatapku dengan raut kasihan seperti itu, aku benar-benar kebingungan untuk saat ini, hingga pada saatnya Seungkwan menepuk bahuku keras dan menggendikan dagunya menunjuk meja kosong disisi taman.

"Kita harus bicara," katanya dengan serius, aku mengangguk patuh dan berjalan mengikutinya sambil sesekali melirik Vernon yang terus mengalihkan pandangan—astaga ia benar-benar berusaha menjauhiku.

"Kenapa tidak dikelas saja?"

"Itu merepotkan, mata hitam itu terus berjalan disisimu tahu!" aku benar-benar dibuat kebingungan sekarang. Berjalan disisiku? Setelah sejak lama aku hidup dengan mereka, mereka belum pernah mengatakan hal-hal aneh yang membuatku risih, setidaknya mereka cukup membuatku nyaman namun tidak dengan sekarang ini, sumber-sumber keanehan mulai bermunculan pada pikiranku, siapa yang membuat hal ini menjadi sangat aneh.

Tidak lama, aku melihat kawanan kelas sebelah berjalan dibelakang kami. Mereka mengikuti juga? Hanya lima orang namun itu cukup membuat perasaanku campur aduk tidak karuan.

Vernon turut kebingungan dan bertanya padaku dengan raut wajah datar, "siapa mereka?"

"Tidak tahu."

"Kau tidak tahu? Siapa mereka?"

Memangnya aku tahu!

Tak lama kemudian kami sudah sampai pada bangku taman yang terlihat sedikit kotor dengan derap debu diatasnya, agak bingung saat kawanan kelas sebelah tersebut tiba-tiba menghilang dari pandanganku. Tetapi mungkin saja aku tidak peduli akan hal itu, masih banyak hal penting yang harus aku lakukan daripada memikirkan kawanan kelas sebelah.

Seungkwan melirik kesana kemari, terlihat gelisah, sedangkan aku berdiri dihadapanya, disebelah kiriku juga terdapat Vernon yang masih terlihat menjaga jarak denganku.

Tentu saja itu benar-benar membuatku tidak nyaman berada didekat mereka semua. Sepertinya ini serius, namun seperti biasa aku tidak terlalu peduli, hanya mencoba mencari ketenangan untuk hari-hari yang aku punya selama ini dengan bersama mereka.

Kami terdiam tidak tahu harus membicarakan apa, itu masih berlanjut sampai jam pelajaran terakhir selesai. Ini benar-benar membuatku bingung, aku tidak mengerti! Seungkwan yang mengajakku kesini, tapi dia yang malah terdiam seperti orang autis.

Sementara itu, aku terpaksa menghela nafas dan duduk disebelah Seungkwan karena pegal berdiri terus, jadi pada dasarnya kami benar-benar kebingungan—atau mungkin hanya aku yang kebingungan.

"Kau tahu, yah, ia akan selalu mengikutimu."

"Aku tidak tahu, berbicara yang benar," kataku jengah, kedua kakiku terbuka lebar dengan punggung yang menyandar pada bangku taman, Seungkwan melirikku takut-takut dan duduk bergeser sedikit lebih jauh.

"Kau sudah bertanya pada adikmu? Ia indigo 'kan?"

"Lalu?"

Vernon mendengus dan menendang kakiku, "intinya si mata hitam sedang mengikutimu, kau pikir hanya adikmu yang bisa melihat hal semacam itu? Seungkwan bahkan lebih teliti dari adikmu tahu!"

Aku meringis kesakitan, Vernon sialan, beraninya ia menendang kaki terhormat milikku.

Seungkwan menggeleng prihatin, pandangannya beralih pada Vernon, dan kemudian beralih lagi pada padaku, "intinya kau harus hati-hati, bisa saja ia membuatmu celaka."

"Aku tidak berani mencelakainya!"

Tentu saja aku tidak tuli. Tidak sama sekali, khususnya aku bisa mendengar dalam jarak sepuluh meter sekalipun. Namun kali ini benar-benar dekat, berhembus pada area telinga dan tengkuk. Siapapun, aku mungkin tidak berbohong tapi ini benar-benar nyata. Seungkwan meremas tanganku tiba-tiba, aku tidak berani menengok pada samping kiri, sedangkan Vernon sendiri menatapku tidak mengerti, ia beralih pada Seungkwan yang terlihat ketakutan.

"Ia temanku, jadi aku tidak mungkin membuatnya celaka."

"Hey hey, kau dengar itu?" aku berbisik pada Seungkwan, aku tidak memiliki kemampuan khusus seperti Seungkwan ataupun Jisan. Namun ini benar-benar sebuah kesialan yang terjadi padaku.

Seungkwan tercekat, "A-ahaha—ia sedang berdiri dibelakangmu sekarang..."

"Aku tahu."

Tidak, tentu saja tidak tahu! Aku berbohong untuk mencoba menenangkan diriku yang terus berontak entah karena apa.

"Kalau begitu, kapan kita kembali ke kelas? Suasananya semakin buruk," Vernon melakukan gerakan ingin cepat pergi, jari jempol miliknya menunjuk lorong sekolah yang terlihat sepi karena para siswa sudah masuk pada kelasnya masing-masing.

Aku mendesah kesal, beranjak berdiri dan meninggalkan Seungkwan dan Vernon disana, mengabaikan pekikan Seungkwan yang menyuruhku untuk berhati-hati dan tidak banyak tingkah, kemudian secara ajaib aku dapat melihat seseorang berseragam sama denganku sedang berjalan dibelakangku tanpa menimbulkan suara derap langkah sekalipun.

Mungkin aku memang sedikit lebih peka, tapi tentu saja aku tidak mempunyai kekuatan supernatural seperti Jisan ataupun Seungkwan. Tidak sama sekali, dan aku tidak pernah mengharapkanya, bagaimana hari-hari menyenangkanmu berubah menjadi menyeramkan saat itu juga kalau kau memilikinya, jadi aku tidak tahu dan tidak pernah berharap memiliki kekuatan seperti itu.

Aku berhenti berjalan dan memutar kepalaku melewati bahu, menatap seorang pemuda dengan rambut hitam dan mata yang cukup tajam, aku melirik ke arah lain lagi, tidak menemukan Vernon ataupun Seungkwan disana, hanya ada pemuda yang kira-kira lebih pendek dariku lima senti.

"...siapa?" aku bertanya ragu, ia diam. Aku mundur beberapa langkah, berjaga-jaga takutnya bahwa yang dikatakan Seungkwan adalah sebuah kebenaran. Tapi ada sedikit rasa bahwa aku tidak boleh mempercayainya begitu saja.

"Adikmu sudah menjelaskan... aku siapa?"

"Apa maksudmu?" aku bingung!

"Lupakan..."

"Aneh."


Aku mengemasi semua barang bawaanku pada tas, peralatan tulis menulis benar-benar berserakan diatas meja, tidak. Aku tidak menulis apapun selama jam perlajaran berlangsung, aku hanya menggambar kepala botak guru Bong yang sedang menjelaskan pelajaran sastra Korea tadi. Jika aku disuruh mengurus pelajaran ataupun mengerjakan soal-soal disana, aku hanya bisa melangkah maju dan mengerjakannya dengan lancar. Aku tidak bodoh, aku jenius—menurutku dan juga teman-temanku, tentu saja.

Aku melirik ke arah meja disamping kiriku, aku benar-benar melihat pemuda bermata hitam itu disana! Ia duduk menatapku dengan mata hitam pekatnya, bagaikan dua lorong yang kosong.

"Hm, aku mulai gila sekarang."

"Kau memang gila."

Aku memutar kepalaku spontan pada pemuda bermata hitam pekat tersebut, aku terkejut! Yang benar saja ia menjawab perkataanku secara langsung, yah meski itu tidak aneh. Tapi sebelumnya aku belum pernah melihat pemuda itu—kecuali pada saat sore kemarin, dan saat istirahat tadi.

Keadaan kelas sudah kosong, meninggalkanku sendirian—atau mungkin tidak dan juga membuatku sedikit merinding akan hal ini.

"Aku tidak mengenalmu mata hitam, jadi jangan menggangguku."

"Namaku Jeon Wonwoo bukan mata hitam."

"Siapa?"

"Jeon Wonwoo, kau tuli ya?"

"Yang bertanya."

Aku segera beranjak memakai tas gendongku dan berjalan keluar dengan sedikit tergesa, baru saja aku memutar kenop pintu, pemuda yang mengaku bernama Jeon Wonwoo tersebut sudah berdiri disampingku, tidak, ini mustahil. Aku tidak percaya ini, sejak kapan pemuda itu berdiri disampingku?

"Kau menyebalkan sekali!"

"Apa peduliku? Kau sudah mati 'kan? Jadi minggir," aku menyuruhnya pergi dengan kesal, tapi aku benar-benar tidak merasa takut sedikitpun, aku merasa berbicara pada teman sebayaku.

"Aku harus mengikutimu!"

"Apa-apaan itu? Kau seorang stalker? Mata hitam milikmu itu menjijikan tahu—"

Clash.

God. Aku tidak percaya ini, aku sedang bermimpi bukan? Ya tolong katakan itu.

"Itu hanya tipuan, mataku tidak hitam."

Ya tidak hitam, warna biru laut yang indah tersebut memantul pada pandanganku, aku yakin delapan puluh persen sedang bermimpi.

"Kau hantu?"

"Bukan! Kau bodoh ya? aku masih hidup tahu!"

"Kau penyihir?"

"Bukan juga."

"Lalu?" sahutku mulai malas, tanganku sudah melanjutkan memutar kenop pintu yang terasa dingin ini, aku terdiam memikirkan apa jawaban yang akan ia berikan. Satu detik, sepuluh detik hingga satu menit aku menantikannya.

"Ya lupakan saja, aku harus pulang tuan Jeon," pintu terbuka dan kakiku sudah melangkah pada lantai putih ini, sebelum tarikan pada rambutku terasa benar-benar menyakitkan.

"Kau tidak bisa bilang aku sudah mati, aku hanya tertidur," tanganku memegang rambutku dan juga tanganya yang masih hinggap diatas rambutku, ia benar-benar berani untuk melakukan tindakan konyol seperti ini pada orang yang baru saja dikenalnya.

"Vernon bilang kau sudah mati."

"Ugh, ia hanya mengkhayal, ada yang bilang juga aku tidak pernah masuk kan?" aku mengangguk kecil dan meringis sakit saat tiba-tiba ia melepas tarikanya begitu saja secara spontan. Aku memutar badanku dan melihatnya yang kini malah balik menatapku dengan tatapan super polosnya.

My god.

"Aku hanya tertidur, mungkin kau bisa bilang bahwa aku coma?"

"Jadi secara tidak langsung kau mau bilang bahwa kau adalah roh yang keluar dari tubuh—atau semacam itulah?" ia mengangguk, aku menggeleng prihatin.

"Tapi aku tidak mau membantumu, aku harus pulang."

"Tidak tidak! Aku tidak bilang kau harus membantuku seperti pada drama-drama kacangan itu!" ia berteriak dan kembali membuatku berhenti melangkah, kedua mataku memicing padanya, ia mengkerut dan berjalan satu langkah.

"Kau hanya perlu menjadi temanku."

"..."

"..."

"Tidak."

"Kalau begitu, pacarku?"

"Ow, itu bahkan lebih buruk man."

Ia tertawa yang membuat matanya seperti bulan sabit, aku terperangah dan mengalihkan pandanganku pada sudut lain. Mata birunya benar-benar bagus sekali, aku iri padanya.

"Aku hanya bercanda, kau harus menjadi temanku untuk saat ini,"

Wajah Wonwoo benar-benar memandangku penuh harap, aku meringis dan menggaruk tengkukku sekali kemudian melambaikan tangan pasrah padanya.

"Terserah padamu, hanya teman?"

Ia mengangguk, aku tersenyum padanya, "Deal."

Dan aku mulai mempunya teman baru lagi, yang aneh, mempunyai duplikat mata, dan juga manis. Ya aku tidak berbohong.


To Be Continued


A/N : Sebelumnya BIGTHANKS untuk yang sudah membaca, dan dua kali lipat BIGTHANKS untuk yang sudah mereview /give two lolipop XD/

mohon maaf kalau mengecewakan, mohon maaf tidak bisa membalas review satu-satu, tapi aku sudah membaca review kalian semua x) makasih ya, gara-gara itu aku jadi pengen apdet asap trus.

Ohya jujur aku ga mau bikin meanie moment terlalu cepat, pengen dibuat teratur(?) dan juga berkala. kalau cepat-cepat ada meanie moment yang romance-romance kesanya ya terlalu cepet gitu(?) padahal mereka baru bertemu.

Ohya ada yg mau req buat pairing lainya? mungkin kalo sempat aku munculin di chap depan.


Mind to Review? /smile with meanie/