Tiga

Arejelquin

Meanie!Seventeen

Genre : Mystery, Fantasy, Supernatural and Romance

Disc : Alur dan Rated mungkin akan berubah:3 [Pov Chapter depan akan berubah]


Aku berhenti berjalan sejenak dan menepuk dahiku keras, tampak berusaha untuk memilih kata-kata dengan super pedas, "kau memang penguntit astaga."

Ia menggeleng kecil dan menatap mataku dalam, aku mencari tahu makna yang terkandung didalam matanya yang benar-benar kembali menjadi corong hitam itu. Ketika akhirnya aku menarik nafas kesal untuk kesekian kali, ia mulai berbicara dengan nada datar sekaligus menyebalkan.

"Kau bodoh sekali. Aku bilang aku 'kan selalu mengikutimu, dan aku bukan penguntitmu."

Aku berdecak kesal, kedua tungkai kakiku kembali berjalan dengan sedikit cepat, dan sungguh ia juga turut berjalan dibelakang tanpa alas kaki, kupikir ia akan terbang melayang sekitar lima senti diatas tanah. Tapi itu tidak benar-benar terjadi.

Aku tidak yakin apa yang akan dilakukan pemuda bernama Jeon Wonwoo itu saat mengikutiku, aku tidak paham kenapa ia harus mengikuti seseorang dan harus juga menjadikanya sebagai teman, aku masih bingung, setidaknya untuk saat ini.

"Kau tahu, sebenarnya aku tidak sudi mengikutimu."

Aku mendengarnya dengan jelas saat ia berbicara dibelakangku, tentu saja karena aku tidak tuli.

"Lalu?"

"Kau pikir aku senang ya mengikuti pemuda judes sepertimu?"

Aku malas menjawab dan tetap berjalan diatas trotoar, keadaan untuk saat ini tidak bisa dikatakan ramai sama sekali, hanya ada aku dan pemuda bermata hitam super menyebalkan yang kini sedang berjalan dibelakangku dengan terus mengumpat tanpa henti.

"Kalau begitu pergi saja."

"Tidak bisa."

"Cih."


Aku memutar kenop pintu rumah, tidak dikunci yang artinya Jisan sudah berada dirumah, aku tidak tahu reaksinya bagaimana saat melihat hantu—atau arwah itu berjalan disampingku dengan wajah yang super duper polos, aku tidak tahu kepribadiannya karena baru mengenal, terkadang ia menjadi pemuda super manis, menyebalkan, sombong dan segala hal buruk lainnya.

"Aku pulang—"

"Kami. Bukan aku saja."

Aku meliriknya dan menyeringai sinis dan berjalan masuk lebih dulu kedalam, meninggalkan Wonwoo yang lagi-lagi mendengus dan berjalan masuk kedalam rumah.

"Cuci kakimu," aku menyuruhnya, salah satu halis milik Wonwoo naik, "kakiku tidak kotor."

"Kau tidak memakai sandal—" ia mengangkat sebelah kakinya, menunjukan padaku bahwa betapa putih bersih kakinya tersebut. Aku mengangguk malas dan berjalan masuk kedalam kemudian melempar tas gendong milikku yang terjatuh tepat pada sofa yang sedang diduduki oleh Jisan.

Sebenarnya ada banyak hal kegiatan yang dapat dilakukan Jisan dan aku pada sore hari yang cukup mendung ini, contohnya mungkin kami bisa memakan popcorn sembari menonton film action kesukaan kami, atau juga bermain game ps seperti biasanya dikala bosan, namun semuanya melebur jauh karena hari ini atau mungkin seterusnya, karena kami sudah kedatangan tamu aneh dengan kedua mata hitamnya—yang terkadang berubah menjadi warna biru laut yang sangat indah.

Alasan aku kenapa menerima Wonwoo menjadi temanku hanya satu, kasihan. Aku bukan pemuda baik seperti kelihatanya, kalian akan menyesal saat tahu bahwa terdapat beberapa tumpuk majalah yang—kau tahulah apa itu dan juga pernah mendapatkan beberapa tamparan telak dipipi karena mempermainkan beberapa wanita yang benar-benar bodoh untuk aku kencani.

Semuanya pernah aku dapatkan, dan pemuda bermata hitam yang sudah mati atau belum itu mungkin akan menjadi korban selanjutnya.

Jisan mendumel keras tidak terima saat aku melemparkan tas itu tepat disebelahnya, kedua matanya menyipit tajam saat melihat Wonwoo berdiri dibelakangku.

"Kau datang lagi?" suara sumbang milik Jisan berteriak histeris tertahan, aku mendengus berbeda dengan Wonwoo yang terlihat memberikan cengiran lebarnya.

"Tentu saja, aku akan tinggal disini!"

Aku berdehem cukup keras, tidak setuju dengan kata-kata yang baru saja dilontarkannya. Itu gila dan aku tidak pernah mau menyetujuinya.

"Hebat! Mingyu kau harus baik pada Wonwoo—" perkataannya terpotong, aku berkata cukup keras dengan nada sinis, "ya, aku akan sangat baik padanya, tenang saja."

Wonwoo diam menatapku dengan pandangan tidak mengerti, aku tersenyum simpul padanya, yang aku tahu itu hanyalah tipuan semata untuk menipu pemuda hantu tersebut.

Saat dilihat-lihat, Wonwoo memiliki tubuh semampai yang sekiranya lebih pendek dariku lima senti. Suara yang sedikit berat dan juga terlihat lucu bila kau mendengarnya, wajah yang unik, mungkin aku bisa menyebutnya dengan emo.

"Kau tahu, aku bisa membaca pikiranmu."

Jisan terpekur, aku menaikkan sebelah halisku curiga.

"Hantu sepertimu bisa membaca pikiran, hebat sekali."

Wonwoo mendelik dan melompat pada sofa putih panjang tersebut, bersebelahan dengan Jisan. Ini benar-benar aneh, ia bisa menyentuh semua benda yang ada disini, kupikir semua benda yang disentuhnya akan menembus begitu saja.

"Berhenti berpikir aneh! Aku bukan hantu sudah kubilang 'kan?!"

Aku terhenyak, menatap Jisan sekilas dan berjalan pergi meninggalkan mereka.

Kau sudah mengatakanya waktu itu, Jeon Wonwoo.

...

Percaya tidak percaya, Wonwoo kini tidur diranjang King Size kesayangan milikku. Aku terdiam tidak percaya menatapnya yang kini sudah tidur telentang dengan selimut abu-abu garis hitam milikku yang sudah menyelimuti tubuhnya seperti kepompong.

Menderita saat melihat tempat tidurku ditempati olehnya begitu saja, aku hanya lagi-lagi mendengus keras dan melempar majalah setebal tiga senti pada tempat tidur.

"Hoo begitu ya," aku berkata dingin, kedua kelopak mata yang tadi tertutup kini kembali terbuka, menampilkan kedua mata seperti corong hitam yang terlihat menyebalkan saat dilihat.

"Aku tamu, biarkan aku tidur," katanya menyebalkan, kedua mataku melotot tidak percaya. Aku tidak tahu, bahwa ada hantu menyebalkan seperti itu, demi tuhan, bila aku dapat melihat hantu-hantu aneh seperti dirinya lagi, aku akan melompat dari pohon mangga milik paman Bong.

"Lompat saja, tidak ada yang peduli."

Sungguh, ini bukannya untuk konflik super aneh, malam ini aku benar-benar tidak bisa tidur, aku tidak mau satu ranjang dengan hantu aneh sepertinya, meski setiap aku berkata seperti itu, ia selalu mengelak dan berkata 'aku bukan hantu. Camkan itu!'

"Kau benar-benar bisa membaca pikiran ya?" aku bertanya malas, berjalan mendekat pada sebuah kursi didekat meja belajar dan mendudukan pantatku disana, menatap Wonwoo yang masih bergelung nyaman didalam selimut, membuatku muak dengan sepenuh hati.

Ia mengangguk dibalik selimutnya, Aku melihat jendela kamar yang tidak ditutup, langit biru gelap bersitatap denganku.

Entah apakah karena situasi yang cukup canggung ini, Wonwoo tiba-tiba terduduk diatas kasur, menatapku heran yang tersenyum simpul begitu saja saat melihat langit diluar sana.

"Kau tahu? Menjadi arwah seperti ini tidak membuatku bahagia," ia berkata tiba-tiba, aku mengalihkan pandanganku padanya, suasana yang beberapa menit lalu sempat terjadi konflik, kini kembali sedikit tenang. Aku turut penasaran dengan apa yang akan dikatakanya setelah ini, mungkin bila beruntung aku bisa mengorek sedikit informasi tentang dirinya.

"Aku tahu kau berteman denganku karena kasihan—" aku menatapnya dingin, menelusuri wajahnya yang tiba-tiba berubah menjadi pahit, penuh kesedihan.

"Aku tidak peduli tentang hal itu, aku ingin bertanya. Bagaimana rasanya menjadi manusia yang bebas tanpa dikejar oleh rasa takut yang terus menghantuimu?" ia melanjutkan, aku tergelak keras mendengar pertanyaanya. Apa-apaan itu? Lucu sekali.

"Kau bertanya hal bodoh seperti itu?" aku masih tergelak, beranjak berdiri kemudian mendekat pada tempat tidur milikku, ia masih duduk disana dengan kedua mata hitamnya, aku mendecih melihatnya.

"Kau berpikir kalau aku sedang bercanda?" ungkapnya kesal, aku melenguh keras dan duduk bersila tepat dihadapannya, diatas tempat tidur. Rasa penasaranku semakin memuncak.

"Ia terus mengejarmu dan berniat mengambil arwahmu sepenuhnya, kau takut?" ia kembali bertanya, aku diam tidak menjawab, menunggunya untuk terus melanjutkan, hidungnya memerah entah kenapa, seperti seseorang yang baru saja kedinginan.

"Kau tidak tahu rasanya dihantui rasa kecemasan yang teramat besar, dimana kau selalu merasa gelisah saat seseorang itu muncul dihadapanmu, kau tidak tahu?"

Aku menggeleng, masih tidak mengerti dengan apa yang diucapkannya.

"Ia mengincarmu dan aku."

"Jangan bertele-tele, aku tidak mengerti," aku mengibaskan tanganku kesal, merasa jengah dengan ucapannya yang terlalu bertele-tele hingga cukup membuatku memutar otak hingga berasap.

"Ia mengincarku selama ini, terlebihnya kau. Aku sangat takut, aku tidak mau hal itu terulang lagi."

"Ini cerita hidupmu?" ia mengangguk.

"Kenapa serumit dan semenyedihkan ini? Kau belum mati 'kan?" ia mengangguk kembali.

Aku menatapnya dengan tatapan mengejek, ada sedikit perasaan menyesal karena terus mengetuk mejanya selama disekolah.

"Kenapa aku rasa ceritamu benar-benar tidak bisa dipercaya? Aku seperti masuk pada dunia dongeng."

Gantian, ia yang terbahak.

"Aku tidak berbohong!"

Aku menghela nafas kecil, kemudian tersenyum padanya, ini bukan tipuan, aku melakukan hal ini karena mungkin saja, aku mulai sedikit percaya padanya.

"Okay, kau bisa bercerita lagi," kataku tenang, ia menggeleng pelan. Wajah emo nya berubah menjadi sedikit tenang, aku yakin mataku tidak katarak, tapi kenapa ia benar-benar terlihat sangat lucu dengan kedua pipi yang menggembung tiba-tiba? Meski aku tidak tahu bahwa mata hitamnya tersebut menyimpan penuh kesedihan.

"Aku akan melanjutkannya besok, tapi kumohon, jangan tinggalkan aku malam ini," aku termenung tiba-tiba, suara yang memohon penuh padaku, aku belum pernah mendengar seseorang memohon padaku dengan raut wajah yang terlampau manis dan juga memelas disaat bersamaan itu.

"Kau seperti gadis remaja yang akan ditinggal kekasihnya saja," sindirku setengah bercanda, ia menghela nafas.

"Kumohon, aku tahu ia akan datang malam ini."

Lagi. Ia membuatku bingung, ia bercanda?

"Kau akan melihatnya nanti malam, kau bisa melihatnya. Ia sama denganmu."

Ia sama denganku, cukup membuatku kebingungan dua kali lipat lebih jauh lagi.

...

Astaga. Aku tidak tidur semalaman karena penasaran, sialan. Kupikir isi kepalaku jernih dan kosong begitu saja untuk malam ini, Wonwoo benar-benar tertidur tenang diatas ranjangku, aku duduk bersandar pada kepala ranjang, keadaan kamar benar-benar gelap dengan penerangan minim dari luar sana, jendela tidak kututup beserta gordennya. Membiarkan cahaya bulan menelusup masuk dengan bebas.

Aku hanya bisa melihat keadaan kamarku yang remang-remang, aku tidak tahu apa maksud 'ia sama denganku' kepalaku benar-benar berputar memikirkannya.

Hawa dingin menelusup masuk keadalam pori-pori kulit, bersiul pelan mengusir rasa cemas yang muncul tiba-tiba, aku tetap bersikeras untuk tidak menutup mataku sama sekali.

Dan satu hal yang cukup membuatku hampir berteriak kaget saat tiba-tiba benda dingin dan tipis menyentuh pipi kananku.

Aku tidak percaya ini. Sekelebat bayangan melewati meja belajarku begitu saja. Aku terdiam dengan nafas yang tersengal tiba-tiba, aku yakin, aku tidak mempunyai kemampuan lebih seperti Jisan ataupun Seungkwan. Tapi aku benar-benar melihatnya!

Aku melirik Wonwoo yang masih tertidur pulas, meringis kecil dengan perasaan tidak tenang, tanganku mencoba menggapai ponsel dimeja nakas sebelah tempat tidur, menyalakan senternya ditengah keremangan, dan... BOOM.

Ponselku jatuh menimpa lantai, tenggorokanku tercekat dengan kedua mata yang menatap seseorang yang kini terduduk dimeja belajarku dengan pandangan mata yang benar-benar dingin.

Pantulan diriku.

Aku melihatnya, aku yakin aku tidak mempunyai kembaran. Nenek tidak pernah bilang padaku tentang hal itu, aku hanya ingat bahwa ia berkata Jisan hanya adikku seorang.

Aku yakin rambutku juga bukan berwarna biru perak seperti itu, aku yakin gigi taringku tidak setajam itu saat melihat ia tersenyum dingin dan menampakan gigi rapihnya.

Aku mematung, kedua belah bibir tersebut bergerak tanpa suara, nafasku benar-benar tersengal, dan sialnya Wonwoo tidak benar-benar bangun atas keributan ponsel terjatuh milikku.

Mungkin akhir-akhir ini aku terlalu sering berhalusinasi, terlalu banyak membaca buku cerita milik Jisan dan juga terlalu banyak mendengar ocehan Seungkwan tentang betapa seram hidupnya yang selalu diganggu mahkluk-mahkluk aneh.

"Aku benar-benar berhalusinasi."

"Kau melihatku, aku yakin."

Aku mundur perlahan, berusaha menghindari tatapan langsung dengan seseorang yang sama persis denganku—tidak, ia hanya memiliki beberapa bentuk fisik yang berbeda denganku, selebihnya sama.

Aku yakin Wonwoo sudah mengetahui hal ini, namun sepertinya ia berusaha untuk tetap menutup matanya, aku dapat melihat pergerakan kecil darinya dari dalam selimut

Suara dentingan benda perak panjang seperti tongkat dengan ujung yang runcing membentur lantai, kedua kaki yang dirantai dan juga tatapan mata yang benar-benar dingin, Aku berdecak kagum sesaat, merasa melihat pantulan diriku yang benar-benar keren dengan pakaian yang memang terlihat sedikit compang camping namun tetap tidak menghilangkan kesan creepy mendalam.

Aku menghela nafas tenang, mengusap dadaku perlahan dan mulai kembali menatapnya, ia masih berdiri disana, sekitar empat meter didepanku.

"Aku rasa aku tidak pernah mempunyai kembaran super keren sepertimu," aku berniat sedikit memberi bumbuan melawak, ia menaikkan sebelah halis, "ya, kau seharusnya berdiri disini, dan aku berdiri disana."

Giliran halis milikku yang naik sebelah, aku tidak mengerti. Jadi maksudnya seharusnya aku yang menjadi dia? Dengan kaki yang dirantai seperti itu?

Lucu sekali.

"Sepertinya aku ketambahan tamu aneh lagi—" ia memotongnya tidak sopan, "aku tidak bertamu."

"Kau...seperti iblis," ceplosku, ia terkekeh rendah dan berjalan mendekat dengan suara gemericing menyeramkan akibat rantai yang mengikat kakinya.

Matanya melirik gelungan selimut yang bergerak kecil, aku turut cemas, tidak. Aku tidak cemas dengan keadaan Wonwoo, kupikir kalau ia mati itu tak apa. Berarti dia sudah mati dua kali, itu yang aku pikirkan, namun tetap saja pemuda bermata hitam itu tidak akan mengaku kalau ia sudah mati.

Kedua matanya kembali menatapku, kepalanya mendongak angkuh dan ia tepat berdiri dihadapanku, tingginya sama. Aku benar-benar melihat pantulan diriku.

"Kau pernah bertemu denganya," katanya dengan suara rendah, "aku bertemu dengannya saat pulang sekolah, ya kemaren sore," balasku ringan, ia kembali terkekeh kecil.

Aku baru sadar bahwa matanya lebih tajam dariku, "kau duplikatku."

"Kau pikir aku kunci duplikat?" aku menatapnya jenaka, aku tidak bisa serius. Ia diam.

Pertama, ia menatapku dengan mata dinginnya, kedua dia menatap Wonwoo yang tiba-tiba sudah berdiri disampingku dengan kedua kaki yang gemetar—oh okay aku baru sadar kalau Wonwoo sudah berdiri dengan cepat disisiku.

Aku menyadarinya, kalau dunia ini benar-benar terasa tidak nyata. Aku bertemu dengan Jeon Wonwoo pemuda bermata hitam, mempunyai seorang adik dan juga teman yang memiliki kemampuan khusus, dan terakhir aku melihat seseorang yang mengaku sebagai duplikatku, otakku benar-benar dipaksa untuk berpikir.

Wonwoo sudah meremas ujung bajuku dengan kuat, ia benar-benar terlihat mengerut kecil dibelakangku.

"Suruh dia pergi," aku mendengarnya mencicit seperti tikus dibelakangku dengan suara yang teramat kecil, sementara orang yang mengaku sebagai duplikatku hanya memiringkan sebelah kepalanya dan juga menatap kami berdua—hanya Wonwoo dengan wajah super polosnya, wajah pucatnya benar-benar terlihat beku.

"Ia menyuruhmu pergi kawan, lagipula aku tidak percaya kau duplikatku atau apalah itu—"

"Saatnya bertukar," katanya dengan suara dingin dan menusuk, memotong perkataanku yang belum selesai. Seketika itu juga aku merasa bahwa organ dalamku benar-benar diremas secara kasar, kepalaku berputar dan nafasku terasa sesak. Muncul godaan kuat untuk berteriak keras dan meminta bantuan, aku tidak percaya ini. Rantai dikakinya berpindah pada kakiku, rasanya benar-benar membuatku sakit, Wonwoo terpekik tertahan dan memegang tubuhku yang tiba-tiba ambruk pada lantai.

"MINGYU!"


Kedua kelopak mataku terbuka, Jisan menatapku cemas. Pandanganku masih memburam, dinding berwarna hitam dan abu-abu terasa menusuk penglihatanku, ini masih kamarku.

Aku meringis kecil dan bangkit, menghela nafas berusaha menyuplai oksigen yang harus masuk, "Mingyu, kau mimpi buruk?"

Mengerling dengan kedua mata yang memerah, aku menggeleng kecil dan memeluk Jisan, tubuh kecilnya benar-benar pas untuk dipeluk.

Namun tetap tidak ada reaksi apa-apa, semuanya masih memburam, yang hanya kulihat saat ini hanya seorang pemuda bermata hitam disudut kamar yang menatapku dengan pandangan khawatir yang teramat.

Perutku benar-benar melilit, melihat kearah samping hanya mendapatkan sekotak bubur hangat dengan asap mengepul.

Apa itu? Aku yakin bahwa aku tidak bermimpi, seseorang datang mengaku bahwa dia adalah duplikatku, Wonwoo yang ketakutan dan rantai perak yang berpindah melingkari kakiku.

Aku tidak mengerti.

"Mingyu, maaf membuatmu terlibat."

Jisan diam didalam pelukanku, aku menatap Wonwoo yang berdiri dengan perasaan penuh penyesalan.

"Kau takut padaku?" aku bertanya tanpa sadar, ia diam.

"Ia... sama denganku 'kan?"

"..."

"Aku tidak mengerti, semuanya berubah semenjak kau datang kesini. Kau bahkan hanya diam seperti orang idiot, dia siapa?"

"Dia duplikatmu," bisiknya, "aku tidak mempunyai duplikat, atau kembaran atau apapun itu."

"Dia jiwamu yang lain—"

"Aku benar-benar berhalusinasi, Jisan bisa panggilkan dokter psikiater sekarang?"

"Kau gila," Jisan menggumam dan mendelik malas, ia lompat dari pelukanku dan berlari keluar kamar dengan menutup pintu, jejak kakinya terlihat menetap pada lantai, kakinya kotor.

"Mingyu kau tidak mengerti!"

"Aku memang tidak mengerti, jadi jelaskan?"

Wonwoo menghela nafas dengan susah payah, "dunia ini tidak seperti yang kau pikirkan, bagaimana kalau aku bilang kau memiliki kepribadian yang lain?"

Mata hitamnya yang kelam menatapku tajam, wajah emonya berubah menjadi serius sedangkan aku sendiri hanya tertawa hambar, "kepribadian yang seperti iblis maksudmu?"

Wonwoo tidak mengangguk atau menggeleng, pada akhirnya ia hanya memalingkan wajahnya pada lantai yang seakan lebih menarik untuk dipandang.

"Semuanya berkaitan, aku menjadi arwah karenamu—kau tidak sadar akan hal itu. Kepribadianmu yang lain yang membuatku menjadi arwah seperti ini. Kau jahat, kau seperti psikopat dan kau benar-benar membuatku tersekap didalam gedung tua sekolah hingga berhari-hari. Aku hampir ditemukan tewas dan beruntungnya aku hanya koma. Dan setelah itu kepribadianmu berubah menjadi yang sekarang!" ia menunjukku dengan wajah yang penuh emosi.

"Ia selalu mengejarku dan membuatku ketakutan, dan sekarang ia kembali untuk mengambil tubuhmu dan membuatku mati."

"Seungkwan dan Vernon tidak pernah mengatakan bahwa aku mempunyai kepribadian aneh seperti itu," aku mengelak dan menatap Wonwoo dengan nafas tersengal, ia terlihat kelelahan karena berbicara panjang lebar.

"Mereka tidak mengatakan hal itu dan berpura-pura baik karena Nenekmu yang menyuruhnya. Jisan, ia sebenarnya mengenalku!" aku mendengus keras, "Jadi intinya kau memiliki kepribadian yang lain, kau paham? Dan sekarang aku meminta bantuanmu untuk menjadi temanku seutuhnya untuk bisa mengembalikanku menjadi manusia biasa!"

"Tidak, biarkan aku bertanya. Berapa hari kau koma?"

"Tujuh bulan," aku bergumam 'wah' tidak percaya.

"Aku tidak akan mempercayai kalau aku mempunyai kepribadian yang lain."

"Sembilan puluh persen orang yang memiliki kelainan seperti itu memang tidak akan ingat dan tidak percaya," ia mendengus, "jadi aku sudah mengenalmu sejak lama?" aku melanjutkan, Wonwoo mengangguk.

"Kau bahkan pernah bilang kalau kau akan menjadikanku.." ada jeda sesaat saat ia berbicara, aku tidak tahu kalau ia benar-benar cerewet untuk saat ini.

"...pacarmu."

Kembali hening, namun untuk beberapa saat aku tergelak diatas tempat tidur dan menatapnya jenaka, "itu bukan aku yang bilang, yang bilang kepribadianku yang lain 'kan?"

"Tapi tetap saja kau orang yang sama.." suaranya memelan, aku bisa melihatnya. Wajahnya merona hebat, mata hitamnya berubah menjadi warna biru laut. Aku penasaran kenapa ia memiliki warna mata yang seperti itu?

"Kau lucu sekali," kataku asal ceplos, rasa pusing dan mataku yang menatap semuanya menjadi blur sudah selesai.

"Jadi intinya, kita sudah saling mengenal?" Wonwoo mengangguk, baju sweater abu yang terlihat kebesaran yang selama ini dipakainya saat bertemu denganku benar-benar terlihat cocok dengannya. Kenapa aku baru menyadarinya?

"Lebih dari sekedar mengenal, dengan kepribadianmu yang lain sih."

Aku mencibir, turun dari tempat tidur dan berdiri dihadapanya, jarak kepalaku dengan kepalanya mungkin hanya sekitar tujuh senti.

"Kalau begitu... dengan kepribadianku yang saat ini, mau mengulang semuanya dari awal?"

Hanya anggukan yang kudapati, aku tersenyum lembut. Ini bukan tipuan aku benar-benar tersenyum. Baiklah, mungkin memulai dari langkah awal tidak buruk. Semuanya baru saja dimulai.


To Be Continued


A/N : Late Update banget, lupa disimpen dimana file nyaaa:'v taunya di dokumen bukan di Folder khusus FF.

Oke ini datar banget kayaknya, penuh sama obrolan Wonwoo dan Mingyu yang ga terlalu penting/? maaf kalau bingung, aku aja bingung /g

Buat pairing yang lainnya tadinya mau dimasukin ke chapter ini, tapi pas diliat lagi jadi males gara-gara chapter ini penuh sama penjelasan Wonwoo buat Mingyu/? lagian jujur aja bikin FF ini sambil denger lagu Nightcore-Awake and Alive wkwk.

Maaf banget kalo ada typo, ceritanya bikin bingung dan sebagainya.

Terimakasih banget buat yang udah review~ bigthanks, tanpa kalian mungkin aku ga bakal semangat lanjut ini FF meski ngaretnya mungkin keterlaluan. Maaf ga bisa balas satu-satu. Thanks juga ya buat Silent Reader/viewer yang ternyata 900. Astaga aku bahagiaa:"D thanks thanks;*


Mind To Review? :3