Empat

arejelquin

Seventeen!Mingyu;wonwoo[meanie]

Disc : Ingat, pov sudah berubah.


Pemuda berambut hitam kelam dengan sebuah t-shirt berwarna biru dan juga sepasang sepatu berwarna hitam yang dipadu merah tersebut berjalan dengan tergesa, berusaha mengimbangi kecepatan gadis kecil dengan rambut yang dikepang dua disisi kiri dan kanannya. Bocah berambut kecoklatan tersebut berjalan dengan cepat dengan langkah kecil-kecilnya, benar-benar terlihat tidak mau diikuti oleh pemuda tinggi yang kini hanya memutar kedua bola matanya malas.

"Kedai Ice Cream tidak akan pergi kemana-mana, little girl."

"Tapi mereka akan habis kalau aku tidak cepat!" teriak Jisan. Kedua matanya sempat melotot ke arah Mingyu dengan teramat kesal, suara sumbang yang mampu membuat amarahnya mencapai ubun-ubun. Mingyu tidak yakin kenapa ia harus memiliki seorang adik perempuan yang super menyebalkan seperti ini, yang terkadang cukup membuatnya seperti seorang sistcon karena harus menemani adiknya itu pergi kemana-mana dengan baju berwarna-warni yang sangat mencolok dan juga kepangan dua yang Jisan buat sendiri, tentu saja demi adik kecil perempuan tersayangnya.

Pada akhirnya, pemuda bermarga Kim tersebut memperlambat langkahnya dan membiarkan adik perempuannya tersebut berlari ke sebrang jalan—tepatnya pada kedai Ice Cream yang sudah dipenuhi oleh anak-anak yang berteriak untuk membeli Ice Cream manis yang menggugah selera.

"Demi jenggot paman Bong, aku cukup lelah mempunyai saudara sepertinya," desisnya dengan lemas, ia duduk ditrotoar jalan yang berwarna putih hitam disana. Beberapa orang terlihat menatapnya aneh dan juga kasihan, mungkin sebagian dari mereka berpikir bahwa Kim Mingyu adalah seorang pemuda kesepian dan miskin yang berniat mencari lowongan pekerjaan. Hey! Apakah mereka tidak lihat bahwa Style Mingyu benar-benar keren seperti itu? Dengan pakaian dan sepatu bermerk.

Sesungguhnya Mingyu sendiri sangat teramat malas untuk mengantar adiknya ke Kedai Ice Cream yang jaraknya bahkan hanya dua blok dari rumah mereka. Namun sifat posesif dan overprotektif yang dimiliki Mingyu menyuruhnya untuk segera mengantar sang adik kecil untuk membeli jajanan Ice Cream hariannya pada hari minggu.

Hari Minggu?

Oh. Benar sekali, maka dari itu Mingyu benar-benar terlihat free hari ini tanpa adanya kegiatan yang cukup berat.

Merasa bosan karena Jisan yang tidak datang untuk berjalan mendekatinya, pada akhirnya Mingyu berjalan menyebrang untuk mendekati kedai Ice Cream disana. Tatkala kedua matanya bersiborok dengan anak kecil berambut putih yang kini sedang terduduk disebuah kursi panjang didepan Kedai. Mingyu berjalan mendekatinya dengan suasana hati yang sedikit ceria. Kedua mata tersebut sedikit berbinar saat melihat anak kecil yang kini malah menatapnya tajam dari kursi disana.

"Hey, tidak mengantri untuk membeli Ice Cream?" Mingyu bergaya 'sok kenal sok dekat' dan menempatkan bokongnya tepat disebelah anak kecil yang kini masih menatapnya tajam dan sinis. Mingyu tentu saja tidak menyadarinya, ia terlalu senang saat melihat seorang anak kecil yang bahkan cukup membuatnya terlihat seperti pedofil.

"Mau kubelikan Ice Cream?" rasanya Mingyu benar-benar salah memberikan pertanyaan seperti itu.

"Kau brengsek."

Mingyu mengerutkan keningnya, kenapa bocah manis ini langsung mengumpatnya? Bukankah ia sudah berbaik hati untuk menawarkannya membeli Ice Cream yang bahkan Mingyu sendiri tidak mau melakukan hal itu kepada adiknya sendiri.

"Maaf, kau berkata apa tadi?"

"Kau konyol Kim Mingyu."

Wow bahkan ia mengenalku! Pikir Mingyu tidak percaya.

"Kupikir kau tidak perlu mengatakan kata kasar seperti itu," tangan besar milik Mingyu menepuk kepala berhiaskan mahkota bersurai putih tersebut, "kau masih kecil—"

"Kecil? Bloody Hell," Bocah itu semakin menatapnya tajam dan menepis tangannya yang tadi menepuk kepalanya, "ternyata kau benar-benar lupa tentangku."

"Maaf?"

"Ternyata pemuda psikopat itu benar-benar berubah, astaga. Kau tahu? Aku benar-benar ingin mengulitimu sekarang juga karena membuat Wonwoo terluka!"

"Maaf. Aku tidak mengenalmu, dan kau baru saja mengumpatku?!"

"Aku Lee Jihoon. Dan aku bukan anak kecil, dasar freak!"

"Freak?" Mingyu benar-benar kebingungan dengan satu kata diakhir.

"Kau Freak, dasar brengsek! Kembalikan Jeon Wonwoo!"

Mingyu mengerti sekarang, kedua mata tersebut mengerling sesaat dan menatap pemuda bertubuh mungil yang sempat di duganya seperti anak kecil. Kedua belah bibir tersebut terbuka hendak mengatakan sesuatu, namun Kim Mingyu kembali menutup kedua belah bibirnya dan memilih untuk diam, mengalihkan pandangan dengan perasaan yang sedikit kesal.

"...kembalikan Jeon Wonwoo."

"Aku bukan tuhan, aku tidak bisa mengembalikannya," Mingyu meringis setelah mengucapkannya, lidahnya terasa kelu dan sulit untuk mengucapkan kata-kata, kemungkinan 'anak kecil' atau 'pemuda' disampingnya ini adalah kerabat dekat dari seorang Jeon Wonwoo.

Berdiri dengan desisan tajam tak lupa delikan yang menyertai, pemuda kecil dengan rambut peraknya berbalik pergi kearah sebrang jalan, mendekati sebuah rumah tepat didepan kedai dengan cat putih caramel dan pagar berwarna nila mencolok.

"Menyeramkan."

...

Ceceran Ice Cream Vanilla terjatuh mengenai lantai dibawah, mengusap dengan telapak kaki, gadis kecil yang kini bertampang malas-malasan tersebut malah menjatuhkan cup ice creamnya secara asal pada lantainya, membuat bercak putih-krem menodai lantai putih bersih dibawahnya.

Gadis kecil ini benar-benar jorok.

"Makan saja semuanya! Dasar kucing sok manis!"

Kucing? Hantu kucing. Kalau lebih enak mengucapkannya.

"Jisan kau harus baik pada kucing," Jeon Wonwoo berjongkok mengusap kepala kucing berwarna hitam dengan kedua mata biru langitnya, tersenyum dengan kedua mata yang berbentuk bulan sabit, Jisan menatap keduanya jijik dan tidak minat, hingga akhirnya Jisan sendiri merasakan kebosanan.

"Mingyu dimana?" lehernya menekuk pelan, kedua mata yang melirik keadaan sekitar rumah, berjalan perlahan dan menginjak lelehan Ice Cream miliknya sendiri yang kini masih saja dijilati hantu kuncing berwarna hitam.

"Ia bilang, ia akan mencari sesuatu... yang menyenangkan?"

Setelah beberapa saat lagi, terdengar suara seseorang terjatuh, jatuh menapaki tumpukan berpaket-paket buku tebal dengan beberapa debu diatas, Kim Mingyu meringis kecil dan mendelik kesal pada seseorang yang kini malah tertawa diatas tangga dengan kedua mata yang menyipit.

"Seokmin sialan—"

"Wow. Posisi yang bagus—" hingga dua detik kemudian, blitz camera berserta suara 'ckrek' cukup membuat seorang Kim Mingyu mengamuk dengan melempar buku-buku tebal pada arah Seokmin yang masih tertawa terpingkal-pingkal diatas tangga.

"Brengsek kenapa tidak mati saja?"

"Apa—"

"..."

Ucapan terputus, keheningan datang secepat yang ia bisa. Rasanya terlalu kaku untuk mengubah suasana yang tiba-tiba canggung seperti ini. Wonwoo yang merasa beku dalam diam dan Seokmin yang merasa bulu kuduknya meremang dalam sesaat.

Secepat itu? Jisan bahkan sudah mengerut kecil dibelakang sofa.

Dalam imajinasi, kau bisa melihat bahwa sehelai angin berhembus melewati tengkuk dingin milik Mingyu dan berubah dalam satu ledakan asap berwarna kelabu yang cukup membuat semuanya berubah dalam sekejap. Bahkan Jisan yang masih sangat kecil pun sudah tahu bahwa hal itu adalah sebuah pertanda buruk, mendatangkan konflik yang memang benar-benar buruk dan sangat seram.

Wonwoo bahkan sudah berjalan mundur, mencoba menenangkan semua perasaan kalut yang tiba-tiba datang dengan satu hempasan. Membuat gejolak takut yang sama pada tujuh bulan yang lalu.

"...Menyenangkan sekali bisa kembali."

Kim Mingyu melenguh kecil dan beranjak berdiri, mengusap rambut perak birunya perlahan dan tersenyum manis—kau bisa melihat senyuman itu yang sedikit miring.

Bahkan semuanya tidak sadar bahwa secara fisik, kau bisa melihat perubahan yang sangat nyata pada pemuda tinggi yang kini sudah berdiri diatas tumpukan buku yang berserakan dengan tatapan mata yang lebih tajam dari biasanya.


Seokmin pulang dengan langkah terseok dan raut wajah ketakutan, mengumpat sepanjang perjalanan, dan Jisan yang bahkan terus menerus menunduk takut didalam kamar berpintu hitam mengkilat disana.

Jeon Wonwoo terdiam gusar, menatap pintu kamar berwarna hitam mengkilat dengan papan nama menggantung, bertuliskan : "Siapa disana? Kau harus tersenyum saat masuk kamarku ;p."

Ia takut, namun Wonwoo yakin, bahwa Kim Mingyu tidak akan bisa melihatnya lagi.

Semuanya berlangsung secara cepat, tidak bisa mengelak atau bahkan berteriak takut dan kesal secara bersamaan, rasanya baru kemarin mendapati Kim Mingyu yang benar-benar menjadi remaja biasa. Kim Mingyu sekarang juga remaja biasa. Remaja yang bahkan sanggup membuat seseorang hingga mengalami koma selama tujuh bulan. Rekor yang benar-benar harus dipertanggungjawabkan.

Berdiri didepan pintu berwarna hitam tersebut, tidak berniat masuk sama sekali sebenarnya, namun pemuda yang kini sudah merangkap menjadi arwah tersebut benar-benar berminat untuk mengetahui apa yang dilakukan Kim Mingyu lama didalam sana.

Tapi sepertinya, menguping sebentar tidak akan menimbulkan masalah.

"Kau tahu dimana Wonwoo," sebuah suara dengan aksen datar terdengar, ia semakin merapatkan tubuhnya pada pintu hitam metalik.

"Aku tidak tahu! Berhenti memaksaku berbicara!" Wonwoo tahu, Jisan berkilah untuk melindunginya.

"Katakan atau aku akan benar-benar membunuh Seokmin brengsek itu," suara bernada dingin yang sangat dikenalnya, Wonwoo memejamkan kedua matanya erat, terasa lemas saat untuk terus mendengarkan suara yang benar-benar menyayatnya. Bukankah Mingyu sudah berkata bahwa ia akan memulai semuanya dari awal? Namun—semuanya baru saja dimulai, ia kembali lagi. Ia berbohong, Wonwoo benar-benar menyesal karena mengangguk patuh kemarin malam.

"Oppa—"

"Katakan. Little girl," panggilan yang sama, Wonwoo bisa melihat dari celah pintu kalau Jisan sempat mengejang pelan dengan cairan bening yang menggenang disudut mata.

Mendengar dibalik pintu saat menjadi arwah seperti ini, memang bukan gaya Jeon Wonwoo, namun ia benar-benar harus mengetahuinya.

"Seokmin tidak menyukai Wonwoo oppa—ia...ia hanya menyelamatkan Wonwoo yang hampir terjatuh ditangga," Jisan mengetahuinya, ia benar-benar mengetahuinya.

"Ia menyukainya, dan aku harus membunuhnya."

"Tapi kau bahkan sudah membunuh Wonwoo terlebih dahulu—"

Tidak ada suara Jisan lebih lanjut, Wonwoo terkesiap saat suara kenop pintu yang diputar, berderit menakutkan seperti di film horror. Meski Wonwoo yakin bahwa Kim Mingyu tidak akan bisa melihatnya lagi, namun suara tersebut benar-benar membuatnya merasakan ketakutan yang teramat, bagaikan seorang monster yang mungkin saja akan muncul disampingmu dengan kuku panjangnya dan kedua mata yang kosong seperti lorong yang gelap.

Pintu terjeblak terbuka tepat dihadapan Wonwoo, pemuda tinggi muncul dengan seorang gadis kecil setinggi pinggangnya yang sudah mulai menangis terisak. Itu Jisan, kedua mata kecil berlinang air mata tersebut sempat menatap kedua corong hitam milik Wonwoo, menggeleng kecil kepada Wonwoo dan kembali berjalan terseok dibelakang Mingyu yang bahkan sudah tidak bisa melihat seorang Jeon Wonwoo kembali.

"Semuanya, baru saja dimulai."

...

"Vernon," Seungkwan berucap gemetar, memekik pelan dan menggeleng kuat-kuat. Terlihat ketakutan dengan apa yang baru saja didengarnya. Jeon Wonwoo mengatakan semuanya, semua kejadian kemarin sore dirumah Mingyu.

Seungkwan menepis kuat-kuat ketakutan yang melandanya, kedua tangannya gemetar, sementara Vernon sendiri hanya terdiam dengan kedua bola mata yang menatap hamparan rumput hijau kering dihadapannya, ia tidak percaya, tenggorokannya tercekat dengan lidah yang benar-benar terasa terlipat. Tidak bisa berbicara lebih banyak.

Ia menatap Seungkwan disebelahnya yang menekuk lututnya dalam, "aku pindah sekolah saja."

Seungkwan menatap sengit, memukul belakang kepala Vernon keras-keras dan mendengus.

"Ini benar-benar mengerikan! Demi janggut paman Bong yang berbadan gempal itu, Kim Mingyu tidak boleh tahu dimana Wonwoo sekarang berada!"

"Aku tidak ikutan, aku pergi."

Kerah belakang ditarik, Vernon kembali terhempas pada daerah rerumputan, ia meringis nyeri dengan wajah yang benar-benar terasa ilfeel.

"Kalau kau pergi, aku tidak mau jadi pacar pura-puramu lagi!" wht.

"..." Speechless.

"Kau tahu Jihoon? Kita benar-benar harus memberitahunya hal ini, hanya ia yang merawat Wonwoo dirumah sakit 'kan? Selain kedua orangtuanya yang berada diluar kota."

"Kalau begitu... kenapa kita harus repot-repot membantu Wonwoo? Aku bahkan tidak bisa melihatnya—"

"Ia duduk dibelakangmu dengan kedua mata hitamnya, asal kau tahu," katanya dengan serius.

"..." Speechless untuk kedua kalinya.

"Kita pergi kerumah sakit, sekarang!"


TO BE CONTINUED


A/N : Silahkan menikmati, maaf telat update. Makasih buat yang udah baca dan review. Ngomong-ngomong buat yang bingung, disini Mingyu punya kepribadian ganda ya.