Lima

arejelquin

Seventeen!Mingyu;wonwoo[meanie]

Disc : Death Chara. Bisa melihatnya sendiri[?]


Tujuh bulan yang lalu...

Sendi-sendinya ngilu. Kakinya gemetaran, cukup membuat seorang pemuda berwajah emo terjatuh tersungkur menapaki lantai kotor kecoklatan dipenuhi debu dibawahnya, paru-parunya bahkan terasa menderu cepat dan terasa sesak, mencoba mencari pasokan oksigen lebih untuk kelangsungan hidupnya.

Jeon Wonwoo bahkan tidak bisa melihat sekitarnya dengan jelas, bahkan ia tidak tahu sedang berada dimana. Luka disudut mata dan lebam pada tubuhnya cukup membuatnya benar-benar merasakan kelelahan yang luar biasa, tapi jemarinya yang kurus dan panjang tersebut terus bergetar.

Aroma pada tubuhnya bahkan seperti lelaki tua yang bau, dipenuhi debu dan luka gores. Kemeja putih yang dipakainya sudah robek disana-sini, bahkan jas sekolahnya ia tidak tahu berada dimana. Sungguh, yang menyebabkannya seperti ini adalah sesuatu yang kecil, tidak terlalu fatal—namun pemuda bertaring dan bermata tajam tersebut benar-benar tidak menyukainya, mencoba membunuhnya dalam sekejap.

"Kenapa ini terjadi padaku..." pandangan mata yang kosong, keadaan Gudang sekolah pada sore hari benar-benar terlihat menyeramkan, memang pada dasarnya ia sedang melarikan diri dan mencoba bersembunyi ditempat luas seperti ini, sebuah ruangan yang luas untuk ukuran sebuah Gudang dengan beberapa lemari besar dan kursi patah diberbagai sudut ruangan. Pintu berwarna coklat tanah dihadapannya sudah tertutup rapat, sedangkan ia sendiri kini sedang mencoba untuk terus duduk dengan sesekali meringis kecil.

Wonwoo melirik keatas, tidak ada lampu dan kemungkinan ia akan terjebak disini dalam beberapa jam, sementara keadaan sore seperti ini benar-benar menganggunya, sebentar lagi hari akan gelap, membuatnya khawatir.

"Kuharap ia tidak menemukanku disini," Wonwoo yakin, bahwa setidaknya ia akan selamat dalam beberapa menit kedepan, ia hanya berharap bahwa Kim Mingyu tidak pernah menemukannya disini. Bahkan benda berbentuk persegi panjang berwarna putih tersebut sudah hancur berkeping-keping, Wonwoo menginjaknya. Sangat buruk kalau Kim Mingyu dapat meneleponnya dan melacaknya melalui Gps.

Wonwoo menghela nafas lega sesaat, kedua mata sayunya masih terpaku pada pintu dihadapannya, masih tertutup rapat dengan jendela yang tertutup oleh gorden berwarna putih kumal yang tidak pernah dibersihkan, bahkan didalam hati, Wonwoo masih dapat mengumpat pengurus sekolah yang tidak pernah membersihkan ruangan ini. Berlipat kali lebih Horror.

Beranjak berdiri dengan tertatih, dan mengusap wajahnya kasar. Pada akhirnya Wonwoo melangkah perlahan pada pintu dihadapannya, mencoba mengintip pada celah kecil—pada lubang kunci yang bahkan benar-benar sudah berkarat seperti itu.

Terpaku sesaat. Termenung dengan jantung yang mungkin saja sudah berhenti berdetak dengan melihat sebuah mata tajam yang turut mengintip dari luar—melalui lubang pintu yang sama.

Mencelos.

Tercekat bahkan pula tergagap, kenop pintu terputar dari luar, Wonwoo benar-benar merasakan gejolak ketakutan yang baru saja pertama kali dirasakannya.

Melangkah mundur perlahan dengan tangan kanan yang mengepal, rasanya isi kepalanya sudah kosong. Tidak bisa berpikir apapun lagi, ia ingin menangis. Tapi ia tidak bisa melakukannya, ia bukan remaja lelaki yang cengeng, tapi ia juga bukan remaja lelaki yang lemah karena mendapat beberapa luka lebam pada tubuhnya.

Tapi pemuda dihadapannya yang adalah Monster.

"Kenapa bersembunyi?"

"..."

"Tsk. Bahkan kau sudah mulai bisu sekarang, apa perlu, aku mengambil kedua matamu agar bisa menjadi corong hitam yang gelap?"

"M-mingyu—"

"Aku tidak tahu kalau kau bersembunyi ditempat seperti ini," tangan kanan yang sudah tergores mengeluarkan darah, Kim Mingyu mengambil ponsel putih yang sudah hancur didekat kakinya.

"Kau bahkan menghancurkan ponselmu?" tertawa dengan nada rendah, Kim Mingyu menyeringai dan mendongak angkuh. Kedua mata tajam tersebut semakin tajam, menatap Jeon Wonwoo dengan pandangan yang benar-benar merendahkan.

"..."

Beberapa saat hening. Tubuh yang benar-benar terlihat ringkih tersebut bergetar pelan, menatap lantai kotor dibawahnya dengan kedua mata yang tidak percaya sekaligus kosong.

Kim Mingyu menendang pintu dibelakangnya, menimbulkan bunyi terjeblak yang keras, membuat Wonwoo tersentak karena kaget.

Ini benar-benar seperti film yang beberapa hari terakhir ini ditontonnya, dimana seorang pemeran Wanita yang terpojok oleh seorang Vampire menyeramkan yang akan meminum darahnya dan membuat tubuhnya menjadi kering. Wonwoo tidak percaya hal itu, tapi ia menyukai situasinya.

Tapi setelah memasuki keadaan yang hampir sama persis, ia benar-benar menyesal karena menyukainya. Inginnya Jeon Wonwoo berteriak, meluapkan semua amarah dan ketakutan dalam satu tarikan nafas.

Melangkah mundur, dan Mingyu yang selalu maju selangkah. Kedua mata yang berkilat tajam dan raut wajah yang benar-benar beku dan terasa dingin. Bahkan rambut berwarna biru dan peraknya sedikit tertiup angin yang masuk melalui Ventilasi kecil didekat pintu. Sekilas Wonwoo dapat melihat betapa tampannya seorang Kim Mingyu, namun image tersebut kinisudah tergantikan menjadi image yang sangat buruk.

Wonwoo dapat menangkap gerakan Mingyu dalam jarak penglihatannya, Wonwoo sendiri cepat-cepat bersiaga meski Mingyu hanya melonggarkan dasi hitam bergaris birunya yang terasa mencekik leher. Wonwoo benar-benar tidak mau berbicara, rasanya ludahnya sudah kering hingga menyerap ke dalam lebih jauh lagi.

Ujung mulut tersebut menyunggingkan senyum yang sangat manis bila kau melihatnya, tapi rasanya Wonwoo benar-benar ingin melompat turun dari lantai tiga gedung sekolahnya.

Ia benar-benar akan mati disini.

...

Lee Jihoon terpekur, menarik nafas pelan dan menelengkan kepalanya pada jendela disampingnya. Keadaan ruangan rumah sakit yang putih seperti ini benar-benar membuatnya merasakan bosan, tapi ia tidak pernah bosan untuk menunggu pemuda berwajah emo dengan mata terpejam tersebut untuk segera sadar dari tidur panjangnya.

Hatinya mencelos, ia ingin sahabat karibnya tersebut segera bangun dan bisa menghabiskan waktu bersama lagi, biasanya dihari-hari normal—sebelum Wonwoo tertidur, mereka akan bermain game bersama, dirumah milik Jihoon. Bahkan membeli Ice Cream dikedai tepat didepan rumah Jihoon.

Jihoon hanya bisa berandai, ia tidak mau bermimpi lebih untuk hal itu. Karena Jeon Wonwoo masih terus tertidur untuk waktu yang lama, mungkin hanya ia yang peduli—atau juga tidak.

"Kau tahu, kemarin aku bertemu pemuda brengsek itu," Jihoon berbicara, lehernya menekuk pelan, sedangkan kedua mata sipit tersebut menatap Jeon Wonwoo yang terpasang berbagai alat aneh pada tubuhnya.

"Ia berubah, kepribadiannya yang sekarang berkali lipat lebih menyebalkan."

"Kau bisa membalasnya saat kau sudah bangun nanti—eum.. ia terlihat lemah, kau tahu?"

Jihoon terkekeh menyadari pertemuannya dengan Mingyu dua hari yang lalu.

"Ia bahkan menawariku Ice Cream. Itu menyebalkan sekali, Soonyoung saja belum pernah menawariku Ice Cream—"

Ucapannya terpotong, membuat seorang Lee Jihoon menggeram marah dengan kedua mata yang melotot, poni miliknya bahkan sampai jatuh menutupi kedua mata sipitnya.

Pintu baru saja terjeblak terbuka.

"INI GAWAT!"

Dua orang pemuda masuk, pintuk tertutup dengan suara bedebum yang keras, pemuda yang memiliki 'kelainan' atau 'kelebihan' tersebut berteriak hingga sekiranya tiga oktaf, membuat pemuda campuran Amerika yang berdiri dibelakangnya meringis pelan dan tersenyum minta maaf kepada Jihoon yang benar-benar sensitif untuk hari ini.

"Gawat apa—"

"KIM MINGYU KEMBALI!"

"Apa maksudmu—"

"PSIKOPAT ITU!"

"Tunggu, jangan berteri—"

"AKU TIDAK BERBOHONG! Astaga, ini benar- benar mengerika—"

"SIALAN! JANGAN MEMOTONG UCAPANKU!"

"..."

Lee Jihoon menghela nafas, Vernon mengusap punggung Jihoon menenangkan. Sementara Seungkwan terpaku dengan tubuh yang terasa membeku.

Jangan pernah membuat Lee Jihoon marah, kalau tidak mau kepalamu jatuh ketanah.

Keadaan menjadi sepi untuk sementara waktu, membiarkan sebuah bunyi dari salah satu alat disana untuk terus berkicau. Jihoon kembali menghela nafas, persetan dengan sebuah kalimat atau apapun itu yang selalu mengatakan : Menghela nafas akan membuat keberuntunganmu berkurang.

"Jadi...Kim Mingyu kembali pada kepribadian awalnya?"

Seungkwan dan Vernon mengangguk secara bersama, lagi-lagi Jihoon menghela nafas dan memijat pelipisnya yang terasa berdenging. Membiarkan kedua pemuda disana untuk berdiam diri sesaat.

"Mingyu tidak tahu kalau Wonwoo berada disini 'kan?" Jihoon bertanya was-was, Seungkwan terdiam dengan kepala menunduk, mungkin sedang berpikir keras untuk beberapa hal yang akan dilakukannya kedepan, berbeda dengan Vernon dan kini sudah terduduk disofa panjang berwarna putih disisi ruangan, ia juga tidak tahu. Mingyu mengetahuinya atau tidak. Maka dari itu mereka terdiam, membuat Jihoon meringis kecil dan menatap Wonwoo yang terbaring dengan tenang disana. Mungkin ia sedang bermimpi indah, atau juga tidak sama sekali.

"Kenapa menjadi bertambah rumit? Bahkan Wonwoo saja belum terbangun sampai sekarang."

"Setidaknya kita harus mengawasi Wonwoo terus menerus 'kan? Selalu melindunginya dan jangan membiarkan Kim Mingyu melihatnya," kata Vernon, ia menangkup kedua pipinya dengan tangannya, membuat Seungkwan yang melihatnya menjadi gemas tiba-tiba.

"Kita bisa melakukannya. Aku mempunyai ide."


Suasana koridor sekolah terasa sepi, keadaan sekolah sudah menjelang malam. Mungkin yang tersisa hanya ia dan juga beberapa penjaga sekolah yang masih terus berjaga disekitar. Tapi Mingyu mengabaikannya, mencoba menahan rasa dingin yang menerpa tubuhnya, ia tidak memakai Jas sekolahnya, hanya sebuah kemeja putih yang dilipat sampat sikut dan juga celana panjang berwarna hitam kotak-kotak putih yang melapisi kaki panjangnya, tak lupa dengan dasi berwarna hitam dan bergaris hijau pada sisi atasnya—menandakan bahwa ia sudah tingkat dua, warna biru untuk tingkat satu dan juga warna merah untuk tingkat tiga.

Ketukan sepatu bermerk dengan warna Biru dongker yang dominan dan juga tali sepatu berwarna putih pada lantai putih dibawahnya menggema disepanjang koridor lantai tiga. Tempat dimana laboratorium komputer berada, dan juga sederet Laboratorium lainnya.

"Aku harus bersabar bukan..."

Kepalanya menunduk sembari menyandar pada tembok putih dan garis abu dibelakangnya, langit benar-benar sudah berwarna jingga dengan beberapa suara jangkrik yang menyinggung telinga milik Mingyu.

Sesekali ia bersenandung, menatap pintu laboratorium komputer yang tertutup dengan lampu terang yang bersinar dari dalam. Kim Mingyu masih bersabar, menunggu kesempatan yang ditunggu selama beberapa bulan terakhir ini, ia sudah terlalu bersabar menunggu disisi lain dan menatap 'Jiwa' lainnya menikmati hidup diluar sana.

"Tunggu lima menit lagi.."

Ia beranjak, mendekati pintu berwarna silver disana. Bunyi dengung komputer masih terdengar.

"Lee Seokmin..." bergumam pelan dengan kepala menunduk, pandangan tajam dan juga kedua belah bibir yang membentuk kurva datar.

Dan satu menit kemudian, pintu Lab. Komputer terbuka, menampikan seorang pemuda memegang beberapa berkas Osis ditangannya, tersentak hingga melangkah mundur saat melihat pemuda yang beberapa hari ini berubah.

Ckris.

Satu lemparan cukup membuat Lee Seokmin memekik kaget, pelipisnya tergores, mengeluarkan darah segar. Sebuah gunting berwarna biru terlempar didekat meja kompiter disisi kiri.

"Tidak menyambutku? Kau hanya langsung berlari kemarin."

"Kim M-mingyu—"

"Kupikir kau hidup bahagia dengan Wonwoo akhir-akhir ini," Kim Mingyu maju selangkah, menginjak kertas Osis yang jatuh berserakan pada lantai.

Lee Seokmin melangkah mundur, mencoba tenang menghadapi Kim Mingyu yang 'mempunyai masalah' dengannya.

"K-kau tahu—aku hanya menolong Wonwoo yang terjatuh ditangga—"

"Ia milikku," suara yang penuh penekanan.

"Wonwoo bukan milikmu, Kim Mingyu. Kau tidak bisa memilikinya kalau—"

"Ia hanya milikku," kepala yang mendongak angkuh, dengan tatapan setajam belati yang mampu menusuk jantungmu dalam sekali hempas. Lee Seokmin menelan ludah kasar, Kim Mingyu cemburu. Ia hanya berpikir kalau Wonwoo hanya miliknya seorang, ia egois dan Lee Seokmin membencinya. Sangat.

"Kau bahkan sudah berani menyentuhnya meski itu hanya satu Inchi."

"..."

Pintu Lab. Komputer sudah tertutup rapat, bahkan Kim Mingyu sudah menguncinya dari dalam, tidak ada celah untuk Seokmin kabur dari sana, ia benar-benar pasrah kalau-kalau Kim Mingyu memang mau membunuhnya disini.

Namun nyatanya, disisi lain, seorang pemuda dengan kedua mata hitamnya menatap tajam sosok Kim Mingyu yang kini sudah menyeringai penuh dengan sebuah pulpen tanpa tutup ditangannya, ujungnya yang runcing mungkin cukup membuat sepasang kornea milik Lee Seokmin menjadi rusak.

"Lee Seokmin, sekarang kau bisa melihatku!"

Bantuan mungkin saja datang, tapi kematian selalu mendekat.

Pandangan Seokmin sesaat menjawadi warna putih bersih, rasanya ia benar-benar blank. Namun beberapa saat, seseorang yang selalu dirindukannya selama beberapa bulan ini berdiri dihadapannya, seragam berwarna putih bersih dan juga dasi berwrana hitam bergaris biru dipakainya. Dihadapannya ada Jeon Wonwoo, dan Lee Seokmin tidak bisa mempercayainya.

"Kumohon! Cepat pergi!"

"Wonwoo!" Seokmin berteriak secara tiba-tiba, membuat Kim Mingyu yang tidak bisa melihat Jeon Wonwoo mengernyit bingung, belum lagi keadaan yang sudah gelap, lampu diruangan ini dimatikan secara tiba-tiba, pelakunya, tentu saja Kim Mingyu.

"Wonwoo?" desis Mingyu tanpa nada, kedua belah bibirnya masih tertutup dan membentuk sebuah kurva datar. Wajahnya benar-benar terlihat dingin dan beku, wajah seseorang yang haus akan sesuatu, mungkin.

"Bodoh!" teriak Wonwoo, dan semuanya terlambat.

Lima detik kemudian. Pandangan Seokmin memburam, mengantarkan rasa panas dan juga perih dalam waktu bersamaan, tubuhnya sudah membentur lantai putih dibawahnya, cairan merah kental bahkan sudah turut membanjiri lantai Lab. Komputer. Tidak ada teriakan, mulutnya bahkan tertutup dengan telapak tangan lainnya, Kim Mingyu terdiam dengan apa yang baru saja dilihatnya.

Ia membunuh seseorang.

Gerakan cepat untuk mengambil sebuah gunting yang tadi dilemparkannya, menikam Lee Seokmin dalam satu gerakan adalah sebuah perbuatan yang tidak bisa dipercaya, Kim Mingyu benar-benar cepat.

Jeon Wonwoo, arwah yang baru saja menyaksikannya, tepat didepan matanya sendiri hanya sanggup mengatupkan kedua belah bibirnya. Pandangan mata yang kosong, bahkan angin yang berhembus melewati ventilasi jendela pun tidak cukup untuk membuatnya tersenyum.

Meski kembali terulang. Seokmin mendapatkan nasib yang lebih buruk dari Wonwoo.


To Be Continued


A/N : Update cepat. Nulis FF ini sambil denger lagu Nightcore-Whisper in The Dark. Biar nge feel. tapi gatau sih kata kalian ya. Buat yang bingung, aku gatau harus gimana lagi[? *disepak

Keep Review please, sidernya banyak sekali:)) mbb makasih juga buat yang udah review, terutama buat reviewnya panjang banget kaya kereta api[? seneng kalo ada review sepanjang itu haha. Maaf ga cantumin+balas kalian satu-satu ya. Tapi aku baca semua, makasih ya *lovesign*