Enam

arejelquin

Seventeen!Mingyu;wonwoo[meanie]

Disc : Sorry for late update, Happy reading. [playing nightcore-Hope of morning] Lol


Rasa-rasanya ia ingin tertawa, melihat semua orang memekik panik, berteriak ketakutan dan menangis tersedu. Genangan merah pekat pada lantai putih mengalir, bau anyir bahkan tak luput dari pembauan. Garis polisi dipasang dari setiap sudut hingga ujung. Seseorang terbujur kaku diatas lantai, menerima takdir yang menimpanya.

Kim Mingyu berdiri dibarisan paling belakang, hanya bisa melihat genangan darah yang hampir membanjiri seluruh lantai Lab Komputer. Para siswa dan siswi bahkan berbondong-bondong ingin melihat sang Sekretaris Osis yang baru saja pergi meninggalkan semuanya kemarin sore.

Ia tidak peduli. Untuk apa ia peduli?

Ia benar-benar ingin tertawa.

Melihat wajah ketakutan mereka semua rasanya benar-benar menyenangkan, membuat perutnya tergelitik dan juga sebuah senyuman samar nan tipis yang terus menerus muncul.

"Menyenangkan sekali bisa bermain."

Kim Mingyu berbalik pergi, menuruni satu persatu anak tangga untuk menuju lantai satu, "kalau begitu, jangan pernah menyentuh Jeon Wonwoo."

.

Seungkwan kembali dengan wajah penuh kengerian, ia sempat memekik dan pergi berlari menghambur pada Vernon yang baru saja meletakkan tasnya diatas meja. Tidak ada kesunyian didalam kelas, semuanya membicarakan tentang kematian Seokmin yang terlalu cepat. Hampir semua murid sudah kembali ke kelasnya, namun Kim Mingyu tidak ada disana.

Seungkwan kembali memekik penuh ketakutan dan menggigit lengan baju milik Vernon.

"Bagaimana bisa Seokmin pergi secepat itu?" Seungkwan berbicara dengan suara yang bergetar, sementara Vernon hanya diam mendengarkan semua siswa dikelasnya yang masih terus berkicau. Ia tidak bergerak dari tempatnya berdiri dan tidak menggerutu dan Seungkwan kembali menggigiti lengan seragamnya.

"Ulah Mingyu 'kan?"

Seungkwan diam, Vernon mengepalkan tangannya dibalik saku celana, "kita harus melaporkannya pada polisi."

"Dan kita akan mati, Kim Mingyu tidak bodoh."

Vernon mendengus kecil tatkala Yoon Junghan mengatakannya dengan lurus, sementara Seungkwan terdiam dengan kedua mata yang berkaca-kaca, terlihat ketakutan, "lagipula, ia bukan Kim Mingyu. Ia hanya memiliki nama yang sama, rupa yang sama dan juga tubuh yang sama. Aku berani bertaruh, saat kepribadiannya kembali tertukar, Kim Mingyu yang asli tidak akan mengingat apapun yang dilakukan kepribadian lainnya selama ini."

Junghan menempatkan bokongnya pada kursi milik Vernon, Vernon sendiri hanya mengerling kesal. Mungkin ia mulai membenci Kim Mingyu sekarang, teman-temannya pergi karena bocah tinggi itu, bahkan untuk saat ini Kim Mingyu benar-benar terlihat tidak bisa dikalahkan. Kepribadian psikopat sialan itu yang mampu mengancam mereka semua, rasanya Vernon benar-benar ingin masuk kedalam perut bumi dan mengeruk isi perut bumi dengan menggunakan garpu berkarat.

Tak lama kemudian, Junghan kembali berbicara dengan kedua matanya yang menajam, menatap Seungkwan dan Vernon secara bergantian.

"Lagipula, bagaimana kabar Wonwoo? Ia sudah sadar?"

Baru saja Seungkwan hendak menjawab, Junghan sudah kembali berbicara, "aku bertaruh, ia masih koma. Lucu sekali," ia menjawab pertanyaannya sendiri.

"Jangan bertanya pada kami kalau kau menjawab pertanyaanmu sendiri, Noona Yoon," sindir Vernon, pemuda berambut panjang yang tidak diikat sama sekali itu hanya tersenyum kecil, mengabaikan sebutan yang baru saja dikatakan oleh pemuda blasteran tersebut.

"Kau tahu tanda-tanda saat Kim Mingyu berubah?" Junghan kembali bertanya, untuk kali ini ia tidak memiliki niat untuk menjawab pertanyaannya sendiri, karena ia memang tidak tahu. Sementara Seungkwan menggeleng pelan, Vernon hanya diam dan mengalihkan pandangannya pada sisi lain. Tidak mau melihat wajah Junghan, moodnya benar-benar turun.

"Mungkin kita bisa bertanya pada Jisan—"

"Kenapa tidak bertanya padaku saja? Aku ada ditempat, Seungkwan-ie."

"..."

"Seungkwan? Kau tidak melanjutkan ucapanmu?" Junghan bertanya dengan gurat wajah tidak mengerti, Seungkwan terdiam kaku. Meski ia sudah sering melihat hal-hal tak kasat mata, tapi kalau tiba-tiba ada roh laki-laki dengan kedua mata berwarna hitam pekat muncul dihadapanmu siapa yang tidak kaget? Setidaknya Seungkwan dapat menahan teriakannya sendiri dengan menggigit lidahnya keras.

"A-aku—"

"Mingyu berubah sesaat setelah ia terjatuh dan menimpa buku-buku tebal dibawahnya, ia tidak sakit kepala atau sakit perut atau mungkin sakit tenggorokan, aku tidak tahu saat kepribadiannya berubah, tidak seperti yang kubaca diperpustakaan sekolah tadi tentang dua kepribadian."

"JANGAN MUNCUL TIBA-TIBA!" Seungkwan berteriak kesal dan menghentakkan kakinya pada lantai, mengabaikan penjelasan Wonwoo yang baru saja didengarnya. Sementara Junghan dan Vernon hanya berjengit kaget sesaat mendengar teriakan Seungkwan yang memenuhi ruangan kelas tersebut, bahkan para siswa yang masih setia membicarakan kematian Seokmin langsung berhenti dan berfokus pada Seungkwan yang masih sibuk mendumal dengan kedua mata terutup.

"Maaf, kupikir kau sudah biasa melihatku. Boo Seungkwan."

Vernon diam-diam berbisik pada Junghan, "ia bisa melihat hantu."

Junghan bergumam kagum dan mengangguk kecil, menatap Seungkwan dengan raut wajah yang antusias.

"Perlu kuulangi perkataanku?" Seungkwan menggeleng dan menelan ludahnya gugup, Vernon dan Junghan menatapnya dengan tidak mengerti.

"Aku bisa menjelaskan kenapa Mingyu bisa berubah menjadi kepribadiannya yang psikopat. Wonwoo mengatakannya padaku."


Kim Jisan tidak beranjak dari tempatnya berdiam, menatap ketakutan rantai berkarat yang mengunci kedua kakinya. Ia tidak bisa bergerak sama sekali, rasanya ia ingin menangis dan berteriak memanggil 'Umma!' namun ia sendiri yakin, ia tidak mempunyai seorang ibu yang dapat melindunginya untuk saat ini.

Hey! Bahkan kakak laki-lakinya sendiri yang memasungnya digudang seperti ini, kau pikir siapa yang tega melakukan hal seperti ini pada gadis kecil yang tidak berdosa?

"Aku tidak mengatakan Wonwoo oppa ada dimana kan?"

Jisan terus mengulang perkataan itu sedari tadi, meski yang terdengar hanyalah seperti sebuah bisikan. Tempat kecil yang dipenuhi barang-barang berdebu ini sangat gelap, hanya cahaya kecil yang datang dari ventilasi.

Kenapa kakak laki-lakinya tiba-tiba begitu jahat padanya? Kim Mingyu yang jahat benar-benar datang kah? Dimana Kim Mingyu yang bodoh, menyebalkan dan selalu membuatnya kesal? Ia sudah pergi? Kapan ia datang kembali?

Pertanyaan itu terus berputar dikepalanya, meski ia masih berumur tujuh tahun tapi ia tidak benar-benar polos untuk mengetahui apa yang baru saja terjadi.

Kepribadian sang kakak kembali tertukar, padahal sudah sembilan bulan ini tidak terjadi apa-apa. Sisi hangat Kim Mingyu sudah kembali namun sisi gelap dan jahat Kim Mingyu kembali mengambil alih. Jisan benar-benar kesal, kenapa semuanya begitu jahat padanya?

Isakan kecil lolos, pintu hitam didepanya berderit kecil tanda ada seseorang yang membukanya. Jisan tidak berani mendongak. Tanpa melihat ia sudah tahu siapa yang datang, lagipula yang tinggal dirumah ini hanya Kim Mingyu dan Kim Jisan. Dua bersaudara.

"...aku datang."

Satu tepukan sepatu pada lantai terdengar, seiringnya juga dengan suara decit pintu yang kembali tertutup.

"Halo Little Girl."

"..."

"Tidak menjawab? Kau tidak mengucapkan selamat datang pada oppamu?" Kim Mingyu berjalan mendekat, berbicara dengan suara lembut yang sangat kentara dibuat. Rasanya bulu kuduk milik Jisan meremang saat kedua pandangan mata mereka beradu, sepasang mata yang tajam dan sepasang mata yang memancarkan kepolosan seorang gadis kecil.

Kim Mingyu berjongkok dan menggapai sebelah pipi milik Jisan, mengusapnya lembut, "Hei, kau tidak lapar?"

"Mingyu—"

"Kau bahkan tidak memanggilku oppa?" Kim Mingyu berujar sinis dan mendorong kepala milik Jisan tiba-tiba hingga membentur sebuah kursi dibelakangnya, "aku tidak mengerti. Kenapa bisa memiliki adik bodoh sepertimu."

Ia berdiri dan sempat menendang kaki milik Jisan yang masih dipasung dengan kunci berkarat. Kedua mata tersebut berkilat tajam dengan kepala yang mendongak angkuh dan menatap Jisan yang terduduk dilantai tanpa menunduk sedikitpun.

Kemeja panjang putih seragamnya masih ia pakai, terlihat bahwa ia benar-benar baru pulang dari sekolah. Tanpa jas hanya kemeja putih yang bagian lengannya dilipat hingga siku.

Satu siulan terdengar, salah satu tangan miliknya melesak kedalam saku celana, sementara rambutnya yang berwarna biru dan kelabu sekilas terlihat seperti warna biru gelap yang tertimpa oleh cahaya bulan.

"Aku pulang cepat karenamu. Kenapa sulit sekali mengatakan dimana Jeon Wonwoo berada. Bocah sialan."

Jisan merenggut dan isakan kembali lolos, membuat Kim Mingyu geram dan juga amarah yang memuncak secara bersamaan, namun ia tidak melakukan apa-apa. Hanya diam dan mendesis.

"Aku tidak menyukai bocah kecil sepertimu, Jisan-ah. Tapi...sepertinya bermain sebentar tidak masalah 'kan? Hanya satu pelajaran yang perlu kau ketahui," satu seringaian terlihat, bisikan yang sangat terlihat mengancam cukup membuat kedua mata Jisan membelalak dan mundur secara perlahan, meski kedua tangannya tidak diikat. Namun ia tidak bisa bertindak apa-apa.

Ya, didepannya bukanlah kakak laki-lakinya yang bodoh dan menyebalkan.

Tapi seseorang yang berada dihadapanya adalah seorang Monster.

.

Jeon Wonwoo berjalan ditepi danau milik sekolah, sementara Seungkwan berdiri tidak jauh darinya. Menatap Jeon Wonwoo yang benar-benar terlihat kebingungan dan gusar, Seungkwan tidak berniat menganggu Wonwoo.

Beberapa menit yang lalu Wonwoo memang meminta Seungkwan untuk mengikutinya, ada beberapa hal yang ingin dibicarakan oleh Wonwoo—katanya.

Lalu dengan setengah hati Seungkwan menurut saja, tidak peduli dengan apa yang terjadi setelah ini, "Wonwoo?"

"Seungkwan, aku benar-benar tidak mengerti."

"..."

"Kenapa semuanya selalu tidak berpihak padaku?"

"..."

"Aku bahkan tidak sempat menyelamatkan Seokmin! Semuanya kembali terulang bahkan takdir Seokmin lebih buruk dariku! Siapa yang patut disalahkan?"

"Wonwoo, dengar—"

"Aku tidak pernah seperti ini sebelumnya, Kim Mingyu benar-benar jahat. Kenapa ia memiliki kepribadian seperti itu? Astaga—"

"Wonwoo, aku yakin Mingyu seperti itu karena memiliki trauma masa kecil. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi aku yakin bahwa traumanya benar-benar menyeramkan dan membuat kepribadiannya membelah menjadi—hm mungkin menjadi beberapa bagian? Aku tidak tahu karena aku bukan psikiater."

"Dan Jisan, aku yakin ia tidak baik-baik saja."

"Perlu kita selamatkan? Lagipula Mingyu yang sekarang tidak bisa melihat wujudmu kan?" Seungkwan tersenyum dan menjentikan jarinya keci, Wonwoo pemuda dengan pakaian serba putih dan rambut hitam yang tertata secara berantakan tersebut terdiam sesaat, "tentu saja, meski aku yakin—kita akan terlambat." Seperti sebuah bisikan diakhir, semuanya berlalu dengan cepat bahkan satu hembusan angin tidak sampai membuat Jeon Wonwoo tersenyum seperti biasanya.


[Little Flashback, maybe]

Kim Mingyu tertawa kecil, menatap Jeon Wonwoo yang terduduk diatas hamparan rumput hijau dengan sebuah flower crown—rumput hijau yang dirajut hingga membentuk sebuah mahkota yang terhias dikepalanya. Terlihat indah dan juga—fantastik?

"Kau menyukainya?" Mingyu bertanya, ia tengkurap diatas rumput hijau tersebut. Sementara Wonwoo sendiri hanya terduduk dengan menatap sungai Han didepan sana, cahaya matahari pada sore hari menyinari sungai tersebut.

"Hm, aku menyukainya. Kenapa kau hanya membuatnya satu Mingyu?"

"Untuk apa aku membuatnya banyak?"

"Satu untukmu. Bukankah kau seorang raja? Dan mungkin—aku akan menjadi raja dikerajaan lain—"

"Aku tidak mau, kau harus menjadi raja dikerajaanku. Dan aku akan menjadi Servant untukmu, aku akan melindungimu dan tidak akan membuatmu terluka. Itu janjiku."

Wonwoo mengacungkan jari kelingking miliknya, Mingyu hanya mengernyit bingung dan terdiam menatap jari kelingking tersebut, "...untuk apa?"

"Janji kelingking. Kalau kau berbohong aku akan memotong jari kelingkingmu! Kau sudah berjanji menjadi servantku kan?"

Mingyu terdiam, berpikir sesaat. Ia takut, ia takut tidak bisa memenuhinya.

Ragu, Mingyu turut mengacungkan jari kelingkingnya—ia tidak atau belum berniat untuk menautkannya dengan kelingking milik Wonwoo.

"Aish kenapa lama sekali?" dalam satu tarikan kelingking milik Mingyu sudah bertaut dengan Wonwoo, kaget tentu saja. Mingyu hanya tersenyum yang benar-benar terlihat dipaksakan, ia benar-benar takut.

"A-ah aku...berjanji hyung."

Namun, itu semua tidak seperti kenyataan yang sebenarnya bukan?


To Be Continued


A/N : Late update? iya tau kok. maaf suka kena wb wkwk

Makin bingung? sama dong. niatnya tadi mau post cerita baru tapi langsung dipending, minggu depan aja mumpung libur full.

Dont be silent reader ya sayang, sidersnya banyak sekali tapi gapapa resiko. Makasih buat yang udah review kemarin ya aku sayang kalian{}