Unknowledgeable Love

Amandaerate

This Is Chanbaek Story

GS!

Oh iya, untuk chapter ini aku saranin untuk baca pelan-pelan dan tak usah terburu-buru. okay?

.

.

Chapter 2

.

.

"Bagaimana itu bisa terjadi, Baekhyun? Tak biasanya kau akan kewalahan seperti ini. Apakah dugaanku salah? Bahwa Oh Sehun hanya bergerak sendirian?" Luhan sedang duduk di meja tugasnya berseberangan dengan Baekhyun yang ada didepannya. Dengan rahang yang keras dan suara mengintimidasinya.

Baekhyun mendesah. "Aku tak tahu, eonni. Aku lihat sendiri bahwa dia memasuki apartemen yang kami periksa terakhir. Aku yakin sekali. Tapi seperti dugaanku bahwa ia kabur lewat balkon yang dibiarkan terbuka pada salah satu kamar," Baekhyun sedikit mengerutkan keningnya, "Dan aku juga tak yakin kalau pemilik apartemen terlibat." Suaranya sedikit bimbang.

"Bagaimana kau tahu kalau pemilik apartemen sama sekali tak terlibat?" Kali ini Kris yang meja tugasnya bersebelahan dengan Luhan ikut menimpali dari kursi malas miliknya. Kedua ujung jari telunjuknya terlihat menyatu. Kursinya dapat diputar sehingga ia kini menyerong ke arah Baekhyun.

"Itu karena memang pemilik apartemen sedang sakit." Kali ini Baekhyun menggerlingkan mata hijaunya kearah Paman Ahn yang berdiri bersender pada dinding. Kedua tangannya terlipat didepan dada.

"Sudahlah, itu sudah terjadi. Tak ada yang harus dipermasalahkan." Seperti biasa, Paman Ahn berusaha menenangkan ketiganya. Tapi dari nada tegasnya semua yakin bahwa ia mencoba membela Baekhyun.

"Sakit?" Kris mengernyit.

Tak ada seorangpun yang mendengar penuturan Paman Ahn.

"Ya, oppa. Dia memang membuka pintu agak lama. Tapi saat aku membuka pintu memang penampilannya berantakan, seperti baru bangun tidur. Wajahnya juga pucat." Baekhyun mencoba meyakinkan lagi. "Awalnya dia memang keberatan karena kedatangan kami menganggu tidurnya. Tapi akhirnya ia mengalah dan malah tertidur di sofa miliknya. Bahkan ia membiarkan kami menjelajahi seisi apartemennya."

Baekhyun benar bukan? Yang saat itu Baekyun lihat adalah mata abu-abu yang sayu serta wajah seperti menahan sakit. Tangannya terus memegang kepalanya. Bibirnya pun pucat. Sesekali meringis dikarenakan kepalanya yang berdenyut.

Memang tak menutup kemungkinan bahwa ia ada sangkut pautnya dengan Oh Sehun tapi mengingat kembali kondisi pemilik apartemen kemarin ia yakin pemuda itu tak tahu kalau Sehun masuk kedalam apartemen miliknya. Balkonnya dibiarkan terbuka lebar. Rasanya tak mungkin jika pemilik itu membiarkan Sehun kabur dari balkon kamarnya. Ia pasti akan menutupnya kembali balkonnya untuk sebuah alibi. Tapi memang Baekhyun tak bisa bertanya karena pemilik apartemen tersebut sudah tertidur di sofanya.

"Baik.. Baik.. Aku mengaku salah!" Luhan sedikit tersinggung. Tapi mau bagaimanapun ia memang tak ada di tempat kejadian.

Paman Ahn tersenyum lega. Ia berdiri tegak dan kembali ke mejanya yang jauh dari meja Kris dan Luhan.

Luhan ingin beranjak dari duduknya. Kris kembali memutar kursinya kearah depan mejanya.

"Umm... Tapi..." Baekhyun bergumam tak yakin dan berpikir hal yang akan ia sampaikan.

Kris hanya menolehkan kepalanya. Luhan kembali duduk dikursinya menunggu ucapan Baekhyun.

"Aku tak tahu ini penting atau tidak. Tapi ada yang aneh dengan apartemen yang kemarin kami periksa." Luhan mengisyaratkan mimik wajahnya seakan berkata 'cepat katakan sekarang!'

"Apartemennya memang berpenghuni, namun hampir di setiap ruangannya berdebu. Dan dibeberapa ruangan yang tertutup sangat pengap ketika kami membuka pintunya. Seperti sudah tak ditempati selama beberapa tahun. Aku tak tahu pasti. Itu hal yang membuatku bingung."

Kris menjentikkan jarinya. "Nah! Itu adalah point pentingnya Baekhyun! Kau harus kembali kesana siang ini."

Luhan hanya mengangguk setuju.

Dan tak ada yang selalu bersemangat selain Baekhyun untuk segera mengetahui kebingungannya sejak kemarin.


BRAK!

Sebuah tangan kokoh mendarat pada satu meja kayu yang tegak di depannya, menyebabkan urat-urat pada kepalan tangannya terlihat.

"Bagaimana wajahmu bisa terlihat para aparat kepolisian itu Oh Sehun?! Kau tahu itu akan memperlambat pergerakan kita!" Pemuda berambut hitam pekat dengan iris mata kecoklatan yang sedang menahan amarahnya pada pemuda berambut perunggu dan albino didepannya.

"Aku juga tidak tahu kalau gadis itu salah satu anggota kepolisian, dude!" Sehun tak mau disalahkan. "Yang aku pikirkan saat itu adalah bahwa gadis itu masih ingusan..."

"Ingusan kau bilang?" Ia tertawa mengejek, kedua tangannya disimpan di kedua saku celananya. "Lucu sekali kau Sehun..." Ia tertawa keras.

Sehun mengerutkan keningnya kebingungan.

Pemuda itu menghentikan tawanya. "Ayolah! Jangan bermain-main denganku!" Ia menggebrakan lagi meja yang ada didepannya.

Sehun tak bisa menahan gejolak kekesalannya pada orang yang berada di depannya.

"Siapa yang bermain-main denganmu! Aku serius!" Sehun menaikkan suaranya. "Coba kau bayangkan gadis 19 tahun dengan wajah imut, iris mata hijau terang, hidung mancung, bibir ranum merah muda. Aku yakin... Jangan menyelaku aku belum selesai dengan ucapanku, bung."

Pemuda didepannya kini ingin menyela namun Sehun yang mengerti tanda-tandanya langsung menghentikan itu.

"Aku serius kali ini. Aku yakin jika kau melihatnya aku tak yakin gadis itu akan lolos darimu karena kau akan langsung berpikiran mesum."

"Apaan-apaan kau ini Oh Sehun! Tak ada hubungannya dengan berpikiran mesum."

Keduanya tak ada yang mau mengalah. Suara mereka berdengung di sepanjang ruangan yang kosong seperti tak diurus. Tapi jika kita melihatnya baik-baik itu memang dibiarkan seperti demikian rupa. Katanya agar memiliki kesan keren diantara mereka yang bersangkutan. Bilang saja jika mereka tak mau bersusah payah untuk menata kembali ruangan yang dipakai.

"Tentu saja ada! Lagipula aku dari apartemen Park si brengsek itu... sedangkan gadis itu dengan sebuah kebe..."

"Tunggu..."

Oh Sehun diam seketika.

"Kau bilang Siapa? Park? Park Chanyeol?"

Sehun dengan wajahnya yang kebingungan hanya menganggukkan kepalanya.

"Dia sudah dibebaskan?!" Ada nada histeris dari pemuda didepannya.

"Ya, kemarin. Baru saja."

Pemuda didepan Oh Sehun hanya diam. Tetapi menyeringai.


Baekhyun melepas mantelnya. Menjatuhkan dirinya disofa depan televisi. Baekhyun menghela napas kasar. Ia kembali ke apartemen miliknya sendiri, apartemen yang diberikan oleh Paman Ahn. Baekhyun sebenarnya tidak mau jika ia menyusahkan Pamannya itu. Hanya saja Paman Ahn memang keras kepala.

Saat itu dia mengatakan kepada Paman Ahn bahwa dia sudah besar dan memilih hidup sendiri agar ia mandiri. Ia memastikan tabungan hasil jerih payahnya untuk membeli apartemen sudah cukup. Namun, Paman Ahn sepenuhnya menyuruh Baekhyun untuk menyimpan saja tabungannya untuk keperluan Baekhyun yang lain. Jadilah ia disini. Hidup sendiri.

Setelah 2 tahun menempati apartemennya sendiri, ia jengah karena ia butuh teman. Maka, ia mengajak salah satu teman kuliahnya, Do Kyungsoo untuk ikut menempati apartemen. Kyungsoo adalah teman setia Baekhyun jadi ia langsung setuju.

Sepertinya temannya itu belum kembali dari bekerja paruh waktunya selama musim dingin. Kyungsoo sangat menyukai memasak. Maka dua bulan yang lalu ia melamar kerja di sebuah restoran khas China untuk menjadi salah satu koki. Karena memang memiliki bakat memasak makanan China Kyungsoo diterima.

Baekhyun menyalakan televisi didepannya. Ia melihat Lee Kwangsoo, salah satu aktor pemain variety show Running Man yang sedang melakukan aksi konyolnya itu terpampang jelas dilayar. Biasanya, ia akan selalu fokus dan tertawa terbahak-bahak jika ada Kwangsoo si jerapah favoritnya.

Tetapi lihatlah sekarang... Ia hanya diam dan sedikit menerawang. Suara ditelevisi yang berisik samar-samar hilang dari pendengarannya. Kelopak matanya terbuka namun hanya menatap lurus kedepan dengan pandangan kosong.

Tadi, ia baru saja mengunjungi pemilik apartemen yang ia periksa kemarin.

Chanyeol. Namaku Park Chanyeol.

Suara berat itu dihasilkan dari pemuda yang wajahnya dingin dengan rahang yang keras. Tak ada lagi Chanyeol yang kemarin tertidur dengan damainya. Chanyeol yang memegang kepalanya sembari meringis kesakitan serta bibir yang pucat. Seakan-akan hilang terbawa arus angin.

Tadi, ia sama sekali tak mengerti mengapa sosok pemuda itu berubah menjadi sosok yang jauh dari gambaran sejak ia bertemu dengannya pertama kali. Pemuda berambut coklat dengan iris mata abu-abu yang seolah-olah mengintimidasinya. Ada beberapa rambut berantakan di bawah dan di atas bibirnya, seperti tak pernah bercukur. Hal itu tentu membuat Baekhyun bingung dalam perubahan sikap Chanyeol.

Nama itu yang telah dicarinya sejak 6 tahun lalu.

Alasan Baekhyun langsung pulang ke apartemennya adalah untuk menghindar dari pertanyaan-pertanyaan yang tak hentinya dari Kris maupun Luhan.

Biasanya ia akan dengan sendirinya memceritakan kasus-kasus yang ia tangani. Tapi untuk sekarang, ia tak bisa berpikir jernih untuk menceritakannya.

Kalau kau ingin menanyakan perihal Oh Sehun. Aku memang mengenalnya.

Chanyeol terkekeh geli saat itu. Tapi tetap menjaga aura dingin disekelilingnya.

Bagaimana mungkin aku lupa dengan musuhku sendiri? Bagaimana kalau kita bekerjasama saja Baekhyun? Kita sama-sama membencinya, bukan?

Tak ada kesopanan dari nada bicaranya. Terkesan kaku dan...gelisah? Itu terdengar jelas dari suara yang seolah-olah telah dipersiapkan. Kegelisahan memang terlihat diantara nada dingin yang ia berikan. Baekhyun mendesah. Ia benar-benar tak tahu apa maksud dari semua ini.

Apa yang telah direncakan oleh Chanyeol, sekarang? Apakah ia telah merencanakan sesuatu untuk dekat dengannya?

Ia tahu bahwa hal ini akan membahayakan dirinya sendiri jika ia akan ikut permainan yang akan diciptakan oleh Chanyeol. Tapi ini adalah satu-satunya kesempatan untuk mencari tahu.

Baekhyun tak tahu ini bencana atau anugrah baginya.

"Eonni..." Lirih Baekhyun sambil mengadahkan kepalanya keatas, menyatukan kedua tangannya dan menempelkannya di kening sembari memejamkan matanya.


Chanyeol melangkah pelan mencari nama nisan yang selalu menghantui pikirannya. Ia tak pernah punya waktu untuk sekedar berkunjung.

Ditangannya terdapat bunga lily putih yang memiliki makna kesucian dan kesederhanaan. Sama seperti sesosok gadisnya.

Chanyeol berjongkok. Meletakkan bunga lily putihnya diatas gundukan didepannya.

Chanyeol tersenyum. "Umin-ah... Aku disini." Ia terkekeh pelan sembari mengelus permukaan tanah didepannya.

Didalamnya terdapat jiwa raga gadisnya. Chanyeol tak bisa memungkiri bahwa masih terdapat penyesalan yang paling mendalam di relung hatinya. Ada perasaan bersalah datang bertubi-tubi menusuk tepat pada jantungnya.

Tidak! Ia tidak boleh menangis dan terlihat lemah!

"Bagaimana kabarmu?" Ia tersenyum miris. "Maafkan aku..." Terdapat jeda pada setiap kata-katanya. "Aku baru datang sekarang."

Chanyeol memetik salah satu bunga Lily. "Setelah 6 tahun..." Ia mencabut salah satu kelopak bunga yang berada di tangannya dan membuangnya. "Aku merindukanmu..."

Sangat! Sangat merindukannya. Ia merindukan semua yang ada pada gadisnya. Merindukan iris mata bercahaya yang selalu memandangnya. Merindukan senyumannya. Merindukan kedua pipinya yang gembul.

Kemudian mencabut kelopak bunga yang lain dan membuangnya.

"Umin-ah..."

Mencabut kelopak bunga lagi dan membuangnya.

"Apakah kau sudah memaafkanku?"

Mencabut lagi kelopak bunga dan membuangnya kembali.

"Jangan membenciku..."

Mencabut kelopak bunga terakhir.

"Umin-ah... Aku mencintaimu..."

Jika kau masih menghirup napasmu pada udara yang sama denganku, akankah kau akan melihatku? Apakah mungkin?

Chanyeol tersenyum miris.

Ia berdiri, berbalik serta meninggalkan makam dengan perlahan. Dan menerbangkan kelopak bunga terakhir.


Suasana kantin sangat ramai, bisa didefinisikan sebagai suasana pasar dipagi hari. Baekhyun duduk pada salah kursi di meja paling ujung di dekat kaca. Ia tak sendiri melainkan bersama couple campus yang duduk tepat didepannya. Jongin dan Kyungsoo.

Biasanya Baekhyun akan protes jika ia akan dijadikan obat nyamuk dengan pasangan yang ada didepannya. Tapi tidak untuk kali ini. Baekhyun bahkan tak menganggap kalau mereka ada.

"Baek! Ada apa denganmu hari ini?!" Kyungsoo menyadarkan Baekhyun dari khayalan tak jelasnya.

"Iya, kau lebih menjadi sebagai orang pendiam dan penurut sekarang. Ada apa? Apakah ada penjahat yang ingin mengincarmu? Apakah ia akan membunuhmu?" Jongin terkekeh pelan serta mengejek.

Baekhyun membulatkan matanya dan tergagap. Kyungsoo menyikut perut Jongin dengan keras. Membuat Jongin mengaduh kesakitan.

"Apaan kau Jongin, itu tidak lucu!" Kyungsoo mendengus.

Baekhyun gugup. Ia yakin bahwa Kyungsoo tak melihatnya terkejut tadi. Baekhyun memang tak menceritakan perihal setiap ia membantu kepolisian menyelesaikan kasus. Setiap ia akan mengunjungi kantor kepolisian, Jongin atau Kyungsoo akan tahu bahwa ia mengunjungi Paman Ahn. Ia tak akan mau menceritakan hal yang sebenarnya terjadi padanya.

Perlu diketahui bahwa Baekhyun tidak mempercayai satu orangpun selain kakaknya dan Paman Ahn.

Percayalah bahwa yang ia lakukan untuk tidak memberitahu mereka adalah untuk melindungi mereka. kalau ia menceritakan semuanya, otomatis Jongin dan Kyungsoo akan terlibat. Dan, sebagai satu-satu temen terdekat mereka Baekhyun tak mau membahayakan keduanya.

Baekhyun mendesah. "Aku sedang pusing karena banyak tugas."

Ya, tugas untuk memikirkan apa yang selanjutnya ia lakukan dengan Chanyeol...

Jongin dan Kyungsoo saling berpandangan dan bermuka bingung. Yang mereka tahu Baekhyun tak pernah tidak bersemangat seperti ini untuk menyelesaikan hal-hal yang ia sukai. Walaupun itu tugas yang berat sekalipun.

Kyungsoo terlihat kesal. "Ayolah Baekhyun... Apanya yang salah? Kau tak pernah seperti ini jika sudah membahas kuliah hukummu itu. Untuk seorang Byun Baekhyun bagian mana yang dipersulitkan?"

Jongin menimpali, sedikit tersenyum geli. "Ternyata seorang Nyonya Byun memiliki titik jenuh juga eoh? Aku tak sabar menanti kelanjutannya! Huh, aku tak menyangka kemampuanmu hanya segini." Ia menghubungkan kedua jari telunjuk dan jempolnya hingga hampir menyatu tapi tak menempel.

Baekhyun memutar bolanya malas. Beginilah Jongin dengan segala kekonyolannya. Ia bahkan tak bisa di ajak serius sedikit pun.

"Aku hanya manusia biasa. Tak ada manusia yang sempurna didunia ini. Apa yang kalian harapkan dariku?" Baekhyun menjawab dengan marah.

"Sangat membosankan. Kau serius sekali..." Jongin bergumam. Kyungsoo menyikut perut Jongin untuk yang kesekian kalinya. Jongin menyumpah serapah gadis dengan mata bulat disampingnya ini.

Jangan heran. Jongin itu seksi. Dengan kulit tan berambut blonde serta bibir tebal. Sifatnya sangat kekanakan dan tidak bisa serius. Ia akan bertingkah konyol setiap detiknya.

Kyungsoo tak berbeda jauh. Ia adalah gadis cerewet yang pernah Baekhyun temui. Baekhyun yang sedikit diam dan pelit berbicara itu senang sekali mendengar suara Kyungsoo setiap ia berbicara panjang lebar. Itu akan menyenangkan bagi Baekhyun sendiri. Kyungsoo tak ambil pusing karena ia memang suka jika ada yang mendengarkan ia berbicara. Itu sudah lebih dari cukup.

Baekhyun dikampus dengan Baekhyun di kantor kepolisian adalah hal yang benar-benar bertolak belakang. Baekhyun yang cerewet untuk terus mendesak orang, menanyakan sesuatu yang membuatnya penasaran. Serta Baekhyun yang dikenal karena keramahan dan senyum manisnya. Itu adalah sifat Baekhyun di kepolisian.

Sedangkan Baekhyun di kampus adalah sesosok Baekhyun yang menjadi pendiam dan dingin. Itu karena ia sebagai salah satu peraturan bagi Baekhyun di kantor kepolisian untuk tidak menyebarkan fakta maupun gosip kasus yang berada di dalam kepolisian karena hal itu adalah rahasia besar milik kepolisian.

Maka dari itu, untuk menghindarkan sesuatu yang tidak ingin ia kacaukan adalah untuk memilih menjadi gadis pendiam. Berbeda hal nya jika ia akan membahas jurusan di kampusnya. Sebagai mahasiswi jurusan hukum ia merasa harus berbangga diri.

Yang menarik dari Kyungsoo adalah rambutnya yang berwarna merah. Menambah kesan imut di mukanya. Yang menjadi point plusnya lagi yaitu bibir berbentuk hati.

"Baek.. Apakah ada masalah? Kau bisa menceritakan pada kami."

Aku tersenyum. Ya, aku bisa menceritakan padamu Kyung, tapi tidak dengan Jongin.

"Aku tidak apa-apa Kyungsoo."


Baekhyun dengan tergesa memasuki tempat rehabilitasi. Ia berjalan dalam lorong panjang. Menemukan sebuah ruangan di ujung lorong. Didepan pintu ruangan terdapat kursi panjang. Disanalah duduk pemuda berambut pirang dengan kulit pucat yang kontras.

"Suho, oppa!" Baekhyun menghampiri Suho dengan napas tak beraturan karena ia baru saja berlari.

"Baek! Yixing..."

Suho panik. Ia baru pulang kerja saat petugas rehabilitasi menelepon bahwa Yixing mengamuk. Ia tak sempat bertanya karena terlalu panik dan ketakutan. Ia langsung menghubungi Baekhyun untuk datang juga. Karena, hanya Baekhyun yang bisa masuk kedalam ruangan. Yixing hanya mengenal Baekhyun.

Suho terkadang merasa miris karena kekasihnya sendiri tak mengenalinya. Dua-duanya tersakiti. Yixing yang tersakiti jiwanya. Serta ia yang tersakiti hatinya. Pertama,saat ia mencoba meyakinkan Yixing bahwa ia adalah kekasihnya, Yixing mengamuk tak karuan. Tak hanya dirinya, orang tua, kerabat dekat juga tak mampu dikenali Yixing. Hingga ia mencari keberadaan Baekhyun.

Baekhyun, dengan iris mata hijau terangnya. Awalnya, Yixing memang tak mengenalinya. Tapi ketika Yixing melihat mata Baekhyun. Ia mulai melunak. Tak ada cara lain bagi Suho untuk merelakan hatinya dan meminta bantuan Baekhyun untuk menjaga Yixing dan memantaunya dari Baekhyun.

"Ada apa dengan Yixing Eonni, oppa?!" Baekhyun berteriak gelisah.

Suho juga tak mengerti dan kalang kabut. "Aku tak tahu. Sebaiknya kau langsung masuk ke ruangan."

Baekhyun mengangguk dan menghela napasnya. Ia harus tenang menghadapi Yixing Eonni. Ia membuka pintu dan berjalan masuk.

Yang Baekhyun lihat pertama kali ia masuk adalah Yixing yang terus menerus memukul dinding dengan tangan kanannya. Tangan kirinya sudah tak karuan dan berdarah. Disebelahnya terdapat petugas yang menenangkan Yixing tapi Yixing tak menghiraukannya.

Baekhyun langsung menghambur ke arah Yixing. Memegang kedua lengannya dan mencoba bertahan dari Yixing yang berontak.

"Ssshhh Eonni... Ini aku, Baekhyun." Baekhyun tersenyum lembut. Memegang kedua sisi wajah Yixing dan mencari manik mata Yixing. Yixing membalasnya dengan melihat kedua bola mata Baekhyun.

Seketika Yixing melemah dan tak lagi berontak. Baekhyun membawa Yixing kedalam pelukannya. Ia mengisyaratkan kepada petugas yang hanya berdiri diam untuk keluar meninggalkan mereka.

Baekhyun menuntun Yixing agar terduduk di sisi ranjang.

"Baekhyun! Park Chanyeol...Park Chanyeol..." Yixing bergerak gelisah di didalam pelukan Baekhyun.

Park Chanyeol?!

"Ada apa? Ada apa dengan Park Chanyeol, Eonni?" Baekhyun menjauhkan Yixing dan memegang bahu Yixing. Membuat Yixing harus menatap Baekhyun.

Yixing memejamkan matanya dan menggeleng. Raut wajahnya tetap gelisah sembari menyebutkan satu nama dengan begitu takut. "Park Chanyeol...Park Chanyeol..."

Ada apa dengan Yixing Eonni? Darimana dia tahu Park Chanyeol?! Apa yang sudah dilakukan Park Chanyeol terhadap Eonninya?!

Baekhyun bertanya apa yang dilakukan Chanyeol terhadap Yixing. Tetapi Yixing tetap menyebut nama Chanyeol sampai ia lelah dan terlelap. Tak ada yang bisa Baekhyun lakukan selain menenangkannya. Dan akan mencari tahu ada apa dengan Chanyeol dan Yixing.


Chanyeol baru saja dari supermarket sekitar gedung apartemennya. Ia berjalan pelan di sepanjang lorong.

Keningnya berkerut ketika menemukan gadis berambut cokelat dengan mantel tebal membelakanginya dengan tangan yang akan menekan bel. Belum sempat hal itu terjadi, Chanyeol menepuk bahunya pelan.

Gadis itu tersentak dan berbalik. Matanya membulat. Pipi dan hidungnya sudah berubah merah karena dingin.

"Oh, Baekhyun? Masuklah dulu... Diluar sangat dingin."

Baekhyun menurut dan ikut masuk kedalam. Suasana canggung masih tercipta di antara mereka.

"Berikan mantelmu," Chanyeol menerima mantel Baekhyun dan menggantungkan mantel tersebut disebelah mantel miliknya.

Chanyeol menyuruh Baekhyun duduk di sofanya.

"Teh hangat atau coklat hangat?"

Pandangan mereka bertemu. "Cokelat hangat, please..." Baekhyun tersenyum kikuk.

Chanyeol mengangguk dan menuju dapur.

Baekhyun merutuki dirinya yang tak bisa menahan diri dari kegugupannya. Itu dikarenakan mata tajam keabu-abuan milik Chanyeol yang terus mendesak mengintimidasinya. Seharusnya ia bisa bersikap tenang seperti menghadapi kasus lainnya.

Selain itu juga ia memang benar-benar kedinginan karena berusaha menimbang-nimbang pemikirannya untuk bertemu Chanyeol. Hal itu membutuhkan waktu yang sedikit lama. Dan ia hampir membeku. Pabo!

Selang beberapa menit Chanyeol kembali. Menyodorkan cokelat hangat kepada Baekhyun.

Baekhyun menerimanya. Kehangatan langsung menjalar pada kedua tangannya. Ia tersenyum lega tanpa sadar bahwa Chanyeol memperhatikannya sedari tadi. Chanyeol tersenyum geli. Ia berdehem mencoba mengalihkan pada suasana canggung yang tak diinginkannya.

Baekhyun menyeruput sedikit cokelat hangat miliknya dan tetap memegangnya tanpa menaruhnya dimeja. Ia menatap Chanyeol yang masih setia menatapnya, mengumpulkan semua keberanian dan kesanggupannya.

"Well, Chanyeol. Mari kita bekerja sama."

.

.

.

.

-TBC-

Maaf banget kalau ceritanya membosankannn.

Well, aku sedih karena reviewnya sedikit. Tapi karena chapter 2 yang memang sudah selesai aku buat jadi aku publish karena aku sayang kaliaannnn. Loh?

Tapi untuk selanjutnya aku ga yakin kalau mau dilanjut karena review yang sedikit.

Mungkin aku akan berbaik hati kalau memang sudah terselesaikan. Tadinya, ceritanya mengalir begitu aja tapi waktu melihat review yang kurang minat aku jadi lemessss. Hahaha.

Well, memang chapter 1 dan chapter 2 ini masih tabu, masih bayang-bayang dan pasti kalian bertanya-tanyaa. Itu karena memang chapter awal yang sengaja dibuat penasaran. Chapter selanjutnyaa mungkin bakalan flashback untuk menemukan kepingan puzzle yang masih tertutup atau apalahhhh. Yang pasti kalau reviewnya meningkat aku bakal lanjutinnn Fanficnya.

Kalau gak ada minat sama sekali mending di delete aja kali yaa?

Tapi serius, aku jadi ga bersemangat lanjut kalau ga ada peningkatan review... huhu~

Omong-omong terimakasih yang sudah review dan minta lanjutt, walaupun sedikit. Aku rapopo.

Semoga ada chapter selanjutnyaaaa. BAHAHA

HIDUP CHANBAEK!

.