Unknowledgeable Love

Amandaerate

This Is Chanbaek Story

Main cast: Byun Baekhyun, Park Chanyeol

Support Cast: Oh Sehun, Wu Yifan (Kris), Xi Luhan, Yixing, Kim Junmyeon (Suho) and other cast~~

Genre: Crime, Romance, Drama, Hurt/Comfort

Rated: T

Disclaimer: Para tokoh milik kita semuaaaa hehe. Untuk cerita asli dari pikiran aku sendiri.

Summary: Baekhyun membantu penyelidikan kasus kepolisian. Rasa penasarannya yang begitu besar terhdap kasus kakaknya dan mencoba menyelidikinya. Baekhyun tak tahu kalau itu semua menuntunnya kepada Chanyeol.

Warning: GS! And typos!~~

Enjoy and Review Juseyooooo

.

.

.

.

Chapter 3

.

.

.

Baekhyun sungguh tahu, dirinya tak boleh gegabah dan harus menunggu sampai waktunya tiba. Entah sampai kapan. Yang pasti, ia akan mengikuti alurnya sampai ia menemukan jawabannya. Baekhyun tak dendam, hanya saja ia merasakan ada sesuatu yang salah pada kasus kakaknya. Kebenaran itu masih terasa menjanggal sampai-sampai ia frustasi dibuatnya.

Terlebih orang itu adalah orang yang selalu menghantui dirinya. Kebenaran itu terkesan samar. Tak ada titik terang yang Baekhyun temukan. Ia menghela napas gusar.

Baekhyun sadar, saat hal itu terjadi dirinya tak lebih dari seorang siswa berusia 15 tahunan. Walau begitu, tak memungkiri dirinya paham akan hal-hal yang belum dipikirkan oleh anak-anak remaja seusia dirinya. Sampai sekarang pun ia sampai tak habis pikir mengapa semua yang sudah terjadi masih saja bersarang di otaknya. Seolah-olah membentuk pola bagaikan kaset usang yang selalu berputar pada memori otaknya.

Mereka kini tengah mampir pada salah satu cafe langganan Baekhyun, disinilah ia banyak berpikir, banyak melamun. Melamun bukan dalam artian galau dengan tatapan kosong. Yang Baekhyun maksud adalah melamun untuk mencari jalan tengah dalam kasus-kasus yang tak akan membuat dirinya lelah untuk terus meneliti hingga sampai objek formal atau sedalam-dalamnya.

Chanyeol yang berada tepat didepan Baekhyun mengerutkan keningnya saat melihat gadis didepannya kini tengah melamun.

.

.

.

.

.

.

7 tahun yang lalu.

Xiumin mengedarkan matanya―yang dihiasi eyeliner tebal mengitari seluruh penjuru ruangan. Tepatnya pada ruangan yang ia tempati beberapa menit sebelum ia tampil. wajahnya tampak gusar, ia sudah hapal dengan perilaku asistennya yang suka menghilang seenaknya. Bertindak sesuka hatinya.

Tampilannya sekarang jauh dari kata rapih, mungkin karena ia sering menjambak rambutnya seiring dengan kesalnya ia.

"Chanyeol brengsek! Kemana sih, dia! Seenaknya saja, pergi tanpa bilang apapun padaku."

Xiumin menghempaskan dirinya pada kursi empuk yang tersedia.

Sebenarnya, Xiumin adalah pribadi yang lemah lembut. Tetapi, jika ini sudah menyangkut tentang Chanyeol ia bertingkah seakan binatang buas yang siap meledak.

Luhan―teman sesama agensinya hanya berdecak, memutar bola matanya malas.

"Pantas kau cepat tua kerjanya hanya marah-marah saja." Duduk didepan cermin sambil melepas aksesoris saat ia tampil tadi serta menghapus make up, Luhan bergumam malas tanpa mengalihkan perhatiannya pada sosok yang berada di cermin didepannya.

Xiumin bertambah jengkel, jika saja ia hanya sendirian di dalam ruangan ini sudah dapat dipastikan barang-barang di dalamnya tidak akan selamat.

Saking lelahnya, ia tak sadar bahwa ia sudah tertidur pulas dengan leher yang miring bersandar pada orang disamping― seakan tersadar dari tidurnya Ia langsung mendorong bahu yang tadi sempat dibuatnya bersandar.

"Mau apa kau!" Xiumin menjauhkan dirinya, menjaga jarak. Mengacungkan jari telunjuknya tepat pada hidung orang yang lebih tinggi darinya. Orang di depannya hanya tersenyum maklum.

"Kau tadi tertidur, pulas sekali. Aku tak tega membangunkanmu hanya untuk berpindah tempat. Lalu, kulihat kau seperti tidak nyaman dengan posisi tidurmu. Makanya aku meminjamkan bahuku agar lehermu tidak sakit nantinya." Chanyeol menjelaskan dengan nada lemah lembutnya. Tak pantas jika dibarengi dengan suara bass miliknya. Xiumin yakin, perutnya mual seketika jika Chanyeol terus berbicara dengan nada lembut seperti tadi.

Xiumin bersedekap. "Aku tak butuh!" Xiumin mengalihkan pandangannya dengan keras.

"Aku tadi sempat melihat rekaman comebackmu. Dan kurasa kau semakin lincah menggerakkan badanmu di atas panggung."

Mata yang tadi dialihkan kini berpindah cepat pada awal semula, perempuan dengan pipi tembam itu menilik dengan mata elangnya yang tajam. Seakan ingin mencabik-cabik mangsa yang akan di jadikan umpan. Chanyeol tak berhak mengomentari apapun tentang dirinya! Memangnya dia siapa?! Belum sempat pikirannya mengeluarkan sepatah katapun. Dering ponselnya menyelamatkannya dari aungan serigala yang kelaparan.

Xiumin tetap memasang wajah sangar dan menatap Chanyeol tajam. Chanyeol didepannya hanya tersenyum geli, berusaha untuk tidak tertawa.

"Jongdae?" Wajah yang tadi suram berganti dengan adanya binar-binar kecil di matanya. Ia berbalik membelakangi Chanyeol. Hal tadi tak luput pula dari perhatian Chanyeol. Lagi-lagi Chanyeol hanya terdiam membisu, senyuman tipis tak akan hilang darinya. Tetapi jika kita lihat lebih jelas, senyuman itu berubah sendu seiring dengan pelannya detik yang berjalan. Tetap mengamati dalam diam punggung xiumin yang dengan gerakan pelan berjalan jauh, meninggalkannya sendiri.

Sampai kapanpun sebuah pelangi tak akan pernah bisa dicapai walaupun ia akan mengejarnya kemanapun.

Rasa cinta yang begitu besar.

Rasa sayang yang tak bisa ia hindari.

Lama kelamaan akan membekas, lama kelamaan akan hilang.

Menimbulkan perasaan baru.

Dimana hal tersebut berada pada titik jenuh, ujung dari segalanya.

Ujung dari rasa lelah yang selama ini telah berusaha ia capai.

Sehingga timbul perasaan sebaliknya.

Perasaan benci yang hanya berbeda tipis antara persilangan kasih sayang dan perasaan cinta.

Hal itu tak bisa pula ia hindari.

Dan juga jauh dari kehendak yang ingin ia rasakan.

Ada dengan sendirinya.

.

.

.

.

.

.

.

.

Kembali ke masa sekarang.

Suho oppa kembali menghubunginya. Ia bilang kali ini bukan tentang Yixing Eonni. Mau tak mau, Baekhyun dilanda rasa penasarannya. Saat ini ia sudah berada pada restoran Jepang, tempat yang tadi disebutkan oleh Suho oppa.

Ia memasuki restoran, mengedarkan pandangannya. di kedua ujung dekat jendela Suho oppa melambai. Baekhyun mendekati Suho.

"Kau sudah kupesankan Okonomiyaki tadi, kau tak keberatan kan?"

Baekhyun baru saja duduk, ia hanya tersenyum mengangguk.

"Jadi, apa yang oppa ingin bicarakan?"

Suho berdecak malas. "Setidaknya, kita makan terlebih dahulu. Baekhyun."

Baekhyun hanya mengiyakan. Walaupun ia bersikap tenang diluar, tetapi dalam pikirannya berkecamuk. Apakah terjadi sesuatu pada Yixing Eonni? Tapi, bukankah Suho oppa bilang ini tidak ada kaitannya dengan Yixing Eonni?

Mereka makan dengan tenang, namun entah kenapa keduanya tak menyadari jika mereka menahan napas sejak tadi. Keduanya berusaha mencari-cari sesuatu yang sekiranya benar atau salah. Menyiapkan hatinya masing-masing.

Baekhyun lebih dulu menyudahi acara makannya. Seketika ia tak berselera. Suho mengikuti tak lama setelah Baekhyun.

Baekhyun tetap menunggu Suho mengeluarkan suaranya.

"Well..." Pandangan mereka berdua bertemu. Suho tersenyum. Senyumnya bagaikan malaikat di siang hari sejuk seperti ini. "Kau tahu kan kalau aku bersama Yixing, tak lama setelahnya ia kehilangan kesadarannya?"

Baekhyun hanya mengangguk, menerka-nerka akan kemana arah pembicaraan mereka. Suho oppa dan Yixing Eonni memang hanya dua minggu bersama, setelahnya tak dihitung karena Yixing Eonni sedikit terganggu mentalnya. Apa yang sebenarnya ingin Suho oppa bicarakan?

"Kau tahu aku tak begitu mengenali siapa saja orang yang bergaul dengannya sebelum aku menjadi kekasihnya. Dan aku juga belum mencari tahu penyebab ia kehilangan mentalnya. Aku tak sempat melakukan itu semua, pekerjaanku membuatku kerepotan. Dan aku hanya ingin melakukannya sendiri."

Suho kembali tersenyum. Baekhyun semakin yakin jika hal selanjutnya adalah sesuatu yang tidak ingin didengarnya dan dibahasnya.

"Apakah Yixing mengenal orang yang bernama Chanyeol, Baekhyun? Aku hanya mendengar samar namanya di ucap berulang-ulang oleh Yixing saat kemarin kau menenangkannya." Baekhyun menegang. Ia menghembuskan napas panjang, tanpa sadar bahwa sebelumnya menahan napasnya.

Baekhyun segera mengalihkan pandangannya seketika saat Suho menunggu jawaban yang tadi ia lontarkan.

Hening beberapa detik. Dan dengan berusaha tetap tenang Baekhyun akhirnya bersuara. "Aku tidak tahu...oppa."

Suho tak menghiraukan dan tak melihat semua keanehan tingkah laku Baekhyun. "Entah mengapa, Baekhyun. Aku yakin bahwa ada sesuatu yang Yixing lihat, sesuatu yang membuat ia terguncang atas apa yang menjadi kebenaran sebenarnya. Hanya saja, ia terlalu shock sehingga tidak bisa mengontrol mentalnya yang terguncang hebat. Aku sebagai kekasihnya merasa gagal tidak bisa ikut berbagi merasakan sesuatu yang membuatnya kesakitan."

Gotcha.

Semua yang dijabarkan oleh Suho oppa tak pernah terlintas dipikiran Baekhyun. Benar. Baekhyun pun tak tahu penyebab Yixing Eonni yang menjadi seperti sekarang ini. Selama ini, ia hanya tak ingin membahas apapun tentang sesuatu yang membuat Yixing meraung-raung dalam tangisannya. Setiap kali hal itu ia bahas maupun ia sebut tanpa kesengajaanpun, Yixing langsung pucat pasi bahkan sampai menangis tak karuan.

Suho oppa yang berada didepannya kini tampak murung. Seketika Baekhyun dilanda perasaan bersalah karena tak sampai menemukan kemungkinan-kemungkinan tersebut. Hatinya galau, disatu sisi ia merasa iba pada cerita percintaan antara Suho oppa dan Yixing Eonni. Mereka saling mencintai tetapi terpisah oleh keadaan hati yang sama-sama retak tetapi tak sampai pecah. Mereka hanya tak sadar bahwa salah satunya terganggu mentalnya. Dan mereka semua adalah sahabat Baekhyun. Seharusnya Baekhyun membantunya dan langsung menyelidikinya bahkan menyelesaikan kasusnya secara cepat. Penyebab Yixing Eonni terganggu mentalnya, bahkan kasus-kasus lainnya yang bersangkutan.

Disatu sisi, di relung hatinya yang paling dalam sekalipun bahkan meminta otaknya untuk tidak mengambil kesimpulan seenaknya. Masih banyak hal yang belum ia sadari, ataupun bukti-bukti bahwa semua hal ini mengarah padanya. Menyambungkan benang merah yang akan menyatukan analisisnya. Selain itu, ia juga harus bertindak extra hati-hati. Sebagaimana ia bertindak, ia selalu berurusan dengan sesuatu yang membahayakan dirinya. Sedikit saja ia lengah, itu dapat berpengaruh pada mentalnya. Jika ia tak dapat mengontrolnya, dapat dipastikan Baekhyun akan berakhir seperti Yixing Eonni. Atau lebih parahnya lagi, berhadapan dengan nyawanya.

.

.

.

.

.

.

.

Baekhyun tak dapat memungkiri bahwa ia terus menerus memikirkan hal-hal yang Suho oppa duga. Sampai ia memutar gagang pintu, memasuki apartemen dengan langkah lesu. Tetapi, langkahnya terhenti saat ia memergoki dua sejoli yang sedang asyik bercumbu mesra. Sehingga, tidak menyadari kehadirannya.

Barulah setelah sekian detik berlalu, perempuan berambut merah itu terkejut dan langsung mendorong lelaki yang memunggungi Baekhyun. Seketika muncul semburat merah di pipinya hingga menjalar ke telinganya. Mukanya seakan merah padam, menahan malu.

"Yah sialan, padahal tadi sedang seru-serunya. Eh, datang tikus pengganggu." Jongin malah berujar tidak penting, seperti biasanya. Ia duduk di kursi ruang tamu depan televisi yang masih dibiarkan menyala, tetap bersiul bahkan setelah dirinya ketangkap basah telah menjamah bibir Kyungsoo yang seksi itu.

Baekhyun tersenyum senang. Setidaknya, ia mempunyai kartu as Kyungsoo jika Kyungsoo tak menuruti kemauannya.

Seketika Baekhyun lupa dengan pikiran yang tadi berkecamuk didalamnya. Dirinya malah asik menggoda kyungsoo yang masih merah padam. Kyungsoo memang pemalu, makanya Baekhyun senang menggodanya. Jongin? Jangan ditanya! Bukannya dia membantu atau menolong Kyungsoo dari godaan syaiton Baekhyun. Dirinya malah mengambil cemilan dari dapur untuk dimakannya sembari tetap fokus pada televisi didepannya. Kalau saja, Jongin adalah kekasih Baekhyun. Baekhyun tak akan sanggup sabar pada sifatnya yang tak peka, terlebih terhadap kekasihnya―Kyungsoo sekalipun.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Baekhyun?" Chanyeol tak habis pikir, kenapa perempuan mungil di depannya kini suka sekali melamun. Bahkan jika dirinya telah bersamanya. Chanyeol selalu memperhatikan Baekhyun setiap detik saat Baekhyun sedang bersamanya, dan tak hanya sekali dua kali Baekhyun kedapatan sedang melamun.

Baekhyun mengerjapkan matanya cepat. "Ah...ya?" Baekhyun tersenyum kikuk.

"Aku tadi sudah bertanya tiga kali padamu. Berapa umurmu sekarang?" Chanyeol hanya mampu tersenyum melihat perubahan raut wajah Baekhyun yang terkesan aneh.

"Aku? Dua puluh satu." Baekhyun mengambil sendok yang tadi sempat dianggurkannya, kembali menguyah makanan didepannya.

Chanyeol menganga. "Apa?" Nada suaranya terkejut. "Kau mungil seperti ini. Dua puluh satu?"

Baekhyun hanya tersenyum malu. Ia menganggukkan kepalanya bersemangat. Menyebabkan rambutnya yang tergerai ikut bergoyang. Saking bersemangatnya ia tak sadar menyendokkan makanan terlalu banyak menyebabkan pipinya menggembung, kelihatannya seperti sulit mengunyah.

Chanyeol hanya tertawa menanggapinya. Perempuan didepannya ini baru kali ini tersenyum tulus padanya. Sebelumnya Chanyeol tak yakin bahwa Baekhyun pernah tersenyum padanya. Dan ia juga tak bisa memungkiri, sempat terpengarah terhadap senyuman Baekhyun. Ditambah raut wajahnya yang seperti puppy.

"Kau kuliah?" Baekhyun kembali mengangguk.

"Well, mengapa kau terlibat dengan sesuatu yang berbahaya, Baek? Bukankah kau telah mengetahui resikonya?"

Raut wajah baekhyun seketika berubah menjadi lebih datar dari yang tadi diperlihatkannya beberapa detik yang lalu. Chanyeol tak tahu mengapa, apakah itu karena ia membahas hal ini, ataukah ada sesuatu yang Baekhyun pikirkan? Entahlah.

"Aku hanya ingin." Baekhyun kembali menaruh sendoknya, seketika tak bersemangat lagi.

Chanyeol yakin bukan itu jawaban yang ingin ia dengar. Lagi pula jika pun ia mendesak, memangnya dia siapa? Walaupun tak puas dengan jawaban Baekhyun, Chanyeol tak menanyakan hal itu lebih lanjut. Menyisakan hening yang menyelimuti keduanya.

Tiba-tiba terdengar teriakan nyaring seorang perempuan dari arah toilet. Baekhyun yang seakan memiliki radar langsung bangkit. Ia tak menghiraukan kerumununan orang yang ingin mendekati toilet untuk melihat kejadian yang sebenarnya. Tetapi ia mengedarkan pandangannya mencari orang yang menjauhi toilet, lebih tepatnya mencari orang yang panik dan terburu-buru ingin keluar. Dan Baekhyun menemukannya. Tanpa menghiraukan sekelilingnya, Baekhyun langsung berlari mengejar laki-laki bertubuh ceking tidak pendek dan tidak tinggi. Jika diperhatikan, tubuhnya hampir mirip seperti Yixing Eonni, tetapi ini dalam versi laki-laki. Tapi, ia tak mau mengambil kesimpulan terlebih dahulu karena pakaiannya yang tertutup. Wajahnya pun tak terlihat saat ia memalingkan muka dari Baekhyun menuju pintu keluar ruangan dengan tergesa.

Chanyeol berteriak memanggil Baekhyun, dan akhirnya ikut mengejar mereka. Terjadilah aksi kejar-kejaran. Baekhyun yang mengejar orang mencurigakan tadi dan Chanyeol yang mengejar Baekhyun.

Chanyeol tak mengerti mengapa tiba-tiba Baekhyun berlari dengan sekuat tenaga seperti itu. Chanyeol pun baru menyadari bahwa lari Baekhyun sebagai perempuan seakan tak wajar. Chanyeol yang memiliki kaki jenjang saja sudah merasa akan pingsan. Tetapi didepan sana Baekhyun tetap berlari. Entah mengapa, Chanyeol hanya mengikuti nalurinya untuk mengikuti Baekhyun.

.

.

.

.

.

.

Sial! Baekhyun kehilangan orang tadi! Mengikuti instingnya dia memasuki gang yang lebih kecil dan minim penerangan. Langit semakin kelabu dan Baekhyun bersumpah harus menangkap orang tadi!

Baekhyun mendengar langkah-langkah yang lain diantara kakinya. Ia yakin, itu adalah Chanyeol. Maka, ia tak begitu menggubrisnya. Dengan napas yang memburu, serta suara langkah kaki yang berdengung di kegelapan ia tetap berlari.

Sampai akhirnya ia menyerigai karena ini adalah jalan buntu. Orang tadi berhenti, tetap memunggungi Baekhyun.

Baekhyun ikut berhenti, meraup napas dengan rakus. Ia terus berlari tadi, tanpa berhenti. Wajar jika ia tidak dapat mengatur napasnya. Keringat sudah mengucur deras dari pelipisnya.

"Hei! Menyerahlah, kau sudah tidak dapat pergi kemanapun."

Orang di depan tadi tiba-tiba tertawa keras. Masih tetap memunggungi Baekhyun. Membuat Baekhyun dibuat tak mengerti dengannya.

Selama beberapa menit ia masih tertawa, suaranya menggema di gang kecil ini. Setelah tawanya berhenti, dia berbalik. Menghadap Baekhyun.

Seketika Baekhyun merasa pusat dunianya teralihkan pada sosok didepannya.

"Joo...Jongin?" Baekhyun merasakan suaranya tercekat, serak dengan suara lirihnya. Kakinya lemas seketika. Ia tak mengerti. Dari sekian banyak orang yang kenal dengannya. mengapa harus Jongin? Mengapa harus kekasih Kyungsoo? Mengapa harus Kyungsoo yang ikut terlibat?!

Persetan dengan semuanya, inilah mengapa ia tak begitu percaya pada orang lain. Ia hanya akan percaya pada dirinya sendiri. jika Jongin seperti ini. Bagaimana dengan Kyungsoo?! Teman sekaligus sahabat, yang mengerti dirinya. Demi Tuhan, dia tak mau Kyungsoo terlibat dengan dunianya. Demi Tuhan dia tak ingin Kyungsoo yang polos satu-satunya teman yang dimilikinya itu masuk kedalam bahaya yang melingkupinya. Selama beberapa tahun ia sanggup merahasiakan ini dari Kyungsoo, tanpa ingin melibatkan Kyungsoo lebih jauh. Tetapi apa? Kekasihnya sendiri yang telah melibatkannya. Baekhyun tak sanggup, orang-orang yang disayanginya adalah titik kelemahannya.

Melihat Baekhyun yang pucat pasi. Jongin kembali tergelak. Ia sampai memilitkan tangannya ke perutnya saking puas tertawanya. Baekhyun shock.

Dengan terbata-bata ia bertanya. "Jongin... Katakan ini tidak benar... Katakan aku salah mengejar orang..."

Jongin tertawa mengejek. "Dari awal aku sudah mengamatimu Baekhyun. Kau hanyalah sosok lemah yang pura-pura kuat hanya untuk mencari penyebab kasus masa lalumu."

Apaan-apaan Jongin?! Darimana ia tahu? Darimana ia tahu masa laluku?! Tak ada yang mengetahu masa laluku. Tidak! Selain diriku sendiri!

"Kau pikir aku tidak tahu?" Jongin kembali tertawa. Ia mengusap air mata di ujung matanya.

Muka Baekhyun merah padam. Merasa dikhianati oleh temannya sendiri.

"Dimana Kyungsoo?!" Kemarahan menyelimuti diri Baekhyun.

"Kyungsoo aman bersamaku Baekhyun. Kau tak perlu mengkhawatirkannya." Apa-apaan itu?! Nada suaranya terdengar tulus. Tapi Baekhyun tak mau dibohongi lagi. Sudah cukup. Baekhyun muak!

Baekhyun melangkah maju, ingin menerjang Jongin dengan jurus hapkidonya. Jongin dengan sigap mengeluarkan pistol yang tadi diselipkan di kantongnya. Jongin langsung menembak Baekhyun. Baekhyun yang terkaget tanpa bisa menghindarinya terkena tembakan itu. Seketika tubuhnya limbung ke tanah.

Kenapa? Kenapa Jongin melakukan hal kotor ini?! Baekhyun merasa sedih.

"Enyahlah Baekhyun."

Setelahnya Jongin dengan mudah melompat ke dinding hingga memantul ke pagar pembatas, dengan susah payah tetapi lincah ia menaiki pagar tersebut. Baekhyun dapat melihat tangannya tergores dan cairan pekat menetes dari sana.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Chanyeol yakin tadi ia melihat Baekhyun memasuki gang kecil ini. Gelap. Dengan percaya diri diri dia berlari, tenaganya sudah terkuras sehingga menyebabkan larinya agak terseok. Tetapi ia memaksakan dirinya untung tetap berlari.

Dari gema yang hening tiba-tiba terdengar suara tembakan.

Chanyeol tersentak kaget, ia tak mau memikirkan hal-hal yang tak seharusnya terjadi. Dengan kekuatan yang tiba-tiba menopang kakinya ia mempercepat larinya.

Sesuatu yang tak mau di pikirkannya benar-benar terjadi. Seorang gadis yang familiar bersimpuh dengan kedua lututnya tak berdaya. Di tanah. Didepan sana. Di kegelapan malam.

Chanyeol dapat melihat ia memegang bahu kanannya yang terkena tembakan.

Sesampainya ia di sebelahnya, Baekhyun menatap Chanyeol dengan mata sayunya. Demi Tuhan darahnya terus mengalir dan ia harus segera dibawa kerumah sakit jika ia tak mau kehabisan darah. Ketika Chanyeol ingin membopongnya, Baekhyun menahannya. Tangan kirinya yang bebas menangkup pipi Chanyeol.

Chanyeol menatap Baekhyun heran. Ia mengeryit tak mengerti ketika Baekhyun tersenyum tulus kepadanya. Hatinya berdesir.

"Chanyeol... Bolehkaah, aku... menciummu?" Dengan suaranya yang parau Baekhyun mengakhiri dengan lirihannya membuat dada Chanyeol berdegup dengan keras. Ia tak mengerti. Memandang Baekhyun dengan wajah sendu dan memohon kepadanya untuk menciumnya.

Seakan tidak mau membuang waktu yang sia-sia, Chanyeol yang mengerti langsung menangkup kedua pipi Baekhyun dan menjatuhkan bibirnya tepat di atas bibir ranum Baekhyun. Chanyeol merapatkan tubuhnya, mengerti jika Baekhyun tak bisa bergerak. Baekhyun langsung melingkarkan tangan kirinya pada leher Chanyeol. Sedangkan tangan kanannya tetap terjatuh lemas di samping tubuhnya.

Keduanya menutup mata dnegan khidmat menikmati sentuhan bibir kenyal masing-masing, saling tumpah tindih, bergantian mengecup daerah yang sensitif itu. Baekhyun meneteskan air matanya. Ia juga tak tahu mengapa ia meminta hal yang benar-benar membuatnya merasa bodoh. Tapi tak dapat dipungkiri bahwa ia butuh seseorang yang menopangnya saat ia sedang terpuruk. Walaupun begitu, ia tetap tahu diri untuk tidak mengartikan ciuman ini lebih dari apapun untuk menghibur dirinya.

Mereka berdua tetap bertukar saliva tanpa sadar bahwa salah satu dari mereka tambah melemah dan akhirnya kepalanya terjatuh pada bahu sang lelaki.

Tanpa menghiraukan jantungnya yang berdegup tak karuan, ia langsung membopong Baekhyun. Berlari dengan cepat tak menghiraukan kakinya yang mungkin akan keram nantinya karena dipakai berlari terus menerus, ia berlari ke ujung gang setelahnya menyetop taxi untuk segera membawanya ke rumah sakit terdekat.

Ia sama sekali tak menghiraukan kemeja birunya yang sudah berubah menjadi merah pekat pada bahu kirinya. Wajahnya mengisyaratkan bahwa ia gelisah.

.

.

.

.

.

.

.

-TBC-

Aaaaaaa. Aku gatau kenapa aku nulis cerita yang ngebosenin kayak gini sih. Ceritanya makin lama makin ngaco yaa wkwkwk.

Aku memutuskan bahwa aku akan menyelesaikan fanfic ini sampai tamat. Aku ga peduli terhadap reviewnya. Hehe.

Aku bakal lanjut, tapi aku gatau kapan bakalan posting chapter selanjutnya. Doain aja aku ga sibuk yaa wkwkwk. *Sok sibuk-_-:v

Pokoknya tetap dilanjut tapi bakalan ngaret, arrasseo?:D

Terimakasih untuk yang sudah meriview dan menunggu atau ingin kelanjutan dari ceritaku yang apalah ini muehehehe.

Untuk yang baca doangg silahkan mampir kekotak review;;))))

Oh iyaaa, selamat buat EXO yang dapettt 4 Trofi di MAMA 2015;99999 Daebak!

See You di Chapter selanjutnyaaaaaa!

Hidup Chanbaek!

.

.

.