Unknowledgeable Love

Amandaerate

This Is Chanbaek Story

Main cast: Byun Baekhyun, Park Chanyeol

Support Cast: Oh Sehun, Wu Yifan (Kris), Xi Luhan, Yixing, Kim Junmyeon (Suho) and other cast~~

Genre: Crime, Romance, Drama, Hurt/Comfort

Rated: T

Disclaimer: Para tokoh milik kita semuaaaa hehe. Untuk cerita asli dari pikiran aku sendiri.

Summary: Baekhyun membantu penyelidikan kasus kepolisian. Rasa penasarannya yang begitu besar terhdap kasus kakaknya dan mencoba menyelidikinya. Baekhyun tak tahu kalau itu semua menuntunnya kepada Chanyeol.

Warning: GS! And typos!~~

Enjoy and Review Juseyooooo

.

.

Chapter 4

.

.

Ruangan bernuansa serba putih itu kini semakin canggung saja. Tepatnya pada seorang lelaki jangkung yang tengah duduk di samping gadis yang tertidur sejak peluru yang bersarang dibahunya telah diungsikan. Chanyeol hanya diam disana dengan beberapa bagian baju―pada bahunya yang berlumuran darah. Sejak 5 jam yang lalu ia dengan setia menunggu Baekhyun dipindahkan keruangannya pun sama sekali tak melakukan apapun. Lebih tepatnya pada peristiwa sebelum Chanyeol benar-benar menggendong Baekhyun.

Kenapa Baekhyun meminta ia menciumnya?

Pikiran dengan banyak pertanyaan semacam itu sedang berkembang biak di otaknya. Seakan terus menerus berkeliaran tanpa tahu kemana ia akan berlabuh.

Bibir Chanyeol yang belum tersentuh sama sekali itu sudah di jamah terlebih dahulu. Terlebih orang yang pertama ia harapkan sebagai kekasihnya yang akan mencicipi bibirnya. Melainkan diregut oleh gadis yang terikat perjanjian dengannya. Ini konyol. Lebih konyol terhadap perlakuan yang dia dapatkan dari seseorang yang berada dihatinya. Sampai sekarang pun orang itu masih tetap ada dihatinya. Tanpa mengenal lelah waktu yang sudah terlewati.

Dan Chanyeol tak mengerti akankah semua itu berakhir sekarang?

.

.

.

Baekhyun berdiri pada persimpangan jalan yang tak ada ujungnya. Dia tak tahu dimana tepatnya dia berdiri sekarang. Tempatnya berdiri sekarang benar-benar putih bersih layaknya surga. Tak ada seorangpun disini. Ia sendirian. Merasa kecil.

Silau yang ia rasakan jauh didepan sana semakin membuat dirinya penasaran akan sosok itu. Apakah ia bertemu malaikat?

Sosok itu semakin mendekat. Baekhyun menunggu dengan sabar. Barulah ketika ia sadar bahwa itu adalah...

"Eonni!"

Itu adalah kakaknya.

Tetapi ia tak mengerti mengapa kakaknya menemuinya disaat Baekhyun sadar bahwa kakaknya sudah lama meninggal.

Sosok kakak yang ada didepannya ini sungguh berbeda. Kulitnya putih bersih. Ia begitu bersinar sehingga telihat menawan.

"Baekhyun..."

Suaranya merdu bagaikan nyanyian surga. Dia memeluk Baekhyun karena benar-benar merindukan adik satu-satunya itu.

Baekhyun tak lagi dapat membendung air matanya. Ia sungguh kesepian semenjak kakaknya itu pergi dari dunianya. Apalagi dia berusaha untuk mencari jawaban yang selama ini telah bersarang dibenaknya. Dia berusaha mencari dalang yang membuat kakaknya meninggal. Baekhyun yakin hal itu bukan kecelakaan. Kakaknya itu telah dibunuh. Dan menurut kepolisian, Chanyeol-lah orang yang telah membunuh kakaknya.

Sampai sekarang pun, Baekhyun tak mengerti mengapa Chanyeol melakukannya? Baekhyun telah menduga Chanyeol terlalu terobsesi terhadap sang kakak. Tetapi sang kakak tidak menanggapinya sehingga Chanyeol melakukan hal-hal yang sangat gila seperti itu. Dan, Baekhyun berjanji ia tidak akan memaafkan orang itu. Entah sampai kapan. Yang pasti, ia akan mengikuti alurnya sampai ia menemukan jawabannya. Baekhyun tak dendam, hanya saja ia merasakan ada sesuatu yang salah pada kasus kakaknya. Kebenaran itu masih terasa menjanggal sampai-sampai ia frustasi dibuatnya.

Terlebih orang itu adalah orang yang selalu menghantui dirinya. Kebenaran itu terkesan samar. Tak ada titik terang yang Baekhyun temukan.

Xiumin. Kakak Baekhyun itu melepas rangkulan mereka. Xiumin tersenyum lembut, mengelus surai halus Baekhyun. Dia sebagai kakak merasa bersalah telah meninggalkan Baekhyun terlebih dahulu. Bagaimanapun ia telah gagal menjadi seorang kakak. Ia telah membahayakan Baekhyun.

"Baek, didunia ini apa yang kau lihat belum tentu apa yang sebenarnya terjadi. Kau harus melihatnya pada sisi yang berbeda. Kau harus melihatnya pada sudut pandang yang berbeda. Itu artinya, kau tidak bisa menyimpulkan sesuatu dari sudut pandang mu saja. Tegarlah Baekhyun, aku menyayangimu."

Baekhyun ingin membalas perkataan Xiumin. Tetapi, suaranya tercekat dan tak mau keluar. Ia menggapai-gapai Xiumin yang sosoknya semakin jauh dan semakin menghilang dari pandangannya.

Tidakkkk!

Ia harus tahu apa maksud perkataan Xiumin. Ia tak mengerti. Ia tak tahu. dan ia sungguh buta untuk mengerti semua itu.

Selanjutnya kegelapan yang menyeramkan berkumpul pada sekeliling pandangannya. Sampai akhirnya benar-benar gelap.

.

.

.

Baekhyun membuka matanya perlahan. Nuansa putih yang tertangkap pada retinanya meyakinkan dirinya bahwa ia sedang berada di rumah sakit. Bahu sebelah kanannya mati rasa dan ia sangat lemas. Ia merasakan telapak tangan kirinya di genggam oleh sebuah tangan besar yang menenggelamkannya. Barulah ketika ia menelusuri dengan perlahan, ia tahu bahwa itu Chanyeol. Chanyeol yang menggenggam tangannya. Sedangkan tangan Chanyeol yang satunya ia gunakan untuk bertumpu. Chanyeol nya tertidur. Dengan baju yang masih terlihat darah-darah pekat membercak terutama pada bahunya. Baekhyun menyunggingkan senyum. Ingin mengelus rambut Chanyeol tetapi kedua tangannya tak bisa bergerak. Ia menyalurkan itu semua dengan lebih menggenggam erat tangan Chanyeol.

Dengan senyuman yang masih melekat di bibirnya, matanya kembali terpejam.

Tetapi siapa yang tahu selain dirinya bahwa senyuman itu lebih baik disebut seringai?

.

.

.

Suara gaduh samar-samar disekelilingnya membuat ia mengerjapkan matanya. Seperti suara Luhan eonni. Firasatnya buruk, Luhan pasti akan marah besar padanya. Baekhyun melihat Luhan dengan wajah lelahnya.

"Baek? Kau baik-baik saja?" Chanyeol langsung mendekati brankas Baekhyun. Ada kelegaan yang tersirat pada hembusan napasnya. Bajunya sudah berganti. Sepertinya ia sudah mandi karena rambutnya tertata rapih. Tapi mengapa Baekhyun mengamati dengan begitu detil?

Baekhyun hanya memandang Chanyeol dengan pandangan sulit diartikan.

Chanyeol mengambil sedotan dan memasukkannya kedalam botol air mineral. Ia menyuguhkan sedotan ke arah mulut Baekhyun. Mata keduanya bertemu. Jantung keduanya berpacu menghasilkan irama yang sama dan detak itu semakin lama semakin cepat. Baekhyun lagi-lagi tak mengerti.

Baekhyun minum dengan rakus. Chanyeol merasakan napas Baekhyun pada tangan yang mengarahkan sedotan pada mulutnya.

Baekhyun tersenyum dan memutuskan pandangan mereka.

"Mungkin sebaiknya kau pulang, Chanyeol." Luhan eonni mengusir dengan halus..

Chanyeol tersenyum canggung. "Well, Baekhyun. Aku pergi. Untung peluru nya tidak menembus terlalu dalam. Cepatlah sembuh." Dengan gerakan refleks ia menepuk ringan rambut Baekhyun. Setelahnya mengelus halus pipi chubby yang menarik perhatiannya dari gadis di depannya. Baekhyun spontan menutup matanya, menikmati sentuhan hangat Chanyeol. Suasana di dalam ruangan mendadak lebih canggung. Rona merah menjalar pada kedua pipinya sampai-sampai telinganya pun ikut membakar.

"Baek, demi Tuhan. Itu adalah Park Chanyeol. Kau tahu dia adalah Park Chanyeol, Baekhyun!" Luhan menyerbu ketika pintu ruangan ditutup rapat dari luar. Kerutan di dahinya mendadak muncul. "Dimana kalian bertemu?"

"Orang yang aku selidiki kemaren di apartemennya adalah Park Chanyeol." Baekhyun sudah menduga pertanyaan ini, dan dia hanya berusaha tenang dengan menjawabnya.

"Are you seriously? Dan kau tidak memberitahuku?! Demi Tuhan, Baekhyun..." Luhan dibuat greget atas sikap tenang Baekhyun.

"Eonni, tenanglah. Aku tidak ingin memberitahumu karena kau pasti tidak menginginkannya. See?" Baekhyun menegang. Padahal ia tahu bahwa suatu saat nanti Luhan akan mengetahuinya dan pasti akan menyerangnya dengan berbagai pertanyaan yang tidak dimengerti maupun tidak ia terima. Tetapi ia tak menyangka akan secepat ini.

"Kauu... Aisshh. Dia Park Chanyeol, Baekhyun. Dan dia berbahaya! Sampai kapanpun aku tidak akan mengijinkanmu bertindak sejauh ini!" Mukanya merah padam dan ia menghembuskan napasnya panjang. Setelahnya berbicara dengan suara lirih dengan nada memohon, "Mengertilah, Baekhyun. Aku sudah menganggap kau adalah adikku. Dan aku tidak mungkin menempatkanmu pada bahaya yang kita tidak tahu akan seperti apa."

Baekhyun tersenyum. Tangan kirinya mengenggam tangan Luhan erat, membawa kedepan dadanya. "Eonni, percayalah padaku. Tak ada yang perlu kau khawatirkan dan aku tahu apa yang aku lakukan. Aku sudah dewasa eonni. Aku mendengar eonni, tetapi aku memang harus melakukannya. Agar aku tahu."

Luhan tersenyum lega. Mungkin ini perantara yang Tuhan berikan pada Baekhyun. Mungkin ini jawaban atas segala doa Baekhyun. Dan ia berharap semuanya akan baik-baik saja.

"Bagaimana dengan bahumu, Baekhyun? Apakah baik-baik saja?" Baekhyun mengangguk lemah. "Aku akan menagih penjelasannya padamu jika kau sudah sembuh." Luhan menyeringai. "Dan apa-apaan dengan adegan romantis Chanyeol terhadapmu?"

"Eonni!" Lagi-lagi rona merah menjalar di permukaan pipi Baekhyun. Luhan hanya terkekeh geli.

.

.

.

Sudah tiga hari ini Baekhyun berada di rumah sakit. Benar-benar memulihkan rasa sakitnya dengan tuntas. selama tiga hari ini pun Chanyeol tak pernah mengunjunginya.

Baekhyun yang sedang terlelap tiba-tiba terbangun dari ranjang rumah sakit yang ia tempati. Astagah! Bagaimana bisa dia melupakan Kyungsoo? Dimana Kyungsoo sekarang? Apakah dia baik-baik saja? Apakah Jongin benar-benar membawa Kyungsoo?

Suara pintu kamar mandi di pojok ruangan terbuka, muncullah sosok Chanyeol. Sosok yang raganya menghilang dua hari belakangan ini.

"Eh, kau sudah bangun?" Kedua mata lebar milik Chanyeol membola lucu. "Kau kenapa Baek?" Chanyeol menyadari raut gelisah Baekhyun.

"Kyungsoo..."

Chanyeol mengerutkan dahinya. "Siapa Kyungsoo?"

"Orang yang dekat dengan Jongin. Dan, Jongin mengancam untuk membawa Kyungsoo bersamanya. Aku...Aku tak bisa membayangkan sesuatu terjadi..."

"Sttttt.." Tau-tau saja Chanyeol sudah berada didekat Baekhyun. Mereka benar-benar dekat. Chanyeol membuat gestur dengan menaruh telunjuknya pada bibirnya. Ia mengelus surai Baekhyun. "Tenanglah, Baek. Aku tak bisa menjamin juga. Tetapi bahumu belum pulih. Apa yang harus aku lakukan untukmu? Biar aku saja yang mengurusnya."

Suara berat Chanyeol bagaikan seorang paman yang sedang membujuk keponakannya.

Lagi-lagi jantungnya berdetak kencang. Dan, Baekhyun tidak mengerti apa artinya itu. Tidak! Tidak! Dia harus fokus jika ingin hal ini berjalan dengan semestinya.

"Maukah kau melakukan sesuatu untukku?"

Baekhyun tak yakin, dia tahu Jongin sangat mencintai Kyungsoo. Ia tahu dari pandangan mata Jongin saat menatap Kyungsoo. Mereka sudah sering bersama-sama sehingga ia tahu hal-hal seperti itu.

Tetapi siapa yang tahu hati seseorang? Cinta dan benci adalah sesuatu yang sangat tipis bagaikan permukaan kertas. Dan, dia tidak mau membayangkan jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Bagaimanapun, Kyungsoo tidak tahu apa-apa. Seharusnya, ia tak terlibat sejauh ini.

"Maukah kau ke kantor kepolisian dimana Luhan eonni berada? Aku ingin kau memberitahunya tentang hal ini. Dia akan berusaha mencari Kyungsoo. Aku memiliki fotonya."

Walaupun tak yakin, Chanyeol tetap mengangguk.

.

.

.

Chanyeol berada di taxi, ia akan mengunjungi kantor kepolisian sekarang. Ia tak tahu apakah ia menggali kuburannya sendiri sekarang? Bagaimananpun kantor kepolisian adalah daftar tempat nomor satu yang sangat ia hindari. Saat keluar dari sana beberapa waktu yang lalu, ia bahkan sempat berjanji untuk tidak menginjakkan kakinya lagi di tempat itu. Lalu bagaimana sekarang ia dengan tidak pikir panjang langsung menyanggupi perkataan Baekhyun untuk menemui Luhan?

Bagaimanapun, ini tak ada hubungannya dengan dirinya. Ia hanya membantu Baekhyun. ya, benar. Tidak ada yang perlu dia pikirkan.

Taxi berhenti tepat didepan kantor kepolisian. Chanyeol turun dengan gelisah. Ia berusaha mengatur napasnya. Relax Chanyeol.

Ia sudah menduga beberapa pasang mata menatap kearahnya saat ia memasuki kantor di bagian divisi kasus pemeriksaan. Ia telah melihat meja Luhan. Dengan mengabaikan tatapan diseluruh penjuru kantor, ia berjalan dengan tenang.

Ia sudah menduga bahwa ada raut kebingungan di wajah Luhan. Belum sampai ia dimeja Luhan. Seorang lelaki dengan wajah yang sangat familier baginya menahan jalannya. Chanyeol tak tahu apakah kali ini wajahnya pucat pasi? Tetapi ia dapat mengatur mimik wajahnya untuk terlihat santai dan tidak terlalu memusingkan hal itu.

"Apa yang kau lakukan disini?" Itu Kris. Dia adalah seseorang yang telah lama Chanyeol kenal. Tetapi itu dulu. Sebelum sebuah malapetaka terjadi dan mereka dengan sendirinya terpecah belah.

"Apapun yang kulakukan disini tidak ada urusannya denganmu." Mereka berdua seketika mendapat perhatian penuh disana. Terlebih oleh paman Ahn yang memang ada disana sedari tadi. Tetapi ia tidak dapat menebak ada perihal apa sampai-sampai Chanyeol dengan susah-susah datang kesini.

Pasti ada sesuatu yang penting.

Mereka berdua berdiri berhadapan. Dengan tinggi yang hampir setara. Menatap kedua lawan dengan pandangan menusuk. Atmosfer diruangan menegang.

Luhan yang mengerti apa yang terjadi langsung menarik Kris. Dan dia sudah tahu bahwa Chanyeol ingin bertemu dengannya. Dilihat dari gestur yang dimilikinya.

Barulah ketika Kris sudah aman di kursinya ia mengajak Chanyeol ke mejanya.

Chanyeol tahu Kris masih tetap mengawasinya, tetapi ia tak peduli.

"Maukah kau memberitahuku sesuatu yang terjadi?"

Chanyeol benar-benar melakukan seperti apa yang telah Baekhyun perintahkan padanya.

.

.

.

Ini bencana.

Baekhyun baru saja mendapat telepon dari Suho oppa bahwa ada masalah serius terjadi pada Yixing. Masalahnya adalah Suho tidak memberitahu hal serius itu. Firasat Baekhyun sesuatu yang buruk sedang terjadi. Tanpa berpikir panjang, ia langsung mencabut impusan yang menempal pada tangannya. Tadi pagi, ia meminta agar tangan sebelah kanannya disanggah sehingga ia sadar bahwa lengannya tidak dapat berfungsi untuk sementara. Sehingga ia aman untuk keluar ruangan.

Rehabilitasi Yixing sama dengan rumah sakit yang Baekhyun tempati, sehingga ia tidak terlalu jauh untuk pergi.

Firasat Baekhyun semakin mengatakan benar ada sesuatu yang buru terjadi di kala ada beberapa pusat kepolisian yang berada di depan ruangan Yixing. Suho oppa tetap duduk di kursi tunggu tak jauh dari pintu. Dia murung sekali.

Ia melihat paman Ahn diantara beberapa orang-orang itu. Kris juga berada disana. Ada apa sebenarnya?

Baekhyun memutuskan untuk menghampiri Suho oppa terlebih dahulu.

"Oppa? Apa yang terjadi?"

Begitu Suho tahu Baekhyun ada disana, ia langsung berdiri dan membawa Baekhyun ke pelukannya. Baekhyun merasakan Suho menegang dan terlihat terpukul.

Baekhyun membalas pelukan Suho dengan mengelus bahu menggunakan tangan kirinya yang baik-baik saja.

"Aku tidak sanggup, Baek. Aku... Aku benar-benar merasa tidak becus menjaganya." Ia melepas pelukannya dan tangisnya pecah didepan Baekhyun.

"Apa? Apa yang sebenarnya terjadi, oppa?"

"Aku tidak sanggup mengatakannya, Baek..." Ia masih menangis dan terbata-bata.

Baekhyun menuntun Suho untuk duduk lagi. "Kusarankan Kau untuk tidak masuk kesana, Baek. Pelase."

Baekhyun tak mengerti. Jika ia tak masuk ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

"Aku harus, oppa. Aku harus melihatnya."

Suho oppa menggeleng. Membuat air matanya semakin banyak berjatuhan. Baekhyun berusaha tersenyum. Ia memeluk Suho lagi sebelum menghampiri Paman Ahn yang berada didepan ruangan. Di depan ruangan itu sudah diberi tanda garis kuning kepolisian. Ia tidak boleh gegabah. Walaupun dia berwenang untuk masuk.

"Paman Ahn?"

Paman Ahn terlonjak kaget. "Bagaimana kau ada disini Baekhyun?" Tak biasanya Paman Ahn memeluknya. Ada kesedihan yang tersembunyi pada raut wajahnya. Baekhyun tak boleh berburuk sangka. Masalah ini lebih serius daripada dugaannya.

"Aku diberitahu Suho oppa. Katanya ada masalah serius pada Yixing eonni. Bolehkah aku memeriksanya?" Begitu cepat paman Ahn melepas rangkulannya.

"Ya Tuhan... Baek.. Bolehkah aku meminta sesuatu padamu?" ia mengelus surai Baekhyun. Lagi-lagi ini adalah hal yang tidak biasanya terjadi. Baekhyun mengangguk.

"Aku akan memberitahumu apa yang sebenarnya terjadi tanpa harus kau memasuki ruangan. Maukah kau menurutiku?"

Baekhyun memandang ruangan yang tak dapat ia lihat dalamnya. Kemudian ia menggeleng.

"Tidak paman. Aku harus melihatnya. Bagaimanapun Yixing eonni sudah kuanggap seperti kakakku sendiri."

Paman Ahn menghela napas. "Kris!" Ia memanggil Kris yang sedang sibuk berbincang dengan anggota kepolisian lainnya. Kris menoleh dan menghampirinya. Baekhyun pikir, Kris telah paham.

Seperti halnya Suho oppa dan paman Ahn. Kris juga memeluknya. "Oh, Baekhyun... Aku belum sempat ke ruanganmu dan kau kesini sendiri? Bahumu belum sembuh, Baek."

Baekhyun tersenyum di rangkulan Kris. "Tidak oppa. Aku baik-baik saja."

"Apakah kau tahu apa yang sebenarnya terjadi disini?" Kris melepas rangkulannya. Dia memegang kedua bahu Baekhyun. Paman Ahn sudah tidak berada disana, entah kapan ia pergi.

"Aku tidak tahu, aku berharap kau membiarkanku masuk untuk melihatnya."

Kris menangkup wajah Baekhyun. Ia menyatukan dahi keduanya. "Tidakkah ada permintaan lain selain kau masuk?" Raut wajahnya seperti memohon. Ia bahkan berkata dengan lirih.

"Please, oppa. Sudah dari tadi aku mendengar hal yang sama supaya tidak masuk ruangan. Aku semakin penasaran. Aku berhak masuk. Aku ingin melihat apa yang terjadi."

"Baik, tetapi aku harus mendampingimu masuk. Aku tidak mau sesuatu terjadi padamu." Inilah yang Baekhyun sukai dari Kris, dia tidak dapat menolak permintaan Baekhyun.

"Apakah kau sudah menyelidikinya? Aku bahkan tidak tahu apa yang terjadi." Kris sembari menuntun Baekhyun memasuki ruangan.

Barulah ketika ia memasuki ruangan dan melihat sesuatu terjadi pada Yixing eonni, ia pasti akan menuruti perkataan ketiga orang tadi yang melarangnya untuk masuk. Selanjutnya, yang terjadi adalah wajah terkejut dari Baekhyun dan teriakan nyaring darinya. Sembari menangis dan menjerit. Kris yang tahu reaksi ini yang akan terjadi pada Baekhyun langsung merangkulnya sambil menarik mereka keluar ruangan lagi.

Kris pasrah saat tangan kiri Baekhyun mengelilingi lehernya dengan erat. Tangisnya pecah. Kalau saja Kris tidak menumpu badan Baekhyun, mungkin ia akan meleleh. Tubuhnya bahkan melemas. Maka dari itu, Kris membawanya ke kursi di dekat Suho. Suho memandangnya dengan iba. Dia pun tak bisa mengontrol mimik wajahnya yang semakin bersedih.

Krispun merasa terkejut ketika beberapa menit yang lalu ia mendapat panggilan bahwa ada sesuatu yang terjadi pada Yixing. Mereka kenal Yixing. Yixing adalah sahabat mereka. Mereka sering berkumpul sejak hal yang mengerikan itu terjadi. Hal yang mengerikan terjadi pada Xiumin. Dan, sudah sepantasnya Kris harus dapat menjaga Baekhyun. Ia pikir hanya sisa dirinya dan Luhan yang berada di sekeliling Baekhyun pada saat ini. Ia berjanji akan melindungi Baekhyun dari apapun. Termasuk dari Chanyeol yang entah telah merencanakan hal apa untuk membahayakan adik kesayangannya itu.

.

.

TBC

.

.

Huh, sejak kapan terakhir aku update ya? Muehehe.

Ada yang udah dapet pointnya dari chapter ini? Semuanya sudah jelas kan? Ada yang masih bingung?

Chapter depan bakalan banyak flashbacknya. Tentang hubungan antara Baekhyun, Xiumin, Yixing, Chanyeol, Kris, Luhan, dan Suho untuk memperjelas bagaimana mereka dahulu sebelum Xiumin meninggal?

Ada yang bisa menebak hubungan Chanyeol, Baekhyun dan Xiumin? Hehe.

Ada yang bisa menebak juga apa yang terjadi pada Yixing sampai Baekhyun menangis histeris seperti itu?

Kalau ada yang belum jelas, monggo ditanyakan dikotak review. Atau ada yang kurang dimengerti? Atau ada yang mau menebak tentang chapter depan?

Ditunggu aja yaaa *salamciuuuummm

Review juseyoo?

Sampai ketemu di chapter selanjutnya;))

.

.