Death Note
.
.
Sabaku Gaara, Haruno Sakura, Uchiha Sasuke
.
.
Story by Aomine Sakura
.
.
Masashi Kishimoto
.
.
DILARANG COPAS DALAM BENTUK APAPUN! (Jika tidak suka dengan cerita yang dibuat author atau adegan di dalamnya, silahkan klik tombol BACK) DLDR!
selamat membaca!
oOo Death Note oOo
Seorang gadis cantik menarik napas panjang ketika menatap layar laptopnya. Pekerjaanya sebagai penulis membuatnya di tuntut untuk membuat novel dengan deadline yang telah ditentukan.
"Sakura, jangan bekerja terlalu keras." Sakura mengangkat kepalanya dan melihat sebuah cangkir berisi kopi diletakan dihadapannya.
"Temari-nee." Sakura menatap seniornya.
"Ini sudah hampir jam makan siang, kamu tidak ingin istirahat dulu? Aku tau deadline menantimu, tapi pikirkanlah kesehatanmu juga."
Sakura tersenyum manis.
"Terima kasih, Temari-nee."
Temari memandang arloji di tangannya.
"Ah ya, ada yang ingin bertemu denganmu."
Sakura mengangkat satu alisnya.
"Mencariku?"
.
Sakura pikir orang yang mencarinya adalah kekasihnya. Makanya dirinya terheran-heran ketika Temari mengatakan ada seseorang yang mencarinya. Dan ketika dirinya sampai di lobby, betapa terkejutnya ia ketika melihat siapa yang mencarinya.
"Gaara-kun?"
.
.
"Kenapa negara ini damai sekali!" Seorang pria dengan seragam kepolisian menyandarkan puggungnya di sandaran kursi miliknya. "Aku seperti seorang pengangguran."
"Cih, orang yang kerjanya tidak becus. Tidak pantas berkata seperti itu."
"Apa maksudmu, Teme?!"
"Kau pasti tau maksudku, dobe."
"Kau?!"
"Oi, oi, kalian ini seperti anak kecil saja."
Kakashi Hatake muncul membawa buku kesayangannya. Sebagai seorang kapten, dirinya wajib memantau anak buahnya.
"Dia duluan, kapten!" Naruto menunjuk seorang pemuda yang sedang mendenguskan wajahnya.
"Naruto." Kakashi mendesah panjang. "Kalau Kalau kalian tidak ada kerjaan sebaiknya kalian membantu yang lain."
Sasuke bangkit dari duduknya.
"Ayo dobe."
.
Gaara tidak bisa menahan senyum hangatnya ketika melihat gadis yang ditunggunya muncul. Sakura hari ini mengenakan blus berwarna hijau cerah yang membuatnya tampak menawan hari ini. Gara bahkan tidak berkedip memandang gadis itu.
"Sakura." Gaara tersenyum.
"Gaara-kun, aku pikir siapa." Sakura tersenyum. "Sudah lama kita tidak bertemu."
"Iya." Gaara sedikit berdeham. "Mau makan siang bersamaku?"
Sakura terkejut mendengar ajakan Gaara. Namun, dia menganggukan kepalanya.
"Boleh."
.
Sakura duduk di salah satu kursi di dalam cafe. Gaara memesankan spaghetti kesukaan Sakura dan Jus strawberry.
"Kamu masih ingat makanan kesukaanku, Gaara-kun." Sakura memandang spgahetti di hadapannya.
"Tentu saja, Sakura. Aku selalu ingat tentangmu."
Sakura tertawa renyah dan bagi Gaara itu adalah senyuman yang paling menawan. Bagi Gaara, Sakura adalah malaikat yang di kirimkan Tuhan ke dunia ini. Dengan senyum ceria dan kebaikan hati yang dimiliki gadis itu, membuat siapa saja sayang padanya.
Tak terkecuali dirinya.
Dia tidak akan bisa bangkit dari semua yang dilakukan teman-temannya jika bukan karena Sakura. Gadis itu telah banyak merubah hidupnya dan membuat perubahan besar padanya. Tak terkecuali hatinya.
"Kau semakin pintar menggombal, Gaara-kun."
"Hn. Aku selalu ingin menggombal saat berada di sisimu."
Sakura kembali tertawa. Gadis itu mulai menyendokan spaghetti di piringnya.
"Aku akan makan. Ittadakimasu."
Gaara tidak bisa menahan senyumnya memandang Sakura yang makan dengan lahap. Dia selalu suka melihat wajah gadis itu. Wajah nan ayu yang selalu membantunya ketika dia terpuruk, gadis yang mengulurkan tangannya dan membawanya menuju cahaya yang terang.
Tetapi, apa daya gadis itu lebih memillih Uchiha Sasuke sebagai orang yang berhasil mengambil hatinya. Dia sempat terlibat perkelahian dengan Sasuke. Dia tidak bisa menahan rasa cemburu yang menggerogoti dadanya yang terasa sesak.
Getaran ponsel milik Sakura mengalihkan perhatian mereka. Sakura mengambil ponselnya dan mengangkat telepon yang masuk.
"Moshi-moshi, Sasuke-kun."
Gaara mengernyit tidak suka ketika Sakura menyebut nama rivalnya. Senyum bahagia langsung merekah di bibir milik Sakura.
"Aku akan memasakan makan malam untukmu, Sasuke-kun. Iya, jika kamu pulang cepat. Huh.. selalu saja ada banyak tugas. Ya sudah, aku akan menunggumu. Aku mencintaimu."
Sakura memutuskan sambungan telepon dan menghela napas panjang.
"Aku tidak paham dengan Kapten Kakashi. Tega sekali membuat Sasuke-kun harus lembur karena banyaknya tugas," keluh Sakura.
Gaara tersenyum tipis.
"Itu tugas abdi negara, Sakura. Membuat warga nyaman dan aman."
"Tapi kan, aku jadi tidak punya waktu berduaan dengan Sasuke-kun!" Sakura meneguk jus strawberrynya. "Kalau begitu antarkan aku pulang saja, Gaara-kun. Aku akan mengerjakan novelku di rumah saja."
Gaara tersenyum, dia tidak bisa menahan rasa bahagianya.
"Apapun untukmu."
.
.
"Itachi-kun!"
Pria yang di panggil Itachi itu menolehkan kepalanya dan tersenyum. Tangannya terbuka lebar dan memeluk wanitanya.
"Tema, kamu cantik sekali."
"Benarkah?" Temari tersenyum malu-malu. "Ini bukan karena kamu lama meninggalkanku di London, bukan? Aku nyaris mati karena merindukanmu!"
"Benarkah? Aku senang mendengarnya." Itachi mengecup puncak kepala kekasihnya.
"Jadi, kamu senang menemukanku mati merindukanmu?!"
"Tentu saja, itu bukti karena kamu mencintaimu."
"Kau semakin pintar menggombal, tuan Uchiha." Temari memeluk kekasihnya dengan sayang.
Itachi tersenyum dan mengecup bibir Temari dengan lembut.
"Mau ke apartemenku? Kamu bisa memasakan beberapa makanan untukku."
"Hm.. baiklah."
.
.
"Sekarang kamu tinggal di apartemen?" Gaara memandang apartemen megah di hadapannya.
"Sebenarnya, ini apartemen milik Sasuke." Sakura tersenyum malu dan turun dari mobil milik Gaara. "Yah, kamu tahu jika jarak dari rumahku ke kantor lumayan jauh. Jadi, aku memtuskan untuk tinggal bersama Sasuke-kun."
Gaara mengikuti langkah Sakura menuju salah satu pintu apartemen bernomo 2328. Dalam hati Gaara mendecih tidak suka. Bahkan nomor kamar apartemennya saja gabungan dari tanggal lahir mereka berdua. Dia kalah mencuri start.
Seharusnya, dari awal dirinya selalu mendekati Sakura dan merebut hati gadis itu. Dirinya masih terlalu polos dan baik hati dulu, sekarang dia tidak akan segan-segan lagi.
"Masuklah, Gaara-kun. Aku akan membuatkan makan malam untuk Sasuke-kun. Dia bisa ngambek jika aku tidak masak," ucap Sakura sembari tertawa. "Dia tidak pernah bisa makan jika tidak masakanku. Buatlah dirimu senyaman mungkin. Akan aku buatkan coklat hangat."
Gaara memandang sekeliling ruangan. Tatanan ruangannya tidak mencerminkan Uchiha, melainkan lebih kearah Sakura. Sepertinya Sasuke menyerahkan apartemen ini untuk Sakura.
Melangkahkan kakinya menuju salah satu kamar, Gaara memandang sekelilingnya. Memastikan Sakura tidak melihatnya masuk ke dalam kamar mereka berdua. Membuka pintu kamar dengan pelan, Gaara memandang sekeliling kamar. Tidak ada yang istimewa, hanya kamar biasa dan terlihat begitu rapi.
Gaara menuju meja nakas yang ada di sebelah tempat tidur. Jadenya memandang bingkai foto Sasuke dan Sakura yang tersenyum di salah satu taman bermain. Melihat foto itu membuat sesuatu bergejolak di dalam dadanya. Sial! Dia harus segera keluar dari sini.
Ketika akan melangkahkan kakinya keluar dari kamar. Matanya memicing memandang sesuatu yang menarik perhatiannya. Jadenya kembali memandang benda itu dengan tidak suka.
Kondom. Tentu saja. Gaara mentertawakan dirinya sendiri, menyadari kebodohannya. Jika ada sepasang anak manusia berbeda gender tinggal di bawah atap yang sama, tentu saja mereka pasti sudah pernah melakukan seks. Apalagi seks bukan hal yang tabu lagi di Jepang.
Dia segera keluar dari kamar itu dan duduk di salah satu sofa. Kepalanya mencoba melongok dan menemukan Sakura memasak sepanci sup.
"Gaara-kun, bagaimana jika kamu makan malam disini saja?" tanya Sakura kemudian membawa secangkir coklat hangat. "Aku membuat sup tahu ekstra tomat dan tempura."
"Hn." Gaara menyeruput coklat hangatnya. "Boleh."
"Baiklah. Sebentar lagi supnya matang. Tunggulah disini."
Gaara memandang Sakura yang berjalan menuju dapur. Dia sudah tidak sabar untuk bersaing dengan Uchiha itu untuk mendapatkan Sakura.
.
.
"Dobe, aku ingin pulang."
"Aku belum selesai makan, Teme!"
Sasuke bangkit dari duduknya. Dia ingin segera sampai di apartemennya dan bertemu dengan Sakura. Tetapi sahabatnya ini malah menyeretnya ke kedai ramen Teuchi dengan seenaknya.
"Aku mau pulang." Sasuke bangkit dari duduknya.
"Oi, Teme! Jangan tinggalkan aku!" Naruto meletakan mangkuk ramennya dan mengeluarkan uang dari dompetnya. "Nanti siapa yang mengantarkanku pulang?! Oi! Teme!"
.
Sasuke mengusap wajahnya sebelum membuka pintu apartemennya. Alisnya terangkat satu ketika melihat sepatu lelaki yang terasa asing baginya.
"Sasuke-kun memang sengaja memberikan apartemen ini untukku." Dirinya bisa mendengar suara Sakura. "Katanya, hitung-hitung mencicil. Jadi, ketika menikah nanti kami tidak bingung membeli rumah lagi."
Sasuke melangkahkan kakinya menuju ruang makan dan memandang tidak suka kearah pria yang duduk bersama wanitanya.
"Hn."
Sakura menolehkan kepalanya dan tersenyum memandang Sasuke.
"Sasuke-kun, Okaeri."
"Hn. Apa yang dia lakukan disini?" tanya Sasuke.
"Konbanwa, Uchiha-san." Gaara mencoba tersenyum.
"Dia tadi mengantarkanku pulang, jadi sekalian saja dia makan malam disini." Sakura tersenyum.
Sasuke duduk di sebelah Sakura dan memandang Gaara dengan pandangan sengit. Siapa yang tidak tahu dengan Sabaku Gaara? Rivalnya semasa sekolah dulu dalam mendapatkan hati Sakura. Meski Sakura tetap memilihnya.
"Aku lupa jika ada sesuatu yang harus aku urus." Gaara bangkit dari duduknya. "Aku pergi dulu, Sakura. Selamat malam, Uchiha-san."
Sasuke memandang Sakura ketika Gaara keluar dari apartemennya. Matanya menyiratkan tanda dia meminta penjelasan dari kekasihnya itu.
"Kamu sudah mendengarnya, kami tidak melakukan apapun." Sakura menjawab sebelum di tanya.
"Jadi, selama ini kamu masih berhubungan dengannya?" Sasuke memandang Sakura dengan pandangan tajam.
"Kami hanya sebatas teman, Sasuke-kun. Jangan terlalu posesif seperti itu."
"Hn. Kalau begitu aku akan menghukummu."
"Matte! Sasuke-kun! Kyaaaaaa!"
.
.
.
Gaara masuk ke dalam rumahnya dan langsung menuju kamarnya. Kakak perempuannya mengatakan jika dia ada sesuatu keperluan dan berjanji akan pulang cepat. Sedangkan kakak laki-lakinya entah kelayapan kemana.
Masuk ke dalam kamarnya, dirinya langsung merebahkan diri di ranjangnya. Tangannya merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya, mungkin dia bisa mencari sesuatu untuk dibeli.
Kemudian jadenya tertuju pada jual beli buku Death Note. Siapa yang tidak tahu dengan anime itu? Gaara begitu menyukai Light Yagami, mungkin dia bisa menambah satu koleksinya.
.
.
.
.
Kirei tersenyum ketika sebuah buku Death Note dibungkus. Dia menukar buku palsu itu dengan yang asli. Dia sudah tidak sabar untuk menanti kejadian yang menarik di dunia manusia.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Special's thank's to :
Soeun-ah-3, Arum Junnie, Ririchan, embun-adja1, Cadis E Raizel, Ita, Dyn Adr, Mizuke Forever, Sitieneng4, Nuralita as Lita-san, Jamurlumutan462
