DESTINY


Naruto hanya milik Masashi Kishimoto-san

Banyak kekurangan dalam fict ini

Enjoy This


Prev

Terlihat mobil yang melaju kencang dari kiri,Naruto yang menyadari itu segera berlari untuk menyelamatkan Hinata,karena Naruto tidak ingin melihat temannya menderita.

Naruto berlari secepat mungkin dan... BRUUUUUKKKKKKKK

Chapter : 3

Sebelum mobil tersebut menyentuh badan Hinata, Naruto berhasil menggapai tangan Hinata dan menariknya secepat mungkin.

Naruto dan Hinata jatuh ditrotoar dengan posisi Hinata menindih Naruto. Semua orang melihat kejadian tersebut dengan tatapan tegang.

Karena terlalu takut,Hinata sampai tidak mengetahui posisinya Hinata masih terpejam erat tanpa ada niat untuk menampakkan lensa indahnya. "hei,apa kau tidak apa-apa?" tanya seseorang yang sangat dekat dengan Hinata, suara tersebut memaksa Hinata untuk membuka matanya sesegera mungkin.

Saat Hinata melihat membuka matanya,ia menemukan sebuah wajah yang memandangnya datar tanpa ekspresi. Dengan cepat Hinata berdiri dari posisi sebelumnya, kejadian yang memalukan bagi Hinata karena terjadi didepan umum dan dilihat banyak orang. Sedangkan mobil tadi tidak terlihat lagi karena langsung maju tanpa mengkhawatirkan seseorang yang hampir ia celakai.

Naruto berdiri perlahan-lahan, "apa kau tidak apa-apa?" tanya Naruto lagi untuk kedua kalinya. "Apa yang kau lakukan Uzumaki?kau telah melecehkanku" ucap Hinata dengan lantangnya tanpa memperdulikan hal yang baru saja terjadi.

"eh,melecehkan?" tanya Naruto bingung, " ya,kau telah melecehkanku dengan cara menyentuhku, dan lihat apa yang sudah kau lakukan, tanganku berdarah karena ulahmu" balas Hinata sambil menunjukkan lengannya yang hanya tergores kecil.

Naruto yang menyadari itu segera membuka tasnya dan mengambil plester luka, "sinikan tanganmu" ucap Naruto sambil meraih tangan Hinata. Naruto mengambil sapu tangan yang berada disakunya dan membersihkan darah yang mengalir dari luka ditangan Hinata. Naruto segera menempelkan plester luka itu dan berjalan pergi meninggalkan Hinata.

Hinata melihat Naruto pergi meninggalkannya, Hinata menyadari bahwa kedua siku tangan Naruto mengeluarkan darah, "tak apa Hinata,lagi pula itu ulahnya sendiri" kata Hinata dalam hati membenarkan pendiriannya.

Di Apartemen Naruto

Sebuah apartemen yang mempunya dua kamar tidur, kamar mandi, dapur kecil, ruang kecil yang paling depan yang bisa disebut ruang tamu atau juga ruang bersantai dan balkon. Naruto sedang mengobati luka yang ada dikedua sikunya, Naruto meringis kesakitan saat alkohol-alkohol itu bersentuhan dengan lukanya.

"Hei ayah-ibu apa kalian bahagia disana? apa yang aku lakukan ini benar? Kenapa kalian cepat sekali pulang kerumah-Nya? Aku sekarang sudah besar, apa kalian bisa melihatku dari sana? Kuharap kalian bisa mendengarku" gumam Naruto.

"Yosh... . kau tak boleh seperti itu Naruto, kau harus menjalani hidup ini sebaik-baiknya. Jika kau terus mengeluh, ayah dan ibu tidak akan bahagia disana" ucap Naruto pada dirinya sendiri. Naruto segera mengambil jaket hitam-orangenya kemudian berjalan hendak keluar dari apartemennya. "ayah-ibu aku berangkat kerja dulu" ucap Naruto pada ruang tanpa orang diapartemennya.

Walaupun Naruto mendapatkan biaya gratis disekolahnya tapi ia juga harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Naruto bekerja disebuah toko ice cream yang cukup terkenal dikota besar tersebut, toko itu terkenal karena tempat yang nyaman dan banyak varian ice cream yang disediakan.

Naruto bekerja paruh waktu dan dibayar setiap minggunya, walaupu tak seberapa gaji yang diterima tapi ia dapat menghemat uang hasil kerjanya, bahkan ia pun menabung separuhnya. Naruto hanya menggunakan sedikit dari hasil yang didapat karena beberapa alasan :

tinggal sendirian

tinggalnya disediakan gratis oleh pemerintah

makan Naruto tidak banyak

Hal-hal itulah yang membuat Naruto dapat menghemat pengeluarannya.

Naruto dikenal baik ditempatnya bekerja, anak muda yang pintar,baik, dan murah senyum. Saat Naruto tiba dtempat bekerjanya ia disambut dengan tatapan hangat para pekerja yang ada, ditempat itu hanya ada sedikit pekerja. Hanya sebuah kepercayaan yang dapat diterima oleh pemilik toko, Naruto sangat akrab dengan pemilik toko dan juga para pekerja lain.

"selamat siang Naruto-siang Naruto –kau terlalu awal Naruto" kata demi kata terlontar dari mulut para pekerja. Naruto mau tidak mau harus menanggapi semua itu satu demi satu.

Naruto segera mengambil clemek yang tergantung rapi kemudian berjalan menuju tempat pencucian, Naruto berdiri disamping pekerja perempuan yang sedang mencuci tempat ice cream yang lumayan banyak. Naruto ikut bagian dalam acara cuci-mencuci, "eh, ini terlalu awal bagimu Naruto,ini bukan jam kerjamu" kata perempuan itu. Ya, Naruto memang datang terlalu awal dari jam pembagian kerja, Naruto selalu seperti itu-setiap hari.

"Tak apa,lagipula aku sudah terlanjur disini dan tenang saja aku tidak akan meminta bagian gajimu" balas Naruto sambil tertawa kecil.

"Hei Naruto, bagaimana sekolahmu?" tanya sang pekerja perempuan, "seperti hari-hari biasa, monoton" balas Naruto.

To be Continued..?

Yosh... Chap 3 complete

Terlalu pendek? biarkan - biar dapet banyak chapter

Sampai jumpa lagi di next chap...

Jaa Nee