DESTINY


Naruto hanya milik Masashi Kishimoto-san

Banyak kekurangan dalam fic ini

Typo dimana-mana ( mungkin )

Teima kasih buat yang udah review- maaf gak bisa jawab pertanyaan karena nanti kalau saya jawab akan jadi spoiler ( spoiler? gaya amat lu Win, review baru segitu aja spoiler) , - "jangan dengarkan differential personalities ( inner ) saya" ucap Win pada reader ...

Enjoy This


Chapter : 4

Disebuah Mall besar, tempat orang-orang kaya menghabiskan uang mereka hanya untuk membeli sebuah barang yang menurut mereka menarik untuk dimiliki. Sebuah besi yang tidak bisa berkarat atau bisa disebut emas, sebuah kain yang dirancang seindah mungkin alias pakaian.

Terlihat tiga perempuan yang sedang memilih-milih pakaian sambil berbincang-bincang, terlihat dari raut wajah mereka yang sepertinya tidak pernah mengalami apa yang namanya derita hidup. "Nee,apa ini cocok untukku? Bagaimana dengan yang ini? Apa warna terang cocok?" pertanyaan yang terus keluar seakan mulut mereka tidak mempunyai rasa jenuh.

Ya,mereka bertiga adalah gadis anak orang berada, tak terkecuali yang sudah kita ketahu sebagai idola sekolah Konoha Summer, siapa lagi kalau bukan Hyuuga Hinata, kepintarannya dalam pilah-memilah busana yang akan ia kenakan sangat diperhitungkan. Tentu dengan sebuah hal yang disebut merk pakaian, semakin terkenal merk busana tersebut semakin mahal juga harga selembar kain itu, padahal hanya sebuah kain yang digunakan untuk menutupi tubuh. Berbagai model makin banyak keluar dari tahun ke tahun, dari mulai yang lengan pakaiannya hilang satu demi satu sampai pakaian yang berukuran kecil memperlihatkan perut si pemakai. Dasar perancang busana, semakin lama semakin gila saja mereka berekpresi.

Dalam proses memilih baju tersebut, pertanyaan didominasi oleh sang Hyuuga, "hei Sakura,apa ini cocok?" tanya Hinata pada gadis bersurai pink disampingnya, "hm,aku rasa tidak,kau tidak cocok memakai yang berwarna cerah" balasnya. "Apa maksudmu aku tidak cocok memakai yang berwarna cerah?" sanggah Hinata, "oh ayolah Hinata,kita sudah membahas ini berulang kali,warna rambutmu indigo,warna matamu seperti bulan tertutup kabut, kau akan terlihat seperti kembang gula jika memakai pakaian yang berwarna cerah" jelas Sakura, sedangkan yang dijelaskan malah terkekeh kecil.

Kita Skip Acara Pemilihan Bajunya

Di sebuah kios dalam Mall, tiga gadis itu sedang menikmati hidangan yang mereka pesan beberapa menit yang lalu, "hei Hinata,apa kau tidak kasihan padanya?" tanya seorang gadis berambut kuncir kuda. "Padanya? Siapa yang kau maksud Ino?" tanya Hinata tak tahu, "si Uzumaki itu,dia sudah menolongmu tapi kau hanya mengejeknya" balas Ino menjelaskan.

"Iya Hinata,aku fikir kau sudah keterlaluan waktu itu,setidaknya ucapkan terimakasih padanya walaupun dia jauh dibawah kita" dukung Sakura atas perkataan Ino, "cih,kenapa aku harus berterimakasih padanya? Itu semua ulahnya sendiri dan dia hanya kebetulan berada disana,kalaupun bukan dia pasti juga orang lain yang akan menolongku waktu itu" ucap Hinata membenarkan pendiriannya lagi.

"Tapi yang aku lihat,orang yang ada disekitarmu tidak melakukan apa-apa dan hanya berdiam diri melihat apa yang berikutnya terjadi" balas Ino mematahkan pendirian Hinata. "Mungkin kau salah lihat,semua orang disekolah menyukaiku,mana mungkin mereka akan merelakan idola mereka akan mati dengan cara yang tidak manusiawi seperti itu" jawab Hinata lagi.

"Sepertinya kau salah dalam satu hal" ucap Ino, "salah dalam satu hal? Apa maksudmu?" tanya Hinata penasaran, "Ya, Kau salah dalam satu hal, tidak semua orang disekolah menyukaimu, ada satu orang yang tidak pernah melihatmu walaupun kau anak orang kaya atau idola sekolah sekalipun" jawab Ino membuat Hinata semakin penasaran.

"Memangnya siapa orang itu?" rasa penasaran Hinata semakin menjadi-jadi, "apa kau bersungguh-sungguh ingin tahu?" tanya Ino, "Iya, cepatlah Ino" jawab Hinata cepat, "orang itu adalah..."

.

.

.

.

... "... Uzumaki Naruto"

Toko Ice Cream

Sudah jam 8 malam, waktunya toko tersebut tutup. Semua pekerja sudah pulang kecuali Naruto yang masih mencuci piring-piring kotor bekas tempat ice cream, Naruto melakukan pekerjaan ini senng hati daripada diam dirumah tidak melakukan apa-apa.

Setelah pekerjaan Naruto selesai,Naruto segera berjalan menuju ruangan kecil yang masih menyala dalam toko tersebut, "Paman, aku masuk" ucap Naruto sambil membuka pintu ruangan tersebut. Terlihat seorang pria berumur 40 tahunan masih berkutat dengan laptopnya, "Apa paman tidak pulang?" tanya Naruto, "sebentar lagi Naruto, kau boleh pulang dahulu nanti biar aku yang mengunci tokonya" jawab orang tua itu, "baiklah, jangan malam-malam paman, ingat umurmu dan selamat malam" ucap Naruto sambil berjalan keluar dari ruangan tersebut, "Ya, hati-hati Naruto, Selamat malam" balasnya.

Naruto keluar dari toko dan menatap langit yang seharusnya bertabur bintang tapi malam ini sepertinya malam ini akan turun hujan, terlihat awan mendung yang sudah menyelimuti daerah dibawahnya, "sepertinya akan hujan, aku harus cepat-cepat" ucap Naruto lalu berjalan cepat kearaa halte bus terdekat.

Saat Naruto sampai dihalte bus ia melihat sebuah kardus yang sepertinya memang sengaja ditaruh disitu, Naruto mengabaikan kardus itu dan duduk disamping kardus sambil melihat kearah bus yang akan datang. Naruto menyadari kardus itu sedikit bergerak, Naruto memberanikan diri untuk membuka kardus tersebut dan melihat isinya.

Setelah kardus terbuka, Naruto dapat melihat isi kardus tersebut. Ya kardus itu berisi satu anak kucing yang sudah lumayan besar berwarna coklat terang (mirip kyuubi) , kucing tersebut sendirian dalam kardus. Naruto yang melihat kucing itu merasakan kalau dirinya dan kucing itu tidak jauh berbeda, dia sendirian tak punya orang tua dan kucing itu sendirian tak punya majikan ataupun induknya.

Naruto memutuskan untuk membawa kucing tersebut pulang ke apartemennya, yah daripada sepi lebih baik ada seekor kucing yang menemani.

Other Place

" ... Uzumaki Naruto"

Hinata memandang Ino tak percaya, bagaimana mungkin ada orang seperti Naruto yang tidak menyukai seseorang seperti Hinata, "apa kau bersungguh-sungguh?" tanya Hinata tak percaya, "ya, aku bersungguh-sungguh. Si Uzumaki itu tak pernah sekalipun menganggapmu ada dalam kehidupannya, kau tahu kan aku pintar dalam menilai seseorang" jawab Ino mantap.

"Kenapa kita jadi membahas anak tak berguna itu? Kalaupun aku mau, aku hanya perlu menjentikkan jariku dan dia akan menyatakan rasa sukanya padaku" ucap Hinata penuh dengan percaya diri yang tinggi, "kalau begitu buktikan Hinata, jika kau dapat membuat si Uzumaki itu kedalam pelukanmu dalam jangka waktu satu minggu, kami akan melakukan hukuman karena telah meremehkanmu, iya kan Ino?" ungkap Sakura dibarengi dengan anggukan kepala oleh Ino, "baiklah itu sangat mudah bagiku, kalau aku bisa melakukannya, kalian harus membersihkan kelas kita setiap pulang sekolah selama satu minggu" balas Hinata, " itu mudah bagi kami, tapi jika kau tidak dapat melakukannya, kau juga harus mendapatkan hukuman dari kami, Setuju?" Sakura mengulurkan tangannya untuk mendapatkan persetujuan.

Uluran tangan Sakura disambut penuh semangat oleh Hinata, "Setuju"

To Be Continued... ?


Akankah Hinata dapat menaklukkan Naruto dalam jangka waktu satu minggu?

Mungkin hanya Tuhan dan Author-lah yang tahu

Laptop saya bilang " untuk apa kau teruskan Win? lagipula yang review dikit, apa kau tak minder dengan author2 yang udah dapet ratusan review? "

"Yah, kalau reviewnya tambah jadi ratusan ya tak sia- sia usaha kita, tapi kalau masih sedikit saja ya... "

... Sayonara Minna-san"