DESTINY
Naruto hanya milik Masashi Kishimoto-san
Banyak kekurangan dalam fict ini
Typo dimana-mana ( mungkin )
Enjoy This
Opening Word New Method
Bertahun- tahun kemudian bayanganmu tak hilang. Perasaanku semakin hebat
Aku berjongkok, menggambar sendiri
Dijalan menanjak dibawah sinar mentari, Kau dan Aku berjalan
Panasnya mentari membakarku
"Jangan menggangguku! Menjauhlah" kubilang sambil melepas tanganmu
"Aku takkan meninggalkanmu" kau bilang sambil menggapai tanganku
"Kau sangat menyebalkan" kubilang sambil menjauh tanpa menoleh kebelakang
"Bagaimana perasaanmu yang sesungguhnya?"
Kalau Aku bijaksana, Aku takkan bergerak kedepan. Aku tak punya alasan jadi aku akan diam saja
Kuharap waktu berputar kembali
Tak peduli berapa tahun berlalu, aku takkan mati. Aku akan tetap menegakkan pentingnya idealisme, walaupun kau tak lagi disana
"Aku tak peduli, mati saja! mati saja!" kubilang sambil mengutuk diri sendiri
Tak bisa melakukan apa- apa, Aku menghancurkan hidupku
"Kalau musim panas bisa membuat mimpi, Aku ingin kembali disaat kau masih ada" kataku
Hari saat aku menahan rasa malu tak terlupakan
Bocah yang selalu berharap dibawah mentari akhirnya berdiri
Senyumanmu sesuai yang kuingat
"Maafkan aku telah mati" katamu
"Selamat tinggal" katamu
Jangan bilang itu, jangan mati
Siluet itu melihatku saat ini terjadi
Chapter : 5
Pagi hari di Konoha Summer High School, cuaca yang tidak bagus dapat dirasakan oleh semua orang dikota tersebut. Mungkin bawaan hujan tadi malam masih terasa sampai pagi ini, tapi suasana ini tak membuat orang- orang berhenti melakukan aktivitasnya dipagi hari.
Uzumaki Naruto, siswa teladan Konoha Summer High School, berjalan santai sambil menempelkan senyum kecil diwajahnya. Semua orang mengira orang miskin itu banyak mengalami derita hidup, tapi setelah melihat Naruto sepertinya pemikiran mereka terhapus begitu saja dengan sebuah senyum kecil dari seorang pemuda yang tak pernah dianggap disekolah tersebut.
Naruto heran dengan hari ini, tumben sekali tidak ada acara penembakan cinta pada Hyuuga Hinata, Naruto melihat kesamping kiri- kekanan juga, memang tidak ada acara yang menghantam keras perasaan laki- laki hanya dengan sebuah kalimat yang tidak lumayan panjang, *apa keluargamu lebih kaya dari keluargaku*
Saat Naruto tiba dikelasnya, ia segera menggeser pintu dan terdengarlah ocehan- ocehan tak berguna dari murid yang ada didalam, "selamat pagi" ucap Naruto pelan sambil masuk kedalam kelas. Naruto mengucapkan selamat pagi dengan lantang pun tak akan ada yang membalas, ia tahu diri dimana dia bersekolah.
Naruto berjalan pelan kearah tempat duduknya tak menghiraukan obrolan orang- orang yang ia lewati begitu saja, Saat pandangannya menatap kearah tempat duduknya, Naruto tak percaya dengan apa yang ia lihat. Seseorang menempati salah satu bengku tepat dimana Naruto biasanya duduk.
Seseorang tersebut sedang berkutat denga ponselnya sampai tak menyadari kehadiran Naruto, "Maaf ini tempat dudukku, mungkin kau bisa cari tempat duduk yang lain" ucap Naruto menghentikan kegiatan seseorang tersebut.
" Eh, apa kau tidak diajari sopan santun oleh orang tuamu? Setidaknya dipagi hari ini kau harus mengucapkan selamat pagi walaupun cuaca mendung" ucap orang tersebut. "dan kenapa aku harus menuruti kata- katamu, aku hanya ingin duduk disini apa tidak boleh?" sambung orang tersebut sambil bertanya.
"Etto, selamat pagi, terserah kau saja... Nona Hyuuga, tapi aku tetap dapat sisi dekat jendela" ucap Naruto memperbolehkan. Ternyata orang tersbut adalah Hyuuga Hinata, sang idola sekolah. Pantas saja tidak ada acara penembakan hari ini, dalam fikiran Naruto terus timbul pertanyaan yang membuat idola sekolah menjadi ingin duduk disampingnya.
"Panggi saja aku Hinata, Naruto- kun" ucap Hinata manja, makin lama fikiran Naruto teru menerus keluar pertanyaan. "apa- apaan dia, kenapa dia sok akrab? Biasanya tidak begini, apa cuaca hari ini mempengaruhi kerja otaknya? Apa lagi itu, memanggilku dengan embel- embel -kun, oh sial apa yang akan dia lakukan padaku?" otak Naruto bekerja dengan keras untuk menjawab pertanyaan itu.
Saat Naruto sedang melamun memikirkan apa yang akan Hyuuga Hinata lakukan padanya hari ini, seseorang memanggil Naruto pelan, Naruto tak menyahut. Berkali- kali suara seseorang memanggil- manggil orang bernama Naruto tapi yang punya nama tak menggubrisnya.
Sesuatu yang hangat dirasakan Naruto menempel pada dahinya, Naruto yang penasaran akan hal itu segera membuka matanya dan menemukan sebuah telapak tangan yang sedag menyentuh dahinya. Naruto yang merasa nyaman enggan melepaskan telapak tangan itu tapi Naruto juga penasaran dengan pemilik telapak tangan itu. Naruto menelusuri telapak tangan itu, turun kelengan- sampai kesiku dan Naruto mengarahkan pandangannya kearah wajah sang pemilik tangan tersebut.
Lagi- lagi Naruto dibuat terkejut oleh orang yang sama. Ya,telapak tangan tersebut milik Hyuuga Hinata sang idola sekolah, Hinata memandang Naruto tanpa ekspresi, sedangkan yang dipandang salah tingkah dan segera berdiri melepas telapak tangan Hinata. "apa yang kau lakukan Nona Hyuuga?" tanya Naruto kebingungan, "eh, apa yang aku lakukan? Aku hanya ingin tahu apakah kau demam atau tidak karena dari tadi kau kupanggil tidak menjawab Naruto-kun" jawab Hinata apa adanya.
" Eh,benarkah? Maaf dan ada urusan apa kau memanggilku?" tanya Naruto lagi, "aku hanya ingin meminjam tugas Fisika milikmu" balas Hinata. Oh Naruto baru sadar, Hinata membutuhkannya hanya pas Hinata mau meminjam tugas Naruto. "oh, kau bisa mengambilnya ditasku" ucap Naruto sambil berjalan meninggalkan Hinata, "kau mau kemana?" tanya Hinata, "toilet, apa kau mau ikut?" tanya Naruto dengan wajah tanpa dosa, sedangkan yang ditanya hanya memajukan bibirnya lalu mengambil tas Naruto yang tergeletak disampingnya.
In Toilet
Naruto membasuhkan air dingin kewajahnya, entah kenapa Naruto merasa aneh hari ini. Apa mungkin Naruto merasa nyaman berada disamping Hinata pagi ini, Naruto segera mengeleng- gelengkan kepalanya dan bergumam, "kau tahu Naruto, kau harus sadar dimana kau saat ini, kau tidak pernah dianggap disini, sadarlah" gumam Naruto pada dirinya sendiri.
In Class
Saat Hinata akan mengambil buku tugas Fisika milik Naruto, Hinata menemukan sebuah ponsel hitam milik Naruto. Ya, karena tantangan dari Sakura dan Ino, Hinata harus berjuang keras untuk mnegetahui apakah Naruto menyukai dirinya atau tidak sama sekali. Hinata segera mencatat e-mail milih Naruto sebelum sipemilik datang. Tapi sayang seribu sayang, Sakura dan Ino memergoki Hinata saat mencatat e-mail Naruto. "Wah wah, sepertinya ada yang berusaha keras untuk mendapatkan Naruto" ejek Sakura yang ada dibelakang Hinata, "ini semua agar kalian tah bahwa semua orang disekolah ini menyukaiku tak terkecuali Naruto, ingat itu" jelas Hinata. "Baik – baik, kita lihat tanggal mainnya, Ohime-san" ledek Sakura lagi dan berjalan meninggalkan Hinata.
5 Menit kemudian
Naruto kembali masuk ke kelas dan langsung berjalan kearah bangkunya, Naruto melihat Hinata yang masih menyalin tugasnya dengan tekun. Hanya memperhatikan sekilas lalu Naruto duduk dengan nyaman dikursi sambil melihat keluar jendela, tak lama setelah Naruto mendudukkan tubuhnya ia tak lagi mendengar detakkan pulpen dari arah sampingnya.
Saat Naruto menoleh kesamping, ia melihat Hinata yang sedang terdiam. Entah rasa khawatir atau apa, sesuatu mendorong Naruto untuk menegur orang disampingnya. "Hei, apa kau melamun?" tegur Naruto, yang ditanya hanya diam saja, karena Naruto merasa diabaikan oleh orang disampingnya, Naruto tak lagi memperhatikan Hinata yang sedang melamun tapi memandang keluar jendela lagi.
"Apa itu sakit?" suara dari orang disamping Naruto, Naruto yang merasa diajukan pertanyaan kemudian memalingkan wajahnya kearah sumber suara. "Eh,apa maksudmu?" tanya Naruto balik, "apa luka disiku mu itu sakit?" tanya Hinata tanpa memandang wajah Naruto, "tenang saj , aku tidak apa – apa" balas Naruto.
Entah ada bisikan stan dari mana, Hinata menyentuh luka disiku Naruto dengan telunjuk tangannya, yang lebih parah lagi Hinata bukan lagi menyentuhnya tapi menekannya. Merasakan sakit, Naruto segera menarik lengannya cepat - cepat sebelum bertambah parah lagi. "kau bilang tidak sakit, tapi kenapa baru aku sentuh kau sudah seperti itu?" ucap Hinata dengan wajah innocentnya, "eh, kau sentuh katamu? Kau menekannya tahu" elak Naruto, "eh benarkah? Kau membuatku merasa bersalah Naruto- kun" balas Hinata.
Lagi - lagi Hinata memanggil Naruto dengan embel embel –kun, Naruto merasa aneh mendengar panggilan tersebut. Yah, mau apa lagi, Naruto dipanggil monyet pun tidak ada yang merasa bersalah.
"Tenang saja, kau tak perlu merasa bersalah, lagi pula itu juga tingkahku sendiri" ucap Naruto dengan senyum kecil diwajahnya
Hinata POV
Bagus, aku mendapat perhatiannya, merasa bersalah untuk mendapat perhatian ternyata ampuh juga. Selanjutnya aku akan melakukan sesuatu yang lebih maju lagi daripada ini, semakin aku mendapat lebih perhatiannya, semakin cepat pula dia suka padaku. Kalian akan menerima akibatnya Sakura – Ino, kalian telah meremehkan Hyuuga Hinata
POV end
SkipTime... After Study in the Horror Building
Waktu pembelajaran hari ini berakhir, sebelum Naruto mengangkat tubuhnya dari bangku kesayangan, sebuah suara menghentikan aktivitasnya. "Hei Naruto –kun, apa besok kau ada waktu untuk pergi?" tanya Hinata, "hm, besok kan akhir pekan, mungkin ada" jawab Naruto, "besok kau kutunggu ditaman kota jam 3 sore, aku memaksa" ucap Hinata kemudian berjalan meninggalkan Naruto.
To Be Continued...?
Apakah akan dilanjut atau cukup sampai sini saja?
Itu tergantung kalian.. makin banyak review, makin cepat update Next Chapter
Buat para review, tanggapan gak perlu dicantumin disini gpp kan?
Kalau tanggapan saya cantumin disini nanti yang banyak bukan ceritanya tapi tanggapan untuk memperjelas akar dari permasalahannya :D
Terkecuali buat yang satu ini – Hyuugazan Makasih buat sarannya dan saya rasa saya tidak perlu mencantumkan tanggapan saya di fic ini, karena review yang masuk saya tanggapi dengan PM
Dan Makasih buat yang review tapi gak bisa dibales karena PM kalian Dissable
Chapter 6 selesai
Chapter 7 selesai
Chapter 8 penyempurnaan
Chapter 9 dan seterusnya sama seperti chapter 8
Oh iya lupa, Fic ini tidak mengandung kata – kata cinta yang terlalu Hiperbola
Kalian tahu Hiperbola? Melebih – lebihkan,
Exm: -kau tahu, aku merasa kosong apabila tak melihat wajahmu ( bullshitt )
-air mataku tak bisa berhenti saat kau mengucapkan selamat tinggal ( arrgh, bullshitt )
Yah masih banyak lagi contohnya, tapi sudah dulu ya
Oh satu lagi, mungkin untuk update next chapter akan lambat, yah kalian tahulah derita anak kelas 3 SMA tingkat akhir
Jaa Nee...
