DESTINY

Naruto hanya milik Masashi Kishimoto – san

Banyak kekurangan dalam Fic ini

Typo dimana – mana (mungkin)

Enjoy This

Bertahun- tahun kemudian bayanganmu tak hilang. Perasaanku semakin hebat

Aku berjongkok, menggambar sendiri

Dijalan menanjak dibawah sinar mentari, Kau dan Aku berjalan

Panasnya mentari membakarku

"Jangan menggangguku! Menjauhlah" kubilang sambil melepas tanganmu

"Aku takkan meninggalkanmu" kau bilang sambil menggapa tanganku

"Kau sangat menyebalkan" kubilang sambil menjauh tanpa menoleh kebelakang

"Bagaimana perasaanmu yang sesungguhnya?"

Kalau Aku bijaksana, Aku takkan bergerak kedepan. Aku tak punya alasan jadi aku akan diam saja

Kuharap waktu berputar kembali

Tak peduli berapa tahun berlalu, aku takkan mati. Aku akan tetap menegakkan pentingnya idealisme, walaupun kau tak lagi disana

"Aku tak peduli, mati saja! mati saja!" kubilang sambil mengutuk diri sendiri

Tak bisa melakukan apa- apa, Aku menghancurkan hidupku

"Kalau musim panas bisa membuat mimpi, Aku ingin kembali disaat kau masih ada" kataku

Hari saat aku menahan rasa malu tak terlupakan

Bocah yang selalu berharap dibawah mentari akhirnya berdiri

Senyumanmu sesuai yang kuingat

"Maafkan aku telah mati" katamu

"Selamat tinggal" katamu

Jangan bilang itu, jangan mati

Siluet itu melihatku saat ini terjadi

Chapter 6

Minggu siang

Disebuah apartemen kecil tapi nyaman terlihat Naruto yang sedang menonton tv dengan santainya. Tempatnya bekerja sedang ramai – ramainya dengan pelanggan tapi Naruto merasa tidak perlu datang kesana karena ini hari Minggu dan para pekerja disana bisa bekerja full seharian, jahatnya kau Naruto. Tidak, Naruto tidak jahat, hanya ingin menikmati hari libur.

Naruto sebenarnya hanya ingin menghabiskan hari ini dengan berada diapartemennya dengan santai, tapi sebuah hal membuatnya tidak bisa menikmati yang namanya hari libur. Naruto mempunyai janji, bukan bukan, lebih tepatnya sebuah ajakan yang memaksa. Hyuuga Hinata menyuruhnya datang ketaman kota jam 3 sore nanti, hal yang mengganggu menurutnya. Pergi dan menunggu hal yang berkaitan dengan perempuan, itu menyebalkan menurutnya.

Tapi ada sesuatu yang membuat Naruto datang ketempat tersebut, entah apa yang bisa membuatnya seperti itu. Saat sedang melamun, Naruto dikagetkan dengan seekor kucing yang sudah ada dipangkuannya, "hei, apa kau tidak mempunyai tempat lain untuk tidur?" ucap Naruto pada kucing itu. Betapa bodohnya Naruto, dia berbicara pada kucing yang tidak mengerti bahasa manusia. Si kucingpun hanya me – ngeong tanpa ada tanda – tanda akan beralih tempat.

"Hei ayah – ibu, aku punya teman ditempat tinggalku, apa Tuhan menemani kalian? Aku harap Tuhan menemani kalian. Apa kalian merasa sedih melihat anakmu sekarang ini? Aku sudah tumbuh besar sejak terakhir kali kalian melihatku. Ya,aku rasa di surga rasa sedih akan terhapus dengan cepat karena disana tempat yang menyenangkan. Aku harap aku bisa manyusul kalian, tapi sepertinya Shinigami – san sedang sibuk. Yah, semoga kalian bahagia" Gumam Naruto pada atap apartemen.

Lumayan lama Naruto dalam posisi seperti itu sampai kucing yang ada dipangkuannya sudah tertidur pulas. Masih beberapa jam lagi sebelum ajakan itu dilaksanakan, karena masih lama, Naruto akhirnya tertidur dalam posisi duduk.

Other Place

"Apa kau benar – benar mengajaknya jalan – jalan?" tanya Sakura, "Hm begitulah, kenapa memangnya? Kau cemburu?" Balas Hinata dengan sebuah pertanyaan. "Mana mungkin, lagipula lebih tampan Sasuku –kun daripada si Uzumaki itu, auranya yang misterius, sifatnya yang tenang dalam menghadapi masalah membuat aku kagum padanya" puja Sakura pada seseorang bernama Sasuke, "Siapa Sasuke itu? Apa dia sangat tampan sampai kau seperti itu" Hinata tidak tahu.

"Heh, bagaimana bisa kau tidak mengenalnya, dia adalah model laki – laki terpopuler tahun ini, dan yang lagi dia masih seumuran dengan kita" Sakura menjelaskan dengan gembira, "Hei Sakura, mngkin kalau sifat tenang, Sasuke – mu itu akan kalah dengan Sai" sanggah Ino ikut campur, "maksudmu Sai sipelukis muda itu, hm mungkin benar juga katamu tapi Sai itu penuh dengan ekspresi palsu" Sakura membela ucapannya, "Sudahlah, apa dikepala kalian hanya ada orang bernama Sasuke dan Sai itu?" bentak Hinata, "Pasti" dengan semangat masa muda mereka menjawab bersama – sama.

"Lalu apa rencanamu dengan mengajak Naruto jalan? Apa kau akan berniat baik atau sebaliknya?" tanya Ino, "Kita lihat saja nanti, dan kalian akan membayarnya setelah aku mendapatkannya" jawab Hinata tanpa keraguan.

"Bagaimana jika yang suka malah sebaliknya?" tanya Sakura, "apa maksudmu" Hinata tak tahu maksud dari perkataan Sakura. "Ya, Naruto tidak menyukaimu tapi kau lah yang akan menyukainya" balas Sakura, "Itu tidak mungkin, lagi pula dia bukan tipe orang yang bisa membuat jantungku berdetak cepat saat didekatnya" ucap Hinata sambil meminum minuman didepannya.

3 p.m o'clock

Naruto sudah tiba ditempat yang Hinata katakan, ternyata banyak orang ditaman kota saat sore hari, yah Naruto tidak pernah tahu karena dia tidak pernah berminat membuang waktunya hanya untuk melihat banyak kerumunan orang bersenang – senang.

Mulai dari pedagang hingga anak – anak kecil yang tertawa bahagia bersama orang tua mereka, Naruto merindukan masa – masa itu, dimana ia mempunyai dua malaikat disampingnya. Tapi sekarang itu hanya sebuah angan – angan belaka, semua itu sudah diputuskan oleh Tuhan. Jangan salahkan Tuhan karena membuat skenario hidupmu menjadi seperti ini, tapi bergembiralah karena Tuhan akan selalu memperhatikanmu.

Lamunan Naruto terhapuskan karena sebuah suara tangisan dibelakangnya, tangisan itu tidak keras tapi cukup membuat Naruto bangun dari posisinya dan memeriksanya. Saat Naruto memeriksanya ternyata tangisan itu milik seorang anak perempuan yang umurnya berkisar 5 tahun, anak perempuan itu menangis dibalik pohon dibelakang tempat duduk.

"Kenapa kau menangis Hime?" panggil Naruto dengan sebutan 'Hime' bermaksud membuat anak itu untuk tidak menangis lagi, "aku tersesat dan aku tidak tahu dimana orang tuaku" ucap anak perempuan itu dengan suara mungilnya. "Bagaimana itu bisa terjadi?" tanya Naruto lagi, "saat ibu sedang membeli sesuatu, aku disuruh menunggu, tapi seekor kupu – kupu melintas didepanku, jadi aku kejar saja dan sekarang aku tidak tahu dimana ibu" anak kecil itu masih menangis kecil, "oh, kalau begitu aku akan menemanimu menunggu ibumu mencarimu, lagi pula taman kota ini luas" Ucap Naruto.

Naruto dan anak perempuan itu menunggu ditempat Naruto tadi duduk, tempatnya duduk cukup untuk dilihat banyak orang termasuk ibu anak perempuan itu. "Hei, siapa namamu Hime?" tanya Naruto, "namaku Hana" jawab anak itu malu – malu. "Hana ya, Hana berarti bunga. Apa kau suka bunga?" tanya Naruto lagi, "hm, tidak terlau, tapi ibu mempunyai banyak bunga dirumah" balas Hana dengan senyum kecil diwajahnya.

"Apa kau mau ice cream?" tawar Naruto, "apa Onii – chan mau membelikannya untukku?" tanya Hana, "kalau aku tidak mau membelikannya untuk apa aku menawarimu" balas Naruto, Hana hanya terkekeh kecil. "hm, aku mau rasa coklat, boleh?" Hana memastikan, "tentu" jawab Naruto lalu berdiri dan berjalan ke arah penjual ice cream, "ingat tunggu disini, dan kalau ada kupu – kupu melintas jangan dikejar" ucap Naruto pada Hana, "baik" jawab Hana.

Tak butuh waktu lama untuk Naruto membeli ice cream, Naruto kembali dengan dua buah ice cream dikedua tangannya, Hana masih duduk manis ditempat, Naruto tersenyum kecil memandang Hana, serasa mempunyai adik perempuan. "Bagus kau tidak kemana – mana Hime, kalau kau pergi, aku harus mencarimu" ucap Naruto lalu menyerahkan ice cream ditangannya, "Eh, apa kalau aku nanti pergi dengan ibuku, Onii – chan akan mencariku?" tanya Hana sambil menikmati ice creamnya, "tentu tidak karena sudah ada yang menjagamu" balas Naruto juga sambil menikmati ice creamnya.

Hana menikmati ice creamnya dengan belepotan, ada yang dihidung dan pinggir bibir, "hei lihat mukamu, kau tampak lucu seperti itu" ucap Naruto lalu mengeluarkan ponselnya. *cekrek, satu foto terambil dan Naruto emnunjukkannya pada sipemilik foto, "lihat ini" ucap Naruto, "wah ternyata aku benar – benar lucu" ucap Hana, Naruto tertawa kecil mendengar pendapat Hana tentang kelucuannya. Naruto mengeluarkan sapu tangannya dan membersihkan ice cream diwajah Hana.

"yup, kau sudah tidak lucu sekarang" ucap Naruto, "tapi terlihat cantik sekarang" sambung Naruto. Seorang wanita paruh baya menghampiri Hana dan Naruto, "Hana, kemana saja kau? Ibu kesulitan mencarimu" ucap wanita itu, "Eh Ibu, aku menunggumu disini dan Onii – chan ini menemaniku" ucap Hana sambil menunjuk Naruto, "Terima kasih sudah mau manjaga Hana, maaf kalau dia merepotkanmu" ucap wanita itu pada Naruto.

"Tidak, dia tidak merepotkan kok Bibi" ucap Naruto sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Hana dan ibunya pergi pulang meninggalkan Naruto, Hana melambaikan tangan kearah Naruto danNaruto membalasnya, "Onii – chan, terima kasih" teriak Hana.

4 p.m o'clock

Yang mengajak belum datang, padahal dia mengajaknya jam 3 tapi sampai sekarang dia belum juga datang, entah megapa Naruto belum putus asa dalam menunggu Hinata, padahal Naruto sudah tahu kalau Hinata hanya akan mempermainkannya, Naruto tunggu sampai jam 5 kalau sampai Hinata belum datang, Naruto memilih untuk pulang.

Other Place

"Hei Hinata ini sudah jam 4, apa kau tidak salah memberitahu waktunya?" tanya Sakura, "tidak Sakura, aku memang menyuruhnya datang jam 3" jawab Hinata, "lalu kenapa kau belum menemuinya?" Sakura penasaran, "dari buku yang aku baca, jika orang itu menyukaimu maka ia rela menunggu berjam – jam sampai kau menemuinya" jawab Hinata santai, "aku akan menemuinya 30 menit lagi" sambung Hinata.

"Dia masih disana Hinata" ucap Ino, Hinata memandang keluar jendela dan menemukan Naruto sedang duduk santai disana. Cafe tempat Hinata, Sakura , Ino memang dekat denga taman kota, "dan apa kau lihat apa yang Naruto lakukan denga anak perempuan tadi, benar – benar seorang yang baik Naruto itu" puja Sakura. Hinata yang mendengar itu merasa tidak senang, entah kenapa Hinata tidak senang mendengar Naruto dipuja oleh orang lain. "apa kau akan beralih hati sakura?" tanya Hinata ketus, "tidak, aku hanya membayangkan kalau Sasuke – kun juga seperti Naruto, kalau iya maka dia akan menjadi laki – laki paling sempurna dihidupku" Sakura membayangkan, "terserahlah" balas Hinata datar.

4.30 p.m o'clock

Siluet Hinata tampak dari kejauhan, Naruto melihat Hinata yang datang dengan terburu – buru, Yah itu hanya akal bulusnya, dasar orang kaya semaunya sendiri. Naruto merasa senang dalam hati karena yang ditunggu sudah datang tapi Naruto tak menampakkan ekspresi senang, hanya ekspresi datar dan acuh.

Saat tiba didepan Naruto, Hinata mengambil udara sebanyak – banyaknya, "Maafkan aku Naruto – kun, maaf aku terlambat, ini semua karena Ino dan Sakura yang mengajakku tiba – tiba, apa kau sudah menunggu lama disini?" ucap Hinata. "Tidak juga, dan kau tahu menyalahkan orang lain hanya akan memperburuk keadaan" Naruto berkata datar, "Aku kan sudah bilang minta maaf" elak Hinata, "yah terserah kau lah dan ada apa kau menyuruhku datang kesini?" tanya Naruto.

"Heh, kita akan kencan" ucap Hinata dengan wajah tanpa dosanya, "kencan ya? Aku tidak tertarik" balas Naruto, "apa kau akan membuang pengorbanan waktuku agar aku bisa jalan kencan denganmu?" Hinata measang ekspresi sedih, "ya sudah, karena sudah terlanjur disini, kemana kita akan pergi?" Naruto bertanya pada Hinata, Hinata menyeringai dan menjawab "kesuatu tempat".

"Ke suatu tempat? Tunggu dulu apa ditempat itu kau sudah menyewa para pembunuh dan kau akan meninggalkanku disana sementara kau bahagia karena telah menyingkirkanku?" fikiran Naruto sudah kemana – kemana, "tentu, kau akan dimutilasi disana" ucap Hinata, "Bercanda Naruto – kun, mana mungkin aku membunuhmu" sambung Hinata

Mereka berjalan berdampingan menuju tempat yang dimaksud Hinata, cukup jauh dari taman kota. Dan disinilah mereka, berdiri didepan sebuah gedung besar. Naruto tidak asing dengan gedung seperti ini, saat Naruto mengarahkan pandangannya pada sebuah layar yang menempel didinding gedung tersebut ia membaca kata demi kata.

"Gedung pertunjukkan kesenian... " bersamaan dengan Naruto membaca tulisan tersebut, Hinata menyeringai kejam,"... Kabuki" seketika ekspresi Naruto menjadi suram, "a .. apa .. tidak ada hal lain yang sebaiknya kita kunjungi?" Naruto berkata gugup, "tidak Naruto – kun, sebentar lagi akan mulai, ayo kita masuk. Naruto memberontak tapi cengkraman tangan Hinata pada tangan Naruto sangat kuat, " kumohon, jangan INIIIIIIIIIIIIIII" .

To Be Continued...?

Hanya kalian yang menentukan lanjut atau tidak

Buat para review terima kasih banyak, ini khusus untuk Hyuugazan : PM Personal Message

Buat yang lain Arigato Gozaimasu

Next Chapter update awal liburan akhir semester, Janji

Jaa Nee