DESTINY
Naruto hanya milik Masashi Kishimoto – san
Typo dimana – mana ( mungkin )
Enjoy This
Opening Word : New Method
CS- Yukei Yesterday
Aku marah pada orang – orang yang bermain gembira
Saat mereka berjemur disinar matahari yang hangat
Dan menyikutku dikerumunan dipagi setelah aku melepaskan piyama
Diantara orang – orang yang menghindari tatapan marahku aku mendengar
"Selamat Pagi"
Dan disanalah dia sedang meregangkan tubuh dan tampak kusut
Aku tak tertarik pada dongeng romantis
Dimana kau saling memandang
Dan sadar kau sedang jatuh cinta
Tapi ada apa denganku?
Aku tak bisa menatap wajahmu
"Itu tidak ada hubungannya dengan ini"
Astaga, ini membuatku gila!
Aku memelototi matahari yang kutemukan ini
Dan bahkan aku menepuk hatiku yang berdebar
Emosi yang tak bisa kukendalikan ini membuatku takut!
Ada apa denganku? Ini perasaan yang paling aneh
Sikapku tertulis jelas diwajahku
Aku tertekan karena beberapa alasan dan aku tak bisa bersuara
"Aku sama sekali tak mengerti situasi ini"
Aku sangat kesal
Aku memang idiot!
Tuhan, Tolong aku!
Chapter : 7
Naruto dan Hinata mengunjungi Gedung pertunjukkan kesenian Kabuki, Kabuki adalah salah satu seni tradisional yang sangat terkenal, Kauki merupakan drama tari yang aneh dan inkonvensional. Salah satu hal yang paling mencolok dari seni Kanuki adalah tata rias ata make up yang dipakai, karakter atau sifat pemain Kabuki digambarkan dengan make up yang terlukis jelas diwaja pemain Kabuki.
Daya tarik dari seni Kabuki adalah pemain perempuannya yang disebut onnagata,walaupun begitu onnagata dimainkan oleh seorang pria. Make up yang mencolok, tata panggung yang megah, alunan musik yang mengalun, Naruto takut dengan seni ini. Kalau tata panggung dan alunan musik ia tidak terlalu takut, hanya make up para pemain yang membuat Naruto bergidik ngeri.
"Ayolah Naruto – kun, lagi pula ini seni yang sangat bagus, penulis naskahnya saja Chikamatsu Monzaemon Tsuruyu Nanboku, dia penulis naskah terkenal seni ini, jangan seperti bayi" ucap Hinata sambil berjalan menarik Naruto, "aku tidak peduli, aku mau pulang saja, onegaisimasu" pinta Naruto. "Jadi kau menyia – nyiakkan kesempatan untuk aku bisa dekat denganmu?" Hinata berhenti dan memasang raut wajah menyesal, entah kenapa Naruto merasa bersalah karena menolak, "ahh, kau ini, baiklah tapi hanya satu kali ini saja" ucap Naruto, "dan jangan pasang ekspresi seperti itu" sambungnya.
Hinata kembali memasang ekspresi senang sedangkan Naruto berusaha agar tidak kencing dicelana saat pertunjukkan berlangsung. Hinata langsung menggandeng tangan Naruto lalu berjalan memasuki gedung, gedung teaer Kabuki – za Tokyo ,gedung yang sangat luas ruangannya yang dapat menampung ratusan orang. Sial bagi Naruto, ia dapat tempat duduk yang sangat dekat dengan panggungnya. Jantung Naruto berdetak semakin kencang ketika lampu mulai meredup, Naruto menoleh kesamping dan menemukan Hinata tengah menantikan pertunjukkan yang akan segera dimulai.
Skip For Your Goodness
Naruto keluar dengan wajah pucat dan keringat dingin, Hinata tertawa dalam hati melihat Naruto seperti ini. "Hei Naruto – kun, kenapa tanganmu dingin, ah aku tahu, ayo kita cari restaurant dekat sini" ucap Hinata sambil menarik Naruto, Naruto hanya pasrah dilakukan seperti anjing penjaga. Tak perlu lama berjalan, mereka berdua sudah menemukan restaurant cepat saji. Mereka segera masuk dan mencari tempat duduk, "ah, sayang sekali Naruto – kun, kita tidak dapat tempat duduk" ucap Hinata dengan suara yang dibuat buat sedih, "hah, sepertinya kau harus memeriksakan matamu, apa kau tidak lihat ada yang tersisa disana?" ucap Naruto sambil menunjuk bangku yang berada dipojok ruangan.
Mereka berdua segera menuju kebangku tersebut, saat mereka baru duduk, seorang pelayan datang menghampiri mereka dan memberikan menu hidangan. "Baiklah, aku pilih ini, ini, ini, dan ini" pesan Hinata menunjuk banyak menu, Naruto hanya bisa memandang ngeri perempuan didepannya, badannya saj kecil tapi ternyata, "dan anda tuan?" tanya sang pelayan pada Naruto, "eh, aku... hm .. " Naruto bingung mau memesan apa, "dia sama denganku" potong Hinata, "baiklah, pesanan anda akan datang sebentar lagi, saya permisi dulu" ucap sang pelayan.
Naruto dan Hinata hanya diam sambil menunggu pesanan mereka datang, tapi semua itu tak bertahan lama saat Hinata memulai pembicaraan, "Oh iya Naruto - kun, apa kau menyukai pertunjukkan tadi?" tanya Hinata memecah keheningan diantara mereka berdua, "tidak terlalu" jawab Naruto singkat, "padahal aku suka, apa lagi saat sang pangeran menyelamatkan sang putri dengan kebaikan hatinya" ucap Hinata, "dan semoga aku menemukan seseorang didunia ini yang mempunyai kebaikan hati dari yang lain" sambung Hinata. "Jangan terlalu berharap, kau tidak akan menemukan orang sebaik itu didunia ini" timpal Naruto, "hm, tidak aku sudah menemukannya Naruto – kun" balas Hinata, Naruto yang dari tadi tidak mengarahkan pandangannya kearah Hinata mulai menggeser pandangannya pada orang didepannya, dan Naruto mendapatkan Hinata yang tengah memandangnya, "aku sudah menemukannya, Naruto – kun" ucap Hinata lagi tanpa mengalihkan pandangannya dari Naruto. Naruto mulai merasa tak enak badan seketika, jantung memompa darah terlalu cepat, otak jeniusnya tak lagi berfungsi seperti biasanya, "ada apa denganmu bodoh" ucap Naruto dalam hati.
Saat pesanan tiba, Naruto masih melamun memikirkan hal yang baru saja terjadi, "Naruto – kun, kenapa kau melamun? Makanannya sudah datang" ucap Hinata sambil mengibsa – ngibaskan tangannya didepan wajah Naruto, "Eh, maaf, sepertinya aku terlalu memikirkan hal yang tidak penting, jadi melamun" ucap Naruto sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, "Hoo, apa yang kau fikirkan?" tanya Hinata penasaran, "sudahlah, nanti makanannya keburu dingin, selamat makan" ucap Naruto sedangkan Hinata hanya menggembungkan pipinya.
Selesai dari acara makan, Naruto masih harus menemani Hinata menunggu jemputan pribadinya, "maaf merepotkanmu, Naruto – kun" ucap Hinata, "heh, santai saja, lagi pula tak baik membiarkan seorang perempuan sendirian dimalam hari" balas Naruto. "Hei Naruto – kun, apa kau mempunyai orang yang berharga dalam hidupmu?" Hinata mulai bertanya, "orang yang berharga? Tentu aku punya" jawab Naruto apa adanya, "apa aku boleh siapa itu?" Hinata mulai menggali informasi, "tentu boleh, orang yang berharga dalam hidupku adalah orang tuaku" Naruto tersenyum kecil. "Bukan itu yang aku maksud" Hinata berbicara, "eh, lalu yang mana yang kau maksud?" Naruto tak tahu, "apa ada orang lain yang berharga dalam hidupmu selain orang tuamu?" Hinata menjelaskan maksudnya, "hmm, ya ada, mereka yang menganggapku ada, kalaupun ada itu sangat menyenangkan rasanya" jelas Naruto sambil tersenyum kecut.
Mobil jemputan Hinata sudah tiba, sang supir keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Hinata, sang sopir sempat melirik Naruto sekilas. Kaca mobil turun dan Hinata mengucapkan "selamat malam, hati – hati dijalan", sedangkan Naruto hanya membalas dengan anggukan kecil. Sebelum kaca mobil itu tertutup sepenuhnya, Naruto memanggil Hinata dan mengucapkan hal yang jarang ia ucapkan untuk orang yang tidak terlalu dekat dengannya, "Terima kasih" ucap Naruto singkat.
Didalam Mobil
"Apa itu tadi teman anda,Nona Hinata?" tanya sang supir, "yah, bisa dibilang begitu, memangnya ada apa?" jawab Hinata sekenanya, "Tidak, hanya saja aku seperti pernah melihatnya, tapi kelihatan berbeda juga" balas sang supir, "mungkin hanya perasaanmu saja" ucap Hinata cuek, "Tidak Nona, saya yakin kalau saya pernah melihatnya entah kapan, saya lupa" elak sang supir, "terserah kau saja lah".
Naruto berjalan pelan untuk pulang, toko mainan – toko pakaian –toko hewan , toko – toko itu delewati Naruto sampai sesuatu mengingatkannya untuk datang ke toko terakhir, toko hewan. Naruto masuk toko tersebut, "klinting" lonceng bersenggolan dengan pintu menandakan ada pelanggan yang datang.
Naruto sedikit heran, hewan disini tidak seperti Naruto bayangkan, biasanya toko hewan akan mengurung hewan hewan yang dijualnya, tapi sepertinya disini tidak. Hewan – hewan tersebut dibiarkan berkeliaran, anjing – kucing ,berkeliaran diruangan, "sepertinya disini tidak menjual reptil" fikir Naruto.
"Selamat datang, ada yang bisa saya bantu?" sapa pelayan, "ah, apa disini juga menjual makanan kucing?" tanya Naruto, "Ya, saya menjualnya" balas sang pelayan, "baiklah, aku mau beli makanan untuk kucing, bisa?" tanya Naruto lagi, "Tentu, berapa banyak?" tanya pelayan, "aku beli dua" balas Naruto sambil memperhatikan kucing yang berkeliaran.
"Maaf nona, apa kucing dan anjing disini tidak berkelahi seperti di televisi – televisi itu?" tanya Naruto, "hmm, aku rasa tidak, mereka sudah berada disini sejak kecil, jadi mungkin mereka mengira bahwa mereka satu keluarga" jawab sang pelayan sambil menyerahkan pesanan Naruto.
In Apartement
Naruto disambut dengan suara aneh didepannya, itu kucingnya, "hei, kenapa dengan suaramu? Ah aku tahu kau pasti lapar, ayo kita makan" ucap Naruto semangat.
To be continued..?
Mungkin fic ini akan saya biarkan menggantung
Udah chapter 6 tapi review tembus 70 aja belum
Target sih minimal setiap chapter itu 15 review
Ya itu terserah reader juga sih mau lanjut atau tidak, buat silent rider jabgan malu – malu buat ninggalin jejak kalian dific busuk ini
Sayonara minna – san , Ayo Shinigami – san waktunya kita pulang
