DESTINY


Naruto hanya milik Masashi Kishimoto – san

Typo dimana – mana ( mungkin )

Enjoy This

Opening Word : New Method

CS- Yukei Yesterday

Aku marah pada orang – orang yang bermain gembira

Saat mereka berjemur disinar matahari yang hangat

Dan menyikutku dikerumunan dipagi setelah aku melepaskan piyama

Diantara orang – orang yang menghindari tatapan marahku aku mendengar

"Selamat Pagi"
Dan disanalah dia sedang meregangkan tubuh dan tampak kusut

Aku tak tertarik pada dongeng romantis

Dimana kau saling memandang

Dan sadar kau sedang jatuh cinta

Tapi ada apa denganku?

Aku tak bisa menatap wajahmu

"Itu tidak ada hubungannya dengan ini"
Astaga, ini membuatku gila!

Aku memelototi matahari yang kutemukan ini

Dan bahkan aku menepuk hatiku yang berdebar

Emosi yang tak bisa kukendalikan ini membuatku takut!

Ada apa denganku? Ini perasaan yang paling aneh

Sikapku tertulis jelas diwajahku

Aku tertekan karena beberapa alasan dan aku tak bisa bersuara

"Aku sama sekali tak mengerti situasi ini"

Aku sangat kesal

Aku memang idiot!

Tuhan, Tolong aku!

Chapter : 8

Konoha Summer High School pagi hari, burung berkicau dengan merdunya, sinar mentari dengan hangat membawa hal baru dihari ini, gemuruh percakapan para murid yang saling menyaut, "Huaah, hari yang sangat bagus untuk senam pagi, ayo kawan-kawan kobarkan semangat masa muda kalian! " teriakan penuh semangan dari orang berambut mangkok terbalik, sang manusia tanpa kenal rasa lelah- Rock Lee. "Ayo minna–san, jam masuk kelas masih lumayan lama, jangan kalian sia–siakan semangat pagi hari kalian hanya untuk mendengar gosip murahan" teriak Lee penuh semangat sambil mengacungkan jempolnya yang berkilau.

Semua mata yang mendengar hal tersebut langsung memandang sinis Lee, tatapan membunuh dari para wanita yang ada disana, tak luput pula laki-laki yang merasa tersindir kareana ia juga ikut dalam perbincangan para wanita. Para wanita mulai berjalan pelan mendekati Lee dengan aura membunuh, "yosh, strategiku berhasil"ucap Lee dalam hati, "baiklah,semangat masa muda kalian memang hanya digunakan untuk menggosip, ayo kita berolahraga" teriak Lee lagi penuh semangat, "kalian juga, kalian ini laki-laki tapi ternyata kalianlah biang gosip dikelas ini" ejek Lee sambil menunjuk segerombolan laki-laki. "Apa kau bilang?" teriak laki-laki bertato segitiga terbalik dikedua pipinya A.K.A Inuzuka Kiba.

"Ya, kau Inuzuka-san, kaulah penguntit disini" ejek Lee lagi, "assh, urusai kejar dia!" teriak Kiba kesal, Lee berlari penuh semangat keluar kelas, tak hanya Kiba yang mengejar tapi juga perempuan yang memandang sinis Lee tadi juga ikut mengejar. "Terima kasih Kami-sama, Kau berikan semangat yang luar biasa dipagi hari ini" ucap Lee gembira. Lee membawa korban kata-katanya mengelilingi sekolah yang sangat besar itu. Uzumaki Naruto memandang lucu orang-orang yang berlarian itu, "aku kagum dengan semangat mereka" gumam Naruto pelan, "eh, apa kau mengatakan sesuatu Naruto-kun" kegiatan Hinata yang tadi sibuk bermain ponselnya sekarang berhenti karena gumaman Naruto. "Tidak, aku hanya kagum dengan energi yang mereka punya" balas Naruto sambil bertumpang dagu, "hmm, maksudmu murid-murid kelas 2-A itu" tanya Hinata, "kalau bukan mereka siapa lagi, mereka tidak sadar telah terkena tipu daya orang yang mereka kejar" balas Naruto malas.

"Tipu daya? Tipu daya seperti apa?" Hinata tak faham, "kau lihat murid yang memakai jaket hijau itu?" tunjuk Naruto, "Ya, ada apa dengannya?" Pandangan Hinata terfokus pada Lee, "dia mempunyai semangat masa muda yang melebihi batas orang normal, dan yang lebih bagus lagi dia akan melibatkan orang-orang disekitarnya untuk mengekspresikan hal yang mencolok itu, dia adalah murid kesayangan Guru Guy" Jelas Naruto panjang. "Guru Guy? Maksudmu guru kelas 3 yang selalu berpenampilan mencolok itu" Hinata memastikan, "ya, mereka bertetangga" balas Naruto.

First Class-Skip Time

Jam stirahat pun datang, murid-murid berhamburan keluar menuju cafetaria, Naruto ikut dalam kegiatan itu tapibukan cafetaria yang ia tuju melainkan atap sekolah, tempat nyaman untuk menyendiri. "Sakura-Ino, ayo ke cafetaria, aku lapar" ajak Hinata pada kedua sahabatnya, "hmm, kau terlambat untuk mengajak kami ke cafetaria, mungkin sekarang sudah penuh dan lagi pula aku diberi bekal oleh ibuku, tumben ia ada dirumah" ucap Sakura, "yah, padahal aku sangat lapar" sesal Hinata, "ah, bekal ku lebih dari cukup untuk dimakan 3 orang, bagaimana kalau aku berbagi dengan kalian" tawar Sakura.

Mereka bertiga segera mencari tempat untuk menghabiskan bekal, "Taman sekolah?" tanya Sakura, "tidak, disana akan benyak orang yang mendekati Hinata" balas Ino, "kalau dikelas tadi kita bisa dengan tenang, tapi apa yang akan anak-anak yang ada dikelas lakukan?" Ino kebingungan, "mungkin mereka akan menertawakan kita atau malahan mereka akan minta bekal milik Sakura" jawab Hinata. "Ah, atap sekolah adalah tempat sepi yang tidak pernah dikunjungi orang" ucap Sakura.

Tiga perempuan itu sudah berada diatap sekolah, segeralah mereka duduk disisi yang teduh karena mereka tidak mungkin duduk ditempat panas. Sakurapun membuka bekalnya dan nampaklah makanan khas Jepang, "eh, apa semua ini ibumu yang membuatnya?" tanya Ino memastikan, "begitulah, tumben sekali dia ada dirumah hari ini, aku pun juga terkejut karenapagi-pagi dia sudah ada dimeja makan" jelas Sakura, "bicara apa kalian, jangan sia-siakan makanan yang menggiurkan ini" potong Hinata, "selamat makan" ucap mereka bertiga serentak.

Malang bagi Hinata, karena makan terlalu cepat iapun tersedak karena tingkahnya sendiri, dan lebih malang lagi Sakura lepa membawa air minumnya. Hinata memukul-mukul keci dadanya agar makanan itu segera meluncur ke usus, tapi tak ada perubahan, Sakura dan Ino panik akan hal yang menimpa Hinata.

Sebotol air mineral meluncur pelan kearah Hinata, entah dari mana benda itu datang, Hinata segera menyabetnya dan menenggelamkan mulut botol itu kedalam bibir kecilnya. "hah, leganya" ucap Hinata lega, rasa penasaran Hinata muncul akan dari mana datangnya benda itu, ia menengokkan kepalanya kesamping kanan dan nampaklah seonggok kepala yang menghadap kearahnya, pandangan mata dari kepala itu datar tanpa ekspresi.

Sakura dan Ino juga penasaran kenapa dia ada disini, "Uzumaki... ?" ucap Ino, "apa kau mengikuti kami Uzumaki?" tuduh Ino, Naruto hanya memperlihatkan kepalanya dari balik dinding, "mengikuti kalian? Apa untungnya aku mengikuti kalian?" tanya Naruto balik, "Yah, siapa tahu kau ingin mengawasi Hinata-mu ini" jawab Ino tanpa fikir panjang, "apa maksudmu Ino?" Hinata mengarahkan tatapan membunuh pada Ino, Ino hanya bergidik ngeri akan sahabatnya ini, "Ino, kalau Uzumaki itu mengikuti kita, kita pasti sudah tahu karena pintu masuk kesini hanya ada satu dan itupun ada disamping kiri kita, baka" Sakura membenarkan, "eh, si... siapa tahu dia memanjat dinding sekolah agar sampai ditempat ini" elak Ino lagi, "itu terlalu mainstream Yamanaka-san" potong Naruto dengan nada bicara datar, "hm" Hinata mengangguk setuju akan perkataan Naruto.

Ino dan Sakura saling bertatapan kemudian mengarahkan pandangan penuh selidik kearah Hinata, "Apa?" tanya Hinata sinis, "tidak, kami hanya penasaran" ucap Ino sambil menaikkan satu berdiri kemudian berjalan menuju pintu, "mau kemana kau Uzumaki?" tanya Ino, "mencari tempat lain yang tepat untuk menyendiri" balas Naruto, "kalau begitu pergilah ke kuburan, disan tiddak ada orang yang akan mengganggumu kecuali arwah gentayangan" Ino menyarankan, "ya, akan aku lakukan" Naruto berkata pelan lalu berjalan meninggalkan trio perempuan itu.

Setelah memastikan Naruto sudah pergi, Ino dan Sakura mulai mengintrogasi Hinata yang masih memakan bekal Sakura, "sudahlah Hinata, nanti kau gendut" Ino memperingatkan, "tidak mungkin" balas Hinata cepat, "terserahlah, bagaimana? Kau sudah tahu apakah dia menyukaimu atau tidak" Ino mulai dengan pertanyaan pertamany. Mendengar pertanyaan itu Hinata menghentikan kegiatannya kemudian memandang kearah Ino, "hmm... Aku tak tahu, tapi dari buku yang aku baca jika seorang laki-laki rela menunggumu berjam-jam maka dia menyukaimu" balas Hinata, "kau sudah menceritakannya kemarin" ucap Sakura, "lalu bagaimana dengan acara kencan kemarin?" tanya Ino lagi, "sepertinya itu lebih pantas disebut dengan acara penyiksaan, soalnya kemarin wajahnya pucat pasi layaknya orang mati" jawab Hinata.

"Pucat pasi layaknya orang mati? Itu mirip orang yang kau dambakan Ino" ucap Sakura, "eh, maksudmu Sai? Ya dia tetap tampan walaupun seperti mayat hidup, aku harap aku bisa bertemu dengannya walaupun hanya satu kali" Ino membayangkan, "itu hanya ada dalam mimpimu" potong Sakura, "dan Naruto menjadi diam seribu bahasa saat melihat pertunjukkan itu" Hinata menceritakan kejadian semalam. "Diam seribu bahasa? Itu mirip dengan orang yang kau dambakan Sakura" ucap Ino mengulangi perkataan Sakura, "walaupun Naruto diam seribu bahasa tapi dia tidak akan bisa mengalahkan kerennya Sasuke, andai aku bisa menjabat tangan Sasuke" Sakura mulai membayangkan, "itu hanya ada dalam mimpimu" Ino menirukan perkataan Sakura.

"Lalu apa lag yang kau lakukan?" tanya Ino lagi, "saat makan malam aku mengatakan bahwa aku menemukan pangeran seperti dalam cerita dan pangeran itu adalah Naruto, Ia gugup mendengar perkataanku, aku ingin tertawa kalau mengingatnya" ucap Hinata sambil tertawa, Ino dan Sakura pun Ikut tertawa. "Ingat Hinata, ini sudah 4 hari dan kami menunggu jawabanmu" ucap Ino.

To Be Continued


Yo... maaf chap sebelumnya... kalimat itu hanya sebuah jebakan agar para silent rider juga ikut campu tangan dan menghargai fic orang lain. Dan kalian tahu hasilnya,... banyak para review yang belum pernah saya lihat pen-namenya meninggalkan review mereka

Kalau dalam bisnis, cara ini dapat dinamakan dengan manajemen penjualan,

Kalian mudah tertipu hanya dengan kalimat,

Oh iya, bagi para review yang belum tahu... kenapa saya tidak membalas review kalian dengan mencantumkannya didalam fic? Karena saya sudah membalas review kalian lewat PM, kecuali yang Pmnya kalian disable

So, bagi yang review.. "hargailah para review dengan membalas review mereka dengan mencantumkan nya di fic" maaf, tapi kalian salah... kalau saya mencantumkan balasan review maka fic ini akan terkontaminasi akan adanya balasan review, banyak word tapi isinya Cuma balasan review bukan ceritanya

lagi- ada yang review "karena gayamu minta review seperti pengemis" ya saya memang pengemis, reader ingin cerita, saya ingin review, adil kan- jadi jangan banyak bicara kalau kau konglomerat tapi korupsi

Sepertinya hanya itu yang perlu saya sampaikan... Jaa Nee in Next Chapter