DESTINY

Naruto hanya milik Masashi Kishimoto-san

Banyak kekurangan dalam fict ini

Typo dimana-mana ( mungkin )

Enjoy This

Opening Word New Method

Bertahun- tahun kemudian bayanganmu tak hilang. Perasaanku semakin hebat

Aku berjongkok, menggambar sendiri

Dijalan menanjak dibawah sinar mentari, Kau dan Aku berjalan

Panasnya mentari membakarku

"Jangan menggangguku! Menjauhlah" kubilang sambil melepas tanganmu

"Aku takkan meninggalkanmu" kau bilang sambil menggapa tanganku

"Kau sangat menyebalkan" kubilang sambil menjauh tanpa menoleh kebelakang

"Bagaimana perasaanmu yang sesungguhnya?"

Kalau Aku bijaksana, Aku takkan bergerak kedepan. Aku tak punya alasan jadi aku akan diam saja

Kuharap waktu berputar kembali

Tak peduli berapa tahun berlalu, aku takkan mati. Aku akan tetap menegakkan pentingnya idealisme, walaupun kau tak lagi disana

"Aku tak peduli, mati saja! mati saja!" kubilang sambil mengutuk diri sendiri

Tak bisa melakukan apa- apa, Aku menghancurkan hidupku

"Kalau musim panas bisa membuat mimpi, Aku ingin kembali disaat kau masih ada" kataku

Hari saat aku menahan rasa malu tak terlupakan

Bocah yang selalu berharap dibawah mentari akhirnya berdiri

Senyumanmu sesuai yang kuingat

"Maafkan aku telah mati" katamu

"Selamat tinggal" katamu

Jangan bilang itu, jangan mati

Siluet itu melihatku saat ini terjadi

Chapter : 9

Naruto berjalan pelan menuruni tangga dengan malas, "dasar, mengganggu orang saja" gumam Naruto, sedangkan yang dimaksud Naruto tengah bersin, "ada seseorang yang membicarakanku" ucap Ino.

"Memangnya siapa yang membicarak\kanmu? Mungkin om-om nakal diluar sana" sahut Sakura, "eh? Aku tidak pernah bergaul dengan om-om" elak Ino, "apa kalian ingin menghabiskannya?" potong Hinata sambil menunjuk makanan yang berada ditangan Sakura dan Ino.

"Hinata, kau sudah makan terlalu banyak, apa kau masih tidak percaya dengan istilah kata gendut?" Ino bertingkah, "oh ayolah, gendut hanya mitos bagiku, lagipula kalau kau menyebut gendut terus menerus maka anak kelas E akan datang dengan tiba-tiba dan sudah berada dibelakang kita" Ucap Hinata.

"Maksudmu Choji yang suka makan keripik kentang itu?" tanya Ino, "siapa lagi kalau bukan dia" balas Sakura menengahi. "terserah lah, ini untukmu saja" ucap Ino sambil menyerahkan makanannya, "kau Sakura?" tanya Hinata memastikan, "hmm... buatmu saja lah Hinata" Sakura pasrah menanggapi sahabatnya itu.

Naruto berjalan pelan melewati lorong sekolah hanya untuk kembali kekelasnya, Naruto berjalan dengan kepala menunduk beserta earphone yang menempel ditelinganya. "awas awas harap minggir muatan berat" ucap seorang gadis manis bernama Shinon, terlihat ia membawa tumpukan buku yang menggunung, perhatian Shinon teralihkan oleh orang disampingnya yang tengah bercanda.

Saat Shinon memalingkan pandangannya kedepan ia menabrak orang berambut pirang jabrik, keduanya bertubrukan dan terjatuh. Buku-buku yang dibawa Shionjatuh berserakan dilantai, Naruto dan Shion sama sama terduduk, hanya Shinon yang mengaduh kesakitan saat jatuh tadi.

Naruto berdiri kemudian membungkukkan badannya, Naruto mengambil satu demi satu buku yang jatuh tadi, "apa kau tidak punya... " perkataan Shion terhenti saat melihat Naruto sedang mengambil buku-bukunya, "eh, maaf senpai, ini salahku karena tak melihat kedepan saat jalan" sesal Naruto.

"Kau... cepat letakkan buku itu kelantai" perintah Shinon dengan nada ketus, "eh, tapi ini... " ucap Naruto, "aku bilang cepat letakkan buku-buku itu, apa kau tuli, bodoh! " Shion menjadi-jadi. Naruto hanya pasrah disuruh seperti itu, Naruto mulai meletakkan buku-buku itu kembali tapi dengan keadaan tertata rapi.

Sementara itu dari ujung lorong terlihat kerumunan orang yang sedang mengejar sang siswa tanpa kenal rasa lelah A. K .A. Rock Lee, "oii, berhenti kau, akan kubuat potongan rambutmu itu menjadi semakin aneh" teriak Inuzuka Kiba si murid tak bisa diam, "coba saja kalau bisa" ucap Lee sambil menjulurkan lidahnya.

Dari ujung lorong lain sudah ada yang mencegatnya, merasa dirinya sudah tersudutkan, Lee bersembunyi dibelakang Naruto sambil berkata, "tolong aku, Uzumaki-san" ucap Lee. Yah hanya Lee yang tidak memandang rendah Naruto disekolah itu.

"Woi Uzumaki, berikan dia" ucap Kiba sangar, "eh, memangnya apa yang dia lakukan pada kalian?" tanya Naruto, "kau tak perlu tahu" balas Kiba cepat, "tentu aku perlu tahu" balas Naruto tak kalah cepat.

"Cih, kalau kau mau tahu dia selalu mengajak kami untuk berolahraga, jika kami tidak mau, dia akan mengejek kami tanpa henti, dan sebab itulah kami mengejarnya setiap hari" jelas Kiba, "dan kau sudah masuk perangkapnya" ucap Naruto, "apa maksudmu?" Kiba mulai kehabisan akal.

"Aku kira kalian orang kaya memiliki otak yang dapat dibanggakan mengingat nutrisi kalian selalu terpenuhi tapi kelihatannya aku salah dalam membuat opini" ucap Naruto, "maksudmu kami ini lebih bodoh daripada monyet?" Kiba tak terima, "itulah kenyataannya, dia mengejek kalian terus menerus agar kalian mau mengejar kalian, dan kau tahu lari adalah salah satu olahraga yang paling ia sukai" jelas Naruto.

Sedangkan Rock Lee terperangah karena rencananya diketahui oleh orang lain, Naruto kemudian berjalan meninggalkan Lee sendirian, beberapa langkah sebelum ia berpapasan dengan Kiba, muka Kiba sudah memerah menahan amarahnya.

"Beraninya kau menghinaku, berengsek kau! " , satu kepalan tangan Kiba mengarah kearah Naruto, tapi Naruto dengan mudah menangkap tangan itu, "oh ayolah, aku hanya ingin kembali kekelas" ucap Naruto datar, Naruto segera melepaskan tangan itu kemudian berjalan meninggalkan kerumunan tersebut. Shion yang masih berdiri disitu memandang Naruto tak percaya, orang yang selalu dianggap remeh disekolahnya mulai menampakkan taringnya.

Dibelokan lorong menuju tangga turun, Naruto meniup-niup tangan yang digunakan untuk menangkis pukulan Kiba tadi, "ah sial, aku tak menyangka kalau pukulannya sangat keras, kau terlalu banya bergaya Naruto" ucap Naruto dalam hati. Terlihat tangan Naruto yang memerah dibagian telapak tangannya, "kukira aku harus mengamputasi tangan ini" tawa Naruto dalam hati.

Saat Matahari tak lagi Hangat

Kelas dimulai kembali, semua murid mendengar apa yang diajarkan guru didepan kelas mereka.

"Nee Naruto-kun?" panggil Hinata pelan

"Apa?" balas Naruto

"Apa nanti sore kau ada acara?" tanya Hinata

"hmm, banyak acara yang harus kudatangi nanti sore, memangnya kenapa?" Jawab Naruto sekaligus mengajukan pertanyaan

"tidak hanya ingin tahu saja" balas Hinata singkat lalu memalingkan pandangannya kedepan

Naruto hanya memandang aneh si putri sekolah, "apa-apaan dia ini, ternyata orang kaya mempunyai keanehan juga" fikir Naruto. Hinata yang merasa dipandang dengan pandangan aneh kemudian memalingkan wajahnya kembali, "apa kau berfikiran kotor tentangku?" tanya Hinata ketus.

"mana mungkin aku berfikiran seperti itu" jawab Naruto sambil tersenyum aneh, "kau memang aneh Hinata" batin Naruto

"awas kalau sampai kau berfikiran macam-macam tentangku" ancam Hinata

"terserah kaulah,ohime-san" gumam Naruto

"kau mengatakan sesuatu?" tanya Hinata

"tidak,mungkin pendengaranmu yang salah" balas Naruto singkat

"mana mung... " perkataan Hinata dipotong oleh seseorang, "Hei, kalian berdua! Dari tadi bicara terus" ucap Guru yang mengajar,

"Uzumaki-san, coba kau maju kedepan dan kerjakan soal ini" perintah Guru tersebut

Naruto menggeser kursinya mundur kemudian berdiri dan berjalan kedepan, setelah sampai dihadapan Guru, Guru tersebut memberi sebuah kapur untuk mengerjakan soal yang diberika.

Dalam waktu kurang dari 5 menit, Naruto sudah selesai mengerjakan soal tersebut, "tidak buruk" ucap sang guru, "tapi kau melewatkan hal kecil Uzumaki-san, "kau harusnya memberikan pangkat kuadrat disini" jelas sang Guru, "tapi karena ini materi baru jadi tak apa, ini sudah lebih dari kata lumayan" sambung Guru itu.

"kau boleh kembali" ucap guru mempersilahkan Naruto kembali kebelakang

"baik" jawab Naruto

Saat Naruto berjalan kebelakang, Sakura dan Ino melihatnya begitu tajam seperti ingin membunuh, Naruto sudah biasa mendapat tatapan seperti itu. "Dasar bodoh, mengerjakan soal semudah itu saja tidak bisa" ucap Sakura saat Naruto berada tepat disampingnya.

Naruto mendengar perkataan Sakura dan berhenti, Naruto membalikkan tubuhnya menghadap kedepan kemudian mengangkat tangannya, "Ada apa Naruto?" tanya Guru,

"Maaf sensei, Haruno-san ingin mengerjakan soal nomor 3, apakah kau mengizinkan?" ucap Naruto

"Ah, tentu saja" jawab sang Guru mantap

Sakura kaget setengah mati mendengar hal itu, Sakura melihat kearah Naruto, Naruto tengah tersenyum kecil setelah menyampaikan hal itu

"kena kau" gumam Naruto pelan sambil berjalan menuju bangkunya

Sakura berkeringat dingin saat berada didepan mengerjakan, "bagaimana ini, aku benar-benar tak faham soal ini" Sakura cemas,

"Bagaimana Haruno-san? Ini sudah lebih dari 5 menit dan kau belum juga mulai menulis satu angka pun" ucap sang Guru

"Maaf Sensei, aku masih belum faham soal ini" jelas Sakura

"Kalau begitu kembalilah duduk" ucap Guru santai

Sakura kembali menuju ke bangkunya, ia melihat Naruto yang tengah memandangnnya dengan senyum kecil yang mengejek menurutnya, kemudian pandangan Sakura beralih kesamping Naruto, disana ada Hinata yang tengah menahan tertawa sambil mengacungkan jempolnya kearah Sakura.

Sakura menjulurkan lidahnya kearah Hinata karena sebal, Hinata masih menahan tertawa melihat kejadian tersebut.

Saat Matahari tak lagi Hangat

Pulang Sekolah

Terlihat kerumunan didepan gedung sekolah, kerumunan tersebut membentuk sebuah lingkaran mengelilingi sesuatu.

"Hyuuga-san, maukah kau menjadi kekasihmu?" ucap seorang pria berambut hitam pada Hinata

"Hmm, jadi kekasihmu? Burung flamingo saja menari untuk memikat pasangannya tapi coba lihat usahamu ini" ucap Hinata

"Kalau hanya bicara burung beo juga bisa, tunjukkan perasaanmu lewat tindakan, aku mau disediakan karpet merah digerbang sekolah dan kalau aku memanggilmu siang dan malam apa kau siap datang kapan saja? apa kau siap membuang semuanya dan mengekor seperti domba? Bagaimana? Tidak sanggup kan?" sambung Hinata panjang lebar.

"terima kasih banyak" seketika pria tersebut pingsan tak sadarkan diri

Kerumunan tersebut kemudian bubar dengan sendirinya meninggalkan pria tersebut pingsan, Hinata pun sam dengan yang lain, tak meghiraukan pria tersebut.

Naruto yang baru keluar melihat pria tersebut terbujur dibawah terik matahari tanpa ada yang berniat menolongnya. Merasa kasihan dengan orang itu, Naruto mencoba membangunkkannya dari pingsan.

"Nee senpai, apa kau tidak apa-apa?" tanya Naruto

"kumohon tinggalkan aku dulu" balas sang pria dengan suara yang lemah

"baiklah" ucap Naruto

Ternyata laki-laki itu hannya ingin menenangkan fikiran atas hal yang baru saja ia dengar.

Naruto berjalan pelan melewati gerbang sekolah, "panasnya" ucap Naruto sambil mendongakkan kepalanya keatas. Naruto berjalan pulang dengan santai tapi ada seseorang yang memanggilnya

"Naruto-kun... " teriak Hinata memanggil Naruto

Naruto menolehkan kepalanya kearah pohon rindang disisi jalan, disana terlihat ada Hinta, Ino, dan Sakura yang sepertinya tengah menunggu jemputan mereka. Hinata melambaikan tangannya kearah Naruto dengan senyum manis tapi palsu, "bisa kau kesini?" pinta Hinata dengan berteriak

Tak mau ambil pusing karena kalau tak menuruti besok pagi akan ada acara pembantaian untuk Naruto, Naruto menoleh kiri dan kanan memastikan tak ada mobil yang melintas. Merasa sepi Naruto segera menyebrang kesisi jalan yang lain.

"Ada apa?" tanya Naruto setelah sampai dibawah pohon rindang tersebut. Ino menatap Naruto malas, Sakura menatap Naruto dengan tatapan membunuh karena masih tidak terima karena hal di kelas tadi, Hinata menatap Naruto santai.

"hmm, bisa kau temani aku untuk menunggu jemputan?" pinta Hinata,

"eh, bukannya kau sudah ditemani oleh malaikat penjaga Neraka?" ucap Naruto

"malaikat penjaga Neraka?" Hinata memiringkan kepalanya rak faham

"yah, dua orang disampingmu itu penjaga Neraka kan.. " balasa Naruto santai

"Apa kau bilang... " ucap dan Ino bersamaan

"tenanglah kalian, mereka berdua akan meninggalkanku karena jemputan mereka akan cepat datang, dan jemputanku mungkin lumayan lama mengingat jarak rumahku cukup jauh dari sekolah" jelas Hinata

"jadi apa kau mau? Aku memaksa Naruto-kun" Hinata memaksa lagi

"yah apa boleh buat, tak baik meninggalkan seorang perempuan sendirian" jawab Naruto

10 menit berlalu dan belum ada satupun dari ketiga jemputan yang datang. "panasnya" ucap Ino,

"tentu ini panas, musim panas kenpa kau sangat panas?" Sakura mulai gila

"karena akhir dari musim panas adalah kembang api" Hinata mulai berkata yang tak ada hubungannya

Sebuah mobil ice cream berhanti tak jauh dari tempat mereka duduk. Hanya Naruto yang menyadari kedatangan mobil ice cream itu karena ketiga perempuan itu sibuk dengan keluhan musim panas. Naruto berjalan menuju mobil ice cream itu, menyadari Naruto berjalan menjauh, Hinata mengalihkan kesibukannya untuk melihat Naruto.

Naruto kembali dengan 4 ice cream ditangannya, "kalian mau ice cream?" tawar Naruto pada ketiga perempuan itu. "tentu" Hanya Hinata yang menjawab dengan pasti. "kalian tidak mau?" tanya Naruto pada Ino dan Sakura, "hmm... " Sakura dan Ino bingung harus menjawab apa

"ayolah, jangan malu-malu, Naruto-ku tak ada niat buruk pada kalian" ucap Hinata pada Ino dan Sakura,

Hinata segera mengambil tiga ice cream ayng ada ditangan Naruto dan memberikannya pada Sakura dan Ino.

Saat merka berempat tengan menikmati ice cream, 2 anak kecil lewat didepan mereka

"tunggu dulu Onee-chan, ini sangat panas, bisakah kita istirahat dulu" pinta sang anak laki-laki

"hah, kau ini, masa baru segitu saja sudah capek" balas anak perempuan

Kedua anak itu berhenti tepat dibawah pohon rindang dimana Naruto berada. "hei, kalian mau ice cream?" lagi-lagi Naruto menawarkan ice cream pada kedua anak itu,

"hmm... mau sih, tapi kami berdua tak membawa uang" jawab sang anak perempuan,

"tenang saja, aku yang belikan" ucap Naruto lalu berjalan mengajak anak itu menuju mobil ice cream yang masih setia berada ditempat tadi

Hinata yang melihat kejadian itu merasa aneh pada dirinya sendiri, "mungkin Naruto-kun akan menjadi sosok ayah yang baik" ucap Hinata

"eh, apa kau berharap kau akan mempunyai anak dengan Uzumaki setelah mengatakan hal itu?" tanya Sakura

"dasar bodoh, bukan berarti aku akan menjadi istrinya karena mengatakanhal itu" balas Hinata ketus

Setelah kedua anak itu mendapatkan ice cream, raut wajah gembira mereka langsung terpancar, "terima kasih, Onii-chan" ucap kedua anak itu berbarengan, "sama-sama, tapi semua ini tidak gratis ada imbalannya" ucap Naruto

"eh, imbalan apa?" tanya sang anak laki-lakki

Naruto meneluarkan ponselnya dan mengarahkan kamera kearah kedua anak tersebut, "jangan bergerak, nanti gambarnya jelek" ucap Naruto

Naruto mendapatkan satu lagi foto anak kecil, "baiklah, ini imbalan yang ku maksud, sekarang kalian boleh melanjutkan main kalian" ucap Narui

"Jaa nee Onii-chan" ucap sang anak perempuan sambil melambaikan tangannya

Saat Matahari tak lagi Hangat

"Hei Uzumaki, apa kau penculik anak?" tanya Ino sinis

"ya, dan kalau suatu hari nanti anakmu hilang, kau tahu siapa yang harus kau laporkan kepolisi" balas Naruto dengan tawa kecil

"dasar bodoh" Ino acuh kembali

Mobil jemputan datang satu demi satu dimulai dari Sakura kemudian Ino, hanya tinggal Hinata yang belum dijemput

"kenapa kau tidak duduk, dari tadi berdiri saja" tawar Hinata

"baiklah" jawab Naruto singkat

"hei Hyuuga-san?" panggi Naruto

"panggil aku Hinata saj, aku tak terlalu suka dipanggil seformal itu

"terserah kau sajalah, aku hanya ingin tahu kenapa kau menolak semua laki-laki yang ingin menjadi kekasihmu?" Naruto penasaran

"kau sudah tahu jawabannya kan! Karena mereka tidak lebih kaya dari keluargaku" jawab Hinata ketus

Naruto tak yakin dengan jawaban itu,"tidak, aku yakin bukan itu alasanmu menolah mereka"

To Be Continued...

Yo minna-chan, maaf nunggu lama buat update

Saya harap kalian tidak bosan dengan fic ini

Jaa Nee in Next Chapter