DESTINY
Naruto hanya milik Masashi Kishimoto-san
Banyak kekurangan dalam fict ini
Typo dimana-mana ( mungkin )
Enjoy This
Opening Word New Method Lost Time Memory
Bertahun- tahun kemudian bayanganmu tak hilang. Perasaanku semakin hebat
Aku berjongkok, menggambar sendiri
Dijalan menanjak dibawah sinar mentari, Kau dan Aku berjalan
Panasnya mentari membakarku
"Jangan menggangguku! Menjauhlah" kubilang sambil melepas tanganmu
"Aku takkan meninggalkanmu" kau bilang sambil menggapa tanganku
"Kau sangat menyebalkan" kubilang sambil menjauh tanpa menoleh kebelakang
"Bagaimana perasaanmu yang sesungguhnya?"
Kalau Aku bijaksana, Aku takkan bergerak kedepan. Aku tak punya alasan jadi aku akan diam saja
Kuharap waktu berputar kembali
Tak peduli berapa tahun berlalu, aku takkan mati. Aku akan tetap menegakkan pentingnya idealisme, walaupun kau tak lagi disana
"Aku tak peduli, mati saja! mati saja!" kubilang sambil mengutuk diri sendiri
Tak bisa melakukan apa- apa, Aku menghancurkan hidupku
"Kalau musim panas bisa membuat mimpi, Aku ingin kembali disaat kau masih ada" kataku
Hari saat aku menahan rasa malu tak terlupakan
Bocah yang selalu berharap dibawah mentari akhirnya berdiri
Senyumanmu sesuai yang kuingat
"Maafkan aku telah mati" katamu
"Selamat tinggal" katamu
Jangan bilang itu, jangan mati
Siluet itu melihatku saat ini terjadi
Chapter : 10
Di tempat Naruto bekerja, mereka sedang kerepotan karena banyaknya pelanggan yang datang. Ada untungnya bila banyak pelanggan tapi juga ada susahnya karena sedikitnya pekerja yang ada.
Naruto masuk dari pintu belakang, baru saja ia masuk ia sudah diberi pemandangan yang tidak enak dipandang mata. Tumpukan piring kotor yang tak tersentuh karena semua pekerja sedang sibuk melayani pelanggan.
Tanpa fikir panjang, Naruto segera mengambil celemek yang tergantung rapi disamping pintu, dan segera memakainya. Ia berjalan menuju tempat cuci piring dan mengambil semua piring itu untuk dicuci. "Ahh, sore Naruto. Ini masih terlalu awal untuk shift mu" ucap seorang gadis berambut coklat dari belakang Naruto.
"Eh, apa aku akan tega membiarkan kalian kerepotan seperti ini? Tidak kan" balas Naruto
"Iya, tapi tetap saja ini... " perkataan gadis itu belum selesai tapi sudah selesai
"sudahlah, lagipula apa kau hanya akan berdiam diri saja disana?" ucap Naruto
"Ehh, tentu saja tidak" jawab gadis itu cepat
"Baguslah kalau seperti itu, bisa kau ambilkan sabun digudang?" pinta Naruto santai
"Baiklah, tunggu sebentar" balas sang gadis kemudian berjalan menuju gudang penyimpanan
Gadis itu kembali dari gudang dengan sebotol sabun ditangannya, "Ini Naruto" ucap gadis itu sambil menyerahkan botol itu. "Ahh, arigatou oba-san" goda Naruto
Seketika itu muncul pertigaan dikening gadis itu, "Oba-san katamu? Aku masih 20 tahun Naruto" ucap gadis itu sambil mencubit pinggang Naruto
"ittai... sakit oba-san" Naruto masih memanggilnya oba-san
"kau panggil aku apa, Uzumaki Naruto?" gadis itu semakin menambah tenanganya
"baiklah... aku minta maaf Yuriko Nee-san" Naruto mengalah
Gadis itu melepaskan cubitannya, sementara itu pemilik toko melihat kejadian itu, dia hanya tersenyum kecil melihat itu. "Hoi hoi, pekerjaan tidak akan selesai kalau kalian terus seperti itu" ucap sang pemilik toko
"Etto... maafkan kelakuan kami oji-san" ucap sang gadis sambil membungkukkan badannya
"ah.. tidak apa, lagipula ini lebih menyenangkan daripada melihat orang kantoran yang selalu serius dengan monitor didepan mereka" balas pemilik toko
"dan kenapa kalian tidak menikah saja? aku lihat kalian cocok" sambung pemilik toko
Semua pegawai langsung menghentikkan kegiatannya setelah mendengar perkataan bos mereka.
"tidak mungkin oji-san, Yuriko Nee-san terlalu tua untukku" ucap Naruto santai sambil menunjuk orang disampingnya. "dan Naruto terlalu konyol untuk menjadi suamiku" balas Yuriko sambil menunjuk Naruto.
Naruto dan Yuriko saling menunjuk satu sama lain, semua pegawai tertawa melihat kejadian itu tak terkecuali pemilik toko. "Kalian ini, dasar anak muda, kembalilah bekerja" ucap pemilik toko lalu berjalan keluar dari dapur.
Senyum dan tawa bahagia terpancar jelas dari wajah para pegawai karena adanya Naruto. Ibarat malakat yang tersesat dijalan yang bernama kehidupan.
"Hei Naruto.. " panggil Yuriko disela-sela kegiatan mereka
"hmm... " balas Naruto
"Apa kau sudah mempunyai kekasih?" tanya Yuriko
"Ehh... apa kau tertarik padaku?" jawab Naruto jahil
"Jangan berfikir bodoh Naruto" Yuriko menjawab sinis
"lalu apa maksudmu Yuriko Nee-san?" Naruto tak mengerti
"aku fikir orang-orang disekolahmu akan terarik denganmu karena sifatmu yang baik itu" jelas Yuriko
"orang-orang disekolah? Mereka hanya orang berhati besi, keras kepala, egois, dan sepertinya hampir semua sifat buruk manusia ada dimereka" Naruto bercerita tentang orang-orang disekolahnya
"Jangan begitu Naruto, mungkin mereka hanya ingin melindungi diri mereka dari sesuatu yang mereka tidak sukai" Yuriko mulai menasehati
"Ya, dan sesuatu yang tidak mereka sukai adalah AKU" Naruto menekankan kata AKU dalam kalimatnya
.
.
Other Place
Hinata tengah berbaring nyaman ditempat tidurnya, "jangan berlagak kau mengetahui hal-hal tentangku,Uzumaki" Hinata menggumam. "Kau tidak tahu apa-apa" dia bergumam lagi.
"ARRRRGGGGGGHHHHHHH... " dia berteriak sambil melemparkan gulingnya ketembok
"Kau hanya orang miskin, kau hanya orang bodoh, kau hanya seorang penjilat, kenapa kau tidak mati saja, terkutuklah kau Uzumaki" Hinata terus saja bergumam.
FLASHBACK
"hei Hyuuga-san?" panggi Naruto
"panggil aku Hinata saja, aku tak terlalu suka dipanggil seformal itu"
"terserah kau sajalah, aku hanya ingin tahu kenapa kau menolak semua laki-laki yang ingin menjadi kekasihmu?" Naruto penasaran
"kau sudah tahu jawabannya kan! Karena mereka tidak lebih kaya dari keluargaku" jawab Hinata ketus
Naruto tak yakin dengan jawaban itu,"tidak, aku yakin bukan itu alasanmu menolak mereka"
"Lalu apa menurutmu aku ada alasan lain untuk menolak mereka? Hah.. " Hinata mengelak
"Pasti ada, dan apa kau ingin mendengar apa alasan yang paling tepat kenapa kau menolak mereka dari mulutku sendiri?" Naruto menawarkan
"Kalau begitu menurutmu apa alasanku?" Hinata masih ketus
"Alasanmu menolak mereka... karena kau belum terlalu mengenal mereka dan itu adalah sebuah alasan yang menurutku paling tepat, sebuah hubungan harus dilandasi dengan mengetahui kepribadian pasangan masing-masing" Naruto berbicara panjang
Hinata tak mampu berbicara apa-apa, matanya membulat, jantungnya berdetak begitu kencangnya, tangannya mengepal kuat.
"Sepertinya waktuku sudah habis" ucap Naruto sambil menunjuk mobil elegan yang berhenti disamping mereka
FLASHBACK OFF
"Jangan bertindak seperti kau sudah lama mengenalku, Uzumaki" Hinata masih saja bergumam
"Suatu saat kau akan jatuh kedalam perangkapku dan kau akan segera merasakan apa yang namanya neraka kehidupan" Hinata tersenyum sinis.
Suara ketukan dari pintu terdengar ditelinga Hinata, "makan malam sudah siap nona Hinata" seorang maid berbicara pada Hinata. "Ehhh... apakah ini sudah petang? Baiklah akau akan segera turun" Hinata bersemangat karena adanya kata "makan" , seketika itu fikiran negatifnya yang tadi langsung hilang ditelan kegelapan kamar.
Hinata berjalan cepat menuruni tangga, dibelokan dia hampir menabrak ibunya sendiri, "ah, gomen oka-san, ayo cepat nanti keburu dingin makan malamnya" Hinata masih saja bersemangat.
"Hei Anata, lihat anakmu itu, dia selalu bersemangat" ucap Ibu Hinata pada Suaminya
"Tak apa yang penting dia bahagia" ucap Hiashi disertai senyuman tipis
Keluarga itu makan malam dengan suasana yang bahagia, Hinata yang mendominasi pembicaraan saat makan sampai Neji, kakak sepupu Hinata tak tahan dengan ocehan Hinata. "Ehemm" Neji berdehem memberi tanda pada Hinata untuk diam. Hinata hanya melirik sekilas kearah Neji lalu berhenti bicara.
"Hei Hinata, kau sudah 17 tahun dan sampai sekarang ini apakah ada laki-laki yang mendekatimu?" Hiashi bertanya pada anaknya
"Jika paman ada disekolah mungkin paman akan terkejut dengan Hinata" Neji yang menjawab
"Hmmm... Apa Hinata tidak disukai disana?" Hiashi bertanya lagi
"Dia ratu sekolah paman, mana mungkin ada yang tidak menyukai Hinata" Neji menjelaskan
"Tapi... sepertinya ada 1 orang yang tidak pernah melirik Hinata sama sekalipun, dan anak itu bernama... " belum sempat Neji menyebutkan nama anak yang dimaksud, Hinata sudah menendang kaki Neji lumayan keras karena mereka berhadapan.
"Itaaiiii... " Neji mengaduh kesakitan
"Siapa nama anak yang tidak menyukai Hinata, Neji?" Hiashi penasaran
"Lupakanlah saja paman, mungkin itu cuma perasaanku saja" Neji mendapat lirikan tajam dari Hinata sebelum menjawabnya
"Nee Hanabi, bagaimana hubunganmu dengan Konohamaru?" Hinata bertanya pada Hanabi yang ada disampingnya
"Hinata Nee-san, apa kau sedang mencoba mengalihkan pembicaraan?" Hanabi mengerti maksud kakaknya
"Etto... " Hinata kehabisan kata-kata
Back to the Naruto story
Pukul 8 malam, Naruto masih mengelap meja toko, semua pegawai sudah pulang beberapa menit yang lalu. "Hei Naruto, kesini sebentar" panggil pemilik toko
"ada apa paman?" Naruto bertanya
"Ini gajimu bulan ini" ucap pemilik toko sambil menyerahkan sebuah amplop
"Ehhh.. kenapa baru aku yang dapat? Lalu yang lain bagaimana paman?" Naruo bingung karana baru ia yang dapat gaji
"Ah... sebenarnya aku ingin memberikannya tadi tapi karena mereka sudah pulang duluan, jadi aku berikan saja besok pagi" pemilik toko menjelaskan
"hmm... baiklah, terima kasih paman" ucap Naruto senang
"Ya, setelah ini selesai kau boleh pulang, nanti biar aku yang mengunci tokonya" ucap pemilik toko lalu berjalan kembali keruangannya
"baiklah paman" jawab Naruto singkat
Setelah Naruto menyelesaikan semua pekerjaanya, dia mengambil jaketnya lalu berjalan menuju pintu keluar, "Paman, aku pulang duluan" teriak Naruto sambil memutar knop pintu. Suara lonceng yang tergantung diatas pintu berbunyi.
Naruto berdiri sebentar didepan toko menikmati udara malam yang sejuk tapi juga dingin, tak banyak mobil lewat malam itu. Banyak orang yang berjalan menikmati malam itu. Seperti kota yang nyaman untuk ditinggali untuk semua orang.
Naruto berjalan santai kembali kerumahnya, malam ini bulan bersinar dengan terangnya. Beberapa awan tipis menyelimuti bulan, tapi itu tak membuat sinar bulan padam begitu saja.
Saat Naruto mengingat tempat tinggalnya, ia baru sadar bahwa dia sudah tidak tinggal sendiri lagi. "Mungkin sekarang kucing itu sedang menggeledah isi kulkas" fikir Naruto. Naruto menyempatkan untuk mampir ketoko hewan yang kemarin ia kunjungi.
Naruto sedikit mengubah rute perjalanan pulangnya, ia melewati jalan sepi untuk sampai ditoko hewan tersebut. Dijalan sepi tersebut terdapat sebuah gang gelap yang sepertinya tidak pernah dilewati orang, "mungkin hanya hantu yang lewat sini" ucap Naruto saat di berhenti tepat didepan gang tersebut.
"tolong... " terdengar suara samar-samar digang tersebut, bulu kudu Naruto berdiri, "tolong... " lagi-lagi suara samar-samar itu terdengar.
Naruto memberanikan diri untuk memeriksa hal tersebut, rasa ingin tahunya semakin bertambah saat suara tersebut semakin jelas dipendengaran Naruto. Naruto melangkah dengan sangat pelan, saat dia sampai dibelokan gang dia menemukan sesuatu yang membuatnya terkejut setengah mati.
"Berhentilah menangis gadis manis, percuma kau meminta tolong seperti itu, tidak akan ada orang yang menolongmu" ucap seorang pria berperawakan kejam berambut acak-acakkan. "Daripada kau terus menangis seperti itu, lebih baik kau bersenang-senang dengan kami" ucap pria satunya. Dua orang pria sedang mengepung seorang gadis, gadis itu dipojokkan ditembok sehingga dia tidak bisa berbuat apa-apa.
"tolong... " lagi-lagi gadis itu meminta tolong dengan suara parau
"Aku bilang berhentilah menangis" ucap pria itu sambil menampar pipi gadis tersebut
Tamparan keras mendarat dipipi gadis tersebut, gadis itu masih saja menangis
Naruto melihat kejadian itu, dia melihat dengan dua mata kepalanya sendiri. Tanpa fikir panjang, Naruto segera menampakkan dirinya dari tempat persembunyian. Dengan suara langkah yang dibuat berat, Naruto menampakkan dirinya. "Apa yang kalian lakukan?" tanya Naruto seolah tak tahu apa-apa, sontak semua pandangan teralihkan oleh suara Naruto
"Siapa kau bocah? Lebih baik kau pergi dari sini!" jawab salah seorang pria itu sinis
"Hah? Apa kau bilang? Kau menyuruhku pergi dari sini? Kakakku saja yang seorang kepala polisi kota ini tidak pernah menyuruhku seperti itu, jangan bodoh" Naruto menggertak
"Cihh, mana mungkin kakakmu itu seorang kepala polisi" bantah pria itu
"Kau tak percaya? Baiklah tunggu sebentar disini, aku akan menelfon kakakku dan mengirim bawahannya kesini" ucap Naruto
"dan lagipula, tadi aku melihat mobil polisi lewat jalan disana dengan pelan, mungkin kakakku akan cepat merespon dan mengirim polisi itu" sambung Naruto
Gadis itu masih memandang Naruto, "dalam hitungan ketiga jika kalian tidak pergi dari sini, maka aku akan bersungguh-sungguh memanggil polisi untuk menangkap kalian" ucap Naruto dingin
Kedua lelaki itu seketika kehilangan rasa percaya diri mereka, "sialan kau bocah!" ucap laki-laki itu lalu segera mengajak rekannya untuk pergi dari tempat itu.
Setelah memastikan kedua laki-laki itu pergi, Naruto kemudian menghampiri gadis yang terduduk bersandar ditembok itu. "Bangunlah" ucap Naruto sambil mengulurkan tangannya, gadis itu berdiri dan langsung memeluk Naruto, "arigato... arigato... arigato" ucap gadis itu dengan suara sesenggukan,
"etto... Shion-senpai, sepertinya kau tidak sehat" Naruto mencari alasan untuk melepaskan pelukan gadis itu yang ternyata Shion.
"ehh... " Shion baru sadar dengan apa yang baru saja ia lakukan, ia segera melepaskan pelukannya dan mendorong Naruto kebelakang, Naruto hanya mundur satu langkah saja saat didorong.
"apa yang kau lakukan disini bodoh?" tanya Shion angkuh tapi masih dalm suara yang parau
"entah, mungkin hanya sekedar lewat saja. Kalau begitu sampai jumpa" ucap Naruto lalu berjalan meninggalkan Shion
"apa kau akan meninggalkanku disini sendirian bodoh?" Shion berteriak memanggil Naruto
Naruto menolehkan kepalanya kearah Shion, "lalu aku harus bagaimana? Mengantarmu sampai rumah?" tanya Naruto
"ji... jika kau ingin mengantarku pulang, a.. aku tidak keberatan" Shion berbicara malu-malu
"baiklah, lagipula tak baik kalau meninggalkan perempuan sendirian dimalam hari" balas Naruto santai
Setelah mendengar perkataan Naruto, Shion berlari kecil mensejajarkan langkahnya dengan Naruto, "tapi aku akan mampir kesuatu tempat dulu, kau tak keberatan kan?" tanya Naruto memastikan
"terserah, asal aku sampai rumah dengan selamat" jawab Shion ketus
"Ck, dasar gadis sombong" gumam Naruto
"kau mengatakan sesuatu?" tanya Shion dengan pandangan mata penuh curiga
"tidak, mungkin pendengaranmu terganggu" jawab Naruto apa adanya
.
.
Naruto sampai ditempat yang ingin ia kunjungi, toko hewan.
"Apa yang akan kau lakukan ditoko hewan?" tanya Shion
"merampok" jawab Naruto singkat
Naruto berjalan memasuki toko dengan santai dengan kedua tangannya disaku jaket, sedangkan Shion hanya mengikutinya dari belakang
"selamat malam, maaf mengganggu" ucap Naruto saat sampai didalam toko
"ah, selamat malam, kau yang kemarin kan? Ada yang bisa kubantu?" ucap pelayan toko itu ramah
"seperti kemarin, makanan kucing 2 kaleng ya" jawab Naruto
"baiklah, tunggu sebentar ya" balas sang pelayan
Shion menampakkan wajah gembira saat melihat hewan-hewan itu bermain, "Hei, apa aku boleh bermain dengan mereka?" tanya Shion pada Naruto
"maaf nona, temanku ingin bermain dengan peliharaanmu, apa boleh?" tanya Naruto pada pelayan untuk memastikan
"tentu" jawab pelayan itu singkat,padat dan jelas
"ah, kata nona itu... "
"aku sudah dengar sendiri" potong Shion cepat
Naruto hanya bisa mengelus dada menanggapi gadis itu, "kebiasaan orang kaya" umpat Naruto dalam hati
"ini pesananmu" ucap pelayan itu sambil menaruh sekantung plastik berisi dua kaleng makanan kucing
"ah, terima kasih, harganya masih sama dengan yang kemarin kan?" Naruto memastikan
"tentu saja" balas sang pelayan
Naruto menyerahkan beberapa lembar uang kepada pelayan itu. Shion masih sibuk dengan kucing dan anjing yang mengelilinginya, senyum bahagia terpancar jelas diwajahnya, "apa tidak repot mengurus semua peliharaan ini?" tanya Naruto pada pelayan
"aku rasa tidak, mereka sangat patuh saat kuurus" balas sang pelayan
"kecuali yang satu itu" sambung sang pelayan sambil menunjuk kucing hitam yang tengah menyendiri dari kucing lain
"apa dia sulit diatur?" Naruto bertanya
"kalau sulit sih tidak, tapi dia selalu menyendiri saat hewan yang lain berkumpul" balas sang pelayan
.
.
Sudah beberapa menit Shion dan Naruto berada dioko hewan itu, "hei senpai, apa kau akan tetap disini?" Naruto bertanya dengan maksud mengajaknya untuk pulang
"eh, tapi kucing ini... " Shion tahu maksud Naruto
"tak apa nona, kau bisa kembali kesini lain kali" balas sang pelayan
"eh, benarkah boleh?" Shion memastikan
"Hmm" dijawab dengan anggukan oleh sang pelayan
.
"kami pulang dulu, selamat malam" ucap Naruto sambil melangkah keluar toko
"selamat malam juga, datang lagi ya" balas sang pelayan
.
.
Naruto dan Shion berjalan bersama dalam keadaan hening tanpa ada yang memulai pembicaraan terlebih dahulu sampai Shion mengeluarkan pertanyaannya, "Apa benar kakakmu seorang kepala polisi?" tanya Shion
"Dan kau akan percaya dengan kebohongan besar yang kubuat? Jangan bodoh" jawab Naruto
Shion hanya bisa melebarkan matanya saat mendengar perkataan itu, ternyata yang menolongnya adalah sebuah kebohongan
Akhirnya Naruto sampai didepan rumah Shinon, Naruto tak kaget dengan apa yang ada didepannya, sebuah rumah bak istana kerajaan ditengah kota. "apa kau mau mampir?" tanya Shion
"tidak terima kasih, aku mau pulang dulu, Jaa Senpai" ucap Naruto lalu berjalan santai
"terima kasih, bodoh" gumam Shion
"kau mengatakan sesuatu?" Naruto mendengar samar-samar gumaman Shion
"tidak, mungkin pendengaranmu terganggu" balas Shion dengan cara menirukan perkataan Naruto tadi
.
.
Pagi hari di Konoha Summer High School, Naruto berjalan pelan melewati koridor sekolah denga earphone yang menempel ditelinganya. Dan lagi, pandangan Naruto teralihkan oleh sekelompok manusia yang tengah berkumpul melingkari sesuatu dan Naruto tahu apa yang mereka lihat,
"Hyuuga-san, maukah kau menjadi kekasihku?" ucap seorang pria dengan lantang
"yah, seharusnya kau tunjukkan perasaanmu lewat tindakan, memangnya apa yang bisa kau lakukan untukku, hah?" balas Hinata sinis
"keluargaku sangat kaya, aku bisa memenuhi semua permintaanmu" jawab pria itu dengan percaya diri
"eh, benarkah?" Hinata memastikan
"ya, aku yakin pasti bisa" pria itu mulai tersenyum
"aku tidak bisa, bodoh" balas Hinata ketus
"eh, memangnya kenapa? Bukankah itu termasuk persyaratan untuk menjadi kekasihmu?" pria itu mulai kehilangan percaya dirinya
"karena aku belum mengenalmu, sebuah hubungan akan terasa indah jika pasangan itu saling mengenal satu sama lain, dan aku baru mengenalmu beberapa menit tadi" jawab Hinata panjang lebar
Semua penonton tercengang atas jawaban Hinata, "bisa kalian bubar?" ucap Hinata pada kerumunan yang mengelilinginya. Kerumunan itu mulai membubarkan dirinya secara serentak, mata Hinata memandang kearah dimana kerumunan itu mulai bubar, disana sang Uzumaki Naruto tengah memandangnya dengan tatapan mata yang datar
"Apa yang kau lihat, Naruto-kun?" ucap Naruto
"oh sial, ada apa dengannya, apa hantu sekolah merasukinya?" ucap Naruto dalam hati, "tidak, hanya mengingat kalau seseorang meng-copy perkataanku untuk sebuah alasan menolak seorang pria yang menyukainya" balas Naruto panjang lebar
"benarkah? Siapa orang itu?" Hinata pura-pura tidak tahu
"entah" jawab Naruto lalu melanjutkan jalannya
"ashh, kau ini" ucap Hinata lalu berjalan dibelakang Naruto
Hinata berjalan dibelakang Naruto, jarak merka berdua lumaya dekat sehingga menarik perhatian para murid yang mereka lewati. Semua tatapan mengarah pada Hinata, semua orang diam tanpa sepatah kata keluar dari mulut mereka.
Sementara itu dibelokan koridor, "minggir minggir muatan berat" ucap Shion pada semua orang. Shion lagi-lagi membawa setumpuk buku yang menutup pandangannya. Dan lagi-lagi "bruukk" Naruto menabrak Shion dibelokan, kedua manusia itu jatuh terduduk dan buku yang dibawa Shion jatuh berantakan kelantai.
Tanpa ada perintah, Naruto langsung mengambil buku-buku itu dan menatanya dengan rapi, "hei, apa kau tidak pu... " ucapan Shion tidak sampai selesai setelah melihat orang didepannya.
"Gomene, Senpai" ucap Naruto
Hinata melihat kejadian itu, ia hanya melihat tanpa ada niat membantu. Naruto selesai menata buku-buku itu, tapi tidak seperti kejadian sebelumnya, ia hanya menatanya dan menaruhnya dilantai. Shion agak kecewa melihat itu, "sekali lagi aku minta maaf" ucap Naruto lalu melanjutkan jalannya.
"Hei bodoh" panggil Shion pada Naruto
"hmm?" jawab Naruto santai
"te... te... terimakasih untuk tadi malam" Shion mengucapkannya dengan gugup
"hmm, aggap saja itu adalah sebuah kebetulan" jawab Naruto
Naruto kembali melanjutkan lagi jalannya, Hinata melihat itu, Hinata mendengar itu. Rasa penasaran muncul dari ubun-ubun kepala Hinata, "apa yang terjadi? Apa yang mereka lakukan tadi malam? Apa mereka saling mengenal?" pertanyaan demi pertanyaan muncul di pikiran Hinata.
Hinata kemudian berlari kecil menyusul Naruto yang ada didepan. Sementara itu shion tengah mengambil bukunya yang tertata rapi dilantai.
.
.
Jam pelajaran, kelas sedang kosong karena guru mereka mengadakan rapat. "Hei Naruto-kun" panggil Hinata
"ya?" balas Naruto
"apa kau ada hubungan dengan Shion-senpai?" Hinata langsung to the point
"tidak ada" jawab Naruto singkat
"hmm, kalau begitu apa maksud ucapan Shion-senpai tadi pagi?" Hinata bertanya lagi
"ucapan yang mana?" Naruto tak faham
"dia tadi kan mengucapkan terimakasih untuk tadi malam, apa yang kalian lakukan tadi malam?" Hinata semakin menjadi
"ooh, kenapa kau ingin tahu?" Naruto balik bertanya
"jawab saja, aku tidak menyuruhmu balik bertanya" balas Hinata ketus
"yah, aku hanya menolongnya saat dia diganggu preman tadi malam" Naruto menjawab jujur
"hmm, apa aku bisa percaya ucapanmu?" Hinata mengangkat satu alisnya
"oh ayolah, apa yang bisa membuamu percaya?" Naruto berfikir kedepan kalau ia hanya menjawab "terserah" Hinata tidak akan percaya
"cium aku" ucap Hinata langsung.
To Be Continued
Gomen-gomen kalau lama updatenya
Saya tunggu review kalian minna-san
Oh iya, coba kalian cek di inbox kalian
Balasan review tidak saya cantumkan di fic tapi melalu inbox
See You in next chapter
