DESTINY

.

.

Naruto hanya milik Masashi Kishimoto-san

Banyak kekurangan dalam fict ini

Typo dimana-mana ( mungkin )

Enjoy This

.

.

Opening Word New Method Esoragoto

.

.

Aku mendengarkan dongeng saat aku tidak bisa tidur

Mungkin ceritanya hanyalah fiksi

Jika aku terus mengenang masa lalu tentang penyesalanku

Itu karena aku lebih memilih untuk menerimanya dari pada mengalaminya lagi

Mungkin karena ada kegelapan didalam hatiku

Dan aku mencoba untuk tetap yakin

Ya, aku yakin aku masih bisa mencintai diriku sendiri

Bahkan jika dunia terbelah menjadi dua

Pagi akan datang setelah malam

Dan perasaanku sudah terbiasa dengan kegelapan

Aku tidak akan lagi melihat kebelakang dan melangkah kedepan

DAN MEMBUAT INI MENJADI CERITA TANPA SKENARIO

Aku akan menentukan takdirku sendiri

Dan terbang lebih jauh lagi dari sebelumnya

.

.

.

Chapter 12

.

.

"DIAMLAH WANITA JALANG, KAU TAK TAHU APA-APA TENTANGKU" Naruto menggebrak meja dan meluapkan emosinya

Seketika suasana toko menjadi diam tanpa adanya suara sedikitpun, Shirou, Yuriko dan karyawan lain mengarahkan pandangannya kearah Naruto. Temari, Ten-ten dan Shion seperti terkena hentakan besar. Seorang Naruto yang selama ini mereka tahu orang yang tak peduli pada apapun yang mereka katakan ternyata sampai bertingkah seperti tadi.

Nafas berat dari Naruto terdengar cepat, Naruto berfikir kenapa dia sampai marah seperti itu, Shirou mencoba berfikir cepat untuk meredakan ketegangan ini. "Naruto, kalau mau latihan drama bukan disini tempatnya, kau ini ada-ada saja. Lihat semua pengunjung jadi ketakutan" ucap Shirou

Naruto mendengar perkataan Shirou, pundak Naruto meregang. Pandangannya mengarah kesemua pengunjung, memang benar apa yang dikatakan Shirou, semua pengunjung memasang wajah takut. Sekelebat sosok ada dipenjuru pandangan Naruto saat ia menatap kearah luar.

"Shirou, kau masih disana?" tanya Naruto

"Ya, kenapa?" balas Shirou

"Bisa buatkan aku ice cream coklat dengan cone?" ucap Naruto

"Tunggu sebentar" jawab Shirou sambil berjalan kebelakang

Pandangan Naruto masih mengarah keluar jendela, amarah Naruto seketika hilang saat melihat kearah luar. Temari sebenarnya masih tidak terima dikatakan wanita jalang, tapi ada sesuatu yang menghalanginya untuk memperpanjang debat itu.

Kaki Shion menginjak kaki Temari, saat Temari mengarahkan pandangannya kearah Shion, Temari mendapat hal yang sepertinya tidak bagus. Tatapan malas Shion pada Temari dalah tanda bahwa Shion tidak menyukai hal yang barusan terjadi.

Shirou kembali dari dapur dengan satu buah ice cream coklat ditangannya, "Ini Naruto" ucap Shirou sambil menyodorkan ice cream ditangannya. Naruto melepas celemek pelayannya, "Bisa kau bawakan ini sebentar" ucap Naruto sambil mengambil ice cream ditangan Shirou sekaligus menyerahkan celemeknya ke Shirou dan Naruto bergegas berjalan keluar.

"Apa yang akan dia lakukan?" tanya Yuriko yang tiba-tiba sudah ada dibelakang Shirou

"Kalau kau lihat anak kecil yang menangis sendirian ditepi jalan itu, kau akan tahu maksud Naruto" jawab Shirou

"Sebenarnya aku tidak tahu masalah apa yang Naruto alami dengan perempuan-perempuan ini, bisakah kau bicara dengan mereka?" bisik Shirou sambil berjalan kembali kedapur

.

.

"Maaf nona-nona, sebenarnya aku tidak mau ikut campururusan kalian dengan Naruto, tapi aku mohon jangan pernah membahas orang tua Naruto, apalagi didepannya seperti tadi" ucap Yuriko

"Memangnya kenapa?" Ten-Ten mulai ambil suara

"Ah... bukan apa-apa... tapi... etto... jika kalian tidak mau dihantui oleh orang tua Naruto, aku mohon jangan lakukan" ucap Yuriko gugup

"Maksudmu orang tua Naruto telah... " ucapan Shion tak selesai karena Yuriko langsung berjalan cepat menuju dapur

Terbesit rasa bersalah didada Shion, walaupun dia sejak tadi diam tapi itu juga salahnya karena membiarkan sahabatnya ini berkicau semaunya. "Apa aku harus minta maaf? Tapi itu bukan salahku, lalu siapa yang harus disalahkan?" fikiran Shion penuh dengan pertanyaan.

.

... Naruto Side

Naruto berjalan menyebrangi jalan mengarah ke anak kecil yang sedang menangis, sepertinya benar apa yang dikatakan Shirou pada Yuriko. Shirou tahu kalau Naruto senang berada didekat anak-anak.

"Hei, Ouji-san, kenapa kau menangis?" tanya Naruto pada anak kecil itu

"Hiks... Hiks... aku tersesat dan aku tak tahu dimana mama sekarang... Hiks" jawab anak kecil itu sambil menangis tersedu-sedu

"Hmm... mau ice cream?" tawar Naruto

Anak kecil itu mengarahkan matanya kearah ice cream ditangan Naruto, entah kenapa anak kecil itu mulai menangis lagi dan sekarang lebih keras. "Hwaaa... " tangis si anak kecil
Semua orang yang berlalu lalang lansung mengarahkan tatapan mereka ke arah Naruto, Naruto menelan ludah takut ia dikira penculik anak.

"kenapa kalian melirikku seperti itu? Kemana saja kalian saat anak kecil ini menangis tadi" ucap Naruto dalam hati

"Ke... ke... kenapa kau malah menangis semakin keras?" tanya Naruto gugup

"Aku... aku... aku tidak suka coklat... apa ada yang lain?" jawab anak kecil itu disela sela tangisnya

"Sial, aku fikir ada apa" fikir Naruto

"Baiklah, kalau kau tak suka coklat, jadi ayo kita beli selain coklat ditoko itu" ucap Naruto semangat sambil menunjuk tempat bekerjanya

"AYOOO" teriak anak itu penuh semangat

"Ternyata perasaan anak kecil itu mudah berubah" fikir Naruto saat ia menatap anak didepannya

"Pegang tanganku" ucap Naruto

Anak kecil itu menurut apa yang dikatakan Naruto, Mereka berdua berjalan menyebrang jalan. Anak kecil itu tak henti-hentinya tersenyum, mungkin kabut kegembiraan sedang mengelilinginya. "Siapa namamu?" tanya Naruto

"Kouta" jawab anak kecil itu cepat

Mereka berdua masuk ketoko ice cream, bunyi lonceng terdengar tanda ada pelanggan, "Selamat datang" ucap Yuriko cepat sambil membungkukkan badan, saat Yuriko menegakkan badannya seketika ucapannya tadi sia-sia. Disana ada Naruto yang menatap Yuriko dengan pandangan aneh, sedangkan Yuriko memandang Naruto balik dengan tatapan tak kalah aneh.

Yuriko mengarahkan pandangannya kearah anak kecil yang digandeng Naruto, "Naruto, kau tahu kan kalau disini bukan penitipan anak kan?" ucap Yuriko

"Tenang saja, aku yang bertanggung jawab" balas Naruto

"terserah kau saja lah" timpal Yuriko

Naruto melihat sekitar, "wah, sepertinya penuh tempat duduknya" ucap Naruto

Dan saat ia melihat kesamping, lagi-lagi Naruto mendapatkan pemandangan yang tak enak dipandang mata menurutnya. Tiga perempuan tengah mengarahkan pandangannya kearah Naruto, merasa tatapannya dibalas, satu persatu perempuan itu mengalihkan pandangannya. "Haah... apa boleh buat" ucap Naruto lemas

Naruto menarik Kouta kearah tiga perempuan itu, "Bisa dia duduk disini?" tanya Naruto pada Shion

"Eh... tentu, lagipula ini meja untuk empat orang" jawab Shion dengan semu merah samar diwajahnya

"Arigatou, nah kau duduk disini bersama kakak ini" ucap Naruto pada Kouta

"Lalu ice creamnya?" tanya Kouta dengan raut wajah gelisah

"Tenang saja, aku akan segera mengambilkannya" jawab Naruto

"Dan kalau kau butuh apa-apa saat aku tidak ada, kau bisa meminta tolong bibi itu" sambung Naruto sambil menunjuk Yuriko

"Aku mendengar itu Naruto" cibir Yuriko

"OK" jawab Kouta

Naruto yang tadinya berjongkok kemudian berdiri berniat untuk kembali kedapur, tapi ada sesuatu yang mengganggunya, "Ah... senpai... soal tadi... aku minta maaf" ucap Naruto pada Temari tanpa memalingkan wajahnya lalu berjalan didapur

"Shirou... kau punya selembar kertas dan spidol?" tanya Naruto

"Hmmm... sepertinya ada ditas, kau bisa ambil sendiri kan?" jawab Shirou

"Baiklah" balas Naruto singkat

Saat Naruto membuka membuka tas Shirou, Naruto menemukan senuah amplop merah. Seketika rasa penasaran Naruto timbul. Setelah membuka amplop itu, Naruto mendapati sebuah surat, "Surat cinta?" tanya Naruto pada diri sendiri. Senyum jahil mulai mengembang diwajahnya, "Ini akan menjadi hal yang mengejutkan" ucap Naruto dalam hati

Naruto mengembalikan surat itu dalam kondisi seperti semula, ia melanjutkan tujuan utamanya yaitu mencari selembar kertas dan spidol. Setelah mendapatkannya ia kemudian berjalan keluar dapur menuju Kouta yang sepertinya sedang bercanda dengan Shion, tak lupa sebuah ice cream vanilla ditangannya.

"Apa kau suka vanilla?" tanya Naruto pada Kouta

"Ya... sangat" jawab Kouta mantap

"Baguslah kalau begitu, ini pesanan anda Tuan Kouta" ucap Naruto sambil menaruh ice cream didepan Kouta

"Apa kau bisa menulis namamu sendiri?" sambung Naruto dengan pertanyaan

"Hmmm... sepertinya bisa" jawab Kouta ragu-ragu

"Tulis namamu disini" perintah Naruto dengan menyodorkan kertas kosong dan sebuah spidol

"K... " dia eja satu-satu

"Ah, aku ambil plester dulu" ucap Naruto lalu pergi meninggalkan Kouta yang sedang sibuk menulis namanya sendiri

.

.

.

Beberapa menit kemudian Naeruto kembali dengan sebuah plester ditangannya, "Bagaimana? Sudah selesai?" tanya Naruto

"Sudah, ini" balas Kouta sambil menyerahkan kertas itu

Naruto memicingkan matanya, "Senpai, kau yang menulisnya?" tanya Naruto curiga pada Shion

"Eh... bu.. bukan aku yang menulisnya... mu... mungkin Temari atau Ten-Ten yang menulisnya" jawab Shion gugup

"Kouta, siapa yang menulisnya?" tanya Naruto

"Kakak cantik ini yang menulisnya" jawab Kouta sambil menunjuk Shion yang ada disampinya

Seketika itu rona merah tipis terlihat dipipi Shion, "ppfffttttt" Temari dan Ten-Ten menahan ketawanya

Naruto kemudian berjalan keluar toko lalu menempelkan kertas itu dijendela dengan tambahan "Dia disini"

Naruto masuk dan berbicara pada Kouta, "Baiklah, tinggal tunggu Ibumu datang kemari" ucapnya tenang.

A Few Minutes

Seorang wanita membuka pintu dengan nafas terengah-engah, "Kouta?" ucap wanita itu cukup keras. Kouta pun menoleh dan mendapati ibunya ada disana. "Mama!?" balas Kouta, Kouta langsung berlari dan jatuh dalam pelukan ibunya. Naruto, Shirou, Yuriko dan karyawan yang ada didepan melihat itu.

Shirou menghampiri wanita itu dengan selang beberapa langkah kaki dia berhenti, "Hmm... Apa benar anda Ibunya?" tanya Shirou memastikan

"Iya... Terimakasih sudah menjaga Kouta, dia tadi lepas dari pengawasan" jawab wanita itu

"Baiklah... lain kali pastikan dia tetap ada disamping anda nyonya. Soalnya banyak penculik sekarang, contohnya dia, wajahnya memang cantik tapi dia suka kentut sembarangan" Shirou melawak sambil menunjuk Yuriko. Semua pelanggan tertawa kecil

"HOI... apa hubungannya penculik dan kentut? Dan juga aku tidak kentut sembarangan bodoh" Yuriko protes

"Aku hanya mengibaratkan, jadi tetap jaga anak anda, kalau perlu rantai saja dia. Dan kalau mau berterima kasih jangan kepadaku, tapi kepada pemuda berambut mencolok itu" Shirou melawak lagi sambil menunjuk Naruto

Naruto yang tadinya berjalan kebelakang langsung menegokkan kepala ke arah Shirou, "Siapa yang kau sebut pemuda berambut mencolok?" tanya Naruto malas

"Kau lah, rambutmu itu mencolok dalam kegelapan" balas Shirou

"Ini masih lebih baik daripada rambut hitam kusutmu itu" Naruto tak mau kalah

Pelanggan seperti dapat pertunjukkan lawak gratis, semua tertawa kecil menonton hal itu tak terkecuali kakak kelas Naruto.

A Few Hours

"Naruto, aku duluan" pamit Shirou mau pulang

"Ya... hati-hati" balas Naruto

Semua karyawan mengucapkan hal yang sama pada Naruto. Setelah dirasa cukup, Naruto langsung berjalan kekantor pemilik toko, "Paman, aku pulang dulu" ucap Naruto,

"Oh... Hei Naruto apa kau punya teman yang bisa diajak kerja paruh waktu? Sepertinya kita kekurangan tenaga" tanya pemilik toko

"Aku tidak punya teman sekolah yang mau diajak kerja, Paman tahu sendiri aku bersekolah ditempat diamana uang adalah penguasa" jawab Naruto panjang lebar

"Hmm... baiklah, aku bisa mengerti. Kau boleh duluan, nanti aku saja yang menutup tokonya" balas pemilik toko

"Ya... aku pulang dulu. Jangan malam-malam dan kurangi monitor itu" Naruto pamit sambil menasehati

"Hasshh, kau ini... dasar bocah" ucap pemilik toko sambil tertawa kecil

Naruto keluar dari toko itu, saat dia membelokkan badan lagi-lagi jalan terasa sangat sempit. Shion masih berdiri dipinggir jalan, entah kenapa Naruto merasa dunia sangat sempit. Mau tak mau Naruto harus menyapanya, Naruto sebenarnya tidak ingin melakukan itu tapi karena trotoar yang hanya 2 meter itu berbicara lain. Kalaupun Naruto tak menyapanya, Shion pasti menoleh dan memandangnya aneh.

Naruto berjalan mendekat, "Belum pulang?" tanya Naruto malas

Shion terkejut karena dari tadi dia tidak menyadari kedatangan Naruto.

"Ah... Etto... Aku baru dari toko buku disana dan aku menunggu taksi karena supir sedang mengantar ayah" jelas Shion

"Tidak ada taksi yang lewat sini, soalnya ini sudah jam 8 lebih dan mereka tidak akan lewat" ucap Naruto menjelaskan

"Eh... Benarkah?" ucap Shion tak percaya

Shion segera mengambil ponsel disakunya kemudian menelfon seseorang, beberapa detik kemudian raut wajahnya nampak masam. Naruto menyadarinya, fikirannya berkata untuk segera meninggalkannya tapi hati kecilnya berkata jangan. "Akan kuantar pulang" ucap Naruto pelan

"Benarkah?" tanya Shion memastikan dengan wajah ceria

"Apa aku pernah berbohong?" tanya Naruto balik

"Hmm... Pernah, waktu kau bilang kakakmu seorang kepala polisi. Apa itu bukan kebohongan?" jawab Shion

"Asshh... kalau aku tidak bilang seperti itu, aku tidak akan tahu jadi seperti apa kau sekarang" jawab Naruto sambil melangkah kedepan

"Apa maksudmu?" tanya Shion lagi

"Lupakan, dan aku akan mampir ke kedai ramen sebentar, kau tidak keberatan kan?" balas Naruto

"Tak apa yang penting aku sampai rumah" jawab Shion

Mereka berdua berjalan dengan pelan, Naruto dibelakang dan Shion didepan. "Kenapa kau sangat pelan? Ada yang aneh dengan bagian belakang tubuhku?" tanya Shion

"Tidak, kalau aku yang jalan didepan dan kemudian aku tidak menyadari kau ditarik orang, pasti aku nanti yang repot" jawab Naruto

"Hmm... kalau begitu jalan disampingku kan bisa" Shion memperlambat langkahnya

"Terserah kau sajalah" jawab Naruto santai

.

.

.

HINATA STORY

"Ingat Hinata, waktumu hanya tinggal besok. Waktu untuk membuktikan kalau kau memang ratu diamana semua pria disekolah tunduk padamu"

"Apa kau harus mengatakannya berulang kali? Aku ingat itu, dan akan kubuktikan" cakap Hinata

"Ya Ya, aku hanya mengingatkan, siapa tahu kau lupa dengan hal itu"

"Mengingatkan? Kau mengatakannya sudah sepuluh kali dengan inti yang sama" balas Hinata sinis

"Eh Benarkah? Ya baiklah, Oyasumi O-HI-ME-SAN"

Hinata menutup ponselnya, "Dasar ekor kuda" cibirnya

"Paman, bisakah kia berkeliling sebentar?" tanya Hinata pada supir

"Baiklah Nona" jawab san supir

Mobil yang Hinata tumpangi berkeliling didaerah pertokoan, "Apa jalan-jalan dimalam hari itu menyenangkan? Lihat mereka" tanya Hinata melepas bosan

"Ya, saya kira itu menyenangkan. Tapi tetap harus berhati-hati karena sudah malam" jawab sang supir

Hinata menolehkan kepalanya kesamping dan memandang keluar, sekelebat matanya melebar. Hinata melihat Naruto dan kakak kelas mereka sedang berjalan berdampingan. Masih memastikan ia melihat kebelakang dari jendela belakang mobil, ternyata benar apa yang ia lihat. Hinata tak mempunyai rasa apa-apa dengan Naruto tapi melihat Naruto dengan perempuan lain selain dirinya, Ia tak suka.

Sang supir yang melihat dari kaca depan bertanya pada Hinata, "Ada apa nona?" tanyanya

"Ehh... tidak, tidak ada apa-apa, kita langsung pulang paman" jawab Hinata

"Lalu tidak jadi berkeliling?" tanya balik sang supir

"Tidak" jawab Hinata singkat

"Baik nona" balas supir

.

.

.

Naruto Story

Naruto berjalan beriringan dengan Shion, Kedai ramen searah dengan arah yang mereka tuju. "Nee, apa setiap hari kau bekerja disana?" Shion memulai pembicaraan

"Hmm... kecuali hari minggu, kenapa?" tanya Naruto balik

"Tidak, hanya ingin tahu saja" balas Shion

Naruto merasahidupnya semakin kacau akhir-akhir ini, mulai dari Hinata, masuk klub, Shion. Tanpa sadar ia mengacak-acak rambutnya sendiri, Shion melihatnya, "Kenapa denganmu?" tanya Shion lagi

"Ehh... hmm... etto... lupakan, kedai ramen sudah dekat" Naruto menglihkan pembicaraan

Mereka berdua sudah sampai didepan kedai, "woo, sepi, mungkin karena sudah jam 8 lebih" ucap Naruto

"Permisi" ucap Naruto dan Shion bersamaan

"Ah... selamat datang" jawab Teuchi

"Oh... kau Naruto, wah sudah jarang kau datang" sambung Teuchi

"Ha Ha, akhir-akhir ini aku sedang sibuk paman, aku pesan seperti biasa" jawab Naruto sambil memesan ramen

"Baik, dan kekasihmu itu mau pesan apa?" ucap Teuchi tanpa fikir panjang

"Eh... Kekasih? Mana ada orang sepertiku dapat perempuan cantik seperti dia" Naruto juga menjawab tanpa fikir panjang

"Jangan merendah seperti itu Naruto" Ayame yang tiba-tiba muncul dibelakang Naruto

"HWAAA... " teriak Naruto kaget

"Oh... Ayame Nee-san, kau tidak berubah sama sekali" sambung Naruto

"Sudahlah Ayame" lerai Teuchi

"Jadi kekasihmu ini mau pesan apa Naruto?" sambung Teuchi

"Kan aku sudah bilang, dia bukan kekasihku paman. Kenapa tidak paman tanyakan langsung padanya apa yang dia mau" bantah Naruto

"Woi... jangan marah seperti itu Naruto, ayah hanya bercanda" Ayame berkomentar

Shion merasakan kalau Naruto itu bukan anak yang nakal. Seharusnya murid-murid lain juga harus merasakan kebaikan Naruto, tapi mereka terlalu bodoh menganggap Naruto hanya masalah kalau didekat mereka. "Jadi, kau mau pesan apa?" tanya Teuchi pada Shion

"Eh... Ettoo... " terlalu banyak pilihan ramen dari yang Shion baca didinding

"Hmm... sama seperti yang dia pesan" Shion memesan ramen yang sama dengan yang dipesan Naruto

"Baiklah, tunggu sebentar" jawab Teuchi

Beberapa menit kemudian ramen yang mereka pesan sudah siap, "Ini dia, 2 ramen porsi besar untuk kalian berdua" ucap Teuchi

Shion memandang ramen didepannya tak percaya, "Hei bodoh, apa aku harus kenapa tidak kau bilang kalau yang kau pesan itu porsi besar?" tanya Shion tak terima, Shion seperti dipermainkan oleh adik kelasnya sendiri

"Eh.. kau tidak bertanya, memangnya kenapa dengan porsi besar?" tanya Naruto

"Eh... itu... bukan urusanmu" jawab Shion singkat

"Ah kau ini Naruto, pantas saja tidak ada perempuan yang mau denganmu, kau tidak mengerti kepribadian perempuan" Ayame memotong pembicaraan

"Eh!? Memangnya kenapa? Lagipula aku juga tidak begitu mementingkan perempuan" Naruto menjawab sambil melahap ramennya

"Asshh... perempuan itu takut berat badan mereka naik, jadi mereka harus mengatur pola makannya" jawab Ayame

"OHH... kalau begitu pesanlah yang lain, yang itu nanti aku yang makan" suruh Naruto pada Shion

Shion merasa tidak enak dengan perlakuan baik Naruto padanya, "Ah... Etto... tidak usah, yang ini saja mekipun nanti tidak habis" jawab Shion

Beberapa menit kemudian ramen Naruto habis, ramen Shion hanya habis setengah saja. Naruto melirik Shion dengan ekor matanya, "Apa mungkin semua perempuan takut berat badan mereka naik? Sebuah kepercayaan bodoh takut berat badan naik" fikir Naruto

Setelah membayar, mereka berdua keluar dari kedai dan melanjutkan jalannya, semua saling diam tak ada yang membuka percakapan. Lama mereka berdiam tanpa adanya satupun diantara mereka yang berbicara, mereka berdua sibuk dengan fikiran mereka sendiri. Tahu-tahu mereka berdua sudah sampai dikediaman Shion. "Ah... sudah sampai, aku pulang dulu" ucap Naruto

"Tidak mau mampir dulu?" tanya Shion menawarkan

"Tidak usah, terima kasih" Naruto langsung melangkahkan kakinya

.

.

.

Naruto berjalan pelan dilorong sekolah, tak lupa dengan sebuah earphone menempel ditelinganya. Memandang kedepan dengan pandangan malas, lagi dan lagi Naruto memandang sekumpulan orang yang mengelilingi sesuatu, "Ah, apa setiap hari aku harus melihat hal seperti itu" fikir Naruto

Mau tak mau Naruto harus melewati kerumunan manusia yang belum sempurna dari evolusi mereka, Naruto melihat hal yang sama setiap harinya, Hinata yang sedang mendengarkan ocehan murid laki-laki yang sedang memintanya untuk jadi kekasih Hinata. Naruto sedikit terkejut karena laki-laki yang sedang mengutarakan perasaanya adalah laki-laki yang kemari Hinata tolak dengan halus.

"Kalau kau ingin sebuah hubungan dimana pasangannya saling mengenal, maka aku ingin mengenalmu lebih dari yang orang-orang tahu" ucap laki-laki itu

Naruto tersenyum geli dengan perkataan seperti itu, tak mau membuang waktu, Naruto memberanikan diri membelah kerumunan. "Permisi, boleh aku lewat" ucap Naruto

"Semua mata langsung mengarah ke Naruto, tak lebih dari lima detik, kerumunan itu membelah dengan sendirinya. "Arigato" ucap Naruto dengan senyum yang dibuat-buat.

Naru berjalan pelan dan berhenti tepat disamping Hinata, "Yo, senpai... kau ingin perempuan ini jadi kekasihmu?" tanya Naruto tanpa menolehkan kepala ataupun badannya

Meras diberi harapan oleh adik kelasnya, laki-laki itu menjawab pertanyaan Naruto dengan antusias, "Ya Ya, bagaimana caranya?" tanya laki-laki itu

Hinata memandang Naruto tak percaya, Hinata merasa dirinya sedang direndahkan oleh Naruto. "Baiklah, jika kau sangat ingin... dengarkan dan pahami kata-kataku" ucap Naruto

Tak hanya laki-laki itu yang ingin mendengarnya tapi juga kerumuna yang ada disana juga memasnag raut wajah serius, Hinata hanay diam dan menahan amarahnya pada Naruto. Hinata hanya dekat dengan Naruto selama beberapa hari, mana mungkin Naruto tahu tentang dirinya.

"Penting untuk mengetahui kapan harus menyerah" ucap Naruto lalu kembali berjalan meninggalkan kerumunan

Semua yang mendengar hal itu tercengang tak terkecuali Hinata. Hinata fikir Naruto akan mengatakan hal-hal aneh tentang dirinya, tapi ternyata berbanding terbalik. Seketika amarah Hinata hilang dengan cepat, tapi tidak bagi laki-laki yang merasa dipermainkan oleh Naruto. "Lihat saja nanti, Uzumaki" ucap Laki-laki itu dalam hati.

.

.

In The Class

"Ohayou, Naruto-kun" sapa Hinata senang

"Hmm... Ohayou" sedangkan Naruto hanya membalasnya malas

"Terima kasih untuk yang tadi" ucap Hinata

"Terima kasih? Yang tadi? Memangnya apa yang aku lakukan?" tanya Naruto

"Ah... kau ini... perkataanmu dilorong pada senpai tadi sangat berani" jawab Hinata

"Hmm... memangnya ada yang salah dengan kata-kataku tadi?" tanya Naruto lagi

"Dasar bodoh, kata-katamu tadi sama saja dengan merendahkan dan menyuruh orang untuk menyerah" balas Hinata

Naruto merasa bosan mendengarkan perempuan disampingnya itu mengoceh tanpa henti, seketika muncul sebuah ide. Naruto membuka tasnya dan mengambil sebuah buku, "Tugas Fisika, aku yakin kau belum mengerjakannya" ucap Naruto

"EHH... Benarkah? Kenapa setiap hari rasanya ada pelajaran Fisika" ucap Hinata kemundian menyabet buku yang ada ditangan Naruto dengan cepat

Hinata segera menyalin tugas milik Naruto, sejenak ia berhenti "Nanti jangan pulang dulu, kau harus datang keruang klub, kami menggunakan idemu kemarin" ucap Hinata kemudian melanjutkan lagi kegiatannya

Naruto hanya menghembuskan nafas kepasrahan, sulit untuk menolak ucapan Hinata. "Hei Naruto-kun!?" panggil Hinata disela-sela kegiatannya

"Hmmm... " balas Naruto malas

"Tadi malam kau kemana dan apa yang kau lakukan?" tanya Hinata

"Ada apa memangnya?" tanya Naruto balik

"Aku tidak menyuruhmu untuk balik bertanya, jawab saja pertanyaanku tadi" balas Hinata

"Melakukan hal yang tidak akan dilakukan orang kaya seperti kalian" jawab Naruto

"Hmm... Hal apa?" Hinata masih bertanya

"Itu diluar urusanmu" jawab Naruto jengkel

"Bukannya tadi malam kau kencan dengan Shion-senpai" ucap Hinata apa adanya

"Hah... jangan bodoh, mana mungkin aku berkencan dengannya, dan juga kenapa kau bisa berbicara seperti itu? Apa kau membuntutiku?" tanya Naruto sambil melihat keluar jendela

"Tidak ada untungnya aku membuntutimu" balas Hinata

.

.

.

Sepulang sekolah

Hinata menarik Naruto menuju ruang klub, Hinata takut kalau Naruto tidak akan datang keruang klub, "Hoi, bisa kau lepaskan aku? Aku bisa jalan sendiri" ucap Naruto

"Tidak, kalau aku melepaskanmu, nanti kau akan lari pulang dan tidak akan datang keruang klub" balas Hinata

"Hah... Kami-Sama, tolong aku" doa Naruto

Mereka berdua sampai didepan ruang klub, sepertinya yang lain sudah sampai. "Konichiwa Minna" salam Hinata sambil menggeser pintu

"Kenapa kalian lama sekali? Apa kalian melakukan hal-hal aneh saat jadi yang terakhir dikelas" ucap Ino

"Jangan berfikir macam-macam" ucap Naruto dan Hinata bersamaan

"Woo... sungguh serasi" goda Kiba

Kegiatan menata ruang klub pun dimulai, Semua benda ditata serapi mungkin agar cukup untuk kegiatan yang akan mereka lakukan pada festival nanti, "Padahal festival masih lama, kenapa persiapannya sangat awal?" keluh Kiba

"lebih cepat lebih baik" jawab Hinata cepat

"Aku kira ini sudah cukup, tembok sebelah sini akan jadi background" ucap Ino

"Mengapa tidak sekalian kita bersihkan, tanggung kalau hanya seperti ini" sambung Hinata mematahkan perkataan Ino

"Benar kata Hinata" Kiba setuju

"Hinata, apa kita punya pembersih kaca?" tanya Sakura

"Hmm... sepertinya tidak punya, aku akan minta pada pembersih sekolah" balas Hinata lalu melangkah keluar dari ruang klub

Naruto merasa canggung berada diantara anggota lain tanpa Hinata, "Hei Naruto, apa kau akan berdiam diri disitu terus?" tanya Ino

"Heh... Memangnya apa yang kalian harapkan dari orang sepertiku?" tanya Naruto balik

"Kau tahu Naruto, kau adalah satu-satunya laki-laki yang bisa sangat dekat dengan Hinata" ucap Sakura

"Ya, dan kalau kau ada disalam anime yang pernah aku tonton kau mendapat julukan Super Duper Beruntung" sambung Ino

"Lalu jika kau dalam anime itu, kau mendapat julukan apa?" tanya Naruto

"Aku? Orang sepertiku mendapat julukan Super Duper Terkenal" jawab Ino bangga

"Dan yang mendapat julukan itu, dialah yang mati pertama" balas Naruto dengan senyum meremehkan

Kiba memandang aneh tiga orang didepannya, "Mau sampai kapan kalian berdebat, Naruto bantu aku mengangkat lemari ini" pinta Kiba, Naruto hanya menurut

Acara bersih-bersih sudah selesai, Naruto masih diruang klub melihat-lihat sebuah buku yang ada dilemari. Naruto tersenyum melihat foto-foto didalamnya, Mulai dari sebuah foto festival tahun-tahun yang dulu sampai kecerobohan beberapa anggota klub lain. "Woo... yang ini terbakar" ucap Naruto spontan melihat foto sebuah tenda yang didirikan terbakar.

"Hinata, aku duluan. Semoga sukses" ucap Ino

Sekarang hanya tinggal Naruto dan Hinata didalam ruang klub, Hinata merasakan keringat dingin mengucur dikeningnya, darahnya terpompa hebat, jantung berdebar cepat dari normal. Hinata mengaktifkan recorder diponselnya, "Naruto-kun!?" panggil Hinata

"Hmm... " balas Naruto tanpa memalingkan pandangannya dari buku didepannya

"Apa... Apa... " Hinata gugup

"Apa?" tanya Naruto

"Apa... Apa... Apa kau menyukaiku?" ucap Hinata cepat

Seketika pandangan Naruto mengarah keorang yang sedang berbicara dengannya, terlihat Hinata tengah menahan malu dengan apa yang ia katakan. Pandangan Hinata mengarah kearah lain, mencoba menghindari tatapan Naruto

Naruto menutup buku dan mengembalikannya kedalam lemari, Naruto mengambil tasnya dan berniat keluar dari ruang klub. "Naruto-kun!?" ucap Hinata cukup keras

Naruto menghentikan langkahnya tapi tidak pada pandangannya, "Apa kau menyukaiku?" Hinata mengulangi perkataannya lagi

"Aku senang kau mau dekat denganku"

"Aku senang bisa mempunyai teman mengobrol saat kau ada disampingku"

"Walaupun aku bersikap acuh saat kau berbicara, percayalah aku mendengarkan dengan baik"

"Aku senang mendengar kau memanggilku dengan nama belakangku" ucap Naruto lagi dan lagi

"Aku tidak tahu permainan atau lelucon apa yang kau lakukan saat ini" sambung Naruto

"Ini buka lelucon" jawab Hinata cepat

"Baiklah kalau begitu, jika ini bukan lelucon. Aku sama sekali tidak menyukaimu" ucap Naruto lalu berjalan keluar ruang klub

Sebelum menutup pintu ia berhenti dan mengucapkan sesuatu

"Gomene"

To Be Continued

.

.

YO Minna... Gomen lama
Saya harap kalian puas
Tetap saya tunggu review kalian, untuk yang reviewnya belum kebalas itu karena saya belum sempet
Injak tombol favorite dan follow ya, Don't Forget It
Share juga diFanpage atau pada teman-teman kalian
Kalau ada typo harap lapor dan juga dimaklumi

Apa akan mencapai 300 review? Saya harap bisa. Kalaupun gak bisa tetap saya tunggu
Jaa Naa in Next Chapter