DESTINY


.

.

Naruto hanya milik Masashi Kishimoto-san

Banyak kekurangan dalam fict ini

Typo dimana-mana ( mungkin )

Enjoy This

.

.

Opening Word New Method Esoragoto

.

.

Aku mendengarkan dongeng saat aku tidak bisa tidur

Mungkin ceritanya hanyalah fiksi

Jika aku terus mengenang masa lalu tentang penyesalanku

Itu karena aku lebih memilih untuk menerimanya dari pada mengalaminya lagi

Mungkin karena ada kegelapan didalam hatiku

Dan aku mencoba untuk tetap yakin

Ya, aku yakin aku masih bisa mencintai diriku sendiri

Bahkan jika dunia terbelah menjadi dua

Pagi akan datang setelah malam

Dan perasaanku sudah terbiasa dengan kegelapan

Aku tidak akan lagi melihat kebelakang dan melangkah kedepan

DAN MEMBUAT INI MENJADI CERITA TANPA SKENARIO

Aku akan menentukan takdirku sendiri

Dan terbang lebih jauh lagi dari sebelumnya

.

.

.


Chapter 13

"Aku senang kau mau dekat denganku"

"Aku senang bisa mempunyai teman mengobrol saat kau ada disampingku"

"Walaupun aku bersikap acuh saat kau berbicara, percayalah aku mendengarkan dengan baik"

"Aku senang mendengar kau memanggilku dengan nama belakangku" ucap Naruto lagi dan lagi

"Aku tidak tahu permainan atau lelucon apa yang kau lakukan saat ini" sambung Naruto

"Ini buka lelucon" jawab Hinata cepat

"Baiklah kalau begitu, jika ini bukan lelucon. Aku sama sekali tidak menyukaimu" ucap Naruto lalu berjalan keluar ruang klub

Sebelum menutup pintu ia berhenti dan mengucapkan sesuatu

"Gomene"

Hinata hanya diam tak melakukan apa-apa, Hinata menghembuskan nafas berat setelah apa yang baru ia dengar, "Aku kalah" ucap Hinata santai

"Aku harap hukuman dari dua perempuan itu tidak berat" sambung Hinata lalu mengemasi barang-barangnya yang tergeletak diatas meja

.

.

Naruto berjalan santai tak menggubris hal yang baru saja terjadi, tidak mungkin dirinya itu akan menyukai anak orang kaya. Naruto sadar diri siapa dia sekarang, kehidupannya berbeda dari yang dulu, semua berubah dengan cepat.

"Hoi Uzumaki!" suara berat memanggil Naruto, Naruto tak bisa mendengarnya karena telinganya sudah tersumpal earphone sejak dia meninggalkan ruang klub tadi. Merasa diacuhkan si pemanggil menarik pundak Naruto agar Naruto menghadap kearahnya.

Sebuah pukulan keras mendarat dipipi Naruto, Naruto jatuh tersungkur dengan bibir berdara. "Hei bodoh, itu untuk tadi pagi karena sudah mempermainkan senpai-mu ini" ucapnya

Naruto melihat kearah sipemukul, ternyata benar kalau orang yang memukulnya adalah orang yang tadi pagi diberi harapan palsu oleh Naruto. Tiga orang mengelilingi Naruto dengan wajah bringas seperti predator yang sudah menemukan mangsa.

Naruto hanya diam tak bergerak, dan lagi, satu tendangan mengenai perut Naruto. Naruto hanya bisa meringis kesakitan, Tendangan demi tendangan masih saja mendarat ditubuh Naruto.

"HENTIKAN!" teriak seseorang dengan keras dari belakang mereka,

Ketiga senpai tersebut langsung berhenti dan mengarahkan pandangannya kearah orang yang berteriak tadi. "Apa urusanmu?" teriak salah satu senpai

"Ini bukan urusanku tapi ini wilayah sekolah, bodoh" balasnya

"Lalu?" tanya senpai

"Aku sudah memanggil sensei dan kalian akan tahu akibatnya jika tidak kalian hentikan" balasnya lagi

"Cihh, merepotkan, kau beruntung Uzumaki" ucap senpai sambil berlalu pergi

Naruto diam menahan sakit, Naruto mencoba berdiri tapi gagal. Ia terus mencoba tapi gagal terus, "Apa ini milikmu?" tanya orang yang menghentikan kejadian tadi

"Ha... ha... " ucapan Naruto terputus-putus

Shion mencoba membantu Naruto berdiri, "Ini" ucap Shion sambil memberikan ponsel Naruto yang terjatuh, "Ayo kita ke UKS dulu, lukamu cukup parah" ucap Shion

"Ti... tidak perlu" balas Naruto

"Tapi lukamu itu... " ucapan Shion diputus Naruto

"Aku sudah bilang tidak perlu, aku tahu tempatku berada" ucap Naruto dingin

"Lalu kenapa kau tidak membalasnya?" tanya Shion lagi

"Membalasnya? Satu pukulan yang aku buat maka ratusan penderitaan yang akan aku dapat" jawab Naruto

"Jangan bodoh, jika luka itu dibiarkan... " lagi-lagi perkataan Shion terpotong

"Aku bilang tidak perlu ya tidak perlu, kenapa kalian orang kaya selalu berpegang teguh pada pendirian kalian, setidaknya dengarkan orang lain yang lebih rendah ini bicara" potong Naruto panjang lebar

Shion tak bisa berbuat apa-apa, ia hanya berdiri diam tanpa ada kata yang terucap. Naruto menyadari perubahan raut wajah Shion, "Gomene... tidak seharusnya aku berkata begitu dengan orang yang sudah mau menolongku, Arigatou" ucap Naruto sambil dibarengai dengan senyuman

Shion lagi-lagi merasakan perasaan tenang saat Naruto tersenyum padanya, jantung Shion berdebar kencang diberi senyuman oleh Naruto. "Jaa Naa" salam Naruto sambil berjalan pergi dengan tertatih-tatih

"Mau aku antar?" tawar Shion

"Aku bukan rubah yang lupa jalan pulang" balas Naruto sambil melambaikan tangannya tanpa menghadap Shion

Sementara itu Hinata menyaksikan kejadian itu dari jendela ruang klub, tidak ada ekspresi sedikitpun diwajah manisnya, "Pertunjukkan yang bagus, Uzumaki" ucap Hinata

Naruto mengambil ponsel dari dalam sakunya, ia mencari sebuah nomor seseorang yang perlu ia hubungi, "Halo, Shirou!?" ucap Naruto

"Hmm...?"

"Hoi, apa kau tidur dikelas?" tanya Naruto

"Tidak, hanya malas-malasan saja, jadi ada apa?"

"Ahh, bilangkan pada paman kalau aku tidak bisa datang hari ini" ucap Naruto

"Baiklah"

Percakapan selesai, Naruto memasukkan ponselnya kedalam saku. Saat ia menarik earphonenya, sungguh sial, kabel earphone milik Naruto putus. "Haah, sepertinya aku harus beli baru" ucap Naruto sedih.

"Hei Nak, sepertinya kau harus pergi kedokter. Darah itu keluar terus" ucap seorang paman yang sedang berdiri disamping mobil mewah didepan gerbang sekolah

"Ohh, kau teman nona Hinata yang pernah kulihat" sambung paman itu

"Apa kita pernah bertemu? Wajahmu mengingatkanku pada seseorang" tanya paman itu

"Kita hanya bertemu satu kali malam itu" ucap Naruto lalu berlenggang pergi

Mau tak mau Naruto harus menuruti kata paman itu, "Hah, dokter.. dokter.. dokter" ucap Naruto berulang-ulang, "Earphone... earphone... earphone" juga kata tersebut

"Hah... aku rasa dokter lebih dulu" ucap Naruto lemas

Naruto berjalan menuu keklinik terdekat dengan badan tegap menutupi sakitnya.

.

.

.

Naruto berbaring santai disofa apartemennya, ia menatap plafon putih didepan matanya. Sebuah perban membalut pergelangan tangannya, Earphone baru menempel ditelinganya. "Aku kira besok akan ada hal buruk" ucap Naruto pelan. "Apa kau menyukaiku? Apa kau menyukaiku? Apa kau menyukaiku? Apa kau menyukaiku?" kata-kata itu terus terdengar dikepala Naruto

"Argghh" teriak Naruto sembari mengacak-ngacak rambutnya, "Apa mungkin jawabanku salah?" tanya Naruto pada dirinya sendiri. Ponsel milik Naruto berdering, "Shirou!?" ucap Naruto saat melihat siapa yang menelfon

"Ada apa?" tanya Naruto

"Ahh, perempuan berambut putih yang kemarin datang lagi dan menanyakanmu"

"Lalu?" tanya Naruto lagi sambil membelai kucing yang tidur diatas perutnya

"Dia bertanya apakah dia bisa meminta alamatmu"

"Apa kau berikan?" tanya Naruto lagi

"Belum"

"Bagus, apapun yang dia berikan padamu jangan pernah beritahu alamatku" suruh Naruto

"Apa kau kira aku gila harta, tenang saja"

"Baguslah" jawab Naruto sambil menutup telefon

Naruto menaruh ponselnya sembarang, ia hanya bisa melepas nafas lega. "Shion-senpai, mungkin besok aku harus bicara dengannya, aku bosan berurusan dengan orang seperti mereka" ucap Naruto

.

.

.

Hinata, Sakura, Ino sedang berada didalam cafe, wajah Hinata tampak lesu. Lesu karena kalah taruhan dengan dua sahabatnya ini, "Nee Hinata, bisa kita ulang rekaman itu? Aku tak percaya dia tidak menyukaimu" Sakura bermaksud meledek

"Hah!? Kau sudah mendengarnya 5 kali dan kau ingin lagi?" Hinata protes

"Sepertinya rasa percaya dirimu itu membunuhmu, sekarang hukuman apa yang harus kami berikan untukmu!?" sambung Ino

"Apa kalian akan menghukum sahabat kalian yang cantik ini?" ucap Hinata sambil membuat dirinya tampak kasihan

"Kami tidak akan mengasihimu Hinata, kalaupun kau menang pasti juga kau bakal menghukum kami" ucap Sakura

Ino mendapatkan sebuah ide yang cocok, "Hei Sakura, sepertinya aku menemukan hukuman yang cocok buat Hinata, sini dekatkan telingamu" ucap Ino, Ino membisikkan idenya pada Sakura,

"Ahh... Itu ide bagus" Sakura setuju

Hinata hanya bisa memandang aneh kedua sahabatnya ini, Hinata berharap hukuman itu tidak terlalu memalukan baginya. "Kau akan tahu besok Hinata, bersiap-siaplah" ucap Ino

"Apa kalian menghukumku dengan cara menemani pria-pria mesum?" tanya Hinata

"Mana mungkin kami melakukan hal itu bodoh, pokoknya tenang saja ini tidak berbahaya sama sekali" balas Sakura

"Awas saja kalau sampai aneh-aneh, aku tidak akan memaafkan kalian" ancam Hinata

"Jadi apa hukumanku?" sambung Hinata dengan pertanyaan

"Kau akan tahu besok" balas Ino

.

.

.

Sekumpulan siswa mengelilingi sesuatu ditengah-tengah mereka, "Aku tidak akan menyerah untuk menyatakan cintaku padamu, Hinata-san" ucap seorang pria

"Apa kata-kata yang kemarin tidak sampai dikepalamu?" tanya Hinata angkuh

"Penting untuk mengetahui kapan harus menyerah" sambung Hinata

"Tapi yang aku tahu kau itu menginginkan orang yang bisa memenuhi permintaanmu, bukan hal seperti mengenal seseorang lebih dalam atau apalah itu" elak seorang pria yang ternyata senpai yang kemarin dan kemarinnya lagi

Naruto menyandarkan tubuhnya ditembok tak berniat untuk mengganggu kegiatan tersebut, earphone Naruto masih tertempel ditelinganya. Ia memejamkan mata dan hanyut dalam lagu yang ia dengar

"Kalaupun kau bisa memenuhi semua permintaanku tetap saja ada hal yang akan selalu aku ingat" ucap Hinata

Pandangan senpai mengarah kemata Hinata, pandangan Hinata mengartikan kalau dia sudah bosan dengan hal-hal yang pria itu lakukan

"Aku tidak menyukaimu" sambung Hinata

Hinata berjalan mundur dan membalikkan badannya "Bisa kalian minggir, aku mau lewat" ucap Hinata pada kerumunan itu. Siswa maupun siswi mulai membelah untuk memberikan jalan dan mulai bubar satu persatu.

Saat Naruto membuka matanya dan mengarahkan pandangannya ke kerumunan, Naruto mendapatkan kalau kerumunan itu sudah mulai bubar meninggalkan hal-hal itu. Naruto melepas earphonenya dan memasukkannya kedalam saku. Naruto berjalan pelan menuju kelasnya, senpai masih berdiri mematung ditempatnya tadi.

Senpai menyadari kehadiran Naruto saat Naruto melewatinya, "Hoi Uzumaki" panggil senpai

Naruto membalikkan badannya, "BUUKKKK!" satu pukulan cepat dari senpai mendarat dengan keras dipipi Naruto. Seperti kejadian kemarin sore, Naruto jatuh tersungkur hanya dengan satu pukulan, "Kau... kau... kau lah yang menyebabkan semua ini terjadi!" ucap senpai keras sambil meluapkan amarahnya

"Kau menghasutnya agar tidak menerimaku sebagai kekasihnya kan!" ucapnya lagi dan sekarang lebih keras

Naruto berdiri dan mengusap mulutnya yang berdarah, luka dipergelangan tangan yang kemarin mengeluarkan darah lagi. "Aku tidak ada hubungannya dengan semua itu" jawab Naruto

Siswa dan siswi yang tadinya berniat pergi mengurungkan niatnya, mereka serasa mendapat tontonan gratis. "Jangan mengelak bodoh! Seharusnya orang sepertimu pergi dari sekolah ini!" ucap senpai

"Kenapa aku harus pergi? Kau tidak membiayaiku disini" balas Naruto tenang

"HAH!? Apa aku harus menjadi orang tuamu!? Seharusnya orang tuamu itu tahu diri dimana seharusnya anaknya disekolahkan, hanya orang tua bodoh yang tidak tahu diri" ucap senpai lagi dan lagi

Naruto tersentak kaget atas ucapan senpainya, "Dan kau harus merasakan apa yang telah kau perbuat padaku walaupun itu secara tidak langsung!" ucap senpai keras sambil berlari kedepan hendak memukul Naruto

Sebuah pukulan penuh amarah mengarah kewajah Naruto, Naruto diam berdiri memandangi sebuah kepalan tangan yang mengarah padanya.

"BUUKK!" pukulan mendarat dengan keras, senpai tersungkur karena pukulan Naruto diwajahnya. Ternyata Naruto menghindari pukulan tadi hanya dengan menggeser tubuhnya dan mengembalikan itu kepada senpai

Senpai berdiri dan meludah kelantai, ludah bercampur darah terlihat jelas. "Be... Be... Beraninya kau memukulku, kubalas kau!" amarah senpai sudah pada puncaknya

"Hentikan" ucap seseorang dari belakang senpai

Semua mata mengarah kearah orang itu, "Ini bukan urusanmu, Neji!" senpai berteriak kearah Neji

"Tentu saja ini urusanku karena semua ini menyangkut tentang Hinata-sama" ucap Neji

Senpai mulai menenangkan diri, ini semua karena Neji adalah ketua klub karate disekolah mereka. Membuat masalah dengan Neji sama saja dengan ingin meminta tulangmu patah olehnya. "Arggghhh! Aku tak tahan dengan semua ini" teriak senpai dan kembali berlari kearah Naruto,

"Bodoh" ucap Neji tenang

Naruto tetap tenang seperti tadi, pukulan melayang lagi kearah Naruto. Dengan mudah Naruto menghindarinya, "Kau tidak akan bisa menghindar lagi bodoh" ucap senpai dan ternyata tangan yang satunya sudah siap menabarak wajah Naruto

"PLAAKK!" pukulan ditangkis Naruto dengan mudah juga, "Bodoh" ucap Naruto lalu menendang senpai kebelakang, lagi-lagi senpai tersungkur

Senpai masih mencoba berdiri, "Aku bilang hentikan!" teriak neji cukup keras. "Kau tidak akan menang" sambung Neji

Rasa sakit mendera senpai, tendangan tadi meninggalkan sakit yang bisa dirasakan senpai. Senpai jatuh terduduk sambil memegang perutnya untuk mengurangi rasa sakit.

"Ada apa ini!?" tanya Shion yang baru saja datang kemudian menghampiri senpai

"Ada apa denganmu? Siapa yang melakukan semua ini?" tanya Shion lagi

Shion mengarahkan pandangannya ke Naruto yang tengah berdiri tegap. Tatapan mata Naruto datar tanpa ekspresi, "Apa yang kau lakukan bodoh!? Apa kau mencari masalah!? Kau harus bertanggung jawab!" ucap Shion dengan keras pada Naruto

Naruto membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan orang-orang disana, Senpai masih meringis kesakitan, "Sebaiknya kita segera ke UKS" ucap Shion cepat

Naruto berhenti dan berbalik kemudian berjalan cepat kearah senpai, Kakinya sudah siap menendang senpai kapan saja,Shion membelalakkkan matanya . "CUKUP, UZUMAKI NARUTO!" Teriak Neji lagi dengan suara yang lebih keras dari sebelumnya

Naruto menurutinya, ia segera menghentikan aksinya setelah teriakan Neji, "Aku muak dengan orang-orang seperti kalian" ucap Naruto pada semua murid yang ada disana

Naruto berbalik lagi dan berjalan pergi, sebelum itu ia membalikkan kepalanya dan menatap senpai dengan pandangan dingin, "Senpai, aku marah bukan karena kau memukuliku sejak kemarin" ucap Naruto

"Jangan pernah bawa-bawa orang tuaku dalam masalah seperti ini, mereka tidak akan tenang disurga" sambungnya lagi

Naruto melanjutkan jalannya lagi, pergelangan tangan Naruto yang diperban menampakkan bercak darah yang cukup banyak. Naruto tak peduli dengan hal itu, ia hanya ingin segera pergi kekelas dan menenangkan diri.

.

.

.

Naruto sampai didepan kelas, ia mengeser pintu dan masuk kelas dengan tenang. Saat Naruto melihat sekeliling, Naruto mendapati tatapan yang amat tidak bersahabat. Tak menghiraukan tatapan itu, Naruto berjalan santai kebangkunya yang ada dipojok kelas.

Disana tak ada lagi Hinata yang duduk disampingnya, "Akhirnya hidupku jadi tenang sekarang" ucap Naruto dalam hati. Hinata sudah kembali duduk dengan kelompoknya, entah Naruto harus sedih atau senang dia tak tahu. Naruto duduk dan menenggelamkan kepalanya dalam lipatan tangan, "Mungkin perbuatanku tadi berlebihan" ucap Naruto pada dirinya sendiri

Semua murid berjalan cepat dan duduk dibangkunya masing-masing, Guru datang dengan sebuah buku pelajaran yang dibawanya. Guru melihat sekitar dan dirasa tidak perlu mengabsen karena semua bangku sudah terpenuhi kecuali yang ada disamping Naruto. Kelas itu mempunyai satu bangku kosong yang dipakai Hinata waktu itu. Dan sekarang Hinata sudah kembali kedalam komunitasnya.

Guru menjelaskan secara mendetail tentang Fisika, ia menjelaskan panjang lebar tanpa berhenti. "Jadi momen adalah... " penjelasan guru terputus karena melihat murid yang meringkuk menaruh kepalanya diatas meja dan menggunakan tangannya sebagai bantal, "Uzumaki-san.. " panggil guru itu

Naruto diam saja tak berkutik, guru itu menghampiri Naruto dan menepuk pundak Naruto, "Uzumaki-san!?" panggilnya lagi

Naruto mengangkat kepalanya, "Ah, Gomene sensei, aku tidak tahu kalau anda sudah datang" ucap Naruto setelah melihat gurunya

"Jarang sekali kau seperti ini... " ucap guru itu

"Dan kenapa dengan tanganmu?" sambung guru dengan pertanyaan

"Ahh... Etto... ini hanya jatuh saat naik sepeda kemarin" jawab Naruto bohong

"Sebaiknya kau pergi ke UKS sekarang" saran guru

"Hah, baiklah sensei, maaf aku meninggalkan pelajaranmu" ucap Naruto sambil berdiri dari duduknya

Lagi-lagi semua mata memandang remeh Naruto, Naruto menyadari itu. Tak terkecuali Hinata, Hinata juga memandang Naruto dengan tatapan seolah dia ingin Naruto pergi. Lagi dan lagi, Naruto masih bisa bersabar soal hal itu.

Naruto berjalan pelan ke UKS, dia merasa kalau lorong yang menghubuungkan dia dengan UKS terasa sangat panjang dari sebelumnya. "Aku membuang-buang tenaga tadi pagi, bodohnya kau Naruto, kenapa kau harus memukulnya" ucap Naruto pada dirinya sendiri

"Haah, akhirnya sampai" ucap Naruto lega

Naruto hendak menggeser pintu tapi sebuah suara memaksanya berhenti untuk melakukan itu,

"Aku sudah bilang untuk tidak membuat masalah dengannya, dan kau tahu kalau aku tidak suka kekerasan" ucap Shion keras didalam UKS

"Dan yang membuatku bersalah adalah karena aku menyalahkan orang lain tanpa tahu akar masalahnya" sambung Shion

"Seharusnya kau tidak ikut campur tadi... Ittaiiii... pelan-pelan sensei" balas senpai

"Ah kau ini, kau kan laki-laki jadi tahanlah sedikit" ucap Shizune sambil terus mengobati bibir senpai yang robek

"Permisi" ucap Naruto sambil menggeser pintu

Shion, Senpai, Shizune melihat kearah Naruto

"Ada apa hmm... siapa namamu?" tanya Shizune

"Bisa aku minta perban?" minta Naruto

"Ada dikotak kecil disana dan setidaknya sebutkan namamu!?" ucap Shizune

"Arigato gozaimasu" ucap Naruto datar setelah mengambil hal yang ia cari tanpa menyebutkan namanya

Naruto memandang senpai yang sedang duduk bersebelahan dengan Shizune dan juga Shion yang berdiri disampingnya, Naruto menatap senpai dan begitupun sebaliknya. Mata senpai penuh dengan rasa benci pada Naruto sedang Naruto menatap malas senpai, "Aku tidak akan minta maaf untuk itu" ucap Naruto lalu berjalan keluar dari UKS

"Glekk" pintu menutup dengan sempurna tanpa celah, senpai hanya bisa menahan amarahnya, kalau dia membuat masalah lagi, mungkin dialah yang akan hancur sendiri. "Shion, terima kasih untuh yang tadi, kalau kau tidak disana mungkin aku sudah pingsan" aku senpai kalau dia lemah

"Hah, kedudukanku sebagai ketua OSIS disekolah ini akan turun karena melerai kakak kelas dan adik kelas yang berkelahi" ucap Shion

"Dan bagaimana kau bisa kalah dengan adik kelas? Harga dirimu hilang sudah" sambung Shion

"Tunggu, jadi anak tadi yang berkelahi denganmu? Dasar bodoh, aku kira kau pria sejati, kalau mencari lawan itu yang seimbang, apa kau tidak lihat tangannya dibalut perban tadi dan saat dia kesini tadi kurasa lukanya terbuka lagi dan darahnya membuat perban itu basah oleh darah" ucap Shizune sensei

"Dan kau kalah, itu sungguh memalukan" sambung Shizune sambil tertawa kecil

"Lain kali aku pasti menang" ucap senpai sambil mengepal tangannya kuat

"Tidak ada lain kali, bodoh" ucap Shion

"Sepertinya aku harus kembali kekelas, tolong urus dia Shizune-sensei" sambung Shion lalu beranjak pergi

Setelah Shion pergi suasana didalam UKS menjadi canggung, "Hei, apa kau tahu kalau yang dia tadi bohong?" tanay Shizune

"Ehh... benarkah? Aku fikir perkataannya cukup meyakinkan" balas senpai

"Aku berani taruhan kalau dia tadi tidak kembali ke kelas, mungkin dia mengejar anak yang tadi kesini" ucap Shizune

"Heh? Darimana anda bisa seyakin itu?" tanya senpai

"Dasar bodoh, aku ini pernah merasakan masa-masa remaja seperti kalian ini, dan kalian belum pernah merasakan masa-masa seumuranku jadi aku tahu" jawab Shizune

"Terserah anda sajalah, lagipula aku tidak peduli dengannya" balas senpai

.

.

.

Naruto duduk bersandar dibawah pohon di halaman belakang sekolah, ia mengganti perban yang sudah berlumuran darah dengan perban yang ia dapat di UKS tadi. "Kurasa ini akan lama sembuhnya" ucap Naruto saat melihat lukanya sendiri

"Apa aku boleh duduk?" izin Shion

Entah sejak kapan Shion sudah berdiri disamping Naruto, Naruto hanya diam saja. Merasa diacuhkan Shion bertanya lagi dengan suara yang lebih keras, "Apa aku boleh duduk?" tanya Shion lagi

"Ini bukan sekolah milikku, kalau mau duduk tinggal duduk saja" jawab Naruto tanpa megalihkan pandangannya dari pergelangan tangannya yag sedang ia balut dengan perban

Akhirnya Shion duduk disamping Naruto, "Apa ada yang bisa aku bantu?" tanya Shion

"Tidak ada" jawab Naruto singkat

"Senpai, aku mohon jangan pernah dekat denganku, aku hidup sendiri disekolah ini" ucap Naruto

"Jangan bodoh, disekolah ini banyak orang yang bisa berteman denganmu" balas Shion

"Sekolah? Berteman? Itu bagimu, bagiku sekolah ini hanyalah kebun binatang dimana akulah pengunjung yang datang sendirian" ucap Naruto sinis

Shion diam tak bisa membalas

Semua saling diam tanpa ada percakapan, Shion tenggelam dalam fikirannya sendiri, "Aku harus minta maaf" fikir Shion

"Anoo... Naru... " ucapan Shion terputus karena Naruto sudah mulai bangkit dari duduknya

Dengan cepat Shion memegang tangan Naruto bermaksud agar dia tidak pergi dulu, "Tangan yang hangat" fikir Shion saat tangannya bersentuhan dengan tangan Naruto

"Anoo... Aku minta maaf karena salah sangka tadi pagi, aku tidak tahu bagaimana rasanya kalau orang tua mu diejek seperti itu tapi yang aku tahu itu pasti sangat menyakitkan" ucap Shion

"Bisa lepaskan aku? Aku ingin kembali kekelas" ucap Naruto

Karena kaget Shion melepaskan pegangannya dengan cepat, "Ah.. aku... aku tidak bermaksud" ucapan Shion tak selesai karena dia bingung sendiri

"Sampaikan permintaan maafku untuk senpai" ucap Naruto sambil berjalan meninggalkan Shion

"Aku akan menyelesaikan semuanya disini, aku tidak akan lagi berhubungan dengan orang-orang seperti mereka" fikir Naruto

.

.

.

"Sepertinya jam pelajaran fisika sudah habis" ucap Naruto setelah mendengar suara seperti pasar dari dalam kelasnya

Naruto menggeser pintu kemudian masuk tanpa permisi, benar yang difikirkan Naruto kalau suasana ramai selalu ada setiap pergantian jam. Lagi dan lagi, Naruto tak menghiraukan orang-orang yang sedang bergosip, berdandan, main ponsel dan yang lebih parah ada yang berolahraga dengan sikap scout-jump dikelas. Penyakit Rock Lee sudah mulai menular di kelasnya.

Naruto duduk dan mengambil selembar kertas dan pulpen dari tasnya, ia menulis sesuati diatasnya. Setelah selesai ia bangkit dan berjalan menghampiri Hinata yang tengah bermain ponselnya. "Hyuuga-san" panggil Naruto

Merasa dipanggil Hinata mengalihkan pandangannya dari layar ponsel, Naruto memberikan selembar kertas itu dan kembali ketempat duduknya.

Hinata tidak tahu apa maksud Naruto, ia memeriksa kertas yang ditinggalkan Naruto tadi dan membacanya, "Aku keluar dari grup" tulisnya singkat

Hinata menyimpan kertas itu didalam laci mejanya, kemudian berfokus kembali dengan ponselnya. "Hinata!?" panggil Ino,

"Apa?" jawab Hinata

"Ini hukumanmu, kau harus datang kesini dan temui pemiliknya. Aku sudah bilang kemarin dan dia menyetujuinya" ucap Ino sambil memberikan secarik kertas berisikan alamat

"Ini bukan alamat bar malam atau tempat dimana orang-orang mesum berkumpul kan?" tanya Hinata waspada

"Aku sudah bilang kan kalau aku tidak akan mencelakai sahabatku sendiri" elak Ino

"Baiklah" balas Hinata santai dan berfokus lagi dengan ponselnya.

.

.

.

Naruto berjalan santai ditrotoar dengan jaket yang melekat dibadannya, Ia berjalan menuju tempatnya bekerja. "Sepertinya akan hujan" ucap Naruto saat dia menatap langit. Awan abu-abu datang dengan cepat dari arah selatan

"Anak muda!?" ucap seseorang

Naruto menoleh dan menemukan nenek-nenek yang sedang kebingungan, terlihat jelas dari raut wajahnya. "Wajah keriput, banyak lekukan kulit, mata yang mulai menyipit itu menandakan nenek itu sedang kebingungan" fikir Naruto

"Tunggu, nenek-nenek memang seperti itu Naruto" ucap Naruto dalam hati

"Ada apa nek?" tanya Naruto dengan sopan

"Apa kau tahu arah kerumah sakit? Aku ingin menjenguk cucuku tapi sepertinya aku tersesat" balas nenek itu

"Wah... rute dari sini kerumah sakit terlalu rumit untuk orang seumurannya" fikir Naruto

"Hmm... karena arahnya terlalu susah jadi ayo ikuti aku nek, aku akan mengantarkan anda" ucap Naruto

"Apa tidak merepotkan?" tanya nenek memastikan

"Tidak nek, lagipula kita searah jadi tidak usah sungkan" bohong Naruto. Tempat kerja Naruto tidak searah dengan arah rumah sakit.

Naruto mengeluarkan ponselnya dan mengirim sebuah e-mail pada Shirou, "Aku mungkin akan terlambat" ketik Naruto lalu mengirimnya

.

.

"Kita sampai nek" ucap Naruto lega

"Wah, terima kasih banyak anak muda" balas nenek itu

"Ini untukmu" sambung nenek itu sambil menyodorkan sebuah lolipop kepada Naruto

"Tidak perlu nek, aku ikhlas menolongmu" tolak Naruto

"Aku memaksa anak muda" nenek itu bersikeras

"Ah baiklah, terima kasih nek" ucap Naruto lalu berjalan pergi

Naruto berjalan sedikit cepat karena ia sudah terlambat, walaupun dia sudah memberitahu Shirou tapi tetap saja terlambat adalah hal yang tidak baik. Lama kelamaan langkah cepat Naruto berubah menjadi lari, semua orang melihatnya dan bahkan ada yang menyemangati Naruto, "Kobarkan semangatmu, anak muda!" ucap seorang petugas kebersihan dengan keras

Naruto hanya menoleh dan memberikan lambaian tangan pada paman itu. Naruto mengambil jalan pintas, ia melewati gang demi gang. "Mungkin semua sedang sibuk sekarang, aku harus cepat-cepat" fikir Naruto.

Naruto sampai didepan pintu belakang toko, karena karyawan kalau masuk selalu lewat pintu belakang. Dengan cepat Naruto membuka pintu itu dengan cepat, "Maaf aku terlambat, apa kalian sedang kerepotan?" ucap Naruto saat ia baru masuk

Sepertinya pemikiran Naruto terbantahkan soal sedang sibuk, "Shirou, kenapa kau malah santai-santai seperti itu!? Aku mendengar banyak pelanggan di depan!" ucap Naruto keras setelah melihat Shirou sedang santai membaca komik sambil menikmati sebuah ice cream dibangku kecil

"Hmm!? Ada karyawan baru dan dia bekerja dengan baik, saat aku bilang aku ingin membantunya dia bilang tidak usah repot-repot" jelas Shirou

"Karyawan baru? Siapa?" tanya Naruto

"Entah, aku juga belum berkenalan karena aku juga sedikit terlambat tadi" jawab Shirou sambil menutup komiknya

"Ayo lakukan yang terbaik" ucap Shirou semangat

Naruto mengambil celemek yang tergantung rapi disamping pintu, "Oh... daripada membaca komik tadi kenapa kau tidak mencuci piring-piring itu?" tanya Naruto

"Itu kebodohanku" jawab Shirou sambil memukul kepalanya sendiri dan menjulurkan lidah

"Bisa kau ambilkan sabun digudang? Yang ini persediaan sudah menipis" pinta Shirou pada Naruto

"Baiklah, tunggu sebentar" ucap Naruto

Naruto berjalan menuju gudang, ia jarang masuk kegudang karena ia selalu meminta Yuriko untuk mengambilkan sesuatu digudang. "Aku harap aku bisa menemukan buku fantasi digudang" fikir Naruto konyol

Naruto masuk dan menekan saklar lampu disamping pintu, "Woi, cukup rapi untuk sebuah gudang" ucap Naruto seakan-akan baru pertama kali masuk gudang

Naruto menemukan yang ia cari, sekardus sabun tepat dihadapannya.

"Meja no 4 memesan ice cream coklat dengan pisang" ucap Karyawan baru

"Baiklah, segera ku buatkan" ucap salah satu karyawan

"Heh Shirou... aku menemukan yang ka... " perkataan Naruto terputus setelah melihat karyawan baru

Shirou menoleh kearah Naruto, tatapan mata Naruto mengarah pada karyawan baru yang sedang menunggu pesanan. Begitu juga sebaliknya, karyawan baru itu menatap Naruto kaget

"Apa yang kau lakukan disini!?" tanya keduanya bersamaan

"Apa kalian saling mengenal?" tanya Shirou

"Ini pesanannya, meja no 4" ucap karyawan yang membuatkan pesanan tadi

"Ah, terimakasih" ucap karyawan baru itu lalu berjalan pergi mengantar pesanan

Naruto merasa hidupnya tidak akan seperti dulu lagi, "Bagaimana cantik tidak menurutmu?" tanya Shirou

"Apanya?" Naruto tak paham

"Lupakan, dan mana sabunnya? Ayo bantu aku" balas Shirou santai

.

.

. Hujan deras datang bersama dengan angin, sudah tidak ada pelanggan yang datang, "ini masih lama dari jam tutup" ucap Naruto saat melihat hujan dari balik kaca toko

"Apa yang kau lakukan? Menari-nari agar hujan berhenti?" ucap Shirou

"Sebaiknya kau duduk dan nikmati waktu luang ini" sambung Shirou sambil membalik halaman komiknya

Naruto menurut, tak ada salahnya bersantai saat bekerja.

"Jadi Hyuuga-san, kenapa kau bekerja paruh waktu? Yang aku tahu keluarga Hyuuga itu sangat kaya" tanya Yuriko pada Hinata

Ternyata hukuman dari dua sahabatnya itu adalah bekerja paruh waktu ditempat yang sama dengan Naruto bekerja. "Hmm... Ini hanya untuk laporan kegiatan sekolah" bohong Hinata

Naruto tahu kalau tidak ada tugas dari guru tentang bekerja paruh waktu, tapi Naruto memilih untuk diam daripada ikut campur urusan orang lain.

"Hmm, jadi begitu... kau bersekolah dimana?" tanya Yuriko lagi

"Konoha Summer High School" jawab Hinata

"Eh benarkah? Landang kuning disana juga bersekolah disitu" ucap Yuriko sambil menunjuk Naruto yang ada disisi lain

Merka berempat ada didepan sedangkan yang lain mengobrol didapur, karyawan lain memang lebih tua dari mereka berempat tapi selalu bersikap baik kepada mereka.

"Siapa yang kau panggil landak kuning!?" protes Naruto

Samar-samar Naruto mendengar sebuah ketawa yang ditahan, dan itu tidak lain adalah Shirou yang ada didepannya. "Kenapa kau tertawa? Apa kau tertawa karena lelucon yang dibuat Yuriko oba-san?" Naruto memanggil Yuriko dengan panggilan itu lagi

"Siapa yang kau panggil oba-san?" protes Yuriko

Hinata tersenyum tipis melihat hal itu, ia merasakan kalau disini ia merasa tenang dengan orang yang baru dikenalnya.

"Huh... apa kau merasakan gerah?" tanya Naruto pada Shirou

"Jangan bodoh, hujan seperti ini dan kau merasa kepanasan? Mungkin hormon ditubuhmu mulai kacau" jawab Shirou mengejek

"Buka saja jaketmu" sambung Shirou

Naruto melakukannya, ia menurunkan resleting, "Hoi Naruto! Apa kau akan telanjang dada disini!?" teriak Yuriko

"Tidak, aku memakai kaos, apa kau mau melihatku telanjang dada?" goda Naruto

"Lakukan dan kursi ini akan melayang kewajah Shirou" Yuriko menargetkan Shirou

"Ehh... kenapa aku? Baiklah aku akan telanjang dada" Shirou serasa mendapat perintah secara tak langsung

"Jangan lakukan, nanti Yuriko nee-san bisa pingsan" ucap Naruto sambil tertawa kecil

Setelah Naruto melepas jaketnya dan menaruhnya disampingnya rasa gerah tidak terlalu mendera tubuhnya, "Woi Naruto, Kenapa dengan tanganmu itu!?" tanya Shirou saat melihat pergelangan tangan Naruto dibalut perban

"Ah.. ini... ini... ini" Naruto tak bisa menjawab

"Kenapa dengan tanganmu, Naruto?" Yuriko juga ikut bertanya

"Biar aku tebak, kau menyelamatkan seorang gadis cerobah yang menyebrang sembarangan" tebak Shirou

Hinata terkejut mendengar perkataan Shirou, perkataan Shirou sama seperti saat Naruto menolongnya dulu. "Klep" lampu tiba-tiba mati, seluruh ruangan gelap gulita.

"Kyaaa... " Hinata menjerit

Yuriko yang ada didekatnya panik, "Ada apa Hyuuga-san? Apa kau takut dengan kegelapan?" tanya Yuriko, "Apa lampu tidak akan menyala lagi?" tanya Hinata

"Hmm, sepertinya ada pohon roboh yang menimpa kabel listrik" tebak Yuriko

"Tapi tenang saja, kami ada didekatmu" sambung Yuriko

"Siapa yang kau maksud dengan kata 'kami'?" tanya Shirou sebal karena komiknya belum selesai dibaca

"Jangan mengeluh, Naruto mungkin digudang ada lilin, bisa kau memeriksanya!?" pinta Yuriko

"Baiklah" ucap Naruto lalu bangkit dari duduknya

Naruto meraba-raba sekitar karena gelap, tangannya menyentuh sesuatu yang kenyal dan berlekuk-lekuk. "Hah... Yuriko Nee-san aku memegang wajah sadako" ucap Naruto takut

"Itu wajahku, bodoh" ucap Shirou

"Kenapa kau tidak pakai ponselmu saja?" tanya Shirou

Naruto segera melepaskan tangannya dari wajah Shirou, "Tapi ponselku ada saku jaket, jadi pinjamkan punyamu" ucap Shirou

"Ponselku ada ditas, jadi mana mungkin aku meminjamkannya" balas Shirou

Hinata merogoh sakunya dan mengambil ponselnya, ia menekan beberapa tombol dan flashlight di ponsel Hinata menyala, "Pa... Pa... Pakai ini saja" ucap Hinata gugup

Naruto bingung harus menerimanya atau tidak, "Yah karena dia yang menawarkan, jadi aku ambil saja" fikir Naruto

Naruto berjalan menghampiri cahaya dari ponsel Hinata, "Bisa kau arahkan kearah lain? Silau" ucap Naruto pada Hinata

Mendengar itu Hinata segera mengarahkannya kearah lain, "WOI... juga tidak kesini mengarahkannya" protes Yuriko

Dengan cepat Hinata segera mengarahkannya kebawah, Hinata gugup karena banyak orang yang baru ia kenal tingkahnya sudah seperti itu. "Sok akrab" fikir Hinata

Naruto segera menengdahkan telapak tangannya, Hinata langsung memberi ponselnya pada Naruto. Beberapa sekon kulit mereka bersentuhan satu sama lain. "Naruto, tolong ambilkan tasku juga ya!?" pinta Shirou

"Baiklah" jawab Naruto santai

Naruto berjalan menelusuri kegelapan toko dengan ponsel Hinata, "Ternyata toko ini kalau gelap seperti ini juga cukup menyeramkan" ucap Naruto dalam hati

Naruto masuk kedalam dapur dan menemukan karyawan lain tengah bergurau mengitari lilin, "Oh Naruto, apa kau mencari lilin? Aku hanya menemukan tiga didepan. Jadi setiap kelompok mendapat satu-satu" ucap Karyawan yang menyadari kedatangan Naruto

"Dan mungkin bos juga tidak ada lilin jadi tolong berikan ya" sambung karyawan itu

"Ah baiklah" ucap Naruto lalu menerima dua lilin dan menyalakannya satu

Naruto beralih menuju gantungan tas dekat pintu, tas Shirou tergantung seperti kepala manusia dari kejauhan.

Tiba-tiba flashlight ponsel Hinata mati, Naruto bingung harus melakukan apa. "Ah bagaimana ini!? Aku tidak tahu cara menggunakan ponsel ini" Naruto bingung karena ponsel Hinata adalah ponsel mahal yang berbeda jauh dengan ponsel Naruto. Merasa tidak ada yang bisa dilakukan, Naruto memasukkannya kedalam saku celananya.

"Woh.. ternyata benar tas milik Shirou seperti kepala manusia kalau dilihat dengan cahay seperti ini" ucap Naruto

Naruto segera menggendong tas Shirou dan berjalan kembali ketempat Shirou, "Arigatou minna, aku kedepan dulu" ucap Naruto pada karyawan lain. Karyawan lain hanya mengangkat tangannya sebagai balasan.

Naruto kembali menelusuri kegelapan dengan sebatang lilin yang menyala, sedangkan yang satunya masih dalam genggaman Naruto. "Aku akan mengantar lilin ini pada paman, jadi tunggu sebentar" ucap Naruto saat berada didepan

Naruto menuju ruang pemilik toko, "Permisi paman" Naruto membuka pintu,

"Masuk saja Naruto" jawab pemilik toko

Naruto masuk dan melihat pemilik toko sedang berkutat dengan laptop didepannya, "Aku kesini mengantar lilin" ucap Naruto

"Ah, Arigatou, kau bisa menaruhnya dimeja kecil itu" balas pemilik toko

"Baiklah" ucap Naruto dan segera menuju meja kecil disamping pemilik toko

Naruto melelehkan lilin itu dan menempelkannya dengan batang lilin yang dilelehkan. Lilin yang ada digenggaman Naruto mulai dinyalakan dengan lilin yang sudah menyala

"Kenapa kau menggendong tas? Apa kau sudah mau pulang" tanya pemilik toko

"Tidak, ini tas Shirou" jawab Naruto

"Hei Naruto, menurutmu bagaimana dengan karyawan baru itu?" tanya pemilik toko lagi

"Hmm... Shirou bilang dia bekerja dengan baik jadi aku rasa tidak ada masalah dengannya" jawab Naruto

"Baguslah kalau begitu, arigatou untuk lilinnya" ucap paman

"Ya, aku kembali dengan yang lain dulu" Naruto beranjak pergi

"Dan jangan bekerja dengan laptop dikegelapan" sambung Naruto

"Ah kau ini, sepertinya kau bisa menjadi penasihat pribadiku" balas pemilik toko sambil tertawa kecil

Naruto berkumpul lagi dengan Shirou, "Ini" ucap Naruto sambil menyerahkan tas milik Shirou.

"Ahh, kau memang yang terbaik Naruto" balas Shirou

"Jangan menggodaku dengan tampang bodohmu" ucap Naruto

Naruto kebingungan karena hanya ada satu lilin ditangannya. "Yuriko Nee-san, hanya ada satu 3 lilin dan aku mendapat satu lilin jadi kenapa kau tidak bergabung dengan kami" ucap Naruto pada Yuriko

"Hee? Seharusnya kalian para pria mengalah pada seorang perempuan seperti kami" Yuriko tak mau

"Itu tidak mungkin, karena Naruto lah yang mengambil lilinnya" Shirou juga tak mau kalah

"Hah, baiklah ayo Hyuuga-san, kita harus mengalah dengan remaja labil seperti mereka" Yuriko pasrah

Hinata hanya menurut karena ia juga tidak mau ditinggal sendirian dengan ditemani cahaya redup dari sisi bagian yang lain. Merka berdua menuju tempat Naruto dan Shirou berkumpul, Yuriko duduk bersebelahan dengan Shirou sedangkan Hinata duduk bersebelahan dengan Naruto. Naruto merasa canggung dengan Hinata duduk disampingnya.

"Baiklah, daripada sepi begini, ayo kita bahas kenapa kau kemarin tidak masuk kerja dan bagaimana kau mendapatkan luka-luka seperti itu" Shirou memulai percakapan

"Ah sudahlah, aku tidak ingin membahasnya" jawab Naruto

"Kau harus membahasnya Naruto, kenapa kau hanya menghubungi Shirou!? Kau tidak pernah menghubungiku sekalipun" Yuriko masuk dalam pembicaraan

"HEEEHH!? Kenapa kau jadi ikut-ikut?" Naruto mulai dipojokkan

Yuriko menganggukan kepala tanda ia sangat yakin kalau apa yang dikatakannya itu benar,

"Ah baiklah. Aku jawab pertanyaan Yuriko Nee-san dulu, kenapa aku hanya menghubungi Shirou, karena aku tidak mempunyai nomor ponselmu dan kita tidak pernah bertukar e-mail" jawab Naruto

"Benarkah!? Hmm baiklah aku perempauan pengertian" jawab Yuriko santai

"Nah sekarang, jelaskan kenapa kau bisa mendapat luka-luka itu" sambung Yuriko

Keringat dingin mulai mengalir di tubuh Naruto, ia tak mungkin menjawabnya karena penyebabnya ada disampingnya sendiri. "Dia tak mungkin menjawabnya, kita tanyakan saja pada teman satu sekolahnya, nah apa kau tahu yang terjadi dengan si pirang ini, Hyuuga-san?" tanya Shirou pada Hinata

"Oi jangan panggil aku seperti itu, kusut!" protes Naruto

Hinata menggelengkan kepalanya, "Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan Naruto-kun" jawab Hinata

"-kun!? Sudah sedekat apa kalian!?" tanya Yuriko penasaran

"OOOO... jangan-jangan kakak kelasmu yang melakukan ini!?" tebak Shirou dan langsung tepat sasaran

Naruto tersentak karena tebakan Shirou selalu tepat, "Jangan bodoh, aku tidak mempunyai masalah dengan orang-orang seperti mereka" elak Naruto

"Woi woi... kalian mengabaikan pertanyaanku" Yuriko protes

"Bagaimana kau bisa berfikir kalau kakak kelas yang melakukan ini!?" tanya Naruto

Hinata hanya mendengarkan perdebatan mereka, tak mau ikut campur urusan orang lain yang baru ia kenal. "Hmm... bagaiman ya menjelaskannya, mungkin kakak kelas itu ditolak oleh perempuan yang ia sukai dan kemudian melampiaskan amarahnya padamu" Lagi dan lagi tebakan Shirou sangat tepat membuat Naruto berfikir kalau Shirou adalah seorang penyihir.

"Kalian benar-benar mengabaikan pertanyaanku" ucap Yuriko sedih

"Ah, aku tak tahu harus menjawab apa, kalau kau mau tahu, datanglah kesekolahku setiap pagi dan kau akan menemukan jawabannya" balas Naruto

"Apa kau bodoh!? Sekolah kita itu berlawanan arah" ucap Shirou

Semua menjadi hening tanpa ada suara kecuali hujan dan angin dari luar, Shirou mengeluarkan selembar kertas dan pulpen, "Apa itu Shirou!? " tanya Yuriko

"Ini!? Angket akhir sekolahku, aku ingin masuk Universitas terbaik di Tokyo" jawab Shirou

"Bisa aku pinjam sebentar" pinta Naruto

Shirou meminjamkannya pada Naruto, Naruto membaca dengan teliti. "Hei Shirou, apa orang tuamu sanggup membiayaimu disini?" tanya Naruto

"Hah!? Apa kau pernah mendengar beasiswa!?" tanya Shirou

"Beha Siswa!?" tanya Hinata dengan wajah polosnya

"Beasiswa! Sebuah hadiah untuk orang berprestasi" jawab Naruto

"Ohh" Hinata mengangguk kecil

.

.

.

"Nee Hyuuga-san, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Shirou pada Hinata

"Panggil saja Hinata, dan apa yang mau kau tanyakan?" jawab Hinata

"Apa Naruto dekat dengan perempuan disekolah?" tanya Shirou

Hinata bingung harus menjawab apa karena Hinata tak tahu apakah Naruto dekat dengan murid perempuan disekolahnya, "Hmm... " Hinata masih berfikir

Sedangkan Naruto tak mau ikut campur hal seperti itu, "Apakah perempuan berambut putih juga bersekolah ditempatmu? Aku lihat dia sangat dekat dengan Naruto" tanya Shirou lagi

"Perempuan berambut putih!? Apa maksudmu Shion-senpai?" ucap Hinata

"Entah, tapi Naruto pernah menemaninya pulang waktu itu" balas Shirou

Entah kenapa Hinata tidak suka mendengar hal seperti itu, "Benarkah!?" Hinata penasaran

"Tunggu, bagaimana kau bisa tahu kalau aku mengantarnya pulang!?" tanya Naruto pada Shirou

"Kami berdua melihat dari sebrang jalan" ucap Shirou santai

Naruto meratapi kelalaiannya, ia tak menyangka kalau dua temannya ini seorang penguntit. "Baiklah Shirou, kau yang mulai" Naruto mulai angkat bicara

"Heh!? Apa kau mengancamku?" tanya Shirou

"Yuriko Nee-san, apa kau tahu Shirou mendapatkan surat cinta?" tanya Naruto

"Ehh, benarkah!? Dari siapa Shirou?" Yuriko penasaran

"Ja... jangan mengada-ngada Naruto" Shirou gugup

Naruto menampakkan senyum jahilnya, "Furasawa Hana, seorang gadis yang mengirim surat cinta pada Shirou" ucap Naruto

"Apa isinya Naruto?" rasa penasaran Yuriko meledak

"Hentikan, lagipula aku tidak menyukainya" balas Shirou cuek

Naruto mulai berfikir kembali, "Jika ada orang yang menyukaimu terimalah, kau akan menyesalinya saat dia tidak menyukaimu lagi" ucap Naruto

"Kau pintar dalam teori, tapi padahal kau sendiri masih sendirian" sambung Yuriko mengejek Naruto

"Itu karena aku hanya orang kalangan bawah dan tidak akan ada yang menyukaiku dan tidak ada yang akan aku sukai" ucap Naruto bangga

.

.

.

Hujan sudah reda tapi listrik masih mati, "mungkin besok pagi baru menyala" ucap Yuriko

Para karyawan satu persatu mulai pulang.

"Hyuuga-san, aku tidak tahu apa yang terjadi dengan ponselmu. Tadi tiba-tiba mati begitu saja" ucap Naruto sambil menyerahkan ponsel Hinata

Setelah diterima dan diperiksa ternyata ponsel Hinata kehabisan baterai, "Heh, bagaimana ini!? Aku tidak bisa menghubungi supirku untuk menjemputku nanti" ucap Hinata gelisah

"Pakai ini" ucap Naruto sambil menyerahkan ponselnya

Hinata menerimanya, Naruto kemudian pergi menuju ruang pemilik toko. "Paman, kami pulang dulu... woo berapa lama baterai laptop itu bertahan" ucap Naruto saat masuk keruangan

"Ahh, baiklah Naruto, kau boleh pulang dulu, nanti aku yang mengunci tokonya" jawab pemilik toko

"Konbawa" ucap Naruto lalu pergi keluar dari ruangan

Shirou, Yuriko, Hinata sudah ada didepan toko, genangan air hujan memenuhi tepi jalan. "Jadi apa supirmu akan menjemput?" tanya Naruto yang sudah ada dibelakang.

"Hmm... tapi dia bilang kalau dia pelan-pelan karena habis hujan jalanan akan licin" jelas Hinata

"Baiklah, kami duluan Naruto" ucap Shirou

Yuriko dan Shirou memang searah, "Hati-hati" balas Naruto

"Ini" ucap Hinata sambil menyerahkan ponsel milik Naruto

Naruto menerimanya dan langsung memasukkannya kedalam saku, Naruto hendak beranjak pergi sebelum Hinata memanggilnya,

"Na... Na... Naruto-kun!?" panggil Hinata

"Hmm?" Naruto menoleh

"Bi... bisakah kau menemaniku sampai supirku datang!?" pinta Hinata

Jantung Hinata berdetak dengan kencang, "Dasar bodoh, mana mungkin dia mau menemanimu setelah kau menjauhinya disekolah" fikir Hinata

"Boleh" jawab Naruto enteng

Hinata tak percaya dengan apa yang ia dengar, Ia hanya bersyukur karena orang yang ia jauhi disekolah ternyata sangat baik. Mereka berdua saling diam hanyut dalam fikiran masing-masing, Naruto terjebak lagi dengan orang-orang yang menjauhinya disekolah. "Ku harap supirnya akan cepat datang" doa Naruto

Dari kejauhan terlihat lampu mobil, "mungkin itu supir Hinata" fikir Naruto. Melihat dengan jelas, mobil itu melaju dengan cepat, sedangkan jarak Hinata hanya beberapa puluh meter.

"Splaasshhh" genangan air dipinggir jalan menyipratkan airnya kearah Hinata, sedangkan Naruto hanya terkena beberapa cipratan air. Baju yang dipakai Hinata basah kuyup dibagian atas.

"Hei bodoh, pelan-pelan kalau mengendarai mobil, disini ada orang" teriak Hinata pada mobil itu

Bagai bicara dengan tembok, "Mana mungkin dia mendengarmu?" ucap Naruto

"Pakai ini" sambung Naruto sambil mengatupkan jaketnya ke kepala Hinata

Naruto hanya memakai kaos, "Tapi bagaimana denganmu?" tanya Hinata

"Aku tidak akan kedinginan, khawatirkan dirimu" balas Naruto

Rona merah diwajah Hinata muncul, ia sudah berpuluh-puluh kali menolak laki-laki yang mengutarakan cintanya, tapi sepertinya sebuah tindakan kecil dari Naruto membuat Hinata merasa nyaman dari yang sebelumnya.

"Kenapa kau begitu baik padaku!?" tanya Hinata dengan wajah memerah

"Hmm... entah, aku juga tidak tahu" Bohong Naruto

"Apa kita pernah bertemu saat kecil?" tanya Hinata lagi

"Mana mungkin aku mengingat kejadian masa kecil" jawab Naruto

"Dan jangan berfikiran aneh saat aku berbuat baik padamu" sambung Naruto

Sebuah mobil berhenti didepan mereka berdua, itu adalah mobil yang menjemput Hinata. Sang supir keluar dan membukakan pintu untuk Hinata, "Maafkan saya Nona Hinata karena terlalu lama" ucap sang supir

"Nee, Naruto-kun, Apa kau tidak keberatan kalau aku mengantarmu?" tawar Hinata

"Tidak usah, lagipula aku juga harus kesuatu tempat" tolak Naruto

"Baiklah, Jaa Naa" ucap Hinata malu-malu

.

.

.

"Paman, kau dulu pernah bilang kalau kau pernah melihat temanku tadi kan, apa kau yakin?" tanya Hinata

"Entah, saya juga tidak terlalu yakin tapi yang pasti saya pernah melihatnya, memangnya ada apa Nona Hinata?" jawab sang supir

"Tidak, sepertinya aku juga pernah melihatnya dulu" jawab Hinata sambil memasukkan tangannya kesaku jaket Naruto. Tangan Hinata menemukan sebuah benda disaku jaket, Hinata mengambilnya dengan cepat,

"Lollipop!?"

.

.

.

To Be Continued


.

.

Yosh, complete sudah
Ada beberapa review yang belum dibalas, gomen karena jaringan lagi busuk
Dan juga buat Guest, anonymous, dan yang akunnya gak bisa PM, makasih udah review
Mungkin fict ini jelek tapi aku harap kalian menyukainya
Tetap saya tunggu reviewnya, tak perlu banyak tapi berbobot
Seperti apa yang harus saya lakukan dengan chapter yang akan datang
Jangan Cuma "Lanjut, Next, dll" boleh sih tapi setidaknya berikan kesan pesan terhadap fict buruk ini
See You in next chapter