DESTINY

.

.

Naruto hanya milik Masashi Kishimoto-san

Typo Dimana mana seperti ranjau darat

Enjoy This

.

Lost Time Memory

Bertahun- tahun kemudian bayanganmu tak hilang. Perasaanku semakin hebat

Aku berjongkok, menggambar sendiri

Dijalan menanjak dibawah sinar mentari, Kau dan Aku berjalan

Panasnya mentari membakarku

"Jangan menggangguku! Menjauhlah" kubilang sambil melepas tanganmu

"Aku takkan meninggalkanmu" kau bilang sambil menggapai tanganku

"Kau sangat menyebalkan" kubilang sambil menjauh tanpa menoleh kebelakang

"Bagaimana perasaanmu yang sesungguhnya?"

Kalau Aku bijaksana, Aku takkan bergerak kedepan. Aku tak punya alasan jadi aku akan diam saja

Kuharap waktu berputar kembali

Tak peduli berapa tahun berlalu, aku takkan mati. Aku akan tetap menegakkan pentingnya idealisme, walaupun kau tak lagi disana

"Aku tak peduli, mati saja! mati saja!" kubilang sambil mengutuk diri sendiri

Tak bisa melakukan apa-apa, Aku menghancurkan hidupku

"Kalau musim panas bisa membuat mimpi, Aku ingin kembali disaat kau masih ada" kataku

Hari saat aku menahan rasa malu tak terlupakan

Bocah yang selalu berharap dibawah mentari akhirnya berdiri

Senyumanmu sesuai yang kuingat

"Maafkan aku telah mati" katamu

"Selamat tinggal" katamu

Jangan bilang itu, jangan mati

Siluet itu melihatku saat ini terjadi


.

.

Chapter 14

Kembali dengan hari-hari membosankan untuk anak sekolah, menempuah jarak yang jauh hanya untuk duduk disebuah bangku kecil. Bertemu lagi dengan guru galak, teman yang aneh, mendapatkan pengalaman baru yang menyenangkan, berkelompok seperti karnivora dimana kau bisa berpura-pura menjadi raja dikelompok kecilmu.

"Nee, Hinata , bagaimana dengan hukumannya?" tanya Sakura

"Apa kalian tidak mempunyai hukuman lain selain disana? Uzumaki itu bekerja paruh waktu disana" jawab Hinata

"Heh!? Benarkah?" tanya Sakura tak percaya

"Yah, lagipula itu idenya Ino, aku hanya ikut-ikut saja" balas Sakura santai

"Ada apa?" tanya Ino yang baru datang

Hinata dan Sakura menoleh kearah Ino bersamaan, "Heh Ino, apa kau merencanakan semua ini?" tanya Hinata

"Merencanakan apa?" Ino tak tahu

"Kau itu pura-pura bodoh atau memang bodoh!?" ucap Hinata

Ino semakin bingung dengan yang Hinata maksud, "Ino, apa kau tahu kalau si Uzumaki juga bekerja paruh waktu ditempat kita mengukum Hinata?" Sakura menjelaskan

"Hmm... kemarin paman bilang kalau ada murid sekolah ini yang juga bekerja ditempatnya tapi aku tidak tahu kalau itu si Uzumaki, memangnya kenapa?"

Hinata menghela nafas panjang, "Aku harus berpura-pura baik dengannya tadi malam agar dia mau menemaniku menunggu jemputan" ucap Hinata

"Lalu apa dia mau menemanimu!?" tanya Sakura

"Tentu, siapa yang mampu menolak kecantikanku" jawab Hinata angkuh

Ino dan Sakura langsung menatap Hinata intens, "Uzumaki itu tidak menyukaimu jadi jangan merasa kau yang paling hebat disini" ucap Keduanya bersamaan dengan wajah suram.

"He he he.. " Hinata hanya terkekeh malu

Seketika terlintas ide dikepala Hinata, kalau dia tidak bisa yang paling hebat, apalagi dua sahabatnya ini. "Woi, kalau aku saja tidak bisa, kenapa tidak kalian saja yang mencobanya!? Untuk yang satu ini ajak saja Uzumaki itu kencan, yang tidak berhasil mengajaknya kencan dia harus mentraktirku sepuasnya dikantin" ide Hinata seperti itu

"Heee.. bagaimana kalau salah satu dari kami berhasil mengajak si Uzumaki itu kencan!?" tanya Sakura

"Kalau kalian bisa, hukumanku akan menjadi 2 minggu" ucap Hinata langsung tanpa fikir panjang

"Baiklah" Ino dan Sakura setuju

.

.

Naruto berjalan santai disepanjang koridor, tak lupa earphone yang tersumpal ditelinganya. Samar-samar ia mendengar orang-orang yang sedang mengobrol bersama temannya di koridor yang sama dengan tempat Naruto berjalan. "Omong kosong" ucap Naruto dalam hati

"Semua yang mereka katakan hanyalah omong kosong belaka" ucap Naruto dalam hati

Naruto mengamati sekitar, ia mencari sesuatu yang seharusnya jadi tradisi murid sekolah ini. Ternyata benar, pagi ini tidak ada acara Penolakan Cinta Nona Hinata, itulah yang sering mereka katakan.

"Aku kira ini masih terlalu pagi" fikir Naruto

Naruto tak peduli lagi dengan orang-orang yang ada disekitarnya, tujuannya sekarang adalah menuju bangku dikelasnya. "Lihat, dia yang memukul senpai kemarin" "Siapa dia itu!? Berani-beraninya dengan kakak kelas" "Jadi benar kata orang, orang pendiam itu akan menampakkan sisi buruknya suatu saat" Naruto bisa mendengar itu, Naruto menahan diri untuk tidak menampar mulut perempuan yang membicarakannya.

Naruto mempercepat langkahnya, pandangannya merunduk kebawah menghindari tatapan jijik dari murid-murid lain. Naruto semakin mempercepat langkahnya dan...

"BRUUKKK" ia menabrak sesuatu

Naruto jatuh terduduk dan earphonenya terlepas dari telinganya. "Aduhh" ternyata Naruto menabrak seseorang, Naruto membuka matanya dan melihat Shion tengah jatuh terduduk juga, disekitarnya buku-buku yang dibawa Shion jatuh berantakan.

"Gomen" ucap Naruto pelan sembari berdiri menegakkan badannya

Shion melihat Naruto tengah mengambili buku yang ia bawa. "Kenapa selalu kau yang menabrakku!?" ucap Shion dengan keras

"Mungkin ini takdir" jawab Naruto datar sambil terus merapikan buku-buku yang terjatuh

Naruto mengulangi hal yang sama, hal yang pernah ia lakukan dulu, menaruh buku-buku itu dilantai dengan rapi. Naruto kemudian beranjak pergi meninggalkan Shion, "Dasar tak tahu diri, seharusnya ia membantunya membawakan buku-buku itu bukannya malah pergi" Naruto mendengarnya, sepertinya semua hal yang diperbuat Naruto berujung dengan kesalahan yang dipandang orang lain.

Semua mata memandang Naruto rendah saat Naruto melewatinya, "Seharusnya senpai membalas pukulan yang kemarin" "Lihat betapa sombongnya dia" "Kalau aku menjadi senpai yang kemarin ia pukul, aku akan melaporkannya ke guru" cacian demi cacian masuk ketelinga Naruto

"Urusai" ucap Naruto dingin pada orang-orang yang membicarakannya

"Hei bocah, tunjukkan sopan santunmu dengan yang lain" ucap seseorang yang ada didepan Naruto

Naruto berfikir ulang, ia tak mengerti cara berfikir monyet-monyet disekolahnya ini. Naruto merasa kalau mereka hanya ingin selalu dianggap benar, "Jika aku tahu diri, aku tidak akan mengucapkan hal seperti yang kau katakan tadi" balas Naruto

"Apa maksudmu, hah!?" emosi orang itu mulai naik

"Ya, kau ingin aku menunjukkan sopan santunku pada orang-orang disini" ucap Naruto

"Lalu apakah homosaphien seperti kalian akan membalas dengan hal yang sama kepadaku!?" sambung Naruto

"Kalian hanya ingin berdiri diatas orang yang bisa kalian tindas, sekelompok predator yang menunggu mangsanya berbuat kesalahan, lalu bagaimana kalau kalian yang membuat kesalahan!? Akhirnya kalian akan menyalahkan orang lain" ucap Naruto panjan lebar

Orang itu tak bisa membalas sepatah katapun, begitu juga dengan yang lain, mereka menundukkan kepala tak bisa mengelak. "Aku tahu kalian anak orang kaya yang bisa berbuat sesuka hati kalian , jadi nikmatilah surga duniawi ini baik-baik" sambung Naruto lagi dan beranjak pergi dari tempatnya berdiri tadi.

.

.

.

Naruto duduk termenung memandang keluar jendela, "Haaahh... sepertinya hari-hariku mulai memburuk" fikir Naruto

Sementara itu ditempat Sakura, Ino, Hinata tengah terjadi percakapan serius antara ketiganya. "Jadi apa kalian siap untuk mentraktirku hari ini?" tanya Hinata dengan senyum meremehkan

"Jangan percaya diri dulu Hinata, aku akan menunjukkan pesonaku yang sesungguhnya" jawab Sakura

"Baiklah Sakura, kau boleh mencoba terlebih dulu dan kau akan kehilangan isi dompetmu setelah itu" balas Hinata

Sakura berjalan mendekati Naruto, tanpa ada rasa gugup sedikitpun ia mendekati Naruto dan duduk disampingya. Merasakan kehadiran sesorang disampignya, Naruto menoleh dan mendapati Sakura tengah tersenyum kepadanya, "Hei Naruto" panggil Sakura dengan senyum manis yang dibuat-buat

Naruto memandang datar perempuan disampinya itu, Naruto tahu kalau itu hanyalah senyum yang dibuat-buat. "Hmmm?" balas Naruto

"Heh.. kenapa kau begitu cuek padaku?" tanya Sakura

Naruto masih memandang Sakura datar dan tak menjawab pertanyaan Sakura tadi,

"Nee Naruto!? Apa kau mau pergi kencan denganku?" tanya Sakura langsung to the point

Sakura merasa mulutnya gatal setelah mengucapkan hal tersebut, Naruto tetap memandang Naruto datar, "Apa kau sakit?" ucap Naruto sambil meletakkan telapak tangannya di dahi Sakura. Rona merah tipis muncul di pipi Sakura, baru pertama kali ada laki-laki yang melakukan hal seperti itu.

"Baka! aku tidak menyuruhmu menyentuh dahiku dan berani-beraninya kau menyentuh dahiku" protes Sakura dan langsung menepis tangan Naruto

"Jadi apa kau mau pergi kencan denganku!?" sambung Sakura sambil memanyunkan bibirnya

"Tidak" balas Naruto singkat dan langsung memalingkan pandangannya kembali keluar jendela

Sakura berdiri dan menggebrak meja Naruto, "Lagipula siapa yang mau pergi kencan denganmu!" ucap Sakura keras lalu beranjak pergi kembali kehabitatnya

"Gadis aneh" fikir Naruto, Naruto berfikir kalau ia terlalu banyak masalah disekolah akhir-akhir ini. Sakura kembali dengan wajah murung, "Sepertinya isi dompetku akan hilang dengan cepat" ucap Sakura dalam hati. Hinata memandang Sakura dengan senyum meremehkan, begitu pula Ino. Ino malah menahan tertawanya karena sahabtnya itu baru ditolak dengan orang yang selalu mereka anggap rendah.

Sakura duduk terkulai lemas, "Hinata, apa makan siangmu banyak!?" tanya Sakura lemas

"Hmm... mungkin akan seperti beruang yang akan berhibernasi" balas Sakura

Sakura makin bingung, ia tahu kalau ia orang kaya, tapi dalam urusan uang saku itu sudah diatur sedemikian rupa untuk satu bulan bertahap. "Kalau saja Naruto itu Sasuke-kun, akan aku paksa dia untuk kencan denganku" ucap Sakura pelan

"Jangan terlalu berharap dengan orang terkenal, kau hanya akan menangis darah memikirkannya" Ino berbicara dengan mode menasehati

"Kau juga kan Ino!?" elak Sakura

"Ehh... nasib kita sama Sakura, kita berharap pada sebuah kenyataan yang ada diujung pisau" Ino pun sama

Hinata memandang aneh dua sahabatnya ini, Mereka tergila-gila dengan orang terkenal. "Baiklah Ino, sekaranag giliranmu" ucap Hinata merusak kesedihan mereka berdua

Ino mengangguk semangat, ia yakin kalau ajakannya akan diterima. Ia berjalan dengan santai menuju bangku Naruto, "Hai tampan, mau pergi kencan denganku?" tanya Ino langsung didepan wajah Naruto

Sama seperti Sakura, mulutnya terasa gatal mengucapkan hal tersebut. Naruto memandang Ino aneh, sepertinya mereka berdua sedang terkena wabah siput gila. Naruto menatap intens mata Ino, Ino kaget kalau Naruto akan melakukan hal tersebut, "Hei Yamanaka-san?" panggil Naruto

"Ya," jawab Ino dengan senyum manis

Ino merasa kalau ajakannya akan berhasil dan ia akan melihat Hinata menderita selama dua minggu, Hinata juga menatap Naruto dan Ino khawatir, kalau Ino berhasil maka Hinata harus menanggung akibatnya.

"Anooo... itu... " ucap Naruto gugup

"Ya ya ya... " Ino tak sabar menanti jawaban

"Etto... itu... bulu matamu" ucap Naruto melenceng

Ino segera mengambil ponselnya dan menatap layar ponselnya, ternyata benar kalau bulu mata Ino lepas. Ino segera berlari keluar kelas sedangkan Naruto menahan tertawanya, Hinata menghembuskan nafas lega saat Naruto tidak merespon pertanyaan Ino.

"Baiklah, kali ini aku yang menang" ucap Hinata bangga

Naruto menatap Hinata tengah tersenyum bahagia, merasa diperhatikan, Hinata mengarahkan pandangannya kearah Naruto. Kedua pandangan itu bertemu, Hinata memasang wajah penuh selidik sedangkan Naruto memasang wajah datar saat menatap Hinata. "Aku kira itu hanya permintaan bodoh yang tak akan terwujud" ucap Naruto dalam hati

Saat Hinata menatap Naruto, ia baru ingat kalau jaket milik Naruto masih dirumahnya. Yah Hinata berfikir positif saja, lagipula dia tidak memintanya tapi Naruto yang memberikannya. "Nee Hinata, apa kau menyukainya!?" tanya Sakura

Hinata segera memalingkan pandangannya dari Naruto, "Jangan bodoh, mana ada perempuan yang akan menyukainya" ucap Hinata angkuh

"Hah, sikap sombongmu itu akan berbalik padamu sendiri" ucap Sakura malas

.

.

.

Sepulang sekolah, Naruto lega tak ada lagi kegiatan klub karena dirinya sudah keluar, tapi sangat disayangkan apabila Hinata masih bekerja sambilan. Naruto penasaran kenapa tuan putri itu mau-maunya bekerja sambilan, alasan yang diberikan pada Yuriko kemarin sudah pasti 100% bohong karena tidak ada tugas tentang hal tersebut.

"Uzumaki Naruto" panggil seseorang dari belakang

Naruto menoleh kebelakang dan mendapati sipemanggil tengah menatapnya tajam, Naruo mengenalnya, salah satu saudara ipar Hinata, Hyuuga Neji. Naruto tak mengeluarkan sepatah katapun kecuali tatapan datar yang ia berikan pada Neji, "Ikut aku" ucap Neji dingin, Naruto menurut saja.

Naruto mengekor dari belakang, Neji berjalan beberapa langkah didepan Naruto. Naruto tak mempunyai fikiran buruk tentang orang didepannya ini. Mereka berdua berhenti disamping sekolah, tempat dimana bayangan lebih banyak dari pada cahaya. Neji menyandarkan badannya ketembok sedangkan Naruto masih tetap manatap Neji datar.

"Kau membuang-buang waktuku" ucap Naruto santai

Neji menyadari hal itu, "Aku belum berterimakasih waktu itu" ucap Neji

"Waktu itu... !?" Naruto mencoba mengingat-ingat

.

.

Flashback

Neji tengah berjalan santai dengan Hanabi, adik iparnya. Senyum kecil merekah diwajah Hanabi, tak seperti Neji yang selalu memasang tampang datar. Sifat Hanabi berbanding terbalik dengan sifat Hinata, Hanabi cukup tenang daripada kakak perempuannya itu.

Neji dan Hanabi berjalan berkeliling kota untuk menghibur diri, sebenarnya Neji tidak mau tapi karena adik ipar perempuannya itu selalu mengganggu Neji agar menyerah dan mengikuti keinginannya. Tidak mungkin kalau Hanabi mengajak Hinata, bisa-bisa Hinata asyik sendiri saat masuk toko.

Saat itu semua baik-baik saja sampai terjadi hal yang buruk, Hanabi lepas dari pengawasan Neji saat ia hanya menoleh sebentar dan Hanabi tidak ada didepannya. Seketika Neji panik bukan main, bagaimana ia harus bicara dengan paman Hiashi. Samar-samar terdengar suara jeritan Hanabi, suaranya berasal dari gang kecil didepan Neji yang terpaut satu toko dari tempat ia berdiri.

Dengan cepat Neji berlari menuju gang tersebut, dan ternyata benar apa yang ia dengan. Hanabi ada disana, mulutnya dibekap oleh seseorang berpenampilan preman. Ada dua preman dibelakang Hanabi yang tengah tersenyum sinis, "Apa dia kakakmu!?" tanya orang itu dengan nada mengejek pada Hanabi.

"Lepaskan nona Hanabi, jauhkan tangan kotor kalian darinya" ucap Neji keras

Sebenarnya ada orang yang tahu kejadian itu tapi ia pura-pura tidak tahu agar tidak terkena masalah. "Kalau kami tidak mau?" ucap orang itu diakhiri dengan senyum tak enak dipandang

Emosi Neji sudah memuncak, kekerasan adalah jalan terakhir. "Maka aku akan memberi perhitungan pada kalian!" ucap Neji

"Hmmm... sepertinya kamilah yang akan memberi perhitungan padamu" ucap orang itu

Dua orang lain muncul dibelakan Neji, dengan wajah garang mereka tersenyum sinis. "Jika mau adikmu selamat, langkahi dulu mayat kami" sambung orang itu

"Empat lawan satu, cara licik" ucap Neji dalam hati

Tidak mungkin Neji akan menang dengan cara seperti itu, "Apa kau beraninya keroyokan, hah?" ucap Neji garang

"Aku lebih senang menyebutnya menang jumlah" jawab orang itu

Neji bersikeras apapun yang terjadi dia akan tetap melawan orang-orang itu, gelarnya sebagai ketua klub karate tidak berguna lagi saat keroyokan seperti ini. Dengan tekad bulat ia siap mengalami hal-hal buruk yang akan terjadi padanya.

"Aku akan benar-benar membuat kalian menjulurkan lidah" ucap Neji keras

"Dasar bocah" teriak orang yang ada dibelakang Neji

Satu langkah, dua langkah, tiga langkah, dan orang iru semakin dekat dengan Neji tak lupa sebuah genggaman telapak tangan yang akan mendarat didepan Neji, Neji memasang kuda-kuda untuk mengelak dari pukulan itu. Semakin dekat, semakin dekat, semakin dekat

.

.

Kring-Kring-Kring-Kring-Kring

Lonceng sepeda yang dibunyikan dengan cepat terdengar keras ditelinga, "Awasssss" teriak sipengendara menyuruh orang-orang didepannya minggir. "Bruukkkk... " ia menabrak seseorang, Sipengendara yang berboncengan itu mengaduh saat jatuh, "Aduhhh... tadikan Yuriko Nee-san sudah bilang kalau remnya rusak, tapi kenapa kau masih saja ngebut, bodoh" ucap orang yang membonceng

"Itttaaaiii... mana aku tahu, yang diberitahu kan cuma kau Naruto!" balasnya

"Sepertinya kita menabrak seseorang, Shirou. Cepat minta maaf" balas Naruto

Yang ditabrak tak sadarkan diri karena kepalanya berbenturan dengan tong sampah, "Ahh... kami minta maaf, kalau begitu kami akan segera pergi" ucap Naruto pada orang didepannya. Mereka berdua baru beberapa langkah menjauh sebelum Naruto melihat hal yang janggal. "Hei... apa yang kalian lakukan pada gadis kecil itu?" tanya Naruto

Tiga orang preman menatap Naruto benci, pandangn yang selalu ia dapat disekolah. Naruto menyadari kalau ada kakak kelasnya disana, Naruto melirik gadis kecil itu. "Hyuuga" ucap Naruto dalam hati

"Ayolah Naruto, ini bukan urusan kita" ucap Shirou

"Benar apa yang ia katakan, ini bukan urusanmu. Sebaiknya kau mendengarkan kata-kata sikusut itu" ucap orang yang membekap Hanabi

Tidak ada yang boleh memanggil Shirou kusut selain Naruto dan Yuriko, Shirou menyandarkan sepeda yang ia pegang di dinding. "Naruto, kau tahu kan apa yang harus dilakukan!?" ucap Shirou basa-basi

"Ini akan menyenangkan" balas Naruto

Shirou meregangkan pergelangan tangannya, sedangkan Naruto tetap bersikap santai, "Yang paling cepat, dapat yakiniku, setuju?" ucap Shirou

"Setuju" ucap Naruto santai

"Ready... " ucap Shirou

"Gooo!" sambung Naruto

Naruto berlari didepan Shirou, orang yang ada di paling depan mendapat bogem mentah tepat diwajah oleh Naruto. Tendangan keras Shirou diperut lawan merobohkannya, Tak habis lagi. Orang yang ada disamping sipembekap mulai berlari kedepan. Naruto juga ikut berlari, saat sudah dekat Naruto menggeser arahnya dan menempatkan kakinya dijalur orang itu.

Alhasil orang itu tersandung oleh kaki Naruto, dengan cepat pukulan Shirou sudah bersiap untuk mendarat kapan saja, "Buuukkkkk... !" satu pukulan keras mendarat tepat diwajah lagi. Orang itu jatuh tersungkur menutupi mukanya karena kesakitan.

"Ini bagianku Naruto" ucap Shirou berniat balas dendam karena dipanggil kusut

Dengan cepat Shirou berlari menuju orang yang membekap Hanabi, sipembekap pun gugup. Ia melangkah mundur tanpa melepaskan bekapannya, "Akan aku gunakan gadis ini sebagai tameng" fikir orang itu, Shirou mengerti fikiran orang tua itu.

Naruto juga tahu kalau Shirou hebat dalam membaca situasi, ia tak mungkin memukul gadis itu. Shirou mengerem larinya tepat didepan orang itu, "Haaahh... Membosankan" ucap Shirou sambil membalikkan badannya

Saat itulah sipembekap lengah, dengan cepat kembali Shirou membalikkan badannya lagi dan sebuah pukulan pun mendarat diwajah orang itu. Otomatis orang itu jatuh tersungkur dan melepaskan bekapnnya dari Hanabi, Hanabi jatuh terduduk karena takut, air mata mengalir dari mata bulannya tersebut dibarengi dengan sesenggukan kecil.

"Baiklah, berikutnya" ucap Shirou keras lalu berlari menuju Neji

Neji yang tidak siap dengan gerakan Shirou tersentak, "Shirou, cukup" teriak Naruto keras

Shirou menghentikan perbuatannya, beberapa centimeter lagi genggaman tangan Shirou mendarat diwajah Neji. "Dasar bodoh, dia bukan salah satu dari mereka, kau ini" ucap Naruto sambil menggaruk belakang kepalanya.

"Eh Benarkah? Ahhh, Gomene" ucap Shirou sambil terkekeh pada Neji.

Naruto mendekati Hanabi dengan santai, "Hentikan, kau tahu kalau gadis kecil sering menangis dia akan dijemput Shinigami lebih cepat, kau tidak mau kan?" ucap Naruto halus

"Hoi Naruto, itu sama saja kau mengatakan kalau dia tidak ingin cepat mati" ucap Shirou

"Tapi sudah aku perhalus sehalus mungkin" balas Naruto dengan jawaban konyol

Hanabi berhenti menangis, Neji masih mengatur detak jantungnya karena baru saja ia akan dipukul mendadak. Naruto berjalan menjauh menuju sepeda yang Shirou sandarkan, "Ayo Shirou" ajak Naruto

"Baiklah" jawab Shirou lalu berjalan katempat yang sama

"Nee Naruto, kau yang didepan atau aku yang dibelakang?" tanya Shirou

"Kau yang didepan atau aku yang dibelakang?" ucap Naruto mengulangi pertanyaan Shirou

"Hah, itu sama saja kau meyuruhku yang didepan!" protes Naruto

"Oh ayolah, apa kau ingin aku menabrak orang lagi?" ucap Shirou

"Baiklah, ini masih hari libur jadi bersenang-senanglah" teriak Naruto pada Hanabi

Neji hanya memandang aneh dua orang didepannya ini, ia harus kagum atau malah tertawa ia tak tahu.

.

.

FLASHBACK END

Naruto ingat, "Lalu kenapa repot-repot?" tanya Naruto datar

"Aku belum berterima kasih waktu itu, dan juga aku lihat kau kalah dalam taruhan yakiniku itu" ucap Neji

"Jadi aku ingin kau menerima ini sebagai rasa terima kasihku" sambung Neji sambil menyodorkan sebuah amplop

"Apa itu?" tanya Naruto

"Ini sebagai ganti untuk yakiniku itu, ini tidak seberapa jadi terimalah" jawab Neji

Naruto mengela nafas berat, ia tak tahu harus berbuat apa dalam keadaan seperti ini. "Kau tahu hal yang aku benci dari orang kaya? Menilai semua hal dengan uang" ucap Naruto

"Tapi ini sebagai ganti uangmu" elak Neji

"Sudahlah, dan kau ini salah paham. Waktu itu kami sedang mengadakan pesta yakiniku, jadi kau tak perlu merasa berhutang padaku, bersikaplah seperti murid lain saat memandangku" balas Naruto

"Jaa Naa" sambung Naruto seketika berlalu pergi menjauh dari Neji

"Kalau saja orang-orang disekolah ini tak memandang remeh Naruto, mereka akan merasakan kebaikan seorang Uzumaki" fikir Neji

.

.

.

Toko Ice Cream

.

"Paman, tiga ice cream vanilla dan satu ice cream coklat, semua dengan topping diatasnya" ucap Naruto

"Segera kubuatkan" balas karyawan lain

Naruto mendapat tugas mengantar ice cream, memang tidak menentu tugas Naruto ditoko itu, namanya saja kerja paruh waktu jadi apa saja ia lakukan. Begitu juga Hinata, hari ini ia mendapat bagian cuci piring, Hinata mencuci piring dengan giat. Karena ini bukan dunianya dan dia bukan apa-apa disini jadi Hinata harus melakukan yang terbaik agar karyawan lain tidak memandangnya remeh.

Hinata mencuci piring sambil memperhatikan Naruto yang dengan semangat membara bekerja sepenuh tenaga, "Nee Hyuuga-san, memperhatikan Naruto?" Shirou yang tahu-tahu ada disamping Hinata, Shirou membantunya mencuci piring karena ada beberapa yang tidak bersih dan masih meninggalkan bau ice cream lain.

Hinata yang terkejut segera menjauh beberapa langkah dari Shirou, "Eh... tidak... aku... aku tidak sedang memperhatikan siapapun" jawab Hinata lalu kembali ketempatnya tadi disamping Shirou,

"Yah, kadang jujur itu sulit" ucap Shirou santai

"Kau menuduhku berbohong!?" tanya Hinata sinis

"Tidak, mana mungkin ada gadis cantik sepertimu berbohong" jawab Shirou diiring dengan senyuman kecil

"Jangan coba-coba merayuku" ucap Hinata

"Merayu!? Jangan bodoh, aku tidak sedang merayumu, lagipula aku ingin tanya apa kau satu kelas dengan Naruto?" tanya Shirou

"Hmm.. bisa dibilang begitu, memangnya ada apa?" tanya Hinata balik

"Apa kalian memperlakukannya dengan baik?" tanya Shirou

"Aku tidak tahu, lagipula kami juga tidak terlalu dekat" jawab Hinata

"Ohh, kau tahu, suasana hati Naruto mudah berubah-ubah tergantung pada orang lain memperlakukannya seperti apa" ucap Shirou

"Ada tiga hal yang ia tak sukai jika itu dilakukan oleh orang lain" sambung Shirou

"Hmm... apa saja?" Hinata penasaran

"Yang pertama dan yang paling penting saat orang lain membicarakan orang tuanya, yang kedua saat ada orang yang berpura-pura baik didepannya, dan yang ketiga... etto.. " Shirou lupa

"Hei Naruto, hal ketiga yang tidak kau sukai apa?" teriak Shirou

Naruto menoleh bingung pada sahabatnya itu, "Kau" jawab Naruto cepat

Shirou dan Naruto tertawa kecil mendengar jawaban Naruto sendiri.

Shirou menghela nafas berat, "Hah, aku tidak pernah diberitahu yang ketiga" ucap Shirou dengan suara yang mengecil

"Nee, Akihiko-san... " panggil Hinata

"Panggil saja aku Shirou" balas Shirou

"Sejak kapan kau mengenal Naruto-kun?" tanya Hinata

Shirou berhenti sejenak dari kegiatannya kemudian mencoba mengingat-ingat kapan dirinya bertemu dengan Naruto

"Hmm... Naruto, kapan kita pertama kali bertemu?" tanya Shirou pada Naruto sedangkan Naruto sedang sibuk jadi tidak berniat menjawabnya

"Bulan depan" jawab Naruto cepat lalu berjalan pergi mengantar pesanan

"Bulan depan?" ucap Hinata mengulangi jawaban Naruto

"Dasar landak, maksudnya bulan depan itu waktu festival musim panas" ucap Shirou

"Waktu itu balai kota sangat penuh dengan para homosapiens, karena aku orang yang tidak suka keramaian jadi aku memisahkan diri dari kerumunan itu. Saat sedang berjalan sendiri menelusuri jalan aku melihat Naruto tengah asik bermain dengan gadis kecil disebuah taman, yah karena aku harus melewati jalan itu jadi aku lanjut saja. Saat aku sudah berjalan berada tepat didepan Naruto ia menyapaku, 'memisahkan diri dari kerumunan' tanyanya waktu itu. Dan itulah awal aku mengenalnya" Shirou bercerita layaknya mendongeng

"Lagipula sebentar lagi liburan musim panas akan datang, yahh aku tidak sabar menunggu game-game yang akan rilis" sambung Shirou

"Nee Hyuuga-san, apa kau tahu tentang luka Naruto akhir-akhir ini?" tanya Shiro

Hinata tersentak mendengar pertanyaan Shirou, tidak mungkin dia menceritakan yang sebenarnya karena semua luka itu berakar pada Hinata. "Hmm... sepertinya aku sudah menjawab kemarin, aku tidak tahu apa-apa" jawab Hinata

.

.

Waktu bekerja berlalu begitu cepat bagi Hinata, "Paman, aku pulang dulu" terdengar suara Naruto dari dalam ruangan pemilik toko, "Baiklah" jawab pemilik toko. Naruto berjalan keluar dari toko dan mendapati Shirou dan Yuriko hendak pergi, "Yuriko Nee-san, kenapa kau tidak menikah dengan Shirou saja?" tanya Naruto asal

"Kenapa aku harus menikah dengan si kusut ini?" ucap Yuriko kesal sambil menunjuk Shirou

"Yah, kalian selalu berboncengan dengan sepeda waktu pulang dan juga kalian terlihat seperti sepasang kekasih" jawab Naruto

"Hah... siapa juga yang mau jadi kekasih ekor kuda ini?" elak Shirou juga

Seketika muncul sebuah bolam lampu diatas kepala Yuriko, "Nee, ngomong-ngomong soal sepeda, apa kau tahu kenapa sepedaku bisa lecet sebesar ini?" tanya Yuriko

Naruto dan Shirou seketika seperti tersambar petir, mereka kira Yuriko tidak akan mengetahuinya. "Ahh... itu... " jawab Shirou gugup sambil mengedip-ngedipkan matanya kearah Naruto

"Kenapa denganmu? Menjijikkan" ucap Naruto dalam hati

"Yuriko Nee-san ayo cepat pulang, aku akan dimarahi ibuku nanti jika terlambat" Shirou mengalihkan perhatina

"Baiklah" Yuriko mengalah

Naruto mengacungkan jempol secara tersembunyi disamping pinggangnnya, sedangkan Shirou hanya menatap Naruto malas, "Dasar landak" ucap Shirou dalam hati

"Kau yang didepan atau aku yang dibelakang?" tanya Shirou pada Yuriko

"Kau mengulang-ngulang lelucon itu, tidak lucu tahu!" teriak Yuriko pada Shirou

Shirou hanya tersenyum aneh saat mendengarnya, "Hai Hai, ayo" ucap Shirou dan segera naik ke sepeda, begitu pula Yuriko. Memang mereka terlihat seperti sepasang kekasih mengingat walau umur mereka terpaut beberapa tahun dan tinggi Yuriko juga sama dengan Shirou

"Kami duluan Naruto, Hinata-chan" salam Yuriko pada Naruto dan Hinata

Shirou muai menggoes pedal sepeda, "Berat badanmu naik lagi" ucap Shirou terdengar dari kejauhan

.

.

Hinata masih berdiri dipinggir jalan menunggu mobil jemputannya, ia tampak tenang daripada kemarin, Naruto berjlan pelan dan berdiri disamping Hinata. Ia diam tak bersuara saat melakukan itu, "Kau boleh pulang duluan Naruto-kun" ucap Hinata

"Tak baik meninggalkan seorang perempuan sendirian malam-malam" ucap Naruto tanpa menoleh ke arah Hinata

Sepertinya jantung Hinata memompa darah lebih cepat dari normal, fikirannya bingung sendiri harus menanggapi apa. "Nee... Naruto-kun... aku lupa belum mengembalikan jaketmu" ucap Hinata

"Hmm... kembalikan saat kau tidak membutuhkannya lagi" balas Naruto

"Hei... ada kedai takoyaki disana, kau mau?" tawar Naruto

Hinata mengikuti arah telunjuk tangan Naruto, disebrang jalan ada kedai takoyaki kecil. "Apa tidak apa-apa?" tanya Hinata malu-malu

"Akan kubelikkan" ucap Naruto tanpa babibu dan langsung menyebrang menuju kedai tersebut

"Paman, aku pesan 2" ucap Naruto

"Segera kubuatkan" balas si penjual

.

.

Naruto menoleh kanan dan kiri mengawasi kalau ada kendaraan lewat, "Eh bodohnya aku, ini bukan jalan utama jadi kenapa aku harus menunggu" fikir Naruto

Naruto kembali dengan dua porsi takoyaki dikedua tangannya, "Ini" ucap Naruto sambil menyodorkan satu porsi takoyaki

"Ah... arigatou" ucap Hinata

"Kenapa dari tadi kau berdiri? Apa kau tidak melihat kursi dibelakangmu?" tanya Naruto

"Eh... etto... sejak kapan ada kursi disitu" elak Hinata

"Gadis bodoh masih saja ngeles... " ucap Naruto dalam hati

Mereka berdua duduk dikursi yang ada didepan toko ice cream tempat mereka bekerja. Baru saja mereka meletakkan pantat mereka dikursi, pemilik toko keluar dari toko hendak pulang. "Yo paman, mau pulang?" ucap Naruto basa-basi

"Hmm... kalian sendiri? Apa kalian sedang kencan?" tanya paman diiringi tawa kecil

"Mana mungkin" jawab Naruto

"Baiklah kalau begitu, aku pulang duluan Naruto" ucap pemilik toko dan segera berlalu pergi, siluet pemilik toko semakin menjauh dari Naruto dan hilang ditelan kegelapan.

Mereka berdua menikmati takoyaki mereka tanpa adanya percakapan satu sama lain, detik demi detik dilalui dan pemenangnya adalah Hinata. Ia menghabiskan takoyakinya lebih cepat dari Naruto, "Haah... ternyata benar kalau makanan gratis itu enak" ucap Hinata dengan senyum diwajahnya

Naruto juga menyusul beberapa detik setelahnya, sekian menit mereka berdiam diri dan akhirnya Naruto mulai membuka pembicaraan, "Hyuuga-san!?" panggil Naruto

"Sudah berapa kali aku menyuruhmu untuk memanggilku Hinata saja!?" balas Hinata

"Aku tak peduli" ucap Naruto dalam hati

"Sebenarnya apa maksudmu bekerja paruh waktu?" tanya Naruto

"Ehh... hmmm... hanya ingin saja" jawab Hinata dan diakhiri dengan senyuman

"Ohh.. kau orang yang seperti itu ya" ucap Naruto datar

.

.

.

Pagi hari di pertengahan musim panas, Naruto berjalan santai menuju sekolahnya. Langkah demi langkah ia lakukan hanya untuk menuju kebun binatang yang mereka sebut sekolah itu. Satu tangan memegang tali tas, sedangkan tangan satunya masuk kedalam saku celana, telinga yang tersumpal earphone. Pandangan malas ia arahkan kedepan.

Temari berdiri bersandar digerbang sekolah, Naruto tak perlu melihatnya. Ia melewatinya begitu saja layaknya orang yang tidak pernah bertemu, "Hei Uzumaki!?" panggil Temari

Naruto menghentikan langkahnya dan melepas earphone yang ada ditelinganya, Naruto menolehkan kepalanya kebelakang melihat temari dengan pandangan malas. Temari berjalan mendekat ke Naruto dengan ekspresi wajah tak rela dekat-dekat Naruto, Temari sudah ada dibelakang Naruto, "Kemarikan tanganmu!?" perintah Temari

"Hah?" Naruto tak paham maksud kakak kelasnya ini

Karena sudah menahan malu, dengan cepat Temari menarik tangan Naruto dengan cepat, yang tadinya ada didalam saku celana sekarang sudah terkontaminasi udara dipagi hari. "Ini untuk ucapan permintaan maafku saat itu" ucap Temari dan menaruh sebuah kotak kecil ditelapak tangan Naruto

"Gomen" ucap Temari sambil membungkuk 90 derajat

Setelah membungkuk ia segera berjalan cepat meninggalkan Naruto, karena penasaran akhirnya Naruto membuka kotak itu, "Jam tangan?" ucapnya dalam hati setelah melihat benda yanga ada didalam kotak tersebut.

Setelah melihatnya Naruto kembali menutup kotak itu dengan rapat seperti semula, "Aku tidak suka jam tangan" ucap Naruto lagi dalam hati.

Dan setelah itu Hinata sudah ada didepannya berjalan santai dengan pandangan menuju kelayar ponselnya, "Hyuuga-san?" panggil Naruto

Seketika Hinata menoleh mengalihkan pandangannya, Ia menemukan Naruto yang tengan melihatnya, "Berapa kali ku bilang panggil... "

"Kau boleh memiliki ini" Naruto memotong perkataan Hinata sambil melempar kotak berisi jam tangan itu, Hinata menangkap kotak itu kikuk karena dengan tiba-tiba dilempar ke arahnya

"Apa ini?" tanya Hinata

"Jam tangan pria, berikan pada laki-laki yang kau sukai" jawab Naruto dan berlalu pergi

Hinata tak ambil pusing dengan tingkah Naruto padanya, Hinata memasukkan kotak itu kedalam tas dan melanjutkan jalannya kekelas.

Sesampainya dikelas Hinata melihat kedua sahabatnya sudah datang terlebih dahulu, "Ohayou kalian berdua" ucap Hinata dan segera duduk. "Nee Hinata, aku dengar festival budaya tahun ini akan melibatkan sekolah lain" ucap Sakura

"Apa hubungannya denganku?" tanya Hinata santai

"Kau ini, kalau sekolah lain ikut serta maka kita harus menampilkan yang terbaik sebagai anggota klub fotografi" jawab Ino

"Terus?" tanya Hinata lagi

"Lama-lama gadis ini mulai menyebalkan" fikir Ino

"Jadi apa yang harus kita tampilkan di festival budaya nanti?" tanya Ino balik

"Kita pakai saja ide dari Uzumaki itu" jawab Hinata santai

"Apa tidak apa-apa?" tanya Sakura

"Yah setidaknya hargailah sedikit pemikirannya" jawab Hinata

Seketika pandangan curiga mulai muncul dimata Sakura dan Ino, "Nee Hinata, apa kau mulai menyukai si Uzumaki?" tanya Sakura

"Jangan bodoh, mana mungkin aku seperti itu" jawab Hinata dengan suara datar

"Kau memang pintar menyembunyikan perasaanmu" ucap Sakura dalam hati

.

.

.

Sepulang sekolah, sudah tentu ia akan jadi yang terakhir saat waktunya pulang. Ia menelusuri koridor yang dibalut cahaya matahari disore hari, cahayanya menembus kaca jendela dan menambah kesan klasik bagi Naruto.

"Uzumaki-san!?" panggil seseorang dari belakang

Naruto menoleh dan mendapati Shion-senpai yang ada disana, pundaknya naik turun seirama dengan nafasnya, "Bi.. Bi.. Bisa kau ikut aku sebentar?" pinta Shion

"Eh... tapi.. " belum selesai Naruto membuat alasan, tangannya sudah ditarik Shion dengan cepat, Naruto tak mungkin mengelak dari seorang perempuan.

"Ruang OSIS!?" ucap Naruto dalam hati

"Aku mohon hanya beberapa hari saja, tolong bantu aku" pinta Shion lagi

"Aku tidak bisa melakukan apa-apa" balas Naruto

"Kau cukup diam saja dan mendengarkan" balas Shion cepat

Shion menggeser pintu ruang OSIS dan mulai masuk, "Baiklah minna-san, kita sudah cukup sekarang" ucap Shion pada anggota OSIS yang lain

Naruto mulai memperhatikan anggota OSIS satu demi satu, disana ada Shikamaru, Temari, Neji, dan juga Shion yang ada disampingnya. Mereka tidak terlalu memperdulikan siapa yang Shion bawa untuk melengkapi anggotanya yang kurang.

Shion mempersilahkan Naruto untuk duduk, "Baiklah, aku yakin kalian sudah tahu kalau festival budaya nanti akan ada 2 sekolah lain ikut serta untuk membuat acara semakin meriah" ucap Shion

Naruto mengangkat tangannya, "Ya Uzumaki-san?" tanya Shion

"Aku belum tahu" ucap Naruto santai

"Dan sekarang kau sudah tahu" balas Shion

"Gadis licik" fikir Naruto

"Nanti perwakilan sekolah masing-masing akan mengadakan rapat dan mereka sudah memesan tempatnya" ucap Shion

"Heh... nanti? Tapi aku ada hal yang harus aku kerjakan" ucap Naruto dalam hati

Naruto mengangkat lagi tangannya, "Kenapa aku harus terlibat?" tanya Naruto

"Karena kau diperlukan" jawab Shion

"Setelah ini kita akan berkumpul ditempat yang sudah dimaksud jadi aku harap kalian bisa dipercaya" ucap Shion pada anggota lain

"Kalian bebas mengutarakan pendapat kalian" sambung Shion lagi

Semua akhirnya keluar dari ruang OSIS dan menuju tempat pertemuan, Naruto berjalan santai karena ia dari awal sudah tidak ada niat mengikuti kegiatan seperti itu. Sampai didepan gerbang, Temari sudah dijemput dengan mobil, Neji juga begitu, Shikamaru lebih memilih naik taksi meskipun supirnya sudah ada disana.

"Nee Uzumaki-san!?" Shion sudah ada disampingya dengan sebuah sepeda

"Hmm... apa kau tidak dijemput dengan mobil?" tanya Naruto

"Hari ini tidak, aku ingin merasakan bagaimana naik sepeda dipagi hari" jawab Shion

"Mau bonceng?" sambung Shion

"Aku tidak ingin membuang-buang waktuku, lebih cepat maka lebih baik" fikir Naruto

"Baiklah" balas Naruto sambil mengambil alih sepeda

Naruto mengayuh sepeda dengan santai mengingat ia sedang membawa seorang perempuan dibelakangnya. .

.

.

.

Naruto sampai didepan gedung yang besar, "Berapa banyak uang yang mereka buang hanya untuk menyewa satu ruangan?" tanya Naruto dalam hati

"Sepertinya yang lain juga sudah datang, ayo kita segera kesana" ajak Shion

Mereka berdua berjalan menuju ruang yang dimaksud, "Ini membuang-buang waktuku" ucap Naruto dalam hati

Lantai dua, mereka masuk keruangan pertemuan, masing-masing sudah membentuk sebuah kelompok mengisyaratkan mereka adalah satu sekolah.

Konoha Summer High School, Konoha Winter High School, Konoha Spring High School, tiga sekolah yang akan mengadakan festival budaya. Rapat dipimpin oleh ketua OSIS dari Konoha Spring, rambut klimis terlalu banyak memakai minyak rambut, cara berpakaian layaknya bertemu seorang presiden. Itulah ciri-ciri murid Konoha Spring.

Naruto masih berdiri memandangi orang-orang yang ada disana, "Nagato? Yahiko? Konan? Hana?" Naruto membaca tag name murid dari Konoha Winter. "Bukannya masing-masing sekolah mewakilkan lima orang?" tanya Naruto pada Shion

"Aku juga tak tahu" bisik Shion

"Kenapa? Mencari orang kelima dari Winter?" tanya seseorang dari belakang Naruto

"Benar, apa kau orangnya?" tanya Naruto tanpa menoleh kesipenanya

"Ya, perkenalkan aku Akihiko Shirou" ucapnya memperkenalkan

"Ah... aku... Uzuma... Akihiko Shirou?" ucap Naruto cepat kemudian memalingkan pandangannya

"Woo... kenapa kau disini?" tanya Naruto kaget

"Yoo... aku anggota OSIS di Winter, jadi apa boleh buat. Dan kau sendir? Yang kutahu kau juga bukan anggota OSIS" ucap Shirou

"Aku korban disini" balas Naruto

"Heh korban? Bukannya kau tadi menawarkan diri dengan suka rela?" ucap Shion

"Tidak ada yang seperti itu" elak Naruto

"Tugas kita disini hanya mendengarkan bualan mereka dari Spring" bisik Shirou lalu pergi menuju kelompoknya

.

.

.

Rapat sudah dimulai, "Baiklah sepertinya semua perwakilan sudah datang, perkenalkan namaku Hagayama Sinichi, ketua OSIS di Konoha Spring High School" ucap orang berambut klimis

"Kali ini aku yang akan memimpin rapat, kalian bebas mengutarakan pendapat kalian disini jadi jangan malu-malu" sambung Sinichi

Rapat didominasi pemikiran dari Spring, "Aku rasa kita harus melakukan hal yang bisa menarik minat masyarakat agar kita mendapat timbal baik yang bagus" ucap salah satu orang dari Spring

Bla bla bla bla bla bla bla bla bla bla... Naruto tak paham apa yang mereka bicarakan, "Apa yang mereka bahas?" tanya Naruto pada Shion

"Aku juga tidak tahu, cukup berikan senyum saat mereka berbicara" ucap Shion

"Kenapa orang sepertimu bisa jadi ketua OSIS" ucap Naruto dalam hati

Bla bla bla bla bla bla bla bla bla bla... "Ini membuang-buang waktuku" fikir Naruto

"Baiklah, kami dari Spring akan mengurus koordinasi dengan masyarakat dan yang lain mengurus sisanya, bagaimana?" ucap Shinichi

"Baik" ucap Shion dan Nagato bersamaan selaku ketua OSIS

Summer dan Winter mendapat tugas mengisi dokumen-dokumen dan juga menganalisis hasil rapat, "Kalau sudah selesai harap segera laporkan padaku untuk aku cek lagi" ucap Shinichi

Anggota lain mengisi dokumen-dokumen itu dengan cekatan, sedangkan Naruto hanya mengawasi mereka dari tempat duduknya karena dia bukan anggota OSIS. "Shion, ini sudah selesai, bisa kau berikan pada Hagayama-san untuk dicek?" ucap Temari

"Ya" balas Shion lalu mangambil setumpuk kertas ditangan Temari

Shion berjalan pelan menuju Shinichi, "Hagayama-san, tolong dicek lagi" ucap Shion

Winter juga tak mau kalah cepat, "Hana, ini sudah selesai, berikan pada orang yang ada disana untuk dicek" ucap Shirou

"Ah... baiklah" balas Hana gugup

Hana juga membawa setumpuk kertas itu pada Shinichi, "Ini Hagayama-san" ucap Hana sambil menyodorkan dokumen-dokumen itu, Shinichi mengecek hasil pekerjaan itu secara bersamaan. Shinichi menghela nafas berat setelah mengeceknya, "Haaahh... Buruk, kesalahan dimana-mana" ucapnya sambil mengembalikan kertas-kertas itu untuk diperbaiki. "Maaf Hagayama-san, kami akan mengulanginya lagi" ucap Shion dan Hana bersamaan

Naruto memandang sekitar, Summer dan Winter sedang sibuk dengan tugas yang diberikan tapi Spring malah enak-enakan mengobrol membahas hal diluar topik. Naruto melihat Shirou, "Akan ada hal buruk yang terjadi" ucap Naruto dalam hati setelah melihat Shirou.

Summer dan Winter kembali mengulangi pekerjaan mereka dengan teliti, mereka tak mau harus mengulangi kesalahan lagi. Dekat teliti mereka memperbaikinya berharap tidak ada lagi kesalahan lagi dan lagi. "Nagato-senpai, apa kita bebas menyuarakan pendapat disini?" tanya Shirou pada Nagato

"Tentu, kenapa tidak" balas Nagato

"Memangnya apa pendapatmu?" tanya Yahiko

"Itu rahasia" balas Shirou cepat

"Kubunuh kau" ucap Yahiko dalam hati karena jengkel pada Shirou

Tak kalah cepat dari yang tadi, pekerjaan Summer dan Winter selesai bersamaan, mereka menyerahkan pekerjaan itu pada Shinichi untuk dicek kembali dan hasilnya

"Sekolah kalian itu sekolah terkenal, mengisi hal seperti ini saja masih ada kesalahan, bisa kalian ulangi lagi?" kritik Shinichi

Shion dan Hana kembali lagi ke kelompok masing-masing dengan hasil yang tidak memuaskan, "Gomene, sepertinya kita harus mengulanginya lagi" ucap Hana sedih

"Gomene, masih ada beberapa kesalahan" ucap Shion

Shirou jengkel melihat, melakukan, mendengar hal seperti itu, "Konan-senpai, kita bebas berpendapat kan?" tanya Shirou lagi pada Konan

"Ya" jawab Konan singkat

"Memangnya apa pendapatmu?" tanya Yahiko lagi

"Sudah kubilang itu rahasia" jawab Shirou sambil menjulurkan lidahnya

"Kuhancurkan wajahmu" Yahiko dibuat jengkel oleh Shirou lagi

"Baiklah, kalian tidak perlu mengulanginya lagi. Berikan semua itu padaku" ucap Shirou pada anggota Winter

"Tapi... " perkataan Hana belum selesai

"Tak apa Hana" potong Shirou

Shirou berjalan menuju ke kelompok Naruto, "Onii-san dan Onee-san, mau sekalian?" tawar Shirou

"Tapi ini belum selesai kami perbaiki" balas Temari

"Tak apa, serahkan padaku" ucap Shirou yakin

"Lagipula kita bebas berpendapat disini" sambungnya

Akhirnya mereka menyerahkan pekerjaannya pada Shirou, Neji memandang Naruto dengan tatapan yang dapat Naruto mengerti, "Apa yang akan temanmu itu lakukan?" tafsir Naruto saat melihat pandangan Neji

Ia hanya mengangkat kedua tangannya mengisyaratkan ia tak tahu, Shirou berjalan melewati Naruto dengan santai, "Lakukan yang terbaik" ucap Naruto pelan

Shirou dapat mendengarnya, Naruto memang seperti itu, ia dapat menebak apa yang akan Shirou lakukan.

.

.

"Hagayama Shinichi?" panggil Shirou dengan suara datar

"Apa kalian sudah memperbaikinya?" balas Shinichi tanpa memalingkan pandangannya dari Laptop didepannya

"Apa kalian dengar apa yang diucapkannya tadi? Kita bebas berpendapat disini kan" ucap Shirou keras

Semua orang disana mengangguk kecuali Naruto, Naruto menaruh kedua tangan dibelakang kepalanya menikmati acara yang sebentar lagi akan terjadi.

"Jadi apa pendapatmu?" tanya Shinichi

Shirou melempar kertas-kertas itu secara kasar di meja Shinichi, "Summer dan Winter keluar dari project bodoh ini" ucap Shirou dengan nada yang meyakinkan

Semua mata memandang tak percaya dengan apa yang Shirou perbuat, "Hei Shirou, apa yang kau lakukan!?" teriak Yahiko pada Shirou

"Tenanglah, Shirou tahu apa yang ia lakukan" Naruto menanggapi perkataan Yahiko

"Lanjutkan" sambung Naruto

Shinichi memandang dua remaja itu secara bergantian, ia tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar, "Apa maksudmu? Kau ingin membatalkan kerja sama ini?" tanya Shirou

"Dan kau akan mempengaruhi hubungan sekolah" sambung Shinichi

"Kerja sama? Yang aku lihat disini buka kerja sama, saat Winter dan Summer melakukan pekerjaanya dan kau menolaknya, apakah itu bisa disebut kerja sama!?" ucap Shirou

"Itu semua karena masih ada kesalahan" balas Shinichi

"Hoo benarkah? Kalau begitu biar anggotamu yang melakukannya, dari tadi anggotamu hanya mengobrol hal-hal diluar permasalahan" Shriou mulai melancarkan serangan

"Apa kau tuli? Kita sudah membagi tugas masing-masing dan ketua OSIS kalian menyetujuinya" elak Shinichi

"Kalau koordinasi saja mudah, hanya dengan sebuah rayuan manis maka selesai sudah" balas Shirou lagi

"Baiklah kalau itu mau kalian, lalu apakah setelah membatalkan kerja sama ini apa menurutmu bisa menyelesaikan masalah?" tanya Shinichi

"Tapi itu bisa menghapuskan masalah" ucap Shirou kemudian berjalan menjauh

Shirou berjalan dengan menanggung kesalahan, Shirou mengambil tasnya dan berjalan kepintu keluar, begitu pula Naruto, ia juga melakukan hal yang sama dengan yang Shirou lakukan. Shirou menghentikan langkahnya saat berada didepan pintu, "Summer dan Winter, aku hanya tak ingin kita dipermainkan seperti ini, terserah kalian menganggapku apa, aku melakukan hal ini karena aku peduli dengan kalian" ucap Shirou dan berjalan keluar

Naruto menyusul setelah itu, "Uzumaki-san mau kemana kau?" tanya Shion

"Jangan bodoh, lebih baik dengarkan ucapan Shirou tadi. Kalau kalian ingin melanjutkannya maka lanjutkan sendiri sampai Hagayama Shinichi bisa menerima hasil pekerjaan kalian. Rambut rapi dan pakaian rapi, mereka lebih cocok mengurus uang daripada mengurus festival, apapun yang kalian lakukan akan tetap saja salah dimata seorang Hagayama Shinichi" ucap Naruto panjang lebar kemudian berlalu pergi

Akhirnya semua setuju kalau perkataan Shirou itu benar, "Gomene Hagayama-san, kami membatalkannya" ucap Shion dan berlalu pergi diikuti dengan yang lain

Hagayama meratapi kesalannya, anggota Spring juga tidak bisa apa-apa.

.

.

Shirou berdiri bersandar didepan gedung menunggu Naruto, "Kerja bagus" ucap Naruto yang sudah ada disampingnya,

"Yah.. aku hanya merasa jengkel saja saat pekerjaanku selalu disalahkan" balas Shirou

Semua anggota Summer dan Winter sudah keluar dari gedung secara bersamaan, "Summer" panggil Shirou

Anggota OSIS dari Summer menoleh, begitu juga dari Winter, "Ini hanya sebuah permintaan dari orang bodoh sepertiku, bagaimana kalau kita bekerja sama untuk festival budaya nanti?" pinta Shirou

Summer dan Winter saling berpandangan, "Tentu, kenapa tidak" jawab Shion selaku ketua OSIS

"Jadi bagaimana Nagato-senpai?" tanya Shirou

"Kau ini... yah mari kita buat festival budaya nanti meriah" jawab Nagato

"Ja.. ja... jadi.. " ucap Shirou tak percaya

"Summer, tolong kerja samanya" ucap Nagato sambil membungkukkan badan 90 derajat

Diikuti dengan Yahiko, Konan, dan Hana. Summer juga melakukan hal seperti itu, "Mari lakukan yang terbaik" ucap Summer bersama-sama

.

.

"Hei Naruto, sekarang jam berapa? Sepertinya kita sudah terlambat" ucap Shirou

"Terlambat? Ya Tuhan, kenapa kau baru bilang sekarang!? Ayo kita segera pergi" balas Naruto

"Tenang saja, aku sudah memberitahu Yuriko Nee-san" ucap Shirou santai

"Kalaupun terburu-buru, jarak tempat ini dan toko lumayan jauh" sambung Shirou

"Pakai saja sepedaku" ucap Shion berbaik hati

"Ah... ini yang dulu bertanya alamat rumahmu Naruto" ucap Shirou

Samar-samar wajah Shion memerah, "Tidak, aku tidak melakukan hal itu" elak Shion

Neji berjalan mendekati Shirou, "Hei kau" panggil Neji sambil menepuk pundak Shirou

Shirou menoleh dan mendapati orang yang hampir ia pukul waktu itu, "Ah, Gomenasai, gomenasai, gomenasai, gomenasai" Shirou meminta maaf berulang-ulang

"Arigato karena sudah menolongku waktu itu" ucap Neji sambil memnbungkuk

"Eh... aha ha.. kau tak perlu sungkan karena kami adalah pahlawan pembela kebenaran" balas Shirou sambil menarik tangan Naruto

"Jangan bodoh, kita hanya kebetulan waktu itu" elak Naruto

Mereka berempat tertawa kecil, "Eh... tunggu, Hei Naruto" panggil Shirou

"Apa?" tanya Naruto

"Dia memiliki mata seperti punya Hinata, coba kau lihat" ucap Shirou heboh sendiri

"Dia saudaranya" jawab Naruto

Shirou memiringkan kepalanya, ia masih tak percaya kalau orang ini kakak iparnya Hinata. "Apa kau mengenal nona Hinata?" tanya Neji

"Tentu, dia bekerja paruh waktu ditempat aku dan Naruto bekerja paruh waktu juga" jawab Shirou

.

.

.

"Shirou-kun!?" panggil seorang perempuan

"Ah Hana, maaf aku mengacaukan semuanya" ucap Shirou sambil menggaruk rambut kusutnya

"Tidak, kau melakukan hal yang benar, selalu" balas Hana

"Hana? Apa kau Furasawa Hana?" tanya Naruto

Seketika firasat buruk mulai datang pada Naruto, "Eh... iya... aku Furasawa Hana" jawabnya

"Ohh... jadi kau yang mengirim surat cinta pada Shirou?" tanya Naruto

Wajah Hana seketika menjadi semerah tomat, "Eh... tidak... aku tidak... aku duluan Shirou-kun!" Hana berlari cepat pergi dari tempat itu

"Hana!" panggil Shirou tapi tak ditanggapi

.

.

"Jika kau meminjamkan sepedamu kepada kami, kau sendiri bagaimana?" tanya Naruto pada Shion

"Tak apa, aku akan menebeng Temari, kebetulan kami juga searah" jawab Shion

"Jadi begitu, Arigatou" balas Naruto

"Shion!" panggil Temari

"Ah, aku duluan" ucap Shion kemudian berlari kecil kearah mobil Temari

"Ayo" ajak Naruto

.

.

.

.

"Kau yang didepan atau aku yang dibelakang?" tanya Shirou

.

.

.

.

.

.

.

To Be Continued!

.

Yo akhirnya selesai juga
Saya harap kalian puas dengan chapter ini
Untuk review yang belum dibalas, saya mohon maaf karena ada kesibukan :D
Ditunggu reviewnya ya..
See You In Next Chapter