DESTINY
.
.
Naruto hanya milik Masashi Kishimoto-san
Typo Everywhere, Everyplace, Everytime
Enjoy This
.
.
Chapter 15
Suasana sore hari yang cerah dirasakan oleh dua orang pemuda ini. Dengan sebuah kendaraan minimalis mereka terburu-buru menuju tempat mereka bekerja paruh waktu. Surai kuning melambai-lambai menembus melawan arah angin, surai hitam kusut pun tak kalah lambaiannya.
"Naruto!? Apa hal yang kulakukan tadi salah?" rasa bersalah terus menghinggapi fikiran Shirou
"Hmmm... aku kira tidak" Naruto mendukung apa yang dilakukan Shirou, itu adalah hal yang terbaik untuk dilakukan daripada terus berada dibawah kekangan Hagayama Shinichi yang bertindak layaknya seorang raja dikelompok kecilnya.
Kaki-kaki itu terus mengayuh pedal sepeda tanpa ada rasa lelah yang datang. Tak perlu ganti baju karena sudah dikejar waktu, banyak orang bilang kalau 'Time is Money' pemikiran bodoh menyangkut pautkan semua hal dengan uang.
"Sepertinya dia benar-benar menyukaimu" obrolan iseng diatas sepeda yang dimulai Naruto membuat Shirou ikut angkat bicara
"Siapa?" Shirou tak tahu yang dimaksud oleh Naruto, orang aneh yang memulai obrolan tanpa ada maksud
"Lupakan" orang yang memulai pembicaraan pun masa bodoh dengan obrolan ini.
.
.
.
Mereka berdua akhirnya sampai ditempat mereka bekerja, "Yosh akhirnya kita sampai juga" ucap Naruto bersyukur
Shirou turun dari sepeda dan berdiri menunggu Naruto yang hendak memakirkan sepedanya, "Tanpa keringat" Shirou berspekulasi kalau dirinyalah yang memboncengkan Naruto
"Ekspetasimu tak berlaku bodoh" sanggah Naruto sambil berjalan menuju pintu belakang toko
Mereka berdua berjalan beriringan layaknya sepasang pengantin baru, Shirou mulai berjalan mendahului Naruto, memutar knop pintu belakang toko.
"Yo minna-san, maaf kami terlambat" ucap Shirou lumayan keras mengalihkan perhatian karyawan lain
Shirou berjalan menuju gantungan disamping pintu diikuti Naruto dibelakangnya,
"Darimana saja kalian!?" tanya Yuriko dengan suara menakutkan
Sontak kedua manusia itu menolehkan kepalanya dengan mimik wajah ketakutan, "Jangan pasang wajah seperti itu!?" Yuriko semakin menjadi jadi
"Sudahlah Yuriko, mungkin mereka berdua punya urusan" pemilik toko berkomentar
Entah sejak kapan pemilik toko sudah ada dibelakang Yuriko
"Ehh.. tapi kan.. "
"Benar apa kata paman, kami berdua mempunyai urusan yang tidak bisa kami tinggalkan, dan lagipula aku sudah mengirim email padamu bahwa kami akan terlambat" potong Shirou sambil menyanggah pemikiran perempuan didepannya itu
"Aku meninggalkan ponselku dirumah hari ini" balas Yuriko dengan wajah innocentnya
"HEEEEEHHHHHH" Shirou berteriak shock
"Sudahlah kalian bertiga, segera bekerja sana. Jangan sampai kalian kalah dengan karyawan baru itu" ucap pemilik toko melerai perdebatan itu
Naruto melihat Hinata dengan tatapan santai bin kalem, memang benar apa yang diucapkan pemilik toko, Hinata bekerja dengan baik hari demi hari. Seketika pemikiran Naruto dengan cepat berubah, "Mungkin dia gadis baik" ucap Naruto dalam hati
"Mungkin juga tidak" sambung Naruto dalam hati
.
.
.
"Ice cream coklat dengan vanilla diatasnya dua"
"Segera siap"
"Ice cream bluberry dengan topping satu dan ice cream coklat strawberry dua"
"Segera kubuatkan"
Pesanan demi pesanan terus saja datang, toko kecil tapi menjanjikan adalah sebuah hal yang sangat membanggakan
"Nee Yuriko Nee-san, kau kan sudah kuliah. Dulu waktu SMA acara saat festival budaya yang menyenangkan bagimu apa?" tanya Shirou disela-sela pekerjaannya
"Ehh... tumben kau peduli dengan hal-hal seperti itu" ejek Yuriko
"Sudahlah jawab saja! tidak ada salahnya kan bertanya pada yang sudah punya pengalaman" balas Shirou
"Hmmm... semuanya menyenangkan tapi yang sangat disukai banyak murid waktu itu ya sebuah pementasan" jawab Yuriko
"Baiklah akan kupakai pendapatmu"ucap Yuriko
.
"Paman, ice cream vanilla dan coklat tiga" ucap Naruto
Shirou yang menyadari Naruto ada didekatnya segera memalingkan kepalanya ke arah Naruto, "Hei Naruto, bagaimana dengan sebuah pementasan di festival budaya?" tanya Shirou dengan suara setengah berteriak
"Heh... jangan membahasnya denganku, aku bukan anggota OSIS" balas Naruto
"Ini pesanannya" ucap karyawan lain
"Baik" balas Naruto lalu langsung berlenggang pergi tak menghiraukan perkataan Shirou
Rasa penasaran menggelitik perut Yuriko, "Memangnya apa yang akan kalian lakukan?" tanya Yuriko
"Rahasia" balas Shirou cepat dibarengi dengan sebuah acungan jempol yang mengkilap
.
.
Menit demi menit dilalui para karyawan sampai tak sadar kalau sudah waktunya tutup, "Kami duluan, hati-hati dijalan, sampai jumpa" itulah kata-kata yang mereka ucapkan saat mulai beranjak pulang.
"Aku duluan paman" pamit Naruto lalu berjalan keluar
Didepan toko sudah ada Yuriko, Shirou dan Hinata. Sebuah formasi baru saat pulang, tapi Naruto ditakdirkan menemani Hinata terlebih dahulu. Mau tak mau Naruto harus mau, ia hanya tak ingin teman satu kelasnya itu mengalami sesuatu yang buruk.
"Naruto, bagaimana dengan sepeda ketuamu?" tanya Shirou
"Aku tidak mau membawanya" sambung Shirou
"Biar aku yang bawa, besok pagi akan aku kembalikan, mana mungkin kau mau melakukan hal-hal merepotkan seperti itu" balas Naruto sambil mengejek Shirou
"Shirou, ayo!" teriak Yuriko mengajak Shirou untuk bergegas pulang
"Dasar nenek-nenek, kami duluan Naruto, Hyuuga-san" pamit Shirou lalu berjalan cepat mengambil alih sepeda Yuriko
"Ngomong-ngomong kau pantas juga memakai seragam sekolah Shirou-chan" ucap Yuriko sambil menopang dagu
"Sudahlah, ayo" Shirou mulai naik darah
Yuriko menurut dan segera naik ke boncengan, Shirou mulai mengayuh sepeda yang membawa petaka baginya
"Nee, apa kita bisa mampir sebentar ke toko game?" suara Shirou samar samar terdengar dari kajauhan
.
.
.
.
Naruto dan Hinata duduk dibangku depan toko, pemilik toko sudah pulang setelah Shirou dan Yuriko menghilang dimakan kegelapan malam. "Itu sepeda siapa?" tanya Hinata dengan suara pelan
"Hmm... milik ketua OSIS" jawab Naruto
Naruto memejamkan matanya berharap hal seperti ini cepat berakhir, "Bagaimana bisa ada padamu?" tanya Hinata lagi
Sepertinya rasa penasaran Hinata sudah melebihi ambang batas rasa penasaran manusia biasa, "Ceritanya panjang" balas Naruto cepat tanpa membuka matanya yang masih terpejam
Oborlan kecil itu berakhir, sunyi menghinggapi kedua insan tersebut.
"Nee Naruto-kun? Apa kau pernah jatuh cinta?" tanya Hinata dengan suara datar
Sontak Naruto membuka matanya mengarahkan pandangannya ke perempuan disampingnya itu, rona merah tipis tampak dipipi putih Hinata
"Jatuh cinta? Tidak pernah" balas Naruto
"Sama sekali?" tanya Hinata lagi memastikan
"Sama sekali" balas Naruto
Pandangan kosong dimata Hinata, Naruto tak pernah melihat mata itu dengan jelas. "Kau sendiri?" akhirnya Naruto mengalah dan membuat sebuah obrolan kecil dengan Hinata
Seketika pandangan kosong itu hilang, mata rembulannya menatap Naruto. Tatapan mata mereka bertemu, dengan cepat Hinata memalingkan wajahnya menghindari hal tersebut
"Aku juga tidak tahu, tapi akhir-akhir ini aku merasa nyaman saat mengobrol dengannya, walaupun hanya obrolan sepihak tapi entah kenapa aku nyaman dengan hal itu" jawab Hinata tak pasti
"Ohh... berhati-hatilah, mungkin dia bukan pria yang baik" ucap Naruto menasehati
"Apa kau khawatir padaku?" tanya Hinata sambil mendekatkan wajahnya ke Naruto dengan cepat
"Ahh... maksudku... etto... "
"Berbohong itu tidak baik Naruto-kun" ucap Hinata menceramahi
"Bukan itu maksudku, seorang pria itu harus menanggapi apapun yang perempuan katakan padanya, tapi kalau sepihak aku rasa dia bukan orang baik, kau tahu me-nge-bai-kan!" balas Naruto meluruskan
"Kau berbicara seperti itu tapi kau juga sama dengannya, itu sama saja kau mengatai kalau kau itu bukan pria baik" sanggahan demi sangahan Hinata lontarkan
Sepertinya Naruto mulai kalau obrolan ini memojokkannya, bodohnya dia memulai obrolan dengan orang lain. "A.. apa maksudmu!?" tanya Naruto
"Saat aku mengobrol denganmu kau hanya menjawabnya dengan jawab singkat seperti 'tidak, ya, hmm' bahkan kadang kau juga mengabaikannya" Hinata mengkoreksi Naruto yang duduk disampingnya tersebut
"Baiklah, aku mengakuinya. Aku juga bukan pria baik-baik" Naruto mengalah dengan teman sekelasnya sendiri
Wajah Naruto menjadi datar setelah mengatakan hal tersebut, Hinata memperhatikannya, Hinata melihat perubahan raut wajah pada Naruto. Mungkin ini salahnya, tapi ini hanya sebuah obrolan untuk mengisi waktu, kenapa Naruto menjadi bawa perasaan seperti saat ini, Hinata tak tahu letak kesalahannya.
"Ayolah Naruto-kun, aku hanya bercanda. Jangan dimasukkan dalam hati" Hinata berucap
Naruto menolehkan pandangannya ke arah Hinata, pandangan lirih itu terasa sangat sakit, seperti dia sedang memikirkan sesuatu yang berat
"Kau kenapa Naruto-kun?" tanya Hinata
"Kau mau tahu apa yang membuatku merasa seperti ini?" Naruto bertanya balik
Jantung Hinata mulai berdetak cepat, perasaan grogi menghantuinya. Memberanikan diri, Hinata mulai bertanya apa yang membuat pria disampingnya ini menjadi seperti sekarang, "I... iya, aku mau tau" balas Hinata gugup
"Kau yakin?" Naruto memastikan
BOOM, fikiran Hinata sudah kemana-mana. Jalan fikiran Hinata mulai bercabang satu demi satu, "Ya.. Yakin" balas Hinata
Naruto menghembuskan nafas berat, serasa harus memberitahukan ramalan kiamat. "Baiklah... "
.
.
"Haaah.. apa mahluk yang tersenyum aneh disana itu supirmu?" ucap Naruto sambil menunjuk seseorang yang tersenyum tak jelas yang berada dibawah lampu jalan
"Heh!?" tanda tanya besar muncul diatas kepala Hinata
Sontak Hinata memutar pandangannya dan menerawang mahluk yang dimaksud Naruto, 1 2 3 dan benar yang dimaksud Naruto, supir Hinata tengah berusaha menahan senyum gajenya, malah makin terlihat aneh saat seseorang berusaha menahan senyum
Naruto mulai berdiri dari duduknya, "Aku duluan" ucap Naruto lalu berlalu pergi melangkah menuju sepeda milik Shion
Hinata menolehkan kepalanya saat Naruto berpamitan, seperti Hinata ingin mengobrol dengan Naruto sedikit lebih lama lagi tapi si kepala durian itu malah pergi duluan dan juga kenapa supirnya berhenti agak jauh dari tempat Hinata
Hinata mau tak mau juga harus pergi dari tempat itu, waktunya pulang merasakan empuknya kasur. "Kau telah melakukan yang terbaik hari ini Hinata" ucap Hinata dalam hati menyemangati dirinya sendiri
Langkah demi langkah, Hinata masuk kedalam mobil dengan perasaan aneh dalam dirinya. "Kenapa kau tidak langsung saja tadi!?" Hinata memarahi supirnya
"Ah.. maaf Nona Hinata, tadi saya lihat anda sedang asyik mengobrol dengan orang itu. Itu adalah pemandangan langka bagi saya" balas sang supir
"Pemandangan langka?" tanya Hinata
"Ya... saya tidak pernah melihat anda sebahagia itu saat mengobrol dengan lawan jenis" jawab sang supir
"Apa jangan-jangan anda menyukainya?" sambung supir dengan pertanyaan aneh
"Hentikan omong kosongmu" balas Hinata sambil menopang dagu, melihat ke arah luar menikmati pemandangan malam hari
.
.
Rasa benci Hinata pada Naruto sedikit demi sedikit berkurang saat Naruto ada disampingnya, "Kau tahu Naruto-kun, mengubah keadaan yang sekarang seperti ini tak semudah membalikkan telapak tangan, andai saja aku tidak membencimu dari awal mungkin... mungkin... mungkin"
.
.
.
When the Angel Laugh
.
.
.
Pagi hari yang cerah, surai kuning itu bersinar layaknya mentari pagi, tak mau kalah akan sinarnya. Geritik gear yang bersentuhan dengan rantai terus terulang, kaki itu mengayuh sepeda dengan senangnya. Dan jangan lupakan earphone yang tersumpal ditelinganya, mengabaikan keselamatan, senandung kecil menemaninya dalam perjalanan.
"Ini masih jam 8, mungkin aku terlalu pagi atau karena sepeda ini yang melaju kencang" fikir Naruto
Langkah kaki dan putaran roda itu berbeda, saat kau melangkah 5 kali tapi roda itu sudah berputar puluhan kali diatas aspal. Rambut Naruto yang dari lahir memang terlihat berantakan sekarang semakin berantakan lagi, angin musim panas menerpa helai demi helai rambutnya.
"Sebentar lagi liburan musim panas, Haaah... aku tidak punya rencana untuk mengisi liburan itu" fikir Naruto mengingat beberapa hari lagi akan mendapat liburan
Fikiran fikiran tentang liburan musim panas mulai bermunculan dikepala Naruto. "Pantai, perkemahan, festival, masa bodoh dengan semua itu, tak ada tempat senyaman sofa dirumah" fikir Naruto membantah ide-ide konyol yang datang
Gerbang sekolah sudah terlihat dari kejauhan, berdiri kokoh menjulang menyambut murid mereka. Apa sebuah gedung memiliki perasaan? Apa mereka senang saat murid datang untuk menuntut ilmu ditempat mereka dibangun? Mungkin hanya psikopat dan Tuhan yang tau
Setelah sampai didepan gerbang, Naruto berhenti, turun dan menuntun maju sepeda yang ia bawa menuju ke tempat yang seharusnya. "Woi Minna, lihat rubah ini! Dia sudah bisa membeli sepeda" teriak salah satu siswa menarik perhatian murid lain
Naruto merasa kalau yang dibicarakannya adalah dirinya, "Hei Uzumaki, kau sudah naik satu pangkat sekarang, tapi masih jauh dibawah kami" ucap siswa tadi dan seketika semua yang ada disitu tertawa, tersenyum meremehkan
Naruto berhenti dan memalingkan wajahnya, menatap murid-murid lain yang sedang melecehkannya, "Ini bukan sepedaku" jawab Naruto singkat
"Kalian dengar!? Itu bukan sepedanya. Rubah ini tidak naik satu pangkatpun" lagi dan lagi
"Memangnya kenapa dengan pangkat? Apa sebegitu pentingnya?" tanya Naruto mulai jengkel
"Tentu, bodoh! Kau bersekolah ditempat yang salah, pangkat kami diatasmu jauh sampai kau tidak bisa menggapainya walaupun hanya satu titik saja" jawabnya
"Jadi begitu, padahal aku menganggap kalian adalah temanku walaupun kalian tidak menganggapku ada" ucap Naruto
"Teman!? Teman katamu!? Jangan mengada-ngada, kau disini bisa diibaratkan seekor rubah yang sedang diburu dan kamilah pemburu itu" balas siswa itu, pandangan meremehkan dari semua murid ditujukan ke Naruto
"Dan juga, kalau itu bukan sepedamu berarti itu hanyalah sebuah sepeda curian. Betapa tak bergunanya orang tuamu itu, membelikan sepeda anaknya saja tidak mampu bahkan sampai mencuri, betapa buruknya mereka. Mungkin aku harus menelfon polisi" sambung siswa itu
Naruto menurunkan standar sepeda, membalikkan badan, hentakkan kakinya terasa berat saat ini. Tatapan itu tak lagi datar, melainkan tatapan tak suka akan hal yang baru saja lawan bicaranya katakan
"Hoo... ada apa dengan tatapan itu!? Mau menghajarku!? silahkan saja, aku ada dua anggota karate disini" ucap siswa itu dengan nada meremehkan sambil melirik dua orang dikedua sisinya secara bergantian
"Kau yakin!?" tanya Naruto memastikan
"Memangnya kau bisa apa, hah!?" ucap siswa itu meremehkan lagi dan lagi
"Kau akan menyesalinya!" balas Naruto sambil menjatuhkan tasnya
Naruto mulai melangkah maju, setiap langkahnya menopang rasa bencinya saat ini. Kedua murid anggota klub karate sudah bersiap dengan kuda-kudanya, langkah demi langkah semakin cepat temponya
"Destiny Never False"
"I can broke your bone"
"I can smile like devil"
"You will see the real me"
Kedua karatekan mulai berlari menuju Naruto, sebuah kepalan telapak tangan sudah standby unuk mendarat dimana saja, Naruto juga sudah siap dengan apa yang akan ia lakukan, sebuah konsekuensi yang harus dibayar dengan melihat wajah ketakutan monyet-monyet didepannya
"Padahal lukaku belum sembuh tapi jika itu mau kalian maka dengan senang hati aku akan melakukannya" gumam Naruto
"Hentikan Uzumaki Naruto" suara berat menghentikan perdebatan itu
Neji yang baru datang lah yang menghentikan Naruto, "Jangan lakukan Naruto" Shion yang tiba-tiba ada dibelakang Naruto menggapai tangan Naruto untuk tidak melanjutkannya.
"Hoi Neji, kau merusak suasana" ucap siswa yang merehkan Naruto tadi
"Aku tidak peduli, dan juga kenapa kalian menggunakan karate untuk hal seperti ini!?" ucap Neji marah pada kedua karatekan yang masuk dalam anggota klubnya
Kedua karatekan itu hanya terdiam saat ditanyai Neji, tak beran mebalas tatapan mata Neji. Saat suasana menjadi hening sebuah perkataan mengalihkan perhatian para murid
"Kenapa!?" ucap Naruto gemetar
Semua murid memandang Naruto, tubuhnya gemetar entah apa yang Naruto rasakan saat ini. "Kenapa kalian berdua hanya menghentikanku!? Kenapa tidak dari tadi kalian menghentikan perkataan busuk orang itu" ucap Naruto masih gemetar
"Itu karena aku hanya sampah disini, orang tuaku diejek berulang kali, itu hal yang tidak kusukai. Kenapa kalian selalu membawa-bawa orang tua!? Aku tidak akan tinggal diam" sambung Naruto
"Karena ini untuk kebaikan semuanya" jawab Shion
"Kebaikan!? Semuanya!? Aku tidak mengerti maksudmu!?" suara Naruto semakin mengeras
"Perkelahian tidak akan menyelasaikan masalah" imbuh Neji
"Setidaknya itu bisa menghilangkannya!" balas Naruto
"Persetan dengan kalian semua, sikap egois kalian itu membuatku muak, aku menahan diri dari dulu dan tujuanku saat ini adalah... "
.
.
"KUHANCURKAN WAJAHMU SEKARANG JUGA!" teriak Naruto sambil menunjuk siswa yang tadi mengejek orang tuanya
Seketika mental siswa itu drop dengan cepat mendengar perkataan Naruto, raut ketakutan nampak jelas diwajahnya. "Sudah aku bilang perkelahian itu tidak ada gunanya, jika kau ingin maka kalahkan aku dulu" ucap Neji lalu melangkah menutupi jalan Naruto untuk memukul siswa itu
Senyum kecil terlihat dari wajah Naruto, dengan cepat Naruto berlari menuju kearah Neji, Neji pun tak mau kalah, ia memasang kuda-kuda untuk menahan Naruto
Satu pukulan berhasil ditahan Neji karena ia pernah melihat gaya berkelahi Naruto, sebuah tendangan yang menuju ke pinggang juga dapat ditangkap oleh Neji. Naruto tak begitu terkejut saat serangannya berhasil ditahan mengingat lawannya adalah ketua klub karate.
Tak kehabisan akal, Naruto melakukan putaran diudara, karena satu kakinya masih bebas bergerak. Sebuah tendangan memutar mendarat tepat dikepala Neji, Neji jatuh tersungkur, ia tak pernah menduga seperti barusan. Neji meringis kesakitan merasakan sakit dikepalanya, "Kau yang memintanya" ucap Naruto datar
Shion tak bisa berbuat apa-apa, ia tak pernah mengenal Naruto seperti ini. Naruto berjalan pelan menuju siswa tadi, wajah ketakutan terpampang jelas dipandangan Naruto, kedua karatekan yang tadinya sangat percaya diri perlahan berjalan mundur.
Naruto sudah ada didepan siswa tersebut, siswa itu tak mencoba lari karena ketakutan mempengaruhi kerja otaknya untuk menggerakkan kaki walaupun hanya selangkah. Tatapan benci terpancar hebat dari mata Naruto, dengan cepat kedua tangan Naruto sudah mencengkram kerah baju siswa itu.
"Apa orang tuamu tidak pernah mengajarkanmu cara membela diri!?" tanya Naruto sambil memperkuat cengkramannya
Siswa itu hanya diam tak menjawab karena saking takutnya, "Kenapa kau tidak mencoba kabur!?" tanya Naruto lagi
"BUUUKKKK" satu pukulan mendarat diwajah siswa tersebut
Siswa itu mengalami hal serupa dengan yang dialami Neji, jatuh tersungkur mengerang kesakitan. Naruto mendekatinya lagi, menarik kerah menyuruh siswa itu agar berdiri
"Hoo... mana wajah sombongmu tadi!?" ucap Naruto meremehkan
"Hentikan, Naruto-kun!" teriak Hinata yang baru saja datang
"Neji Nii-san?" ucap Hinata saat melihat saudaranya itu terkapar ditanah
Hinata panik kemudian berlari mendatangi saudaranya tersebut, dengan sedikit usaha Hinata mencoba membantu Neji untuk berdiri. "Apa yang sudah kau lakukan!?" tanya Hinata geram pada Naruto
Naruto tetap diam tak menjawab pertanyaan Hinata, "Aku kira kau ini orang baik-baik! Tapi semua itu hanyalah sebuah kebohongan!" perkataan Hinata melemahkan cengkraman tangan Naruto pada kerah baju siswa didepannya
"Seharusnya brandalan sepertimu tidak ada disini, kau membuat Neji Nii-san sampai seperti ini! Apa kau sadar apa yang kau lakukan, HAH!?" perkataan Hinata mulai meninggi
Naruto tak dapat mebalas perkataan Hinata, entah kenapa mulut itu sulit untuk membalasnya. Naruto melepaskan cengkramannya, "Aku bicara padamu, Uzumaki Naruto!"
"Hei kau!? Pukul aku" ucap Naruto pelan pada siswa didepannya
Jelas siswa itu tidak berani untuk memukul Naruto setelah melihat Neji bisa dikalahkannya dengan mudah. "AKU BILANG PUKUL AKU!" teriak Naruto
Siswa itu mundur beberapa langkah dan menghilang dikerumunan, "Dasar Banci" gumam Naruto
Naruto menyudahi acara tersebut, ia membalikkan badannya dan melihat Hinata tengah menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan, Naruto tak memperdulikan itu. Ia tetap berjalan dengan pandangan lurus ke arah tasnya tadi.
Naruto menghantikan langkahnya tepat disamping Neji, ringis kesakitan nampak diwajahnya. "Jangan sok menjadi pahlawan jika kau belum tahu kemampuan musuhmu" ucap Naruto pada Neji
Neji tahu kesalahannya, mereka semua tahu kesalahannya. Mereka sudah membangunkan seekor monster dengan perkataannya. "Aku muak dengan kalian, akan aku tunjukkan bagaimana rubah ini mempertahankan diri dari pemburu kelas teri seperti kalian" perkataan Naruto merujuk pada semua orang yang ada disana
Naruto melanjutkan jalannya, mengambil tasnya yang ada tepat didepan Shion. Naruto tak mengatakan apa-apa setelah itu, ia tetap diam.
"No.. No-na Hinata, semua ini bukan salahnya" ucap Neji
"Tapi dia sudah... "
"Percayalah padaku, di.. dia orang baik" potong Neji
.
.
.
Kau pernah menanyakan apakah ini rencana Tuhan? Skenario ini sangat menyiksanya, runtutan cerita kehidupannya memburuk. Naruto tak tahu apakah permintaan, janji dan harapan itu akan terwujud. Ia baru 17 tahun, ini semua membuatnya muak, jika kebaikan tak dapat mereka terima, sebuah balasan akan datang tak terduga.
Naruto duduk termenung menatap keluar jendela, pandangannya kosong. Ia bagaikan mayat hidup tanpa ada tujuan untuk apa dia dibangkitkan lagi, jika akhirat itu adalah tempat mengerikan apalagi dunia terkutuk ini. Mereka semua tak mempedulikannya, walaupun mereka dekat tapi perasaan mereka terasa dingin untuk Naruto.
Jika mereka yang itu inginkan maka Naruto akan mengabulkannya, tak ada sosalisasi, menyendiri, tak peduli bagaimana keadaan mereka, karna itulah yang mereka inginkan.
Naruto mengambil ponselnya dari dalam saku dan menelfon seseorang,
"Apa nanti sore kau sibuk?" tanya Naruto
"Hmm.. tidak, hari ini aku bebas, dan tumben kau menelfonku!?"
"Bisa jemput aku!? Aku ingin ketempat biasanya" balas Naruto
"Apa kau mengalami masalah?"
"Sudahlah, apa kau bisa?" tanya Naruto lagi
"Tentu, kutunggu didepan sekolah nanti"
Percakapan pun berakhir dengan Naruto yang menutup ponselnya. Naruto mulai sadar kalau dia berada ditempat yang salah, ia tak seharusnya disini.
.
.
Tik Tok Tik Tok
Jam dinding dikelas berbunyi tanpa henti mengulangi nada yang sama setiap detiknya
Sebuah hari-hari membosankan
Kenapa kalian mengulangi hal yang sama setiap harinya
Apa kalian tidak bosan
Seberapa besar kesabaran kalian
Datang hanya untuk bertemu teman
Teman tidak menghidupi kalian
Mereka punya kehidupan sendiri
.
.
Jam sepulang Sekolah
Selalu, Naruto selalu keluar kelas yang paling terakhir. Kegiatan bodoh yang ia lakukan menghindari para monyet untuk membuat masalah dengannya. Cara berfikir seperti manusia barbar, yang dirasa tidak cocok dengan keinginan mereka harus dihilangkan, "Dasar orang kaya"
Naruto berjalan santai seperti biasanya, kedua tangan masuk kesaku celana. Tapi sekarang ia melepas earphonenya, entah apa yang ia pikirkan. Masih ada saja murid lain disekitar sekolah, tatapan itu adalah tatapan benci yang tertuju pada Naruto
Sebuah kerumunan dipinggir jalan, para wanita mengerumuninya. Naruto menatap jengkel kerumunan itu, bagaikan manusia bodoh yang seharusnya tidak hidup.
"Kyaa... " teriak histeris salah satu wanita
"Itu benar-benar dia" ucap wanita lain
"Nona-nona, bisakah kalian diam? Aku sedang berusaha mencari temanku disini"
"Kalau boleh tahu siapa temanmu itu? jika dia temanmu maka berarti dia juga temanku" perkataan wanita itu membuat Naruto ingin muntah
Naruto berjalan mendekat ke kerumunan itu, ia berjalan memutarinya.
Naruto berada disamping mobil hitam mewah, "Apa kau selalu tebar pesona!?" tanya Naruto
Orang yang menjadi pusat kerumunan itu menoleh mendengar perkataan Naruto, bahkan wanita-wanita itu juga ikut mengalihkan perhatiaannya.
"Apa urusanmu, rubah!?"
"Pulanglah dan tidur!"
Cacian demi cacian terus diterima Naruto, "Jika dia temanmu maka dia berarti juga temanku" ucap Naruto mengulangi ucapan salah satu wanita yang ada disana
"Bullshit" sambung Naruto
"Bisa kita pergi sekarang, Sasuke?" tanya Naruto
Tanpa babibu Naruto segera masuk kedalam mobil, "Dia tidak berubah" fikir orang itu yang ternyata adalah Uchiha Sasuke, si top model remaja sekarang ini. "Dia temanku" ucap Sasuke lalu mesuk kedalam mobil
Mobil itu mulai berjalan maju meninggalkan kerumunan wanita itu
Kerumunan itu hanya diam tak bisa berkata apapun, siapa sebenarnya Naruto itu. Kenapa dia bisa mengenal idola mereka, apa yang dikatakan Naruto dulu benar, mereka tidak tahu Naruto yang sebenarnya
.
.
Dalam mobil Naruto memandang keluar jendela dengan tatapan sendu, "Ada masalah?" tanya Sasuke yang sedang menyetir mobil
"Tidak, aku hanya rindu mereka" jawab Naruto pelan
Sasuke tahu kalau Naruto merindukan orang tuanya, ia tahu persis bagaimana orang disampingnya ini saat merindukan orang tuanya.
"Kau sudah beli bunga?" tanya Sasuke
"Mereka tidak butuh bunga, mereka tahu aku seperti apa dari atas sana" jawab Naruto
"Jangan bodoh, aku sudah membelikannya untukmu" ucap Sasuke
"Hmm.. Arigato" balas Naruto lemas tanpa semangat
Mereka berdua sampai dipemakaman, "Otou-san, Oka-san... gomene... aku bukan anak yang baik, aku berkelahi dengan teman sekolahku... kenapa? Kenapa kalian harus mati!?" tanpa sadar air mata meluncur dengan cepatnya
"Aku ingin seperti orang lain, aku ingin bisa merasakan bagaimana rasanya kalian memelukku saat ini, mereka selalu mengejek kalian, apa kalian akan diam saja? Otou-san, Oka-san... kuharap kalian masih hidup, ini semua salah kalian... kenapa kalian harus mati!? Aku benci kalian"
"Sudahlah Naruto" ucap Sasuke sambil menepuk pundak Naruto dari belakang.
"Kenapa kau tidak pulang? Kerumahmu yang sebenarnya" sambung Sasuke
Naruto mengusap air matanya, "Gomene, padahal aku sudah berjanji untuk tidak menangis, gomene aku mengucapkan hal aneh, gomene" ucap Naruto
Naruto mulai membalikkan badannya, "Tidak, aku masih belum ingin pulang" balas Naruto akan perkataan Sasuke tadi
"Kalau itu mau mu, aku juga tidak bisa berbuat apa-apa" balas Sasuke
"Bisa kau antarkan aku ke tempat kerjaku?" pinta Naruto
"Apapun itu, Dobe" jawab Sasuke
"Kau masih banyak gaya, Teme" ucap Naruto diakhiri dengan senyum kecil
Mereka berdua tertawa bahagia, dengan cepat perasaan sedih Naruto hilang.
"Nee... bagaimana dengan si muka pucat?" tanya Naruto
"Hmm... dia sedang diluar negeri sekarang, dia akan pulang saat kita mengunjungi mereka" balas Sasuke
"Baguslah, aku kira kalian sudah lupa dengan kegiatan itu" ucap Naruto
.
.
When the Angel Smile
Devil Will Cry
.
.
To Be Continued
.
.
Yo Minna, gomene karna chapter kali ini lebih sedikit word.a dari pada yang kemarin
Mungkin, chapter berikutnya akan lama updatenya karna Kehidupan Dunia nyata memanggil
Tapi saya harap kalian tetap menunggu fic abal ini
Chapter 15 ini adalah akhir dari genre Hurt Comfort
Chapter 16 nanti lah yang akan memulai Romance dific ini
Soo... please wait my fic if you want to know how NaruHina love story in this Fic
Jaa Naa, in Next Chapter
