DESTINY

.

.

Naruto hanya milik Masashi Kishimoto

Typo Everywhere

Diksi yang tak ada bagus-bagusnya

Pemilihan kata yang tidak tepat

Enjoy This

.

Opening Word – Komm Susser Tod

.

I know, I know I've let you down

I've been a fool to my self

I thought that I could live for no one else

But now through all the hurt and pain

It' time for me to respect

The one's you love mean more than anything

So with sadness in my heart

Fell the best thing i could do

Is end it all and leave forever

What's done is done it feels so bad

What once happy now is sad

I'll never love again

My world is Ending

.

I wish that I could turn back time

'cause now the guilt is all mine

Can't live without the trust from those you love

I know we can't forget the past

You can't forget love and pride

Because of that it's KILLING me inside

.

.

Chapter : 16

Dalam perjalanan menuju toko ice cream, Naruto tengah sibuk dengan pemandangan diluar mobil. Sasuke yang sedang fokus menyetir tak peduli dengan apa yang difikirkan Naruto saat ini, "Apa kau masih suka berkelahi?" tanya Sasuke dengan pandangan yang tak lepas dari jalan

"Tidak juga" balas Naruto datar

"Hanya melampiaskan kemarahan mungkin" sambung Naruto

"Sudahlah, jangan kau dengarkan mereka. Mereka tidak lain hanyalah sekumpulan manusia bodoh" balas Sasuke

Naruto tak menanggapi, ia hanya melihat keluar kaca. Baginya tidak masalah berkelahi, tapi saat bawa-bawa orang tua, itu sudah lain ceritanya. Entah kenapa waktu itu ia berhenti hanya dengan perkataan gadis Hyuuga Hinata itu. Dia bukan siapa-siapa tapi kenapa Naruto mendengarkannya, "Skenario-Mu sangat buruk bagiku" batin Naruto berucap

.

.

Mereka berdua sampai didepan toko ice cream, tempat Naruto bekerja. "Sudah sampai Naruto" ucap Sasuke membuyarkan lamunan Naruto, "Ah, terima kasih, apa kau langsung pergi?" tanya Naruto

"Begitulah, aku tidak punya urusan disini" balas Sasuke

"Heh!? Setidaknya sapalah si kusut dan penyihir itu" ucap Naruto merujuk pada Shirou dan Yuriko

"Baiklah, tapi sebentar saja" Sasuke menuruti perkataan Naruto

Mereka berdua keluar dari mobil bersamaan, dari jauh terlihat siluet seseorang. Tak lain dan tak bukan itu adalah si kusut. Ia nampak berlari menuju tempat Naruto sekarang berada, "NARUTO!" teriak Shirou dari kejauhan

Naruto sudah tahu kalau itu adalah Shirou, tas selempang, rambut berantakan dan selalu nampak kusut, seragam yang selalu rapi walaupun sudah pulang sekolah. "Dia juga baru datang" ucap Sasuke

Sesampainya didepan toko, Shirou mengambil nafas. Pundaknya naik turun seirama dengan nafas yang ia ambil, "I... ini gila" ucap Shirou entah mengacu pada hal apa

"Apanya?" tanya Naruto

"Aku... aku tidak kebagian game yang baru keluar, ini membuatku gila" masalah Shirou terungkap

"Kau ini, bersabarlah 1 hari dan aku akan menemanimu mengantri" balas Naruto

"Baiklah, dan... kenapa PANTAT AYAM DISINI!?" tunjuk Shirou ke Sasuke

"Yo, lama tak bertemu" balas Sasuke santai

"Terserahlah, aku masih dendam denganmu" perkataan Shirou mulai membuat Sasuke heran

"Dendam?" Sasuke tak tahu maksud Shirou

Shirou mengerucutkan bibirnya, dia tak mungkin lupa. Dia tak mungkin lupa apa yang telah Sasuke perbuat padanya, "KAU... Aku... Aku... " suara Shirou memelan

"Ya?" Sasuke menunggu perkataan Shirou

"AKU MINTA TANDING ULANG HERO APPOCALYPSE!" Shirou meluapkan emosinya, semua hanya karena sebuah game, game membutakan Shirou

"Wokeh, dan jangan lupa untuk mendapatkan yang terbaru" balas Sasuke

"Hei Shirou, apa minggu ini ada jadwal kalau toko kita dipesan?" tanya Naruto mengambil pembahasan lain

"Sepertinya tidak"

Naruto menunjuk sebuah kertas yang tertempel dikaca toko, "Lalu itu apa?"

"Kau ingat kata-kataku Shirou!?" Sasuke melirik Shirou yang masih mengikuti arah telunjuk Naruto

Shirou dan Sasuke tersenyum kecil, "Tidak akan pernah tahu kalau tidak mencari tahu" ucap mereka berdua bersamaan

Shirou berjalan paling depan, menuju pintu depan toko, yah sesekali tidak ada salahnya, setidaknya rasa penasaran mereka terbayarkan.

"Permisi!" ucap Shirou cukup kencang

Baru beberapa langkah, mata Shirou sudah terbelalak dengan hal yang dilihatnya. Bukan Zakuza, bukan alien, bukan pengelena waktu, bukan juga esper, apalagi sekumpulan Hikikomori yang baru keluar rumah, mereka... mereka..

"APA YANG KALIAN LAKUKAN DISINI!?" Shirou berteriak sambil menunjuk sekumpulan orang didalam toko

"Jika bukan karena kau, kami semua tidak akan berada disini" jawab Yahiko

Sungguh sial, anggota osis Summer dan Winter berada ditempat Shirou bekerja. Kenapa mereka ada disini? ini lah namanya takdir, takdir bodoh yang mengacaukan kehidupan. "Nikmatilah masa remajamu" ucap Naruto lalu berlalu menuju kebelakang

"Teme, kau bisa duduk dimanapun tapi aku sarankan duduk saja dipojok sini" sambung Naruto sambil menunjuk kursi kosong dipojok ruangan

"Hei Uzumaki-san, kau harus ikut dalam diskusi ini!" panggil Shion

"HAH?! Diskusi?! Itu bukan urusanku, dari awal aku bukan bagian dari kalian" balas Naruto

Naruto melanjutkan jalannya menuju dapur, "Maafkan temanku, suasana hatinya sedang buruk saat ini" ucap Sasuke

Semua orang tahu siapa dia, si model yang sukses dimasa mudanya dan mereka tidak menyangka kalau ia temannya Naruto

Sesampainya didapur, Naruto menemukan kalau karyawan lain sepertinya dipulangkan lebih awal. Sepertinya sia-sia Naruto datang kemari, "Yo Naruto, baru datang?" ucap Yuriko yang baru keluar dari gudang

"Ah... yang lain?" tanya Naruto

"Hmm.. paman memperbolehkan yang lain pulang lebih awal hari ini" jawab Yuriko

"Bisa bantu angkat kardus yang ada didalam? Aku tidak enak menyuruhnya membantuku" sambung Yuriko

"Baiklah" jawab Naruto

Sebelum itu dia menaruh tasnya digantungan yang ada disamping pintu. Tak lupa memakai celemek yang ada. "Hanya sedikit tapi itu lumayan berat Naruto" ucap Yuriko saat Naruto masuk kedalam gudang

"Jangan remehkan aku" balas Naruto dibarengi tawa kecil

Baru saja masuk, Naruto sudah dikagetkan oleh sebuah suara, "KYAAA" Hinata terkejut saat Naruto masuk kedalam gudang. "HWAAAA" Naruto tak kalah terkejutnya

"NARUTO! Jangan teriak-teriak!" teriak Yuriko

"HEE! Padahal kau juga berteriak!" balas Naruto dengan berteriak juga

Soulmate bodoh ini sama-sama bertindak bodoh, mungkin mereka akan cocok saat menjadi kakak-adik. Seorang kakak perempuan yang galak dan seorang adik laki-laki yang keras kepala, betapa sempurnanya dunia ini.

"Naruto-kun, " Hinata memanggil Naruto, Naruto tak menjawab. Naruto masih diam sedangkan Hinata masih menunggu jawaban Naruto

"Jadi, mana yang harus diangkat?" akhirnya Naruto membuka mulut

"Eeh.. yang ini" tunjuk Hinata pada kardus dibawahnya

Tanpa tunggu babibu, Naruto segera mengangkat kardus itu, "Jika tidak membantu disini, sebaiknya kau bantu nenek sihir itu" ucap Naruto

"Aku mendengarmu pirang" Yuriko mendengarnya, telinganya memang sensitif saat ada yang mengatainya

Hinata tak berucap satu patah kata pun, ia langsung pergi menuju Yuriko yang sedang membuat ice cream, tentu saja untuk anggota osis yang ada didepan

Beberapa kardus sudah diangkat, "Oh iya, aku sampai lupa kalau yang mencarimu didepan" ucap Naruto pada Yuriko

"Orang?" tanya Yuriko

"Titan!"

.

.

Rasa penasaran menggerogoti fikiran Yuriko, ia kemudian mengeluarkan kemampuan terhebatnya. Dengan cepat mangkuk demi mangkuk, gelas demi gelas mulai selesai dengan terisi ice cream yang ada. Naruto menganga, sungguh seorang penyihir yang hebat fikirnya, Hinata pun juga begitu.

"Yosh, sudah selesai. Kalian berdua antarkan semua ini kedepan, aku ingin tahu siapa yang mencari perempuan cantik sepertiku" Naruto menahan mual akan perkataan Yuriko, ia memang cantik tapi akan terlihat menggelikan saat perempuan terlalu percaya diri akan kecantikannya tersebut.

Dengan cepat seperti Flash, Yuriko berlari kedepan menemui tamunya. "Jadi siapa yang mencari Yuriko Nee?" tanya Hinata

"Bukan urusanmu" balas Naruto cepat

"Kenapa kau menjawab seperti itu? Aku bertanya baik-baik" ucap Hinata

"Karena aku bukan pria baik-baik seperti yang kau bilang tadi pagi" Naruto membalikkan keadaan

Tak mau memperpanjang masalah, Naruto segera mengambil nampan dan mulai mengangkati ice cream yang sudah disiapkan. "Setidaknya buatlah dirimu berguna" Naruto mengacu pada Hinata yang masih saja diam.

Merasa diremehkan oleh pria didepannya tersebut, membuat Hinata harus mulai bertindak agar tidak selalu diremehkannya. Ia juga mengambil nampan dan melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Naruto

Naruto dan Hinata mulai membawa ice cream ice cream itu kedepan. Sementara itu Yuriko tengah mematung setelah melihat siapa yang mencarinya. "Jangan terlalu berharap" ucap Naruto saat melewati Yuriko

"OOOO.. PANTAT AYAM! Berani-beraninya kau menunjukkan wajahmu didepanku!" teriak Yuriko

"Hoi hoi, apa maksudmu!?" Sasuke panik melihat aura aneh keluar dari tubuh Yuriko

"HAH! Kembalikan uang yang kau pinjam dulu! Jumlahnya tidak sedikit bodoh!" ucap Yuriko sambil mencengkram leher Sasuke

"Heh!? Uang!? Itttaaaiii , aku memberikannya pada Shirou agar ia memberikannya padamu karena kita jarang bertemu! LEPASKAN!" protes Sasuke

"Shirou?" fikir Yuriko

Sementara itu disisi tersangka sebenarnya fikiran Shirou bercampur aduk, antara takut karena penyihir itu pasti akan melabraknya setelah ini, marah karena pantat ayam harus muncul sekarang.

"Akihiko Shirou-kun!" huhuhu panggil Yuriko dengan suara berat

Tubuh Shirou gemetar, ini seperti menghadapi kakaknya sendiri. "Ya! Akihiko Shirou melapor komandan, saya akan kembali berperang dengan dunia yang membosankan ini!" ucap Shirou sambil berdiri

Semua yang ada disana merasa kalau sudah mendapat pertunjukan lawak gratis. Shirou mengambil tasnya dan bersiap pergi dari kejadian ini, "Mau kemana kau!? HAH!" perkataan Yuriko membuat Shirou tak dapat bergerak

Dengan kecepatan penuh, Yuriko berlari mencengkram kerah Shirou. "Kembalikan uangku!" ucapnya sambil mengangkat Shirou, iblis betina yang menakutkan.

"Nee Senpai? Bagaimana pendapatmu?" tanya Konan

"Hmm? Pendapat?" Yuriko tak tahu maksudnya

"Senpai!? Siapa kau sebenarnya ekor kuda!?" hardik Shirou

Seketika Yuriko menghentikan amukannya, ia melepaskannya. "Hn.. aku adalah alumni dari tempat dimana kau sekarang kau bersekolah" perjelas Yuriko sambil mengibaskan poninya

"Tidak.. tidak mungkin, aku belum pernah melihatmu!?" sanggah Shirou tak percaya

"Mana mungkin kau tahu, senpai sudah kelas 3 dan kami baru kelas 1 waktu itu dan kau masih SMP" perjelas Nagato

"Baiklah, aku akan ikut dalam perdebatan ini, bagaimana?" Yuriko menyisingkan lengan bajunya

Semua yang ada disana mengangguk setuju kecuali Sasuke, Naruto, Hinata, dan juga Shirou. Sudah jelas mereka tidak mengangguk karena mereka berada diluar keanggotaan kecuali Shirou yang masih tak percaya kalau Yuriko adalah alumni yang bisa disebut kakak kelasnya.

Sementara itu Naruto dan Hinata sudah memisahkan diri setelah mengantar ice cream-ice cream yang ada. Naruto menghampiri Sasuke sedangkan Hinata mencari tempat duduk lain, "Bagaimana, sudah lama bukan tidak merasakan hal seperti tadi?" ucap Naruto membuka pembicaraan

"Sika kalian tidak berubah sama sekali" balas Sasuke datar

"Begitu juga kau Teme" ucap Naruto sambil menjitak kepala Sasuke

"Hentikan Dobe"

Kembali ke perdebatan, ah maksudanya pembicaraan anggota OSIS. "Baiklah, kalian tahu? Waktu festival budaya, pementasan drama adalah pertunjukkan yang paling ditunggu-tunggu, kalian bertiga juga tahu kan pementasan itu sangat berhasil?" ucap Yuriko sambil mencari dukungan pada Nagato, Yahiko, dan juga Konan.

Mereka bertiga mengangguk setuju, "Nah, dan yang lebih baik pada festival budaya besok adalah sekolah kalian bekerja sama" ucap Yuriko lagi mengutarakan pendapatnya

"Protes, seharusnya ada 3 sekolah yang bekerja sama tapi Shirou mengacaukannya!" Yahiko mengangkat tangannya dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi

Sementara itu dipihak Shirou sendiri, ia tengah gemetar akan apa yang akan terjadi selanjutnya. "Benarkah!?" tanya Yuriko dengan tampang horor

"Ah... i-itu terjadi begitu saja" balas Shiro gugup, Yahiko tengah tersenyum karena dendamnya terbalaskan secara tidak langsung

"Bagus!" ucap Yuriko cepat sambil mengacungkan jempolnya

"Yah, aku tidak terlalu terkejut, kadang perkataan kasarnya itu untuk kebaikan kalian" sanjung Yuriko

Senyuman Yahiko pun pudar bagaikan cat yang tergerus hujan. "Itu benar, Shirou-kun melakukan ini untuk kita semua" Hana yang ada disudut pun angkat bicara

"Siapa namamu?" tanya Yuriko

"Hana, Furasawa.. Hana" jawab Hana gugup

"Furasawa? Hana? Oh, HEI Naruto! Masih ingat surat cinta yang didapat Shirou!?" teriak Yuriko

*BLUSH* wajah Shirou dan Hana dengan cepat menjadi merah, Naruto membalikkan badannya tanpa berpindah dari duduknya, "JANGAN BERTERIAK BODOH!" Naruto mengulangi perkataan Yuriko tadi

Sasuke mengacungkan jempolnya pada Yuriko dengan senyum sinis diwajahnya

"JZZZZ" mereka bagaikan serigala berbulu domba, tidak dapat dukungan

"Baiklah kita kembali ke topik utama, jika kalian ingin festival nanti menjadi sebuah kenangan berharga bagi kalian dan juga bagi orang lain maka pentas drama adalah pilihan utama" Yuriko mengalihkan pembicaraan untuk menghilangkan rasa malunya karena tidak dapat dukungan

"Tapi pentas drama seperti apa yang akan kami tampilkan?" Shikamaru membuka mulut

"Ah, untuk konsep dan ide serahkan pada Winter, Summer punya aula besar kan?" Shion dan anggotanya mengangguk

"Nah konsep dan ide bisa kalian minta buatkan pada Jiraiya-sensei" sambung Yuriko sambil melirik OSIS dari Winter

"Jiraiya-sensei?" nampak wajah kebingungan dari Konan, Nagato dan Yahiko

"Apa-apaan kalian ini!? Apa dia tidak lagi mengajar disana!?" bentak Yurik setelah melihat raut wajah kohainya ini

"Ah, aku tahu Jiraya-sensei. Shirou-kun? Dia yang selalu berada dipojok perpustakaan, kita pernah berbicara beberapa kata waktu itu padanya" Hana menyambung pembicaraan

"OH.. maksudmu guru mesum itu? Sialan, dia selalu berada dipojok perpustakaan, mungkin dia sedang membaca doujinshi ero, ata nonton anime hentai" perjelas Shirou dengan kata-kata buruknya

"Aaah, kau tahu juga" Yuriko hanya bisa tersenyum grogi

.

.

Sementara itu Sasuke dan Naruto tengah membahas hal lain, "Apa kau yakin tidak ingin kembali Naruto?" tanya Sasuke dengan wajah serius

"Mungkin belum waktunya, apa mereka masih disana?" tanya Naruto balik

"Kau tidak akan tahu betapa setianya mereka pada mendiang orang tuamu" mereka berdua berbicara dengan suara yang pelan dan mungkin tidak dapat didengar orang lain disana

"Baiklah, kalau itu keputusanmu. Aku selalu tutup mulut tentang hal ini, aku pulang dulu" pamit Sasuke kemudian berdiri dari duduknya

"Jangan bangga jadi orang mati" bisik Sasuke tepat ditelinga Naruto

Sasuke kemudian berjalan keluar, "Aku pulang dulu, Yuriko Nee, Shirou" pamit Sasuke lagi pada 2 orang idiot pembawa masalah

"Hmm, kenapa buru-buru?" tanya Shirou

Sasuke langsung melenggang pergi tanpa menjawab pertanyaan Shirou, Shirou hanya bisa menghembuskan nafas berat, memang seperti itulah Sasuke yang ia kenal.

"Baiklah, untuk itu kita pakai ide Yuriko-senpai, bagaimana?" Nagato mulai menarik kesimpulan dan meminta persetujuan

"Tunggu dulu, apa hal seperti itu tidak terlalu menghabiskan banyak hal?" sanggah Neji

"Oleh karena itulah kita bekerja sama" balas Shion cepat tanpa fikir panjang

"Baiklah! Aku yang akan berbicara pada guru mesum itu, aku akan membuat hal menarik" Shirou sangat bersemangat, diakhir perkataanya senyum aneh muncul.

"Ada apa dengan senyum anehmu itu?" Naruto menyadarinya, setelah kepergian Sasuke, Naruto memperhatikan diskusi bodoh itu.

"Kami juga akan menyediakan tempat bagi sekolah kalian saat berpartisipasi difestival nanti, dan tenang saja, pemilihan tempat tidak akan merugikan siapapun" ucap Shion yakin

"Yosh, setelah festival selesai acara penutup paling bagus adalah... " perkataan Shirou membuat mereka yang ada disana penasaran

Semua menunggu perkataan dari mulut Shirou selanjutnya, "Adalah... "

"Adalah... "

.

.

.

.

"Adalah... "

.

.

.

.

"Tawuran!" Entah darimana pemikiran bodoh itu datang, Shirou berucap dengan nada semangat tanpa ada jeda

"Dan dua sekolah akan menyerangmu habis-habisan!" ucap kedua belah pihak secara bersamaan

.

.

Hinata sedari tadi hanyut dalam pemikirannya sendiri, saat diskusi, saat Sasuke pulang, saat Shirou menyatakan tawuran. Entah apa yang ada dibenaknya saat ini,

"Nona Hinata, ayo pulang" perkataan Neji membuyarkan lamunannya, entah kenapa hari ini tidak seperti hari-hari biasa bagi Hinata, seperti akan ada hal buruk terjadi.

"Ahh, duluan saja, aku masih kerja saat ini" Hinata segera menepis perasaan buruk itu jauh-jauh, entah apa yang akan terjadi itu semua adalah takdir

"Tenang saja Hyuuga-san, lagi pula nanti juga tidak akan ada pengunjung" Shirou dari jauh mendengar percakapan antara kedua Hyuuga tersebut

Pandangan sinis langsung dilancarkan Yuriko pada Shirou, "Apa yang membuatmu begitu yakin!?"

"Haaah, apa kau tidak ingat tradisi toko ini? Dua hari sebelum liburan musim panas, toko ini akan tutup lebih awal, dan satu hari sebelum liburan musim panas toko ini tutup" penjelasan Shirou membuat memory 8 Mb milik Yuriko langsung merespon

"Paman juga manusia yang ingin liburan bersama keluarganya" sambung Naruto saat membereskan bekas wadah ice cream

"Baiklah, tapi tunggu aku menyelesaikan perkerjaan dulu" Neji hanya mengangguk menanggapi perkataan Hinata

Anggota OSIS masih disana memberesi lembaran kertas yang mereka keluarkan, "Shi... Shirou-kun?" panggil Hana gugup

"Ya?" Shirou hanya menanggapi singkat

"Bi-bi- bisakah kita pulang bareng?"

"Hwo?! Heh?! DAHSYAAAAATT! Ya Tuhan, terima kasih. Aku tidak menyangka akan hal seperti ini, lihatlah betapa bahagianya aku. HUHUHU"

Perasaan menggebu-gebu Shirou sudah mulai kehilangan kontrol.

"Shirou, jangan makan gaji buta" perkataan Naruto merusak suasana

Yah mereka mulai bekerja tanpa ada aba-aba dari siapapun, pemilik toko keluar dari ruangannya. Benar yang dikatakan Shirou kalau toko akan tutup lebih awal,

"Yuriko, kulihat disini masih ramai, bisakah kau menutup tokonya nanti? Aku harus bergegas pulang" pemilik toko menyerahkan kunci pada Yuriko, ia harus bergegas karena penerbangannya tinggal 1 jam lagi dan keluarganya sudah menunggu dibandara

Yuriko mengangguk dan menerima kunci toko, "Hati-hati paman" ucap Naruto

Pemilik toko mengangguk lalu melenggang pergi.

Shirou yang baru keluar dari gudang heboh sendiri, "Aku mendengar suara paman tadi, apa dia sudah pergi?"

"Hm, baru saja" Naruto menjawab singkat pertanyaan Shirou

"Ahh sial, padahal aku sudah membuat daftar oleh-oleh" Shirou memegang selembar kertas A4 ditangannya yang entah tertulis apa saja disana

Hinata yang ada disana merasa kalau sikap Shirou, Naruto, Yuriko menyenangkan, "Jadi seperti ini kehidupan mereka, bertingkah konyol setiap saat. Entah kenapa jika berada diantara mereka terasa menyenangkan" hati Hinata berkata

Semua pekerjaan sudah selesai, piring-piring tertata rapi, mereka tidak akan mengunjungi toko ini selama beberapa minggu kedepan, "Jangan lupa matikan lampunya" Yuriko memperingatkan Shirou agar tidak ceroboh, lampu mati, air tidak mengalir lagi dari keran, pintu belakang terkunci, kipas ruangan mati, pintu depan pun sudah dikunci saat semua sudah keluar

"Hana, kau bawa sepeda?" tanya Shirou pada gadis pemalu disampingnya

"Ah.. etto a-ku bawa" jawab Hana gugup

Yuriko tersenyum kecut saat melihat Shirou dan Hana akan pulang bareng, bukan cemburu tapi tidak akan ada yang menggoes sepedanya nanti, sialan hanya memikirkan enaknya sendiri. Mobil yang menjemput Neji sudah ada siap sedia didepan toko, "Ayo Nona Hinata" ajak Neji agar Hinata segera masuk kedalam mobil

Hinata segera masuk kedalam mobil setelah Neji menyuruhnya, "Kami duluan Naruto" pamit Shirou dan Yuriko sedangkan Hana terlihat malu-malu dengan orang yang baru ia kenal

"Yoo... segera antarkan dia pulang Shirou, jangan mampir-mampir" Hana yang dimaksud Naruto,

"Kau kira aku ini orang mesum apa!?" Shirou protes karena dituduh akan melakukan hal yang tidak-tidak

Yuriko dan Naruto tertawa kecil, Hana yang malu-malu dan Shirou yang masih menahan degup jantungnya kalau ada orang yang benar-benar menyukainya

Mereka bertiga lalu pergi setelah protes Shirou selesai. Baru beberapa langkah dari tempat awalnya, seseorang memanggilnya, "Uzumaki Naruto, kenapa tidak bareng?" Neji menawarkan tumpangan pada Naruto

Naruto hanya membalasnya dengan senyuman kecil, tak mengucapkan sepatah katapun untuk membalas tawaran Neji. Naruto lebih milih langsung berjalan pergi meninggalkan orang yang jelas-jelas menawarkan tumpangan dengan baik-baik, betapa bodohnya kau.

.

.

"Apa yang berjalan sendirian tadi teman anda?" sekarang supir Neji yang bertanya tentang Naruto

"Bukan, dia teman sekelas Nona Hinata, ada apa?" Neji mulai penasaran tentang Naruto

Hinata mulai berfikir, 2 orang supir bertanya tentang Naruto saat mereka melihatnya, "Kalau boleh saya tahu, siapa nama pemuda tadi?"

"Naruto, Uzumaki Naruto" Hinata yang menjawab bukan Neji

"Uzumaki? Jangan-jangan... "

"Kenapa kau ingin tahu tentangnya?" Hinata mulai menyelidiki bagaimana supir dirumahnya bisa menanyakan hal yang sama saat melihat Naruto

"Tidak, saya hanya ingin tahu saja, tidak ada maksud lain Nona Hinata" sang supir menjelaskan maksudnya

.

.

.

.

Hari Terakhir Sekolah Sebelum Libur Musim Panas

.

.

Hari dimana pagi hari sudah terasa seperti siang hari bolong, suhu tinggi membuat keringat bercucuran, malas bergerak, lebih memilih diam daripada beraktifitas yang membuang-buang tenaga.

"Uzumaki! Bagaimana kau bisa mengenal Uchiha Sasuke?" pertanyaan seperti itulah yang ditujukan para murid wanita pada Naruto, "Urusai!" balas Naruto dingin, ia seperti tidak ingin membahas hal seperti itu

"Kalau begitu berikan aku nomor ponselnya atau kenalkan aku padanya!" permintaan gila mulai merambah ditelinga Naruto

Naruto menghentikan langkahnya, "Memangnya siapa kau!? Apa urusanmu dengannya?" pertanyaan seperti itulah yang Naruto balikkan pada perempuan-perempuan bodoh itu

Perempuan-perempuan itu diam 1000 bahasa setelah mendengar perkataan Naruto, "Kalian bukan siapa-siapa" ucap Naruto singkat lalu pergi menuju kelasnya

Entah apa yang membuat Naruto seperti tadi, dia sudah tidak peduli lagi dengan orang-orang disekolah ini. Urus urusanmu sendiri maka aku juga akan mengurus urusanku sendiri, mungkin seperti itulah pendiriannya saat ini.

.

.

5 anggota OSIS dari Winter datang kesekolah dimana Naruto berada, "Sugoi, bangunan sekolah ini benar-benar menakjubkan" Hana terpukau akan gedung Summer High School, Shirou dan yang lain hanya memasang tampang datar.

"Ayo, dengan gedung sebesar ini kantor guru akan mudah ditemukan" Nagato memimpin didepan, di ikuti Yahiko kemudian Konan lalu Hana dan yang terakhir adalah si kusut konyol atau yang biasa dipanggil Shirou

Mereka melewati kelas demi kelas, lorong demi lorong dan tidak ada ruangan yang diberi tanda 'Ruang Guru' diatasnya. Ini jam makan sidang dan murid summer memandang aneh 5 orang tersebut

"Kita tersesat, Shirou cepat tanya murid disini dimana ruang guru?" Yahiko memerintah seenaknya pada Shirou, sedangkan yang diperintah malah sibuk sendiri berbincang dengan Hana

"Sudahlah Yahiko, biar aku saja yang tanya" Nagato mengorbankan dirinya sendiri di kebun binatang ini

Tanpa perlu takut karena mereka tidak melakukan kesalahan, Nagato mulai berjalan mendekati murid perempuan yang sedang berbincang diluar kelas, "Maaf nona, bisa kau tunjukkan ruang guru dimana?" tanya Yahiko dengan senyum yang dipaksakan di akhir kalimat

Perempuan-perempuan itu melihat penampilan sekilas Nagato, "Hmm, kau lurus saja dilorong ini, lalu belok kanan dan kau akan menemukannya" jawab perempuan itu sambil menunjuk lorong yang dimaksud

"Ah, terima kasih" ucap Nagato pada perempuan-perempuan itu, Nagato memberikan sinyal pada yang lain kalau dia sudah mendapat jawaban

Mereka berempat mulai mengikuti Nagato yang sudah berjalan didepan terlebih dahulu, "Nee Nee, lihat pria itu, dia tampan ya" Yahiko yang mereka maksud, pendengaran kucing Yahiko pun aktif

Ia melirik Shirou yang ada dibelakangnya, sebuah acungan jempol dan senyuman gigi berkilau nampak mengejek Shirou, "Hmm, dia mirip si Uzumaki itu, lihat gaya rambutnya. Mungkin mereka bersaudara"

"Mana mungkin, Uzumaki bodoh itu tidak mungkin memiliki saudara sepertinya"

Emosi Shirou terpancing hanya dengan kata-kata itu, Shirou menahannya.

"Tahan, tahan, tahan, ingat posisimu sekarang" Shirou menahan diri untuk tidak melepar perempuan-perempuan itu keluar jendela

.

.

Sesampainya mereka diruang guru, mereka segera melapor tentang kenapa mereka disini. Guru-guru itu menerima baik 5 anggota OSIS dari sekolah lain itu, "Sensei, bisakah aku melihat-lihat sekolah ini? Aku baru pertama kali masuk sekolah semewah ini" Shirou ingin melepaskan diri dari ruangan terkutuk ini. Apapun itu, dimanapun itu, kapanpun itu, ruang guru adalah ruangan yang menakutkan bagi Shirou

"Ahh tentu, kenapa tidak" balas guru itu santai

"Ah dan juga bisa aku tahu dimana kelas Uzumaki Naruto?" ternyata tujuannya sebenarnya terungkap

"Kelasnya ada dilantai dua, tangga ada disebelah kanan pintu keluar" guru itu memberitahu dimana kelas Naruto

"Kalian mau ikut?" tawaran bodoh, tujuan mereka bukan untuk mengunjungi Naruto

Mereka menggelengkan kepalanya bersamaan kecuali Hana, Hana sepertinya ingin ikut tapi terlalu malu untuk berbicara, "Hana, jika kau mau ikut, ikutlah, kami yang akan mengurus ini" Konan mengerti perasaan perempuan didepannya ini

.

.

Akhirnya Shirou dan Hana lah yang mengunjungi Naruto, "Sial aku lupa kalau aku tak tahu Naruto itu kelas apa" Shirou menepuk jidatnya sendiri

"Nee Hana, bisa kau bantu aku?" Shirou memanfaatkan Hana yang ada disampingnya

Hana mengangguk malu, "Baiklah, bisa kau tanyakan dimana kelas Na... tidak tidak, tanyakan saja dimana kelas Hyuuga Hinata" itulah permintaan Shirou pada Hana

Dengan gugup Hana menanyakannya, Shirou tak mungkin bertanya dimana kelas Naruto karena ia tahu betul posisi Naruto disekolah ini. Hana kembali dengan rona merah diwajahnya, "Ke-kelasnya ada dipaling ujung" Hana masih saja malu saat berbicara pada Shirou

"Baiklah, ayo" Shirou mulai berjalan dan Hana mengikutinya

.

.

"Hana, apa kau membenciku?" Hana terkejut saat Shirou mengatakan hal tersebut

"Ti-tidak, aku tidak membencimu" jawaban seperti itulah yang Shirou dapat

"Benarkah? Kalau begitu tunjukkan wajahmu saat berbicara denganku" sial, degup jantung Hana tak mau berhenti, sejak berada didekat sikusut itu, Hana tidak bisa mengatur detak jantungnya.

"Kau selalu menunduk saat berbicara denganku, jika kau terus begitu aku tidak akan berbicara denganmu lagi, Nee" seketika Hana menunjukkan wajahnya, saat mata Hana memandang, ia menemukan Shirou tengah tersenyum padanya

.

.

"Kelas paling ujung, ah mungkin itu" ucap Shirou sambil menunjuk kelas yang ia maksud

Shirou mempercepat jalannya, Hana juga mengikuti. Kepala Shirou menengok apakah itu kelas Naruto, "Pirang, pirang, pirang, pirang, ahh itu dia" Shirou menemukan buruannya,

"Ayo, Hana" tanpa sadar Shirou menggaet tangan Hana, murid-murid yang ada dikelas mengalihkan perhatiannya ke Shirou dan Hana, "Siapa mereka? Apa mereka murid baru? Mereka mau pamer kemesraan mereka" seperti itulah suara bisik-bisik tetangga yang Shirou dengar

Sekelebat Hinata melihat orang yang ia kenal, Shirou pun begitu saat melihat sekeliling. Pandangan mereka bertemu tapi tak ada lagu romantis yang mengiringi, "Yo" sapa Shirou dari jauh

Dengan cepat, tanggapan dari Ino dan Sakura segera meluncur "Kau mengenalnya?" seperti itulah mulut itu berucap

"Hanya kenalan" jawab Hinata singkat

Naruto tak tahu kedatangan Shirou karena kepalanya tengah ia telungkupkan, mungkin ia tidur atau mungkin dia memikirkan hal kotor. *PUUUKK* sebuah buku mendarat dikepala Naruto, Shirou memukul Naruto dengan buku yang ada didepannya

Naruto mengangkat kepalanya perlahan, pelan pelan ia membuka matanya. Layaknya hp cina, mata Naruto mengalami blur saat melihat orang yang ada didepannya, "Sapi" ucap Shirou mengejek Naruto yang ternyata mencoba untuk tidur

"Hmm. . . wajah itu. . . suara itu. . . parfum busuk itu. . . apa yang kau lakukan disini?" Naruto mulai menyadari siapa orang yang ada didepannya

"Hanya kunjungan wisata, ya kan Hana?" Shirou mencari dukungan

"Eh etto. . . "

"Kalian sudah jadian?" perkataan itu keluar dari mulut Naruto sambil mengucek mata ngantuknya

"Apa maksudmu?" Shirou tak paham apa yang dimaksud rambut durian itu

"Itu" Naruto menunjuk sesuatu dan itu menjelaskan semuanya

Dengan cepat mereka berdua menyadarinya, dengan cepat juga mereka melepaskan pegangan tersebut, "Aahh, maaf Hana" sedangkan Hana masih mengatur degup jantungnya

"Debaran aneh didada ini tidak menunjukkan tanda-tanda berhenti"

"Ha ha ha, kalian ini. Jadi ada urusan apa kalian datang kesini?" tanya Naruto lagi untuk mendapatkan jawaban yang lebih serius

"Entah, ini semua ide ketua OSIS jadi kami berdua hanyut kedalamnya" Shirou menjawab dengan benar

Shirou duduk dikursi samping Naruto sedangkan Hana masih tetap berdiri, "Hoi Shirou, mana sopan santunmu? Kau duduk sendiri tapi Furasawa- san masih kau biarkan berdiri, mengalahlah dan biarkan dia duduk disitu" Naruto memulai ceramah bodohnnya

"Hee?! Aku tidak akan membiarkan dia dekat-dekat denganmu" guyonan pedas itu terdengar kepenjuru kelas

"Bercanda, duduklah disini, lagipula sipemilik juga tidak berangkat hari ini, demam musim panas mungkin" ucap Naruto sambil menunjuk bangku yang ada didepannya

Hana menurut, "Hmm, jadi ini sekolahmu? Aku tidak menyangka kau bisa masuk disini hanya karena sebuah nilai" guyonan pedas itu lagi

"Aku fikir kau duduk disebelah Hyuuga-san, yah aku berfikir kalau kau duduk disebelahnya seperti dalam cerita-cerita yang ku tahu" Hinata mendengarnya, Hinata mendengar perkataan Shirou

Naruto tersenyum geli, "Semua tidak seperti cerita yang kau baca" tanggapan pedas sekarang mengucur dari mulut Naruto

"Hmm? Sebenarnya ada satu hal yang benar" Shirou menyanggahnya

"Hee? Biar ku dengar apa itu" perkataan Naruto terdengar meremehkan

"Dimana karakter utama dalam cerita kebanyakan duduk didekat jendela" seperti itulah Shirou berucap dan yang satu ini benar

Hinata mendekat masuk kedalam pembicaraan karena namanya dibawa-bawa, "Bisa aku ikut bergabung? Aku dengar namaku masuk dalam pembicaraan kalian" semua perkataan Hinata diakhiri dengan senyum palsu yang menjebak

"Bukan urusanmu" balas Naruto cepat

"Heee benarkah? Akihiko-san. . . . "

"Shirou!" potong Shirou cepat, Shirou risi dipanggil seformal itu

"Kau tahu, kalau aku pernah duduk disamping Naruto-kun" Hinata mulai bercerita karena merasa diremehkan oleh Uzumaki itu

*SKAK* sial bagi Naruto, sepertinya Hyuuga didepannya ini akan berbicara hal-hal aneh

"Benarkah, ternyata aku tidak salah perhitungan" mata Shirou terbakar semangat

"Dan kau tahu? samar-samar dulu aku mendengar dia mengatakan suka padaku" persetan kau Hyuuga Hinata

"Jangan mengada-ngada, tidak ada yang seperti itu" Naruto melempar perkataan Hinata jauh-jauh

"Hee, kau mengucapkannya, sungguh" entah kenapa Hinata tenang-tenang saja saat menggoda Naruto hari ini

"Baaaaakkkkkkaaaaa, kau harus potong rambut, rambut panjangmu menutupi pendengaranmu" ucap Naruto datar

.

.

Sementara itu ditempat lain, Anggota OSIS tengah menuju ruangan OSIS di Summer High School. Tapi mereka tidak lupa kalau ada dua algojo mereka yang hilang."Maaf, apa kau tadi lihat murid laki-laki berambut kusut bersama gadis yang selalu menunduk?" lagi lagi Nagato yang harus bertanya, yah apa masalahnya, malu bertanya tak makan yakisoba

"Mereka berdua menuju kelas yang paling ujung dilorong ini"

"Terima kasih"

Sekarang mereka tidak lagi bertiga, lebih dari tiga karena anggota OSIS dari Summer juga sudah bergabung dikantor guru tadi

Anggota OSIS sudah sampai dikelas yang dimaksud, "Permisi" dimanapun kau berada, mengucap salam adalah hal yang wajar, apalagi ditempat tempat angker dan disana ada tim "Masih" Dunia L* *n sekalipun

"Hana, kita akan segera mulai rapat" itulah yang diucapkan Nagato

"Yah, sepertinya waktuku habis" Shirou berdiri hendak pergi karena rapat akan dimulai

"Tidak, kau tidak Shirou. Kau disini saja ikut pelajaran, kami sudah bilang pada guru tadi"

Sepertinya Shirou ingin segera loncat dari jendela, pergi ke pengasingan dengan cepat dan berbicara dengan Ghoul disana bagaimana rasanya ditinggalkan

"Ka. . . kalau begitu aku duluan Shirou-kun" pamit Hana lalu keluar dari ruang kelas

Shirou hanya bisa menggerutu tak jelas sambil duduk menopang dagu, sekelebat ia melihat Yahiko tengah tersenyum jahil kearahnya, "Akan kubalas kau rambut durian"

"Memangnya apa salahku?" tiba-tiba Naruto bertanya seperti itu setelah mendengar perkataan Shirou

"Bukan kau, Yahiko-senpai yang kumaksud" bukan Naruto yang ia maksud tapi Yahiko, yah potongan rambut mereka hampir sama

Shirou membuka tasnya, ia mengeluarkan sebuah kotak bekal yang lumayan besar, "Hei kau sudah makan siang?" Shirou membuka kotak bekalnya dan terlihatlah sebuah bekal mewah

"Heeh? tumben sekali kau bawa bekal, siapa yang membuatkannya? ibumu?" sepertinya keajaiban telah jatuh dari langit

Shirou menggelengkan kepalanya, "Ibuku wanita karir, dia tidak akan sempat membuatkannya"

"Ayahmu?" tanya Naruto lagi, Hinata masih disana, ia capek berdiri lalu duduk ditempat Hana tadi

Shirou menggelengkan kepalanya lagi, "Dia tidak bisa masak, sungguh tragis"

"Rin-chan?" Hinata tidak tahu kenapa Naruto memanggi orang bernama Rin itu dengan imbuhan -chan

Shirou menggelengkan kepalanya lagi dan lagi, "Dia itu kalau masak selalu gagal, jadi tidak mungkin"

"Buat sendiri?" rasa penasaran Naruto sudah mencapai puncaknya

Lagi-lagi Shirou menggelengkan kepalanya, dan kali ini adalah tebakan Naruto yang terakhir, "Jangan-jangan... Rui Onee-san?!"

Shirou mengangguk lemah, "Hwaaaaahaha, iblis betina itu" Shirou menangis tanpa mengeluarkan air mata

"Kapan dia pulang?" Naruto bertanya lagi

"Saat aku sampai dirumah kemarin sore, dia sudah ada didapur dengan tampang iblisnya" Akihiko Rui, kakak perempuan Shirou

Betapa menyedihkannya hidupmu Shirou, kau dikelilingi saudari perempuan dan kau anak laki-laki. Akihiko Rui adalah seorang koki mancanegara yang sudah berkeliling ke berbagai negara, kau harus bangga Shirou

"Sialan iblis betina itu, dia menyingkirkan semua roti berhargaku didapur dan yang lebih parah... "

"Yang lebih parah?" Naruto mengikuti perkataan Shirou

"DIA MENYITA SEMUA KOLEKSI GAMEKU!" sepenting itukah game buatmu kusut, ia berteriak sambil menggaruk kepalanya

*puk puk* Kedua tangan Naruto sudah berada dipundak Shirou, "Daijobu, beberapa ada dirumahku, ahh tidak, diapartemenku"

"Yaah, tak ada gunanya menangisi hal seperti itu. Ittadakimasu" sepertinya penyakit Hinata menular ke Shirou, masalah mudah dilupakan jika ada makanan

.

.

Jam istirahat berlalu dengan cepat, "Perkenalkan dirimu" perintah guru pada Shirou

Shirou berdiri kemudian memperkenalkan diri, "Akihiko Shirou, murid yang terjebak atas kejahilan senpainya"

Semua tertawa setelah mendengar perkataan Shirou, Shirou kembali duduk. Naruto menghembuskan nafas berat dengan sahabatnya itu, "Baiklah, buka buku kalian halaman 20"

"Sensei, aku tidak punya" Shirou mulai membahas hal tidak penting

"Ahh, sayang sekali, padahal aku ingin menyuruhmu membacakannya" seet, dengan cepat Naruto sudah menaruh bukunya dimeja Shirou

"Kampret kau pirang!"

History After Story

"Once upon a time, ... "

"NONA HINATA?!" baru beberapa kata Shirou membaca, Neji menggeser pintu kelas dengan kasar. Terlihat jelas air mata itu terbendung disudut mata Neji

"Bibi .. Bibi .. Ibu anda, " Neji tak mampu melanjutkan kata-katanya

*Drrrttt* Ponsel Hinata bergetar, setelah Hinata melihatnya ternyata ayahnya yang menelfon

"Segera pulang, pemakaman akan dilakukan nanti sore, jangan banyak tanya"

Dengan cepat Hinata paham maksud dari perkataan Neji yang belum selesai. Air mata Hinata dengan cepat mengalir deras tak dapat dibendung, "Ada apa Hinata?" tanya Sakura khawatir

"Oka-san?!" Hinata berlari keluar kelas, Neji membungkuk 90 derajat lalu pergi menyusul Hinata

Semua yang ada dikelas kebingungan dengan apa yang terjadi sebenarnya, "Aku akan kekantor guru dulu, jangan ramai" ujar sensei lalu keluar kelas

"Apa yang terjadi? ada apa dengan ibu Hinata?" gemuruh pertanyaan memenuhi ruangan kelas, Naruto memandang keluar jendela dan nampaklah Hinata tengah berlari menuju mobil yang sudah ada didepan gerbang

Sementara itu Shirou mencoba mencairkan suasana tegang tersebut, "Nee nee, mau dengar cerita horor?"

Shirou menawarkan cerita abal-abalnya pada perempuan didepannya, entah dengan jimat apa, 2 murid perempuan didepan Shirou langsung mengangguk penasaran

"Baiklah, kejadiannya kemarin sehabis pulang sekolah. Gadis kelas satu pergi ke gedung kejuruan di lantai tiga, ketika dia sampai diruang musik, dia mendengar lantunan merdu musik Canon in D. Hujan deras yang dingin turun ketika itu, dan sore semakin mencekam. Perasaan merinding mulai marasuki kulitnya akibat derasnya- "

"Protes, kemarin itu tidak hujan" Naruto memotong cerita Shirou

"Kalau begitu, cahaya matahari terbenam membuat lorong tersinari cahaya merah terang, dipandu alunan melodi indah. Mengikuti alunan lagu itu dia memasuki ruangan musik, saat dia masuk seketika musik itu pun berhenti. Piano itu terbuka namun tidak ada pianis yang memainkannya, gordennya tertutup dan ruangannya gelap dan DIA MELIHATNYA!"

"Kyaa!"

"Gadis dengan rambut panjang dan tergerai menutupi wajahnya, dengan gerakan tubuh yang mengerikan dan tatapan penuh darah dari matanya. Seperti siap membawa gadis tersebut! benar, dia adalah bekas murid Winter, anggota klub piano yang terkena serangan jantung sebelum kejuaraan nasional!"

.

.

.

"Baiklah, kita mempunyai berita duka hari ini. Ibu dari Hyuuga Hinata telah meninggal tadi, jadi kelas kita diperbolehkan pulang dan menghadiri pemakamannya. Pemakaman diadakan nanti sore" seperti itulah pengumuman dari guru

Murid-murid mengemasi barang-barangnya kemudian pergi meninggalkan kelas. Begitu pula Shirou dan Naruto, jangan lupakan kebiasaan Naruto. Keluar paling akhir adalah hobinya, "Apa kau juga akan pergi ke pemakaman?"

"Jangan bodoh, aku ini bukan siapa-siapa. Jadi mana perlu aku pergi, membuang-buang waktu" jawaban atas pertanyaan Shirou

Shirou tak dapat berbuat apa-apa, menyanggah pendapat Naruto sama saja dengan cari mati, begitu pula sebaliknya.

.

.

Hana sudah berada digerbang menunggu Shirou, entah kenapa kalau rapat tanpa Shirou berjalan lebih cepat dari biasanya. Masalah ada dipundakmu kusut, Hana berdiri sendiri, sepertinya tiga senpainya itu benar-benar bermaksud buruk pada Shirou.

Shirou melambaikan tangannya pada Hana, akan tetapi Hana malu-malu untuk membalasnya. "Sudah lama?"

"Ti-tidak, baru saja" balas Hana sambil menatap Shirou

"OH-MY-GOD, dia benar-benar gadis yang manis!"

Naruto meraba-raba sakunya, "Kalian duluan saja, ponselku ketinggalan dikelas"

"Baiklah"

Naruto bergegas kembali ke kelasnya, betapa bodohnya dia sampai lupa ponselnya sendiri. "Ponsel.. Ponsel... ini dia!"

Ia mengamati kelasnya, sekian lama ia baru sadar kalaur ternyata kelasnya cukup tenang saat tidak ada manusia-manusia bodoh

Sebuah tas memusatkan perhatian Naruto, tas milik Hyuuga Hinata yang masih tertinggal, "Gadis bodoh"

.

.

Saat raga tak bernyawa masuk kedalam liang lahat, yang masih hidup hanya bisa menangis. Kenapa kalian menangis? yang mati bukan kalian, yang tubuhnya mulai dingin juga bukan kalian, yang akan beratap tanah juga bukan kalian.

Hinata menangis sejadi-jadinya, Sakura dan Ino ada disampingnya, mereka berdua tak dapat menenangkan Hinata. Apa daya kita saat orang yang paling kita sayangi akan meninggalkan kita

"OKAAAA-SAN, OKAAA-SAN, OKAAAAAA-SAN!" Hinata menjerit keras, tubuh ibunya telah terkubur, tertutup tanah.

"OKAAAAAAAA-SAN!"

.

.

.

.

.

*Dok..Dok...Dok...Dok* Suara ketukan pintu terdengar jelas

"Naruto... Naruto... " suara itu terus memanggil nama Naruto

Pintu pun terbuka, nampaklah pemuda berambut pirang acak-acakan dengan sebuah kolor selutut dan kaos lusuh, "Bayar uang kost!"

Naruto masih mengucek matanya, "Ada apa pagi-pagi? ini masih jam 5 pagi, bodoh!"

"Justru itu, kita harus dapat antrian terdepan. Versi limited editionnya hanya ada 50 buah disetiap toko"

"Baiklah,baiklah. Aku ganti baju dulu" balas Naruto malas

Shirou, pagi-pagi buta sudah berada di apartemen Naruto. Sebenarnya mahkluk macam apa kau ini? hanya Tuhan yang tahu.

Setelah Naruto siap, mereka berdua bergegas pergi. Sebuah sepeda sudah menunggu didepan apartemen, "Rin-chan akan marah jika dia tahu kau memakai sepedanya" peringat Naruto

"Tenang saja, aku tadi sudah bilang"

"Kapan?" Naruto penasaran

"Tadi saat dia masih tidur"

Naruto hanya bisa menghembuskan nafas apinya, tidak-tidak nafas berat. Sekarang Shirou yang ada didepan, ia dengan cepat mengayuh sepeda yang ia tunggangi saat ini.

"Woi woi, kau terlihat agresif hari ini. Apa kau terlalu banyak makan sambal?" Shirou terlalu bersemangat pagi ini, hari ini

Talk Less Do More, tanpa banyak kata mereka sudah sampai ditoko yang dimaksud

"Kita dapat antrian nomor 47 dan sekarang baru jam 6 pagi"

Toko buka jam 9 pagi, sungguh kenapa orang satu ini sangat terobsesi dengan sebuah game, cara berfikir kalian memang aneh

"Berapa banyak uang yang kau habiskan untuk mengoleksi game-game itu?" tanya Naruto

"Mungkin sudah puluhan juta" jawab Shirou

"Ini masih sangat awal dari jam 9" Naruto kembali mengoceh

"Sudahlah, Don't worry be happy" ia berlagak layaknya orang barat

.

Tik Tok

.

Tik Tok

.

Tik Tok

.

Tik Tok

.

.

"Sepertinya kita sudah terlalu lama mainnya, lihat kan hari sudah sore" Shirou mengoceh entah apa yang dipermasalahkannya

"Ini semua karna iblis betina itu!" sambung Shirou

"Aku menahan ketawa saat kau beli pakaian dalam untuk kakakmu" saut Naruto

"Aku hampir mati menahan malu tadi, kenapa dia tidak beli saja sendiri?!" gerutuannya semakin parah

"Barang-barangnya aman kan?" tanya Shirou

"Semua ada ditas yang aku bawa"

e-mail :

"Shirou, belikan aku pakaian dalam 36-B, aku sedang malas keluar rumah. Kalau tidak kau belikan, aku akan memperkosamu nanti"

Seperti itulah pesan yang dikirim Akihiko Rui pada Akihiko Shirou. "Aku merinding membayangkannya" bulu kudu Shirou berdiri

.

"Kau tahu jalan ini menuju kemana? jalan ini menuju jembatan yang sering digunakan untuk bunuh diri" Shirou bertanya dan menjawab sendiri

"Apa itu salah satu cerita bohong seperti kemarin?"

"Entah, tapi yang aku dengar dari teman-temanku, jika kau terus ke utara dari pusat perbelanjaan, kau akan melewatinya"

"Aku tidak percaya" sanggah Naruto cepat

.

.

Mereka sudah dekat dengan jembata yang Shirou maksud, jembatan yang cukup mengerikan kalau hanya dilewati sendirian. Hanya ada 3 buah lampu penerangan dijembatan itu, ujung dan tengah.

Samar-samar mereka melihat bayangan yang sedang berdiri dipinggir pembatas jembatan, "Lihat itu lihat, ceritaku tidak pernah bohong. Itu hantu yang sedang gentayangan" Shirou berkata sambil menunjuk bayangan yang lumayan jauh

Naruto mengikuti arah telunjuk Shirou, benar yang dikatakan Shirou. Naruto menyipitkan matanya agar dapat melihat sosok itu lebih jelas, "I-itu bukan hantu, itu manusia bodoh, cepat datangi dia"

Shirou mengayuh sepedanya lebih cepat, *ciit* suara kanvas rem bergesekan dengan velk roda. Mereka berdua segera turun dan berdiri menjaga jarak, "Apa yang kau lakukan disini-"

.

.

" -Hyuuga Hinata?"

Naruto bisa tahu kalau bayangan, orang yang ada didepannya ini adalah Hyuuga Hinata. Hinata membalikkan badannya, mata Naruto melebar. Air mata mengalir dari kedua matanya, kantung mata yang terlihat menghitam

"Apa kabar Uzumaki Naruto, Akihiko Shirou? bagaimana hari pertama liburan kalian?" Hinata berucap tapi air matanya terus mengalir

"Sepertinya kalian menikmatinya ya? beruntungnya kalian. Kalian tahu? benda ini tidak mau berhenti keluar dari mataku. Oka-san pasti ingin aku juga ikut bersamanya" sambung Hinata

"Apa yang kau katakan? ayo pulang, kami akan mengantarmu" Naruto mencoba membujuk

"Tidak, tinggalkan aku sendiri. Aku ingin menyusul Oka-san ke surga"

"Apa mak-"

"Cengeng" Shirou memotong perkataan Naruto

"Cengeng, kau bersikap keras tapi pada akhirnya kau hanyalah gadis cengeng" sambungnya

"Urusai" balas Hinata datar

"Kau menyuruhku diam, tapi dari tadi kau lah yang mengoceh putus asa" Shirou membalikkan perkataan Hinata. Naruto mencoba mendekat, fikiran Naruto sudah buyar.

"Jangan mendekat! Jika kau mendekat lagi aku akan lompat"

"Naskah yang buruk, kami mendekat atau tidak itu sama saja, pada akhirnya kau juga akan melompat" mulut tajam Shirou mulai semakin runcing

"Lompatlah! Lompatlah sekarang! Jangan menyesal jika nanti bukan surga yang menerimamu! Mungkin sekarang ibumu sedang tertawa melihat kebod-"

"SHIROU!" tangan Naruto mengepal, bergetar memotong perkataan sahabatnya ini

"Cukup, simpan kata-katamu dulu" sambung Naruto datar

Hinata masih saja menangis, "Nee, kalian tahu? mempunyai teman seperti kalian itu menyenangkan" ucap Hinata sambil duduk dipembatas jembatan

"Menghabiskan waktu bersama kalian, bertingkah konyol dengan bebasnya, aku sungguh menikmati 1 minggu ku yang terakhir" sambung Hinata

"Terakhir?" kata-kata itu terus berputar dikepala Naruto

"Ayo pulang" bujuk Naruto lagi

"Eeeem" Hinata menggelengkan kepalanya

Tangan Naruto sudah maju, berharap gadis didepannya ini menuruti kata-katanya. "Aku akan segera menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya, Akihiko-san, Naruto-kun... "

.

.

"Bye-Bye"

.

.

.

*Whuss*

.

.

"Gadis bodoh"

.

.

It all returns to nothing

It all comes

Tumbling down

Tumbling down

Tumbling down

.

It all returns to nothing,

I just keep

Letting me down

Letting me down

Letting me down

.

.

To Be Continued?

.

.

.

.

Yang sudah nunggu lama silahkan dibaca
Yang mau review silahkan
Yang mau flame juga silahkan
Yang mau check kolom favorite & follow juga silahkan
Yang cuma silent reader juga silahkan menikmati

Sedikit info tentang OC di fic saya
Akihiko Shirou - Pemuda berambut kusut bermulut kasar, gamer akut
Akihiko Rin - Adik perempuan Shirou, digambarkan sebagai perempuan SMP tahun ketiga, selalu merasa tertinggal jauh dari kedua kakaknya
Akihiko Rui - Kakak perempuan Shirou, digambarkan sebagai perempuan yang suka menjahili Shirou
Yuriko - Entah kenapa ada yang review kalau dia itu member AKB48, saya malah gak tahu tuh :v perempuan berambut kuncir kuda
Furasawa Hana - Gadis pemalu yang mempunyai perasaan dengan Shirou

Jaa in Next Chapter