DESTINY
.
.
Naruto hanya milik Masashi Kishimoto-san
Warning : Typo Everywhere, mainstream story, bad diction, OOC, many OC
I hope you like it
.
.
.
.
.
*whusss*
.
.
"Gadis bodoh"
.
.
.
Naruto masih berdiam diri, ia tak menyangka kalau gadis didepannya tadi sudah membulatkan tekadnya
*tap-tap*
Dengan cepat Shirou ikut terjun, tangannya ia julurkan kebawah demi meraih tubuh Hinata
*byuurrr*
Mereka berdua sudah masuk kedalam air, tangan Shirou menggapai tangan Hinata di kedalaman. "Aku akan kena marah setelah ini" ucap Shirou dalam hati
Sementara itu Naruto masih diatas, dengan pandangan datar ia melihat kebawah. Naruto tak menunjukkan ekspresi apapun, hanya tatapan datar yang ia tampilkan
Saat orang jatuh dari ketinggian, separuh kesadaran mereka tertinggal beberapa detik sebelumnya. Tubuh dan nyawa tidak selalu bersama, saat tubuh menginginkan nyawa untuk tetap berada didalam, nyawa berharap menyudahi semua dunia palsu ini.
Shirou muncul dipermukaan sungai, dengan raut wajah yang terlihat lemas ia membawa Hinata kepinggir. Naruto berjalan santai menghampiri mereka, tangannya ia masukkan kedalam saku celana, berjalan santai seperti tidak ada masalah yang membebaninya.
Naruto menuruni anak tangga pinggiran sungai, terlihat jelas Shirou mengambil nafas dengan cepat. "Kenapa kau menolongnya?" tanya Naruto sesampainya dibelakang Shirou
"Apa aku harus punya alasan untuk menolong seseorang?" jawab Shirou apa adanya
"Tentu, dia bukan siapa-siapamu dan juga itu tadi pilihannya sendiri" Naruto membalas
"Benarkah? Kau tahu, kita tak pernah sependapat. Sekarang aku akan balik bertanya, apa semua anak-anak yang pernah kau tolong itu ada hubungannya denganmu?"
Naruto tersentak, Naruto salah memilih lawan bicara, orang didepannya ini akan menjadi presiden yang pintar bicara dimasa depan. Bukan bicara lagi tapi malah menjerumus ke perdebatan, "Dan juga, padahal kau tadi berniat menolongnya, tapi kenapa sekarang kau malah mempermasalahkannya?" sambung Shirou
"Apa jangan-jangan kau cemburu?" wajah jahil Shirou kembali terlihat
Naruto memalingkan wajahnya, "Yang lebih penting, sekarang bagaimana mayat itu?" Naruto mencoba mengalihkan pembicaraan
"Jangan kejam Naruto, dia masih hidup" Shirou mendekatkan jarinya ke hidung Hinata, hembusan nafas masih terasa disana
Shirou menggaruk rambutnya yang basah, "Bukan itu maksudku, sekarang apa yang akan kita perbuat?" Naruto nampak kebingungan sekarang
"Eh, tinggal antar dia kerumahnya saja, mudah kan" Shirou menggampangkan
"Kau tahu rumahnya?" seketika wajah idiot muncul
"Eh, kau tidak tahu?" wajah idiot Shirou juga muncul dengan ingus
"EEEEEEHHHHHHHHHHH?! Bagaimana bisa teman satu kelasnya tidak tahu?! kalau kau saja tidak tahu bagaimana denganku bodoh!" Shirou sekarang yang panik
Sebuah lampu bolam muncul dikepala Naruto, "Aku punya ide!" ucap Naruto sambil menepuk tangannya sendiri
"Apa?" Shirou bertanya, masih dengan wajah idiotnya
"Kita lempar lagi saja dia ke sungai" apa itu candaan kotormu Naruto, ia berucap dengan tampang innocentnya
Sebuah perempatan muncul dikening Shirou, "BISAKAH KAU SERIUS BODOH?!"
"Tenang, tenang Naruto. Saat kita menghadapai situasi seperti ini kita harus meminta saran pada yang lebih tua" Shirou berucap
"Hubungi Yuriko Nee-san!" Naruto berkata cepat
Shirou merogoh sakunya, tampang cemberut ia tujukan pada Naruto. "Ponselku basah" ucap Shirou sambil menunjukkan ponselnya pada Naruto. Yah Naruto sepertinya harus menghubungi nenek sihir itu
*Drrrrtttt, Drrrrttttt* ponsel Yuriko bergetar diatas meja, "Nee-chan, ada telfon" adik Yuriko memanggil
"Hai hai, . . . . . . . . . . . . . . . . . Moshi-moshi, ada apa Naruto?"
"Yuriko Nee-san bisa kau kesini sebentar?! Dibawah jembatan Reikishin, aku dan Shirou ada disitu"
"Heh?! Memangnya ada apa?"
"Sudahlah nanti kujelaskan! Pokoknya datang saja, cepat!"
*Tut Tut Tut* Naruto mengakhiri telfonnya,
Yuriko hanya bisa bergumam tak jelas, tapi ia juga sedikit bingung. Naruto tidak pernah menghubunginya kalau tidak sangat dibutuhkan, semua ia suguhkan pada Shirou si rambut kusut
*You got a mail* ponsel Yuriko berdering, sebuah pesan dari Naruto. "Dan juga bawa beberapa pakaianmu" seperti itulah pesannya dibarengi dengan foto Hinata yang tengah pingsan
Menyadari maksud dari Naruto menghubunginya, Yuriko langsung bergegas kekamar dan mempersiapkan semuanya. Shouta, adik Yuriko hanya bisa memandang kakak perempuannya itu layaknya memandang acara komedi di tv
Yuriko turun dari lantai dua dengan sebuah tas yang lumayan besar dipundaknya, "Aah, Shouta-kun, bilang pada ibu kalau kakak keluar sebentar"
"Hai" jawab Shouta malas sambil memencet tombol remot tv
.
.
Naruto melepas jaketnya dan menyelimutkannya ditubuh Hinata yanng basah kuyup, "Kau tahu Naruto, pertolongan pertama pada orang tenggelam adalah memberikannya nafas buatan" Shirou mencari bahan obrolan
"Benarkah? Apa dengan kompresor bisa?" tanya Naruto dengan wajah bodoh
"Kau kira dia ban apa?!"
"Tapi kan udara dari kompresor lebih kencang dan banyak"
"Jangan teruskan, aku akan membunuhmu jika sekali lagi mengatakan kompresor" Shirou menampakkan wajah sinis kearah Naruto
*ciiittt* Yuriko datang dengan cepat, walaupun tak secepat flash. Naruto dan Shirou memalingkan pandangannya kearah Yuriko, tapi Yuriko malah fokus pada Hinata yang tengah tergeletak tak berdaya
"Apa yang kalian lakukan?!" tak ada angin tak ada hujan tak ada petir, pertanyaan normal dengan nada pedas itu meluncur dari mulutnya
"Jangan menuduh kami, dan yang paling penting apa kau tahu kediaman Hyuuga?" Naruto memotong pemikiran Yuriko dan mengalihkannya dengan pertanyaan seperti itu
"Mana ku tahu! lagipula kau kan teman sekelasnya!" jawab Yuriko
"What you think when she is my classmate then i know her house?! don't joke" Naruto menjawab dengan bahasa alien
"Tak perlu pakai bahasa inggris, aku bodoh dalam hal itu" pertama kali Yuriko mengakui kebodohannya
Yuriko terlihat mencari ide bagaimana menyelesaikan masalah ini, "Kalau kita bertiga tidak tahu, ya sudah, sekarang kita bawa dia pulang" Shirou menengahi
"Shirou, bajumu basah. Jangan-jangan. . . . " fikiran negatif muncul diotak Yuriko
"Sudahlah, sekarang kemana kita akan membawa dia pulang?" Naruto mengalihkan pembicaraan tak berguna itu
Mereka bertiga tampak berfikir dengan keras, sebuah benang kusut muncul dari masing-masing kepala mereka. "Naruto, bawa Hyuuga Hinata ke apartemenmu" ceplos Yuriko tak perlu lagi berfikir panjang lebar
"HAH! Jangan bercanda, mana mungkin aku membawanya ke apartemenku" Naruto menolak dengan keras
"Ayolah Naruto, berbuatlah baik padanya, sekali saja" Yuriko memohon agar masalah ini cepat selesai
"Kenapa tidak bawa saja dia kerumah sakit?" Shirou memberikan pendapat
"Kau mau menanggung biayanya?" seketika pandangan sinis dari Yuriko langsung tertuju pada Shirou
"Tentu... tidak mungkin" Oh Shirou, omongan dan gayamu berbanding terbalik
*Drrrttt Drrrttt* ponsel Naruto berdering, "Oh Rui Nee-san" batin Naruto setelah melihat layar ponselnya, "Ya, ada apa Rui Nee-san?" seketika bulu kudu Shirou berdiri serentak
"Naru-chan, apa kau bersama Shirou-kun?"
"Ah, dia ada didepanku sekarang, kenapa?"
"Bisa kau berikan padanya?" Naruto memberikan ponselnya pada Shirou setelah kakak Shirou berbicara padanya
Shirou menerima dengan tangan gemetar, "A-ada apa ane-ue?"
"Kau tidak lupa pesananku kan?"
"Te-tentu tidak"
"Hee, sungguh? Awas saja kalau kau sampai bohong, akan kupotong. . . " *Tut Tut Tut* Shirou mengakhiri panggilan sebelum kakaknya menyelesaikan ucapannya
.
.
"Jadi sekarang bagaimana?" Yuriko kembali ke topik utama, semua yang ada disana tampak kebingungan
"Arrrggghhh, baiklah. Bawa dia ke apartemenku" otak kecil Naruto berbicara, otak kanan menolak, otak kiri resah akan keadaan
"Aku melakukannya karena paksaan kalian, tak ada maksud lain aku berbuat baik padanya" sambung Naruto
"Seperti itulah Naruto yang aku kenal" Shirou berkata dan diakhiri dengan sebuah senyuman
Akhirnya mereka bertiga membawa Hyuuga Hinata ke apartemen Naruto.
.
.
Berhentilah membuat ceritaku semakin buruk
.
.
.
Mereka bertiga sudah sampai diapartemen Naruto, sebuah hal yang tidak mungkin membawa Hinata ke apartemen Naruto. Tapi baginya hal yang tidak mungkin menjadi mungkin adalah hal yang mudah
Naruto menggendong Hinata masuk kekamar milik Naruto sedangkan dua mahluk astral ada dibelakangnya, "Mungkin dia malu-malu untuk menunjukkan rasa perhatiannya pada Hyuuga-san" bisik Shirou pada Yuriko
"Baiklah, kalian berdua keluarlah dan Naruto siapkan air hangat untuk mengompres Hinata" perintah Yuriko
"Heh? Dia kan tidak demam?! Kenapa harus disi- "
"Lakukan saja!" ucapan Naruto dipotong Yuriko dengan nada yang menyeramkan
Naruto hanya bisa pasrah akan keadaan, ini akan menjadi kejadian paling menjengkelkan untuk Naruto. Saat libur musim panas bisa dilewati dengan santai, kali ini ada sebuah serangga yang harus ditolong
"Dan jangan ada yang masuk kamar" sambung Yuriko saat Naruto dan Shirou sudah berada diujung pintu kamar
"Hai Hai" nada malas itu sungguh sangat menjengkelkan bagi Yuriko
*klek* pintu kamar pun tertutup
Naruto berjalan kedapur menyiapkan air hangat yang diminta tadi, sedangkan Shirou malah santai disofa. "Shirou! Ganti bajumu dulu" ucap Yuriko lalu membuka pintu kamar,sebuah kaos dan celana ia taruh didepan pintu kemudian menutupnya lagi
Shirou menurut, ia mengambil pakaian itu dan berjalan menuju kamar mandi. Tak sulit untuk menemukan kamar mandi diapartemen Naruto karena Shirou sering kesini hanya untuk bermain game
.
.
Shirou pun keluar dari kamar mandi dan menghampiri Naruto yang ada didapur, "Oi Naruto, tolong cucikan pakaianku ya" pinta Shirou
"Memangnya kena- " perkataan Naruto tak selesai setelah memalingkan pandangannya ke arah Shirou
"Kau tidak punya panu kan?" tanya Naruto dengan wajah aneh
"Tidak"
"Kurap?" tanya Naruto lagi
"Tidak"
"Semacam penyakit kulit?"
"Ti.. ah ada satu jerawat dipundakku, tolong pencetkan!" ucap Shirou sambil menggulung kaosnya keatas
Naruto memandang Shirou dengan tatapan aneh, "Kena- "
"Miaau" kucing Naruto mengeong tanda minta makan
"Hooohh, kau punya kucing?!"
"Begitulah, aku membawanya pulang beberapa hari lalu" balas Naruto
Seketika mata Shirou pun berkilauan, mungkin dia termasuk penyayang kucing atau pecinta kucing atau semacam hal senonoh yang dilakukan dengan kucing.
.
.
Waktu berlalu begitu cepat, sudah jam 8 malam. Shirou yang asik dengan console gamenya sambil berbaring disofa, Naruto yang sedang memberi makan kucingnya, dan Yuriko yang baru keluar dari kamar Naruto
Yuriko menurunkan lengan bajunya yang ia gulung, "Bagaimana?" tanya Shirou tanpa memalingkan pandangannya dari layar gamenya
"Tubuhnya panas, sepertinya dia demam" jawab Yuriko
"Apa kau yakin?" tanya Shirou lagi
"Memangnya kau fikir buat apa aku kuliah kedokteran bodoh!" jawab Yuriko sambil memanyunkan bibirnya
Shirou mengubah posisinya, ia duduk disofa dan wajahnya tampak murung, "Mungkin ini semua salahku" ucap Shirou parau
"Hah?! Maksudmu?" Yuriko tak tahu maksud Shirou
"Perkataanku lah yang membuatnya membuatnya seperti itu, dia ingin lompat dari jembatan tadi, aku tidak berniat untuk membuatnya melompat. Aku hanya ingin menghancurkan pendiriannya kalau yang akan dia lakukan itu salah. . . tapi. . . tapi. . . "
"Sudahlah, pada akhirnya kau yang menyelamatkannya" potong Naruto sambil bersandar di dinding
"Tapi dia sekarang jadi begini, mungkin ini akan menjadi demam yang tidak biasa" Shirou masih saja menyalahkan dirinya sendiri
"Begini lebih baik daripada mati" Naruto kembali berucap dengan nada santai
"Dan juga, mungkin sekarang kau akan kerepotan mengurusnya, seharusnya aku yang bertang- "
"Cukup, aku tak ingin mendengar keluhanmu lagi. Yah setidaknya aku akan punya teman bicara besok, mungkin" perkataan Naruto memelan saat ia akan punya teman bicara
Shirou berhenti berucap, perkataan Naruto mengalihkan kerisauannya. "Kalau itu mau mu, aku pulang dulu" pamit Shirou sambil berdiri mengangkat tas disampingnya
"Aku juga, dan jangan lupa untuk rutin mengompresnya malam ini" Yuriko ikut-ikut, perkataan Yuriko diakhiri dengan satu kedipan mata, mata genit itu membuat Naruto jengkel
.
.
.
Naruto membuka pintu kamarnya, pelan tapi pasti. Entah kenapa, padahal Naruto sudah membuka pintu itu sangat pelan tapi malah menimbulkan derit layaknya di film horror. Dilihatnya seorang Hyuuga Hinata dihadapannya, terbaring tak berdaya
"Mungkin dia sudah mati" fikir Naruto
Pelan-pelan Naruto berjalan mendekati Hinata, "Hoi... apa kau masih hidup?" sangat pelan bagaikan hembusan angin
Naruto merasa itu adalah hal yang mustahil, mengajak orang pingsan berbicara sama saja berbicara dengan angin lewat. Naruto duduk dilantai, punggungnya ia sandarkan pada tepi tempat tidur
"Ini semua tidak seperti yang kalian harapkan" ucap Naruto pelan
"Kau tahu Tuhan, aku tidak pernah percaya kau ada. Kalau kau ada, kenapa kau selalu mengambil orang-orang yang kusayangi, sepertinya percuma aku berdoa selama ini. Nasib baik? Nasib buruk? Persetan dengan semua itu. Kalau kau benar-benar ada, aku minta padamu agar membuat gadis ini membuka matanya besok pagi" perkataan Naruto sangatlah tenang
"Itu bukanlah permintaan yang muluk-muluk, aku yakin kau akan mudah mengabulkannya" sambung Naruto
Naruto berdiri dan keluar dari kamarnya, tak lupa mematikan lampu. "Oyasumi, ojou-sama" *klek* pintu kamar pun tertutup.
.
.
.
Naruto tak memperdulikan perkataan Yuriko tadi, ia tak akan rutin mengompres Hinata yang tengah terbaring lemas. Jika yang disebut "Tuhan" itu benar-benar ada, maka Naruto tak akan mempermasalahkannya
Naruto berbaring disofa, ia menatap langit-langit apartemennya. Ia menengadahkan tangan keatas, jika Naruto bisa menggapai langit maka ia akan melakukannya. Mencari tahu apakah Surga itu benar-benar ada, atau hanya karangan manusia terdahulu
.
.
Kediaman Hyuuga
.
"Maafkan kami, Hiashi-sama, kami tidak bisa menemukan nona Hinata" ucap salah satu pelayan keluarga Hyuuga
"Cari lagi dia sekarang, perluas area pencarian kalian. Salah satu lapor polisi" perintah Hiashi dengan tegas
"Ha' i" jawab mereka serempak kemudian keluar untuk melanjutkan pencarian
"Neji, hubungi teman-teman Hinata, mungkin mereka bersamanya" perintah Hiashi sebelum Neji keluar dari ruangan
"Baik" jawab Neji singkat lalu keluar
Raut wajah Hiashi yang biasanya tampak tegas sekarang berubah masam, ia sudah kehilangan istrinya dan sekarang akankah dia juga kehilangan putrinya. "Hinata, dimana kau? Aku tidak akan memaafkan diriku kalau akan kehilanganmu juga"
.
.
"Slow Motion"
.
.
Jam 7 pagi, "Hoooaaaammm" Naruto menguap, tangannya tengah sibuk mengucek matanya, ia belum siap bangun. Naruto berdiri dan berjalan kekamar mandi
Suara air mengalir dari keran terdengar dari kamar mandi, "Sepertinya aku melupakan sesuatu" fikir Naruto
Tak mau ambil pusing, Naruto tak lagi memikirkannya. Ia mengusap wajahnya dengan handuk, "Apa yang akan aku lakukan hari ini?" tanya Naruto pada dirinya sendiri
"Malas-malasan adalah kegiatan yang bagus untuk mengisi liburan, mungkin orang lain akan keluar dengan teman-temannya" sambung Naruto
"Teman? Teman. . . . . " *Tik Tok Tik Tok*
Seketika Naruto ingat akan sesuatu, ia tidak tinggal sendiri hari ini, alasan mengapa ia tidur disofa, kenapa ada yang ia lupakan. Semua tertuju pada gadis dikamar Naruto, Naruto berlari menuju kamarnya
*Braakk* suara pintu yang dibuka dengan keras
Ia disana, ia membuka matanya, ia masih hidup, ia bukan hantu, ia bukan mayat hidup. Hyuuga Hinata, gadis yang mencoba bunuh diri dengan cara terjun dari jembatan, ia tengah duduk diatas ranjang.
Pandangannya kosong, pandangan itu lebih buruk daripada pandangan sinis murid-murid disekolah bagi Naruto. Ia menautkan jari-jarinya, wajahnya tampak pucat
"Ohayou, ojou-sama" ucapan datar dari mulut Naruto
Hinata hanya diam, dia tak membalas ucapan Naruto. Gawat, ini lebih gawat buat Naruto, ini lebih buruk daripada dibenci satu sekolah. Gadis didepannya hanya diam tak berkata-kata
Bagaimana bisa seorang gadis yang telah tidur dikamar Naruto bisa mengacuhkan ucapan selamat paginya, itu buruk bagi Naruto. "Tidak tahu terima kasih" fikir Naruto
Hinata masih saja diam, ia tak menggubris Naruto yang berdiri mematung didepan pintu. "A-akan aku buatkan bubur" Naruto mencari alasan untuk bisa keluar dari suasana canggung ini
Naruto berjalan mundur dengan pelan, sungguh sebuah skenario buruk bagi Naruto. "Bukan seperti ini yang aku inginkan, buatlah dia bisa tersenyum seperti sebelumnya. Tuhan? Sebenarnya Kau ini apa? Apa Kau benar-benar ada? Atau Kau hanya sebuah kepercayaan yang tersebar didunia. Kau selalu, selalu, membuat hidupku buruk"
.
.
.
Ini sudah siang, dia hanya duduk terdiam dari tadi, bubur disampingnya sudah dingin. Sesekali Naruto masuk menengoknya dan ia hanya menemukan potongan film yang tidak bergerak, sama saja
*Tok Tok* seseorang mengetuk pintu Naruto
"Baik-baik, sebentar" ucap Naruto sambil berjalan menuju pintu
*ceklek* pintu pun terbuka dan nampaklah seorang pria dengan senyum yang tak luntur, parfumnya menusuk hidung Naruto, sebuah tas selempang tergantung dipundaknya.
"Ada apa?" tanya Naruto datar
"Paket" jawabnya
"PAKET GUNDULMU! Kemarin uang kontrakan, sekarang paket, apa besok kau akan menjawab 'sedot wc' , hah?!"
Ternyata dia, dia si kusut, simulut gergaji, dia si trouble maker. "Masuklah" ucap Naruto, Shirou mengikutinya dari belakang
Naruto duduk disofa dengan pasrah, raut wajah kesusahan nampak jelas terlihat dari Naruto. "Bagaimana keadaannya?"
"Haaaaah" Naruto menghembus nafas berat
"Dia sudah bangun, tapi dia bukan dia yang kukenal selama ini. Dia hanya duduk diam dikasur, aku berharap aku bisa membuatnya tersenyum, setidaknya untuk menghilangkan rasa cemasku" sambung Naruto
"Yah, kalau kau tidak bisa membuatnya tersenyum, setidaknya jangan buat dia menangis, itu lebih baik" balas Shirou
Naruto memandang Shirou dengan intens, "Hei Shirou, sebenarnya kau sehari makan berapa kamus? Kenapa mulutmu bisa berucap seperti itu?"
"Heee, bagaimana? Hebat bukan? Itulah kelebihanku" Shirou membanggakan diri
.
"Arrgghh, ini membosankan. Naruto, kau masih menyimpannya kan?" tanya Shirou
"Aku akan mengambilnya dulu" seakan-akan Naruto tahu apa maksud Shirou
Naruto berjalan masuk kekamar, dia masih disana. Duduk terdiam memandang telapak tangannya sendiri, ada hal aneh dimata Naruto saat ini. Bubur yang tadinya masih utuh sekarang sudah berkurang, terlihat jelas belepotan bekas bubur dimulut Hinata
Naruto tersenyum dalam hati, ia tak akan mengganggunya. Ia terus saja melakukan tujuannya dari awal masuk kamar. Sebuah kardus diatas lemari diambilnya, debu dan jaring laba-laba menghiasi kardus itu
*Fuuuhhh* Naruto meniup debu-debu
Naruto keluar dari kamar dengan santai tak menggubris gadis yang tengah melamun ditempat tidurnya. Dan baru satu langkah keluar dari kamar, rasa bersalah muncul dibenak Naruto
"Shirou, kau pasang ini dulu, aku mau ambil sapu tangan didapur" ucap Naruto sambil menyerahkan kardus itu pada Shirou
"Baik kapten" jawab Shirou dengan semangat
Setelah Shirou menerimanya Naruto berjalan ke dapur, sebuah sapu tangan tergantung rapi disana. Tak perlu waktu lama untuk Naruto mengambilnya mengingat kalau dia hanya tinggal disebuah apartemen
Naruto kembali dari dapur dengan sebuah sapu tangan digenggamannya, "Sudah berapa lama kau tidak memainkannya?" tanya Shirou disela-sela kegiatan memasang kabel
"Entah, kau coba saja. Mungkin masih berfungsi dan lagipula kau baru memainkannya bulan lalu" jawab Naruto seadanya
Naruto meninggalkan Shirou yang masih sibuk dengan tv dan playstation, ia masuk kekamar. Entah kenapa, Naruto mulai merasa kasihan dengan gadis dikamarnya tersebut. Kehilangan orang tua untuk selamanya adalah hal buruk bagi manusia dan Naruto tahu itu. Bersumpah serapah kalau Tuhan membenci dirinya, hal buruk selalu saja datang dan Tuhan pusatnya
Hal buruk dan hal baik selalu datang, Tuhan menyeimbangkan keduanya. Tuhan pusatnya, surga miliknya begitu pula Neraka.
Naruto berjalan menghampiri Hinata, ia membungkuk. Membersihkan bubur yang menempel dibibir Hinata, bahkan sampai ada yang dipipi. "Kau tahu, kadang aku tidak percaya akan mengalami situasi seperti ini. Aku juga pernah merasakan apa yang kau rasakan saat ini" ucap Naruto
"Jangan salahkan Tuhan, Tuhan memang salah tapi dia tahu yang terbaik buatmu. Bisakah kau tersenyum seperti biasanya? Aku harap bisa"
*Greeppp* Sebuah pelukan dirasakan Naruto. Hinata memeluknya, sebuah pelukan
"Bisakah kau diam saja? sebentar saja" ucap Hinata parau
Tubuh Naruto tak bisa bergerak saat Hinata memeluknya, dengan kata lain Naruto menurutinya
"Tetaplah disisiku, sebentar saja" ucap Hinata lagi
.
.
"Narutoooo! Sudah siap" teriak Shirou dari luar kamar
Mendengar suara itu, Hinata sontak mempererat pelukannya. Itu suara Shirou, Hinata mengingatnya, suara itu adalah sebuah sumber kata-kata buruk yang selalu keluar.
Naruto tak tahu kenapa Hinata mempererat pelukannya, yah Naruto tak mau ambil pusing. Kedua tangan Naruto sudah berada dipundak Hinata, ia sedikit menjauhkan Hinata untuk menyudahi acara pelukan yang mungkin tak berujung itu
"Aku ada didepan tv kalau kau kesepian" ucap Naruto lalu berdiri meninggalkan Hinata, tangan Hinata mencoba meraih baju Naruto tapi sudah tak sempat, seakan ia tak rela Naruto pergi meninggalkannya
.
.
"Baiklah, apa yang akan kita mainkan kali ini?" tanya Naruto sambil duduk dan mengambil salah satu joystick
"NOVA 2" jawab Shirou singkat
"Baiklah, tapi jangan menangis kalau kalah" ejek Naruto
.
.
*Baam Baam Sring Sring* suara dari game itu memenuhi ruangan
"Dasar bodoh, memang apa hebatnya hero dengan pedang?" ejek Naruto pada karakter game yang dipakai Shirou
"Ini lebih baik daripada pistol bututmu itu" Shirou tak mau kalah
"Jangan remehkan milikku, aku mempunyai serangan jarak jauh yang lebih akurat dan kau hanya bisa menyerang dari jarak dekat, itupun kalau HP mu masih"
.
Tak lama kemudian kedua char mereka bertemu, NOVA 2. Sebuah game berbasis action fighting. 2 pihak yang bermusuhan adalah konflik utama dalam game ini
"Kau akan mati oleh pistolku" ucap Naruto bangga
Shirou menyeringai, senyum sinisnya itu nampak akan berdampak buruk. "Lihat ini baik baik" ucap Shirou berat sambil memencet tombol joystick
*EXPLODE*
Puluhan pedang muncul dari berbagai penjuru. "Kau akan merasakan tajamnya kesedihan, Naruto"
.
"Ti-ti-tidak mungkin" balas Naruto tak percaya
Shirou mulai merapal mantra, layaknya dirinyalah yang ada didalam game tersebut
"I am the bone of my sword"
"Steel is my body and fire is my blood"
"I have created over a thousand blades"
"Unaware of loss, Nor aware of gain"
"Withstood pain to create weapons, waiting for one' s arrival"
"I have no regrets. This is the only path"
"My whole life was. . . . "
"MATI KAU NARUTO!" teriak Shirou semangat
"Unlimited Bla- "
"Hentikan!" tiba-tiba Hinata keluar dari kamar
Mereka berdua, Naruto dan Shirou hanya bisa cengo memandang gadis didepan mereka
"Aneh" fikir Shirou
"Jangan bunuh Naruto-kun, dia orang yang berharga buatku, dia telah menyelamatkanku" ucap Hinata
"Heh?!" Naruto tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan
"Ppppffffffttttttt" Shirou menahan tawanya
Merasa ada yang aneh, Hinata segera bersembunyi dibalik badan Naruto
"Menolongmu? apa orang seperti Naruto akan menolongmu?" Shirou mulai lagi
"Diam! Naruto-kun adalah orang baik, bahkan dia menolongku saat aku mencoba bunuh diri kemarin" bentak Hinata
"Bukan seperti kau yang hanya bisa berbicara kasar saja" sambung Hinata
Shirou mendengar celotehan Hinata bagaikan suara kucing minta kawin, dia hanya bersiul ria
"Naruto, bisa kau jelaskan?" ucap Shirou sambil mengganti disc game
"Ahhh... ettoo... bagaimana ya... hmmmm... singkatnya... Shirou yang menolongmu" Hinata terbelalak tak percaya, bagaimana mungkin si kusut yang menolongnya. Sikap Shirou yang selalu bercanda dan bertingkah konyol membuat Hinata semakin tak percaya
"Kau dengar itu, ojou-sama?" tanya Shirou sambil menyunggingkan senyum sinisnya
.
.
Hinata tak tahu harus bereaksi seperti apa. Hanya sebuah penyesalan dikepalanya setelah meremehkan Akihiko Shirou
Dengan wajah berlinang air mata, Hinata menatap Naruto dalam, "Kenapa bukan kau yang menyelamatkanku?" tanya Hinata dengan nada sedih
"Dia terlalu takut melihat kau mati" sahut Shirou apa adanya
Bukan Shirou yang ditanya tetapi dia yang menjawab, kau terlalu mendominasi pembicaraan Shirou
"Benarkan? apa kau akan sedih berkepanjangan kalau aku mati?" tanya Hinata lagi
"Sudahlah, jangan bicara tentang mati mati mati. Dan juga kau harus segera pulang" Seketika wajah sedih Hinata berganti mimik murung setelah mendengar perkataan Naruto
"Hiks... Hiks... Hiks... "
Hinata menangis, lagi. "Aku tidak mau pulang. Kumohon jangan paksa aku pulang, biarkan aku menenangkan diriku dulu... Kumohon... Hiks... Naruto-kun... Kumohon"
"Arrrghhh, baiklah tapi setidaknya hubungi ayahmu dulu kalau kau baik-baik saja dan jangan katakan kau bersamaku"
Hinata mengangguk pelan. Naruto mengambil ponsel yang tergeletak disampingnya, "Ini, kau hubungi ayahmu, kau hafal nomor telefon rumah kan?" Hinata hanya mengangguk pelan
.
.
"Disini kediaman Hyuuga, ada yang bisa saya bantu?" yang menjawab adalah salah satu maid
"Ini Hinata, bisa berikan ke ayah?"
"Baiklah Nona Hinata"
.
.
"Hinata! dimana kau? apa kau baik-baik saja?!" sikap over protektif Hiashi pun keluar
"Aku baik-baik saja ayah, aku ada dirumah Sakura sekarang"
"Jangan berbohong! kemarin Sakura bilang dia tak tahu kau dimana"
"Aku yang menyuruhnya untuk berbohong. Aku hanya ingin menenangkan diri dulu, aku harap ayah bisa paham perasaanku setelah kehilangan ibu. Aku akan tinggal dirumah Sakura untuk beberapa hari, jadi ayah tidak perlu khawatir"
"Baiklah, tapi tetap jaga dirimu baik-baik. Aku tidak tahu bagaimana kalau sampai kehilanganmu"
"Baik"
Percakapan pun berakhir dengan santainya. Sementara itu Shirou tengah memandang Hinata dengan mata berbinar
"Kau hebat Hyuuga-san, kau pintar memutar balikkan fakta. Kau akan jadi wakilku dalam pencalonan presiden masa depan" kata-kata adalah hal utama dalam suatu kehidupan, Shirou baru sadar kalau Hinata pandai bicara
"Dalam mimpimu" balas Hinata datar
.
.
"Sepertinya sofa akan menjadi tempat tidurku sekarang" keluh Naruto
"Hee, kenapa?" tanya Hinata tentang keluhan Naruto
"Kenapa? Tanyakan pada dirimu sendiri. Kau tidur di kamarku, kasurku, tempat tidurku, dan mana mungkin kau mau tidur di sofa" jelas Naruto
"Kita bisa berbagi kasur, aku tidak keberatan" perkataan polos gadis manis
"ITU TIDAK MUNGKIN!"
Naruto hanya bisa menghembuskan nafas berat, ia mempunyai tamu yang lebih merepotkan daripada Shirou. "Miiaau" suara meongan memecah keheningan
"Ka-ka-kau punya kucing?" tanya Hinata dengan nada gugup
"Aku menemukannya sendirian, jadi aku bawa pulang saja" jawab Naruto tapi matanya berfokus pada layar tv
Mata Hinata berbinar, kucing itu berjalan mendekat ke Hinata. Entah mimpi apa yang didapat kucing itu, ia mendapat paha Hinata. Lebih tepatnya ia sudah berada dipangkuan Hinata, dengkuran nafas dapat Hinata rasakan
"Mati kau Naruto" teriak Shirou yang sedang asyik-asyiknya dengan game
"Jangan bercanda" Naruto tak mau kalah
Sementara itu Hinata hanya bisa memandang aneh mereka berdua, merasa dikucilkan Hinata mulai mencar bahan pembicaraan
"Nee, siapa nama kucing ini?" tanya Hinata basa-basi
"Apa kucing harus diberi nama?" tanya Naruto balik dengan wajah bodohnya
"Tentu" jawab Hinata cepat
"Kau saja yang beri nama, aku tidak punya pandangan" balas Naruto cuek
"Hmmmm... bagaimana kalau Kurama?" Hinata meminta persetujuan
"Itu nama kuno, ada yang lain?" mata Naruto masih fokus pada tv
"Aiko" sahut Shirou tanpa memalingkan pandangannya
"Aiko?" tanya Naruto dan Hinata bersamaan
"Ya, Aiko sebenarnya nama kucing Rin yang mati tertabrak mobil. Lalu aku berusaha menghidupkannya kembali sebagai zombie, dan bersamaan dengan itu aku bertemu dengan gadis bernama Sanka Re- "
"Jangan bawa cerita orang lain!" Naruto memotong cerita Shirou
.
.
Hari sudah sore, sang mentari bersembunyi dibalik awan. Sinar jingga menyinari kota dengan indahnya. Shirou sudah pulang dari tadi dan kini hanya tinggal Hinata dan Naruto dan juga Aiko si kucing.
"Nee Naruto-kun, apa aku merepotkan tinggal disini?"
"YA, kau sangat merepotkan. Kau mengambil alih kamarku, kasurku, tempat tidurku dan juga perhatian kucingku"
"Tenang saja, lagipula aku mempunyai teman ngobrol saat kau disini" ucap Naruto yang diakhiri dengan tawa terpaksa
"Ahh, aku akan beli makanan kucing dulu. Hyuuga-san disini saja" sambung Naruto
"Izinkan aku ikut" pinta Hinata dengan mata berkaca-kaca. Naruto geli sendiri dengan tatapan itu
"Tidak, aku jalan kaki, mana mungkin kau mau jalan kaki"
"Aku mau"
"Tempatnya jauh"
"Tidak masalah" mereka saling bersahutan
"Baiklah baiklah, tapi hal utama saat kau ingin ikut adalah. . . . "
"Adalah. . . " Hinata mengikuti perkataan Naruto
"Kau harus mandi"
.
5 menit
.
10 menit
.
15 menit
.
"Arrgghhh. . . . kenapa perempuan mandinya lama sekali" keluh Naruto
Tak lama setelah keluhan itu, Hinata datang dengan memakai gaun one piece berwarna putih selutut. Rambut yang ditata pony tail, Naruto tak berkedip memandangnya.
"Na- Naruto-kun?" panggil Hinata berusaha membuyarkan lamunannya
"HEEHH, dimana Hinata?!" Naruto berlari menuju kamar mandi melewati Hinata yang ada didepannya
"HINATA! Hoi, APA KAU MASUK CLOSED? HINATAAAAAA!" teriak Naruto sejadi-jadinya
Sementara itu Hinata berada dibelakangnya dengan wajah bingung, "Naruto-kun?" panggil Hinata sambil menepuk pundak Naruto
"HWAAA. . . Si- si- siapa kau?!"
"Apa maksudmu? Aku Hyuuga Hinata"
"Ti- tidak mungkin, Hinata yang kukenal orangnya berantakan dan pernah berpenampilan manis seperti ini, SIAPA KAU?!" otak udang tetap saja otak udang, hebat dalam pelajaran tapi payah dalam mengenali seseorang
.
.
.
Mereka berdua sudah sampai ditoko hewan, *KRINCING* suara lonceng diatas pintu berbunyi
"Selamat datang" ucap pegawai disana
"Nona, seperti biasanya ya" hal biasa sekarang semenjak Naruto mempunyai kucing
"Baik, aku akan mengambilkannya dulu" balas pegawai itu dengan nada manis
Semantara itu Hinata sudah asyik dengan hewan-hewan disana, "Hoi, jangan bertindak seenaknya. Ini bukan tokomu!"
"Aha ha, tak apa selama hewan-hewanku disini senang" ucap pegawai yang sudah ada dibelakang Naruto
"Dan juga, dia mirip dengan gadis berambut pirang pucat yang terakhir kali kau ajak kesini, apa dia mewarnai rambutnya?" sambung pegawai itu dengan sebuah pertanyaan, Hinata mendengarnya, pendengarannya cukup tajam untuk mendengar percakapan itu
"Tidak, dia bukan dia. Sekilas kornea mata mereka hampir sama, tapi jika diperhatikan lebih jeli lagi akan ada perbedaan"
.
.
"Siapa 'dia' yang kau maksud tadi?" tanya Hinata penasaaran
"Dia?" Naruto tak paham
"Gadis berambut pirang pucat!" jawab Hinata dengan nada kesal
"Ohhh... dia Shion-senpai"
"Lalu kenapa kau mengajaknya ke toko itu?" Hinata masih saja bertanya
"Ceritanya panjang dan akan sulit menceritakannya. . . hei kau mau ramen?" Naruto mengalihkan pembicaraan
Hinata menangguk, makanan mengubah segalanya
.
.
.
"Ahh Naruto, tumben kau mampir dan juga seingatku dia bukan gadis yang kau ajak kemari dulu. . . apa kau selingkuh?" baru saja duduk, Ayame sudah membordirnya dengan kata-kata aneh
Tatapan tajam Hinata langsung menuju ke Naruto, sedangkan Naruto tak menggubrisnya.
"Ohhh... Naruto dan juga. . . . . Hyuuga Hinata kan?" sapa paman Teuchi yang baru saja keluar dari belakang
"Paman mengenalnya?" tanya Naruto tak percaya
"Mana mungkin aku tidak mengenalnya, calon istrimu memang benar-benar cantik" jawab paman Teuchi
"Jangan bercanda paman, mana mungkin dia itu calon istriku!" jawab Naruto santai
"Aku tidak bercanda Naruto, apa kau tidak mengingatnya?" balas paman Teuchi dengan nada serius
"Mengingatnya?!"
.
.
.
To Be Continued?
.
.
Yoo... sekedar sebuah pesan singkat dari saya
Maaf kalo updatenya lama
Hanya itu kemampuan saya
Untuk yang review, TERIMAKASIH
Ahhh... untuk yang review "cerita loncat-loncat" – itu sudah saya fikirkan dari dulu kalau akan saya masukkan dichapter entah berapa
Gak akan asyik kalau selalu urut alur cerita
Untuk yang review "Cerita seram Shirou, itu memang saya ambil dari Hyouka, tapi kalau cerita jembatan itu saya ngarang. Saya belum nonton K-ON S2 soalnya jadi gak tahu kalau ada yang sama"
Untuk yang review "Lanjut, Next, Up kilat" sujud syukur betapa pelitnya kalian "Just kidding" thank's udah review
Jaa In next Chapter
