DESTINY

Naruto hanya milik Masashi Kishimoto
Don' t judge me if my story bad
I just make some story from my imagination
Not false, right?
Warning : Bad Story, OOC, Many OC
I wish you all enjoy my story

.

Twinkle – Twinkle litte star

How i wonder what you are

Up above the world so high

Like a diamond in the sky

Twinkle – Twinkle little star

How i wonder what you are

.

.

.


Chapter 18

Naruto bingung sendiri, apa maksudnya calon istri? Ucapan paman Teuchi? Naruto yang lupa akan sesuatu, ia tak mengingatnya.

"Ayah, bisakah kau berhenti bercanda?! Semua pasangan yang datang kemari kau katai seperti itu" Ayame menengahi pembicaraan

"Eeh?! Tapi. . . "

"Sudahlah, dan buatkan pesanan Naruto, seperti biasa kan, Naruto?" Ayame sekarang melirik Naruto

"Ha ha ha, aku sudah menduga kalau paman hanya bercanda. Seperti biasa paman, dan aku tidak tahu gadis disebelahku ini mau apa" Naruto tertawa lega setelah tahu itu hanya sebuah guyonan, Naruto melirik Hinata dengan ekor matanya

"Hoi, kau mau pesan apa?" tanya Naruto sambil memukul kepala Hinata pelan dengan sumpit

"Eeehhh? Hmmm. . . ramen porsi besar" ucap Hinata

Paman Teuchi dan Ayame memandang Hinata tak percaya, "Percayalah, dia lebih dari yang kalian duga" Naruto berucap sambil menopang dagunya

"Benarkah? Yang kuingat gadis yang dulu itu bahkan sampai tak habis dan kau berkata akan rela menghabiskannya" Ayame mulai menggoda lagi

"Heee? Kalau begitu aku nanti tidak akan menghabiskannya" ucap Hinata sambil tersenyum

"Jangan mengada-ngada"

.

.

"Apa baju milik Yuriko Nee semuanya seperti itu? Itu terlalu terbuka. Ketiak yang akan tersapu angin, baju kurang bahan" fikir Naruto saat melirik gadis yang berjalan disampingnya

"Hei, apa kau tidak kedinginan memakai baju itu?" tanya Naruto basa-basi

"Tidak, baju ini mirip seperti milik Menma"

"Menma?" Naruto tak tahu siapa itu Menma

"Menma, hantu perempuan yang masih mempunyai janji di dunia, membuat seseorang menangis tepatnya"

"Aku tak tahu, mungkin Shirou tahu"

"Dan juga, kapan kau akan pulang?" sambung Naruto dengan pertanyaan

Hinata memejamkan matanya, menikmati hembusan angin malam. "Aku akan pulang saat bintang tak lagi bersinar"

"Berakhir sudah hidupku"

.

.

Mereka berdua sudah sampai di apartemen, *cklek* pintu terbuka. "Segera ganti bajumu, mataku sakit melihatnya" perintah Naruto

"Hee?! Kenapa aku harus menuruti kata-katamu?!" tanya Hinata dengan nada kesal

"Hem! Apa seperti itukah caramu berterima kasih?! Kau harus sadar posisi mu saat ini Hyuuga-san" jawab Naruto membanggakan dirinya sendiri

"Hai hai, lihat saja kalau aku sudah pulang. Aku akan beli apartemen jelek ini!"

"Dan juga, jangan panggil aku seformal itu, aku risih mendengarnya, 'Hinata' seperti kau memanggilku tadi sore" sambung Hinata sambil berjalan kekamar Naruto

*BOOM*"Akan kuhancurkan sifat sombongmu itu!"

.

.

Naruto yang baru memberi makan kucingnya berjalan menuju kamar. Ia berniat mengambil baju ganti, kepalanya perlu dibasuh dengan air es agar kembali segar. *ceklek*

"Eh, Are, Hee, Loo, Hii" Naruto bergumam tak jelas

Sesosok sean sedang menggoda Naruto, nampak jelas diiris birunya. Setan yang hanya memakai pakaian dalam, kulit putih nan mulus.

Setan pun ikut memalikngkan kepalanya, pandangan mereka bertemu. Iris rembulan dan sapphire itu bertemu

"APA YANG KAU LAKUKAN BODOH?!" teriak Hinata yang sedang ganti baju

"Hee?! HEEEE?!" dengan cepat Naruto kembali menutup pintu

*DUG DUG DUG DUG DUG DUG DUG* jantung Naruto berdegup kencang

Bukan setan yang Naruto lihat, sebuah pemandangan yang mungkin tidak akan didapatkan orang lain. Beruntungnya dirimu Naruto, "Sialan, kenapa perempuan ganti baju saja lama sekali. Apa semua perempuan seperti itu?" fikir Naruto

Naruto berusaha melupakan semua itu, hal yang baru saja terjadi. Tapi momen itu terus terputar dikepala Naruto, bagaikan kaset yang hanya mempunyai satu lagu.

"Bodoh, aku lengah! Aku lupa kalau aku sekarang tinggal bersama orang mesum" gumam Hinata yang baru keluar dari kamar

"Siapa yang kau panggil orang mesum?" tanya Naruto dengan tampang watados-nya

"Memangnya disini ada siapa lagi, HAH?! Itu KAU. KAU. KAU. KAU. Uzumaki Naruto-san"

"Hai Hai, aku yang salah. Gomen kudasai" nada datar sambil membungkuk 90 derajat, itu yang dilakukan Naruto

.

.

Setelah kejadian itu Hinata duduk manis disofa, tangannya sibuk sendiri dengan barang bernama remote. Sedangkan Naruto duduk dibawah, punggungnya ia sandarkan ke sofa,

"Oi kampret, sebenarnya kau ini mau nonton apa?! Dari tadi ceklak ceklek terus!" protes Naruto pada Hinata

"Berhentilah mengoceh dan nikmati akhir hidupmu, Uzumaki Naruto-kun" balas Hinata dengan nada menjengkelkan telinga

*Drrtt Drrtt Drrtt* ponsel Naruto bergetar tanda ada telfon masuk

Naruto sedikit berdiri untuk mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja, "Rin-chan?"

"Moshi-moshi, ada apa Rin-chan?" tanya Naruto langsung to the point

"Jangan coba-coba menggoda adikk, bodoh!"

"Sialan, sikusut rupanya" batin Naruto

"Hemm, ada apa?" tanya Naruto lagi

"Hei Naruto, besok aku dan yang lain akan pergi ke Hikaru Park, kau ikut?"

"Ya, Kami ikut!" secepat angin Hinata menyambar ponsel Naruto dan menjawab dengan penuh semangat

Sedangkan Naruto hanya bisa menganga, sejak kapan segala sesuatu dikehidupannya di tentukan oleh gadis gila disampingnya ini. Hoi

"Pengeluaran tahun bulan ini akan membengkak"

"Tenang saja, saat aku pulang nanti semua uangmu yang sudah keluar akan aku ganti" aneh, seakan akan Hinata bisa membaca isi fikiran Naruto

"Baik, sudah diputuskan. Kami ikut, Akihiko-san" Hinata melanjutkan telfonnya dengan nada ceria

.

.

Pukul 10 malam, Hinata sudah tertidur lelap. Tak ada beban yang terlihat diwajahnya saat tidur.

"A-apa apaan ini?! Kemarin kamakur dan sekarang. . . "

"D-dan sekarang sofa ku kau dominasi! Kenapa kau tadi tidak kusuruh tidur dikamar saja?!"

"Aku tidak mungkin menggendong gadis yang tengah tertidur pulas, itu sebuah pelanggaran" Perang batin, Naruto terus saja berfikir berat

"Sialan, pada akhirnya semua juga aku yang mengurusnya, kau ini seorang wanita, bersikaplah layaknya wanita pada umumnya" Naruto bergumam

Naruto berjalan kekamar, bukan untuk tidur melainkan mengambil selimut dari kamarnya. Tak perlu waktu lama untuk Naruto melakukan hal seperti itu. Menyelimuti seorang gadis yang tengah tertidur pulas, di apartemennya.

"Okaa-san," Hinata mengigau

"Okaa-san," lagi lagi ia memanggil ibunya

Naruto tersentak mendengar hal seperti itu, dia bertingkah seperti biasanya tadi tapi sekarang hanya sebuah wajah menyedihkan yang tampak dari Hinata. "Shirou benar, kau bersikap keras tapi pada akhirnya kau hanyalah gadis cengeng"

"Oyasumi, ojou-sama" ucapan selamat malam dari mulut Naruto

.

.

When the Star not Shine again

.

"Naruto?"

"Ah Naruto, dia mungkin sedang bermain dengan teman-temannya, Hiashi-san"

"Aku sudah bilang beberapa kali, panggil saja Hiashi, Minato"

"Ah aha aha aha, jadi bagaimana?"

"Biarkan mereka menikmati masa-masa mereka dulu, hal seperti itu adalah sesuatu yang mereka tak mengerti"

.

.

"HIASHI-Sama! Ada anak-anak nakal yang mencoret-coret mobil Anda, rambut pirang jabriknya terlihat jelas saat sedang berlari, dan yang lainnya juga kabur dengan tawa yang membuat saya geram"

"Aah, itu pasti Naruto, maaf, anak kami selalu membuat masalah"

"Sudahlah, lagipula Hi- "

"Aku pulang. . . . woo paman supir!"

"Berhenti Naruto, Naruto, Naruto, Naruto. . . . . "

"Naruto, Naruto, Naruto, Naruto-kun, Naruto-kun"

Tubuh Naruto digoncang-goncangkan dengan tenaga gorilla, dengan malas Naruto membuka matanya. Yang pertama ia lihat hanyalah Hinata dengan wajah khawatir, sepertinya sesuatu telah terjadi.

"Hoaaammm. . . ada apa?!" ucap Naruto sambil menggaruk kepalanya

"Aku kira kau mati"

"Hanya itu?! Kau membangunkanku hanya karena kau mengira aku mati?! Tuhan, berikanlah gadis ini sebuah pencerahan!" ucap Naruto dengan nada kesal

"Kalaupun aku mati, itu juga tidak akan berpengaruh padamu" sambung Naruto

*pletak* sebuah pukulan mendarat keras dikepala Naruto

"Bodoh! Sama saja kau tidak punya tujuan hidup, dasar tidak sayang nyawa" omel Hinata

"Hoi hoi, memangnya siapa yang ingin bunuh diri lompat dari jembatan?! Siapa yang tidak sayang nyawa?!" Naruto membalik keadaan

"He he he" Hinata hanya bisa terkekeh malu

Naruto menghembuskan nafas berat, ini masih jam 6 pagi di masa liburan musim panas. Naruto terjebak dengan seorang gadis yang sangat susah untuk diladeni

"Jadi ada apa kau membangunkanku pagi-pagi?" tanya Naruto sambil mengumpukan seluruh nyawanya

"Aku hanya bingung saja, kau tahu kan kalau aku tadi malam tidur di sofa?"

"Hmm.. terus? Hooam" rasa kantuk masih saja tak hilang walaupun sudah berurusan dengan Hinata

"Kenapa kau tidak menggendongku kekamar?! layaknya adegan difilm-film seperti itu"

"B- B- BAKA! Mana mungkin aku melakukan itu, J- jangan terpengaruh adegan di film"

"Hoooh! Jangan-jangan saat aku tak berdaya, kau telah menggerayangi tubuhku" ucap Hinata sambil menutupi tubuhnya dengan selimut

"Tuhan, bolehkah kubunuh dia?" Naruto berdoa ngelantur

Seketika rasa kantuk Naruto pun hilang setelah mendengar perkataan terakhir Hinata. "Terserah apa katamu, lagipula aku juga bukan pria baik-baik, seperti yang kau bilang dulu"

.

.

.

Kegiatan pagi hari pun terlaksana, Hinata yang tengah menatap bosan layar televisi, Naruto yang tengah sibuk dengan sarapan, Aiko yang baru saja menguap diatas pangkuan Hinata.

"Arrgghh bosan! Bosan! Bosan!" Hinata frustasi

Naruto hanya bisa menghembuskan nafas berat, sungguh bukan keinginannya untuk tinggal bersama gadis gila itu.

"Nee Naruto-kun? Ini punyamu?" intip Hinata dari balik tembok sambil memperlihatkan game console

Naruto menoleh, "Itu milik Shirou, dia sering meninggalkan barang-barangnya kalau main kesini, sungguh ceroboh, ha ha ha"

Baru pertama kali ini, Hinata melihatnya, Hinata mendengarnya, Naruto tertawa bahagia dihadapnnya. Yang Hinata tahu, Naruto hanya bisa tertawa dengan teman-teman dekatnya, bukan orang asing seperti Hinata.

"Nee, sepertinya aku akan betah tinggal disini" ucap Hinata lalu berlalu pergi

"Ho-Hoi, apa maksudmu?! Hoi"

"Sialan, ini akan menjadi liburan musim panas terburuk"

.

.

Hinata, Naruto, Hana, Yuriko sudah berada ditempat yang sudah ditetapkan, semua sudah lengkap kecuali si trouble maker Shirou.

"Aku sudah mencoba menghubunginya, tapi ponselnya tidak aktif" Yuriko dari tadi sibuk sendiri

"Heh?! Kau belum tahu? ponsel Shirou rusak" usaha yang sia-sia

*ciitt* Sebuah taksi berhenti didepan mereka, seorang pria dengan tampang rupawan keluar dari dalam taksi

*seett* Pria itu menyilakan rambutnya, dengan senyum menggoda ia menatap kelompok Naruto

"Apa apaan kau ini?" tanya Naruto dengan tampang malas

"Jiaa gomen gomen" wajah konyol pun keluar

"Aku harus mengantar Rin ke bandara tadi" sambungnya

"Oi Shirou, kau yang mengumpulkan kami disini tapi kau juga yang terlambat" Yuriko menyemburkan apinya

"STOP! tutup ocehanmu dan ayo kita berangkat!" Semangat masa muda Shirou membara

.

.

Hinata, Hana, Yuriko berjalan didepan sedangkan Naruto dan Shirou berjalan dibelakang mereka

"Mau kemana Rin-chan pergi?" tanya Naruto

"Entahlah, mungkin keluar negeri atau luar angkasa" Jawab Shirou dengan lawakannya

"Hmm?! Bagaimana kalau pesawatnya dibajak, lalu Rin-chan dijadikan tawanan?! A-aku tidak sanggup membayangkannya, Adikku tersayang!"

*pletak* Sebuah pukulan mendarat keras dikepala Naruto

"Jangan parno, dia hanya pergi ke Okinawa bersama teman temannya dan yang paling penting. . . . DIA ITU ADIKKU. . . A-DIK-KU! " Shirou tak mau kalah

.

.

.

Suara khas taman bermain terdengar merdu ditelinga mereka

"Ah aku mau naik itu!" ucap Hinata semangat sambil menunjuk salah satu wahana disana

"Aku mau naik itu!" Yuriko tak mau kalah

"Hana, kau mau naik apa?" tawar Shirou

"Eh heh? terserah kau saja" jawab Hana malu malu

"Aku mau naik . . ! " Naruto beraksi

"Kursi saja, kalian bersenang senanglah. . Haaah capeknya"

"Tiidaakk Naruto-kun, kau haaarus iiikuuttt beeerrseenaang-seenaang" ucap Hinata sambil manarik tangan Naruto

"Hai hai, jadi apa yang akan kita naiki pertama?" tanya Naruto

Wajah nakal Yuriko dan Shirou terpancar jelas layaknya mentari

.

.

"HWAAAAAA , BAKA, AKU AKAN MEMBALASMU NANTI" Roller coaster adalah pilihan pertama mereka

"INI MENYENANGKAN" teriak Hinata

.

.

*ngiiikkk* *braakk* Bom Bom Car pilihan mereka selanjutnya

"Kita buktikan siapa yang lebih hebat" duel antara Shirou dan Naruto segera dimulai

Mereka berdua sudah berada di sisi berlawanan, arena sudah dibersihkan dari para pengganggu

Anak kecil dan orang tua yang ada disana hanya bisa cengo melihat dua orang remaja yang sifatnya kekanak kanakkan

*ngikkk* mobil mereka bedua mulai maju, tabrakan tak terelakkan dan akhirnya *brakk*

.

.

"Yah, hari yang sangat menyenangkan bukan?" ucap Shirou sambil menikmati minumannya

"Ha ah, menyenangkan dan melelahkan" potong Naruto

"Yah hari sudah mulai petang, waktunya pulang" sambung Naruto

"Tidak Uzumaki-san, hal yang paling penting adalah wahana terakhir" Shirou mengambvil alih pembicaraan

"Wahana terakhir?" ucap Yuriko, Hana, dan Hinata bersamaan

*seet* telunjuk Shirou mengarah ke sebuah biang lala yang megah

"Tidak afdol jika kita belum naik itu, ayolah anggap saja sebagai penutup" nada Shirou memelas

Naruto dan yang lain hanya bisa menurutinya, permintaan yang tak terbantahkan.

.

.

"La la la la, biang lala, biang keladi kami datang , la la la la " Shirou berjalan didepan dan Naruto yang paling belakang, sangat terlihat jelas siapa yang menikmati hari ini.

"La La La, biang lala kami dat- " nyanyian Shirou berhenti

"Se-sebaiknya kita pulang saja" ucap Shirou lalu berjalan kembali bermaksud pulang

*grep* dengan sigap Naruto menarik kerah Shirou

"Kau yang sudah menyeretku kesemua ini, dan sebaiknya kita selesaikan ini dan pulang"

Shirou menelan ludah, "T-Ta-Tapi disana ada. . . "

"Sudahlah jangan parno, lagipula tidak apa-apa disana" ucap Naruto dengan senyum meremehkan

Naruto mulai berjalan paling depan dan kakinya pun berhenti dengan cepat, ia mati rasa. Benar yang dikatakan Shirou, seharusnya mereka pulang saja dan tidak melanjutkannya

Seorang gadis dengan rambut merah berada disana, rambut merahnya berpadu dengan jingganya maatahari sore yang akan tenggelam, ia berada disana, berada dibarisan antrian yang hendak menaiki biang lala. "Ada apa Naruto-kun?" tanya Hinata dari belakang

"Hora, benar kan?! Seharusnya kita tak melanjutkan ini" ucap Shirou sambil memasukkan kedua tangannya kesaku celana

"T-tak apa, ayo kita selesaikan ini dan segera pulang"

.

.

"Hwaaa. Lihat, kita bisa melihat kota Tokyo dari atas sini" sikap kekanak-kanakan Yuriko kambuh

"Waahh, benar" Hana pun sama

"Nee Nee, ternyata Tokyo semakin indah jika dilihat dari atas sini" sekarang giliran Hinata

"Naruto-kun, coba lihat" Hinata menarik tangan Naruto mendekat ke jendela

"Apanya?" tanya Naruto dengan nada parau

"Lihat orang-orang dibawah sana, mereka seperti semut yang sedang berkerumun"

*cklik* sebuah suara kejutan kamera terdengar jelas

Shirou yang dari tadi sendiri disisi lain mengabadikan momen momen seperti ini, momen yang mungkin tidak akan pernah terulang lagi dihidupnya

.

.

"Hwaa hari ini benar-benar menyenangkan" ucap Hinata bahagia

Terlihat rasa puas tersirat diwajah mereka, kecuali Naruto.

"Naruto-kun? Kau tidak apa-apa?" tanya Hinata

Hanya sebuah anggukanlah balasannya, merasa tak puas dengan balasan seperti itu muncul sebuah bolam dikepala Hinata

"Apa kau pipis dicelana? Hoi. . . . ada anak sebesar gorilla masih ngompol"

"Urusai naa, bisakah kau menghentikannya?!" Naruto tersulut emosi

"Hei Naruto-kun" panggil seseorang dari belakang

Merasa dirinya dipanggil, Naruto segera menoleh dan menemukan hal yang tidak ingin ia alami, gadis berambut merah itu memanggilnya. Kelompok Naruto langsung menoleh mengarah ke gadis berambut merah dibelakang mereka

Wajah Shirou nampak tidak suka melihat gadis itu, sebuah tampang cuek ia tampilkan untuk menyambutnya, Yuriko hanya diam dan sementara itu Hana dan Hinata nampak kebingungan, sebuah kata tanya 'siapa' adalah hal yang paling tepat saat ini

"Siapa?" tanya Naruto

"Heh? Seperti itukah sambutanmu untuk mantan pacarmu?" gadis itu berucap dengan nada manja

"Mantan pacar?!" batin Hinata

"Siapa?" tanya Naruto lagi

"Ada urusan apa?" Shirou mencoba menengahi

"Hmm... kau masih saja seperti dulu, Shirou. Mulut kasarmu tidak pernah berubah" sekarang gadis itu berbicara pada Shirou

"Baiklah, lagipula aku juga tidak punya urusan denganmu Aki-chan. Hei Naruto-kun, kau bisa berpura-pura tidak mengingatku, tapi mungkin ini akan mengubah pemikiranmu, masih ingat ini?" ucap gadis itu sambil menunjukkan sebuah kalung

"Dia masih menyimpannya" bisik Shirou

"Sebenarnya apa maksudmu?!" Naruto menyudahi drama amnesianya

"Hanya ingin bernostalgia denganmu" jawab gadis itu lagi tiada kehabisan kata

"Nostalgia?! Persetan dengan hal seperti itu"

Kelompok Naruto hanya bisa menyaksikan perdebatan Naruto dengan gadis itu

"Sara, bisa kau hentikan semua ini?" Yuriko mulai mengambil alih

"Hoo, Yuri nee, lama tak jumpa" jawab gadis itu yang diketahui bernama Sara

"Naruto berjalan mendekati Sara dengan perlahan, *grep* sebuah pelukan Sara dapatkan. Sara hanya bisa diam, ia tak bisa bergerak karena pelukan Naruto

Sara merasakan adanya sesuatu yang basah jatuh dibahunya, isakan tangis ia dengar dari Naruto. Tak perlu waktu lama untuk Sara menyadarinya, pria yang sedang memeluknya itu sedang menangis.

"Kemana saja kau?" tanya Naruto disela-sela tangisnya

Sara tak mampu menjawab, ia terlalu kaget melihat Naruto seperti ini. Naruto yang dulu ia kenal sudah berubah menjadi sesosok pria cengeng

Semua yang ada disana kaget, tak terkecuali Hinata. "Siapa dia? Kenapa Naruto menangis untuknya? Apa hubungannya? Aku hanya orang asing disini" hal seperti itulah yang ada dikepal Hinata

Lama kelamaan pelukan Naruto melonggar, "Kau sudah besar sekarang" ucap Naruto

"Dan kau masih cengeng seperti dulu" balas Sara

"Kemana saja kau?" tanya Naruto lagi

"Kenapa kau bertanya? Kufikir kau sudah mengetahuinya" jawaban seperti itulah yang Naruto dapat

"Ahh, benar. Dimana dia sekarang?" tanya Naruto dengan nada lemas

"Dia seka- " *buukk*

Sebuah pukulan keras menjatuhkan Naruto. "Brengsek! Berani-beraninya kau menyentuh tunanganku!" ucap seseorang yang baru saja datang dengan nada keras

Naruto jatuh terjengkang karena pukulan itu, sebuah darah segar mengalir dari pinggir mulutnya. Hinata, Hana, Yuriko, dan Shirou dibuat kaget oleh seorang pria yang baru saja datang tersebut.

Hinata segera berlari membantu Naruto untuk berdiri, "Apa-apaan kau ini?"

"Heehh?! Siapa kau? Mau kubuat hidungmu berdarah?" ucap pria itu sambil menjambak rambut Hinata

"Itt-ttaaiii, lepaskan!" Hinata mencoba meraih tangan pria itu

Sementara itu Sara hanya bisa melihat dengan wajah khawatir. "Kau akan merasakan sakit yang tiada tara, gadis bodoh!"

*buukk*

.

.

.

"Sara! Kau ini lambat sekali, cepatlah sedikit"

"Brisik! Kau kira melakukan hal seperti ini mudah?"

"Shirou, kau mau membantunya?!"

"Itu sangat-sangat tidak mungkin. Lagipula kau kan kekasihnya, jadi kau yang harus membantunya"

"Ah itu juga akan sulit, Yuriko Nee, kau mau membantunya?"

"Kalian ini, dasar! Seharusnya seorang pria bisa diandalkan dalam segala hal, tapi kalian ini seperti kacang panjang saja! loyo!"

"Tapi, memilih pakaian dalam perempuan itu sangat tidak mungkin bagi kami! Iya kan Shirou?"

"Betul, sangat sangat betul"

.

.

.

*buukk* "Hah. . hah. . hah" sebuah tarikan nafas terdengar berat

"Shirou!"

"Shirou-kun!"

Pria itu jatuh tersungkur hanya dengan satu pukulan Shirou, "Cuuhh" pria itu meludah dan terlihat satu giginya telah patah bercampur darah

"Sialan Kau! Berani-beraninya kau melakukan semua ini padaku, apa kau tidak tahu siapa aku, HAH!"

"Aku adalah anak dari kepala kepolisian dikota ini!" sambung pria itu

"I don't care, siapa peduli? Kau bertingkah layaknya penjahat karena kau anak polisi?"

"Memangnya kenapa?!"

"Sara! Mungkin kau seharusnya tidak bertunangan dengannya, seorang bayi yang membanggakan pangkat orang tuanya? Hah!" Shirou sudah naik pitam

"Mau ku patahkan berapa lagi gigimu?" Shirou sudah siap dengan posisi seperti biasnya, tenang dan menghanyutkan

"Coba saja kalau bisa! Aku menguasai bela diri thailand!" lagi-lagi pria itu membanggakan hal seperti itu

"Bela diri?! Yang kulihat hanyalah seekor gorilla yang kehilangan pisangnya"

Sepertinya kekacauan ini sudah menjadi pusat perhatian disana, semua orang menyaksikan kejadian itu dari berbagai penjuru.

"Bagaimana? Mau melanjutkannya?!" tanya Shirou dengan nada meremehkan

"SIAPA TAKUT!" pria itu segera berari menuju Shirou, *BUUUKK* pukulan lebih keras terdengar jelas ditelinga mereka

Pria itu jatuh tersungkur, bukan Shirou yang melakukannya melainkan Naruto yang sudah berdiri didepan Shirou. Naruto berjalan mendekati pria itu, menarik bajunya agar pria itu berdiri.

"Bangun" ucap Naruto datar

"Bangun, aku bilang BANGUN!" Naruto menendang perut pria itu dengan dengkulnya

"Kau menyakitinya, tak akan kumaafkan kau. Kau tahu berapa banyak penderitaan yang aku alami saat bersamanya?!" Naruto masih saja menendang perutnya

"HENTIKAN!" Sara berteriak menghentikan aksi Naruto

Naruto menghentikannya, Naruto menghempaskan tubuh pria itu ketanah. "Kau bisa bicara sekarang?"

Naruto mengusap darah yang ada dipinggir mulutnya dengan jari, *tuuk* darah itu ia tempelkan kedahi Sara dengan telunjuk tangannya

"Kau salah pilih tunangan" ucap Naruto kemudian berlalu menjauh bersama dengan yang lain

.

.

.

Mereka sekarang berada dirumah Shirou, berada didalam kamar seorang laki-laki membuat Hana gelisah. "Tenang saja Hana-chan, kau tidak akan menemukan manga ero dikamar ini" ucap Naruto

"Diamlah! Kenapa kalian berdua selalu terlibat perkelahian dan akhirnya aku juga yang mengobatinya" perkataan Yuriko membuat Naruto dan Shirou tertunduk lemas

"Shirou, aku bawakan camilan untuk kalian" ucap kakak perempuan Shirou yang baru saja masuk kekamar Shirou

"Maaf merepotkan"

"Kamar ini lebih mewah dari kamarku sendiri" Hinata kagum akan kamar Shirou

"Yah yah, saat dikamar ini kau hanya akan menemukan barang elektronik, bahkan boneka pun tidak ada" balas kakak Shirou

"Aku ini laki-laki, aku tidak butuh boneka!"

"Benarkah? Lalu siapa yang waktu kecil merengek minta dibelikan boneka panda?" sanggah Rui dengan nada centil

"Tidak, itu tidak ada dalam kehidupanku" Shirou balik menyanggah

*seet* Rui segera mengeluarkan sebuah buku dari balik punggungnya, "Aku mempunyai sebuah bukti yang sangat akurat"

Sebuah album foto ditunjukkan kakak perempuan Shirou, "Sialan, padahal buku itu sudah aku sembunyikan dengan sangat baik" keringat dingin mengucur deras dikepala Shirou

"Lihat-lihat, ini saat Shirou masih berumur 5 tahun dan ini Rin yang masih suka mengompol waktu itu" Rin mulai bercerita layaknya nenek-nenek

"Benar kan yang aku bilang, dia tidak lain hanyalah iblis perempuan berperawakan manusia" bisik Shirou pada Naruto

Sementara itu Hinata, Hana, dan Yuriko sudah berada disamping Rui melihat foto-foto Shirou.

"Hwaa ha ha ha, lihat Shirou! Dia memakai kacamata yang kebesaran" tawa Yuriko semakin menjadi

Shirou hanya bisa bersabar dan menahan emosinya. Berpuluh-puluh embar sudah mereka buka dan sekarang beranjak ke masa-masa SMP. "Ini pertama kalinya Naruto mampir kerumah ini" Rui masih saja bercerita

"Dan ini Shirou dan Naruto yang baru saja berkelahi dengan anak lain, kalian tahu kenapa mereka berdua berkelahi?" tanya Rui pada 3 perempuan disampingnya

Mereka bertiga menggelengkan kepalanya bersamaan

"Itu Cuma masalah sepele, mereka melihat gadis yang sedang dinakali oleh anak laki-laki" jawaban itulah yang keluar

Rui membalik halaman selanjutnya kemudian menunjuk salah satu gadis berambut merah difoto, "Yang aku tahu, dia kekasih Naruto semasa SMP. Yah aku tidak tahu bagaimana hubungan mereka seterusnya, karena waktu itu aku harus segera ke luar negeri"

"Itu gadis yang tadi" ucap Hinata

"Kau melihatnya?" tanya Rui pada Hinata

Hinata mengangguk pelan, "Naruto-kun sangat mencintainya, dia menangis dipelukan gadis itu tadi" ucap Hinata pelan

.

.

"Nee, Ayo mampir ke minimarket dulu" ajak Naruto

Hinata mengangguke lesu, merasa ada yang aneh dengan gadis disampinya membuat Naruto penasaran. "Kau ini kenapa?"

"Heh?" Hinata terkejut sendiri ditanyai seperti itu

"Jangan cuma hah heh hoh! Sejak pulang dari taman bermain tadi kau terlihat tidak enak diajak bicara"

"Apa kau masih menyukainya?" tanya Hinata

"Siapa?"

"Gadis bernama Sara tadi"

"Hmmm. . . kalau iya kenapa dan kalau tidak kenapa?" Naruto malah balik bertanya

"Bukan apa-apa!"

"Benarkah? Dan kalau aku bilang tidak apa kau akan mengatakan kalau kau suka padaku?"

"B-Baka, itu tidak mungkin! Kau bukan levelku"

"Hai Hai, Ojou-sama"

.

.

Makan malam kali ini hanya ramen cup, Naruto terlalu malas memasak dimalam hari. Kalaupun dulu dia memasak untuk dirinya sendiri, sekarang dia harus menyiapkan untuk gadis yang mempunyai porsi makan yang super.

"Ittadakimasu" ucap Naruto

*plak* sebuah pukulan kecil mendarat ditangan Hinata

"Walaupun ini hanya ramen cup setidaknya hargailah makanan ini" Naruto menceramahi, hanya sebuah kata kecil uang bisa disebut doa. Hinata yang tadinya langsung comot pun menyerah dan menuruti perkataan Naruto

"I-itadakimasu" ucap Hinata gugup

.

.

Acara makan malam pun berakhir, Naruto sedang melihat kalender dan terdapat tanggal yang dilingkari disana. "Besok" ucap Naruto

"Nee Naruto-kun, apa kita saling mengenal?" tanya Hinata

"Entahlah" hanya jawaban itu yang didapat Hinata

"Aku merasa saat kecil kita pernah bertemu" lagi-lagi Hinata membuat kalimat yang membingungkan

"Mungkin hanya perasaanmu saja" jawab Naruto apa adanya

"Tapi aku sungguh-sungguh, aku rasa kita pernah saling sapa"

"Ingatanmu lah yang salah, kalaupun aku pernah bertemu denganmu aku pasti mengingatnya"

"Ah aku besok harus pergi kesuatu tempat"

"Aku ikut!"

"Kau yakin?"

Hinata mengangguk pasti, "Aku akan disampingmu kemanapun kau pergi" ucapan Hinata membuat Naruto salah tingkah

.

.

Keesokan paginya

Naruto sudah didepan apartemen dengan sekotak kardus ditangannya, "Oi Hinata, apa kau akan membuatku berdiri disini selamanya?"

"Sabar sebentar bodoh!" Hinata berlari keluar

Penampilan yang bisa dibilang layaknya gadis normal pada umumnya, "Hei tunggu, seingatku Yuriko Nee tidak pernah membawakan sepatu dan kalau dilihat-lihat. . . itu sepatu ku!"

"Mungkin, aku temukan dilemari paling bawah dan kau tahu, ini pas untuk kakiku"

"Mungkin kualitasnya tinggi padahal itu sepatu ku jaman SMP" Naruto masih mempermasalahkan sepatunya

"Kukira kau lebih cocok pakai sepatu kets seperti itu daripada sepatu yang memiliki gading ditumitnya" sambung Naruto

"Sudahlah, ayo kita berangkat"

"Baiklah"

"Ngomong-ngomong apa isi kardus itu?" tanya Hinata

"Bukan urusanmu" balas Naruto cuek

.

.

*drrtt* sebuah e-mail masuk

"Naruto, kau duluan saja, aku masih dibandara menunggu wajah pucat"

.

.

"Apa kau yakin kita berada ditempat yang benar?" tanya Hinata ragu

"Sudah kubilang kan, kau akan kecewa kalau ikut" ucap Naruto membenarkan

"Ayo kita masuk, Shirou mungkin sudah didalam" sambung Naruto

.

.

.

.

To Be Continued

.

Yoo, saya update chap baru
Maaf kalau lama
Review chap kemarin banyak bla bla bla (Haters kurang pendidikan)
Ahh untuk reviewer bernama Ghiza
Masalah pakaian coba dibaca lebih teliti lagi, nih saya pinjemin kacamata
Masalah anak yang ditinggal mati akan bersikap lebih dewasa, itu yang anda dapat dari anime not in real world
Kenapa saya bilang gitu? Karena saya punya temen yang kayak gitu, gak cuma satu. Mereka memperlakukan orang lain seperti yang orang lain perlakukan terhadap mereka
Sudah sih itu saja, untuk Haters makasih udah memperbanyak review dengan kata-kata kotor kalian.

Saya ketawa pas baca review kalau saya mati masuk neraka karena gak update update, lah kata kata kau terlalu berlebihan sob, iya sih ngatain tapi kok mempermasalahin lama update, LAH. Berarti kau juga nungguin dong?!
Ok sankyu. . mungkin dengan review kau saya bisa updatre lebih cepat untuk chap depan, thanks masukkannya
See you in Next Chapter