DESTINY
Naruto hanya milik Masashi Kishimoto
Yang suka silahkan baca, yang gak suka ngeflame saja juga gak papa
Ngeflame cuma guest mah sama juga boong
Chapter 19
.
.
.
"Apa kau yakin kita tidak salah tempat?!"
"Sudahlah, ayo cepat masuk, Shirou mungkin sudah didalam" Naruto menarik tangan Hinata
Sebuah pintu kecil berplitur nampak didepan mereka, dentingan piano terdengar dari dalam ruangan. Terdengar suasana ramai dari dalam, suara yang Naruto rindukan. Tawa bahagia, senyuman merekah diwajah Naruto. Deritan pintu yang terbuka terdengar merdu ditelinga Naruto
"Kau tahu pied piper? Itulah yang kurasakan saat ini" sebuah ucapan kecil yang Naruto utarakan
"KONICHIWA! !" teriak Naruto dengan nada bahagia sambil berjalan masuk
Sontak semua yang ada didalam pun menolehkan pandangannya ke arah Naruto, dentingan piano dengan nada bass masih terdengar jelas.
"Bisa kau hentikan itu?!" ucap Naruto dengan nada jengkel
Seketika piano itu berhenti berbunyi, dia berhenti memainkannya. "Hwaa, dia datang, kau terlambat, siapa kakak dibelakangmu, hwaa Naruto-nii" seperti itulah yang terdengar di telinga Naruto
"Kau lama! , kau terlambat 26 menit" ucap pemain piano
"Kau saja yang datangnya 26 menit lebih cepat, dan . . . "
"BAGAIMANA KABAR KALIAN?" Naruto terlihat sangat bahagia dimata Hinata
Hinata melihat sekeliling, senyum yang ia lihat adalah senyum yang tulus. "NARUTO-NII" semua berteriak seperti itu. Akhirnya Hinata tahu kenapa Naruto sangat baik pada anak kecil yang dijumpainya, bersikap dan bertingkah menyenangkan tanpa ada paksaan, itulah yang Hinata dapat disini.
Panti asuhan, tempat Naruto dulu tinggal setelah kehilangan kedua orang tuanya. Sebuah insiden membuat Naruto terdampar disini, sebuah hal yang bisa mengacaukan psiko seseorang, mempengaruhi cara berpikir mereka.
"Aku bawa sesuatu untuk kalian" Naruto bersila di ubin dan segera membuka kardusnya
Sebuah hal yang sangat pedih jika dilihat oleh seorang pemain piano tadi, matanya kesakitan melihat benda yang ada didalam kardus Naruto. "Hwaa, ini yang selalu aku inginkan, ha ha aku dapat yang ini, aku yang ini, aku ini" tawa bahagia anak anak didepan Naruto
"Hei, apa yang harus kalian katakan pada kak Naruto?" seorang perempuan berbicara pada anak anak yang berada didepannya
"Terima kasih, Naruto-nii!" ucap mereka bersamaan
Sementara itu Hinata tengah terpaku pada gadis kecil yang duduk sendirian di pojok sofa, Hinata menghampirinya dengan perlahan. Naruto memperhatikan Hinata, Naruto tahu apa yang akan Hinata lakukan. Senyum kecil merekah diwajah Naruto
"Nee, kenapa kau diam saja?" Hinata mencoba berbicara pada gadis kecil itu
Tidak ada jawaban, ia masih terdiam sambil membaca buku usang yang ada ditangannya. "Nee, apa kau dengar aku?" Hinata masih mencoba
"Kau harus lebih dekat kalau ingin mengajaknya bicara" ucap Naruto dari belakang yang kemudian berjalan mendekati gadis itu
Naruto menepuk pundaknya, gadis itu menoleh. "Haah, apa kau menghilangkannya lagi?" tanya Naruto
Gadis itu mengangguk lemah, Naruto merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah alat bantu dengar. Dengan hati-hati Naruto memasangkannya ketelinga gadis itu, "Jangan dihilangkan lagi ya" ucap Naruto sambil mengelus kepala gadis itu pelan
Hanya senyumanlah yang dapat gadis itu berikan, "Kau masih membaca buku itu?" tanya Naruto dan mendapat sebuah anggukan
"Aku punya keluaran terbarunya" ucap Naruto sambil menyodorkan sebuah buku yang masih terbungkus plastik
"Dan sekarang aku serahkan padamu dengan penuh rasa hormat" sambung Naruto
Gadis kecil itu menerimanya dengan sebuah senyuman tulus diwajahnya, Hinata tertawa kecil mendengar perkataan Naruto barusan. Gadis itu bersembunyi dibalik badan Naruto setelah mendengar Hinata, orang asing yang tidak ia kenal. Wajah ketakutan terlihat jelas dari raut wajah gadis itu
Hinata merasa tidak enak sendiri, "Tenang saja, dia orang baik kau tak perlu takut" ucap Naruto
"DEEENGG" nada berat terdengar jelas dari piano
"Apa-apaan kau ini?" tanya Naruto dengan wajah jengkel, lagi
Pemain piano itu mendekat ketempat Naruto berada, ia kemudian berbisik pada gadis kecil itu. "Tenang saja Hikari, dia hanya menggonggong tidak menggigit" bisik orang itu
"Apa yang kau katakan, Akihiko-san?!" Hinata berteriak dengan nada marah
"A ha ha ha ha ha" semua yang ada disana tertawa
"Ah, mari kuperkenalkan. Perempuan ini bernama Hyuuga Hinata, dia adalah pa-car Naruto-nii kalian" Shirou lah sipemain piano, dia adalah mvp disini
"Hee benarkah? Padahal aku berharap agar cepat dewasa dan segera menikah dengan Naruto-nii" ucap salah satu gadis kecil
"Lupakan impian itu Haruko, kalau kau sudah dewasa aku sudah menjadi om-om, aku tidak mau dicap sebagai orang tua pencinta ABG" ucap Naruto sambil mencubit kedua pipi gadis itu
Gadis itu hanya tersipu malu, sedangkan yang lain tertawa melihat hal itu.
.
.
Sasuke dan Sai sudah datang, mereka membawa makanan dalam jumlah besar. Senyum bahagia adalah sebuah kebahagian bagi Naruto, Shirou, Sasuke, dan Sai.
"Naruto-nii, apa aku sudah cocok jadi model?" tanya anak laki-laki dengan senyum dingin
Naruto segera menaruh telapak tangannya pada wajah anak itu, kemudian tangannya mengacak-acak wajah anak itu. "Hoi Teme, jangan ajarkan senyum menjijikkanmu pada anak-anak ini" protes Naruto
Shirou sibuk sendiri dengan anak lain yang sedang main game ditv, "Arrgghh, aku kalah, mengalahlah dengan anak kecil, Shirou-nii" rengek lawan Shirou
"Itu. . . tidak mungkin" ucap Shirou dengan nada sombong
"Kau percaya diri sekali, biar aku kalahkan kau" Sasuke angkat tangan
Anak itu menyerahkan stick ke Sasuke, "Arigato" ucap Sasuke pada anak itu
Sekarang pertandingan Shirou dan Sasuke menjadi pusat perhatian. Semua anak laki-laki menontonnya, hal yang sudah sering terjadi pada saat-saat seperti ini tapi mereka tetap saja menikmatinya
"Full Ammo"
Setetes keringat jatuh ketelapak tangan Shirou, begitu pula Sasuke
"Over Over Over"
"Cooldown"
"Zero Point, Ready to Shoot"
Seketika keringat dingin mengucur deras dikepala Shirou, darahnya berdesir cepat. Inilah kekalahannya, zero point adalah akhir dari segalanya.
"Exchange" Shirou tersenyum jahat
Puluhan tombak es mengelilingi karakter milik Sasuke, "Inilah akhir yang sesungguhnya, pantat ayam"
"Burst"
.
"Game Over"
.
.
"Hwaaa" teriakan kekecewaan keluar dari mulut anak-anak itu.
"Game buatan luar negeri banyak bugnya" Sasuke mencoba mencari alasan
"Teruslah mencari alasan sampai alasan itu mampu membuatmu menang" Shirou meremahkan
Beralih ke Hinata, Hinata tengah terfokus pada gadis yang duduk di kursi roda. Matanya memandang sendu ke arah piano. Hinata berfikir kalau mereka semua yang ada disini memiliki masalah yang akhirnya memaksa mereka tinggal ditempat ini.
Hinata duduk disampingnya, sempat ragu untuk mengajaknya bicara tapi sebuah hal yang tak terduga mengejutkan Hinata. "Nee, Onee-san, kau bisa bermain piano?"
"Heeh, maaf aku tidak bisa" balas Hinata dengan suara pelan
"Sayang sekali, semua yang ada disini tidak bisa bermain piano kecuali Shirou-nii" gadis itu menyebut nama Shirou dengan bangga
"Saat itu Shirou-nii memenangkan sebuah undian piano mewah dan akhirnya dia membawanya kesini, hanya aku yang tertarik bermain piano sedangkan yang lain hanya bisa membanting not yang tidak enak didengar"
"Hmm, padahal aku kira Akihiko Shirou itu orang yang tidak bisa apa-apa"
"Dia lebih dari yang Onee-san tahu, ahh maaf tidak memperkenalkan diri dulu, salam kenal, namaku Hiroyuki Yui"
"Hyuuga Hinata, salam kenal"
Sebuah obrolan yang terasa tanpa beban, Hinata mulai nyaman dengan hal seperti ini. "Nee Onee-san, apa kau percaya dengan reinkarnasi?" tanya gadis itu
"Reinkarnasi? Maksudmu kehidupan setelah mati dan seperti apa kita akan hidup lagi?" gadis itu mengangguk
"Kalau aku mati nanti, aku berharap pada dewa agar aku bereinkarnasi menjadi kutu air"
"Kutu air? Kenapa kau berharap menjadi kutu air?" tanya Hinata
"Setidaknya itu lebih baik daripada membusuk dikursi roda, lagi" gadis kecil itu tersenyum sambil meneteskan air matanya
Tanpa ada perintah dari siapapun, Hinata memeluk gadis itu erat. Air matanya ikut menetes, sebuah hal yang tidak pernah ia rasakan, ia fikirkan sekalipun. Saat dia sibuk menikmati hidup mewahnya, mereka yang ada disini berusaha menyembunyikan kesedihan mereka
.
.
.
"Bibi, yang lain?" tanya Naruto pada bibi pengurus panti"
"Mereka mengikuti jalanmu, mereka mulai bekerja paruh waktu setelah pulang sekolah. Kau tahu, mereka terinspirasi olehmu" penjelasan yang dapat Naruto tangkap dengan jelas
"Apa mereka tidak apa-apa?" tanya Naruto lagi
Bibi mengangguk dengan mantap, "Mereka lebih hebat daripada yang kau tahu, Uzumaki-kun"
"Syukurlah kalau begitu, aku tidak bisa membayangkan bagaimana nasib adik dan juga saudaraku"
"Ingatlah kataku dulu, kalian selalu terikat satu sama lain" ucap bibi itu lalu berlenggang pergi
Naruto berjalan menyusuri lorong demi lorong, serasa nostalgia dia berada disana. "Naruto, cepat sebelum kucing itu menangkapmu! Hwaa dia disana" bayangan masa kecilnya terlihat berlari dilorong itu
Semua sedang berada di ruang utama, menikmati semangka adalah hal yang paling enak dimusim panas. Semangka yang dibawa Shirou lebih dari satu buah, entah siapa yang akan menghabiskan semua itu. Naruto memandang sekitar, wajah bahagialah yang mereka dapat dari anak-anak itu, sesuatu yang aneh mengganggu Naruto, dia tidak ada dimanapun.
"Hei Ryuuta, apa kau melihat kakak yang datang bersamaku tadi?" tanya Naruto pada anak kecil disampingnya
"Hmm, hia aha hi haman hamping humah" jawab Ryuuta dengan mulut penuh semangka
"Kau ini, makan pelan-pelan" Naruto tahu yang Ryuuta maksud walaupun hanya sebuah kata aha uhu
Naruto berdiri dan membawa sepotong semangka ditangannya. Naruto menemukannya, pa sedang duduk dipinggiran rumah dengan kaki menggantung tak menyentuh tanah, Naruto berjalan mendekat dan duduk bersila disampinya
"Semangka?" tawar Naruto sambil menyodorkan potongan semangka ditangannya
Hinata menerimanya, ia makan dengan pelan. "Kenapa kau melakukan semua ini?" tanya Hinata
"Semua ini?" Naruto tak paham
Hinata meletakkan semangkanya, "Kenapa kau rela membuang uangmu hanya untuk mereka?"
"Karena aku berasal dari sini, sudah seharusnya aku balas budi" jawab Naruto apa adanya
"Dari sini?! Pastinya kau punya kehidupan lain kan sebelum berakhir disini"
"Kenapa memangnya? Apa kau punya masalah?" Naruto mulai naik pitam menanggapi perkataan Hinata
"Apa kau tidak malu dilecehkan disekolah setiap hari?! Hah?! Seharusnya kau mengumpulkan uangmu dan membuktikan kalau kau bisa kaya, kau hanya menghamburkan-hamburkannya! Bodoh!"
"Kau benar, aku hanyalah orang bodoh" Naruto membenarkan perkataan Hinata
"Tapi menjadi kaya bukanlah hal yang aku perjuangkan, aku lebih baik menjadi orang miskin tapi banyak orang yang akan tertawa bahagia bersamaku" sambung Naruto
"Biarkan mereka menjauhiku, melecehkanku, yang terpenting jangan sampai orang yang aku sayang sampai menikamku dari belakang" sambung Naruto lagi dan diakhiri dengan senyuman tulus yang ia perlihatkan pada Hinata
Semburat merah muncul dikedua pipi Hinata, hal yang jarang ia lihat. Naruto hanya akan tersenyum saat suasana hatinya sedang baik, mungkin suasana hatinya saat disekolah tidak pernah baik karena bertemu dengan orang-orang yang hanya akan melecehkannya
Lonely Child
.
.
.
Sore hari, hujan dimusim panas bukanlah hal aneh bagi mereka. Hujan deras disertai dengan angin bukan hal asing, semua sedang berkumpul. Entah permainan apa lagi yang akan mereka mainkan, tapi sekarang mereka sedang menggambar bersama guru mereka, Sai. Sedangkan Naruto, Hinata, Sasuke dan Shirou hanya bisa duduk disoda dengan wajah malas
"Nee Akhiko-san, apa kau tahu apa itu pied piper?" Hinata penasaran dengan perkataan Naruto tadi
"Pied Piper? Apa kau mendengarnya dari Naruto?" tanya Sasuke
Hinata mengangguk pelan, Sasuke sudah menduganya kalau Naruto masih saja seperti dulu. "Pied Piper adalah cerita tentang seorang peniup seruling yang membawa anak-anak kabur dari kota karena dikhianati oleh pimpinan kota tersebut" Shirou ambil alih
"Kau tahu kenapa Naruto mengatakan hal tersebut?" tanya Shirou
Hinata hanya menggeleng tidak tahu apa-apa
"Mereka semua yang mengalami kekurangan disini bukanlah bawaan lahir, melainkan sesuatu hal yang mempengaruhi psikis otomatis mempengaruhi kinerja otak, kecelakaan juga bukanlah hal yang tidak bisa dipungkiri"
"Dalam cerita tersebut dituliskan kalau ada anak-anak yang lebih dari anak lain. Yang pertama adalah si tuli, disini kita sebut saja dia Hikari-chan, dalam cerita si tuli penasaran kenapa anak-anak lain berjejer pergi dari kota, karena penasaran ia terus mengikuti anak-anak itu tanpa tahu apa yang ia dengar" jelas Shirou, Hinata mengangguk paham
"Ada lagi anak kecil yang tidak bisa berjalan, kalau disini kita sebut saja dia Yui-chan. Dia mengikuti kemana teman-temannya pergi tapi karena dia tidak bisa bergerak dengan cepat dia selalu ketinggalan" Shirou masih saja melanjutkan ceritanya
"Dan ma-"
"Sudah cukup Shirou" potong Naruto
Setelah itu tidak ada lagi pembicaraan antara mereka berempat. Shirou tengah asik dengan game consolenya yang Naruto kembalikan kemarin, Sasuke tengah sibuk dengan ponselnya, Hinata yang tengah sibuk dengan ketiadaan kesibukannya, dan Naruto yang sibuk membolak-balik sebuah album lama milik panti, sesekali Hinata melihat Naruto tersenyum saat memandang buku ditangannya.
"Hei, apa kau kenal anak ini?" tanya Naruto pada Hinata sambil menunjuk salah satu anak berambut pirang jabrik
"Mana kutahu!" jawab Hinata dengan nada kesal
"Heeh?! Padahal dia sangat tampan untuk anak berumur 8 tahunan" ucap Naruto
"Jangan memuja dirimu sendiri"
Naruto tersenyum kecil mendengar perkataan Hinata. *JLEP*
Seketika listrik mati, anak anak panti tidak berteriak ataupun menjerit. Mati listrik saat badai hanyalah sebuah halangan kecil bagi mereka untuk beraktivitas . Tak selang waktu lama bibi panti sudah membawa sebuah lilin, "Yosh, rapikan kertas-kertas itu dan sekarang waktunya cerita seram saat mati listrik" Shirou berdiri dan mengambil alih lilin ditangan bibi panti
"Dan juga, Hyuuga-san? mau sampai kapan kau begitu?" sambung Shirou
Dalam cahaya lilin yang menerangi gelapnya ruangan, terlihat Hinata yang memeluk Naruto dan menenggelamkan wajahnya didada Naruto. Itu adalah sebuah tontonan bagi mereka yang ada disana, Sasuke hanya bisa memandang malas dua orang itu.
"Aku takut, . . jangan lepaskan aku" rintih Hinata pada Naruto
Semua anak melihat hal itu, dengan tatapan genit mereka semua menatap Naruto yang tengah dilanda bingung.
"Oi oi, se-semuanya melihatmu" Naruto mencoba memisahkan dirinya
"Jangan bohong, mereka tidak bisa melihat kalau ge-" Hinata mencoba membantah perkataan Naruto
"Apa lilin masih kurang?" potong Shirou
Dengan cepat Hinata mengalihkan pandangannya, yang tadinya matanya tertutup karena takut akan gelap sekarang terisi cahaya lilin samar kemerahan.
.
.
Seperti yang dikatakan Shirou, cerita seram adalah suatu hal yang sangat cocok untuk mengisi waktu dimana listrik tidak menyala.
"Baiklah kita undi sekarang, kalian semua akan menjadi pendengar. Yang akan bercerita aku, Naruto, Sasuke, Sai dan juga. . . kau mau ikut serta Hyuuga-san?" tanya Shirou
Hinata menggeleng, dalam situasi seperti ini saja sudah membuat Hinata takut, apalagi menceritakan hal seperti itu. Semua duduk mengitari lilin yang ditempatkan ditengah.
"Kita undi dengan suit" *seet* *seet* *seet*
Sai mendapat giliran pertama, kemudian Naruto, lalu Sasuke dan yang terakhir adalah mvp disana yang tidak lain adalah Shirou
"Baiklah, dengarkan baik baik ya" Sai akan mulai bercerita
"Jadi pada suatu malam saat hujan badai, saat itu tengah mati lampu. Sebuah ata seekor atau mungkin juga sesosok manusia mulai melakukan hal gila. Dia selalu tersenyum jahat saat memandang seseorang. . . . selesai"
Semua memandang Sai dengan tatapan malas, itu bukanlah sebuah cerita seram, itu hanya sebuah cerita yang tidak ada hubungannya dengan topik ini. Sekarang mereka melupakan Sai, dan beranjak ke Sasuke.
"Jadi begini. . . " nada suram Sasuke sudah membuat mereka semua merinding
"Ku kira kalian sudah tahu tentang hantu teke-teke"
"Hiii hantu yang cuma mempunyai setengah badannya" sahut salah satu anak kecil dengan wajah ketakutan
Sasuke mengangguk sambil melihat sekeliling dengan pandangan tajam. "Saat itu sepulang sekolah, aku mendapat bagian untuk membuang sampah. Kejadian bermula saat setelah aku membuang sampah, aku berniat mengembalikan tempat sampah ke kelas, tapi sesuatu hal mengalihkanku"
Semua anak mulai terbawa suasana cerita Sasuke, "Aku melihat seorang gadis yang berdiri dijendela, dan kalian tahu,aku hanya bisa melihat setengah badannya, ia menatapku lalu tersenyum. Sekilas dari pantulan jendela aku melihat sebuah sabit dibalik punggungnya"
"Dan kalian tahu apa yang aku lakukan setelah itu?!" Sasuke bertanya
Semuanya menggeleng tak tahu, mereka sudah semakin ketakutan. Yui yang duduk dipangkuan Shirou memejamkan matanya, Hikari yang duduk disamping Naruto memegang erat baju Naruto, begitu pula Hinata. Ia memegang erat baju anak laki-laki disampingnya, semua anak ketakutan menunggu lanjutan cerita Sasuke, ada anak yang menggunakan kerah bajunya untuk menutupi kepalanya, ada yang merinding karena takut, ada yang mendengar dengan sesama karena maniak hantu.
"Kalian yakin ingin tahu?" Sasuke memastikan dan semuanya mengangguk
"Saat itu aku. . . . berkata. . . "
.
.
"Apakah klub drama masih latihan sampai jam segini?" *plak* sebuah pukulan mendarat dikepala Sasuke
"Apa hubungannya Teke-teke dengan klub drama?! Dan juga kemana bagian saat kau berkata hanya melihat setengah badannya?! " Shirou protes
"Tentu saja aku hanya melihat setengah badannya karena setangahnya lagi tertutup tembok, bodoh!"
Shirou mengangguk kalau Sasuke benar, tapi juga tidak sepenuhnya benar. Sekarang giliran Naruto, Shirou sempat berharap kalau Naruto tidak akan menceritakan hal bodoh seperti kedua temannya.
"Yosh giliranku, Mungkin kalian belum tahu tentang pohon besar dekat gerbang masuk rumah ini, kalian belum tahu yang sebenarnya kan?" Semua mengangguk
"Semua bermula saat aku masih tinggal disini, saat itu bulan tengah bersinar dengan terangnya. Dulu aku suka menyelinap keluar saat malam, dan saat itulah aku menyelinap keluar, baru beberapa langkah dari pintu rumah ini aku merasakan ada hal yang aneh. Aku berfikir kalau itu hanya perasaanku saja, lalu aku melangkah lagi"
"Baru juga beberapa langkah aku merasakan hal aneh lagi, mataku memandang ke depan dan terfokus pada pohon didepan rumah kita ini. Ternyata benar ada yang aneh, pohon rindang itu membuatku tidak bisa bergerak lagi, saat aku memandang kebawah mataku terbelalak. Tak perlu waktu lama aku langsung lari masuk lagi kedalam rumah"
"Apa ada Sadako disana?" tanya salah satu anak perempuan dengan nada takut
"Hmm, tidak. Aku hanya lupa memakai alas kaki waktu itu" Naruto tertawa sendiri
.
.
Acara berakhir dengan cerita Shirou yang hanya menceritakan horornya hari senin. Sudah pukul 9 malam dan hujan masih saja mengguyur. Listrik pun begitu, mereka berfikir kalau ada pohon tumbang yang menimpa dan membuat kabel listrik putus.
"Baiklah anak-anak, sudah masuk jam tidur. Waktunya kembali kekamar kalian masing-masing" ucap bibi panti
"I-itu tidak mungkin, tak bisakah kita tidur bersama?" ucap anak kecil dengan nada ketakutan
"Tapi-"
"Tak apa bibi, mungkin mereka takut kalau tidur sendirian. Aku dan yang lain akan mengambilkan futon mereka masing-masing" potong Naruto sebelum bibi panti menyelesaikan perkataannya
Bibi panti hanya mengangguk. Shirou, Naruto, Sai, dan Sasuke pergi untuk mengambil futon anak-anak itu. Butuh waktu yang lama untuk membawa futon-futon itu ke ruang utama, ditambah dengan gelapnya malam.
"Oyasumi, oyasumi, oyasumi, oyasumi. . . " kata seperti itulah yang Naruto dengar dari mulut malaikat kecil disekelilingnya.
"Hei Naruto-kun?" panggil Hinata yang berbaring disampinya, lebih tepatnya terpisah oleh dua gadis kecil disamping Naruto
"Hmm? Ada apa?"
"Tidak, lupakan. Oyasumi Ouji"
"Kau tadi memanggilku apa?" tanya Naruto tak percaya, tak ada jawaban yang didapat
.
.
Pukul 4 pagi, "Hei Naruto, bangun" Shirou mencoba membangunkan Naruto
Dengan pandangan yang masih kabur Naruto membuka matanya, "Ada apa?" tanya Naruto sambil menguap
"Waktunya pulang" balas Shirou
"Hmm, baiklah" Naruto berdiri dengan malas
Setelah melipat futonnya dengan rapi, sekarang tujuannya adalah Hinata yang tertidur pulas. "Hoi bangun" tak ada respon
"Mungkin dia harus kau cium dulu, seperti dongeng putri tidur, kau tahu"
Naruto tak memperdulikan perkataan Shirou, Naruto terus menggoyang-goyangkan pundak Hinata. Ini mirip seperti adegan dimana karakter utama membangunkan orang yang sudah tertembak mati, sungguh ironis
"Sudah gendong saja dia, Naruto" ucap Sasuke
"Apa boleh buat, maaf sebelumnya" Naruto mulai mengangkat tubuh Hinata perlahan
"Pegang dia dulu, Shirou"
Naruto menggendonnya dipundak, cahaya lilin yang masih bersinar menerangi mereka. "Kami pulang dulu" ucap Naruto pelan
Shirou mengelus puncak kepala Yui pelan, "Baik baik ya, liburan musim dingin kami datang lagi"
Tercipta rasa sedih dihati mereka, perpisahan adalah hal paling menyedihkan didunia ini. Saat kau menjalaninya dengan bahagia, kau tak akan tahu betapa cepatnya waktu berlalu.
Mereka sudah didepan pintu keluar, Hujan sudah reda sejak tadi, hanya sebuah tetesan air dari daun yang terlihat. Hinata yang berada di gendongan Naruto menggeliat, "Disini hangat" gumamnya tanpa membuka mata
.
.
.
Saat Hinata membuka mata, dia sudah berada dikamar Naruto. Ia merasa baru bermimpi hal yang indah, Hinata bangun dengan tubuh yang masih terselimuti. Merasa sepi tidak seperti biasanya, Hinata beranjak dari tempat tidurnya.
Saat dia membuka pintu, dia tidak menemukan tanda-tanda Naruto dimanapun, didapur tidak ada dan juga dikamar mandi tidak ada. Saat dia ingin keluar dari apartemen, dia terkejut. Pintunya terkunci dari luar, mungkin Naruto sudah tidak lagi peduli padanya dan meninggalkannya disini.
Mimik pucat terlihat jelas diwajah Hinata, ia terduduk lemas di sofa. Aiko, kucing milik Naruto juga tidak sudah kemana-mana, samar tapi pasti Hinata mendengar suara pintu yang dibuka kuncinya.
Hinata berfikir hal-hal buruk akan terjadi, ia terus menanti saat pintu terbuka, siapa sebenarnya dibalik pintu itu. Seketika perasaan takut Hinata hilang, dia tidak meninggalkannya, Naruto tidak meninggalkan dirinya.
Dihadapannya sekarang sudah berdiri pria pemilik apartemen yang Hinata tumpangi saat ini, dengan cepat Hinata berlari menuju Naruto dan. . .
*grep* Naruto mendapat pelukan dari Hinata didepan Hinata, "Baka! Kenapa kau meninggalkanku sendirian?" oceh Hinata sambil mencubit punggung Naruto
"Oi! Oi! Apa maksudmu? Aku baru saja dari minimarket, kau tertidur pulas jadi aku tidak akan mengajakmu" jelas Naruto
"Jangan bohong! Kau berniat meninggalkanku kan?! Kalau tidak kau tidak akan membawa Aiko pergi!" Hinata masih meronta kesal pada Naruto
"Aiko? Oh, kucing itu jatuh cinta dengan kucing betina di atap, aku bisa melihatnya dari jalan kalau ada dua kucing diatap"
Hinata segera melepaskan pelukannya, dengan wajah memerah ia menjauh dari Naruto dengan perlahan. Sedangkan Naruto hanya bisa mengelus pundaknya yang telah menjadi korban kekerasan tangan Hinata.
Naruto menyiapkan sarapan untuk mereka berdua, sedangkan Hinata masih duduk disofa sambil teris memikirkan kejadian barusan. Semakin kau ingin melupakannya, maka akan semakin teringat
.
.
Hinata mengenyampingkan kejadian barusan, dan sekarang terfokus pada makanan dihadapannya. "Nee, Naruto-kun? Kapan kita pulang?" tanya Hinata sambil menikmati sarapannya
"Jam 4 pagi tadi" jawab Naruto
"Jam 4?!" ucap Hinata tak percaya
Naruto mengangguk, "Kalau tidak seperti itu, mereka tidak akan mengizinkan kita pulang"
"Apa kau tidak kasihan pada mereka? Apa kau pernah berfikir bagaimana perasaan mereka saat kau tinggal pulang?" Hinata menjadi realistis
"Oi Oi, sejak kapan kau peduli dengan orang lain?!" Naruto protes
"Sejak aku tinggal satu atap denganmu, mungkin" balas Hinata dan diakhiri dengan senyum
"ENDLESS WAY"
.
.
Siang hari, panas terik mentari menembus atap dangan mudahnya. Tangan Hinata tengah sibuk dengan sebuah buku yang ia kibas-kibaskan kepadanya. Sedangkan Naruto tengah duduk didepan lemari pendingin yang terbuka lebar hanya untuknya.
"Panasnya! kalau di kamarku ada AC-nya. Aku tidak akan merasakan panas seperti ini" eluh Hinata
Naruto yang mendengar perkataan seperti itu tersulut emosinya. "Maaf saja jika tempatku tidak punya AC seperti ditempatmu!"
Merasa tertantang, Hinata melempar bukunya kemudian berjalan menghampiri Naruto. "Geser!" Hinata duduk disamping Naruto, merasakan sejuknya udara dari lemari pendingin..
Posisi mereka sangat dekat, bukan hal yang biasa saat mereka saling berdekatan tapi kali ini Hinata merasa kalau jantungnya berdebar-debar saat dekat dengan Naruto
*You got a mail* ponsel Naruto berdering
"Besok, pantai menanti kita" sebuah pesan dari Shirou
"Sepertinya dia punya ponsel baru" ucap Naruto
"Siapa?" tanya Hinata penasaran
Naruto menunjukkan ponselnya, dan Hinata pun dengan cepat mengerti siapa itu. "Kenapa tidak sekarang saja?" tanya Hinata mengenai hal tentang pantai
"Sekarang? Aku rasa tidak, Shirou ada kelas musim panas hari ini. Semua akan terasa menyenangkan saat semua ada" jawab Naruto
Hinata mengangguk paham. Semua tidak bisa diputuskan secara sepihak, mencoba memahami keadaan adalah yang terpenting. "Hei Naruto-kun, apa Sasuke dan Sai itu temanmu?"
"Mereka temanku sejak kecil" jawab Naruto
"Hooh, kau tahu? Sakura dan Ino sangat mengidolakan mereka, mungkin besok aku harus mengambil foto bersama dua laki-laki payah itu"
"Payah?! Kau benar, mereka payah, aha ha ha ha ha" Naruto dan Hinata tertawa dengan senangnya
Naruto berdiri dan menutup pintu lemari pendingin. Hinata protes, baru saja ia merasakan sejuknya hari ini, tapi semua berlalu dengan cepat. Naruto beralasan kalau didepan lemari pendingin terlalu lama itu tidak baik.
"Kenapa tidak pakai kipas angin saja? aku menyimpannya dibalik lemari" ucap Naruto
.
.
Hari berlalu dengan cepat, malam pun datang. "Hinata! Makan diluar saja, aku malas masak hari ini" panggil Naruto
Hinata menurut, soal makanan dia tidak menolak. Selama makanan itu enak dimulut Hinata.
Mereka berdua berjalan menyusuri jalan dengan tenang, "Apa kau ingat pertama kali kau memaksaku untuk bertemu denganmu ditaman?" Naruto mencoba membuka pembicaraan
Hinata mengangguk, "Betapa bodohnya kau waktu itu, kau menungguku lama kan?" balas Hinata
"Kau penipu kecil yang kurang ajar. Kau menyuruhku datang jam tiga tapi kau datang lebih dari jam empat"
"Kau tahu apa yang kupikirkan waktu itu? Kenapa kau masih tetap datang walaupun aku selalu menghinamu dikelas?" Hinata mulai lagi
"Karena aku sudah berjanji, seseorang pernah bilang kalau janji harus ditepati"
Hinata berfikir dua kali untuk meresapi perkataan Naruto barusan
"Kalau begitu, berjanjilah kau tidak akan meninggalkanku"
.
.
.
.
To Be Continued. . .
Hanya itu yang bisa saya persembahkan untuk kalian
Gimana Gimana? Gaje? Aneh? Gak sesuai harapan?
Yosh Jumpa lagi next Chapter
Mungkin next chap bakal UP pertengahan bulan ini
Happy November and See You...
