DESTINY


Naruto hanya milik Masashi Kishimoto
Bad Stories, Bad Diction, Typo Everywhere
Bad Scenario, Slice Of Life, Romance? Just little
Hurt & Comfort? Just in Opening and Will be in Ending
Enjoy This!

.

.

Chapter 20

.

.

"Kalau begitu, berjanjilah kau tidak akan meninggalkanku"

Naruto tersentak mendengar ucapan Hinata, Naruto kaget karena gadis disampingnya mengatakan hal seperti itu. Naruto tak menjawabnya, ia memalingkan pandangannya ke arah lain.

"OO, bintang jatuh" Naruto mencoba mengganti topik pembicaraan

Hinata terus menatap pria disampingnya itu, beribu banyak pertanyaan yang muncul dikepala Hinata. Hanya saja Hinata ragu untuk mengutarakannya.

"Kapan kau pulang?" mimik serius ditunjukkan Naruto pada Hinata

"Kenapa kau terus bertanya hal itu?" Hinata membalikkan keadaan

"Aku hanya tidak bisa membayangkan bagaimana Paman Hiashi akan memarahiku nanti"

"Kau mengenal ayahku?" perkataan bodoh Naruto mengundang rasa penasaran Hyuuga disampinya. Hinata menatap Naruto tajam, ia harus mendapatkan jawaban tentang hal ini.

"Eh?! Etto. . Hmmm. . si-siapa yang tidak mengenalnya, pengusaha kaya yang mempunyai anak gadis yang cantik, siapapun pasti mengenalnya" Naruto menjawabnya dengan wajah pucat pasi

Hinata hanya memanyunkan bibirnya, yah Hinata tak peduli lagi karena mereka sekarang sudah berada ditempat yang mereka tuju. Sebuah restaurant yang ramai

"Maaf saja jika aku hanya memberimu makanan seperti ini, ayo masuk" ucap Naruto sambil menarik tangan Hinata

Naruto memandang sekitar, tidak ada tempat kosong bagi mereka berdua. Hinata melirik sekitar juga dan ia menemukan sesuatu, Sakura dan Ino berada disana. Secara reflek Hinata melepaskan pegangan Naruto dan berjalan menuju tempat dimana sahabatnya berada.

Naruto mengikuti arah gerak Hinata dan ia pun sadar kalau ada dua teman kelasnya berada disana. Naruto memandang datar kepergian Hinata, tak ingin mengganggu mereka. Naruto memasang penutup kepalanya yang menyatu dengan jaket kemudian mencari tempat kosong, "Sungguh malam yang indah"

Hinata nampak bahagia saat bertemu dengan kedua sahabatnya itu. "Hei Hinata, kau kemana saja? Neji-senpai menelfonku kalau kau kabur dari rumah" gadis berambut pirang itu bertanya pada Hinata sambil menikmati minumannya

"Iya, kemana saja kau? Aku juga ditelfonnya" timpa Sakura dengan hal yang sama

"Aha ha, gomen gomen. Aku hanya tinggal ditempat saudaraku, aku hanya ingin menenangkan diri dulu" Naruto mendengarnya, senyum kecut Naruto tampakkan diwajahnya

Naruto duduk ditempat yang membelakangi mereka bertiga, "Nee, bisakah kalian traktir aku? Aku sedang tidak bawa uang saat ini" pinta Hinata dengan wajah innocentnya

Sakura dan Ino mengangguk dan menyuruh Hinata memesan apa yang ia inginkan. "Maaf Tuan, apakah anda sudah memutuskan untuk memesan apa?" ucap salah satu maid yang menghampiri Naruto

"Hmm, aku pe- SARA?!" Naruto tak percaya dengan yang ia lihat saat itu. Sara, mantan kekasihnya bekerja sebagai maid dan sekarang dia berada didepannya

"Na-" belum sempat Sara menyelesaikan kalimatnya, Naruto sudah membekap mulutnya sambil menaruh telunjuk jari didepan mulut mengisyaratkan untuk tidak memanggil namanya.

Sara mengangguk, "Apa yang kau lakukan disini?" tanya Naruto pelan

Sara duduk dan menjelaskan apa yang ia lakukan. Biaya sekolah yang semakin naik memaksa Sara harus bekerja untuk membantu orang tuanya. "Ah! Soal waktu itu aku minta maaf" ucap Sara mengacu pada kejadian di taman bermain tempo hari

Naruto menggeleng, "Tak apa, seharusnya aku yang meminta maaf, ah! Tidak, bukan aku yang seharunya minta maaf tapi Shirou"

Sara tertawa, "Kau dan Shirou tidak berubah" Naruto tertawa bahagia.

Hinata mencari keberadaan Naruto, ia tidak melihatnya dimanapun. Saat ia memandang pojok restaurant, ia melihat gadis yang ada ditaman bermain waktu itu. Ia sedang berbicara pada orang yang memakai tutup kepala, warna orange yang melekat dijaket itu menuntun Hinata untuk menemukan Naruto

Saat Hinata melihat Sara nampak bahagia, disisi lain Hinata merasa ditinggalkan oleh Naruto, "Ada apa Hinata?" tanya Sakura

"Eh?! Tidak, tidak ada apa-apa. Itadakimasu" Hinata mencoba menyembunyikan apa yang ia rasakan

.

.

Dalam perjalanan pulang, Hinata menekuk wajahnya. Ia tengah kesal pada Naruto, "Ada apa?" Naruto yang merasa aneh pada Hinata mengajukan pertanyaan

"Tidak apa-apa, hanya berfikir kalau laki-laki sepertimu tidak bisa memegang janji!"

"Janji?" Naruto bertanya balik

"Bukankah tadi sudah berjanji kalau kau tidak akan meninggalkanku, lalu kenapa kau meninggalkanku?! " Hinata mencurahkan semua emosinya

"Apa bisa kuluruskan? Siapa yang meninggalkan? Kau atau aku?! Siapa yang asik sendiri dengan teman-temannya?! "

"Tapi kau juga! Kau mengobrol dengan mantan kekasihmu kan!" Hinata murka, semua emosinya keluar

"Lalu? Apa aku harus bergabung dengan kalian?! Dan kau tahu apa yang akan aku dapat saat bergabung?! Yang aku dapat hanyalah sebuah CEMOHAN! Kau tahu itu?! Kalau kau jadi aku, apa kau bisa menahannya? HAH?! "

Hinata diam seribu bahasa, ia tak tahu harus bicara apa lagi. Kali ini ia tak sanggup untuk membalas perkataan Naruto

"Aku bicara denganmu, HYUUGA HINATA! "

"Kau tak tahu apa yang selama ini ku alami! Bersikap acuh saat kau dihina itu menyakitkan bodoh!" Naruto meluapkan emosinya

Untuk waktu yang cukup lama mereka berdua terdiam.

"Mo, ayo pulang" ucap Naruto sambil melangkah pergi

Hinata masih berdiam diri. Dirinya mematung setelah mendengar perkataan Naruto barusan. Naruto yang menyadarinya kembali berjalan mendekati Hinata. Tanpa menunggu lama, Naruto menarik tangan Hinata agar Hinata mengikutinya. Hinata tak bisa berucap apa-apa.

Sepanjang perjalanan Naruto terus menarik tangan Hinata, mereka berdua menjadi pusat perhatian bagi orang-orang dijalan. Sikap Naruto yang terlihat memaksa Hinata, dan sikap Hinata yang ogah-ogahan mengikutinya.

"Hoi bocah! Kau tidak seharusnya seperti itu! Apa kau menculik gadis itu?!" seorang pria tua mulai angkat bicara

Naruto berhenti dan berbalik menghadap orang tua itu. "Benarkah?! Kalau begitu coba kau pulangkan dia!" Naruto melepaskan pegangan tangannya dan mendorong Hinata ke arah orang tua itu

Sekarang Hinata malah merasa kebingungan, Naruto dengan sikap cueknya mulai keluar. Naruto masih memandang orang tua itu dengan tatapan serius, sedangkan orang tua itu nampak canggung dipelototi oleh Naruto.

Hinata yang tengah dilanda kebingungan memutuskan untuk kembali ke Naruto dan bersembunyi dibalik badan Naruto. "Kau lihat? Sebaiknya khawatirkan dirimu sendiri sebelum mencampuri urusan orang lain" setelah mengucapkan itu Naruto segera pergi meninggalkan tempat tersebut

Mereka berdua sudah sampai didepan pintu, setelah Naruto membuka pintu, Hinata langsung melesat menuju kamar dan mengunci dirinya dikamar Naruto. Naruto hanya bisa menggelengkan kepalanya.

SAD ENDING

.

.

"Aku menemukanmu, Komori!"

"Tidak secepat itu Orange! Tidak, maksudku Rubah"

*bubububububub* *prang prang prang* *drrrrttt drrrrttt drrrrttt* *booommm booommm*

Pertempuran dipagi hari, sang mentari masih malu-malu memperlihatkan jati dirinya. Si kusut dan sang rubah memulai paginya dengan sebuah game. Naruto yang masih memakai kaos oblong dan celana selutut dan Shirou yang sudah siap untuk pergi ke pantai.

*cklek* Suara pintu terbuka mengalihkan tak mengalihkan perhatian mereka dari layar tv. "Hoooaaamm, apa kalian berdua tidak bisa tenang, ini masih pagi" keluh Hinata akibat diganggu tidurnya

"Ohayou" ucap Shirou tanpa memalingkan pandangannya

Naruto masih terfokus dengan gamenya, baku tembak terus terjadi antara dirinya dan Shirou. "Sebaiknya kau siap-siap, sebentar lagi kita akan berangkat" ucap Shirou pada Hinata

*DANGER* *DANGER* "Hoi Shirou, apa game ini connect internet? Coba kau lihat dimap. Ada titik merah yang mengganggu"

"U- Uuu- UchihaKids? Sialan! Itu ID milik pantat ayam, sepertinya dia akan ikut campur" Shirou panik sendiri

Merasa terabaikan, Hinata kembali masuk kekamar dan kembali tidur. "Segera matikan gamenya!" ucap Naruto lalu merangkak cepat ke dekat tv

"BAKA! Jika kau matikan, nanti milik kita akan autoplay!"

1 JAM KEMUDIAN

Naruto, Hinata, dan Shirou sudah berada didepan apartemen menunggu mobil jemputan Sasuke. Dari jauh nampak sebuah van yang bisa dengan mudah dikenali Naruto. Shirou mengacungkan jempolnya ala orang mencari tumpangan.

*CIITTT* mobil berhenti tepat didepan Naruto, pintu terbuka secara otomatis. Shirou bergegas memasukkan barang-barang yang sudah siap sedia. "Lelet, kau molor 5 menit lebih" Naruto mengecam Sasuke dengan mulut berisiknya.

"Maaf saja jika mobilku tak secepat milikmu, dobe!"

Sekarang didalam mobil telah berada Naruto, Shirou, Sai, Sasuke dan juga sang putri Hinata. Mobil melaju menuju posisi Hana dan juga Yuriko berada.

TETETETETOET

"Kalian lama!" Yuriko berucap tak beda jauh dari Naruto

Yuriko dan Hana berada disatu tempat yang sama. Baru saja Hana masuk, Sasuke sudah menyapanya dengan senyuman dan lirikan mata yang genit. "Singkirkan tatapan mesummu" Shirou mengusik keadaan

Sai tertawa garing melihat hal itu. Semua nampak bahagia saat dalam perjalanan kecuali Hinata yang masih canggung untuk bicara dengan Naruto, sejak kejadian tadi malam sampai saat ini belum satu katapun terucap dari mulut Hinata untuk Naruto.

.

.

.

The Lonely Day's

Mereka sekarang sudah berada dipantai, semua cowok memakai kolor sedangkan para perempuan yang mereka ajak memakai pakaian yang agak tertutup. Naruto, Shirou, Yuriko, Hana dan Sai sudah masuk ke air terleboh dahulu.

Hinata duduk termenung dibawah payung pantai, melindunginya dari sengatan matahari siang itu. "Ada apa? Dari tadi kulihat kau tidak bahagia, apa kau sedang bertengkar dengan Naruto?" Sasuke berdiri disamping Hinata, sebuah ban renang melingkar dipinggangnya

"Kau sudah tahu, kenapa harus bertanya" jawab Hinata malas

Sasuke menghela nafas berat, perempuan disampingnya sekarang ini sulit dihadapi oleh Sasuke. "Kau seharusnya bersyukur, ia tak pernah sebaik ini sebelumnya"

"Mungkin hanya kau gadis yang satu-satunya menginap di apartemen Naruto, bahkan Yuriko-nee saja tidak pernah menginap" sambung Sasuke

Hinata mendongakkan kepalanya, "Bagaimana kau bisa begitu yakin?"

"Aku mengenal Naruto lebih lama darimu, dia adalah bocah ingusan yang tidak akan pernah berubah"

Naruto melihat ke arah Sasuke dan Hinata berada, tanpa Hinata duga Naruto melambaikan tangannya ke arah mereka. "Hoi, apa yang kalian lakukan? Kesinilah, airnya asin loh!"

Sasuke tersenyum kecil, "Lihat, dia tak seburuk yang kau dan teman-teman kayamu kira, kan?" Sasuke segera berlari kecil menghampiri Naruto dan yang lain

"Ha ha, apa-apaan kau ini, umurmu sudah 17 tahun dan kau masih pakai ban?" suara Shirou sampai ditelinga Hinata, tak ada gunanya jika kau terus termenung hanya karena sebuah pertengkaran kecil

Pelan tapi pasti, Hinata mulai berdiri. Sinar mentari menyinari rambut indigonya, "AKU DATANG!" Hinata berteriak sekeras-kerasnya. Naruto dan yang lain langsung menoleh ke arah Hinata, samar tapi pasti sebuah senyuman nampak terlukis diwajah Naruto

Wajah ceria terlihat jelas, tak ada lagi gundah ataupun keraguan. Waktu akan terasa cepat jika kau menikmatinya dengan bahagia bersama orang lain. Sebuah cerita baru yang mereka karang sendiri, sedih senang adalah pelengkap dalam kehidupan mereka semua

Para laki-laki sedang mencari minuman, sedangkan perempuan menikmati sejuknya angin pantai di bawah bayangan payung. "Ah, aku melupakan sesuatu" Naruto berkata sambil merogoh saku celananya

"Aku akan mengambilnya dulu, kalian duluan saja" sambung Naruto lalu berlari kembali ke tempat para gadis

Dari kejauhan Naruto memperlambat lajunya, Hinata dan yang lain sedang digoda oleh sekelompok pria. Tak perlu waktu lama bagi Naruto untuk berfikir, dengan cepat dia segera bertindak.

"Maaf tuan-tuan, mereka bersamaku" Naruto berucap baik-baik

Semua pria itu langsung menoleh, "Heh?! Apa kau serius?! Satu laki-laki dan tiga gadis cantik, apa kalian percaya?!"

"Tentu saja tidak! Ha ha ha, hei bocah ada hotel disebelah sana, bisa kami pinjam mereka sebentar?"

*BUUUK* Sebuah pukulan mendarat dengan keras diwajah pria yang baru saja berucap. "Teme, jaga pikiran kotormu itu, BODOH!"

Merasa tidak terima dengan perlakuan Naruto, sekelompok pria itu mengeroyok Naruto. Sebuah pukulan demi pukulan ditujukan kepadanya, Naruto tak berdaya. Hinata dan yang lain tidak bisa apa-apa

*BRUUUKKKK* Salah satu pria yang mengeroyok Naruto terjatuh terkapar diatas pasir. "TETAPLAH SEPERTI ITU DAN JANGAN BANGUN LAGI!" Shirou yang menolong Naruto berteriak dengan nada marah.

Shirou mulai mendominasi perkelahian, pukulan demi pukulan Shirou lancarkan. *cuuh* Shirou meludah dan sebuah kabut darah keluar dari mulutnya. "Sasuke, bawa Naruto dan juga ayo kita pindah ketempat lain"

Sekarang mereka berada disebuah restaurant pinggir pantai, Naruto terus mengaduh saat Yuriko mengobati lukanya, "Anoo, bisakah aku saja yang melakukannya?" pinta Hinata

Seketika Yuriko tersenyum aneh pada Naruto, sedangkan Naruto memperlihatkan mimik jijik pada senyuman aneh Yuriko. Hinata mengambil alih dan hasilnya, "ITTTTAAAAIIIII ! BAKA! Kau memencetnya terlalu keras!" lebih buruk daripada Yuriko

Beralih ke Shirou, ia tampak merinding dan juga ketakutan dalam waktu bersamaan. "Ada apa?" tanya Hana dengan nada lembut

"Ti-tidak a-a-ada, ba-bagaimana jika saja tadi aku kalah?"

"Itu masalahmu? Kau seperti hero di anime-anime" Sai menanggapi

"Anime? Hero? Mereka selalu kalah dalam awal pertarungan, dan setelah itu mereka mendapatkan pencerahan, lalu kekuatan entah dari mana, aku benci itu" balas Shirou

"Heh? Aku kira itu perasaan ingin melindungi teman, kan?" Yuriko masuk dalam pembicaraan

"Melindungi teman? Jangan bodoh, perasaan ingin menang dan mengakhiri semuanya adalah hal terbaik, benar kan Naruto?" Shirou melirik Naruto, tatapan matanya seolah mengejek Naruto yang habis dikeroyok

.

.

.

NO SCARED

.

Liburan musim panas akan segera berakhir, dan juga sudah satu bulan lebih Hinata menetap di apartemen Naruto. Tinggal beberapa hari lagi memasuki masa masuk sekolah, "Ojou-san, waktunya untukmu pulang"

Hinata malah merasa akan pergi jauh dari Naruto. "Tapi kau kan berjanji kau tidak akan meninggalkanku, kan?" Hinata mencari alasan

"Maaf nona, aku tidak pernah berkata 'YA' untuk janji itu"

Naruto mengambil barang didalam kardus dalam lemari, tas milik Hinata yang dulu tertinggal saat ibunya meninggal. "Ini tasmu, dan juga tugas musim panas milikmu sudah ku selesaikan"

Hinata tersenyum saat Naruto memberikan tas miliknya itu. "Bersiaplah, dan juga bisa kau lebih cepat? Sepertinya akan hujan" Hinata mengangguk, ini adalah perpisahan baginya

Naruto mengantar Hinata pulang ke kediaman Hyuuga, "Apa rumahmu jauh?" tanya Naruto

"Lumayan, hanya perlu naik bus dan kita akan sampai"

Naruto hanya mengenakan kaos dan sebuah celana selutut juga sebuah sepatu skets miliknya. Hinata mengenakan baju milik Yuriko, "Apa Yuriko-nee tidak apa-apa kalau bajunya kupakai?"

"Tenang saja, kalau kau kerumahnya kau hanya akan menemukan tumpukan baju, kalau Shirou menyebutnya tumpukan sampah wanita" balas Naruto sambil melihat bus yang datang mendekat.

Hari mulai petang, awan mendung terlihat mendominasi langit. Kilat terlihat dengan jelas dibalik awan hitam. Hanya butuh waktu 20 menit untuk sampai dihalte tujuan mereka, Hinata dan Naruto berjalan beberapa ratus meter untuk sampai di rumah Hinata

"Kita sampai" ucap Hinata

"Baiklah, kalau begitu tugasku sudah selesai. Aku pu- "

"Tunggu! Setidaknya masuklah dulu dan sapalah ayahku, dan juga kau tidak lupa kan jaket mu?"

Naruto menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Baiklah, tapi aku hanya menunggu didepan pintu" Hinata mengangguk

Mereka berdua segera masuk, Naruto bertindak seperti apa yang ia katakan. "Aku pulang"

Hiashi mendengarnya,suara yang sangat ia rindukan. Suara sang putri yang kabur dari rumah telah kabur dari rumah dalam waktu lama. "Hinata! Hinata!" Hiashi berteriak dengan nada bahagia

Hiashi berada didepan putrinya, sebuah pelukan Hiashi berikan pada putrinya. Sebuah pelukan yang sangat erat mengisyaratkan untuk tidak pergi lagi. Cukup lama ayah dan anak ini berpelukan, "Ayah, bisa kau lepaskan? Aku harus mengambil sesuatu dikamar, temanku menunggu didepan"

Setelah mengucapkan itu Hinata segera bergegas berlari ke kamarnya, "Onne-san?" Hanabi yang melihat kakak perempuannya sudah pulang hanya bisa bengong

"Hai Hanabi, kau makin cantik saja" ucap Hinata disela-sela larinya. "Nona Hinata?" giliran Neji yang bengong melihat Hinata seperti itu

"Hei Neji nii-san, rambutmu makin panjang saja"

Hiashi yang penasaran siapa teman Hinata menyuruh salah satu maid untuk memanggilnya.

"Maaf Tuan, anda dipanggil untuk masuk kedalam, mari saya antar" ucap maid dengan sopannya

Naruto dengan santai mengikuti maid dengan kedua tangan masuk ke saku celana. "Silahkan masuk"

"Ah maaf tentang tingkah putriku. Apa dia merepotkanmu? Tentu saja iya kan, berapa biaya yang harus ku ganti? Kau tinggal tulis saja" Hiashi berbicara dengan posisi membelakangi Naruto, sikap angkuh Hiashi keluar saat itu

"Lama tak bertemu, dan kau masih sama seperti dulu, paman Hiashi" kata Naruto

Hiashi segera membalikkan badannya, matanya terbelalak dengan apa yang ia lihat saat itu. Buku yang berada ditangannya seketika jatuh. "Kau. . . Kau. . . Na-Naruto?!" ucap Hiashi tak percaya dengan pria didepannya itu

*Grep* pelukan Naruto dapat dari Hiashi. "Bagaimana bisa kau masih hidup?"

"Skenario Tuhan memang aneh" balas Naruto

Hiashi melepaskan pelukannya dan berjalan mundur beberapa langkah, "Aku turut berduka atas kematian orang tuamu, kau benar, skenario Tuhan memang aneh tapi itulah yang disebut keajaiban"

"Kenapa kau tidak pulang?" tanya Hiashi

"Pulang? Disaat orang-orang sudah memasang dupa untukku? Aku kira itu sudah cukup"

Hiashi berpangku tangan atas ucapan Naruto. "Kau harus pulang, setidaknya sapalah mereka, buat mereka bangga kalau pengabdian mereka selama ini tidak sia-sia"

Pemikiran Naruto segera berputar 10 kali lipat dari biasanya. Naruto mengangguk, mungkin inilah saatnya untuk mengungkap kebenaran hidupnya. "Baiklah, tapi jangan harap aku akan menetap disana. Hidupku sekarang ini sudah cukup"

"Hinata! Masuklah, menguping itu tidak baik" Hiashi mengetahui Hinata berada dibalik pintu

"Eh etto, aku hanya ingin mengambalikan ini" ucap Hinata sambil menyodorkan jaket milik Naruto

Naruto segera menerimanya, ia tidak langsung memakainya tapi hanya melampirkan dibahunya *kletek* terdengar suara benda jatuh dan itu adalah lolipop yang diberikan nenek nenek waktu itu.

"Hinata, minta Kaburagi-san untuk mengantar Naruto ke kediaman Namikaze" Hinata segera berlalu pergi menemui sang supir

"Haa aahh, aku pergi dulu paman" ucap Naruto kemudian berlalu pergi

"Oh iya paman, apa kau tahu tentang perjodohan?" Naruto kembali dengan hanya memperlihatkan kepalanya

Hiashi menggeleng, "Itu hanya cerita lama, sekarang semua terserah kalian"

Naruto yang tidak tahu menahu hanya menggaruk kepalanya.

Hanabi melihat Naruto dengan tajam, ia nampak tak asing dengan pria jabrik itu. "Oh, kau yang waktu itu. Ini lolipop untukmu"

Hanabi menerimanya dengan wajah bingung, "A- "

"Jaa naa" perkataan Hanabi yang belum selesai sudah dipotong oleh Naruto.

Naruto berjalan menuju pintu keluar dengan sikap sama seperti saat ia masuk. Tangan yang masuk kedalam saku celana dan juga ditambah sebuah senyuman untuk para maid yang ia lewati. Para maid pun juga membalasnya dengan membungkuk tanda hormat

Mobil yang mengantar Naruto sudah siap, pintu belakang sudah terbuka khusus untuknya. "Boleh aku duduk didepan? Aku suka mabuk darat kalau duduk dibelakang" pinta Naruto

Sang supir pun mempersilahkan, Hinata memandang kepergian Naruto dari balik jendela rumahnya. Rasa penasaran pun langsung terpancar dalam diri Hinata. Ia segera berlari ke ruangan ayahnya, "Ayah!"

Hiashi menoleh dengan mengrutkan dahinya, "Anoo, begini. . . apa hubungannya Naruto-kun dengan kediaman Namikaze"

"Kau akan segera tahu, Hinata"

.

.

.

Naruto sudah sampai didepan kediaman Namikaze, "Kenapa begitu sepi? Mungkin karena hujan" Tak ada satpam ataupun pengawas gerbang, Naruto membuka gerbangnya sendiri, "Paman, kau bisa kembali dulu, dan juga sampaikan salamku pada paman Hiashi" ucap Naruto dan sang supir pun mengangguk

Naruto berjalan menelusuri jalan setapak yang langsung menuju ke pintu masuk utama. "Tidak dikunci? Cerobohnya kalian ini" Naruto bergumam sendiri

Naruto masuk tanpa ada yang mengetahui, Naruto mencari-cari kemana semua orang pergi. "Aku baru sadar kalau rumah besar itu menyusahkan" batin Naruto

Samar-samar Naruto mendengar suara gaduh dari arah ruang makan. Merasa telah menemukan apa yang ia cari, Naruto segera menuju ke ruangan tersebut.

"Yoo, kalian sehat?" ucap Naruto sambil bersandar di dinding

Sketika semua yang berada disana langsung menoleh. "Tidak mungkin?!" ucap mereka, suara sendok yang jatuh mengisi kehampaan itu

"TUAN MUDA!"

.

.

.

To Be Continued

Yo lama ya, Maaf
Jelek ya, Maaf
Gaje ya, Maaf
Ha ha, Udah satu tahun nih fic publish belum tamat-tamat, Author kampret
Tinggal beberapa chap lagi dan , "It will be sad ending or bad ending? Who know? "
See You in Next chapter