DESTINY
Naruto hanya milik Masashi Kishimoto
Keep read, Keep wait, and don't forget to review
Enjoy This o_O
.
.
.
Chapter 21
"Tidak mungkin. . . "
"TUAN MUDAAAAA!"
Naruto terperanjat dipanggil seperti itu, sebuah pelukan yang sangat erat mereka berikan pada Tuan Muda mereka. "Hwaaa. . . Syukurlah anda masih. . . " seorang pelayan menangis dengan keras
"Anda tumbuh menjadi remaja yang tampan, Tuan Muda" air mata terus mengalir dari mata mereka
Naruto merasa aneh dengan sikap 'mantan' pelayannya sendiri. "Kemana saja anda selama ini?! Kami kira anda sudah. ."
"Sudah jangan dilanjutkan lagi, baiklah menu makan malam sekarang apa? Bisa aku numpang makan disini?"
"Bicara apa anda ini? Tentu saja, karena ini kediaman milik anda"
"Yosh, mari makan!" teriak Naruto dengan nada senang
Naruto menikmati makan malam di kediaman lama atau kediaman barunya. "Hoi kenapa kalian hanya berdiri saja? cepat duduk dan nikmati makanan dimeja ini"
"Maaf Tuan Muda, saya rasa itu tidak sopan sama sekali?" jawab salah satu pelayan
"Hah?! Bicara apa kau ini? Buang sikap formal kalian dan bersikaplah seperti keluarga yang aku inginkan" bantah Naruto
Semua mengangguk lalu duduk dan menikmati makan malam yang bahagia bagi mereka. Raut wajah senang nampak jelas di wajah para pelayan kecuali satu orang, "Tunggu, onne-san yang disana itu siapa? Sepertinya aku tidak mengenalnya atau jangan-jangan aku lupa ingatan" Naruto bicara disela-sela makannya
Sedangkan yang dimaksud Naruto malah kebingungan, nampak jelas dari wajahnya. "Maaf sebelumnya tuan muda, dia saudara saya dari desa. Dia yang membantu saya menyiapkan makan malam ini" jawab salah satu pelayan yang mewakili perempuan yang dimaksud sambil meliriknya mengisyaratkan untuk memperkenalkan dirinya
"Ah, Nama saya Emira Yuka, maaf jika makanan yang anda makan tidak cocok untuk anda" Gadis itu berdiri lalu membungkuk 90 derajat
"Yuka-nee ya? Kau akan jadi istri yang hebat, masakan ini menakjubkan" pelayan itu tersipu malu dipuja oleh Naruto sedangkan pelayan lain melongo tak percaya kalau Tuan Muda mereka bicara seperti itu
Selesai acara makan malam, Naruto berkeliling menelusuri lorong demi lorong. Rumah mewah yang pernah ia tempati tak sedikitpun berubah, Naruto masih ingat detail rumahnya. "Anoo, Tuan muda?"
Merasa dirinya dipanggil, Naruto menoleh dan menemukan pelayan yang baru dikenal tadi. "Maaf tentang sebelumnya, " ucap pelayan itu sopan
"Hmm? Tidak usah difikirkan. Lagipula kau juga baru mengenalku kan" Pelayan itu mengangguk mendengar perkataan Naruto
"Hei, bisa temani aku berkeliling? Aku butuh teman ngobrol"
"Dengan senang hati"
Naruto masih berkeliling melihat-lihat, nostalgia adalah hal yang ia rasakan saat ini. "Apa Yuka-nee masih bersekolah?" tanya Naruto membuka obrolan
"Iya, saya masuk Universitas KITA" Naruto langsung menoleh dengan cepat mendengar perkataan itu
"Benarkah?! Itu Universitas terkenal, apa masuk kesana susah?"
"Tidak juga, asal semua nilai diatas rata-rata atau tinggi itu bisa" balas pelayan dengan nada sopan
"Heh? Temanku juga ingin masuk kesana, lalu bagaimana dengan biayanya?" tanya Naruto terus tanpa berhenti
"Ah, saya mendapat beasiswa disana. Sensei bilang saya itu mahasiswi yang berbakat"
"Hebat! Kau memang akan menjadi istri idaman nanti" pelayan itu tersipu malu mendengar perkataan Naruto
"Masalahnya. . . "
"Masalahnya?" pelayan mengikuti perkataan Naruto
"Masalahnya aku tidak tahu temanku itu pintar atau tidak, dia hanya main game saja" Naruto dan pelayan itu tertawa kecil
Sementara itu, *Hacing* "Sepertinya aku terkena demam" ucap Shirou
Real Life
"Paman, Bibi, dan yang lain! Aku pulang dulu!" teriak Naruto
Dengan cepat para pelayan berlari menuju pintu utama, "Tunggu Tuan Muda! Anda mau kemana? Pulang? Tapi anda sudah berada dirumah sekarang"
Naruto menatap sekeliling, nyaman rasanya pulang ke rumah, tapi kalau Naruto tetap tinggal, hanyalah rasa sedih yang akan ia dapatkan.
"Kurasa tidak, aku punya kucing yang belum kuberi makan. Ini bukan rumahku lagi, anggap saja ini rumah kalian dan jangan ada perselisihan"
"BAIK! Jika ada membutuhkan sesuatu, jangan sungkan untuk pulang kesini lagi!" jawab salah satu pelayan, dengan matam terpejam menutupi kesedihannya
Naruto tersenyum tipis, "Kalian terlalu baik, jaa" Naruto berjalan menjauh, jauh dari gapaian tangan mereka.
"Uzumaki Naruto-san, aku tidak akan melupakanmu" ucap Yuka dalam hati
.
.
.
Naruto menatap langit yang mendung, rintik hujan yang lebat memaksa orang-orang berlari mencari tempat untuk berteduh. Tak hanya sekali Naruto ditabrak oleh orang-orang yang berlalu-lalang
Naruto berfikir betapa bodohnya orang-orang itu, Naruto yang sedari tadi menunduk segera meluruskan pandangannya.
Mata Naruto membesar, ia tak percaya apa yang ia lihat saat ini. Ia terus mengucek matanya, hal itu tak mau hilang.
Kedua orang tuanya tengah berdiri disisi jalan, senyum merekah diwajah mereka. Lambaian tangan menarik langkah Naruto untuk mendekatinya
Rintik hujan yang semakin deras tak bisa menghentikan langkah Naruto. Lambaian tangan semakin cepat, seakan-akan berkata 'sini-sini-cepat'
Semua terjadi begitu saja, lampu yang menyala merah darah. "AWAS!"
.
.
"Baka! apa yang kau lakukan?!"
Suara tangisan kecil terdengar, "Kenapa kau ini?!"
"Otou-san, Oka-san, Otou-san, Oka-san. . . . "
"Uzumaki! Kenapa kau ini?!"
Naruto menoleh, air mata yang bercampur air hujan tak menandakan bahwa ia tengah menangis, "Senpai? . . "
*Grep*
Naruto memeluk erat orang didepannya itu, karena hujan lebat, orang-orang mengabaikannya
"Hwaaaa. . . !"
"Mereka pergi! Mereka pembohong! Mereka meninggalkanku!"
Shion yang dipeluk secara tiba-tiba pun merasa aneh, ini adalah pertama kalinya ia dipeluk oleh seorang pria yang hampir seumurannya.
"B-b-baka! Apa yang kau katakan?! Ayo segera cari tempat berteduh" Shion masih menunggu Naruto melepaskan pelukannya
Shion merasakan perasaan aneh saat Naruto memeluknya, rasa yang belum pernah ia rasakan selama ia hidup
"Apa aku jatuh cinta dengannya?"
*pluk* *pluk* Shion segera menepis pemikiran itu, "Itu tidak mungkin"
"Kumohon! Biarkan aku seperti ini, sebentar saja"
Sekarang Shion paham kenapa Naruto bisa sesedih ini, kesedihan yang sudah ia pendam terlalu lama akhirnya Naruto keluarkan. Shion hanya bisa menatap orang yang memeluknya itu dengan tatapan sendu.
Selama ini, Shion merasa bodoh. Sekarang ia sadar, ia sama sekali tentang pemuda bernama Uzumaki Naruto. "Tak apa" ucap Shion sambil membalas pelukan Naruto
"Kita harus cepat cari tempat berteduh" ucap Shion sambil melepas pelukannya, juga dengan pelukan Naruto, ia melepaskannya dengan paksa
Shion berlari sambil menarik tangan Naruto, Naruto hanya bisa melongo melihat perempuan didepannya itu. "Kau ini sebenarnya siapa?" tanya Naruto disela-sela larinya
Shion menoleh dan memberikan sebuah senyuman, "Kakak kelasmu" jawab Shion singkat
.
.
Your Smile
.
.
Sekarang mereka berdua berada didepan toko yang sudah tutup, seluas mata memandang hanyalah payung yang mereka lihat. "Kenapa kau ini?!"
"Maaf"
Saat Shion mengalihkan pandangannya pada Naruto, ia hanya melihat wajah yang penuh kesedihan. Shion sadar, ia tidak tahu apa-apa tentang pemuda bernama Uzumaki Naruto ini, ia hanya terus melecehkannya disekolah.
*JDAAAKK!* Shion saling menjedotkan kepalanya dengan kepala Naruto
"Ittai. . . Kenapa kau ini?!" tanya Naruto dengan sedikit emosi
"Kau yang kenapa! Siapa kau ini! Kau bukan Uzumaki Naruto yang selama ini kutahu! Bersikaplah seperti aku mengenalmu, Uzumaki yang kutahu tak pernah selemah ini!"
Mata Naruto melebar mendengar hal itu, dengan cepat dia langsung memandang tajam orang didepannya. "Kau. . . Arigato naa, tak kusangka kau ini orang baik, dattebayo"
"Dattebayo?" Shion memiringkan kepalanya mendengar akhiran yang digunakan Naruto
Naruto segera menutup mulut dengan kedua telapak tangannya. Tak disangka logat itu muncul dengan sendirinya. "Maaf. . . bi-bisa kau lupakan itu?"
"Heeehh, kenapa aku harus melupakannya? Dattebayo?" Shion meledek dengan menggunakan akhiran yang dipakai Naruto tadi
Naruto meringkuk menyembunyikan kepalanya didekapan tangannya sendiri. "Apa-apaan kau ini, baka, " balas Naruto dengan nada rendah
Shion tertawa melihat ekspresi Naruto seperti itu. "Hei, bisa aku bertanya? Kenapa orang-orang disekolah selalu merendahkanmu?" Shion duduk disamping Naruto
"Kau pun sama!" nada Naruto masih terdengar kesal, Shion hanya bisa mengukur pipinya yang tidak gatal sambil tertawa garing
"Semua terjadi begitu saja, mungkin karena aku mendapat beasiswa dan kau tahu kan kalau beasiswa hanya dianggap kalau itu hanya untuk murid tidak mampu"
Shion mengangguk paham, memang benar kalau beasiswa selalu berkaitan dengan mereka yang tidak mampu
"Mereka itu bodoh, mereka tidak tahu apa-apa! Mereka tidak tahu kalau aku sebenarnya. . . " Naruto menghentikan perkataannya
"Sebenarnya?" Shion masih menunggu perkataan selanjutnya
"Sebenarnya Uzumaki Naruto yang cinta damai. . . . aha ha ha"
Naruto dan Shion tertawa dengan bahagianya, seakan-akan beban milik Naruto sudah hilang entah kemana.
Sementara itu, "Kita kembali pulang saja, tidak perlu ke kediaman Namikaze"
"Tapi nona Hi- "
"Sudah kubilangkan?! Kita kembali saja!"
"Baiklah"
POISON
.
.
Hari pertama masuk sekolah, setelah liburan musim panas yang panjang. Wajah murid yang berdatangan pun beragam, dari yang normal,nampak bahagia, nampak kusut karena dirasa liburan dirasa kurang. Naruto memandang sekitar, hanya ada para keledai dimatanya, tatapan tak enak itu selalu ditujukan pada Naruto.
Dan juga, sebentar lagi Festival Budaya akan berlangsung. Nampak jelas murid yang sudah membawa barang-barang ke ruang klub mereka masing-masing. Jadi mungkin hari ini tidak akan ada pelajaran, Summer mendapat ruang kelas mereka dan juga Winter yang mendapat lapangan, itulah kesepakatannya.
Saat Naruto menggeser pintu kelas ia langsung ditujukan pada orang-orang yang nampak sangat sibuk. "Ini masih pagi, berapa banyak semangat mereka?" fikir Naruto
Naruto yang tak mau mengganggu segera menutup pintu kelasnya kembali. Ia melewati aula sekolah dan juga ia masih saja melihat banyak orang yang tengah sibuk. Naruto memandang beberapa orang yang memakai seragam berbeda, mereka dari sekolah Winter tapi Naruto tak pernah melihatnya.
Sekarang tujuan Naruto hanyalah halaman belakang sekolah. Hanya disanalah Naruto menenangkan diri disekolah selama ada hal seperti ini, sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Sebuah bangku dibalik pohon adalah tempat bersembunyi yang cocok. Naruto meregangkan tubuhnya dibatu itu sambil menguap
"Melarikan diri?"
Seseorang dari sisi pohon yang lain berbicara pada Naruto, "Seperti yang kau lihat kan? Lagipula aku juga tidak akan berguna disana" balas Naruto
"Dan kau? Kau mengikutiku?" sambung Naruto
"Aku hanya penasaran kemana kau pergi setelah melihat kelas seperti itu"
Naruto menyilangkan tangan didepan dadanya, angin pagi menghembuskan surai pirang Naruto. "Apa hal seperti itu menyenangkan, Hinata?"
"Hmmm, kurasa half to half, senang dan merepotkan mungkin" balas Hinata
"Bagaimana dengan kediaman Namikaze? Apa kau kenal dengan paman Minato?" sambung Hinata dengan pertanyaan
Naruto langsung membuka matanya lebar, bagaimana Hinata bisa kenal dengan Namikaze Minato. "Tidak, saudaraku ada yang bekerja disana, jadi aku hanya ingin menyapanya, ucapkan terima kasihku pada ayahmu" jawab Naruto
"Lalu apa setelah itu kau langsung pulang?" tanya Hinata lagi
"Kenapa kau begitu ingin tahu?" tanya Naruto balik
"Lupakan" balas Hinata kemudian berlalu pergi
Naruto menolehkan kepalanya, melihat kepergian Hinata. Naruto tersenyum kecil melihat punggung itu berlalu pergi tanpa perlu merepotkannya. "Ketemu! Apa yang kau lakukan?" Shion dari belakang mengejutkan Naruto
Ia mengikuti arah pandangan Naruto sebelumnya dan Shion tersenyum aneh. "Hhmm, Apa kau menyukainya?"
"Itu adalah hal yang sangat tidak mungkin, dan juga kenapa kau ini?" balas Naruto
Shion mengambil alih tempat duduk Naruto dan menggeser Naruto kepinggir. "Heeh, jangan seperti itu, apakah itu balasan dengan orang yang sudah kau peluk tiba-tiba?" Shion masih saja menggoda Naruto
"Kapan?"
"Kumohon, biarkan aku begini, sebentar saja" Shion menirukan perkataan Naruto kemarin
Wajah Naruto berubah merah, "Kumohon, lupakan apa yang sudah terjadi kemarin"
"Tidak mau" balas Shion cepat
"Arrgghh, ayolah. Sikapmu yang seperti itu sangat menggangguku, aku akan melakukan apa saja asal kau melupakannya, ya ya ya" bujuk Naruto
Shion tampak mempertimbangkan sesuatu, "Hmmm, baiklah. Kalau begitu sekarang kau ikut aku, dattebayo" ucap Shion sambil menggaet tangan Naruto, menariknya kembali masuk ke gedung sekolah
/\
Friend or Foe
.
.
"Kenapa semua nampak bahagia hanya karena festival Budaya?" tanya Naruto pada Shion yang berjalan didepannya
"Hmmm, mungkin karena bebas dari pelajaran" jawab Shion apa adanya
Naruto mengangguk kecil, "Lalu bagaimana dengan sekolah yang tidak jadi bekerja sama dulu?" Naruto masih saja bertanya
"Maksudmu Spring? Aku rasa mereka akan mengadakan festival budaya sendiri. Ah dan juga tolong sampaikan ucapan terima kasihku pada temanmu yang bermulut tajam itu" Shirou yang Shion maksud
"Dia memang seperti itu, dari dulu dia memang sudah seperti itu"
Naruto sudah berada dimana Shion membawanya, anggota OSIS selalu menuju basecamp mereka yang tidak lain adalah ruang OSIS. "Kenapa kau ingin jadi ketua OSIS?" tanya Naruto sebelum masuk ker ruang OSIS
"Entahlah" jawab Shion singkat
"Padahal OSIS itu hanya kacung guru" balas Naruto
Shion tak menggubris hal itu, seakan-akan perkataan Naruto hanyalah angin lewat. "Selamat pagi semuanya!" ucap Shion penuh semangat
Semua sudah duduk diposisi masing-masing kecuali Naruto yang duduk mengamati ikan yang berenang diakuarium kecil diruang OSIS. "Hoi, untuk apa kau membawanya kesini?" bisik Temari pada Shion
"Ceritanya panjang" jawab Shion, Naruto bisa mendengar itu. Jangan remehkan pendengaran rubah kecil ini.
Temari langsung memandang sinis pemuda bernama Uzumaki itu. Aura tak enak bisa dirasakan oleh Naruto, sebuah perilaku yang mengintimidasi orang asing seperti Naruto
"Uzumaki! Setidaknya buatlah dirimu berguna" ucap Shikamaru
"Hoi, apa ikan ini bisa punya anak?" tanya Naruto
Sebuah perempatan muncul dijidat Temari. "Tenang, biar aku yang tangani" bisik Shion
"Uzumaki-san, apa ada yang kau perlukan? Dattebayo" Naruto langsung duduk mengambil posisi bersama mereka setelah mendengar hal itu
"Hebat" puji Temari
"Ya kan!" sombong Shion
"Baiklah sekarang. . .
Bla
Bla
Bla
Bla
Diskusi yang cukup lama yang hanya menghabiskan waktu. Naruto keluar terlebih dahulu diikuti dengan Neji dibelakangnya. "Hei, Uzumaki Naruto" panggil Neji
Naruto menoleh dan mendapati Hyuuga Neji berada dibelakangnya dengan tatapan serius. "Apa?"
Neji membungkuk 90 derajat dihadapan Naruto, "Terima kasih telah menjaga Nona Hinata" ucapnya
"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti sama sekali" balas Naruto sambil berlalu pergi
Neji hanya bisa menatap jauh kearah pemuda itu. Naruto adalah pemuda yang sulit ditebak, sulit bagi Neji untuk memahami orang ini.
Sementara itu dikoridor Naruto bertemu dengan teman-teman sekelasnya, "Hoi Naruto, kemana saja kau ini? Ayo segera ke kelas, kita kekurangan orang saat ini" ucap salah satu teman sekelas Naruto
Naruto hanya bisa diam mematung mendengar perkataan itu,itu adalah perkataan yang Naruto belum pernah dengar selama dia bersekolah disini. "Kenapa diam saja? ayo cepat, kita kejar tayang"
Teman-temannya berjalan setengah berlari, "Ayo cepat" panggil mereka lagi
Sebuah perasaan yang tidak pernah Naruto rasakan. Entah kenapa Naruto merasa sangat senang mendengar hal itu, "Aku datang!" balas Naruto
.
.
Your Lie
.
.
"Maaf untuk selama ini Naruto. Kami selalu memperlakukanmu dengan buruk"
"Tak apa" balas Naruto senang
"Baiklah, sekarang kelas kita akan mengadakan rumah hantu untuk festival kali ini. Jadi kami memerlukan bantuanmu. Bisa kau urus yang ini, ini, dan yang ini?"
"Tentu! Semua ini akan menjadi pengalaman yang pertama dan terakhir disekolah ini! dattebayo" balas Naruto dengan senyum merekah
"Ha ha ha, aku suka semangatmu, kalau begitu aku tinggal dulu keruang guru ya"
Seringai kejam muncul dari wajah mereka, Naruto tak tahu apa yang mereka rencanakan. Satu demi satu teman sekelas Naruto pergi meninggalkan Naruto dengan alasan yang meyakinkan. "Aku harus membuat yang terbaik bagi mereka" ucap Naruto dalam hati
Sementara itu Hinata melihat Naruto dari balik jendela. Pandangan iba Hinata arahkan pada Naruto yang tengah bekerja keras hanya demi sebuah kebohongan keji. Hinata hanya bisa melihatnya dari kejauhan, ia tak bia melakukan apa-apa
Bel Pulang sekolah berbunyi keras, tanda semua kegiatan sekolah harus berakhir. Lagi dan lagi, Naruto keluar dari kelas seorang diri. Hari ini ia nampak bahagia, sangat bahagia. Saat orang-orang itu membutuhkannya adalah alasan yang cukup untuk ia dianggap ada
Hinata yang berjalan bersama Sakura dan Ino, obrolan mereka tampak asik. Tawa riang gembira terpancar dari wajah mereka. Ditengah-tengah hal itu, Hinata melihat orang yang ia kenal. Murid dari sekolah Winter, orang yang sangat dekat dengan Naruto. Akihiko Shirou tengah bersandar digerbang sekolah Hinata, saat Hinata melihat orang itu perasaan benci langsung muncul dalam dirinya
Shirou yang dari tadi nampak kebingungan akhirnya menoleh pada Hinata. Tatapan malas Shirou tujukan pada Hinata, begitu pula sebaliknya. "Yoo" Shirou menyapa Hinata
"Siapa kau ini? Dasar aneh" yang disapa Hinata malah Sakura yang menanggapi
"Aku tidak bicara denganmu, jidat lebar" balas Shirou
*CKUU* Emosi Sakura langsung meledak. Tanpa ba bi bu, Shirou menyodorkan sebuah amplop pada Hinata, "Apa ini?" tanya Hinata
"Hanya kau yang belum kuberi, dan juga apa Naruto sudah pulang?" tanya Shirou
Hinata menoleh kebelakang dan langsung menemukan yang Shirou cari, "Hoi jabrik, bisa lebih cepat?! Kita sudah terlambat!"
Naruto yang menyadar Shirou berada disana langsung berlari menuju Shirou, "Apa yang kau lakukan sampai sini, bodoh?" tanya Naruto
Naruto melihat jam diponselnya, "Sial, Kenapa kau baru datang, ayo cepat!" Naruto dan Shirou segera berlari menuju halte bis, dan tujuan mereka adalah tempat mereka bekerja
Sakura, Ino, dan Hinata memandang dua orang aneh itu pergi. "Hei Hinata, bisa kau lihat apa yang orang aneh itu berikan padamu?"
Setelah mendengar itu Hinata langsung membuka amplop yang diberikan Shirou dan betapa terkejutnya mereka bertiga. Isi amplop itu adalah beberapa foto saat liburan musim panas. Beberapa foto menunjukkan Hinata dan Naruto duduk bersebelahan saat berada dipanti, beberapa memperlihatkan Hinata, Naruto, Sasuke, Sai, Shirou, Hana, Yuriko saat dipantai
"HAAAAA! Ba-ba-bagaimana bisa kau berfoto bersama Uchiha Sasuke?" Sakura histeris
"Sai juga" Ino pun sama
"Kau curang Hinata. Andai saja aku ada diposisimu, aku akan mati dengan tenang"
"Jika kalian ingin, kalian harus mendekati akarnya dulu" balas Hinata
"Akarnya?" tanya Sakura dan Ino bersamaan
"Akarnya ialah. . . Uzumaki Naruto, dia lebih dari yang kalian tahu"
Clear Mind
.
.
Hari kedua untuk persiapan Festival Budaya. Kali ini Naruto nampak sangat bahagia, suasana hatinya sedang cerah hari ini. Dalam fikirannya Naruto membayangkan bagaimana teman-teman sekelas memanggilnya.
Baru saja menggeser pintu, semua teman sekelasnya menoleh dengan cepat. "Akhirnya kau datang juga, kita banyak pekerjaan hari ini, segera taruh tasmu dan bantu kami disini, Naruto"
"Siap" Naruto menanggapinya dengan kata-kata yang mantap untuk didengar
Semua bekerja dengan penuh semangat sebelum semuanya berpisah dengan alasan masing masing, "Aku beli minuman dulu"
"Aku harus menemui ketua OSIS"
"Wali kelas memanggilmu"
Hingga hanya tinggal Naruto yang masih bekerja dengan senyum yang tiada kata untuk luntur sedikitpun
Siang itu anggota OSIS utama dari Winter berkunung ke Summer untuk mengecek lokasi agar tidak ada masalah saat festival nanti. Yahiko, Nagato, Konan, Hana, dan juga si kusut Shirou.
Konan yang sibuk membolak-balik kertas, Yahiko yang tidak ada hentinya memberikan senyuman pada gadis yang ia jumpai. Hana dan Nagato yang sibuk melihat keadaan sekitar, dan Shirou yang sibuk dengan ponsel barunya
"Ha ha ha, betapa bodohnya dia" indra pendengaran Shirou masih berfungsi untuk mendengar hal itu dari murid yang ia jumpai dikoridor
"Dasar, mudah sekali menipu Uzumaki itu" lagi dan lagi Shirou mendengarnya
"Baiklah, kita harus ke- " belum selesai Nagato menyelesaikan perkataannya, Shirou akan melenggang pergi
"Kalian duluan saja, nanti kususul" ucap Shirou lalu pergi
Sekarang tujuan Shirou adalah kelas Naruto. Ia masih ingat dimana kelas Naruto berada. Hinata dan teman-temannya yang berniat kembali kekelas pun didahului Shirou yang tengah berlari.
Shirou menemukannya, Naruto tengah bekerja untuk para keledai itu. Terlihat jelas keringat yang bercucuran dari kepalanya. "Apa yang kau lakukan?" tanya Shirou dari pintu
Naruto menoleh dan mendapati Shirou tengah berada didepan pintu kelasnya. "Ahh, aku sedang mengerjakan sesuatu untuk festival besok" jawab Naruto
Shirou berjalan pelan menuju Naruto, dan *BRAAKKK* tanpa ada aba-aba, Shirou menendang apa yang sudah dikerjakan Naruto
Naruto tersentak bukan main, saat ia melihat kearah Shirou, yang ia dapat hanyalah sorot mata penuh kebencian.
"TEME! Apa yang kau lakukan, BODOH!" Naruto segera berdiri dan mencengkram kerah baju Shirou dan mendorongnya ketembok
Pas saat itu juga, teman-teman sekelas Naruto tepat berada didepan pintu. Satu persatu masuk kekelas ingin mengetahui apa yang sedang terjadi
"Apa yang kau kerjakan?" tanya Shirou dengan nada sabar
"AKU SUDAH BILANG KAN!" Emosi Naruto memuncak
"Untuk siapa?"
"UNTUK TEMAN-TEMANKU! MEREKA MEMERLUKAN BANTUANKU! DAN KAU MERUSAKNYA SEKARANG!"
Suasana berubah menjadi mencekam, Hinata nampak ketakutan. Ia tak pernah melihat Naruto dan Shirou seperti ini selama Hinata mengenal mereka berdua
*BUUUKK* Shirou tanpa segan memukul mundur Naruto
"TEMAN-TEMAN KATAMU?! SADARLAH! KAU HANYA DIMANFAATKAN OLEH MEREKA"
"Tidak, itu tidak mungkin"
"DIMANA TEMAN-TEMANMU TADI?! SAAT KAU BEKERJA SENDIRI KEMANA MEREKA?! AKU TAHU KAU ITU BODOH, TAPI DISINI TIDAK ADA YANG MENGANGGAPMU TEMAN!"
Naruto berdiri sempoyongan, "JIKA ADA, SEMUA INI HANYALAH TIPUAN!" Shirou berusaha menyadarkan Naruto dari kebohongan ini
"Bohong, ini bohong kan? Kalian temanku kan?" Naruto bertanya pada orang-orang dikelasnya, semua menunduk tak berani menatap Naruto
*BRAAKK* Sekarang giliran Naruto yang menendang apa yang sudah ia kerjakan susah payah
Naruto memejamkan matanya kuat-kuat. "Ha. . . . ha ha" Naruto tertawa, tawa yang tidak pernah ia keluarkan
"Persetan dengan kalian!" ucap Naruto lalu berjalan keluar kelas
Guru yang mendengar ada keributan segera datang dan bertanya apa yang terjadi pada Naruto yang ada didepannya
"APA?!" Emosi Naruto masih saja berkobar
Guru itu langsung menyingkir dari jalan Naruto. Naruto pergi entah kemana, semntara itu Shirou bicara pada Hinata didepan banyak orang
"Kau, seharusnya aku membiarkanmu mati waktu itu"
.
.
.
In The End
.
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
Yo Reader, gimana kabarnya?
Ah gak usah basa basi ah
Cuma jawab satu dari sekian review
"Apa bedanya sad ending sama bad ending?" , please kill me!
Sad Ending : Akhir yang menyedihkan, ex : salah satu mati, jatuh cinta ama orang lain
Bad Ending : Akhir yang gantung, gak jelas, ex : Hinata suka sama Shirou :v (Imposible)
Yah hanya itu, mungkin reviewer yang ini bisa dapat referensi dari anime yang endingnya gantung, sedih, gak seperti yang kalian inginkan
Oh yang ingin liat cover Destiny bisa diliat di Fb saya : Win
See You in Next Chapter
