DESTINY
Naruto hanya milik Masashi Kishimoto
Bad Story, Bad Diction, Bad Idea, Confusing Story, OC, OOC
Enjoy this
Chapter 22
.
.
.
"Kau, seharusnya aku membiarkanmu mati waktu itu" ucap Shirou dengan nada datar
*PLAAAAK* Dengan kencang Shirou menampar Hinata yang ada didepannya, sedangkan Hinata melongo tak percaya, "Hoi, siapa dia itu? Tidak sampai seperti itu kan?" bisikan para murid yang menyaksikan hal itu
"Kenapa kau diam saja? dia begitu baik padamu, . . . . . . . dia benar. Disini hanyalah sebuah kebun binatang"
Shirou tak berucap terlalu banyak, setelah mengatakan itu ia berlalu pergi kembali ketempat ia seharusnya berada. Hinata hanya memegangi pipinya yang perih karena tamparan Shirou tadi. Baru pertama kali ini ia ditampar, "Kau baik-baik saja, Hinata?" tanya Ino dan yang lain
Ditoilet, Hinata membasuh mukanya, dalam pikiran ia tidak merasa bersalah. Ia tak melakukan apa-apa, tapi kenapa Shirou menyalahkan dirinya. Hinata merasa ada yang mengganggu pikirannya setelah ditampar tadi.
.
"Apa yang kau lakukan disini?"
"Arigato naa, jika kau tidak ada mungkin orang-orang itu akan terus memperlakukanku seperti itu terus" balas Naruto yang tengah bersandar pada tembok
"Sudah berapa lama kau jadi sahabatku? Betapa bodohnya kau, kau harus memiliki pandangan luas sepertiku" tanggap Shirou
"Hoi Shirou?"
"Apa?"
"Sepertinya gigiku sakit, kau harus bertanggung jawab"
Shirou memandang Naruto dengan pandangan malas, "Benarkah? Apa rasa sakitnya setengah mati?! Jangan mengada ngada" ucap Shirou sambil berlalu pergi
"Kau mau kemana?"
"OSIS" jawab Shirou singkat tanpa menoleh kearah Naruto
.
. *Drrrtttt* ponsel Naruto bergetar
Naruto dengan malas mengambil ponsel disakunya, "Hai?"
"Seharusnya kau tidak menggertak pada guru tadi" ucap orang disebrang sana
Naruto tak menjawab, ia hanya diam mendengar ocehan orang itu
"Hoi, kau disana?" tanya orang itu dengan nada keras
Naruto menghela nafas
"Kau cukup berperan sebagaimana mestinya, tak perlu mencampuri urusanku" Naruto mulai membalas
"Tapi . . " Naruto menutup ponselnya sebelum orang itu menyelesaikan perkataannya
Naruto menarik nafas panjang, ia tak percaya apa yang sudah ia lakukan tadi. Di sisi lain ia merasa bersalah, semua ini sungguh diluar apa yang ia harapkan. Sesuatu yang tidak ingin Naruto rasakan, ini sudah terlewat batas
"Kalau seperti ini jadinya, kenapa kalian berpura-pura baik padaku!" Naruto depresi sambil menjambak rambutnya sendiri
"Kalian tak perlu berpura-pura baik kan!"
Memories Of You
Naruto berjalan menyusuri koridor, melewati orang-orang dengan tatapan benci mereka. Hinata yang saat itu berpapasan dengan Naruto hendak menyapanya, saat pandangan mereka bertemu, Naruto dengan cepat mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Tangan Hinata yang akan terangkat untuk menyapa Naruto pun ia turunkan kembali, niat untuk menyapa Naruto pun hilang seketika.
Perasaan Hinata tak enak, ia merasa tidak melakukan apapun. Ia tak ada hubungannya dengan semua ini, tapi kenapa ia malah dihindari. Mata Hinata memandang jauh keluar
Terdengar sirine mobil polisi dari depan sekolah, "UZUMAKI NARUTO, segera keluar dan tunjukkan dirimu. Aku ulangi, UZUMAKI NARUTO, segera keluar dan tunjukkan dirimu"
Tiga mobil polisi sudah berada didepan sekolah Naruto. Polisi itu terus memanggil Naruto dengan pengeras suara dan menjadi pusat perhatian. Hinata pun juga mendengarnya, sontak ia langsung memalingkan pandangannya kearah Naruto berada, tapi ia tak menemukannya.
Hinata langsung berlari dan melihat kearah para polisi itu. Hinata melihat orang yang tidak asing baginya, seorang pemuda yang ia lihat ditaman bermain waktu itu. Dengan perban memutari kepalanya ia memandang kesegala penjuru dengan tatapan tajam.
Semua penghuni sekolah pun langsung keluar dan melihat apa yang sebenarnya terjadi, guru pun tidak mau kalah. "UZUMAKI NARUTO, segera keluar dan tunjukkan dirimu!" polisi semakin keras berucap
Semua bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi, semua nampak bingung saat hal ini terjadi. Semua kejadian ini akan mencoreng nama baik sekolah mereka, "UZU-"
Belum sempat polisi itu menyelesakan kalimatnya, orang yang mereka cari sudah berjalan menuju mereka. Dengan sikap tenang, Naruto menghampiri polisi polisi itu.
*TAP* Naruto berhenti tepat didepan polisi itu. "Kau kami tangkap karena melakukan tindakan kekerasan" polisi itu berucap
Naruto dengan tajam memandang pemuda yang pernah ia pukul waktu itu. Tatapan mereka saling beradu satu sama lain, seperti tidak ada yang mau mengalah.
"Hoo, Chicken. Kau melapor ke ayahmu? Sungguh mengecewakan" Shirou berucap dari jauh juga dengan menggunakan pengeras suara yang ia dapat dari ruang OSIS
Seketika dengan cepat pemuda itu langsung mengalihkan pandangannya, tampak disana Shirou tengah menatapnya dibumbui dengan senyuman lebar mengejek. "Teme! Apa yang kau lakukan, bodoh?!" tanya Yahiko dengan nada sebal sambil memukul kepala Shirou
"Heh? Aku hanya membela temanku, lagipula aku juga ikut memukul orang dengan perban itu" jelas Shirou
"Tangkap dia! Dia juga ikut waktu itu!" emosi pemuda itu meledak
"HAI!"
Dengan cepat polisi itu segera berlari menghampiri Shirou yang tengah santainya menunggu dirinya ditangkap. Masih dengan senyuman lebar mengejek, ia menunggu polisi itu mendekat
"STOP! Aku bisa sendiri" Shirou menyerahkan pengeras suara pada Yahiko kemudian berjalan melewati polisi polisi itu mendekati Naruto
*PLAK* "Bodoh! Sudah kubilang harusnya kau memukulnya pelan saja waktu itu" Naruto memukul kepala Shirou dengan keras
"Mau bagaimana lagi? Semua terjadi begitu saja!"
Naruto dan Shirou masuk ke mobil polisi dengan santai, bahkan Shirou sempat-sempatnya melambaikan salam dua jari ke arah para penonton yang berdiam diri dengan wajah kebingungan.
Bad Scenario
"Seperti itukah cara anda berterimakasih? Anda harusnya ingat denganku"
"Jangan-jangan. . . Kau. . .!"
"Uzumaki Naruto, Namikaze Minato adalah ayahku. Orang yang menyelamatkan anda waktu itu"
"Kenapa dunia begitu sempit?!"
.
.
"Tunggu! Apa maksudmu ayah?! Kau hanya harus memasukkan mereka ke jeruji besi itu saja!"
"Diam anak bodoh! Kau selalu saja membuat masalah!"
"Tapi ayah, . . "
DESTINY
*Tap* *Tap*
Suara langkah kaki menaiki tangga terdengar jelas, udara dingin menyeruak masuk menembus hangatnya pakaian. Naruto menyipitkan matanya, melihat dengan jelas siapa yang tengah terduduk didepan pintu apartemennya.
Naruto menghampirinya dengan bersiul ria, "Apa yang kau lakukan?" tanya Naruto pada orang itu
Ia mengangkat kepalanya, memperlihatkan wajahnya. Terlihat jelas, mata yang memerah dari tatapannya. "Jangan bilang kau kabur dari rumah lagi?!"
Ia menggeleng lemah, "Minggir, kau menghalangi jalan, Hyuuga Hinata"
Hinata berdiri perlahan dan juga menyingkir agar Naruto bisa membuka pintu yang ia halangi sedari tadi. Hinata meyodorkan sesuatu pada Naruto, tas yang Naruto tinggal disekolah dibawa pulang Hinata.
"Ho ho, kukira hilang" ucap Naruto sambil mengambil alih tas dari tangan Hinata
"Ayo masuk, akan kubuatkan teh "
Hinata lagi-lagi menggeleng, "Sudahlah, jangan malu-malu" Naruto menarik Hinata masuk
"Aku pulang" ucap Naruto dan disambut dengan meongan kucingnya
Hinata langsung duduk disofa seperti saat ia tinggal disana. Naruto berjalan kedapur membuatkan teh untuk tamunya. Tak perlu waktu lama, ia kembali dengan segelas teh hangat ditangannya. "Kenapa kau didepan tadi? Apa kau sudah lama disana?"
"Lumayan, aku hanya ingin mengambalikan tas milikmu" Naruto mengangguk mendengar jawaban Hinata
"Ba-bagaimana dengan polisi?" tanya Hinata bergantian
"Itu hanya masalah kecil dari sekian banyaknya masalahku" ucap Naruto menyombongkan dirinya
"Syukurlah" ucap Hinata lega
Tak ada obrolan lagi setelah itu, Naruto yang sedang dikamar ganti baju, sedangkan Hinata yang sibuk melamun karena tidak ada kegiatan
"Na-Naruto-kun, aku pulang dulu" ucap Hinata dari balik pintu kamar
"Biar kuantar!" balas Naruto keras dari dalam kamar
Hinata menurut saja, mereka berdua menyusuri jalan pulang kerumah Hinata. "Aanoo, Naruto-kun, aku minta maaf tentang kejadian tadi pagi" ucap Hinata sambil membungkuk 90 derajat
"Tentang apa?" Naruto tak tahu apa yang Hinata maksud
Hinata bingung harus menjawab bagaimana. Sesekali ia menoleh ke Naruto dan menemukan Naruto dengan pandangan menunggu jawaban darinya. "Tentang teman sekelas yang berbuat buruk padamu"
"Oh, aku tidak marah tentang mereka yang berbuat buruk padaku, aku sudah terbiasa dengan hal seperti itu"
"Aku hanya marah kenapa mereka harus berpura-pura dengan wajah tanpa dosa, mereka tidak harus melakukannya, kan!" sambung Naruto dengan nada yang menekan diakhir ucapannya
Hinata memandang kebawah setelah mendengar ucapan Naruto, ia tak tahu harus berbuat apa kali ini. "Tapi Akihiko-san terlihat sangat marah waktu itu, bahkan dia. . . ."
"Biarkan, dia memang seperti itu, selamanya akan seperti itu" potong Naruto
Sekarang mereka berada dibus jurusan halte yang dekat dengan rumah Hinata. Bis yang hanya berisi sedikit penumpang karena sudah malam. Saat mereka turun dari bus, sinar bulan muncul dari balik awan malam. Naruto menatap keatas, mamandang jauh kelangit, "Ada apa?" tanya Hinata sambil memiringkan kepalanya
"Badai akan segera datang" jawab Naruto
Mereka berdua melangkah, menuju kediaman keluarga Hyuuga. Langkah yang tidak seiring, Hinata yang berjalan menunduk didepan dan Naruto yang memperhatikannya dari belakang.
"Aku menyerah" ucap Naruto tiba-tiba
Hinata berhenti dan langsung menoleh kebelakang. Ia tidak tahu dengan apa yang Naruto maksud, "Aku menyerah! Kau menang" ucap Naruto lagi dan Hinata tidak paham sama sekali dengan apa yang Naruto maksud
"Kau pernah bertanya padaku apakah aku menyukaimu" sambung Naruto
"Aku menyukaimu, Hinata"
Hinata terkejut bukan main, "Se-sebagai teman, kan?"
"Sebagai lawan jenis" balas Naruto cepat
.
.
.
"Maaf, bukan berarti aku tidak suka. Aku juga menyukaimu, kok" balas Hinata
"Tapi rasa sukaku terhadapmu mungkin berbeda, mungkin kau akan menjauhiku kalau sudah mengetahuinya" sambungnya dengan suara memelan
"Itulah yang kutakutkan" sambung Hinata lagi sambil mengalihkan pandangannya dari Naruto
"Oh" hanya kata itu yang keluar dari mulut Naruto
Setelah mendengar itu, Hinata langsung memandang Naruto. Ia terlihat dipandangan Hinata dengan senyum kecilnya. Mata Hinata melebar saat melihat Naruto seperti itu.
"Kalau memang begitu, kita mulai saja dari awal" ucap Naruto
Hinata semakin tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan. "Aku akan mengatakannya lagi kalau kau sudah benar-benar menyukaiku" Hinata semakin tak bisa berkata-kata
"Ayo pulang, dattebayo" senyum lima jari Naruto keluar
.
.
.
PROMISE
"Sialan, aku kira aku akan dipenjara"
"Bersyukurlah ada aku, bodoh!"
"Hai Hai, oh sial! Aku lupa menghubungi Yuriko-nee"
"Lalu sedari tadi dimobil kau melakukan apa?!"
"Sudahlah, ayo cepat! Kau tahu sendiri kan kalau dia marah seperti apa!"
Festival budaya pun dimulai, banyak para pengunjung yang datang. Klub-klub sibuk dengan senyuman mereka, semua nampak bahagia hari ini. "Naruto-nii, aku sudah disini" ucap anak kecil lewat telepon
"Aku segera kesana" jawab Naruto
Naruto segera berlari menuju tempat ia berada. Senyum sumringah nampak diwajahnya, masalah kemarin sudah ia lupakan dengan cepat. Mereka berada disana, anak panti asuhan atau bisa disebut adik-adik Naruto.
"Naruto-nii!" semua berteriak saat melihat Naruto berlari ke arah mereka
Naruto melambaikan tangan keatas, saat sampai didepan mereka Naruto nampak kelelahan dan juga dengan tatapan penuh tanya
"Heh? Kalian yang lain tidak sekolah?" tanya yang lain
"Kami minta izin" jawab perempuan berumur 15 tahun mewakili yang lain
Naruto memiringkan kepalanya, "Haruna dan yang lain juga datang?! Bagaimana bisa?" tanya Naruto lagi
"Shirou-nii yang menghubungi kami dan mengirimi kami tiket" jawabnya
"Anak kadal itu" umpat Naruto
"Kalau begitu nikmati lah, jaga adik-adik kalian ini" ucap Naruto dan dibalas dengan sebuah salam hormat dijidat
Semua langsung berhamburan berpasangan kecuali Hiroyuki Yui, gadis piano, gadis berkursi roda. "Yui, kau denganku saja" ucap Naruto dan dibalas dengan anggukan kebahagiaan
Sekarang Naruto sedang mengelilingi stand berjajar panjang milik Winter, Yui nampak bingung mana yang harus ia pilih. Ia terus menoleh ke kanan dan kekiri mencoba menentukan apa yang ia inginkan. "Ah aku mau itu" tunjuk Yui kesalah satu stand
Yui memilih permen kapas berwarna-warni, "Heh? Kau mau itu?" tanya Naruto meyakinkan
Yui mengangguk yakin, merasa tak ada kesalahan, Naruto segera mendorong Yui menuju stand yang ia inginkan. "Aku pesan dua"
"Siap"
"Kenapa dua?" tanya Yui
"Hoi hoi, yang ingin bukan kau saja" jawab Naruto dan Yui hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal
"Ini" Naruto menerimanya, saat ia akan memberikannya pada Yui, Yui menjawab tunggu sebentar sambil merogoh saku kecilnya. Naruto menyipitkan matanya, "Ini, simpan saja kembaliannya" ucap Yui dengan bangganya
Naruto tersenyum gaje, "Tapi nona kecil, uangnya kurang"
"Heh?!" Yui tak percaya, saat ia melirik Naruto nampak jelas kakaknya ini menahan ketawa
Naruto menyerahkan permen kapas itu ke Yui dan mengeluarkan dompetnya. "Bisa kembalikan uangnya tadi? Ini kuganti, kembaliannya tidak usah" penjual itu pun menerima sja, toh tidak meras dirugikan juga
Naruto melirik Yui, tatapan menyombongkan diri keluar dari pancaran mata Naruto. Yui hanya bisa tersenyum tertawa malu
Sekarang mereka menyusuri lorong sekolah, setiap Naruto melewati orang-orang dari sekolahnya, ia hanya mendapat tatapan tak enak. "Nee, kenapa dari tadi orang-orang ini melirik ke kita?" Yui menyadarinya
"Itu make up" jawab Naruto apa adanya, dan Yui hanya membulatkan mulutnya "ooh"
Naruto berkeringat dingin, kaki gemetar dan merasa badannya tak enak. "Yui, kau disini dulu ya, aku ke toilet dulu" ucap Naruto
"Kakak meninggalkanku?" tanya Yui panik
"Mau ikut?" tanya Naruto dengan wajah tanpa dosa
Yui menggeleng geli, "Jangan kemana-mana, ingat! Jangan kemana-mana!" ucap Naruto sambil menjauh
.
.
"Hoi, ini anak yang bersama Uzumaki tadi" ucap salah satu siswa
"Hei gadis kecil, mau bermain?" tanyanya
Yui memiringkan kepalanya, ia tak kenal siapa orang itu. Tanpa ada izin dari siapapun, siswa itu mendorong kursi Yui dengan kencang, "Tangkap ini, bodoh"
Sementara itu salah satu temannya sudah berada disisi lain, "Kyaaa, hentikan!" teriak Yui ketakutan
"Dapat! Kembali lagi!" temannya mengembalikan Yui tak kalah kencangnya
"Hei lihat itu! Sepertinya menyenangkan" ucap murid-murid yang lain
"Kumohon! Hentikan!" teriakan Yui semakin menjadi
Sudah tiga kali lebih Yui didorong kesana kemari. *TAP TAP TAP TAP TAP* suara lari dengan jelas terdengar
"BRAAAAKKKK!* Seseorang menendang siswa itu dari belakang dengan keras. *Tek* Kursi roda ia hentikan dengan kedua tangannya. Yui menangis sambil menutup kedua matanya, "Aku disini, jangan menangis lagi" ucapnya
Sementara itu, siswa yang ditendang tadi berdiri sambil mengaduh kesakitan. "Teme! Siapa kau ini! Menganggu saja!" teriaknya marah
Saat Naruto kembali dari toilet ia melihat sebuah keributan, suara tangisan kecil yang ia kenal. Dan juga orang yang ia kenal, saat Naruto memperhatikan lebih jelas, Yui tengah menangis. Shirou yang berada disana bersama Yui, dua pemuda dengan tatapan marah dan salah satunya nampak kesakitan.
Naruto berjalan mendekat, "Ada apa ini?" tanya Naruto pada Shirou
"Kau harus tahu apa yang sudah mereka lakukan" ucap Shirou dengan nada kesal
Naruto melirik Yui yang belum berhenti menangis, "SIALAN! AKAN KUBUAT KALIAN MENYESAL!" amarah Naruto meledak
Shirou memegang pundak Naruto, saat ia melihat kearah Shirou, Shirou menggeleng pelan. "Jika kau disini, lakukan sesuatu, pantat ayam" ucap Shirou
*BRAAAKK!* lagi, sekarang yang satunya dapat tendang dari belakang juga. Seseorang dengan tudung kepala muncul dari balik kerumunan.
"Kalian apakan adikku? Hah?!" Pantat ayam membuka penutup kepalanya
Sementara itu, dua orang yang sudah kena tendang pun panik kebingungan. Siapa sebenarnya dua orang itu. Tak mau memperpanjang masalah, kedua orang itu berlari kabur meninggalkan kerumunan.
Belum juga berhasil kabur, mereka jatuh tersandung kaki seseorang. "Ooppss, tidak sengaja" ucapnya dengan senyum palsu.
Sasuke menjadi pusat perhatian para perempuan, ia berfikir keras bagaimana caranya keluar dari lingkaran masalah ini. "Bisa kalian diam sebentar? Sebenarnya aku ini Homo lho" seketika itu wajah para perempuan beruban menjadi pucat pasi
Satu persatu pergi dengan tekanan batin yang sangat besar. Sasuke menyesal mengatakan hal seperti itu, "Lihat, bajumu jadi kotor" ucap Shirou merujuk pada baju Yui yang terkena makanan
"Naruto, apa punya baju ganti?" tanya Sasuke
"Kurasa disana ada, sudahlah jangan menangis Yui" balas Naruto sambil mencoba menghentikan tangisan Yui.
"Kau bawa kursi rodanya, aku yang gendong" perintah Naruto ke Sasuke
"Kau?" Sasuke menoleh ke arah Shirou yang ada dibelakangnya
"Maaf, jadwalku padat" balas Shirou sambil berlalu pergi
.
.
Mereka sekarang berada didepan klub fotografi, Yui berada digendongan Naruto. "Permisi" ucap Naruto sambil mengetuk pintu. "Hai. . . . Selamat dat-" ucapan Sakura tak sampai akhir setelah melihat orang dibalik pintu
"Haruno-san, apa kau punya kostum yang cocok untuknya?" tanya Naruto sambil melirik Yui digendongannya
Skura melirik gadis kecil yang berada digendongan Naruto. "Kalau aku punya? Apa untungnya buatku?" balas Sakura dengan nada sinis
"Ada apa?" tanya Hinata mendekat bersama dengan Ino
Samar-samar Ino mendengar pembicaraan Naruto dan Sakura tadi, "Ya, kami punya! Tapi tidak mungkin kami pinjamkan padamu!" Ino tak kalah sinisnya
"Sudahlah Naruto-nii, aku tidak apa-apa kok" Yui berucap pelan ditelinga Naruto
Hinata baru ingat kalau yang ada digendongan Naruto adalah gadis berkursi roda waktu itu. "Kami punya kok, bawa saja masuk" ucap Hinata tanpa panjang lebar
"Tunggu Hinata! Kau tidak bisa memutuskan begitu saja! . . . Kau harus membayar banyak untuk ini Uzumaki!" Sakura beda pendapat
"Apa belum selesai, Naruto?! Tanganku kesemutan dari tadi!"
"Iya, dia kesemutan"
Sasuke dan Sai menunjukkan dirinya, nampak jelas wajah kesal Sasuke dan senyum palsu Sai dengan jelas. "Sudahlah, kita cari tempat lain saja" Sasuke berpendapat
Sakura dan Ino melongo tak percaya, idola mereka berada tepat didepan mereka sendiri. Baru saja Naruto beranjak pergi, tangannya sudah ditahan dua gadis dengan pandangan innocence. "Tunggu! Ini FREE, FREE loh" ucap Sakura dengan girangnya
"FREE" tambah Ino
Sasuke menaikkan alisnya, Sai tetap dengan senyum palsunya dan Naruto nampak kesakitan akan cengkraman dua gadis itu. Mereka pun masuk ke ruang klub, "Yoo, Hinata" sapa Sasuke pada Hinata
Hinata mengangguk pelan membalas sapaan Sasuke, "Senang bertemu lagi, Hyuuga-san" giliran Sai yang menyapa dan Hinata mendapat tatapan iblis dari dua temannya
"Kenapa?! Kau curang Hinata!" ucap mereka berdua bersamaan
.
.
Kiba menurut saja setelah mengetahui apa yang terjadi. "Kurasa ini cocok" ucap Naruto sambil mengangkat kostum kecil
"Baiklah ayo ganti, Yui" sambung Naruto dan langsung menggendong Yui
"Apa yang mau kau lakukan?" tanya Hinata menghalangi jalan dengan merentangkan kedua tangannya
Naruto memiringkan kepalanya, "Memangnya apa lagi? Ganti baju" jawab Naruto
"Itu pekerjaan perempuan" balas Hinata cepat dan mengambil alih Yui dari gendongan Naruto
"Dasar mesum" ejek Kiba
"Mesum" giliran Sasuke
"Iya, Mesum" Sai pun tak mau kalah
Naruto hanya bisa memandang mereka dengan tatapan malas. Tapi entah kenapa, Naruto merasakan kalau inilah perasaan yang sesungguhnya, saling ejek satu sama lain. Hal yang tak pernah ia lakukan disekolah, hanya ucapan kasar yang selama ini ia keluarkan
Hinata dan Yui kembali, Yui nampak imut dengan kostum kecilnya, Ino dan Sakura sibuk sendiri dengan urusan pribadi mereka. "Nee Sasuke-kun, apa kau sudah punya pacar?" tanya Sakura
"Sai, bisa kau tunjukkan senyummu?" pinta Ino
Hinata hanya bisa menepok jidat melihat dua sahabatnya itu bertingkah bodoh. "Duduk disitu dan tunjukkan senyummu" Hinata berpaling ke arah lain
Nampak disana kiba sedang memotret Yui yang duduk dikursi kayu, "Ahh, senyummu kurang alami, begini saja, pikirkan hal yang membuatmu bahagia"
Yui nampak berpikir sejenak dan tanpa waktu lama senyum merekah diwajah kecilnya. *ckrek*Kiba tak menyia-nyiakan kesempatan itu, Hinata tersenyum tanpa tahu apa yang sudah membuatnya tersenyum
"Baiklah, segera kucetak" ucap Kiba
Naruto berdiri dibelakang Kiba, memperhatikan proses edit foto sebelum dicetak. "Inuzuka-san, bisa kau tambah tengkorak dibagian ini?" Naruto mulai ngelantur
"Heh?! Kenapa?!" tanya Kiba
"Biar kelihatan kawai, kau tau kan? Kawai" Naruto bicara tak jelas
"Kawai ndasmu!"
.
.
Naruto dan Yui meninggalkan ruang klub, Sai dan Sasuke masih tertahan disana karena dua gadis gila, fans mereka sendiri. "Maaf nona, aku ini homo lho" lagi-lagi Sasuke menggunakan trik itu
"Tidak masalah" balas Sakura dengan nada gembira
"Maaf nona, aku ini vegetarian lho" Sai mencari-cari alasan, alasan yang sangat tidak mempan untuk menghindari perempuan
"Hei Yui, mau lihat pertunjukkan piano? Aku dengar ada pertunjukkan piano lho"
"Benarkah? Ayo kita kesana" balas Yui dengan nada bahagia
Naruto mengeluarkan secarik kertas dari sakunya, "Hmm, kurasa sebentar lagi akan dimulai. Kita harus cepat" ucap Naruto setelah membaca isi kertas itu, tanpa babib ia segera mendorong Yui menuju aula sekolah
Saat mereka sampai di aula, pertunjukkan piano masih belum dimulai. Masih di isi oleh penampilan klub musik dari Winter. Masih ada 2 penampilan lagi sebelum pertunjukkan piano, tirai panggung turun menggantikan penampilan dari klub lain.
Penampilan klub paduan suara saat ini, setelah ini adalah pertunjukkan piano yang Yui nanti-nantikan. Sementara itu dibalik panggung, para anggota OSIS nampak kebingungan. "Hei bagaimana ini? Pasangan Reika tidak bisa datang, dia bilang dia harus terbang ke Eropa segera" Shion panik selaku ketua OSIS
Reika adalah pemain piano yang akan mengisi pertunjukkan kali ini. "Memangnya siapa pasngannya?" tanya anggota OSIS dari Winter
"Itu lho, Arima Kousei. Arrgh, kenapa juga dia harus ke Eropa?!" Shion frustasi
"Sudahlah senpai, tidak usah terlalu dipikirkan" Reika menenangkan
"Itu gawat, apa ada yang bisa main piano?" tanya Nagato sambil menoleh ke semua orang yang ada disana
Semua nampak bingung menandakan tidak ada yang bisa. "Apa harus berpasangan?" Yahiko menengahi
Reika mengangguk penuh keyakinan, "Hoi, stand disana menjual crepe enak loh" Shirou yang baru datang mengacaukan suasana
Shirou membaca situasi saat ini, matanya jelalatan kemana-mana. "Ada apa?" tanyanya sambil menggigit crepe ditangannya
"Pasangan pemain piano disana tidak datang" jawab Konan dengan sebuah crepe ditangannya
"Hoh, gadis itu kan?" tanyanya sambil menunjuk gadis yang ia maksud
Konan mengangguk tenang. Shirou menghampiri orang-orang yang mudah panik itu, "Mungkin kita harus membatalkan pertunjukkannya, senpai" ucap Reika dengan nada gugup
"Tapi bukankah ini pertunjukkan yang kau nantikan?" balas Shion
"Yah, aku ingin sekali tapi sepertinya semua itu hanyalah sebuah impian belaka" timpal Reika
Shirou bergabung bersama orang-orang itu,menyadari kedatangannya, Yahiko menatap Shirou serius. Ia tak mau lagi juniornya itu melakukan hal bodoh seperti kemarin-kemarin.
"Bisa kulihat sheet-nya?" ucap Shirou pada Reika
Reika langsung menoleh dengan cepat, nampak didepannya seorang pria dengan rambut kusut dan juga tatapan malas. Sungguh bukan pria yang diharapkan semua wanita didunia ini, yah karena tak mau dikatakan tidak sopan, Reika memberikan sheet musik yang ada ditangannya
Shirou menerimanya, "Arigato" ucap Shirou pelan
Ia terus melihat dengan jelas, deratan not yang sulit dipahami orang yang tidak bisa main piano. "Quatre Mains ya? Ini mudah" ucap Shirou tanpa beban sedikitpun
Mata Reika melebar setelah mendengar hal itu, 'jangan menilai orang dari luarnya saja' ternyata kata-kata seperti itu ada benarnya juga. "Serius?" tanya Reika meyakinkan
Shirou mengangguk pelan, ia sama sekali tidak ada semangat untuk melakukan hal ini. "Merepotkan" ucap Shirou dalam hati, memandang Reika dengan tatapan malas
"Dia gadis yang manis, tapi dia mungkin ceroboh dalam melakukan segala hal" Shirou lagi-lagi bicara dalam hati
"Arigato, etto. . ." Reika tidak tahu nama pemuda didepannya
"Shirou" ucap Shirou singkat
"Arigato, Shirou-san" Reika membungkuk memberi hormat pa Shirou
"Ah ah ah ah, itu yang tidak ku suka. Cukup Shirou saja, tak perlu embel-embel" ucap Shirou kemudian berlalu pergi mempersiapkan diri
Tirai pun kembali turun, saatnya pergantian personil. Suara gemuruh terdengar jelas dari balik tirai merah disana.
"Aku tidak sabar" Yui kelihatan sangat semangat
Saat tirai merah kembali naik, peralatan sebelumnya sudah berganti dengan piano disana. Dua buah kursi, Yui paham itu. "Ini penampilan pasangan" ucapnya pada Naruto
Reika keluar terlebih dahulu, wajah gugup nampak jelas dari para penonton melihatnya. Sementara itu Shirou tengah menahan rasa gugupnya, ia masih berada dibalik penutup panggung. *happ*
Yahiko mendorong Shirou agar menunjukkan dirinya kepenonton, siapa yang tidak gugup berada didepan banyak orang yang memperhatikanmu. Seolah-olah pandangan mereka menatap tajam lurus kearahmu, saat Shirou disana ia menoleh kearah penonton. Pandangannya tertuju pada gadis kecil yang duduk dikursi roda berada paling belakang
"Ahh, itu Shirou-nii!" ucap Yui spontan
Yui melambaikan tangannya ke arah Shirou, seketika rasa gugup Shirou hilang begitu saja. "Pelan-pelan mainnya, kasihan pasangannya!" teriak Yui ke Shirou
*puuk* Hinata sudah bersandar disamping Naruto, saat Naruto menoleh, gadis disampingnya itu malah menoleh ke arah lain.
"Kenapa kau?" tanya Naruto
Yang ditanya hanya terkekeh garing sambil beralasan tidak dapat tempat duduk. Naruto diam mengamati gadis disampingnya itu cermat-cermat, "Klubnya?" Naruto mencari bahan pembicaraan
"Saku- "
"Sudah mulai!" Yui memotong ucapan Hinata
Dentingan piano mulai bergeming memenuhi ruangan. Tanpa perlu aba-aba dari siapapun, Reika memulai dengan tempo cepat, memang seperti itulah seharusnya. Kepala Yui miring kekanan dan kekiri, mengikuti alunan melodi yang Shirou dan Reika ciptakan.
Shirou memainkan nada rendah sebagai pendukung nada utama. Ritme dan tempo yang berlalu cepat membuat Yui takjub dengan kakaknya itu. Matanya berbinar menyaksikan kakaknya tampil, Ini lebih bagus dari yang pernah ia mainkan selama ini.
Penampilan Shirou san Reika tak berlangsung lama, beberapa menit sudah cukup bagi mereka. Tirai merah turun perlahan. "Ayo kita sapa Shirou" ajak Naruto sambil mendorong kursi Yui menuju balik panggung, Hinata mengekor dari belakang.
Saat Naruto dan Yui suah berada dibalik panggung, Shirou langsung jatuh ke pelukan Yui, "Yui! Aku. . . Aku tidak bisa menikah!"
Naruto memiringkan kepalanya, ia tahu temannya itu aneh tapi kali ini sudah mencapai batas keanehannya selama ini. "Bercanda" Shirou langsung mengangkat kepalanya dibarengi senyum kecilnya
"Bagaimana?" tanya Shirou merujuk pada penampilannya tadi
"Itu sangat BAGUSSSS! Tapi ada miss tadi" jawab Yui
Shirou memandang gadis yang berada didekatnya dengan dengan pandangan malas. Merasa diperhatikan, Reika pun menoleh ke arah Shirou. Ia mendapati pandangan tak enak dari pasangannya tadi
"Dia yang buat miss tadi" ucap Shirou
Yui menggeleng, "Tidak, Tidak. Nada rendah lah yang miss tadi, mengakulah! Kau tidak bisa selalu sempurna, Shirou" Naruto ikut bicara
*cling* tatapan tajam langsung tertuju ke Naruto. "Anoo, terima kasih sudah menolongku" ucap Reika sambil membungkuk 90 derajat
"Ayo beli crepe" Shirou mengambil alih pegangan kursi roda Yui dari Naruto dan berlalu pergi
Naruto mengikuti kemana Shirou pergi, Hinata mengekor dibelakang Naruto, "Kau di abaikan" "Ya, kau di abaikan" semua mencoba berbicara jujur pada Reika
"Bo-boleh aku ikut?" tanya Hinata disela-sela jalannya
Shirou langsung menoleh, "Dia kakak yang baik lho, dia yang meminjamkan kostum ini" ucap Yui
Shirou tersenyum tipis, "Asal kau tidak mengganggu aku dan Yui, kurasa tak apa. Menempelah pada Naruto saja"
"Hyuuga Hinata" gumam Shion melihat Hinata mengikuti Naruto sedari tadi
.
.
Festival berakhir, semua orang nampak sibuk membersihkan perabotan bekas Festival. Semua nampak bekerja terkecuali Naruto, ia sudah lelah dengan semua drama ini. Ia lebih memilih berada dibelakang sekolah tempat ia melarikan diri seperti biasanya
"Yoo, melarikan diri dari tanggung jawab?" seseorang mengejutkan Naruto dari balik pohon
Naruto terkejut saat kepala orang yang ia kenal berada disampingnya dengan senyum yang mengerikan. "Shion –senpai? Apa yang kau lakukan disini?!"
"Semua ini hanya kebetulan" jawab Shion sambil menempatkan diri duduk disamping Naruto
Angin sepoi-sepoi menyapa mereka berdua, "Ahh, enaknya. Pantas saja kau selalu disini" ucap Shion
"Akhirnya aku tahu semuanya tentangmu, membentak guru, tidak pernah kena sanksi saat berkelahi, selalu membuat keributan. . . . "
Naruto sudah tak sanggup mendengar ocehan itu, "Tutup mulutmu, kau tidak tahu apapun tentangku" suara Naruto kelam
Shion berdiri, menepuk-nepuk rok belakangnya. "Baiklah, Namikaze" ucap Shion langsung berlalu pergi dengan cepat
Naruto mencabuti rumput disekitarnya, perasaan tak enak ia rasakan dari dalam dirinya. Tak mau berfikir lama-lama, ia menyudahi pelariannya dan meninggalkan tempat itu. Saat ia melewati lorong, gadis dengan keringat yang bercucuran ia lohat tengah berdiri menatap dunia luar dari jendela
Naruto tersenyum tipis, "Indah bukan?" tanya Naruto sambil bersandar di tembok
Menyadari kehadiran Naruto didekatnya, ia tersenyum merasakan angin yang menerpa dirinya. "Ah, ini benar-benar indah"
"Kau tampak lelah" ucap Naruto
"Hmm? Benarkah? Kalau begitu bisa belikan minum? Cola juga tak apa" balas Hinata diikuti dengan perintah
"Hai Hai, ojou-sama" Naruto berjalan membeli minuman
.
.
"Hinata, kulihat-lihat kau sedang dekat dengan si Uzumaki akhir-akhir ini" ucap Sakura yang baru datang
"Heeh? Apa iya?"
Hinata merasa tak enak pada inti obrolan ini. Ini sama sekali bukan urusan Sakura, "Tidak usah menyangkalnya Hinata, kami punya buktinya lho" ucap Ino sambil menunjukkan foto diponselnya
Foto saat Hinata berada di aula sekolah, dan berdiri disamping Naruto. "Eh? Ini- ini karena kau tidak dapat tempat duduk" Hinata mencoba mencari alasan
"Kalau ini?" sekarang foto saat Hinata, Shirou, Yui dan Naruto menikmati crepe mereka saat festival budaya
"Nee Hinata, apa kau menyukai si Uzumaki itu?" tanya Sakura dengan nada mengejek, dan juga Ino tak mau kalah
"Bo-bodoh!. Siapa juga yang menyukai orang seperti itu! Hanya orang bodoh dan buta yang menyukai si Uzumaki itu!" Hinata bersikeras membantah perkataan Sakura
"Benar juga sih, a ha ha ha ha" mereka bertiga tertawa
*klontang* suara kaleng terjatuh, Hinata, Sakura dan Ino langsung menoleh ke sumber suara. Mata Hinata terbelalak saat melihat orang didepannya
"Uzumaki! Kau mengotori lantai, bodoh!" gertak Sakura dengan suara lantang
"Bohong, ini semua bohong kan?"
"Na-Naru. . ."
Saat Hinata melangkah satu langkah mendekat, Naruto mudur dua langkah menjauh. Pandangan Naruto kosong, ia tak tahu apa yang harus ia lakukan.
Ia berbalik dan berlari tak tentu arah. Beberapa kali ia menabrak murid yang ada didepannya, "HOI! DIMANA MATAMU?! HAH!"
"Lihat! Dia selau membuat masalah"
Naruto menabrak orang sampai terjatuh, "Ahh, kukira inilah akhirnya"
"Sudah cukup bermainnya, aku senang dengan semua ini"
"KALIANLAH YANG MEMBUAT MASALAH!" Naruto memutar balik perkataan mereka
"KALIAN KIRA KALIAN SEKOLAH DIMANA?"
"LIHAT LINGKARAN DISAKU KALIAN!"
Semua yang ada disana langsung melihat lambang yang ada disaku baju mereka, Hinata pun tak luput. "ITU LAMBANG KELUARGA UZUMAKI! SELAMA INI KALIANLAH YANG BERADA DIBAWAHKU, BUKAN AKU!" Naruto berucap dengan suara lantang
"Ini tidak mungkin! Kau hanya membuat-buat!" bantah salah satu murid
"Itu benar" Shion ikut dalam pembicaraan
"Namikaze Minato adalah ayah dari Uzumaki Naruto" ucap Shion
Naruto menghembuskan nafas berat, "Tidak mungkin! Ini bohong kan!" semua yang ada disana membantah
"Terima kasih untuk semuanya. Sayonara" ucap Naruto diakhiri dengan senyum 5 jarinya dan berlalu pergi meninggalkan kerumunan
.
.
Pagi harinya, tas Naruto masih dilaci meja. Tak ada yang berniat memindahkannya, sampai bel masuk berbunyi siempu pemilik tas belum juga datang. Perasaan bersalah menyelimuti Hinata, *greek* suara pintu bergeser terdengar, tapi bukan itu yang ingin Hinata lihat
Hanya guru yang ada disana dan tak ada siapapun. "Etto, saya punya 2 pengumuman pagi ini"
"Yang pertama tentang festival budaya, sekolah medapat apresiasi dari pemerintah"
Semua murid bersorak bahagia kecuali Hinata,
"Dan yang kedua, teman kalian, Uzumaki Naruto-kun, ia pindah dari sekolah ini"
.
.
"Ini bohong kan?!"
.
.
.
.
THE END
.
.
"Kenapa kau ini?"
"URUSAI! Kau tidak tahu apa-apa!"
"Dia mati, dia mati. Dia sudah tidak ada, aku tidak bisa lagi melihat senyumnya"
"Ini semua salahku! Ini semua salahku!"
"Shirou, bisakah kau tenang?"
"Siapa kau ini?! Aku tidak mengenalmu! Kemana saat aku membutuhkanmu?! Aku selalu menolongmu!"
"DIA MATI! MATI! MATI! MATI! MATI! MATI! Senyumnya tak akan kulihat lagi, hwaaaaaaaa!"
"Shirou, peranmu berakhir disini"
