...Balesan review...
.
mira cahya 1 : huaaa mira-chan,, kamu pertamaxx. Omedetto... hehe.. iya nih fic baru untuk fans hitsuxruki yg kurang asupan (termasuk aku..hehe) karena udah mulai jarang yg buat cerita tentang mereka... untuk metensarkosi sdang dlam proses, sabar ya... ide nya lagi 'agak' ngadet #alesan author padahal lgi males. ini chap 2, selamat membaca... terima kasih sudah review.
sinji kazeri : oke. ini udah lanjut...
Chupank : sudah update... terima kasih sudah review
haruka-chan : karena ini cerita misteri jdi sya tidak bisa menjelaskan bnyak. takut spoiler. dan benar kalau perbedaan waktunya 23 tahun. dan kmu benar lagi, kalau enigma itu berkaitan dngan fenomena2 aneh yg sering terjadi di sekitar kita. akan saya kupas tuntas di fic ini ... hohoho... Metensarkosi-nya sabar ya... lagi dikerjain. dan maaf kalo agak lama... terima kasih atas dukungannya haruka-chan. selamat membaca chap 2...
ceda yagami : Yup, setting nya AU. Terima kasih sudah review ceda-san, selamat membaca chap 2...
Guest : oke. ini lanjutannya... terima kasih ya guest-san sudah me-review
Suit : hehe.. buku itu punya Byakuya. Dia kan doyan sma buku bgituan. seperti kata om Kubo tentang Byakuya, "prinsip tertulis jelas di matanya". iya bner beda waktunya 23 tahun, dan memang sengaja sya buat bingung. karena kembali ke genre nya yg misteri. selamat membaca chap 2... terima kasih sudah review
zera : oke zera-san, ini lanjutannya. selamat membaca ya...(BTW kmu review 2x.. tpi gpp biar banyak hoho). terima kasih sudah mampir
thathaa : Makasih thathaa. ini udah saya lanjut, selamat membaca ya... dan terima kasih sudah review
ing-chan : ciee...ciee... akun baru nih agaknya. Ohohoho...ini sudah update ing-chan... selamat membaca ya! maaf lama...
.
.
Sekali lagi terima kasih bagi yang sudah mereview/fav/follow/alert/PM :
│mira cahya 1│Haruka-chan│thathaa│Chupank│zera│sinji kazeri│inggar naghespegapha│Guest│Suit│ceda yagami │dan juga untuk para reader di seluruh dunia yang bersedia meluangkan waktu untuk membaca│
.
.
Happy reading!
.
.
Warning : AU, OOC, Ranjau Typo, banyak istilah, agak ngebingungin
Genre : Mistery/Romance
Disclaimer : I do own nothing
...
ENIGMA
...
Tetangga Baru—Bagian kedua
.
.
.
[Senin, 13 November 2000—Karakura High School]
.
.
Rukia baru saja tiba tepat di depan pintu kedua kelasnya, E-2. Ketika keriuhan ramai mirip lebah pekerja terdengar dari dalam kelas. Rukia sempat menghela napas sebelum tangannya bergerak menggeser pintu. Dan begitu pintu terbuka, pemandangan klasik ala' anak sekolahan di pagi hari menyapanya.
Yah, drama klasik di pagi hari untuk kelas E-2. Kelas tempat berkumpulnya siswa-siswi cerdas tapi kelakuan yang sama kacaunya dengan anak SMP.
Ichigo dan Renji yang sibuk berdebat dengan taruhan konyol mereka tentang 'Siapa yang berdiri paling depan saat menonton konser Muse?' kemarin. Chad yang hanya bergumam 'hm-mh' saat mendapat sapaan 'selamat pagi' dari Inoue. Chizuru yang sibuk memeluk Inoue lalu berakhir ditendangan maut Tatsuki. Ishida yang sama sekali tidak terusik dan tetap duduk tenang di bangku depan dengan buku pelajarannya dan sesekali membenarkan letak kacamatanya; ciri-ciri murid teladan. Dan Rukia sudah duduk di kursinya; urutan nomor 2 dari belakang, pinggir jendela, dan di belakang kursi Inoue.
Pagi ini kelasnya sangat ramai, walaupun ini keramaian seperti biasa. Paling-paling mereka akan berhenti ribut saat bell tanda masuk berbunyi. Hal itu tak membuat Rukia ambil pusing, dan lebih memilih menatap keluar jendela. Pemandangan pepohonan yang mulai menguning dan angin yang berembus kencang, ciri khas musim gugur, jadi lebih menarik ketimbang menyaksikan keramaian kelasnya.
Namun, semuanya berubah saat negara api menyerang... errr maksudnya ketika bel masuk berdering.
Kriiiiiiiiiing
Menandakan pelajaran pertama akan segera dimulai. Semua murid bergegas kembali ke tempat duduk masing-masing dan bersiap untuk memulai pelajaran. Dan Ishida terlihat berdiri dari kursinya, sedikit membenarkan letak kacamatanya, lalu beranjak keluar kelas.
Ishida Uryu, begitu nama lengkapnya. Ia adalah ketua dari kelas E-2 sekaligus ketua dari seluruh siswa di Karakura High School. Prestasi yang gemilang dan tidak tertandingi selama 2 tahun berturut-turut, membuatnya menjadi orang yang paling pantas untuk menjabat posisi tersebut. Tentu saja itu juga untuk menjaga nama baik ayahnya yang seorang dokter ternama di Karakura Town. Yah, sudah jadi rahasia umum menilik sikapnya yang super teladan.
Dan menjemput sensei di ruangannya, juga merupakan tanggung jawab ketua kelas.
Ishida berjalan mantap di sepanjang koridor sekolah menuju ruang guru. Koridor tampak sepi dikarenakan seluruh siswa sudah berada di dalam kelasnya masing-masing. Terlihat dari balik jendela kalau beberapa kelas sudah memulai pelajaran pertama. Hal itu membuat Ishida mempercepat langkahnya, khawatir kalau teman-teman di kelasnya akan menunggu lama; atau lebih mungkin untuk memulai keributan lagi.
Yah, jangan sampai hal itu terjadi. Karena akan merusak reputasinya sebagai ketua kelas teladan.
Sampai di sebuah ruangan dengan papan bertuliskan 'Ruang Guru', Ishida menggeser pintu ruangan. Suasana sunyi didapatnya ketika melangkah memasuki ruangan tersebut. Sepertinya para guru sudah berada di kelas masing-masing.
Mata biru di balik kacamata tanpa bingkai miliknya mengedarkan pandangan di seputar ruangan tersebut. Hingga pandangannya menangkap sosok wanita keibuan berambut kepang ke depan sedang duduk anggun di kursinya.
Ishida segera menghampiri dan berkata dengan sopan, "Unohana-sensei, hari ini anda mengisi pelajaran pertama di kelas E-2."
Namun minus tanggapan dari sensei yang dimaksud Ishida, yang malah sibuk dengan buku-buku di atas mejanya. Ishida hanya terdiam dengan tatapan heran melihat Unohana-sensei yang sama sekali tak berpaling. Tidak biasanya guru seni sekaligus wali kelasnya ini menghiraukannya.
"Baiklah. Kami tunggu di kelas, Unohana-sensei. Saya permisi!" Ishida menunduk hormat dan segera pergi meninggalkan ruang guru. Terdiam sejenak sebelum benar-benar melewati pintu keluar ruang guru. Mata tajamnya melirik sekilas Unohana-sensei yang terlihat lebih datar dari biasanya, tapi diabaikan Ishida dengan kembali melangkah.
Kembali berjalan di sepanjang koridor yang sepi, dengan pikirannya yang dipenuhi spekulasi aneh mengenai keacuhan Unohana-sensei. Tidak mungkin 'kan kalau Unohana-sensei tidak mendengarnya tadi. Karena biasanya begitu melihat Ishida datang, Unohanna-sensei akan langsung menyuruhnya membawa beberapa alat bantu mengajar lalu segera beranjak menuju kelas.
Sikap tidak biasa wali kelasnya membuat Ishida kepikiran sepanjang perjalanannya menuju kelas. Hingga ia sampai pada pintu geser kedua kelasnya. Dan saat itulah tatapannya jatuh pada seseorang yang berjalan berlawanan arah darinya. Sama-sama menuju kelasnya. Tak pelak mata tajamnya melebar dengan raut wajah tegang sepenuhnya.
"Ishida-san!" tegur seseorang itu ramah begitu mendapati Ishida berdiri terpaku di samping pintu kedua.
"Ayo masuk!" ajaknya kemudian yang dijawab dengan anggukan kaku Ishida, "I—iya... Unohana-sensei."
Dengan gerakan kaku pula Ishida menggeser pintu dan memasuki kelas tanpa memperhatikan pemuda yang sejak awal telah berdiri di belakang Unohana-sensei; mungkin karena keterkejutannya. Dan disusul Unohana kemudian melalui pintu pertama.
.
.
Ishida telah kembali ke kursinya dan sempat mendapat tatapan heran dari Ichigo yang duduk di belakangnya. Mungkin karena mendapati raut tegang tanpa sebab di wajah tirus Ishida. Begitu pula dengan Unohana-sensei yang telah duduk di kursi guru di depan kelas. Menarik seluruh perhatian para siswa termasuk Rukia untuk mengarah padanya.
"Ohayoo, minna-san!" sapanya kepada seluruh murid di kelas itu.
"Ohayoo gozaimasu, Unohana-sensei!" jawab para murid serentak, minus Ishida yang masih tegang dengan tatapan yang tak pernah lepas dari senseinya di depan.
"Maafkan atas keterlambatan ku, ada urusan yang harus ku selesaikan di ruang kepala sekolah."
Penjelasan Unohana-sensei semakin membuat Ishida mengerutkan dahinya semakin dalam. Bukankah baru saja ia menemui Unohana-sensei di ruang guru di lantai 1. Lalu apa maksudnya senseinya baru saja dari ruang kepala sekolah yang notabene-nya ada di lantai 3. Apa Unohana-sensei baru saja mengerjai Ishida? Lucu sekali.
"Baiklah. Sebelum memulai pelajaran hari ini, aku membawa seseorang yang akan menjadi teman baru kalian."
Seketika suara bisik-bisik antara para murid terdengar memenuhi ruangan, mewakili rasa penasaran mereka akan siapa gerangan sang murid baru.
"Apa dia seksi, Unohana-sensei?" terutama Keigo yang sepertinya sangat penasaran sampai-sampai nekad bertanya dengan suara keras.
"Huuuuuu..." yang langsung mendapat sorakan kompak dari para siswi dan suara tawa dari para siswa.
Di tengah sorak-sorai para siswa, Renji bergumam pelan, "Aku membencinya."
Dan sukses mendapat sebuah jitakan dari Ichigo yang duduk tepat di sebelahnya.
"Apa-apaan kau, kepala jeruk?"
"Perkataanmu itu tidak masuk akal, dasar kepala nanas merah!"
"Memangnya kenapa, muka strawberry!"
"Kau bahkan belum melihatnya, muka babon!"
Dan Rukia yang duduk tak jauh dari mereka ingin sekali rasanya memecahkan dua kepala buah-buahan itu.
Baiklah, kita tinggalkan saja percekcokan dua kepala beda warna yang tak kunjung habis itu. Dan kembali ke Unohana-sensei yang hanya tersenyum menanggapi antusiasme para muridnya.
"Silahkan masuk, Hitsugaya-san!"
Perkataan Unohana-sensei berikutnya, tak pelak membuat Amethyst Rukia terperangah ketika nama 'Hitsugaya' memasuki gendang telinganya. Membuatnya langsung lupa dengan Ichigo dan Renji, dan sepenuhnya menatap ke depan.
Tak lama setelah perintah Unohana-sensei, pintu pertama digeser oleh seseorang dari luar. Suasana hening langsung menyerbak seketika dengan semua mata tertuju pada pintu yang terbuka.
TAP TAP TAP
Bahkan suara langkah pelan terdengar bergema di ruang kelas ketika seseorang itu memasuki ruangan. Hingga si pusat perhatian sampai tepat di depan kelas dan berdiri tanpa ekspresi di tengah.
"Silahkan perkenalkan nama, alamat, dan asal sekolah mu, Hitsugaya-san!" perintah Unohana-sensei super ramah.
Suasana kelas yang tetap hening menandakan bahwa seluruh penghuninya—minus Unohana-sensei tentunya—menanti dengan harap-harap cemas siapakah gerangan sosok pemuda yang ada di depan. Dan tiga detik kemudian,
"Hitsugaya Toushiro. Yoroshiku!"
Dua suku kata untuk namanya, dan satu kata untuk kalimat perkenalan. Singkat. Padat. Dan tidak sesuai instruksi. Tapi mampu menghipnotis 'hampir' semua puluhan pasang mata yang ada di ruang sunyi itu. Namun, itu pun tak bertahan lama. Karena setelahnya—
"Cool~"
"Astaga, dia keren!"
"Manisnyaa~"
"Tampan sekali, sayang bukan tipe ku."
"Heh, boleh juga!"
"Kurosaki-kun!"
"Sepertinya dia tipe irit bicara."
"Aku membencinya."
"Hm-mh"
"Haah! Dia sama sekali tidak seksi, Mizuiro~~"
"Hey, rambutnya itu asli atau palsu?"
Dan masih banyak lagi suara-suara gaduh lainnya yang cukup meramaikan acara penyambutan murid baru di kelas E-2. Tapi tidak untuk Rukia yang justru menatap heran dengan kerutan di dahinya. Karena kalau memang 'Hitsugaya' yang berdiri di depan kelasnya saat ini adalah 'Hitsugaya' yang dibicarakan kakaknya kemarin, Rukia sungguh tidak menyangka kalau pemuda—yang ternyata masih se-umuran dirinya itu—berani tinggal di rumah mengerikan itu.
"Baiklah. Hitsugaya-san," sela Unohana-sensei diantara riuh sahutan para murid. Matanya berkeliling kelas mencari calon kursi untuk murid barunya. Dan begitu menemukannya, "Kau akan duduk di kursi kosong di belakang Kuchiki. Kuchiki-san, tolong angkat tangan mu!"
Rukia mengangkat tangannya sesuai instruksi sensei-nya yang langsung mendapat lirikkan sekilas dari sepasang emerald Toushiro. Rukia mulai menurunkan tangannya perlahan ketika Toushiro menunduk hormat pada Unohana-sensei dan berjalan menuju ke arahnya. Ekor mata lemonnya sempat melirik Toushiro yang baru saja melaluinya.
Dan satu kata yang bisa mewakili kesan pertama Rukia akan sosok pemuda yang duduk di belakangnya saat ini; Dingin.
Lalu setelahnya, bisa dibayangkan, kalau perasaan tak nyaman setia menghinggapi punggungnya selama pelajaran Unohana-sensei berlangsung. Rukia sama sekali tak bisa berkonsentrasi, pikirannya melayang kemana-mana. Ia merasa aura dingin di belakangnya seolah terus mengamatinya. Apa lagi Rukia sama sekali tidak mendengar pemuda bernama Toushiro itu bersuara. Jelas 'kan kalau ia merasa gelisah di bangkunya dengan punggung yang tegak dan kaku. Intinya Rukia merasa terintimidasi.
.
.
.
.
.
Bell tanda berakhirnya waktu istirahat akan berbunyi sekitar 15 menit lagi. Tapi Rukia memutuskan untuk kembali ke kelasnya lebih dulu, meninggalkan Inoue dan yang lainnya di kantin; memanggilnya heran. Karena Rukia hanya pamit lalu melenggang pergi begitu saja. Tentunya dengan senyum saat dirinya melambai pada teman-teman perempuannya. Entah kenapa, Rukia merasa kenyang lebih cepat dari biasanya. Mungkin ada sisa rasa terintimidasi yang terbawa dari kelas ke kantin.
Selain itu, Rukia memang selalu kembali ke kelas lebih awal. Kebiasaan untuk mempersiapkan diri menghadapi materi selanjutnya, tidak bisa dilewatkannya. Memeriksa kembali hasil pekerjaan rumahnya atau sekedar membaca buku untuk pelajaran selanjutnya, itulah kebiasaannya. Setidaknya, kebiasaannya inilah yang membuatnya bertahan di posisi kedua se-angkatannya. Dan untuk yang pertama, jangan ditanya, sudah pasti Ishida.
Tidak butuh lebih dari tiga menit untuk sampai ke kelasnya di lantai 2 gedung B. Pun ia hanya perlu berjalan santai. Begitu sampai, tangannya langsung menggeser pintu pertama tanpa perlu menunggu. Dan suasana kelas yang tak terlalu ramai didapat Rukia setelahnya. Ternyata ada beberapa murid yang sudah kembali lebih dulu atau memilih tidak keluar kelas saat jam istirahat.
Salah satunya adalah pemuda yang sedang duduk diam di kursinya, di pojok belakang, dengan bertopang dagu. Dia hanya diam dan sibuk melihat keluar jendela, entah apa yang dilihatnya. Sedangkan Rukia masih berdiri di ambang pintu yang terbuka dengan manik ungu yang memandang lurus sang Pemuda—Toushiro.
Mimik ragu sempat kentara saat Rukia melipat bibir bawahnya ke dalam. Bingung melandanya dengan kaki yang terpaku di tempat. Pilihan antara 'berjalan ke kursinya' atau 'kembali ke kantin' sedang ditimbangnya. Tapi tidak ada alasan baginya untuk memilih yang kedua, jadi pilihannya pun jatuh pada 'berjalan ke kursinya'.
Lalu setelah itu apa yang harus dilakukan Rukia, seakan lupa pada tujuan awalnya. Lagi-lagi pemuda Hitsugaya itu membuatnya bingung, dengan kaki yang belum bergerak. Pilihan berikutnya datang antara 'abaikan saja dia' atau 'tegur dia'.
Baiklah, pilihan kali ini cukup sulit. Kalau diabaikan pasti tidak sopan, berhubung Rukia adalah orang yang duduk paling dekat dengan si murid baru. Siapa tahu juga dia adalah si 'Hitsugaya' tetangganya. Setidaknya Rukia bisa berbasa-basi. Tapi pilihan kedua juga tidak terdengar bagus. Menegur bisa saja berarti akan mengusik kenyamanannya atau malah Rukia akan dibilang sok akrab. Menilik sikap si pemuda yang dingin dan terlihat tidak ramah.
Lalu sekarang Rukia harus apa? Berdiri di sini sampai bell masuk berbunyi?
Tidak. Ia tidak akan membuang waktunya sia-sia. Menarik napas panjang lalu membuangnya lewat mulut. Kaki kanannya melangkah, dengan pilihan 'abaikan' dalam hati. Dan kaki kiri melangkah dengan pilihan 'tegur'. Begitu terus secara bergantian : abaikan-tegur-abaikan-tegur-abaikan-tegur-abaikan.
Iris ungunya menatap lantai saat menghentikan langkah ketujuh tepat di samping kursinya. Begitu juga pilihannya yang berhenti pada : abaikan.
Baiklah, mau bagaimana lagi, itu sudah jadi keputusan kakinya. Jadi jangan salahkan Rukia walaupun kaki itu miliknya.
Rukia segera mengambil posisi duduk tanpa banyak pikir. Mengeluarkan buku sejarah dari dalam tas, membukanya, lalu membacanya, dalam diam. Berusaha untuk tidak peduli pada pemuda di belakang yang masih menghiraukannya. Walaupun jauh di dalam pikirannya, ia merasa terusik dengan sikap dingin si Hitsugaya.
.
.
.
.
.
.
"...peristiwa besar ini terjadi pada tanggal 6 Agustus 1945 dan merupakan peristiwa paling bersejarah dalam kemiliteran negara kita."
Mata sipit Ichimaru-sensei menatap bergantian antara buku sejarah di mejanya dan para murid di depannya. Semua mata pun tertuju padanya, memperhatikan dengan saksama. Beberapa diantaranya terlihat terpaksa. Seakan takut kalau Ichimaru-sensei akan membuka lebar matanya yang sipit kalau mereka berani tidak memperhatikan. Hey, tatapan Ichimaru-sensei itu bisa membunuh makanya ia menyembunyikannya. Begitu kabarnya.
"Tidak hanya itu saja, mungkin kalian tidak akan bisa membayangkan bagaimana penderitaan rakyat Jepang saat itu atas kesalahan dua kubu yang saling berperang mempertahankan prinsip politik masing-masing. Pemboman itu mengakibatkan kehancuran yang merata di—" penjelasan lanjutan Ichimaru-sensei berhenti tiba-tiba.
Menarik semua mata berganti dengan pandangan heran. Bertanya-tanya dalam hati sambil menoleh bolak-balik antara Ichimaru-sensei dan daerah yang ditatapnya. Daerah belakang dekat jendela. Yang turut mengikutsertakan Rukia bertanya heran dalam hati.
Apa Ichimaru-sensei sedang melihatnya? Tapi kenapa?
"Rukia-chan!" panggilan Ichimaru-sensei membuat Rukia sedikit tersentak.
Sementara semua murid menyorotnya dan beberapa mulai menatap cemas padanya. Baiklah, apa Rukia akan menerima mata kematian Ichimaru-sensei?
"I—iya"
Rukia terbata ketika menyahut pelan. Tenggorokannya terasa tercekat. Susah sekali untuk menggetarkan pita suaranya. Namun, seketika perasaan tertekan itu menguap ketika Ichimaru-sensei kembali berkata.
"Bisa panggilkan teman yang duduk di belakang mu"
"Eh!"
'Panggilkan? Maksudnya murid baru itu?'
"Aku tidak tahu namanya, gomen ne."
Ah, Rukia mengerti sekarang. Ichimaru-sensei bukan melihatnya melainkan orang di belakangnya.
"Baik... Ichimaru-sensei!" Rukia meragu.
Antara ikhlas dan tidak untuk memutar kepalanya ke belakang. Susah payah ia menghindar. Kenapa sekarang malah disuruh memanggilnya?
Dan begitu kepalanya menghadap si Hitsugaya, kontan Rukia sedikit terkejut. Pantas saja Ichimaru-sensei menyuruhnya. Ternyata murid baru ini lebih memilih memperhatikan jendela ketimbang penjelasan Ichimaru-sensei.
'Baiklah Hitsugaya, tamat riwayat mu! Sepertinya kau belum tahu julukan Ichimaru-sensei sebagai 'legenda mata kematian'.'
Rukia berdehem sekali sebelum menyahut pelan, "He—hey!"
Yang dipanggil pun menoleh, masih dengan tatapan dinginnya. Rukia menghela napas pelan lalu mengendikkan dagunya ke depan, ke arah Ichimaru-sensei, sebagai tanda bahwa ia dipanggil.
"Moshi-moshi! Kau terlihat asing. Siapa nama mu?" sapa Ichimaru-sensei saat si murid baru berdiri di tempat dengan postur tenang nan dingin.
"Hitsugaya Toushiro," ucap Toushiro datar.
Bisik-bisik mulai terdengar di antara para murid. Para siswa yang menebak tentang hukuman yang akan diberikan Ichimaru-sensei, dan para siswi yang berkomentar tentang sikap Toushiro yang menurut mereka 'keren'. Padahal cuman menyebutkan nama.
"Ah, Shiro-chan!" tukas Ichimaru-sensei menghentikan bisik-bisik yang cukup mengganggu itu. "Bisa kau lanjutkan penjelasan terakhirku?" lanjutnya.
Kalau disuruh mengulang materi yang telah dijelaskan karena tidak memperhatikan, itu hukuman normal. Tapi jadi tidak normal kalau disuruh melanjutkan. Hanya Ishida atau seseorang yang gila sejarah saja yang bisa melakukannya, mungkin Rukia juga termasuk. Dan semua murid pun memandang ragu pada Toushiro, yang bahkan baru masuk di hari pertama. Seakan tahu tidak ada harapan.
Toushiro pun menghela napas seadanya mendengar permintaan guru sejarahnya. Terdengar tidak masuk akal memang. Tapi menilik senyum Ichimaru-sensei yang tidak pernah lepas itu, Toushiro tahu ini sebuah desuasi. Jadinya tak ada pilihan lain selain menurut.
"Serangan Amerika pada 6 Agustus 1945 terhadap dua kota besar Hiroshima dan Nagasaki telah mengakibatkan kehancuran yang merata setelah tertimpa bom atom berkekuatan antara 15.000 dan 20.000 ton TNT. Bom Atom pertama yang dijatuhkan ke Hiroshima, 6 Agustus, dinamai "little boy". Dan yang dijatuhkan di Nagasaki, 9 Agustus, dinamai "fat man". Kedua bom tersebut dijatuhkan dari sebuah pesawat B-29 Flying Superfortress bernama Enola Gay yang dipiloti oleh Letkol. Paul W. Tibbets, dari sekitar ketinggian 9.450 meter atau 31.000 kaki. Senjata ini meledak pada pukul 8.15 pagi (waktu Jepang) ketika bom mencapai ketinggian 550 meter."
Toushiro berhenti sejenak, menunggu reaksi Ichimaru-sensei yang tetap bergeming dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Sedangkan para murid sama sekali tidak berkedip memandangnya, takjub mendengar penuturan sangat spesifik Toushiro. Dan Toushiro pun memutuskan untuk melanjutkan karena dirasa belum cukup membuat Ichimaru-sensei puas dengan penjelasannya.
"Akibat serangan itu, 140.000 orang tewas seketika di Hiroshima dan 80.000 di Nagasaki. Semua itu dilakukan oleh Amerika dan sekutunya dengan alasan untuk membungkam angkatan perang kekaisaran Jepang yang terkenal sangat heroik, pantang menyerah dan loyal kepada kaisar. Pada saat terjadinya pemboman tersebut, Presiden AS Harry S Trumman mengumumkannya lewat kapal USS Augusta dari tengah perairan Atlantik dan berujar bahwa perangkat itu (bom atom) 2.000 kali lebih hebat hulu ledaknya dari semua bom yang pernah ada atau terpakai di era tersebut, dan pemilihan kota Hiroshima atas dasar alasan bahwa kota tersebut merupakan markas militer Jepang dan juga sebagai kota pelabuhan besar untuk memasok peralatan perang. Jepang sendiri akhirnya menyerah pada sekutu 6 hari setelah dijatuhkan bom atom tersebut tepat pada tanggal 15 Agustus 1945."
"Sebenarnya, Bom atom kedua yang dijatuhkan di atas Nagasaki berasal dari tipe yang berbeda dari yang pernah diuji dampaknya oleh angkatan udara AS. Mereka sama sekali tidak memberi Jepang waktu untuk menyerah dan memilih dua kota yang sama ukurannya..."
Tunggu. Rukia dan Ishida tersentak hampir bersamaan dengan posisi keduanya yang masih menatap ke depan. Diikuti Ichimaru-sensei yang sedikit mengintip dari balik mata sipitnya. Mulai menyadari kejanggalan atas penjelasan mendetil Toushiro. Ichigo dan Renji pun mulai tampak terheran-heran mendengarnya.
"...Serangan itu bukanlah sebuah peringatan. AS tidak berencana mecegah kerusakan yang parah di Hiroshima dan Nagasaki, misalnya dengan menggunakan bom konvensional saja. Tapi mereka benar-benar bermaksud menghancurkan hampir setiap kota di Jepang dengan ledakan bom. Cukup aneh beberapa artikel mengenai "bom atom" jarang menyebutkan tentang pengeboman kedua yang dilakukan di Nagasaki atau mengenai jumlah korban di sana. Dan pada kenyataannya Jepang sesungguhnya tidak mampu untuk melawan serangan itu. Untuk menyerang pesawat pengebom itu saja pun tidak bisa. Tetapi para pemimpin Jepang masih enggan untuk menyerah, bahkan setelah pengeboman yang kedua atas Nagasaki. Seandainya kaisar Jepang memerintahkan kepada pihak militer Jepang untuk menyerah sebelumnya, mungkin pengeboman itu tidak perlu terjadi—"
"Ara... sepertinya kau sangat tahu sejarah, ne shiro-chan!" potong Ichimaru-sensei tiba-tiba dengan tutur khasnya. Disusul dengan senyum yang membuat garis bibirnya melengkung panjang, sehingga mata sipitnya semakin menyipit.
Senyum mengerikan yang membuat para murid bergidik ngeri, pun tak mampu merubah raut dingin Toushiro. Membuat Ichimaru-sensei semakin menarik sudut bibirnya.
'Menarik sekali. Tapi sayang, aku harus menghentikannya sebelum dia membeberkan semua rahasia negara.'
"...Bahkan di luar buku." tambah Ichimaru-sensei kemudian.
Perkataan lanjutan Ichimaru-sensei kontan membuat Toushiro tertegun di tempatnya. Emerald-nya sedikit melebar. Seolah sesuatu baru saja mengejutkannya. Dirinya kemudian berangsur kembali duduk. Dan kini Toushiro hanya terpaku pada buku cetak sejarah yang baru saja dibukanya.
"Baiklah, materi selanjutnya adalah..." Ichimaru-sensei memulai kembali penjelasannya.
Sementara beberapa murid diantaranya masih sibuk dengan pikiran masing-masing. Ishida, membenarkan letak kacamatanya sekaligus membenarkan pernyataan Ichimaru-sensei bahwa penjelasan murid baru itu telah keluar dari materi di buku pelajaran. Bahkan tidak di jelaskan di buku mana pun di perpustakaan. Wajah serius Ishida diam-diam mencurigai dari mana murid baru itu mengetahuinya.
Ichigo, masih belum melepas lirikannya pada Toushiro. Tatapan curiga itu kentara jelas ditambah kerutan permanen di dahinya. Sedangkan Renji memilih untuk menghiraukannya.
Inoue, melirik cemas ke arah Ichigo yang notabene-nya tahu kalo pemuda itu sedang melakukan hal yang sama pada Toushiro.
Dan, Rukia semakin bertanya-tanya akan siapa sebenarnya orang yang duduk di belakangnya ini. Manik ungunya melirik di ujung kiri matanya, curiga tentu saja. Rukia tahu benar kalau penjelasan terakhir pemuda itu sama sekali tidak pernah diberitakan sebelumnya.
Fakta mengejutkan itu semakin menambah kemisteriusan akan sosok seorang Hitsugaya Toushiro.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Tadaima!" sapa Rukia sesaat setelah memasuki rumahnya. Angin yang berembus dingin ini memaksanya buru-buru menutup pintu. Beruntung ia selalu membawa duplikat kunci rumah, jadi tak perlu repot menunggu seseorang membukakan pintu.
Kepala raven Rukia celingukan di sekeliling ruangan sepi dan sama sekali tidak mendapat jawaban dari seseorang di dalam rumah, membuatnya berpikir kalau sedang tidak ada orang. Rukia pun kembali berjalan setelah melepas sepatunya lalu mengembalikannya ke dalam rak sepatu.
Langkah kakinya membawa Rukia memasuki dapur, tenggorokannya yang kering memaksanya untuk menemukan air minum. Namun sesaat setelah Rukia membuka pintu kulkas, saat itu pula ia terkejut luar biasa. Dadanya bergemuruh dan napasnya tercekat. Berdiri kaku bak patung mannequin di depan kulkas yang terbuka.
"Onee-chan!" pekiknya cukup kuat dengan mata yang melotot.
Mendapati Hisana berdiri membelakanginya, yang baru disadari Rukia saat membuka kulkas. Suara ketukan pisau bertemu talenan lah yang mengejutkannya. Terlihat Hisana sedang sibuk memotong sayuran lengkap dengan celemeknya. Namun agak aneh karena Hisana tidak menggubris panggilan Rukia dan tetap fokus pada kegiatannya.
Suara ketukan pisau itu terdengar konstan. Membuat kedua alis Rukia yang tadinya terangkat kini jadi mengernyit heran. Ada apa dengan kakaknya? Tadi juga salam Rukia tidak dijawab. Berbagai dugaan memenuhi kepala Rukia antara 'kondisi kakaknya yang sedang tidak enak badan' atau 'mungkin kakaknya sedang ada masalah dengan Byakuya nii-san'. Tapi Rukia memilih untuk tidak menanyakannya dan berbalik untuk mengambil botol air dari dalam kulkas.
Lalu menenggaknya begitu saja dengan beberapa kali tegukkan. Rukia melirik Hisana yang masih bergeming. Kembali mendapati sikap aneh kakaknya. Biasanya Hisana akan langsung marah-marah kalau melihat Rukia minum langsung dari botol air tanpa gelas. Menurutnya itu kebiasaan tidak baik bagi seorang gadis. Tapi kali ini tidak, dan Rukia semakin yakin kalau kakaknya sedang ada masalah.
Kembali memilih untuk tidak bertanya, dan mungkin lebih baik menunggu kakaknya sendiri yang bercerita. Kalau memang ada masalah.
Rukia pun mencoba mencairkan suasana yang menurutnya agak sedikit hening ini. "Errr... Onee-chan, hari ini ada murid baru di kelas ku. Dan Onee-chan tahu, ternyata marganya Hitsugaya. Aku pikir mungkin saja dia adalah tetangga baru yang Onee-chan ceritakan kemarin. Aku hanya tidak menyangka ternyata dia seumuran ku. Sikapnya sangat dingin dan misterius. Lebih mengejutkannya lagi, dia duduk di belakang ku."
Rukia mengakhiri sesi ceritanya dan masih tidak mendapat tanggapan dari kakaknya. Membuatnya hanya bisa menghela napas dan memutuskan untuk kembali saja ke kamarnya. "Aku akan ke kamar. Kalau perlu sesuatu, panggil aku saja Onee-chan."
Pesannya singkat sebelum beranjak meninggalkan Hisana sendirian di dapur. Kakinya mulai menapaki tangga menuju kamarnya di lantai dua. Jujur saja, sebenarnya Rukia sangat mencemaskan kakaknya. Hisana yang murung dan pendiam terlihat aneh bagi Rukia. Tapi memaksa kakaknya untuk bercerita juga bukan keputusan terbaik. Lebih baik membiarkan kakaknya menenangkan diri dulu.
Lamunan singkat itu akhirnya mengantarkan Rukia sampai di depan pintu kamarnya. Tangannya terangkat memegang gagang pintu, tapi tak langsung membukanya. Rukia menelengkan kepalanya heran, ketika dirinya menyadari sesuatu yang terlupakan.
"Aku tidak mendengar suaranya sejak tadi. Apa Shirayuki sedang tidur?"
Ia pun kembali melangkah cepat menuruni tangga. Berniat menemukan Shirayuki atau kembali menanyakan kakaknya tentang keberadaan anjing putih itu. Namun, sebelum niat itu keluar dari kerongkongannya, dan di waktu yang sama ketika langkahnya sampai di depan pintu dapur yang terbuka, saat itu pula—
CEKLEK
—terdengar suara pintu depan terbuka. Tak lama kemudian disusul—
"Tadaimaaaaa...," sahutan riang khas Hisana, kakaknya.
Bak diguyur hujan salju, Rukia membeku di tempat. Tubuhnya kembali menjadi patung es dengan sekujur tubuh yang kaku. Hawa dingin menjalar perlahan dari ujung kaki hingga ubun-ubun. Wajahnya yang putih berubah pucat pasi seperti kehilangan darah. Rukia masih beku, bahkan ketika Hisana kembali berujar.
"Rukia, ternyata kau sudah pulang. Kenapa tidak menjawab salam one-chan?" nada kesal khas Hisana, kakaknya.
GUUK GUUK... dan gonggongan seekor anak anjing, Shirayuki, yang dicarinya.
Rukia meyakinkan diri untuk menoleh ke arah Hisana di depan pintu. Gerakan lehernya terlihat patah-patah dengan mata ungu bulat yang melotot ngeri. Sampai ia berhasil mengarahkan seluruh wajahnya menghadap Hisana.
"Rukia, kau ini kenapa? Jangan menakutiku," tanya Hisana heran seraya menyandarkan punggungnya di sofa ruang tengah dengan Shirayuki di pangkuannya.
Tidak salah lagi kalau itu kakaknya, Hisana. Rukia ingat benar bagaimana perangai kakaknya yang ceria dan berisik.
"Haaah~... aku lelah sekali. Tidak biasanya aku kelelahan seperti ini. Ne... Shirayuki, apa kau juga lelah berkeliling di pasar dengan ku?"
GUUK...
Melihat kakaknya asik bercengkrama dengan Shirayuki sama sekali tidak membuat hati Rukia tenang. Apalagi setelah tahu bahwa kakaknya dan Shirayuki baru pulang dari pasar. Itu artinya saat Rukia pulang seharusnya kakaknya tidak ada di rumah. Tapi, jelas-jelas tadi Hisana ada di dapur bahkan Rukia sempat berceloteh dengannya.
Secepat pemikiran itu datang, secepat itu juga ia menoleh ke arah dapur di belakangnya. Mencoba memastikan kembali bahwa Rukia tidak salah lihat. Dan begitu mendapati dapur yang kosong, bahkan sama sekali tidak ada jejak seseorang yang selesai memasak atau memotong sayuran. Jantungnya serasa anjlok.
Ya. Dapur itu bersih, bahkan sangat bersih. Dan Rukia menelan ludah saat merasa setetes keringat dingin baru saja melewati pelipisnya. Disusul sesuatu yang seperti meniup tengkuknya, membuatnya merinding hingga ke kulit kepala.
Jadi, siapa yang Rukia lihat di dapur tadi?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Termenung di depan meja belajar dengan beberapa buku yang terbuka. Niat awalnya yang ingin belajar berubah jadi ajang melamun. Peristiwa ganjil yang dialaminya siang tadi benar-benar menyita pikiran Rukia. Tiga jam sudah ia duduk bertopang dagu, tapi tetap tidak menjelaskan apa pun.
Sampai terdengar sayup-sayup teriakan Hisana dari luar.
"Rukiaaaa... makan malam sudah siap. Ayo cepat turun!"
Rukia menyahut, "Baik."
Segera ia beranjak dari depan meja belajar. Menunda lamunannya atau mungkin lebih baik dilupakan saja. Berharap kalau saja itu hanya sebuah delusi dari pikiran lelahnya. Kakinya melangkah cepat keluar dari kamarnya. Menuruni tangga dan bergegas untuk segera bergabung di meja makan.
Melaksanakan acara makan malam yang biasa bersama Hisana nee-chan, Byakuya nii-san, dan Hitsugaya.
Hah, Hitsugaya?
Rukia mengucek matanya, memastikan delusi apalagi yang kali ini dilihatnya. Tapi ketika sosok mirip Hitsugaya itu tak kunjung hilang, Rukia jadi yakin kalau itu bukan sekedar delusi. Itu benar-benar Hitsugaya. Hitsugaya Toushiro. Murid baru dari kelas E-2, kelasnya. Hitsugaya yang dikira Rukia adalah tetangganya. Dan Hitsugaya itu kini duduk di depan Byakuya nii-san dengan raut dingin yang sangat dikenal Rukia. Tapi, bagaimana bisa?
"Rukia, kenapa malah diam di situ? Ayo cepat duduk." tegur Hisana ketika melihat adiknya berdiri melongo.
Bahkan Rukia masing bengong saat menuruti perintah kakaknya. Mengambil tempat duduk tepat di samping Toushiro. Disusul Hisana yang meletakkan piring berisi lauk pauk di atas meja. Lalu menyediakan nasi di mangkuk dengan porsi sama. Mangkuk pertama diberikan pada Byakuya.
"Silahkan, Hitsugaya-san! Jangan sungkan," ujar Hisana seraya menyerahkan mangkuk nasi kedua kepada Toushiro.
Yang langsung diterima Toushiro dengan sedikit mengangguk, "Terima kasih."
"Rukia, kenapa kau diam saja? Kalian satu sekolah 'kan?" tangan kanannya terulur memberikan mangkuk nasi milik adiknya.
"Hah!" dan Rukia masih agak linglung ketika menerimanya.
"Tadi saat baru pulang dari pasar, nee-chan bertemu dengan Hitsugaya-san di depan rumah. Kupikir kalian satu sekolah karena seragam sekolahnya sama dengan mu. Jadi nee-chan mengajaknya untuk makan malam bersama dengan kita. Kau masih ingat tetangga baru yang nee-chan ceritakan kemarin 'kan?"
Rukia hanya mengangguk sebagai jawaban. Dan sedikit menambahkan fakta kalau—
"Dia adalah murid baru di kelas ku," penuturan Rukia yang mirip bergumam itu sedikit membuat mata Byakuya meliriknya.
"Benarkah?" dan juga mengundang pertanyaan mirip teriakan dari Hisana.
"Dia juga duduk di belakang ku," dan penuturan kedua ini sampai membuat Hisana sangat takjub memandang adiknya.
Lalu menoleh cepat ke arah Toushiro, "Apa itu benar Hitsugaya-san?"
"Aa," Toushiro mengangguk sekali sebagai tambahan.
Hal itu membuat Hisana bertepuk tangan senang. Terlihat dari wajahnya yang berbinar, "Sugoi! Kalau begitu kalian bisa berangkat ke sekolah bersama. Iya 'kan!"
Hisana memberi usul dengan sangat antusias. Kepalanya menoleh bergantian ke arah Toushiro, Rukia, bahkan Byakuya. Menunggu salah satunya memberi tanggapan.
"Hisana," panggil Byakuya dengan suara khasnya.
Onyx Hisana langsung menatap Byakuya, berharap kalau suaminya akan ikut antusias menanggapi. Walau itu terdengar mustahil. Karena Byakuya memang tidak menanggapi, "Duduklah. Dan selamat makan."
.
.
.
Ketika Hisana sibuk membereskan sisa makan malam, Toushiro berpamitan. Langsung saja kakak perempuan Rukia itu menyuruh adiknya untuk mengantar Toushiro ke depan. Dan jelas sekali kalau itu perintah semena-mena karena tatapan Hisana melarang Rukia untuk berkata 'tidak'. Walaupun enggan tetapi Rukia tetap menurut.
"Terima kasih atas makan malamnya," ujar Toushiro saat baru saja keluar rumah.
"Ucapkan itu pada Hisana nee-chan jangan padaku."
Mereka pun kembali terdiam setelah tanggapan singkat Rukia. Suasana canggung mulai kental terasa. Dan ditengah suasana yang kikuk, Toushiro kembali buka suara.
"Aku permisi!"
"Tunggu!" panggil Rukia tiba-tiba sesaat ketika Toushiro beranjak tiga langkah darinya.
Membuat Toushiro kembali menghadapnya. Rukia pun maju selangkah, "Kita belum berkenalan secara resmi. Namaku Rukia. Kuchiki Rukia." seraya mengulurkan tangan kanannya ke depan.
Emerald Toushiro menatap bergantian antara Rukia dan tangannya yang terulur di depannya. Kemudian tangannya pun bergerak menyambutnya dalam sebuah jabat tangan.
"Hitsugaya Toushiro."
.
.
TBC
.
.
A/N : Sekali lagi saya ucapkan terima kasih atas dukungan para readers sekalian, karena setelah membaca review dari kalian saya akhirnya memutuskan untuk melanjutkan fic ini (formal amat ya?)...sebagai bocoran fic ini akan berumur 13 chapter. Dan selama cerita berlangsung akan dibahas fenomena misteri yang melegenda tentunya dari sisi lain; sesuai judulnya 'enigma'. Maafkan saya apabila tulisan saya belum sesuai harapan para readers, oleh karena itu saya menerima segala bentuk tanggapan kalian. R.E.V.I.E.W please!
.
.
NB : Sejarah pemboman Hiroshima dan Nagasaki yang dijelasin Toushiro (penjelasan yang ketiga) adalah rahasia negara dan mulai terbongkar di depan publik sekitar tahun 2005, tapi belum diketahui di tahun 2000 (Maaf kalau salah). Dan mulai chapter depan, ENIGMA akan update setiap malam jum'at. Jadi, selamat bermalam jum'at dengan fic saya.. hihihihi #mukaserem
Yuki Sharaa
