Balasan review yang tidak login...
Haruka-chan : Waah.. Haruka-chan sugoiiii... bisa merinding sambil disko-an... hehehe. selamet ya Haruka-chan, telah menerima paket lengkap horor dari saya... hohoho. Hmm... saya memang berencana mengganti genrenya. tapi bukan ke horor atau supranatural... melainkan ke mystery/friendship. setuju kah? yah, syukurlah kalo humornya dapet. saya juga ketawa sendiri pas ngetik bagian itu. Ok. ini ch 3 sudah update... selamat membaca ya!
Suit : hehehe... kesan-kesannya suit-san buat saya ketawa bacanya. terima kasih atas pujiannya. berarti saya cukup sukses untuk eksekusi ch 2 kemarin ya? oiya, saya juga paling suka bagian itu. titik fokus misterinya Toushiro ada di part itu. malah bagian itu sempat menghambat pengetikan ch 2 kemarin. sangking bingungnya saya mau ngangkat misteri untuk nunjukin skill nya Toushiro (kok malah curcol?). saya tau dari browsing suit-san. hehehe... okedeh praduganya saya simpen dulu ya, soalnya belum bisa di jawab. gomen ne... ini ch 3 sudah update... selamat membaca suit-san!
Guest 1 : Okeeeee... ini sudah update. Silahkan guest-san!
Guest 2 : hmmm... apakah ini Zera-san? kenapa tidak da namanya? saya sempat bingung. untung saya ciren... hehehe. Ini sudah lanjut,, silahkan membaca!
thathaa : iya.. gomen lama. soalnya ada bagian yang sempet menghambat waktu pengetikannya thathaa. sebenernya gak serem kok, kalo bacanya ramean #please deh!. lho lho lho... kalah dalam hal apa nih? prestasi atau yg lain? hehehe... terima kasih udah suka. saya jadi lega. ini sudah update ch 3... selamat membaca ya!
.
Untuk yang login, sudah saya balas melalui PM ya!
.
Sekali lagi terima kasih bagi yang sudah mereview/fav/follow/alert/PM :
│mira. cahya 1 │Haruka-chan │thathaa │Chupank │zera │sinji. kazeri │inggar. naghespegapha │Guest │Suit│ceda yagami │Aosaki Sakurai │Ayra el Irista │Kiki RyuEunTeuk │dan juga untuk para readers di seluruh dunia yang bersedia meluangkan waktu untuk membaca│
.
.
Happy reading!
.
.
Warning : AU, OOC, Ranjau Typo, banyak istilah, agak ngebingungin
Genre : Mystery/Romance
Disclaimer : I do own nothing
...
ENIGMA
...
—Double Walker—
.
.
[Rabu, 15 November 2000]
.
.
Sudah Rukia duga sejak awal kalau usul kakaknya, Hisana, adalah ide yang buruk. Tidak, tapi sangat buruk. Entah apa yang merasuki kakaknya malam itu, hingga begitu girangnya memberikan usul yang menurut Rukia sangat konyol. Dilihat dari segi mana pun, jelas-jelas mereka tidak cocok. Ibarat es bertemu es, sulit melebur. Yang ada malah menambah suasana semakin dingin.
Salahkan kakaknya yang sepertinya tidak peka akan hal itu. Hisana telah dibutakan oleh pikiran lain di balik sikap antusiasnya saat mengutarakan usul konyol itu. Dan seperti yang Rukia duga (lagi), ini pasti berhubungan dengan 'menikmati masa muda'. Jadi menurut Hisana, Rukia tidak menikmati masa mudanya. Semisal; tidak pernah membawa teman (sahabat atau pacar) ke rumah, tidak pernah keluar rumah di luar jam sekolah (kencan), selalu pulang tepat waktu (penurut), dan lebih suka menghabiskan waktu dengan membaca ketimbang bergosip (kutu buku).
Bukannya itu bagus? Tidak. Karena hanya Hisana-lah sahabat Rukia (selain Chappy).
Lalu, bagaimana tanggapan dari pihak terdakwa? (dalam kasus ini, Kuchiki Rukia)
Tentu saja Rukia menyangkal karena ia sangat menikmati masa mudanya. Rukia selalu belajar sungguh-sungguh demi prestasinya, demi masa depannya. Rukia selalu patuh pada Byakuya, karena tahu itu demi kebaikannya. Dan soal buku dan tidak bergosip, itu fitnah. Rukia juga kadang-kadang ikut nimbrung kalau teman-teman perempuan di kelasnya sedang berkumpul di kantin, di taman sekolah atau di kelas saat jam istirahat. Walau hanya ikut menimpali seadanya. Lalu, apanya yang tidak menikmati masa muda?
Helaan berat baru saja dihembuskan, dengan mata terpejam sebagai bentuk penghayatan atas penilaian sebelah pihak sang kakak yang sangat tidak adil. Suara tapak sepatu bertemu aspal mengiringi kelopak mata yang terbuka. Menampilkan iris ungu bulat yang hanya terbuka setengah. Rukia memandangi jalan setapak yang dilaluinya, berpagar maple yang mulai meranggas. Cicitan prenjak dan gereja di ranting pepohonan, bersahutan diantara desiran angin. Cahaya pagi yang sedikit memberi kehangatan terselip diantara dahan-dahan pohon maple, bergerak membayang ketika angin menggoyangkan dedaunan.
Desau angin yang menerbangkan dedaunan kuning berjari lima milik jajaran pohon maple, sempat mengalihkan matanya. Yang kemudian kembali lagi pada setapak jalanan yang terkubur oleh momiji. Orange dan kecoklatan mendominasi lukisan musim gugur di kanvas kota. Mengiringi empat pasang kaki yang melangkah hampir beriringan diantara dinginnya pagi di musim gugur.
Dan semuanya berubah jadi musim dingin ketika Rukia menoleh sedikit kebelakang. Ini dia penyebab Karakura mengalami musim dingin lebih cepat. Sekaligus penyebab lamunan Rukia merambat kemana-mana.
Pemuda dingin dengan sikap acuh yang sejak tadi hanya berjalan dalam diam dengan satu tangan yang terkubur di saku celana abu-abu panjangnya dan menenteng tas di pundak dengan tangan lainnya. Manik turquoise-nya menatap datar ke depan, dengan rambut spiky putihnya yang sesekali bergerak karena angin.
Pemuda itu—Toushiro—benar-benar menghiraukan gadis Kuchiki yang masih serius mengamatinya di balik pundak mungilnya. Entah sadar atau tidak, Toushiro tetap saja cuek berjalan sedikit di belakang Rukia.
Membuat kening Rukia semakin menekuk ketika sebuah kesimpulan didapatnya.
'Dia sama sekali tidak berbicara kalau tidak ditanya.'
Kemudian kembali menatap jalanan di depannya. Sweater kuning gading berlogo KHS yang dikenakan Rukia sama sekali tidak membantu menghalau aura dingin nan kaku di sekitarnya. Rukia sungguh kehabisan ide. Bingung mau bertanya apa lagi. Ini sudah dua hari, dan Rukia sudah tidak punya apa-apa lagi untuk diutarakan. Lebih tepatnya malas. Efek samping dari balasan acuh Toushiro yang hanya menjawabnya dengan; "Hm...", "Tidak.", "Entahlah!", "Begitu.", "Bukan urusanmu!", dan sejenisnya.
Membuatnya jadi pundung sendiri. 'Kan sudah Rukia duga kalau pergi ke sekolah bersama dengan si Hitsugaya adalah ide yang sangat buruk.
.
.
.
.
.
.
.
[Karakura High School—08.50 Pagi]
.
.
Pelajaran pertama dimulai dengan Unohana-sensei yang telah berdiri di tengah podium kelas. Suaranya yang lembut juga tegas mengisi keheningan kelas E-2 yang didominasi oleh tatapan memperhatikan. Tidak semua mata terlihat fokus pada penjelasannya, karena Shodo bukanlah mata pelajaran favorit semua murid.
Seni untuk kelas khusus adalah tanggung jawab penuh milik Unohana-sensei. Tidak hanya Shodo, pun Bijutsu termasuk dalam naungannya. Kecuali Ongaku, yang pastinya, hanya milik Hirako-sensei.
"HOOAAAAAAA ... pfffffft ..."
Segumpal kertas tiba-tiba menjejali mulut Renji yang tengah menguap lebar. Membuat mata runcingnya mengirim deathglare pada tersangka utama di sebelah kirinya, dengan gumpalan kertas yang masih menyumpal mulutnya. Dan sang tersangka—Ichigo—kembali berlagak memperhatikan penjelasan Unohana-sensei dengan tampang serius dibuat-buat.
Renji jadi tersenyum licik. Memperhatikan sebentar bola kertas yang baru dikeluarkan dari mulutnya, lalu kembali menatap Ichigo di sampingnya. Ia sempat mendengus sekali dengan seringai yang semakin menjadi. Lirikkannya yang menyipit seolah berkata "Akan ku balas kau, Ichigo!".
Dan entah sejak kapan bola kertas itu telah terbang meluncur ke arah kepala orange Ichigo. Lalu mendarat tepat ke—
PLUK
"Aish..."
Renji berdecak pura-pura kesal. Begitu sasarannya meleset ke arah dahi dekat ujung mata. Tapi tetap sukses mencetak perempatan di kepala orange Ichigo, setelah bola kertas itu menggelinding ke bawah kursi.
Ichigo menoleh bersama wajah kesalnya. Namun berubah tertegun kala merasa sesuatu yang cair agak kental sedikit menetes dari pelipisnya. Sebelah tangannya bergerak menyentuh daerah yang terasa lembab itu. Dan begitu melihat cairan bening dan sedikit berbau di ujung jarinya, amber-nya bergetar. Tangannya pun gemetar. Gigi-giginya bergemeletuk. Lambat-laut wajah tegangnya kian berurat. Ichigo murka dengan dilatarbelakangi sambaran petir dan angin topan.
Menatap garang si Pelaku pelemparan bola kertas ber-saliva.
Sebaliknya, Renji justru balas menatap dengan sorot mata menantang. Kini kedua kepala berbeda warna itu berhadapan. Saling melempar hujatan melalui mata, yang kemudian menyulutkan aliran listrik tersambung di pupil mata masing-masing.
"Kau menantang ku berkelahi ya, Renji?"
"Kau yang menantang ku lebih dulu, Ichigo!"
"Kau akan menyesal!"
"Heh, kau pikir aku takut?"
PLETAK
Sebuah perempatan muncul di kepala hitam klimis yang membelakangi arena pertarungan mata tersebut. Sedangkan perseteruan 'dalam diam' itu pun masih berlanjut.
"Kita lihat saja nanti, babon brengsek!"
"Aku tidak mau kalau lihat saja. Aku menantang mu untuk berkelahi, dasar jeruk berongga!"
"Eh!"
Ichigo bingung. Sedikit tidak mengerti dengan tanggapan tidak nyambung dari lawan marahnya.
"Kau bodoh ya?"
Renji semakin terpancing emosi.
"Siapa yang kau bilang bodoh, jeruk tak berotak?"
"Ternyata kau memang bodoh. Jeruk tentu saja tak berotak, rambut api!"
PLETAK
Perempatan kedua kembali muncul di kepala yang sama. Diikuti naiknya pundak bergetar si Rambut Klimis seolah menahan untuk tidak meledak.
"Akan ku kupas kulit kepal mu, Ichigo!"
"Akan ku cabut rambut api dari kulit kepala mu, Renji!"
"Bakayarou! Kau tidak mungkin bisa karena rambut ku ini permanen."
"Kumoyarou! Kau juga tak akan bisa menyentuh kepala ku tanpa se-ijin ku."
"Grrrr..."
"Grrrrr..."
Selanjutnya, Ichigo dan Renji yang mulai membayangkan diri mereka yang saling menjambak rambut satu sama lain. Dan kini, giliran rambut mereka yang berteriak dalam diam.
"Lepaskan, Renji!"
"Lepaskan, Ichigo!"
"Kami juga mau bebas...!"
PLETAK PLETAK
Gunung api siap memuntahkan laharnya ketika perempatan ketiga dan keempat memenuhi kepalanya. Kedua daun telinga putih itu sudah memerah dan berasap. Kepala hitam itu semakin merunduk dengan pundak yang semakin bergetar. Hingga perang mata di belakang kepalanya telah berubah menjadi perang dengusan dan geraman.
Ishida pecah. Dengan sekali sentak ia memutar tubuhnya ke belakang. Lensa kacamatanya yang berkilat berhasil memutuskan aliran listrik antara mata Ichigo dan Renji. Keduanya pun menoleh bersamaan ke arah Ishida yang entah kenapa terlihat lebih besar.
"Kurosaki! Abarai! Diamlah! Atau ku benturkan dua kepala tak berguna kalian."
Ishida meracau. Suaranya menggeram kesal sedikit berbisik. Ichigo dan Renji bertukar pandang, kembali berbicara melalui mata.
Kepala orange Ichigo mendongak sekali, bertanya.
"Ishida kenapa?"
Bahu Renji mengendik tidak tahu,
"Entahlah!"
Ichigo mengangguk seolah paham,
"Mungkin dia lelah."
Renji ikutan mengangguk,
"Aku setuju."
Bingung, tentu saja. Heran, apa lagi. Aneh, ya Ishida aneh. Tadi dia bilang 'diam'. Memangnya Ichigo dan Renji sudah bikin keributan? Kecuali Ishida bisa mendengar semua pertengkaran batin antara Ichigo dan Renji barusan. Ini dia yang bikin aneh!
Tidak seperti itu. Ishida tidak punya kemampuan telepati apalagi kemampuan membaca pikiran. Dia hanya terlalu peka (baca : sensitif) dengan keadaan.
Kilatan cahaya kembali melintas di kedua lensa optik ketika Ishida membenarkan letak kacamatanya dengan satu jari telunjuk. Wajah putihnya yang terlihat serius tidak menyadari ketika semua mata telah beralih menyorotnya yang belum berbalik badan.
"Ishida-san!" teguran ramah Unohana-sensei menyentaknya.
Ishida berbalik dan mendapati Unohana-sensei tengah tersenyum menatapnya. Mengerti maksud dari tatapan sensei-nya, Ishida berdiri. Berdehem sekali sebelum berlanjut untuk menjelaskan situasinya dengan tutur khas-nya yang eksplisit.
"Sebagai ketua kelas teladan, aku wajib menegur Kurosaki dan Abarai yang kupikir sedikit beris—"
"Ishida-san!" Ishida tercekat ketika Unohana-sensei kembali menegurnya.
Bukan tegurannya yang buat Ishida bungkam. Melainkan senyum mistis penuh intimidasi yang terkembang di wajah sensei-nya-lah yang buat Ishida ciut. Apalagi ketika suara ramah Unohana-sensei kembali meminta perhatian, "Boleh aku melanjutkan penjelasan ku sekarang?" dengan penekanan di setiap katanya.
"Si—silahkan, Unohana-sensei!" Ishida jadi gagap karena gugup.
Wajah putihnya membiru pucat ketika dirinya berangsur duduk. Dengan keringat dingin yang sesekali menetes di keningnya.
Walau sebenarnya agak mengherankan kenapa Ishida yang ditegur kalau Ichigo dan Renji yang bertengkar. Tapi sayang, Unohana-sensei hanya mendengar pekikan kesal Ishida kala itu. Ishida yang malang. Sedangkan Ichigo dan Renji, sudah akur kembali.
.
.
.
Unohana-sensei baru saja mengakhiri penjelasanya. Pandangannya beralih menatap para muridnya setelah menutup buku di depannya.
"Baiklah, minna-san. Sebagai persiapan untuk evaluasi test, akan ku berikan kisi-kisi materi soal untuk kalian pelajari. Kalian bisa mencatatnya. Dan jangan lupa untuk segera mengumpulkan tugas praktik minggu lalu. Batas waktunya sebelum ujian dua minggu lagi," jelas Unohana-sensei.
Rukia tersenyum. Diam-diam bangga pada dirinya sendiri. Tugas itu sudah ia selesaikan sejak minggu kemarin. Bahkan sudah ditambahkan aksesoris lukisan Chappy di setiap sudut hashi miliknya. Senyum simpulnya semakin mengulum tatkala menyadari mungkin saja bakat Byakuya nii-san menular padanya.
Kemudian mata lemonnya melempar pandang pada teman-temannya yang mulai gelisah. Tidak untuk Ishida yang tetap serius menatap ke depan. Tentunya ia tidak mau kejadian tadi terulang. Ichigo dan Renji, tampak tidak terlalu peduli dengan tugas yang sama sekali bukan keahlian mereka.
Sedangkan beberapa murid mulai bersuara pelan. Saling bertanya tentang tugas praktik Shodo untuk Haiku karya Basho yang terkenal. Serangkaian kalimat indah dari sepenggal puisi dalam aksara kanji;
Furuike ya
Kawazu tobikomu
Mizu no oto
Ditambah latar riak air kolam atau serumpun daun bambu, menjadikannya tugas praktik shodo tersulit di pertengahan semester dua. Unohana-sensei memang terkenal dengan standar estetika-nya yang tinggi.
Pasrah. Dengan beberapa pasang mata yang mulai kembali fokus ke depan. Disusul meredupnya volume bisik-bisik antar murid. Mengembalikan suasana kelas ke dalam keheningan total. Semua mata menatap papan tulis, ketika Unohana-sensei telah memegang batang kapur dan mulai menuliskan kisi-kisi materi untuk ujian tertulis.
Suara kapur putih bertemu papan hitam membunyikan ketukan teratur di setiap goresan kata yang terbentuk. Menjadikannya satu-satunya pemecah sunyi yang mengiringi kegiatan para murid menyalin catatan yang tertulis di papan. Tidak ada yang bersuara. Hanya gerakan kepala mendongak dan merunduk yang tidak serempak ketika para murid bolak-balik menatap bergantian antara papan tulis di depan dengan buku catatan masing-masing.
Dan hanya Toushiro yang terlihat tidak melakukan hal serupa. Entah sejak kapan emerald-nya hanya menatap kosong jendela di sebelah kirinya. Mungkin sudah sejak awal kelas dimulai, ia sama sekali tidak memperhatikan Unohana-sensei. Bahkan pemandangan dedaunan kuning yang bergoyang karena angin, di luar jendela, pun tidak. Pikirannya seperti tidak berada di tempat yang seharusnya. Toushiro melamun.
Tapi seketika lamunan itu buyar ketika pendengarannya menangkap suara kursi yang berdecit tiba-tiba. Disusul dengan isakan napas dalam yang tercekat dari beberapa siswi di kelas. Toushiro menoleh ke arah sumber suara yang pasti berasal dari para murid di kelasnya. Saat itu pula kedua alisnya mengernyit heran.
Mereka tidak lagi menulis. Sedangkan pena masih tergenggam di sebelah tangan masing-masing. Seolah gerakan menulis mereka baru saja terhenti tiba-tiba. Tapi bukan itu yang membuat Toushiro heran. Melainkan raut aneh yang ditunjukkan semua murid. Manik hijaunya bergerak-gerak meneliti bergantian wajah-wajah yang terlihat tegang, shock, bahkan ketakutan itu. Beberapa siswi terlihat gemetar dengan bayangan garis-garis hitam di belakang kepala.
Toushiro semakin mengernyit tatkala menyadari semua pasang mata itu hanya menatap terperangah ke satu arah. Penasaran juga bingung, ia mengikuti arah pandang mereka. Setelahnya, ia pun kontan menahan napas dengan mata yang ikut melebar.
Melihat Unohana-sensei berdiri menghadap papan tulis yang terbentang sepanjang dinding di depan kelas. Guru seninya itu terlihat tenang menuliskan sesuatu yang sepertinya kisi-kisi materi soal ujian. Tapi sekali lagi, bukan itu yang membuat semua murid terkejut setengah mati.
Melainkan karena ada dua Unohana-sensei di sana. Saling berdiri bersebelahan dengan jarak sekitar satu meter. Keduanya memakai pakaian yang sama. Sama-sama berdiri menghadap papan tulis. Bahkan sama-sama melakukan gerakan menulis yang serupa. Bedanya, Unohana-sensei di sebelah kanan, tidak memegang kapur tulis. Sehingga tidak tercetak tulisan apa pun pada papan hitam dihadapannya. Walaupun gerakan tangannya seperti menulis layaknya Unohana-sensei di sebelah kiri. Seakan mengikuti.
"A—aku ... tidak ... salah lihat 'kan?" gumam Keigo bertanya entah pada siapa.
Bisikannya terbata di tengah keterkejutannya. Mizuiro mengangguk kaku di sebelahnya. Walaupun tahu kalau Keigo pasti tidak melihatnya.
"I—itu ... Unohana-sensei 'kan?" lanjut Keigo seraya menunjuk ke depan dengan tangan gemetarnya. "Kenapa ... ada du—"
Kriiiiiiiiiiiiing
Mereka tersentak hampir bersamaan. Beberapa berjengit kaget bahkan ada yang memekik saking terkejutnya. Dering bell tanda pelajaran pertama berakhir, kompak mengarahkan semua mata pada speaker di pojokan atap kelas. Menyalahkannya karena hampir saja meledakkan jantung mereka.
Terutama Keigo yang terlihat sangat kesal dengan napas yang memburu, akibat perkataannya yang tepotong di ujung kalimat.
Dan begitu semuanya kembali menurunkan pandangan ke podium kelas, mereka kembali membisu. Karena hanya mendapati satu Unohana-sensei yang telah berbalik dengan senyum Mahatahu-nya.
"Sepertinya kalian sangat serius memperhatikan, sampai begitu terkejut saat pelajaran berakhir."
Unohana-sensei tetap tenang, berkata seolah tidak terjadi apa-apa. Bahkan saat mendapati nihil tanggapan dari para muridnya yang bungkam. Tidak ada yang mampu bersuara, semua hanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Sampai Unohana-sensei berpamitan dan melenggang keluar kelas. Semua masih diam keheranan.
.
.
.
.
. . . . .
.
.
.
.
Gosip menyebar layaknya endemik. Baru kemarin peristiwa ganjil itu terjadi, kini hampir semua murid satu sekolah menggunjingnya. Topik hangat tentang penampakan sosok 'mirip Unohana-sensei' telah menjadi buah bibir di mana-mana. Entah siapa yang memulai, tapi siapa pun itu pastinya cukup ahli. Hingga desas-desus itu pun sampai merambah di kalangan para guru dan murid.
"Benar-benar mengerikan. Tangan ku sampai tidak bisa bergerak." Manaha Natsui, membuka percakapan di sela-sela acara makan siang bersama di taman belakang sekolah. Mengangkat kembali topik yang masih panas.
"Aku bahkan tidak berkedip menatapnya." Chizuru Honsou, ikut menambahkan sambil menunjuk matanya di balik kacamata berbingkai merah yang dikenakannya. Memberi kesan dramatis.
"Iya. Suara ku juga seperti tercekat di tenggorokan. Sulit sekali untuk bersuara." Michiru Ogawa, bergumam pelan. Ikut menimpali.
"Tapi, apa kalian juga merasa ini aneh? Kenapa penampakan itu menyerupai Unohana-sensei? Menurutmu bagaimana, Kuchiki-san?" Inoue menoleh pada Rukia di sebelahnya.
"Eh!" Membuat Rukia sedikit bingung ditatap oleh mata bulat kelabu Inoue yang terlihat begitu penasaran. "Iya, kupikir juga cukup aneh. Penampakan itu jelas bukan hantu, karena Unohana-sensei 'kan masih hidup."
Inoue mengangguk setuju. Tapi kembali termenung heran, "Lalu itu siapa?" tanya Inoue lagi sedikit melemah.
Ryou Kunieda, menatap dingin teman-temannya. Semilir angin menerbangkan helaian rambut panjang lurusnya, ketika suara rendah keluar dari mulutnya. "Mungkin saja itu roh penasaran penghuni kelas yang kemudian menampakkan diri menyerupai Unohana-sensei untuk menakuti kita."
Perkataan, suara, wajah, bahkan rambutnya sangat melengkapi kesan seram dari kalimat itu. Membuat yang lain semakin bergidik ngeri. Sekaligus mengakui bakat lain selain olahraga lari yang dimilikinya, Ryou juga sangat bertalenta untuk berakting di film horor.
"Sudah. Jangan diteruskan. Aku jadi tidak berani ke toilet sendirian," tukas Michiru cepat. Ia sudah tidak tahan dengan tema menyeramkan ini.
"Toilet?" Sebelah telinga Chizuru berkedut. Kemudian mendekat ke arah Inoue dengan semburat merah di pipinya. "Apa kau mau ke toilet, Hime? Ayo, aku temani!" Bergaya bak pujangga yang sedang merayu sekuntum bunga, Chizuru menggenggam sebelah tangan Inoue dan mendekatkan wajahnya.
"A—aku tidak sedang ingin ke toilet, Chizuru-chan!" Inoue jadi salah tingkah begitu wajah Chizuru semakin dekat.
Dan kembali Tatsuki datang sebagai si perusak suasana, bagi Chizuru. "Menjauh dari Orihime, Chizuru! Atau kutendang kau." Sebelah tangan Tatsuki menarik kerah belakang seragam Chizuru seperti kucing.
"Apa masalah mu, Tatsuki?" Chizuru meronta, wajahnya pun berubah jadi iblis. "Lepaskan aku. Kau bukan tipe ku."
"Diam kau, mesum!" Tatsuki balas berteriak.
"Sudah ... sudah ... Tatsuki-chan! Chizuru-chan! Hentikan, jangan bertengkar!" Sedangkan Inoue hanya mampu melerai dengan gaya kikuk dan panik.
Rukia tertawa melihat tingkah lucu teman-temannya yang cukup meramaikan suasana siang itu. Walaupun di kepala ravennya masih bermunculan banyak spekulasi tentang fenomena ganjil yang sempat menghebohkan kelasnya kemarin. Sedikit merasakan sebuah Déjà vu yang berhubungan dengan peristiwa itu.
Rukia mencoba mengingatnya, hingga pandangannya tak sengaja menangkap sosok yang cukup familiar baginya beberapa hari ke belakang. Di sana, si objek pandangan tengah berjalan melintasi sepanjang koridor gedung A. Surai putihnya terlihat mencolok bahkan dari posisi Rukia yang cukup jauh. Sampai sosok itu menghilang di balik tikungan. Iris violet-nya masih menatap ujung koridor gedung A yang tepat menghadap ke taman belakang. Bertanya-tanya dalam heran, hendak kemana si Hitsugaya itu.
"Kuchiki-san!" Rukia menoleh ketika suara Inoue memanggilnya. Kemudian menyodorkan sebuah susu kemasan, "Ini untuk mu! Tadi aku membawakannya untuk Kurosaki-kun, tapi ternyata kebanyakan. Jadi, dia menyuruhku untuk membagikannya pada teman-teman ku," ungkap Inoue polos.
Rukia sempat meragu, tapi tetap diterimanya juga. "Arigatou!"
Senyum manis pun langsung terlukis di paras cantik Inoue, "Sama-sama, Kuchiki-san!"
"Kurasa, Ichigo juga menyukaimu Orihime-chan" tebak Manaha setelah menimbang dari penuturan Inoue.
Yang sukses membuat wajah Inoue jadi merah padam, tapi tetap antusias. "Be—benarkah?" pertanyaannya jadi melengking.
"Hn ... Dia juga cukup perhatian pada mu." Kini wajah Inoue sudah berasap karena terbakar mendengar tebakan lanjutan Manaha.
Sedangkan Rukia hanya melirik bergantian ke arah teman-temannya sambil menyedot susu lewat sedotan. Tanpa berniat untuk ikut menimpali.
"Lalu, kau punya hubungan apa dengan si Hitsugaya, Rukia-chan?"
.
BRUUUSSSHH
.
Susu di dalam mulutnya langsung tersembur keluar begitu pertanyaan barusan mengejutkan Rukia.
"Ke—kenapa ... tiba-tiba menanyakan hal itu?" Rukia kaget. Sama sekali tidak menyangka pertanyaan barusan ditujukan padanya.
"Iya, itu karena sudah empat hari kalian terlihat datang ke sekolah dan pulang bersama. Padahal tidak ada seorang pun di kelas yang berani mendekati apalagi menegurnya. Walaupun dia sangat tampan. Itu karena si Hitsugaya terlihat sangat acuh dan dingin. Jadi, apa kalian sudah pacaran?"
Rukia menganga lebar. Ingin menyangkal tapi justru koakan putus-putus yang keluar dari kerongkongannya. Jadinya, ia hanya menatap tak percaya pada hasil kesimpulan cepat Manaha yang menurut Rukia sangat tidak relevan. Dan Rukia pun semakin tersudut begitu yang lain mulai memberondongnya dengan pertanyaan beruntun.
"Kuchiki-san, jadi kau sungguh pacaran dengan Toushiro-kun?"
"Sejak kapan kalian pacaran?"
"Bagaimana ceritanya?"
"Iya. Katakan sesuatu Rukia-chan!"
Tatapan dari dua belas pasang mata itu seolah ingin menelannya hidup-hidup. Ingin rasanya Rukia berteriak pada siapa pun untuk segera membawanya pergi dari sini. Tapi ini bukan saatnya untuk lari. Rukia harus meluruskan kesalahpahaman ini.
"Bu—bukan seperti itu," Rukia mengawalinya dengan menyangkal. "Itu... tidak benar."
Iya. Itu sangat tidak benar. "Hitsugaya-san... dia hanya tetangga baru ku." Ini dia alasannya kenapa mereka selalu terlihat bersama. Rukia tersenyum.
Tapi, sepertinya alasan Rukia justru menjadi pematik situasi menjadi semakin panas.
"Tetangga? Wah, tidak disangka ya!"
"Iya. Si Hitsugaya sengaja pindah agar bisa terus berdekatan dengan Rukia-chan."
"Toushiro-kun romantis sekali."
"Jadi, apa kau sudah mendapat restu dari keluargamu Rukia-chan?"
Rukia salah bicara. Senyumnya langsung pudar. Kepalanya jadi tengak-tengok dengan panik menatap satu-satu temannya.
'Tidak. Bukan. Kalian salah... Maksudku bukan begitu... Aku bahkan tidak kenal siapa dia...'
'Restu untuk apa? Dan apanya yang romantis? Dia itu semi-bisu...'
Lalu, sisa waktu istirahat siang itu pun dihabiskan dengan sesi interogasi. Rukia jadi tersangkanya, sedangkan yang lain jadi polisi semua. Bahkan Rukia tidak diizinkan memiliki seorang pengacara untuk melakukan pembelaan apalagi untuk naik banding.
.
.
.
.
.
Sementara itu di waktu yang sama dan di tempat yang berbeda...
Tersangka lainnya—Toushiro—tengah duduk di salah satu kursi yang terletak di pojok ruangan. Rak-rak tinggi menjulang berbaris teratur memenuhi ruangan yang sunyi, dengan buku-buku beraneka jenis tersusun disela-sela tingkatan rak. Menjadikannya latar belakang suasana saat Toushiro sibuk membolak-balik halaman buku. Sengaja memilih lokasi tersembunyi yang jarang dilalui pengunjung. Demi menjaga fokusnya pada objek di hadapannya.
Perpustakaan yang lenggang membantu Toushiro berkonsentrasi tatkala mata dan jari telunjuknya di pakai untuk menyusuri kalimat perkalimat secara bersamaan. Buku di hadapannya tampak lebar dan tebal ketika tangannya kembali membalikkan lembar ke halaman berikutnya. Mata dan jari telunjuknya pun kembali bekerja. Kini mereka meneliti setiap wajah dari tiap-tiap foto yang tercetak hitam putih. Satu persatu, diamati dengan saksama. Bahkan sampai halaman terakhir buku tahunan itu. Alisnya bertaut, karena Toushiro tidak berhasil menemukan apa yang dicarinya sejak tadi.
Dari beberapa buku serupa yang telah bertumpuk di sebelah kiri mejanya, tidak ada satu pun diantaranya yang memberikan jawaban. Kembali berpikir dengan sebelah tangan yang sesekali meremas gelisah.
'Tahun lalu, bahkan tiga tahun yang lalu pun tidak ada.'
'Lalu, aku harus mencarinya di tahun berapa?'
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jam dinding berdetak cukup nyaring. Mengisi keheningan ruangan kamar serba violet itu. Dua jarum jam yang berputar beriringan telah menunjukkan waktu malam. Dan Rukia masih bergeming di tempatnya. Duduk menghadap meja belajar. Kedua kakinya menekuk di atas kursi, dengan pose dirinya yang memeluk lutut. Rukia menggigit-gigit kuku ibu jari kanannya, tenggelam dalam memoar-nya.
Rukia ingat. Tapi tidak yakin. Alisnya bertaut, dengan ingatannya yang terus diputar ulang lalu di pause pada bagian yang sama. Kemudian membandingkannya dengan ingatan lain. Terlihat sama tapi terlalu berbeda. Sampai akhirnya ia menemui titik terang dari peristiwa Déjà vu-nya siang tadi.
Peristiwa yang hampir mirip antara Hisana, kakaknya, dan Unohana-sensei.
Tentang penampakan sosok lain yang menyerupai mereka. Tapi yang berbeda adalah sosok mirip Hisana tidak muncul persis di sampingnya seperti halnya Unohana-sensei.
Rukia semakin menekuk alisnya dalam, dengan genggaman tangannya yang beranjak ke depan dahi. Lalu mengetuk-ngetukkan ibu jari yang terlipat ke dahinya. Mencoba berpikir ulang.
Hingga suara ketukan pelan dari luar pintu menghentikan gerakan tangannya. Rukia menoleh saat sayup-sayup terdengar Hisana memanggilnya. Kemudian beranjak membukakan pintu.
"Apa kau sedang sibuk?" Kepala Hisana menyembul dari balik pintu yang terbuka ketika bertanya. Pandangannya berkeliling kamar adiknya untuk memastikan.
Rukia pun ikut melakukan hal yang sama, kemudian kembali menatap kakaknya. "Tidak. Apa nee-chan perlu sesuatu?"
Mendengar pertanyaan dari adiknya, Hisana tersenyum lebar lalu mengangangkat tangannya yang sedang menjinjing sebuah rantang. "Antarkan ini ke rumah depan."
Rukia mengerjap dua kali, sebelum merespon. "Apa?"
Sepertinya ia masih sedikit melamun, sampai kurang paham dengan permintaan kakaknya.
"Onee-chan masak banyak malam ini. Jadi, antarkan ini padanya untuk makan malam," ungkap Hisana lagi.
Rukia masih bengong di depan pintu. Belum beranjak atau mengambil rantang dari tangan Hisana. Otaknya masih loading. Sampai akhirnya Rukia paham maksud kakaknya.
"Onee-chan... menyuruh ku... mengantarkan... rantang ini... ke rumah... Hitsugaya... ?" ulang Rukia.
Dengan jeda dua detik di setiap frasa. Dan tangannya yang ikut menegaskan; menunjuk Hisana, menunjuk dirinya, menunjuk rantang, lalu mengacung lurus ke kanan. Seakan di sanalah rumah yang dimaksud.
Hisana tersenyum sebagai tanggapan, lalu segera menyerahkan rantang itu ke tangan Rukia. "Sudah, sana cepat pergi! Nanti makanannya keburu dingin." Lalu melenggang pergi begitu saja.
Tanpa menghiraukan Rukia yang masih melongo. Memegang rantang di ambang pintu dengan tampang pongah.
.
.
.
.
.
Rukia masih memberengut kesal ketika sampai di depan pagar tinggi berwarna putih. Sekali lagi ia menyalahkan kakaknya yang tidak peka. Dan semakin yakin kalau kakaknya pasti punya maksud lain di balik semua ini. Rukia paham kalau kakaknya memang perhatian, tapi tidak untuk tetangga baru yang baru dikenal.
Apalagi menyuruh adik semata wayangnya menyambangi bangunan yang lebih mirip rumah hantu ini. Padahal ia sama sekali belum pernah menginjakkan kakinya ke sini walaupun selalu berangkat dan pulang bersama dengan si pemilik rumah. Dan kini, ia terpaksa datang hanya untuk mengantarkan rantang berisi makan malam. Bisa saja 'kan kalau penghuninya itu ternyata seorang teroris atau buronan yang ternyata sudah diincar sejak lama oleh polisi.
Dan pikiran-pikiran negatif itu terus bergerilya di benaknya, sambil membayangnya wajah pemilik rumah yang dingin dan datar.
Rukia mendorong pagar putih itu dengan sedikit tenaga. Decitan besi tua memekik di tengah heningnya halaman rumah milik keluarga Hitsugaya itu. Mengintip sebentar sebelum mulai memasuki halaman. Rukia menjumpai beberapa lampu taman, tapi tidak ada yang menyala. Semakin menambah kesan mistis di pelataran yang gelap. Kakinya melangkah hati-hati. Waspada kalau-kalau ia akan menginjak hewan melata atau sejenisnya. Walaupun ia jadi heran sendiri kenapa bisa berpikir seperti itu. Memangnya rumah ini bekas kebun binatang?
Menatap sebentar pintu kembar yang menjulang dengan ukiran-ukiran dewa Yunani. Rukia mengehembuskan napas untuk menyiapkan dirinya, kemudian mengangkat sebelah tangannya ke depan pintu. Ia mengetuk sebanyak tiga kali. Lalu jeda sejenak seraya menunggu sahutan. Namun yang ditunggu tak kunjung menampakkan batang hidungnya, Rukia berdecak. Tangannya kembali mengetuk dua kali lipat dari jumlah awal. Lalu kembali jeda, menunggu dengan mengetuk-ketukan ujung sebelah alas kakinya ke lantai.
Lama tak ada respon, membuatnya semakin tidak nyaman. Suasana sunyi dan gelap di sekelilingnya sama sekali tak membuatnya tenang. Rukia kembali mengetuk pintu dengan tempo cepat tidak sabaran. Kepalanya sesekali menoleh ke belakang di sela-sela ketukan pintu. Dan saat mulutnya terbuka berniat meneriakkan nama si pemilik rumah, suara kenop terbuka menghentikannya.
Disusul terbukanya sebelah daun pintu perlahan. Kini Rukia bisa sedikit bernapas lega ketika mendapati Toushiro berdiri di ambang pintu. Walaupun mata itu masih menatap dingin, seperti biasa. Tapi juga sedikit mengernyit heran. Mungkin merasa aneh mendapati Rukia di depan rumahnya malam-malam.
"Hisana nee-chan meminta ku untuk memberikan ini padamu. Untuk makan malam." Rukia menyodorkan rantang di tangannya ke depan Toushiro. Sekaligus menjawab tatapan heran yang dilayangkan pemuda itu.
Toushiro menatap sebentar rantang itu, lalu segera meraihnya. "Terima kasih. Dan sampaikan juga pada kakak mu."
'Ternyata dia bisa juga mengucapkan kalimat panjang!', pikir Rukia. Karena yang ia tahu, pemuda ini irit bicara.
"Akan kusampaikan, permisi!" ujarnya lalu melenggang pergi.
Namun langkahnya terhenti ketika suara Toushiro mencegahnya,"Tunggu!"
Rukia menoleh dengan pandangan bertanya. Yang langsung dijawab oleh Toushiro, "Ada yang ingin ku tanyakan."
Mendengarnya penuturan itu membuat Rukia kembali menghadapkan seluruh tubuhnya ke depan Toushiro. Dengan pandangan heran yang belum lepas dari rautnya, Rukia menunggu Toushiro melanjutkan. "Apakah sepengetahuan mu ada murid lain di sekolah yang juga memiliki nama belakang 'Hitsugaya'?"
"Hah!" Rukia kaget. Ternyata si Hitsugaya ini juga bisa bertanya. Terlebih pertanyaannya yang bersifat ambigu, antara sengaja dan sangat disengaja untuk mengetest daya tampung otaknya. Lagipula itu 'kan marganya, kenapa malah bertanya pada orang lain?
Dan tanpa berpikir, ia pun menjawab dengan gamblang "Setahu ku tidak ada selain kau. Lagipula untuk apa kau menanyakan hal itu?"
"Tidak. Bukan apa-apa."
Rukia diam. Sudah cukup puas ia menadapat tanggapan acuh dari pemuda dingin itu. Dan ia memilih untuk tidak mendebatnya, dan kembali melenggang pergi.
"Ya sudah," ujarnya ikut-ikutan acuh. Namun sedetik kemudian Rukia berhenti lagi. Lalu kembali menoleh, "Ah! Mungkin sebaiknya kau ganti lampu taman yang mati itu. Agar tetanggamu tahu kalau rumah ini berpenghuni. Permisi!" ujarnya sewot.
Kini Rukia benar-benar meninggalkan Toushiro yang masih termangu menatap bergantian antara lampu-lampu taman dan punggung mungil si gadis Kuchiki yang mulai tenggelam tertelan kegelapan. Dan sepertinya, saran itu patut dipertimbangkan.
.
.
.
.
.
.
.
[Senin, 20 November 2000—Kelas Bijutsu]
.
.
.
.
Aula kelas seni rupa jadi tujuan utama para murid kelas E-2 saat jam pertama. Sesuai instruksi Unohana-sensei melalui Ishida, bahwa hari ini mereka akan praktik melukis benda hidup. Setelah peristiwa ganjil yang terjadi minggu lalu, gosip tentang penampakan itu mulai mereda. Tapi masih ada segelintir siswa yang mulai mengangkat topik itu kembali. Terutama pagi ini, saat kelas E-2 kembali akan berhadapan dengan Unohana-sensei setelah peristiwa penampakan itu. Beberapa siswa terdengar bisik-bisik membicarakan peristiwa itu, dan beberapa diantaranya menerka akan terulangnya kejadian serupa. Sedangkan para siswi hanya mencuri dengar dengan wajah takut-takut.
Sampai suara pintu geser menghentikan kasak-kusuk diantara para murid. Unohana-sensei memasuki ruangan dengan beberapa buku di pelukannya. Berjalan tenang ke arah meja guru di pojok depan. Para murid pun bergegas kembali ke kursi masing-masing. Dengan semua mata yang mulai memperhatikan Unohana-sensei yang telah duduk di kursinya. Suasana hening, bahkan terlalu hening. Didominasi tatapan penasaran dan cemas, semua murid menunggu Unohana-sensei memulai pelajaran atau setidaknya buka suara.
Tapi, guru seni itu tak kunjung bersuara, yang malah sibuk meletakkan buku-buku dari pelukannya ke atas meja satu persatu dengan tempo lambat. Merubah tatapan menanti para murid menjadi keheranan. Apalagi saat Unohana-sensei kembali menghiraukan mereka dengan sibuk membaca buku, sesekali tangannya bergerak membalik halaman. Duduk tegak di kursinya dan tanpa menatap siswanya sedikit pun, semakin memperdalam kerutan heran di dahi para murid. Toushiro bahkan ikut mengernyit heran dan mengacuhkan pemandangan di luar jendela sejak awal. Emerald-nya ikut memperhatikan Unohana-sensei yang terlihat sedikit aneh, dengan wajah datar tanpa senyum seperti biasanya.
Terlihat Rukia yang duduk di depannya, pun turut melakukan hal yang sama. Violet-nya tak lepas menatap Unohana-sensei yang jadi lebih dingin.
Lain halnya dengan Inoue, yang sepertinya lebih terpaku menatap ke luar jendela. Entah apa yang dilihatnya, karena tiba-tiba saja ia terisak kaget. Membuat Rukia yang duduk di belakangnya mendengar, dan mau-tak-mau melepas pandang pada Unohana-sensei, lalu ikut mengarahkan mata ke arah pandang Inoue.
Ishida tiba-tiba berdiri, membenarkan letak kacamatanya, dan berinisiatif untuk menyapa Unohana-sensei lebih dulu. Tapi urung dilakukannya ketika suara Rukia menyahut lebih cepat.
"Unohana-sensei!" panggil Rukia yang telah berdiri dari duduknya.
Ishida menoleh ke belakang dengan kerutan di dahinya. Menatap penuh tanya pada Rukia yang terlihat gusar. Sama halnya dengan Toushiro yang kini menengadah menatap Rukia yang berdiri di depannya. Juga Ichigo bahkan Renji, dan semua pasang mata kini menatap Rukia.
Tapi gadis Kuchiki itu justru terus menatap tajam ke depan, ke arah Unohana-sensei yang masih bergeming di tempat.
"Unohana-sensei!" panggilnya lagi sedikit lebih keras. Semakin menyematkan kebingungan di benak teman-temannya.
"Oii Rukia, kau kenapa?" Ichigo bertanya mewakili.
Namun Rukia sama sekali menghiraukannya. Dan kembali memanggil dengan suara yang semakin keras, "Unohana-sensei!"
"Kuchiki-san, apa yang terjadi?" tegur Ishida yang semakin tidak mengerti dengan tingkah ganjil Rukia.
Kembali menghiraukan teguran, Rukia masih menatap tajam Unohana-sensei. Napasnya terlihat mulai memburu dengan kedua tangan yang terkepal kuat, bergetar. Ia kembali berteriak, "Unohana-sensei! Saya mohon, tolong katakan sesuatu!"
Suaranya bergema di aula kelas yang hening. Namun tidak ada lagi yang menegurnya, karena kini semua murid turut menatap Unohana-sensei yang tetap bergeming. Tanpa bergerak, tanpa suara. Mata Unohana-sensei masih fokus menatap buku di atas meja, tubuhnya pun masih duduk tegak.
Semua murid menanti dengan harap-harap cemas. Dan semakin bertanya-tanya kenapa Unohana-sensei tak kunjung merespon. Hingga suara pelan sarat keterkejutan memecah keheningan itu.
"Di... bawah," gumam Inoue.
Kompak semua mata beralih menatap Inoue yang masih terpaku di depan jendela. Tatsuki yang duduk di depan Inoue bahkan sudah ikut menatap jendela lebih dulu. Disusul Toushiro yang berada paling belakang dekat dengan jendela sebelah kiri. Lalu disambut serombongan murid yang berebut ingin melihat keluar dari deretan jendela yang sama. Tak lama setelahnya, mereka hanya mampu tercekat dan memekik kaget. Beberapa siswi membekap mulutnya agak tidak menjerit histeris. Kini, semua mata yang menatap keluar jendela, telah melebar sempurna.
Menyaksikan dari jendela lantai dua kelas seni; Kepala sekolah Kyouraku-sensei, Ukitake-sensei, dan Unohana-sensei tengah berbincang akrab di halaman belakang sekolah. Berdiri saling berhadapan di pinggiran lapangan bola, para guru itu terlihat sedang membicarakan sesuatu yang penting.
Dan tanpa para guru itu sadari, keadaan mencekam telah melanda aula kelas seni yang dihuni anggota kelas E-2. Sebagian besar kepala itu kini dihuni satu pertanyaan yang sama dengan sebuah tanda tanya besar. Kalau yang sedang berbincang dengan Kyouraku-sensei dan Ukitake-sensei itu adalah Unohana-sensei yang asli, lalu yang duduk di depan kelas itu siapa?
Gerakan kepala mereka lambat-lambat mengarah ke depan kelas. Kembali menatap 'Unohana-sensei yang lain' yang masih duduk bergeming. Semua membeku... Semua bisu... Hanya gempuran detak jantung yang mampu didengar di telinga masing-masing. Susah payah Renji menelan ludah, mendapati peristiwa ganjil itu kembali terjadi. Kemudian ia tersentak tatkala melihat Ichigo di sebelahnya malah bergerak maju. Kakinya melangkah lambat dan sedikit mengendap-endap.
"I—Ichigo...," bisik Renji memanggil.
Sedangkan Ichigo tetap berjalan. Mata amber-nya menata lurus ke depan. Melangkah hati-hati seperti hendak menangkap hewan terbang.
"Ichigo... kau mau apa?" Tatsuki ikut berbisik. Sementara yang lain semakin menatap horor aksi nekad Ichigo. Sebelah tangannya merentang ke belakang, sebagai tanggapan dan juga isyarat agar teman-temannya tidak bersuara.
Hingga langkah Ichigo sampai di depan kelas, tepat di samping sosok mirip Unohana-sensei. Ichigo berhenti, jeda sejenak sebelum mengambil napas panjang lalu menghembuskan pelan melalui mulut. Masih menatap tajam, sebelah tangannya bergerak, terangkat ke depan. Dengan sangat perlahan, tangan gemetar Ichigo terulur semakin mendekat ke arah sosok mirip Unohana-sensei.
"Kurosaki...," bisik Ishida tanpa sadar.
Sementara yang lain hanya bisa menelan ludah, menahan napas, dan melotot horor. Mereka cemas sekaligus penasaran. Dengan jantung yang memompa cepat seakan hendak menjebol keluar.
DEG
DEG
DEG
Tidak ada yang berkedip. Bahkan Ichigo sendiri. Menatap tangannya yang gemetar, semakin memotong jarak antara ujung jemarinya yang memucat dengan pundak sosok 'mirip Unohana-sensei'. Hingga sampai pada batas sejengkal, tangan Ichigo berhenti di udara.
Yang lain pun tersentak. Bahkan juga Ichigo sendiri. Kaget saat tangannya tiba-tiba berhenti bergerak. Terlebih lagi saat ujung jemarinya menyentuh sesuatu. Ichigo mencoba untuk meneruskannya namun terhalang oleh sesuatu itu. Tangannya kemudian meraba dengan gerakan gugup. Hingga telapak tangannya merasakan sesuatu seperti sekat transparan yang terbentang menghalangi dengan jarak sejengkal dari pundak sosok itu.
Dan Ichigo masih menyentuhnya, sekat mirip kaca transparan itu, saat tiba-tiba sosok 'mirip Unohana-sensei' itu bergerak dari yang semula hanya diam tak bergeming. Ichigo pun terperanjat di tempatnya. Sempat membeku sesaat ketika kepala sosok itu mulai terangkat dari yang semula menunduk, perlahan namun pasti.
Dan seiring kepala sosok itu yang semakin menegak, Ichigo mundur. Dengan langkah yang begitu kaku. Dan tubuhnya yang menegang sempurna. Selangkah... dua langkah... tiga langkah...
BRUUUKK
Punggungnya menabrak meja di belakangnya dan jatuh terduduk di lantai. Ichigo masih beku dengan mata yang masih membelalak menyorot sosok itu. Hingga kepala sosok itu menegak sempurna, memperlihatkan wajah 'Unohana-sensei' tanpa ekspresi. Membuat napas Ichigo jadi setengah-setengah, sesak. Sementara yang lain hanya diam beku menatap penampakan di depan dan Ichigo yang gemetar ketakutan.
Kini, wajah 'Unohana-sensei' itu menatap balik dengan sorot mata datar dan tajam. Membuat semua jantung dan paru-paru yang ditatapnya, seperti berhenti bekerja. Lalu setelahnya, bak diserang badai salju di tengah musim dingin, semua murid berubah jadi patung es. Semua wajah mereka membiru pucat seperti jasad tanpa roh. Seperti mati berdiri, ketika tanpa diduga sosok tanpa ekspresi itu kembali menunjukkan pergerakan.
Ia menarik kedua sudut bibirnya lambat-lambat. Perlahan hingga terbentuk sebuah senyum. Terus melengkung hingga senyum itu semakin lebar... semakin lebar... lalu berubah menjadi seringai yang lebar... dan mengerikan.
Disusul memudarnya wujud mengerikan itu yang merambat perlahan dari bawah.
Keigo langsung pingsan di tempat. Sementara yang lain masih terpaku. Dengan gemetar hebat yang lolos dari tubuh masing-masing tanpa bisa dicegah.
Dan dari total murid kelas E-2 yang berjumlah 30 orang, hanya Toushiro yang masih mampu tersadar dari keterkejutan hebatnya. Kemudian segera menyambar sebelah tangan orang terdekatnya tanpa melihatnya, menariknya cepat dan berlari keluar kelas.
Suara pintu yang digeser kuat oleh Toushiro pun akhirnya ikut menyadarkan yang lainnya. Beberapa menoleh bersamaan ke arah pintu yang terbuka, dan kemudian terjadilah kepanikan.
"HUUAAAAAAAAAAAA..."
"Kyaaaaaaaaa..."
Suara teriakan-demi-teriakan itu menggema di seluruh penjuru kelas. Tatsuki segera menarik Inoue yang masih beku dan memaksanya berlari keluar. Disusul Chad dengan memanggul Keigo yang tak sadarkan diri, diikuti Mizuiro. Kemudian disambut suara meja kursi yang terdorong asal juga suara gedebak-gedebuk memeriahkan upaya penyelaman diri para murid. Akhirnya terjadilah aksi dorong-dorongan dari seluruh murid yang berjejal di depan pintu. Mereka berebut untuk keluar dengan teriakan-teriakan yang belum mereda, justru semakin menjadi. Sementara Ishida dan Renji serempak menghampiri Ichigo yang masih sesak napas terduduk di lantai. Keduanya segera membangkitkan Ichigo dengan menarik lengan kanan dan kirinya.
"Ichigo sadarlah, kita harus segera keluar dari sini," teriak Renji tepat di depan telinga kanan Ichigo.
Kemudian mereka segera memapah Ichigo dan membawanya beranjak keluar dari kelas seni. Meninggalkan sosok mirip Unohana-sensei yang masih menyeringai dan baru memudar setengah badan.
.
.
.
.
.
.
Tiga guru senior yang masih berbincang di pinggir lapangan, dikejutkan oleh suara teriakan tiba-tiba dan kegaduhan dari lantai dua. Ketiganya segera menengadah mencari sumber keributan yang bisa dipastikan berasal dari kelas seni, kelas Unohana-sensei. Mereka pun bertukar pandang heran setelahnya kemudian segera berlari mengahampiri sumber kekacauan.
Semua murid berhamburan ke luar kelas. Mereka berlari kocar-kacir. Sibuk menyelamatkan diri masing-masing. Dengan Toushiro yang masih berlari menarik seseorang yang turut berlari di belakangnya, menjadikannya pemimpin jalan bagi 'rombongan kabur' yang entah kenapa ikut berlari di belakangnya. Menyusuri lorong koridor sepi lalu berbelok menuruni tangga ke lantai satu. Dan terus berlari ke luar gedung walau sempat berpapasan dengan tiga guru senior di pintu depan yang hendak memasuki gedung dengan wajah bingung. Disusul Tatsuki yang menarik Inoue dan Chad yang masih memanggul Keigo, lalu Mizuiro. Sementara 'rombongan kabur' lainnya yang menyusul di belakangnya semakin berteriak panik dengan menunjuk-nunjuk.
"HUAAAAAAAA...," ketika berpapasan dengan Unohana-sensei di depan gedung. Dan kembali berlari dengan sesekali melihat ke belakang. Kemudian tak lama setelahnya, diakhiri oleh Ishida dan Renji yang berlari kepayahan memapah Ichigo yang terkulai lemas.
Melewati begitu saja tiga guru yang hanya tengak-tengok bingung melihat tingkah aneh murid-muridnya. Terutama Unohana-sensei yang sempat diteriaki murid-muridnya seolah ketakutan melihatnya, hanya bisa mengernyit heran. Dan tanpa menunggu lama, ketiganya segera menyusul 'rombongan kabur' itu.
.
.
.
.
"Kenapah khita ke sinih?" tanya Manaha dengan terengah.
Membungkuk dengan kedua tangan yang bertopang di lutut, ia menatap Toushiro yang tiba-tiba berhenti berlari ketika sampai di tengah lapangan bola di halaman belakang. Sementara rombongan lain yang baru sampai pun melakukan hal yang sama, menatap seakan bertanya dengan napas memburu sehabis berlari sambil teriak-teriak.
"Karena tempat terbuka adalah lokasi paling aman," jelas Toushiro singkat.
Sama sekali tidak terlihat kelelahan, karena Toushiro hanya fokus berlari tanpa berteriak. Iris turquoise-nya kemudian beralih pada seseorang di belakangnya. Yang kini tengah mengarahkan manik ungu kelam miliknya kepada Toushiro, menatap dengan pandangan yang sulit diartikan. Toushiro pun semakin mengernyit heran, ketika gadis itu—Rukia—masih terus menatapnya tanpa berpaling sedikit pun. Kemudian jadilah ajang tatap-tatapan diantara kedua insan berbeda jenis itu. Sampai suara Unohana-sensei memutus kontak mata antara si Hitsugaya dengan gadis Kuchiki.
"Di mana Ishida?" Unohana-sensei berjalan membelah kerumunan siswa. Diikuti Kyouraku-sensei dan Ukitake-sensei di belakangnya.
Ukitake-sensei yang ikut khawatir pun bertanya pada salah satu siswa di sampingnya, "Apa kalian baik-baik saja?"
Yang langsung mendapat gelengan lemah dari yang ditanya. Sementara Toushiro yang awalnya hanya menolehkan kepalanya ke belakang, melihat Unohana-sensei datang, kini mulai berbalik menghadap. Dan ketika ia berbalik, sebelah tangannya seperti tertahan. Toushiro kembali menoleh ke arah Rukia di belakangnya, lalu beralih ke arah tangannya. Saat itu juga ia baru sadar kalau ia belum melepas genggaman tangannya sejak ia menarik Rukia dari kelas. Semburat merah muda tipis menghiasi pipi keduanya ketika Toushiro dengan cepat menarik tangannya. Lalu sama-sama menatap ke arah Unohana-sensei. Seolah tidak terjadi apa-apa.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Unohana-sensei begitu Ishida menghampirinya setelah berhasil mendudukan Ichigo.
Terlihat Chad juga telah menurunkan Keigo yang telah sadarkan diri di sebelah Ichigo.
Ishida berdehem sekali seraya membenarkan letak kacamatanya, "Saya juga tidak yakin, Unohana-sensei!"
Ya. Semua yang ada di sana juga tidak yakin. Apakah ini nyata atau sekedar delusi. Tapi sebagai ketua kelas yang bertanggung jawab, Ishida tetap menceritakan kejadian sebenarnya kepada ketiga guru senior yang kini hanya bisa tercengang mendengarnya.
.
.
.
.
.
.
.
Rukia hanya terdiam di kursinya, sementara teman-teman sekelasnya mengitari dirinya dengan tatapan seribu tanya. Rukia di sidang seperti tersangka. Ia bingung harus berkata apa. Ia juga tidak tahu apa-apa. Bahkan ia pun bertanya pada dirinya sendiri, tentang tindakan spontan yang dilakukannya tadi pagi. Rukia memang orang pertama yang menyadari, tapi Inoue yang pertama kali melihat keluar jendela. Rukia juga orang pertama yang berteriak memanggil, tapi itu hanya sebagai pembuktian akan siapa sosok yang asli. Itu berarti, belum tentu ia mengetahui sesuatu atau bahkan segalanya 'kan!
Tapi kenapa teman-teman sekelasnya langsung memberondongnya dengan puluhan pertanyaan? Begitu mereka semua kembali ke kelas E-2.
Rukia memandangi kedua tangannya yang meremas ujung rok rample-nya, ketika ia bergumam pelan. "Aku... tidak tahu siapa sosok itu."
"Tapi kau memanggilnya...," Mizuiro mendesis dengan penuh penakanan.
"Aku hanya ingin memastikan kalau itu bukan Unohana-sensei. Bukan berarti aku tahu—"
"Doppelganger."
"Eh!" Rukia berbalik dengan satu sentakan cepat.
Semua peserta sidang dadakan itu pun kompak menoleh ke belakang. Ke arah Toushiro yang duduk bersandar di kursinya, yang tanpa diduga ikut mananggapi dengan raut tenang tapi serius.
Kini, giliran Toushiro yang menerima tatapan penasaran dari yang lain. Yang membuatnya hanya bisa menghela napas, sebelum melanjutkan.
"Berasal dari bahasa Jerman. Sedangkan dalam bahasa Inggris disebut 'Double Walker' atau secara harfiah berarti 'muka ganda'. Berbeda dengan penampakan hantu, roh, atau semacamnya yang merupakan refleksi arwah dari seseorang yang telah meninggal. Doppelganger adalah suatu fenomena untuk penampakan wajah atau wujud seseorang yang masih hidup. Doppelganger bukanlah sebuah bayangan, melainkan pantulan dari seseorang."
"Tunggu. Apakah maksud dari perkataan mu itu adalah sejenis kembaran?" Ishida bertanya di tengah penjelasan Toushiro.
"Bisa jadi. Ini seperti kembaran gaib," jawab Toushiro.
"Maksudmu, Unohana-sensei memiliki kembaran tak kasat mata?" Renji ikut bertanya penasaran.
"Bukan hanya Unohana-sensei, tapi siapa pun juga pasti memilikinya." Toushiro kembali menjawab tanpa merubah ekspresinya.
Terperangah seketika. Semua yang masuk dalam diskusi itu hanya mampu menganga tak percaya mendengar fakta mengerikan yang baru saja diutarakan Toushiro.
"Mustahil," desis Chizuru tanpa sadar.
"Awalnya aku juga meragukan. Tapi persepsi ku langsung berubah setelah melihat faktanya tadi pagi. Aku yakin kalau itu doppelganger," ungkap Toushiro lagi.
"Dan kau lari lebih dulu tanpa peringatan," timpal Renji sedikit kesal.
"Itu adalah gerak refleks. Dan soal peringatan... sepertinya itu bukan refleks ku," Ya. Karena berteriak 'Lari!' bukanlah gaya Toushiro.
"Tapi kenapa kita semua bisa melihat wujud gaib itu dengan sangat jelas?" giliran Ichigo yang bertanya heran.
"Sebenarnya, fenomena seperti ini pernah terjadi sebelumnya. Tanggal 12 April 1888, di British Museum of London, penampakan doppelganger milik Dr. Wynn Wescott yang disaksikan oleh para karyawan museum bahkan sempat mendapat sapaan dari rekannya, Mrs. Salmon. Padahal disaat yang sama, Dr. Wynn sedang terbaring sakit di tempat tidur dan tidak pernah keluar rumah sejak pagi pada hari itu. Lalu, kasus doppelganger termahsyur milik Abraham Lincoln, yang melihat 'dirinya' sendiri saat sedang berada di ruang tamu. Bahkan ia melihat dua kembarannya saat itu. Entah kapan fenomena ini pertama kali muncul. Namun pada tahun 1691, ditemukan catatan mengenai Doppelganger yang ditulis oleh Robert Kirk. Tertulis bahwa fenomena ini telah muncul dalam kisah-kisah rakyat Skotlandia dan Irlandia."
Toushiro menjeda, seraya menatap teman-temannya yang masih diam memperhatikan penjelasannya. Menatap dengan berbagai ekspresi dari serius, penasaran, takut, bahkan kagum.
"Ada beragam penjelasan mengenai kemunculan doppelganger. Ada yang percaya kalau doppelganger merupakan malaikat penjaga yang berwajah mirip dengan manusianya. Ada pula yang mengartikannya sebagai roh jahat yang mencuri rupa seorang manusia," lanjutnya.
"Ah! Aku setuju dengan yang barusan itu" Kaigo tiba-tiba berteriak.
Yang langsung mendapat tatapan membunuh dari semua mata yang lagi serius mendengarkan. Kompak menempelkan satu telunjuk di depan mulut masing-masing, dan menyuruh Keigo tutup mulut, "Sssstttttt..."
Keigo pun bungkam. Toushiro kembali melanjutkan.
"Tapi juga ada yang mengartikannya dalam konteks sains, yang menyebutnya dengan Doppelganger Syndrom. Ini sejenis syndrom yang mirip dengan sebuah perasaan di mana seorang pasien amputasi bisa merasakan kembali adanya anggota badan yang telah hilang. Sedangkan dalam kasus doppelganger, bukan hanya sebagian anggota badan yang dirasakan kembali, melainkan seluruh tubuh 'tambahan' dirasakan di luar tubuh dan berada di luar kendali. Dan si penggagas teori itu adalah Dr. Peter Brugger dari Zurich University Hospital."
"Aku juga pernah mendengar tentang syndrom tersebut, yang berhubungan dengan syaraf otak ketika mengalami guncangan, stress atau merasa kesepian. Yang kemudian menjelaskan tentang kemunculan bayangan yang disebut 'teman imajinasi', yang banyak terjadi pada anak-anak." Ishida menambahkan berdasarkan pengetahuan kedokteran yang dimilikinya. "Tapi aku belum pernah mendengar tentang teori doppelganger syndrom."
"Sebenarnya, ada satu penjelasan yang lebih masuk akal. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Shahar Arzy dari University Hospital, Jenewa, Swiss pada suatu waktu. Menjelaskan bahwa stimulasi elektromagnetik yang diberikan secara sengaja pada otak dapat menciptakan fenomena doppelganger. Terjadi persis seperti halusinasi yang sering dialami oleh penderita Schizoprenia atau paranoia. Eksperimen itu disebut Temporoparietal Junction (TPJ) pada otak kiri." Toushiro kembali melanjutkan.
"Tapi... aku tidak merasa seperti sedang berhalusinasi. Apalagi saat tangan ku menyentuh sekat yang menghalangi sosok itu," timpal Ichigo.
"Ya. Mungkin hasil eksperimen Arzy memang dapat menjelaskan pengalaman Abraham Lincoln. Tapi tidak untuk Dr. Wynn Wescott di British Museum of London." Toushiro menatap Ichigo.
"Benar. Karena tidak mungkin seluruh siswa dari kelas E-2 yang berjumlah 30 orang, mengalami gangguan Temporoparietal otak kiri secara bersamaan," Ishida menyimpulkan sekaligus menutup diskusi.
.
.
.
.
.
.
.
"Ketika doppelganger seseorang muncul, manusianya bisa mengalami kelelahan yang amat sangat tanpa sebab."
Rukia termenung. Kembali melamun menekuk lutut di depan meja belajarnya. Memutar ulang suara Toushiro dalam memoarnya berkali-kali. Mencoba memahami penjelasan tambahan yang disampaikan pemuda itu saat Rukia bertanya tentang ciri-ciri dan alasan dari penampakan fenomena itu ketika mereka dalam perjalanan pulang dari sekolah.
"Haaah~... aku lelah sekali. Tidak biasanya aku kelelahan seperti ini."
Rukia ingat kakaknya pernah berkata demikian. Ketika Hisana baru pulang dari pasar setelah Rukia melihat sosok Hisana lain di dapur.
"Dalam banyak kasus, Doppelganger dipercaya sebagai tanda-tanda kematian."
"Ada juga yang percaya, bahwa kemunculannya akan memberi nasihat seputar masa depan orang yang melihatnya."
Tanpa sadar, ia menggit bibir bawahnya. Menekan ketidakyakinan dan ketidakpercayaan pada kata-kata itu. Rukia paham dengan penjelasan itu, tapi ia sulit meyakininya. Lebih tepatnya ia tidak mau. Jika memang benar, berarti yang Rukia lihat memang doppelganger dari Hisana, kakaknya, beberapa hari lalu. Tapi, ia sama sekali tidak mendapatkan pesan apa pun.
Bingung yang melandanya membuat otaknya tidak mampu berpikir jernih. Hatinya resah dengan berbagai pikiran negatif yang menggelayuti benaknya. Ia sama sekali tidak bisa tenang. Ada sesuatu yang membuatnya begitu khawatir. Entah apa itu, tapi terasa mengganjal di pikiran juga hatinya. Apa kegelisahan ini muncul karena Rukia percaya?
Sebelah tangannya kemudian menarik laci meja di depannya. Mengambil sebuah buku bersampul ungu dengan bahan kulit dari dalam laci. Lalu kembali menutup laci setelah meletakkan buku ungu itu di di atas meja. Rukia menyamankan posisi duduknya, kemudian mulai membuka sampul buku. Membolak-balikkan halaman yang telah terisi hingga sampai pada halaman kosong. Pena di tangannya kemudian bergerak menggoreskan tinta hitamnya di atas lembar putih itu. Membentuk huruf menjadi kata, kemudian terkumpul menjadi kalimat, sampai paragraf.
Rukia menulis. Mencurahkan seluruh isi hatinya serta menceritakan peristiwa demi peristiwa yang dialaminya. Mengalir layaknya air, Rukia menggoreskan kata-demi-kata dengan begitu lancarnya. Di buku harian ungunya.
.
.
.
.
Sementara itu di waktu yang sama... pukul 07.00 malam.
Unohana Retsu baru saja menyelesaikan buku terakhir yang harus dikoreksinya. Kemudian menaruhnya pada tumpukan buku lain yang berasal dari kelas yang sama. Ini adalah minggu yang cukup sibuk baginya. Dan juga cukup berat. Karena ia harus segera menyelesaikan laporan nilai dari para murid asuhannya untuk mata pelajaran yang dipegangnya. Hal ini juga cukup menyita waktunya, karena dipaksa lembur hingga malam menjelang. Ditambah peristiwa tidak masuk akal yang menimpa murid-muridnya pagi tadi, sempat menjadi beban pikirannya. Namun tidak terlalu ditanggapinya yang lebih meyakini kalau peristiwa itu hanyalah halusinasi berlebihan dari para siswa yang terlalu banyak menonton film horor.
Unohana membereskan buku-buku dan peralatan tulis yang berjejer di mejanya. Kemudian bangkit dari duduknya dengan menenteng tas, lalu beranjak keluar ruang guru yang telah sepi. Suasana malam menyambutnya ketika ia berjalan di sepanjang koridor menuju pintu keluar gedung B.
Sepi dan temaram, menemani langkah sepatu pantofel-nya yang mengetuk lantai keramik dengan suara gema yang nyaring. Unohana terus melangkah tenang dan pasti. Hingga matanya menangkap seseorang baru saja melintas di depannya dan berbelok di tikungan koridor. Sekilas ia tercenung menatap koridor tempat seseorang itu berbelok. Sedikit tidak menyangka kalau bukan hanya dirinya yang lembur malam ini.
Ia pun memutuskan untuk berjalan mengikuti seseorang yang dilihatnya tadi. Berjalan semakin mendekat ke ujung koridor. Hingga langkah kakinya membawanya sampai di ujung koridor dan berbelok.
Dan saat itu pula, rasa penasarannya terjawab. Ketika Unohana mendapati seseorang itu ternyata tengah menghadapnya di balik tikungan koridor. Ia pun sempat berjengit karena terkejut, lalu tercengang setelahnya. Begitu ia menyadari siapa seseorang yang sekilas dilihatnya tadi. Tidak, itu bukanlah seseorang. Melainkan 'dirinya' sendiri. Berdiri menatapnya tanpa ekspresi di hadapannya dengan setelan yang sama persis dengan yang di kenakannya saat ini.
Awalnya ia tidak percaya dengan cerita muridnya. Tapi setelah berhadapan langsung seperti ini, Unohana hanya terpaku menatap balik wajah yang begitu mirip dengannya. Apa ini sosok yang dilihat oleh murid-muridnya?
Dan ketika pertanyaan itu terlintas di benaknya, sosok itu menghilang. Disusul rasa lelah yang tiba-tiba menghantam tubuhnya. Unohana lunglai, dan kemudian jatuh tak sadarkan diri.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
[1] shodo : seni kaligrafi Jepang, ongaku : seni musik, bijutsu : seni rupa.
[2] Hashi : kertas khusus sebagai media shodo. Memiliki dua sisi berbeda, kasar dan halus.
[3] Haiku adalah salah satu bentuk puisi tradsional Jepang yang paling penting. (Selebihnya search di google)
[4] Furuike ya. Kawazu tobikomu. Mizu no oto. : Di kolam tua. Katak melompat masuk. Air berbunyi.
[5] Basho : penyair Haiku terkenal sejak jaman Edo (1600-1868)
.
.
A/N : Sebelumnya saya minta maaf atas keterlambatan dari jadwal yg dijanjikan... dikarenakan beberapa kendala teknis. Lalu, adakah yang pernah bertemu doppelganger? Kalau saya sih belum pernah, dan jangan sampe... amit-amit #ketuk-pala-ketuk-meja. Sebenernya rencananya tadi ch 3 ini bakal jadi 2 part (makanya panjang banget). Tapi gak jadi, karena saya gak mau lama-lama membahas fenomena ini. Jadi takut sendiri pas ngetiknya. Saya juga berencana untuk mengganti genrenya jadi Mystery/Friendship. Alesannya, karena kedepannya suasana pertemanan akan lebih kental ketimbang romance. Tapi, tenang aja. tetep ada romance-nya kok. Jadi, bagaimana kesan-kesan kalian untuk chapter ini. R.E.V.I.E.W please!
.
.
PS : Jum'at depan libur dulu ya! Sekalian nyari ide baru... mohon pengertiannya #bungkuk hormat. Saya juga harus gantian ngerjain Metensarkosi dulu... hehehe
.
.
Yuki Sharaa
