Balasan review yang tidak login...
Haruka-chan : Hmm... aku juga setuju kalo Renji itu memang bodoh, Haruka-chan. Tapi selain itu dia juga punya banyak kelebihan, yaitu kelebihan bodohnya huehehe (sama aja keles). Aku dapet ide dari mana-mana Haruka-chan. Pokoknya bukan dari 1 sumber. hehehe... untuk Ichigo, aku rasa dia bodoh (ketularan Renji). Dan pertanyaan2 kamu sepertinya kan lumayan terjawab di ch ini. Selamat membaca...!
Suit : Hehehe... sepertinya itu gerak refleks yg disengaja #lho... Bagaimana kalo kita tanya saja ke Hitsu-nya langsung #halah. Iya ini tentang doppelganger Suit-san. Yah, cuman sekedar side story awal aja sih, buat ngawal cerita utamanya. Wah sama nih kita, saya juga merinding pas ngetik bagian itu. apalagi scene terakhir karena pas tengah malem.. hihihi. wkwkwk... sma-sma Suit-san, pasti kaget banget yak. Jantungnya masih aman kan? Yah, daripada bingung, mendingan buruan baca ch ini. sedikit banyak pertanyaan kamu kejawab. tapi belom semuanya... selamat membaca yak!
Eikichi : Salam kenal juga Eiki-san (saya panggil gini aja yah!). Terima kasih banyak atas reviewnya dan juga terima kasih karena udah dibilang fic keren #jadi malu. Hmm... apa maksudnya Eiki-san, Toushiro di sini mirip sama Do Min-joon di Dramkor 'My Love From The Star'? yg mirip kejeniusannya aja 'kan!... Karena saya pikir mereka beda bingiiit. Yah, syukurlah kalo ternyata fic ini bisa sedikit bermanfaat. gak hanya cuman buat hiburan walaupun agak gaje. Waduh, tapi kayaknya masih jauh sangat kalo dimiripin sama Kubo-sensei. hehehe... dan untuk penasarannya, yah itu memang tujuan awal kenapa fic ini saya kasih genre misteri. Sengaja untuk mengajak para reader ikut-ikutan berspekulasi. Ini ch 4 sudah siap... selamat membaca ya Eiki-san! Jangan lupa mampir lagi...
thathaa : Hah! Yang bener thathaa kamu ketemu doppelganger? Gimana ceritanya tuh? Dan kamu masih berani baca fic saya... saluuuuuuttt (*o*)b. Saya aja yg cuman ngarang suka merinding sendiri pas ngetiknya -_-"", apalagi sampe ketemu.. hiiiii. Wah, makasih banyak ya thathaa udah dibilang bagus, sampe 'uuuu' nya panjang banget #halah. Padahal masih perlu banyak perbaikan,, tehehe. Okok akan terus sya tingkatkan. terimakasih lagi u/ dukungannya. Dan tenang aja akan tetap ada romance-nya disetiap ch (akan sya usahakan)... Selamat membaca thathaa!
zera : hehehe... zera penasaran, sama saya juga #lho. Iya, kayaknya kamu lupa kasih nama, tapi gpp saya akan tetap ciren kok. Hmmmmmm... untuk Metensarkosinya sabar ya. Udah saya ketik kok tapi baru dapet separo. entah kenapa jadi ngadat dan gak selesai2. Mungkin saya terserang blankmood #kok malah curhat. Yah, begitulah, akan saya usahakan untuk update secepatnya. Selamat membaca zera...!
Guest : Huuaaaa... jangan donk! ngetik 1 ch aja saya harus curi2 waktu. kalo 2 ch dalam 1 minggu, bisa2 saya gak keluar rumah #pundung. Guest-san minggu ini saya cuman bisa buat 1 ch... gpp ya! Dan selamat membaca...#kabooor
.
Untuk yang login, sudah saya balas melalui PM ya!
.
Sekali lagi terima kasih bagi yang sudah mereview/fav/follow/alert/PM :
│mira. cahya 1 │Haruka-chan │thathaa │Chupank │zera │sinji. kazeri │inggar. naghespegapha │Guest │Suit│ceda yagami │Aosaki Sakurai │Ayra el Irista │Kiki RyuEunTeuk │Eikichi │Suit as Suit │higitsune84tails │dan juga untuk para readers di seluruh dunia yang bersedia meluangkan waktu untuk membaca│
.
.
Happy reading!
.
.
Warning : AU, OOC, Ranjau Typo, banyak istilah, agak ngebingungin
Genre : Mystery/Frienship/Romance
Disclaimer : I do own nothing
: : : :
: : : ENIGMA : : :
: : : :
_Hitsugaya Toushiro_
.
.
.
Ia tahu kalau ia sedang bermimpi. Tapi rasanya sulit sekali untuk membuka mata. Ia berdecak, lagi-lagi ia harus kembali ke malam itu. Saat ia pulang terlambat karena tugas kampus yang tak ada toleransi dan mendapati rumahnya —yang terlihat di balik tikungan— gelap tidak biasa. Bukankah ayahnya itu selalu mengingat segalanya, apa lagi hanya untuk menghidupkan lampu. Ia mengangkat tangan kanannya dan menggeser sedikit ujung lengan kaos panjangnya. Melihat arah jarum jam pada arloji yang tersemat. Pukul 07.00 malam. Waktu yang sama seperti mimpi-mimpi sebelumnya.
Ia hafal benar tindakan apa yang akan dilakukannya setelah ini. Yah, setelah sempat mengernyit heran, ia pasti akan langsung menuju gerbang, membukanya, lalu bergegas masuk ke dalam rumah untuk mencari ayahnya. Dengan perasaan kelewat cemas, tentu saja. Ini mimpi terulang hasil realisasi dari memoar-nya yang mengerikan, tidak mungkin ia lupa. Terutama untuk mimpi yang paling dibencinya.
Dan benar saja, seperti prediksinya layaknya seorang Dreambender[1], kakinya segera melangkah cepat menuju gerbang depan rumahnya. Setelah sempat berpapasan dengan seorang pria tinggi berkulit gelap dan setelan serba hitam dengan rambut gimbal yang memakai kacamata hitam model Wrap Around, ketika baru saja berbelok di tikungan. Ia terus melangkah membiarkan pria itu tetap berlalu. Hingga sampai di depan gerbang, ia berhenti. Alisnya bertaut dalam ketika kepalanya menoleh ke belakang. Ia tak lagi mendapati pria yang tadi berpapasan dengannya, mungkin telah menghilang di balik tikungan yang dilaluinya tadi.
Pun diabaikannya dengan kembali fokus pada keadaan rumahnya yang gelap. Ia membuka gerbang dan bergegas memasuki rumahnya. Lalu, seperti yang sudah-sudah, ia pasti akan menemukan pintu rumahnya yang tidak terkunci dan ketika masuk ia mendapati keadaan berantakan dengan berbagai macam barang pecah belah berserakan di lantai. Kakinya mulai melangkah gusar tanpa mencoba untuk hati-hati atau menghindari pecahan kaca di lantai. Hanya satu yang ia pedulikan saat ini; ayahnya, di mana dia?
Walaupun seharusnya ia tidak perlu repot-repot kebingungan dengan kecemasan akut mencari sosok ayahnya. Toh, ia sudah tahu ke mana akhir mimpi ini akan bermuara. Bahkan tidak perlu berjalan jauh. Karena ia pasti akan mendapati sosok ayahnya ketika ia tiba di ruang tengah. Di sana, tubuh sang ayah, tertelungkup di lantai dengan sorotan sinar bulan dari jendela yang dibiarkan terbuka. Sedikit membantu mengenali surai putih milik ayahnya ketika ia bergegas menghampiri sang Ayah dan menyadari kondisinya yang mengenaskan. Tubuh itu tak sadarkan diri dengan keadaannya yang bersimbah darah. Ia terkejut, tentu saja. Walaupun sudah berkali-kali ia menyaksikannya.
Setelahnya, lagi-lagi bisa ditebak dengan mudah, ketika ia melihat gerakan tangan sang Ayah yang ternyata masih sadar. Segera ia mencoba untuk memangku tubuh bagian atas ayahnya seraya menyerbunya dengan satu pertanyaan yang sama, "Tou-san, kau tidak apa-apa 'kan?"
Ia lihat, mulut sang Ayah yang terbuka dan tertutup kepayahan. Mencoba mengatakan sesuatu tapi tak berhasil. Dan saat percobaan yang kedua, ia mencoba untuk mendekatkan sebelah telinganya.
"Tou... shi... ro... di... a..."
Tapi... belum sempat sang Ayah menyelesaikan kalimatnya, lagi-lagi bisa ditebak... kalau ia akan segera bangun.
.
.
.
.
Emerald-nya terbuka begitu saja tanpa ada jejak mengantuk sama sekali. Seolah telah terbiasa dengan Lucid dream[2] yang sering dialaminya belakangan ini. Ia bangkit dari pembaringannya, membuat selimut sebatas dada yang menutupinya merosot turun ketika ia berangsur duduk. Toushiro memejamkan mata, menghela napas dengan sebelah tangan yang memijit pelipisnya. Kepalanya terasa sedikit berkunang-kunang. Ditambah otaknya yang mulai kembali bekerja, padahal ini masih subuh buta. Bersamaan dengan tangannya yang kini telah berganti menggenggam bandul berbentuk perunggu dengan rantai yang mengalungi lehernya.
Lucid dream kali ini sedikit berbeda ternyata. Pria berkacamata hitam itu sebelumnya tidak pernah mengambil bagian dalam mimpinya. Karena sebelumnya memang tidak ada adegan berpapasan dengan pria itu. Terlebih, ia tidak mengenali siapa pria itu. Apa Toushiro melewatkan bagian itu selama ini?
Tidak biasanya ia lupa, karena bakat turunan sang Ayah. Walaupun tidak sesempurna milik ayahnya. Apa lagi ketika memikirkan tentang usahanya selama 10 hari ini tidak membuahkan hasil sama sekali, sedikit memusingkan kepalanya.
Ia kembali menghela napas. Tangannya bergerak menyibak selimut ketika ia beranjak turun dari tempat tidur. Toushiro memutuskan untuk berpikir sekaligus bertindak. Kakinya pun melangkah menuju kamar mandi, hendak bersiap-siap untuk memulai hari ini. Memulai lagi pencariannya.
.
.
.
.
.
[Rabu, 22 November 2000—Karakura Town]
.
.
"Aku titip dia ya! Walaupun sikapnya sedikit ketus, tapi sebenarnya dia adalah gadis yang manis dan berhati lembut."
Rukia menganga lebar. Ia sungguh tidak bisa mengatupkan mulutnya saat ini. Ia tidak lagi peduli kalau ada serangga terbang yang sudah berkeliaran pagi-pagi dan tidak sengaja memasuki mulutnya. Ia terlanjur terlalu terkejut menyaksikan dorama pagi antara sang Kakak, Hisana, dengan si Rambut Putih, Hitsugaya.
Sebenarnya bukan si Hitsugaya yang bermasalah, karena dia hanya diam berdiri di tempatnya. Melainkan aksi Hisana-lah yang membuat Rukia takjub, yang kini tengah menggenggam sebelah tangan Toushiro disertai senyum malaikat yang tengah memohon.
"Apa kau bersedia, Toushiro-kun?" lanjut Hisana yang sukses membuat Rukia semakin melotot di posisinya.
'Aku tidak salah dengar 'kan? Barusan Onee-chan memanggil nama depannya? Dan ada embel-embel -kun? Mereka akrab sejak kapan?'
Baiklah, ini mulai berlebihan. Lalu, apa maksud kakaknya menanyakan kesediaan si Hitsugaya? Rukia 'kan hanya mau berangkat ke sekolah. Dan kenapa Hisana berakting seolah hendak melepas kepergian Rukia dari kediaman Kuchiki untuk menempuh hidup baru bersama seorang pria. Ya, tentu saja pria-nya di sini adalah tuan Hitsugaya. Tapi, apa-apaan ini?
Setidaknya, Rukia masih bisa sedikit bersyukur. Karena kelihatannya si Rambut Putih tetap datar; sama sekali tidak terpengaruh dengan aksi kakaknya. Yah, syukurlah si Hitsugaya tidak berniat menanggapinya. Karena kalau iya, bisa-bisa Rukia akan—
"Baik. Anda tidak perlu khawatir."
GUBRAAK
—terjatuh. Bukan karena kehilangan keseimbangan, melainkan karena tanggapan tak terduga yang baru saja dilayangkan lawan bicara kakaknya. Yang masih dengan mata datarnya dan suara rendahnya. Hitsugaya Toushiro.
Hisana berbinar sekaligus terharu dengan kedua tangan yang kini menggenggam semakin erat tangan Toushiro, "Benarkah! Ah, hati ku jadi lega... Ku serahkan padamu, Ganbate!" ujarnya kemudian dengan sebelah tangan terkepal di udara; memberi semangat.
Susah payah Rukia mencoba bangkit dari keadaannya. Ia terpuruk. Tidak punya harapan. Lebih tepatnya, tidak ada yang bisa diharapkan. Tak terkecuali Toushiro. Dia sama saja. Bahkan lebih parah, mungkin. Tapi, untuk apa juga Rukia turut berharap pada pemuda dingin itu? Ya, pokoknya, intinya, kesimpulannya, tidak ada yang bisa diharapkan. Semua salah. Rukia juga salah, kenapa tidak beranjak sejak awal. Setidaknya dorama picisan ini tidak perlu ada.
Menyadari hal itu, kakinya melangkah pelan begitu saja. Meninggalkan kakaknya dan tetangga barunya—yang mungkin sudah tidak pantas disebut tetangga baru—dengan pandangan kosong. Rukia tidak peduli atau mencoba tidak peduli. Ia menulikan telinganya ketika Hisana mulai memanggilnya karena meninggalkan si Hitsugaya; yang seharusnya berangkat bersama dengannya. Rukia tidak menggubrisnya dan tetap melangkah.
Toushiro yang merasa tertinggal akhirnya pamit. "Aku permisi!" ujarnya seraya membungkuk hormat di depan Hisana. Kemudian segera melangkah lebar demi kembali menyusul di belakang gadis yang kini masih melangkah hampa.
"Selamat jalan! Ingat, jaga Rukia-chan baik-baik Toushiro-kun!" teriak Hisana semangat dengan melambai tinggi.
Membuat Toushiro kembali berbalik lalu membungkuk sekali lagi dari kejauhan sebelum lanjut berjalan. Hisana tersenyum melepas kepergian dua insan itu. Hatinya senang, walau ia juga tidak tahu apa sebabnya. Melihat pemuda perak itu, berbicara dengannya, dan menggenggam tangannya; membuat Hisana merasakan sesuatu yang sangat familiar. Ia sadar kalau pemuda Hitsugaya itu masih sangat asing sebagai tetangga baru, tapi hatinya mengisyaratkan perasaan tidak asing yang berkebalikan. Sesuatu yang mungkin dikenalnya. Tapi sekali lagi, Hisana tidak tahu apa itu. Yang kemudian memutuskan untuk berbalik dan kembali ke dalam rumah, setelah wujud dua insan yang ditatapnya menghilang dari pandangan.
"Kau tidak perlu menganggapnya serius," ujar Rukia pelan di tengah langkahnya.
Toushiro melirik sekilas sebelum kembali menatap jalanan. "Hn," gumamnya santai tanpa ekspresi.
Rukia menoleh kesal sedikit ke belakang, ke arah Toushiro yang sama sekali menghiraukannya. "Dan kenapa kau malah meladeninya?" tanyanya kemudian sedikit ketus.
"Lalu harus ku jawab apa?"
"Eh!"
Rukia bingung, antara dua hal. Kenapa si Hitsugaya ini masih bisa berujar santai dan kenapa dia malah bertanya balik?
"Maaf, aku tidak bisa menjaga adik semata wayang mu. Lebih baik kau cari orang lain saja." Toushiro memberi kemungkinan jawaban lain yang mungkin bisa diutarakannya tadi. Tentunya masih dengan santainya, kemudian melirik Rukia—yang bengong—dengan ujung matanya, "Begitu?"
Ya, Rukia memang melongo. Lagi-lagi mendengar perkataan tak terduga dari si Hitsugaya. Yang ternyata dan tak disangka kalau dia juga bisa bergurau. Haha... Walaupun sama sekali tidak lucu. "Ka—kau hanya perlu mengabaikannya. Tidak perlu dijawab. Begitu maksud ku!" tukas Rukia terbata.
"Tidak bisa!" tegas Toushiro cepat.
Rukia kembali dibuat heran, tapi tetap tidak mau kalah. "Tentu saja bisa!" debatnya.
"Aku tidak bisa mengabaikan kakak mu," tanggap Toushiro sedikit meninggi, tanpa menatap manik ungu yang kini sedikit tersentak. Jeda sejenak, sebelum suara rendah kembali terdengar kian melemah, "Saat itu, dia terlihat sangat mempedulikan mu." Emerald-nya menerawang menatap setapak jalan yang mulai biasa dilaluinya ketika berangkat sekolah. "Seharusnya kau bersyukur," gumamnya setengah berbisik tanpa mengalihkan pandangannya sekali pun.
Rukia tertegun. Ini pertama kalinya ia menyaksikan tuan Hitsugaya bernada cukup emosional. Dibalik sikap dingin yang sejak awal diperlihatkannya. Selain datar, manik turquoise itu kini terlihat sendu disaat bersamaan. Membuatnya memilih bungkam dan tidak menggubrisnya.
Perlahan, ia mengembalikan arah pandangnya ke depan. Kembali menatap paving block yang disusun saling silang di sepanjang setapak yang masih berserakan momiji di pinggirannya. Turut menyilangkan pikiran menerawangnya saat ini. Antara si Hitsugaya dan perkataannya barusan yang cukup menohoknya dalam.
Bersyukur...
Kata itu ada benarnya. Ia dan Hisana hanya hidup berdua di dunia ini. Tentunya sudah jadi bertiga setelah Byakuya nii-san hadir di tengah-tengah mereka sebagai sosok pelindung. Rukia tidak tahu bagaimana rasanya memiliki orang tua. Tapi memiliki kedua orang itu cukup baginya sebagai pengganti sosok teladan dalam hidupnya. Rukia tidak pernah kesepian karena ada Hisana nee-chan. Ia juga tidak pernah kehilangan panutan karena ada Byakuya nii-san. Benar. Seharusnya ia lebih bersyukur karena mereka ada.
Bersyukur...
Ya. Terkadang Rukia melewatkan kata itu. Seharusnya ia lebih sering memanjatkannya. Bayangkan, jika kedua sosok itu tiba-tiba menghilang dari hidupnya. Apa yang akan ia lakukan? Jangankan memikirkannya, membayangkannya saja ia tidak akan sanggup. Baiklah. Rukia akan mengingatnya mulai dari sekarang. Tidak peduli dengan sikap kakaknya yang terkadang berlebihan dan sulit dipercaya. Rukia yakin pasti ada maksud di balik semua ini. Karena Hisana adalah tipe perasa yang cukup kuat.
Walaupun, ia masih tidak terima, kenapa harus si Hitsugaya yang menohoknya?
Rukia kembali melirik sedikit ke belakang. Mengintip dari balik punggung mungilnya, sosok dingin itu masih berjalan santai dan terlihat sudah cuek kembali. Baiklah, jadi sebenarnya apa yang dirasakan Hisana pada pemuda ini. Dan, demi apa pun, Rukia bisa membaca raut sendu dari balik mata datar itu. Ada apa? Apa dia juga sendirian?
Renungan singkatnya barusan ternyata telah kembali memicu penasaran pada si Misterius, Hitsugaya.
"Toushiro, boleh aku tanya sesuatu?"
"Hn."
Manik ungu itu kembali bergulir ke tengah, menatap ke depan. "Saat itu... kenapa kau menarik ku?"
Kini giliran emerald Toushiro yang melirik punggung gadis berambut pendek itu. "Sudah ku jelaskan kalau itu adalah gerak refleks. Aku hanya menarik siapa pun yang berada paling dekat dengan ku," jelasnya singkat. Dan memang seperti itu kenyataannya. Toushiro bahkan baru menyadari kalau itu tangan Rukia setelah sampai di tengah lapangan.
"Lalu...," Gadis Kuchiki itu kembali melanjutkan tanpa menoleh sedikit pun. "Untuk sejarah pengeboman itu ... Kau tahu dari mana?" tanyanya yang lebih mirip gumaman.
Emerald itu kini memicing. Mencoba untuk membaca arah pembicaraan ini. "Aku tahu karena banyak membaca," jawabnya terbilang singkat. Tanpa mengganti objek lirikannya pada punggung mungil yang terbilang tenang.
Ada jeda sejenak yang digunakan untuk mencerna jawaban pemuda itu di dalam pikirannya, sebelum Rukia kembali mendakwa. "Buku sejarah mana yang telah kau baca? Ku pikir, kasus itu bahkan belum pernah diberitakan sebelumnya. Kau seperti telah membongkar sebuah rahasia besar yang kelam."
Ini dia, yang selalu ingin ia tanyakan. Dan mendapat jawaban tak memuaskan dari pemuda perak itu membuatnya semakin penasaran. Kalau hanya membaca, Rukia juga membaca. Ia bahkan telah menghabiskan seluruh buku sejarah sebelum waktunya. Kecuali buku tuntunan etika milik Byakuya nii-san. Tidak heran, karena ia menyandang predikat kedua di sekolah ternama di Karakura. Dan, tanpa bisa dilihat dari sosok yang masih berjalan di belakangnya, wajah seputih gading Rukia kini telah beraut serius sepenuhnya.
Dan juga, tanpa disadari Rukia, raut dingin pemuda perak yang berjalan di belakangnya kini telah menegang sempurna. Terkejut dengan arah pembicaraan yang ternyata akan bermuara ke penjelasannya tempo hari. Tentang sejarah pengeboman dua kota besar, Hiroshima dan Nagasaki, yang sangat dikenal oleh seluruh warga Jepang. Sekaligus, mengingatkannya akan kecerobohannya saat itu. Penjelasan yang telah keluar dari lingkaran, yang seharusnya bisa ia minimalisir. Ya, seharusnya ia tidak bisa membiarkan satu orang pun mencurigainya saat ini. Tidak boleh.
"Aku tahu dari internet."
Tahun ini merupakan puncak keemasan bagi koneksi tanpa batas, internet. Walaupun mungkin saja jaringan itu belum dikenal luas atau belum semua orang bisa memakainya, tapi itu jawaban terbaik yang bisa ia berikan saat ini.
Yang ternyata sukses membuat Rukia berhenti bertanya. Walaupun alisnya kian tertekuk dalam, ia lebih memilih bungkam saat ini. Dan tidak mempertanyakannya lebih lanjut. Benaknya bermain akan sesuatu yang seperti sedang disembunyikan pemuda ini.
.
.
.
.
.
.
[Karakura High School—Kelas E-2]
.
.
Kriiiiiiiiiiiiiiiiiing
Bell tanda istirahat menyentak Toushiro dari lamunannya yang bertopang dagu. Memutus emerald-nya yang awalnya masih menerawang keluar jendela di sebelah kirinya, kini beralih pada keriuhan yang kembali terdengar dari para murid. Bahkan ada yang langsung berlari memburu mendahului Ichimaru-sensei keluar kelas, mungkin hendak ke toilet.
Suasana kembali ramai dengan didominasi keluhan para murid tentang betapa melelahkannya memperhatikan Ichimaru-sensei selama berjam-jam tanpa berkedip. Tentunya setelah memastikan Ichimaru-sensei tidak lagi terlihat. Bisa gawat. Ingat matanya itu!
Toushiro bangkit dari duduknya. Mengakibatkan kursinya terdorong ke belakang oleh belakang pahanya dan berdecit karenanya. Tidak seperti murid-murid lainnya yang sibuk membereskan buku-buku dan alat tulis, Ia langsung melenggang santai dengan kedua tangan terkubur di saku celana. Meninggalkan begitu saja mejanya yang memang sejak awal kosong, tidak ada alat tulis apa lagi buku.
Ia melangkah cuek melewati Rukia yang masih merapikan buku-buku ke dalam laci. Terus melangkah hingga melewati Ichigo yang duduk bersandar di kursinya. Membuat Ichigo tanpa sadar melirik lewat ekor matanya. Toushiro terus berjalan ke depan kelas lalu menuju pintu pertama kelasnya. Manik madu Ichigo terus mengekori sosok Toushiro hingga menghilang berbelok keluar kelas. Ia bahkan masih menatap pintu pertama dengan kerutan permanen di keningnya.
Inoue memutar kursinya ke belakang dengan sekotak bento dibawanya.
"Kuchiki-san, boleh lihat bento milik mu?" pintanya dengan senyum semanis madu. Ceria seperti biasa.
Hari ini mereka hanya makan berdua. Sedangkan yang lain lebih memilih berdesakan di kantin sekolah.
Rukia berbinar. "Tentu saja! Ini..." Dan dengan bangganya ia membuka kotak bento lalu menyodorkannya pada Inoue di depannya. Memperlihatkan hasil kreasi bento yang ia buat sendiri.
"Hmm~..." Inoue bergumam memandang bento milik Rukia. Jari telunjuknya menunjuk-nunjuk ujung dagu lancipnya, mata kelabu bulatnya mengerjap beberapa kali. "Aku tidak menyangka kalau kau suka serangga," komentar Inoue berikutnya.
"Eh!" Rukia bingung dan ikut mengerjap karenanya.
"Apa kau yakin masih selera memakan ini?" Jari yang digunakan untuk menunjuk-nunjuk dagunya kini beralih menunjuk bento di hadapannya.
Membuat manik ungu bulat Rukia yang masih kebingungan ikut menatap bento miliknya. "Etto... Ini bukan serangga, Inoue!" jelasnya kemudian ikut menunjuk bento-nya.
Inoue terperangah dengan mata kelabunya yang membulat, tapi tetap terkesan imut. "Heeee~... Benarkah?"
Rukia menunduk. Wajahnya jadi suram. Bibirnya sedikit manyun saat kembali menjawab, "Ini ... kelinci. Kelinci Chappy."
Inoue semakin terperangah. Kini mulutnya sedikit terbuka karena kaget. "Gomennasai! Ku kira itu kumbang... tehehe..." Ia pun terkekeh sambil menggaruk kepala belakangnya, lebih karena merasa tidak enak karena mengejek secara tidak langsung. Cengirannya masih ada ketika ia buru-buru menyodorkan bento miliknya, berusaha mengalihkan perhatian Rukia. "Ah! Ini... coba lihat milikku!"
"Huak—" Kini giliran Rukia yang cengok. Melihat bento Inoue yang di desain mirip perang Autobot melawan Decepticon di film Transformer.
.
Sementara itu, Renji yang duduk di sebelah Ichigo pun kini bolak-balik menoleh bergantian antara pintu pertama di depan dan Ichigo yang masih menatap curiga ke arah pintu.
"Aku setuju dengan mu, Ichigo!" ucapnya kemudian yang langsung menjadi objek lirikkan hazel Ichigo berikutnya.
"Apa maksud mu?" Sebelah alis Ichigo terangkat bingung.
"Kau mencurigai murid baru itu 'kan? Aku juga...," jelasnya. Membuat Ichigo menghela napas, tanpa menghadap Renji di sebelah kanannya.
"Aku hanya merasa dia itu sedikit aneh. Tidak pernah aku melihatnya berbicara dengan siapa pun."
"Karena itulah aku bilang setuju. Melihat sikap dinginnya itu akan membuat semua orang berpikir ulang untuk menegurnya." Punggung Renji kembali bersandar di sandaran bangkunya. Dan kembali menatap ke depan.
"Kau benar. Aku jadi penasaran dari mana sebenarnya dia berasal?" Alis dengan kerutan permanen itu semakin menekuk dalam ketika Ichigo mengernyit heran.
"Aku rasa dia bukan orang sembarangan. Sangat mencurigakan. Ditambah saat pelajaran Ichimaru-sensei minggu lalu dan tentang peristiwa doppelganger yang dijelaskannya itu. Dia aneh 'kan?" Renji menoleh ke arah Ichigo.
"Hn... Dia bisa menjelaskan serinci itu. Apa dia ahli sejarah?" Ichigo balas bertanya seraya menoleh ke arah Renji.
Kini mereka saling tatap dengan sorot mata seolah sedang berbicara. Yang kemudian kompak mengangguk lalu sama-sama menoleh ke depan; ke arah pemuda putih yang duduk di depan Ichigo yang kini terlihat lebih menghiraukan buku bacaannya sejak tadi. Ishida Uryu.
"Menurut mu bagaimana, Ishida?" Ichigo yang pertama kali menegurnya.
Ishida tidak menoleh ketika menjawabnya acuh. "Jangan melibatkan ku saat kalian sedang menggunjing orang lain," ujarnya eksplisit.
"Aku tahu kau menguping sejak tadi," kini giliran Renji yang menimpali. Menatap sinis pada pemuda berkacamata itu.
Ishida menoleh cepat. "Siapa yang kau bilang menguping?" tanyanya geram. Ishida berdehem sambil membenarkan letak kacamatanya, lagi-lagi ia keluar dari imej. "Suara bergosip kalian berdua yang terlalu keras. Semua juga bisa mendengarnya," kilahnya kemudian dengan suara kembali dibuat tenang.
"Telinganya memang tajam," komentar Ichigo sambil melirik Renji.
"Kurosaki!" teriak Ishida tidak terima. Sampai membuat Inoue dan Rukia yang sedang asik menyantap bento masing-masing jadi menoleh karenanya.
"Kalian ini bergosip seperti anak perempuan saja," Rukia berkomentar pelan melihat tiga pria yang terlihat sibuk membicarakan orang lain.
Ichigo menoleh dengan semburat tipis di pipinya, mungkin malu dibilang penggosip atau dibilang mirip perempuan. "Ka—kami tidak sedang bergosip. Ini namanya mengeluarkan pendapat," kilahnya sedikit tidak terima.
"Kau bisa mengeluarkan pendapat di depan orangnya, Ichigo. Bukan membicarakannya di belakang," ujar Rukia masih cuek tapi dengan nada sedikit menuding.
"Dengarkan itu, Ichigo!" Renji ikut-ikutan seolah dia tidak terlibat.
"Teme, kau yang mulai!" Jelas buat Ichigo geram sambil menatap Renji tidak suka.
Rukia menghela napas sambil memejamkan mata. "Kalian berdua ini sama saja," gumamnya kemudian.
"JANGAN SAMAKAN AKU DENGAN DIA!" Renji dan Ichigo teriak bersamaan sambil telunjuknya yang saling menuding satu sama lain.
Rukia menghiraukan dengan beralih menatap Ishida. Sedikit banyak ia juga penasaran, "Jadi, apa pendapat mu Ishida?"
Kini Ishida yang jadi pusat perhatian, termasuk dari Inoue yang sejak tadi hanya diam memperhatikan.
"Baiklah. Jika kalian memang sangat ingin tahu tentang pendapat ku," ujarnya sambil memutar kursinya menghadap ke belakang. "Sebenarnya, aku sudah curiga sejak awal Unohana-sensei mengenalkan murid baru itu. Asal kalian tahu saja, tidak pernah tercatat dalam sejarah manapun, kelas Excel akan kedatangan murid baru. Karena normalnya, murid baru akan ditempatkan di kelas-kelas biasa. Apalagi ini sudah semester dua. Bukankah akan sangat terlambat untuk mengejar pelajaran. Kecuali, dia sangat jenius..."
.
.
.
. . . .
.
.
.
1999—1998—1997—1996—1995...
Kelima buku serupa itu ia tumpuk di atas meja yang pernah ia gunakan beberapa hari lalu, di pojok belakang. Seperti saat itu, ia juga kembali memilih tempat ini karena alasan yang sama untuk menghindari pengunjung lain. Kali ini lima buku tahunan sekaligus yang akan diobservasi-nya secara bergantian.
Toushiro mengambil posisi duduk ternyaman. Dengan buku pertama 'Tahun 1999' diletakkan di hadapannya. Ia membuka buku dengan jari dan mata yang mulai kembali bekerja, merinci tiap kata atau gambar yang tersuguh di dalam buku. Wajahnya terlihat serius saat mencoba berkonsentrasi untuk tidak melewatkan satu informasi pun. Terlihat dari manik hijaunya yang bergulir cepat dari kiri ke kanan secara terus menerus. Menandakan kecepatan membacanya yang di atas rata-rata. Manik hijau itu terlihat tidak berniat untuk mengulang lagi dari awal untuk memastikan, seolah akan ingat dalam sekali baca.
.
.
.
. . . .
.
.
.
Kembali ke kelas E-2, ke penjelasan Ishida dihadapan kelompok diskusi dadakan yang kini telah resmi membentuk sebuah lingkaran dari bangku masing-masing.
"...Saat aku mendengar penjelasannya yang terbilang rinci tentang sejarah pengeboman itu, aku sadar kalau kemampuannya tidak sembarangan. Jadi, aku memutuskan untuk mencari tahu. Dan, karena aku adalah ketua OSIS, mendapatkan identitas lengkapnya saat mendaftar di sekolah ini bisa ku dapat dengan mudah," terang Ishida bangga. Terlihat dari senyum tipis yang terukir ketika kilatan cahaya lewat di kedua lensa kacamatanya.
"Lalu Ishida-kun, apa ada yang aneh?" Inoue bertanya menghiraukan kalimat Ishida yang terakhir. Memaksa sebuah sweatdrop turun di belakang kepala Ishida.
"Awalnya tidak ada. Aku hanya melihat identitas normal sebagai seorang pelajar pindahan dari luar kota. Tapi, ternyata ada sesuatu yang ku lewatkan," Ishida menatap bergantian Renji-Ichigo-Rukia-Inoue. "Dia... berusia dua tahun lebih muda dari usia kita rata-rata," lanjutnya dengan suara yang lebih kecil.
Kini, semua mulai mengernyit mendengar penuturan Ishida.
"Apa?" tegas Rukia.
Kepala karamelnya menoleh ke arah Rukia, ketika yang lain sibuk menatap Ishida. "Kuchiki-san, apa itu benar?" tanya Inoue.
"Eh!" Kepala raven Rukia pun turut menoleh, menatap bingung pertanyaan Inoue.
"Kau 'kan tetangganya!" tambah Inoue polos. Mengabaikan tiga pasang mata yang kini terperangah.
"APA?" teriak Renji dan Ichigo nyaris bersamaan.
"Rukia, kenapa kau tidak bilang?" Renji sampai berdiri dari kursinya saking terkejutnya.
"Ano... Awalnya aku tidak tahu kalau dia itu ternyata tetangga baru yang baru tinggal di depan rumah ku." Rukia kikuk. Menjawab ragu-ragu pada teman-temannya yang shock.
Kini giliran Ichigo yang berdiri dengan mata yang seolah menuding, "Dia tinggal sedekat itu dengan mu? Kenapa kau tidak cerita sejak awal?"
"SUDAH KU BILANG, AKU JUGA BARU TAHU!" teriak Rukia geram. Yang langsung mengembalikan Ichigo dan Renji ke kursinya masing-masing.
"Lalu, apa dia juga tampak mencurigakan di rumah?" tanya Ishida tenang, lengkap dengan wajah seriusnya.
Manik ungu itu kini balas menatap mata biru Ishida. "Yah, dia tidak pernah bersosialisasi dengan tetangganya yang lain. Jadi Ishida, apa kau tahu kenapa dia bisa menjelaskan sesuatu di luar sejarah?" tanya Rukia kemudian.
Ishida mengehela napas, punggungnya menyender di sandaran kursi dengan tangan bersedekap dan sebelah kakinya yang terangkat lalu menumpu di atas kaki lainnya. "Mengenai itu, sebenarnya aku punya spekulasi sendiri. Memang mengejutkan ketika dia menjelaskan sesuatu yang bahkan tidak dijelaskan di dalam buku. Bahkan dengan penjelasan lengkap seperti itu, dia seperti baru saja membeberkan sebuah rahasia besar dan langsung membuat Ichimaru-sensei menghentikannya." Jeda sejenak sambil kembali melayangkan tatap pada teman-temannya yang masih serius memperhatikannya.
Kecuali Rukia yang kini menunduk menatap ujung uwabaki-nya. "Sebenarnya, aku pernah bertanya padanya soal dari mana dia bisa tahu tentang semua itu. Dan jawabannya adalah karena membacanya dari internet," gumamnya cukup pelan. Lalu mengangkat wajahnya ikut menatap teman-temannya.
"Internet?" Renji mengernyit. "Ku pikir, kalau memang ada di internet, pasti juga akan diberitakan di surat kabar atau televisi," ujarnya memberi pendapat sambil melirik Ichigo seolah meminta dukungan. Yang langsung mendapat anggukan dari kepala orange terang Ichigo.
Ishida menegakkan tubuhnya, melepas tumpuan kakinya. Kedua tangannya bertaut menyangga dagunya, seraya menatap Rukia intens. Menangkap sesuatu yang lebih mengherankan, "Kuchiki-san, kapan kau bertanya soal ini?"
Rukia mengerjap, "Tadi pagi, saat berangkat sekolah," jawabnya spontan.
"Ah!" Inoue terhenyak. Sebelah tangannya yang tergenggam menepuk pada telapak tangan yang lain. "Kuchiki-san dan Toushiro-kun memang selalu berangkat dan pulang bersama," terangnya tiba-tiba.
"APAA?" teriak Ichigo, Renji, dan Ishida bersamaan. Bahkan tiga pemuda itu pun kompak berdiri menyentak dari kursinya.
"Berhenti berteriak! Itu juga karena paksaan dari kakak ku. Tidak usah dibahas," kilah Rukia dengan wajah memberengut.
"Tidak kusangka!" Renji menggelengkan kepala merahnya pelan ketika berangsur duduk. Mata runcingnya masih menatap tak percaya. Tak beda halnya dengan Ichigo dan Ishida.
"Jadi Ishida, apa spekulasi yang kau punya?" Rukia mencoba mengalihkan.
Ishida berdehem. Mencoba kembali pada mode seriusnya setelah ia duduk kembali. "Seperti yang kita tahu, dia tidak hanya sekadar TAHU tapi juga mampu menjelaskan sebuah peristiwa sejarah dengan sangat akurat. Biar ku jelaskan! Seseorang yang memiliki otak pintar sekali pun, biasanya akan menjelaskan sesuatu dengan kisaran yang mendekati untuk bilangan jumlah atau mungkin sebuah nama. Sebagai contoh, orang akan mengatakan; "Seperti.."; "Sekitar..."; "Kurang lebih..."; "Kalau tidak salah...". Karena kemampuan otak untuk mengeluarkan kembali informasi yang telah didapat tidak akan sama persis saat pertama kali otak merekamnya. Ini berhubungan dengan waktu. Semakin lama otak menyimpan informasi tersebut, maka semakin tidak akurat informasi itu kembali dikeluarkan. Penyebabnya, karena semua ingatan yang terekam akan tersimpan di alam bawah sadar. Kalau ku ilustrasikan, otak kita akan mampu menangkap informasi sebesar 80-70%. Namun hanya mampu mengaplikasikan ulang sebesar 65% ke bawah. Tapi yang dia lakukan justru kebalikannya..."
.
.
.
. . . .
.
.
.
Toushiro baru saja menutup buku terakhir, berjudul 'Tahun 1995'. Ia memejamkan mata. Menarik napas cukup dalam lalu dihembuskan perlahan. Kelopaknya kembali terangkat, menampilkan emerald datar seperti sebelumnya.
'Lagi-lagi tidak ku temukan. Apa mungkin harus ku cari dari 10 tahun sebelumnya?'
'Tidak. Itu terlalu jauh. Aku tidak bisa terlalu lama terpaku di sini. Ini hanya buang-buang waktu.'
Punggungnya beringsut, menyandar pada sandaran kursi. Toushiro masih menatap tumpukan 5 buku tahunan yang telah rampung dibacanya. Sampai suara cekikikan terdengar dari balik rak di samping kanannya. Disusul cekikikan berikutnya dan berikutnya, entah buku apa yang sedang dibaca dua siswi itu. Toushiro hanya meliriknya sekilas, seolah bisa melihat jelas dari sela-sela buku yang tersusun di rak. Tak lama, terdengar tapak tergesa dari sepasang sepatu flat.
"Apa kalian lupa diri sedang ada di mana?" suara seorang wanita muda dengan rambut digulung ke belakang , menginterupsi kedua siswi itu. Yang sukses membuat keduanya tersentak.
Kompak keduanya langsung menatap wanita berkacamata, "Di—di perpustakaan, Ise-sensei!"
Wanita itu memandang angkuh. Ia tidak suka keributan. Apalagi di wilayah kekuasaannya. "Kalau begitu berhenti membuat keributan sebelum ku usir," tegasnya.
"Baik!"
Wanita itu—Ise Nanao—kembali melenggang pergi diiringi tapak sepatu flat-nya yang menjauh. Kening Toushiro mengernyit tapi bukan karena heran. Melainkan karena mendapatkan sesuatu. Ia pun segera bergegas mengembalikan buku-buku tahunan ke tempatnya semula lalu menyambar salah satu buku tebal dari rak bertuliskan 'fiksi'.
"Permisi!" sapa Toushiro ketika sampai di meja petugas perpustakaan.
"Buku apa yang ingin kau pinjam?" tanya Ise-sensei tanpa menatap si Penegur a.k.a Toushiro.
"Nemesis," jawab Toushiro datar.
Ise-sensei menengadah seraya menurunkan sedikit kacamata bacanya untuk melihat Toushiro lebih jelas. "Sudah lama tidak ada yang menyentuh buku ini," ujarnya seraya menerima buku yang diulurkan Toushiro.
"Tugas resume," jawab Toushiro sekenanya.
"Kau punya selera yang bagus," komentar Ise-sensei saat tangannya mulai menyalin data buku ke dalam buku besar ber-tabel.
Toushiro mengernyit, "Kenapa anda mendatanya secara manual? Apa komputernya tidak berfungsi?" tanyannya seraya melirik sebuah komputer dengan monitor tabung berwarna putih teronggok di pojok meja belakang.
Ise-sensei ikut menoleh ke belakang, lalu kembali pada pekerjaannya menyalin data. "Beberapa hari ini bermasalah. Entahlah, aku juga tidak mengerti," jelasnya.
"Boleh saya lihat?"
Sebelah alis tipis Ise-sensei terangkat, "Kau bisa memperbaikinya?"
"Biar saya coba," tawar Toushiro.
"Silahkan!" Ise-sensei membuka pintu kecil di sampingnya agar Toushiro bisa masuk.
Tanpa buang waktu, Toushiro langsung menuju meja komputer. Menarik sebuah bangku lalu mencoba menyalakan CPU. Layar cembung itu menyala, tapi sebelum menampilkan windows loading atau booting, ia dengan segera menekan tombol F8. Berbagai data transkrip bergerak dari atas ke bawah. Mencoba mendeteksi akar masalahnya saat safe mode berlangsung.
"Ranmit... apa ini sering mati tiba-tiba tanpa peringatan shut down?" ujarnya sekaligus bertanya tanpa mengalihkan emerald miliknya dari layar hitam putih yang masih menampilkan data pemrograman.
"Begitulah, kalau kau bisa memperbaikinya akan sangat membantu pekerjaanku," jawab Ise-sensei setelah menoleh ke belakang, ke tempat Toushiro dan komputer berada.
"Saya bisa. Tapi bolehkah saya meminjamnya setelah itu?" pinta Toushiro saat manik hijau dinginnya berganti menatap Ise-sensei.
"Tentu saja! Kau bisa menyelesaikannya sendiri 'kan?" Ise-sensei kembali berbalik begitu menyelesaikan kalimatnya. Memunggungi Toushiro.
"Hn," sudut bibirnya tertarik. Toushiro tersenyum tipis.
Ia mendapatkannya. Untuk urusan memperbaiki komputer itu perkara mudah. Bahkan ia tak butuh waktu lebih dari 5 menit. Ditambah kemampuan 10 jarinya yang menari lincah di atas keyboard, membantu memangkas waktu lebih cepat. Tangannya bergerak merogoh saku kanan celananya begitu ia selesai. Mengambil sebuah benda mirip logam lempeng berukuran 6.04 x 3.09 x 0.33 in dengan sebuah layar datar berukuran 5.7 inches membentang di salah satu sisi yang melebar.
Toushiro menyentuhkan ujung jarinya di tengah layar. Seketika layar menyala menampilkan pola mirip status sebuah program. Penunjuk tanggal dan waktu, status baterai, screen saver, dan sebuah icon berbentuk rumah di paling bawah. Ujung jarinya kembali menyentuh tepat di atas icon, kontan merubah tampilan layar yang terdiri dari lebih banyak icon. Matanya sesekali melirik ke arah Ise-sensei yang masih memunggunginya, cuek.
Kini, ia melepaskan sebuah chip yang menempel di bagian belakang benda logam di genggamannya, lalu menempelkan chip tersebut di list layar cembung komputer yang telah menampilkan layar dekstop windows. Seketika sebuah pemberitahuan wizard baru muncul pada layar komputer, meminta untuk terkoneksi.
Ia mengarahkan mouse lalu meng-klik tepat pada tanda next. Begitu seterusnya hingga layar komputer menampilkan status instalasi yang hampir complete. Dan begitu selesai, segera ia melanjutkan ke tahap berikutnya. Membuka sebuah jendela pencarian di layar komputer yang langsung menampilkan halaman awal Google. Ia kembali mengarahkan kursor pada task bar, lalu mengetikkan key word-nya.
HITSUGAYA_
Dan Enter.
.
.
.
. . . .
.
.
.
"Hmm... Maksud mu dia memiliki kekuatan super?" tanya Renji dengan memasang tampang bodohnya.
"Sudah ku duga, kalau otak mu tidak akan sanggup memahaminya," ujar Ishida sarkastik. Yang langsung merubah tampang bodoh Renji menjadi tampang marah.
"Oii, teme! Kau mengejek ku?!" geram Renji kesal.
"Renji diamlah! Jadi apa maksud mu Ishida?" Rukia menengahi.
"Aku memiliki dua spekulasi yang bisa jadi kemungkinan untuk menjadi kesimpulan akhir," terang Ishida masih dengan wajah serius. "Pertama. Berdasarkan pejelasan ku tadi tentang kemampuan otaknya yang di atas rata-rata. Tentu kita bisa menyimpulkannya ke dalam golongan orang pintar atau bahkan jenius. Tapi, fakta tentang usianya yang masih muda tidak bisa diabaikan. Ada penjelasan sendiri mengenai kasus ini dalam ilmu psikologi. Child Prodigy."
"Pro ... apa? Promosi?" Ichigo bertanya bingung dengan keningnya berkerut-kerut.
"Baru ku sebutkan saja, kau sudah lupa. Kau benar-benar tidak berotak," ejek Ishida cuek lengkap dengan kalimat sarkastik khas-nya.
"Ishida temeeee!... Renji, gigit dia!" geramnya pada Renji seraya menunjuk Ishida.
"Heee... kenapa aku?" Renji menunjuk dirinya sendiri, heran.
"KALIAN BISA DIAM TIDAK?" teriak Rukia geram. Ia sungguh kehilangan wibawa seorang Kuchiki yang selalu diajarkan oleh kakaknya.
Ishida berdehem seraya membenarkan letak kacamatanya, kebiasaannya. "Child Prodigy adalah seseorang yang dalam usianya yang masih muda sudah memiliki kecerdasan atau kemampuan setara level orang yang lebih tua. Julukan ini biasanya diberikan kepada anak yang berusia di bawah 15 tahun. Anak-anak yang memiliki otak jenius, dapat digolongkan ke dalam Child Prodigy. Contoh orang-orang yang masuk ke dalam kategori ini adalah Mozart dan Picasso," jelasnya.
"Ini memang luar biasa. Tapi kupikir tidak bisa menjelaskan kenapa dia bisa menjelaskan sesuatu yang belum diketahui sebelumnya," tukas Rukia ragu.
"Karena itu aku memiliki spekulasi yang kedua. Ini lebih kepada kecurigaan ku. Kalau kalian masih ingat, saat dia memberi penjelasan rinci mengenai penampakan doppelganger dua hari lalu, ada di mana ia tidak memberi penjelasan serinci biasanya," terang Ishida lagi dengan nada yang lebih misterius.
Mata Rukia membulat. Ia ingat dan karena hal itu pula ia tidak memberikan tanggapan apa pun ketika Toushiro sibuk memberi penjelasan.
"Kuchiki-san?" tegur Ishida seolah tahu apa yang sedang dipikirkan gadis Kuchiki itu.
"Hn... kalau tidak salah, saat dia memberi penjelasan tentang sebuah penelitian mengenai otak kiri. Dan nama peneliti itu Ar- ... Ar- ... Arsty ... Ah bukan!... Ar- apa? Aku lupa," Rukia menggeleng, gagal mengingatnya.
"Arzy ... Dan nama penelitian itu adalah Temporoparietal Junction (TPJ) pada otak kiri," jawab Ishida cepat. "Saat itu, penjelasannya tidak serinci biasanya. Yang biasa menyebutkan tahun, tanggal, jumlah, atau angka terbilang dengan akurat. Sedangkan, ketika itu dia hanya menyebutkan 'pada suatu waktu' untuk keterangan waktu penelitian. Bukankah itu aneh?" tanyanya menatap curiga.
"Aku ingat penjelasan itu, tapi aku tidak bisa mengingat ketika dia mengatakan itu." Ichigo mengerutkan dahi, mencoba mengingatnya namun gagal.
"Itu wajar. Jadi aku ingatkan kembali. Dan karena keanehan itu, aku pun mencari tahu. Aku sadar ada hal lain yang dia sembunyikan," terang Ishida.
Rukia tertegun di tempatnya. Ia juga sempat merasa seperti itu.
"Dan jangan terkejut, kalau ku katakan, bahwa penelitian itu... sebenarnya belum pernah dilakukan," lanjut Ishida kemudian. Sukses membuat semua mata di dalam lingkaran diskusi membelalak.
.
.
.
. . . .
.
.
.
Cannot find your research.
Pemberitahuan gagal tertera di layar cembung, dengan beberapa penjelasan lainnya untuk mencoba lagi atau mengganti kata kunci. Tangannya kembali mengarahkan mouse ke dalam task bar, tepat di samping abjad terakhir pada kata HITSUGAYA.
Jarinya kembali bekerja. Mengarah ke atas keyboard putih yang siap ditekan. Mulai menekan tombol huruf satu persatu bergantian.
HITSUGAYA TOU_
.
.
.
. . . .
.
.
.
"Maksudmu dia berbohong?" tanya Renji masih dengan keterkejutannya.
"Tidak." tukas Rukia. "Itu yang akan dipikirkan orang kebanyakan. Karena dia tidak menyebutkan waktunya dengan tepat bukan berarti dia berbohong. Tapi lebih mungkin kalau dia sedang menyembunyikannya, karena pasti penelitian itu terjadi di tahun setelah ini. Entah di tahun berapa. Benar begitu Ishida?" tebaknya melanjutkan.
"Tepat sekali. Dia mencoba menyembunyikannya." Ishida tersenyum. Menyetujui tebakan Rukia.
"Ah!" Inoue tersentak tiba-tiba. "Jangan-jangan dia memiliki kemampuan untuk melihat masa depan?" ujarnya seolah kaget dengan tebakannya sendiri.
"APA?" Renji pun ikut kaget sambil berteriak.
"Tunggu dulu!" Ichigo mengulurkan telapak tangannya ke depan, menahan spekulasi lainnya. "Kalau memang seperti itu, kenapa tidak dilakukan sejak awal? Maksudku, sejak ia memberi penjelasan tentang materi sejarah dipelajaran Ichimaru-sensei. Dia bisa saja 'kan menahan diri untuk tidak berbicara di luar batas. Yah, kalau itu juga berhubungan," tukasnya sambil memegang dagunya.
"Ku rasa kau mulai menggunakan otak mu, Kurosaki!" tanggap Ishida sarkastik. "Seperti yang dikatakan Kuchiki-san, dia menghindar untuk mengatakan keterangan waktu saat itu. Dan saat pelajaran Ichimaru-sensei, bisa ku prediksi, kalau saat itu dia sedang ceroboh. Ya, melakukan sesuatu yang tidak sengaja. Dan belajar dari kesalahan untuk tidak mengulanginya lagi. Seperti pada saat penjelasan mengenai penelitian Arzy. Lalu, soal kenapa dia bisa mengetahui semua itu. Mungkin saja tebakan Inoue-san benar. Kalau dia bisa melihat masa depan."
"Apa itu spekulasi kedua mu, Ishida?" Renji bertanya mewakili.
"Ini hanya teori yang mengarah pada spekulasi ku. Seorang anak yang mampu melihat masa depan; memiliki ingatan yang sangat kuat dengan penjelasan yang sangat akurat; memiliki pemikiran yang lebih dewasa dibanding usianya dengan kemampuan memperbaiki kesalahan; dengan bola mata besar dan jernih; Sensitif pada keadaan ditunjukkan saat munculnya doppelganger Unohana-sensei. Semua hal ini yang melengkapi kesimpulan kedua ku. Child Indigo," terang Ishida.
.
.
.
. . . .
.
.
.
"Kau sudah selesai?" tegur Ise-sensei seraya berbalik. Mendapati Toushiro baru saja menyandar di sandaran kursi.
"Ya," jawab Toushiro singkat seraya mengeluarkan sebelah tangannya dari dalam saku kanan celana seragamnya. Mengembalikan benda logam ke tempat semula tanpa diketahui.
"Baguslah! Sebentar lagi bell masuk berbunyi, segeralah kembali ke kelas!" perintah Ise-sensei setelah berbalik ke arah semula. Ke depan mejanya.
"Baik!" sahut Toushiro saat tangannya meng-klik tombol shut down pada layar komputer. Ia pun beranjak dari kursinya setelah memastikan layar komputer dan CPU benar-benar telah padam.
"Aku merasa asing dengan wajahmu. Apa kau murid baru?" tanya Ise-sensei saat Toushiro telah kembali berdiri di depan meja tugasnya.
"Hn. Begitulah!"
"Baiklah. Ini buku mu! Waktu peminjamannya dua minggu. Dan terima kasih untuk perbaikan komputernya, Hitsugaya-san!" ujar Ise-sensei kemudian seraya menyerahkan novel karangan Agatha Christie tersebut beserta kartu perpustakaan milik Toushiro.
"Sama-sama, sensei. Permisi!" pamit Toushiro setelah menerima pemberian Ise-sensei dan langsung melenggang pergi. Keluar dari ruang perpustakaan dengan kerutan yang mulai muncul di antara alisnya. Lagi-lagi, tidak ditemukan.
'Tidak ada.'
.
.
.
. . . .
.
.
.
"Sugoiii~~," Inoue berdecak kagum.
Sementara Ichigo, Renji, dan Rukia hanya mampu terperangah tak percaya.
"Jadi, dia yang mana?" tanya Rukia yang mirip gumaman.
"Entahlah!" Ishida mengendikkan bahunya. "Kemungkinan salah satunya. Atau ... mungkin juga keduanya. Seorang Prodigy yang Indigo," katanya kemudian.
.
.
.
.
.
.
Rukia melamun. Lagi-lagi ia melewatkan pelajaran. Mungkin nilainya semester ini akan turun. Tapi sepertinya ia tetap tidak peduli. Penjelasan Ishida mengenai sosok yang akhir-akhir ini mengisi hari-harinya menjadi lebih menarik ketimbang penjelasan Matsumoto-sensei mengenai sistem reproduksi pada manusia sekali pun. Banyak hal yang berkecamuk di kepala ravennya membuat Rukia hanya menerawang memandang buku cetak biologi yang terbentang di mejanya. Terlihat dari alisnya yang bertaut di tengah dahi.
"Reproduksi pada manusia terjadi secara seksual, artinya terbentuknya individu baru diawali dengan bersatunya sel kelamin laki-laki yaitu sperma dan sel kelamin wanita yaitu sel telur," suara Matsumoto-sensei mendominasi di kelas hening ketika semua mata hanya fokus luar biasa ke arahnya. Maksudnya penjelasannya. Atau keduanya. Mungkin.
Keigo mengancungkan tangannya ke atas. Berniat untuk bertanya dan Matsumoto-sensei menanggapinya. Walaupun aneh, karena Keigo tidak pernah bertanya sama sekali sebelumnya. "Baiklah. Katakan apa yang kau pikirkan, Keigo!" ujar Matsumoto-sensei lantang.
"Sensei, bisa kau jelaskan lebih detail mengenai proses bersatunya sel kelamin laki-laki dan sel kelamin perempuan?" tanya Keigo tidak kalah lantang.
"Huuuuuuu~~," sorak para siswi kompak menanggapi pertanyaan Keigo yang sangat mesum.
"Oii Keigo, untuk apa bertanya kalau ternyata kau yang paling paham di sini," tukas seorang siswa mewakili.
"Haaah~... sudah ku duga, pikiran kotor mu yang bertanya. Baiklah, apa ada yang bisa menjawab pikiran kotor Keigo?" Matsumoto-sensei melempar kembali pertanyaan kotor Keigo kepada para muridnya. Ya, sepertinya penjelasan mengenai hal ini lebih baik di skip saja, berhubung ini akan merambat ke rate yang lebih tinggi.
Namun, suara keributan yang biasa hadir ketika pelajaran yang membahas tentang hubungan intim ini sama sekali tidak mengganggunya. Rukia kembali bermain dengan benaknya. Kata 'Prodigy' dan 'Indigo' seperti berputar-putar mengelilingi kepala berambut hitam pendek miliknya. Membuatnya jadi pusing sendiri. Jelas saja, karena ia mencoba mengingat sekaligus memikirkannya. Rukia mendesah. Saat tangannya merogoh laci mejanya, mengambil buku bersampul ungu dari bahan kulit. Lalu meletakkannya di atas meja. Ia membukanya, terus membalik halaman mencari lembar kosong. Tangannya beralih menggenggam pena ketika menemukannya.
Rukia mencoba menulisnya. Merangkum ulang hasil diskusi singkatnya bersama Ichigo, Renji, Inoue, dan Ishida selama istirahat siang tadi. Berharap ia tidak akan melupakan penjelasan itu. Yah, setidaknya dengan menuliskan ulang akan membantu Rukia untuk tetap mengingatnya. Tentunya di buku pribadi miliknya yang sengaja ia bawa hari ini. Buku harian...
.
.
Selang satu meja di belakangnya. Tak beda dengan Rukia, pemuda ini pun tengah tenggelam dalam lamunannya. Bedanya, ia menerawang ke luar jendela kelas di sebelah kirinya. Dagunya ditopang oleh sebelah tangan. Toushiro masih berpikir bahkan di tengah lamunannya.
'Ini sungguh buang-buang waktu. Bahkan di tahun ini pun belum ada jejaring sosial yang aktif. Tapi stidaknya sudah ku coba walau lagi-lagi gagal. Baiklah, apa lagi langkah selanjutnya? Aku harus mencarinya ke mana lagi? Jelas-jelas dia berasal dari sekolah ini... Tapi di mana?'
Alisnya semakin bertaut di antara mata dinginnya.
.
.
.
.
.
.
Kreaakkk
Rukia membuka pintu lokernya. Lalu beralih melepas uwabaki-nya, menaruhnya pada loker paling bawah miliknya, lalu mengganti alas kakinya dengan sepatu flat hitam miliknya. Ia berdiri setelah selesai dengan urusan alas kaki. Memperhatikan sebentar isi lokernya, menimbang kira-kira apa lagi yang akan dibawa atau ditinggal. Akhirnya memutuskan untuk membawa buku-buku untuk pelajaran esok dan meninggalkan untuk yang hari ini. Seperti biasa.
Tapi, sesuatu yang janggal disadari Rukia ketika mencoba memasukkan buku-buku ke dalam tas sekolahnya. Dahinya mengernyit. Ia pun berjongkok seraya melepas tas dari cangklongan-nya. Menaruhnya di lantai lalu mulai membongkar isi tasnya. Bahkan semua restleting telah dibukanya. Tangannya telah merogoh ke seluruh sudut dalam tasnya.
'Tidak ada', pikirnya. Ia pun kontan kembali berdiri dengan gerakan cepat. Mencangklong kembali tasnya lalu menutup pintu lokernya asal. Rukia berujar tanpa menatap lawan bicaranya saat ia mulai melangkah cepat meninggalkan pemuda yang masih mengikat sepatu kets-nya.
"Aku harus kembali ke kelas. Ada yang tertinggal. Kau tunggu aku di depan gerbang ya!"
Ia menoleh, menatap Rukia ketika berlari seolah panik. Keningnya mengernyit saat tangannya mempercepat gerakan mengikat tali sepatu. Lalu segera ikut berlari menyusul Rukia yang baru saja berbelok menuju tangga lantai dua.
"Eh! Kenapa kau malah ikut?" ujar Rukia kaget begitu sampai pada pintu pertama kelasnya, Toushiro sudah berada di sebelahnya.
"Dengan dua kepala, akan lebih cepat menemukannya. Lagi pula aku sudah janji pada kakak mu," jawab Toushiro sekenanya seraya menggeser pintu lalu mendahului Rukia memasuki kelas yang telah sepi.
"Hah ... terserah!" decaknya pelan dengan langkah turut memasuki kelas, menyusul Toushiro.
Rukia segera melangkah menuju mejanya setengah berlari, sedangkan Toushiro justru masih terdiam di depan kelas. Mungkin masih bingung apa yang harus dicarinya, toh dia belum bertanya pada empunya. Tapi melihat Rukia yang masih panik, bahkan semakin panik saat mengobrak-abrik isi lacinya, Toushiro tahu gadis itu tidak menemukannya.
Ia pun memaksa manik hijaunya berkeliling menyapu setiap sudut ruang kelas. Berharap menemukan benda yang dicari gadis itu, lalu cepat pulang. Sedangkan Rukia masih sibuk mencari di kolong mejanya, dan di kolong meja siapa pun.
Dan ketika emerald teduh miliknya menatap deretan kursi belakang dekat pintu kedua yang tertutup, Toushiro mematung. Tidak ada gerakan dari tubuhnya, bahkan bola matanya. Ia hanya menatap terpaku pada satu arah. Pada lantai dari ujung deretan kursi paling belakang sebelah kanan. Pada sebuah benda yang teronggok begitu saja di lantai. Tapi, ekspresinya seketika berubah begitu menyadari wujud benda itu. Toushiro membelalak lebar. Ia terkejut luar biasa. Tubuhnya kaku bahkan ketika kakinya mulai susah melangkah mendekati benda berwarna ungu itu.
Butuh 5 langkah bagi Toushiro untuk sampai di depan benda tersebut. Kontan ia berlutut satu kaki. Tangannya gemetar saat meraih benda berbentuk buku berwarna ungu. Ia meraihnya, mengangkatnya, lalu menggenggamnya erat. Toushiro menahan napasnya, ketika buku itu ikut bergetar mengikuti frekuensi gemetar tangannya yang mengerat. Ia bangkit. Ia hanya tidak mampu berkata-kata. Ia jadi bisu, tuli, bahkan lumpuh. Ia hanya menatap tidak percaya pada buku ungu yang sangat dikenalnya. Toushiro sangat mengenalinya. Sangat. Tapi, kenapa buku itu bisa ada di sini?
"Ah! Kau menemukannya, yokatta~!" teriak seorang gadis dari arah belakangnya. Dari suaranya, tergambar jelas kalau ia sangat gembira. Tapi untuk Toushiro, ini begitu mengejutkan. Apalagi saat sebuah tangan tiba-tiba terulur dari belakangnya lalu menyambar cepat buku dalam genggamannya. Toushiro tidak berkutik.
"Ku pikir hilang," ujar gadis itu lagi. Membantu Toushiro mengumpulkan lagi nyawanya ketika menyadari suara itu pun begitu familiar baginya. Matanya sempat mengerjap dua kali, ketika Toushiro susah payah berusaha membalikkan tubuhnya perlahan. Menghadap ke arah gadis yang telah merebut buku itu dari tangannya.
Dan begitu ia berhasil, menghadap gadis yang berjarak dua langkah darinya, hatinya mencelus. Ia justru semakin kehilangan kata-kata. Ya, Toushiro harus berkata apa sekarang? Ia pun tidak tahu. Matanya menyorot nanar, juga rindu. Teramat sangat malah. Terlihat dari kelopaknya yang meredup. Toushiro menelan ludahnya sendiri ketika ia mencoba untuk tersenyum. Namun gagal.
"Pasti tidak sengaja terjatuh saat aku buru-buru memasukkannya ke dalam tas sambil berjalan," ujar gadis berkepala raven itu lagi. Dan tanpa menatap toushiro lagi. Ia sibuk memasukkan buku yang terlihat seperti kesayangannya ke dalam tasnya. Membuat Toushiro semakin mengerjap, dengan kakinya yang tanpa sadar mulai melangkah. Mendekati gadis yang kini sedang mencoba menutup tasnya.
Satu langkah berhasil didapatnya, dan tidak ada perlawanan dari dalam dirinya untuk berhenti. Dan tinggal selangkah lagi baginya, disertai kedua tangannya yang mulai terulur ke depan. Hingga—
"Terima kasih sudah menemukannya—"
—ia meraihnya dalam sekali tangkap. Mendekap tubuh mungil gadis itu dalam pelukan erat. Yang cukup membuat si gadis tercekat di ujung kalimat. Toushiro tidak peduli. Ia bahkan semakin merangkul tangannya di belakang tubuh si Gadis Raven. Semakin tidak peduli kalau yang dipeluk akan kehabisan napas saat ia semakin mengeratkan dekapannya. Napasnya memburu. Jantungnya pun memburu. Toushiro kalut. Putus asa. Sedih. Atau mungkin bahagia. Ia tidak tahu.
Semuanya bercampur dan meluap-luap. Membuatnya gemetar, dan jadi takut akan detak jantungnya sendiri. Sungguh, ia sangat merindukannya. Astaga. Astaga ... Ia menemukannya. Kenapa Toushiro tidak menyadarinya? Dia yang selalu berjalan di sampingnya, lebih tepatnya sedikit di depan. Dia yang selalu duduk di depannya. Dia yang secara refleks ditariknya begitu menyadari aura berbahaya di kelas seni. Dia yang selalu mengajaknya bicara. Dia yang mengantarkan rantang berisi makan malam. Dia yang tinggal di kediaman Kuchiki. Dia sedekat itu. Tapi, kenapa Toushiro tidak menyadarinya? Astaga...
Ia menggeram. Menekan dagunya pada salah satu pundak si Gadis Kuchiki. Ia marah. Marah pada dirinya sendiri. Matanya terpejam erat sampai berkerut. Ingin rasanya waktu berhenti saat ini juga. Astaga... Betapa ia sangat menyayangi sosok dalam dekapannya ini. Toushiro masih butuh waktu untuk melepaskannya. Setidaknya biarkan ia seperti ini dulu.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
[1] Dreambender : Seseorang yang memiliki kemampuan mengendalikan mimpi setelah menguasai Lucid dream terlebih dulu.
[2] Lucid dream : Keadaan di mana seseorang sadar kalau dia sedang bermimpi dan sedang berada di alam bawah sadarnya. Seseorang yang menguasai Lucid dream, bisa berkunjung ke alam mimpinya sendiri sesuka hati.
[3]Kelas Excel : Kelas akselerasi yang dihuni murid-murid pilihan yang berprestasi dari bidang akademik sampai olahraga. Di fic ini saya beri Inisial E. E-1 untuk kelas Excel tingkat pertama; E-2 untuk tingkat kedua (kelasnya Rukia dkk); dan E-3 untuk tingkat terakhir.
[4]Uwabaki : Sepatu wajib untuk seluruh pelajar di Jepang.
[5]Nemesis : Salah satu novel fiksi detektif karangan Agatha Crhistie.
.
.
A/N : Yahoo! Yuki datang lagi membawa chapter 4. Dan di ch ini full membahas Hitsugaya Toushiro. Nah, bagi yg penasaran dengan Shiro-chan, bisa mulai menebak-nebak setelah membaca ch ini! Ada kilasan mimpi di awal dan beberapa hasil analisa Ishida mengenai Shiro-chan (Impian saya banget nih, membandingkan kejeniusan Ishida dan Toushiro. Siapakah yg lebih?) Saya sarankan untuk kembali ke ch 3 untuk mengecek dimana maksud ucapan Ishida mengenai 'pada suatu waktu'. Bagaimana? Apakah sudah sedikit menemui titik terang atau justru semakin membingungkan? Baiklah, saya tunggu spekulasi readers sekalian di kotak REVIEW dan bagi yang kurang paham atau ada yang mau ditanyakan, feel free to PM me!
.
.
PS : Ch depan akan kembali menegangkan. Tapi tidak ada hubungannya dengan penampakan atau doppelganger dari ch 3. Akan ada cerita baru. Jadi, sampai bertemu di ch 5! Akan saya usahakan tepat waktu... Dan untuk Metensarkosi. Haduh, saya gak bisa berkata-kata. Yah, ditunggu aja deh, pasti saya lanjutin kok.
.
.
Yuki Sharaa
