Balasan review yang tidak login...

zera : Zeraaaa... #peluk-peluk. Sekarang sudah ada namanya kok zera... Rukia siapanya Toushiro? hmm.. belum bisa dijawab. Nanti kebongkar dunk misterinya.. hehe. Haduh maaf banget ya kalo updatenya lama... #bungkuk2 dalem. Kompi saya sempet rusak nih. Jadinya ketunda terus... Tapi ini saya sudah update! gpp kok review banyak (maunya author)... soalnya banyak juga yg gitu, akibat saya updatenya kelamaan... haha. terima kasih ya sudah menyempatkan review. Huhuhu... saya harus banyak2 minta maaf nih udah bikin penasaran. Selamat membaca ch 5 zera... semoga ini masih bikin penasaran!hohoho...

Haruka-chan : kyaaa... saya juga kaget. Kenapa hitsu peluk rukia... #lho?.. Untuk semua pertanyaannya Haruka-chan, saya minta maaf belum bisa dijawab. Nanti pasti akan terjawab sendiri kok seiring berjalannya cerita #yaiyalah mba-e.. Waduh, kalau udah akut itu bisa berbahaya. Segera diobati Haruka-chan. (author gak bertanggung jawab). tehehe... menurut saya juga begitu. Tapi tetep kepintaran Ishida tidak bisa diabaikan di sini. Yah, saya juga gak tahu ch ini masih bisa disebut menegangkan atau gak. Soalnya gk ada penampakan apa pun. Kalu untuk yg doki-doki.. ada gak ya di ch ini? #sok gak tahu. hehe... ch 5 sudah update! maaf lama nunggu. Selamat membaca Haruka-chan...

Guest : Penasaran Toushiro siapa? Kasih tahu gak ya... Aduh jadi malu #apa sih?... Yaudah lah, pokoknya ini sudah update. Selamat membaca guest-san... terima kasih sudah mampir lagi dan lagi...

thathaa : oke... itu cerita singkat yang... menyeramkan. Kalo saya jadi kamu, saya langsung jadi parno semingguan. Emang dasar saya penakut aja sih.. hehe. Makasih lho thathaa atas pujiannya. wkwkwk... iya, emang itu lelucon yg sering dipake sama anak2 zaman sekarang (lho! memangnya author anak zaman kapan?) Dan untuk pertanyaannya (dan memang semuanya juga bertanya soal ini) maaf belum bisa terjawab #bungkuk. Iya thathaa... saya inget update kok. Ini buktinya ch 5 sudah hadir... selamat membaca thathaa... terima kasih reviewnya

Ganesha : Salam kenal juga Ganesha-san. Selamat datang! semoga setelah baca fic ini kamu gak dapet zonk ya... hehe. hmmm.. saya bingung harus menanggapi apa nih. Yang jelas makasih yg sebesar-besarnya untuk review yg wow ini. Walaupun sebenarnya kamu agak berlebihan. Karena ini masih jauh dari kata perfect. Buktinya masih banyak typo berserakan. Dan kalo dibilang keren, sebenernya saya jauh lebih keren dibanding fic ini #narsisme. hehehe... pokoknya terima kasih banyak atas pujiannya. hadoh, saya jadi malu sendri ini #halah.. jadi ikutan alay saya, hehe. Oke, chapter 5 is ready.. enjoy! Hope you like Ganesha-san... #sok ikut2an pake bhasa inggris...

shofia mutiarani : Terima kasih Shofia atas dukungannya dan juga reviewnya. Ini ch 5 sudah update... selamat membaca ya! Semoga kamu suka...

yuuki nadaa : Oke. Ini sudah update Yuuki (eh nama kita sama..)... Terima kasih ya buat dukungan dan juga review-nya... Enjoy!

.

Untuk yang login, sudah saya balas melalui PM ya!

.

Sekali lagi terima kasih bagi yang sudah mereview/fav/follow/PM :

mira. cahya 1 Haruka-chan thathaa Chupank zera sinji. kazeri inggar. naghespegapha Guest Suitceda yagami Aosaki SakuraiAyra el IristaKiki RyuEunTeukFujiwara EikichiSuit as Suithigitsune84tailsningKyuizumi chiekoshofia mutiaraniLilium E. Midfordyuuki nadaadan juga untuk para readers di seluruh dunia yang bersedia meluangkan waktu untuk membaca

.

.

Happy reading!

.

.

Warning : AU, OOC, Ranjau Typo, banyak istilah, agak ngebingungin

Genre : Mystery/Frienship/Romance


Disclaimer : I do own nothing


::::

::::ENIGMA::::

::::


.

.

Baiklah. Apa sekarang Rukia boleh menamparnya? Iya, menampar pemuda kurang ajar yang tiba-tiba merangkulnya. Bukan... bukan merangkul. Itu terlalu sopan. Orang ini memeluknya. Tidak... tidak. Itu juga bukan. Ini lebih dari sekedar memeluk. Ini terlalu erat. Pemuda ini mendekapnya. Mendekapnya tanpa peringatan. Dan begitu kuat. Oh astaga, bagaimana caranya Rukia bisa melepaskan diri kalau si Hitsugaya ini mendekapnya dengan cara begini? Atau, apa Rukia harus menampar dirinya sendiri? Karena ia sudah berubah jadi gadis bodoh yang hanya berdiri mematung. Merelakan dirinya saat ada pemuda asing yang tiba-tiba memeluknya begitu saja.

Baiklah. Sepertinya Rukia memang perlu menampar dirinya sendiri setelah ini. Ia perlu menyadarkan dirinya yang kini hanya mampu membelalak dengan sekujur tubuh kaku. Oke, sudah berapa lama ia dipeluk dengan posisi tubuh seperti ini? Oh, jadi sekarang ia mulai linglung. Fokusnya langsung buyar dan sulit berkonsentrasi, begitu?. Bahkan hanya untuk sekedar mendorong tubuh yang masih merapat padanya.

Baiklah. Dan sepertinya sekarang Rukia tidak hanya kehilangan fokusnya. Tapi juga kehilangan kedua tangannya. Pantas saja sejak tadi tidak bisa digerakkan. Lalu apa lagi ini? Jantungnya berdebar? Bagus. Bagus sekali. Bahkan Rukia masih bisa berdebar di saat seperti ini—

Rukia tertegun. Kala menyadari debaran ini bukan bersumber dari jantungnya. Melainkan, milik pemuda yang masih setia merengkuhnya erat. Rukia semakin bingung. Apalagi saat ia mulai menangkap gestur tubuh milik pemuda Hitsugaya ini. Ia merasakannya. Keputus-asaan dan juga kelegaan. Dan satu lagi... kerinduan?

Rukia mengerjap. Saat suara geraman tertahan menyapa gendang telinga kanannya. Dan juga rasa tertekan pada pundak kanannya, tempat si Hitsugaya menyampirkan dagunya. 'Ada apa?'... Benaknya bertanya entah pada siapa. 'Dia kenapa? Apa terjadi sesuatu padanya? Kenapa tiba-tiba dia seperti ini?'... Dan berbagai pertanyaan sarat kecemasan lainnya mulai bergentayangan menakuti otaknya tanpa mampu terucap.

Dan, saat kebingungannya telah berubah menjadi kekhawatiran, dekapan itu merenggang. Perlahan Toushiro menurunkan kedua tangannya dan memberi jarak antara dirinya dengan Rukia. Membuat Rukia kembali bisa bernapas lega ketika Toushiro mundur dua langkah. Kembali ke tempatnya semula. Dan tanpa menatapnya. Emerald-nya beralih ke tempat lain, menghindar. Ke bawah, ke samping, ke mana saja asal tidak menatap obsidian ungu yang justru memperhatikan penuh Toushiro. Toushiro tahu, pasti saat ini Rukia menatap penuh tanya padanya. Dan Toushiro mengalihkannya bukan karena ia takut, melainkan karena ia tidak bisa menjawabnya. Sungguh, ia tidak bisa menjelaskan apa pun saat ini. Toushiro hanya bisa berharap, semoga Rukia tidak bertanya apa pun saat ini.

"Pulang... ayo... cepat...," ajak Toushiro. Kikuk.

Bermaksud ingin mengalihkan situasi, tapi sepertinya gagal total. Dibuktikan saat ujung matanya melirik Rukia yang justru melongo di tempatnya dengan sebuah sweatdrop, mendapati kosakata Toushiro yang berantakan. Toushiro buru-buru berbalik, melangkah lebih dulu menuju pintu keluar. Masih dengan kikuk. Ah... payah. Toushiro memang selalu payah dalam berakting. Dan bisa ditebaknya, pasti saat ini Rukia mulai menatap curiga pada punggungnya.

"Cepatlah!" ajaknya lagi yang kini sedikit memaksa. Tanpa berbalik, menatap lawan bicaranya.

Bahkan suara Toushiro jadi bergema karenanya. Akibat ruang kelas yang sepi dan suara yang sedikit meninggi. Sepertinya ia cukup gugup sampai kehilangan kontrol pada suaranya. Membuatnya jadi kaget sendiri dan tentunya... semakin kikuk. Tch... payah.

.

.

.

.

.


_The Missing Day_


.

.

.

.

.

[Kamis, 23 November 2000]

.

.

Bola mata hazel-nya bergerak-gerak di balik kelopak mata yang masih tertutup. Mata yang masih terpejam kian mengerat kala kesadaran mulai mendatanginya. Kerutan permanen diantara alis orange semakin menukik dalam ketika ia berusaha mengangkat kelopak mata yang masih terasa berat. Hingga pangkal hidungnya ikut berkerut saat kedua mata itu lambat laut mulai mengintip. Menyipit, lalu terpejam lagi, mengerat lagi, kemudian terbuka sepenuhnya tanpa menghilangkan aksen kerutan alisnya.

Lemari dua pintu yang pertama kali dilihat Ichigo. Lalu beralih ke atas meja belajar yang merapat ke dinding—tepat di depan lemari. Atau lebih tepatnya melirik pada jam digital kecil di atas meja belajar yang telah menunjukkan pukul 06.00 AM, 23-11-2000. Alisnya kian berkerut tanpa mengubah posisi tengkurap di atas tempat tidur. Ichigo heran, bukan karena ia bangun terlalu pagi. Melainkan karena menyadari ada yang berbeda dengan pagi-nya kali ini. Ya, seperti ada yang kurang.

Ia berguling. Merubah tengkurapnya menjadi terlentang. Kini, kicauan burung semakin jelas menyapa kedua sisi gendang telinganya. Menambah keyakinannya kalau ini benar-benar sudah pagi. Tapi sekali lagi, masih ada sesuatu yang dirasa aneh bagi Ichigo. Ia pun bangkit. Mendudukkan diri di atas kasur. Menguap lebar dengan sudut mata berair. Kemudian mengecap-ngecapkan mulutnya dua kali. Baru setelahnya, kepala orange itu menoleh ke kanan.

Gorden abu-abu belum tersingkap, bahkan tidak bergerak karena angin sekali pun. Bukti belum ada satu orang pun yang menjejakkan kaki ke kamarnya untuk sekedar membuka jendela. Hazel-nya masih menyorot heran. Ketika ia sadar kalau pagi ini Ichigo tidak mendapat sapaan "GOOOOOD MOOOORNIIIING!" dari seorang pria tua bodoh yang dipanggilnya Oyaji. Yang setiap paginya setia membangunkan putra pertamanya dengan cara menyerang tiba-tiba.

Ichigo mendengus. 'Akhirnya pria tua itu menyerah juga', pikirnya. Menjadikan pagi ini sebagai pagi yang langka bagi Ichigo. Ia pun beranjak turun. Merenggangkan kedua tangan lebar-lebar seraya mengerang. Lalu menyambar handuk di sandaran kursi dan bergegas ke kamar mandi. Tak lupa dengan mood baik yang merayap di benaknya. Ini sungguh pagi yang damai.

.

.

.

"Ohayoo, Yuzu!" sapa Ichigo santai ketika sampai di depan meja makan. Dengan setelan seragam sekolah lengkap juga menenteng tas sekolahnya. Sekilas menatap adik perempuannya yang terlihat repot dengan telur mata sapi setengah matang.

"Ohayoo, Onii-chan!" balas Yuzu riang, masih dengan celemek dan spatula di tangan.

Sebelah tangan Ichigo kemudian menarik kursi guna memberinya ruang duduk. Iris madunya kini beralih pada adik perempuannya yang lain, yang sudah duduk lebih dulu di hadapan Ichigo. "Ohayoo, Karin!"

"Ohayoo!" balas Karin datar. Tanpa mengalihkan Onyx-nya dari koran di atas meja. Entah sejak kapan dia mulai suka membaca koran pagi-pagi. Tidak biasanya. Atau memang Ichigo saja yang tidak pernah memperhatikannya selama ini.

Pun diabaikan ketika mendapati satu kursi yang seharusnya ditempati kini kosong. Alisnya semakin menekuk heran lalu menengok ke segala tempat yang bisa dijangkau pengelihatannya, seakan mencari.

"Ichi-nii, kalau kau sedang mencari pria tua itu, dia sedang tidak ada di rumah," jelas Karin datar seolah mengetahui kalau Ichigo memang sedang mencari ayahnya. Dan masih tanpa mengalihkan matanya dari koran.

"Oto-san sudah pergi pagi-pagi sekali. Katanya akan memberikan bantuan medis darurat di daerah pinggiran kota," terang Yuzu menimpali. Sembari meletakkan telur mata sapi milik Ichigo dan Karin di piring masing-masing.

Yuzu pun segera mengambil tempat dudukya, bergabung di meja makan. Sedangkan Ichigo hanya mengangguk seadanya sebagai tanggapan. Jadi ini jawaban atas keheranannya pagi ini karena tidak mendapat gangguan dari sang Ayah. Dan sama saja berarti kalau pria tua itu belumlah jera.

.

.

.


.

.

[Karakura High School]

.

.

"Aree~... Lihat itu Kurosaki-kun!" Inoue tiba-tiba berseru dan berhenti di tengah langkahnya sambil menunjuk antusias ke arah berlawanan. Membuat Ichigo yang berjalan cuek di sampingnya akhirnya ikut berhenti, menoleh ke samping—ke arah Inoue—lalu ke arah yang ditunjuk Inoue.

Ia pun terperangah. Mendapati dua orang yang dikenalnya berjalan berdampingan... err mungkin tidak persis berdampingan. Karena si Gadis berjarak setengah meter di depan si Pemuda.

"Mereka benar-benar berangkat bersama 'kan?" seruan kedua Inoue masih tidak ditanggapi Ichigo yang masih terpaku di depan gerbang sekolah. Menatap lurus ke arah pasangan yang juga berjalan menuju gerbang sekolah. Lebih tepatnya ke arah gadis Kuchiki yang sepertinya belum menyadari keberadaannya. Alisnya menekuk dalam, seimbang dengan mata yang menatap tajam.

"Ohayoo~ Kuchiki-san, Toushiro-kun!" Inoue melambai tinggi, menyapa riang dua orang yang baru sampai di depan gerbang. Membuat keduanya kompak menatap ke sumber suara.

Rukia tersentak, sedangkan Toushiro masih berpose dingin. "O—ohayoo... Inoue...," balas Rukia gugup. Menatap Inoue lalu melirik Ichigo. Seolah baru saja kedapatan melakukan sesuatu yang 'aneh'. Apalagi saat sekilas melihat Ichigo yang sempat menatap tajam ke arah Toushiro, kemudian beralih padanya (lagi).

Ichigo menyeringai kecil. "Jadi benar? Tidak ku sangka," ujarnya kemudian. Lebih terkesan sinis ketimbang tidak percaya.

"Tawake," gerutu Rukia pelan. Sambil menarik Inoue untuk segera beranjak meninggalkan kedua pemuda itu.

Hazel-nya mengikuti kepergian Rukia. Kemudian beralih pada Toushiro yang tampak tidak peduli pada tatapan intimidasi Ichigo. Dengan cuek-nya si Hitsugaya melangkah, mengikuti Rukia memasuki gedung sekolah dengan kedua tangan tenggelam di saku celana. Dan si Kurosaki semakin menatap sengit. Memberengut kesal.

.

.

.

[Kelas E-2—Pelajaran Ke-2]

.

.

Pukul 11.30 siang. Hampir semua kepala di ruang kelas ini berasap. Bukan karena ruang kelas yang kebakaran. Melainkan otak mereka. Berkat ulah sang Wakil Kepala Sekolah sekaligus guru Matematika yang terus-menerus memacu otak mereka untuk berpikir. Bagaimana tidak, ini hampir tengah hari, siapa yang suka berpikir pada waktu seperti ini? Walaupun di musim gugur, kita butuh sesuatu yang hangat sekalipun, tapi panas yang membakar otak seperti ini sama sekali tidak menyenangkan. Padahal awalnya mereka bersorak saat pelajaran pertama kosong; kelas Ongaku, Hirako-sensei.

Semua kompak menghitung mundur dalam hati, menunggu bell istirahat siang berbunyi. Ada yang bertopang dagu dengan sebelah tangan, ada juga yang menggunakan dua tangan. Ada yang bersandar pasrah di punggung kursi, ada juga yang kepalanya sudah tergolek lemah di atas meja. Oh, ternyata masih ada yang sanggup memperhatikan. Semisal; sang Ketua Kelas yang terlalu serius menatap sang Guru, si Gadis Kuchiki yang terlihat memperhatikan seadanya, dan si Pendatang Baru yang menatap jendela(?)

"Sesuai janji ku bulan lalu, bagi siapa pun yang bisa mengerjakan soal ini, akan mendapat imbalan!"

Aizen-sensei kembali menawarkan dengan senyum ramahnya. Mengenai soal matematika statistik yang kini telah terpatri di papan tulis. Yang sejatinya pernah ditanyakan oleh sang Guru berkacamata sekitar sebulan lalu. Namun, tidak ada satu pun murid yang sanggup memecahkannya meskipun telah diiming-imingi dengan kelulusan untuk pelajaran matematika tanpa perlu mengikuti ujian. Bahkan untuk otak se-kaliber Ishida pun tidak, saat itu.

Aizen-sensei sempat berkata kala itu, bahwa soal ini merupakan salah satu soal TERSULIT yang akan mereka temui saat ujian masuk Universitas kelak. Beberapa mencoba untuk menjawab walau gagal, sedangkan kebanyakan langsung down seketika begitu mendengar kata SULIT. Oleh karena itu, sang Guru memberikan kesempatan kedua setelah kepulangannya dari Amerika selama sebulan, yakni hari ini.

"Bagaimana, adakah yang ingin mencobanya?" tawar Aizen-sensei sekali lagi.

Namun, tidak ada satu pun respon dari para murid yang rata-rata terlihat lemas. Menyalahkan semua huruf dan angka yang justru beterbangan kemana-mana di pandangan mereka. Berbeda dengan Renji yang justru menatap papan tulis dengan pandangan mendamba. Tak lupa liur yang sedikit menetes di sudut bibirnya. Ichigo tebak, pasti saat ini Renji sedang membayangkan data statistik di papan tulis sebagai daftar menu. Berbanding terbalik dengan dirinya yang terlihat telah menyerah.

Ishida yang diharapkan pun masih sibuk berkutat dengan coretannya.

"Ishida-kun?" panggil Aizen-sensei.

Ishida menegakkan kepalanya, mendapati Aizen-sensei tersenyum penuh arti padanya. Semua mata pun kini turut menatap Ishida. Seolah mengerti maksud senyuman sang Guru, Ishida membenarkan letak kaca matanya yang melorot, lalu berdiri. Ia pun berjalan ke depan kelas diikuti semua pandangan yang kini terarah hanya padanya, lalu menerima uluran kapur tulis dari tangan Aizen-sensei yang masih tersenyum ramah.

Ishida menghadap papan tulis, lalu mulai mengolah soal. Semua yang memperhatikannya terlihat tenang. Tidak terlalu antusias karena kebanyakan sudah bisa menebak kalau jawaban Ishida pastilah benar. Tentunya tidak bisa dibayangkan jika Ishida pun sampai gagal. Itu artinya soal itu tidak akan pernah terpecahkan.

Semua masih memperhatikan ketika Ishida menyudahi gerakan tangannya. Jawaban dari satu pertanyaan itu telah memenuhi hampir seluruh pelosok papan tulis hitam. Membuat beberapa temannya berdecak kagum. Ishida kembali menatap Aizen-sensei dengan penuh percaya diri. Dan Aizen-sensei pun kembali tersenyum penuh makna.

"Sepertinya ... hari ini bukan hari keberuntungan mu, Ishida-kun!"

Ishida membelalak. Perkataan Aizen-sensei barusan bagaikan sebuah talak cerai. Oh ralat, bagaikan sebuah hukuman mati (mungkin). Bagaimana bisa? Sebulan penuh ia curahkan pikirannya hanya untuk soal ini. Ishida menatap sang Guru yang masih tersenyum. Aura kepercayaan dirinya seketika runtuh berganti dengan tatapan tidak percaya. Tak beda dengan hampir seluruh pasang mata yang ikut tercengang karenanya. Bahkan ada yang tidak mampu menutup mulut saking terkejutnya.

Ishida dinyatakan GAGAL untuk pertama kalinya...?

Perlu dicatat, Ishida tidak pernah salah dalam semua mata pelajaran eksak. Jelas tidak terima, ia kembali menghadap papan tulis. Mata birunya kembali menelusuri dari ujung ke ujung sisi papan tulis. Keheranan menguar jelas dari raut wajah kaku Ishida. Alisnya berkerut dalam ketika ia mencoba mengecek ulang dimana letak kesalahannya.

"Mungkin memang tidak ada yang mampu menja—"

"Tidak sensei," Ishida menyela pelan perkataan sang Guru. Ia pun kembali melirik Aizen-sensei yang menatap penuh tanya. "Kupikir masih ada satu orang yang mungkin bisa menjawabnya," ujarnya kemudian dengan ekspresi serius khas Ishida.

Tenang, Ishida tahu apa yang sedang dipikirkannya. Walaupun sebenarnya ia tetap tidak yakin kalau jawabannya salah, tapi setelah mendengar dakwa pahit dari sang Guru, hanya satu nama yang langsung terlintas di otaknya.

Tubuhnya berbalik, melayangkan tatap pada pemuda dingin yang cuek menerawang ke luar jendela. Ishida pun menyebut namanya pelan, "...Hitsugaya Toushiro."

Rukia dan tiga orang lainnya yang pernah tergabung dalam lingkaran diskusi mengenai si Hitsugaya kontan terhenyak. Curiga dengan maksud Ishida menyebut nama pemuda itu. Ichigo bahkan langsung menoleh ke belakang. Ke tempat pemuda perak yang sama sekali tidak sadar kalau saat ini tengah menjadi objek perhatian. Apa Ishida baru saja menantang si Murid Baru? Ini menarik.

Sedangkan Aizen-sensei mengernyit sebagai tanggapan. Tanda ia tak mengenal nama asing yang baru diajukan muridnya. Pun arah pandang Ishida diikutinya. Yang langsung paham siapa gerangan; ditebaknya adalah murid pendatang. Tak lain adalah pemuda bersurai putih yang tampak tak acuh pada sekitarnya. Cukup mengejutkan bahwa warna rambut yang begitu mencolok ternyata mampu luput dari kepekaan seorang Aizen-sensei. Dan juga mengherankan, kenapa Ishida harus memilih si Rambut Perak? Kenapa bukan Kuchiki Rukia yang notabene adalah si Nomor Dua? Tapi mendengar cara Ishida menyebut nama 'Hitsugaya Toushiro', sang Guru mengendus adanya bau persaingan (sebelah pihak).

"Kau boleh duduk, Ishida-kun," perintah sang Guru tanpa melepas perhatiannya pada Toushiro. Yang juga menarik semua mata untuk ikut memperhatikan si Hitsugaya. Ishida yang baru saja kembali ke kursinya langsung mendapat serangan pertanyaan dari si Kepala Merah.

"Oii Ishida, apa sebenarnya maksud—"

"Diam dan perhatikan!" tukas Ishida cepat. Sedangkan si Kepala Orange sepertinya lebih suka menempatkan diri sebagai pengamat. Hidungnya mencium sesuatu yang menarik di sini ketika memicing ke arah Ishida yang tenang namun 'tidak tenang' lalu melirik Aizen-sensei yang masih tetap 'tenang'.

"Hitsugaya-kun!" panggil Aizen-sensei.

Toushiro sedikit tersentak. Menoleh dan mendapati semua mata tengah menatapnya. Ia menghela napas, lagi-lagi kedapatan melamun di tengah pelajaran. Pasrah, Toushiro beralih menatap sang Guru yang tersenyum ramah padanya. Ia kembali menghela napas pelan, merasa familiar dengan senyum semacam itu. Tanpa bertanya Toushiro bangkit, berjalan santai meninggalkan kursinya dengan ekspresi cuek seperti biasa. Menuju ke depan kelas sambil melirik sekilas sebuah soal tertera di papan dengan jawaban yang lumayan panjang. Toushiro mengernyit, apa ia diminta mengerjakan soal yang telah terjawab?

"Silahkan!" Aizen-sensei kembali menyodorkan sebatang kapur putih.

Toushiro menerimanya, walau sebenarnya keheranan meliputi batinnya. Untuk apa ia disuruh mengerjakan soal yang bahkan telah terjawab? Dan siapa yang telah mengerjakan soal ini? Atau, sensei berkacamata ini berniat membandingkan jawabnya dengan jawaban yang telah lebih dulu tertera?

Kalau begitu, jawabannya mudah. Toushiro hanya perlu menyelesaikan soal ini dengan cara sederhana, tidak serumit jawaban yang sudah ada di papan tulis. Untuk menghindari kecurigaan tentunya. Toushiro tak berniat untuk kembali bertindak ceroboh seperti saat itu. Dengan membiarkan dirinya terlalu mencolok untuk diperhatikan. Kalau sampai terulang, akan sangat fatal akibatnya.

Emerald-nya sekilas mengamati penjabaran rumit dari jawaban sebelumnya, lalu mencoba memahami soal yang ditebaknya adalah matematika statistika. Mengambil tempat pada pojok papan hitam yang sekiranya masih kosong. Lalu mulai menuliskan jawaban miliknya. Otaknya mengakui, kalau ternyata soal ini ternyata cukup sulit.

Sedangkan yang lain hanya terpaku dalam diam pada gerakan tangan Toushiro. Mereka penasaran. Sungguh sangat penasaran, apakah si Murid Baru mampu mengalahkan Ishida?

Tanda 'titik' yang cukup tegas disematkan pada akhir penjabaran, pertanda telah selesai. Toushiro kembali menghadap Aizen-sensei. Yang langsung mendapat anggukan dari sang Guru lalu mempersilahkannya kembali ke tempat duduknya. Kontan membuat semua mata kembali terperangah dengan frekuensi dua kali lipat. Ishida mengernyit, menatap ragu pada jawaban sederhana Toushiro, sedikit meremehkan juga. Tak beda dengan Rukia dan Inoue yang ikut ragu. Sedangkan Ichigo dan Renji lebih penasaran pada senyum Aizen-sensei yang tampak misterius. Jadi, apa si Hitsugaya benar-benar mengalahkan Ishida?

"Pada tahun 1939, seorang mahasiswa Studi Doktoral dari California University—Berkeley, bernama George Bernard Dantzig, datang terlambat pada mata kuliah statistik..." Tanpa memberi pernyataan 'benar' atau 'salah' pada hasil jawaban Toushiro, Aizen-sensei justru menceritakan sebuah kisah.

"...Sang Dosen, Jerzy Neyman, beserta mahasiswa lainnya telah meninggalkan kelas saat ia memasuki ruangan. Pada saat yang sama, George mendapati dua soal tertulis di papan tulis, yang dikiranya merupakan tugas rumah dari Profesornya. Ia pun menyalinnya dan mengerjakannya di rumah sebagai tugas kuliah. Berhari-hari dihabiskan George untuk menyelesaikan kedua soal tersebut. Dan berpikir, tidak biasanya sang Profesor memberi tugas sedemikian sulit. Tapi, berkat keyakinannya, akhirnya George berhasil menyelesaikan satu dari dua soal..." lanjut Aizen-sensei, berdiri tenang di depan kelas. Tatapan sang Guru yang juga tenang dan misterius, entah kenapa meyakinkan Ichigo—yang sejak awal setia mengamati—kalau sebentar lagi sang Guru akan memberikan tontonan yang menarik. Tunggu saja sebentar lagi.

"...Ia pun segera menemui Prof. Neyman di ruang kerjanya, meminta maaf karena telah memakan waktu lama untuk menyelesaikan tugas, dengan beralasan bahwa soal tersebut 'sedikit lebih sulit daripada biasanya'. Dan menyerahkan paper, yang dikiranya adalah tugas rumah, kepada sang Profesor. Sekitar 6 minggu kemudian, hari Minggu sekitar pukul 08.00 pagi, George dibangunkan oleh istrinya Anne karena seseorang menggedor pintu rumah mereka. Ternyata, itu adalah Prof. Neyman yang terlihat tergesa-gesa dengan sebuah paper di tangannya. George mengira, ia telah membuat kesalahan dengan tugas kuliahnya. Tapi, Prof. Neyman justru bertanya, "Bagaimana bisa kau mengerjakan soal ini?". George menjelaskan, bahwa ketika itu dia terlambat mengikuti mata kuliahnya dan melihat 2 soal itu di papan tulis yang dianggapnya sebagai tugas rumah. Tahu, apa yang dikatakan sang Profesor selanjutnya?"

Toushiro tercenung dengan paparan kisah George yang diutarakan Aizen-sensei. Juga heran disaat bersamaan. Kenapa sang Guru justru menceritakan kisah ini? Apakah sang Guru merencanakan sesuatu? Entah kenapa ia sedikit mencium firasat buruk di sini. Sedikit banyak ia tahu kisah ini, begitu juga dengan kenyataan mengenai kedua soal itu yang ternyata adalah—

"Hitsugaya-kun!" Aizen-sensei menatapnya sebagai isyarat agar Toushiro menjawab pertanyaannya. Dan lagi, entah kenapa harus Toushiro yang menjawabnya. Semakin meningkatkan kecurigaan di kepala peraknya. Sepertinya ia harus sedikit waspada.

Toushiro menimbangnya sebentar, jawaban seperti apa yang perlu ia berikan. Sekali lagi, ini untuk menghindari kecurigaan. Karena dipikirnya ini adalah kisah umum, pun dijawab seadanya, "Prof. Neyman menjelaskan bahwa pada hari itu ia sedang membahas soal-soal mengenai statistika. Ia pun memberi dua contoh soal statistika tersulit di muka bumi dan belum terpecahkan hingga saat itu, tahun 1939—"

Toushiro tercekat di ujung kalimatnya sendiri. Manik hijaunya melebar ketika sadar sesuatu baru saja menyentak kelengahannya. 'Mungkinkah?'... benaknya ikut tidak percaya dengan fakta yang telah luput dari kewaspadaan Toushiro.

Ini memang kisah umum, tapi tidak banyak yang tahu. Buktinya masih ada yang tertegun begitu mengetahuinya.

Manik sewarna Muscovado sang Guru tetap tenang saat kembali menatap ke tengah kelas, "Tepat sekali. Dan itu berarti, kalau saja saat itu George tidak terlambat dan mengikuti mata kuliah itu, mungkin saat itu ia juga akan berpikir bahwa itu memang soal TERSULIT di dunia. "

Kembali. Banyak yang dibuat tertegun campur decak kagum untuk kesekian kalinya. Mendapati fakta lain dari kisah yang disampaikan Aizen-sensei. Beda dengan Rukia yang justru mengerutkan alisnya dalam, mencoba menerka apa sebenarnya yang ingin disampaikan Aizen-sensei. Ini terdengar bertele-tele, tapi juga penuh teka-teki. Bukan rahasia bahwa sang Guru pintar menarik perhatian para muridnya di tengah situasi otak yang menggila panas. Tapi ini sedikit aneh. Rukia memberanikan diri mengangkat tangan kanan.

"Sensei, lalu apa hubungannya dengan soal itu?" tanyanya cukup lugas. Dan cukup mewakili siapa pun yang dirasa memiliki rasa penasaran akut yang sama.

Aizen-sensei tersenyum simpul. Menggeser tubuhnya, lalu membawa sebelah tangannya merentang ke belakang. Kepada papan tulis hitam tempat dua jawaban bersaing. Ia berujar seraya kembali menatap para muridnya, "I present you... One of The Unsolved Statistics Problems."

Shock. Tidak hanya Rukia si Penanya, tapi juga seluruh penghuni kelas Expert tingkat 2 (E-2), bahkan termasuk Ishida dan Toushiro yang notabene adalah si Penjawab The Unsolved Statistic Problem; dibuat tercengang luar biasa karenanya. Rasa kantuk, lelah dan penat mereka pun kini benar-benar melarikan diri. Tidak ada yang tidak membelalak dan ternganga karenanya. Hey, ini tidak main-main. Sekali lagi perlu dicatat, Aizen-sensei memang kerap kali mempertontonkan pertunjukan menarik, tapi ia tidak pernah bercanda.

"Kesimpulan dari kisah ini adalah semua mahasiswa yang hadir pada mata kuliah stastiktik saat itu telah teracuni oleh perkataan Prof. Neyman yang mengatakan bahwa 'Ini adalah soal TERSULIT di muka bumi'. Pada akhirnya, karena semua berpikir itu adalah soal yang SULIT, jadi tidak ada yang berusaha untuk memecahkannya. Menyerah sebelum berperang. Sedangkan karena keterlambatan George, ia pun tidak tahu kalau itu adalah soal TERSULIT, dan akhirnya berhasil memecahkannya," terang Aizen-sensei, mengabaikan tatapan terkejut para murid binaannya.

Seperti yang diharapkan dari salah satu pengajar jenius yang dimiliki sekolah ternama di kota Karakura. Tidak hanya mampu mengajarkan ilmu pasti dengan sempurna, tapi juga mampu menjadi motivator handal. Walaupun hanya terdengar seperti sebuah kecelakaan yang membawa keberuntungan. Tapi ini tidak semata-mata hanya sebuah keberuntungan, melainkan keberuntungan yang bermakna karena didapat melalui usaha.

"Aku dengan sengaja mengulang peristiwa itu di kelas ini untuk membuktikan teorinya. Bahwa sesuatu akan terasa sulit, apabila kita menganggap bahwa yang SULIT itu adalah SULIT. Dan George B. Dantzig membuktikan bahwa sesungguhnya SULIT itu seringkali hanya merupakan ANGGAPAN semata. Sebuah sugesti."

"Maaf sensei, tapi sepertinya teori itu tidak berlaku padaku," sanggah Ishida, masih belum mendapat jawaban atas keheranannya. "Karena setelah kuperiksa berulang kali, aku sama sekali tidak menemukan di mana letak kesalahan ku."

'Iya. Karena hanya ini cara terbaik untuk menyelesaikan soal dengan level seperti ini'... batin Ishida turut mengiyakan.

"Kesalahan? Kapan aku mengatakan kalau yang kau kerjakan itu SALAH, Ishida-kun?"

Ishida tercenung, tearamat heran, ketika yang diterimanya justru pertanyaan membingungkan dari Aizen-sensei yang masih betah memasang raut tenang. Tidak habis pikir dengan tanggapan aneh sang Guru dengan penekanan lebih pada kata 'SALAH'. Seolah di sini dugaan Ishida-lah yang salah. Bukannya tadi Aizen-sensei bilang—

"Seingatku, aku hanya mengatakan bahwa 'kau belum beruntung'," ujar sang Guru kemudian, menyela kebingungan Ishida. "Kau sama sekali tidak melakukan kesalahan. Hanya saja, jawaban itu sangat sulit untuk dipahami. Dan belum sesuai dengan ekspektasi ku. Seperti yang dikatakan Albert Eistein... -If you can't explain it simply, you don't understand it well enough-... Jika kau tidak mampu menjelaskan sesuatu dengan cara sederhana, itu artinya kau belum cukup paham."

Selanjutnya, Ishida hanya mampu mematung di tempatnya, kehilangan seluruh kata-kata sarkastik andalannya. Gurat keterkejutan jelas terpajang di wajah tirusnya, sembari menyelami setiap kalimat milik sang Guru yang begitu mengguruinya. Ia tidak bisa lagi menyangkal, ketika Aizen-sensei terus membacakan dakwaan atas keangkuhannya. Kalau ditanya bagaimana rasanya, Ishida pasti akan menjawab dengan nada kecut; 'rasanya seperti ditampar oleh kata-kata'. Ishida memang tidak salah, tapi ia KALAH untuk kali ini.

"Tanpa kau sadari, kau juga telah teracuni oleh kata SULIT dari soal itu. Bedanya, racun itu tidak menyerang mental mu, melainkan pikiranmu. Soal dengan tingkat ke-SULIT-an tinggi, penyelesaiannya pun akan SULIT, dan itu berarti soal itu pun harus menggunakan penjabaran yang RUMIT. Begitu 'kan yang kau pikirkan, Ishida-kun?"

Ishida bergeming. Tidak mampu menjawab pertanyaan sarkastik sang Guru yang diam-diam diakui oleh Ishida sendiri. Sementara Ichigo—yang selama ini hanya menjadi silent watcher—menyunggingkan seringai kagum, mengakui dalam hati bahwa ia sungguh menikmati pertunjukkan luar biasa menarik yang dipersembahkan sang Guru. Aizen-sensei memang patut diberi standing applause sebagai sutradara handal yang mampu memutarbalikkan fakta. Sembari ikut menyalin soal beserta jawaban dari papan tulis layaknya mayoritas kelas lakukan. Walau sempat berdecak kesal karena lupa membawa buku catatan Matematika, dan akhirnya memilih acak buku lain sebagai pengganti.

Sedangkan sang Sutradara alias Aizen-sensei sendiri, kembali menatap Toushiro yang masih memicing ke arahnya. "Omedetto, Hitsugaya-kun!" ucap sang Guru dengan senyum raja[1].

'Menarik'... benaknya mengakui Toushiro.

Tanpa disadari yang lainnya, dakwaan yang dituju untuk Ishida, pun turut mendakwa si Pemilik Jawaban Nomor Dua. Hitsugaya Toushiro. Sial, ia lengah. Tidak terpikirkan bahwa guru matematikanya ini akan secerdik demikian. Sungguh tidak pernah diduganya kalau ia akan dibuat bernasib seperti George Dantzig yang sama-sama tidak tahu menahu tetang apa yang sedang dikerjakan. Sial, jadi dugaannya benar. Bahwa soal itu memang soal yang sama yang dikerjakan oleh George. Hanya saja ia terlambat menyadarinya. Karena ia memang tidak pernah tahu bagaimana sesungguhnya bentuk soal tersebut. Dan tanpa disadarinya, Toushiro telah masuk ke dalam permainan otak sang Guru tanpa peringatan.

Toushiro memang waspada sejak awal, tapi juga dilema. Kalau ia menolak menjawab soal itu, justru akan dikira kalau ia menghindar terang-terangan. Karena kini kemampuan otaknya bukan lagi rahasia. Dan kalau ia juga memberikan jawaban rumit sesuai standar otaknya, justru akan semakin memancing kecurigaan. Jadi, diambillah jalan tengah, dengan menjawab tapi seadanya. Dan, sial... kenapa kewaspadaan ini yang justru menjadi bumerang? Toushiro tahu kalau saat ini ia telah kembali menjadi 'bintang' berkat permainan Aizen-sensei.

Sedangkan dua pasang mata itu masih saling melempar tatap. Seolah ada perdebatan tersembunyi di dalamnya. Toushiro harus lebih hati-hati. Sensei Matematika-nya ini layaknya air. Terlihat tenang, tapi menghanyutkan.

30 menit yang tidak pernah terbayangkan.

Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing

.

.

.

.

"Mengesankan! Aizen-sensei benar-benar memberikan kita tontonan menarik di menit-menit terakhir," ujar Renji tidak bisa menyembunyikan kekagumannya. Mata runcingnya terlihat antusias bahkan saat menyeruput kuah ramen spesial yang dipesannya sebagai menu makan siang.

"Aa, tidak bisa kubayangkan bagaimana ekspresi Ishida tadi," tanggap Ichigo sekenanya tanpa menyurutkan seringai kepuasan atas kekalahan Ishida. Duduk berhadapan dengan si Kepala Merah di meja kantin dengan satu porsi ramen yang sama besarnya.

"Dia pasti kesal setengah mati... hahaha, ini benar-benar sejarah. Ishida kalah telak." Renji kembali mendeklarasikan kekalahan Ishida, yang seperti akan terus menjadi bahasan menarik sampai seminggu ke depan, atau lebih.

Ichigo mendengus sengit, "Heh, itu bagus. Sekali-kali dia memang harus diberi pelajaran karena terlalu sering meremehkan orang lain. Selalu menganggap orang lain lebih bodoh darinya."

Wajahnya masih berada di hadapan mangkuk ketika melirik Ichigo. "Kau tersinggung, Ichigo? Kalau aku sih tidak, karena aku tidak merasa bodoh," ucap Renji enteng.

Ichigo mendelik. "Maksudmu aku bodoh, begitu?" balasnya tidak terima.

"Aku tidak bilang begitu. Kau sendiri yang mengatakan kalau kau itu... bo-doh."

Sepertinya Renji telah belajar banyak dari Aizen-sensei hari ini, ilmu tentang menjungkirbalikkan kata-kata. Dan berhasil. Buktinya, Ichigo kebakaran.

"KONOYAROOO—"

GUBRAAK

Suara benda jatuh dengan frekuensi cukup mengejutkan berhasil menginterupsi Ichigo dan Renji. Keduanya kompak melongok ke lantai samping meja. Yang langsung menemukan seonggok tubuh ringkih tertelungkup beralaskan lantai dengan tumpahan kuah ramen. Terdengar rintihan "I,Ittee-tee-tee!" dari si Tubuh Ringkih ketika beringsut duduk.

"Oii, kau baik-baik saja?" Ichigo yang pertama menegurnya. Dengan kerutan permanen yang kentara jelas. Tanda heran.

Yang ditegur mendongak, memperlihatkan wajah lugu dengan alis tinggi. Ia berjengit lalu berdiri dengan sekali sentak. Antara kelewat terkejut atau takut dengan ekspresi Ichigo yang lebih mirip pemalak ketimbang seseorang yang menanyakan keadaan. "A—aku baik-baik saja, permisi!" ujarnya kikuk, meringis sambil menggaruk belakang kepala yang juga kikuk. Lalu bergegas pergi (baca: kabur) tanpa menunggu tanggapan Ichigo.

Sebuah sweatdrop bergulir di belakang kepala orange Ichigo, "Kenapa dia?"

"Sepertinya dia takut dengan wajah mu, Ichigo," tanggap Renji. Kemudian kembali menatap Ichigo dengan pandangan kasihan, Renji menggeleng pelan seraya berdecak, "Tch, sudah bodoh, menyeramkan pula. Tidak ada yang bisa diharapkan darimu, Ichigo!" sambungnya tanpa dosa.

Dua bahkan tiga perempatan langsung tercetak jelas di dahi Ichigo, "Oii, kau mau berkelahi?! Huh!" Ia berdiri geram dengan menyisingkan kedua lengan kemejanya. Rupanya si Muka Babon sedang senang mencari gara-gara. Tapi, kemarahan Ichigo lagi-lagi harus tertahan karena suara dengungan dari speaker besar di pojok atap kantin. Keduanya kembali kompak menoleh ke sumber kebisingan.

kresek kresek

"PERHATIAN! DIINFOKAN KEPADA SELURUH SISWA/I TINGKAT DUA, BAHWA ACARA AKBAR TAHUNAN 'ONE NIGHT TWO DAYS' AKAN DISELENGGARAKAN SETELAH BERAKHIRNYA EVALUASI TEST, YAKNI PADA HARI SABTU-MINGGU, TANGGAL 2-3 DESEMBER. TEPAT SEBELUM LIBUR MUSIM DINGIN. UNTUK ITU DIHIMBAU KEPADA PESERTA YANG DIWAJIBKAN, YAKNI SELURUH SISWA/I TINGKAT DUA, AGAR SEGERA BERSIAP. UNTUK INFORMASI LEBIH LANJUT, BISA DITANYAKAN LANGSUNG KEPADA PANITA PENYELENGGARA DI RUANG OSIS. SEKIAN DAN TERIMA KASIH."

DEB

Pengumuman selesai. Menyisakan keheningan diantara kedua pemuda yang masih duduk berhadapan. Ramen porsi besar yang tinggal setengah sempat dilupakan, karena suara si Pemberi pengumuman—yang tadi sempat menjadi bahan ledekan—masih terngiang jelas.

"Gila! Kurasa otaknya benar-benar sudah korslet karena soal dari Aizen-sensei. Apa dia mau membuat kita mati beku?" Renji yang pertama kali menggerutu. Lalu kembali melanjutkan acara menyeruput mie ramen miliknya.

Ichigo tersenyum sinis sebagai tanggapan, "Tidak. Aku justru sangat tertarik. Ini pertama kalinya aku ikut serta di acara yang diadakan Ishida sebagi ketua OSIS. Apa kau tidak penasaran, permainan seperti apa yang telah disiapkan si Mata Empat?"

.

.

.

.


. . . .


.

.

Hari Berikutnya...

.

.

Kedua pelupuk mata yang mengatup mulai berkerut. Kemudian terangkat menampilkan manik amber yang bergerak waspada. Seolah hal itu adalah aksi wajib saat pertama kali kesadaran membangunkannya. Mencari keberadaan si Perusak Pagi yang tidak pernah absen menerjang Ichigo. Alisnya berkerut bingung, lalu berbalik terlentang.

'Ini terlalu tenang'... pikirnya aneh.

Malas memikirkannya, Ichigo bangkit. Menguap lebar sembari meregangkan kedua tangan. Kemudian beringsut turun dari ranjang, menyambar handuk di sandaran kursi, lalu beranjak keluar kamar. Memulai rutinitas paginya dengan bersiap ke sekolah. Tanpa melirik jam meja digital di atas meja belajar.

.

.

.

Yuzu masih disibukkan dengan telur mata sapi setengah matang sedangkan Karin telah duduk di kursinya seraya membaca koran; ketika si Sulung Kurosaki bergabung di ruang makan. Lagi-lagi Ichigo heran, apa benar Karin memang hobi membaca koran setiap pagi? Ini sudah dua kali ia memergokinya, sejak kemarin.

Pun diabaikan, karena menurutnya ada yang lebih aneh pagi ini. Agak mengejutkan karena kursi milik kepala keluarga lagi-lagi kosong. Kepala orange itu menoleh ke kanan ke kiri, mencari si Pemilik kursi.

"Ichi-nii, kalau kau sedang mencari pria tua itu, dia sedang tidak ada di rumah," jelas Karin datar, membuat Ichigo langsung meliriknya heran.

"Oto-san sudah pergi pagi-pagi sekali. Katanya akan memberikan bantuan medis darurat di daerah pinggiran kota," tambah Yuzu sambil membagi telur mata sapi. Ichigo beralih melirik si Pirang yang baru bergabung.

Sebelah alis jingganya terangkat. Masih dengan raut santai dan cuek khas dirinya. Ia heran.

'Jadi, pria tua itu belum pulang sejak kemarin'... batin Ichigo mengartikan. Tanpa ambil pusing dengan penjelasan si Kembar yang terucap persis sama dengan kemarin pagi.

.

.

.


.

.

.

Rukia diam karena curiga. Toushiro diam karena ragu.

Rukia curiga karena Toushiro tidak memberi penjelasan apa pun hingga detik ini. Toushiro ragu karena Rukia tidak menanyakan apa pun hingga detik ini.

Rukia melirik Toushiro lewat ujung mata... 'Apa maksud tindakan si Hitsugaya kemarin? Kenapa dia diam saja?'

Toushiro mengamati Rukia di depannya... 'Apa dia mencurigai ku? Kenapa dia diam saja?'

Intinya, keduanya tidak mau bicara. Meski tetap melaksanakan rutinitas berangkat bersama. Sejak kejadian tak terduga kemarin, tidak satu pun diantara keduanya yang sanggup mengelak dari situasi canggung seperti saat ini. Bahkan sama-sama saling menjaga jarak setengah meter demi membebaskan diri untuk saling mengamati dalam diam.

Walaupun keduanya sama-sama sadar, kalau kecanggungan ini tidak akan pernah bebas selama keduanya tidak saling bicara. Tapi mau bagaimana lagi, Toushiro selalu menghindar setiap kali Rukia memicing ke arahnya.

Masa bodo' soal momiji, pohon maple, angin berhembus, jingga dan kecoklatan yang selalu mengiri setiap pagi. Mereka tidak peduli kali ini.

.

.

.

.

[Karakura High School]

.

.

Sementara dari arah berlawanan...

Ichigo berjalan dalam diam dengan kedua tangan dilipat di belakang kepala. Menghiraukan gadis caramel ceria yang selalu berangkat ke sekolah bersamanya—akibat bertetangga—karena sibuk tenggelam dengan sesuatu yang membingungkan pikirannya. Ini lebih mengusik ketimbang soal ayahnya yang belum pulang dari luar kota sejak kemarin. Juga lebih mengejutkan dari kebiasaan Karin membaca koran pagi seperti bapak-bapak—yang juga baru disadarinya.

Ini lebih pantas disebut 'aneh'. Ichigo yang salah ingat atau Karin dan Yuzu yang secara 'kebetulan' mengulangi kalimat kemarin. Déjà vu. Tadinya ingin diabaikan saja oleh Ichigo, tapi entah kenapa otaknya terasa gatal untuk terus memikirkan.

Dan di tengah lamunan herannya, tiba-tiba Inoue berseru.

"Aree~... Lihat itu Kurosaki-kun!"

Ichigo berhenti. Mengernyit heran. Bukan karena sesuatu yang ditunjuk Inoue, melainkan berkat seruannya barusan yang seperti 'pernah didengar'. Aneh. Hazel-nya melirik, Inoue masih menunjuk dengan raut antusias yang sama seperti kemarin.

"Mereka benar-benar berangkat bersama 'kan?"

Mata Ichigo melebar begitu Inoue kembali bersuara. Hey, apa ini juga kebetulan? Masa' iya Ichigo mengalami Déjà vu berturut-turut seperti ini?

Tidak. Tidak. Inoue itu ceroboh. Sering jatuh akibat tingkat kewaspadaan yang rendah. Yang mungkin berakibat pada otaknya. Sehingga sering mengulang kata-kata tanpa sadar, mungkin. Begitu analisa Ichigo. Walaupun yang ngelantur di sini justru analisa Ichigo sendiri, yang sama sekali tidak ada landasan teori.

Tapi, di dunia ini tidak ada hal yang tidak bisa dijelaskan dengan logika. Keyakinannya menjerit. Jadi, kebetulan seperti ini pun tidak perlu dibesar-besarkan.

"Tidak perlu diulang, Inoue. Kau sudah mengatakan itu kemarin," tanggap Ichigo mencoba tetap santai.

"Heeee~... benarkah? Kenapa aku bisa lupa?" Tuh 'kan! Pasti karena Inoue punya penyakit lupa. Pasti. Jadi, tidak perlu kau risaukan, Ichigo.

"Ohayoo~ Kuchiki-san, Toushiro-kun!" Inoue melambai tinggi, menyahut riang pada dua orang yang berjalan di arah berlawanan. Ichigo ikut memandangi. Dengan tatapan sengit yang sama seperti kemarin. Tapi, itu pun tak bertahan lama. Ketika pemandangan Rukia dan si Murid Baru yang berjalan hampir berdampingan juga seperti 'pernah dilihat'. Wajahnya berkerut keheranan.

Rukia yang tersentak. Ichigo melihatnya. Si Hitsugaya yang tetap dingin. Ichigo juga melihatnya. "O—ohayoo... Inoue...!" Bahkan jawaban Rukia yang kikuk, Ichigo juga mendengarnya. Aneh. Seolah ini pertama kalinya mereka kepergok jalan berdua.

"Heh, jadi benar-benar setiap pagi?" ledek Ichigo sedikit menyeringai. Tertuju hanya untuk Rukia yang masih kikuk. Berniat menggoda, tapi justru terkesan sinis. Sebal, barangkali.

"Tawake!" Tapi begitu mendengar umpatan Rukia, Ichigo tertegun. Seringainya lenyap.

Aneh. Hey, sudah berapa kali Ichigo menyabut kata 'aneh' hari ini? Terlalu banyak kebetulan yang terjadi. Lupakan soal analisa Inoue yang ceroboh. Karena itu tidak akan berlaku untuk Rukia. Si nomor dua itu terlalu cerdas untuk lupa. Juga untuk mengulang situasi yang sama. Lihat gayanya yang melenggang pergi seraya menarik Inoue, berusaha menghindar dari ledekan Ichigo, benar-benar serupa dengan kemarin. Ichigo mendengus, telebih saat si Hitsugaya pun ikut mengulangi kecuekannya pada Ichigo.

Jadi, ini pasti Déjà vu lagi. Cukup keren. Sepertinya Ichigo perlu mengabadikan hari bersejarah ini.

.

.

.

.

Ternyata Hirako-sensei lagi-lagi berhalangan hadir. Dan lagi-lagi sama seperti kemarin. Ichigo hanya mampu memberengut heran ketika mengetahui fakta ini. Ingatannya yang salah atau memang kelas Ongaku terjadwal selama dua hari berturut-turut dan sama-sama di jam pertama? Mungkin memang ingatannya yang bermasalah. Ia memang selalu kesulitan untuk mengingat hal-hal kecil. Karena bagi si Sulung Kurosaki, jadwal pelajaran hanya perkara kecil yang tidak perlu diingat.

Ia mendesah, apa hendak dikata. Seraya menyamankan punggung pada sandaran kursi, juga melipat kedua tangan di belakang kepala, pose bersantai yang cuek. Tak lupa memejamkan mata. Jam kosong seperti ini perlu dimanfaatkan. Yah, jika kalian adalah pelajar normal, waktu-waktu langka seperti ini tentunya sangat diharapkan. Bukannya Ichigo senang kalau sensei-nya berhalangan hadir. Hanya saja, ia adalah seorang pelajar normal yang tidak punya kekuatan untuk menolak atau menyiakan waktu berleha-leha.

Tidak layaknya si Murid Teladan, yang—sayangnya—mengisi waktu lowong justru dengan terus membaca buku. Sangat tidak normal. Ujung bibir kirinya tertarik sinis, masih dengan terpejam. 'Heh, apa kepalanya terbuat dari bahan karet yang tidak mudah pecah?'... Tapi, bicara tentang Ishida, bagaimana kabarnya setelah insiden kemarin?

Sebelah pelupuknya terangkat, mengintip Ishida yang masih duduk diam di depannya. Duduk bersila dengan sebuah buku ditopang sebelah tangan, Ishida tampak baik-baik saja. Tak disangka kalau si Mata Empat mampu move on dalam waktu singkat. Cukup mengesankan, apalagi setelah peristiwa tragis—kalian tahu apa maksudnya—dipermalukan di muka umum .

'Ku kira dia hanya seorang pria dengan kepribadian sempit'... pikirnya. Tersenyum meremehkan.

Tapi tunggu dulu, jika menilik dari awal—maksudnya sejak ia bangun tidur—banyak hal yang terulang. Bahkan hingga detik ini—absennya Hirako-sensei. Dan, jika melihat jadwal, setelah ini adalah pelajaran Matematika. Dan... jika boleh Ichigo perkiraan (harapkan), mungkinkah peristiwa kemarin—kalian tahu apa maksudnya—akan terulang kembali? Karena akan sangat menyenangkan sekali menontonya untuk kedua kali.

Sudut bibirnya tertarik, menyungging senyum licik seraya manggut-manggut penuh maksud terselubung. Berkat ide aneh-aneh yang berseliweran di otaknya. Nahas bagi Ishida.

Tersenyum aneh dengan menatap lurus si Objek kelicikan, Ichigo tampak mencurigakan. Begitu yang tercermin di mata sipit Abarai Renji, yang sejak tadi hanya terbengong heran mengamati Ichigo yang terlihat tidak waras.

"Kurasa dia keracunan...," guman Renji. Menggeleng tidak habis pikir, dengan sebelah tangan menyangga kepala yang masih mengarah pada Ichigo yang senyam-senyum sendiri.

"Oii Ichigo, apa kau sarapan di rumah Inoue pagi ini?"

Ichigo menoleh, pada si Penanya yang masih bertopang wajah malas. "Apa? Tidak."

"Lalu, apa kau salah minum obat?" tanya Renji lagi. 'Tertukar antara obat kebodohan dan obat kegilaan'... sambungnya dalam hati.

Ichigo merubah raut mukanya, mulai tersinggung. "Apa maksudmu, Renji?"

"Tidak. Aku hanya khawatir melihatmu senyum-senyum sendiri. Kupikir kau meninggalkan kewarasanmu di rumah."

Bukannya semakin marah, Ichigo justru kembali tersenyum licik. Membuat Renji mundur sedikit, menjauhi Ichigo karena bergidik. Barangkali merasa dirinya masih normal sebagai pria tulen.

Ichigo pun segera menghentikan aksi senyam-senyumnya, sebelum sahabat merahnya ini salah paham—setelah melihat gelagat Renji. "Aku hanya membayangkan, bagaimana jika peristiwa kemarin terulang," ujarnya mencoba mengungkit, sembari mengerling ke arah pemuda klimis yang masih membaca buku.

Sebelah alis penuh tato terangkat sebagai tanggapan, lalu ikut melirik pemuda yang dimaksud Ichigo. "Peristiwa?" tanya Renji polos. Tanda tak paham.

"Aa, peristiwa yang kau sebut bersejarah," jawab Ichigo dengan begitu yakin.

Renji mengernyit, begitu kata 'bersejarah' dikatakan Ichigo dengan begitu yakinnya. Membuatnya bertambah bingung, "Hah... apa maksudmu, Ichigo?" lengkap dengan tampang bodoh.

Ichigo menarik napas geram, "Aish, susah bicara dengan manusia babon," ejeknya.

Kini, kedua alis bertato Renji serempak terangkat nyalang, "Oii, kau menantangku?!"

Ichigo pun kembali menggeram, menghadapi kebodohan sahabat merahnya ini memang selalu bikin kesal. "Renji, apa kau tidak ingat, hah? Padahal kemarin kau yang paling bersemangat mengejek Ishida. Kenapa sekarang kau jadi seperti orang bodoh yang pikun?" ujarnya sedikit meninggi.

"Ishida? Kau ini bicara apa sih? Aku sama sekali tidak mengerti." Alisnya semakin berkerut, benar-benar tak paham kemana arah pembicaraan sahabat orangenya. "Dan siapa yang kau sebut bodoh dan pikun, konoyaro?!" geramnya kemudian ikut meninggi.

Ichigo menyerah, tapi masih kesal. "Tch, baiklah ... akan kuingatkan otak berkapasitas kecilmu itu Renji ... Tentang peristiwa bersejarah Ishida yang telah dipermalukan di muka kelas berkat soal Matematika tersulit di dunia. Apa kau sudah ingat sekarang?"

Dan Renji hanya melongo begitu mendengar penjelasan absurd Ichigo. Yang langsung membuatnya berkesimpulan, "Ishida dipermalukan? Kau mengigau ya?"

Kabar Ichigo? Jangan ditanya. Saat ini ia sudah seperti lokomotif dengan bahan bakar batu bara, beruap panas. Dan ingin sekali rasaya ia berteriak—'KENAPA KAU BODOH SEKALI?' atau 'BAGAIMANA KAU BISA MELUPAKAN HAL SEPENTING ITU?'—di depan wajah mirip babon itu dengan liur memuncrat kalau perlu.

Tapi itu urung terlaksana karena si Objek gunjingan rupanya sudah tidak tahan dengan dua sahabat berwarna dibelakangnya. Yang langsung menoleh cepat dengan daun telinga memerah panas. "Bisa tidak kecilkan suara kalian saat sedang menggunjing orang lain. Aku mendengarnya dengan jelas," bentaknya kesal.

Ichigo dan Renji kompak menoleh ke Ishida. Yang telah berupaya mengembalikan image-nya seperti sedia kala, dengan berdehem dan membenarkan letak kacamata. "Dan kau Kurosaki...," beralih menatap tajam Ichigo. "Seingatku, aku tidak punya masalah apa pun denganmu. Jadi berhenti mengarang gosip buruk tentangku. Aku tahu kau iri pada kejeniusanku. Tapi cerita tentang aku yang dipermalukan karena soal Matematika, itu benar-benar cerita paling konyol yang pernah kudengar."

'Mengarang cerita katanya?'... pikir Ichigo seraya mendengus sinis.

Tidak habis pikir. Apa ini efek dari program 'Bangkit Dari Keterpurukan' yang terlalu berlebihan? Membuat Ishida jadi manusia sombong yang terlalu percaya diri. Atau membuatnya jadi amnesia... (?)

Tebakan kedua membuatnya mengernyit, "Jangan bilang kalau kau juga lupa, Ishida? Atau bahkan, kau juga lupa bagaimana wajah Aizen-sensei saat menghakimimu," duga Ichigo memastikan. Memandang Ishida lekat.

Yang dipandang jadi melongo. Berpikir apa bahasanya tadi terlalu sarkastik atau si Jingga ini memang sedang ngelindur. Dan satu lagi, Aizen-sensei katanya?

Ishida berdehem, menatap tajam Ichigo. "Kurosaki, sepertinya ada yang harus ku beri tahu padamu, barangkali kau memang sedang mengigau. Pertama, aku tidak suka dengan karangan cerita konyol itu karena bagiku itu hanya halusinasimu saja. Kedua, kemarin tidak ada pelajaran matematika. Dan yang ketiga, asal kau tahu saja, Aizen-sensei bahkan belum kembali dari perjalanan dinasnya di Amerika. Jadi, bagaimana bisa dia mempermalukanku kemarin? Lucu sekali."

Bak terkena kejut listrik, tubuhnya menegang. Terpaku, termangu, tertegun, tercenung, dan semua kata yang bisa mewakili keterkejutan Ichigo dengan amber yang membelalak. Napasnya tercekat seakan lupa bagaimana cara menghirup oksigen dengan benar. Ia linglung berkat sederet kalimat pernyataan Ishida akan fakta sesungguhnya. Seolah menggugahnya dari tidur panjang.

Halusinasi? Tidak pernah terjadi?

Dan berderet pertanyaan lainnya bergaung di otaknya, membuat manik madunya kini bergerak-gerak tak tentu arah. Ia tidak mengerti. Sangat sulit memahami apa maksud perkataan Ishida. Apanya yang berhalusinasi? Apanya yang tidak pernah terjadi? Jelas-jelas kemarin semua itu terjadi dan disaksikan semua murid. Jangan bercanda!

"Jangan ... bercanda ... Ishida!" suaranya tercekat bahkan hanya untuk menyangkal.

Matanya menyorot tajam, seolah memaksa Ishida untuk mengklarifikasi bahwa tadi memang hanya bercanda. Tapi, justru kernyitan heran yang dipajang Ishida, seakan di sini gelagat Ichigo-lah yang aneh. Tidak berguna, ia beralih ke Renji yang sejak tadi hanya menonton dalam heran, berharap sahabat dalam pertengkarannya ini akan... sama? Kernyitan dalam yang seolah bertanya, 'kau ini kenapa?'.

Dadanya mencelus. Mulai bergemuruh tidak tenang. Dengan wajah yang memucat, ia bangkit perlahan. Berdiri seperti orang bingung yang diekori tatapan heran Ishida dan Renji. Kelopaknya mengerjap dengan irama berantakan.

Oke. Ini tidak keren.

Sudah tidak keren lagi seperti dugaan awal. Persetan dengan Déjà vu. Ini mulai mengkhawatirkan. Kepanikan mulai menggerayangi di tengah kebingungan yang begitu menghantam.

'Tapi tunggu, coba pikirkan baik-baik Ichigo. Jangan panik dulu!'... Batinnya mencoba menenangkan. Terlihat dari kerjapan mata yang mulai stabil. Ia memejamkan mata. Batinnya kembali mengarahkan, ...'Kau hanya perlu mengingatnya dengan pikiran jernih. Kembali ke awal, saat kau bangun tidur. Semuanya terasa normal. Hanya ayah bodohmu saja yang menghilang. Itu tidak penting. Lalu sarapan pagi seperti biasa. Dengan Karin juga Yuzu—'

"Ichi-nii, kalau kau sedang mencari pria tua itu, dia sedang tidak ada di rumah."

"Oto-san sudah pergi pagi-pagi sekali. Katanya akan memberikan bantuan medis darurat di daerah pinggiran kota."

Pejaman matanya mengerat. Saat sadar bahwa tidak hanya kata-kata kedua adik kembarnya yang terulang, tapi juga situasinya. Bahkan menu sarapan yang dibuat Yuzu pun sama. Dan setelah ditelaah, perkataan itu seolah memberitahu kalau ayah bodohnya baru pergi pagi ini, bukan kemarin.

"Aree~... Lihat itu Kurosaki-kun!"

"Mereka benar-benar berangkat bersama 'kan?"

Matanya semakin mengerat. Lagi. Situasi terulang lainnya. kali ini bersama Inoue. Saat memergoki Rukia dan si Murid Baru itu berangkat bersama. Benar-benar mirip, seolah ini memang pertama kalinya mereka kepergok.

"Tidak perlu diulang, Inoue. Kau sudah mengatakan itu kemarin."

"Heeee~... benarkah? Kenapa aku bisa lupa?"

Matanya terbuka. Menampilkan iris madu yang nyalang. Berusaha menelan ludah ke dalam tenggorokan yang tercekat. Ia ingat saat itu Inoue bilang 'lupa'. Tapi bagaimana bisa lupa? Teori Ichigo yang keliru tentang kecerobohan Inoue atau lupa karena memang belum pernah terjadi, seperti yang dikatakan Ishida. Apa-apaan ini?

"O—ohayoo... Inoue...!"

"Heh, jadi benar-benar setiap pagi?"

"Tawake!"

"...Kau ini bicara apa sih? Aku sama sekali tidak mengerti."

"Ishida dipermalukan? Kau mengigau ya?"

Sial. Ingatan-ingatan itu terus berkelebat di kepalanya. Membuatnya jadi semakin terlihat frustasi karena sulit menerima kenyataan. Tanpa sadar, kedua tangannya terangat, meremas surai jingga miliknya. Mencoba menghentikan semua suara gema yang seperti terus menamparnya. Ishida dan Renji bahkan turut berdiri, menyaksikan gelagat Ichigo yang semakin aneh dan mulai mengkhawatirkan. Hingga suara-suara itu berakhir dipernyataan Ishida.

"...kemarin tidak ada pelajaran matematika."

"...asal kau tahu saja, Aizen-sensei bahkan belum kembali dari perjalanan dinasnya di Amerika."

Ichigo tercenung. Kedua tangannya perlahan merosot turun, memegang lurus pinggiran meja, sebagai penyangga tubuhnya yang sedikit membungkuk. 'Aizen-sensei belum kembali?'... pikirnya. Kemudian mulai menatap tajam Ishida yang terlihat kebingungan.

"Kau bilang aku mengigau? Kalau iya, tidak mungkin aku bisa mengingatnya dengan jelas. Bagaimana ekspresi percaya dirimu saat baru saja selesai menjawab soal itu. Atau ... bagaimana keterkejutanmu saat kau dinyatakan tidak beruntung oleh Aizen-sensei. Karenanya kau mengusul si Hitsugaya untuk ikut menjawab soal. Dan ... dan tanpa kau duga, ternyata jawabannyalah yang terbaik. Aku ingat jelas, betapa kesalnya kau saat itu. Dan juga, kisah yang diceritakan Aizen-sensei mengenai soal tersulit di dunia ... itu ... Dasar bodoh! Aku tidak mungkin mengigau?!" Ichigo meracau lalu berteriak membentak Ishida. Sebelah tangannya bahkan spontan menarik kerah sweater Ishida.

Renji tersentak, bersamaan dengan perubahan sikap Ichigo. Terutama mendengar racauan Ichigo yang terdengar tidak masuk akal. "Ichigo, kurasa ada yang tidak beres denganmu," ujarnya skeptis.

Yang langsung mendapat lirikan tajam Ichigo. "Kau juga, Renji. Berhenti mempermainkan ku," geramnya benar-benar marah. Sedangkan Renji hanya bisa kembali mengernyit heran.

"Kurosaki-kun!" Inoue, Rukia, Tatsuki yang sedang asik bercengkerama pun mau tak mau ikut terusik dengan keributan yang diciptakan Ichigo. Tidak hanya mereka, bahkan hampir semua pasang mata kini ikut menatap heran.

"Aku tidak sedang mempermainkan mu, bakayaroo!" Renji balas menggeram.

Dan semakin menipiskan kesabaran Ichigo untuk tidak melayangkan tinjunya di wajah tak bersalah Renji.

"Buktinya?" suara tenang Ishida tiba-tiba menginterupsi Ichigo. Kepala orange itu sontak menoleh, "Kalau kau bisa menunjukkan buktinya, mungkin kau memang tidak sedang bermimpi," sambungnya tetap tenang. Menantang Ichigo yang masih mencengkeram kerah sweaternya.

Bukti? Ichigo terdiam. Dengan rahang mengeras menahan amarah. Seraya mencoba mengubek ingatan tentang bukti yang dimaksud. Pasti ada, yakinnya. Dengan begitu ia bisa membungkam mulut kedua sahabat pikunnya ini. Cobalah ingat di mana bukti itu Ichigo! Sial. Kenapa di saat seperti ini otaknya semakin tidak bisa diajak bekerjasama... ingatlah... ingatlah... ingatlah... Dan kerutan permanen di dahinya mengendur ketika ia mendapatkannya.

'Ada!'... teriaknya dalam hati.

"Catatan," ucapnya datar. "Periksa catatan Matematikamu kalau tidak percaya!" tantang balik Ichigo dengan cukup tegas. Membuat Toushiro yang sejak awal mendengar pun tidak peduli, kini melirik karenanya. Bersamaan dengan terlepasnya cengkeraman di kerah Ishida.

Ishida masih bergeming menatap tajam Ichigo. Tidak bergerak sedikit pun untuk mewujudkan usul absurd Ichigo. Renji yang melakukannya, tanpa aba-aba, mulai membuka buku catatan matematika dengan ragu. Ichigo menoleh, menanti Renji menemukan bukti itu. Tapi sayangnya, "Catatan yang mana?" tanya Renji ketika sampai di lembar terakhir.

Ichigo tidak kehilangan akal, karena Renji memang pemalas. Jadinya, ia menoleh ke Inoue atau siapa pun untuk membantunya. Tapi lagi-lagi tatapan yang sama didapatnya, yang seolah berkata bahwa Ichigo memang sedang mengigau. Dengan berdecak kesal, ia menyambar catatannya sendiri. Langsung membuka halaman terakhir dengan kasar. Dan begitu sampai, ia membeku. Memelototi halaman terakhir yang kosong. Seolah dibungkam oleh kenyataan pahit, bahwa catatan itu tidak ada. Bukti itu lenyap.

"Tidak ada."

.

.

.

.

T.B.C

.

.

.

.


[1] senyum raja : senyum misterius yang tidak menunjukkan maksud sebenarnya.

.

.

A/N : Yoooo minnaaaaa...! (*o*)7 #ditabokin (x_o)... Baiklah saya minta maaf yang segede-gedenya, akibat keterlambatan yang sangat keterlaluan ini. Banyak hal yang terjadi dalam hidup saya belakangan ini #ceileh...

hitotsu (*o*)..| : Saya kesulitan mencari waktu luang. Suer deh... sibuk banget saya.

Futatsu (*A*)..V : Kompi saya yang udah bobrok ini rusak. Oh My... ini bener2 kendala utama. Dan untungnya udah sembuh... legaaa... (-_-)r'''.. fiuhh

Mitsu (*=*)..\|/ : Dan ketika si kompi udah sehat serta udah dapet waktu luang, eh... otak saya yang nge-blank. Serius deh, duduk berjam-jam hanya mampu natap layar kosong sambil bengong... kayak orang bego. Padahal nih otak udah saya ajak jalan-jalan, nonton film horor, udah saya cuci terus diperes, bahkan sampe diajak ngobrol... tetep aja dia kopong.../(©_©)\... #pusing pala Yuki. Yaudahlah, saya pasrah menunggu boklam nya menyala sendiri... krik krik krik

Yah, begitulah alibi saya. Dan saya terharu dengan semua review yang masuk di chapter kemarin. Domoo Arigatou...#bungkuk dalem. Seru banget bacanya. Sumpah, tanggapan dan spekulasi kalian keren-keren. Puas saya baca, reviewnya pada panjang-panjang... hehehe. Dan chappy ini saya persembahkan bagi dua readers yang paling rajin mengingatkan saya untuk update. Adalah mereka, Zera dan Inggar. naghespegapha... Hounto ni Arigatoo #bungkuk

Jadi, bagaimana dengan ch ini...? Apakah masih mistery? Kali ini nyeritain Ichigo... yang mengalami 'missing day'. Saya sih gak pernah ngalamin, tapi pernah denger beberapa kisah nyata tentang fenomena ini. Akhirnya saya tertarik untuk mengangkatnya di ENIGMA. Dan ketegangan Ichigo akan dilanjutkan di ch depan yang akan diupdate besok atau lusa (prediksi saya bakal jadi satu ch, ternyata kepanjangan—7.604 words tanpa A/N dan balasan review). Oya, kalau bertemu miss. typo tolong beritahu saya. Biar saya benerin...

Baiklah, saya tunggu R.E.V.I.E.W kalian untuk chapter ini ya!

Sampai jumpa di chapter 6...(^_^.../

Yuki Sharaa