Balasan review untuk no login dan anonymous...
zera : hehehe.. maaf ya menunggu lama (lagi) #garuk2 kepala. Saya lagi kesusahan membagi waktu nih. Tapi syukurlah kalo chap kemarin masih tetep bikin penasaran. Pertanyaan untuk Ichigo, terjawab di chap ini zera. Tapi untuk hub Rukia dan Toushiro sepertinya masih belum terungkap. Tapi, coba aja main tebak-tebak buah manggis sebelum saya sendiri yg ngasih tahu. saya bakal selalu ngasih clue kok tentang siapa mereka. Dan chap kemarin kayaknya memang banyak typo karena gak saya periksa ulang, ehehehe #ketara malesnya. Oke deh ini chap 6 nya. Selamat membaca ya zera... makasih banyak reviewnya.
Guest 1 : Iya... maaf lama updatenya karena banyak kendala hihihi. Terima kasih ya sudah review guest-san. Semoga chap ini tidak mengecewakan ya! Selamat membaca...
thathaa : hahaha... kalo bisa sih jangan sampe ngalamin. CTA (Cukup Tau Aja) dari kisahnya Ichigo. Untuk siapa itu Toushiro... kayaknya masih bakal jadi misteri deh. Jadi silahkan menebak2 siapa dia sebelum saya ungkap di sini. And makasih lagi buat semangatnya thathaa... juga buat review rutinnya. hehe... ini sudah update chap 6! Enjoy...
Guest 2 : Semua pertanyaanmu terjawab di chap ini guest-san (etto.. ini Guest-san yang sama bukan ya? hehe.. soalnya ada 3) , yaudah deh.. pokonya saya sudah update selamat membaca!
Haruka-chan : Yup. Begitulah Haruka-chan. Plot selalu membuat saya bertekuk lutut. Oiya, aku juga suka sama chara itu. Dia adalah penjahat paling keren, cakep, dan jenius yg pernah saya tahu di anime hohoho. Dn untuk kepanikan Ichigo, selama pengetikan chap 5-6, saya bisa membayangkan dengan jelas bagaimana raut muka Ichigo. Saya miripin sama kepanikan Ichigo waktu Tsukisima temennya Kugo Ginjou menyabotase ingatan2 org terdekatnya. Dan menganggap kalo Tsukisima itu sepupunya. hehehe... Iya,iya, jeniusan dia. Saya juga akuin deh. Terimakasih ya dukungannya haruka-chan. kalau boleh sih mintanya barang berharga (ex: money, smartphone, car,...#bletak) Dan selamat membaca chap 6...!
Ganesha : Hi, Ganesha-san! Thank you so much for your review (again). And (again) it too exaggerated I think... too over Ganesha-san (OMG). But, really thankful for this. And for the typos, I had repaired them. I really apologize for the long time. You know, just there was some trouble I had. Oh thanks God, if this chap still satisfy you. I was pessimist of that. Yup! Chap 6 is up... Don't miss it Ganesha-san. I wish that you'll be back again. I'll be wait...
Edgar Allan Poe : Hallo juga Edgar-san (ini mirip nama adeknya Raditya Dika, tentunya tanpa nama panjang 'Allan Poe' hehe). Maafkan kelakar saya atas PenName kamu ya...*peace* Eh, tapi keren juga ya PN-nya, Edgar Allan Poe itu penulis genre horror misteri terkenal di Amerika 'kan? Wah, gak nyangka ada yg bakal pake PN ini. Kalo Agatha Christie atau Conan Doyle mungkin sudah banyak yg pake (mungkin). #kok jadi ngebahas PenName sih (abis menarik sih). *oke fokus* (walaupun saya masih penasaran knpa kamu pilih nama itu). Kapan pun reviewnya, saya akan tetap berterimakasih karena sudah menyempatkan waktu. Apalagi sepanjang ini, terima kasih banyak ya Edgar-san. Juga untuk tebakan2nya, walaupun beberapa kali keliru tapi jangan menyerah. Kan teka-tekinya banyak, jadi masih banyak kok yg masih bisa ditebak. Contohnya hub Hitsuruki, ini masih jadi misteri karena saya belum mengumumkannya secara resmi #halah. Dan untuk pertanyaan ttg chap 5 nya, terjawab di chap ini. Sedangkan untuk Aizen dan Gin, hmm... untuk sekarang tetap jadi misteri hohohoho #ketawa nista. Baru kamu lho yg mencurigai mereka berdua. Padahal frekuensi kemunculan mereka cuman sedikit. Yah, pokoknya silahkan dipikirkan dulu sebelum saya beri tau. Oke deh, ini chap 6 nya sudah hadir... selamat membaca ya Edgar-san. Semoga tetep mendidik (seperti kata kamu) *tersanjung saya*...
1214 : WTH... Ini sih surat ancaman, bukannya review. Dan isinya jauh jauh bikin saya lebih merinding ketimbang Enigma chap.3. Mati hanya karena fiksi? Lelucon macam apa ini !? Anda super berlebihan. Dan hey Mr./Mrs. 1214... sepertinya saya tidak asing dengan code number ini... 1214 ... DIK, aren't you? Huh!?... Tapi sebagai author yg baik, saya tetap berterimakasih atas kesediaan meninggalkan jejak. GBU, DIK...!
yuki nadaa : Ini udah update nadaa-chan (aku panggil gini aja ya! hehe). Maaf ya menunggu lama... Silahkan!
Nishi : Oke. Ini sudah lanjut. Untuk endingnya masih ada sekitar 7 atau 8 chapter lagi. hehe... jangan lupa review lagi ya!
.
.
Untuk yang login, sudah saya balas melalui PM ya! (Juga untuk Fujiwara Eikichi dan Izumi Chieko)
.
Sekali lagi terima kasih bagi yang sudah mereview/fav/follow/PM :
│mira. cahya 1 │Haruka-chan │thathaa │Chupank │zera │sinji. kazeri │inggar. naghespegapha │Guest │Suit│ceda yagami │Aosaki Sakurai │Ayra el Irista │Kiki RyuSullChan │Fujiwara Eikichi │Suit as Suit │higitsune84tails │ningKyu │izumi chieko │shofia mutiarani │Lilium E. Midford │ yuuki nadaa │Guest │Edgar Allan Poe │ Fleur Choi │ Aoivess │ ItsChoiDesy │1214 │ Nishi │ Juga untuk para readers di manapun kalian berada yang telah bersedia meluangkan waktu untuk membaca│
.
.
Enjoy reading!
.
.
Warning : AU, OOC, Ranjau Typo, banyak istilah, agak ngebingungin
Genre : Mystery/Friendship/Romance
Disclaimer : I do own nothing
: : : :
: : : ENIGMA : : :
: : : :
_The Missing Day—Part II _
The Day (N)ever Happen
.
.
.
.
Bola matanya hampir keluar begitu mendapati lembar terakhir—yang semestinya terisi oleh soal beserta kedua jawaban milik dua orang berpredikat paling jenius di kelas E-2—bersih tak berjejak. Membelalak sejadi-jadinya dengan bibir setengah terbuka. Bingung dan tak percaya, tak ayal mendominasi raut terkejut di wajah tan si Kurosaki yang kini menegang sempurna.
Kembali, jemari yang mulai berkeringat dingin dipaksa untuk membalik-balik halaman berulang kali hingga lecek. Sampai koyak pun Ichigo tidak perduli. Bahkan beberapa panggilan lirih akan namanya dari Inoue pun tak digubrisnya. Sesuatu yang ini lebih darurat, sesuai teriakan keras dalam pikirannya—di mana bukti itu bersembunyi. Brengsek ... Di mana dia?—
"Tidak ada."
Penegasan Ishida bagai sendalu musim dingin yang membekukan sekejab sekujur tubuhnya. Tak dipungkiri, walau benaknya terus menjerit untuk jangan mempercayainya, respon tubuhnya berkata lain. Ichigo mematung tanpa suara, tatkala perang mulai berkecamuk dalam dirinya. Tapi tak dibiarkan lama, saat gerakan tangan gusar kembali memaksa halaman untuk berbalik, terus berbalik, dan terus berbalik, entah sampai kapan. Napasnya memburu seirama dengan degup jantung yang mulai menggila. Diiringi umpatan yang sesekali terlontar kasar di sela-sela pencarian.
Kepanikan yang kentara jelas.
Dan mau sampai kapan pun juga, ia terus mengubek buku catatan matematika itu, tidak akan pernah—Apa? Tunggu, catatan matematika?
Ichigo berhenti, seluruh gerakannya terhenti, mematung tiba-tiba bagai vampir China yang ditempeli kertas jimat di dahi. Tapi bukan karena ia benar-benar bermutasi menjadi makhluk penghisap darah, melainkan karena baru menyadari sesuatu. Sesuatu yang amat sangat penting dan seharusnya sudah diingatnya sejak tadi. Dengusan geli pun lolos tak tertahan, mengejek diri sendiri. Dasar pikun! Jelas saja tidak akan ketemu, mau sampai 'Hari Raya Babon' juga jangan harap.
Ichigo kembali menatap balik mata biru dibalik lensa itu, sama tajamnya. "Sudah kubilang, aku tidak mengigau," menggeram rendah, dengan keyakinan yang kembali bangkit.
Sedangkan Ishida belum berniat merubah raut tenang—yang menyebalkan menurut Ichigo—ketika melihat perubahan sikap si Kurosaki. Jelas sekali kalau kepanikan Ichigo telah lenyap, entah karena apa, dan diganti dengan tatapan penuh keyakinan—yang menggelikan menurut Ishida. Tapi, sudah Ishida bilang 'kan, kalau ia butuh bukti. "Kata-kata tak berdasar itu tidak akan membuktikan apa pun, Kurosaki. Tunjukkan! Jika memang kau berhasil menemukan sesuatu yang valid," ujarnya angkuh seraya mengulurkan sebelah tangan, meminta. "Dan kau tidak perlu memaksakan dirimu, Kurosaki. Aku 'kan hanya bilang 'jika'," tambahnya menekankan kata 'jika' dengan nada mengejek yang sengaja ditunjukkannya.
Ichigo mendengus sinis sebagai tanggapan. Lalu meraih tas dari dalam laci, menaruhnya di atas meja, dan membukanya. Semua dilakukan dengan sentakan kuat dan tanpa sekalipun mengalihkan tatapan sengitnya dari Ishida, bahkan saat mulai membongkar isi tasnya. Baru ketika hendak menggeledah buku-buku yang berserakan di atas meja, sepasang amber tajam itu beralih menatap mejanya.
Tangannya sigap memeriksa setiap buku satu persatu—dengan makian yang masih setia melantun dalam hati—yang seharusnya juga sudah Ichigo lakukan sejak tadi. Bodohnya ia! Kalau saja ia ingat lebih cepat bahwa kemarin—saat menyalin soal beserta jawaban dari soal tersulit di muka bumi sialan itu—ia lupa membawa buku catatan matematikanya. Dan sudah jelas sekarang kalau salinan catatan itu pasti bersemayam di antara buku-buku sialan ini.
Cih! Apa perlu dilemparnya ke depan muka menyebalkan Ishida nanti jika sudah ketemu? Tidak perlu bertanya, sudah pasti akan Ichigo lakukan. Dengan senang hati dan suka rela. Ditambah caci maki kalau perlu.
Ongaku, tidak ada.
Bahkan, ide super menarik itu telah menginfeksi otaknya sejak Ishida mulai bertambah mejengkelkan beberapa menit lalu. Walaupun pemuda klimis nan congkak itu memang selalu berperangai menyebalkan dan menjengkelkan sejak dulu. Ya, benar, dua kata itu jadi memiliki denotasi yang berbeda tatkala digunakan untuk mendeskripsikan Ishida. Menyebalkan karena cara menatapnya yang seolah merendahkan orang lain, dan jadi mejengkelkan ketika Ishida mulai berbicara seolah dia sang Mahatahu. Tapi untuk kali ini, Ichigo sampai harus menarik urat untuk tidak menerjang Ishida.
Bahasa Inggris, tidak ada.
Heh! Dan apa tadi dia bilang, 'kata-kata tak berdasar'? Jangan buat Ichigo tertawa! Seharusnya itu mutlak dialognya. Ya, seharusnya Ichigo yang berkata demikian untuk mengomentari sikap pura-pura lupa si brengsek Ishida akan kejadian di jam pelajaran Aizen-sensei kemarin. Cih, sialan, Ichigo pasti akan membalas sikap sombong itu. Liat saja nanti!
Bahasa Jepang, tidak ada.
Tunggu saja sebentar lagi. Jika bukti sialan itu telah Ichigo temukan, dia pasti akan memutarbalikkan keadaan persis seperti yang Aizen-sensei lakukan kemarin. Dan si sialan Ishida itu akan kembali kehilangan muka hari ini. Dan Ichigo akan tertawa jemawa menyaksikannya. Dan ini pasti akan sangat menyenangkan. Membuatnya tak sabar—
Tiba-tiba, kedua tangan yang sejak tadi sibuk memeriksa buku-demi-buku, kini tertahan di udara. Tanpa buku dan tanpa gerakan. Sementara pikiran sang Empu yang sejak tadi disibukkan dengan gerutuan serta umpatan, kini beralih pada meja berantakan di bawah kedua tangan kakunya. Ichigo tersentak, kenapa tidak ada lagi buku? Pikirnya heran. Ke mana semua buku yang seharusnya digeledahnya?
Sepasang manik madu yang terlihat kebingungan itu melirik ke ujung mejanya, tempat para buku tertumpuk asal. Di sana ... Kenapa buku-buku itu ada di sana? Sedetik kemudian, saat pandangannya kembali kepada telapak tangannya yang mengambang di udara, Ichigo tak perlu bertanya lagi, siapa yang telah memindahkan semua buku itu ke ujung meja. Ia sadar, pelakunya adalah kedua tangannya sendiri.
Tenggorokannya serat saat berusaha memaksa air liur melewatinya, yang turut menaik-turunkan jakun, rasanya sepahit kenyataan di depan mukanya. Bersamaan dengan kedua tangan yang kembali dipaksa menggapai buku paling atas dari tumpukan. Bahasa Jepang. Kembali digeledahnya dengan sisa-sisa keyakinan yang hampir menguap. Sebisa mungkin ia mencoba untuk tidak percaya, berdiri dengan keyakinannya sendiri. Hingga sampai pada halaman terakhir buku Bahasa Jepang miliknya sendiri. Ichigo mengulang kepanikannya, diawali dengan mata membelalak. Dan ia benci keadaannya kini, mengutuk apa saja yang bisa dikutuknya.
'Sial!' bersama umpatan dalam hati.
Lalu melempar buku itu ke sembarang arah, dan dengan segera menyambar buku selanjutnya. Bahasa Inggris. Sial. Melemparnya lagi. Ongaku. Sial. Dilemparnya lagi. Bahasa Jepang. Sial. Dan ikut bergabung bersama buku lainnya. Tidak ada. Suara lembaran kertas yang berbalik paksa dan bunyi jatuhnya buku bertemu meja turut meramaikan kepanikannya. Matematika. Kenapa? Dan buku itu pun bernasib sama. Bahasa Inggris. Tidak ada. Meraba asal buku apa saja yang bisa digenggamnya. Kenapa bisa? Apa saja. Sial. Ongaku. Tidak ada. Melakukan hal sama berulang-ulang. Di mana? Sialan. Matematika. Sial. Hingga keringat dingin mulai bercucuran menginvasi kening berkerutnya. Di mana kau bukti sialan?
Tidak ada. Tidak ada. Tidak ada. Tidak ada.
Renji maju, mengulurkan sebelah tangan berniat menghentikan tingkah aneh sahabatnya yang mulai memprihatinkan. "Ichigo ... sudahlah hen—"
"BERISIK!?"
Ichigo tidak menepisnya, bahkan tak menatapnya. Tapi sergahan kasar itu cukup menghentikan gerakan tangan Abarai Renji tepat beberapa senti sebelum mencapai pundak tegang si Kurosaki.
Ichigo masih tampak enggan menghentikan kegusaran atau menyerah percaya, ketika seseorang kembali mendekatinya. Suara tapak langkah itu tidak sejelas langkah Renji, tapi juga tidak terlalu disembunyikannya. Sebelah tangan, yang memang bukan milik Renji lagi, tearah ke pundak si orange yang naik turun tergesa akibat tarikan napas yang mulai tak teratur. Dan Ichigo tidak suka siapapun menyelanya saat ini. Dengan kedua mata nyalang yang menerangkan ketidaksukaannya, Ichigo berbalik. Hampir berteriak lebih sangat keras andai saja tangan itu milik Renji, tapi...
"Cukup!"
Ichigo terperangah. Urat matanya mengendur. Ketika menyadari tangan yang kini dibiarkan menyentuh sebelah pundaknya adalah milik seorang gadis dengan bola mata ungu tegas. Tatapan yang cukup untuk menekan niat marah-marah pemuda yang mulai (atau mungkin) kehilangan akal warasnya itu.
"Hentikan itu, Ichigo!" ujar gadis itu lagi, masih dengan penekanan tegas disetiap katanya. Ketika ichigo telah sepenuhnya menghadapnya.
"Rukia, kau juga ... meragukanku?" suara Ichigo merendah, setengah bernada skeptis dan separuh kecewa. Seraya mencari-cari jawabannya di balik manik amethyst yang terus menatapnya tajam.
Rukia menurunkan tangannya, memejamkan mata sejenak sambil menarik napas dalam, kemudian kembali menatap pemuda bimbang dihadapnya dengan sorot lebih tajam dari sebelumnya. "Memang sulit untuk percaya ketika aku tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi padamu, tapi bukan itu maksudku. Aku hanya ingin kau menggunakan otakmu, Ichigo."
"Jadi, berhentilah panik!"
Dan benar, Ichigo tersentak cukup hebat akibat perkataan Rukia yang cukup menggambarkan keadaan dirinya yang menyedihkan kini. Berhenti panik. Panik? Memprihatinkan sekali. Apa ia sungguh terlihat sangat panik hingga membuatnya lupa diri?
"Aku juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi," gumamnya rendah setelah lama terdiam menatap kosong ubin di bawah uwabaki-nya. Dan beralih kepada Rukia yang masih setia menatapnya, "Catatan yang seharusnya—"
"Yang sebenarnya terjadi adalah kau yang tidak bisa membedakan dunia nyata dan mimpi, Kurosaki," Ishida memotong perkataannya dengan tukasan sarkartik. Jangan lupa dengan senyum culas yang menyebalkan itu.
"Lebih baik kau tutup mulut tajammu itu, Ishida!?" Ichigo menggeram. Darahnya kembali mendidih hanya karena melihat sorot keangkuhan dari wajah tirus Ishida.
Sudut bibir pemuda klimis itu tertarik, "Kau seharunya berterima kasih atas bantuanku ini, Kurosaki. Kau tahu, menyadarkanmu dari mimpi … itu sangat merepotkan," ucapnya santai dan tanpa dosa, seolah perkataannya tak akan sampai menyulut bara yang terlanjur menjadi api. Dan mungkin membuat Ichigo memanas kini telah menjadi hobi barunya.
"Brengsek kau—"
"HENTIKAN KALIAN BERDUA!" Dan teriakan Rukia bagai air yang kembali menjadi penengah diantara minyak dan kobaran api tersebut.
Lain halnya dengan Abarai Renji yang tidak tahu harus berbuat apa, yang hanya mampu menatap bergantian antara Ichigo dan Ishida yang belum memutus kontak mata masing-masing, atau mungkin sedang bersiap-siap sebagai pelerai andai mungkin terjadi baku hantam sungguhan—Ichigo sudah seperti *fat man yang nyaris meledak. Pemuda jangkung berambut merah itu bahkan tak mengindahkan keadaan sekitar walau kedua temannya itu telah menjadi pusat perhatian seisi kelas.
Rukia menatap Ishida, "Ishida, lebih baik kau diam jika hanya untuk memperkeruh keadaan," lalu beralih menatap Ichigo, "dan kau Ichigo, sebaiknya kau bersikap lebih tenang, sebelum kau diseret ke ruang konseling," sambungnya memperingati.
Tapi, tidak satu pun dari keduanya yang menanggapi. Ishida hanya mengendikkan bahunya sekilas, dan Ichigo membuang muka kesal.
"Aku benar-benar tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan kalian berdua. Mengigau, Aizen-sensei, catatan, bukti—tidak adakah di sini yang bisa memberi penjelasan dengan kepala dingin? Renji?"
Ranji berjengit kaget, ketika Rukia tiba-tiba menatapnya meminta penjelasan. Ia meringis, tanpa sadar menggaruk belakang kepala yang tidak gatal. "Eh! Itu ... Iya, Ichigo ... tadi dia mengatakan kalau ... yang tidak terjadi seharusnya terjadi ... aku juga kurang mengerti ... dia bilang itu hal bersejarah yang entah kenapa aku lupa—"
"Katakan saja kalau dia memang mengigau," Ishida menambahkan penjelasan tak jelasnya tiba-tiba.
Renji sempat bengong menatap Ishida, lalu kembali melanjutkan penjelasannya, "Eh! Hm ... Iya, begitulah ... Tiba-tiba Ishida mengatakan kalau Ichigo bisa membuktikan kalau dia tidak sedang bermimpi ... maka—"
"Maka dialah yang mengigau," giliran Ichigo yang ikut-ikutan menambahkan.
"Ya, seperti itu ... dan ... DAN KENAPA TIDAK KALIAN SAJA YANG MENJELASKANNYA...!" dan Abarai Renji melanjutkannya dengan teriakan kesal. Lubang hidungnya kembang-kempis menyemangati kekesalannya. Guna menghirup-hembuskan udara sebanyak mungkin untuk menenangkan emosinya sendiri.
"Dan kau tidak perlu berteriak Renji. Apa kau ingin speaker itu mengumumkan nama kita semua di kelas ini untuk menghadap ke ruang konseling?!"
Ichigo tersentak, kedua kalinya bak tersengat listrik bertegangan tinggi, begitu Rukia menyudahi gerutuannya pada Renji. Terlebih ketika menatap gadis itu yang sempat menunjuk kotak hitam pengeras suara di pojok depan atap kelas. Dan begitu matanya ikut mengarah kepada benda yang dimaksud, Ichigo menyeringai. Ia menang. Ia benar-benar menang kali ini. Bukti itu, akhirnya didapatkan.
"Dasar!" gumamnya dengan dengusan geli, tapi mampu mengambil perhatian Ishida kembali padanya. "Maaf Ishida, soal catatan itu, sepertinya aku tidak bisa memberikannya padamu sekarang. Aku perlu waktu untuk menemukannya, mungkin tertinggal lagi di kamar ku atau entah di mana. Tapi, aku masih bisa memberikan bukti lain jika rasa ketidakpercayaanmu itu memang sangat mendesak. Dan aku tidak keberatan sama sekali, karena kau sendiri yang akan menunjukkan bukti itu kepada semua orang."
Ishida mengernyit tipis, ada sedikit gurat bingung di wajahnya. Jelas ia tidak mengerti maksud perkataan Ichigo. Dan kenapa jadi dia yang menunjukkan buktinya, bukankah di sini dia yang perlu ditunjukkan. Menunjukkan dan ditunjukkan, itu kosakata yang berbeda 'kan? Apa Ichigo **slip tongue? Kalau iya, konyol sekali.
"Berhentilah berputar-putar, Kurosaki!"
Ichigo mendengus sinis, kali ini sambil menatap lurus sebagai bentuk tantangan, "Jam istirahat siang ini, kau tidak mungkin merubah jadwal pengumuman untuk event besar yang telah kau dan team-mu persiapkan sejak jauh hari. Kau tahu maksudku, Ishida!"
Sesuai dugaan Ichigo dan diluar kendali Ishida, mata biru yang selalu tajam itu kini sedikit melebar. Tapi mampu dikembalikkan Ishida seperti sediakala sebelum disadari yang lain. Namun, tak cukup cepat untuk luput dari pengawasan Ichigo yang terlanjur sengit dengannya.
Ishida tersenyum sinis dengan mata terpejam, "Tidak kusangka," jawabnya santai, sembari membenarkan letak kacamatanya, "keadaan mendesak mampu membuat otak payahmu bekerja," sambungnya lagi, masih dengan senyum yang menggambarkan kesinisan ketimbang kesalutan. "Ini sebuah pujian, Kurosaki. Berbanggalah!" Sedikit melebarkan senyumnya, "Karena yang menunggu sebuah kesimpulan dari situasi ini, bukan hanya aku," lalu melirik sekilas dengan tatapan misterius kepada pemilik sepasang emerald di pojok belakang yang tanpa disadari sejak awal turut memperhatikan, membuat tatapan keduanya bertemu dan sempat memberi kerutan tipis di antara manik hijau terang, sebelum Ishida sepenuhnya berbalik memunggungi Ichigo.
Ishida kembali berujar—tanpa memberi Ichigo kesempatan bertanya apa maksud ucapannya sebelumnya—kali ini untuk seluruh penghuni kelasnya, "Berhubung kita memiliki dua jam pelajaran kosong, kalian bebas mengunjungi perpustakaan atau club siswa, tapi tidak untuk kantin apalagi keluar sekolah. Aku tidak akan bertanggung jawab jika terjadi masalah, karena sudah kuperingatkan," lalu melangkah tenang keluar kelas, menyisakan keheningan.
"Apa-apaan dia itu?" komentar Ichigo tidak terima sepeninggal Ishida. Ada nada kesal di sana, sembari terus menatap pintu pertama tempat Ishida menghilang.
"Ichigo, kau masih berhutang penjelasan padaku," Rukia kembali menginterupsinya.
"Aku tahu."
.
.
.
.
"Ini sangat membingungkan."
Kepala raven itu mengangguk-angguk samar dengan ibu jari dan jari telunjuk yang membentuk huruf V di bawah dagunya. Pose serius si gadis Kuchiki ketika mencoba menganalisa keadaan.
"Kupikir kau akan langsung bilang kalau aku sedang mengigau, seperti babon ini," komentar Ichigo. Menunjuk sahabat merah di sampingnya dengan ibu jari. Tanpa mengalihkan pandangannya dari Rukia.
"Oii!" Renji mendelik tidak suka. Mengalihkan fokusnya pada ramen panas pesanannya yang baru saja dihidangkan. 'Babon' adalah kata tabunya.
"Tidak. Kurasa tidak seperti itu, Ichigo." Kepala ravennya menggeleng lambat, dengan alis tertekuk dalam. Mengabaikan silabel tak penting dari Renji. "Aku memang tidak ingat sama sekali dengan soal tersulit di muka bumi yang kau ceritakan itu, tapi caramu memaparkannya itu terlalu meyakinkan. Sangat rinci dan ... nyata. Kecuali kau memang sungguh berniat mengada-ada cerita itu," sambungnya.
Ichigo menaikkan sebelah alisnya kesal, "Jadi, kau juga ada dipihak Ishida. Seperti babon ini," ujarnya tak suka dan kembali menuding Renji dengan ibu jari.
"Oii!" Renji mendelik untuk kedua kali. Kali ini dengan nada sedikit meninggi dan mie yang bergelambir di bibirnya. Sudah dikatakan, 'babon' adalah kata tabunya.
"Aku juga tidak ingat. Tapi aku tetap dipihakmu, Kurosaki-kun!" Inoue yang sejak tadi sibuk melahap donat karamel pesanannya di samping Rukia, mendadak ikut menimpali dengan nada sangat ceria. Mungkin karena donatnya.
Ichigo tersenyum tulus. "Terima kasih, Inoue."
"Kau tahu, bukan itu maksudku, Ichigo. Aku tidak dipihak siapa pun," Rukia kembali berujar yakin. Membela diri dari tudingan sebelah pihak.
"Tapi ... Jika memang kejadiannya seperti itu, artinya kau melewatkan sesuatu, Kurosaki."
Dan semua kompak menghentikan aktivitas masing-masing, untuk bersamaan menoleh heran ke ujung meja panjang di deretan Rukia. Kepada seseorang yang dengan tenangnya menyeruput jus semangka. Dan sungguh sangat amat diluar dugaan ikut menimpali percakapan dengan topik keanehan Kurosaki Ichigo.
"Apa maksudmu, Toushiro?" Ichigo yang pertama buka suara. Setelah beberapa saat hening.
'Dan siapa yang mengajakmu ke sini?' sambungnya dalam hati.
Pemuda itu hanya melirik dengan mata datarnya, "Kau akan tahu maksudku, jika kau tahu hari ini hari apa," ucap Toushiro sekenanya dan tak langsung menjawab pertanyaan yang jelas ditujukan padanya.
Renji, Rukia, dan Inoue kembali kompak menoleh bersamaan, kali ini ke arah Ichigo, menunggu jawabannya. Karena sebenarnya mereka juga tidak mengerti arah pembicaraan si Hitsugaya. Jadi, ikuti saja alurnya.
Ichigo masih belum mengalihkan pandangannya dari Toushiro, ia mendengus geli, "Kau bergurau ya? Tentu saja ini hari Jum'at."
Detik berikutnya, Renji menganga, Rukia tersentak, dan Inoue menutup mulut dengan dua telapak tangan sekaligus. Semua dilakukan hampir diwaktu bersamaan. Membuat Ichigo memberengut heran mendapati reaksi aneh dari ketiga orang berbeda warna rambut tersebut.
"Ada apa?" tanyanya langsung.
"Sudah kuduga," tebak Toushiro, senyum sinis yang terukir tipis di sudut bibirnya. Ia kembali menyeruput jus semangkanya.
"Apanya?"
Ichigo masih tampak belum mengerti dengan keadaannya. Bahkan ketika Inoue, Renji dan Rukia terus memelototinya dengan tatapan tidak percaya yang agak berlebihan. Ichigo hanya tengok-tengok bingung pada keempatnya bergantian.
"Kurosaki-kun, kau sungguh tidak tahu ini hari apa?"
"Oii! Apa di rumahmu tidak ada kalender, Ichigo?"
"Jadi kau benar tidak ingat ya?"
Melihat kerutan permanen Ichigo yang semakin dalam saja, membuat Rukia hanya bisa menghela napas. Baru setelahnya berkata, "Ini-hari-kamis, Ichigo," menekan setiap kata, dengan artikulasi dan gerakan bibir dibuat sejelas mungkin.
Dan pada akhirnya, kalimat itu sukses membangunkan Ichigo dari tidur panjang, walau ia tampak seperti orang pongah beberapa saat. Hingga kesadaran dengan cepat mengambil alih dirinya, ditandai dengan mata membulat, pupil mengecil, dengan ekspresi tercengang luar biasa hanya karena tahu 'ini hari apa'. Seketika berbalik menghadap Renji di sampingnya.
"KENAPA TIDAK KAU KATAKAN SEJAK TADI!?"
Dan teriakan lima oktaf menghentak gendang telinga Abarai Renji, hampir saja membuat mie keluar dari hidungnya akibat tersedak, andai tak buru-buru menelan ramen pedas yang masih memenuhi mulutnya. Sepersekian detik lebih cepat sebelum diserang suara Ichigo.
"Kau 'kan tidak tanya," jawab Renji singkat, setelah menetralkan panas di tenggorokan dan mulutnya dengan air, menghadap Ichigo dengan wajah tidak bersalah yang tiba-tiba disalahkan. Apalagi dengan tatapan yang seolah berkata 'Salahmu yang tidak punya kalender', membuat Ichigo begitu bernafsu ingin mencekiknya kuat-kuat hingga Renji tidak mampu lagi menelan ramen pedasnya itu. Atau Menjahit mulut Renji dan memaksanya makan mie melalui hidung beserta kuah-kuahnya. Habisnya, bisa-bisanya dia menikmati mie ramen disaat seperti ini?
Kebetulan suasana kantin masih sepi, sehingga Ichigo bebas melakukan apapun saat ini. Soal peringatan Ishida? Come on... tidak ada satu pun dari mereka yang perduli saat ini.
Kembali ke keterkejutan Ichigo, yang berusaha mengumpulkan sisa-sisa kewarasannya. Kepalanya mendadak pening. Dari sekian banyak hal yang membingungkannya hari ini, kenyataan tentang status hari benar-benar membuat kepalanya nyaris meledak. Ya, dari semua hal yang dialaminya, ternyata bermuara pada nama hari. Yang entah kenapa tak terpikirkan sejak tadi. Jika memang hari ini hari kamis, dan jika ditapaktilasi dari awal, ya ampun, semuanya jadi jelas.
"Kau sudah paham situasimu, Kurosaki?" suara rendah Toushiro kembali menarik kesadaran Ichigo. Berterimakasihlah pada pemuda dingin itu.
Namun, alih-alih menanggapinya, Ichigo justru meremas kuat surai jingganya hingga lebih berantakan dari semula, guna mengurangi rasa pening. Dibantu dengan kedua mata yang terpejam erat. Saat itulah tiba-tiba tangannya yang tertekuk bertumpu siku di atas meja, disentuh oleh tangan lain yang lebih kecil. Ichigo membuka matanya, dan langsung mendapat tatapan hangat dari sepasang manik ungu kelam di seberang meja. Ia tertegun.
"Jika ini masih membingungkanmu, kau tidak perlu memikirkannya sendirian Ichigo. Kami di sini untuk mendengarkanmu," ujar Rukia penuh pengertian, sesaat setelah mendapat perhatian penuh dari pemuda itu. Ichigo pasti sangat tertekan, dan Rukia hanya ingin membuatnya tidak merasa sendirian.
Dan tanpa disadari satupun, ada yang merasa terganggu di ujung meja sana, menatap lurus-lurus jemari Rukia yang masih menyentuh lengan Ichigo, seolah di sanalah letak akar permasalahan sesungguhnya. Hingga Rukia menarik kembali tangannya begitu Ichigo mengangguk paham. Keadaan kembali hening, dan semua fokus kepada si Kurosaki.
Ichigo menatap kesepuluh jemarinya yang menyatu di atas meja panjang itu dengan punggung yang sedikit membungkuk, sebelum memutuskan untuk bicara. "Baiklah." Menarik napas cukup dalam setelah kata pertamanya. Dan menghembuskannya lewat mulut. Menyiapkan diri. "Tapi mungkin kalian tidak akan percaya ini. Kemarin saat aku bangun pagi, aku melihat hari yang sama dengan hari ini pada panel jam digital di kamarku, tangal 23 November 2000, hari Kamis. Aku ingat, hari itu aku tidak mendapat serangan seperti biasa dari ayahku yang ternyata sedang keluar kota. Sarapan pagi bertiga dengan kedua adik perempuanku. Berangkat bersama Inoue ke sekolah dan berpapasan dengan kalian berdua tepat di depan gerbang sekolah," berhenti sejenak untuk melirik Rukia dan Toushiro bergantian, lalu kembali menatap jemarinya sendiri, "hingga pelajaran matematika, di mana Ishida dipermalukan karena soal itu. Dan ketika aku bangun pagi ini, semua hal serupa terjadi lagi. Aku baru menyadarinya saat mendengar seruan Inoue tentang kalian berdua yang terlihat berangkat bersama lagi."
"Ah! Jadi karena itu tadi pagi kau mengira aku mengulangi perkataanku, Kurosaki-kun?" tanya Inoue, menatapnya dengan mata karamel bulat yang terlihat terkejut juga cemas.
Ichigo mengangguk kecil, "Hm. Dan kau bilang, kau lupa," menjawab pelan. Membuat bibir gadis itu menekuk ke bawah tanda menyesal.
Dan pemuda itu kembali mengambil napas sebelum kembali melanjutkan situasinya, "Setiap situasi, setiap perkataan, semua terulang persis sama. Awalnya tidak terlalu kuperdulikan, hingga Ishida berkata semua hal yang kubicarakan hanya halusinasi. Kupikir semua hanya kebetulan juga termasuk dengan jadwal pelajaran yang sama dua hari berturut-turut, dan tentang Ishida, kukira dia hanya mencoba untuk tidak mengingat kejadian yang cukup merusak reputasinya itu. Tapi, sekarang aku tahu, apa yang sebenarnya terjadi," dan mengakhiri penjelasan singkat itu dengan kalimat terakhir yang seperti ditujukan untuk dirinya sendiri.
"Lalu, apa yang sebenarnya terjadi?" Renji bertanya, menoleh pada Ichigo di sampingnya. Alis bertatonya menekuk bingung mendapati kalimat terakhir itu terasa mengambang.
"Mengulang waktu," Toushiro menjawab dari ujung meja. Suaranya sedatar matanya. "Jika semua yang kau alami hari ini benar-benar serupa dari hari yang pernah kau lewati sebelumnya, mungkin kau sedang mengulang hari itu."
Ichigo mendengus skeptis, "Huh! Awalnya kupikir semua pengulangan ini hanya Déjà vu. Tapi, siapa yang tidak bingung dengan Déjà vu yang menimpanya berulang kali, terus-menerus, dan tanpa henti? Mengulang waktu? Aku hanya tidak berpikir sejauh itu," lanjutnya mengomentari, dengan seringai kecil terpatri di salah satu ujung bibir.
Toushiro melirik lewat ujung mata, senyum pahit yang mungkin tidak disadari pemiliknya, membuat Ichigo terlihat semakin putus asa. "Interpretasinya memang berbeda. Jika pengulangan waktu adalah kau melewati dua waktu yang sama dengan semua peristiwa yang terjadi di waktu sebelumnya ikut terulang, maka Déjà vu hanya mengulang peristiwanya saja di waktu yang berbeda. Pertanyaannya sekarang, apakah kau benar-benar mengulang semua peristiwa, Kurosaki?" tanyanya kemudian, dengan penekanan pada setiap kata. Menatap Ichigo lebih serius, penuh selidik.
Ada jeda sejenak, mungkin dipakai Ichigo untuk berpikir. "Tidak," jawabnya yakin. Tanpa menatap siapapun, ia menambahkan, "Entah kenapa ada pengecualian untuk pelajaran matematika."
Renji yang berada di sebelahnya tiba-tiba menyentak, "AH! Benar juga," menunjuk-nunjuk Ichigo, dengan ekspresi terperangah berlebihan demi mendramatisir keadaan, ia ingat, "Ishida bilang kalau Aizen-sensei belum kembali dari perjalanan dinasnya di Amerika. Dan itu sama saja berarti peristiwa 'bersejarah' yang kau ceritakan itu juga tidak mungkin terulang lagi hari ini Ichigo," mengulang kembali pernyataan si mata empat saat di kelas.
Ichigo yang sejujurnya kesal karena Renji tiba-tiba berteriak di depan telinga kanannya, hanya menatap sebal dengan mata tajamnya, tapa berniat memulai perkelahian, mungkin nanti. "Padahal, itu adalah peristiwa yang paling ku ingat kemarin," ujarnya, dengan ujung jari kelingking yang masih sibuk mengorek telinga kanannya guna mengurangi dengungan, membuat Renji hanya meringis menyadari sindiran itu, "karena aku memperhatikan setiap momen yang terjadi, bahkan ikut menyalin jawaban milik Ishida dan kau," melirik Toushiro sebagai penegasan, air mukanya kembali serius, "makanya ketika Ishida meminta bukti, aku langsung ingat tentang catatan itu. Tapi aku sempat bingung karena aku lupa bahwa kemarin aku tidak membawa buku catatan matematika ... Ya, seharusnya aku juga tidak membawanya hari ini. Jika aku memang mengalami pengulangan waktu, kenapa buku matematika yang seharusnya tertinggal lagi justru saat ini ada di dalam tas ku? Dan jika bukan pengulangan waktu, kenapa bukti itu tidak ada? Dan kenapa hari ini bukan hari Jumat?"
"Jadi begitu," kini Rukia yang bersuara, gumaman pertamanya setelah cukup lama hanya menyimak penjelasan Ichigo. Ia mengangguk lambat-lambat. "Aku mulai paham situasimu, Ichigo. Ini memang sangat rumit, tapi bisa jadi yang kau alami bukan keduanya. Déjà vu atau pun mengulang waktu," tebaknya menyimpulkan.
"Ah! Atau jangan-jangan kau justru mengalami keduanya sekaligus, Kurosaki-kun!" Inoue ikut memberi kesimpulan. Membuat Ichigo termenung, jawaban kedua gadis itu ada benarnya, tapi...
"Itu juga tidak," tukas Toushiro singkat. Membuat Ichigo dan yang lain langsung menoleh padanya.
"Lalu apa?" tanya Ichigo, meminta kepastian.
"Missing Day," jawab pemuda bersurai keperakan itu datar, menghadap penuh pada kedelapan pasang mata yang memancarkan rasa ingin tahu yang tinggi, "hanya itu satu-satunya penjelasan yang mendekati situasi ini," sambungnya.
Sepasang alis hitam terangkat tinggi, "Hari yang hilang?" ulang Rukia, bernada heran pada gumamanya akan terjemahan dari peristiwa yang dimaksud si Hitsugaya.
Toushiro melirik gadis raven di sebelahnya sebentar, ada sepintas senyum tipis yang tidak akan terbaca jika tidak dilihat dari kaca pembesar. "Secara harfiah? Iya," jawabnya dengan anggukan kecil sebagai tambahan. Ia melanjutkan, "Missing day adalah hari yang sebenarnya pernah terjadi, tapi entah kenapa menghilang dari catatan atau ingatan setiap orang dan seolah tidak pernah terjadi. Biasanya hanya satu orang yang menyadari tentang hilangnya hari tersebut. Sedangkan yang lain, tanpa alasan pasti, melupakannya begitu saja. Sebenarnya fenomena ini hanya dianggap hoax karena tidak pernah terbukti kebenarannya. Tapi, jika kau berhasil menunjukkan bukti tentang 'pernah terjadinya hari yang hilang itu', mungkin kau akan menjadi manusia pertama yang mengalami Missing day, Kurosaki," lalu melirik dengan emerald dingin pada orang yang dimaksud.
Ichigo kembali mendengus geli, seolah sudah jadi kebiasaan menanggapi pernyataan orang lain atau Toushiro (secara khusus) akan dirinya. "Jadi, apa ini sebuah keberuntungan atau justru kesialan bagiku?" tanyanya dengan kelakar yang jelas-jelas jauh dari kata lucu.
Alis Rukia refleks menekuk, gurauan Ichigo lebih terdengar seperti mengolok dirinya sendiri. Tidak hanya nada suara, tapi juga ekspresinya, membuat Rukia harus buru-buru membenahi sebelum Ichigo benar-benar kehilangan dirinya karena keputusasaan. "Hanya kebetulan Ichigo. Kebetulan yang ajaib. Dan jika memang ini sempat diketahui hanya berita bohong semata, itu artinya fenomena ini pernah terjadi sebelumnya. Apa itu benar, Toushiro?" tanyanya, beralih menatap pemuda dingin disampinya lagi.
Toushiro mengangguk sekilas, membenarkan terkaan Rukia. "Pernah ada dua peristiwa besar yang sempat menggemparkan dunia tentang fenomena ini. Yang pertama adalah tentang dunia yang kehilangan 11 hari pada bulan September tahun 1752. Bermula ketika warga Inggris tidur di malam pada tanggal 2 September tanpa ada firasat buruk sedikitpun, dan ketika mereka bangun keesokan harinya, mereka telah berada di tanggal 14 September. Kabar tentang terjadinya fenomena Missing day langsung menjadi perbincangan hangat kala itu, tapi anehnya tidak ada satupun yang ingat apa yang terjadi selama 11 hari yang hilang tersebut. Dan pada akhirnya, kehebohan itu hanya dianggap hoax. Keanehan hilangnya 11 hari pada tahun tersebut terjadi karena perubahan penanggalan yang semula menggunakan kalender Julian menjadi kalender Gregorian. Sebenarnya kalender Gregorian ini sudah lama diperkenalkan dan dipakai di benua Eropa, yaitu sejak tahun 1582 namun di Inggris baru dipergunakan pada tahun 1752, mereka baru menyadari bahwa sebenarnya mereka menggunakan kalender cacat.
Kalender Julian yang dulu mereka pergunakan menentukan satu tahun itu persis berjumlah 365 hari 6 jam, padahal sebenarnya bumi mengelilingi matahari kurang dari waktu tersebut, sehingga 365 hari dan 6 jam yang ditetapkan tersebut kelebihan waktu 11 menit 10 detik. Artinya, setiap tahun mereka kelebihan waktu 11 menit 10 detik dan akan menjadi 24 jam atau satu hari setiap 131 tahun, menjadi 3 hari setiap 400 tahun, dan pada tahun 1582 jumlah kelebihannya mencapai 10 hari. Untuk menghindari kesalahan yang lebih fatal maka pada tanggal 5 Oktober tahun 1582, diadakan perubahan penanggalan dari Julian ke Gregorian dan melompat sepuluh hari sehingga besoknya langsung menjadi tanggal 15 Oktober.
Inggris yang belum menggunakan kalender Gregorian tahun 1752, kebingungan karena perbedaan telah tumbuh menjadi 11 hari, dan Inggris pun akhirnya merubah penanggalan mereka menjadi kalender Gregorian dan kemudian kelebihan 11 hari tersebut dihilangkan untuk menyesuaikan dengan waktu yang sebenarnya. Kejadian itu terjadi pada tanggal 2 September 1752 dan langsung melompat ke tanggal 14 September 1752."
Tidak ada yang mengalihkan fokus mereka atau mencoba untuk menyela sejak Toushiro memulai penjelasannya. Mereka terlalu takjub walau ini sudah kali ketiga mereka mendengarnya.
"Sepertinya aku mulai terbiasa dengan ini," gumam Renji pada diri sendiri. Penjelasan Toushiro terlalu rinci. Walaupun Renji tidak mengerti sepenuhnya, setidaknya lebih baik baginya karena Toushiro tidak memiliki 'mata kematian'.
Di depannya, Inoue memandang penuh decak kagum, "Baru pertama kali aku mendengar tentang peristiwa itu, dan kau bisa menjelaskannya serinci itu. Toushiro-kun, kau pintar sekali!" sepasang mata bulat sewarna karamel itu berbinar dengan kedua tangan yang saling menggenggam di bawah dagu.
"Tetap saja, pada akhirnya tidak menjelaskan apapun," gerutu Ichigo pelan, menyangkal kekaguman Inoue yang menurutnya agak berlebihan. Tampang kusutnya masih belum berubah.
Rukia di depannya hanya melirik selintas, lalu kembali pada Toushiro. "Lalu, bagaimana dengan peristiwa yang kedua?" manik ungu itu menatap penasaran.
"Yang kedua terjadi sekitar tahun 1969, yaitu tentang berita Missing Day yang berhasil ditemukan ***NASA secara tidak sengaja," jawab Toushiro singkat. Tapi mampu menarik kembali rasa penasaran keempat orang yang semeja dengannya.
"Tidak sengaja?" ulang Renji keheranan.
Pemuda bermata hijau itu sempat menghela napas sekali, sebelum memulai penjelasan keduanya hari ini. "Hn. Berawal dari seorang pria bernama Harold Hill, yang merupakan presiden dari perusahaan Mesin Curtis di Baltimore, Maryland, dan mengaku sebagai konsultan dalam program luar angkasa, menyatakan bahwa sistem komputer NASA telah menemukan 'The Missing Day' ketika para astronot dan ilmuwan ruang di Green Belt, Maryland, mencoba menentukan posisi matahari, bulan, dan planet-planet untuk 100 tahun dan 1000 tahun kedepan. Dan untuk melakukannya, mereka perlu memulai orbit dari abad terakhir. Saat sistem komputer Nasa sedang berjalan memindai data selama kurun waktu berabad-abad, tiba-tiba sistem berhenti. Komputer mengisyaratkan bahwa ada sesuatu yang salah baik dari informasi waktu yang dimasukkan atau dari hasil waktu yang tidak sesuai standar, yakni 24 jam. Tapi ketika para teknisi memeriksanya, tidak ada kerusakan apapun. Dan saat sistem mulai mengulang pemindaian, hal sama terjadi lagi. Sistem berhenti tepat di waktu yang sama yang menjadi masalah sebelumnya. Mereka mengira ada hari yang hilang dalam perhitungan. Tapi tidak ada satu pun ilmuwan yang mampu menjelaskannya, sampai salah satu tim ingat bahwa dalam Alkitab dijelaskan bahwa matahari pernah berhenti sekitar 23 jam 20 menit dan juga matahari pernah berjalan mundur sekitar 10 derajat—yang jika dilihat melalui busur sama dengan 40 menit," terangnya.
Kedelapan pasang mata itu masih memperhatikannya, bahkan ketika Toushiro kembali menyeruput jus semangka yang tinggal separuh kotak. Ia cukup kehausan.
"Dan itu menjelaskan teka-teki hilangnya 24 jam," ujar Rukia kemudian. Pernyataannya bernada pertanyaan, jadi Toushiro mengangguk sebagai jawaban.
"Lalu, apa isi Alkitab itu yang dianggap hoax?" tanya gadis raven itu sekali lagi. Terlihat sekali rasa ingin tahunya jauh lebih tinggi ketimbang Ichigo si Subjek Missing Day.
Kali ini Toushiro mengawali jawabannya dengan gelengan pelan, "Bukan. Tapi pernyataan Harold Hill. Selama hampir 30 tahun cerita Missing Day itu telah dimuat di hampir seluruh surat kabar terkemuka—seperti Duncanville, Plainview, dan Pasca. Hingga Oktober 1969, berita ini tercantum dalam sebuah kolom surat kabar Amerika oleh seorang kolumnis—Mary Kathryn Bryan—hingga muncul dalam The Spencer Evening World, di Spencer, Indiana. Sejak itu, kebenaran berita ini mulai dipertanyakan, karena Harold Hill tidak memiliki sumber pasti untuk cerita itu. Dan yang menjadi masalah, dari pihak NASA sendiri membantah bahwa Harold pernah menjadi salah satu konsultannya. Satu-satunya jejak Harold pernah memiliki hubungan dengan NASA adalah hanya keterlibatan kontrak untuk operasi dan pemeliharaan beberapa operasi mesin diesel."
"Astaga," desis Inoue, membuat Renji menoleh padanya. Terlihat sekali kalau pemuda bertato itu masih meraba-raba maksud dari penjelasan Toushiro. Tapi, pada akhirnya ia bisa mengambil kesimpulan. Intinya, cerita itu hanya hoax.
"Jadi memang tidak pernah terbukti ya?" tanya Renji, ikut menimpali. Kepala merahnya mengangguk-angguk guna membuat dirinya terlihat seolah paham.
Untuk beberapa saat tidak ada yang bersuara, seperti sedang sibuk dengan pikiran masing-masing. Sampai bell tanda istirahat siang berdering, cukup menyentak mereka dari lamunan singkat itu. Tapi situasi yang cukup serius itu belum bisa dipudarkan, bahkan saat keramaian siswa-siswi mulai memenuhi penjuru kantin.
"Tidak terbukti, bisa juga berarti tidak diizinkan untuk membuktikan."
Suara itu milik Rukia, yang diam-diam mencoba mencerna perkataan Renji beberapa saat lalu. Walaupun tebilang rendah, tapi cukup mampu menarik tatapan bertanya padanya.
"Maksudmu?" tanya Renji.
Rukia hanya menatap kosong permukaan meja putih panjang di bawah genggaman tangannya ketika menjelaskan maksudnya. "Jika memang Missing Day terjadi, mungkin saja akan ada pihak yang diuntungkan atau dirugikan. Bisa jadi peristiwa itu dimanfaatkan untuk menyembunyikan sesuatu. Bagaimana menurutmu?" lalu melirik Toushiro di ujung meja yang masih terlihat cuek, meminta pendapat.
Pemuda bersurai perak itu tidak balas meliriknya, melainkan hanya mengendikkan bahu. "Siapa yang tahu? Kemungkinan apapun bisa saja terjadi, termasuk Missing Day," ujarnya datar, membuat Rukia menghela napas berat.
Renji yang tidak tahu harus berkata apa melihat Rukia yang mulai terlihat lebih putus asa dari Ichigo, beralih menatap si Kurosaki di sampingnya, berniat mengutarakan pertanyaan yaang sejak di kelas tadi ingin sekali ditanyakan. "Lalu Ichigo, tadi kau bilang pada Ishida kalau kau punya bukti lain."
"Aa. Rukia yang memberitahuku," jawab Ichigo sekenanya. Sejak awal pemuda itu memang tidak terlihat bersemangat.
Tapi anehnya, mampu membuat kepala tertunduk Rukia mendongak cepat dengan mimik antusias campu heran yang kembali bangkit. "Aku?"
Ichigo kembali menggangguk sekenanya. "Hn. Saat kau menunjuk speaker yang ada di kelas."
"Lalu apa hubungannya?" tanya Rukia lagi, mencondongakn tubuhnya ke depan. Menyuarakan kebingungannya yang semakin menjadi-jadi.
Ichigo akhirnya menatap gadis itu. Ia mendesah pelan, lalu kembali bicara, "Itu mengingatkanku akan suatu hal. Kemarin, setelah pelajaran Matematika berakhir, aku dan Renji makan mie ramen seperti yang dipesannya di kantin. Kami duduk tepat di meja ini dengan suasana keramaian seperti ini. Maksudku adalah persis sama seperti ini, bedanya hanya tidak ada kalian bertiga," terangnya seraya menatap Inoue-Rukia-Toushiro bergantian. Mode seriusnya kembali aktif. Seraya mencoba menjabarkan kejadian serupa semirip mungkin.
"Lalu, saat aku dan Renji sedang sibuk membicarakan kemalangan Ishida mengenai soal tersulit di muka bumi itu, tiba-tiba seorang siswa laki-laki bertubuh ringkih dengan sepasang alis tinggi di wajah polosnya yang sedang membawa mangkuk berisi ramen panas, terjatuh tepat di samping meja kami."
Tepat sedetik setelah Ichigo berhenti bicara, tanpa diduga sebuah suara dengan frekuensi cukup mengejutkan menyentak mereka yang masih fokus penuh pada pemuda jingga itu.
GUBRAK
Disusul pekikan kaget Rukia dan Inoue bersamaan, Renji bahkan sampai terlonjak dari kursinya seraya memegangi dadanya yang bergemuruh. Toushiro hanya terlihat tersentak sekali, lalu menoleh ke arah asal suara dan Ichigo bergantian. Kemudian, kernyitan tipis di dahinya muncul ketika mendapati Ichigo tetap terlihat tenang tanpa raut terkejut sedikitpun. Seolah kejadian barusan memang sudah diprediksinya. Ya, memang tepat seperti yang dikatakannya.
"I,Ittee-tee-tee!" suara rintihan pelan terdengar memecah keheningan diantara mereka yang masih sibuk mengatur detak jantung. Tepat di samping meja Renji—pemuda bertubuh ringkih—terduduk di lantai yang dipenuhi tumpahan kuah ramen.
Tidak satu pun dari mereka yang terkejut, bicara. Hanya melotot tak percaya pada pemuda yang mencoba bangkit dari jatuhnya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Ichigo tiba-tiba, melongok ke lantai dari sebelah Renji.
Pemuda ringkih itu mendongak, dan berjengit kaget ketika melihat Ichigo menatapnya. "A—aku baik-baik saja. Permisi!" lalu dengan cepat melarikan diri.
Sedangkan mereka berempat hanya terdiam memperhatikan interaksi canggung antara Ichigo dengan pemuda ringkih yang telah menghilang dari pandangan itu. Tanpa mereka sadari, atmosfir di antara mereka menjadi begitu menegangkan.
"Hanataro?" gumam Rukia. Ia merasa tak asing dengan pemuda itu.
Inoue menoleh padanya, "Kau kenal dengannya, Kuchiki-san?"
Gadis Kuchiki itu mengangguk pelan, "Aku sering bertemu dengannya di perpustakaan," ujarnya pelan, seperti yang dikatakannya. Lalu semua perhatian kembali kepada Ichigo, meminta pemuda itu melanjutkan.
Ichigo yang mengerti maksud tatapan teman-temannya, pun kembali angkat bicara, dengan nada serius yang tidak dibuat-buat, "Kemudian, saat Renji sibuk berkomentar tentang kenapa siswa laki-laki itu berlari ketakutan setelah melihatku, tiba-tiba speaker itu berbunyi. Mengumumkan tentang acara 'One Night Two Days' yang akan diselenggarakan sebelum libur musim dingin," ujarnya, seraya menunjuk speaker yang menempel di dinding pojok atap kantin sebelah kiri.
Mereka kembali kompak menoleh ke arah yang ditunjuk Ichigo—di daerah belakang deretan Inoue—dengan tatapan penasaran alami. Dan tepat sedetik setelahnya, mata mereka melebar, karena peristiwa ganjil serupa terjadi. Tepat seperti yang Ichigo katakan.
Kresek kresek
"PERHATIAN! DIINFOKAN KEPADA SELURUH SISWA/I TINGKAT DUA, BAHWA ACARA AKBAR TAHUNAN 'ONE NIGHT TWO DAYS' AKAN DISELENGGARAKAN SETELAH BERAKHIRNYA EVALUASI TEST, YAKNI PADA HARI SABTU-MINGGU, TANGGAL 2-3 DESEMBER. TEPAT SEBELUM LIBUR MUSIM DINGIN. UNTUK ITU DIHIMBAU KEPADA PESERTA YANG DIWAJIBKAN, YAKNI SELURUH SISWA/I TINGKAT DUA, AGAR SEGERA BERSIAP. UNTUK INFORMASI LEBIH LANJUT, BISA DITANYAKAN LANGSUNG KEPADA PANITA PENYELENGGARA DI RUANG OSIS. SEKIAN DAN TERIMA KASIH."
Deb
"Dan itu suara Ishida," gumam Ichigo menambahkan. Ia tidak memprediksi, tapi semua yang terjadi memang sudah pernah dialaminya. Ichigo hanya ingin teman-temannya percaya.
"Kurosaki-kun, kau membuatku merinding," desis Inoue, setelah kembali menatap Ichigo. Diikuti Renji dan Rukia.
"Kau menakutkan Ichigo," komentar Renji, setelah lama kehilangan kata-kata. "Tapi dengan ini kau membuatku percaya," akunya kemudian, menyentuh bahu kanan Ichigo.
"Jadi pengumuman itu, bukti yang kau maksud?" tanya Toushiro memastikan. Tatapan penuh selidik dilayangkannya kepada pemuda itu. Dan dijawab anggukan oleh Ichigo tak lama setelahnya.
"Dan Ishida sendiri yang mennunjukkannya, seperti katamu," Ichigo kembali mengangguk ketika Renji berujar.
Rukia mengangguk paham. "Benar juga. Karena hari kamis terulang lagi, maka pengumuman itu sama saja belum pernah diumumkan. Dan Ishida tidak mungkin membatalkannya kali ini," dan penuturannya pun menjadi menutup diskusi mereka siang itu.
.
.
.
Pada akhirnya, Ishida benar-benar benar. Tidak tercium keberadaan sang Wakil Kepala Sekolah yang terhormat di seluruh pelosok Karakura High School. Aizen-sensei nyatanya memang belum kembali dari perjalanan dinasnya di Negeri Paman Sam.
Dan juga, buku catatan yang sempat Ichigo andalkan setengah mati pun tidak pernah diketahui keberadaannya. Karena ketika tiba dirumah, hal pertama yang tanpa kompromi wajib dilakukannya adalah menggeledah kamarnya dan memastikan sekali lagi tentang catatan matematika itu. Mengabaikan panggilan Yuzu yang keheranan mendapati kakak laki-lakinya pulang lebih awal dari biasanya dan menatap semakin bingung ke tangga yang mengarah ke lantai dua tempat sang Kakak yang berlari terburu menapaki dua anak tangga dalam satu langkah. Bukan lagi otak yang menggerakan tubuhnya, melainkan rasa penasaran yang telah menumpuklah yang menggerakan kedua tanggannya untuk memeriksa seluruh sudut kamarnya. Setelah 15 menit berlal, di tengah keadaan kamar yang parah dimana seluruh benda berserakan tidak pada tempatnya, Ichigo hanya mampu termenung, duduk lemas di tepi tempat tidur dengan napas memburu, menatap nanar setengah tak percaya pada panel jam digital di atas meja yang menunjukkan pukul 03:45 PM, 23-11-2000.
Tidak ada decak kesal, dengusan sengit, atau teriakan marah untuk kali ini. Pemuda jingga itu terlalu lelah, setelah dihadapkan oleh beruntun kejadian tak masuk di akal sehatnya. Kepalanya tidak sanggup lagi berpikir. Setelah menidurkan jam digitalnya dengan panel berada dibawah, perlahan tubuhnya merosot, merebahkan diri di permukaan tempat tidur yang telah dirapikan Yuzu. Mungkin nanti ia akan minta maaf pada adik perempuannya itu karena telah membuat kamar jadi sangat berantakan seperti ini, dan meminta tolong agar Yuzu berbaik hati merapikannya lagi. Mata lelahnya pun terpejam. Berusaha terlelap atau mungkin sekadar melupakan apa yang telah terjadi.
Dan jika Ichigo boleh berharap, maka ia akan sangat berharap jika 'kemarin' tidak pernah ada.
. . . .
.
.
.
TING TONG
Hisana sedang duduk di salah satu kursi makan sambil membaca majalah wanita edisi minggu ini seraya menunggu rebusan kuah kare-nya mendidih, ketika bel rumah keluarga Kuchiki berbunyi. Kepala bersurai hitam itu menoleh ke pintu depan bersamaan dengan jemari lentik yang hampir membalik halaman tebal majalah. Dahinya mengernyit, bertanya dalam hati akan siapa yang bertamu di jam segini. Ini hampir waktunya makan malam.
Ia pun beranjak dari duduknya, dan tak mau repot-repot melepas celemek yang masih setia membalut tubuh depannya ketika berjalan menuju pintu depan. Sempat melewati Shirayuki yang telah lebih dulu menyantap makan malamnya dengan khidmat di mangkuk keramik khusus berukiran namanya.
TING TONG
Bel berbunyi sekali lagi, ketika Hisana hampir mencapai pintu. Ia berujar lantang, "Iya. Tunggu sebentar!" Dengan tangan yang menarik kenop pintu dan membukanya.
Dan Hisana yang ekspresif tidak pernah mampu untuk menahan wajah binarnya ketika mendapati pemuda yang sudah tak asing lagi itu berdiri tenang di depan pintu. Beberapa detik dihabiskan wanita itu hanya untuk tersenyum senang separuh terkejut.
"Toushiro-kun!?" ujarnya kemudian, setengah memekik dan telah berdiri di luar pintu yang terbuka lebar. Membuat Toushiro agak berjengit di tempatnya.
Pemuda itu tampak gugup, ketika membungkuk hormat pada Hisana, lalu menyapa sopan, "Selamat malam, Hisana-san."
"Selamat malam," balas Hisana lembut dan masih setia tersenyum, "jadi, kau datang ke sini ingin bertamu atau…" wanita itu terus menatapnya dengan mata selidik separuh menggoda, membuat Toushiro sadar bahwa wanita itu menunggu klarifikasinya.
"Oh, itu. Sebenarnya aku ingin bertanya, apa aku boleh makan malam di sini—"
"Kalau begitu kau datang di saat yang tepat. Ayo masuk!" tanpa menunggu Toushiro menyelesaikan kalimatnya, Hisana—yang terlanjur senang mendengar permintaan pemuda itu untuk makan malam di rumahnya—telah menariknya masuk ke dalam rumah, menutup pintu dengan satu kaki, dan kembali memaksa pemuda itu berjalan hingga ke meja makan.
Seraya berceloteh riang sepanjang perjalanan, "Kebetulan aku membuat kare yang lezat malam ini. Aku jamin kau pasti tidak akan menyesal setelah mencobanya. Dan satu-satunya yang akan kau sesali adalah kenapa kau baru mencicinya sekarang, hahaha … . Duduklah, Toushiro-kun!"
"Terima kasih," pemuda itu menunduk sekilas sebagai rasa hormat lalu mengambil tempat duduk di salah satu kursi makan. Kecanggungannya masih terlihat di mata Hisana.
Wanita itu kembali tersenyum, "Kare-nya sebentar lagi mendidih. Akan ku buatkan kau ocha selagi menunggu—"
"Tidak perlu," cegah Toushiro sebelum wanita itu benar-benar meninggalkan meja makan, "jangan merepotkan dirimu, Hisana-san. Lagipula, ada yang ingin kutanyakan padamu," ujarnya skeptis.
Keraguan dari nada suara pemuda itu, menahan Hisana dan turut mengambil tempat duduk di depan Toushiro. Rasa penasaranlah yang kini membuatnya terus memperhatikan pemuda bersurai keperakan itu. "Baiklah. Apa ini pertanyaan penting? Atau semacam teka-teki?"
Pemuda itu masih tampak ragu-ragu, terlihat dari mata hijaunya yang tidak menatap langsung Hisana. Membuat wanita itu semakin bertanya-tanya.
"Ini mengenai keluarga Kuchiki," jawab Toushiro kemudian, dengan begitu hati-hati.
Tak ayal membuat raut penasaran Hisana berubah tertegun.
"Apa kalian hanya tinggal bertiga di rumah ini?" pemuda memulai pertanyaannya, dengan mimik serius dan ingin tahu.
Hisana tidak langsung menjawabnya. Menyenderkan punggungnya pada sandaran kursi lalu mencoba menjawab sesantai mungkin, "Iya. Begitulah."
Toushiro kini benar-benar menatap wanita itu, rasa ingin tahunya tiba-tiba mengambil alih dirinya, "Lalu, di mana keluarga yang lain? Bukankah Kuchiki adalah salah satu keluarga bangsawan terhormat."
"Tidak ada. Kami hanya bertiga," jawab Hisana cepat. Dan wanita itu bisa melihat keterkejutan samar di sepasang mata emerald itu. Setidaknya, ini membuatnya yakin bahwa kedatangan pemuda itu sebenarnya bukan hanya untuk makan malam. Tapi Hisana tidak mencoba mengalihkan pembicaraan. Ia bersedia menjawab, jika jawabannya akan membantu pemuda itu.
"Aku dan Rukia adalah yatim piatu. Orang tua kami meninggal dalam sebuah kecelakaan ketika aku berusia 15 tahun sedangkan Rukia berumur 10 tahun. Kami hidup sebatang kara hingga aku bertemu dengan Byakuya dalam sebuah acara ketika kami masih menjadi mahasiswa. Dan sebelum kami menikah 5 tahun lalu, Byakuya bercerita mengenai seluruh keluarga besarnya yang tewas masal dalam sebuah kebakaran besar di Manshion utama Kuchiki. Lalu kami pindah ke Karakura dan memulai hidup baru di sini," jelas wanita itu.
"Begitu," gumam Toushiro. Beralih menatap kosong permukaan meja makan.
Kernyitan tipis terukir diantara alis hitamnya, mendapati raut kekecewaan dari pemuda itu. "Apa jawabanku cukup memuaskan?" tanyanya sekedar, guna memecah lamunan Toushiro.
"Ah, iya, terima kasih banyak. Dan maaf karena telah menanyakan hal—"
"Aku tidak keberatan sama sekali," Hisana kembali meralat cepat, walau senyum ramah tetap dipasangnya, tapi entah kenapa ia tidak suka jika pemuda itu terus bersikap sungkan seolah mereka baru kenal kemarin sore. Ia hanya ingin setidaknya sedikit akrab dengan pemuda ini, sesuai dengan dorongan kuat dihatinya. "Dan sepertinya kare ku sudah mendidih. Tunggulah di sini. Biar ku siapkan makan malam dulu," dan ia segera beranjak menuju dapur ketika suara air mendidih memanggilnya.
Toushiro memperhatikan wanita itu hingga menghilang di balik pintu dapur. Tanpa disadarinya, sepintas senyum tipis menghiasi bibirnya. Ia hanya merasa telah mengambil keputusan tepat untuk bertanya pada Kuchiki Hisana. Tidak. Tapi hanya Hisana satu-satunya yang mungkin bisa ditanyai. Karena wanita itu sama sekali tidak menaruh curiga dengan kehadiran Toushiro, dan satu-satunya yang mengakui keberadaannya di sini. Karena seluruh perlakuan yang diberikan Hisana terasa begitu tulus. Seolah memberi kehangatan tersendiri di sudut terdalam hatinya. Seperti sebuah keluarga.
GUUK GUUK GUUK…
Gonggongan anak anjing menyentak Toushiro dari lamunan singkatnya. Ia menunduk, untuk memandang lebih jelas anjing mungil berbulu putih di seluruh tubuhnya yang duduk dilantai menghadapnya. Lidahnya terjulur, dengan tatapan antusias. Dan Toushiro mengenalnya, Shirayuki.
GUUK GUUK…
Shirayuki kembali menggonggong, seperti mengajaknya berbicara. Anjing itu bahkan telah berdiri dari duduknya. Toushiro hanya menatapnya, ingin sekali untuk menyentuh bulu putih itu seprti dulu, tapi apa boleh?
Dan tanpa diduga, seolah mengerti dengan kemauan pemuda itu, Shirayuki tiba-tiba melompat tepat ke pangkuan Toushiro dan membuat dirinya berjengit kaget. Anjing itu bahkan telah berusaha tidur menyamankan tubuhnya di sana. Toushiro akhirnya tersenyum, untuk pertama kali setelah sekian lama, berkat tingkah akrab Shirayuki. Dan telapak tangannya akhirnya bisa merasakan kembali kelembutan bulu putih anjing itu.
Tanpa disadari pemuda itu, pemandangan keakraban dan senyum yang tak pernah terlihat itu pun turut disaksikan oleh orang lain tak jauh dari posisinya. Dan membuat orang tersebut tertegun beberapa saat sebelum memutuskan untuk bergabung.
"Jadi kau suka anak anjing? Kau terlihat terlalu senang hanya karena Shirayuki terus menggonggong padamu. Kalau kau mau, aku punya banyak duplikatnya di kamarku."
Toushiro menoleh, dengan Shirayuki yang masih enggan turun dari pangkuannya, ketika Rukia berkata sembari menarik kursi makan di sebelahnya. Gadis itu menatapnya seolah Toushiro adalah orang aneh yang bertingkah aneh.
Walau tangannya masih ingin terus menyentuh Shirayuki, tapi pada akhirnya tetap digunakan untuk mengangkat dan menurunkan paksa anjing itu dari pangkuannya. Senyum tidak lagi menghiasi raut dinginnya ketika menanggapi dengan nada mirip gumaman, "Tidak. Aku hanya … lega. Setidaknya masih ada satu yang mengenalku di sini."
Rukia yang belum menduduki kursinya, semakin mengerut keheranan mendengar sekilas gumaman yang tidak terlalu jelas dari pemuda itu. Tapi sebelum Rukia bertanya lebih lanjut, niatnya terpotong oleh suara riang kakaknya yang datang dari arah dapur.
"Kare spesial ala chef Hisana siap dihidangkan. Rukia duduklah! Toushiro-kun berikan piringmu! Kau harus menjadi orang pertama yang mencobanya," ujar wanita itu penuh semangat. Meletakkan mangkuk besar berisi kare yang masih beruap ke tengah-tengah meja makan.
"Hee~ Lalu aku? Adikmu yang sebenarnya," Rukia menunjuk dirinya sendiri, seraya memasang raut yang dibuat se-tersinggung mungkin. Kakaknya sepertinya lebih senang punya adik laki-laki ketimbang perempuan.
Hisana tidak menggubris adiknya, dengan tetap menyibukkan diri menuang kuah kare ke piring milik Toushiro. "Kau yang terakhir, karena malam ini kau tidak membantuku memasak," jawabnya enteng.
Apa? Si Hitsugaya ini juga tidak membantunya memasak. Kakaknya sepertinya jadi pilih kasih jika di depan Toushiro. "Onee-chan, itu tidak adil! Aku 'kan harus belajar. Minggu depan aku sudah evaluasi test," ujar Rukia tak terima.
"Wuaah … baunya sedap sekali!" decak Hisana, menikmati bau kare dari uap yang mengepul di depan wajahnya.
"Kau mengabaikan ku?!" gadis itu mulai merajuk, melihat kakaknya masih bisa tersenyum dengan pemuda yang sejak tadi hanya terdiam keheranan melihat perdebatan dua kakak beradik itu.
Toushiro hanya tidak habis pikir, apa mereka memang selalu berdebat seperti ini. Tapi entah kenapa, ketika ia menyaksikan perdebatan kecil mereka, membuat hatinya terasa hangat. Mungkin suasana seperti ini yang akan dirindukan Toushiro nanti.
Dan Rukia semakin mengerucutkan bibirnya, ketika kakaknya tetap keukeuh memberi bagian Toushiro terlebih dulu.
"Ini milikmu, Toushiro-kun. Ayo, cobalah, tidak perlu sungkan. Kau pasti suka," pinta Hisana ramah, dan langsung mendapat anggukan kaku dari pemuda itu.
Tapi Toushiro tidak langsung memakannya. Ia hanya terdiam beberapa saat memperhatikan piringnya yang telah membagi nasi dan kare kental menjadi dua bagian, serta lauk pendukung lainnya yang ditempatkan di piring terpisah. Jujur, ia bingung, harus memulai dari yang mana. Semua terlihat menggiurkan dan ... berharga. Toushiro tidak pernah makan di rumah. Biasanya, ayah selalu mengajaknya makan malam di restoran langganan mereka. Sedangkan untuk sarapan, mereka hanya menyantap makanan instan seperti roti atau oatmeal. Ia tidak pernah tahu bagaimana bentuk dan rasa masakan rumah.
Jadi, setidaknya ia harus mencicipi semuanya. Tanganya segera menggapai sendok yang tergeletak di samping piring. Ia memilih kuah kare terlebih dulu. Tak lama setelah kuah kare kental itu menyentuh lidahnya, pemuda itu tertegun. Mengecap lambat-lambat rasa gurih manis yang memenuhi indra pengecapnya.
"Bagaimana?" Hisana bertanya pelan, sangat hati-hati, menatap Toushiro lekat. Rukia juga melakukan hal yang sama, mengesampingkan kecemburuannya, untuk memperhatikan penuh selidik pemuda di sampingnya.
Untuk beberapa saat, Toushiro masih mematung kehilangan kata-kata, menunduk menatap sepiring nasi kare yang begitu berharga. Ia sedang mencoba merekam bentuk dan rasa dari hidangan yang langka baginya. "Ini …" Seperti ini 'kah? Rasanya masakan rumah? "...enak sekali," akunya teramat pelan. Toushiro pernah makan kare, tapi ini kare terenak yang pernah dimakannya. Dan Toushiro yakin sekali, kalau ia bisa hidup selamanya hanya dengan makan ini.
"Benarkah!" Hisana berbinar, begitu masakannya mendapat pujian. Serta-merta ikut mencicipi masakannya sendiri, dan wanita itu semakin tersenyum sumiringah setelahnya. "Oishii~~ Apa ku bilang? Nah, Rukia sekarang kau baru boleh mencicipinya."
Rukia sama sekali tidak menggubris perkataan kakaknya, bahkan setelah Hisana meletakkan nasi kare di depannya. Gadis itu masih termenung menatap pemuda di sampingnya yang kini telah begitu lahap menyantap makan malamnya. Bukan karena cara makan Toushiro yang mirip orang kelaparan yang membuat Rukia tidak mampu berpaling, tapi karena hal lain. Mungkin Hisana tidak dapat melihat dari sudut pandangnya, tapi Rukia yang berada di samping pemuda itu dapat melihatnya dengan jelas. Sinar lampu yang memantul dari meja makan beralas kaca, telah memperjelas genangan kristal bening di sudut mata pemuda itu. Yang sesekali diusapnya dengan punggung tangan, bahkan ketika mulutnya masing gembung dipenuhi nasi kare. Kenapa? Kenapa dia menangis? Si Hitsugaya terharu? Tapi kenapa? Apa kare buatan Hisana nee-chan terasa begitu enak? Atau dia berbohong, karena sebaliknya, kare onee-san sebenarnya tidak enak?
"Ano … Boleh aku minta lagi?" Rukia mengerjab pelan ketika suara Toushiro kembali terdengar. Pemuda itu masih menunduk saat menyodorkan piringnya ragu-ragu. Pandangannya beralih ke piring yang telah kosong lalu kembali pada si Hitsugaya yang tetap menunduk seperti sedang menyembunyikan mata hijaunya yang berkaca-kaca. Kedua alis Rukia menekuk. Apa memang amat sangat enak?
Sedangkan Hisana semakin tersanjung begitu menerima piring kosong Toushiro. Wajahnya tidak lepas dari ekspresi terperangah yang bahagia, "Tentu saja. Sebanyak yang kau mau," dengan senyum yang tak pernah pudar dari wajahnya.
Pemuda itu mengangguk sekali saat menerima nasi kare kedua dari Hisana. Wanita itu kembali tersenyum, lalu menatap adiknya yang sejak tadi hanya diam memperhatikan Toushiro dengan pandangan aneh, dan sama sekali belum menyentuh makan malamnya.
Rukia sendiri heran dengan dirinya, kenapa ia jadi sering memperhatikan si Hitsugaya begini, tapi Toushiro tampak berbeda kali ini. Pemuda itu terlihat penuh dengan emosi yang tersembunyi mungkin sudah sejak lama. Dan ia selama ini hanya tinggal sendiri. Mungkinkah dia merasa kesepian? Lalu kemana keluarganya? Rukia tidak pernah melihat mereka berkunjung sejak si Hitsugaya pindah di depan rumahnya.
Lamunan gadis itu buyar ketika merasa seseorang menendang kakinya pelan. Ternyata itu kaki Hisana, karena ketika Rukia menoleh pada kakaknya, wanita itu mengendikkan dagunya ke arah pemuda yang masih menunduk. Mengisyaratkan Rukia agar melakukan hal serupa dengannya.
Rukia mengerti maksudnya. Ia menatap sebentar piring berisi lauk makan malamnya, melirik Toushiro sekilas, lalu menghela napas pelan. "Apa kau belum makan sejak tadi siang? Ini kuberi separuh ikan bakar ku," ujarnya, menyodorkan separuh ikan bakar miliknya yang telah dipisahkan di piring lain.
Pemuda itu kembali mengangguk tanpa menatap Rukia. "Um! Terima kasih … banyak," jawabnya kelewat pelan.
.
.
.
"Toushiro!"
Teguran pelan gadis itu membuat Toushiro mendongak, sesaat setelah ia selesai memakai sepatunya di genkan kediaman Kuchiki. Rukia berdiri di sampingnya, memakai sweater ungu yang sedikit kebesaran. Suhu di luar sudah semakin menurun menjelang musim dingin awal bulan depan.
Toushiro berdiri menghadapnya, dan Rukia yakin bahwa pemuda itu telah kembali ke sikap dinginnya. Penyesalan langsung memenuhi kepalanya karena sempat mengkhawatirkan keadaan pemuda itu. Padahal tadi bahunya turun seperti sikap tak bersemangat, sekarang gaya cuek dan datarnya telah kembali diperlihatkannya. Cepat sekali sikapnya berubah, dasar aneh.
"Tidak, aku hanya penasaran. Kali ini kau tahu dari mana lagi … tentang missing day itu?" tanya Rukia, mencoba berbasa=basi karena Toushiro menatapnya dengan pandangan ada-apa-nya. Gadis itu berjalan lebih dulu untuk membuka pintu depan. Angin musim gugur langsung berhembus masuk.
"Aku pernah membacanya," jawab Toushiro sekenanya, mengikuti Rukia berjalan keluar pintu.
"Dari internet? Kau benar-benar hobi membaca ya!" komentar gadis itu setelah melihat Toushiro mengangguk sekilas.
Angin dingin kembali berhembus, membuat tubuh Rukia bergidik. Padahal sweater ini sudah cukup tebal, pikirnya. Ia hanya bisa merutuk dalam hati, kenapa juga kakaknya menyuruhnya lagi untuk mengantar tuan musim dingin itu ke depan rumah, 'kan dia yang datang sendiri, bukan diundang seperti waktu lalu. Gerutuannya terus berlanjut ketika tangannya membuka engsel gerbang depan.
"Pelaku, atau mungkin lebih pantas disebut korban, dari fenomena missing day, seharusnya adalah orang yang paling berperan pada sebuah peristiwa tak biasa yang terjadi di hari yang hilang tersebut."
"Apa?" Rukia menoleh heran, ketika mendengar pernyataan yang tak ditanyanya pada pemuda itu.
Toushiro ikut berhenti tepat di samping gadis yang menatapnya kebingungan, "Itu fakta lain yang tidak ku sebutkan saat menjelaskan fenomena itu di depan Kurosaki," jawabnya singkat. Lalu mendahului Rukia menggeser gerbang.
"Jadi … maksudmu?" Rukia mengerutkan keningnya.
Toushiro mengangguk, sebelum menjelaskan, "Ya. Seharusnya, bukan Kurosaki yang mengalaminya. Sesuai dengan cerita yang dijelaskannya panjang lebar tadi, tentang soal tersulit di muka bumi dan pelajaran matematika, karena yang lebih berpotensi mengalami missing day seharusnya adalah … antara aku … atau…" Lalu emerald datarnya melirik Rukia.
Dan gadis itu pun tercengang, ketika ia mulai paham maksud dari si Hitsugaya, "Ishida?" tebaknya setengah berbisik. Walau tidak mendapat tanggapan apapun dari Toushiro, Rukia yakin dugaannya benar.
"Lalu kenapa Ichigo?" tanyanya gadis itu lagi, semakin keheranan.
Kali ini Toushiro mendesah pelan sebelum menjawab, "Entahlah. Karena memang tidak pernah ada penelitian atau penjelasan pasti mengenai peristiwa ini."
"Tidak bisa dipercaya," sepasang Amethyst gelap itu menatap kosong jalanan. Ini bernar-benar tidak terduga.
"Ini hanya dugaan ku," aku Toushiro, ikut menatap jalanan, "karena penyangkalan Ishida terlalu berlebihan, seolah ada yang disembunyikannya."
Rukia menoleh, "Lalu kenapa tidak kau beritahu juga pada Ichigo soal ini?" tanyanya dengan pandangan heran.
Toushiro balas menatapnya, "Apa kau ingin mereka benar-benar berkelahi?" pemuda itu balas bertanya, membuat Rukia membuang muka ketika jawabannya pasti 'tidak'.
Detik berlalu dalam keheningan, ketika mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Toushiro yang sejak tadi belum mengalihkan tatapannya dari gadis itu, bertanya, "Dengan Kurosaki, apa kau selalu seperti itu?"
"Eh!" keheranan kembali terpancar dari mata ungu Rukia ketika menoleh pada pemuda yang kini telah berjalan keluar gerbang.
"Jangan memberinya peluang apapun!" Toushiro kembali berbicara, suaranya sedikit meninggi karena jarak.
Tanpa sadar, gadis itu mulai mengikutinya di belakang, "Apa … maksudmu?" tanyanya semakin kebingungan dengan arah pembicaraan pemudaa itu.
Tapi Toushiro tetap tidak menoleh, dan ia terus berjalan menuju rumahnya, ketika kembali berujar dengan suara semakin lantang, "Kau tidak akan berakhir dengannya. Jadi, bersikaplah sewajarnya teman."
Saat itulah langkah Rukia berhenti, beberapa langkah dari depan gerbangnya. Ia mematung keheranan. Dan gadis itu berani bersumpah, bahwa Toushiro—selain aneh dan misterius—adalah orang yang paling sulit dimengerti jalan pikirannya. Apa sih maksudnya si Hitsugaya itu?
.
.
.
.
Sementara itu…
Berjarak beberapa blok dari kediaman mereka, di sebuah apartemen di tengah kota Karakura, seorang pemuda yang sejak beberapa menit lalu duduk diam, masih betah memandangi buku catatan yang terbilang biasa di atas meja belajarnya. Ruangan itu remang, hanya dengan sebuah lampu sorot di atas meja. Yang cahayanya turut memantul di kedua lensa kacamata yang selalu dikenakan pemuda itu.
Sebelah tangannya yang tadi sibuk membalik-balik halaman pada buku catatan, kini digunakan untuk menahan buku agar tetap terbuka di halaman terakhir. Sebelah sudut bibirnya tertarik ke atas, ketika kembali membaca untuk ke sekian kalinya, catatan yang bukan tulisan tangannya. Senyum sinisnya bahkan mulai berkembang menjadi seringai kecil ketika matanya menangkap beberapa 'ejekan' dari tulisan itu—seperti 'Catatan matematika bersejarah' atau 'Penting! Bukti jatuhnya keangkuhan Ishida'.
"Pelajaran penting untuk mu Kurosaki. Jangan mencatat aib seseorang di buku milik orang tersebut."
Dan, pelajaran penting lainnya adalah, jika kau pelupa, cobalah untuk mencatat apapun yang kau alami di note pribadimu—seperti 'Ternyata aku telah meminjam buku catatan Ishida selama hampir seminggu, pantas saja dia marah ketika aku mengembalikannya'—sebelum kau mempermalukan dirimu sendiri.
.
.
.
TBC
.
.
.
*nama bom atom yang meledak di Nagasaki, Jepang, tahun 1945.
**istilah untuk kesalahan pelafalan dalam bahasa Inggris.
***kepanjangan dari (National Aeronautics and Space Administration), adalah lembaga penelitian luar angkasa milik Amerika.
(P.S: Unsur agama yang penulis pakai untuk dijadikan bagian dalam cerita, sama sekali tidak bermaksud untuk merujuk atau menjelekkan agama tertentu. Semata-mata hanya sebagai penyesuain plot dan berdasarkan informasi hasil pencarian di mesin pencari utama, Google. Jika ada pihak yang kurang berkenan, penulis meminta maaf sebelumnya.)
.
.
A/N : Chapter 6 selesai!
Fiuuhh~~ bagian ini bener-bener nguras tenaga dan pikiran. Dan ini gila… panjang banget. Bahas Missing Day lebih sulit dari pada Doppelganger, karena susah nyari referensinya. Yah, semoga minna-san gak kesulitan ya memahami chap ini. Dan info untuk chap depan, akan membahas tema baru lagi. Dan agak action dikit. Saya gak janji bakal update cepet, tapi akan tetap saya usahakan. Bagi yang kecewa scene doppelganger atau missing day kena skip, tenang aja, karena saya tidak pernah bilang kalau scene itu berakhir. Mungkin akan diungkit kembali di chap2 yang akan datang. Jadi, tetep semangat ya minna-san!
Oya, saya minta maaf ya karena chap ini lama release. Yah, berhubung dunia nyata tidak bisa di nomorduakan. Tapi, lama bukan berarti saya mengabaikan, saya hanya butuh waktu lebih lama untuk kembali menghadirkan cerita yang tidak mengecewakan. Saya mohon pengertiannya, minna-san!
Yup, saya juga ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya bagi semua yang telah bersedia membaca, fav, follow, dan review untuk chap kemarin. Karena kalian, akhirnya chap 6 hadir. Tapi, review tetep menjadi sumber energi pertama saya dalam menulis. Jadi jangan sungkan-sungkan untuk memberi tanggapan kalian. Izinkan saya tahu apa yang kalian pikirkan untuk chap ini. Jadi, ayo R.E.V.I.E.W!
.
.
Yuki Sharaa
