.
.
Senter, check. Kotak P3K, check. Peralatan mandi, check. Baju hangat, check. Cemilan, check. Sarung tangan, check. Kaos kaki, check. Scarf, check.
"Jangan memberinya peluang apapun."
Tangannya berhenti di udara ketika hendak menjejalkan satu lagi mantel tebal ke dalam ranselnya. 'Peluang apa?'... pikir Rukia heran di tengah lamunan singkatnya. Ini sudah entah keberapakalinya ia bertanya-tanya seorang diri, namun masih kebingungan menemukan jawaban atas—Astaga, apakah tadi senter sudah masuk ke dalam ransel ungunya?
Dan dengan terpaksa mantel tebal itu menunggu giliran, karena tangan Rukia kembali bertugas untuk menemukan senter. Dimulai dengan mengeluarkan semua barang satu persatu.
Scarf, check. Kaos kaki, check. Sarung tangan, check. Peralatan mandi, check. Handuk, check.
"Kau tidak akan berakhir dengannya."
Rekaman suara yang kembali mengusik pikiran Rukia masih sedingin saat pemuda pemilik mata emerald itu memperingatinya. Datar dan absurb. Rukia memang sangat penasaran tentang maksud dari pernyataan itu, tapi respon sensorik dan motoriknya benar-benar diluar dugaan. Kalimat yang masih belum terdefinisi itu ternyata beberapa kali—dan lebih dari yang bisa Rukia hitung, telah mampu memutus impuls dari otak ke semua indranya untuk beberapa detik. Membuatnya tanpa sadar kembali melamun dan melamun lagi hanya karena si Hitsugaya yang tak henti-hentinya bicara di dalam kepalanya. Dan—
Ya ampun, kenapa ia mengeluarkan semua barang yang telah disusunnya dari dalam ransel?
—Rukia lupa kalau tadi ia sedang kebingungan mencari-cari benda ber-baterai yang berfungsi sebagai penerang jalan, alias senter. Ini tidak baik. Rukia perlu fokus untuk mengemasi semua keperluan yang ia butuhkan untuk acara sekolah yang resmi dimulai besok pagi. Dan jika ia tidak bisa menghentikan rasa penasarannya barang sejenak, maka sesi berkemas ini tidak akan pernah kelar.
"Bersikaplah sewajarnya teman."
Oh, sial. Ini tidak mudah. Ia tidak akan tahan jika Hitsugaya Toushiro itu masih betah mengejek jiwa ingin tahunya. Rukia butuh klarifikasi, dan harus ada klarifikasi dari si tuan musim dingin itu. Karena hanya Toushiro yang pantas bertanggung jawab atas terusiknya hidup yang telah ter-prosedur milik seorang Kuchiki Rukia.
Tapi jenis klarifikasi seperti apa yang sebenarnya ia butuhkan? Seperti yang dibicarakan teman-temannya kemarin atau yang pernah dikatakan kakaknya tempo lalu. Sebelum Rukia mendapatkan keputusannya, Hisana telah meneriaki namanya dan menyebut satu kata familiar dan satu nama keramat; Rantang dan Hitsugaya Toushiro.
.
.
Standard warning and disclaimer. Bleach's original characters belong to Kubo-sensei, and this fiction is MINE, the one and only.
: : : :
: : : ENIGMA : : :
: : : :
_Hitsugaya Toushiro Part II_
.
.
.
.
"Dia melihat ke arahmu, Orihime-chan."
Rukia heran, belakangan ini ia sering terkejut mendapati dirinya tengah melamun. Ia menyadari dirinya memang bukan pribadi riang yang selalu mengumbar tawa dan terlalu aktif—layaknya Inoue atau Hisana nee-chan. Rukia yang biasanya pasti lebih sering menggunakan pikirannya untuk menyelam ke dalam tumpukan buku-buku pelajaran atau berbahagia bersama Chappy di minggu pagi.
"Lihat! Sudah kubilang 'kan, dia-itu-melirik-mu," sahut gadis disebelah Rukia lagi dengan penekanan berlebihan, Mahana Natsui. Suaranya benar-benar nyaring, memaksa leher Rukia untuk menoleh malas kearahnya.
Di sebelahnya ada Inoue yang bertampang heran setengah tak percaya dengan ujaran Mahana. Kepala berambut karamel panjang itu tak mengalihkan pandangannya dari tengah lapangan untuk beberapa saat. Memastikan tebakan Mahana pada satu pemuda dari sekumpulan siswa berpakaian olahraga yang sedang asik berebut bola; yang sempat tertangkap melirik dirinya.
Pria yang tak diharapkan Inoue, tebak Rukia. Sedikit banyak ia paham, walaupun tidak secara keseluruhan. Ralat, semua juga paham Inoue suka dengan siapa.
Rukia kembali meluruskan lehernya, sedang tak ingin ikut campur dengan perbincangan teman-teman perempuannya ini, walaupun telinganya masih bisa menangkap sayup suara-suara penyangkalan Inoue yang berusaha ceria ketika mengatakan 'Tidak Mungkin' atau 'Kau salah lihat, Mahana-chan'. Rukia memilih diam. Kepalanya tidak bisa mengikuti tema percakapan para gadis sejak tadi. Ia disibukkan oleh lamunan tak jelas, disaat mereka sedang duduk beristirahat berjajar di bangku panjang pinggir lapangan, menyaksikan para siswa laki-laki yang sedang berolahraga. Sekaligus bergosip, tentu saja.
Hari ini hari Kamis, hari terakhir evaluasi test untuk semester genap. Ditutup dengan pengambilan nilai untuk pelajaran olahraga, dan sekarang adalah giliran siswa laki-laki yang menguasai lapangan, bermain sepak bola. Sebelumnya siswa perempuan bertanding voli dengan penilaian individu. Rukia mendapat score bagus karena service-nya. Tubuh kecilnya ternyata menyimpan kekuatan super untuk memukul bola voli. Cukup mengejutkan.
Untuk sejenak ia kehilangan suara teman-temannya yang sibuk bergosip. Juga suara-suara lainnya, sorak-sorai para pemain bola. Ia tenggelam lagi dalam alam bawah sadar tanpa disadari. Ini seperti diluar kontrol gadis raven itu. Bukannya tak ada usaha untuk melawan. Sudah berkali-kali ia mencoba untuk menyibukkan diri dengan pikiran lain. Tapi kata-kata pemuda itu tak ada hentinya menarik Rukia kembali ke saat itu, atau ke saat lainnya yang memiliki situasi serupa.
"Hey, kalian sudah tahu belum?"
Suara Mahana kembali menyapa telinga Rukia. Terdengar cukup jelas walau hanya berupa bisikan pelan. Mahana tepat duduk disebelahnya, sedangkan pada deretan para gadis itu, Rukia berada di paling ujung kiri. Otomatis Rukia dipunggungi oleh Mahana dan yang lain.
"Tentang apa?" Tatsuki menanggapi dengan suara acuh. Ia duduk disebelah Inoue. Sibuk menyeka keringat dengan handuk.
Mahana memelototi Tatsuki, karena tak ikut berbisik. Ketakutan normal untuk kumpulan gadis yang sedang bergosip. "Tentang ketua kelas kita, Ishida Uryu," jawabnya dengan logat seorang pakar gosip atau pembawa acara infotainment.
"Kenapa dia?" Tatsuki memang tak cocok untuk untuk acara eksklusif seperti ini. Buktinya, ia tak paham situasinya. Terlebih karena suara kerasnya.
"Bisa tidak kau kecilkan suaramu?" Mahana berbisik keras, memperingati dengan kesal. Dan gadis berkulit gelap itu sangat setuju jika Tatsuki lebih baik diam saja kalau tak berminat dengan tema percakapan ini.
"Apa dia bertengkar lagi dengan Kurosaki-kun," nada khawatir kental terdengar dari suara halus Inoue.
Walaupun begitu, Mahana masih cukup bangga karena masih ada yang besedia menyimaknya. Contohnya Inoue. Tapi ... Apa tidak ada yang lain selain Ichigo di kepalanya itu?
"Apa ada hal penting yang bisa kita bahas dari peristiwa konyol itu?" Mahana mengibas tangannya pelan, jelas sekali tak perduli. Ada hal yang lebih menarik baginya, "Kemarin, aku melihatnya di belakang gudang olahraga bersama seseorang."
Kini, para gadis itu benar-benar melihat Mahana. Kecuali Rukia yang sejak awal tidak berminat. Gadis itu lebih tertarik memandang sepatu olahraganya atau melirik teman-teman disebelahnya sesekali.
"Mungkin dia sedang menegur salah satu siswa yang membolos atau semacamnya," Chizuru menanggapi disela-sela mengunyah roti manis pemberian Inoue. Itulah kenapa sejak tadi ia diam.
"Siswa?" koreksi Mahana. Sebelah alisnya naik menampilakan raut 'yang benar saja'-nya.
"Apa aku salah?" tanya Chizuru dengan pipi gembung. Sejujurnya ia tak terlalu perduli.
Mahana mendengus, "Orang itu adalah seorang gadis dari kelas X."
Ia terkenal sebagai penggosip handal di Karakura High School. Jangan pernah mencoba untuk mendahuluinya, jika tidak ingin gagal paham.
Gadis itu membungkuk, menarik semua teman-temannya untuk lebih mendekat. Mendramatisir sesi bergosip mereka siang ini. "Kalau dilihat dari jauh, memang akan terlihat seolah Ishida sedang menegurnya. Tapi saat aku mendengar percakapan mereka, itu sudah diluar dugaan semua orang."
Ia berhenti sejenak guna memastikan teman-temannya masih fokus pada perkataannya. Sebelum memukul gong.
"Gadis itu menyatakan perasaannya."
Kecuali Tatsuki yang meliriknya seolah berkata 'hanya itu saja?', tidak ada yang berubah dari air muka teman-temannya yang lain. Seolah tahu bahwa kalimat Mahana barusan sengaja digantung hanya untuk melihat perubahan ekspresi pendengarnya.
Mahana mendengus lagi, ia ketahuan.
"Dan Ishida menolaknya, tentu saja. Tapi bukan karena soal aturan sekolah atau prinsipnya yang penuh aturan, seperti yang kita semua tahu. Melainkan karena dia telah menyukai gadis lain."
Ini dia, gong yang dimaksud Mahana. Dan terbukti telah sukses meledakkan ekspresi keterkejutan teman-temannya. Ada dua alasan sebagai penyebab; Pertama adalah karena tidak pernah ada satupun gadis yang berani mendekati si Ketua siswa se-Karakura High School itu dengan alasan yang sudah jadi rahasia umum; yaitu kekuasaan dan ke-tidak-pernah-terlihat-dengan-seorang-gadispun-nya. Dan alasan kedua adalah karena Ishida menyukai seorang gadis, oh ini baru namanya gosip.
Mahana menyeringai, ia sukses mengendalikan situasi. Terlebih, gong yang yang lebih besar belum dipukul.
.
.
Beberapa detik kemudian, Inoue ternganga, semua ikut menganga. Inoue terbelalak, yang lain pun sama. Yang berbeda hanya Mahana yang menaikkan satu sudut bibirnya dan Rukia yang setia menatap kosong sepatunya tapi telinga kanan masih berfungsi mendengar percakapan tentang Ishida.
Semua karena seorang gadis bernama Mahana Natsui dan satu lirikan matanya. Kepada gadis berambut karamel tepat di sebelah kanan. Adalah dia Inoue Orihime.
"KAU PENIPU?!" Chizuru langsung memekik setelah melempar sisa roti manis sembarangan. Matanya mengobarkan api kecemburuan.
Bibir Mahana semakin terangkat, dibarengi dengusan kecil. Berbeda sekali responnya jika dibandingkan Tatsuki saat mendapat makian Chizuru. Kemungkinan besar gadis kelaki-lakian itu pasti akan langsung melempar Chizuru ke tengah lapangan dan menginjak-injaknya di sana hingga tertanam sempurna, agar semua orang bisa menyaksikan kemurkaannya.
Tapi, ini Mahana.
"Masih mau bilang kalau aku penipu?" suaranya menguarkan aura kepercayaan diri yang tinggi dan keangkuhan yang begitu tenang, ketika dagunya digunakan untuk mengendik ke tengah lapangan.
Rukia tanpa sadar mengangkat kepalanya, melihat ke tengah lapangan seperti yang dilakukan para gadis lain. Ia juga tak tahu kenapa tubuhnya menghianati dirinya.
Disana, tepat setelah Mahana berkata, pemuda yang dimaksud menunjukkan buktinya. Lirikan saphire itu samar berkat kacamata tak berbingkai yang tak pernah meninggalkan wajah tirusnya, tapi cukup jelas tertangkap oleh mata-mata penasaran yang haus akan kejelasan. Akibatnya, tak ada lagi suara.
Dan mau tak mau, akhirnya Rukia mengikuti permainan Mahana, gadis itu terlalu pintar untuk membuat alur. Walaupun tak ada tanggapan, tapi mulai menyimak dengan dua telinga dirasa cukup untuk dikatakan ikut campur. Rukia bahkan tak perlu memutar tubuhnya ke samping, Mahana jelas berada tepat di sebelahnya.
"Apa yang membuatmu ikut tak bersuara, Tatsuki-chan?"
Rukia dan yang lain sependapat dengan Mahana, dan ikut menatap Tatsuki yang terlalu serius memperhatikan para siswa bermain bola kaki. Seolah-olah bola sepak itu bisa meledak seketika hanya dengan tatapan tajamnya.
Butuh beberapa detik untuk menunggu Tatsuki menjawabnya, karena ia berpikir bahwa kenapa hanya Ishida yang dibicarakan Mahana, "Aku baru tahu kalau kau itu hobi mendiskrimanasi dalam memilih target gunjingan. Seharusnya tiga dari mereka juga patut kau gosipkan," ujar gadis itu sekenanya, menunjuk asal pada sekumpulan siswa yang seolah tidak sadar sedang di-topik-hangat-kan.
Mahana tak menjawab, tapi mata dan senyumnya seolah berkata lain. Dan Tatsuki memilih tak perduli.
"Yah, itu bukan urusanku. Asalkan dia tidak menyakiti Orihime—"
"ITU JADI URUSANKU!? ORIHIME-CHAN HANYA MILIKKUUUU—"
"JANGAN MENGINJAK KAKI KU, CHIZURU BRENGSEK!? DAN MENJAUH DARI ORIHIMEEEEEE!?"
"INI RAMBUT ASLI, TATSUKI SIALAAAAN!? BERHENTI MENJAMBAKKU!"
"Sudah ... Sudah ... Tatsuki-chan! Chizuru-chan! Hentikan, jangan bertengkar!"
Bagi Mahana Natsui tidak ada satupun dari teman-temannya yang sulit untuk dibaca. Tak terkecuali Tatsuki Arizawa, gadis tomboy itu baru saja melakukan tindakan percuma dengan bersikap seolah dia tak perduli dengan gosip murahan bawaan Mahana. Tapi lihat saja reaksinya, Mahana tahu itu bukan sekedar kekesalan hanya karena Chizuru tak sengaja menginjak kakinya ketika buru-buru memeluk Inoue protektif.
Dan tidak ada satupun dari mereka yang mampu membaca Mahana. Termasuk ketidakpekaan Tatsuki. Seperti yang tidak disadari Rukia dan yang lain, Mahana sama sekali bukan mendiskrimanasi korban gosipnya, hanya saja dirasa belum waktunya untuk membahas hasil pengamatan terhadap 'tiga dari yang lain'.
"Kau tahu hanya dengan melihatnya sering tertangkap melirik Orihime-chan?" Ryou bertanya tanpa menatap Mahana. Matanya selalu terlihat kosong menatap ke depan dengan intonasi suara yang dingin dan dalam. Gadis itu memiliki kecepatan mengerikan dengan score waktu yang diluar akal sehat untuk lari jarak 400 meter.
"Jangan remehkan pengamatan ku, Kunieda-san," Mahana menegakkan tubuhnya. Tidak terpengaruh dengan aura dingin Ryou.
"Pasti tidak hanya itu 'kan bukti yang kau punya?" Michiru turut menyumbang pertanyaan, gadis itu memang terbilang pendiam untuk gadis-gadis yang suka bergosip. Dan Rukia setuju dalam diam akan pertanyaan Michiru.
Kali ini Mahana tersenyum, "Kau jeli sekali, sebagai teman aku sangat bangga."
Namun, tidak ada yang menanggapi ujaran Mahana dengan kata-kata selain tatapan minta penjelasan yang ditujukan semua para gadis padanya.
Ia menghela napas menyerah, "Pengamatanku sederhana. Ishida memenuhi ciri-ciri orang yang sedang menyukai orang lain," jawabnya.
Rukia tersenyum skeptis, ia bahkan tak yakin Ishida tertarik melakukan hal seperti itu. Pemuda itu terlalu introvert.
"Oh ya?" Tatsuki menanggapi asal, dan sinis.
Tapi sayang Mahana lagi-lagi tidak terpengaruh. Ia lebih memilih melirik Inoue di sebelahnya, "Kau keberatan jika aku menanyaimu?"
Respon yang bagus, pikir Rukia terhadap Mahana.
Inoue mengangguk setuju, dan Mahana segera menghadap penuh kearahnya. Menatapnya seperti seorang psikolog yang butuh jawaban otentik dari sang pasien.
Bahkan cara bicara gadis berkulit gelap itu benar menyamai seorang psikolog sungguhan. Minus kacamata. "Pertama, mungkin ini bukan bukti yang bisa salalu kau saksikan sendiri, tapi kau pasti setidaknya pernah menyaksikannya sendiri. Apa kau pernah melihatnya tertangkap basah sedang menatapmu?"
Detik berikutnya, seperti baru saja mendengar petasan dari jarak dekat, jantung Rukia tersentak tak karuan. Seolah pertanyaan barusan sengaja ditujukan untuknya. Dan matanya langsung melebar ketika mencoba membuktikan analisis Mahana, tepat di saat yang sama ia menangkap emerald itu sekilas menuju ke arahnya. Dan langsung teralih begitu bola berada di dekat kaki pemiliknya.
Apa itu tadi? Rukia tak mampu bergerak untuk beberapa saat.
Berbeda tanggapan ditunjukkan Inoue. Sepasang mata madu besar berkedip, dan beberapa saat kemudian kepalanya mengangguk perlahan.
Mahana memajukan tubuhnya, menopang dagu dengan jemari bersatu, ia tampak sangat serius, "Kapan itu?"
Baru saja, jawab Rukia dalam hati. Tentu ini diluar kuasanya.
Sedangkan Inoue melirik ke atas, mencoba mengingatnya, dan... "Hari ini," jawabnya singkat apa adanya, dan Tatsuki mendengus dan Chizuru tertawa jumawa.
Mahana terpejam, ia lupa bahwa Inoue itu sangat polos. Ia kembali mundur dan menegakkan tubuhnya seperti semula.
"Kedua..." tepat setelah Mahana berkata, Rukia meyakinkan dirinya tidak akan teralih lagi oleh hal lain selain suara Mahana, "ini tidak bisa disimpulkan dalam waktu singkat karena biasanya kau akan menyadari setelah sekian lama atau saat ada yang menanyaimu langsung tentang hal ini. Apa kau pernah merasa dia selalu ada disekitar mu?"
Benar.
Rukia ingin sekali menyangkalnya, tapi seluruh memorinya membenarkan perkataan Mahana. Jika ia bisa menjawabnya, tidak hanya disekitar, tapi selalu di sampingnya setiap ada kesempatan. Sungguh, saat ini rukia tidak berani barang sekedar melirik Mahana di sampingnya. Ia takut, jika ternyata yang lain sedang menatapnya penuh selidik dan semua pertanyaan-pertanyaan itu memang ditujukan untuk dirinya.
Oh, apa sekarang Rukia telah bertranformasi menjadi gadis yang gampang tersanjung tidak pada tempatnya dalam artian sebenarnya (ge-er).
Dilain pihak, Inoue mengangguk yakin-tak yakin.
"Dan yang ketiga, jika yang terakhir ini juga terpenuhi maka kau bisa menyimpulkan kemungkinan terbesar tapi biasanya kau akan menyadari ciri-ciri ketiga ini jika kau bertukar informasi dengan yang lain apa saja yang biasanya dia diskusikan dengan teman-temannya. Apa dia selalu membicarakan hal-hal yang lebih khusus kepadamu? Maksudku adalah yang tidak dibicarakannya dengan orang lain kecuali dengan mu."
Iya. Rukia tak perlu bertukar informasi untuk mengetahui tentang hal ini. Oh, Mahana sialan. Apa gadis ini benar-benar cenayang?
Tapi, tunggu, jadi apa maksudnya ini?
Dilain pihak, Inoue menggeleng skeptis. Ia tak yakin akan hal itu, tapi yang jelas ia dan Ishida tak pernah terlibat percakapan khusus berdua.
Mahana menghela napas, menyodorkan telapak tangan, "Tidak apa, 2:3 itu masih cukup valid."
3:3. Lalu jika 3:3 bagaimana? Rukia benar-benar butuh konsultasi akan hal ini.
"Benarkan, Rukia-chan?"
Rukia tersentak hebat ketika namanya tiba-tiba disebutkan oleh Mahana, ia menoleh kaku, "Eh! Apa?"
"Aku tanya, apa kau juga mempunyai kesimpulan yang sama dengan ku?" dan begitu melihat senyum misterius Mahana, Rukia ingin sekali melarikan diri dari bangku panjang itu. Dari Mahana sial dan seluruh hipotesisnya.
Sudah Mahana bilang 'kan, kalau tidak ada satupun dari teman-temannya yang sulit ia baca.
.
.
.
.
.
[Jumat, 1 Desember 2000, Pukul 08:00 PM]
.
.
Rukia berdiri terpaku di depan gerbang putih yang menjulang lebih dari tujuh jengkal di atas kepala. Tidak, bukan karena gerbangnya. Besi putih penuh ukiran itu sudah menjadi pemandangan sehari-harinya. Melainkan suasana berbeda yang didapati di dalam gerbang. Ini lain dari biasanya. Bahkan saat pemiliknya mulai menempati lagi rumah besar yang telah terabaikan selama bertahun-tahun itu, belum pernah ada perubahan. Tapi malam ini, atau entah sejak kapan, suasanya jauh dari kata menyeramkan. Lampu tamannya menyala terang, menerangi jalan setapak di pinggiran rumput taman yang telah ... bersih?
Gadis raven itu tidak bisa berhenti memandang takjub dan lebih banyak keheranan. Bola mata ungu itu terus berkeliling halaman rumah milik keluarga Hitsugaya yang kini terkesan lebih 'berpenghuni'. Memastikan apa yang dilihatnya bukan kesalahan. Atau mungkin ia salah rumah?
Itu lebih tidak mungkin. Rumah Toushiro tidak bisa berpindah dengan sendirinya 'kan!
Lagipula, daya ingat Rukia masih sangat apik. Jadi, apa yang sebenarnya terjadi dengan rumah ini? Atau mungkin sesuatu telah terjadi dengan pemiliknya? Jika memang seperti itu, berarti masih lumrah. Sesuatu memang sering terjadi dengan Toushiro. Dia pemuda aneh, misterius, dan sulit ditebak. Jadi, jika hal-hal seperti ini terjadi itu sangat dimaklumi.
Pada akhirnya, gadis Kuchiki itu memutuskan untuk berhenti mengagumi rerumputan bersih nan rapih itu, dan segera masuk sebelum isi rantang yang dijinjingnya mendingin. Amanat sang kakak masih menjadi prioritas utama Rukia. Tapi, begitu jemarinya menyentuh besi pagar itu kekagetan kembali menyerangnya. Tiga jari sekaligus bahkan bisa memasuki mulutnya yang terbuka. Memandangi tak percaya pada pagar besi yang ... telah dicat ulang? Hey, apa Toushiro baik-baik saja?
Seingatnya dulu, atau beberapa hari yang lalu, pagar itu karatan. Bahkan berdecit ketika Rukia untuk pertama kali membukanya. Ditambah dengan suasana pekarangan rumahnya yang ternyata jika dilihat lebih jelas, benar-benar indah. Semak-semak yang diukir cantik, beberapa tumbuhan merambat yang unik, bunga-bunga malam yang bermekaran. Tidak bisa dipercaya. Apa Toushiro yang melakukan semua ini? Apa dia seorang pesulap atau memiliki kekuatan magis?
"Ah! Mungkin sebaiknya kau ganti lampu taman yang mati itu. Agar tetanggamu tahu kalau rumah ini berpenghuni. Permisi!"
Rukia ingat, itu salah satu dari kalimat ketusnya yang dilemparkan kepada Toushiro. Tapi hanya tentang lampu taman dan itu sudah lewat seminggu yang lalu. Jadi, apa pemuda perak itu melakukan semua ini berkat perkataannya?
Jarak gerbang sampai ke pintu utama adalah kurang lebih 5 meter. Dan selama perjalanannya, Rukia sama sekali tak mengindahkan setiap langkah yang dipijaknya. Bahkan ia tak merasakan setiap tapak langkah kakinya. Ia seperti terbang, tenggelam dalam lamunan ketakjuban. Sampai tanpa disadarinya, wajah tegas yang selalu gadis itu pelihara, telah sampai di muka daun pintu yang tiba-tiba terbuka dengan sendirinya.
Membuat Rukia yang masih sibuk meraba permukaan pintu guna menemukan posisi ter-pas untuk mengetuk, dengan mata yang sejak tadi kesulitan mengalihkan fokusnya dari pemandangan taman yang damai, hampir saja kehilangan keseimbangan andai tak ada Toushiro yang dengan sigap menangkap pundak gadis itu sebelum menubruk tubuh si pembuka pintu.
"Kau baik-baik saja?"
Butuh 8-10 detik bagi Rukia untuk menyadari keadaan. Gadis itu terduduk di ambang pintu, dengan tampang shock setengah bengong. Hingga pertanyaan yang sama diulang Toushiro dan akhirnya mampu ditangkap penuh oleh telinganya secara utuh. Raut pemuda itu benar-benar menunjukkan keheranan, dan ini memalukan. Buru-buru Rukia bangkit dari duduknya dan segera memeriksa isi rantang yang ternyata masih baik-baik saja.
"Kenapa kau membuka pintunya tiba-tiba?" hardik gadis itu tiba-tiba. Wajah Rukia yang terlihat jengkel, sebal, kaget, malah mengerutkan dahi pemuda itu yang sudah tertekuk sejak awal.
"Seharusnya biarkan aku mengetuk pintunya dulu." Rukia tahu kalimat yang baru saja meninggalkan mulutnya ini terdengar aneh. Seperti plesetan dari kalimat 'Seharusnya ketuk pintunya dulu, sebelum membukannya' yang seharusnya diucapkan si pemilik rumah.
Lain yang ditanya, lain juga yang ditanggapi. Alih-alih menjawab, pemuda itu justru terlihat seperti orang yang kurang mengerti bahasa yang Rukia gunakan tadi. Toushiro masih terpaku dengan tatapan Kau-ini-kenapa-nya.
Rukia hanya bisa mendesah, ia ingat bahwa ia melewatkan pertanyaan pemuda perak itu. Ia bangkit tanpa bantuan Toushiro, "Aku baik-baik saja," jawabnya ketus, dan masih berharap Toushiro berhenti menatapnya seperti itu.
"Syukurlah," dan gumaman pemuda itu sontak membuat Rukia bertukar ekspresi dengan Toushiro. Kini gilirannya yang dibuat terperangah.
Tadi itu ... Rukia tidak salah dengar 'kan? Barusan Toushiro mengucap syukur karena ia baik-baik saja?
"Aku sudah melihatmu dari atas sejak melewati gerbang." Toushiro menunjuk tempat di mana jendela lantai dua berada. "Kau terlihat bingung seperti orang tersesat. Makanya aku segera membukakan pintunya."
Rukia diam. Demi apapun, ia bisa merasakan sesuatu yang aneh telah terjadi pada dirinya begitu Toushiro menyelesaikan kalimatnya. Hatinya diam-diam menghangat.
"Apa kau datang untuk mengantarkan itu?" Toushiro menekankan pertanyaannya dengan menunjuk rantang di tangan Rukia. Juga cukup sukses membuyarkan lamunan Rukia yang mulai tidak jelas.
"Ini? Oh ... iya. Aku mengantar pesanan Hisana nee-chan untukmu." Rukia masih berusaha mengembalikan konsentrasi ketika menjawab kikuk.
Rantang ditangannya hampir diserahkan, dan hampir diambil Toushiro, jika Rukia tidak segera menariknya kembali. Gerakan tangan gadis itu begitu cepat, sehingga tangan Toushiro yang hendak mengambil rantang itu pada akhirnya hanya menggapai udara kosong.
"Tapi sebelum itu jawab dulu pertanyaan ku." Rantang itu kini berakhir di pelukan Rukia.
Toushiro mengambil kembali tangannya. Ia berdehem pelan, memburamkan tingkahnya yang sedikit memalukan barusan. Satu alis putihnya terangkat sebagai tanggapan.
Rukia memasang tatapan menyelidik ketika pertanyaan pertama diajukan hati-hati, "Apa kau yang merubah pekarangan rumah ini?"
Toushiro hanya mengangguk sekali, ketika Rukia bertanya sekaligus menunjuk pekarangan rumahnya dengan ibu jari ke belakang.
"Sendirian?" Pertanyaan berikutnya seperti mencoba untuk melebih-jelaskan anggukan Toushiro atau lebih meyakinkan dirinya sendiri. Matanya melebar mewakili ketidakpercayaan dari nada suaranya.
Sepasang manik sehijau zambrud itu mengerjab sesekali. "Aku bisa melakukan apapun sendirian," ujarnya. Penuh percaya diri.
Kali ini Rukia berani mengangguk, setelah mendengar jawaban pemuda perak itu. "Yah, aku bisa melihatnya," akunya. Sedikit jengah juga mendengar pengakuan angkuh si tuan musim dingin itu.
"Tapi kenapa? Apa karena perkataanku minggu lalu?" tanyanya. Tidak ada maksud lain, Rukia hanya ingin tahu saja. Hanya-sekedar-ingin-tahu, tolong jangan dilebih-lebihkan.
Tapi ketika Toushiro menggeleng, rasa ingin tahunya bertumbuh jadi penasaran akut. Rukia lebih dari sekedar tertegun begitu jawaban sederhana pemuda itu mengudara.
"Bukan. Hanya saja agar kau tidak ketakutan jika ke sini di malam hari."
Jadi Toushiro melakukan semua ini, mengecat pagar, memotong rumput, merapikan halaman, mengganti lampu taman, semuanya; hanya demi kebaikan Rukia. Sesederhana itu 'kah?
Alasan yang begitu sederhana dan berhasil membuat Rukia kehilangan kemampuan bicara dalam sekejab. Ada sesuatu yang membuatnya demikian, sesuatu yang sama yang membuat dirinya lebih menghangat dari sebelumnya. Sulit untuk diutarakan. Tapi terkadang Rukia merasa, Toushiro itu seperti dibagi menjadi dua kepribadian yang lucu. Yang satu dingin seperti tebing es yang sulit ditembus, dan yang satu lagi seperti cermin yang tanpa ragu menampilkan wajah refleksinya. Dan kemunculan sisi cerminnya sulit ditebak dan tak pernah diperlihatkan kepada yang lain.
"Ano ... Apa rantang itu, jadi diberikan padaku?"
Rukia ingin Toushiro mengulang pertanyaannya barusan, karena sejujurnya ia melewatkannya. Suara pemuda itu lebih mirip suara seseorang yang berbicara ketika sedang sibuk menyikat gigi dengan busa putih yang memenuhi rongga mulut, gumaman bahkan masih terdengar lebih jelas. Dan permohonannya terkabul begitu pemuda itu menunjuk rantang yang tanpa sadar masih berada dipelukan Rukia. Tapi, oh astaga, Rukia tidak bisa mencegah sweatdrop yang bergulir di belakang kepalanya begitu menyadari tatapan Toushiro yang terlihat malu-malu ketika menunjuk rantang dipelukannya.
Rukia berdehem, berusaha menelan senyum, tawa, atau apapun yang akan meledak dari dalam dirinya ketika melihat wajah menggemaskan itu—Hey, sejak kapan ia mulai berpikir seperti itu? Ia harus semedi setelah ini, tidak ada yang menggemaskan dari wajah itu. Dia hanya ingin rantangnya. "Maaf ... ini," ujar Rukia kikuk, akhirnya menyerahkan rantang berisi makan malam ke tangan Toushiro.
.
.
. . . .
.
.
Sudah berapa lama Rukia mengenal pemuda bermarga Hitsugaya ini? Dua minggu lebih dua hari?
Jika pertanyaannya tentang rentang waktu, Rukia akan menjawabnya demikian—dengan lantang. Bukan berarti ia sengaja menghitung setiap menit yang terlewati bersama pemuda itu, tapi setiap detiknya terasa tidak normal jika ada tuan Hitsugaya di sekelilingnya. Rukia tidak menyalahkan kehadiran Toushiro yang tiba-tiba, tapi entah kenapa banyak hal aneh terjadi setelah kemunculannya. Toushiro seperti magnet yang menarik hal-hal tak wajar untuk terus berada disekeliling medan magnetnya.
Lalu bagaimana jika pertanyaan itu lebih merujuk pada kedekatan mereka, Rukia akan membutuhkan waktu untuk berpikir sebelum menjawabnya. Jika ditanya apa mereka tidak dekat, jawabannya tidak.
Bagaimana menjelaskannya?
Karena setiap hari Toushiro selalu berangkat bersama dengannya ke sekolah; hampir setiap malam pemuda itu makan malam di rumahnya; dan jika dia tidak datang maka Hisana nee-chan akan merepotkan dirinya untuk mengemas rantang dan merepotkan Rukia untuk mengantarkannya ke rumah Toushiro di seberang jalan.
Jadi, apa itu bisa dikatakan dekat? Itu juga tidak.
Mereka memang beberapa kali terlibat percakapan, tapi tidak lebih dari masalah orang lain. Semisal, tentang kemunculan sosok mirip Unohana-sensei yang dijelaskan Toushiro sebagai Doppelganger, atau tentang peristiwa aneh yang menimpa Ichigo beberapa hari lalu, Missing day. Selebihnya, nihil. Mereka—baik itu dari pihak Toushiro ataupun dirinya—tidak pernah mencoba membuka topik tentang hal pribadi. Yang Rukia maksud adalah sebagai 'orang yang kau kenal dekat dan yang mengenalmu sama dekatnya'.
Satu-satunya kedekatan yang pernah terjadi diantara mereka adalah ketika tanpa terduga Toushiro memeluknya di tengah ruangan kelas yang sepi. Dan entah apa sebabnya, Rukia merasa sangat dekat dengan Toushiro saat itu—tentunya di luar kontak fisik. Semua perasaan pemuda itu seperti tersalur melalui rengkuhannya, dan anehnya Rukia mampu membaca semuanya. Sedih, lega, bahagia, haru, dan kerinduan yang amat sangat. Toushiro terasa begitu rapuh. Membuatnya tak berkutik dan menelan kembali niatnya untuk mendorong dan menampar Toushiro saat itu.
Bahkan tidak ada penjelasan apapun setelahnya dan Rukia juga tidak pernah mempertanyakannya sama sekali. Lucu sekali, dan benar-benar tidak wajar. Toushiro hadir secara misterius dan membawa banyak hal yang tidak masuk akal dan Rukia tidak pernah mempertanyakannya. Bagaimana bisa ia mengabaikan semua keanehan itu begitu saja?
Tidak. Bukan karena ia tidak mau. Tapi tidak pernah ada kesempatan. Toushiro seperti dengan sengaja membangun sebuah tembok beton raksasa yang menjulang tinggi di antara mereka, sehingga hanya sisi kemisteriusan yang mampu dilihat Rukia.
Seperti yang ia pikirkan sebelumnya, tentang dua sisi yang dimiliki Toushiro. Sisi kemisteriusannya yang seperti tidak mengijinkan siapapun untuk menembusnya. Bahkan satu lubang sekecil apapun tidak dibiarkan tumbuh di dinding raksasa yang ia bangun. Membuat siapapun yang berada di luar dindingnya hanya bisa menebak-nebak dengan rasa penasaran yang besarnya semakin hari semakin bertumbuh. Rukia jadi ingat tentang diskusi lima sisi yang diadakan secara mendadak di waktu jam istirahat siang lalu. Ishida terlihat begitu yakin dengan prediksinya akan siapa Toushiro. Mungkin Ishida benar, tapi hingga kini Rukia masih kesulitan untuk menerima informasi itu mentah-mentah.
Indigo dan Prodigi. Apa benar ada manusia yang memiliki bakat rangkap seperti itu?
Mungkin saja ada, tapi mungkin juga tidak. Entahlah, informasi itu masih terlalu mentah.
Lalu bagaimana dengan Hisana. Kakak perempuannya itu selalu memandang Toushiro dengan kedua matanya. Dan juga untuk perhatian yang berlebihan itu membuat Rukia selalu keheranan. Apa sebenarnya yang terjadi dengan kakaknya, atau Toushiro, atau keduanya. Yang Rukia yakini, ini pasti bukan karena Toushiro adalah satu-satunya teman yang pernah kerumahnya (Rukia tidak akan bilang kalau Toushiro adalah teman yang dibawanya kerumah, karena pemuda itu datang dengan sendirinya). Pasti bukan karena itu.
Pernah suatu ketika ia dengan sengaja menceritakan keanehan yang terjadi dengan Ichigo atau Unohana-sensei pada Hisana. Yang akhirnya berujung pada kemampuan analisis Toushiro yang tidak masuk akal.
"Apanya yang tidak masuk akal? Kau saja yang terlalu menganggapnya serius, Rukia," Hisana selalu seperti itu, terlalu santai. Bahkan tak menoleh sedikitpun dari tumpukkan daging sapi potong di atas sink dapur.
"Semua orang menganggap ini serius, nee-chan. Seandainya kau melihatnya langsung, kau tidak akan bicara sesantai ini," Rukia yakin akan hal yang dikatakannya. Tentang 'Hisana yang melihat sendiri'.
"Kau sendiri yang bilang 'kan kalau Toushiro-kun itu jenius, jadi menurutku wajar saja jika dia tahu hal-hal yang tidak masuk akal."
Lihatlah caranya menyebut nama itu dengan suffix -kun! Pasti ada sesuatu antara kakaknya dengan Toushiro.
"Tapi ini berbeda, Onee-chan!" Untuk saat ini Rukia mencoba mengesampingkannya. Setidaknya ia harus mendapat jawaban serius dari sang kakak.
Dan begitu Hisana terdiam, meletakkan pisau daging, mencuci tangan, dan berbalik menghadapnya yang sedang berdiri tak tenang, Rukia terperangah. "Apa yang membuatmu merasa dia berbeda, Rukia?"
Tidak tahu. Jelas sekali dua kata itu berputar di kepala ravennya. Rukia benar-benar tidak tahu apa penyebabnya. Bukan karena pemuda itu mampu membuat teori-teori sulit atau mampu menjawab setiap pertanyaan-pertanyaan sulit. Rukia yakin bukan karena itu. Hanya saja Toushiro itu sangat ... berbeda.
Dan pada akhirnya, tidak ada satu katapun yang terbentuk dari pita suaranya.
Hisana tetap tenang diposisinya, menghela napas, dan akhirnya bersedia memberi jawaban yang diinginkan adiknya, "Jika itu tentang kemampuannya, kau bisa bertanya langsung dari mana dia mendapatkan itu. Tapi jika ini tentang sikapnya, jangan pernah bertanya apapun Rukia. Terlebih jika ini tentang sikapnya kepadamu. Jangan pernah mencoba untuk bertanya. Kau tahu, setiap orang memiliki sesuatu yang hanya disimpan untuk dirinya sendiri. Jadi jangan pernah memaksanya untuk membagi sesuatu itu kepadamu, kecuali dia sendiri yang berinisiatif membaginya kepadamu. Kau mengerti?"
Tidak ada anggukan ataupun gelengan. Rukia hanya tetap diam. Hisana akhirnya memilih kembali kepada tumpukkan daging dan meninggalkan Rukia yang bimbang mencerna kata-katanya sendiri. Rukia sudah cukup dewasa untuk mengerti hal ini.
.
.
. . . .
.
.
Karenanya Rukia tidak bertanya apapun saat ini. Termasuk ketika sepasang kaki mungilnya diijinkan memasuki rumah besar keluarga Hitsugaya untuk pertama kalinya. Tidak ada satu pun kata yang berani keluar dari tenggorokannya, walaupun sepasang bola mata ungu itu berbinar lain ketika berkeliling memandang seluruh pelosok ruangan. Rukia bingung, heran, dan tidak mengerti. Pemandangan di sekelilingnya saat ini sangat aneh.
Yah, sedikit maklum karena mengingat ini adalah rumah Hitsugaya Toushiro yang aneh itu.
Tapi ini benar-benar aneh.
Rukia bersumpah, ini sangat amat diluar ekspektasi siapapun akan keadaan dalam rumah milik tetangga yang baru saja pindah tidak lebih dari dua minggu. Normalnya adalah akan terlihat sedikit berantakan karena barang-barang yang belum selesai dibereskan berhubung ini adalah rumah besar dan penghuninya hanya seorang diri.
Sebaliknya, keadaannya tidak seperti terlalu rapih untuk ukuran orang yang baru pindah rumah atau terlalu berantakan karena sama sekali belum dibereskan. Bukan seperti itu.
Rumah ini hanya terlalu ... kosong. Ya, seperti itu. Kosong, tidak ada apapun. Selain sofa merah maroon di pojokkan, satu lampu gantung yang luar biasa mewah, lemari-lemari kayu mahal tak berisi, dan beberapa barang lain yang masih tertutup kain putih. Entah harus takjub atau keheranan, Rukia sungguh kebingungan mengekspresikan dirinya. Begitu sulit baginya hanya untuk sekedar mengatupkan bibir.
Berkali-kali ia mengulang kalimat 'Ini hanya rumah Toushiro' dan 'Ini hanya rumah Toushiro' di dalam kepalanya, tapi tetap tidak berhasil meredam guncangan bagi akal sehatnya. Bagaimana bisa keadaan rumahnya seperti ini? Apa dalam dua minggu Toushiro telah menjual sebagian besar barang-barang di rumah ini? Atau memang sejak awal Toushiro tidak membawa apapun saat pindah ke rumah ini?
Tapi kenapa? Arg, sial... Selalu saja ada pertanyaan baru untuk si manusia super aneh bermarga Hitsugaya itu. Entah sampai kapan Rukia mampu memegang amanat sang kakak dan menahan semua tanggungan pertanyaan ini.
Dan kemana perginya dia? Terakhir Rukia melihatnya adalah ketika ia menyerahkan rantang dan Toushiro menyuruhnya menunggu di dalam selagi ia memindahkan isi rantang. Ah, iya ... Memindahkan isi rantang. Orang aneh itu pasti pergi ke tempat bernama dapur yang Rukia tidak tahu dimana.
"Sial. Rumah ini besar sekali, dan bisa-bisanya dia tinggal sendirian di sini," gerutu gadis itu dalam bisikkan pelan.
Rukia tebak, tempatnya berdiri saat ini adalah ruangan utama. Dilihat dari ukurannya yang luas dengan lampu gantung besar tepat di atas kepalanya. Ia tidak mendengar suara apapun, atau setidaknya suara-suara kesibukkan dari arah dapur. Pertanyaan lain kembali muncul, tentang seberapa besar ukuran rumah ini.
Dan helaan napas 'lah yang menjawabnya, helaan miliknya sendiri. Suasananya terlalu sepi. Membuatnya bingung sendiri harus melakukan apa selagi menunggu Toushiro kembali. Setidaknya ia bisa melihat-lihat pajangan dinding atau deretan photo yang tersusun di atas meja jika saja ada salah satu dari mereka yang terlihat. Sayangnya, nihil.
Rukia memilih duduk diatas satu-satunya sofa di ruangan atau rumah ini. Letaknya di pojok, dan ia bisa melihat tangga menuju lantai dua dari letak sofa. Hingga detik ini ia masih keheranan bagaimana bisa rumah ini tidak berisi sama sekali. Dan ketika keheranan lagi dan lagi mengusiknya, sebelah tangannya tak sengaja menyentuh benda logam yang tergeletak di dudukan sofa.
Rukia mengambilnya, melihatnya, dan menelitinya. Berulang kali dibalik-balik dengan alis berkerut, dan satu kesimpulan berhasil didapat. Ia tak tahu benda apa itu.
Bentuknya seperti lempengan logam tipis berbentuk persegi panjang. Lebarnya sekitar 5 inchi, dan ada kaca datar gelap di salah satu sisinya. Tidak ada satupun kosa kata dari kepalanya yang pas untuk menyebut benda itu. Kepalanya menoleh ke kanan lalu ke kiri, seakan mencari si pemilik rumah untuk ditanyai. Tapi yang dicari tak kunjung datang.
Rukia kembali memandangi benda logam aneh di tangannya. Benda itu tak terasa berat untuk ukuran logam. Tapi terlihat mahal untuk ukuran logam biasa. Lalu apa fungsinya?
Ketika pertanyaan itu muncul, sudut matanya tak sengaja menangkap tombol panjang kecil di pinggiran logam. Benar-benar tak kasat mata jika tidak diraba. Lalu Rukia merabanya, dan sengaja memberikan sedikit tekanan untuk merasakan teksturnya.
Detik berikutnya, kekagetan setengah mati menyerang dirinya ketika tiba-tiba logam di genggaman itu menyala terang. Dan karenanya logam itu pun terlepas dan jatuh begitu saja di atas dudukkan sofa. Rukia masih sibuk mengatur napasnya yang memburu, dan menormalkan detak jantungnnya yang mengerikan. Sebelum dilanda keterkejutan kedua, yaitu saat ia dengan nekat kembali memberanikan diri untuk menyentuh logam itu.
Salahkan rasa penasarannya yang sulit dikontrol. Atau kedua tangannya yang lebih memilih rasa penasarannya ketimbang perintah otaknya.
Tapi benda logam itu seolah memanggilnya, memaksanya mengalah pada rasa penasaran dan memberanikan diri membalik lempengan logam yang tergeletak untuk melihat bagian apa yang sedang menyala. Detik selanjutnya, Rukia hanya mampu menarik napasnya lebih dalam, menelan ludah dengan paksa, dan melebarkan matanya guna memperjelas pengelihatan akan wajah dikenal yang terpajang di lempengan logam.
Hitsugaya Toushiro. Rukia jelas sangat mengenali wajah itu.
Hanya saja, bagaimana bisa photo Toushiro berada di dalam lempengan logam itu? Dan kenapa perawakannya terlihat berbeda?
Rukia yakin benar yang dilihatnya kini adalah Hitsugaya Toushiro, tapi versi paruh baya.
"Itu milikku."
Rukia berjengit hebat, dan logam itu nyaris saja melompat untuk kedua kali dari genggaman tangannya, begitu suara datar itu menginterupsi kegugupannya. Lalu siapa yang harus disalahkan, Rukia yang tidak tahu diri menyentuh barang milik orang lain tanpa izin atau si pemilik suara yang aura kehadirannya bahkan tidak terasa. Rukia menoleh kaku, dan mengutuk pemuda aneh yang berdiri tenang tepat dibelakangnya. Sejak kapan dia berdiri di sana?
Tidak ada jawaban, tentu saja. Pemuda itu—Toushiro—hanya menanggapi keterkejutan Rukia dengan mengulurkan telapak tangannya. Dan Rukia butuh waktu untuk memahami isyarat itu.
"Ah, iya. Ini... " ia masih bisa melihat tangannya gemetar ketika mengulurkan logam itu kepada Toushiro.
Pemuda itu langsung meraihnya dan menyimpannya ke dalam saku celana tanpa berkata apapun.
Rukia tahu ia baru saja berlaku tak sopan dan mungkin telah mencampuri urusan pribadi pemuda itu, dan ia segera memperbaikinya. "Maaf... aku hanya—"
"Isinya sudah kupindahkan dan sudah kubersihkan. Terima kasih untuk makan malamnya, tolong katakan itu pada kakakmu. Dan selamat malam!"
Rukia tertohok begitu tak diizinkan menyelesaikan kalimatnya. Toushiro memotongnya dengan menyodorkan rantang kosong itu kembali ke Rukia. Terlebih karena kalimat terakhirnya.
Rukia paham, bahwa ia harus segera pergi.
"Selamat malam," balasnya lemah. Berbalik perlahan setelah memastikan tidak ada kata lagi yang perlu disampaikan Toushiro. Pemuda itu bahkan tak menatapnya, membiarkannya keluar dan menutup pintu seorang diri.
Walaupun begitu, rasa penasaran akan photo itu masih belum reda. Ia tak mengerti pasti, tapi ia yakin bahwa ada yang janggal dengan Toushiro. Keberadaannya, kemampuannya, dan sikapnya, semuanya terasa begitu janggal. Dan Rukia tahu pasti bahwa ia tak boleh berhenti sampai di sini. Hisana nee-chan memang melarangnya untuk bertanya langsung pada Toushiro, tapi kakaknya tidak bilang kalau Rukia tidak boleh menyelediki.
.
.
.
.
[Sabtu, 2 Desember 2000—Karakura Town]
Lapangan Utama, Karakura High School—Pukul 09.00 AM
.
.
"BERBARISLAH SESUAI PAPAN NAMA KELAS KALIAN MASING-MASING. EMPAT BANJAR SETIAP KELAS. DUA UNTUK PUTRA DAN DUA UNTUK PUTRI."
Toak putih dalam genggaman tangan gadis berkuncir dua itu masih membantu mengeraskan suaranya yang sudah terbilang lantang. Berdiri menantang di podium lapangan, Riruka Dokugamine terlihat luar biasa bersemangat dengan jaket pink tebal bertelinga kelinci panjang di tudung kepalanya.
"AYO BERGERAKLAH! UDARA SEMAKIN DINGIN. HEY ... KALIAN YANG DI SEBELAH SANA! INI BUKAN WAKTUNYA BERGOSIP. SEGERA AMBIL TEMPAT DI BARISAN! AYO! CEPAT ... CEPAT ... CEPAT!"
Suara lantangnya menggema berkali-kali meramaikan pagi di awal musim dingin. Sebelah tangannya yang bebas dari pengeras suara, menunjuk lurus pada kerumunan siswi-siswi yang tampak bergerombol di bawah pohon oak pinggir lapangan.
Ishida berdiri tegap dibelakang Riruka, mengamati kerumunan siswa-siswi yang sibuk berkumpul dengan kedua tangan bersedekap. Jaket putih yang pas di tubuh ramping, terbalut serasi dengan name tag yang dikalungkan di leher. Bertuliskan 'Ketua Pelaksana'. Dan pemuda berkacamata itu bisa melihat berbagai ekspresi teman-temannya dari posisi ini.
Udaranya memang terasa mengigit kulit, tapi antusiame Riruka seperti menular kepada mereka semua. Kecuali beberapa orang yang benci musim dingin tentu saja. Ishida mampu mendengar gerutuan itu bahkan dari radius 6 meter sekalipun.
"Hey, setahuku ini acara keakraban."
"Ya. Yang sengaja diselenggarakan setiap tahun sebelum kita menempuh kesibukkan kelas tiga."
"Itu berarti, seharusnya kita senang-sengan 'kan?"
"Lalu, kenapa ini seperi latihan di camp militer?"
"Aku lebih suka menghabiskan waktuku dengan hibernasi saat musim dingin."
Tapi Ishida tak perlu repot-repot untuk menegurnya, karena ia punya wakil yang selalu bisa diandalkan.
"HEY, TUPAI?!"
Siswa yang ditunjuk Riruka langsung berhenti di tempat dan kebingungan melihat sekitarnya. Lalu tak lama ia menunjuk dirinya sendiri dengan wajah tak yakin.
"IYA, KAU YANG DI SANA. YANG LEBIH SUKA BERHIBERNASI SAAT MUSIM DINGIN. APALAGI NAMANYA JIKA KAU BUKAN TUPAI."
Oh, tidak ada kandidat lain yang lebih pantas untuk mengisi jabatan seorang wakil ketua OSIS selain Riruka Dokugamine. Gadis itu memang tidak ada gantinya. Ishida sedikit bersyukur karena Karakura High School memilikinya, dan Karakura High School pasti sangat bersyukur karena ada Ishida yang menjadi ketua siswanya.
Lain hal lagi yang dipikirkan Rukia ketika tiba di lapangan sekolah di awal musim dingin. Ia tidak langsung buru-buru mengambil barisannya, melainkan mencari-cari sosok yang seharusnya berangkat bersamanya pagi ini. Tapi surai putih yang seharusnya terlihat mencolok itu, tak terlihat di manapun. Dan ia tak yakin bisa melewati pagi ini dengan tenang sebelum melihat Hitsugaya Toushiro telah bersikap seperti biasa padanya setelah kejadian semalam. Sayangnya rencana itu harus tertunda begitu Inoue dan yang lain menariknya untuk segera masuk barisan sesuai kelas masing-masing.
Akibatnya Rukia berjalan tak fokus, dan beberapa kali tak sengaja menabrak siswa lain yang menghalangi jalannya. Rukia berbisik 'maaf' berkali-kali karena matanya masih saja mencari sosok Toushiro. Dan akhirnya ia menyerah, memilih barisan paling belakang. Dan betapa terkejutnya ia begitu mendapati Toushiro yang telah berjaket putih tebal telah berada di sampingnya, menggendong ransel hitam, dengan kedua tangan terkubur di saku celana. Gaya khas-nya yang cuek. Pemuda itu bahkan tak menoleh ketika Rukia memberikan senyum selamat pagi padanya.
Rukia tak keberatan akan hal itu. Sekarang ia berani bilang bahwa ia mulai mengenal pemuda ini. Toushiro boleh mengabaikannya, tapi entah kenapa Rukia merasa tenang selama dia terus berada didekatnya.
.
.
.
.
.
T.B.C
.
.
.
.
.
PS : Jika ada yang bingung dengan alurnya. Saya peringati bahwa alurnya maju-mundur, jadi jika bertemu dengan dialog bercetak miring dalam satu scene, itu berarti flashback. Tolong perhatikan timeline agar lebih jelas.
.
.
.
A/N : Jujur, ini adalah chap ter-absurb yang pernah saya buat di enigma. Udah lama gak update, dan udah lama gak ngetik. Jadinya ya gaje gini... hehe. Maaf ya, saya bener-bener blank. Dan saya gak tahu apa chap ini masih bisa dibilang misteri atau gak. Niat awalnya sih mau dibikin sebagai chap peralihan sebelum masuk misteri baru sekaligus sebagai clue lanjutan untuk misteri Toushiro-nya sendiri. Tapi kok jadi aneh gini ya? #garuk-garuk-kepala.
Di chap ini juga gak ada referensi sama sekali. Saya cuma ingin mengungkap apa yang sebenernya ada dipikiran Rukia, karena menurut saya sih kurang terekspos aja. Dikasih judul HItsugaya Part II, karena ini chap kedua yang hanya membahas tentang Toushiro. Secara teknis misteri utamanya di sini kan ya mereka berdua.
Lalu untuk chap kemarin (The missing day), sepertinya masih banyak yang bingung ya? Saya kasih jawaban deh,, biar clear. Berupa FAQ ya!
Apa Ichigo benar mengalami Missing Day? Iya. Buku catatan MTK itu punya siapa? Punya Ishida yang pernah dipinjam Ichigo dan lupa dipulangin, lalu dipakai untuk mencatat soal dan jawaban soal MTK dari Aizen. Kenapa buku catatannya bisa ada di Ishida? Apa Ishida yang ngambil? Bukan. Karena di hari Kamis (Missing day), Ichigo sengaja ngembaliin buku catatan itu ke Ishida dan Ichigo lupa. Apa Ishida juga mengalami Missing Day? Udah jelas, Iya. Kenapa bisa dua orang yang mengalami Missing Day? Tidak ada penjelasan untuk pertanyaan ini (Just Mystery). Kenapa kalau ini missing day, kok harinya tetap hari kamis? dari penjelasan Toushiro tentang Missing day, tidak dijelaskan bahwa 'hari yang hilang' harus hari yang berurutan. Bisa saja hari kamis yang hilang diganti dengan hari kamis yang lain. Jadi, missing day itu beneran terjadi atau hanya hoax? Berdasarkan jawaban2 di atas, udah jelas 'kan kalau missing day benar-benar ada.
.
.
Balesan review yang tidak login:
Haruka-chan : Maaf ya lagi2 lama update. Sampe kamu harus ngulang lagi (jadi malu). Aku juga suka bagian itu (banyak ehem ehem nya). Iya, itu bener Ishida di scene akhir. Dia lagi baca ctetan mtk yg di maksud Ichigo. Scene panjang karena utang lama update, hehe. Tapi chap 7 ini gak terlalu panjang sih. Semoga kamu masih tetep suka. Oh, tentu, Pasti aku selesaikan. Aku janji gak akan discontinued. Terima kasih sudah merivew ya haruka-chan!
Guest : Yup! kamu benar. Hihi Ichigo galau ya. Oke, ini sudah dilanjut. Terima kasih review nya!
1214 : Terima kasih, terima kasih, dan terima kasih. hehe.. abis review kamu isinya pujian semua sih... GBU too! Terima kasih atas reviewnya...
Guest : Sudah update! Terima kasih sudah mampir...
Edgar Allan Poe : Penname kamu unik sih. iya, untuk chap kemarin udah aku kasih penjelasan tambahan di AN biar lebih jelas lagi. Dan untuk misterinya Toushiro dan keluarga Rukia, ya masih harus ngikutin ceritanya. Hahaha... jangan nyerah, ayo coba lagi. Karena setiap chap pasti aku kasih clue. oke ini sudah lanjut, terima kasih untuk reviewnya ya edgar!
Zera : Aku gak kemana-mana kok zera, hehe. Haduh kamu rajin banget deh ngingetin aku, makasih ya! Dan maaf lagi-lagi lama, aku bener-bener blank dan gak tahu harus ngetik apa. Sampai akhirnya inspirasi itu muncul, dan beginilah jadinya... maaf ya kalo gaje. Soalnya aku ngerasanya gitu sih! Pertanyaan tentang missing day udah aku jawab di AN, silahkan dibaca. Dan untuk Toushiro ... hihi ikutin terus ceritanya. Metensarkosi gak discontinued. Aku pasti lanjut, tapi belum tahu kapan... Insyaallah secepatnya. Aku malah seneng kalo review panjang hehe... terima kasih sudah selalu mengingatkan ku zera... love u!
Ai-chan99 : Oh my! #tutup telinga. hehe... Pertanyaan kamu udah aku jawab di AN, kecuali tentang shiro-chan yang cemburu itu... aku belum bisa jawab ya say! Dan maaf kalo Ichigonya jadi OOC. Aku ngebayangin paniknya Ichigo pas ketemu Tsukisima, dan ternyata gatot #haduh. Oke ini aku sudah update, semoga masih bikin penasaran. Terima kasih sudah review!
Ganesha : I'm good, and still good now. Thank you! Same as you. I like that guy too. Tapi aku gak bisa kasih jawaban tentang watak Ishida disini. nanti spoiler deh! ikutin terus aja ceritanya,,, nanti semua pasti bakal terungkap kok (Yaiyalah). Juga untuk pertanyaan tentang Toushiro... jawabannya ada di cerita. Terima kasih sudah review!
Ore-sama : Ini sudah lanjut. Terima kasih!
thathaa : itu karena aku yang ngetik juga bingung, makanya yang baca ikutan bingung... maaf ya thatha. Semoga di chap 7 ini gak keulang deh bingungnya. Tapi kayaknya malah tambah bikin bingung deh,,, aduh. Abis aku galau banget nih selama pengetikkan, antara mood gak mood dan males. Sampe lupa gimana caranya bikin plot dan bingung nyusun kata-kata. Tapi syukur deh kalau part kemarin masih ada yang bikin thathaa suka,,,, selain mbingunginnya. Toushiro cemburu? no comment. Aku blum bisa jawab. oke ini udah update thathaa... terima kasih banyak karena gak pernah absen review! Love u!
Kai Shin: Kai shin23 itu kamu kah? Kenapa revienya gak login? Hmm... aku bener2 takjub baca review dari kamu. chap kemarin kayak dikupas tuntas sama kamu.
Zera : Hi lagi zera, aku bales nih review kedua mu. hehe... maaf banget klo aku lama update sekarang. ini semua karena kerjaanku yg nyita waktu dan selalu bikin mood gak stabil. Dan giliran ada waktu luang, aku nya udah kecapekan jadinya males ngetik deh. Tapi makasih banget lho, kamu tuh reader paling care tau gak sih, sampe review berulang kali hehe... #pelukciumZera (Ps. metensarkosi itu fic pertamaku, jadi pasti aku selesaiin)
Yuki Nadaa : Semua pertanyaan kamu tentang Toushiro gak bisa dijawab Nadaa-chan, abisnya semua ngarah ke spoiler sih. Tapi klo kemaren ikutan bingung sama missing day, aku udah kasih penjelasan di AN, silahkan dibaca. Dan kalo masih bingung juga, boleh tanya lagi di kotak review... hehe. Ok chap 7 sudah update, semoga masih bisa bikin kamu penasaran, terima kasih sudah review! Love u!
Zeraa : Oh, Hi lagi Zera! Ini balesan untuk review ketiga. I'm here Zeraa, hehe. Ya ampun sampe baca berulang kali? Semoga kamu gak bosen deh sama fic gaje ku ini. Love u Zera... so much and more.
Nishi: Waduh, sider sampai mereview, berarti aku udah kebangetan banget ya ngaretnya... hehe! ini sudah ku update, maaf ya lama. terima kasih sudah membaca!
.
Sekali lagi terima kasih untuk kalian semua yg gak pernah bosen ngingetin saya supaya gak lupa sama fic2 yg sudah berjalan. Tanpa kalian, mungkin fic ini gak akan jelas nasibnya. Jadi jangan sungkan untuk meninggalkan jejak, karena jejak kalianlah sumber motivasi saya. So, R.E.V.I.E.W please!
The Big Thanks to :
│mira. cahya 1 │Haruka-chan │thathaa │Chupank │zera │sinji. kazeri │inggar. novita │Guest │Suit│ceda yagami │Aosaki Sakurai │Ayra el Irista │Kiki RyuSullChan │Fujiwara Eikichi │Suit as Suit │higitsune84tails │ningKyu │izumi chieko │shofia mutiarani │Lilium E. Midford │ yuuki nadaa │Guest │Edgar Allan Poe │ Fleur Choi │ Aoivess │ ItsChoiDesy │1214 │ Nishi │Ai-chan99 │ nchie. ainie │ ore-sama │ Kai. Shin23 │ Dhen Hyuga Kuchiki │ NatashAurel │ Keoteapo │ Furika Himayuki │ Zera Shiroine │Grand Persona Fantasy │ raitaeinshi │Juga untuk para readers di manapun kalian berada yang telah bersedia meluangkan waktu untuk membaca│
.
.
Yuki sharaa
